Anda di halaman 1dari 61

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................. iii


TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 5
1.1

Pewarnaan pada Gigi.......................................................................5

1.2

Penyebab Menempelnya sisa Makanan pada Gigi....................................9

1.3

Definisi Karies.............................................................................11

1.4

Proses Terjadinya Karies Gigi..........................................................12

1.5

Definisi Karies Dentin....................................................................15

1.6

Karies pada Balita akibat Minum Susu................................................18

1.7

Karies Pada Gigi Sulung.................................................................22

1.8

Perbedaan Karies pada Gigi Sulung dan Permanen.................................24

1.9

Atraumatic Restorative Treatment.....................................................26

1.9.1

Definisi ART.........................................................................26

1.9.2

Alasan Menggunakan Teknik ART..............................................26

1.9.3

Alat dan Bahan......................................................................27

1.9.4

Prosedur Atraumatic Restorative Treatment...................................28

1.10

Glass Ionomer..............................................................................31

1.10.1

Definisi Glass Ionomer (GI)......................................................31

1.10.2

Mengapa Dipilih Bahan Tambal Glass Ionomer..............................31

1.10.3

Fungsi dan Klasifikasi Glass Ionomer..........................................33

2.10.4 Komposisi................................................................................35
2.10.5 Manipulasi Glass Ionomer Cement..................................................36
2.10.6

Varnish sebagai Batas..............................................................37

2.10.7

Sifat semen ionomer Kaca.........................................................38

2.10.8

Mekanisme (Reaksi Pengerasan) Semen Ionomer Kaca.....................39

2.10.9

Kelebihan dan Kekurangan Semen Ionomer Kaca............................41

2.10.10

Indikasi dan kontraindikasi.....................................................41

2.10.11 Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Bahan Pengisi...............42


2.10.12 Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Kegunaannya................44
LAMPIRAN............................................................................................. 84
5.1

Cara Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosa....................................84

5.1.1.

Pemeriksaan Subjektif (Anamnesis).............................................84

i.

Pemeriksaan Objektif.....................................................................86

5.2

Berat Badan Standar Seorang Balita...................................................91

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Pewarnaan pada Gigi
Menurut Mangoen Prasodjo (2009), stain adalah warna yang menempel diatas permukaan gigi biasanya terjadi karena pelekatan warna makanan,
minuman, ataupun rokok yang meninggalkan tar berwarna kecoklatan pada gigi, yang terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang panjang.
Menurut Grossman (1995), stain adalah perubahan warna yang ditemukan pada permukaan luar gigi dan biasanya berasal lokal, misalnya noda tembakau
yang menyebabkan gigi berwarna gelap. Menurut Suryo (1992, Cit, Widyana, 2005)
a. Pewarnaan ekstrinsik
Pewarnaan ekstrinsik adalah suatu perubahan warna yang terjadi dari luar, karena agensia yang menyebabkan perubahan warna menembus masuk kedalam
jaringan gigi.
b. Pewarnaan intrinsik
Menurut Sumawinata (1997, cit. Widyana, 2005), pewarnaan intrinsik merupakan perubahan warna yang mengenai bagian dalam struktur gigi selama
pertumbuhan gigi, yang penting sebagian besar perubahan warna terjadi didalam dentin dan relatif sukar dirawat, contoh : perubahan warna karena tetrasiklin
yang masuk kedalam struktur mineral gigi yang sedang tumbuh.
Menurut Grossman (1995) pewarnaan yang diakibatkan oleh noda yang terdapat didalam email dan dentin.
Menurut Mangoen Prasodjo (2004) pewarnaan yang mengalami diskolorasi atau perubahaan warna yang terjadi semasa pembentukan struktur gigi.
Diskolorasi Pewarnaan Stain
Diskolorasi gigi atau stain adalah deposit berpigmen pada permukaan gigi.Stain merupakan masalah estetik dan tidak menyebabkan peradangan pada
gingival. Penggunaan produk tembakau, teh, kopi, obat kumur tertentu, dan pigmen didalam makanan menyebabkan terbentuknya stain. Stain akibat pemakaian

produk-produk tersebut menghasilkan permukaan yang kasar sehingga mudah ditempeli oleh sisa makanan dan kuman yang akhirnya membentuk plak. Apabila
tidak dibersihkan, plak akan mengeras dan membentuk karang gigi (calculus) yang dapat merambat ke akar gigi, akibatnya gusi mudah berdarah, gigi gampang
goyang, dan mudah tanggal. Stainpada gigi dapat terjadi dengan tiga cara : (1) stain melekat langsung pada permukaan, (2) stain terjabak di dalam kalkulus dan
deposit lunak, dan (3) stain bergabung dengan struktur gigi atau material restoratif.
Berdasarkan sumbernya, stain dibagi menjadi eksogen stain yang di sebabkan oleh substansi dari luar gigi dan endogen stain yang berasal dari dalam
gigi. Berdasarkan lokasi, stain dibagi menjadi stain intrinsik dan ekstrinsik. Stain intrinsik terdapat didalam substansi gigi dan tidak dapat hilang dengan
scalling ataupun pomolesan gigi. Stain ekstrinsik adalah perubahan warna pada permukaan luar gigi yang dapat hilang hanya dengan menyikat gigi dan
scalling. Mayoritas stain yang terjadi pada gigi permanen adalah stain ekstrinsik. Warnanya bervariasi dari kuning hingga hitam dan terdapat pada pelikel.
Berdasarkan penyebabnya, stain ekstrinsik dibagi menjadi dua kategori: (1) stain langsung, disebabkan oleh kromogen organik yang melekat pada
pelikel. WarnaStain yang dihasilkan berasal dari warna asli kromogen tersebut. Merokok dan mengunyah tembakau diketahui menyebabkan stain jenis ini,
demikian juga dengan beberapa jenis ini minuman seperti teh dan kopi. Warna yang terlihat pada gigi berasal komponen polyphenol, yang memberikan warna
pada makanan, (2) stain tidak langsung, dihasilkan dari interaksi kimia antara komponen penyebab stain denagn permukaan gigi. Stain ini berhubungan dengan
antiseptik kationik dan garam metal. Stain coklat dihasilkan dari perubahan kimia pada pelikel, penggunaan stannous fluroid, teh, kopi, kecap, dan klorheksidin.
Etiologi
Perubahan warna menurut Grossman (1995), perubahan warna dapat diklasifikasikan sebagai ekstrinsik dan intrinsik, perubahan warna ekstrinsik
ditemukan pada permukaan luar gigi dan biasanya berasal dari lokal, misalnya noda tembakau yang menyebabkan warna gigi menjadi coklat ke kuningkuningan sampai hitam, pewarnaan karena makanan dan minuman menyebabkan gigi menjadi gelap, pewarnaan karena nitrat perak, bercak kehijauan yang
dihubungkan dengan membran nasmyth pada anak-anak.
Perubahan warna intrinsic adalah pewarnaan gigi yang diakibatkan oleh noda yang terdapat didalam email dan dentin, penyebabnya adalah penumpukan
atau penggabungan bahan-bahan didalam struktur gigi misalnya stain tetrasiklin, yang bila masuk kedalam dentin akan terlihat dari luar karena transluensi
5

email. Perubahan warna gigi dapat dihubungkan dengan periode perkembangan gigi misalnya padadentiogenesis imperfekta atau setelah selesai perkembangan
gigi yang disebabkan oleh pulpanekrosis.
Penyebab perubahan gigi menurut Walton dan Torabinejab (1996) perubahan warna dapat terjadi pada saat atau setelah terbentuknya email dan dentin
penyebab perubahan warna gigi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu karena noda alamiah dan pewarnaan iatrogenik. Penyebab noda alamiah perubahan
warna gigi disebabkan oleh sejumlah noda pada permukaan gigi setelah gigi erupsi. Noda alamiah mungkin berada pada permukaan atau berikatan didalam
struktur gigi, kadang-kadang diakibatkan defek email atau karena cidera trauma.
Obat-obatan sistemik masuknya obat-obatan atau bahan kimia pada saat pembentukan gigi dapat menyebabkan perubahan warna gigi. Pada umumnya
obat yang menyebabkan perubahan warna gigi paling berat adalah tetrasiklin, menyebabkan gigi berwarna kuning kecoklatan sampai abu-abu tua, hal ini
tergantung pada jumlah, frekuensi, jenis tetrasiklin dan umur pasien saat meminum obat.
Defek dalam pembentukan gigi kerusakan dalam pembentukan gigi terjadi sebatas email berupa hipoplasia dan hipokalsifikasi, terlihat warna gigi
kecoklatan.
Kenapa gigi menjadi berwarna kuning kecoklatan?
Tanda yang menunjukkan terjadinya karies adalah adanya noda pada gigi, yaitu :
1. Munculnya spot putih seperti kapur pada permukaan gigi. Ini menunjukkan area demineralisasi akibat asam.pada tahap awal demineralisasi, kavitas
belum terbentuk di permukaan email, namun mineral email sudah terlarut sehingga secara klinis terlihat perubahan warna menjadi lebih putih. Lesi awal
karies dapat kembali normal melalui proses remineralisasi
2. Proses selanjutnya, warnanya akan berubah menjadi cokelat, kemudian mulai membentuk lubang. Jika spot kecoklatan ini tampak mengkilap, maka
proses demineralisasi telah berhenti yaitu jika kebersihan mulut membaik. Spot ini disebut stain dan dapat dibersihkan. Sebaliknya, spot kecoklatan
yang buram menunjukkan proses demineralisasi yang sedang aktif.perubahan ini terjadi akibat adanya ebris organic yang terperangkap pada email dan
berlanjut ke dentin. Lesi pada dentin biasanya berwarna coklat gelap pada zona infected dentin, sedangkan lesi yang lebih dekat pulpa berwarna lebih
pucat dibanding lesi pada zona infected dentin. Etiologi perubahan warna yang terjadi pada dentin karena proses karies sebenarnya masih belum jelas,

namun reaksi biokemikal antrar protein protein dan karbohidrat pada lingkungan yang lembab dan asam dapat memengaruhi perubahan warna yang
terjadi pada dentin karena proses karies. Reaksi perubahan warna tersebut disebit reaksi maillard.

Reaksi Dentin pada Proses Karies


Enamel dan dentin dideskripsikan sebagai entitas yang berbeda, terutama apabila dilihat dari struktur dan asal terbentuknya. (Fejerskov and Kidd.1988)
Menurut, seperti pada enamel, karies pada dentin akan diawali dengan demineralisasi, anggapan ini juga didukung bukti oleh histokimia, kimia dan
bakteriologi. Demineralisasi ini diikuti oleh serangan kepada tubulus dan dan perusakan enzimatik pada material organic. (Ocwen. 1961)
Peningkatan porositas sebagai hasil dari demineralisasi pada enamel, maka dia akan mempengaruhi jaringan pulpa-dentin yang ada dibawahnya.
Perubahan dentin selama proses karies tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan adanya penyebaran atau perluasan dari lesi enamel. Reaksi pertahanan
yang paling biasa dilakukan oleh organ pulpa-dentin adalah tubular sclerosis yaitu deposisi mineral sepanjang tubulus dentin. (Johnson et al. 1969; Masler,
1967; Levine 1974; Mjor. 1983;Stanley et.al1983)

Perubahan usia pada dentin dijelaskan sebagai mineralisasu gradual dari peritubular dentin yang menghasilkan tubular sclerosis. Atrisi juga
mempercepat proses ini. Karies adalah salah satu stimulus yang juga mempercepat tubular sclerosis, proses yang membutuhkan odontoblas vital. (Fejerskov
and Kidd.1988)
Tubular sclerosis yang diamati pada perhubungan dengan karies dideskripskan sebagai hasil dari mineralisasi utama dari ruang peritubular yang diikuti
oleh kalsifikasi proses odontoblas atau kalsifikasi utama intracytoplasmic oleh mineralisasi sekuner periodontoblastic.
Tanda pertama dari reaksi dentin pada lesi enamel yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya adalah tubular sclerosis yang membenruk bagian
terdalam dari lesi enamel. Demineralisasi enamel meningkatkan porositas dan juga permeabilitas enamel dan oleh karena itu ia menstimulus reaksi pertahanan
dentin, berhubungan dengan bagian paling berporus dari lesi enamel. Tubular sklerosi awal terihat sebelum bagian tercepat dari lesi enamel mencapai enameldentinal junction. Saat lesi enamel telah meluas ke enamel-dentinal junction, tanda pertama dari demineralisasi dapat terlihat sepanjang junction sebagai
diskolorisasi berwarna kuning kecoklatan. Beberapa ahli menyatakan bahwa demineralisasi dentin akan meluas dalam arah lateral sepanjang enamel-dentinal
junction karena batas anatomis antara kedua jaringan menginginkan penetrasi agen perusak. (Fejerskov and Kidd.1988)

Bagaimanapun juga demineralisasi kecoklatan dentin tidak akan menyebar melewati batas dari kontak area lesi enamel dengan enamel-dentinal junction. Hal
ini sangat alamiah untuk melihat tubular sclerosis disekeliling pusat demineralisasi sebagai pembatas dengan lesi. (Fejerskov and Kidd.1988)

