Anda di halaman 1dari 27

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Biologi Mengkudu (Morinda citrifolia L)


Mengkudu adalah jenis yang paling popular dan biasa disebut
dengan Queen of The Morinda. Tanaman ini sangat popular di kawasan
Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan Karibia. Spesies ini mempunyai
nama tersendiri disetiap negara, antara lain noni di Hawai, nonu atau
nono di Tahiti, cheese fruit di Australia, mengkudu atau pace di
Indonesia dan Malaysia.

Mengkudu merupakan tanaman tropis dan liar, di Indonesia


mengkudu dapat tumbuh di tepi pantai hingga ketinggian 1500 m dpl (di
atas permukaan laut), baik di lahan subur maupun marginal. Semua
bagian tanaman, seperti: akar, batang, daun, dan buah selain sebagai
sumber nutrisi juga mempunyai efek farmakologis yang tinggi. Akar
mengkudu digunakan untuk mengobati penyakit disentri, sebagai
tonikum dan meredakan demam. Kulit batang mengkudu dapat digunakan
sebagai antiseptik, menyembuhkan luka, dan sebagai tonikum. Daun
mengkudu dimanfaatkan untuk mengobati disentri, kejang usus, pusingpusing, muntah, dan demam. Selain itu daun mengkudu juga dikonsumsi
sebagai sayuran dengan nilai gizi tinggi karena mengandung vitamin A.
Buahnya dimanfaatkan untuk mengobati radang, gangguan pernapasan,
dan pelembut kulit. Dalam beberapa tahun terakhir meningkatnya animo
masyarakat dalam memanfaatkan mengkudu sebagai bahan perawatan,
pencegahan, dan pengobatan penyakit menyebabkan komoditas ini banyak

diminati. Menurut Alison dkk., ekstrak buah mengkudu bersifat


10,13,21

antioksidan, anti-inflamasi, anti-kanker, dan anti diabetes.


2.1.1

Klasifikasi
Mengkudu (Morinda citrifolia L) atau yang disebut pace maupun

noni merupakan tumbuhan asli Indonesia yang sudah dikenal lama oleh
penduduk di Indonesia (Gambar 1). Pemanfaatannya lebih banyak
diperkenalkan oleh masyarakat jawa yang selalu memanfaatkan tanaman
atau tumbuhan herbal untuk mengobati beberapa penyakit (Djauhariya
2003). Klasifikasi mengkudu adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Rubiales

Famili

: Rubiaceae

Genus

: Morinda

Spesies

: Morinda citrifolia L.

Gambar 1. Mengkudu Morinda citrifolia L (Sumber: Plantamor.com)


2.1.2

Morfologi
Tanaman mengkudu adalah salah satu tanaman yang sudah

dimanfaatkan sejak lama hampir di seluruh belahan dunia. Di negeri


Cina,

laporan-laporan mengenai khasiat tanaman mengkudu telah

ditemukan pada tulisan-tulisan kuno yang dibuat pada masa dinasti Han
sekitar 2000 tahun lalu. Di Hawaii, mengkudu malah telah dianggap
sebagai tanaman suci karena ternyata tanaman ini sudah digunakan
sebagai obat tradisional sejak lebih dari 1500 tahun lalu. Mengkudu telah
diketahui dapat mengobati berbagai macam penyakit, seperti tekanan
darah tinggi, kejang, obat menstruasi, artistis, kurang nafsu makan,
artheroskleorosis, gangguan saluran darah, dan untuk meredakan rasa
sakit (Djauhariya 2003).
Mengkudu tergolong dalam famili Rubiaceae. Nama lain untuk
tanaman ini adalah Noni (bahasa Hawaii), Nono (bahasa Tahiti), Nonu

(bahasa Tonga), ungcoikan (bahasa Myanmar) dan Ach (bahasa Hindi).


Tanaman ini tumbuh di dataran rendah hingga pada ketinggian 1500
m. Tinggi pohon mengkudu mencapai 3-8 m, memiliki bunga bongkol
berwarna putih. Buahnya merupakan buah majemuk, yang masih muda
berwarna hijau mengkilap dan memiliki totol- totol dan ketika sudah tua
berwarna putih dengan bintik-bintik hitam (Djauhariya et al. 2006).
Akhir-akhir ini banyak petani telah mulai membudidayakan
mengkudu secara intensif karena dianggap dapat memberikan keuntungan
yang menjanjikan. Hal ini mengingat karena hampir semua bagian
tumbuhan ini dapat dimanfaatkan, daya adaptasinya yang luas serta
mudah dibudidayakan dan

diproses

menjadi produk skala industri

rumah tangga (Djauhariya 2003).


