Anda di halaman 1dari 8

PERMASALAHAN BK DI LAPANGAN

Paper ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Survey Permasalahan BK
Dosen Pengampu :
Maria Theresia Sri Hartati
Binti Isrofin
Oleh :
Irvan Nurul Auladi

1301414048

Novera Solikhati

1301414076

Astri Lutfiana M

1301414111

Nurul Azizah Zain

1301414118

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

PERMASALAHAN BK DI LAPANGAN
A. Hakikat permasalahan Bk
Dalam bimbingan dan konseling saat ini dihadapkan pada berbagai
permasalahan berupa penyimpangan yang menuntut pemecahan melalui metode
yang sistematis dan memerlukan penelitian untuk mendapatkan jawaban atau
kesimpulan dari permasalahan tersebut. Dalam penelitian, kedudukan masalah
sangat penting karena melalui masalah kita dapat menentukan tujuan penelitian,
metode penelitian, analisis data yang akan digunakan. Dengan kata lain tujuan
dari penelitian adalah untuk menyelesaikan permasalahan. Pada kesempatan ini,
kami akan membahas tentang permasalahan-permasalahan dalam penelitian
pendidikan.
1. Pengertian Masalah dan sumber masalah dalam penelitian
Menurut stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat
diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan
kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan,
dan kompetisi.
Menurut Suryabrata (1994 : 60) masalah merupakan kesenjangan antara
harapan (das sollen) dengan kenyataan (das sein), antara kebutuhan dengan yang
tersedia, antara yang seharusnya (what should be) dengan yang ada (what it is)
(Suryabrata, 1994: 60). Penelitian dimaksudkan untuk menutup kesenjangan
(what can be).
2. sumber masalah dalam penelitian
Permasalahan dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut James H.
MacMillan dan Schumacher (Hadjar, 1996 : 40 42), masalah dapat bersumber
dari :
a. Observasi Masalah dalam penelitian dapat diangkat dari hasil
observasi terhadap hubungan tertentu yang belum memiliki penjelasan

memadai dan cara-cara rutin yang dalam melakukan suatu tindakan


didasarkan atas otiritas atau tradisi.
b. Dedukasi dari teori Teori
merupakan konsep-konsep yang masih berupa prinsip-prinsip umum
yang penerapannya belum dapat diketahui selama belum diuji secara
empiris. Penyelidikan terhadap masalah yang dianggap dari teori
berguna untuk mendapatkan penjelasan empiris praktik tentang teori.
c. Kepustakaan Hasil penelitian
mungkin memberikan rekomendasi perlunya dilakukan penelitian
ulang (replikasi) baik dengan atau tanpa variasi. Replikasi dapat
meningkatkan validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk
digeneralisasikan

lebih

luas.

Laporan

penelitian

sering

juga

menyampaikan rekomendasi kepada peneliti lain tentang apa yang


perlu diteliti lebih lanjut. Hal ini juga menjadi sumber untuk
menentukan masalah yang menentukan masalah yang perlu diangkat
untuk diteliti.
d. Masalah sosial
Masalah sosial yang ada di sekitar kita atau yang baru menjadi berita
terhangat (hot news) dapat menjadi sumber masalah penelitian.
e. Pengalaman pribadi Pengalaman pribadi dapat menimbulkan masalah
yang memerlukan jawaban empiris untuk mendapatkan pemahaman
yang lebih mendalam. (Purwanto 2010:109-111).

B. Isu dan trend permasalahan BK yang timbul dalam teori dan praktik
1. Bidang Organisasi
a. Dalam kenyataan dilapangan kebanyakan konselor tidak menjadi
organisasi ke Bimbingan dan konseling.
b. Terdapat Konselor yang tidak mengikuti pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan untuk layanan
2. Bidang Administrasi
a. Kuranganya dukungan dari sistem yang ada disekolah

