Anda di halaman 1dari 25

TUGAS REFERAT

OSTEOMYELITIS MANDIBULA DEXTRA

DISUSUN OLEH :
Annisa Pama P (2015-16130)

Dinda Mousavi (2015-16-138)

Amelia DW

(2015-16-128)

Diana Ulfa W (2015-16-136)

Astie Irena

(2015-16-132)

Dewi Tari M

(2015-16-135)

Charina C.

(2015-16-134)

Dania Tria F

(2015-16-075)

Femita rya

(2015-16-140)

Dimas Noor A (2015-16-137)


Tiara Dita W (2015-16-044)

PEMBIMBING :
Drg. M. T. Sugiharto, Sp. BM.
Drg. Kadaryati, Sp.BM

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH MULUT


RS. BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Osteomyelitis berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu osteon (bone) dan
muelinos (marrow) yang menggambarkan suatu infeksi pada bagian ruang medula dari
tulang. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi etiologi dan menyebabkan inflamasi dari
ruang medula seperti trauma/faktur, radiasi, dan beberapa bahan kimia, tetapi istilah
osteomyelitis didalam literatur kedokteran digunakan untuk menggambarkan suatu
infeksi tulang yang disebabkan oleh mikroorganisme pyogenik. Mikroorganisme
pyogenik yang biasa menjadi penyebab osteomyelitis adalah Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus albus dan Actinomyces dan beberapa
patogen rongga mulut lain juga berperan. Oleh karena itu oeteomyelitis saat ini dianggap
sebagai suatu infeksi polimikroba dimana banyak patogen rongga mulut yang banyak
ditemukan dalam keadaan normal berhubungan dengan ostemomyelitis.
Jika dilihat dari besarnya insiden infeksi odontogen dan hubungan erat antara gigi
dengan ruang medula, maka terdapat pendapat bahwa osteomyelitis tidak terjadi sesering
mungkin. Pada mandibula biasanya lebih sering terjadi Osteomyelitis dibandingkan
maksila. Hal ini dipengaruhi oleh kepadatan dan suplai darah pada tulang.1,2
Disini terdapat peranan faktor predisposisi pada agen maupun host. Insiden yang
rendah disebabkan oleh daya tahan tubuh host. Selain faktor virulensi mikroorganisme,
kondisi sistemik yang mempengaruhi daya tahan tubuh sangat berperan dalam onset dan
keparahan osteomyelitis.

Pada makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang osteomyelitis beserta
laporan kasus osteomyelitis mandibular dekstra.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Osteomyelitis rahang adalah suatu infeksi yang sifatnya ekstensif pada
tulang rahang, yang mengenai spongiosa, sumsum tulang, korteks,dan periosteum.
Infeksi terjadi pada bagian tulang yang terkalsifikasi ketika cairan dalam rongga
medula atau di bawah periosteum mengganggu suplai darah. Tulang yang
terinfeksi menjadi nekrosis ketika terjadi iskemia. Perubahan pertahanan host
yang mendasar terdapat pada mayoritas pasien yang mengalami ostemielitis pada
rahang. Kondisi-kondisi yang mempengaruhi persarafan tulang menjadikan pasien
rentan terhadap berlangsungnya ostemielitis. Kondisi tersebut, antara lain sinar
radiasi, osteoporosis, osteopetrosis, penyakit tulang Paget, dan tumor ganas tulang.
Sumber lain mendefinisikan Osteomyelitis sebagai suatu inflamasi tulang dan
sum-sum tulang, yang berkembang setelah infeksi kronis.
2.2 Etiologi
Penyebab utama yang paling sering dari Osteomyelitis adalah penyakit
periodontal, seperti gingivitis, pyorrhea, atau periodontitis. Bakteri yang berperan
terhadap proses terjadinya penyakit ini yang tersering adalah Staphylococcus
aureus. Kuman yang lain adalah Streptococcus, Pneumococcus, Klebsiela spp,
Bacteroides spp, dan bakteri anaerob lainnya. Lewat penyakit periodontal, juga
dapat menyebabkan penyakit jantung melalui perjalanan infeksinya. Kekurangan
vitamin C dan bioflavanoid dapat menyebabkan sariawan yang merupakan salah

