Anda di halaman 1dari 6

Belajar Ilmu Negara dan Pemerintahan

22 Rabu Jun 2011

Posted by rizkian in Uncategorized


Tinggalkan komentar
Tag
Tata negara
Pengertian dan Bentuk-Bentuk Negara
Negara? Apa itu negara? Pada dasarnya negara adalah sebuah organisasi. Seperti layaknya
sebuah organisasi, negara memiliki anggota, tujuan dan peraturan. Anggota negara adalah
warganya, tujuan negara biasanya tercantum dalam pembukaan konstitusinya (undang-undang
dasar), sedang peraturannya dikenal sebagai hukum. Bedanya dengan organisasi yang lain,
negara berkuasa di atas individu-individu dan di atas organisasi-organisasi pada suatu wilayah
tertentu. Peraturan negara berhak mengatur seluruh individu dan organisasi yang ada pada suatu
wilayah tertentu, sedangkan peraturan organisasi hanya berhak mengatur fihak-fihak yang
menjadi anggotanya saja. Peraturan negara bersifat memaksa, bila ada yang tidak mematuhinya,
negara mempunyai hak untuk memberikan sanksi, dari sanksi yang bersifat lunak (denda) sampai
sanksi yang bersifat kekerasan (hukum bunuh misalnya).
Sepanjang sejarah manusia hidup di atas permukaan bumi, manusia telah bernegara. Mulai
dari negara dalam bentuknya yang paling primitif yaitu negara kesukuan, negara kota, sampai
negara kerajaan, negara republik dan negara demokrasi.
Sampai saat ini tidak ada satupun tarif negara yang diakui semua fihak. Ahli-ahli ilmu
kenegaraan saling berbeda pendapat tentang apa itu negara. Secara sederhana bisa kita katakan
bahwa yang dimaksud dengan negara adalah organisasi yang menaungi semua fihak dalam suatu
wilayah tertentu. Yang dimaksud menaungi pada kalimat diatas, bisa diartikan menguasai,
mengayomi, mengurus atau ketiga-tiganya. Sedang yang dimaksud dengan semua fihak berarti
semua orang (individu) atau badan (lembaga, organisasi) yang mendiami suatu wilayah tertentu.
Ketika berbicara bentuk-bentuk negara, maka kita berbicara tentang klasifikasi negara.
Dalam mengklasifikasikan bentuk-bentuk negara, para ahli ilmu kenegaraan menggunakan
kriteria yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan kriteria siapa yang memerintah dalam
negara itu seperti Aristoteles, maka dia membagi bentuk-bentuk negara menjadi:

Monarki, negara yang diperintah oleh satu orang saja.

Aristokrasi, negara yang diperintah oleh sekelompok orang.

Republik, negara yang diperintah oleh rakyat.

Apa yang dimaksud dengan memerintah disini berkaitan dengan siapa yang menentukan
hukum. Pada negara yang disebut Monarki, hukum ditentukan oleh satu orang yang diakui
biasanya raja. Sedang pada negara Aristokrasi, hukum ditentukan oleh sekelompok orang. Dan
pada negara yang disebut Republik, hukum ditentukan oleh rakyat.
Istilah Monarki, Aristokrasi dan Republik yang digunakan oleh Aristoteles di kemudian
hari mendapatkan tarif yang lain di tangan ahli ilmu kenegaraan yang lain. Contohnya menurut
Leon Duguit, monarki adalah bentuk pemerintahan (forme de gouvernement) bukan bentuk
negara (forme de staat), yang kepala negaranya dipilih dan diangkat menurut garis darah (sistem
waris).
Lebih lanjut Aristoteles mengklasifikasikan
pemerintahannya. Menurut Aristoteles:

negara

juga

berdasar

praktek

Monarki yang ditujukan hanya untuk kepentingan pribadi penguasanya disebut negara
Tirani.

Aristokrasi yang ditujukan untuk kepentingan sekelompok orang penguasanya saja


disebut negara Oligarki.

Republik yang ditujukan untuk kepentingan penguasa-penguasanya (orang-orang yang


diserahi amanat rakyat; wakil rakyat) saja disebut negara Demokrasi.