1.2

Penyebab Menempelnya sisa Makanan pada Gigi

Karies gigi bisa terjadi apabila terdapat empat faktor utama yaitu gigi, substrat, mikroorganisme, dan waktu. Beberapa jenis karbohidrat makanan
misalnya sukrosa dan glukosa yang dapat diragikan oleh 11 bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga pH plak akan menurun sampai dibawah 5 dalam
tempo 3-5 menit. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi (Kidd, 2012). Proses terjadinya
karies dimulai dengan adanya plak dipermukaan gigi. Plak terbentuk dari campuran antara bahan-bahan air ludah seperti musin, sisa-sisa sel jaringan mulut,
9

leukosit, limposit dan sisa makanan serta bakteri. Plak ini mula-mula terbentuk, agar cair yang lama kelamaan menjadi kelat, tempat bertumbuhnya bakteri
(Suryawati, 2010). Selain karena adanya plak, karies gigi juga disebabkan oleh sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri yang menempel pada waktu
tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis yang akan menyebabkan demineralisasi email yang berlanjut
menjadi karies gigi. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan
luban g). Kavitasi baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Kavitas pada permukaan gigi terjadi bila demineralisasi bagian dalam email sudah
sedemikian luas, sehingga permukaan email tidak mendapat dukungan cukup dari jaringan dibawahnya. Bila sudah terjadi kavitas, maka gigi tidak dapat
kembali normal, dan proses karies akan berjalan terus. Hal itu terjadi bila proses demineralisasi dan remineralisasi di dominasi oleh proses
demineralisasi.Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi
yang makroskopis dapat dilihat. Pada karies dentin yang baru mulai, yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan transparan, terdiri atas tulang dentin sklerotik,
kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme dan 12 enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak tembus penglihatan, di dalam tubuli
terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan menembus tulang gigi. Dan
pada saat kavitas terbentuk serta demineralisasi inilah sisa makanan dapat menempel pada gigi.
Faktor-faktor ya ng mempengaruhi sisa makanan dapat menempel pada gigi lainnya yaitu :
1. Fisura dipermukaan oklusal gigi molar dan premolar, foramen coecum pada dataran palatinal gigi incisivus atas dan daerah proksimal yang sulit
terjangkau bulu sikat gigi menjadi tempat yang ideal bagi melekatnya sisa-sisa makanan. Keadaan ini akan bertambah parah apabila sehingga semakin
banyak permukaan gigi yang tidak terjangkau bulu sikat gigi saat penggosokan gigi dilakukan.
2. Anatomi jaringan sekitar gigi Jaringan sekitar gigi sebenanya teIah didisain untuk terjadinya self cleansing, akan tetapi bila ada kelainan maka self
cleansing tidak akan berjalan baik. Gingiva yang membesar pada penderita epilepsi yang selalu mengkonsumsi dilantin sodium akan menciptakan
permukaan gingiva yang tidak beraturan dan menebal sehingga sulit terjadi self cleansing, bahkan tindakan mekanis untuk membersihkannyapun sulit
dilakukan.
3. Struktur permukaan Gigi Permukaan gigi bias kasar, berbercak atau halus tergantung pada pertumbuhannya. Pada saat pembentukan gigi terutama saat
terbentuknya email bila terjadi gangguan pada pencernaan akan berpengaruh pada intake makanan sehingga menimbulkan kerusakan atau cacat pada
email. Contohnya adalah hypoplasi email.

4. Makanan yang halus lembut dan lunak tidak membutuhkan tenaga untuk menghaluskannya sehingga otot masseter tidak perlu bersusah payah menarik
rahang bawah untuk menghancurkan makanan saehingga saliva yang keluar dari parotistum menjadi sedikit. Makanan yang halus lembut dan lunak
cenderung banyak menempel pada permukaan gigi bersama dengan plak yang ada juga disana. Apabila makanan ini terdiri dari gula, terutama sukrosa
maka pertumbuhan plak akan menjadi pesat.
5. Saliva diyakini sebagai unsur utama pembentuk plak, sebab glikoprotein saliva merupakan awal penempelan mikroorganisme pada gigi. Glikoprotein
saliva ini menjadi bagian utama dan aquired pellicle. Saliva sebenarnya juga merupakan benteng pertama dan tubuh untuk menanggulangi invasi
penyakit, yaitu dengan alirannya, buffemya, antibodinya dan dengan viscositasnya. Sisa makanan biasanya menempel apabila aliran flow dari saliva
kurang dr jumlah normal karena Aliran saliva yang baik akan cenderung membersihkan mulut termasuk melarutkan gula serta mengurangi potensi
kelengketan makanan. Dengan kata lain, sebagai pelarut dan pelumas.
6. Diet dan bakteri mulut Penyusun utama dari plak adalah bakteri mulut atau mikroorganisme mulut. Mula-mula bakteri ini menempel pada gigi
kemudian membentuk koloni dengan cara mengikat bakteri yang lain dengan berkembang biak. Untuk sumber energi bakteri agar dapat hidup dan
berkembang biak dibutuhkan bahan makanan. Sebagai sumber energi bakteri adalah karbohidrat, yang juga merupakan sumber energi bagi manusia.
Karbohidrat yang paling utama untuk sumber energi bakteri adalah sukrosa, sehingga bila seseorang mengkonsumsi sukrosa serta tidak segera
menghilangkan sisa yang tinggal di dalam mulut, maka plak akan tumbuh dengan subur.
7. Restorasi gigi Dalam merestorasi gigi dianjurkan agar membangun bagian gigi yang hilang kembali seperti semula, kemudian menghaluskan dan
melicinkan permukaannya agar tidak mudah ditempeli bakteri atau ditempeli sisa makanan. Tumpatan kelas II sering menjadi penyebab utama
terjadinya gangguan periodontal di daerah interdental karena overhanging, sehingga tercipta tempat yang ideal untuk pertumbuhan plak dan ini akan
menimbulkan gangguan pada jaringan periodontan maupun pada servik dan gigi tersebut maupun disebelahnya.
8. Kalkulus gigi Kalkulus sebenarnya adalah plak yang mengalami mineralisasi sehingga menjadi keras dan menempel ketat pada gigi. Di permukaan
kalkulus juga menempel plak. Sering terlihat bahwa kalkulus sudah demikian tebal sehingga menutup seluruh bagian servikal dari gigi, semakin tebal
kalkulus semakin subur plak tumbuh. Karies gigi memberikan tempat persembunyian yang baik bagi bakteri atau plak , semakin banyak karies semakin
banyak pula plaknya.
1.3

Definisi Karies
11

Karies gigi (gigi berlubang) dalam bahasa yunani,kata ker artinya kematian. Dalam bahasa latin berarti kehancuran. Pembentukan lubang pada
permukaan gigi disebabkan oleh kuman yang dikenal sebagai lubang (srigupta, 2004)
Definisi dari karies gigi,karies gigi adalah suatu penyakit yang diklasifikasikan pada jaringan gigi, yang ditandai dengan kerusakan jaringan dimulai dari
permukaan gigi di daerah predileksi (pit,pisura,dan bidang kontak interproksimal) yang kemudian menyebar kedalam pulp. (easlick, 1948)
Atau karies juga dapat didefinisikan ,merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi , yaitu emai,dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh mikroba
yang dimulai dengan demineralisasi komponen organic gigi, kemudian terjadi destruksi komponen organic, yang akan menyebabkan terbentuknya kavitas.
Kerusakan gigi (karies gigi) dimulai dengan kehancuran tutup enamel oleh mikroorganisme hadir dalam rongga mulut dan melekat pada permukaan gigi.
Hal ini menyebabkan pemaparan dari dentin yang mendasari untuk lingkungan mulut dan kehancuran oleh enzim proteolitik bakteri. Enamel karies tidak akan
terlihat di bagian histologis rutin disiapkan sebagai jaringan ini benar-benar larut selama dekalsifikasi. Di dalam tanah bagian yang terbuat dari gigi
undecalcified, pemeriksaan mikroskopis di bawah cahaya yang ditransmisikan akan mengungkapkan perubahan optik yang terkait dengan penurunan
kandungan mineral dari struktur kristal yang masih utuh. Perubahan ini cenderung terjadi di daerah coneshaped memiliki basis di permukaan dan titik menuju
persimpangan amelo-dentin. Dengan meningkatnya kehilangan mineral dari struktur enamel, jaringan ini akan hancur. Kadang-kadang, enamel hancur ini akan
berisi begitu banyak bahan organik yang masih ada di bagian dekalsifikasi mana terlihat sebagai massa amorf basophilic.
Tubuli yang berfungsi sebagai jalan raya bagi bakteri untuk menyebar ke dentin. Sebagai tubulus dentin dari karies menjadi lebih buncit karena kerusakan
dinding mereka dengan enzim proteolitik diekskresikan oleh bakteri menyerang, mereka mungkin sekering dan rongga berbentuk gelendong bentuk tegak lurus
terhadap tubulus. Fusion dari tubulus menderita lebih dari jarak yang lebih panjang juga dapat membuat rongga berbentuk gelendong dalam arah yang sama
dengan jangka tubuli. Melalui hilangnya terus dentin antara tubulus, struktur batin runtuh jauh
Ketika karies tidak dihentikan oleh perawatan gigi, bakteri dan produk-produk beracun mereka akan mencapai bagian dalam lembut gigi, pulpa gigi, dan
membangkitkan respon inflamasi. Selanjutnya, dies pulp dan zat-zat beracun dari difus ruang pulpa melalui foramen apikal ke bagian periapikal berdekatan
ligamen periodontal dan sekitarnya tulang rahang. Penyakit periapikal sekarang akan terjadi. Jika permukaan akar gigi yang terkena akibat penyakit

periodontal, karies akar-meliputi juga mungkin menjadi korban dari pembusukan karies.Bakteri menembus ke dalam sementum menggunakan serat kolagen
yang pernah berlabuh gigi dalam soket gigi sebagai jalur.

1.4

Proses Terjadinya Karies Gigi

Karies gigi merupakan penyebab penyakit infeksi yang diperantarai oleh kuman, terutama Streptococcus mutans. Sebenarnya, kuman tersebut memang
pada normalnya ada di dalam rongga mulut (flora normal). Keberadaan kuman itu di dalam rongga mulut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan, jumlah
sukrosa yang terdapat dalam karbohidrat yang dikonsumsi, dan kebersihan mulut. Jika frekuensi aktivitas makan dan jumlah sukrosa yang dikonsumsi berada
dalam level tinggi disertai kebersihan mulut yang tidak terjaga maka konsentrasi fluoride pada mulut dan kemampuan sistem penyangga (buffer) saliva (ludah)
akan menjadi rendah akibatnya tingkat keasaman mulut dan jumlah kuman Streptococcus mutans pun akan meningkat.
Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada
waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut
menjadi karies gigi (Schuurs, 1993). Sedangkan menurut Robertson (2006), awalnya plak yang mengandung bakteri S. mutans dan Lactobacillus segera
memetabolisme sukrosa, dan menghasilkan asam organik, terutama asam laktat. Akibatnya, pH plak akan turun di bawah 5,5 dan menyebabkan demineralisasi
permukaan gigi. Apabila plak selalu terpajan sukrosa, pH plak akan tetap rendah dan proses demineralisasi akan terus berlangsung. Untuk mengembalikan pH
normal dibutuhkan waktu sekitar 20 menit sampai satu jam setelah pajanan sukrosa.

13

Sebenarnya ada proses yang mengimbangi demineralisasi tersebut,yaitu proses remineralisasi oleh ludah (saliva). Ludah akan menetralkan asam
sehingga ion ion mineral dari cairan di sekitar gigi dapat diletakkan kembali pada gigi. Dengan kata lain, proses karies dianggap sebagai hasil
ketidakseimbangan antara proses demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi terus menerus. Menurut Robertson (2006), Proses remineralisasi oleh ion fluor,
tidak hanya memperbaiki permukaan email, tetapi membuat email tahan terhadap serangan karies berikutnya dan melindungi larutnya kristal hidroksiapatit
pada email. Bila kondisi lokal mengalami perubahan, yaitu bila pH cukup tinggi >5,5, maka lebih banyak lagi hidroksiapatit, kalsium dan fosfat dari saliva
dapat diendapkan ke permukaan gigi.

Pada tahap awal demineralisasi, kavitas belum terbentuk di permukaan email, namun mineral email sudah mulai larut, sehingga secara klinis terlihat perubahan
warna menjadi lebih putih. Lesi awal karies dapat kembali normal melalui proses remineralisasi (Robertson, 2006). Lesi karies berwarna putih akibat
dekalsifikasi, berkembang menjadi lubang berwarna coklat atau hitam yang mengikis gigi (Suwelo, 1992)

Gambar. White spot lesion merupakan tanda awal dari terbentuknya lesi karies yang gambarannya berupa bercak putih opak pada permukaan gigi
Pada tahap awal, karies terlihat sebagai gambaran bercak putih kapur di permukaan gigi (white spot). Daerah white spot ini akan terlihat jelas pada gigi karena
gigi yang asli berwarna putih transparan dan mengkilat serta dilapisi pelikel (lapisan tipis bening dan tipis pada gigi). Jika pelikel ditumbuhi oleh kuman maka
terbentuklah plak dan hal ini jika dibiarkan, lama kelamaan akan terkalsifikasi (bercampur dengan kalsium), mengeras dan membentuk karang gigi. Karang gigi
inilah yang mengganggu keseimbangan proses demineralisasi remineralisasi tadi.

15

Karang gigi menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar dan menjadi tempat menempel plak kembali sehingga lama kelamaan karang gigi akan
mengendap,tebal dan menjadi sarang kuman. Karang gigi dapat terlihat kekuningan atau kehitaman biasanya akibat bercampur dengan rokok,teh dan zat zat
lain yang dapat meninggalkan warna pada gigi. Jika white spot dapat dideteksi sejak dini maka proses karang gigi menjadi karies gigi dapat dihentikan dengan
cara mempertahankan kebersihan gigi.
Menurut Tarigan (1995), biasanya karies terlihat berwarna cokelat kehitaman atau noda-noda putih yang bila diraba dengan sonde, email belum
tersangkut. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang).
Kavitasi akan timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Lama-kelamaan bagian karies ini akan terasa kasar serta diikuti dengan tertahannya sonde.
Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang
makroskopis dapat dilihat. Karies yang berwarna cokelat kehitaman lebih lama menimbulkan lubang pada gigi sedangkan noda yang berwarna putih lebih
cepat menimbulkan lubang.

Gambar. Terbentuk kavitas karies yang berwarna cokelat kehitaman.

