Anda di halaman 1dari 14

KEPERAWATAN JIWA 1

PREVENSI PRIMER, SEKUNDER DAN TERSIER


Dosen Pengampu :

Disusun oleh :
Chusnur

(010114a017)

Dhinartika

(010114a024)

Defi Puji Lestari

(010114a019)

Dian Novarina

(010114a025)

Della Ratna M

(010114a020)

Didi Wahyudi

(010114a026)

Desi Lusiana

(010114a021)

I Kadek Juli

(010114a038)

Dewi Ernawati

(010114a023)

I Komang Jodi

(010114a039)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat-Nya kami bisa
menyelesaikan makalah yang membahas tentang Prevensi Primer, Sekunder dan Tersier.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Jiwa 1. Dari aspek penguasaan
keilmuan maupun dari cara penyajiannya, penulis memiliki keterbatasan. Oleh karenanya,
penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kriteria sempurna. Maka
penulis mengharapkan saran dan kritik dari yang berkenan membaca makalah ini.
Selesainya makalah ini sangat didukung oleh berbagai pihak, baik secara langsung
maupun tidak. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa berguna untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu.

Ungaran, 22 September 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PREVENSI
Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin praevenire, yang artinya
datang sebelum atau antisipasi mempersiapkan diri sebelum terjadi sesuatu atau
mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang luas, prevensi dimaknai
sebgi upaya yang secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan,
kerusakan, atau kerugian gabi seseorang atau masyarakat.
2.2 PREVENSI PRIMER
A. Definisi
Usaha yang lebih progresif lagi dalam usaha pencegahan ksehatan mental adalah
dengan mencegah terjadinya suatu gangguan dalam masyarakat. Jadi kesehatan mental
masyarakat diproteksi sehingga tidak terjadi suatu gangguan. Hal ini demikian akan lebih
baik jika dibandingkan dengan melakukan penanganan setelah terjadi. Prevensi jenis ini
disebut Prevensi primer. Prevensi primer merupakan aktivitas yang didesain untuk
mengurangi insidensi gangguan atau kemungkinan terjadi insiden dalam resiko. Terdapat
dua cara yang digunakan untuk melakukan program prevensi ini, yaitu memodifikasi
lingkungan dan memperkuat kapasitas individu atau masyarakat dalam menangani
situasi.
B. Tujuan

Prevensi primer bertujuan untuk mengurangi angka kejadian dan jumlah pasien
gangguan jiwa yang ada di masyarakat dengan cara langsung terhadap penyebab
gangguan jiwa yang melanda sekelompok manusia atau dengan merubah faktor
lingkungan yang diperkirakan ada hubungannya dengan satu atau beberapa gangguan
jiwa. Contoh :
a. Pencegahan terhadap masalah prenatal dan kelahiran yang memungkinkan
sebagai sebab kenaikan jumlah anak yang mengalami kelainan.
b. Pendidikan kesehatan jiwa untuk orang tua, dengan harapan dapat mengatasi
hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan cara-cara pemeliharaan anak ke
arah yang lebih memuaskan.
c. Rencana yang terjadwal untuk mengubah kondisi masyarakat yang
diperkirakan ada hubungannya dengan kenaikan jumlah gangguan jiwa
umpamanya pengangguran, kemiskinan dan perumahan yang tidak layak.

C. Tehniknya Prevensi Primer


I.

Pendidikan :

1. Isi
a. Informasi-informasi mengenai Kesehatan Jiwa.
b. Usaha menghilangkan sikap-sikap negatif terhadap pelayanan-pelayanan psikiatri atau
pelayanan lain yang ada hubungannya dengan psikiatri.
c. Data-data yang ada hubungannya dengan pelayanan psikiatrik.
2.
Pendidikan langsung terhadap :
a. Masyarakat umum.
b. Kelompok-kelompok kecil yang dipilih berdasarkan atas tingginya jumlah gangguan
jiwa pada kelompok tersebut.
c. Orang-orang tertentu yang sangat dihormati dan berpengaruh terhadap masyarakat
secara umum sekelompok masyarakat.
d. Profesi tertentu dari berbagai macam tingkatan, yang dianggap menjadi sumber untuk
meminta pertolongan bila mereka mendapat kesulitan; profesi itu umpamanya :
II.

dokter umum, pamong, guru, pekerja sosial dll.


