Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN GOITER(GONDOK)

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS:GOITER
1.1.

PENGERTIAN

Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid. Pembesaran ini dapat terjadi pada kelenjar
yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) atau
kelebihan produksi hormon (hipetiroidisme). Terlihat pembengkakan atau benjolan besar
pada leher sebelah depan (pada tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar tiroid
yang tidak normal.
Gondok adalah suatu pembengkakan pada kelenjar tiroid yang abnormal dan penyebabnya
bisa bermacam-macam, dimana kelenjar tiroid diperlukan untuk memproduksi hormon tiroid
yang berfungsi mengontrol metabolisme tubuh, keseimbangan tubuh dan pertumbuhan
perkembangan yang normal.
1.2. ANATOMI KELENJAR TIROID
Kelenjar tiroid mulai terlihat terbentuk pada janin berukuran 3,4-4 cm, yaitu pada akhir
bulan pertama kehamilan. Kelenjar tiroid berasal dari lekukan faring antara branchial pouch
pertama dan kedua. Dari bagian tersebut timbul divertikulum, yang kemudian membesar,
tumbuh ke arah bawah mengalami decencus dan akhirnya melepaskan diri dari faring.
Sebelum lepas, berbentuk sebagai duktus tiroglosus, yang berawal dari foramen sekum di
basis lidah. Pada umumnya duktus ini akan menghilang setelah dewasa, tetapi pada beberapa
keadaan masih menetap, atau terjadi kelenjar disepanjang jalan ini, yaitu antara letak kelenjar
yang seharusnya dengan basis lidah. Dengan demikian sebagai kegagalan desensus atau
menutupnya duktus akan ada kemungkinan terbentuk kelenjar tiroid yang abnormal ,
persistensi duktus tiroglosus, tiroid lingual, tiroid servikal, sedangkan desensus yang terlalu
jauh akan memberikan tiroid substernal. Branchial pouch keempat pun ikut membentuk
bagian kelenjar tiroid dan merupakan asal sel-sel parafolikuler atau sel C yang memproduksi
kalsitonin.
Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri atas dua lobus, yang dihubungkan
oleh ismus sehingga bentukya menyerupai kupu-kupu atau huruf H, dan menutupi cincin
trakea 2 dan 3. Pada usia dewasa berat kelenjar ini kira-kira 20 gram. Kapsul fibrosa
menggantungkan kelenjar ini pada fasia pretrakea sehingga pada setiap gerakan menelan
selalu diikuti dengan gerakan terangkatnya kelenjar kearah kranial. Sifat inilah yang
digunakan di klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan
kelenjar tiroid atau tidak. Pengaliran darah ke kelenjar berasal dari a. Tiroidea superior dan a.
Tiroidea inferior. Ternyata setiap folikel tiroid diselubungi oleh jala-jala kapiler, dan jala-jala
limfatik, sedangkan sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular. Pembuluh getah bening
kelenjar tiroid berhubungan secara bebas dengan pleksus trakealis. Selanjutnya dari pleksus
ini kearah nodus prefaring yang tepat berada diatas ismus serta ke kelenjar getah bening
pretrakealis, sebagian lagi bermuara di kelenjar getah bening brakiosefalikus. Hubungan
getah bening ini penting untuk menduga penyebaran keganasan yang berasal dari tiroid.

1.3.

ETIOLOGI

a) Hipertiroidisme primer yang disebabkan karena kegagalan kelenjar tiroid atau


kekurangan yodium,dimana kadar hormon tiroid didalam darah rendah sehingga tidak ada
inhibisi umpan balik negatif kehipofisis anterior,hal ini mengakibatkan sekresi TSH
meningkat.
b) Sekresi yang berlebihan dari hormon TSH akan berpengaruh terhadap perubahan
kelenjar tiroid dan stimulasi TSH yang berleebihan juga dapat berpengaruh pada produksi
kelenjar tiroid
c) Penyakit grave.adanya TSI merangsang pertumbuhan tiroid meningkatkan sekresi
hormon tiroid.
d) Defisiensi yodium,yodium merupakan bahan untuk sintesis hormon tiroid,sehingga
produksi hormon juga akan menurun.
e) Genetik yang mengakibatkan kegagalan metabolisme yodium.
f) Pencernaan dalam jumlah besar nutrisi goitrogens yang dapat menghambat produksi
T4,seperti bayam,kedelai,dan kubis.
g) Pencernaan obat-obatan yang bersifat goitrogens seperti glukokortikoid,dopamin atau
lithium
1.3.
FAKTOR RESIKO
Gondok dapat menyerang siapa saja. Gondok dapat terjadi pada saat kelahiran dan terjadi
kapan saja sepanjang hidup, walaupun lebih sering terjadi setelah usia 50 tahun. Beberapa
faktor risiko umum munculnya gondok adalah :
Kurangnya diet yodium. Orang-orang yang tinggal di daerah dimana yodium sulit
didapatkan beresiko tinggi gondok.
Jenis kelamin. Perempuan lebih rentan mengalami gangguan tiroid daripada laki-laki.
Usia lanut. Umur di atas 50 tahun atau lebih berisiko lebih tinggi terkena gondok.
Riwayat medis. Riwayat pribadi atau keluarga yang menderita penyakit autoimmune
meningkatkan risiko gondok.
Kehamilan dan menopause. Masalah tiroid lebih sering terjadi setelah kehamilan dan
menopause.
Obat tertentu. Beberapa obat termasuk immunosuppressants, obat jantung Amiodarone
dan lithium obat psikiatri meningkatkan risiko gondok.
Terpapar radiasi. Risiko meningkat jika seseorang menjalani perawatan radiasi ke leher
atau dada atau terkena radiasi di fasilitas nuklir
1.4. PATOFISIOLOGI