Kavitas pada permukaan gigi terjadi bila demineralisasi bagian dalam email sudah sedemikian luas, sehingga permukaan email tidak mendapat dukungan
cukup dari jaringan dibawahnya. Bila sudah terjadi kavitas, maka gigi tidak dapat kembali normal, dan proses karies akan berjalan terus. Hal itu terjadi bila
proses demineralisasi dan remineralisasi di dominasi oleh proses demineralisasi. (Robertson, 2006)
1.5

Definisi Karies Dentin

Karies dentin merupakan proses patologis berupa kerusakan yang terbatas di jaringan gigi mulai dari email kemudian berlanjut ke dentin. (Behrman,
2002) Sama halnya dengan email, dentin juga dapat mengalami karies. Hal ini disebabkan karena dentin juga memiliki struktur anorganik berupa kristal
hidroksi apatit meski tidak sebanyak pada email. Dentin tersusun atas tubulus-tubulus yang dibangun oleh struktur organic berupa serat kolagen. Akibat struktur
yang dimilikinya ini, membuatnya jauh lebih rentan terhadap kerusakan karena hanya dengan asam lemah saja sudah mampu melarutkan (demineralisasi)
strukturnya.
Ada tiga macam perubahan yang terjadu selama karies dentin, yaitu:
1. Asam organiik lemah yang mendemineralisasi dentin.
2. Material organic dentin, khususnya kolagen, bergenerasi dan larut.
3. Hilangnya struktur dentin diikuti dengan invasi bakteri
Perjalanan Karies Dentin
Ada lima zona yang terbentuk selama terjadinya karies dentin, yaitu
1. Zona Denrin Reaktif
Zona dentin reaktif merupakan suatu zona yang terbentuk diantara dentin dan pulpa, berfungsi sebagai suatu reaksi pertahanan terhadap rangsangan yang
terjadi di daerah perifer. Pada zona ini, sudah mulai terbentuk sistem pertahanan nonspesifik dari pulpa yang teraktivasi untuk menghambat kerusakan sehingga
tidak berlanjut ke pulpa.
2. Zona Sklerotik
Zona sklerotik merupakan suatu pellindung yang terbentuk apabila rangsangan sudah mencapai dentin untuk melindungi pulpa. Pada masa ini terjadi suatu
proses peletakan mineral ke dalam lumen tubulus dentin dan biasa dianggap sebagai mekanisme normal dari pembentukan dentin peritubuler. Peletakan mineral
ini membuat berkurangnya daya permeabilitas jaringan, sehingga dapat mencegah penetrasi asam dan toksin-toksin bakteri.
17

Zona ini disebut juga zona translusen. Namun maksud translusen di sini adalah terjadinya peningkatan kandungan mineral pada tubulus dentin, tidak sama
seperti yang terjadi pada email dimana zona translusen disebabkan oleh adanya penurunan kadar mineral dalam email.
3. Zona Demineralisasi
Sesuai dengan namanya, pada zona ini terjadi demineralisasi sehingga mineral yang ada pada dentin semakin berkurang. Namun, pada zona ini belum
dimasuki oleh bakteri.
4. Zona Invasi Bakteri
Pada zona ini, sudah banyak mineral pada dentin yang hilangm sehingga materi organiknya pun sudah terlarut. Bakteri sudah masuk ke dalam tubuli dentin.
5. Zona Destruksi
Zona destruksi atau zona nekrosis merupakan suatu zona dimana dentin sudah dihancurkan oleh bakteri. Materi organik sudah semakin banyak yang hilang
dan mulai terlihat adanya kavitas pada dentin.

Keterangan:
1 : Dentin Reaktif
2 : Zona Sklerotik
3 : Zona Demineralisasi
4: Zona Invasi dan Destruksi
5 : Zona Poriferasi

Sedangkan, berdasarkan Art and Science of Operative Dentistry, histopatologi karies dentin terbagi dalam lima zona berbeda, yaitu:
1. Zona Normal Dentin
Zona ini merupakan zona terdalam dan memiliki tubulus dengan processus odontoblas dan tidak terdapat kristal di daam lumennya. Tidak ada bakteri di
dalam tubulus. Stimulasi pada dentin menghasilkan sakit yang tajam.
2. Zona Subtransparent Dentin
Zona ini merupakan zona demineralisasi yang terjadi pada intertubulus dentin. Zona ini juga merupakan zona awal terbentuknya kristal yang sangat
halus di dalam lumen tubulus dentin. Proses kerusakan processus odontoblas jelas. Masih belum ditemukan adanya bakteri.
3. Zona Transparent Dentin
Pada zona ini, dentin menjadi lebih lunak dan dentin normal. Hal ini menunjukkan bahwa hilangnya mineral yang terdapat di dalam intertubulus dentin.
Pada zona ini juga tidak terdapat bakteri. Ikatan kolagen tetap utuh sehingga mampu memineralisasi intertubular dentin yang mulai rusak sehingga
memungkinkan terjadinya self repair untuk melindungi pulpa.
19

4. Zona Turbid Dentin


Pada zona ini telah terjadi invasi bakteri yang ditandai oleh pelebaran tubulus dentin yang diisi oleh bakteri. Serat kolagen yang menyusun struktur
tubulus dentin mulai terdenaturasi sehingga tidak terjadi self repair pada fase ini. Zona ini harus dibuang selama melakukan restorasi.
5. Zona Infected Dentin (Outer Carious Dentin)
Zona ini merupakan lapisan terluar. Terdiri dari permukaan dentin yang penuh bakteri. Tidak adanya mineral dan kolagen yang menyusun dentin.
Pembuangan area ini sangat dianjurkan untuk kesuksesan restorasi.

Keterangan:
A : Dentin Normal
B : Dentin mengalami karies
a : Tubulus luas yang mengandung serat kolagen
b : Tubulus kecil banyak mengandung mineral
1 : Dentin Normal
2 : Affected dentin (dentin yang terpengaruhi)
3 : Infected dentin (dentin yang terinfeksi)

1.6

Karies pada Balita akibat Minum Susu

Meminum Susu Botol dalam Kondisi Tidur pada Balita


Salah satu karies dapat terjadi pada balita atau rampant caries adalah karena orang tua mengizinkan anak balita tersebut tidur dengan botol berisi susu
atau bahan-bahan yang mengandung karbohidrat yang dapat terfermentasi. Prevalensi dari kasus tersebut dilaporkan dari angka 2,5% sampai 15%.(Cameron,
2013)
Karakteristik minum susu botol dapat menginduksi karies pada balita
1. Karies yang parah terjadi pada anterior maksila
2. Lesi muncul bersamaan dengan erupsinya gigi, selanjutnya di gigi posterior masing-masing di mandibula atau maksila molar pertama
3. Kaninus jarang terkena karena erupsi yang paling terakhir
21

4. Gigi anterior mandibula biasanya jarang terkena. Karena aliran saliva dan posisi lidah. Bagaimanapun, bila tetap terkena, karies ini bisa
mengindikasikan resiko yang ekstrim dan berbahaya
5. Botol biasanya sering digunakan sebagai penenang untuk membuat balita tersebut tertidur
6. Karies balita dapat terjadi di semua kalangan sosioekonomi, sering juga merefleksikan dinamika sosial dari keluarga balita tersebut. Balita yang sulit
tertidur atau mempunyai keluhan kolik biasanya ditengkan dengan susu botol. Tidak hanya susu botol, namun bisa dengan minuman yang berfermentasi
atau biasa juga jus yang mengandung vitamin
Karies pada Balita disebabkan minuman botol
Periode yang lama dari eksposur substrat kariogenik dapat meningkatkan resiko karies. Saliva pada oral sebenarnya sangat membantu dalam hal
antiseptik alami lingkungan oral. Saliva juga berguna untuk larutan buffer ketika mulut dalam keadaan asam sehingga lingkungan pH menjadi netral. Namun,
ketika dalam keadaan tertidur jumlah saliva secara alami akan menurun (Australian breast feeding, 2010) dan menyebabkan S. Mutans berkembang dengan
baik karena pada dasarnya ketika tidur lingkuran oral akan terasa kering. Pada balita, jika karena meminum susu botol, eksposur dari substrat kariogenik dapat
mencapai 8 jam dalam sehari. Bagaimanapun, kebiasaan lain seperti memakan makanan kariogenik juga dapat memperbesar resiko karies, sama seperti
penggunaan botol berisi minuman dengan kadar gula yang tinggi.
Kurangnya rasio aliran saliva pada malam hari, dan oleh karena itu akan mereduksi waktu remineralisasi dan buffer larutan asam.
Minum susu dengan botol dalam keadaan terlentang sampai tertidur faktanya mempercepat karies karena susu keluar dari bagian depan bibir dan berkumpul
dalam mulut dan sekitar gigi geligi ditambah dengan keadaan saliva yang kurang, dapat terjadinya pembusukan oleh bakteri. Berbeda halnya bila anak tersebut
diberi ASI oleh ibunya. ASI yang masuk akan langsung mengalir ke tenggorokan. Dan juga, ketika balita tertidur dengan susu botol dimulutnya, maka susu
tersebut akan terus mengalir sedikit-sedikit walaupun dalam keadaan tidur, yang mana berbeda dengan ASI yang akan mengalir bila terjadi proses pengisapan.
Kemampuan orang tua dalam menjadi agen aktif penanggulangan karies juga menjadi faktor penting apakah anak tersebut terkena karies atau tidak,
kebanyakan peran aktif dari ibu balita tersebut. Hal lain, juga bisa disebabkan karena situasi orang tua atau tekanan sosial.
Aspek sosial dari bangun malam dan minum susu

Penting untuk dimengerti bahwa minum susu normal dan rutin atau karena kebiasaan juga berkontribusi dalam karies pada balita. Ketika ASI diberikan, ada
beberapa contoh alasan mengapa penggunaan botol diperlukan, contohnya adalah ketika ibunya tidak bisa memberikan ASI dan di satu sisi anak tersebut
mempunyai intervensi medik dimana menyulitkan kemampuan anak menerima ASI, contohnya pada penderita bibir sumbing. Tidak direkomendasikan balita
tertidur dengan botol susu dimulutnya pada malam hari.
Semua balita setidaknya akan terbangun sekali dalam semalam. Ketika terbangun, mereka dalam keadaan terjaga. Dan hal ini tidak diketahui oleh para orang
tua. Balita tersebut akan lebih sering bangun ketika mereka dalam kondisi tidak baik. Ada beberapa perubahan pada lingkungan sosial dan fisik mereka atau
ketika mempelajari kemampuan baru dalam diri mereka,

seperti cara berdiri dari tempat tidur. Jika

orangtua menawarkan susu botol atau jenis minuman lain

pada

terbangunnya balita ketika tidur, maka kebiasaan bangun

beserta mempelajari kemampuan baru akan

hilang. Sayangnya, cara perlakuan ini tidak dibutuhkan

untuk pertumbuhan (contoh pada umur 10-

12 bulan keatas) balita yang diberikan susu botol atau

minuman sejenisnya sepanjang malam akan

mengalami tidak seleranya makan ketika pagi atau siang

hari. Balita lebih baik ditidurkan dengan cara

ditimang atau dipeluk atau dengan verbal (cerita atau nina

bobo). Diberikannya susu botol sepanjang

malam akan menunjukan ketidakmampuan orangtua untuk

menangani balita yang mudah terbagun dan

menangis. Beberapa alasan dengan memberikan susu botol

sepanjang malam bisa karena:

1.
2.
3.
4.

mereka

untuk

menghindari

Orang tua atau balita yang sedang sakit


Tekanan pikiran atau depresi
Pertengkaran antara orangtua
Kekerasan dalam rumah tangga

Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan

nasihat kepada keluarga akan pentingnya

pengetahuan tentang karies pada balita. Menyalahkan satu

sama lain tidak akan menyelesaikan perkara,

di situasi manapun, kondisi semakin diperburuk karena

ketidakadanya
23

pengetahuan,

kurangnya

informasi atau kelelahan dengan situasi atau karena frustasi untuk menangani balita yang sulit tidur dan menangis. Cara yang tepat untuk menghilangkan
kebiasaan minum susu botol sampai tertidur adalah dengan cara mengurangi kadar gula dalam botol dan menggantinya dengan pengenceran air, yang mana cara
ini membutuhkan waktu beberapa minggu. Alternatif lain adalah dengan cara memberikan air putih saja kepada balita, satu-satunya cairan yang aman untuk
kondisi oral.
Pengertian yang membangun tentang minuman yang tepat diberikan pada balita, pola tidur dan bermaun akan menolong para orang tua dan dokter gigi
untuk menerima konklusi bahwa keluarga akan butuh ekstra usaha untuk merubah rutinitas balita. Dengan mengeluarkan rasa empati pada balita tersebut, akan
membantu proses pengubahan rutinitas balita . setelah siap dengan rasa empati, maka proses mendidik balita untuk merubah rutinitasnya dapat dilakukan
dengan baik.
Meminum Air setelah meminum susu
Untuk menghindari karies dan menjaga kesehatan mulut, apa yang balita makan atau minum adalah faktor penting. Terutama setelah meminum susu.
Karena bakteri di mulut mengkonversi kandungan gula pada makanan atau susu, yang salah satu kandungannya laktosa, menjadi asam. Dan suasana
asam tersebut mulai menyerang email pada gigi.
Dengan air putih, suasana asam dalam rongga mulut dapat direduksi. Selain itu, pada air terkandung fluorida alami dalam level tertentu yang mana
dapat menguatkan gigi dan membantu proses remineralisasi gigi.
Lebih dari 70 tahun riset tentang fluorida dalam air, yang secara konstan menunjukan bahwa fluorida pada level optimal yang terdapat pada air aman
diminum dan sangat efektif untuk mencegah gigi karies dengan sedikitnya 25% pada anak-anak dan dewasa (ADA.org, 2013).
Di antara cara-cara perlindungan yang dapat di ikuti agar balita dapat terhindar dari karies, antara lain:
1. Tidak membiarkan botol susu buatan berada di mulut bayi selama tidur, kalaupun harus demikian harus mengganti susu bercampur gula tersebut dengan
air.

