Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


KEBUTHUHAN ELIMINASI URINE
A. Pengertian
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolism tubuh.
Pebuangan dapat melalui urin ataupun bowel. Eliminasi urine normalnya adalah
pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fingsi
organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra. Ginjal
memindahkan air dari darah dalam bentuk urine. Ureter mengalirkan urine ke
bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu yang
kemudian dikeluarkan melalui uretra. (Tarwoto, Wartonah, 2006, Kebutuhan
Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi 3, halaman 58)
Gangguan eliminasi urine adalah keadaan ketika seorang individu
mengalami atau berisiko mengalami disfungsi eliminasi urine. (Lynda Juall
Carpenitro-Moyet, 2010, Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 13, hal 582).
1. Fisiologi
Organ yang berperan dalam proses terjadinya eliminasi urine adalah ginjal,
ureter, kandung kemih, dan uretra.
a. Ginjal
Ginjal menyaring bagian dari darah untuk dibuang dalam bentuk
urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan tubuh. Bagian ginjal terdiri
atas nefron, yang merupakan unit dari struktur ginjal yang berjumlah
kurang lebih satu juta nefron. Melalui nefron urine disalurkan ke dalam
bagian pelvis ginjal, kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung
kemih. (A.Aziz, 2008 : 62)
b. Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot
halus yang berfungsi sebagai penampung air seni (urine). Dalam kandung
kemih, terdapat lapisan jaringan otot yang memanjang ditengah dan
melingkar disebut sebagai detrusor dan berfungsi untuk mengeluarkan

urine. Pada dasar kandung kemih, terdapat lapisan tengah jaringan otot
yang berbentuk lingkaran bagian dalam atau disebut sebagai otot lingkar
yang berfungsi menjaga saluran antara kandung kemih dan uretra
sehingga uretra dapat menyalurkan urine dari kandung kemih keluar
tubuh. (A.Aziz, 2008 : 62)
Penyaluran rangsangan ke kandung kemih dan rangsangan
monitoris ke otot lingkar bagian dalam

diatur oleh sistem simpatis.

Akibat dari rangsangan ini, otot lingkar menjadi kendur dan terjadi
kontraksi sphincter bagian dalam sehingga urine tetap tertinggal dalam
kandung kemih. Sistem parasimpatis menyalurkan rangsangan motoris
kandung kemih dan rangsangan penghalang ke bagian dalam otot lingkar.
Rangsangan ini dapat menyebabkan terjadinya kontraksi otot detrusor dan
kendurnya sphincter. (A.Aziz, 2008 : 62)
c. Uretra
Uretra merupakan organ yang berfungsi untuk mengeluarkan urine
ke bagian luar. Fungsi uretra pada wanita mempunyai fungsi yang berbeda
dengan yang terdapat pada pria. Pada pria, uretra digunakan sebagai
tempat pengaliran urine dan sistem reproduksi berukuran panjang 20 cm.
pada pria uretra terdiri dari 3 bagian, uretra prostatik, uretra membranosa,
dan uretra kavernosa. Pada wanita uretra memiliki panjang 4-6,5 cm dan
hanya berfungsi untuk mengeluarkan urine ke bagian luar tubuh. (Potter,
2005)
Saluran perkemihan dilapisi membrane mukosa dimulai dari
meatus uretra hingga ginjal. Secara normal, mikroorganisme tidak ada
yang bisa melewati uretra bagian bawah, namun membrane mukosa ini
pada keadaan patologis yang terus-menerus akan menjadikannya sebagai
media yang baik untuk pertumbuhan beberapa patogen. (A.Aziz, 2008 :
63)
2. Proses Berkemih
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung
kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria

berisi 250 - 450 cc (pada dewasa) dan 200 - 250 cc (pada anak-anak).
(A.Aziz, 2008: 63)
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine yang
dapat menimbulkan rangsangan pada saraf-saraf di dinding vesika urinaria.
Kemudian rangsangan tersebut diteruskan melali medulla spinalis ke pusat
pengontrol berkemih yang terdapat di korterks serebral. Selanjutnya otak
memberikan impuls/ragsangan melalui medulla spinalis neuromotoris di
daerah sakral, kemudian terjadi koneksi otot detrusor dan relaksasi otot
sphincter internal. (A.Aziz, 2008: 63)
Urine dilepaskan dari vesika urinaria tetapi masih tertahan sphincter
eksternal. Jika waktu dan tempat memungkinkan akan menyebabkan relaksasi
sphincter eksternal dan urine kemungkinan dikeluarkan (berkemih). (A.Aziz,
2008 : 64).
Ciri-ciri urine yang normal
a. Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi berbeda-beda sesuai dengan
jumlah cairan yang dimasukan. Banyaknya bertambah pula bila
terlampau banyak makan makanan yang mengandung protein, sehingga
tersedia cukup cairan yang melarutkan ureanya.
b. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya jonjot
lendir tipis tampak terapung di dalamnya.
c. Baunya tajam.
d. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan PH rata-rata 6.
e. Berat jenis berkisar dari 1,010 sampai 1,025
Komposisi urine normal
a. Air (96%)
b. Larutan (4%)
1) Larutan organik : urea, ammonia, kreatin, dan asam urat.

2) Larutan anorganik : natrium (sodium), klorida, kalium (potassium),


sulfat, magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam yang
paling banyak.
(A.Aziz, 2008: 306)

3. Faktor Yang Mempengaruhi Eliminasi Urine


1) Diet dan asupan (intake)
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi
output urine. Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine yang
dibentuk. Selain itu minum kopi dapat meningkatkan pembentukan urine.
(A.Aziz, 2008: 64)
2) Respons bagaimana awal berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat
menyebabkan urine banyak tertahan di dalam vesika urinaria, sehingga
mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
(A.Aziz, 2008: 64)
3) Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya toilet. (A.Aziz, 2008: 64)
4) Stress psikologis
Meningkatnya stress dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih.
Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan
jumlah urine yang diproduksi. (A.Aziz, 2008: 64)
5) Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk
fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas.

Hilangnya tonus otot vesika urinaria dapat menyebabkan kemampuan


pengontrolan berkemih menurun. (A.Aziz, 2008: 64)
6) Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat mempengaruhi pola
berkemih. Hal tersebut dapat ditimbulkan pada anak, yang lebih memiliki
kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun, kemampuan dalam
mengontrol buang air kecil meningkat dengan bertambahnya usia.
(A.Aziz, 2008: 65)
7) Kondisi penyakit
Kondisi penyakitt dapat mempeengaruhi produksi urine, seperti diabetes
meelitus. (A.Aziz, 2008: 65)
8) Sosiokultural
Budaya dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine,
seperti adanya kultur masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air
kecil di tempat tertentu. (A.Aziz, 2008: 65)
9) Kebiasaan seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet, biasanya
memiliki kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila
dalam keadaan sakit. (A.Aziz, 2008: 65)
10) Tonus otot
Tonus otot yang berperann penting dalam membantu proses berkemih
adalah otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya sangat
berperan dalam kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran urine.
(A.Aziz, 2008: 65)
11) Pembedahan

Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai dampak


dari pemberian obat anstesi sehingga menyebabkan penurunan jumlah
produksi urine. (A.Aziz, 2008: 65)
12) Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya
peningkatan atau penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian
obat diuretic dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan obat
antikolinergik dan anti hipertensi dapat menyebabkan retensi uine.
(A.Aziz, 2008: 65)
13) Pemeriksaan diagnostik
Pemeeriksaan diagnostik ini juga dapat mempengaruhi kebutuhan
eliminasi urine, khususnya prosedur-pprosedur yang berhubungan
dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus
pyelogram (IVP). Pemeriksaan ini dapat membatasi jumlah asupan
sehingga mengurangi produksi urine. Selain itu tindakan sisteskopi dapat
menimbulkan edema local pada uretra.
(A.Aziz, 2008: 65)