satu awal penyakit periodontal, dapat dicegah dengan mengkonsumsinya secara


cukup. Penyebab lain Osteomyelitis adalah tertinggalnya bakteri di dalam tulang
rahang setelah pencabutan gigi. Hal ini terjadi karena buruknya daerah operasi
pada daerah gigi yang diekstraksi dan tertinggalnya bakteri di dalamnya. Hal
tersebut menyebabkan tulang rahang membentuk tulang baru di atas soket sebagai
pengganti pembentukan tulang baru di dalam lubang, yang meninggalkan ruang
kosong atau kavitas pada tulang rahang.
Pada kavitas ini ditemukan jaringan iskemik akibat berkurangnya
vaskularisasi, nekrotik, osteomielitik, gangren dan bahkan sangat toksik. Kavitas
tersebut akan bertahan, memproduksi toksin dan menghancurkan tulang di
sekitarnya, dan membuat toksin tertimbun dalam sistem imun. Bila sudah sampai
keadaan seperti ini, maka penanganannya harus ditangani oleh ahli bedah mulut
Penyebab umum yang ketiga dari Osteomyelitis dental adalah adanya gangren
radiks. Tidak tuntasnya pencabutan gigi sehingga masih ada sisa akar yang
tertinggal di dalam tulang rahang, selanjutnya akan memproduksi toksin yang
akan merusak tulang di sekitarnya sampai gigi dan tulang nekrotik di sekitar
hilang. Bukti lain menyebutkan bahwa Osteomyelitis dengan gejala adanya
inflamasi akibat penggunaan antibiotik untuk kemoterapi secara intens mengalami
peningkatan. Diagnosis histopatologis Osteomyelitis diperoleh dari suatu
Osteomyelitis yang terinflamasi kronis aktif dan resobsi tulang yang dikultur.4,5
Pada pembedahan gigi, trauma wajah yang melibatkan gigi, penggunaan
kawat gigi, atau pemasangan gigi tiruan jembatan akan menyebabkan tekanan
pada gigi atau menarik gigi dari soketnya, dapat menjadi awal Osteomyelitis.

Selain penyebab Osteomyelitis di atas, infeksi berikut juga bisa disebabkan oleh
trauma berupa patah tulang yang terbuka, penyebaran dari stomatitis, tonsilitis,
infeksi sinus, furunkolosis maupun infeksi hematogen. Inflamasi yang diebabkan
oleh bakteri piogenik ini meliputi semua struktur pembentuk tulang, mulai dari
medula, korteks dan periosteum, dan semakin parah pada keadaan penderita
dengan daya tahan tubuh rendah

2.3 Gejala Klinis


Gejala-gejala fisik pada penderita yang tidak dapat didiagnosis sebagai
penyakit khusus, seperti kelelahan, dan nyeri pada sendi atau edema pada jaringan
di sekitar tulang rahang sering terjadi karena adanya infeksi bakteri yang
tersembunyi pada tulang rahang yang menyebarkan toksin ke jaringan sekitarnya.
Gejalanya berupa rasa nyeri dan pembengkakan yang sifatnya bervariasi, adanya
limpadenopati regional, rasa panas dan malaise, gigi goyang dan sensitif terhadap
perkusi, adanya fistel, paraestesia N.mentale pada bibir bawah, trismus jika otot
mastikasi terinfiltrasi, pembesaran mandibula, dan rahang asimetris.
Gejala awalnya seperti nyeri gigi dan terjadi pembengkakan di sekitar
pipi, kemudian pembengkakan ini mereda. Selanjutnya penyakitnya bersifat
kronis membentuk fistel dan kadang tidak menimbulkan rasa nyeri pada penderita.
Pada sebagian besar kasus, tidak ada rasa nyeri pada daerah wajah, tetapi ada
keengganan pihak medis untuk mencabut gigi yang gangren, serta kebiasaan
pasien yang sering menunda pengobatan giginya yang infeksi. Kesulitan terapi

Osteomyelitis adalah minimnya aliran darah yang menuju daerah infeksi pada
rahang tersebut, sehingga mencegah antibiotik mencapai sasarannya.