2. Harus melakukan pembersihan gusi mulut bayi dengan sepotong kapas basah setiap selesai penyuususan dan itu dilakukan sebelum tumbuhnya gigi-gigi
susu.
3. Ketika mulai tampak gigi-gigi susu seorang ibu harus menggunakan sikat gigi kecil untuk membersihkan gigi-gigi bayi 3 kali sehari dan menggunakan
pasta gigi yang khusus untuk bayi sedikit saja.
4. Ketika seorang ibu khawatir pasta gigi tertelan oleh bayi, mungkin penggunaannya untuk yang pertama kali saja, kemudian pada kesempatan yang lain
cukup menggunakan sikat gigi yang dibasahi dengan air.
5. Sikat dan pasta gigi yang digunakan haruslah khusus untuk bayi.
6. Seharusnya memulai membawa bayi ke dokter gigi secara teratur ketika umurnya mencapai 1 tahun sampai tidak ada lagi keluhan dari berbagai macam
penyakit gigi.
7. Ada yang mengatakan bahwa cara-cara perlindungan dari kerusakan gigi harus selalu dilakukan baik dalam keadaan ketergantungan pada persususan
alami maupun buatan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan gigi-giginya.
1.7

Karies Pada Gigi Sulung

American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) mendefinisikan early childhood caries (ECC) sebagai adanya satu atau lebih yang membusuk
( cavitated or noncavitated), kehilangan (karena karies), atau terisinya permukaan gigi primer pada anak usia 71 bulan atau lebih muda. AADP juga
menetapkan bahwa, pada anak-anak yang berusia dibawah 3 tahun, tanda-tanda karies pada permukaan yang halus merupakan karies anak usia dini yang parah.
Selama bertahun-tahun telah diakui bahwa, setelah erupsi gigi primer dimulai, seringnya menyusui menggunakan botol yang berkepanjangan atau
menyusui dengan ASI yang lama, sering dikaitkan dengan karies dini yang merajalela.
Penampilan klinis dari karies pada gigi anak berusia 2, 3, atau 4 tahun memiliki tipe yang khas. "Ada keterlibatan karies awal gigi anterior rahang atas,
rahang atas dan bawah geraham primer pertama, dan kadang-kadang gigi taring mandibula.

25

Gigi seri rahang bawah biasanya terpengaruh. Sebuah diskusi dengan orang tua sering mengungkapkan sebuah pola makan atau minum yang kurang
baik: seperti saat anak memasuki waktu tidur siang ataupun malam hari dengan memegang botol susu atau suatu minuman yang mengandung glukosa. Lalu
anak tertidur, dan minuman menjadi menggenang di sekitar gigi (gigi anterior bawah cenderung dilindungi oleh lidah). Karbohidrat yang mengandung cairan
menjadi medium kultur yang sangat baik untuk mikroorganisme Acidogenic. Aliran saliva juga menurun saat tidur, dan kebersihan dari cairan pada rongga
mulut diperlambat.
Gardner, Norwood, dan Eisenson melaporkan empat kasus sejarah di mana kebiasaan yang sama penyebab karies diamati, dan dalam setiap anak dalam
kondisi ini disebabkan oleh kebiasaan menyusui. Dalam setiap kasus Ibu menjelaskan bahwa susu ibu (ASI) adalah sumber utama nutrisi. Para peneliti
merekomendasikan bahwa dari sejak kelahiran bayi untuk diberikan ASI. Anak yang tertidur saat menyusui harus bersendawa dan kemudian ditempatkan di
tempat tidur. Selain itu, orang tua harus mulai membiasakan menyikat gigi anak segera setelah gigi mereka erupsi dan harus menghentikan menyusui sehingga
secepatnya anak bisa minum dari cangkir pada sekitar usia 12 bulan. AAPD mendukung pernyataan kebijakan American Academy of Pediatrics (AAP) pada
ASI dan penggunaa susu ibu. Pernyataan mencakup pengakuan bahwa "ASI menjamin kesehatan terbaik serta pengembangan terbaik dan hasil psikososial
untuk bayi. "Namun, kedua organisasi mencegah frekuensi diperpanjang atau berlebihan (dari payudara atau botol) dan menekankan langkah-langkah
kebersihan untuk bayi dan balita.
Dilley, Dilley, dan Machen mengamati sejumlah besar anak-anak dengan karies kebiasaan menyusui yang lama dan menyimpulkan bahwa tidak ada
hubungan antarakebiasaan menyusui dan latar belakang keluarga, kecuali keluarga yang didominasi dari kalangan sosial ekonomi rendah.
Hallonsten et al menyaring 3000 anak usia 18 bula n untuk karies gigi dan pemberian ASI yang berkelanjutan.. Dua belas (19,7%) dari 61 anak-anak
masih diberi ASI memiliki karies, sedangkan 51 (1,7%) dari 2.939 anak-anak tidak diberi ASI memiliki karies. Para penulis menemukan bahwa anak-anak yang

mengalami berkepanjangan menyusui cenderung untuk mengembangkan kebiasaan makan yang tidak cocok yang menempatkan mereka di risiko karies pada
usia dini.
Ada beberapa bukti ilmiah yang cukup dari percobaan in vitro dan pada hewan model untuk menunjukkan bahwa terdapat beberapa produk susu seperti
susu sapi dan keju, baik ASI tidak kariogenik dan mungkin benar-benar menjadi pelindung struktur gigi dan mendukung remineralisasi dalam kondisi tertentu.
Percobaan lain menunjukkan bahwa banyak susu formula, dengan aditif makanan olahan, dapat menjadikan karies. Langkah-langkah kebersihan untuk anak
dan untuk menghindari kebiasaan makan yang kurang baik dapat dicegah dengan konseling awal orang tua. Ini adalah salah satu alasan untuk menunjukkan
bahwa anak-anak menerima pemeriksaan gigi pertama mereka antara 6 dan Usia 12 bulan. Dalam sebuah laporan yang komprehensif the Oral Health
Subcommittee of the Healthy MothersHealthy Babies Coalition, Ripa states,"Prioritas perlu diberikan kepada program pendidikan utama nasional diarahkan
mendidik masyarakat tentang keperawatan karies.
Program pendidikan harus melibatkan langsung kontak dengan ibu hamil, orang tua, dan pengasuh lainnya populasi sub-kelompok dengan prevalensi
tinggi keperawatan karies.
1.8

Perbedaan Karies pada Gigi Sulung dan Permanen


Perbedaan karies pada gigi desidu dan dewasa terletak pada pola karies yang terjadi. Pada gigi desidu dikenal adanya rampant dental caries. Rampant

dental caries didefinisikan oleh Massler sebagai sesuatu yang tiba-tiba ada, menyebar luas, tipe yang cepat menimbulkan lubang, mengakibatkan keterlibatan
awal dari pulpa, dan mempengaruhi gigi-gigi tersebut untuk membusuk
Prevalensi terjadinya karies ini pada gigi desidu lebih tinggi jika dibandingkan dengan gigi permanen. Prosesnya asimptomatis, terjadi secara cepat
karena dalam satu tahun dapat menyerang hingga sepuluh gigi dan tiba-tiba karena pulpa langsung terlibat. Struktur gigi desidu mengandung lebih banyak air
dibanding gigi dewasa sehingga kurang padat. Karies ini terjadi pada mulut yang relatif bersih, berbeda pada gigi dewasa yang akan diserang karies karena
kebersihan mulut yang tidak dijaga. Gigi akan mengalami kerusakan parah seperti adanya radiks dan gangrene. Konsistensi lesi sangat lunak dengan warna
kuning hingga coklat. Termasuk dalam rampant dental caries ini adalah milk bottle caries yang disebabkan karena kebiasaan buruk minum susu botol pada
anak.
27

Pola Karies pada Gigi Sulung


1.
2.
3.
4.
5.

Early Childhood Caries (ECC) dan Severe Early Childhood Caries (S-ECC)
Menggantikan istilah karies botol atau Nursing Bottle Caries
Berkembang dengan cepat
Dimulai pada gigi insisivus maksila dan menyebar dengan cepat ke gigi sulung maksila yang lain, sebelum berlanjut ke gigi mandibular
Pola ECC terdiri dari 4 tahap

1)
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Tahap Satu/Inisial
Tahap inisial terjadi pada anak usia antara 10-20 bulan atau lebih muda
Lesi berbentuk garis berwarna putih seperti kapur, opak (white spot) pada permukaan gigi insisivus maksila
Hanya email yang mengalami demineralisasi
Lesi berupa garis putih dapat terlihat jelas pada regio servikal permukaan vestibular dan palatal gigi insisivus maksila
Belum terdapat keluhan
Jika tidak dirawat, area putih tersebut akan berubah dengan cepat menjadi kavitas kuning-coklat dan menyebar ke gigi posterior

2) Tahap Dua
a) Tahap dua terjadi ketika anak berusia 16-24 bulan
b) Lesi putih pada gigi insisivus berkembang dengan cepat dan menyebabkan demineralisasi email sehingga mengenai dentin
c) Lesi putih berpigmentasi menjadi kuning terang, coklat kemudian hitam, dan pada kasus yang lebih parah, lesi juga dapat mengenai tepi insisal
d) Pada tahap ini, anak mulai mengeluh karena sensitif terhadap rasa dingin
e) Sudah mulai dapat disadari perubahan warna pada gigi anak
3) Tahap Tiga
a) Tahap tiga terjadi ketika anak berusia 20-36 bulan
b) Pada tahap ini, lesi sudah meluas hingga terjadi iritasi pulpa.

c) Gejala yang timbul pada tahap tiga ini adalah anak mengeluh sakit ketika mengunyah makanan dan ketika menyikat gigi, serta sakit spontan pada
waktu malam

4) Tahap Empat
a) Tahap empat terjadi ketika anak berusia 30-48 bulan
b) Tahap ini ditandai dengan lesi yang meluas dengan cepat ke seluruh permukaan email, mengelilingi regio servikal dan mengenai dentin dalam waktu
yang singkat, serta terjadi kerusakan yang parah di seluruh mahkota gigi hingga terjadi fraktur dan hanya akar yang tersisa
c) Anak mulai mengalami kesukaran tidur dan menolak untuk makan

1.9
1.9.1

Atraumatic Restorative Treatment


Definisi ART

Atraumatic Restorative Treatment adalah suatu teknik penanganan kerusakan gigi/ excavasi lubang hanya dengan hand instrument (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 1995).
29

Teknik penumpatan gigi hanya menggunakan hand instrument (Atraumatic Restorative Treatment Set) pada karies gigi yang masih dangkal
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1996).
Atraumatic Restorative Treatment merupakan perawatan penambalan gigi tanpa banyak menimbulkan trauma pada gigi, rasa sakit maupun psikologis
trauma.
Bahan tambal yang digunakan biasanya semen ionomer kaca, dan menurut penelitian perawatan ini lebih disukai karena sedikit menimbulkan trauma,
serta hasilnya cukup memuaskan karena hanya dengan satu kali kunjungan serta harganya pun lebih terjangkau karena tidak menggunakan sarana listrik. Karies
gigi hanya dibersihkan dan dikeruk bagian dentin yang rusaknya saja, dan selanjutnya bahan tambalan semen ionomer kaca diaplikasikan kedalam lubang gigi.
Atraumatic Restorative Treatment merupakan prosedur pembuangan jaringan gigi yang terkena karies dan penumpatan dengan bahan adhesif.
Bahan restorasi Semen Ionomer Kaca diindikasikan untuk Atraumatic Restorative Treatment dikarenakan kemampuan adhesinya dan sifat melepas fluorida
sama baiknya seperti mekanisme setting kimiawinya sehingga perawatan ini dianjurkan untuk daerah-daerah yang kurang memadai infrastrukturnya.
1.9.2

Alasan Menggunakan Teknik ART

1. Keterbatasan alat atau fasilitas operator.


2. Lesi karies minimal, yang tidak memerlukan pembuangan jaringan email dan dentin yang banyak.
3. Untuk pasien yang tidak menginginkan penggunaan rotary instrument
4. ART cocok untuk semua kelompok populasi
5. Menggunakan pendekatan biologis, yangmana membutuhkan preparasi kavitas minimal
6. Menggunakan instrumen genggam lebih murah daripada dengan instrumen putar/bur
7. Nyeri yang terbatas karena trauma yang dihasilkan hampir kecil
8. Kontrol infeksinya cukup sederhana karena instrumen genggam mudah dibersihkan dan disterilisasi
9. Dapat dilakukan di daerah yang belum ada listrik ataupun di daerah yang sudah ada listrik tetapi belum mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan gigi
10. Biaya relative murah
11. Perlengkapan mudah dibawa-bawa
12. Tidak menimbulkan rasa takut, karena tidak ada suara mesin bur (terutama pada anak-anak)

Indikasi dan Kontra Indikasi ART


Indikasi:
1. Kavitas dapat dicapai dengan instrument tangan
2. Kavitas meliputi sampai dengan dentin yang meliputi:
a. Kavitas satu permukaan:
- Pada pit dan fitsure dipermukaan oklusal premolar dan molar
- Pada pit dipermukaan lingual insisivus atas
- Pada grove bukal dan lingual dari premolar dan molar
- Pada permukaan bukal dan lingual tepat diatas gingiva semua gigi
b. Kavitas lebih dari satu permukaan
-Pada permukaan proksimal dan oklusal dari premolar dan molar
-Pada permukaan bukal, lingual, dan oklusal dari premolar dan molar
-Pada incisal edge dan permukaan proksimal
Kontra Indikasi:
1. Jika terjadi pembengkakan (abses) atau fistel di dekat gigi yang tersangkut.
2. Pulpa gigi terbuka
3. Gigi mengalami nyeri dalam waktu yang lama dan kemungkinan terdapat inflasi kronis dari pulpa
4. Kavitas tidak dapat dicapai dengan instrument tangan
5. Terdapat tanda-tanda kavitas yang jelas, misalnya pada permukaan proksimal, tapi kavitas tersebut diatas dapat dijangkau dari arah proksimal
maupun arah oklusal
6. Gigi dengan karies yang dalam
7. Gigi yang gangrene
1.9.3

Alat dan Bahan

Alatalat yang di gunakan untuk perawatan Atraumatic Restorative Treatment:


1.
2.
3.
4.

