Anda di halaman 1dari 13

Borang Portfolio Tinea Cruris

Nama Peserta : dr. Dessi Natalia


Nama Wahana : Puskesmas Kecamatan Koja
Topik
: Tinea Cruris
Tanggal (kasus): Agustus 2016
Nama Pasien : Ny. SR
Tanggal Presentasi : Oktober 2016
Nama Pendamping : dr. Julietta Tantri
Obyektif Presentasi:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi: Seorang perempuan usia 60 tahun datang dengan keluhan gatal dan terdapat bercak
kemerahan pada kedua lipat paha sejak 1 minggu SMRS.
Tujuan: Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan Tinea Cruris
Bahan Bahasan
TinjauanPustaka Riset
Kasus
Cara Membahas
Diskusi
Presentasi dan
Email

Audit
Pos

diskusi
Data Pasien
Nama: Ny SR
Nama Puskesmas
Puskesmas Kecamatan Koja
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Anamnesa
Sejak 1 minggu SMRS, pasien mengeluh gatal di kedua lipat paha. Gatal disertai dengan
bercak kemerahan disekitar kedua lipat paha. Gatal dirasakan terutama saat berkeringat.
Karena gatal yang dirasakan semakin hebat, pasien sering menggaruk kedua lipat paha
hingga kulit didaerah tersebut terkelupas dan terasa perih.
Sejak 1 minggu SMRS, pasien mengatakan sudah menggunakan salep Desoximetasone
pada siang hari dan Fusidic Acid pada malam hari dan mengatakan gatal terasa berkurang
setelah menggunakan salep, namun setelah itu gatal akan timbul lagi.
Pasien mengatakan memiliki riwayat sakit diabetes dan sakit hipertensi yang terkontrol.
Riwayat alergi terhadap makanan atau obat obatan tertentu disangkal. Riwayat kontak
dengan hewan peliharaan disangkal. Riwayat bertukar pakaian atau handuk dengan
anggota keluarga lainnya disangkal.
2. Riwayat Pengobatan
Sejak 1 minggu SMRS, pasien mengatakan sudah menggunakan salep Desoximetasone
pada siang hari dan Fusidic Acid pada malam hari
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit
Pasien mengatakan memiliki riwayat sakit diabetes dan sakit hipertensi yang terkontrol.
4. Riwayat Keluarga
1

Tidak ada
5. Riwayat Pekerjaan
Ibu rumah tangga
6. Kondisi Lingkungan
Pasien tinggal dengan anak
7. Lain-lain: DaftarPustaka:
1. Unandar, Budimulja. Mikosis. In : Djuanda A, Hamzah M, Aisyah S. Editors. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. h.89-100.
2. Wiederkehr, Michael. Tinea Cruris. Medscape Reference. [Online] Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/1091806-overview.
3. Wolff K. Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ. Fitzpatricks
dermatology in general medicine. 7th ed. Vol 2. USA: Mcgraw hill companies; 2008.
h.1087-22.
4. James Mark, Jeffrey Miller. Principle of Dermatology. USA: Elsevier, 2006.
5. Richard Aston, Barbara Leppard. Differential Diagnosis in Dermatology. United
Kingdom: Radcliffe, 2005.
Hasil Pembelajaran :
1 Diagnosis Tinea Cruris
2 Tata laksana Tinea Cruris
Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:
1. Subyektif
- Wanita 60 tahun datang dengan keluhan gatal dan bercak kemerahan di sekitar lipat paha
-

sejak 1 minggu SMRS.


Pasien mengatakan sudah menggunakan salep Desoximetasone pada siang hari dan
Fusidic Acid pada malam hari dan mengatakan gatal terasa berkurang setelah

menggunakan salep,
Gatal dirasakan terutama saat berkeringat.
Karena gatal yang dirasakan semakin hebat, pasien sering menggaruk lipat paha kanan
dan kirinya hingga kulit didaerah tersebut terkelupas dan terasa perih.

2. Obyektif
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Berat Badan
: 70 kg
Tinggi Badan
: 160 cm
Tanda tanda vital :
Tekanan darah
: 140/80 mmHg
2

Nadi
: 80 x/ menit
Suhu
: afebris
RR
: 20 x/ menit
Kepala
: Normocephali
Mata
: Conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/Tenggorok
: Faring tidak hiperemis, Tonsil T1 T1 tenang
Leher
: Tidak teraba pembesaran KGB dan tiroid
Thorak
:
Pulmo: suara nafas dasar vesikuler, Rhonki -/-, Whezzing -/Cor: BJ I dan II reguler, Gallop (-), Murmur (-)
Abdomen
: dinding perut supel, turgor kulit baik, hepar dan lien tidak teraba
membesar
Ekstremitas