2.4 Klasifikasi
Osteomyelitis dapat diklasifikasikan menjadi supuratif atau non-supuratif
dan sebagai proses akut atau kronis. Osteomyelitis akut terjadi jika proses
inflamasi akut menyebar ke ruang medula sehingga tidak ada waktu untuk tubuh
bereaksi terhadap timbulnya infiltrat inflamasi. Osteomyelitis kronis timbul jika
terdapat respon pertahanan tubuh sehingga menghasilkan jaringan granulasi yang
akan menjadi jaringan parut padat sebagai usaha pertahanan dan mengisolasi
daerah infeksi. Daerah nekrotik yang terisolasi berfungsi sebagai penampungan
bakteri dimana sulit untuk antibiotik mencapai daerah tersebut.
Jika dilihat dari besarnya insiden infeksi odontogen dan hubungan erat
antara gigi dengan ruang medula, maka terdapat kesenjangan bahwa osteomyelitis
tidak terjadi sesering mungkin. Di sini terdapat peranan faktor predisposisi pada
agen maupun host. Insiden yang rendah disebabkan oleh daya tahan tubuh host.
Selain faktor virulensi mikroorganisme, kondisi sistemik yang mempengaruhi
daya tahan tubuh dan kondisi yang merubah vaskularisasi tulang rahang sangat
berperan dalam onset dan keparahan osteomyelitis.

Osteomyelitis Supuratif

Osteomyelitis Nonsupuratif
Osteomyelitis sclerosis kronis

Osteomyelitis Supuratif Akut


-

Fokal

Difus

Osteomyelitis supuratif Kronis


Osteomyelitis Garre
-

Primer

- Sekunder
Osteomyelitis Pada Anak

Osteomyelitis Aktinimikosa
Osteomyelitis Radiasi

Tabel 1. Klasifikasi Osteomyelitis tulang rahang menurut Topazian

2.5 Patogenesis
Dari sumber infeksi dapat mencapai tulang melalui beberapa jalan, antara
lain :
a. Secara langsung melalui perluasan penyakit,
b. Secara hematogen,
c. Dari fraktur tulang yang terbuka kemudian terkontaminasi.
Invasi bakteri pada tulang spongiosa menyebabkan inflamasi dan edema
dirongga sumsum (marrow spaces) sehingga menekan pembuluh darah tulang dan
selanjutnya menghambat suplai darah. Kegagalan mikrosirkulasi pada tulang
spongiosa merupakan faktor utama terjadinya osteomyelitis, karena area yang
terkena

menjadi

iskemik

dan

tulang

bernekrosis.

Selanjutnya

bakteri

berproliferasi karena mekanisme pertahanan yang banyak berasal dari darah tidak
sampai pada jaringan dan osteomyelitis akan meyebar sampai dihentikan oleh
tindakan medis.

Pada region maxillofasial, osteomyelitis terutama terjadi sebagai hasil dari


penyebaran infeksi odontogenik atau sebagai hasildari trauma. Hematogenous
osteomyelitis primer langka dalam region maxillofasial, umumnya terjadi pada
remaja. Proses dewasa diinisiasi oleh suntikan bakteri kedalam tulang rahang. Ini
dapat terjadi dengan ekstraksi gigi, terapi saluran akar atau fraktur
mandibula/maksila. Awalnya menghasilkan dalam bakteri yang diinduksi oleh
proses inflamasi. Dalam tubuh host yang sehat, proses ini dapat self-limiting dan
component dapat dihilangkan. Terkadang dalam host normal dan compromised
host, hal ini potensial untuk proses dalam kemajuan kepada titik dimana
mempertimbangkan patologik. Dengan inflamasi, terdapat hyperemia dan
peningkatan aliran darah ke area yang terinfeksi. Tambahan leukosit didapat ke
area ini untuk melawan infeksi. Pus dibentuk ketika suplai bakteri berlimpah dan
debris sel tidak dapat dieliminasi oleh mekanisme pertahanan tubuh. Ketika pus
dan respon inflamasi yang berikutnya terjadi di sumsum tulang, tekanan
inttramedullary ditingkatkan dibuat dengan menurunkan suplai darah ke region
ini. Pus dapat berjalan melewatti haversian dan volkmanns canal untuk
menyebarkan diseluruh tulang medulla dan cortical. Point terakhir yang terjadi
adalah ketika pus keluar jaringan lunak dan intraoral atau ektra oral fistula.
Walaupun maksila dapat terkena osteomyelitis, hal itu sangat jarang bila
dibandingkan dengan mandibula. Alasan utamanya adalah bahwa peredaran darah
menuju maksila lebih banyak dan terbagi atas beberapa arteri, dimana membentuk
hubungan kompleks dengan pembuluh darah utama. Dibandingkan dengan
maksila, mandibula cendrung mendapat suplai darag dari arteri alveolar inferior.