Alat genggam standar seperti kaca mulut, sonde, pinset dan excavator.
Dental Hatchet hoe dan pahat email berfungsi untuk melebarkan kavitas dan mengangkat email yang tidak sehat,
Stopper cement
Mixing pad dan spatula,
31

Bahan- Bahan habis pakai yang dibutuhkan adalah:


1.9.4

Cotton roll
Cotton pellet
Petroleum jelly
Wedges kayu
Matriks band
Plastic strip
Glass Ionomer sebagai bahan tumpat
Prosedur Atraumatic Restorative Treatment

Menurut (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2012) prosedur Atraumatic Restorative Treatment adalah sebagai berikut :
a. Metode pencampuran bubuk dan liquid Glass Ionomer:
1. Ratakan liquid selebar kancing
2. Dekatkan bagian bubuk ke liquid, dan tekan-tekan bubuk sampai semua liquid meresap.
3. Dekatkan kembali bagian bubuk sisanya dan tekan-tekan kembali
4. Setelah semua bubuk mengikat liquid, aduk dengan gerakan melipat hingga diperoleh konsistensi seperti pasta.
b. Pit dan Fissure Sealant
1. Gigi diisolasi dengan mempergunakan cotton roll. Daerah kerja harus bebas dari saliva.
2. Hilangkan plak dan sisa makanan dengan menggunakan sonde dari bagian terdalam pit dan fi ssure gigi.
3. Basahi pit dan fissure dengan menggunakan cotton pellet basah.
4. Aplikasi kondisioner email pada pit dan fissure sesuai dengan petunjuk pabrik dalam waktu tertentu.
5. Basahi pit dan fi ssure dengan cotton pellet basah untuk membersihkan kondisioner. Basahi 2-3 kali.
6. Keringkan pit dan fi ssure dengan cotton pellet. Jangan gunakan semprotan angin. Permukaan email tidak boleh terlalu kering.
7. Campur glass ionomer dan aplikasikan pada seluruh pit dan fi ssure menggunakan ujung membulat instrument applier/ carver.
8. Oleskan petroleum jelly pada ujung jari telunjuk.
9. Tekan glass ionomer di permukaan pit dan fi ssure (press- fi nger technique) dan setelah 10-15 deti k angkat jari kearah samping.
10. Buang kelebihan GIC menggunakan excavator ukuran besar.
11. Cek gigitan dengan kertas artikulasi sampai pasien merasa nyaman dengan gigitannya.
12. Bersihkan petroleum jelly dari permukaan pit dan fissure menggunakan excavator besar pada saat GIC mengeras sebagian.
13. Aplikasikan petroleum jelly tipis-tipis.

14. Buang cotton roll.


15. Instruksikan pasien untuk tidak makan selama 1 jam.
c. Tumpatan
1. Gigi diisolasi dengan mempergunakan cotton roll. Daerah kerja harus bebas dari saliva.
2. Hilangkan plak dan sisa makanan dengan menggunakan sonde dari bagian terdalam pit dan fissure gigi.
3. Bersihkan pit dan fissure dengan cotton pellet basah
4. Eksplorasi dengan sonde untuk memastikan kedalaman karies
5. Perbesar jalan masuk kavitas dengan menggunakan enamel acces cauter jika kavitas terlalu kecil.
6. Patahkan email menggunakan hatchet jika email terlalu tipis dan kemungkinan akan fraktur jika dimasukkan tumpatan.
7. Gunakan eskavator untuk mebuang jaringan karies (dimulai dengan exavator kecil) dengan gerakan menyerok. Dimulai dari dentino-enamel
junction sampai ke dasar kavitas. Sedikit jaringan dentin berkaries dapat diti nggalkan jika sulit dijangkau atau pasien sudah tidak sabar.
8. Bersihkan kavitas dengan cotton pellet basah dan keringkan dengan cotton pellet kering.
9. Pastikan fi ssure bebas dari dabris. Bersihkan debris menggunakan probe yang tajam.
10. Pastikan kavitas bebas dari demineralisasi.
11. Tempatkan 2 tetes cairan GIC di mixing pad. Tetes pertama ditempatkan di ujung mixing pad, biasanya mengandung gelembung udara, oleh
karena itu sebaiknya digunakan untuk conditioning. Tanpa melepaskan tekanan pada botol, pindahkan ke tengah mixing pad dan teteskan liquid.
Tetesan kedua ini tidak mengandung udara dan dapat digunakan untuk pencampuran dengan bubuk.
12. Lakukan conditioning dengan conditioner atau dengan poliakrilik yang diencerkan (15-20%) dengan cara cotton pellet lembab dicelupkan pada
liquid, kemudian dioleskan pada kavitas dan fissure didekatnya.
13. Pastikan pellet mengenai seluruh permukaan kavitas. Hal ini dilakukan untuk membersihkan kavitas dan memperkuat ikatan antara bahan tambal
dengan email dan dentin. Gunakan cotton pellet yang sesuai dengan ukuran kavitas. Dapat juga menggunakan micro brush sekali buang.
14. Bersihkan kavitas dengan cotton pellet basah selama 5 detik. Ulangi beberapa kali.
15. Keringkan dengan cotton pellet (jangan menggunakan semprotan angin). Kavitas akan terlihat mengkilat. Pertahankan kondisi ini jangan
terkontaminasi saliva dan darah.
16. Pastikan isolasi gigi masih baik. Jika perlu cotton roll dapat diganti dengan yang baru.
17. Buka tutup bubuk (seal bubuk dibuka tapi pembatas plastik jangan dibuka), tutup botol kembali, kocok botol agar bubuk homogen.
18. Ketukan ditelapak tangan agar bubuk tidak tercecer dipenutup botol.
19. Pastikan sendok bubuk dalam keadaan bersih
20. Takar bubuk sesendok peres dan gunakan pembatas plastik untuk memeres.
21. 21. Letakan bubuk pada paper pad dan dibagi menjadi dua bagian
22. Tutup botol kembali
33

23. Perbandingan bubuk dan liquid harus sesuai dengan petunjuk pabrik (1 sendok peres bubuk : 1 tetes liquid). Aduk GIC sesuai dengan petunjuk
pabrik. Jangan gunakan GIC yang terlalu encer atau terlalu kering.
24. Masukan sebagian adonan GIC ke dalam kavitas menggunakan applier atau instrumen carver. Dorong GIC ke sudut kavitas jika ada overhang
email dengan menggunakan ujung excavator ukuran medium yang membulat. Masukan bagian kedua GIC dan tekan dengan menggunakan
ujung excavator ukuran besar yang membulat. Isi pit dan fi ssure yang berdekatan tetapi jangan berlebihan karena kelebihan GIC harus dibuang.
25. Tekan permukaan tambalan dengan jari telunjuk yang dioles petroleum jelly selama 20 detik.
26. Buang tambalan yang berlebih dengan carver
27. Cek ketinggian tambalan dengan kertas artikulasi.
28. Tunggu sampai material sedikit mengeras dan perbaiki gigitan dengan excavator ukuran medium dan/atau carver.
29. Buang petroleum jelly yang menempel di permukaan tambalan dengan menggunakan excavator ukuran medium dan/atau carver. Pastikan
hubungan dari GIC dan enamel halus. Gunakan ujung membulat excavator besar dan/atau kecil untuk menghaluskan GIC.
30. Oleskan varnis atau petroleum jelly tipis-tipis ke permukaan gigi agar melindungi bahan tambal dari air liur sehingga waktu pengerasan sesuai
dengan aturan.
31. Buang cotton roll.
32. Instruksikan kepada pasien untuk tidak makan dalam satu jam.

1.10 Glass Ionomer


1.10.1 Definisi Glass Ionomer (GI)

Glass ionomer pertama kali diperkenalkan oleh Wilson dan Kent pada tahun 1971, yang terdiri dari bubuk kaca fluoroaluminosilikat dan larutan asam
polikarboksilat.3 Merupakan semen yang berbahan dasar air dengan bentuk reaksinya asam basa, dimana asam polialkenoat dari policarboxylates sebagai asam
dan kaca kalsium stronsium aluminosilikat sebagai basa. Produk jual awalnya dinamakan menggunakan akronim untuk formula hibrida ini dan disebut sebagai
Aluminosilicate Polyacrylic Acid (ASPA)
Glass ionomer adalah bahan material kedokteran gigi yang terdiri dari campuran acryliyc acid dengan glass powder yang digunakan untuk mengisi
kavitas, khususnya pada permukaan akar gigi. Glass ionomer digunakan untuk tambalan kecil di area yang tidak perlu menahan pengunyahan makanan yang
berat. Glass ionomer juga digunakan untuk semen mahkota gigi.

1.10.2 Mengapa Dipilih Bahan Tambal Glass Ionomer

Glass Ionomer Cement (GIC) memiliki keunggulan dalam hal sensitivitas terhadap kelembaban dan keunggulan kekuatan perlekatan.Selain itu
peningkatan estetis , kemudahan peletakan dan polimerisasi light cured membuat bahan ini menjadi alternatif yang baik untuk digunakan pada pasien anak-anak
(Vaikuntam, 2003). Selain itu GIC dipilih dengan alasan sebagai berikut :
1. GIC mengandung fluor sehingga mampu melepaskan bahan fluor untuk mencegah karies lebih lanjut Untuk gigi sulung dan gigi tetap muda bahan yang
sering digunakan adalah Glass Ionomer Cement dan Compomer (Kompomer). Glass Ionomer Cement mempunyai komposisi bahan bubuk acid soluable
calcium fluoraluminosilicate glass dan cairan aqueous solution of polyacrilyc acid yang mengandung fluoride. Prevalensi karies gigi sulung lebih tinggi
dibandingkan gigi tetap, hal ini disebabkan proses kerusakannya kronis dan asimptomatis. Disamping banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya
karies pada gigi sulung, struktur enamelnya kurang padat karena banyak mengandung air dan pemeliharaan gigi tidak teratur. Banyak penelitian telah
menunjukkan bahwa ion fluoride yang dilepaskan dari GIC dapat menghambat perkembangan karies sekunder (anusavice, 2003) Oleh karena itu,
dengan menggunakan GIC, hal ini menjadi salah satu solusi mengurangi kemungkinan karies pada anak, mengingat golongan anak-anak adalah
penderita karies terbesar.

35

2. Glass Ionomer Cement (GIC/SIK) perlekatan ionik permanent terhadap struktur gigi, berikatan langsung dengan dentine dan enamel. Ikatan pada dentin
adalah ikatan hidrogen (Van noort, 2007). Kekuatan untuk berikatan dengan enamel selalu lebih tinggi dari dentin karena semakin besarnya kandungan
anorganik dari enamel dan homogenitas yang lebih besar (Anusavice, 2003)
3. GIC memiliki biokompabilitas yang baik terhadap jaringan gigi, solubilitas rendah, antikariogenik, perubahan deimensi kecil dan tahan terhadap fraktur.
4. Manipulasi sealant semen ionomer kaca lebih mudah, dan tidak diperlukan tahapan pengetsaan pada permukaan gigi Sulitnya kontrol terhadap kondisi
lembab pada gigi yang belum erupsi sempurna, dan sulitnya manajemen pasien anak adalah beberapa kesulitan aplikasi bahan tumpatan pada anak.
Aplikasi yang mudah sangat mengurangi waktu tindakan. Dengan pertimbangan pasien adalah anak berumur 18 bulan yang tidak memungkinkan untuk
melakukan pengerjaan yang lama karena sifat anak-anak yang lebih susah diatur, maka menggunakan semen ionomer kaca/GIC adalah pilihan yang
tepat.
5. Pembuangan jaringan gigi yang sehat sangat minimal bahkan terkadang tidak diperlukan pengeburan pada gigi.
6. Sangat jarang menimbulkan reaksi alergi.
7. Estetika lebih baik dibandingkan dengan amalgam. GIC memiliki warna yang lebih sewarna dengan gigi, walaupun tidak sebaik komposit dalam hal
estetika.
Walaupun GIC memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, namun GIC juga mempunyai kekurangan berupa ketahanan terhadap fraktur dan tekanan yang tidak
lebih baik dari komposit dan amalgam. Namun, kekurangan ini bisa teratasi karena GIC lebih banyak digunakan pada pasien anak, dimana daya kunyahnya
masih rendah, tidak sekuat orang dewasa sehingga tekanan yang diterima oleh tumpatan GIC tidak begitu besar, sehingga fraktur atau kerusakan pada tumpatan
lebih bisa lebih minimal terjadi. Oleh karena hal itu, maka GIC lebih sering digunakan untuk anak-anak dan lebih jarang digunakan untuk tumpatan pada orang
dewasa.
Bahan tambal GIC sangat peka terhadap kontak dini dengan saliva yang terdapat pada rongga mulut.. Selama proses pengerasan dimana dalam periode 24
jam, SIK sensitif terhadap cairan saliva sehingga perlu dilakukan perlindungan agar tidak terkontaminasi. Kontaminasi dengan saliva akan menyebabkan SIK
mengalami pelarutan dan daya adhesinya terhadap gigi akan menurun. SIK juga rentan terhadap kehilangan air beberapa waktu setelah penumpatan. Jika tidak
dilindungi dan terekspos oleh udara, maka permukaannya akan retak akibat desikasi. Baik desikasi maupun kontaminasi air dapat merubah struktur SIK selama
beberapa minggu setelah penumpatan. Untuk mengatasi hal tersebut dan untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka selama proses pengerasan SIK perlu
dilakukan perlindungan agar tidak terjadi kontaminasi dengan saliva dan udara, yaitu dengan cara mengunakan bahan isolasi yang efektif dan kedap air . glass

ionomer cement harus dilindungi agar tidak berkontak dengan saliva, yaitu dengan cara memasang cotton roll, saliva suction, rubber dam, tetapi cara ini sangat
sulit diterapkan pada pasien anak karena pasien dituntut untuk tidak banyak bergerak.
Dengan demikian, penggunaan GIC dalam tumpatan untuk anak-anak sangat direkomendasikan, tentunya dengan menggunakan prosedur yang baik dan
sesuai ketentuan sehingga keluhan yang ada seperti karies dapat tertanggulangi dengan maksimal.
1.10.3 Fungsi dan Klasifikasi Glass Ionomer

