Anda di halaman 1dari 1

Di dunia ini banyak mimpi.

Beratus harapan dan keinginan yang sudah ku


wujudkan sejak masa kecilku. Menjadi yang terbaik. Penghafal. Cengeng dan
bertahan semampuku dengan tangis. Karena di dalam sini, rasanya napas ku tak
bisa berhembus lagi. Seberapa besar mampu ku? Bila itu 200% mengapa tidak
boleh aku menangis?
Ada banyak hal yang manusia ingin capai. Berkelakuan baik. Berbeda. Unik.
Sendiri dengan pendapatnya yang kukuh dibalik penerimaan atas umum. Ini aku.
Menerima dan menolak dengan seimbang. Kaku. Aneh. Pendongeng. Penyendiri
dan penikmat hujan yang pasif, hanya memandanginya, air yang jatuh dari
langit. Merasa bahwa dunia di mana-mana selalu sama. Mendapatkan teman
yang baik yang sama. Sakit yang sama. Penderitaan yang sama, hingga keluh
yang sama. Pujian. Mendapatkan kecaman yang layak. Seakan-akan aku bangkit
tidak boleh dengan semangat yang berbeda.
Ini aku. Kaku. Bisu. Beku.

Semuanya mudah untuk menjadi yang terbaik. Terlebih dengan ambisi dan
obsesi yang menggebu-nggebu. Kita selalu merasa semuanya benar, apa yang
kita ucapkan. Dan orang lain salah. Tapi saat aku menulis, ku pikir semua ini
bukan untuk diberi sanjungan atau kecaman. Aku ingin melihat semuanya
mengerti. Aku ingin mendengar semuanya mengerti. Aku ingin merasakan
semuanya mengerti.
Apa secara genetik hanya ini yang dapat kulakukan? Bercerita dengan kata-kata.
Bangkit karena kata-kata. Aku sering jatuh, andai ada yang tahu. Dan mama, dan
papa, ketika mereka terpuruk, bercerita adalah hal yang paling pantas dari pada
mengasihani diri sendiri dengan hal-hal seakan kita sudah mati.
Tapi tak satu saja kata terucap, seperti aku sayang mama, aku sayang papa, aku
sayang Osa, dan aku sayang Amanda. Apa kalian baik-baik saja? Semuanya ingin
berkata-kata, tapi aku merasa bisu. Aku tahu mereka takkan mengerti kita
dengan kejadian biasa-biasa saja. Mereka selalu menunggu momen berteriak
dan menangis datang, sehingga tidak ada yang tuli di sini. Jadi biarkan aku
bercerita untuk bertahan hidup. Jadi aku merasa beruntung atas diriku, lalu
bersyukur setiap ku ingat aku sudah mati kemarin, dan hidup lagi besok lusa.