Alasan lainnya adalah padatnya overlying cortical bone mandible mengambat


penetrasi pembuluh daerah periosteal.9

2.6 Penatalaksanaan
Prinsip

penalataksanaan

osteomyelitis

adalah

untuk

mencapai

keseimbangan antara pathogen dan daya tahan tubuh sehingga tubuh dapat
mengatasi infeksi. Penatalaksanaan osteomyelitis biasanya membutuhkan tata
laksana medis maupun bedah. Keadaan sistemik pasien harus dievaluasi untuk
mencari adanya kelainan yang mempengaruhi daya tahan tubuh.
a. Osteomyelitis Supuratif Akut
Penatalaksaannya terdiri dari:
1. Pengobatan antibiotika efektif
Obat harus diberikan secepat mungkin dengan dosis masif secara
parenteral. Mikroorganisme penyebab diperiksa sensifirasnya. Sebelum
didapatkan hasil tes, penisilin dapat diberikam sebagai obat pilihan
pertama. Lama pemberian antibiotika tidak terbatas, waktu yang definitif
biasanya selama 2 minggu dan diteruskan sesuai dengan keparahan
penyakitnya.
2. Drainase
Pada fase akut dilakukan pengompresan panas dapat mempercepat
terlokalisasinya infeksi. Sebaliknya kompres dingin merupakan kontra
indikasi. Drainase harus segera dibuat untuk mengeluarkan pus sehinga
mengurangi rasa sakit, mengurangi absorbsi bahan-bahan toksik dan
mencegah penyebaran infeksi. Tindakan ini tidak diperkenankan tanpa

perlindungan antibiotika, bila mungkin antibiotika diberikan selama 3 hari


sebelum dilakukan tindakan drainase. Drainase dapat berupa pencabutan
gigi yang terlibat, insisi pada daerah yang tidak bergigi diikuti dengan
pemasangan drain karet untuk memberikan jalan pus. Perawatan
selanjutnya adalah irigasi dengan larutan garam fisiologis hangat dan
penggantian drain setiap hari.
3. Pengobatan Suportif
Sebaiknya penderita dirawat inap agar dapat istirahat cukup, diet makanan
tinggi kalori protein dan polivitamin yang memadai. Pemberian infuse
NaCl dan dektrose serta transfuse darah bila diperlukan.
4. Sequesterektomi
Tindakan ini dilakukan bila sequester telah benar-benar tampak pada
gambaran radiologis atau penyakit ini sudah menjadi kronis.
b. Osteomyelitis supuratif kronis
Pada osteomyelitis supuratif kronis yang menjadi masalah adalah adanya
sequester di dalam tulang yang persisten dan tidak bisa dicapai antibiotik
secara sistemik. Karena itu harus dilakukan tindakan sequesterektomi,
kadang-kadang diikuti tindakan sauserisasi atau bone graft. Pengobatan dan
pengelolaanya sebagai berikut :
1. Perawatan prabedah
Biasanya keadaan umum penderita sudah jauh lebih baik daripada
waktu dalam keadaan akut. Pengobatan umum sebelumnya sudah

diberikan menjelang dilakukan pembedahan. Antibiotika diberikan


sebelumnya untuk mencegah penyebaran penyakit.