Glass ionomer telah digunakan untuk tujuan restorasi estetik dari gigi depan, misalnya pada Class III dan V, sebagai luting semen, sebagai adhesif
untuk perangkat orthodontik dan restorasi intermediate, sebagai penutup pit dan fissure, liner dan base, dan sebagai core build up.
Ada tiga jenis semen ionomer kaca berdasarkan aplikasi klinisnya, formulanya dan potensi penggunaannya. Juga ada semen ionomer kaca yang
pengerasannya dilakukan oleh sinar. Jenis ini juga disebut sebagai semen ionomer kaca modifikasi resin sebab melibatkan resin yang dikeraskan sinar dalam
formulanya. (Anusavice, 2003)
Tipe I : luting crowns, bridges, and orthodontic brackets, berguna untuk merekatkan gigi mahkota atau jembatan, tumpatan tuang, dan alat-alat ortodonsi cekat.
Semen perekat ini mencegah kebocoran tepi restorasi dan lapisan semen harus dibuat setipis mungkin agar tidak terlarutkan oleh cairan mulut.
Tipe IIa : Esthetic restorative cement, sebagai tumpatan estetik yang sewarna dengan gigi
Tipe IIb : Reinforced Restorative cements Sebagai memperkuat semen restoratiif

37

Tipe III : lining dan base cement (Anusavice, 2003)


Berdasarkan Mitchell, 2005, jenis semen GI juga terdiri atas beberapa tipe lainnya,
Tipe IV : Fissure Sealant dapat juga digunakan sebagai fissure sealant, restorasi untuk gigi sulung.
Tipe V : Semen Orthodontic
Tipe VI : Core Build Up meliputi light cure dan dual cure GI
(Mitchell et al, 2005)
Sedangkan menurut sifat fisik dan kimianya, glass ionomer cement diklasifikasikan menjadi empat tipe, yaitu: (Quiec, 2011)
1. Glass ionomer cement konvensional
Glass ionomer konvensional terdiri dari fluoroaluminosilicate glass, biasanya dalam garam stronsium atau kalsium dan cairan asam polialkenoat, sebagai
contoh poliakrilik, maleat, itakonik dan asam trikarbalilik. Bahan konvensional dibuat dengan reaksi unsur asam antara cairan asam dan bubuk dasar. Baru-baru
ini, untuk memperbaiki sifat fisik dan mengurangi sensitivitas air dan bahan konvensional, dikembangkanlah resin-modified glass ionomer cements. Bahan ini
mengandung resin yang dapat berpolimerisasi, biasanya hydroxyethylmethacrylate (HEMA), dan memiliki reaksi pengerasan tambahan dari polimerisasi resin
yang dapat berupa self-cure atau light-cure.

2. Resin-modified glass ionomer cement


Modified glass ionomer merupakan bahan hybrid yang terdiri dari 80% semen ionomer kaca konvensional dan 20% resin komposit fotopolimerisasi. Ciri
utama resin-modified glass ionomer cement adalah ketika bubuk dan cairan dicampur akan terjadi reaksi pengerasan dengan bantuan sinar (light cure) Tahaptahap reaksinya:
a.
b.
c.
d.

Reaksi pengerasan
Reaksi polimerisasi
Reaksi antara garam logam poliakrilat dengan resin
Reaksi asam-basa dan polimerisasi penyinaran pada resin-modified glass ionomer cement

3. Hybrid ionomers
Kekuatan tarik dari ionomer kaca hibrid lebih tinggi dari ionomer kaca konvensional. Peningkatan ini di akibatkan oleh modulus elastisitasnya yang lebih
rendah dan deformasi plastis yang lebih banyak yang dapat di tahan sebelum terjadinya fraktur.
4.

Tri-cure glass ionomer cement

5. Metal-reinforced glass ionomer cements


39

Metal-reinforced glass ionomer cements pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977. Penambahan bubuk campuran perak-amalgam pada bahan
konvensional meningkatkan kekuatan fisik semen dan memberikan radiopasitas.Selanjutnya, partikel perak dilelehkan menjadi serpihan-serpihan seperti
kaca, dan sejumlah produk kemudian muncul kandungan kandungan campuran amalgam telah ditetapkan untuk memperbaiki keluhan sampai sampai
tingkat yang dikatakan menghasilkan sifat mekanis optimum untuk metal-reinforced glass ionomer cements. Digunakan untuk area yang memiliki stress
tinggi, ketebalannya lebih dari 45 m.
2.10.4 Komposisi

Bubuk glass ionomer adalah calcium fluoroaliminosilicate glass yang larut dalam asam dan selalu mengandung silika, alumina, kalsium fluoride, metal
oksida dan metal fosfat. Bahan baku akan menyatu menjadi kaca yang seragam dengan memanaskannya pada suhu 1100o C sampai 1500o C. Penambahan
Lanthanum, Strontium, Barium, atau Zinc Oxide akan memberikan radiopacity.
Campuran dapat terurai oleh asam karena adanya ion Al+3 yang bisa dengan mudah dapat masuk ke dalam jaringan silika. Ini adalah sifat yang
memungkinkan pembentukan semen. Fungsi dari masing-masing komponen diantaranya adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alumina : meningkatkan opasitas


Silika
: meningkatkan translusensi
Fluoride : meningkatkan to fusi, antikariogenesitas, meningkatkan translusensi, meningkatkan waktu kerja, meningkatkan kekuatan
Ca-Fluoride: meningkatkan opasitas, berperan sebagai pencair/pengalir
Al-Fosfat : meningkatkan to leleh, meningkatkan translusensi
Cryolite : meningkatkan translusensi, sebagai pencair/pengalir

(Mahesh et al, 2011)


Awalnya, cairan untuk GIC adalah larutan asam poliakrilat dalam konsentrasi sekitar 40% sampai 50%. Cairan itu cukup kental dan cenderung berubah
menjadi gel dari waktu ke waktu. Dalam sebagian besar semen saat ini, komposisi asam dalam bentuk kopolimer dengan itaconic, maleat atau asam
trikarboksilat. Asam-asam ini cenderung meningkatkan reaktivitas cairan, menurunkan viskositas, dan mengurangi kecenderungan untuk gelasi. Tartaric acid
juga terdapat dalam cairan untuk meningkatkan working time, tetapi mempersingkat setting time. (Anusavice, 2003)

2.10.5 Manipulasi Glass Ionomer Cement

Glass ionomer yang dikemas dalam botol dan kapsul dilakukan pencampuran secara mekanik dengan amalgamator. Dalam dispenser, bubuk dan cair
ditakar dalam jumlah yang tepat pada paper pad, dan setengah bubuk yang tercampur digunakan untuk menghasilkan konsistensi milky yang homogen. Sisa
bubuk ditambahkan, dan total pencampuran diperlukan waktu 30 sampai 40 detik (Craig, 2002). Seperti semua semen lain, sifat semen glass ionomer tipe I

41

sangat dipengaruhi oleh faktor manipulasi. Rasio bubuk yang dianjurkan tergantung merknya, tetapi umumnya berkisar antara 1,25-1,5 gram bubuk per 1 ml
cairan.
Penyemenan harus dilakukan sebelum semen kehilangan kilapnya. Seperti seng fosfat, ionomer kaca menjadi rapuh (mudah patah) begitu mengeras.
Setelah mengeras, kelebihan semen dapat dibuang dengan cara mencungkil atau mematahkan semen menjauh dari tepi restorasi. Kelebihan semen perlu dijaga
agar tidak melekat ke permukaan gigi atau protesa. Semen ini sangat peka terhadap kontaminasi air selama pengerasan. Oleh karena itu, tepi restorasi harus
dilapisi untuk melindungi semen dari kontak yang terlalu dini dengan cairan.
Dalam manipulasi GIC, hal lain yang perlu diperhatikan (Anusavice, 2003) adalah perbandingan powder/liquid, biasanya berkisar 1,3-1,35 : 1,
pencampuran harus cepat, gigi sebaiknya diisolasi dahulu agar tidak lembab, untuk proteksi pulpa sebaiknya menggunakan calcium hydroxide bila ketebalan
dentin <0,5 mm, kemudian varnish digunakan untuk melindungi semen dari keadaan yang lembab setelah semen selesai diaplikasikan.
Untuk tercapainya restorasi yang tahan lama dan protesa tetap kuat, kondisi dari glass ionomer harus dipenuhi, yaitu permukaan gigi harus bersih dan
kering, konsistensi semen harus memungkinkan melapisi permukaan yang ireguler, semen yang berlebih harus dikeluarkan pada waktu yang tepat, permukaan
harus diselesaikan tanpa pengeringan yang berlebihan, dan perlindungan terhadap permukaan restorasi harus diperhatikan untuk mencegah retak atau disolusi.
Kondisi ini serupa dengan aplikasi luting, kecuali tidak diperlukan finishing permukaan (Anusavice, 2003).
Setting time dapat diperpanjang dengan cara menggunakan cold glass slab pada saat mencampur bubuk dan cairan. Akan tetapi hal ini akan menyebabkan
compressive strength dari GIC menurun (Van Noort, 2007). Mekanisme perekatan antara GIC dan dentin atau enamel melibatkan ion polyacrylate dari GIC
dengan struktur apatit pengganti kalsium dan ion phospat sehingga menghasilkan intermediate layer dari pilyacrylate, ion fosfat dan kalsium atau dapat
langsung melekat pada kalsium dari struktur apatit gigi (Van Noort, 2007).
2.10.6 Varnish sebagai Batas

Bahan tambal glass ionomer sangat mudah diaplikasikan sehingga direkomendasikan untuk digunakan dalam metoda ART (Atraumatic Restirative
Treatment), akan tetapi bahan tambal ini sangat peka terhadap kontak dini dengan saliva yang terdapat pada rongga mulut. Untuk mengatasi hal tersebut, glass

ionomer harus dilindungi agar tidak berkontak dengan yaitu dengan cara memasang cotton roll, saliva suction, rubber atau dapat pula teknik pelapisan bahan
tambal menggunakan bahan pelapis seperti varnish atau cocoa butter (Sutrisna 2000).
Penggunaan varnish pada permukaan glass ionomer bukan saja bermaksud menghindari kontak dengan saliva tetapi juga untuk mencegah dehidrasi saat
tambalan tersebut masih dalam proses pengerasan (Saleh & Khaill 2006). Varnish kadang-kadang juga digunakan sebagai bahan pembatas antara glass ionomer
dengan jaringan gigi terutama pulpa karena pada beberapa kasus semen tersebut dapat menimbulkan iritasi terhadapa pulpa (Craig, 2002).
Pada umumnya, penggunaan varnish bertujuan untuk melindungi pulpa dari iritasi kimia bahan-bahan yang berkontak dengannya untuk keperluan ini
varnish berada diantara dentin dan bahan restorasi (Anusavice 2003). Varnish tidak larut dalam cairan mulut dan air,tahan terhadap cairan mulut serta bertahan
di permukaan gigi untuk waktu yang lama. Sifat menempelnya varnish terhadap bahan lain secara fisika bukan kimiawi sehingga mudah terabrasi.
Varnish mengandung satu atau lebih resin yaitu gum natural dan resin sintetik atau rosin. Bahan-bahan tersebut terlarut dalam larutan organic seperti
kloroform, alkohol, aseton, benzene, toluene, etil asetat (Craig 2002). Varnish sebaiknya digunakan lebih dari satu olesan karena sering kali menghasilkan
pinholes (porositas) pada pengolesan pertama. Dengan pengolesan kedua dan seterusnya, porus yang terjadi dapat terisi.
GIC dapat berikatan langsung dengan dentin dan enamel. Ikatan pada dentin adalah ikatan hidrogen (Van noort, 2007). Kekuatan untuk berikatan dengan
enamel selalu lebih tinggi dari dentin karena semakin besarnya kandungan anorganik dari enamel dan homogenitas yang lebih besar. GIC mempunyai
biokompatibilitas yang tinggi. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa ion fluorida yang dilepaskan dari GIC dapat menghambat perkembangan karies
sekunder (Anusavice, 2003)
Glass Ionomer Cement menghasilkan fluor sehingga diindikasikan untuk pasien yang rentan terhadap karies, selain itu juga memiliki kekuatan yang besar
dan dapat menahan beban saat oklusi. Sampai saat ini, dalam study klinis selama tiga tahun bahkan lebih, GIC merupakan material yang mengahasilkan tingkat
retensi sebesar 100% di karies kelas V tanpa retensi mekanik atau etsa enamel.

43

GIC merupakan material yang dapat menghambat perlekatan bahan-bahan kimia dalam permukaan gigi. GIC bersifat translucent sehingga cocok digunakan
untuk fungsi estetik. Kekuatan kompresif dari GIC lebih besar daripada zinc phosphate cement. Modulus elastisitas GIC lebih besar daripada zinc polyacrilate
cement, serta GIC memiliki ikatan yang baik dengan enamel, stainless steel, timah oksida-dilapisi platinum, dan gold alloy. (Craig, 2002)
2.10.7 Sifat semen ionomer Kaca
a. Sifat Fisis
1) Anti karies ion fluor yang dilepaskan terus menerus membuat gigi lebih tahan terhadap karies.
2) Termal ekspansi sesuai dengan dentin dan enamel
3) Tahan terhadap abrasi, ini penting khususnya pada penggunaan dalam restorasi dari groove (Power, 2008).
b. Sifat Mekanis
1) Compressive strength: 150 Mpa, lebih rendah dari silikat
2) Tensile strength : 6,6 Mpa, lebih tinggi dari silikat
3) Hardness : 4,9 KHN, lebih lunak dari silikat
4) Frakture toughness : beban yang kuat dapat terjadi fraktur (Power, 2008).
c. Sifat Kimia
Semen ionomer kaca melekat dengan baik ke enamel dan dentin, perlekatan ini berupa ikatan kimia antara ion kalsium dari jaringan gigi dan
ion COOH dari semen ionomer kaca. Ikatan dengan enamel dua kali lebih besar daripada ikatannya dengan dentin. Dengan sifat ini maka kebocoran
tepi tambalan dapat dikurangi. Semen ionomer kaca tahan terhadap suasana asam, oleh karena adanya ikatan silang diantara rantai-rantai semen
ionomer kaca. Ikatan ini terjadi karena adanya polyanion dengan berat molekul yang tinggi ( Anusavice, 2004).