Ciri dari tanaman mengkudu ini mudah sekali untuk dikenali
karena tanaman ini dapat tumbuh liar dimana saja bisa di pekarangan
rumah, pinggir jalan atau di taman dan di pot. Ciri dari tanaman ini
adalah :
a. Pohon
Pohonnya tidak terlalu besar, dengan tinggi, tingginya 3-8 m.
Batangnya bengkok-bengkok berdahan kaku, memiliki akar tunggang
yang tertancap dalam. Kulit batang coklat kekuningan, beralur dangkal,
tidak berbulu, anak cabangnya segi empat. Tajuknya hijau seperti daun.
Batang mengkudu mudah dibelah setelah dikeringkan dan bisa digunakan
sebagai kayu bakar dan tiang. Di bidang pertanian kayu mengkudu

digunakan untuk menopang tanaman lada (Erfi dan Prasetyo 2001


dalam Nuryati 2003).
b. Daun
Daunnya besar dan tunggal. Daun kebanyakan bersilang
berhadapan, bertangkai, bulat telur lebar hingga bentuk elips, kebanyakan
dengan ujung runcing, sisi atas hijau tua mengkilat, sama sekali
gundul, 5-17 cm. Daun penumpu bentuknya bervariasi, kadang bulat
telur, bertepi rata, hijau kekuningan, gundul, dengan panjang 1,5 cm,
dibawah karangan bunga selalu cukup tinggi dan tumbuh menjadi satu.
Peruratan daun menyirip. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai
sayuran. Nilai gizinya tinggi karena banyak mengandung vitamin A
(Peter 2000 dalam Nuryati 2003).
c. Bunga
Perbungaan

mengkudu bertipe bongkol dengan tangkai 1-4

cm, rapat, berbunga banyak, tumbuh di ketiak. Bunga berbau harum dan
mahkotanya berbentuk

tabung,

terompet,

putih,

dalam

lehernya

berambut wol, panjangnya tabung bisa mencapai 1,5 cm. Benang sari
berjumlah 5, tumbuh jadi satu dengan tabung mahkota hingga berukuran
cukup tinggi, tangkai sari berambut wol (Erfi dan Prasetyo 2001 dalam
Nuryati 2003).
d. Buah
Kelopak bunga tumbuh menjadi buah yang bulat atau lonjong
seperti telur ayam. Permukaan buah terbagi dalam sel-sel poligonal

(bersegi banyak) yang berbintik-bintik

atau berkutil.

Bakal

buah

pada ujungnya berkelopak dan berwarna hijau kekuningan. Awalnya


buah berwarna hijau ketika masih muda, dan menjadi putih kekuningan
menjelang buahnya masak dan setelah benar-benar matang menjadi putih
transparan dan lunak. Daging buah tersusun atas buah-buah batu yang
berbentuk pyramid atau bentuk memanjang segitiga dan berwarna
coklat kemerahan (Steenis 1975).
e. Biji
Biji mengkudu berwarna hitam, memiliki albumen yang keras dan
ruang udara yang tampak jelas. Bijinya tetap memiliki daya tumbuh
tinggi, walaupun telah disimpan selama 6 bulan. Perkecambahannya 3
- 9 minggu setelah biji disemaikan. Pertumbuhan tanaman setelah biji
tumbuh sangat cepat. Dalam waktu 6 bulan, tinggi tanaman

dapat

mencapai 1,2 - 1,5 m. Perbungaan dan pembuahan dimulai pada tahun ke3 dan berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Umur maksimum dari
tanaman mengkudu adalah sekitar 25 tahun (Djauhariya et al. 2006).
2.1.3

Kandungan Mengkudu (Morinda citrifolia L)


Morinda citrifolia L mengandung komponen bioaktif seperti

flavonoid, triterpen, triterpenoid dan saponin dalam jumlah yang


signifikan. Kandungan kimia diatas diduga memiliki efek hipoglikemik
7
yang bisa digunakan sebagai obat diabetes.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Vail (2004), selain
mengandung zat-zat nutrisi, mengkudu juga mengandung zat aktif dan

manfaatnya untuk kesehatan, seperti yang tertera dalam tabel dibawah


ini:
No
1

Kandungan
Terpenoid

Manfaat
Membantu tubuh dalam
proses sintesis tubuh

2.