2. Prosedur pembedahan
Pada rahang bawah insisi intraoral dapat dilakukan dan cukup memadai
bila penyakit hanya mengenai tulang alveolar saja. Insisi dibuat pada
gingival kemudian gingival dipisahnkan dari tulang, jaringan tulang yang
nekrotik diangkat bersama gigi yang terlibat, bekas luka dibersihkan dan
diirigasi kemudian ditutup jahitan. Fistula yang ada mulai dari muara
sampai seluruh salurannya dieksisi. Penutupan luka operasi bias dijahit
rapat bila sequester kecil dan tidak memerlukan drainase. Bila luka besar
diperlukan drainase dengan karet yang dimasukkan ke dalam bekas
sequester untuk keluarnya pus.
Bila penyakit melibatkan tepi bawah korpus mandibula insisi ekstra
oral diperlukan, diatas kulit, 1 cm dibawah tepi tulang. Jaringan granulasi
dan jaringan nekrotik dibersihkan dengan kuret sampai tulang sehat terasa
dan terlihat. Tindakan lainya yang mungkin adalah sausarisasi yaitu
tindakan untuk menghilangkan kavitas yang besar dengan jalan
membuang dinding kavitas bekas sequester yang overhange sehinga pada
penutupan luka, periosteum dan jaringan lunak dapat berkontak dengan
tulang untuk mempercepat penyembuhan. Luka operasi ditutup lapis demi
lapis secara anatomis dengan jahitan primer. Pemasangan drain diperlukan
pada luka yang besar dimana masih ada supurasi, dan jaringan nekrotik.

3. Perawatan pasca bedah


Pemberian antibiotika diteruskan paling sedikit 10 hari sampai 2
minggu atau lebih lama bila ternyata tanda-tanda infeksi masih ada. Pada
pembedahan mandibula ini, rahang diimobilisasi dengan elastic bandage
dan dihindari makanan padat. Bila dipasang drain karet, drain ini diambil
pada hari kedua jika hanya terdapat cairan serosanguinus. Tetapi jika
cairan pus, drain dipertahankan sampai cairan berhenti keluar.
c. Osteomyelitis sclerosis fokal kronis
Pada osteomyelitis tipe ini, gigi yang merupakan sumber infeksi dapat
dipertahankan dengan perawatan endodontik atau dicabut. Pada waktu gigi
dicabut, tulang yang sklerotik biasanya ikut terangkat. Bagian tulang ini tidak
perlu diangkat bila tidak ada keluhan dari penderita.
d. Osteomyelitis difus kronis
Pengobatan osteomyelitis jenis ini merupakan masalah sulit. Lesinya
terlalu luas untuk diambil dengan pembedahan, sedangkan di pihak lain
seringkali menimbulkan eksaserbasi akut. Lesi ini tidak membahayakan
karena tidak destruktif dan jarang menimbulkan komplikasi. Jika pada daerah
sklerotik ini terdapat gigi yang harus dicabut, hendaknya diperhitungkan
kemungkinan terjadinya infeksi dan lamanya penyembuhan luka bekas
ekstraksi, karena bagian tulang ini avaskuler serta kurang beraksi. Pada kasus
dengan pengambilan tulang yang banyak, defeknya diperbaiki dengan bone
grafting. Pengobatan ini didukung pemberian antibiotik berspektrum luas.

e. Osteomyelitis kronis dengan periostitis proliferatif


Pada osteomyelitis tipe ini pengobatan yang terbaik adalah ekstraksi gigi
yang menjadi sumber infeksi. Untuk lesi periosteumnya tidak perlu dilakukan
tindakan bedah apapun. Setelah ekstraksi gigi akan terjadi remodelisasi dari
tulang secara perlahan-lahan, sehingga tulang kermbali terbentuk normal.10
2.7 Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi karena osteomyelitis rahang bawah
antara lain:
d. Parestesi bibir bawah unilateral karena penyebaran infeksi pada nervus
alveolaris inferior
e. Fraktur patologis, karena kerusakan tulang sudah sedemikian besarnya.
f. Bila penyakit mengenai ramus ascendens dan melibatkan kondilus, akan
terjadi deviasi ke arah sisi yang terkena.
g. Komplikasi yang lebih parah adalah terbentuknya thrombus yang sepsis,
sehingga dapat mengakibatkan septicemia, dan penderita dapat meninggal.