2.10.8 Mekanisme (Reaksi Pengerasan) Semen Ionomer Kaca

Reaksi pengerasan dimulai saat cairan asam polielektrolit berkontak dengan permukaan kaca aluminosilikat yang kelak akan menghasilkan pelepasan
sejumlah ion.

Gambar Reaksi pengerasan pada SIK.


SIK mengalami 3 fase reaksi pengerasan yang berbeda dan saling overlapping. Fase pertama adalah fase pelepasan ion yang diawali reaksi
ionisasiradikal karboksil (COOH) yang terdapat dalam rantai asam (asam poliakrilat)menjadi ion COO- (ion karboksilat) dan ion H+. Ion H+ bereaksi pertama
kalipada permukaan partikel kaca menyebabkan terlepasnya ion-ion seperti Ca2+ dan Na+ ke dalam cairan. Kemudian ion H+ tersebut berpenetrasi kembali
hinggamencapai struktur yang kurang terorganisasi menyebabkan terlepasnya ion Al3+. Saat fase ini, dilepaskan panas dengan suhu berkisar antara 3oC sampai
7oC. Semakin besar rasio bubuk dan cairan SIK maka panas yang dilepaskan akan semakin besar (Craig, 2004).
Selama tahap awal tersebut terjadi, SIK berikatan dengan struktur gigi. Secarafisik SIK terlihat berkilau. Penempatan pada struktur gigi harus dilakukan
padafase ini karena matriks poliasam bebas yang dibutuhkan untuk perlekatan ke gigitersedia dalam jumlah yang maksimum. Pada tahap akhir dari fase
pelepasan ionini, yang ditandai dengan hilangnya tampilan berkilau SIK, matriks poliasambebas bereaksi dengan kaca sehingga kurang mampu berikatan
dengan strukturgigi atau struktur lainnya (Craig, 2004).
Fase kedua dari reaksi pengerasan SIK adalah fase hidrogel. Fase hidrogel terjadi 5 sampai 10 menit setelah pencampuran dilakukan. Selama fase ini,
ion-ionkalsium yang dilepas dari permukaan kaca akan bereaksi dengan rantai poliasam polianionik yang bermuatan negatif untuk membentuk ikatan silang
45

ionik. Pada fase hidrogel ini mobilitas rantai polimer berkurang sehingga menyebabkan terbentuknya gelasi awal matriks ionomer. Selama fase hidrogel
berlangsung,permukaan SIK harus dilindungi dari lingkungan yang lembab dan kering karena ion kalsium yang bereaksi dengan rantai poliasam polianionik
mudah larutdalam air. Jika SIK tidak dilindungi, maka ikatan silang ionik yang mudah laruttersebut akan melemahkan SIK secara keseluruhan dan terjadi
penurunan derajat translusensi sehingga turut mempengaruhi estetika (Craig, 2004).
Pada fase hidrogel ini, SIK memiliki bentuk yang keras dan opak. Opaksitastersebut disebabkan adanya perbedaan yang besar pada indeks refraksi
antarafiller kaca dan matriks. Opaksitas SIK ini sifatnya sementara dan akanmenghilang selama reaksi pengerasan akhir terjadi. Fase terakhir adalah gel
poligaram, yang terjadi ketika SIK mencapai pengerasan akhir, dapat berlanjut selama beberapa bulan. Matriks yang terbentuk akan menjadi mature ketika ionion aluminium, yang pelepasannya dari permukaan kaca lebih lambat, terikat ke dalam campuran semen membantu membentuk hidrogel poligaram yang
menyebabkan semen menjadi lebih kaku (Anusavice, 2009).
Fase gel poligaram ini menyebabkan SIK terlihat lebih menyerupai gigi, disebabkan indeks refraksi gel silika yang mengelilingi filler kaca hampir sama
dengan matriks. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya penyebaran cahaya dan opaksitas. Jika SIK masih terlihat opak, maka hal tersebut mengindikasikan
bahwa gel poligaram tidak terbentuk disebabkan karena adanya kontaminasi air. SIK yang telah mengeras secara sempurna terdiri atas tiga komponen,
yaitukaca pengisi, gel silika, dan matriks poliasam (Anusavice, 2009).
2.10.9 Kelebihan dan Kekurangan Semen Ionomer Kaca

Sebelum mengaplikasikan bahan GIC seorang operator harus mengetahui kekurangan dan kelebihan dari bahan yang akan digunakan agar nantinya
dapat dipertimbangkan bahan yang cocok untuk diaplikasikan pada kavitas. Adapun kelebihan dan kekurangan dari bahan restorasi GIC adalah sebagai berikut
:
Kelebihan:
1)

Potensi antikariogenik

2)

Translusen

3)

Biokompatibel

4)

Melekat secara kimia dengan struktur gigi

5)

Sifat fisik yang stabil

6)

Mudah dimanipulasi (Craig, 2004).

Kekurangan :
1)

Water in and water out

2)

Compressive strenght kurang baik

3)

Resistensi terhadap abrasi menurun

4)

Estetik kurang baik

5)

Warna tambalan lebih opaque, sehingga dapat dibedakan secara jelas antara tambalan dengan gigi asli (Craig, 2004)
2.10.10

Indikasi dan kontraindikasi

Setiap bahan semen memiliki kelebihan dan kekurangan masing0-masing yang nantinya dari semua itu dapat dindikasikan untuk kavitas seperti apa
bahan tersebut. Untuk Glas ionomer cement (GIC) sendiri memiliki indikasi dan kontraindikasi sebagai berikut :
Indikasi :
1)

Restorasi pada lesi erosi/abrasi tanpa preparasi kavitas


47

2)

Penumpatan pit dan fisura oklusal

3)

Restorasi gigi sulung

4)

Restorasi lesi karies kl. V

5)

Restorasi lesi karies kl. III lebih diutamakan yang pembukaannya arah lingual

6)

Reparasi kerusakan tepi restorasi mahkota (Craig, 2004).

Kontraindikasi :
1)

Kavitas-kavitas yang ketebalannya kurang

2)

Kavitas-kavitas yang terletak pada daerah yang menerima tekanan tinggi

3)

Lesi karies kelas IV atau fraktur insisal

4)

Lesi yang melibatkan area luas pada email labial yang mengutamakan faktor estetika (Craig, 2004).
2.10.11 Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Bahan Pengisi

a. Semen Ionomer Kaca Konvensional


GIC konvensional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Wilson dan Kent. Berasal dari asam polyalkenoat cair seperti asam polyacrilic dan
komponen kaca yang biasanya adalah fluoroaluminosilikat. Saat bubuk dan cairandi campur terjadi reaksi asam basa kemudian asam polyalkenoat mengalami
percepatan hingga terjadi pengentalan sampai semen mengeras. Ini dapat dijadikan sebagai bubuk kaca yang melepaskan ion dan larut dengan campuranyang
mengandung asam polyacrilic cair dengan dikeringkan melalui pembekuan untuk dicampur dengan air murni. Pabrik juga dapat menanbahkan sedikit asam
tartaric pada air yang dapat memperkirakan reaksi pengerasan yang lebih tepat (Gladwin, 2009).

b. Semen Ionomer Hybrid


Semen ionomer hibrid melepaskan florida dalam jumlah yang sebanding dengan yang di lepaskan semen ionomer kaca konvensional. Kekuatan tarik
dari ionomer kaca hibrid lebih tinggi dari semen ionomer kaca konvensional. Peningkatan ini di akibatkan oleh modulus elastisitasnya yang lebih rendah dan
deformasi plastis yang lebih banyak yangdapat di tahan sebelum terjadinya fraktur. Sifat-sifat yang lain sulit untuk dibandingkan karena formulasi bahan dan
cara pengetesan (Lippincot, 2007).
Mekanisme pengikatan terhadap struktur gigi dari semen ini sama dengan ionomer kaca konvensional. Aktifitas ionik yang lebih sedikit diharapkan
karena adanya pengurangan dari asam karboksilat dari cairan ionomer kaca dengan modifikasi resin; namun bagaimanapun kekuatan ikat pada struktur gigi
lebih tinggi dari semen ionomer kaca konvensional. Bila dibandingkan dengan ionomer kaca konvensional maka ionomer kaca dengan modifikasi resin
memperlihatkankekuatan ikat yang lebih tinggi kepada komposit berbasis resin. Lebih sedikitnya kandungan air danasam karboksilat juga mengurangi
kemampuan semen untuk membasahi substratgigi, yang dimana akan meningkatkan kebocoran micro dibandingkan semenionomer kaca konvensional
(Anusavice, 2004.)
c. Semen Ionomer Tri-cure
Terdiri dari partikel kaca silicate, sodium florida dan monomer yang dimodifikasi polyacid tanpa air. Bahan ini sangat sensitif terhadap cairan, sehingga
biasanya disimpan didalam kantong anti air. Pengerasan di awali oleh foto polimerisasi dari monomer asam yang menghasil bahan yang kaku. Selama restorasi
digunakan bahan yang telah di pasang menyerap air di dalam saliva dan menambah reaksi asam basa antara gugus fungsi asam dengan matrix dan partikel kaca
silicate.
Kekuatan ikat dari kompomer terhadap struktur gigi memiliki rentang yangsama dengan semen ionomer kaca karena penggunaan dentin-bonding agent.
Kompomer memiliki
d. Semen Ionomer Kaca yang diperkuat dengan Metal
49

Semen glass ionomer kurang kuat, dikarenakan tidak dapat menahan gaya mastikasi yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadap keausan
penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan keramik. Ada 2 metode modifikasi yang telah dilakukan, metode I adalah
mencampur bubuk logam campur amalgam yang berpartikel sferis dengan bubuk glass ionomer tipe II. Semen ini disebut gabungan logam campur perak.
Metode II adalah mencampur bubuk kaca dengan partikel perak dengan menggunakan pemenasanyang tinggi. Semen ini disebut sebagai cermet. Mikrograf
skening electron dari bubuk cermet menunjukan partikel-partikel bubuk perak melekat ke permukaan dari partikel-partikel bubuk semen. Jumlah dari fluoride
yang dilepaskan dari kedua sistem modifikasi logam ini cukup besar. Namun, fluoride yang dilepaskan dari semen cermet lebih sedikit daripada yang
dilepaskan dari semen ionomer kaca tipe II. Hal ini dikarenakan sebagian partikel kaca, yang mengandung fluoride telah dilapisi logam.
Dengan meningkatnya daya tahan terhadap keausan dan potensi anti-kariesnya, semen-semen dengan modifikasi logam ini telah dianjurkan untuk
penggunaan yang terbatas sebagai alternative dari amalgam atau komposit untuk restorasi gigi posterior. Meskipun demikian, bahan-bahan ini masih
diklasifikasikan sebagai bahan yang rapuh. Karena alas an inilah penggunaan bahan tersebut umumnya terbatas pada restorasi konservatif dan umumnya kelas I
(Lippincot, 2007).
2.10.12 Klasifikasi Semen Ionomer Kaca Berdasarkan Kegunaannya
a. Type I Luting cements
SIK tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen mahkota, jembatan,veneer dan lainnya. Secara kimiawi berikatan dengan dentin
enamel, logam mulia dan porselen. Memiliki translusensi yang baik dan warna yang baik, dengan kekuatan tekan tinggi. SIK yang diberikanpada
dasar kavitas akan menghasilkan ion fluorida serta berkurangnya sensitifitas gigi, perlindungan pulpa dan isolasi. Hal ini mengurangi timbulnya
kebocoranmikro ( micro-leakage) ketika digunakan sebagai semen inlay komposit atau onlay (Craig, 2004).
b. Type II Restorasi
Karena sifat perekatnya, kerapuhan, dan estetika yang cukup memuaskan, SIK juga digunakan untuk mengembalikan struktur gigi yang
hilang seperti abrasi servikal. Abrasi awalnya diakibatkan dari iritasi kronis seperti kebiasaan menyikat gigi yang terlalu keras (Craig, 2004).
c. Type III Liners and Bases
Pada teknik sandwich, SIK dilibatkan sebagai pengganti dentine, dan komposit sebagai pengganti enamel. Bahan-bahan lining dipersiapkan
dengan cepat untuk kemudian menjadi reseptor bonding pada resin komposit (kelebihan air pada matriks SIK dibersihkan agar dapat memberikan
kekasaran mikroskopis yang nantinya akan ditempatkan oleh resin sebagi pengganti enamel (Anusavice, 2009).

