Anda di halaman 1dari 19

DIKSI DAN MACAM-MACAM ARTI

Disusun oleh:
Ari Prasetyo Ramadhanu (04)

Olldry Tiara Mustika (17)

1631120108

1631120133

Ibadurrohman (10)

Renda Era Khairunnisa (19)

1631120123

1631120134

Program Studi Teknik Listrik


Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Malang
2016

Pengertian Diksi

Diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata untuk menggambarkan sebuah cerita. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam
penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan, sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang
diharapkan). Dari dua pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penguasaan kata seseorang
akan mempengaruhi kegiatan dan cara berbahasanya.
Setiap kata memiliki makna tertentu untuk mengekspresikan gagasan yang ada dalam
otak seseorang. Bahkan, makna kata bisa saja diubah saat digunakan dalam kalimat yang
berbeda. Hal ini mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat
digunakan pada kalimat.
Diksi tidak hanya dapat diartikan memilih kata, melainkan digunakan untuk menyatakan
gagasan atau menceritakan peristiwa. Dan juga, diksi meliputi tentang gaya bahasa, ungkapanungkapan, dan sebagainya. Agar dapat menghasilkan tulisan, karangan, dan bicara yang menarik
diperlukan beberapa syarat, seperti:
1. Ketepatan dalam memilih kata saat menyampaikan suatu gagasan.
2. Seorang pengarang harus memiliki kemampuan untuk membaca dengan tepat nuansanuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan. Ia juga harus memiliki
kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan rasa dari
pembaca/penikmat.
3. Menguasai berbagai kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi
kalimat yang jelas, efektif, dan mudah dimengerti.
Jenis-Jenis Diksi

1.

Berdasarkan Makna

1.
Makna Denotatif
Makna denotatif menyatakan arti yang sebenarnya dari sebuah kata. Makana denotatif
berhubungan dengan bahasa ilmiah. Makna denotasi dapat dibedakan atas dua macam
relasi, pertama, relasi antara sebuah kata dengan barang individual yang diwakilinya, dan
kedua, relasi antara sebuah kata dan ciri-ciri atau perwatakan tertentu dari barang yang
diwakilinya.
Contoh : Bunga Melati
2.
Makna Konotatif
Makna konotatif adalah suatu jenis kata yang memiliki arti bukan sebenarnya.
Contoh : Bunga Bank

2.

Berdasarkan Leksikal

1.
Sinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama.
2.
Antonim adalah dua buah kata yang maknanya dianggap berlawanan.
3.
Homonim adalah suatu kata yang memiliki lafal dan ejaan yang sama,
namun memiliki makna yang berbeda.
4.
Homofon adalah suatu kata yang memiliki makna dan ejaan yang berbeda
dengan lafal yang sama.
5.
Homograf adalah suatu kata yang memiliki makna dan lafal yang berbeda,
namun ejaannya sama.
6.
Polisemi adalah suatu kata yang memiliki banyak pengertian
7.
Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Kata hipernim
dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya.
8.
Hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata-kata hipernim
Elemen Diksi
Diksi terdiri dari enam elemen :
1. Fonem
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang
masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi. Misalkan dalam bahasa
Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar"
dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada
fonem /k/. Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga
fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau
[provinsi] tetap sama saja.
2. Silabel
Suku kata atau silabel (bahasa Yunani: sullab) adalah unit pembentuk kata
yang tersusun dari satu fonem atau urutan fonem. Sebagai contoh, kata wiki terdiri dari dua suku
kata: wi dan ki. Silabel sering dianggap sebagai unit pembangun fonologis kata karena dapat
mempengaruhi ritme dan artikulasi suatu kata.
3. Konjungsi
Konjungsi kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat:
kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat.
Contoh: dan, atau, serta. Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang
dapat beririsan. Contoh irisannya adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.
4. Nomina
Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat,
atau semua benda dan segala yang dibendakan. Kata benda dapat dibagi menjadi dua: kata benda
konkret untuk benda yang dapat dikenal dengan panca indera (misalnya buku), serta kata benda