4. Gangguan/Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine


a. Retensi urine
Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih
akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung
kemih. Hal ini menyebabkan distensia vesika urinaria atau merupakan
keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang
tidak lengkap. Dalam keadaan distensi vesika urinaria dapat menampung
urine sebanyak 3.000 4.000 ml urine. (A.Aziz, 2008 : 66)
Tanda klinis retensi :
1) Ketidaknyamanan daerah pubis.

2) Distensi vesika urinaria.


3) Ketidaksanggupan untuk berkemih.
4) Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urine (25-50 ml).
5) Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan
asupannya.
6) Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.
7) Adanya urine sebanyak 3.000- 4.000 ml dalam kandung kemih.
Penyebab :
1) Operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis, vesika urinaria.
2) Trauma sumsum tulang belakang.
3) Tekanan uretra yang tinggi karena otot detrusor yang lemah.
4) Sphincter yang kuat.
5) Sumbatan (striktur uretra dan pembesaran kelenjar prostat).
(A.Aziz, 2008 : 66)
b. Inkontinensia urine
Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan otot sphincter
eksternal sementara atau menetap untuk menetap unttuk mengontrol
ekskresi urine. Secara umum penyebab dari inkontinensia urine adalah:
proses penuaan (aging process), pembesaran kelenjar prostat, serta
penurunan kesadaran, serta penggunaan obat narkotik. (A.Aziz, 2008 : 66)

c. Enuresis

Enuresis

merupakan

menahan

kemih

(mengompol)

yang

diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksterna. Biasanya enurisis


terjadi pada anak atau orang jompo. Umumnya enurisis terjadi pada malam
hari.
Faktor penyebab enurisis :
1) Kapasitas vesika urinaria lebih besar dari normal.
2) Anak-anak yang tidurnya bersuara dari tanda-tanda dari indikasi
keinginan berkemih tidak diketahui. Hal itu mengakibatkan
terlambatnya bangun tidur untuk untuk ke kamar mandi.
3) Vesika urinaria peka rangsang, dan seterusnya, tidak dapat
menampung urine dalam jumlah besar.
4) Suasana emosional yang tidak menyenangkan di rumah.
5) Orang tua yang mempunyai pendapat bahwa anaknya akan
mengatasi kebiasaannya tanpa dibantu dengan mendidiknya.
6) Infeksi saluran kemih, perubahan fisik, atau neurologis sistem
perkemihan.
7) Makanan yang banyak mengandung garam mineral.
8) Anak yang takut jalan gelap untuk ke kamar mandi.
(A.Aziz, 2008 : 67)
d. Perubahan pola eliminasi urine.
Perubahan pola eliminasi urine merupakan keadaan seseorang yang
mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi anatomis,
kerusakan motorik, sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan pola
eliminasi terdiri atas:
1. Frekuensi
Frekuensi merupakan banyaknya jumlah berkemih dalm sehari.
Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya jumlah
cairan yang masuk. Frekuensi yang tinggi ttanpa suatu tekanan asupan

cairan dapat disebabkan sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan


juga pada keadaan stress/hamil. (A.Aziz, 2008 : 67)
2. Urgensi
Urgensi adalah perasaan seseorang yang takut

mengalami

inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumnya anak kecil memiliki


kemampuan yang buruk dalm mengontrol sphincter eksternal.
Biasanya perasaan ingin segera berkemih terjadi pada anak karena
kurangnya kemampuan pengontrolan pada sphincter. (A.Aziz, 2008 :
67)
3. Disuria
Disuria adalah rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini sering
ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma, dan striktur
uretra. (A.Aziz, 2008:67)
4. Poliuria
Poliuria merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh
ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan. Biasanya, ditemukan
pada penyakit diabetes dan GGK. (A.Aziz, 2008 : 67)
5. Urinari Supresi
Urinaria supresi adalah berhentinya produksi urie secara mendadak.
Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal pada kecepatan 60 120
ml/jam secara terus menerus. (A.Aziz, 2008 : 67)
B. Gejala dan Tanda (Data mayor, minor)
1. Gangguan eliminasi urine
Mayor (Harus ada, satu atau lebih)
Melaporkan atau mengalami masalah eliminasi urine, seperti:
Dorongan berkemih (urgensia)