b. Mengalami permasalahan administrasi yang masih belum terlalu


baik
3. Supervisi
a. Kepala sekolah jarang melakukan supervisi terhadap kegiatan
bimbingan dan konseling
a. Bimbingan dan konseling berpusat pada masalah permukaan saja
b. Keterbatasan waktu dalam memberi layanan BK
c. Keterbatasan informasi yang diberikan dalam memberikan layanan
BK
d. Konselor tidak bisa menyampaikan layanan BK layaknya sebagai
seorang konselor
e. Dalam kegiatan atau pemberian layanan bimbingan dan konseling
bekerjasama dengan isntansi-instansi lain (seperti doctor, psikolog
dll) namun kepala sekolah tidak melakukan kersama.
4. Stake holder
a. Kurangnya kerjasama konselor dengan pihak-pihak sekolah.
b. Konselor sering tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan
pesrta didik
5. Profesi
a. Guru

BK

belum

begitu

mampu

mengembangkan

profesionalitasnya sebagai konselor sekolah


b. Tidak tersedia bank data (data jenis-jenis pekerjaan)
c. Konselor sering tidak bisa menalin hubungan yang baik dengan
pesrta didik
d. Intervensi profesi sejenis (misalnya saja psikologi sekolah)
kedalam konteks tugas dan kinerja konselor
e. Beban kerja guru bimbingan dan konseling , konselor adalah
mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 peserta
didik. Namun dikenyataan dilapangan konselor memegang lebih
dari itu
f. Dalam Merencanakan program bimbingan dan konseling jarang
dilakukan oleh konselor ,kebanyakan dari konselor memakai

program tahun sebelumnya dan kurang bekerja

rsama dengan

coordinator BK
B.ISU-ISU YANG BERKEMBANG DI LAPANGAN
Adapun isu-isu atau problematika BK di lapangan , yaitu:
1.

Menurut Setyafi dkk (2008) yaitu permasalahan BK di sekolah dalam tinjauan


teori strukturasi
Struktur dapat berupa nilai, ide atau gagasan yang dimiliki oleh individu.
Permasalahan yang paling tampak dalam sistem BK di sekolah adalah perbedaan
nilai antara kepala sekolah dan konselor dalam mengartikan fungsi dan peran
konselor di sekolah. Saat ini masih banyak kepala sekolah yang belum
mengetahui dan memahami fungsi dan peran konselor sebagaimana mestinya.
Sebagian diantara mereka mengira bahwa tugas konselor berkenaan dengan
mengatasi semua siswa yang bermasalah termasuk sebagai petugas tata tertib,
sehingga kepala sekolah menugaskan konselor sebagai petugas tata tertib,
termasuk memberikan hukuman atau sanksi kepada siswa yang melanggar tata
tertib. Nilai yang menganggap bahwa konselor adalah petugas tata tertib dan
menangani siswa yang bermasalah tersebut tentu saja berbeda dengan nilai yang
dimiliki konselor. Dimana tugas dan fungsi konselor sebenarnya adalah fasilitator
yang membantu siswa untuk berkembang secara optimal dan membantu siswa
mengatasi

masalah-masalah

yang

berkaitan

dengan

tugas-tugas

perkembangannya, konselor bukanlah petugas tata tertib yang menghukum siswa.


Perbedaan nilai inilah yang menghambat konselor berperan sesuai dengan fungsi
dan tugas yang sebenarnya di sekolah. Bahkan konselor diberikan tugas yang
berlawanan dengan fungsi dan peran yang sebenarnya.
2. Problematika BK di sekolah yaitu:
a. Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali
dari pendidikan.
Latar belakang: Ada dua pendapat yang berbeda kaitannya dengan pelaksanaan
bimbingan dan konseling.
1

Bahwa bimbingan dan konseling sama saja dengan pendidikan. Jadi


dengan sendirinya sudah termasuk ke dalam usaha sekolah yang

menyelenggararakan pendidikan. Sekolah tidak perlu bersusah payah


menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara mantap dan mandiri.
Pendapat ini cenderung mengutamakan pengajaran dan mengabaikan
aspek-aspek lain dari pendidikan dan sama sekali tidak melihat pentingnya
2

bimbingan dan konseling.