Antrakuinon,

Pemulihan sel-sel tubuh


Mendukung perawatan

Zat antibakteri
acubin,

dan

penyembuhan

Alizarin

penyakit infeksi, kulit,

Scolopektin

pilek, demam
Anti peradangan

dan

anti alergi
Mengatur tekanan darah
menjadi normal
4

Zat anti kanker

Menstabilkan gula darah


Menhambat rasa sakit
Meningkakan
setiap

sel

jamur

fungsi
mematikan

kulit, parasit

bakteri
5

flavonoid

yang

menimbulkan penyakit.
Antioksidan melindungi
jaringan

terhadap

kerusakan

oksidatif

akibat

radikal

bebas,

yang berasal dari proses-

proses dalam atau dari


luar tubuh
Morinda citrifolia L dapat menurunkan kadar gula darah karena
aktivitas antioksidan yang dimilikinya yang terdapat dalam Morinda
citrifolia L sebanyak berupa fenolat dan flavonoid dapat menghambat laju
pembentukan AGEs dan senyawa dikarbonil. Ikatan AGEs dengan
reseptor AGEs (RAGE) memicu timbulnya reactive oxygen species
(ROS) dan aktivasi NF-B terhadap sel target, endothelium, sel mesangial
dan makrofag dengan respons peningkatan permeabilitas vaskuler, pada
kerusakan ginjal. Kandungan vitamin C Morinda citrifolia L mampu
menghambat pembentukan radikal superoksida, radikal hidroksil, radikal
peroksil, oksigen singlet dan hidrogen peroksida. Vitamin C adalah salah
satu antioksidan merupakan senyawa kimia yang dapat mencegah reaksi
oksidasi yang salah satunya adalah reaksi glikosilasi yang selanjutnya
akan menghasilkan senyawa dikarbonil dan advanced glycation end
products (AGEs). Asam askorbat yang terkandung dalam ekstrak etanol
Morinda citrifolia L dapat menurunkan kadar sorbitol dan menurunkan
glikasi protein sehingga kadar gula darah akan menurun. Penelitian ini
sesuai dengan Suhartono yang menyatakan bahwa aktivitas mengkudu
menghambat pembentukan AGEs (Sundoyo, Ari W. 2006).
Penelitian terdahulu melaporkan bahwa Morinda citrifolia L pada
dosis 100 ml/kg dalam waktu 10 hari dapat menurunkan gula darah.
Penelitian lain menyebutkan pemberian ekstrak etanol Morinda citrifolia

L pada dosis 400 mg/dl dalam waktu 4 jam dapat menurunkan gula darah
(Sundoyo, Ari W. 2006).
Banyak peneliti telah melaporkan bahwa flavonoid, antrakuinon,
dan terpene dapat merangsang pengambilan glukosa dalam sel,
mengurangi resistensi insulin. Selain itu, resistensi insulin telah
dilaporkan untuk dihubungkan dengan peradangan dan stres oksidatif.
Akibatnya, senyawa seperti flavonoid dan lignan, yang memiliki
antiinflamasi yang kuat dan antioksidan dalam pengendalian DMT2.
Morinda Citrifolia L mengandung banyak antrakuinon, glikosida flavonol
dan terpenoid, yang memiliki efek antioksidan, antiinflamasi dan
antidislipidemi (Biological and Pharmaceutical Bulletin. 2011).
2.2

Diabetes Melitus
2.1.1. Definisi
Diabetes adalah suatu penyakit karena tubuh tidak mampu
mengendalikan jumlah gula, atau glukosa dalam aliran darah.

Ini

menyebabkan hiperglikemia, suatu keadaan gula darah yang tingginya


sudah membahayakan (Setiabudi, 2008) Faktor utama pada diabetes ialah
insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh kelompok sel beta di pankreas.
Insulin memberi sinyal kepada sel tubuh agar menyerap glukosa. Insulin,
bekerja dengan hormon pankreas lain yang disebut glukagon, juga
mengendalikan jumlah glukosa dalam darah. Apabila tubuh menghasilkan
terlampau sedikit insulin atau jika sel tubuh tidak menanggapi insulin
dengan tepat terjadilah diabetes (Setiabudi, 2008).

Diabetes biasanya dapat dikendalikan dengan makanan yang


rendah kadar gulanya, obat yang di minum, atau suntikan insulin
secara teratur.Meskipun begitu, penyakit ini lama kelamaan minta korban
juga, terkadang menyebabkan komplikasi seperti kebutaan dan stroke
(Setiabudi, 2008).
2.1.2. Etiologi
Penyebab diabetes mellitus sampai sekarang belum diketahui
dengan pasti tetapi umumnya diketahui karena kekurangan insulin adalah
penyebab utama dan faktor herediter memegang peranan penting.
a.

Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)


Sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Biasanya juga disebut

Juvenille Diabetes,

yang

gangguan

ini

ditandai

dengan

adanya

hiperglikemia (meningkatnya kadar gula darah) (Bare&Suzanne,2002).