Di era modern, istilah-istilah yang digunakan oleh Aristoteles banyak yang mengganti
peruntukannya. Sebagai contoh istilah Demokrasi, sekarang Demokrasi digunakan untuk
menyebut negara yang yang pemerintahannya dilakukan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat (seperti yang didengung-dengungkan oleh Soeharto). Negara Demokrasi menjadi salah
satu bentuk negara yang didengung-dengungkan oleh Amerika Serikat sekarang ini. Amerika
Serikat menjadikan demokrasi menjadi tolok ukur baik atau buruknya sebuah negara. Bagi
negeri yang tidak menerapkan prinsip-prinsip demokrasi dalam bentuk kenegaraannya akan
dikucilkan dari pergaulan internasional. Bagi Amerika Serikat, pimpinan-pimpinan sebuah
negara harus merupakan hasil pilihan rakyat, seperti di negaranya. Penentuan hukum-hukum
sebuah negara pun harus atas persetujuan rakyatnya, seperti pula di negaranya. Bentuk negara
seperti inilah yang sekarang dikampanyekan dan dipaksakan oleh Amerika Serikat ke seluruh
penjuru dunia. Korban dari pemaksaan ini yang sangat jelas adalah Iraq, Afghanistan dan yang
terbaru adalah Palestina. Yang lucunya adalah bila pemenang pemilihan umum di sebuah negara
adalah musuh Amerika, maka, mau dipilih secara demokratis atau tidak, Amerika akan
menurunkannya dengan paksa. Baik itu dengan kekerasan, misalnya dengan agresi militer seperti
Iraq dan Afghanistan, atau dengan mengadu domba pemenang pemilu seperti HAMAS[1]
dengan FATAH[2] di Palestina, maupun dengan menggunakan cara halus seperti menggunakan

kekuatan mahasiswa untuk menggulingkan Soeharto di Indonesia. Sebaliknya, bila sebuah negeri
walaupun negaranya tidak memakai prinsip-prinsip demokrasi, tapi penguasanya adalah sahabat
Amerika Serikat, maka ia akan disokong oleh Amerika Serikat, contoh negara Arab Saudi.
Di zaman sekarang pun monarki telah banyak pula jenis-jenis istilahnya, ada monarki
absolut dan ada monarki konstitusional. Contoh terkenal dari negara monarki absolut adalah
negara Perancis pada masa pemerintahan Louis XVI. Sedang negara monarki konstitusional
contohnya adalah negara Inggris dan negara Thailand pada masa sekarang. Pada negara monarki
konstitusional ada pembedaan antara kepala negara dan kepala pemerintahan. Kepala negara
berfungsi sebagai pemimpin negara yang mengesahkan undang-undang, sedang kepala
pemerintahan berfungsi pemimpin negara yang menjalankan roda pemerintahan.
Menurut kriteria susunan negara, negara dibedakan menjadi:

Negara Kesatuan.

Negara Serikat. Negara yang terdiri dari negara-negara yang semula berdiri sendiri, tapi
kemudian menggabungkan diri dan membentuk negara federal (pemerintahan pusat).

Sedangkan menurut kriteria sifat hubungan antar lembaga negara, bentuk negara kemudian
dibagi menjadi negara[3]:

Negara Presidensiil. Negara yang di dalamnya terdapat pemisahan kekuasaan yang jelas,
antara lembaga negara yang satu dengan yang lain tak dapat saling mempengaruhi. Di
dalam negara ini ada lembaga negara yang memiliki kekuasaan untuk membuat undangundang, ada lembaga negara yang menjalankan pemerintahan (undang-undang) dan ada
lembaga negara yang mengawasi pelaksanaan undang-undang. Contoh negaranya adalah
negara Amerika Serikat (United States of America).

Negara Parlementer. Negara yang antar lembaga negaranya bisa saling mempengaruhi.
Lembaga negara yang membuat undang-undang bisa menjatuhkan lembaga negara yang
sedang menjalankan pemerintahan. Sistem kenegaraan yang seperti ini bisa dilihat pada
negara Jepang. Diet, parlemen Jepang, bisa menjatuhkan lembaga negara pemerintahan
yang dipimpin perdana menteri.

Negara Demokrasi Murni. Negara yang lembaga negara pelaksana undang-undangnya


murni hanya menjalankan program-program pemerintahan (bukan undang-undang) yang
dibuat oleh rakyat lewat referendum. Contohnya negara Switzerland (Swiss).

Lalu bagaimana dengan Negara Islam? Sebentuk negara seperti apakah Negara Islam itu?
Apakah negara berbentuk Republik berdasarkan hukum Islam? Di mana hukum Islam menjadi
dasar dari setiap undang-undang yang dikeluarkan oleh lembaga negara pembuat undangundangnya. Ataukah ia negara monarki konstitusional dengan berdasarkan konstitusi (dustuur)
Islam? Ataukah ia bukan monarki atau republik tapi hanya sebuah negara berdasarkan Islam?
Apakah ia negara Teokrasi? Negara yang penguasanya ditunjuk oleh Tuhan? Negara yang
penguasanya tidak boleh digugat oleh rakyatnya? Atau Negara dimana hukum Islam menjadi

panglima, karena pemimpin dalam Negara Islam bukanlah seorang raja, yang merupakan
keturunan raja sebelumnya, bukan pula penguasa yang ditunjuk Tuhan dan tak boleh digugat
seperti Paus Katolik? Negara Islam juga bukan negara dimana rakyat berkuasa sepenuhnya,
karena undang-undang di Negara Islam harus berdasarkan preposisi-preposisi (khobbar) al
Quran dan as Sunnah? Majid Khadurri menyebut Negara Islam sebagai Negara Nomokrasi,
negara hukum[4].
Peran dan Fungsi Negara
Dalam Islam Negara berperan sebagai lembaga kepengurusan kehidupan manusia
bermasyarakat agar manusia bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai khalifah Alloh di
muka bumi. Negara berfungsi sebagai:
1. Pengatur kehidupan bermasyarakat orang-orang yang hidup di wilayah kekuasaannya
berdasar syariat Alloh Azza wa Jalla. Contoh yang telah dipraktekkan oleh Nabi
Muhammad di Madinah menunjukkan pada kita bahwa hukum (representasi dari sebuah
negara) yang mengikat atau mengatur seluruh fihak di suatu wilayah mestilah sesuai
dengan dengan apa yang diturunkan oleh Alloh SWT.. Periksa isi Piagam Madinah!
2. Pelindung keamanan warganegara dan orang-orang yang meminta perlindungan. Piagam
Madinah sebagai bentuk riel dari sebuah negara, pada intinya ada untuk menjamin
keamanan orang-orang yang bertempat inggal di Madinah. Lihat saja pasal-pasal yang
ada di Piagam Madinah.
3. Pendorong kemajuan peradaban kemanusiaan sebagai peradaban khalifah Ilahi Rabbi di
muka bumi. Sejatinya apa yang diturunkan oleh Alloh menggariskan bahwa manusia
diciptakan oleh Alloh sebagai khalifah Alloh. Piagam Madinah yang berdasarkan apa
yang diturunkan oleh Alloh sejatinya mendorong manusia agar bisa menjadi khalifah
Alloh. Di sebuah negara yang aman, manusia bisa mengeluarkan segala potensi
kemanusiaannya. Negara berkewajiban untuk meningkatkan potensi kemanusiaan itu
juga dengan menyediakan pendidikan (pada masa Sayidina Umar ra. guru digaji oleh
negara).
Pengertian dan bentuk-bentuk Pemerintahan
Berbicara tentang bentuk pemerintahan, kita mesti faham terlebih dahulu apa yang
dimaksud dengan negara dan perbedaannya dengan pemerintah. Seperti yang telah dijelaskan di
awal, sejatinya negara adalah sebuah organisasi. Selayaknya organisasi, maka negara pun
memiliki peraturan, selain itu negara juga memiliki sebuah badan yang berfungsi merumuskan,
menjalankan dan mengawasi peraturan itu.
Di dalam faham trias politika[5], badan-badan itu dipisahkan menjadi lembaga-lembaga
negara tersendiri. Kemudian badan yang melaksanakan peraturan (undang-undang) negara
disebut lembaga eksekutif atau pemerintah dalam faham itu.