Bimbingan dan konseling harus benar-benar dilaksanakan secara khusus
oleh tenaga ahli dengan perlengkapan yang benar-benar memenuhi syarat.
Pelayanan ini harus secara nyata dibedakan dari praktek pendidikan seharihari.

b. Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah


Latar belakang: masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah
adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib,
disiplin, dan keamanan sekolah. Anggapan ini mengatakan barangsiapa diantara
siswa-siswa melanggar peraturan dan disiplin sekolah harus berurusan dengan
konselor.
c. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian
nasehat
Latar belakang: pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh
kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.
Disamping memerlukan pemberian nasehat, pada umumnya klien sesuai dengan
problem yang dialaminya, memerlukan pula pelayanan lain seperti pembrian
informasi, penempatan dan penyaluran, konseling, bimbingan belajar, pengalih
tangan kepada petugas yang lebih ahli dan berwenang, layanan kepada orang tua
siswa dan masayarakat, dan sebagainya.
d. Bimbingan dan konseling di anggap hanya melayani orang sakit dan/atau
kurang normal
Latar belakang: ada asumsi bahwa bimbingan konseling hanya melayani orangorang normal yang mengalami masalah tertentu.
e. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-kliean tertentu saja.
Latar belakang:yang melatarbelakangi problema tersebut adalah bahwa biasanya
yang datang di ruang BK adalah anak-anak yang diapnggil kerena bermasalah.
f. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri

Latar belakang:pandangan guru-guru mata pelajaran yang kurang paham pada


prinsip BK Perkembangan bahwa guru BK dan guru mata pelajaran merupakan
fungsionaris bersama dalam membantu siswa menyelesaikan masalahnya.
g. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
Latar belakang: latar belakang problema tersebut karena para konselor di sekolah
dalam prakteknya lebih memberikan nasehat-nasehat kepada siswanya karena
konselor kurang memahami potensi yang dimiliki siswa.
h. Bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
Latar belakang: pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali
dengan melihat gejala-gejala dan atau keluhan awal yang disampaikan oleh klien.
Namun demikian, jika pembahasan masalah itu dilanjutkan, didalami, dan
dikembangkan, seringkali ternyata bahwa masalah yang sebenarnya lebih jauh,
lebih luas dan lebih pelik apa yang sekedar tampak atau disampaikan itu. Bahkan
kadang kadang masalah yang sebenarnya, sama sekali lain daripada yang tampak
atau dikemukakan itu.
3. Problematika BK di sekolah terkait dengan sekolah-sekolah tidak memiliki
paradigma yang tunggal terhadap BK. Berikut pembagian sekolah terkait dengan
permasalahan BK:
a. sekolah yang sadar akan kedudukan BK dalam pembentukan pribadi siswa,
tetapi tidak didukung oleh materi, tenaga dan yayasan (swasta) atau pemerintah
(negeri). Keberadaan BK di sekolah ini antara ada dan tiada, hidup segan mati tak
mau. Di sekolah kategori ini semua konsep ke BK-an hanya tinggal dalam anganangan. Untuk membangun manajemen BK di sekolah ini butuh tenaga ekstra.
b. Sekolah yang masih menerapkan manajemen BK jadul. Guru BK masih
dianggap sebagai polisi sekolah, hanya menangani orang yang bermasalah.
Sekolah ini cenderung tidak terbuka terhadap perkembangan ilmu BK dan tidak
melihat fungsi BK dalam pembentukan pribadi siswa. Guru BK masih
ditempatkan sebagai pelengkap dalam proses pendidikan anak, bukan sebagai
rekan tenaga pengajar. Bahkan ironisnya, yang menjadi guru BK bukan lulusan
Bimbingan dan Konseling. Sekolah ini anti perubahan.
c. Sekolah yang belum memiliki manajemen BK. Penyembanya, bisa karena
belum ada tenaga, atau tidak ada yang tahu sehingga tidak ada yang memulau,
atau bisa juga karena masalah financial, atau menganggap tidak perlu. Biasanya
sekolah kategori ini terdapat di kecamatan atau sekolah anak tidak mampu.