Konsultasi
Ahli-ahli kesehatan jiwa yang menyediakan pertolongan kepada perorangan atau suatu
badan yang ada hubungannya dengan persoalan-persoalan Kesehatan Jiwa.

III.

Intervensi langsung
a. Staf ahli kedokteran jiwa secara langsung melakukan tindakan, dalam usaha
pencegahan serangan gangguan jiwa.
b. Menggunakan cara-cara apapun dari pengobatan yang sudah diterima, bekerja sendiri
atau bekerja sama dengan orang lain. Intervensi langsung ini sangat membutuhkan
cara-cara untuk menetapkan suasana yang disebut persoalan kesehatan jiwa yang
menanti untuk berkembang contoh :
Orang-orang yang diduga rentan terhadap kesukaran :
a. Anak dilahirkan dengan persoalan fisik atau perkembangannya sesudah
dilahirkan.
b. Anak yang terbukti mempunyai kesulitan di sekolah.
c. Persoalan keluarga, karena ternyata kira-kira 6 % dari keluarga yang
membutuhkan pelayanan kesehatan, 50 % menunjukkan problema
keluarga.
D. Peran Perawat dalam Prevensi Primer
1. Memberikan penyuluhan tentang prinsip-prinsip sehat jiwa
2. Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan, tingkat kemiskinan, &
3.
4.
5.
6.

pendidikan
Memberikan pendidikan kesehatan
Melakukan rujukan yang sesuai dengan sebelum gangguan jiwa terjadi
Membantu klien di RSU untuk menghindari masalah psikiatri dimasa mendatang
Bersama-sama keluarga memberi dukungan pada anggota keluarga &

meningkatkan fungsi kelompok


7. Aktif dalam kegiatan masyarakat & politik yang berkaitan dengan kesehatan jiwa

2.3 PREVENSI SEKUNDER


A. Definisi
Pencegahan sekunder merupakan yang dilakukan pada fase awal patogenik yang
bertujuanunuk mendeteksi dan melakukan intervensi segera guna menghentikan
penyakit tahap dini,mencegah penyebaran penyakit, menurunkan intensitas penyakit
atau mencegah penyebaran penyakit, menurunkan intensitas penyakit atau mencegah
komplikasi, serta mempersingkatfase ketidakmampuan. Pencegahan sekunder
dilakukan melalui upaya diagnosisdini/penanganan segera, seperti penemuan kasus,

survei penapisan, pemeriksaan selektif. (Asmadi. 2008, konsep dasar keperawatan.


Jakarta: EGC)
Pencegahan sekunder adalah kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya
perubahan derajatkesehatan masyarakat dan ditemukannya masalah kesehatan.
Pencegahan sekunder inimenekankan pada diagnosa dini dan intervensi yang tepat
untuk menghambat proses penyakitatau kelainan sehingga memperpendek waktu
sakit dan tingkat keparahan. Misalnyamengkaji dan memberi intervensi segera
terhadap tumbuh kembang anak usia bayi sampai balita. (Nurhayati, Konsep Dasar
Asuhan Keperawatan Komunitas)
B. Tujuan
Tujuan prevensi ini adalah mencari kasus-kasus gangguna jiwa yang masih dalam
tahap perkembangan dini dan mencegah terjadinya atau mengurangi hendaya yang
khronik, dengan jalan pengobatan yang cepat dan tepat. Dengan ini berarti melakukan
intervensi awal yang efektif yang dapat mengurangi jangka waktu lamanya sakit
(Kaplan et al., 1985)
C. Cara / tehniknya
1. Penemuan kasus (casefinding).
Dalam penemuan kasus diperlukan kewaspadaan bagi setiap orang yang
berurusan dengan masyarakat terhadap tanda yang menunjukkan bahwa gangguan
jiwa mungkin akan berkembang, contohnya :
a. Gangguan

tidur

atau

gangguan

makan

(pada

anak)

yang

berkepanjangan.
b. Anak yang membutuhkan perhatian yang berlebihan dari orang
tuanya atau dari orang lain.
c. Kegagalan dalam perkembangan bicara yang sangat penting antara
kelompok umur 2 sampai 4 tahun.
d. Gangguan belajar.
e. Penampilan pola tingkah laku yang nyata pada remaja atau dewasa.
2. Penemuan kasus juga membutuhkan adanya tanda/gejala spesifik dari gangguan
jiwa secara dini yang didapat dari penelitian.
D. Pengobatan
Dalam prevensi sekunder diperlukan bahwa pengobatan siap, mudah didapat
untuk semua kasus yang ditemukan. Meskipun tampaknya sederhana, tetapi

