Anda di halaman 1dari 17

RIANITA SALI

1513052
PENGARUH RESIN AKRILIK UNTUK MEMBUAT CAT
YANG TAHAN TERHADAP CUACA, REAKSI KIMIA, DAN
NODA

PROGRAM STUDI
TEKNIK KIMIA POLIMER
POLITEKNIK STMI JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
1

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Rabb semesta alam, atas
limpahan karunia dan nikmat yang tak terhingga sehingga laporan ilmiah yang berjudul
Pengaruh Resin Akrilik untuk Membuat Cat Yang Tahan Terhadap Cuaca, Reaksi Kimia dan
Noda ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Laporan ilmiah ini diselesaikan dalam rangka memenuhi kewajiban mata kuliah
Metodelogi Penelitian di Politeknik STMI Jakarta. Selain itu, mata kuliah Metodelogi
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan metode, prosedur, dan teknik penelitian secara
umum yang biasa dipergunakan dalam penelitian ilmu natura. Dalam menyelesaikan laporan
ilmiah ini, tentunya penulis mendapat bantuan segenap pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini, penulis bermaksud mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Sumingkrat, M.Si selaku dosen Mata Kuliah Metodologi Penelitian
2. Kedua orang tua dan keluarga penulis segala doa restu dan dukungan moril selama ini
3. Teman-teman Teknik Kimia Polimer yang mengambil mata kuliah Metodologi
Penelitian atas dukungannya
4. Pihak-pihak lain yang telah banyak membantu namun tak dapat penulis sebutkan satu
per satu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Laporan Ilmiah (Pengaruh Resin Akrilik untuk
Membuat Cat Yang Tahan Terhadap Cuaca, Reaksi Kimia dan Noda) ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon kritik dan saran yang konstruktif dalam
perbaikan laporan ilmiah ini. Akhir kata, semoga laporan ilmiah ini bermanfaat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasinya.
Jakarta, Juni 2016

Rianita Sali

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

2
2

Abstrak
I.

Pendahuluan
1.1.
5
1.2.
6
1.3.
6
1.4.
6
1.5.
7
1.6.
7

II.

Latar Belakang
Identifikasi Masalah
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan Masalah
Manfaat Penulisan

Bahan dan Metode


2.1
2.2
2.3

Bahan
Alat
Metode Penelitian

8
12
12

III.

Percobaan dan Hasil

13

IV.

Pembahasan Hasil Penelitian

14

Kesimpulan

14

Daftar Rujukan

15

V.

ABSTRAK
Banyaknya kasus cat yang cepat mengelupas karena tidak tahan terhadap cuaca,
reaksi kimia, dan noda. Sehingga dibutuhkan cat dengan finishing yang indah dan tahan
dalam jangka waktu yang lama. Resin akrilik adalah rantai polimer yang terdiri dari unit-unit
metil metakrilat yang berulang. Dalam pembuatan cat resin akrilik berperan sebagai binder.
Binder atau bahan pengikat adalah bahan cair, yang jika ditambahkan dengan bahan
pengering dapat menjadi padat dan melekat pada permukaan yang di cat dan membentuk
protective film. Untuk mengetahui formulasi resin akrilik yang tepat dilakukan uji kualitatif
resin akrilik yang dilanjutkan dengan proses pembuatan cat kemudian uji ketahanan cat.
Resin Akrilik digunakan untuk membuat cat yang dipakai untuk cuaca yang luar biasa
dan yang tahan reaksi kimia dan noda serta menghasilkan finishing yang indah, menampilkan
kilap dan kecerahan yang tinggi . Dengan karakteristik ini Resin Akrilik telah digunakan
untuk pelapis plastik untuk aplikasi mobil, dan berbagai macam bahan pelapis untuk
peralatan listrik rumah tangga, bahan konstruksi, dan logam biasa.