: akral hangat, edema tungkai -/-

Status Dermatologikus
Lokasi
: lipat paha kanan
Efloresensi
: gambaran bercak hiperpigmentasai disertai eritematosa, ukuran plakat,
bentuk tidak teratur, batas tegas, dan terdapat papul papul di sekitar tepi lesi. Terdapat
skuama halus pada tepi lesi.
Lokasi
Efloresensi

: lipat paha kiri


: gambaran bercak hiperpigmentasi disertai eritematosa, ukuran plakat,

bentuk tidak teratur, batas tegas dan terdapat papul papul disekitar tepi lesi. Terdapat
ekskoriasi di bagian tengah lesi.
3. Pemeriksaan Darah dan Urin Lengkap
Tidak dilakukan.
4. Assesment
Tinea Cruris
5. Plan

Non Medika Mentosa


a. Menjaga agar daerah lesi tetap kering dan menjaga kebersihan diri.
b. Menggunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti
katun, tidak ketat, dan diganti setiap hari.
c. Untuk menghindari penularan penyakit, sebaiknya tidak menggunakan handuk bersama
dengan anggota keluarga lain.
d. Menurunkan berat badan.
Medika mentosa
a. Sistemik
b. Topikal

: ketokonazole 200 mg per hari selama 10 hari 2 minggu


: miconazole nitrat 2%, 2 x sehari, setiap habis mandi, pagi dan sore.

Tinjauan pustaka

I.

Pendahuluan
Mikosis superfisialis merupakan infeksi jamur pada kulit yang disebabkan oleh
kolonisasi jamur atau ragi. Penyakit yang termasuk mikosis superfisialis adalah
dermatofitosis, pitiriasis versikolor, dan kandidiasis superfisialis. Mikosis superfisialis
cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Indonesia merupakan salah satu negara
beriklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi, merupakan suasana yang baik
bagi pertumbuhan jamur, sehingga jamur dapat ditemukan hampir di semua tempat.
Mikosis superfisial mengenai lebih dari 20% hingga 25% populasi sehingga menjadi
bentuk infeksi yang tersering.
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan tubuh yang mengandung zat tanduk,
misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, serta kuku yang disebabkan oleh
golongan jamur dermatofita, yang mampu mencernakan keratin. Insiden dan prevalensi
dermatofitosis cukup tinggi di dalam masyarakat baik di dalam maupun diluar negeri. Di
Indonesia, dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis dan tinea kruris
dan tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak. Dermatofit tersebar di seluruh
dunia dan menjadi masalah terutama di negara berkembang. Berdasarkan urutan kejadian

dermatofitosis, tinea korporis (57%), tinea unguinum (20%), tinea kruris (10%), tinea
pedis dan tinea barbae (6%), dan sebanyak 1% tipe lainnya.
Tinea kruris sebagai salah satu dermatofitosis, disebabkan oleh jamur golongan
dermatofita, terutama suatu kelas Fungi imperfecti, yaitu Genus Microsporum,
Trichophyton, dan Epidermophyton. Tinea cruris adalah dermatofitosis pada lipat paha,
daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan
lesi berbatas dan peradangan pada tepi lebih nyata dari pada tengahnya. Efloresensi
terdiri atas berbagai macam bentuk yang sekunder dan primer (polimorf). Bila penyakit
ini menjadi menahun dapat berupa bercak hitam disertai sisik. Tinea cruris mempunyai
nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin.
Faktor penting yang berperan dalam penyebaran tinea kruris adalah kondisi
kebersihan lingkungan yang buruk, daerah pedesaan yang padat, dan kebiasaan
menggunakan pakaian yang ketat atau lembab. Obesitas dan diabetes melitus juga
merupakan faktor resiko tambahan oleh karena keadaan tersebut menurunkan imunitas
untuk melawan infeksi. Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat
merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.
II.

Epidemiologi
Tinea cruris dapat ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara beriklim hangat
dan lembab. Tina cruris lebih sering ditemukan pada rentang usia 51 60 tahun dan
sering terjadi pada laki laki daripada perempuan dengan ratio 3:1. Dewasa dan remaja
paling sering terkena infeksi terutama dengan faktor prevalensi seperti obesitas dan
diabetes melitus.

III.

Etiologi
Penyebab tersering dari tinea cruris adalah Trichophyton rubrum dan
Epidermophyton fluccosum. Epidermophton fluccosum paling sering menyebabkan
epidemi. Selain itu trichophyton mentagrophytes dan trichophyton verrucosum juga bisa
menyebabkan walaupun jarang.
Tinea cruris menyebar melalui kontak langsung ataupun kontak dengan peralatan
yang terkontaminasi, dan dapat mengalami eksaserbasi karena adanya oklusi dan
lingkungan yang hangat, serta iklim yang lembab.

IV.

Patogenesis

Tinea cruris adalah infeksi menular yang ditularkan oleh fomites, seperti handuk
yang terkontaminasi atau sprei tempat tidur, atau dengan autoinokulasi dari reservoir
pada tangan atau kaki (tinea manum, tinea pedis, tine unguium). Jamur dalam tinea cruris
menghasilkan keratinases, yang memungkinkan invasi dari lapisan korneum dari
epidermis. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang cabangnya didalam
jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke
jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan.
Respon kekebalan tubuh dapat mencegah invasi lebih dalam. Faktor resiko infeksi
awal tinea cruris atau infeksi ulang termasuk mengenakan pakaian ketat atau basah.
Pertumbuhan dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit
dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula
yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah:
a. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik,
geofilik. Selain afinitas ini masing masing jamur berbeda pula satu dengan yang
lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian bagian dari tubuh
misalnya: Trychophyton rubrum jarang menyerang rambut. Epidermophyton
fluccosum paling sering menyerang lipat paha bagian dalam.
b. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi lesi kecil susah untuk terserang jamur.
c. Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada
lokalisasi atau lokal, dimana banyak berkeringat seperti pada lipat paha, sela sela
jari paling sering terserang penyakit jamur.
d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden
penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering
ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik.
V.

Manifestasi Klinis
Tinea cruris biasanya muncul sebagai beberapa papulovesikel eritematosa dengan
batas tegas dan tepi yang meninggi. Pruritus umum terjadi, nyeri biasanya terjadi karena
6

infeksi sekunder. Infeksi E. Fluccossum sering muncul dengan lesi khas yaitu central
healing dan yang paling sering terbatas pada lipatan genitocrural dan paha atas bagian
medial. Sebaliknya, infeksi T. Rubrum sering muncul dengan ekstensi ke pantat,
kemaluan, perianal, dan daerah perut bagian bawah.
Bercak eritema besar dengan central healing yang berpusat pada lipatan inguinal
dan memanjang ke bawah
distal aspek medial paha dan proksimal ke perut bagian bawah dan daerah
kemaluan.
Sisik berbatas tegas di tepi. Pada infeksi akut tinea cruris, ruam mungkin lembab
dan eksudatif. Infeksi kronis biasanya kering dengan papular annular dengan batas tidak
tegas. Penis dan skrotum biasanya tidak terkena tinea cruris, namun infeksi dapat meluas
ke perineum dan bokong. Perubahan sekunder dari ekskoriasi, lichenifikasi, dan
impetiginasi mungkin ada sebagai akibat pruritus. Infeksi kronis yang sudah diterapi
dengan kortikosteroid topikal lebih eritematosa, kurang bersisik, dan mungkin memiliki
pustula folikular.
VI.

Diagnosis dan Diagnosis Banding


Diagnosis dapat ditegakkan melalui penampakan klinis dan dengan pemeriksaan
KOH untuk memastikan adanya jamur.
Diagnosis banding untuk tinea cruris antara lain kandidiasis, eritrasma, seboroik
dermatitis, dan psoriasis. Kandidiasis biasanya berwarna merah terang seperti daging
dengan batas yang tidak tegas dan papul pustula satelit. Eritrasma yang berupa infeksi
oleh Corynobacterium minutissiumum tampak berwarna kemerahan dengan sisik sisik
halus yang akan menyala merah muda bila disinari Woods lamp. Seboroik dermatitis
biasanya jarang terjadi pada lokasi ini dan terutama hanya pada orang dengan obesitas
atau diabetes melitus. Psoriasis akan nampak sebagai sisik sisik mengkilat berwarna
abu abu dengan gambaran seperti tetesan lilin.
Dengan pemeriksaan KOH dapat dilihat penyebab lesi, walaupun tidak dapat
spesifik sampai ke jenis/ spesies. Pada tinea akan tampak hifa sejati yaitu filamen panjang
bercabang bersekat double contour, sedangkan pada kandidiasis tampak sel sel ragi,
blastospora, dan hifa semu yang sebenarnya hanya spora yang berderet dimana lebar hifa
lebih atau sama dengan panjang hifa.

VII.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas
pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk
mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya
dibersihkan dengan alkohol 70%.
1. Pemeriksaan dengan sediaan basah
Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% korek dari bagian tepi lesi (sisik dan
kulit) hingga sedikit di luar lesi dengan scalpel tumpul steril taruh di obyek
glass tetesi KOH 10 15% 1 2 tetes tunggu 10 15 menit untuk
melarutkan jaringan atau dilewatkan di atas api kecil lihat di mikroskop
dengan pembesaran 10x kemudian 40x, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis
sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, atau spora berderet (artrospora) pada
kelainan kulit yang lama atau sudah diobati.
2. Pemeriksaan kultur dengan Saboraud agar
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium
saboraud dengan ditambahkan kloramfenikol dan cyclohexamide (mycobyotic
mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan.
Identifikasi jamur biasanya antara 3 6 minggu.
3. Punch biopsy
Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya
dan spesifitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc Acid Schiff, jamur akan
tampak merah muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur
akan tampak coklat atau hitam.
4. Pemeriksaan lampu Wood
Didapatkan fluoresensi kuning kehijauan. Penggunaan lampu wood bisa
digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi
merah bata.

VIII. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tinea cruris berupa terapi medika mentosa dan non medika
mentosa. Penatalaksanaan medika mentosa tinea cruris sendiri tersedia dalam bentuk
8

pemberian topikal dan sistemik. Penatalaksanaan medika mentosa sendiri dapat dimulai
berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik langsung pada sampel kulit. Pemeriksaan
mikroskopik tidak dapat membedakan spesies namun umumnya semua spesies dermatofit
diyakini memberikan respon yang sama terhadap terapi anti jamur sistemik dan topikal
yang ada.
Pengobatan anti jamur untuk tinea cruris dapat digolongkan dalam empat
golongan yaitu: golongan poliene, golongan azol, golongan alilamin,

dan golongan

lainnya seperti siklopiros, tolnaftan, haloprogin.


1

Golongan Poliene
Mekanisme kerja golongan poliene yaitu berikatan dengan ergosterol secara
irreversibel. Ergosterol merupakan komponen yang sangat penting dari membran
sel jamur. Golongan poliene tidak efektif terhadap dermatofit dan penggunaannya
secara klinis juga terbatas yaitu untuk pengobatan infeksi yang disebabkan Candida

Albicans dan Candida spesies lain.


Golongan Azol
Golongan azol imidazol ditemukan setelah tahun 1960, relatif berspektrum luas,
bersifat fungistatik dan bekerja dengan cara menghambat sintesis ergosterol jamur
yang mengakibatkan timbulnya defek pada membran sel jamur. Obat anti jamur
golongan azol seperti klotrimazol, ketokonazol, ekonazol, oksikonazol, sulkonazol,
dan mikonazol mempunyai kemampuan mengganggu kerja enzim sitokrom P 450
lanosterol 14 demethylase yang berfungsi sebagai katalisator untuk mengubah

lanosterol menjadi ergosterol.


Golongan alilamin
Golongan alilamin yaitu naftifin, terbinafin, dan golongan benzilamin yaitu
butenafin, bekerja dengan cara menekan biosintesis ergosterol pada tahap awal
proses metabolisme dan enzim sitokrom P 450 akan menghambat aktifitas
squalene eposidase. Dengan berkurangnya ergosterol, akan menyebabkan
penumpukan squalene pada sel jamur dan akan mengakibatkan kematian sel jamur.
Alilamin dan benzilamin bersifat fungisdal terhadap dermatofit dan bersifat

fungistatik terhadap Candida Albicans.


Golongan lainnya
a. Siklopiroks

Senyawa hidroksipiridon ini memilki sifat broadspektrum luas. Senyawa ini


bersifat fungisid terhadap Candida albican dan Trichophyton rubrum,
fungistatis terhadap Malassezia furfur (panu). Kerjanya berhubungan dengan
sintesis DNA.
b. Haloprogin
Haloprogin bersifat

fungisid

terhadap

Epidermophyton,

Pityrosporum,

Trichophyton dan Candida.


c. Tolnaftate
Tonaftat termasuk golongan tiokarbonat dan merupakan antijamur yang sangat
efektif terhadap dermatofitosis dan infeksi Pityrosporum orbiculare tetapi tidak
terhadap Candida. Mekanisme kerjanya dengan menghambat epoksidasi skualen
pada membran sel jamur.
Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk lesi yang luas atau gagal
dengan pengobatan topikal, berikut adalah obat sistemik yang digunakan dalam
pengobatan tinea cruris.
1

Griseofulvin
Mekanisme kerja
Griseofulvin merupakan antijamur yang berasal dari spesies Penicilium
mold yang bersifat fungistatik, berikatan dengan protein mikrotubular dan

menghambat mitosis sel jamur.


Dosis
Secara umum griseovulfin dalam bentuk fine particle dapat diberikan
dengan dosis 0,5 1 untuk orang dewasa dan 0,25 0,5 g untuk anak- anak
sehari atau 10 25 mg per kg berat badan. Lama pengobatan bergantung
pada lokasi penyakit, penyebab penyakit dan keadaan imunitas penderita.

Setelah sembuh klinis di lanjutkan 2 minggu agar tidak residif.


Efek samping
Efek samping griseofulvin biasanya ringan dapat berupa sakit kepala, mual,
muntah, dan sakit pada abdominal. Timbul reaksi urtikaria dan erupsi kulit

dapat terjadi pada sebagian pasien


Ketokonazol
Mekanisme kerja
Ketokonazole bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang merupakan
sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur. Bekerja

10

dengan cara menginhibisi enzim sitokrom P 450, C 14 demethylase


yang bertanggung jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini akan
mengakibatkan dinding sel jamur menjadi permiabel dan terjadi

penghancuran jamur.
Dosis
Pada kasus resisten terhadap griseovulfin dapat diberikan obat tersebut
sebanyak 200 mg perhari selama 10 hari 2 minggu pada pagi hari setelah
makan. Sedangkan dosis untuk anak - anak 3,3 6,6 mg per kg berat badan,

dosis tunggal.
Efek samping
Ketokonazole merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar.
Anoreksia, mual, dan muntah merupakan efek samping yang sering di

jumpai.
Itrakonazol
Mekanisme kerja
Merupakan sintesis derivat triazol yang berspektrum luas yang bekerja
menghambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sitokrom P450
dependent sintesis dari ergosterol yang merupakan komponen penting pada

selaput sel jamur.


Dosis
Pada penelitian disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada
griseofulvin dengan hasil terbaik 2 3 minggu setelah perawatan. Dosis
dewasa 200mg per oral selama 1 minggu dan dosis dapat dinaikkan 100mg,
jika tidak ada perbaikan. Namun tidak boleh melebihi 400mg/ hari. Untuk

anak anak 5mg/ hari per oral selama 1 minggu.


Efek samping
Kontraindikasi pada penderita hipersensitivitas, dan jangan diberikan

bersama dengan cisapride karena berhubungan dengan aritmia jantung.


Terbinafin
Mekanisme kerja
Merupakan golongan alilamin yang bekerja menghambat sintesis ergsoterol
(komponen utama pada membran plasma sel jamur) dengan cara
menghambat kerja squalene epoxidase (enzim yang berfungsi sebagai

katalis untuk mengubah squalene menjadi squalene 2,3 epoxide).


Dosis

11

Pemberian secara oral pada dewasa 250 mg/ hari selama 2 minggu. Pada

anak pemberian secara oral disesuaikan dengan berat badan.


12 20 kg
: 62,5 mg/ hari selama 2 minggu.
20 40 kg
: 125 mg/ hari selama 2 minggu.
>40 kg
: 250 mg/ hari selama 2 minggu.
Efek samping
Efek samping terbinafin ditemukan pada kira kira 10% penderita, yang
tersering gangguan gastrointestinal. Terbinafin tidak direkomendasikan
untuk pasien dengan penyakit hepar kronik.

Pengobatan tinea cruris tidak berbatas pada medika mentosa saja. Beberapa
pengobatan non medika mentosa yang dapat dianjurkan, yaitu:
a. Anjuran agar menjaga daerah lesi tetap kering.
b. Bila gatal, jangan digaruk, karena garukan dapat menyebabkan infeksi.
c. Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat, keringkan dengan haduk dan
mengganti pakaian yang lembab.
d. Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat
seperti katun, tidak ketat dan diganti setiap hari.
e. Untuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan handuk yang digunakan
penderita harus segera dicuci dan direndam air panas.
f. Dianjurkan menurunkan berat badan pada penderita obesitas.

Tabel terapi tinea secara umum


Golongan

Golongan Azol

Golongan Alilamin/ Lainnya

Poliene
Nystatin

Imidazole
Klotrimazol

Benzilamin
Naftifin

Siklopiroks(topikal)

Ekonazol

Terbinafin

Haloprogin(topikal)

Mikonazol

Butenafin(benzilamin

Tolnaftat(topikal)

Ketokonazol

Griseofulvin(sistemik

Sulkonazol

Oksinazol
Terkonazol
Tiokonazol
Sertakonazol
12

Itrakonazol(sistemik)
Flukonazol(sistemik)
IX.

Komplikasi
Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain. Pada
infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.

X.

Prognosis
Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan
kelembaban dan kebersihan kulit selalu dijaga.

13