Anda di halaman 1dari 1

Model pertanian zero waste merupakan model pertanian yang tidak membiarkan hasil

ikutan menjadi limbah/tidak bermanfaat. Secara umum, pertanian menghasilkan limbah bahan
organik yang tinggi dan mudah membusuk. Selain itu pertanian menghasilkan limbah dalam
jumlah yang besar karena sebagian besar dari tanaman tidak digunakan sebagai bahan baku
proses (Nasrullah dan Sunanto, 2012).
Produk utama jagung berupa biji-bijian sedangkan hasil sampinganya berupa daun,
batang, klobot, dan tongkol. Adapun cara untuk mencapai system budidaya jagung zero waste
salah satunya adalah dengan mengintegrasikan dengan peternakan sapi. Hasil sampingan
pertanian jagung yang berupa batang, daun, klobot, dan tonkol difermentasi sebagai makanan
ternak. Kemudian feses dan urine ternak dapat digunakan sebagai pupuk organik atau pupuk cair.
Selain mengintregasikan dengan peternakan, hasil sampingan jagung juga dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk organik yang merupakan hasil dekomposisi micro organisme. Pupuk organic
tersebut kemudian dikembalikan ke lahan pertanian jagung untuk menyuburkan tanah.
Petani jagung pada umumnya hanya melakukan budidaya jagung saja tanpa adaya
integrasi dengan peternakan. Mereka hanya mengambil hasil utama jagung yaitu bulir jagung,
sedangkan hasil sampinganya dibiarkan begitu saja sampai mengering kemudian dibakar begitu
saja.