Faktor genetik dan lingkungan merupakan faktor pencetus
IDDM. Oleh karena itu insiden lebih tinggi atau adanya infeksi virus
(dari

lingkungan) misalnya

coxsackievirus

dan

streptococcus

sehingga pengaruh lingkungan dipercaya mempunyai peranan dalam


terjadinya DM ( Bare & Suzanne, 2002).
Virus atau mikroorganisme akan menyerang pulau pulau
langerhans pankreas, yang membuat kehilangan produksi insulin. Dapat
pula akibat respon autoimmune, dimana antibody sendiri akan
menyerang sel bata pankreas. Faktor herediter, juga dipercaya
memainkan peran munculnya penyakit ini (Bare & Suzanne, 2002).

b.

Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)


Virus dan kuman leukosit antigen tidak nampak memainkan

peran terjadinya NIDDM.


yang sangat besar.

Faktor herediter

memainkan peran

Riset melaporkan bahwa obesitas salah satu

faktor determinan terjadinya NIDDM sekitar 80%


adalah kegemukan.

Overweight

klien NIDDM

membutuhkan banyak insulin

untuk metabolisme. Terjadinya hiperglikemia disaat pankreas tidak


cukup

menghasilkan insulin sesuai kebutuhan tubuh atau saat

jumlah reseptor insulin menurun atau mengalami gangguan. Faktor


resiko dapat dijumpai pada klien
menderita

DM

adalah resiko

dengan
yang

riwayat

keluarga

besar. Pencegahan

utama

NIDDM adalah mempertahankan berat badan ideal. Pencegahan


sekunder berupa program penurunan berat badan, olah raga dan diet.
Oleh karena DM tidak selalu dapat dicegah maka sebaiknya sudah
dideteksi pada tahap awal tanda-tanda atau gejala yang ditemukan
adalah kegemukan, perasaan haus yang berlebihan, lapar, diuresis dan
kehilangan berat badan, bayi lahir lebih dari berat badan normal,
memiliki riwayat keluarga DM, usia diatas 40 tahun, bila ditemukan
peningkatan gula darah ( Bare & Suzanne, 2002)
2.1.3. Epidemologi
Menurut data terkini dari International Diabetes Federation (IDF),
seramai 285 juta orang di seluruh dunia menghidap diabetes. Angka ini
dikemukakan pada 20th World Diabetes Congress di Montreal,

Canada.

Hanya di asia tenggara sahaja seramai 59 juta orang

menghidap diabetes. Daripada jumlah itu Indonesia merupakan salah


satu negara dengan kasus diabetes yang paling tinggi yaitu seramai 7
juta orang (International Diabetes Federation, 2008).
Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia
menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes
Melitus (DM).

Sementara di Medan

sendiri

menempati urutan

pertama diatas penyakit jantung koroner (WaspadaOnline,2009).


Pada tahun 2009 ini diperkirakan terdapat lebih dari 14 juta orang
dengan diabetes, tetapi baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara
mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (Waspada Online,
2009).
Menurut kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi.
Penyakit DM di Medan, sejak September-Oktober 2009 merupakan
penyakit dengan penderita

terbanyak,

yang

terus

mengalami

peningkatan jumlahnya, jika dibanding dengan jumlah pasien Penyakit


Jantung Koroner atau yang lainnya kata (Waspada Online, 2009).
Dengan makin majunya keadaan sosio ekonomi masyarakat
Indonesia serta pelayanan kesehatan yang makin baik dan merata,
diperkirakan tingkat kejadian penyakit diabetes mellitus (DM) akan
makin meningkat. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur
dan

sosio

ekonomi.

Dari

berbagai penelitian epidemiologis di

Indonesia di dapatkan prevalensi sebesar 1,5-2,3 % pada penduduk usia

lebih besar dari 15 tahun. Pada suatu penelitian di Manado didapatkan


prevalensi 6,1 %. Penelitian di Jakarta pada tahun 1993 menunjukkan
prevalensi 5,7% (Hiswani, 2001).
Melihat pola pertambahan penduduk saat ini diperkirakan pada
tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia di atas 20
tahun dan dengan asumsi prevalensi Diabetes Mellitus sebesar 2 %,
akan didapatkan 3,56 juta pasien Diabetes Mellitus, suatu jumlah yang
besar untuk dapat ditanggani sendiri oleh para ahli DM (Hiswani, 2001).
2.1.4. Faktor Resiko
1. Kedua orang tuanya pernah menderita DM.
2. Pernah mengalami gangguan toleransi glukosa kemudian
normal kembali.
3. Pernah melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4
kilogram.
2.1.5. Klasifikasi
American

Diabetis Association (ADA) memperkenalkan

sistem klasifikasi berbasis etiologi dan kriteria diagnosa untuk


diabetes

yang diperbaharui pada tahun 2010. Sistem klasifikasi ini

mengelaskan tipe diabetes, antaranya :


1.
2.
3.
4.
5.