abstrak untuk benda yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran (misalnya
cinta). Selain itu, jenis kata ini juga dapat dikelompokkan menjadi kata benda khusus atau nama
diri (proper noun) dan kata benda umum atau nama jenis (common noun). Kata benda nama diri
adalah kata benda yang mewakili suatu entitas tertentu (misalnya Jakarta atau Ali), sedangkan
kata benda umum adalah sebaliknya, menjelaskan suatu kelas entitas (misalnya kota atau orang).
5. Verba
Verba (bahasa Latin: verbum, "kata") atau kata kerja adalah kelas kata yang menyatakan
suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya
menjadi predikat dalam suatu frasa atau kalimat. Berdasarkan objeknya, kata kerja dapat dibagi
menjadi dua: kata kerja transitif yang membutuhkan pelengkap atau objek seperti memukul
(bola), serta kata kerja intransitive yang tidak membutuhkan pelengkap seperti lari.
6. Infleksi
Adalah proses penambahan morpheme infleksional kedalam sebuah kata yang
mengandung indikasi gramatikal seperti jumlah, orang, gender, tenses, atau aspek.
Kata Ilmiah
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang diserap atau diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum terpelajar, kaum
pendidik, terutama dalam karya-karya ilmiah, laporan, penemuan-penemuan, serta diskusidiskusi khusus.

Kata Ilmiah dan Kata Populer


Kata ilmiah dan kata popular memiliki perbedaan, yaitu kata popular digunakan dalam
komunikasi manusia sehari-hari, sedangkan kata ilmiah digunakan untuk tulisan-tulisan yang
bersifat pendidikan, atau kepenulisan resmi.
Agar dapat memahami dengan baik perbedaan kata ilmiah dan kata populer, berikut
adalah daftar kata.
KATA ILMIAH
Analogi
Final
Diskriminasi
Prediksi
Kontradiksi

KATA POPULER
Kiasan
Akhir
Perbedaan perlakuan
Perkiraan
Pertentangan

Anarki
Format
Biodata
Indeks

Kekacauan
Ukuran
Biografi singkat
Petunjuk

Pembentukan Istilah dan Definisi


1. Pembentukan Istilah
Istilah merupakan kata atau gabungan kata yang mengungkapkan makna konsep, proses,
keadaan, atau sifat yang khas pada bidang tertentu.
Tata istilah adalah peraturan pembentukan istilah dan kumpulan istilah yang
dihasilkannya.
Syarat pembentukanistilah yang baik:
- Tepat mengungkapkan konsep yang dimaksud.
- Paling singkat di antara pilihan yang ada.
- Sedap didengar.
- Bentuknya menurut kaidah bahasa Indonesia.
- Sumber bahasa.
Istilah Khusus dan Istilah Umum
Istilah khusus adalah istilah yang pemakaiannya bermakna terbatas pada satu bidang tertentu.
Sedangkan istilah umum adalah istilah yang menjadi unsur bahasa yang digunakan secara umum.
Contoh:
-

Istilah khusus : diagnosis, pidana


Istilah umum : daya, penilaian

2. Definisi
Definisi adalah suatu pernyataan yang menerangkan pengertian suatu hal atau konsep
istilah tertentu. Dalam membuat definisi, hal yang perlu diperhatikan adalah tidak
diperkenankan mengulang kata atau istilah yang kita definisikan.
Kata Serapan
Kata serapan adalah kata dalam bahasa Indonesia yang bersumber/diserap dari bahasa asing
untuk keperluan mencari padanan kata yang tepat. Cara pengucapan ataupun cara penulisan kata
serapan disesuaikan dengan kaidah-kaidah standar atau baku yang sesuai dengan EYD. Seluruh
proses penyerapan istilah tersebut bisa dilakukan dengan atau tanpa pengubahan, melainkan
berupa penyesuaian ejaan atau lafal. Penyerapan bahasa tersebut dilakukan berdasarkan
ketentuan berikut:

Istilah serapan yang dipilih lebih cocok karena konotasinya

Istilah serapan yang dipilih lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahan
Indonesianya.

Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah
Indonesia terlalu banyak sinonimnya.

Analogi dan Anomali kata serapan dalam bahasa Indonesia

Analogi

Analogi adalah keteraturan bahasa. Satuan bahasa dikatakan analogis bila satuan
tersebut sesuai dengan konvensi-konvensi yang berlaku. Kata serapan yang
dikaitkan dengan analogi bahasa dilakukan dengan membandingkan unsur-unsur
intern bahasa penerima pengaruh itu sendiri.Hal yang perlu diingat adalah
bagaimana keadaan kata tersebut setelah masuk ke dalam bahasa Indonesia, yaitu
sistem fonologi, sistem ejaan, dan struktur bahasa. Misalnya:
a. Fonologi
Banyak kata serapan yang sesuai dengan sistem dalam bahasa Indonesia,
baik melalui proses penyesuaian atau tanpa proses penyesuaian. Contoh :
Aksi - action (Inggris)
Derajat - darrajat (Arab)
b. Sistem ejaan

Sistem ejaan berhubungan dengan pembakuan. Pembakuan didasarkan pada


Ejaan Yang Disempurnakan. Contoh :

Sentral - central.

Anomali

Anomali adalah penyimpangan/ketidakteraturan bahasa. Satuan bahasa dikatakan anomalis


bila tidak sesuai/menyimpang dengan konvensi-konvensi yang berlaku. Kata-kata yang anomalis
bisa dalam bentuk fonologi, ejaan, ataupun struktur.
a. Fonologi
Munculnya anomali dalam fonologi terjadi karena adanya kata asing yang diserap secara
utuh ke dalam bahasa Indonesia, tanpa mengalami perubahan penulisan dan bisa dibaca seperti
aslinya. Contoh:

Export asalnya export


Exodus asalnya exodus.
b. Sistem Ejaan
Semua kata asing yang secara utuh diserap ke dalam bahasa Indonesia, tanpa melalui
penyesuaian dengan kaidah di dalam penulisan. Contoh :
Bank - bank (Inggris)
jum'at - jum'at (Arab).
Era - era (Inggris);
formal - formal (Inggris).
c. Struktur
Struktur yang dimaksud adalah struktur kata. Kata bisa terdiri dari satu morfem, bisa juga
tersusun dari dua morfem atau lebih. Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia
bisa terdiri dari satu morfem, dua morfem atau lebih. Misalnya:

federalisme - federalism (Inggris);


bilingual - bilingual (Inggris);
eksploitasi - exploitation (Inggris).

Gaya Bahasa dan Idiom


Gaya Bahasa atau Majas adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan
kesan dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda dengan benda lain
atau hal lain yang lebih umum.

a. Majas Perumpamaan
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang
sengaja dianggap sama. Conoh :

Semanis Madu
Bagai kambing dihalau ke air. (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak
mengerjakan sesuatu)
Secantik bidadari.

Perumpamaan secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak, bagai, ibarat, penaka,
sepantun, laksana, umpama.
b. Majas Metafora

Metafora adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua
hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan persamaan antara
benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya. Contoh:
Siti Mutmainah adalah kembang desa di sini.
Ibad tangkai hati ibu
c. Majas Personifikasi
Personifikasi adalah majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi
seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau bergerak. Contoh:
Banjir besar telah menelan seluruh harta penduduk.
Kabut tebal menyelimuti desa kami.
d. Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebih-lebihan. Contoh:
Keringatnya menganak sungai.
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
e. Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan
sesuatu dengan memperkecil atau memperhalus keadaan. Majas litotes disebut juga hiperbola
negatif. Contoh:

Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk membasahi
tenggorokan saja yang ada.
Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik
dan saran akan saya terima dengan senang hati.
f. Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan
maksud menyindir. Ironi disebut juga majas sindiran. Contoh:
Bagus benar ucapanmu itu, sehingga menyakitkan hati.
Kau memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.
g. Antonomasia
Antonomasia adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang
dimilikinya. Contoh:

Sssssttt, lihat! Si cerewet datang. Kalian tidak perlu bertanya.


Macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya.
Kemarin saya lihat si Kacamata hitam keluar bersama-sama dengan si Kribo.
Benar tidak?

h. Oksimoron
Oksimoron adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu
yang mengandung hal-hal yang bertentangan. Contoh:

Memang benar musyawarah itu merupakan wadah untuk mencari


kesepakatan. Namun tidak jarang menjadi wadah pertentangan para
pesertanya.
Siaran radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat
juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat atau
bangsa.
Olahraga mendaki bukit memang menarik, tetapi juga sangat berbahaya.
i. Paradoks
Paradoks adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan,
tetapi mengandung kebenaran. Contoh:

j.

Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka


tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai
anak.
Walaupun ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada di manamana, ia bercerita padaku katanya kesepian.
Kontradiksio

Kontradiksio adalah pengungkapan yang memperlihatkan pertentangan dengan yang


sudah dikatakan lebih dulu sebagai pengecualian. Contoh:

Sebenarnya semua saudaranya, yang dulu-dulu pandai, hanya dia sendiri


yang bodoh. Mungkin saja karena malasnya.
Malam itu gelap gulita, tanpa kerlip kunang-kunang yang sebentar tampak
dan sebentar hilang.
k. Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan
orang, barang atau hal, sesuai penggantinya. Contoh:

Ayah suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)


Si Jangkung dipakai sebagai sebagai pengganti orang yang mempunyai ciri
jangkung.
l. Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama
keseluruhan atau sebaliknya. Sinekdok terbagi menjadi dua yaitu :

a. Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan.


Contoh :
Jauh-jauh telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
Selama ini kemana saja kau? Sudah lama tak nampak batang hidungmu.
Nenek selalu menanyakan kau.
Ia harus bekerja keras sejak pagi hingga sore karena banyak mulut yang
harus disuapi.
b. Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian
saja. Contoh:
Dalam musim kompetisi yang lalu, kita belum apa-apa. Tetapi dalam
tahun ini, sekolah kita harus tampil sebagai juara satu.
Dalam pertandingan musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.
m. Alusio
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal
dengan menggunakan peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun
yang isinya sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan. Contoh:
Menggantang asap saja kerjamu sejak tadi. (Membual/beromong-omong)
Ah, kau ni memang tua-tua keladi. (Maksudnya makin tua makin menjadi)
n. Eufemisme
Eufemisme adalah majas kiasan halus sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan
tidak menyenangkan. Eufemisme digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang
dianggap tabu atau menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun. Contoh:

Orang itu memang bertukar akal. (Pengganti gila)


Kalau dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti
menaikkan)

Idiom adalah ungkapan bahasa yang artinya tidak secara langsung di jabarkan. Setiap
kata yang membentuk idiom berarati di dalam nya sudah ada kesatuan bentuk dan makna. Meski
dengan perinsip ekonomi bahasa pun, salah satu unsurnya tidak boleh di hilang kan. Setiap idiom
sudah terpatri sedemikian rupa sehingga para pemakai bahasa mau tidak mau harus tunduk pada
aturan pemakainnya. Contoh :

Mereka sudah banyak makan garam dalam hal itu. (banyak pengalaman)
Hati-hati terhadapnya, ia terkenal si panjang tangan. (suka mencuri)
Jeng Sri memang tinggi hati.(sombong)
Karena ucapan orang itu, Waluyo naik darah.(marah)

MACAM MACAM MAKNA

Makna Leksikal
Leksikon merupakan asal kata dari istilah leksikal, yang artinya kamus. Jadi makna leksikal
merupakan makna yang sesuai dengan kamus. Artinya makna katanya mengikuti apa yang
tertulis di kamus. Bersifat tetap dan pasti mengikuti Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI).
Contoh: kata doa memiliki artipermohonan (harapan, permintaan, punjian) kepada Tuhan.
Makna Gramatikal
Pengertian makna kata gramatikal adalah makna suatu kata yang muncul akbiat dari adanya
proses gramatika/proses tata bahasa Indonesia, seperti proses kompisisi, proses reduplikasi,
maupun proses afiksasi. Contoh: Tugas sebanyak itu akhirnya terselesaikan juga. Makna kata
selesai setelah mendapat imbuhan ter-kan menghaasilkan makna baru, yaitu dapat.

Makna Denotatif
Pengertian makna kata denotatif adalah pengertian makna kata yang sebenarnya. Artinya makna
kata tersebut tidak mendapat tafsiran lain yang agak menyimpang dari makna sebenarnya.
Biasanya kata-kata yang memiliki makna denotatif digunakan dalam bahasa ilmiah. Hal ini
dimaksudkan agar gagasan serta pemikiran ilmiah yang disampaikan tidak memiliki tafsiran
ganda. Contoh: Tikus itu telah mati. Kata matidalam kalimat tersebut hanya memiliki satu arti
yang langsung dan lugas, yaitu tak bernyawa.
Makna Konotatif
Pengertian maka kata konotatif adalah makna kata yang memiliki nila-ilai emosi tertentu,
sehingga maknanya berupa kiasan yang bisa saja berisi nilai rasa, sikap sosial, maupun
perspektif tertentu dari suatu zaman. Jadi intinya makna konotatif tidak bersifat langsung, tapi
lebih kepada kiasan. Contoh: Orang berlomba-lomba berebut kursi di senayan. Kata kursi disini
bukan berarti hanya sebuah kursi, tapi lebih bermakna jabatanatau kedudukan.
Makna Idiomatik
Makna kata idiomatik merupakan makna kata yang terdapat dalam kelompok kata tertentu yang
maknanya tidak sama degan makna asli dari kata tersebut. Bahkan asal-usul kemunculan kata
tersebut tidak dapat di telusuri. Contoh: Harun anak yang keras kepala. Kata keras kepala dalam
kalimat tersebut bukan berarti kepala harun keras, tapi lebih bermaksud kepada kalakuan harun
yang susah diatur.
Hubungan Makna
A. Kata yang Bersinonim
Suatu kata yang mempunyai makna yang sama dan dapat saling menggantikan

disebut dengan sinonim.


Contoh: benar = betul
Contoh dalam kalimat:
- Jawaban Anda benar.
- Jawaban Anda betul.
Kadang ada juga kata-kata yang awalnya bermakna sama, tetapi kemudian menjadi berbeda
makna karena pengaruh makna konotasi yang terkandung dalam kata itu. Contoh: kata buruh,
pegawai, karyawan. Kata-kata jenis initermasuk kata bersinonim yang bernuansa.

B. Kata yang Berantonim


Antonim maksudnya adalah kata yang berbeda atau berlawanan maknanya. Jenis-jenis kata
antonim ini dapat dibedakan menjadi berikut ini.
1) Antonim kembar, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara
dua kata.
Contoh Dalam Kalimat : Antara hidup atau mati

2) Antonim majemuk, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara


banyak kata.
Contoh Dalam Kalimat: - Sepatu itu tidak merah.
Oleh karenanya, kalimat itu mencakup pengertian bahwa sepatu itu
putih, sepatu itu cokelat, dan sebagainya.

3) Antonim gradual, yaitu pertentangan dua kata dengan melibatkan


beberapa tingkatan.
Contoh Dalam Kalimat: - Rumah itu sederhana.
Contoh kalimat di atas bisa bermakna: tidak mewah dan sangat

sederhana.

4) Antonim hierarkis, yaitu pertentangan antara kata-kata yang maknanya


berada dalam posisi bertingkat.
Contoh: Januari-Februari-Maret, April, dan sebagainya.

5) Antonim relasional, yaitu pertentangan antara dua buah kata yang


kehadirannya saling berhubungan.
Contoh: suami-istri

C. Kata Berhomonim
Kata- kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda disebut
dengan kata berhomonim.
Contoh: - kata genting
Contoh dalam kalimat:
- Karena terjadi kerusuhan, Kota Ambon dalam keadaan genting. (gawat)
- Ayah sedang memperbaiki genting yang bocor. (atap)

D. Kata yang Berhomograf


Kata-kata yang tulisannya sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda sering dikatakan sebagai
kata yang berhomograf.
Contoh: kata apel
Contoh dalam kalimat:
- Adik suka makan buah apel.
- Karyawan itu wajib mengikuti apel pagi.

E. Kata yang Berhomofon


Kata-kata yang cara pelafalannya sama tetapi penulisan dan maknanya berbeda sering disebut
dengan homofon.
Contoh: kata bang
Contoh: dalam kalimat:
- Bang Yogi naik sepeda motor.
- Ayah pergi ke bank untuk menyetor tabungan.

F. Kata yang Berhiponim


Kata-kata yang mempunyai hubungan antara makna spesifik dan makna generik.
Contoh Dalam Kalimat:
- ayam, kucing, kelinci, kuda merupakan hiponim dari hewan
- melati, mawar, anggrek, kenanga merupakan hiponim dari bunga

G. Kata yang Berpolisemi


Dalam bahasa Indonesia, sering dijumpai kata-kata yang menanggung beban makna yang begitu
banyak. Inilah yang disebut polisemi. Misalnya, kata kepala.
Dari kata kepala ini dapat dijabarkan menjadi berikut ini.
1) Bagian atas suatu benda, contoh: kepala surat.
2) Sebagai kiasan atau ungkapan, contoh: kepala batu.
3) Berarti pemimpin, contoh: kepala negara.
H. Kata yang Berhipernim
Hipernim adalah suatu kata yang maknanya mencakup kata lain.
Contoh: Bunga ( Melati, Menur, dan Mawar ).
Jenis Jenis Pergeseran Makna
Makna setiap kata yang mengalami pergeseran makna akan mengalami perluasan, penyempitan,
memburuk, membaik, pertukaran dan persamaan makna. Marilah kita bahas satu persatu !

1. Meluas (Generalisasi)
Kata kata yang mengalami generalisasi memiliki makna yang lebih luas dibandingkan dengan
makna sebelumnya. Kata yang mengalami generalisasi antara lain :
Jurusan
Kata jurusan mengalami pergeseran makan menjadi meluas. Saat ini makna kata jurusan tidak
hanya arah atau tujuan yang ingin ditempuh, tetapi juga memiliki makna spesialisasi bidang
dalam pendidikan.
Contoh
Sebelum : Aku mencari mobil angkutan jurusan Rajabasa Tanjungkarang.
Meluas : Aku saat ini sedang kuliah di Universitas Lampung, jurusan Pendidikan Bahasa dan
Seni.
Berlayar
Kata berlayar mengalami perluasan makna. Saat ini makna kata berlayar tidak hanya berarti
melaut dengan menggunakan perahu layar, tetapi bermakna segala sesuatu kegiatan yang berarti
menjelajah.
Contoh
Sebelum: Ayahku pergi berlayar di Samudera Pasifik dengan sebuah perahu tradisional.
Meluas: Sudah tiga jam Rudi berlayar di Internet tetapi tidak mendapatkan hasil apapun.

Kepala
Kata kepala mengalami perluasan makna menjadi tidak hanya memiliki makna sebagai anggota
tubuh, tetapi juga bermakna sebagai pemimpin suatu badan, atau kelompok.
Contoh
Sebelum: Kepalaku sakit sekali hari ini.
Meluas: Aku terpilih menjadi kepala sekolah SMAN 1 Tanjung Bintang.
2. Menyempit (Spesialisasi)
Kata yang mengalami spesialisasi akan memiliki makna yang lebih sempit dari makna asalnya.
Kata kata yang mengalami spesialisasi contohnya adalah.
Guru
Kata guru yang sebelumnya memiliki makna yang luas yaitu setiap orang yang memberikan
ilmu, kini menyempit dan hanya terbatas pada orang yang memberi ilmu di sekolah saja.
Contoh:
Sebelum: K.H Abdullah adalah guru hidupku.
Menyempit: Guru bahasa Indonesia tidak bisa masuk hari ini tetapi beliau memberikan tugas.
Sarjana

Kata sarjana awalnya disebutkan untuk semua orang yang pandai, tetapi kata sarjana hanya
diperuntukan untuk orang orang yang telah lulus dari perguruan tinggi atau universitas.
Contoh:
Sebelum: Masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh seorang sarjana.
Menyempit: Setelah lulus dari Universitas, Andi diberi gelar Sarjana Pendidikan.
Pembantu
Kata pembantu pada awalanya disebutkan untuk setiap orang baik yang membantu orang lain,
tetapi kini diperuntukan untuk orang yang bekerja sebagai pembantu orang lain.
Contoh:
Sebelum: Doni adalah pembantu yang sangat baik.
Memburuk: Doni telah bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Raden selama 7 tahun.
3. Memburuk (Peyorasi)
Kata yang mengalami peyorasi akan memiliki makna yang lebih buruk dibandingkan dengan
makna sebelumnya. Kata kata yang mengalami peyorasi di antaranya adalah:
Istri
Kata istri mengalami peyorasi menjadi bini.
Contoh:
Sebelum: Agus harus bekerja keras demi anak istrinya.
Memburuk: Agus harus bekerja keras demi anak bininya.
Pramuniaga
Kata pramuniaga mengalami peyorasi dan menjadi pelayan toko.
Contoh:
Sebelum: Dini bekerja sebagai pramuniaga setelah pulang dari sekolah.
Memburuk: Dini bekerja sebagai pelayan tokok setelah pulang sekolah.
Bayi
Kata bayi mengalami peyorasi menjadi orok.
Contoh :
Sebelum: Ketika dia masih bayi, ayahnya telah meninggal dunia.
Memburuk: Ketika dia masih orok, ayahnya telah meninggal dunia.
Koruptor
Kata koruptor mengalami pergeseran menjadi memburuk dan menjadi tikus.
Contoh:
Sebelum: Para koruptor menggerogoti uang rakyat.
Memburuk: Tikus tikus itu menggerogoti uang rakyat.

4. Membaik (Ameliorasi)
Kata yang mengalami ameliorasi memiliki makna yang lebih baik dan lebih sopan dari makna
yang sebelumnya. Kata kata yang mengalami ameliorasi, misalnya:
Buta
Kata buta mengalami ameliorasi menjadi tuna netra.
Contoh:
Sebelum: Orang buta itu berjalan dengan menggunakan tongkat.
Membaik: Tuna netra itu berjalan dengan menggunakan tongkat.
Gelandangan
Kata gelandangan mengalami ameliorasi menjadi tuna wisma.
Contoh:
Sebelum: Polisi menjaring puluhan gelandangan di area pasar tradisional.
Membaik: Polisi menjaring puluhan tuna wisma di area pasar tradisional.
5. Sinsetesia (Pertukaran Makna)
Kata kata yang mengalami sinestesia mengalami pertukaran makna dalam konteks alat indera
sebagai penerimanya. contohnya kata yang seharusnya diperuntukan untuk telinga mengalami
sinestesia menajdi bisa diterima dengan indera perasa. kata kata yang mengalami sinetesia
antara lain:
Enak
Kata enak mengalim sinetesia menjadi bukan hanya bisa diterima oleh indrera perasa tetapi juga
indera pendengaran.
Contoh:
Sebelum: Suara Anisa sangat merdu sekali di telinga.
Sinestesia: Suara Anisa sangat enak sekali di telinga.
Manis
Kata manis juga mengalami sinestesia dan juga bisa dinikmati melalui indera penglihatan.
Contoh:
Sebelum: Gadis itu cantik sekali.
Sinestesia: Gadis itu manis sekali.
6. Asosiasi (Persamaan Kata)
Kata yang mengalami pergeseran makna asosiasi mengalami makna yang luas karena memiliki
persamaan sifat dengan makna lainnya. Kata kata yang mengalami asosiasi anatara lain:
Kursi

Kata kursi mengalami asosiasi tidak hanya digunakan merujuk pada tempat duduk, tetapi juga
jabatan.
Contoh
Sebelum: Saat ini banyak orang berlomba lomba memperebutkan jabatan menteri.
Asosiasi: Saat ini banyak orang berlomba lomba memperebutkan kursi menteri.
Parasit
Kata parasit tidak hanya digunakan untuk tumbuh tumbuhan, tetapi merujuk pada orang yang
merugikan orang lain.
Contoh
Sebelum: Doni adalah orang yang suka merugikan orang lain.
Asosiasi: Doni adalah parasit.

Thompson, A. (2013). Penyesuaian Diksi. Tersedia:

http://www.rumpunnektar.com/2013/01/penyesuaian-diksi.html
Wulan, Adella. (2012). Perubahan Makna. Tersedia :
https://awulans.wordpress.com/2012/11/11/perubahan-makna/
Tafsi. (2015). Jenis Jenis Makna Kata. Tersedia:
http://bahanbelajarsekolah.blogspot.co.id/2015/09/jenis-jenis-makna-kata.html
Rum, R. (2014). Gaya Bahasa dan Idiom. Tersedia:
http://galenicafarmasi2014.blogspot.co.id/2016/02/gaya-bahasa-dan-idiom.html
Fratiwi, E. (2013). Makalah Diksi Pengertian Syarat. Tersedia:
http://evitafratiwi.blogspot.co.id/2013/10/makalah-diksi-pengertian-syarat.html

Majida, Z. (2015). Pengertian dan Contoh Kata Serapan. Tersedia:


http://www.pengertianahli.com/2015/05/pengertian-dan-contoh-kata-serapan.html