Anda di halaman 1dari 1

Kepada Anak Negeri

Tibatiba kuingat senja


dan lagu lama yang tak sempat kita selesaikan
karena kau lebih dulu pulang
kembali dalam pelukan malam
Semegah khayal dalam lamunanmu
biru cakrawalaku pun hingarbingar
menuai tulisan tangan sepanjang pagar ingatan
saat kau berdecak kagum
melihat kepiawaian lidah para politisi kita
dalam rentetan hari yang selalu kita kemas dalam cemas
atau lewat rerintik hujan yang selalu singgah dimatamu
tatkala lewat tayangan televisi nasional
kau saksikan mereka siarkan senyum menawan
para koruptor bajingan
yang dengan santai menjawab pertanyaan wartawan
sambil sesekali melambaikan tangan
(tapi, janganlah kau pandang rendah negeri ini,
karena tanah air ku
bukan diciptakan untuk sekedar pertunjukan sirkus semata.)
Juga dalam barisan aksara
yang kuciptakan untukmu ini
kau akan melihat
betapa ringkihnya hidup manusia
sebab mereka tak punya kuasa untuk menerka
kemana kelak hidup
akan membawa nasib mereka
sekalipun setiap tahun
ribuan sarjana dicetak oleh bangsa kita
Tapi bukanlah maksud untuk mengocehimu
kutuliskan rangkaian huruf ini
kuinginkan anakcucu kita kelak
bisa bercermin
lewat betapa angkuhnya kau dan aku dihari kemarin
agar mereka mau mengejar citacita
menjadikan Indonesia negeri yang lebih jaya
karena negeri ini tidak tercipta
untuk dijadikan panggung hiburan semata.