tindakan pengobatan ini mengandung risiko yang lebih berat dibanding dengan
prevensi primer. Tindakan pengobatan harus menghasilkan :
a. Lama tinggal di Rumah Sakit makin pendek.
b. Memperkecil kemungkinan kembalinya pasien mondok di RS sesudah
pengobatan di RS selesai.
c. Kemungkinan perawatan di rumah dengan munculnya obat-obatan yang baru dan
berhasiat jangka panjang.
E. Peran Perawat dalam Prevensi Sekunder
a. Melakukan skrining & pelayanan evaluasi kesehatan jiwa
b. Melaksanakan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan dirumah
c. Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di RSU
d. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
e. Melakukan supervisi klien yang mendapatkan pengobatan
f. Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri
g. Memberikan konsultasi
h. Melaksanakan intervensi krisis
i. Memberikan psikoterapi individu, keluarga, dan kelompok pada berbagai tingkat
usia
j. Memberikan intervensi pada komunitas & organisasi yang telah teridentifikasi
masalah yang dialaminya

2.4 PREVENSI TERSIER


A. Definisi
Prevensi tersier ini memiliki pengertian yang sama dengan rehabilitasi. Namun
penekanan kedua hal ini berbeda. Menurut caplan (1963), rehabilitasi lebih bersifat
individual dan mengacu pada pelayanan medis. Sementara prevensi tersier lebih
menekankan pada aspek komunitas, sasarannya adalah masyarakat dan mencakup
perencanaan masyarakat dan logistik. Tentunya dalam prevensi tersier merupakan
intervensi yang anti-hospitalisasi. Prevensi tersier ini diberikan kepada orang yang
sakit dan terjadi penurunan kemampuan atau fungsi sosial dan personal jika

penanganan kesehatan mental dilakukan hanya dengan prevensi tersier ini. Adalah
lebih efisien jika prevensi itu dilakukan sebelum penderita mengalami penurunan
kemampuan itu. Karena itu ada alternatif yang lebih baik untuk melakukan
pencegahan, yaitu dengan prevensi sekunder.
Pencegahan tersier terdiri atas upaya mencegah dan membatasi ketidakmampuan
serta membantu memulihkan klien yang tidak mampu agar dapat berfungsi secara
optimal. Langkah pencegahan ini antara lain dilakukan melalui upaya pembatasan
ketidakmampuan (disability limitation) dan rehabilitasi. Untuk pembatasan
ketidakmampuan langkah yang biasa di ambil adalah pelatihan tentang cara
perawatan diri dan penyediaan fasilitas. Untuk rehabilitasi, upaya yang dilakukan
antara lain pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kondisi klien yang di
rehabilitasi, penempatan klien sesuai dengan keadaanya (seective places), terapi kerja,
dan pembentukan kelompok paguyban khusus bagi klien yang memiliki kondisi yang
sama. (Asmadi, 2008, konsep dasar keperawatan. Jakarta: EGC)

B. Tujuan
Tujuan dari prevensi tersier adalah untuk menghilangkan hendaya yang mungkin
tersisa meskipun gangguan jiwa sudah mengalami kesembuhan, umpamanya :
a. Kesulitan untuk mencari pekerjaan.
b. Isolasi sosial
c. Ketergantungan yang berlebihan (terhadap orang lain).
Untuk mencapai tujuan ini maka biasanya usaha ini dilakukan secara bersama antara
pasien dalam keadaan akut dan perawatan lanjutan. Pencegahan ini dimaksudkan untuk
mengurangi keidakmampuan dan mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat ketiga
ini dapat dilakukan dengan:
a. Memaksimalkan fungsi organ yang cacat
b. Membuat proses ektremitas akibat amputasi dan
c. Mendirikan pusat-pusat rehabilitasi medik