Kata Kunci : Resin Akrilik, Binder, Finishing

I.
1.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Banyaknya kasus cat yang cepat mengelupas karena tidak tahan terhadap cuaca,
reaksi kimia, dan noda. Sehingga dibutuhkan cat dengan finishing yang indah dan tahan
dalam jangka waktu yang lama. Selain itu dalam memilih cat tembok harus memerlukan
kecermatan, baik itu dari segi merk maupun warna yang akan di aplikasikan untuk rumah
kita.
Cat adalah produk yang digunakan untuk melindungi dan memberikan warna pada
suatu objek atau permukaan dengan melapisinya dengan lapisan berpigmen. Cat dapat
digunakan pada hampir semua jenis objek, antara lain untuk menghasilkan karya
seni (oleh pelukis untuk membuat lukisan), salutan industri (industrial coating), bantuan
pengemudi (marka jalan), atau pengawet (untuk mencegah korosiatau kerusakan oleh air).
Cat yang telah diaplikasikan pada dinding terkadang mengalami berbagai masalah
dikemudian hari. Penyebabnya diantaranya yaitu teknik aplikasi yang kurang tepat, cat yang
digunakan kualitasnya tidak bagus, atau persiapan permukaan yang kurang maksimal.
Masalah-masalah pengecatan yang sering dan umum terjadi diantaranya yaitu:
a. Chalking (pengapuran), lapisan film cat rusak karena pengaruh serangan garamgaraman alkali (umumnya terjadi pada pengecatan tembok baru) atau pengaruh sinar
matahari (terjadi pada tembok luar ruangan). Pengenceran cat yang terlalu encer sehingga
film cat tidak dapat terbentuk dengan sempurna.
b. Water Spot (bercak-bercak seperti basah), penggunaan plamir yang belum kering
sempurna dan kemudian diberi lapisan cat, maka sisa-sisa air dari plamir tersebut terjebak
diantara dua lapisan plamir dan cat sehingga menyebabkan timbulnya bercak seperti
basah.
c. Saponification (penyabunan), Serangan alkali pada lapisan cat yang berbahan perekat
mengandung minyak seperti alkyd gloss. Alkali dan minyak akan bereaksi secara kimiawi
yang disebut penyabunan dimana memberi hasil akhir seperti sabun dan menyebabkan
lapisan cat menjadi lunak dan terbentuk gumpalan yang lengket.

d. Drying Trouble (sukar mengering), pengecatan yang dilakukan dalam cuaca yang
kurang baik seperti suhu rendah, berkabut dan lembab, pengecatan yang dilakukan diatas
permukaan yang mengandung lilin seperti bahan untuk poles, minyak atau debu,
pengecatan dengan jenis cat alkyd enamel pada permukaan kayu yang pernah diberi
lapisan politur dari bahan shellac, penggunaan pengencer yang tidak sesuai dengan jenis
cat yang dipakai.
e. Stainning (bercak-bercak seperti pulau), pemakaian cat tembok yang berasal dari kayu,
terjadi karena kayu atau media itu masih mengandung getah yang belum tuntas keluar
pada persiapan bahan. Getah yang keluar terjebak dibawah lapisan cat dan membentuk
bercak seperti pulau-pulau.

Untuk itu diperlukan formulasi untuk yang tepat untuk menghasilkan cat yang tahan
cuaca, reaksi kimia serta noda sehingga dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama tanpa
mengurangi keindahannya.

1.2

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut
:
1. Bagaimana formulasi yang tepat untuk menghasilkan cat yang tahan cuaca, reaksi
kimia dan noda?
2. Apa saja bahan penunjang yang ditambahkan untuk menghasilkan cat yang tahan
cuaca, reaksi kimia dan noda?
3. Apakah ada perlakuan khusus dibanding cat pada umumnya?
4. Berapa lama ketahanan cat yang menggunakan resin akrilik sebagai bindernya?

1.3

Rumusan Masalah

Bagaimana efektivitas dari formulasi yang tepat untuk menghasil cat yang tahan
cuaca, reaksi kimia, dan noda yang menggunakan resin akrilik sebagai bindernya?
1.4

Batasan Masalah
Melihat ruang lingkup dari masalah yang ingin di teliti terlalu luas, penulis membatasi
karya tulis pada penggunaan bahan resin akrilik sebagai bindernya dalam pembuatan cat
tahan cuaca, reaksi kimia, dan noda ini.

