Anda di halaman 1dari 5

PR UJIAN PSIKIATRI

Nama : Dear Farah Sielma


NIM : 12201110101092
1. Kriteria Diagnosis Skizofrenia menurut PPDGJ-III
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a) - Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
- Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umumnya mengetahuinya;
b) - Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk
ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau
penginderaan khusus);
- Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik dan mukjizat;
c) Halusinasi Auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku
pasien .
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat


dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan
mahluk asing atau dunia lain).
Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:
a) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus menerus;
b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak
relevan atau neologisme;
c) Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
d) Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional
yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari
pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua
hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase non psikotik
prodromal);

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan
penarikan diri secara sosial.

Sumber: Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari
PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma
Jaya.

2. Mekanisme Pembelaan Ego pada Pasien


Mekanisme pembelaan ego yang digunakan oleh pasien ini yaitu salah
pindah (displacement) dan proyeksi.
Salah pindah: emosi, dalam arti simbolik atau fantasi terhadap seseorang
dicurahkan atau dielakkan kepada seseorang atau obyek lain yang kurang
membahayakan. Pada pasien ini, jika ia kesal karena dimarahi kakak atau
ibunya, ia akan membanting barang di sekitarnya, misalnya membanting
handphone.
Proyeksi: menyalahkan orang lain mengenai kesulitannya sendiri atau
melemparkan kepada orang lain karena keinginannya sendiri yang tidak baik.
Pada pasien ini, ia menyalahkan trauma masa kecilnya, pasien menjadi
seperti saat ini karena ayah dan ibunya sering bertengkar, kakak-kakaknya
yang selalu memarahi pasien, kondisi ayah pasien yang mengalami
skizofrenia, dan teman-teman pasien yang selalu membully pasien.
Untuk mengatasi kecemasan pasien, pasien seharusnya menggunakan
mekanisme pembelaan ego matur:
Kompensasi: menutupi kelemahan dengan menonjolkan sifat yang diinginkan
atau pemuasan secara berlebihan dalam suatu bidang karena mengalami
frustasi dalam bidang lain. Pasien dapat menggunakan mekanisme ini dan
mengupayakan kelebihan di bidang lain. Prestasi akademik yang tidak terlalu
menonjol dapat dikompensasi dalam bidang non-akademik, misalnya
menekuni hobi menulis cerita atau puisi.
Supresi: Supresi merupakan upaya peredaman kembali suatu dorongan
libidinal (dorongan Id) yang berpotensi konflik dengan realitas eksternal.
Peredaman dorongan ini dianggap telah melalui suatu pertimbangan rasional.
Ketika ada orang yang menyinggung atau membangkitkan amarah, pasien
dapat meredam dorongan untuk bertindak agresi. Pasien menyadari bahwa
tindakan agresinya akan mengakibatkan dampak yang serius pada relasi
pasien dengan orang tersebut. Kemudian, pasien dapat mengungkapkan
perasaan secara asertif di waktu yang lebih tepat.
Sumber: Maramis, W.F. 1980. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga University Press; p 72-84

3. Gangguan Kepribadian vs Ciri Kepribadian


Kepribadian adalah totalitas dari ciri perilaku dan emosi yang merupakan
karakter atau ciri seseorang dalam kehidupan sehari-hari dalam kondisi yang
biasa. Sifatnya stabil dan dapat diramalkan.
Gangguan kepribadian adalah ciri kepribadian yang bersifat tidak fleksibel
dan maladaptif yang menyebabkan disfungsi yang bermakna atau penderitaan
subjektif. Orang dengan gangguan kepribadian menunjukkan pola relasi dan
persepsi terhadap lingkungan dan diri sendiri yang bersifat berakar mendalam,
tidak fleksibel serta bersifat maladaptif. Pada orang dengan gangguan
kepribadian, yang mengeluh adalah orang-orang di sekitar penderita.
Perbedaan antara ciri kepribadian dan gangguan kepribadian: ciri
kepribadian masih bersifat fleksibel dan gambaran klinisnya tidak memenuhi
kriteria atau pedoman diagnostik, bersifat lebih ringan dari gangguan
kepribadian.
Pedoman diagnostik gangguan kepribadian:
- Sikap dan perilaku yang amat tak serasi dalam beberapa fungsi (afek,
kesadaran, pengendalian impuls, persepsi dan cara berpikir, hubungan
dengan orang lain).
- Pola perilaku itu berlangsung, berjangka panjang, tidak terbatas pada
episode gangguan jiwa.
- Bersifat pervasif, maladaptif terhadap keadaan pribadi dan hubungan
sosial yang luas
- Menyebabkan penderitaan pribadi yang berarti
- Biasanya berhubungan dengan masalah pekerjaan dan kinerja sosial.
4. Kesadaran
- Kesadaran normal: kemampuan individu mengadakan hubungan dengan
lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca inderanya) dan
mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta terhadap dirinya
sendiri (melalui perhatian). Bila kesadaran itu baik adanya, maka akan
terjadi orientasi (tentang waktu, tempat, dan orang) dan pengertian yang
baik serta pemakaian informasi yang masuk secara efektif (melalui ingatan
dan pertimbangan).
- Kesadaran yang menurun: bentuk kesadaran yang berkurang secara
keseluruhan, kemampuan persepsi, perhatian, dan pemikiran. Tingkat
penurunan kesadaran: kompos mentis, apatis, somnolen, spoor/stupor, dan
koma.
- Kesadaran yang meninggi: keadaan dengan respons yang meninggi
terhadap rangsang: suara-suara terdengar lebih keras, warna-warni
kelihatan lebih terang. Kesadaran ini disebabkan oleh berbagai zat yang
merangsang otak.

- Tidur: ditandai oleh menurunnya kesadaran secara reversible, biasanya


disertai posisi berbaring dan tak bergerak. Keadaan tidur ini berturut-turut
NREM sleep (non-rapid eye movement sleep) dan REM sleep (rapid eye
movement sleep).
- Hipnosa: kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit,
artinya menerima rangsang hanya dari sumber tertentu saja) melalui
sugesti; mirip tidur dan ditandai oleh mudahnya disugesti; setelah itu
timbul amnesia.
- Disosiasi: sebagian tingkah laku atau kejadian memisahkan dirinya secara
psikologik dari kesadaran. Kemudian terjadi amnesia sebagian atau total.
Disosiasi dapat berupa: trans, senjakala histerik, fugue, serangan histerik,
sindroma ganser, menulis otomatis.
- Kesadaran yang berubah: tidak normal, tidak menurun, tidak meninggi,
bukan disosiasi, tetapi kemampuan mengadakan hubungan dengan dan
pembatasan terhadap dunia luar dan dirinya sendiri sudah terganggu pada
taraf tidak sesuai dengan kenyataan (secara kwalitatif), seperti pada
psikosa fungsional.
- Gangguan Perhatian: tidak mampu memusatkan (memfokus) perhatian
pada hanya satu hal/keadaan, atau lamanya memusatkan perhatian itu
berkurang daya konsentrasi terganggu.
Sumber: Maramis, W.F. 1980. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga University Press; p 101-105