Menetes

Sering berkemih

Distensi kandung kemih

Hesitancy (keraguan)

Inkontinensia

Nokturia

Volume urine residu yang banyak

Enuresis
2. Inkontinensia fungsional
Mayor (harus ada)
Inkontinensia sebelum atau selama usaha mencapai toilet.

3. Inkontinensia urine refleks


Mayor (harus ada, satu atau lebih)

Kontraksi kandung kemih yang tidak dihambat

Reflex involunter yang menimbulkan berkemih spontan

Kehilangan sebagian atau menyeluruh sensasi penuhnya kandung kemih


atau dorongan berkemih

4. Inkontinensia stres
Mayor (harus ada, satu atau lebih)
Individu melaporkan pengeluaran urine (biasanya kurang dari 50 ml) yang
terjadi dengan peningkatan tekanan abdominal akibat berdiri, bersin,
batuk, berlari atau mengangkat benda berat.
5. Inkontinensia kontinu
Mayor (harus ada)

Aliran urine terus-menerus tanpa distensi

Nokturia lebih dari 2 kali selama tidur

Inkontinensia berulang pada terapi lain

Minor (mungkin ada)

Tidak menyadari isyarat kandung kemih untuk berkemih

Tidak menyadari inkontinensia

6. Inkontinensia urgensia
Mayor (harus ada)
Tergesa-gesa untuk berkemih yang diikuti oleh inkontinensia
7. Inkontinensia overflow
Mayor (harus ada, satu atau lebih)

Distensi kandung kemih (tidak berhubungan dengan etiologi yang akut dan
reversibel [dapat pulih])

Distensi kandung kemih disertai sering berkemih dalam jumlah sedikit


atau menetes (inkontinensia (overflow)

Residu urine 100 ml atau lebih

Minor (mungkin ada)


Individu mengatakan bahwa kandung kemihnya teras tidk kosong setelah
berkemih.
C. Pohon Masalah
Disfungsi organ eliminasi
urine

Respon
berkemih
Menahan
urine

Kondisi
penyakit
Prostat

Pembedahan

Diabetes
militus

Pengobatan

Penurunan
produksi urine

Perubahan
pola miksi

Mengakibatkan

Mengakibatkan
Terganggunya pola
berkemih
Gangguan eliminasi
urine

D. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan urine (urinalisis):

Warna (Normal: jernih kekuningan)

Penampilan (Normal: jernih)

Bau (Normal: beraroma)

Peningkatan
produksi urine

Inkontinensia
Urin

Retensi Urine

Stress
psikologis

pH (Normal: 4,5-8,0)

Berat jenis (Normal: 1,005-1,030)

Glukosa (Normal: negatif)

Keton (Normal: negatif)

b. Kultur urine (Normal: kuman fatogen negatif)


(Tarwoto, Wartonah, 2006, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan Edisi 3, halaman 64)
E. Penatalaksanaan Medis
1. Menolong Buang Air Kecil menggunakan urinal dan pispot
Menolong BAK menggunakan urinal dan pispot merupakan tindakan
keperawatan dengan membantu pasien yang tidak dapat BAK sendiri ke
kamar kecil dan pada pasien bedres
2. Melakukan kateterisasi
Kateterisasi merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukan
kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan eliminasi. Penatalaksanaan medis penggunaan kateter
ada 3 cara yaitu : straight kateter , foley kateter, dan three way
3. Menggunakan kondom kateter
Menggunakan kondom kateter merupakan tindakan keperawatan dengan
cara memberikan kondom kateter pada pasien yang tidak mampu
mengontrol berkemih.
F. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian pada kebutuhan eliminasi urine meliputi sebagai berikut (A.
Aziz Alimul Hidayat, Musrifatul Uliyah, 2015, Pengantar Kebutuhan Dasar
Manusia Edisi 2 - Buku 2)
1. Kebiasaan berkemih