LAPORAN KASUS

No RM

: 833836

Nama Pasien

: Suparti Binti Sumarto

Tanggal Lahir

: 22 Februari 1966

Usia

: 50 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Vila anggrek 4 C3 No. 18

Tanggal operasi

: 9 september 2016

Dokter operator

: drg. M. T. Sugiharto, Sp.BM

Asisten 1

: Nur Rizki

Asisten 2

: Femita Rya G.

I.

Data Dasar
1

Keluhan Utama :
Nyeri dan bengkak pada gusi.

2
II

III

Pengobatan saat ini : (-)

Riwayat Kesehatan:
1

Riwayat penyakit terdahulu : Lain-lain: Tidak

Operasi yang pernah dialami : Tidak

Alergi : Tidak

Riwayat penyakit keluarga : Tidak

Ketergantungan terhadap : Tidak

Pemeriksaan Fisik:
1

Airway : Bersih

Breathing : Ada

Circulation : Kuat

Kesadaran : Normal

GCS :4 E:6

M:5

V:15

Pupil ka/ki: 3/3

Refleks ka/ki: +/+

IV

Tekanan Darah : 132/78 mmhg

Nadi : 70 x/menit

Suhu : 36,7 oC

Pernafasan : 20 x/menit

Nyeri
1

:
Nyeri : (+)

Status Fungsional:

VI

Penggunaan alat bantu: (-)

Cacat tubuh

: (-)

Diagnosa : Osteomyelitis Mandibula Dextra

IV.

Pemeriksaan Penunjang :
1

Foto Panoramik

2 Laboratorium :
a Hematologi
a Darah Rutin
Hemoglobin 12,1 g/dl
Leukosit 87 10^3/l
Laju endap darah 85* mm/jam
b Hitung Jenis
Basofil Eosinofil 1 %
Neutrofil batang Neutrofil segmen 61%
Limfosit 31%
Monosit 7%
c
d
b

Masa pendarahan : 2 menit


Masa pembekuan : 11 menit

Kimia Klinik
SGOT : 10,3 u/l
SGPT : 6,7 u/l
Ureum : 34 mg/d
Creatinine : 0,7 mg/d
Glucosa darah sewaktu : 86 mg/d

VII

Laporan pre-operasi (rawat inap)


Pasien datang ke poli gigi dan mulut pada tanggal 7 September 2016 pukul 13.00
Pasien dipindahkan ke ruang rawat inap VIP Pamen 4 tanggal 7 September 2016
pukul 13.29
Pasien rawat inap sampai tanggal 7 September 2016 sebelum operasi tanggal 9
September 2016
VIII
Laporan Operasi
Tanggal Operasi : 9 September 2016
Tindakan : Reseksi dan rekonstruksi
Tahapan :
1 Persiapan alat dan bahan.

2
3
4

Pasien masuk ke ruang OK dan dipindahkan ke atas meja operasi dalam


keadaan terlentang.
Pasien dibius umum melalui inhalasi nasal.
Asepsis daerah kerja dengan menggunakan povidone iodine.

Penyuntikan infiltrasi serta penyuntikan daerah ekstra oral pada bagian


jaringan yang mengalami nekrosis.

6
7
8

Insisi triangular pada bagian intra oral, kemudian flap dibuka dengan
rasparatorium.
Setelah itu melakukan pengangkatan pada bagian gigi yang terinfeksi.
Pengeburan pada daerah yang terdapat sequerter, dengan bur low speed
dan membuang tulang.

Pengangkatan sequester dengan teknik sequesteroktomi.

