Anda di halaman 1dari 3

Resume Film Tanah Surga Katanya

Film Tanah Surga Katanya memperlihatkan kehidupan masyarakat di sebuah desa


terpencil di perbatasan IndonesiaMalaysia, tepatnya di pulau Kalimantan. Desa tersebut
hanya memiliki satu sekolah dasar. Sekolah tersebut hanya berupa sebuah ruangan dengan
dinding triplek dan hanya mempunyai dua kelas, yaitu kelas 3 dan 4, yang hanya disekat oleh
papan. Bu Astuti adalah satu-satunya guru di sekolah tersebut, sehingga Bu Astuti mengajar
murid kelas 3 dan 4 bersamaan.
Di desa itu tinggalah seorang kakek bernama Hasyim dengan dua cucunya, Salman dan
Salina. Hasyim adalah seorang penjuang yang sangat cinta kepada negeri tanah kelahirannya,
Indonesia. Ketika Bu Astuti memberi tugas murid-muridnya untuk membuat bendera merahputih, hanya Salina yang mebuat gambar bendera merah putih yang benar, sehingga ia
mendapat hadiah dari Bu Astuti. Gambar bendera buatan Salina di kibarkan di tongkat di
tengah halaman sekolah. Salina mampu membuat gambar bendera Indonesia dengan benar
karena diberitahu oleh kakeknya, Hasyim. Hasyim sering menceritakan cerita-cerita
perjuangan kepada dua cucunya. Ayah Salman dan Salina, Haris, sudah bertahun-tahun
meninggalkan Indonesia untuk merantau ke Malaysia.
Suatu hari saat Haris pulang, Haris mengajak kakek dan kedua anaknya untuk pindah
ke Malaysia, jadi warga negara Malaysia. Meskipun Haris telah membujuk Hasyim dengan
janji kemewahan hidup berada di Negeri Jiran, Hasyim tidak mau untuk pindah. Ketika akan
berangkat ke Malysia, melihat kakeknya yang tidak mau ikut, Salman yang sangat
menyayangi kakeknya tidak jadi pindah dan memilih tinggal bersama kakeknya di Indonesia.
Karena itu, Haris hanya membawa Salina ke Malaysia. Di tengah-tengah konflik antara Haris
dan Hasyim datanglah dokter muda bernama Anwar ke dusun tersebut. Dokter Anwar
disambut gembira oleh warga, karena sekarang warga bisa gampang mendapatkan perawatan
ketika sakit. Dokter Anwar sempat kebingungan ketika akan membayar jasa membawa
barang-barang pada salah seorang anak laki-laki, hal ini disebabkan karena dokter Anwar
dikira memberikan uang palsu saat memberikan mata uang rupiah. Masyarakat di desa itu
hanya mengenal mata uang ringgit, mata uang Malaysia, karena perdagangan di sana
berhubungan dengan pedagang Malaysia yang hanya menggunakan mata uang ringgit.
Suatu hari Bu Astuti harus keluar kota mengambil gaji, sehingga harus meninggalkan
tugasnya mengajar di sekolah itu. Sebagai gantinya ia meminta dokter Anwar untuk menjadi
guru pengganti selama sehari. Ketika mengajar, dokter Anwar meminta para siswa
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Tidak disangka-sangaka, secara serempak anakanak itu dengan lantang menyanyikan lagu Kolam Susu :
Bukan lautan tapi kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai, tiada ombak kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu


Seketika itu juga dokter Anwar tercengang, heran karena semua murid tidak tahu lagu
kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya. Meskipun masih kebingungan, akhirnya dokter
Anwar menyemangati mereka menyanyi lagu kolam susu. Malamnya, ketika Bu Astuti telah
pulang, dokter Anwar menceritakan kejadian hari itu. Bu Astuti malah tertawa kecil,
menyadari bahwa ia lupa mengajarkan lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Maklum, ia
memang baru 2 bulan mengajar di dusun tersebut. Lebih ironis lagi saat bu Astuti dan dokter
Anwar hendak mengadakan upacara bersama murid-murid, tak ada satupun warga yang
mempunyai bendera merah-putih. Bahkan Pak Gani sebagai kepala dusun juga tidak
mempunyai bendera merah-putih. Hanya kakek Salman, Hasyim, yang mempunyai bendera
tersebut. Bendera tersebut disimpan aman dalam kotak kayu dan selalu dijaga serta dirawat
Hasyim. Ketika bendera merah-putih dikibarkan saat upacara, Hasyim melihatnya dengan
tatapan haru.
Kesehatan Hasyim memburuk. Suatu malam, penyakit Hasyim semakin parah,
sehingga Salman segera berlarian mencari dokter Anwar. Setelah diperiksa dan diobati dokter
Anwar, kakek sedikit membaik. Meskipun sedikit membaik, Hasyim harus dibawa ke rumah
sakit untuk pengobatan. Akan tetapi, medan dan biaya untuk membawa Hasyim ke rumah
sakit sangatlah besar. Hasyim dan Salman tidak ada biaya.
Salman bertanya pada Bu Astuti bagaimana caranya agar bisa mendapatkan uang
banyak dalam waktu singkat. Bu Astuti menjawab bahwa Salman harus menabung. Selama
beberapa hari Salman tidak masuk sekolah. Salman bekerja agar bisa membawa kakeknya
berobat ke rumah sakit. Bersama puluhan anak-anak lain yang tak sekolah, Salman melintasi
batas negara Indonesia, menjual barang ke pasar Malaysia hanya dengan berjalan kaki.
Sesampainya di salah satu pasar, Salman melihat satu pedagang dengan alas barang
dagangannya menggunakan kain merah putih, yang tidak lain adalah bendera Indonesia.
Dengan gigih ia meminta kepada orang tersebut agar tidak menginjak merah putih, tapi malah
caci yang ia dapati.
Salman tak sengaja bertemu dengan adiknya Salina. Mereka bertemu di kedai sang
ayah yang sudah menikah dengan warga Malaysia. Istri baru Haris adalah pemilik jasa
pengiriman. Ia diperlakukan tidak seperti layaknya seorang suami oleh istrinya. Setiap hari
Haris menyapu lantai dan membuka kedainya. Perlakuannya lebih mirip seperti majikan dan
pembantu. Namun, Haris tak pernah merasa bahwa ia diperlakukan seperti pembantu oleh
istrinya.
Setalah bekerja selama beberapa hari, Salman akhirnya mampu mengumpulkan
sejumlah uang yang cukup uang untuk membawa kakeknya ke rumah sakit. Melihat sarung
kakeknya yang sudah tidak layak pakai, Salman membelikan dua helai sarung baru untuk
kakeknya. Sepulangnya Salman membelikan sarung untuk kakeknya di pasar, ia bertemu
kembali dengan pedagang yang sama yang menutupi barang dagangannya dengan bendera
merah putih. Segera Salman menghampiri orang tersebut. Dengan sopan ia meminta kain

penutup pedagang tersebut, untuk ditukar dengan salah satu kain sarung yang dibelinya untuk
kakeknya. Dengan bangga, Salman putih di lehernya dan berlarian menyeberangi perbatasan
kembali ke rumah.
Ketika Salman pulang, sakit kakeknya semakin parah dan membuat dokter Anwar dan
Bu Astuti berinisiatif untuk membawa sang kakek ke rumah sakit. Akan tetapi hal tersebut
harus ditunda karena hari telah malam dan berbahaya untuk membawa kakek Hasyim ke
rumah sakit. Paginya, Bu Astuti, Salman, dan Dokter Anwar membawa kakek ke rumah sakit
dengan bantuan perahu mesin kecil untuk menyusuri sungai dan rawa menuju ke rumah sakit
paling dekat. Mereka berangkat pagi-pagi. Teman-teman Salman memberikan bantuan uang
sekadarnya pada Salman untuk ikut turut membantu meringankan beban Salman. Setelah
sekian lama perjalanan hingga petang belum juga sampai. Hal ini diperparah dengan mesin
perahu yang mereka tumpangi tiba-tiba mati, padahal hari sudah semakin gelap.
Sementara itu, di Malaysia, Haris mengajak jalan-jalan Salina, adik Salman. Mereka
berdua mampir di kedai untuk menonton sepakbola. Malam itu spesial match antara Malaysia
dan Indonesia. Sementara Haris menonton sepakbola, Salina hanya duduk menggambar saja.
Berbeda dengan ayahnya, Haris saat itu sudah tak ada cinta untuk negerinya, Indonesia.
Terbukti ia bersorak gembira saat tim kesebelasan Malaysia memenangkan pertandingan.
Berbeda dengan Haris yang diselimuti kegembiraan, Salman, Bu Astuti, dan dokter
Anwar justru diliputi kesedihan. Penyakit Hasyim semakin parah dan terlihat seperti semakin
mendekati aalnya. Hasyim menyampaikan pesan terakhirnya pada Salman agar Salman tidak
boleh melupakan Indonesia apapun yang terjadi. Setelah mengucap tahlil, Hasyim
menghembuskan nafas terakhirnya. Salman menjerit histeris, kakek satu-satunya yang
merawat dan hidup bersama, kini telah tiada. Dengan terisak, Salman menghubungi ayahnya.
Mendengar berita duka dari Salman, Haris shock. Seketika itu ia tak bisa berkata-kata dan
hanya bisa menitikkan air mata penyesalan.

Tanggapan :

Analisis :