Pengkajia

ini

meliputi

bagaimana

kebiasaan

berkemih

serta

hambatannya. Frekuensi berkemih bergantung pada kebiasaan dan kesempatan.


Banyak orang berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak
memerlukan waktu berkemih pada malam hari.
2. Pola berkemih
a. Frekuensi berkemih
Frekuensi berkemih menentukan berapa kali individu berkemih dalam
waktu 24 jam.
b. Urgensi
Perasaan seseorang untuk berkemih seperti seseorang sering ke toilet karena
takut mengalami inkontinensia jika tidak berkemih.
c. Disuria
Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Keadaan demikian dapat
ditemukan pada striktur uretra, infeksi saluran kemih, trauma pada vesika
urinaria, dan uretra.
d. Poliuria
Keadaan produksi urine yang abnormal dalam jumlah besar tanpa adanya
peningkatan asupan cairan. Keadaan demikian dapat terjadi pada penyakit
diabetes militus, defisiensi ADH, dan penyakit ginjal kronik.
e. Urinaria supresi
Keadaan produksi urine yang berhenti secara medadak. Bila produksi urine
kurag dari 100 ml/hari dapat dikataka anuria, tetapi bila produksiya atara
100 500 ml/hari dapat dikataka sebagai oliguria. Kondisi dmikian dapat
ditemuka pada penyakit ginjal, kegagalan jantung, luka bakar, dan renjatan
(syok). Secara normal, produksi urine oleh ginjal pada orang dewasa
memiliki kecepatan 60-120 ml/jam (720-1.440 ml/hari).

3. Volume urine

volume urine menentukan berapa jumlah urine yang dikeluarka dalam


waktu 24 jam. Berdasarkan usia, volume urine normal dapat ditentukan sebagai
berikut.
Tabel Volume Urine Normal Berdasarkan Usia
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

USIA
1-2 hari
3-10 hari
10 hari-2 bulan
2 bulan-1 tahun
1-3 thun
3-5 tahun
5-8 tahun
8-14 tahun
14 tahun-dewasa
Dewasa tua

JUMLAH/HARI
15-60 ml
100-300 ml
250-400 ml
400-500 ml
500-600 ml
600-700 ml
700-1.000 ml
800-1.400 ml
1.500 ml
1.500 ml

4. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan berkemih


a. Diet dan asupan (diet tinngi protei dan natirum) dapat mempengaruhi
jumlah urine yang dibentuk, sedangka kopi dapat meningkatkan jumlah
urine
b. Gaya hidup
c. Stress psikologi dapat meingkatka frekuensi keinginan berkemih.
d. Tingkat aktivitas
5. Keadaan urine
Tabel Keadaan Urine
N

KEADAAN

O
1

Warna

NORMAL
Kekuning-kuningan

INTERPRETASI
Urin berwarna oranye gelap
menunjukkan adanya pengaruh obat,
sedangkan warna merah dan kuning
kecokelatan mengindikasikan

Bau

Aromatik

adanya penyakit
Bau menyengat merupakan indikasi
adanya masalah seperti infeksi atau

Berat jenis

1,010-1,030

penggunaan obat tertentu


Menunjukkan adanya konsentrasi
urine

Kejernihan

Terang dan transparan

Adanya kekeruhan karena mukus

pH

Sedikit asam (4,5-7,5)

atau pus
Dapat menunjukkan keseimbangan
asam-basa, bila bersifat alkali
menunjukkan adanya aktivitas