Pembentukan hormon tiroid membutuhkan unsur yodium dan stimulasi dari TSH. Salah satu
penyebab paling sering terjadi penyakit gondok karena kekurangan yodium. Aktifitas utama
dari kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi dalam pengambilan yodium dari darah untuk
membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak cukup untuk membuat hormon tiroid jika
tidak memiliki cukup yodim. Oleh karena itu,dengan defesiansi yodium individu akan
menjadi hipotiroid. Kekurangan hormon tiroid(hipotiroid)tubuh akan berkonpensasi terhadap
pembesaran tiroid,hal ini juga merupakan proses adaptasi terhadap defisiensi hormon tiroid.
Namun demikian pembesaran dapat terjadi sebagai respon meningkatnya sekresi
pituitari/TSH.

1.5. TANDA DAN GEJALA


gejala atau tanda yang muncul pada penderita gondok adalah :
Pembengkakan pada pangkal leher/pembesaran kelenjar tiroid
Kesulitan dalam dalam bicara
Perasaan ketat atau sempit pada tenggorokan
Batuk
Suara serak
Kesulitan menelan
Kesulitan bernapas
Nyeri pada kelenjar tiroid
1.6. KLASIFIKASI
1.Goiter congenital
Hampir selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar dan sering terjadi
pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves.
2.Goiter endemik dan kretinisme
Biasa terjadi pada daerah geografis dimana detistensi yodium berat, dekompensasi dan
hipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik ini jarang terjadi pada populasi yang
tinggal disepanjang laut
3.Goiter sporadic
Goiter yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis. Digolongkan menjadi 3 (tiga)
bagian yaitu :
a. Goiter yodium
Goiter akibat pemberian yodium biasanya keras dan membesar secara difus,dan pada
beberapa keadaan,hipotiroidisme dapat berkembang.
b. Goiter sederhana (Goiter kollot)
Yang tidak diketahui asalnya. Pada pasien bistokgis tiroid yang tampak normal.
c.Goiter multinodular
Goiter keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau banyak nodulus yang dapat
diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan kistik dan fibrosis.
4.Goiter intratrakea Tiroid intralumen terletak dibawah mukosa trakhea dan sering berlanjut
dengan tiroid ekstratrakea yang terletak secara normal.
Klasifikasi Goiter menurut WHO :
1.Stadium O A
: tidak ada goiter.
2.Stadium O B
: goiter terdeteksi dari palpasi tetapi tidak terlihat walaupun
leher terekstensi penuh.
3.Stadium I
: goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher terekstensi
penuh.
4.Stadium II
: goiter terlihat pada leher dalam Potersi.
5.Stadium III
: goiter yang besar terlihat dari Darun
1.7.
1.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan

Pasien dengan satu atau lebih nodul tiroid yang mengalami hipertiroid diberikan obat anti
tiroid.obat anti tiroid yang biasa digunakan adalah; karbimazol,metimazol,dan profiltourasil.
2. Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah untuk mengurangi massa fungsional pada hipertiroid,mengurangi
penekanan dan esophagus dan trakhea,mengurangi ekspansi pada tumor atau keganasan.
3. Terapi radioiodine
Merupakan teraapi alternatif untuk single toxic adenoma atau toxic multinodular goiter.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mempertahankan fungsi dari jaringan tiroid
normal.radioiodine juga digunakan untuk mengurangi volume nodul pada nontoksik
multinodular goiter.
1.8.

KOMPLIKASI

1. Terhambatnya jalan nafas


2. aritmia
Badai tiroid(suatu aktifitas yang sangat berlebihan dari kelenjar tirod yang terjadi secara
tiba-tiba.
Yang akan mengakibatkan:

Demam

Kelemahan

Perubahan suasana hati

Perubahan kesadaran

Kegelisahan,dll.

