Anda di halaman 1dari 13

Gangguan Elektrolit

Hiponatremia
Tingkat sodium (Na+) rendah dalam serum dapat muncul ketika terjadi kelebihan cairan
ekstraseluler relative terhadap sodium, keadaan volume cairan ekstraseluler dapat tinggi, normal
atau rendah. Pada banyak kasus, konsentrasi sodium biasanya rendah sebagai konsekuensi dari
deplesi (kekurangan) atau dilusi (pengenceran).
Hiponatremia delusional sering disebabkan oleh peningkatan cairan ekstraseluler. Baik
oleh intake oral yang tinggi atau melaui akses intravena. Peningkatan anti diuretic hormone
(ADH) yang meningkatkan reabsorpsi air di ginjal juga dapat menyebabkan hal yang sama, tapi
hal ini merupakan self limiting hiponatremia, karena bila sudah terjadi hiponatremia ADH akan
turun dengan sendirinya. Beberapa obat juga dapat menyebabkan hiponatremia seperti, anti
psikotik, anti depresan trisiklik dan penghambat ACE.
Pada keadaan deplesi (kekurangan) dapat disebabkan oleh kurangnya intake seperti diet
rendah natrium atau terlalu lama menggunakan nutrisi parenteral.pada keadaan meningkatnya
kehilangan natrium dapat disebabkan oleh muntah-muntah hebat, diare, melalui ginjal oleh
penggunaan diuretic atau penyakit ginjal. Keadaan hiperglikemi juga dapat mencetuskan
hiponatremia disebabkan tingginya glukosa dalam darah menyababkna peningkatan osmolaritas
ekstra sel, sehingga terjadi pengeluaran cairan intrasel ke ekstra sel yang kemudian menigkatkan
volume cairan ekstrasel. (setiap kenaikan gula darah 100mg/dL diatas normal akan menyebabkan
penurunan sodium plasma 1,6 mEq/L.

Tanda dan gejala dari hiponatremia bergantung dari derajat hiponatreminya. Gejalagejalanya dapat berupa seperti pada tabel berikut.

Hipernatremia
Hipernatremia dapat terjadi baik oleh kehilangan cairan bebas atau intake sodium lebih
tinggi dari air. Seperti pada hiponatremia, hipernatremia juga bisa terjadi pada keadaan volume
cairan ekstrasel yang menigkat, normal, atau menurun. Hipervolemi hipernatremia dapat
disebabkan oleh pemeberian cairan intravena mengandung sodium atau mineralokortikoid seperti
pada keadaan cushing syndrome . normovolemik hipernatremi dapat disebabkan oleh ginjal

(diabetes insipidus, penggunaan diuretic dan penyakit ginjal) atau non ginjal (gastrointestinal dan
kulit) yang dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh.
Yang terakhir hipovolemik hipernatremia dapat terjadi oleh kehilangan air oleh sebab
renal atau non renal. Pada renal dapat disebabkan oleh diabetes insipidus, diuretikosmotik,
kegagalan adrenal, atau penyakit tubulus ginjal. Pada kehilangan air non renal dapat disebabkan
kehilangan cairan lewat gastrointestinal seperti pada diare, atau kehilanga cairan lewat kulit,
seperti pada demam atau trakeostomi

Tanda dan gejala dari hipernatremia antara lain :

Hiperkalemia
Hiperkalemia adalah keadaan potassium serum diatas 5 mEq/L. dapat disebabkan oleh
asupan kalium yang meningkat, penigkatan pelepasan kalium dari sel, atau peningkatan eksresi
oleh ginjal. Penigkatan intake dapat melalui oral atau penggunaan vairan intravena, juga melalui
transfuse. Kerusakan atau lisis dari sel juga dapat melepaskan kalium dari dalam sel melalui
hemolisis, rhabdomiolisis, cedera, dan perdarahan gastrointestinal. Asidosis dan peningkatan
osmolalitas ekstraseluler juga dapat meningkatkan potassium serum.
Etiologi hiperkalemia

Gejala-gejala hiperkalemia terutama gejala dari gastrointestinal, neuromuscular dan


kardiovaskular. Gastrointestinal seperti mual, muntah, nyeri kolik, dan diare, gejala
neuromuscular dapat berupa kelemahan otot-otot, paralisi sampai kegagalan nafas. Sedangkan
gejala cardiovascular dari kelaianan EKG, cardiac aritmia sampai cardiac arrest.