10 Irigasi daerah kerja.


11 Kemudian lakukan insisi pada bagian ekstra oral, untuk mengangkat
jaringan nekrosis.

12 Kauterasi jaringan.

13 Lakukan pengangkatan jaringan nekrosis


14 Debridement daerah kerja.
15 Berikan fiksasi interna (wire) agar terjadi pertumbuhan tulang baru.

16 Kuretase, spooling dengan NaCl 3%

17 Suturing pada bagian ekstra oral dan intra oral dengan penjahitan simple
interupted.

18 Operasi selesai

19 Terapi obat :
infus RL
inj. Ceftriaxone 2x1 gr
inj. Metronidazole 3x500 gr
inj. Ketorolac 3x1
inj. Transamin 2x500mg

20 Instruksi post-operasi:
Awasi TTV dan pendarahan.

Diet cair 24 jam post operasi.

Tidak boleh menyedot dan menghisap.

Ajarkan teknik relaksasi.

21 Kontrol 1 tanggal 9 september 2016


S: Pasien masih merasa nyeri
O: TD: 110/70, N: 88x/m, R: 20x/m. S: 36.6
A: Masalah nyeri belum teratasi
P: Observasi TTV

BAB III

KESIMPULAN

Osteomyelitis rahang adalah suatu infeksi yang sifatnya ekstensif pada tulang
rahang, yang mengenai spongiosa, sumsum tulang, korteks, dan periosteum. Penyebab
utama yang paling sering dari Osteomyelitis adalah penyakit periodontal, seperti
gingivitis, pyorrhea, atau periodontitis. Di samping itu, penyebab lain osteomyelitis
adalah tertinggalnya bakteri di dalam tulang rahang setelah pencabutan gigi.
Osteomyelitis lebih sering terjadi pada mandibula daripada maksila. Alasan
utamanya adalah bahwa peredaran darah menuju maksila lebih banyak dan terbagi atas
beberapa arteri, dimana membentuk hubungan kompleks dengan pembuluh darah utama.
Dibandingkan dengan maksila, mandibula cendrung mendapat suplai darah dari arteri
alveolar inferior. Alasan lainnya adalah padatnya overlying cortical bone mandible
mengambat penetrasi pembuluh daerah periosteal. Gejala klinis osteomyelitis berupa rasa
nyeri dan pembengkakan yang sifatnya bervariasi, adanya limpadenopati regional, rasa
panas dan malaise, gigi goyang dan sensitif terhadap perkusi, adanya fistel, pembesaran
mandibula, dan rahang asimetris. Perjalanan penyebarannya dapat secara langsung
melalui perluasan penyakit, secara hematogen, dan dari fraktur tulang yang terbuka
kemudian terkontaminasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Osteomielitis

rahang.

Available

from:

URL

http://www.duniakedokterandokterkecil.com. Accessed on Sept 13, 2016.

2. Larheim TA, Westesson PL. Maxillofacial imaging. Germany: Springer;


2006:119.
3. Frasgiskos DF. Oral surgery. Berlin: Springer; 2007. p. 360
4. Sato T, Shigwaki S, Kazunori K, Akito T, Takenori N. Chronic osteomyelitis
of the mandible. Tokyo: Department of Dental Radiology.
5. Guzerdemir E, Hilal UT, Can B, Nebil B. Mandibular osteomyelitis due to a
failed root kanal treatment in a patient with multiple myeloma. Gulhane TD;
2007; 49: 266.

6. Putra RF, Sulisytani DS. Osteomyelitis kronis mandibula pada anak-anak dan
dewasa. Jurnal PDGI.2009; 58(3): 20-24
7. Topazian RG, Goldberg MH. Oral and Maxillofacial Infections. 3th ed.
Philadelphia.Saunders.1994: 251-288

8.

Archer, W.H. Oral and Maxillofacial Surgery. Vol 1, 5th ed. Philadelphia:
W.B. Saunders Company. 1975: 1630-1645.

9. Mead, S.V. Oral Surgery. 4th ed. St. Louis : The C.V. Mosby Co. 1969: 792829.

10.

Baltensperger MM. Osteomyelitis of The Jaws. Berlin. Springer-Verlag;

2009:5-56
11. Clark, H.B. 1963. Practical Oral Surgery. 2nd ed. Philadelphia : Lea and
Fabiger. 414-416.
12.