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita
penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit yang sama.
2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
a. Pola makan
b. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
c. Pola aktivitas.
3. Tempt tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.
4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh :
a. Sesak nafas, apakah bertambah sesak bila beraktivitas.
b. Sulit menelan
c. Leher bartambah besar
d. Suara serak / parau
e. Merasa malu dengan leher yang besar dan tidak simetris.
5. Pemeriksaart fisik mencakup
a. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema
sekitar mata, wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah
kasar. Lidah tampak menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. Postur
tubuh keen dan pendek. Kulit kasar, tebal dan berisik, dingin dan pucat.
b. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun.
c. Perbesaran jantung
d. Disritmia dan hipotensi

e. Parastesia dan reflek tendon menurun


6. Kaji bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri
7. Pemeriksaan penunjang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum;
pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi
peningkatan TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat
menurun atau normal).
8. Lakukan pengkajian lengkap dampak perubahan patologis diatas
terhadap kemungkinan adanya gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi,
cairan dan elektrolit serta gangguan rasa aman dan perubahan konsep
diri seperti :
a. Status pernafasan : frekwensi, pola dan teratur tidaknya, dan apakah
klien menggunakan otot pernapasan tambahan seperti retraksi sternal
dan cuping hidung.
b. Warna kulit apakah nampak pucat atau cianosis.
c. Suhu kulit khususnya daerah akral.
d. KU / kesadaran, apakah klien tampak gelisah atau tidak berdaya
e. Berat badan dan tinggi badan.
f. Kadar Hb
g. Kelembaban kulit dan teksturnya
h. Porsi makan yang dihabiskan
i. Turgor
j. Jumlah dan jenis cairan proral yang dikonsumsi
k. Kondisi mukosa mulut
l. Kualitas suara
m. Bagaimana ekspresi wajah, cara berkomunikasi dan gaya berinteraksi
klien dengan orang disekitarnya.
n. Bagaimana klien memandang dirinya sebagai seorang pribadi
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GOITER
2.1. PENGKAJIAN
2.1.1. anamnise
a. identitas
Nama
:
usia
:
Jenis kelamin :
alamat
:
suku
:
agama
:
pekerjaan :
b. keluhan utama
Perasaan ketat atau sempit pada tenggorokan
Batuk
Suara serak
Kesulitan menelan
Kesulitan bernapas
c. riwayat penyakit sekarang
klien masuk RS dengan keluhan sejak sebelum masuk RS klen mengeluh batuk,sulit
menelan,sulit bernafas,perasaan ketat atau sempit pada tenggorokan sehingga klien

mengalami penurunan berat badan.


d. riwayat penyakit dahulu
klien tidak mempunyai riwayat masa lalu dan tidak ada alergi terhadap makanan dan obatobatan..
e.riwayat penyakit keluarga
ayah klien menderita penyakit gondok atau goiter.
f. riwayat psikososial

Klien mengatakan cemas terhadap penyakit yang dideritanya karena takut tidak sembuh

Klien dan keluarga banyak bertanya tentang proses dan perawatan penyakit

Klien bituh dukungan dari perawat terutama keluarga


2.1.2. Pemeriksaan fisik
Palpasi kelenjar tiroid, nodul tunggal atau ganda, konsistensi dan simetris tidaknya,
apakah terasa nyeri pada saat dipalpasi.
Inspeksi bentuk leher simetris tidaknya.
Auskultasi bunyi pada arteri tyroidea,nilai kualitas suara
Palpasi apakah terjadi deviasi trachea
2.1.3. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan sidik tiroid,pemeriksaan dengan radiosotop untuk mengetahui ukuran,lokasi
dan fungsi tiroid,melalui hasil tangkapan yodiun radioaktif oleh kelenjar tiroid
Pemeriksaan ultrasonografi(USG),mengetahui keadan nodul kelenjar tiroid misalnya
keadaan padat atau cair,adanya kista,tiroiditis.
Biopsi asporasi jarum halus(BAJAH) yaitu dengan melakukan aspirasi menggunakan
jarum suntik halus no.22-27,sehingga rasa nyeri dapat dikurangi danrelatif lebih aman.
Namun demikian kelemahan dari pemeriksaan ini adalah menghasilkan negatif atau positif.
Pemeriksaan T3,T4,TSH,untuk mengetahui hiperfungsi atau hipofungsi kelenjar tiroid
atau hipofisis
Temografi,yaitu dengan mengukursuhu kulit pada daerah tertentu,menggunakan alat
yang disebut dinamic telethermografi. Hasilnya keadaan panas apabila selisih suhu dengan
daerah sekitarnya>0,90C dan dingin papabila <0,90C.sebagian besar keganasan tiroid pada
suhu panas.
2.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tidak efektipnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan kompresi trakea dan
obstruksi
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya penekanan daerah
esofagus, penurunan nafsu makan.
3. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan post operasi tiroidektomi
4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan insisi