Pencegahan ini terus diupayakan selama orang yang menderita belum meninggal dunia
(budiarto eko, 2003, pengantar epidemiologi. Jakarta: EGC)
C. Tehnik pelaksanaan dari prevensi tersier
1. Mencegah kemungkinan terjadinya isolasi pasien, yang dimulai pada saat pasien masih
diobati di RS.
a. Mengusahakan agar perawatan pasien di RS secepat mungkin dengan jalan
memberikan pengobatan yang terencana dan terorganisir.
b. Mempersiapkan bagian rawat jalan untuk menerima lebih banyak pasien yang
berobat jalan.
c. Bila mungkin pasien lebih baik dirawat di rumah atau dirawat di RS yang dekat
dengan rumah pasien.
d. Mengusahakan lingkungan RS agar jangan sampai menimbulkan kesan bahwa
pasien lebih senang di RS hingga terjadi ketergantungan, malas dll.
2. Menolong pasien agar mampu mandiri setelah keluar dari RS :
a. Membuat semacam persatuan di antara bekas pasien untuk mempelajari kembali
kecakapan sosialisasi dalam suatu perlindungan.
b. Membuat tahapan-tahapan yang dilewati oleh pasien sebelum secara penuh
keluar dari RS.
1) Selama siang hari pasien di RS dan sesudahnya kembali ke rumah
masing-masing (day hospital).
2) Selama siang hari ada di rumah dan pada malam hari tidur di RS
(night hospital).
3) Selama waktu-waktu tertentu pasien diberi waktu berlibur kerumah
masing-masing (weekend hospital).
3. Membuat rumah asuh (foster home care).
Pasien-pasien yang keluar dari RS untuk sementara ditempatkan dalam salah satu
keluarga. Maksudnya untuk menghilangkan isolasi pasien yang biasanya dari kamarkamar yang tertutup di RS langsung dikeluarkan dari RS yang mungkin membuat pasien
tidak mempunyai persiapan untuk kembali ke masyarakat.
4. Tempat sementara sebelum secara penuh kembali ke masyarakat (halfway house)
Yang merupakan suatu penampungan pasien yang di awasi secara menyeluruh oleh
supervisi yang terdiri dari satu atau beberapa orang ahli.
Di sini pasien diharapkan bisa bekerja pada siang hari, merawat kamarnya sendiri,
menolong memasak atau pekerjaan rumah yang lain. Tempat ini juga merupakan suatu

peralihan dari status pasien yang semula berada dalam status tergantung pada
pemeliharaan di RS ke status mandiri di luar RS. (masyarakat).
5. Rehabilitasi pekerjaan (vocational rehabilitation).
Di sini pasien di usahakan kembali ke pekerjaan yang produktif yang merupakan salah
satu dari tujuan prevensi tersier.
Caranya adalah :
a. Menguji dan merencanakan kecakapan pasien dalam jenis pekerjaan.
b. Melatih dalam sesuatu pekerjaan.
c. Membuat bengkel/tempat kerja terlindung (sheltered workshop).
Di sini para pasien dapat bekerja dengan caranya sendiri tanpa takut membuat salah dan
biasanya jadi satu dengan pekerja normal. Umumnya tempat ini hanya menyelesaikan
sebahagian dari pekerjaan yang berasal dari salah satu industri yang telah mengadakan
kontrak, umpamanya mengepak barang, membungkus barang dll dan mereka dapat
penghasilan dari pekerjaan ini. Di tempat ini mereka bisa untuk selamanya bekerja atau
bisa juga secara temporer tergantung dari kemampuan pasien. Seperti halnya setiap usaha
akan memerlukan suatu wadah sebagai pelaksana dari usaha tersebut dalam bentuk
badan, instansi atau wadah lain. Di Indonesia bentuk-bentuk/badan yang ada sampai
sekarang adalah :
a. Rumah Sakit Jiwa Pemerintah maupun Swasta.
b. Bagian Psikiatri di RSU/RSUP Pemerintah maupun Swasta.
c. Puskesmas integrasi yaitu Puskesmas yang sudah melayani hal-hal yang
berhubungan dengan Kesehatan Jiwa.
d. BPKJM (Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat) yang merupakan suatu
Badan Koordinator di dalam penanganan Kesehatan Jiwa Masyarakat, yang
meliputi segala usaha baik promosi, prevensi maupun rehabilitasi.

D. Peran Perawat dalam Prevensi Tersier


a. Melaksanakan latihan vokasional & rehabilitasi
b. Mengorganisasi after care untuk klien yang telah pulang dari fasilitas
kesehatan jiwa untuk memudahkan transisi dari rumah sakit ke komunitas
c. Memberikan pilihan partial hospitalization (perawatan rawat siang) pada klien

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA