Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan
pelayanan yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu. Dalam
memberikan pelayanan asuhan keperawatan, seorang perawat akan melewati lima
tahap, yakni pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan, implementasi, dan
pendokumentasian.
Pada dasarnya diagnosa keperawatan memberikan dasar pemilihan
intervensi

yang

menjadi tanggung

gugat

perawat.

Perumusan

diagnosa

keperawatan adalah bagaimana diagnosa keperawatan digunakan dalam proses


pemecahan masalah. Melalui identifikasi, dapat digambarkan berbagai masalah
keperawatan yang membutuhkan asuhan keperawatan. Di samping itu, dengan
menentukan atau menyelidiki etiologi masalah, akan dapat dijumpai faktor yang
menjadi kendala dan penyebabnya. Dengan menggambarkan tanda dan gejala,
akan memperkuat masalah yang ada.
Dewasa ini tak jarang ditemukannya kesalahan dalam perumusan diagnosa
keperawatan baik oleh mahasiswa keperawatan yang sedang melakukan praktik
maupun oleh perawat professional. Hal ini dapat diakibatkan oleh banyak factor
diantaranya data yang kurang akurat, pengetahuan pelaku perumus diagnosa yang
kurang, dan masih banyak lagi. Terlebih lagi banyak kalangan yang berpikir
bahwa diagnosa keperawatan serupa dengan diagnosa medis dan tak jarang
beberapa perawat menetapkan diagnosa keperawatan dengan menambahkan
diagnosa medis didalamnya dan melupakan syarat serta komponen yang
seharusnya terdapat dalam diagnosa keperawatan sehingga berdampak pada
pelayanan keperawatan yang diterima oleh klien.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini, adalah:
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan diagnosa keperawatan?
1.2.2 Apa sajakah perbedaan antara diagnosa keperawatan dengan diagnosa
medis?
1.2.3 Bagaimanakah sejarah diagnosa keperawatan?
1.2.4 Apa sajakah syarat dan komponen dari diagnosa keperawatan?
1.2.5 Bagaimanakah proses perumusan diagnosa keperawatan?
1.2.6 Apa sajakah macam-macam diagnosa keperawatan?
1.2.7 Apa sajakah sumber kesalahan dalam diagnosa keperawatan?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.3.1 Untuk mengetahui yang dimaksud dengan diagnosa keperawatan.
1.3.2 Untuk memahami perbedaan antara diagnosa keperawatan dengan
diagnosa medis.
1.3.3 Untuk mengetahui mengenai sejarah diagnosa keperawatan.
1.3.4 Untuk mengetahui mengenai syarat dan komponen dari diagnosa
keperawatan.
1.3.5 Untuk memahami mengenai proses perumusan diagnosa keperawatan.
1.3.6 Untuk mengetahui mengetahui macam-macam diagnosa keperawatan
1.3.7 Untuk mengetahui mengenai sumber kesalahan dalam diagnosa
keperawatan.
1.4 Manfaat Penulisan
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca baik dari
kalangan mahasiswa kesehatan, perawat professional maupun masyarat dalam
memahami diagnosa keperawatan.
1.5 Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan metode penelurusan kepustakaan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis tentang respons individu,
keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang actual dan potensial,
atau proses kehidupan (NANDA International,2007). Diagnosa keperawatan
merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan
atau risiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara

pasti

untuk menjaga status kesehatan, membatasi, mencegah, atau mengubahnya


(Carpenito,2000), sedangkan menurut Gordon (1982) mendefinisikan bahwa
diagnose keperawatan adalah masalah kesehatan actual dan potensial dimana
berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, ia mampu dan mempunyai
kewenangan untuk memberikan tindakan keperawatan. Menurut Shoemaker
(1984) mendefinisikan diagnosa keperawatan sebagai keputusan klinis mengenai
individu, keluarga, atau masyarakat yang diperoleh melalui suatu proses
pengumpulan data dan analisis cermat dan sistematis, memberikan dasar
pembuatan ketentuan-ketentuan untuk terapi yang pasti dimana perawat
bertanggung jawab.
Jadi, dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosa
keperawatan adalah keputusan klinis mengenai respon individu, keluarga, atau
masyarakat yang diperoleh melalui proses pengumpulan data terhadap masalah
kesehatan yang aktual maupun potensial guna menjaga status kesehatan.
2.2 Perbedaan Diagnosa Keperawatan dengan Diagnosa Medis
Untuk menemukan perbedaan antara diagnosa keperawatan dengan
diagnosa medis, kita harus mengetahui definisi diagnosa medis terlebih dahulu.
Menurut Potter & Perry (2009) mengungkapkan bahwa diagnosa medis adalah
identifikasi kondisi penyakit berdasarkan evaluasi tertentu dari tanda fisik, gejala,
riwayat medis klien, hasil pemeriksaan, dan prosedur diagnostik sedangkan
diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai respon individu,
3

keluarga, atau masyarakat yang diperoleh melalui proses pengumpulan data


terhadap masalah kesehatan yang aktual maupun potensial guna menjaga status
kesehatan.
Dari pernyataan diatas didapatkan perbedaan antara diagnosa medis dan
diagnosa keperawatan sebagai berikut:
NO DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1

2
3

Berfokus pada respon atau reaksi


klien terhadap penyakitnya.
Berorientasi pada kebutuhan
individu.

DIAGNOSIS MEDIS
Berfokus pada faktor-faktor yang
bersifat pengobatan dan penyembuhan
penyakit .
Berorientasi kepada keadaan patologis.

Berubah sesuai dengan perubahan

Cenderung tetap, mulai dari sakit

respon klien .

sampai sembuh .

Mengarah kepada fungsi mandiri

Mengarah kepada tindakan medis yang

4 perawat, dalam melaksanakan

sebagian dapat dilimpahkan kepada

tindakan keperawatan dan evaluasi perawat.


2.3 Sejarah Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan diperkenalkan pertama kali dalam literature
keperawatan pada tahun 1950 (McFarland dan McFarlance,1989). Fry (1953)
mengajukan formulasi diagnosis keperawatan dan rencana asuhan keperawatan
individu untuk membuat keperawatan menjadi lebih kreatif. Hal ini lebih
menekankan pada praktik independen perawat (misalnya mengedukasi klien dan
peringanan gejala). Awalnya, keperawatan professional tidak mendukung
diagnosa keperawatan. Pada tahun 1955, Model Nurse Practice Act of ANA (1995)
melarang terapi diagnosis atau peresepan. Akibatnya, perawat ragu untuk
menggunakan diagnosis keperawatan dalam praktik.Namun, teori keperawatan
mendorong keperawatan definitive dalam hubungannya dengan masalah
klien.Teori sebelumnya yang mendefinisikan tindakan keperawatan dalam
hubungannya dengan masalah yang berpusat pada klien, merupakan bagian dari
tanggung jawab terhadap ketertarikan dan penggunaan terakhir diagnosa
keperawatan dalam keperawatan terdahulu.

Pada tahun 1973 konferensi nasional pertama untuk klasifikasi diagnosa


keperawatan diselenggarakan untuk menentukan fungsi keperawatan dan
menentukan sistem klasifikasi. Beberapa tahun kemudian, peserta konferensi
tersebut membangun sebuah taksonomi yang kini ada 13 ruang lingkup,47 kelas,
dan 188 diagnosa keperawatan. Pada tahun 1982 sebuah persatuan professional,
North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) didirikan dengan
tujuan untuk mengembangkan, memperhalus, dan mempromosikan taksonomi
terminology diagnosis keperawatan untuk digunakan secara luas oleh perawat
professional (Kim, McFarland dan McFarlance, 1984). Selanjutnya pada tahun
2003 , NANDA berubah nama menjadi NANDA International (NANDA-I) agar
lebih mencerminkan penggunaan diagnosa keperawatan internasional untuk
komunitas kesehatan secara global.
Pertama kali ANA Standard of Nursing Practice (1973) menggabungkan
diagnosa keperawatan pada tahun 1971, dan tetap terdapat dalam Nursing Scope
and Standard of Practice (ANA,2004). Scope of Nursing Practice (1987) yang
diterbitkan oleh ANA, menjelaskan keperawatan sebagai diagnosa dan
penatalaksaan respons manusia terhadap kesehatan dan penyakit, membantu
memperkuat definisi diagnosis keperawatan. Pada tahun 1980 dan 1995, ANA
memasukkan diagnosis sebagai kegiatan terpisah dalam publikasi Nursing: A
Social Policy Statement (ANA,2003). Akibatnya, Nurse Practice Acts dari
sebagian besar negara bagian memasukkan diagnosis keperawatan sebagian dari
ruang lingkup praktik keperawatan.
Pengunaan standar formal pernyataan diagnosis keperawatan memiliki
beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Menyediakan definisi yang tepat yang dapat memberikan bahasa yang
sama dalam memahami kebutuhan klien bagi semua anggota tim
pelayanan kesehatan.
2. Memungkinkan perawat untuk mengomunikasikan apa yang mereka
lakukan sendiri, dengan profesi pelayanan kesehatan lainnya dan
masyarakat.
3. Membedakan peran perawat dari dokter atau penyelenggara pelayanan
kesehatan lainnya.
5

4. Membantu perawat terfokus pada bidang praktik keperawatan.


5. Membantu mengembangkan pengetahuan keperawatan.
2.4 Komponen dan Syarat Diagnosa Keperawatan
2.4.1

Komponen Diagnosa Keperawatan

1) Problem (P/masalah)
Merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan
dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari
keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi. Tujuan : menjelaskan status
kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat
mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standart
yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon), supaya :
a. Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara
umum
b. Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan
c. Sebagai

metode

untuk

mengidentifikasi

perbedaan

masalah

keperawatan dengan masalah medis


d. Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis
dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat
meningkatkan mutu asuhan keperawatan
2) Etiologi (E/penyebab)
Keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang
memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya meliputi :
perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.
Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi:
a.

Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut


atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah.

b.

Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan,


isolasi sosial)

c.

Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan atau


perawatan): keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak
mampu memberikan perawatan.

d.

Maturasional :
o Adolesent : ketergantungan dalam kelompok
o Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua
o Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas

3) Sign dan symptom (S/tanda dan gejala)


Adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang
diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan.
Menurut NANDA-I Komponen Diagnosa Keperawatan Sebagai Berikut:
a. Label Diagnosis yang merupakan nama diagnosa keperawatan yang
disetujui oleh NANDA International, menggambarkan inti dari
respon klien terhadap kondisi kesehatan dalam kata-kata yang sedikit
mungkin dan melibatkan pengunaan kata penjelas atau descriptor
sebagai contoh, diagnosis gangguan mobilitas fisik disini yang
termasuk descriptornya adalah gangguan untuk menjelaskan keaslian
ataupun perubahan mobilitas yang mengambarkan dengan baik
respon klien.
b. Faktor Terkait adalah kondisi atau etiologi yang ditemukan dari
data pemeriksaan klien berhubungan dengan respons potensial atau
aktual klien terhadap masalah kesehatan dengan menggunakan
intervensi keperawatan.
c. Definisi mengambarkan karakteristik identitas respons manusia,
sebagai

contoh,

definisi

label

diagnosa

keperawatan

ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh adalah


ketidakmampuan memakan makanan.
d. Faktor Resiko adalah elemen lingkungan, fisiologis, psikologis,
genetic, atau kimia yang meningkatkan kerentantan individu,
keluarga, atau komunitas terhadap kejadian yang tidak sehat
7

(NANDA Internasional,2007). Faktor resiko merupakan petunjuk


yang menunjukan diagnosa keperawatan risiko dapat ditegakkan
pada kondisi klien, factor risiko membantu dalam memilih diagnosa
risiko yang benar sama halnya dengan karakteristik definisi dalam
hal diagnosa keperawatan aktual.
2.4.2

Persyaratan diagnosa keperawatan


1.

Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap


situasi atau keadaan yang dihadapi

2.4.3

2.

Spesifik dan akurat (pasti)

3.

Dapat merupakan pernyataan dari penyebab

4.

Memberikan arahan pada asuhan keperawatan

5.

Dapat dilaksanakan oleh perawat

6.

Mencerminan keadaan kesehatan klien

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan diagnosis


keperawatan
1. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat
2. Bersifat aktual atau potensial
3. Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan
4. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat,
serta faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut

2.5 Proses Perumusan Diagnosa Keperawatan


2.5.1

Klasifikasi & Analisis Data

Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau


keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau
keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya.

Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia


(taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982)

2.5.2

Mengindentifikasi masalah klien

Masalah klien merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu


bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan status
kesehatannya, atau meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan oleh
perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya

Identifikasi masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah,


pasien yang kemungkinan mempunyai masalah, pasien yang
mempunyai masalah potensial sehingga kemungkinan besar
mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.

2.5.3

Memvalidasi diagnosis keperawatan

Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang


kemudian merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk
kelengkapan dan ketepatan data, kerja sama dengan klien sangat
penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data yang tepat.

Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang
dilakukan bersama klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi
tersebut dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan
yang reflektif kepada klien/keluarga tentang kejelasan interpretasi data.
Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi.

2.5.4

Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya

Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi


data-data yang signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah
merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat
bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan wellness.

2.6 Macam-macam Diagnosa Keperawatan


2.6.1

Diagnosa keperawatan aktual (Actual Nursing Diagnoses)


Diagnosa keperawatan aktual menyajikan keadaan yang secara klinis telah
divalidasi melalui batasan karakteristik mayor yang dapat diidentifikasi.
Tipe dari diagnosa keperawatan ini mempunyai empat komponen yaitu
9

label, definisi, batasan karakteristik, dan faktor-faktor yang berhubungan


(Craven & Hirnle, 2000; Carpenito, 1997).
2.6.2

Diagnosa keperawatan risiko dan risiko tinggi (Risk and High-Risk


Nursing Diagnoses)
Keputusan klinis bahwa individu, keluarga dan masyarakat sangat rentan
untuk mengalami masalah bila tidak diantisipasi oleh tenaga keperawatan,
dibanding yang lain pada situasi yang sama atau hampir sama (Craven &
Hirnle, 2000; Carpenito, 1997).

2.6.3

Diagnosa keperawatan kemungkinan (Possible Nursing Diagnoses)


Pernyataan tentang masalah-masalah yang diduga masih memerlukan data
tambahan. Namun banyak perawat-perawat telah diperkenalkan untuk
menghindari sesuatu yang bersifat sementara dan NANDA tidak
mengeluarkan diagnosa keperawatan untuk jenis ini (Craven & Hirnle,
2000; Carpenito, 1997).

2.6.4

Diagnosa keperawatan sejahtera (Wellness Nursing Diagnoses)


Ketentuan klinis mengenai individu, keluarga dan masyarakat dalam transisi
dari tingkat kesehatan khusus ketingkat kesehatan yang lebih baik.
Pernyataan diagnostik untuk diagnosa keperawatan sejahtera merupakan
bagian dari pernyataan yang berisikan hanya sebuah label. Label ini dimulai
dengan Potensial terhadap peningkatan., diikuti tingkat sejahtera
yang lebih tinggi yang dikehendaki oleh individu atau keluarga, misal
Potensial terhadap peningkatan proses keluarga (Craven & Hirnle, 2000;
Carpenito, 1997). Diagnosa keperawatan sejahtera menggambarkan respon
manusia terhadap tingkat kesejahteraan dalam individu, keluarga, atau
komunitas

yang

memiliki

kesiapan

untuk

peningkatan

(NANDA

International, 2007). Ini merupaka penilaian klinis tentang individu,


keluarga, atau komunitas dalam transisi dari tingkat kesejahteraan tertentu
ke tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Perawat memilih tipe diagnosis
ini ketika klien berharap atau telah mencapai tingkat kesehatan yang
10

optimal. Sebagai contoh, potensial peningkatan adaptasi yang terkait dengan


keberhasilan pengobatan kanker adalah diagnosis kesejahteraan, dan
perawat beserta keluarga bekerjasama untuk beradaptasi dengan stresor
yang berhubungan dengan kelangsungan hidup penderita kanker. Dalam
pelaksanaanya, perawat menggabungkan kekuatan klien dan sumber daya
yang ada ke dalam rencana perawatan, dengan tujuan untuk meningkatkan
tingkat adaptasi.
2.6.5

Diagnosa keperawatan sindroma (Syndrome Nursing Diagnoses)


Terdiri dari sekelompok diagnosa keperawatan aktual atau risiko tinggi yang
diduga akan tampak karena suatu kejadian atau situasi tertentu. NANDA
telah menyetujui dua diagnosa keperawatan sindrom yaitu Sindrom trauma
perkosaan dan Risiko terhadap sindrom disuse (Carpenito,1997).

2.6.6

Diagnosis Keperawatan Promosi Kesehatan


Diagnosis keperawatan promosi kesehatan adalah penilaian klinis terhadap
motivasi individu, keluarga, atau komunitas serta keinginan untuk
meningkatkan kesejahteraan dan aktualisasi potensi kesehatan manusia
sebagai ungkapan kesiapan mereka untuk meningkatkan perilaku kesehatan
tertentu, seperti nutrisi dan olahraga. Diagnosis promosi kesehatan dapat
digunakan pada berbagai bidang kesehatan dan tidak membutuhkan tingkat
kesejahteraan tertentu (NANDA International, 2007). Potensial peningkatan
kenyamanan merupakan contoh diagnosis promosi kesehatan.

2.7 Sumber Kesalahan Diagnosa Keperawatan


2.7.1 Kesalahan dalam pengumpulan data
Untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan data pengetahuan
dan keterampilan dalam teknik pemeriksaan data sangat diperlukan. Berikut
ini beberapa cara untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan data:

Tinjau ulang tingkat kenyamanan dan kompetensi anda dalam


melakukan

wawancara

dan

mengumpulkan data.
11

pemeriksaan

fisik

sebelum

mulai

Lakukan pemeriksaan dalam beberapa langkah dengan terfokus pada


satu sistem tubuh sebelum memulai pemeriksaan lengkap dari kepala
hingga kaki.

Tinjau ulang pengkajian klinis anda di ruang kelas maupun klinik.

Tentukan keakuratan data anda dengan mevalidasi beberapa kali hasil


yang anda dapat guna meminimalkan risiko ketidakakuratan

Teratur

dalam

pemeriksaan,

memiliki

formulir

dan

peralatan

pemeriksaan yang sesuai dan siap digunakan.


2.7.2 Kesalahan dalam Interpretasi dan Analisis Data
Setelah pengumpulan data, tinjau ulang kembali data tersebut apakah
sudah akurat dan lengkap. Saat anda tidak dapat mevalidasi data, ini
menunjukkan ketidaksesuaian antara petunjuk klinis dan diagnosa
keperawatan(Lunney,1998 dikutip oleh Potter & Perry,2009). Mulailah
menginterpretasikan dengan menentukan dan mengatur pola pemeriksaan
yang relevan untuk mengetahui adanya masalah pada klien dengan
mempertimbangkan latar budaya klien.
2.7.3 Kesalahan dalam Pengelompokan Data
Kesalahan

dalam

pengelompokan

data

terjadi

saat

data

dikelompokan terlalu cepat, tidak benar, atau tidak dikelompokan sama


sekali. Kesalahan pengelompokan data dapat mempengaruhi diagnosa
keperawatan yang akan berdampak pada kualitas pelayanan keperawatan
pada klien.
2.7.4 Kesalahan dalam Pernyataan Diagnosis
Pemilihan pernyataan diagnosis yang tepat akan menghasilkan
pemilihan intervensi keperawatan dan hasil yang sesuai (Docherman dan
Jones,2003). Untuk mengurangi kesalahan, pernyataan diagnosis harus
menggunakan bahasa yang sesuai, ringkas, dan tepat. Gunakan terminology
yang benar dalam menggambarkan respons klien terhadap penyakit atau

12

kondisinya. Berikut ini adalah taktik untuk mengurangi kesalahan dalam


pernyataan diagnosis, yakni:
1.

Kenali respon klien, bukan diagnosa medis (CarpernitoMoyet,2005)

2.

Karena diagnosa medis membutuhkan tindakan medis, sangat


tidak bijak bila memasukkan diagnosa medis kedalam diagnosa
keperawatan.

3.

Kenali pernyataan diagnosis NANDA I dibandingkan gejala.

4.

Kenali diagnosa keperawatan dari kelompok karakteristik


definisi karena satu gejala tidak cukup untuk mengindentifikasi
masalah.

5.

Kenali etiologi yang dapat ditangani dibandingkan tanda klinis


atau masalah kronis.

6.

Anda dapat memilih tindakan yang diarahkan menuju koreksi


etiologi masalah karena pemeriksaan diagnostic atau disfungsi kronis
bukan merupakan etiologi atau kondisi yang dapat diatasi dengan
tindakan keperawatan.

7.

Kenali masalah yang disebabkan oleh pengobatan atau


pemeriksaan diagnostic, daripada terapi atau pemeriksaan itu sendiri.

8.

Klien mengalami banyak respons terhadap pemeriksaan


diagnostic dan terapi medis yang termasuk dalam bidang keperawatan.

9.

Kenali respon klien terhadap peralatan dibandingkan peralatan


itu sendiri.

10.

Kenali masalah klien dibandingkan masalah anda dengan


pelayanan kesehatan.

11.

Diagnosa keperawatan selalu berpusat pada klien dan menjadi


dasar untuk pelayanan yang diarahkan oleh tujuan.

12.

Kenali masalah klien dibandingkan tindakan keperawatan.

13.

Kenali masalah klien dibandingkan tujuan.

14.

Anda selalu menetapkan tujuan semala tahap perencanaan pada


proses keperawatan. Berdasarkan identifikasi masalah klien yang

13

akurat, tujuan akan menjadi dasar untuk menentukan apakah


penyelesaian masalah telah tercapai.
15.

Gunakan pertimbangan professional dibandingkan dugaan.

16.

Buat diagnosa keperawatan berdasarkan data objektif dan data


subjektif klien, dan jangan sertakan kepercayaan dan nilai-nilai
pribadi Anda.

17.

Hindari pernyataan yang tidak sesuai hukum (CarpenitoMoyet,2005)

18.

Pernyataan yang bersifat menyalahkan, mengabaikan, atau


malpraktik berpotensi menimbulkan tuntutan hukum.

19.

Kenali masalah dan etiologi untuk menghindari pengulangan


pernyataan.

20.

Pernyataan seperti ini mengandung arti yang tidak jelas dan


tidak memberikan arahan untuk pelayanan keperawatan.

21.

Kenali satu masalah saja dalam pernyataan diagnostik.

22.

Setiap masalah memiliki hasil harapan yang berbeda,


kebingungan

selama

langkah

perencanaan

terjadi

saat

memasukkan banyak masalah dalam satu diagnosa keperawatan.

14

anda

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai respon individu,
keluarga, atau masyarakat yang diperoleh melalui proses pengumpulan data
terhadap masalah kesehatan yang aktual maupun potensial guna menjaga status
kesehatan. Dalam merumuskan diagnosa komponen yang harus diperhatikan
adalah problem, etiologi, dan sign atau symptom dengan syaratnya, yakni:

Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau
keadaan yang dihadapi

Spesifik dan akurat (pasti)

Dapat merupakan pernyataan dari penyebab

Memberikan arahan pada asuhan keperawatan

Dapat dilaksanakan oleh perawat

Mencerminan keadaan kesehatan klien

Proses yang terdapat dalam merumuskan diagnosa adalah sebagai berikut:

Klasifikasi & Analisis Data

Mengindentifikasi masalah klien

Memvalidasi diagnosis keperawatan

Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya.

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini dapat , hal yang dapat kami sarankan baik
untuk mahasiswa keperawatan maupun perawat professional untuk dapat lebih
berhati-hati dalam menentukan diagnosa keperawatan pada klien guna
memberikan pelayanan keperawatan yang tepat pada klien.
15

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito-Moyet,Lynda Juall.2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi
13.Jakarta: EGC.
Effendi, Ferry.2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik
dalam Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika.
Herdman,T.Heather.2012.NANDA International,Diagnosis Keperawatan: Definisi
dan Klasifikasi 2012-2014.Jakarta: EGC
Potter&Perry.2009.Fundamental of Nursing,7th Edition.Jakarta:Salemba Medika.

16