2.3. PERENCANAAN
1)Resiko tidak efektipnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan kompresi trakea dan
obstruksi.
Tujuan:jalan nafas pasien paten
Kriteria hasil:
- pasien mengatakan tidak sesak nafas
- Jalan nafas bersih
- Slem tidak ada
- Pola pernafasan normal
Intervensi keperawatan Rasional
1.Monitor jumlah pernafasan,kedalaman dan kerja pernafasan.R: Pernafasan yang cepat dapat
berkembang menjadi kegagalan pernafasan dan dapat terjadi karena kompresi,edema atau
perdarahan
2.Kaji adanya dispnea,stridor,sianosis dan catat kualitas suara. R: Indikator adanya obstruksi
trachea atau spame laring,data dibutuhkan untuk intervensi lebih lanjut
3.Hati-hati dengan mobilisasi dan kelenturan leher,sokong dengan bantal. R:Mengurangi
regangan atau tarikan luka operasi
4.Investigasi kesulitan menelan,mengeluarkan slem dan kesulitan bernafas. R:Indikasi
edema,perdarahan pada sekitar jaringan tempat operasi
5.Kolaborasi dalam pemberian terapi inhalasi. R:Mengurangi edema dan melonggarkan jalan
nafas
2)Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya penekanan daerah
esofagus, penurunan nafsu makan.
Tujuan
: Menunjukkan status gizi pasien yang adekuat
Kriteria Hasil :

dalam 324 jam, pasien menunjukkan

BB normal
Albumin normal 3,5-5 mg/Dl

Peningkatan nafsu makan

No Intervensi Rasional
1 Kaji adanya kesulitan menelan, selera makan, kelemahan umum dan munculnya mual dan
muntah. R: kesulitan menelan, selera makan, kelemahan umum dan munculnya mual dan
muntah adalah factor yang menentukan asupan makan pasien
2 Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang berat bada setiap hari serta laporkan
adanya penurunan. R:Mengetahui status nutrisi pasien
3 Dorong klien untuk makan dan meningkatkan jumlah makan dan juga beri makanan

lunak, dengan menggunakan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna. R:Mempermudah
pasien menelan makanan
4 Beri/tawarkan makanan kesukaan klien.R:Meningkatkan nafsu makan pasien
5 Kolaborasi : konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein,
karbohidrat dan vitamin.R: Mencukupi nutrisi sesuai yang dibutuhkan pasien
3. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan post oerasi tiroidektomi
Tujuan:pasien dapat mempertahankan rasa nyaman nyeri yang optimal
Kriteria hasil:

Pasien mengatakan nyeri berkurang

Ekspresi wajah tidak tampak kesakitan

Prilaku pasien adaptif


TTV dalam batas normal
Intervensi keperawatan Rasional
1.Kaji secara komprehensip nyeri,lokasi,krakteristik,awal
kejadian,durasi,frekuensi,kualitas,berat/ringan dan faktor penyebab .R:Nyeri adalah
pengalaman subjektif karena itu harus dideskripsikan oleh pasien
2.Amati atau pantau tanda dan gejala yang terkait dengan rasa sakit,seperti tekanan
darah,denyut jantungmsuhu,warna,kelembapan kulit,gelisah dan kemampuan untuk fokus .
R:Perhatian terhadap tanda-tanda yang terkait dapat membantu perawat dalam mengevaluasi
sakit
3.Nilai pengetahuan pasien atau frekwensi tentang pengurangan rasa sakit.R:Beberapa pasien
mungkin tidak menyadari aktifitas metode nonpharmaklogikal dan mungkin bersedia untuk
mencobanya.
4.Evalusi respon rasa sakit pasien dan obat-obatan atau terapi yang bertujuan untuk
menghilangkan atau mengurangi rasa sakit.R:Mengetahui aktifitas dari terapi yang diberikan
5.Lakukan latihan biofeedback,latiahan pernafasan,terapi musik.R:Salah satu metode untuk
menurunkan nyeri
6.Berikan intruksi antisipatif tentang penyebab nyeri,pencegahan yang sesuai dan langkahlangkah bantuan.R:Mengurangi resiko efek samping analgetik
7.Lakukan perawatan luka denagn teknik aseptik setelah hari ketiga Infeksi dapat
meningkatkan rasa nyeri
4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan insisi
Tujuan:pasien dapat meningkatkan integritas kulit melalui perawatan luka yang optimal
Kriteria hasil:

Kulit pasien utuh

Luka bekas operasi kering,tidak ada tanda-tanda infeksi


Tidak ada nyeri pada luka operasi
Intervensi keperawatan rasional
1.Lakukan imobilisasi pada area leher dan hindari keadaan fleksi dan hipertensi
leher.R:Mencegah tarikan pada garis luka sehingga mengakibatkan perdarahan
2.Jaga kasa dan balutan dileher tetap bersih dan kering.R:Menjaga terjadinya infeksi
3.Jaga pakaian dan tempat tidur tetap kering.R:Menghindari iritasi dan gatal-gatal
4.Jaga suhu ruangan yang nyaman.R:Suhu yang panas dapat meningkatkan evavorasi dan
vasodilatasi

5.Hindari aktifitas yang dapat meningkatkan keringat.R:Menghindari gatal dan vasodilatasi


6.Lakukan perawatan luka dengan teknik steril.R:Penyembuhan luka
7.Laksanakan program pengobatan pemberian antibiotik.R:Penyembuhan luka.

DAFTAR PUSTAKA
Murwani arita,S.Kep, perawatan pasien penyakit dalam ,penerbit mitra
cendika,jogjakarta:2009
Tarwono,Ns.S.Kep,M.Kep,dkk, perawatan medikal bedah,sistem endokrin,jakarta:tim 2012
http://pantrisater.blogspot.com/2013/01/asuhan-keperawatan-goitergondok.html
diakses pada hari Selasa 10 februari 2015 09.30

Asuhan Keperawatan Goiter


Written By Saktya Yudha on Jumat, 16 Agustus 2013 | 08.52

Definisi
Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid. Pembesaran ini dapat terjadi
pada kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien yang kekurangan hormon tiroid
(hipotiroidisme) atau kelebihan produksi hormon (hipetiroidisme). Terlihat
pembengkakan atau benjolan besar pada leher sebelah depan (pada
tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar tiroid yang tidak normal.
(Rahza, 2010)
Kelenjar tiroid yang membesar disebut goiter. Goiter dapat menyertai hipo
maupun hiperfungsi tiroid. Bila secara klinik tidak ada tanda-tanda khas, disebut
giter non-toksik. (Tambayong, 2000)
Gondok adalah suatu pembengkakan pada kelenjar tiroid yang abnormal dan

penyebabnya bisa bermacam-macam, dimana kelenjar tiroid diperlukan untuk


memproduksi hormon tiroid yang berfungsi mengontrol metabolisme tubuh,
keseimbangan tubuh dan pertumbuhan perkembangan yang normal.
2.2 Etiologi

1. Auto-imun (dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang


komponen spesifik pada jaringan tersebut).

Tiroiditis Hasimotos. Ini adalah kondisi autoimun di mana terdapat kerusakan


kelenjar tiroid oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Sebagai kelenjar menjadi
lebih rusak, kurang mampu membuat persediaan yang memadai hormon tiroid.
Penyakit Graves. Sistem kekebalan menghasilkan satu protein, yang disebut
tiroid stimulating imunoglobulin (TSI). Seperti dengan TSH, TSI merangsang
kelenjar tiroid untuk memperbesar memproduksi sebuah gondok.

2. Obat-obatan tertentu yang dapat menekan produksi hormon tiroid.

3. Kurang iodium dalam diet, sehingga kinerja kelenjar tiroid berkurang dan
menyebabkan pembengkakan.

Yodium sendiri dibutuhkan untuk membentuk hormon tyroid yang nantinya akan
diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacam-macam kelenjar. Kelenjar
tersebut diantaranya:

1. Choroid

2. Ciliary body

3. Kelenjar mammae

4. Plasenta

5. Kelenjar air ludah

6. Mukosa lambung

7. Intenstinum tenue

8. Kelenjar gondok

Sebagian besar unsur yodium ini dimanfaatkan di kelenjar gondok. Jika kadar
yodium di dalam kelenjar gondok kurang, dipastikan seseorang akan mengidap
penyakit gondok.

4. Peningkatan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) sebagai akibat dari


kecacatan dalam sintesis hormon normal dalam kelenjar tiroid

1. Kerusakan genetik, yang lain terkait dengan luka atau infeksi di tiroid,

Tiroiditis. Peradangan dari kelenjar tiroid sendiri dapat mengakibatkan


pembesaran kelenjar tiroid.

1. Beberapa disebabkan oleh tumor (Baik dan jinak tumor kanker)

Multinodular Gondok. Individu dengan gangguan ini memiliki satu atau lebih
nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan pembesaran. Hal ini sering
terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar perasaan pemeriksaan fisik. Pasien
dapat hadir dengan nodul tunggal yang besar dengan nodul kecil di kelenjar,
atau mungkin tampil sebagai nodul beberapa ketika pertama kali terdeteksi.
Kanker Tiroid. Thyroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid meskipun kurang
dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah gondok tanpa nodul bukan
merupakan resiko terhadap kanker.