1.5

Tujuan Masalah
1. Mengetahui formulasi yang tepat untuk menghasilkan cat yang tahan cuaca, reaksi
kimia, dan noda.
2. Mengetahui langkah yang diperlukaan dan apakah terdapat perbedaan dalam
pembuatan cat pada umumnya.
3. Mengetahui lama waktu dari ketahanan cat yang menggunakan resin akrilik sebagai
bindernya.

1.6

Manfaat Penulisan

Manfaat Untuk Pribadi


Menambah

wawasan

dan

pengalaman

terhadap

penelitian

bagi

peneliti.

Mengembangkan gagasan atau ide berdasarkan sikap ilmiah.

Manfaat Untuk Masyarakat


Dari penelitihan ini diharapkan masyarakat dapat memilih alternatif penggunaan cat dengan

resin akrilik agar cat tahan cuaca, reaksi kimia, dan noda.

Manfaat Untuk Lembaga


Meminimalisir penggunaan bahan kimia yang berlebihan sebagai bahan dasar

pembuatan cat. Dan menghemat biaya produksi.


7

II.

Bahan dan Metode

2.1

Bahan
Cat adalah campuran dari zat pewarna yang tersuspensi dalam suatu larutan seperti
minyak dan digunakan untuk menutupi permukaan berbagai macam benda. Bahan baku
utama untuk membuat cat adalah perekat, pelarut dan zat pewarna. Ada berbagai macam
perekat yang digunakan seperti alkyds, phenol, eposin dan resin amino. Pelarut yang biasanya
digunakan dapat berupa alkohol, eter dan keton. Industri cat dan industri pelapisan
permukaan menggunakan kedelai dan minyak rami dalam jumlah spesifik. Secara umum,
bahan baku cat terdiri dari 4 bagian, yaitu:

I.

Bahan Pengikat (Binder Pembentuk Film)


Binder adalah bahan cair, yang jika ditambahkan dengan bahan pengering dapat
menjadi padat dan melekat pada permukaan yang di cat dan membentuk protective film.
Binder yang digunakan dalam pembuatan cat kali ini adalah resin akrilik.
Resin Akrilik
Resin akrilik adalah rantai polimer yang terdiri dari unit-unit metil metakrilat yang
berulang.
Klasifikasi Resin Akrilik

Heat Cured (Resin Akrilik Polimerisasi Panas)


Merupakan resin akrilik yang polimerisasinya dengan bantuan pemanasan. Energi

termal yang diperlukan dalam polimerisasi dapat diperoleh dengan menggunakan


perendaman air atau microwave.Penggunaan energy termal menyebabkan dekomposisi
peroksida dan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas yang terbentuk akan mengawali
proses polimerisasi ( Ecket, dkk., 2004).
Resin Akrilik Swapolimerisasi ( Self- Cured) Autopolymerizing
Merupakan resin akrilik yang teraktivasi secara kimia.Resin yang teraktivasi secara
kimia tidak memerlukan penggunaan energy termal dan dapat dilakukan pada suhu kamar.
Aktivasi kimia dapat dicapai melalui penambahan amintersier terhadap monomer. Bila
komponen powder dan liquid diaduk, amintersier akan menyebabkan terpisahnya benzoil
peroksida sehingga dihasilkan radikal bebas dan polimerisasi dimulai ( Ecket, dkk., 2004).

Resin Akrilik Polimerisasi Microwave


Gelombang mikro adalah gelombang elektromagnetik dalam rentang frekuensi

megahertz untuk mengaktifkan proses polimerisasi basis resin akrilik. Prosedur ini sangat
disederhanakan pada tahun 1983, dengan pengenalan serat kaca khusus, cocok untuk
digunakan dalam oven microwave. Resin akrilik dicampur dalam bubuk yang tepat, dalam
waktu yang sangat singkat sekitar 3 menit. Kontrol yang cermat dari waktu dan jumlah watt
dari oven adalah penting untuk menghasilkan resin bebas pori dan memastikan polimerisasi
lengkap ( Ecket, dkk., 2004).

