Anda di halaman 1dari 3

D IV / 8-B / 40

154060006415

SEMINAR PERPAJAKAN
Dosen : Riko Riandoko

Go Go Go Die Mannschaft
a good start, needs enthusiasm, a good end, discipline
Timnas Jerman telah memanen hasil yang lama mereka tanam
sebelumnya. Sebuah kesuksesan massif dalam hal sepak bola. Selalu masuk
babak semifinal dalam lima turnamen akbar terakhir. Sebagai puncaknya
sebagai juara Piala Dunia di Brazil 2014 dengan sangat indah. Menaklukkan
Argentina di final dengan barisan penyerangnya yang amat sangat ganas yang
dipimpin oleh pemain terbaik dunia, Messi. Bahkan tuan rumah Brazil
diluluhlantahkan di semifinal dengan skor paling memalukan bagi Brazil, 7-1.
Semua itu instan? Tidak. Semua dilakukan dengan penuh perencanaan dan
dedikasi oleh semua pihak. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini tidak lepas pada
medio akhir 90-an dan awal 2000-an dimana Jerman dalam kondisi paling buruk
dalam sepakbolanya. Setelah itu mereka melakukan perbaikan dari bibit muda,
ya bibit muda dengan memaksa para kontestan Liga Domestik, Bundesliga untuk
membuat akademi pemain mudanya masing-masing. Pendidikan pemain muda
ini Wajib. Semangat apa yang membuat mereka mau membangun itu?? Lihatlah
slogan diatas. Dari sanalah mereka mengubah wajah sepakbola Jerman.
Seperti dalam tubuh organisasi DJP. Sekarang dalam kondisi terpuruk, kita
lihat saja untuk penerimaan. Jauh dari yang diharapkan untuk sampai pada bulan
Juni ini. Atau kalau penerimaan terlalu jauh, kepatuhan saja sangat jauh dari
yang diharapkan. Bahkan terkadang yang nampak pada skala kepatuhan saat ini
lebih kepada bantuan dari pegawai pajak itu sendiri, bukan dari wajib pajak
secara langsung. Bagaimana perbaikan bisa dilakukan? Bisa dengan pelatihan.
Pelatihan yang terstruktur dengan segala fasilitas yang terbaik. Bukan lagi
dengan sistem yang konvensional seperti anak kuliah yang terlalu banyak teori
yang jauh panggang dari api. Pelatihan yang harusnya membumi sesuai dengan
keadaan di lapangan. Seperti dapat dicontoh dari Deutschland Fusball Bund
(DFB, PSSI nya Jerman), mereka merencanakan perbaikan itu dari keseluruhan.
Mulai dari bibit awal. Pelatihan yang sistematis. Pelatih yang bersertifikat. Serta
dengan merumuskan kebijakan degan melibatkan semua pihak sampai dengan
pelatih klub lokal. Ini bisa jadi contoh oleh DJP.
Langkah awal, memperbanyak pemberian pelatihan yang terstruktur.
Dalam hal ini pelatihan haruslah lebih kepada keadaan yang banyak terjadi di
lapangan. Bukan lagi belajar secara teori yang mengawang-awang. Sehingga
ketika nantinya dalam keadaan sebenarnya pegawai tersebut bisa
menghadapinya dengan berkualitas baik. Seperti diungkapkan oleh Nilgun Serim
dalam jurnalnya ketika seorang wajib pajak membutuhkan bantuan atas
masalah pajak, kualitas jawaban atau bantuan dari ahli pajak atau pegawai pajak
tersebut akan mempengaruhi/mendorong pandangan dan evaluasi atas pajak
secara umum, sehingga bisa membuat wajib pajak melakukan kewajibannya
dengan benar. Kualitas didapat darimana? Jika pegawai memang rajin bisa dari
belajar sendiri atau dari pengalamannya, jika tidak?? Paksalah untuk belajar
lewat pelatihan dan peltihan.
Langkah selanjutnya adalah memperbaiki kualitas dan kuantitas dari
pengajarnya sehingga dapat membantu dalam perbaikan peserta pelatihan.
Pengajar yang selalu up to date akan membuat peserta tertarik. Materi yang
disampaikan juga harus berkualitas sesuai kebutuhan yang ada di lapangan.

Begitu juga dengan kuantitasnya. Seperti pada pelatih-pelatih di Jerman yang


jumlahnya sangat banyak. Jika hanya sedikit yang bagus, maka kualitas
pendidikan tidak bisa merata. Jadi intinya kualitas dan jumlah harus ditingkatkan.
Pola yang diharapkan pun harus diubah. Jika sebelumnya banyak pegawai
yang sudah senior yang sangat ahli namun kurang lincah, maka hal ini harus
diperhatikan. Pegawai senior pasti mempunyai pengalaman yang baik. Namun
secara tuntutan jaman yang serba cepat terkadang menjadi lebih jadi
penghambat. Kita jadikan senior ini sebagai panutan, pemberi nasihat, pemberi
contoh di lapangan, sehingga seolah-olah sebagai pengajar langsung di
lapangan. Dengan demikian diharapkan adanya regenerasi yang selalu ada.
Pegawai senior sebagai penasehat untuk peawai muda. Pegawai muda inilah
yang harusnya lari mengejar tuntutan jam yang serba cepat.
Satu lagi hal penting yang kita bisa contoh dari timnas Jerman adalah
komunikasi. Komunikasi antara yang diinginkan oleh DJP secara umum dengan
penyedia pendidikan haruslah sama. Jadi hal ini harus dikomunikasikan dengan
benar. Jika memang inginnya DJP penerimaan yang tercapai, maka badan diklat
harusnya berfokus pada hal-hal itu dalam menyediakan pendidikannya. Satu
tujuan. Ketika hal ini bisa dilakukan, maka efektivitas yang diharapkan dari
sebuah kepelatihan akan dapat tercapai, bukan hanya sekedar memfasilitasinya
orang yang ingin jalan-jalan dan keluar dari aktivitasnya di kantor dengan dalih
ikut pendidikan.
Itu semua penting untuk dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini DJP
dalam meraih target penerimaan. Hal-hal diatas pasti bisa dilakukan oleh DJP
dan semua insan-insan yang didalamnya. Seperti pada slogan timnas Jerman, a
good start, needs enthusiasm, a good end, discipline, kita harus lah antusias
jika ingin mengawalinya, serta jka mengharapkan hasil yang baik, disiplin adalah
poin utamanya. Selamat berjuang DJP dalam mencapai target penerimaan dan
go go die mannschaft at EURO!!

..ooOoo..