1. Kehamilan

Sebuah hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu gonadotropin dapat


menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.
Info dahsyat klik DISINI
2.3 Klasifikasi

1. Goiter kongenital

Hampir selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar dan
sering terjadi pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves.

1. Goiter endemik dan kretinisme

Biasa terjadi pada daerah geografis dimana detistensi yodium berat,


dekompensasi dan hipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik ini
jarang terjadi pada populasi yang tinggal disepanjang laut.

1. Goiter sporadis

Goiter yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis fositik yang terjadi
lazim pada saudara kandung, dimulai pada awal kehidupan dan kemungkinan
bersama dengan hipertiroidisme yang merupakan petunjuk penting untuk
diagnosa. Digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :

1. Goiter yodium

Goiter akibat pemberian yodium biasanya keras dan membesar secara difus, dan
pada beberapa keadaan, hipotirodisme dapat berkembang.

1. Goiter sederhana (Goiter kollot)

Yang tidak diketahui asalnya. Pada pasien bistokgis tiroid tampak normal atau
menunjukan berbagai ukuran follikel, koloid dan epitel pipih.

1. Goiter multinodular

Goiter keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau banyak nodulus
yang dapat diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan kistik dan fibrosis.

1. Goiter intratrakea

Tiroid intralumen terletak dibawah mukosa trakhea dan sering berlanjut dengan
tiroid ekstratrakea yang terletak secara normal.
Klasifikasi Goiter menurut WHO :

1. Stadium O A

: tidak ada goiter.

1. Stadium O B
: goiter terdeteksi dari palpasi tetapi tidak
terlihat walaupun leher terekstensi penuh.

2. Stadium I
terekstensi penuh.

: goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher

3. Stadium II

: goiter terlihat pada leher dalam Potersi.

1. Stadium III

: goiter yang besar terlihat dari Darun.

2.4 Manifestasi Klinis


Penderita mungkin mengalami aritmia dan gagal jantung yang resisten terhadap
terapi digitalis. Penderita dapat pula memperlihatkan bukti-bukti penurunan
berat badan, lemah, dan pengecilan otot. Biasanya ditemukan goiter multi
nodular pada pasien-pasien tersebut yang berbeda dengan pembesaran tiroid
difus pada pasien penyakit Graves. (Sadler et al, 1999)
Penderita goiter nodular toksik mungkin memperlihatkan tanda-tanda mata
(melotot, pelebaran fisura palpebra, kedipan mata berkurang) akibat aktivitas
simpatis yang berlebihan. Meskipun demikian, tidak ada manifestasi dramatis
oftalmopati infiltrat seperti yang terlihat pada penyakit Graves (Price dan Wilson,

1994). Gejala disfagia dan sesak napas mungkin dapat timbul. Beberapa goiter
terletak di retrosternal (Sadler et al, 1999)
Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan kosmetik
atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya yang dengan
struma nodosa besar, mengeluh adanya gejala mekanis, yaitu penekanan pada
esophagus (disfagia) atau trakea (sesak napas) (Noer, 1996). Gejala penekanan
ini data juga oleh tiroiditis kronis karena konsistensinya yang keras (Tim
penyusun, 1994). Biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul
perdarahan di dalam nodul (Noer, 1996).
Keganasan tiroid yang infiltrasi nervus rekurens menyebabkan terjadinya suara
parau (Tim penyusun, 1994). Kadang-kadang penderita datang dengan karena
adanya benjolan pada leher sebelah lateral atas yang ternyata adalah metastase
karsinoma tiroid pada kelenjar getah bening, sedangkan tumor primernya sendiri
ukurannya masih kecil. Atau penderita datang karena benjolan di kepala yang
ternyata suatu metastase karsinoma tiroid pada kranium (Tim penyusun, 1994).

2.5 Patofisiologi dan WOC


2.5.1

Patofisiologi

Aktifitas utama kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi yodium dari darah
untuk membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak dapat membuat hormon
tiroid cukup jika tidak memiliki cukup yodium. Oleh karena itu, dengan defisiensi
yodium individu akan menjadi hipotiroid. Akibatnya, tingkat hormon tiroid terlalu
rendah dan mengirim sinyal ke tiroid. Sinyal ini disebut thyroid stimulating
hormone (TSH). Seperti namanya, hormon ini merangsang tiroid untuk
menghasilkan hormon tiroid dan tumbuh dalam ukuran yang besar Pertumbuhan
abnormal dalam ukuran menghasilkan apa yang disebut sebuah gondok
Kelenjar tiroid dikendalikan oleh thyroid stimulating hormone (TSH) yang juga
dikenal sebagai thyrotropin. TSH disekresi dari kelenjar hipofisis, yang pada
gilirannya dipengaruhi oleh hormon thyrotropin releasing hormon (TRH) dari
hipotalamus. Thyrotropin bekerja pada reseptor TSH terletak pada kelenjar tiroid.
Serum hormon tiroid levothyroxine dan triiodothyronine umpan balik ke hipofisis,
mengatur produksi TSH. Interferensi dengan sumbu ini TRH hormon tiroid TSH
menyebabkan perubahan fungsi dan struktur kelenjar tiroid. Stimulasi dari
reseptor TSH dari tiroid oleh TSH, TSH reseptor antibodi, atau agonis reseptor
TSH, seperti chorionic gonadotropin, dapat mengakibatkan gondok difus. Ketika
sebuah kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel ganas metastasis untuk
tiroid terlibat, suatu nodul tiroid dapat berkembang.

Kekurangan dalam sintesis hormon tiroid atau asupan menyebabkan produksi


TSH meningkat. Peningkatan TSH menyebabkan peningkatan cellularity dan
hiperplasia kelenjar tiroid dalam upaya untuk menormalkan kadar hormon tiroid.
Jika proses ini berkelanjutan, maka akan mengakibatkan gondok. Penyebab
kekurangan hormon tiroid termasuk kesalahan bawaan sintesis hormon tiroid,
defisiensi yodium, dan goitrogens.
Gondok dapat juga terjadi hasil dari sejumlah agonis reseptor TSH. Pendorong
reseptor TSH termasuk antibodi reseptor TSH, resistensi terhadap hormon tiroid
hipofisis, adenoma kelenjar hipofisis hipotalamus atau, dan tumor memproduksi
human chorionic gonadotropin.
Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh,
hiposekresi TSH, glukosil goitrogenik (bahan yang dapat menekan sekresi
hormone tiroid), gangguan pada kelenjar tiroid sendiri serta factor pengikat
dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya sekresi hormone tiroid. Bila
kadar kadar hormone tiroid kurang maka akan terjadi mekanisme umpan balik
terhadap kelenjar tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan terjadi
pembesaran (hipertrofi).
Dampak goiter terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang
dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ lain di sekitarnya. Di bagian
posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Goiter dapat
mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara
sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan berdampak terhadap
gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Penekanan
pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat
simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. Tentu
dampaknya lebih ke arah estetika atau kecantikan. Perubahan bentuk leher
dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien. (Rahza, 2010)

2.4 Penatalaksanaan
Perawatan yang diberikan akan tergantung pada penyebab gondok seperti yang
sudah disebutkan di etiologi :

1. Defisiensi Yodium

Gondok disebabkan kekurangan yodium dalam makanan maka akan diberikan


suplementasi yodium melalui mulut. Hal ini akan menyebabkan penurunan
ukuran gondok, tapi sering gondok tidak akan benar-benar menyelesaikan.

1. Hashimoto Tiroiditis

Jika gondok disebabkan Hashimoto tiroiditis dan hipotiroid, maka akan diberikan
suplemen hormon tiroid sebagai pil setiap hari. Perawatan ini akan
mengembalikan tingkat hormon tiroid normal, tetapi biasanya tidak membuat
gondok benar-benar hilang. Walaupun gondok juga bisa lebih kecil, kadangkadang ada terlalu banyak bekas luka di kelenjar yang memungkinkan untuk
mendapatkan gondok yang jauh lebih kecil. Namun, pengobatan hormon tiroid
biasanya akan mencegah bertambah besar.

1. Hipertiroidisme

Jika gondok karena hipertiroidisme, perawatan akan tergantung pada penyebab


hipertiroidisme. Untuk beberapa penyebab hipertiroidisme, perawatan dapat
menyebabkan hilangnya gondok. Misalnya, pengobatan penyakit Graves dengan
yodium radioaktif biasanya menyebabkan penurunan atau hilangnya gondok.
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid
yang berlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak
jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).

1. Obat antitiroid

Indikasi :

1. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang


menetap, pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan
tirotoksikosis.

2. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau


sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium aktif.

3. Persiapan tiroidektomi

4. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia

5. Pasien dengan krisis tiroid

Obat antitiroid yang sering digunakan :


Karbimazol

30-60

5-20

Metimazol

30-60

5-20

Propiltourasil 300-600

5-200

1. Pengobatan dengan yodium radioaktif

Indikasi :

1. Pasien umur 35 tahun atau lebih

2. Hipertiroidisme yang kambuh

3. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid

4. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik

5. Operasi

Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.


Indikasi :

1. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap
obat antitiroid.

2. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid


dosis besar

3. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium


radioaktif

4. Adenoma toksik atau struma multinodular toksik

5. Pada penyakit Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul

1. Multinodular

Banyak gondok, seperti gondok multinodular, terkait dengan tingkat normal


hormon tiroid dalam darah. Gondok ini biasanya tidak memerlukan perawatan
khusus setelah dibuat diagnosa yang tepat.