Resin Akrilik Polimerisasi Cahaya


Resin akrilik diaktifkan cahaya, yang juga disebut resin VLC, adalah kopolimer dari

dimetakrilat uretan dan resin akrilik kopolimer bersama dengan silika microfine. Proses
polimerisasi diaktifkan dengan menempatkan resin akrilik yang telah dicampur dalam
moldable di model master pada sebuah meja berputar, dalam ruang cahaya dengan intensitas
cahaya yang tinggi dari 400-500 nm, untuk periode sekitar 10 menit ( Ecket, dkk., 2004).
Komposisi Resin Akrilik
Menurut Combe (1992) dan Anusavice (1996) komposisi resin akrilik:
A. Heat Cured acrylic
a. Bubuk (powder) mengandung :
1. Polimer (polimetilmetakrilat) sebagai unsur utama
2. Benzoil peroksida sebagai inisiator : 0,2-0,5%
3. Reduces Translucency :Titanium dioxide
4. Pewarna dalam partikel polimer yang dapat disesuaikan dengan jaringan mulut : 1%
5. Fiber : menyerupai serabut-serabut pembuluh darah kecil
9

b. Cairan (liquid) mengandung :


1. Monomer :methyl methacrylate, berupa cairan jernih yang mudah menguap.
2. Stabilisator : 0,006 % inhibitor hidrokuinonsebagai penghalang polimerisasi selama
penyimpanan.
3. Cross linking agent: 2 % ethylen glycol dimetacrylate, bermanfaat membantu
penyambungan dua molekul polimer sehingga rantai menjadi panjang dan untuk
meningkatkan kekuatan dan kekerasan resin akrilik.
B. Self Cured Acrylic
Komposisinya sama dengan tipe heat cured, tetapi ada tambahan aktivator, seperti
dimethyl-p-toluidinpada liquidnya.
II.

Bahan Pengisi (Filler/Extender)


Adalah bahan padat berbentuk puder dan index biasanya rendah. Tidak larut dalam air
ataupun solvent organik, tetapi dapat bercampur dengan bahan pengikat dan transparent.

Minyak Nabati
Flaxseed oil adalah minyak dari biji tanaman (linium utitassimum) atau juga dikenal
sebagai tanaman rami, yang seratnya bisa digunakan sebagai bahan dasar kain linen. Minyak
rami banyak digunakan dalam dunia industri. Salah satu penggunaan minyak rami adalah
sebagai pembuatan cat.
Sifat sifat dari biji rami, antara lain:
Titik lebur
Karbohidrat
Titik didih
Lemak
Densitas
Protein

Titik nyala

: -19 C
: 900 ocal
: 343 C
: 100 gr
3
:: 0,93
0 gr gr/cm
o
: 222 C

Warna

: kuning

Bau

: Seperti bau cat

Kandungan Nutrisi pada Biji Minyak


Rami

10

Minyak biji rami termasuk minyak mengering (drying oil), artinya minyak yang
mempunyai sifat dapat mengering jika teroksidasi dan akan berubah lapisan tebal, bersifat
kental dan akan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan di udara terbuka.
III.

Bahan Pewarna (Pigment)


Bahan pewarna (pigment) adalah bahan padat yang berupa puder, memiliki index

tinggi, dapat bercampur dengan bahan pengikat. Mempunyai jenis warna tertentu, dan tidak
larut dalam air ataupun zat organik dan tidak beracun.
IV.

Bahan Pengencer (Pelarut/Solvent)


adalah bahan cair yang mudah menguap. Fungsinya untuk melarutkan dan

mengencerkan bahan pengikat yang padat dan kental.


V.

Bahan Tambahan (Bahan Pembantu Additive)


merupakan komponen cat yang kira-kira jumlahnya hanya 0.5%. Sangat berguna

untuk meningkatkan mutu cat.

Wetting agent mempermudah atau mempercepat proses penggantian udara dan air oleh
resin pada permukaan pigment atau extender.

Dispersing agent mempermudah distribusi pigment dan extender ke dalam cairan resin.

Anti skinning agent mencegah proses pengulitan pada permukaan cat (oil atau alkyd
base resin) selama penyimpanan.