Sedang dalam tradisi Islam tidak pernah dikenal pemisahan kekuasaan seperti itu. Karena
dalam tradisi Islam dikenal prinsip nasihat-menasihati dan prinsip kesetaraan. Siapapun bisa
melakukan fungsi pengawasan pelaksanaan peraturan, termasuk rakyat jelata, dan amirul
mukminin mesti mau mendengarkannya, karena sejatinya dalam Islam tidak ada perbedaan
kedudukan hierarkis. Yang ada hanyalah perbedaaan fungsi organik, amirul mukminin
kedudukannya terbedakan dari rakyat jelata hanya karena tugas dia untuk memimpin
(mengeluarkan perintah untuk) masyarakat serta menyelesaikan pertikaian, bila ada pertikaian
diantara fihak-fihak yang berada dalam tanggungjawabnya.
Pelaksanaan dan pengawasan serta perumusan peraturan negara sejatinya dilaksanakan
bersama-sama oleh seluruh warganegara, tentu saja lewat koridor seperti majelis syuro dan
keamiran. Maka yang disebut pemerintah dalam Islam merujuk lebih kepada orang-orang yang
diserahi tanggungjawab duduk dalam majelis syuro dan keamiran. Sedang negara dalam Islam
merujuk kepada pemerintah, rakyat dan hukum Islam.
Adapun dalam melaksanakan pemerintahan, sejarah mengenal pula bentuk pemerintahan
sipil dan militer. Pembagian bentuk pemerintahan ini berdasarkan kriteria gaya dan sifat
memerintah sebuah pemerintah. Pemerintah sipil adalah pemerintahan di mana gaya
pengambilan keputusan diambil dengan gaya sipil. Sebelum sebuah keputusan (undang-undang)
menjadi perintah, keputusan itu dibicarakan terlebih dahulu, dirembukkan dan kalau perlu
diputuskan lewat pemungutan suara (referendum). Setelah itu pun sebuah keputusan harus
menunggu pengesahan terlebih dahulu dari lembaga negara yang berwenang lewat sebuah
sidang.
Pemerintahan militer adalah pemerintahan yang lebih mengutamakan kecepatan
pengambilan keputusan, keputusan diambil oleh pucuk pimpinan tertinggi, sedang yang lainnya
mengikuti keputusan itu sebagai perintah yang wajib diikuti konsekuensi rantai komando
dalam militer. Sebuah undang-undang dalam sebuah pemerintahan militer dibuat oleh pucuk
pimpinan tertinggi, tanpa menyerahkan rancangannya kepada parlemen. Biasanya bentuk
pemerintahan militer seperti ini digunakan pada waktu negara dalam keadaan berperang. Pada
waktu berperang, biasanya parlemen tidak bisa melaksanakan tugasnya sebagai badan legislatif.
Mekanisme sidang parlemen yang memakan waktu banyak tidaklah efisien bagi sebuah
pemerintah yang sedang berperang, bayangkan saja bila sebuah undang-undang dibahas oleh
parlemen, itu bisa sampai berbulan-bulan sebelum disahkan.
Kalau dalam pembagian bentuk pemerintahan sipil dan militer, termasuk pemerintahan
seperti apakah pemerintahan yang pernah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan para
khulafaurr Rasyidin? Bila mengingat bahwa Negara Islam tidak punya lembaga negara yang
khusus membuat peraturan (undang-undang), pemerintahan militerkah yang dipraktekkan nabi
dan sahabat yang empat? Apalagi dalam masa pemerintahan Rasululloh di Madinah, serta masa
pemerintahan sahabat yang empat, Amirul Mukminin memiliki kewenangan untuk memobilisasi
seluruh orang beriman, yang memenuhi syarat, untuk pergi berjihad (dipermiliterkan)??
Peran dan Fungsi Pemerintahan

Pemerintah adalah pelaksana fungsi Negara. Sedang pemerintahan adalah pelaksanaan fungsi
negara. Pemerintah dalam Islam berfungsi sebagai Fasilitator rakyat dalam bernegara.
Daftar Pustaka

1. Khadurri, Majid, Teologi Keadilan, Surabaya: Risalah Gusti, 1999.


2. Soehino SH., Ilmu Negara, Yogyakarta: Liberty, 1985.
3. Kranenburg, Prof. Mr. R.. Algemeine Staatleer. Groeningen,1955.

[1] Harakah al Muqawamah al Islamiyyah, pergerakan perlawanan Islam. Sebuah organisasi


rakyat Palestina yang menghendaki kemerdekaan penuh Palestina dan menghilangkan Negara
Israel dari peta dunia. Organisasi ini pada pemilu terakhir di Palestina menjadi sebuah partai
resmi dan menjadi pemenang. Tapi karena HAMAS tidak disukai oleh Amerika oleh karena
sikap tidak mau komprominya terhadap keberadaan Negara Israel, Amerika Serikat kemudian
mengembargo semua bantuan internasional pada Palestina. Buntut dari hal itu adalah perang
saudara antara HAMAS dan FATAH