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan


pada leher, penekanan trakhea.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya


penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak


efektifnya coping individu, adanya pembesaran pada leher

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber


informasi.

3.4 Intervensi

1. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya pembesaran jaringan


pada leher, penekanan trakhea.

Tujuan
Kriteria Hasil

: Menunjukkan pola nafas yang efektif


: Dalam 3x 24 jam, pasien

RR= 16-20x/ menit


Kedalaman inspirasi dan kedalaman bernafas
Ekspansi dada simetris
Tidak ada penggunaan otot bantu nafas

No

Intervensi

Rasional

Pantau frekwensi pernafasan , Untuk mengetahui adanya


kedalaman, dan kerja
gangguan pernafasan pada
pernafasan
pasien

Waspadakan klien agar leher


tidak tertekuk/posisikan semi
ekstensi atau eksensi pada
saat beristirahat

Ajari klien latihan nafas dalam Untuk menstabilkan pola nafas

Persiapkan operasi bila


diperlukan.

Menghindari penekanan pada


jalan nafas untuk
meminimalkan penyempitan
jalan nafas

Operasi diperlukan untuk


memperbaiki kondisi pasien

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan adanya


penekanan daerah oesofagus, penurunan nafsu makan.

Tujuan
Kriteria Hasil

: Menunjukkan status gizi pasien yang adekuat


: dalam 3x24 jam, pasien menunjukkan

BB normal
Albumin normal 3,5-5 mg/dL
Peningkatan nafsu makan

No

Intervensi

Rasional

kesulitan menelan, selera


Kaji adanya kesulitan
makan, kelemahan umum dan
menelan, selera makan,
munculnya mual dan muntah
kelemahan umum dan
adalah factor yang menentukan
munculnya mual dan muntah.
asupan makan pasien

Pantau masukan makanan


setiap hari dan timbang berat Mengetahui status nutrisi
bada setiap hari serta
pasien
laporkan adanya penurunan.
Dorong klien untuk makan
Mempermudah pasien menelan
dan meningkatkan jumlah
makanan
makan dan juga beri makanan

lunak, dengan menggunakan


makanan tinggi kalori yang
mudah dicerna.

Beri/tawarkan makanan
kesukaan klien.

Kolaborasi : konsultasikan
dengan ahli gizi untuk
Mencukupi nutrisi sesuai yang
memberikan diet tinggi kalori,
dibutuhkan pasien
protein, karbohidrat dan
vitamin.

1.

Meningkatkan nafsu makan


pasien

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan tidak efektifnya coping


individu, adanya pembesaran pada leher

Tujuan
Kriteria Hasil

: menunjukkan peningkatan harga diri


: Dalam 3x24 jam, pasien menunjukkan

Penerimaan diri secara verbal


Mengerti akan kekuatan diri
Melakukan perilaku yang dapat meningkatkan rasa percaya diri

No

Intervensi

Rasional

Pantau tingkat perubahan


rentang harga diri rendah

Mengetahui kopping individu


pasien

Pastikan tujuan tindakan yang Meningkatkan hubungan saling


kita lakukan adalah realistis
percaya dengan pasien

Sampaikan hal-hal yang


positif secara mutlak untuk
klien, tingkatkan pemahaman
Meningkatkan harga diri pasien
tentang penerimaan anda
pada pasien sebagai seorang
individu yang berharga.

Diskusikan masa depan klien,


bantu klien dalam
Membantu klien menentukan
menetapkan tujuan-tujuan
masa depan yang diinginkan
jangka pendek dan panjang.

1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber


informasi.

Tujuan

: Menunjukkan peningkatan pengetahuan klien

Kriteria Hasil : Dalam 2x24 jam, pasien


Mengikuti pengobatan yang disarankan
Peningkatan pengetahuan pasien
Dapat menghindari sumber stress

No

Intervensi

Berikan informasi yang tepat


dengan keadaan individu

Rasional

Meningkatkan pengetahuan
pasien

Identifikasi sumber stress dan Agar pasien bisa menghindari

diskusikan faktor pencetus


krisis tiroid yang terjadi,
sumber stress
seperti orang/sosial,
pekerjaan, infeksi, kehamilan

Berikan informasi tentang


Dapat mengidentifikasi gejala
tanda dan gejala dari penyakit
awal dari gondok
gondok serta penyebabnya

Diskusikan mengenai terapi


obat-obatan termasuk juga
ketaatan terhadap
Pasien bisa mengikuti terapi
pengobatan dan tujuan terapi yang disarankan
serta efek samping obat
tersebut

Share this article :


4

Related Articles

If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like
it.

Subscribe via RSS Feed


http://istanakeperawatan.blogspot.com/2011/11/asuhan-keperawatan-goiter.html
diakses pada hari Selasa 10 februari 2015 jam 09.38