Hipokalemi
Yaitu keadaan kalium serum kurang dari 3,0 mEq/L. dapat disebabkan oleh asupan yang
kurang atau eksresi ginjal yang berlebih. Seperti pada asupan cairan parenteral yang tidak
mengandung kalium, nutrisi total perenteral tanpa asupan kalium yang. Pada eksresi ginjal yang
berlebih seperti hiperaldosteronisme, penggunaan diuretic atau penggunaan obat penisilin. Dapat
juga kehilangan melalui system gastrointestinal, baik melaui feses atau muntah atau pengeluaran
NGT yang tinggi. Juga pada keadaan alkalosis dapat menyebabkan hipokalemia. (setiap
peningkatan pH 1 diatas normal kalium turun 0,3 mEq/L)

Gejala hipokalemia terutama muncul dari traktus gastrointestinal, neuromuscular, dan


cardiovascular. Seperti gejala ileus obstruktif, konstipasi, kelemahan, kelelahan, menghilangnya
reflex tendon, paralisis dan cardiac arrest.

Koreksi Hipernatremia
Koreksi hipernatremis dilakukan bersamaan dengan koreksi deficit cairan, pada pasien
hipovolemia harus dikoreksi dengan cairan normal saline, setelah deficit teratasi dapat diganti
dengan cairan hipotonik seperti dekstrosa 5%, dekstrosa 5% dalam normal saline. Berikut
rumus untuk menghitung kebutuhan cairan untuk mengkoreksi hipernatremia.

Cairan yang diberikan harus diperhatikan, karena tidak boleh terjadi penurunan natrium lebih
dari 1 mEq/jam atau 12 mEq/hari pada hipernatremia akut, bahkan pada hipernatremia kronis
harua lebih lambat lagi, yaitu 0,7 mEq/jam. Koreksi yang terlalu cepat dapat menyebabkan
edema serebri dan herniasi batang otak.
Koreksi hiponatremia
Kebanyakan kasus hiponatremia dapat diatasi dengan pembatasan cairan, bila gejala neurologis
muncul maka harus menggunakan cairan normal saline 3% untuk meningkatkan natrium tidak
lebih dari 1 mEq/L/jam sampai natrium serum mencapai 130 mEq/L atau bila gejala neurologis
membaik. Koreksi hiponatremia asimtomatis bisa dinaikan sampai tidak lebih dari 0,5
mEq/L/jam atau 12 mEq/L/hari. Koreksi yang terlalu cepat

dapat menyebabkan pontin

myelinolisis, dengan kejang, kelemahan/paresis,


Rumus untuk koreksinya sebagai berikut
Na+ = Na+ yang diinginkan-Na+ sekarang x distribusi volume x BB
Distribusi volume=0,6 berdasarkan 60% TBW
Koreksi dapat dilakukan dengan pemberian dekstrosa 5%+NaCl 0,9% atau NaCl 0,45%.

Hiperkalemia
Koreksi pada simptomatis hipokalemi adalah sebagai berikut:

Hipokalemia
Koreksi pada hipokalemia adalah sebagai berikut

Kalsium dalam tubuh mayoritas disimpan dalam matriks tulang, hanya kurang 1 % ysng
berada di cairan ekstrasel, kalsium serum didistribusikan dalam 3 bentuk, berikatan protein
(40%), kompleks posfat dan ion lain (10%), dan kalsium terionisasi (50%). Fraksi kalsium yang
terionisasi lah yang bertanggung jawab terhadap stabilitas neuromuscular. Ketika menentukan
tingkat kalsium total serum maka tingkat albumin juga diperhitungkan karena untuk setiap
penurunan 1 g/dL albumin kalsium turun 0,8 mg/dL.pada keadaan asidosis dapat menurunkan
kadar kalsium terikat protein, namun meningkatkan kalsium terionisasi. Intake kalsium harian
berkisar 1-3 g/dL dan hamper semua dieksresikan di usus hanya sedikit yang lewat urin.
Hiperkalsemia
Hiperkalsemia adalah keadaan kalsium serum lebih dari 10,5 mEq/L atau kenaikan kalsium
terionisasi diatas 4,8 mg/dL. Keadaan hiparatiroidisme primer dan keganasan merupakan
penyebab yang sering pada simptomatik kiperkalsemia. Gejala-gejala pada hiperkalsemia
memiliki derajat keparahan yang luas, mulai dari gejala neurologis, kelemahan otot, gangguan
ginjal, gangguan gastrointestinal seperti, mual, muntah, dan nyeri perut. gejala pada jantung
dapat berupa hipertensi, aritmia, dan memperburuk pada toksisitas digitalis.

Koreksi pada hiperkalsemia dibutuhkan bila bergejala atau bila kalsium serum mencapai
12 mg/dL, kadar kalsium serum yang berbahaya adalah bila mencapai 15 mg/dL. Dan bila
gejalanya terlambat dikenali dapat menyebabkan kematian. Penanganan awal hiperkalemia
bertujuan untuk menggantikan deficit cairan yang terjadi, kemudian mendorong terjadinya
dieresis dengan cairan normal saline
Hipokalsemia
Adalah keadaan kalsium serum dibawah 8,5 mEq/L atau dibawah 4,2 mg/dL. Keadaan ini
dapat disebabkan oleh pancreatitis, infeksi, gagal ginjal, fistula pancreas dan usus,
hipoparatiroid, sepsis shok sindrom. Pada hipokalsemia gejala baru muncul bila kalsium

terionisasi serum sudah di bawah 2,5 mg/dL. Gejalanya dapat berupa parastesia pada wajah dan
ekstremitas, keram pada otot, spasme carpopedal, tetani, stridor dan kejang. Hipokalsemia juga
dapat menyebabkan turunnya menurunnya kontraktilitas otot jantung gagal jantung.

Koreksi pada hipokalsemia asimptomatis dapat dilakukan dengan kalsium oral atau IV.
Hipokalsemia akut harus di atasi dengan kalsium glunas 10% IV untuk mencapai kadar kalsium
serum 7-9 mg/dL. Jika ada gangguan pada magnesium, kalium dan gangguan pH, harus
dikoreksi.

Keseimbangan Asam-Basa
Kesimbangan asam-basa cairan tubuh di pertahankan oleh kemampuan ginjal untuk
menghasilkan HCO3- dalam jumlah besar dan mempertahankan asam dalam jumlah besar yang
merupakan hasil metabolism tetap normal. Asam endogen ini di netralkan oleh system buffer dan
kemudian di buang melalui paru-paru dan ginjal.
Buffer penting dalam tubuh kita termasuk protein dan posfat intraseluler dan system
bikarbonat-asam karbonat. Kompensasi dari ketidak seimbangan asam-basa dapat dilakukan
melalui mekanisme repirasi (gangguan metabolik), atau mekanisme metabolik (gangguan
respiratorik). Perubahan ventilasi terjadi pada gangguan metabolic untuk membuang kelebihan
asam pada asidosis dengan meningkatkan ventilasi atau mengurangi buangan asam melalui
respirasi dengan menurunkan ventilasi. Ginjal dapat mengkompensasi gangguan respiratorik

dengan meningkatkan atau mengurangi reabsorpsi bikarbonat sebagai reaksi dari asidosis atau
alkalosis respiratorik.

Gangguan metabolik
Asidosis metabolik
Asidosis metabolik terjadi sebagai akibat dari meningkatnya asupan asam, meningkatnya
produksi asam atau menigkatnya pembuangan bikarbonat. Tubuh merespon kejadian tersebut
dengan beberapa mekanisme, seperti menghasilkan buffer, meningkatkan ventilasi (kussmaul),
dan menigkatkan reabsorpsi dari bikarbonat. Ginjal juga akan meningkatkan eksresi dari NH 4+
(H+ + NH3+ = NH4+). Penyabab dari asidosis metabolic yang berat biasanya adala asidosis laktat,
pada keadaan syok sirkulasi, laktat diproduksi akibat terjadinya hipoksia yang diakibatkan oleh
perfusi jaringan yang tidak adequate. Penanganannya adalah untuk mengembalikan perfusi
dengan resusitasi cairan dibanding dengan harus mengkoreksi kelainan pH dengan bikarbonat
eksogen. Dengan perfusi yang adequate, asam laktat akan dengan cepat dimetabolisme di hati
dan pH kembali normal.

Alkalosis metabolik
Homeostasis asam-basa yang normal akan mencegah terjadinya alkalosis metabolik bila
terjadi peningkatan produksi bikarbonat maupun gangguan eksresi bikarbonat. Alkalosis
metabolic terjadi akibat kehilangan asam atau meningkatnya bikarbonat dan dapat diperburuk
oleh kurangnya kalium. Asidosis metabolic dapat terjadi pada kehilangan isi lambung. Seperti
pada keadaan ulkus duodenum. Penanganannya dapat dengan menggantikan defisit volume
dengan cairan isotonic salin kemudian penggantian kalium dapat dilakukan bila urine output
sudah adequate.

Asidosis respiratorik
Asidosis resporatorik berhubungan dengan retensi dari CO2 sebagai akibat dari
menurunnya ventilasi alveolar. Penanganan pada asidosis respiratorik adalah langsung pada
penyebabnya. Ventilasi yang adequate harus dilakukan.

Alkalosis respiratorik
Pada pasien bedah, penyebab alkalosis respiratorik akut adalah hiperventilasi alveolar,
penyebabnya dapat oleh nyeri, gelisah, gangguan neurologis termasuk cedera pada system saraf
pusat maupun penggunaan ventilator. Obat seperti salisilat, demam, bakteremia gram negative,
tirotoksikosis

dan

hiposemia

juga

dapat

mencetuskan

terjadinya

alkalosis

respiratorik.penanganan yang dilakukan yaitu pada penyebabnya, tapi penanganan hiperventilasi


harus segera dilakukan.

Brunicardi, F Charles. Fluid and electrolyte managements of the surgical patien in Schwartzs
Principles of Surgery. 9th edition. New York. Mc Graw-Hill.page 43-56