Diabetes Mellitus Tipe 1 (IDDM)


Diabetes Mellitus Tipe 2 (NIDDM)
Diabetes Autoimun Fase Laten
Maturity-Onset diabetes of youth
Lain-lain sebab ( Barclay L, 2010)

2.1.6. Patofisiologi

a. DM Tipe I
Pada Diabetes tipe I terdapat ketidak mampuan
pankreas menghasilkan insulin
beta

pulau

langerhans.

hiperglikemia

puasa

dan

karena

Dalam

hancurnya

hal

sel-sel

ini menimbulkan

hiperglikemia

post

prandial

(Corwin, 2000).
Dengan tingginya konsentrasi glukosa dalam darah,
maka akan muncul glukosuria (glukosa dalam darah) dan
ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit
yang berlebihan (diuresis osmotic) sehingga pasien akan
mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa
haus (polidipsia) (Corwin, 2000).
Defesiensi insulin juga mengganggu metabolisme
protein dan lemak sehingga terjadi penurunan berat badan
akan muncul gejala peningkatan selera makan (polifagia).
Akibat yang lain yaitu terjadinya proses glikogenolisis
(pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukogeonesis tanpa
hambatan sehingga efeknya berupa pemecahan lemak dan
terjadi

peningkatan

keton

yangdapat

mengganggu

keseimbangan asam basa dan mangarah terjadinya ketoasidosis


(Corwin, 2000).
b. DM Tipe II

Terdapat dua masalah utama pada DM Tipe II yaitu


resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya
insulin akan berkaitan pada reseptor kurang dan meskipun
kadar insulin tinggi dalam darah tetap saja glukosa tidak dapat
masuk kedalam sel sehingga sel akan kekurangan glukosa
(Corwin, 2000).
Mekanisme inilah yang dikatakan sebagai resistensi
insulin. Untuk mengatasi resistensi

insulin

dan

mencegah

terbentuknya glukosa dalam darah yang berlebihan maka


harus

terdapat

peningkatan

disekresikan.Namun demikian

jumlah
jika

insulin

sel-sel

yang

beta tidak

mampu mengimbanginya maka kadar glukosa akan meningkat


dan terjadilah DM tipe II (Corwin, 2000).
2.1.7. Manifestasi Klinis
a.

Poliuria
Kekurangan insulin untuk mengangkut glukosa melalui

membrane dalam sel menyebabkan hiperglikemia sehingga


serum plasma meningkat atau hiperosmolariti menyebabkan
cairan intrasel berdifusi kedalam sirkulasi atau cairan
intravaskuler, aliran darah ke ginjal meningkat sebagai akibat
dari hiperosmolariti dan akibatnya akan terjadi diuresis
osmotic (po liuria) ( Bare & Suzanne, 2002).
b.

Polidipsia

Akibat

meningkatnya difusi cairan dari intrasel

kedalam vaskuler menyebabkan penurunan volume intrasel


sehingga efeknya adalah dehidrasi sel. Akibat dari dehidrasi
sel mulut menjadi kering dan sensor haus teraktivasi
menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum
(polidipsia) ( Bare & Suzanne, 2002).
c.

Poliphagia
Karena glukosa tidak dapat masuk ke sel akibat

dari

menurunnya

kadar insulin maka produksi energi

menurun, penurunan energi akan menstimulasi rasa lapar.


Maka reaksi yang terjadi adalah seseorang akan lebih banyak
makan (poliphagia) ( Bare & Suzanne, 2002).
d.

Penurunan berat badan


Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam sel

maka sel kekurangan cairan dan tidak mampu mengadakan


metabolisme, akibat dari itu maka sel akan menciut, sehingga
seluruh jaringan terutama otot mengalami atrofidan penurunan
secara otomatis (Bare & Suzanne, 2002).
e.