Thickening agent mempertahankan kekentalan cat atau melindungi cat selalu dalam
kondisi koloid.

Anti settling agent mempertahankan pigment selalu berada pada kondisi dispersi yang
stabil dalam campuran, sehingga tidak mengendap.

Anti sagging mencegah turunnya atau melelehnya cat jika dipakai pada permukaan tegak.

Levelling agent meningkatkan kualitas permukaan cat, sehingga permukaannya rata tidak
bergelombang.
11

Anti flooding & floatin mencegah pemisahan pigment baik secara vertikal maupun
horizontal.

Anti foaming Mencegah atau menghilangkan timbulnya busa pada permukaan cat.

Anti static agent mencegah atau mengurangi timbulnya arus listrik static selama
pemaikaian

Dryer mempercepat reaksi oksidasi dan polymerisasi dari ikatan tak jenuh pada cat
jenis alkydatau synthetic (mengandung drying oil).

Catalyst untuk mempercepat reaksi crosslinkingantara resin amino dan alkyd polyol (atau
turunannya), biasanya dipakai senyawa-senyawa asam organik maupun anorganik.

Plasticizer Meningkatkan fleksibilitas cat, terutama pada cat yang mempunyai berat
molekul yang besar, seperti NC.

Anti fouling agent mencegah timbulnya atau melekatnya tumbuhan air laut pada dasar
dinding kapal.

Matting agent menurunkan derajat kilap lapisan cat (dari gloss ke semi gloss atau dari
semi ke dof/matt).

2.2

Anti fungus mencegah timbulnya jamur.

Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi feed tank, mixer, grinder,
transfer tank dan filter.

2.3

Metode Penelitian
a. Metode Eksperimental
12

Eksperimen adalah observasi dibawah kondisi buatan (artificial condition) dimana


kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti.

1. Uji Kualitatif Resin Akrilik

Sebagai bahan penelitian yaitu resin akrilik. Disini digunakan resin akrilik
polimerisasi panas, resin akrilik swapolimerisasi, resin akrilik polimerisasi microwave, resin
akrilik polimerisasi cahaya.
Dari keempat jenis resin akrilik ini akan dibandingkan formulasinya sehingga akan
didapatkan jenis resin mana yang lebih efektif untuk menghasilkan cat tahan cuaca, reaksi
kimia, dan noda.

2. Uji Ketahanan Cat

Hiding power, untuk mengetahui kemampuan daya tutup cat, semakin tinggi hiding
powernya maka semakin tipis lapisan film cat yang dibutuhkan untuk menutup
permukaan plat yang dicat, demikian pula sebaliknya semakin rendah hiding powernya
maka semakin tebal lapisan film cat yang dibutuhkan untuk menutup permukaan plat tang
dicat.

Adhesion, yaitu untuk mengukur tingkat kerekatan cat pada benda kerja baik metal
maupun plastk. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pengelupasan pada part
yang sudah dicat. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode cross cut.

Pengujian Total Solid/Non Volatile (N.V),pengujian ini bertujuan untuk mengetahui


jumlah/berat bahan baku cat (coating weight).

Pengujian Coating weight, yaitu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui


jumlah/berat phosphate yang menempel pada plat pada proses phosphating.
13

Gasoline resistance, yaitu untuk mengetahui daya tahan cat terhadap rendaman
bensin/premium.

Corrosion resistance, Pengujian ini disebut juga dengan Salt spray yaitu pengujian cat
yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan cat menahan timbulnya karat. Tes ini
khusus untuk test cat stoving (metal).

Blister test, Pengujian blister bertujuan untuk keadan korosi yang terjadi pada permukaan
plat sebelum dicat. Blister test dilakukan pada temperatur 70-80oC.

Kekerasan, pengujian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kekerasan lapisan cat
pada plat.

Rubbing, menguji ketahanan lapisan film cat terhadap bensin/premium. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindari terjadinya luntur pada saat dilakukan pada pencucian
atau terkena bensin pada part.

