Anda di halaman 1dari 2

Kotak Kenangan

Kilasan wajahmu muncul siang ini


terselip diantara cahaya
yang tak mampu segera kuabadikan
karena tibatiba kuingat senja
dan wangi tanah pedusunan
tempat kita biasa bersembunyi
dibalik baris daun ilalang
hingga rembang petang datang menjemput pulang
Mendungpun singgah; buyarkan lamunanku
saat kau tibatiba mendekat
ingin berbagi nasib
yang tak mampu kau bendung sendiri,
bagaikan tanah memeluk akar
aku dengan ikhlas rela berbagi ketakpastian denganmu
Dengan sendu
kau bertanya padaku yang lupa diri,
hujankah hari ini?
kujawab dengan gelengan perlahan,
dan rerintik kecil mulai membasahi pangkuanmu
sebab katamu kau ingin agar hujan tak hentihenti mendekapmu sepanjang
ingatan
agar luruh segala kabut
resah
sesal
duka
juga nestapa.

Dalam diam yang memekakkan telinga


kuhapus airmatamudengan saputangan
hasil kenangan masa silam
serta kubisikkan padamu,
mungkin hujan akan turun,
tapi aku tak bisa menerka kemana kan dia bawa langkah kaki kita selanjutnya,
sebab dengan segala kepatuhan pada restu bumi,
cakrawala hanya mampu tunduk mengikuti babak demi babak persitiwa,
sementara lagu yang dinyanyikan gugusan bintang utara
hanyalah bagian dari lakon yang biasa mereka mainkan;
sekedar penyempurna panorama malam
Maka malam nanti
ijinkan kuberikan padamu kuntum mimpi yang kupetik
dari belukar taman kenanganku
sehabis pertemuan singkat ini
dan biarlah jalanan becek didepan fakultas
kembali menertawakan aku
yang tak hentihenti menunggu

teduh poni hitammu dihalte tua


tempat kau biasa melukiskan partikelpartikel kenangan
diantara riuh coretan tangan para mahasiswa nakal.
Lalu bersamasama kita pulang
menyambut kesedihan lain dihari esok.