Malaise atau kelemahan ( Bare & Suzanne, 2002)

2.1.8. Diagnosa
Kriteria untuk diagnosis termasuk pengukuran kadar A1c
hemoglobin (HbA1c), kadar glukosa darah sewaktu atau puasa, atau
hasil dari pengujian toleransi

glukosa oral. The American Diabetes

Association mendefinisikan diabetes mempunyai dua kemungkinan


yaitu pada pengukuran kadar glukosa darah puasa,ia menunjukkan
bacaan sebanyak minimal 126 mg / dL setelah puasa selama 8 jam.
Kriteria lainnya adalah kadar glukosa darah sewaktu minimal 200 mg
/ dL dengan adanya kelainan berupa poliuria, polidipsia, penurunan
berat badan, kelelahan, atau gejala karakteristik lain dari diabetes.
Pengujian kadar glukosa

sewaktu

skrining

namun sensitivitas hanyalah 39% hingga

dan diagnosis,

dapat

digunakan

untuk

55% (Barclay,2010).
Uji diagnostik yang utama untuk diabetes adalah tes toleransi
glukosa oral, di mana pasien akan diminta untuk berpuasa selama
8

jam dan kemudian ditambah dengan

beban 75 g glukosa.

Diagnosis terhadap diabetes akan ditegakkan sekiranya kadar glukosa


darah melebihi 199 mg / dL. Selain itu, kadar glukosa darah puasa
dianggap abnormal sekiranya
selepas

berkisar antara 140-199 mg / dL

2 jam mengambil beban glukosa.

American Diabetes

Association mendefinisikan terdapat gangguan pada kadar glukosa


darah puasa sekiranya
dL

KGD

diantara

100-125

mg

(Barclay,2010).
Pengujian tingkat HbA1c, yang tidak memerlukan puasa

sangat berguna baik untuk diagnosis atau skrining. Diabetes dapat


didiagnosa sekiranya kadar HbA1c adalah minimum 6,5% pada 2
pemeriksaan

yang terpisah.

Antara keterbatasannya adalan,

mempunyai uji sensitivitas yang rendah dan terdapat perbedaan pada


interpretasi mengikut ras, ada tidaknya anemia, danpada penggunaan
obat-obatan

yang

tertentu

Barclay

L,2010).

Dengan demikian, meminum larutan glukosa 50 g (Glucola;


Ames Diagnostik, Elkhart, Indiana) adalah tes yang paling umum
dilakukan untuk Gestational Diabetes dimana diperlukan 75-g atau
100-g uji toleransi glukosa oral untuk mengkonfirmasi hasil tes
skrining yang positif ( Barclay L,2010).
2.1.9. Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan
menimbulkan berbagai penyakit dan diperlukan kerjasama semua
pihak untuk meningkatan pelayanan kesehatan. Untuk mencapai
tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha, antaranya:
a. Perencanaan Makanan.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak yang sesuai dengan
kecukupan gizi baik yaitu :
1) Karbohidrat sebanyak 60 70 %
2) Protein sebanyak 10 15 %
3) Lemak sebanyak 20 25 %
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi,
umur, stress akut dan kegiatan jasmani. Untuk kepentingan klinik

praktis, penentuan jumlah kalori dipakai rumus Broca yaitu Barat


Badan Ideal = (TB-100)-10%, sehingga didapatkan =
1)

Berat badan kurang = < 90% dari BB Ideal

2)

Berat badan normal = 90-110% dari BB Ideal

3)

Berat badan lebih = 110-120% dari BB Ideal

4)

Gemuk = > 120% dari BB Ideal

Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu)


selama kurang lebih

30

menit

yang

disesuaikan

dengan

kemampuan dan kondisi penyakit penyerta (Iwan S, 2010).


Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari BB Ideal dikali
kelebihan kalori basal yaitu untuk laki-laki 30 kkal/kg BB, dan
wanita 25 kkal/kg BB, kemudian ditambah untuk kebutuhan kalori
aktivitas (10-30% untuk pekerja berat). Koreksi status gizi (gemuk
dikurangi, kurus ditambah) dan kalori untuk menghadapi stress akut
sesuai dengan kebutuhan.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut
diatas dibagi dalam beberapa porsi yaitu :
1) Makanan pagi sebanyak 20%
2) Makanan siang sebanyak 30%
3) Makanan sore sebanyak 25%
4) 2-3 porsi makanan ringan sebanyak 10-15 % diantaranya.

b. Latihan Jasmani
Sebagai contoh olah raga ringan adalah berjalan kaki biasa
selama 30 menit, olehraga sedang berjalan cepat selama 20 menit dan
olah raga berat jogging (Iwan S, 2010).
c. Obat Hipoglikemik :
1) Sulfonilurea
Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
a)

Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan.

b) Menurunkan ambang sekresi insulin.


c)

Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan

glukosa.
Obat golongan ini biasanya diberikan pada pasien dengan
BB normal dan masih bisa dipakai pada pasien yang beratnya
sedikit lebih.Klorpropamid kurang dianjurkan
insufisiensi

renal

dan

orangtua

karena

pada

keadaan

resiko hipoglikema

yang berkepanjangan, demikian juga gibenklamid. Glukuidon


juga dipakai untuk pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal
(Iwan S, 2010).
2) Biguanid

21

Preparat

yang

ada

dan

aman

dipakai

yaitu

metformin.Sebagai obat tungga l dianjurkan pada pasien gemuk


(imt 30) untuk pasien yang berat lebih (IMT 27-30) dapat juga
dikombinasikan dengan golongan sulfonylurea (Iwan S, 2010).
3) Insulin
Indikasi pengobatan dengan insulin adalah :
a) Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM
maupun NIDDM) dalam keadaan ketoasidosis atau pernah
masuk kedalam ketoasidosis (Bare & Suzanne, 2002).
b)

DM dengan kehamilan/ DM gestasional yang tidak


terkendali dengan diet (perencanaan makanan) (Bare &
Suzanne, 2002).

c) DM

yang

tidak

berhasil

dikelola

dengan

obat

hipoglikemik oral dosif maksimal. Dosis insulin oral


atau

suntikan

dimulai

dengan

dosis

rendah

dan

dinaikkan perlahan lahan sesuai dengan hasil glukosa


darah pasien. Bila sulfonylurea atau metformin telah
diterima sampai dosis maksimal tetapi tidak tercapai
sasaran glukosa darah maka dianjurkan penggunaan
kombinasi sulfonylurea dan insulin (Bare & Suzanne,
2002).
d) Penyuluhan untuk merancanakan pengelolaan sangat
penting untuk mendapatkan

hasil

yang

maksimal.

22

Edukator

bagi

pasien

diabetes

yaitu pendidikan dan

pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang


bertujuan

menunjang

perubahan

perilaku

untuk

meningkatkan pemahaman pasien akan penyakitnya, yang


diperlukan untuk mencapai keadaan sehat yang optimal.
Penyesuaian keadaan psikologik kualifas hidup yang lebih
baik. Edukasi merupakan bagian integral dari asuhan
keperawatan diabetes (Bare & Suzanne, 2002).
Sebaiknya, gizi buruk pada masa pertumbuhan atau
pengambilan bahan makanan yangmengandung racun
seperti Cyanida, dapat menimbulkan gangguan pada
proses

pertumbuhan

dan

perkembangan

jaringan

kelenjar pankreas. Tingginya angka prevalensi gizi kurang


padaanak-anak serta adanya kemungkinan konsumsi bahan
makanan beracun dinegara berkembang memperbesar
perkiraan bahwa tropical diabetes akan dijumpai lebih
banyak dalam masyarakat negara berkembang ( Hiswani,
2010).
Program
diarahkan

perbaikan

pada

gizi

di

Indonesia,

peningkatan kuantitas dan kualitas

makanan. Belum adanya pedoman yang nyata akan taraf


gizi

yang

dianggap

optimal

membuka

peluang

terjadinya gizi lebih dan yang diketahui cenderung lebih

23

mudah jatuh dalam Diabetes Mellitus.

Disamping itu,

usaha diversifikasi menu makanan rakyat, perlu diimbangi


dengan kegiatan- kegiatan lain untuk membebaskan bahan
makanan yang potensial untuk dimakan dari racun yang
dapat merugikan pertumbuhan jaringan dalam tubuh
manusia ( Hiswani, 2010).
Di negara maju DM termasuk dalam kelompok 5
penyebab utama kematian. Indonesia sebagai negara luas
dengan jumlah penduduk menempati urutan ke empat
terbesar di dunia sedang berkembang menuju taraf yang
lebih maju. Tak dapat dipungkiri bahwa pada suatu saat
DM akan menjadi penyebab kematian yang penting
seperti halnya dengan negara maju yang lain, apabila
tidak ada upaya pencegahannya yang terarah ( Hiswani,
2010).
Kemajuan suatu daerah antara lain ditandai oleh
peningkatan daya beli serta perubahan gaya

hidup

masyarakat yang bersangkutan. Kemudahan-kemudahan


dalam memperoleh bahan makanan yang memenuhi selera
akan mempercepat terjadinya ketidak-seimbangan antara
masukan zat gizi melalui makanan dengan jumlah yang
dibutuhkan untuk mempertahankan hidup sehat ( Hiswani,
2010).

24

Peningkatan

efisiensi

tenaga

fisik

dengan

pemanfaatan perlatan mekanik sebagai dampak positif


kemajuan, diikuti oleh penurunan kegiatan fisik individu
yang bersangkutan yang menjadiawal terjadinya obesitas.
Diantara

masyarakat maju yang demikianlah angka

prevalensi NIDDM cukup menonjol.