Bending test, yaitu untuk mengetahui kemampuan cat terhadap daya lenturan. Tujuannya
untuk mencegah agar part yang sudah dilapisi cat tidak terjadi keretakan/terkelupas
apabila terjadi benturan yang berakibat penyok.

III.

Percobaan dan Hasil

Pembuatan Cat dengan Binder Resin Akrilik

Bahan-bahan cat yang telah ditentukan, dimasukkan ke dalam feed tank. Untuk ditimbang
pada setiap batch dalam proses.

Bahan tersebut masuk ke proses pencampuran untuk mencapai homogenitas dalam alat
pencampur (mixer) dengan pengaduk listrik sambil di tambah pengencer untuk mencapai
viskositas tertentu. Prosesnya dilakukan selama 15 menit, dan kalau terlalu kental dapat

14

dikenakan pengadukan ulang dengan menambahkan thinner. Hasilnya adalah pasta


kental.

Dari mixer, pasta dikenakan proses penggilingan (grinding) dengan mesin penggiling
dengan tujuan menghaluskan pasta sampai mencapai kehalusan standard yang diperlukan
bagi produksi cat. Grinding dilakukan dalam mesin penggiling yang dilengkapi cooler.

Setelah itu baru proses pengenceran dan pewarnaan. Disini dibutuhkan tenaga ahli dalam
pengetahuan warna, dan akan menentukan mutu cat. Pengenceran dilakukan bila
kehalusan telah tercapai dan warna telah tepat. Dilakukan dalam alat pengencer, diberi
sisa pengencer pada pembuatan pasta, bahan tambahan, bahan warna.

Setelah selesai dilakukan uji laboratorium, lalu disaring untuk mencegah cat
menggumpal. Lalu dimasukkan dalam kaleng dengan volume tertentu.

IV.

Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil Uji Kualitatif Resin Akrilik

Hasil Pembuatan Cat dengan Resin Akrilik (Resin Akrilik Polimerisasi Panas, Resin
Akrilik Swapolimerisasi, Resin Akrilik Polimerisasi Microwave, Resin Akrilik
Polimerisasi Cahaya) sebagai bindernya.

V.

Hasil Uji Ketahanan Cat dengan Resin Akrilik Sebagai Bindernya

Kesimpulan

15

Resin akrilik adalah rantai polimer yang terdiri dari unit-unit metil metakrilat yang
berulang. Dalam pembuatan cat resin akrilik berperan sebagai binder. Binder atau bahan
pengikat adalah bahan cair, yang jika ditambahkan dengan bahan pengering dapat menjadi
padat dan melekat pada permukaan yang di cat dan membentuk protective film.
Resin Akrilik digunakan untuk membuat cat yang dipakai untuk cuaca yang luar biasa
dan yang tahan reaksi kimia dan noda serta menghasilkan finishing yang indah, menampilkan
kilap dan kecerahan yang tinggi . Dengan karakteristik ini Resin Akrilik telah digunakan
untuk pelapis plastik untuk aplikasi mobil, dan berbagai macam bahan pelapis untuk
peralatan listrik rumah tangga, bahan konstruksi, dan logam biasa.

Daftar Rujukan

Anonim,

2011.

Jenis-jenis

Additive

pada

Pembuatan

Cat.

http://edupaint.com/cat/pengetahuan- dasar/296-read-110522-jenis-additive-padapembuatan-cat.html. Diakses tanggal 7 Juni 2016.


Anonim, 2012. Masalah-masalah Cat dalam Tembok. http://edupaint.com/cat/masalahpengecatan/1673-masalah-masalah-dalam-cat-tembok.html. Diakses tanggal 6 Juni
2016.
Julianti, Rinda. 2014. Resin Akrilik. https://id.scribd.com/doc/201031753/Resin-Akrilikdocx#download. Diakses tanggal 7 Juni 2016.
Tambun, Rondang. 2006. Buku Ajar Teknologi Oleokimia (TKK-322). Medan: Universitas
Sumatera Utara. hlm 148-152.

Wikipedia, 2016. Cat. https://id.wikipedia.org/wiki/Cat. Diakses tanggal 6 Juni 2016.

16

17