Protein

Darah

Molekul protein yang besar

bakteri
Pada kondisi kerusakan ginjal,

seperti albumin, fibrinogen,

molekul tersebut dapat melewati

atau globulin tidak dapat

saringan masuk ke urine

disaring melalui ginjal-urine


Tak tampak jelas

Hematuria menunjukkan trauma atau


penyakit pada saluran kemih bagian

Glukosa

Adanya sejumlah glukosa

bawah
Apabila menetap terjadi pada pasien

dalam urine tidak berarti bila

diabetes melitus

hanya bersifat sementara,


misalnya pada seorang yang
makan gula banyak

6. Tanda klinis gangguan eliminasi urine seperti tanda retensi urine, inkontinensia
urine, dan enuresis.
G. Daftar Diagnosa Keperawatan
1. Inkontinensia urinarius fungsional
Definisi :
ketidakmampuan individu yang biasanya kontinen untuk mencapai toilet
tepat waktu untuk menghindari kehilangan urine tanpa disengaja.
Batasan karakteristik

Mampu mengosongkan kandung kemih dengan komplet

Jumlah waktu yang diperlukan untuk mencapai toilet melebihi lama


waktu antara merasakan dorongan untuk berkemih dan tidak dapat
mengontrol berkemih.

Mengeluarkan urine sebelum mencapai toilet

Mungkin inkontinen hanya pada dini hari

Merasakan perlunya untuk berkemih

Faktor yang berhubungan

Faktor lingkungan yang berubah

Gangguan kognisi

Gangguan penglihatan

Keterbatasan neuromuscular

Factor psikologis

Kelemahan struktur panggul pendukung

2. Gangguan eliminasi urine


Definisi
Disfungsi pada eliminasi urine.
Batasan Karakteristik

Disuria

Sering berkemih
Anyang-anyangan

Inkontinensia
Nokturia
Retensi
Dorongan

Faktor yang berhubungan

Obstruksi anatomic

Penyebab multiple

Gangguan sensori motorik

Infeksi saluran kemih

3. Retensi Urine

Definisi; Pengosongan kandung kemih tidak komplet

Batasan karakteristik

Tidak ada haluaran urine

Distensi kandung kemih

Menetes
Dysuria
Sering berkemih
Inkontinensia aliran berlebih

Residu urine
Sensasi kandung kemih penuh
Berkemih sedikit

Faktor yang berhubungan

Sumbatan

Tekanan ureter tinggi

Inhibisi arkus reflex

Sfingter kuat

H. Intervensi Keperawatan

H
ari/

iagnosa
T keperaw
atan

anggal

M
enyesuai

In

kan
dengan

Tujuan

Setelah

Intervensi

Rasional

1.Monitor keadaan bladder 1.Membantu mencegah

diberikan

setiap 2 jam

distensi

asuhan

komplikasi

keperawa 2.Tingkatkan aktivitas

atau

2.Meningkatkan

pelaksan

tan

dengan kolaborasi

kekuatan otot ginjal

aan

selama ...

dokter/fisioterapi

dan fungsi bladder

x24 jam
diharapka
n pola

3.Kolaborasi dalam bladder 3.Menguatkan otot dasar


training
4.Hindari faktor pencetus

pelvis
4.Mengurangi atau

eliminasi

inkontinensia urine

menghindari

urine

seperti cemas

inkontinensia

pasien

5.Kolaborasi dengan dokter 5.Mengatasi faktor

normal

dalam pengobatan dan

penyebab

dengan

kateterisasi

kriteria

6.Jelaskan tentang

hasil:

Pengobatan

- Mengidentifikasi

Kateter

pengetahuan dan

keinginan

Penyebab

diharapkan pasien

Tindakan lainnya

berkemih
- Berespon tepat
waktu terhadap
dorongan berkemih

6.Meningkatkan

lebih kooperatif

- Melakukan eliminasi
secara mandiri
- Mengosongkan
kandung kemih
secara tuntas
- Urine residu pasca
berkemih >100200 ml
- Tidak terjadi
hematuria dan
partikel pada urine
- Tidak ada rasa sakit

enyesuai

pada saat berkemih


1.Lakukan penilaian kemih

Setelah

Ga

diberikan

kan

dengan

asuhan

yang komprehensif

keperawatan selama

berfokus pada

inkontinensia (misalnya

24

pelaksan

diharapkan

aan

tidak
gangguan

jam
klien

mengalami
eliminasi

urin, dengan kriteria

output urine, pola


berkemih, fungsi
kognitif, dan masalah
kencing praeksisten
2.Sediakan

hasil:
- Kandung kemih

waktu

yang

cukup

untuk

kosong secara

pengosongan

penuh

kemih (10 menit)

- Tidak ada residu


urine >100-200 cc

3.Memantau

- Bebas dari ISK

kandung

asupan

dan

keluaran

- Intake cairan dalam 4.Memantau


rentang normal

distensi

kandung kemih dengan


palpasi dan perkusi

- Tidak ada spasme


bladder
- Balance cairan

enyesuai
kan

seimbang

Setelah

Re

diberikan

asuhan

1.Monitor keadaan bladder 1.Menentukan masalah


setiap 2 jam

keperawatan selama 2.Ukur intake dan output

2.Memonitor

dengan

24

pelaksan

diharapkan

aan

tidak

jam

cairan setiap 4 jam

keseimbangan cairan

klien 3.Berikan cairan 2.000

3.Menjaga defisit cairan

mengalami

retensi urine, dengan


kriteria hasil:
- Kandung kemih
kosong secara
penuh
- Tidak ada residu

ml/hari dengan
kolaborasi
4.Kurangi minum setelah
pukul 18.00
5.Kaji dan monitor analisisi
urine elektrolit dan
berat badan

urine >100-200 cc 6.Lakukan latihan

7.Lakukan relaksasi ketika


duduk berkemih

9.Kolaborasi dalam
pemasangan kateter

I. Referensi

7.Relaksasi pikiran

berkemih
8.Agar pasien dapat
mengeluarkan urine
dengan nyaman

ginjal dan bladder

kemampuan

eliminasi

6.Meningkatkan fungsi

8.Sediakan privacy untuk

keseimbangan cairan

- Tidak ada spasme

5.Membantu memonitor

dapat meningkatkan

seimbang

pergerakan

- Balance cairan

4.Mencegah nokturia

- Bebas dari ISK


bladder

9.Untuk pengeluaran
urin

Carpenito-Moyet, Lynda Juall. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.


Edisi 13. Jakarta: EGC.

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.

Hidayat, A. Aziz Alimul dan Uliyah, Musrifatul. 2015. Pengantar


Kebutuhan Dasar Manusia Edisi 2-Buku 2. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia:


Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, A.Aziz, dkk. 2005. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar


Manusia. Jakarta: EGC

Hidayat, A.Aziz, dkk. 2008. Ketrampilan Dasar Praktek Klinik Untuk


Kebidanan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Kozier. 2011.Fundamental Keperawatan volume 1 edisi 7. Jakarta: EGC.

Mubarak & Chayatin. 2008. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.

Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT


Gramedia

Potter, Patricia A., Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Tarwoto dan Wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

Vaughans Bennita W. 2013. Keperawatan Dasar. Yogyakarta: Rpha


Publishing.

Wilkinson, Judith M., Ahern, Nancy R. 2012. Buku Saku Diagnosis


Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.
Edisi 9. Jakarta: EGC.

Mengetahui

Pembimbing Praktik

Gianyar, 12 Oktober 2015


Mahasiswa

NIP.

(Ni Wayan Krisma Andiani)


NIM. P07120014063

Mengetahui
Pembimbing Akademik

(NS.I.G.A. Ari Rasdini.,S.Pd.,


S.Kep., M.Pd.)
NIP. 195910151986032001