Dalam hal ini

rupanya adanya ketidak-seimbang antara masukan zat gizi


melalui makanan, kebutuhan zat gizi tubuh, kemampuan
jaringan mencerna zat gizi yang tersedia dan ketersediaan
bahan-bahan pembantu metabolisme zat gizi, misalnya
hormon insulin, berakibat pada timbulnya gejala DM (
Hiswani, 2010).
Sesuai dengan klasifikasinya, penanganan NIDDM
tidak memerlukan insulin. Dengan pengaturan kembali
keseimbangan antara masukan zat gizi terhadap kebutuhan
dan kemampuan jaringan tubuh, gejala DM akan teratasi.
Pada orang dewasa, makanan yang mana membekalkan zat
gizi yang diperlukan oleh tubuh. Kebutuhan makanan yang
harus dimakan umumnya disesuaikan dengan jumlah
tenaga yang harus dikeluarkan (WHO, 1974). Variasi
kebutuhan enersi ini dipengaruhi oleh jenis kegiatan fisik
yang dilakukan, umur serta ukuran tubuh masing-masing
(Hiswani,2010).

25

Kelebihan jumlah tenagai yang dimakan akan


disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Makin tinggi jumlah
kelebihan tenaga, makin besarlah jumlah cadangan lemak,
yang mana akan memperbesar ukuran tubuh seseorang.
Jumlah energi yang diperlukan untuk menggerakkan tubuh,
misalnya berjalan atau mengerjakan pekerjaan, akan
meningkat sebanding dengan besarnya ukuran tubuh.
Sebaliknya bila terjadi defisit dalam intake tenaga, maka
untuk memenuhi kebutuhan basal serta kegiatan fisik akan
dipergunakan cadangan yang tersedia (lemak tubuh) (
Hiswani, 2010).
Pemecahan lemak tubuh yang berlangsung terus
menerus akan menurunkan ukur an tubuh yang berasangkut
an.

Proses

pembentukan

cadangan

dan

pengurasan

cadangan dengan rentang variasi yang luas dan terjadi


berulang kali suatu saat akan tidak berlangsung dengan
sempurna, sehingga timbul gejala ketidak- seimbangan
metabolisme seperti halnya pada Diabetes Mellitus
( Hiswani, 2010).
Pada orang dewasa proses pertumbuhan sudah
berhenti. Oleh karena itu jumlah protein yang dibutuhkan
dimaksudkan hanya untuk keperluan penggantian sel-sel
tubuh yang haus atau rusak akibat usia atau penyakit

26

(regenerasi). Demikian pula halnya dengan vitamin dan


mineral yang jumlah kebutuhannya disesuaikan dengan
jumlah tenaga,

protein dan

lemak

yang

dimakan.

Berbagai penelitian melaporkan bahwa kebutuhan enersi


erat kaitannya dengan jumlah sel otot yang aktif untuk
keperluan yang dimaksud, yang pada pria jumlahnya lebih
tinggi dibandingkan dengan pada wanita. Oleh karena itu
perhitungan jumlah kebutuhan enersi seseorang akan lebih
tepat apabila ukuran tubuh yang digunakan adalah berat
badan bebas lemak (lean body mass), yang pada praktek
sehari-hari dinyatakan dalam bentuk BMI (body mass
index) ( Hiswani, 2010).
Zimmet dan King (1984) dalam penelitiannya pada
masyarakat Mikronesia mendapatkan korelasi yang kuat
antara intake enersi, hidrat arang dan lemak. Intake lemak
seseorang dapat dipakai sebagai petunjuk terjadinya
NIDDM. Menurut peneliti penemuan ini perlu ditinjau
kembali dengan penelitian lanjutan. Interaksi antara gizi,
aktivitas fisik dan ukuran tubuh bersifat kompleks, dan
akan sulit
yang

satu

membedakan
lebih

apakah

mekanisme

faktor

menonjol dibandingka n dengan yang

lain, terutama dalam kehidupan sehari-hari.

27

Akan tetapi, bahwa perubahan gaya hidup seseorang


dapat mempengaruhi timbulnya NIDDM sudah dilaporkan
oleh beberapa peneliti antara lain oleh Watkin
Untuk

memastikan

adanya

interaksi

yang

(1986).
sama

diantara masyarakat Indonesia perlu dilakukan pengamatan


dengan cara-cara yang tidak berbeda
yang

pernah diikuti oleh pengamat

Hiswani, 2010).

dengan

metode

sebelumnya (