d. Type IV Fissure Sealants


Tipe IV SIK dapat digunakan juga sebagai fissure sealant. Pencampuran bahan dengan konsistensi cair, memungkinkan bahan mengalir ke
lubang dan celah gigi posterior yang sempit (Powers, 2008).
e. Type V - Orthodontic Cements
Pada saat ini, braket ortodonti paling banyak menggunakan bahan resin komposit. Namun SIK juga memiliki kelebihan tertentu. SIK
memiliki ikatan langsung ke jaringan gigi oleh interaksi ion Polyacrylate dan kristal hidroksiapatit, dengan demikian dapat menghindari etsa asam.
Selain itu, SIK memiliki efek antikariogenik karena kemampuannya melepas fluor. Bukti dari tinjauan sistematis uji klinis menunjukkan tidak
adanya perbedaan dalam tingkat kegagalan braket Ortodonti antara resin modifikasi SIK dan resin adhesif (Powers, 2008).
f. Type VI Core build up
Beberapa dokter gigi menggunakan SIK sebagai inti (core), mengingat kemudahanSIK dalam jelas penempatan, adhesi, fluor yang
dihasilkan, dan baik dalam koefisienekspansi termal. Namun demikian, banyak yang menganggapSIK tidak cukup kuat untuk menopang inti (core).
Maka direkomendasikan bahwagigi harus memiliki minimal dua dinding utuh jika menggunakan SIK (Powers, 2008).
g. Type VII - Fluoride releasing
Hasil dari satu percobaan, dengan salah satu tindak lanjut periode terpanjang, menemukan bahwa SIK konvensional menghasilkan fluorida
lima kali lebih banyak daripada kompomer dan 21 kali lebih banyak dari resin komposit dalam waktu 12 bulan. Jumlah fluorida yang dihasilkan,
selama 24 jam periode satu tahun setelah pengobatan, adalah lima sampai enam kali lebih tinggidari kompomer atau komposit yang mengandung
fluor (Craig, 2004).
h. Type VIII - ART (atraumatic restorative technique)
ART adalah metode manajemen karies yang dikembangkan untuk digunakan dinegara-negara dimana tenaga terampil gigi dan fasilitas
terbatas namun kebutuhan penduduk tinggi. Hal ini diakui oleh organisasi kesehatan dunia. Teknik menggunakan alat-alat tangan sederhana (seperti
pahat dan excavator) untuk menerobos enamel dan menghapus karies sebanyak mungkin. Ketika karies dibersihkan,rongga yang tersisa direstorasi
dengan menggunakan SIK viskositas tinggi. SIK memberikan kekuatan beban fungsional (Craig, 2004).
i. Type IX - Deciduous teeth restoration
Restorasi gigi susu berbeda dari restorasi di gigi permanen karena kekuatan kunyah dan usia gigi. Pada awal tahun 1977, disarankan bahwa
semen ionomer kaca dapat memberikan keuntungan restoratif bahan dalam gigi susu karena kemampuan SIK untuk melepaskan fluor dan untuk

51

menggantikan jaringan keras gigi, serta memerlukan waktu yang cepat dalam mengisi kavitas. Hal ini dapat dijadikan keuntungan dalam merawat
gigi pada anak-anak. Namun, masih diperlukan tinjauanklinis lebih lanjut (Craig, 2004)

LAMPIRAN

5.1 Cara Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosa

5.1.1. Pemeriksaan Subjektif (Anamnesis)

Anamnesis merupakan percakapan professional antara dokter dengan


pasien untuk mendapatkan data/riwayat penyakit yang dikeluhkan pasien.
Riwayat ini memberikan informasi yang berguna yang merupakan dasar dari
rencana perawatan.
Keluhan utama merupakan alasan spesifik mengapa pasien datang ke
klinik atau rumah sakit, dicatat dalam bahasan apa adanya menurut pasien yang
nantinya merupakan dasar utama yang menyediakan informasi tentang gejala atau
hal patologis yang akan kita cari dalam pemeriksaan selanjutnya.
Beberapa hal yang ditanyai dalam anamnesis antara lain:
1. Identitas pribadi (nama, umur, jenis kelamin, alamat,dll)
2. Keluhan utama dan sejarah keluhan utama
Keluhan utama adalah alasan/motivasi yang menyebabkan pasien datang
untuk dirawat. jika keluhan sakit gigi, cari keterangan lokasi, rasa sakit, kapan
mulai ? apakah terputus-putus atau terus-menerus ? jika terputus-putus berapa
lama berlangsungnya ? apakah ditimbulkan rangsang panas, dingin atau manis
atau sewaktu makan ? apakah rasa sakit menyebabkan anak terbangun di waktu
malam?
3. Riwayat medis
Riwayat medis pasien meliputi penyakit yang diderita masa lalu dan
sekarang. Informasi ini dapat membantu diagnosis kondisi oral cavity yang

84

berhubungan dengan penyakit sistemik yang diderita pasien dan mungkin


berpengaruh pada terapi yang akan diberikan. Riwayat penyakit masa lalu
termasuk penyakit serius yang pernah diderita, penyakit pada masa kanak-kanak,
apakah pernah dioperasi, apakah ada luka di sekitar kepala dan leher , apakah
sekarang sedang mengkonsumsi obat, dan apakah pasien mempunyai alergi obat
atau tidak.
4. Riwayat kesehatan gigi yang lalu
Apakah perawatan gigi yang lalu dilakukan teratur atau tidak ? apakah
pernah diberikan perawatan gigi di lain tempat ? jika ya, mengapa orang tua
mengganti dokter gigi ? apakah anak pernah mengalami sesuatu dengan
perawatan giginya ? jika ya, perawatan apa?
5. Riwayat Keluarga
Tujuan dari anamnesis riwayat keluarga adalah untuk mengetahui apakah
keluhan pasien ada hubungannya dengan faktor herediter (keturunan) yang
diwariskan dari orang tua.
Selain kelainan terkait genetik, pasien mungkin tinggal dengan anggota
keluarga yang memiliki penyakit yang dapat menular melalui udara, misalnya
hepatitis atau TBC yang diderita oleh anggota keluarga pasien dapat
meningkatkan resiko penyakit pasien tersebut.
6. Riwayat sosial dan kultural
Riwayat sosial dan kultural meliputi status pernikahan, jumlah anak,
kebiasaan, dan pendidikan. Seorang single-woman yang memiliki anak mungkin
memiliki emosi dan finansial yang berbeda dengan yang wanita yang telah
menikah dan memiliki anak.
Dengan mengetahui pendidikan pasien atau orang tua pasien, operator
dapat menyesuaikan cara memberi penerangan dan cara memotivasi pasien.
Anamnesis bad habit dimaksudkan untuk mengetahui etiologi keluhan pasien

85

apakah berasal dari suatu kebiasaan buruk yang telah / sedang dilakukan pasien.
Untuk itu tanyakan kepada pasien atau orang tuanya tentang :
- Jenis : Bad habit apa yang telah dilakukan ?
- Kapan : Umur berapa bad habit dilakukan, apakah sekarang masih dilakukan ?
- Durasi : Dari sejak kapan sampai kapan dilakukan ?
- Frekuensi : Berapa kali per jam / perhari dilakukan ?
- Intensitas : Seberapa kuat / keras dilakukan ?
- Apakah ada hubungan anatara bad habit yang dilakukan dengan keluhan pasien?
7. Sikap dan harapan orang tua terhadap perawatan gigi
Rencana perawatan yang diluar harapan jangan dilakukan sebelum
menjelaskan dan menimbang keuntungannya.

i. Pemeriksaan Objektif
a) Pemeriksaan Ekstra-oral
Dilihat penampilan umum, kesimetrisan wajah, profil muka (cekung,
cembung, atau lurus), apakah ada pembesaran pada kelenjar limfe, dll.
Profil muka : Menurut Graber (1972) dikenal tiga tipe profil muka yaitu :
- Cembung (convex), bila titik petemuan Lcb-Lca berada didepan garis Gl-Pog
- Lurus (straight ), bila titik petemuan Lcb-Lca berada tepat pada garis Gl-Pog
- Cekung (concave), bila titik petemuan Lcb-Lca berada dibelakang garis Gl-Pog
Untuk menentukan profil muka digunakan 4 titik anatomis Gabella (Gl), Lip
Contour atas (Lca), Lip Contour bawah (Lcb) dan Pogonion (pog) serta garis
referensi Gl-Pog sebagai acuan.

86

Pemeriksaan

kelenjar

limfe

terdiri

atas

pemeriksaan

kelenjar

submandibular, submental, suboccipital, dan supraclavicular. Pemeriksaan


kelenjar submandibular dilakukan dengan cara palpasi dengan dagu pasien
diarahkan sedikit ke arah dada. Lalu jari operator menangkup dan dengan ujung
jari menekan ringan terhadap otot milohyoid, jaringan akan bergerak lateral
melintasi batas inferior mandibula. Kelenjar submental dipalpasi di segitiga
submental dengan cara yang sama. Kelenjar suboccipital dapat dipalpasi di
segitiga posterior di dasar tengkorak. Kelenjar supraclavicula dipalpasi dengan
cara kepala pasien mengarah ke depan untuk mengendurkan otot-otot di leher. Jari
telunjuk operator ditempatkan di segitiga, dan daerah tersebut dipalpasi dengan
gerakan memutar.
b. Pemeriksaan Intra-oral
- Jaringan lunak, yang meliputi mukosa pipi, bibir, lidah, tonsil, palatum lunak,
palatum keras dan gingival apakah mengalami pembengkakan dan kemerahan
atau tidak.
- Gigi geligi, yang diperiksa untuk mengetahui keadaan oral hygiene dan juga
untuk mengetahui adanya perubahan warna, fraktur, abrasi, erosi, karies, restorasi
yang luas atau abnormalitas lainnya.

87

Pemeriksaan objektif dilakukan dengan pengujian dan observasi secara baik yaitu
sebagai berikut :
1)

Pemeriksaan visual dan taktil

Uji klinis yang paling sederhana adalah pemeriksaan berdasarkan penglihatan dan
perabaan. Hal ini terlalu sering hanya dilakukan sambil lalu selama pemeriksaan,
dan sebagai hasilnya, banyak informasi penting hilang. Suatu pemeriksaan visual
dan taktil jaringan keras dan lunak yang cermat mengandalkan pada pemeriksaan
three Cs: color, contour, dan consistency (warna, kontur dan konsistensi). Pada
jaringan lunak, seperti gusi, penyimpangan dari warna merah muda sehat dapat
dengan mudah dikenal bila terdapat inflamasi. Suatu perubahan kontur yang
timbul dengan pembengkakan, dan konsistensi jaringan yang lunak, fluktuan, atau
seperti bunga karang yang berbeda dengan jaringan normal, sehat dan kuat adalah
indikatif dari keadaan patologik.
2)

Perkusi

Uji ini memungkinkan seseorang mengevaluasi status periodonsium sekitar suatu


gigi. Gigi diberi pukulan cepat dan tidak keras, mula-mula dengan jari dengan
intensitas rendah, kemudian intensitas ditingkatkan dengan menggunakan tangkai
suatu instrumen, untuk menentukan apakah gigi merasa sakit. Suatu respon
sensitif yang berbeda dari gigi di sebelahnya, biasanya menunjukkan adanya
perisementitis (periodontitis). Walaupun perkusi adalah suatu cara sederhana
menguji, tetapi dapat menyesatkan bila digunakan sebagai alat tunggal. Untuk
menghilangkan bias pada pihak pasien, harus diubah rentetan gigi yang diperkusi
pada tes yang berturut-turut. Sering juga, arah pukulan harus diubah dari
permukaan vertikal-oklusal ke permukaan bukal atau lingual mahkota dan
masing-masing tonjol dipukul dengan urutan berbeda. Akhirnya, sambil
mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai rasa sakit gigi tertentu, klinisi akan
memperoleh suatu respon yang lebih benar, bila pada waktu yang sama
diperhatikan gerakan badan pasien, refleks respon rasa sakit, atau bahkan suatu
respon yang tidak diucapkan. Jangan melakukan perkusi gigi sensitif melebihi

88

toleransi pasien. Masalah ini dapat dihindari dengan melakukan tekanan ringan
pada beberapa gigi sebelum melakukan perkusi.

3)

Palpasi

Tes sederhana ini dilakukan dengan ujung jari menggunakan tekanan ringan untuk
memeriksa konsistensi jaringan dan respon rasa sakit. Meskipun sederhana, tetapi
merupakan suatu tes yang penting. Nilainya terletak dalam menemukan
pembengkakan yang meliputi gigi yang terlibat dan menentukan hal-hal berikut :
(1) apakah jaringan fluktuan dan cukup membesar untuk insisi dan drainase; (2)
adanya, intensitas dan lokasi rasa sakit; (3) adanya dan lokasi adenopati dan (4)
adanya krepitus tulang.
Bila palpasi digunakan untuk menentukan adenopati sebaiknya berhati-hati bila
melakukan palpasi nodus limfa pada infeksi akut, untuk menghindari
kemungkinan penyebaran infeksi melalui pembuluh limfatik. Bila gigi-gigi
posterior terinfeksi, maka secara diagnostik nodus limfa submaksiler turut terlibat.
Infeksi pada gigi-gigi anterior bawah kemungkinan menyebabkan pembengkakan

89

nodus limfa submental. Bila infeksi terbatas pada pulpa dan tidak berlanjut pada
periodonsium, palpasi tidak merupakan saran diagnostik. Palpasi, perkusi,
mobilitas, dan depresibilitas adalah lebih untuk menguji periodontium daripada
pulpa.

4)

Tes Tekan

Dilakukan dengan cara pasien menggigit ujung tangkai instrumen seperti kaca
mulut atau dilakukan dengan cara memberikan tekanan dengan jari. Untuk
mengetahui adanya fraktur atau kelainan pada periapikal.
5)

Mobilitas-Depresibilitas

Tes mobilitas digunakan untuk mengevaluasi integritas apparatus pengikat di


sekeliling gigi. Tes ini terdiri dari menggerakkan suatu gigi ke arah lateral dalam
soketnya dengan menggunakan jari atau, lebih diutamakan, menggunakan tangkai
dua instrument. Tujuan tes ini adalah untuk menentukan apakah gigi terikat kuat
atau

longgar

pada

alveolarnya.

Jumlah

gerakan

menunjukkan

kondisi

periodonsium; makin besar gerakannya, makin jelek status periodontalnya.


Demikian pula, tes untuk depresibilitas adalah dengan menggerakkan gigi ke arah
vertikal dalam soketnya. Tes ini dapat dilakukan dengan jari atau instrumen. Bila
dijumpai depresibilitas, kemungkinan untuk mempertahankan gigi berkisar antara
jelek dan tidak ada harapan.

90

5.2 Berat Badan Standar Seorang Balita

Tabel Berat Badan Anak Menurut Usia (WHO)


Tabel ini merupakan rangkuman berat badan anak normal sesuai usianya, yang
diambil dari tabel pertumbuhan anak menurut WHO. Pada tabel dibedakan antara
jenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang memiliki nilai normal masingmasing.

Anak yang berada antara batas bawah dan batas atas tergolong berat

badan normal sesuai usianya.


Anak yang beratnya berada di bawah batas bawah tergolong

underweight (berat badan kurang).


Anak yang beratnya berada di atas batas atas tergolong overweight
(kelebihan berat badan)

Silakan Anda menggunakan tabel ini untuk memonitor perkembangan berat badan
anak Anda secara mandiri.

91

92