Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. Enukleasi
a. Definisi
Enukleasi merupakan suatu proses dimana dilakukan pembuangan total dari lesi kista. Sebuah
kista dapat dilakukan prosedur enukleasi dikarenakan lapisan dari fibrous connective tissue diantara
komponen epitelial (yang membatasi aspek interior kista) dan dinding tulang dari kavitas kista.
Lapisan ini memperkenankan cleavage plane untuk melepaskan kista dari kavitas tulang.
Enukleasi kista harus dilakukan dengan hati-hati, sebuah usaha untuk mengangkat kista dalam
satu potongan tanpa fragmentasi, yang akan mengurangi kesempatan rekurensi. Namun pada
praktiknya, pemeliharaan keutuhan kista tidak selalu dapat terjaga, hancurnya potongan kista dapat
terjadi.
b. Indikasi
Enukleasi merupakan perawatan pilihan untuk pengangkatan kista pada rahang dan
seharusnya digunakan pada kista yang dapat diangkat dengan aman tanpa terlalu membahayakan
jaringan sekitar, biasanya pada ukuran lesi kecil. Letaknya jauh dari jaringan vital ( sinus maxillaries
atau kanalis mandibularis).
c. Keuntungan
Keuntungan utamanya adalah pemeriksaan patologis dari keseluruhan kista dapat dilakukan.
Keuntungan lainnya adalah initial excisional biopsy (enukleasi) juga telah merawat lesi. Pasien tidak
harus merawat marsupial cavity dengan irigasi konstan. Setelah akses flap mukoperiosteal sembuh,
pasien tidak lagi terganggu dengan kavitas kista.
d. Kerugian
Jika terdapat indikasi-indikasi untuk melakukan marsupialisasi, maka akan terdapat banyak
kerugian untuk prosedur enukleasi. Sebagai contoh, dapat membahayakan jaringan normal, fraktur
tulang rahang dapat terjadi, atau gigi dapat menjadi non-vital.
e. Teknik enukleasi
Pemberian antibiotik profilaksis tidak diperlukan,
kecuali jika pasien menderita penyakit sistemik
tertentu.
Untuk kista

yang

besar,

dapat

dilakukan

mucoperiosteal flap dan akses ke kista didapatkan


melalui labial plate of bone, yang meninggalkan
alveolar crest tetap utuh untuk memastikan tinggi
tulang adekuat setelah penyembuhan.

Saat akses ke kista sudah didapatkan melalui pengunaan osseus window, dokter gigi mulai
mengenukleasi kista
A thin-bladed curettage merupakan instrumen yang paling tepat untuk memotong conective tissue
layer dinding kista dari kavitas tulang. Permukaan yang cekung harus selalu menghadap ke kavitas
tulang, sedangkan bagian yang cembung melakukan pemotongan/pelepasan kista. Tahap ini haus
dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari hancurnya kista. Terlebih lagi, kista akan
lebih mudah terlepas dari kavitas tulang saat intracystic pressure dijaga.
Saat kista telah berhasil diangkat, kavitas tulang harus diperiksa, adaah jaringan kista yang
tertinggal. Mengirigasi dan mengeringkan kavitas dengan gauze akan mempermudah
pemeriksaan. Jaringan kista yang tersisa diangkat dengan kuret.
Daerah-daerah tepi kavitas tulang dihaluskan dengan bone file sebelum ditutup.
Setelah itu, watertight primary closure seharusnya didapatkan dengan appropriately positioned
sutures.
Kavitas tulang akan berisi blood clots, yang akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Gambaran radiografis akan pertumbuhan tulang akan tampak dalam waktu 6 hingga 12 bulan.
Jika primary closure rusak dan luka bekas operasi terbuka, luka diirigasi dengan salin steril, dan
an appropriate length of strip gauze sedikit dipenuhi dengan antibiotic ointment seharusnya
dimasukkakan kedalam kavitas dengan lembut. Prosedur ini dilakukan setiap 2-3 hari sekali,
secara bertahap dikurangi seiring dengan pemulihan luka.
Tambahan:
Enukleasi meliputi pembuangan menyeluruh pelapis kista dan isinya. Kuretase menunjuk
kepada pembuangan bertahap dinding kista menggunakan kuret.
Pendekatan intraoral biasanya merupakan metode pilihan untuk enukleasi meskipun kadang
diindikasikan pendekatan melalui kulit submandibula. Untuk memperoleh keuntungan maksimum
dari metode ini, umumnya dilengkapi dengan penutupan primer, meskipun pada kenyataannya dapat
dikombinasikan dengan open packing.
Indikasi
Odontogenik keratocyst yang memiliki tingkat rekurensi yang tinggi.

Prosedur
Enukleasi dengan Penutupan Primer
A Pendekatan Intaroral
Insisi dan elevasi flap

Prinsip desain flap biasa dapat diapliksitkan di sini juga, tetapi dengan modifikasi tertentu pada
masing-masing kista dan lokasinya
Ketika gigi terlibat, insisi sebainya diletakkan di sekitar gigi dengan mengabaikan apakah gigi
tersebu harus dipertahankan at diekstraksi. Insisi ini dapat menyediakan akses yang lengkap dan
membantu dalam perbaikan yang mudah. Kedua, hal ini mengijinkan pentupan defek yang
memuaskan jika ekstraksi yang tidak diharapkan pada gigi atau geligi menjadi penting selama
operasi.
Ketika gigi terpengaruh secara periodontal atau ketika terdapat tmahkota artificial, bijaksana untuk
menghindari leher crevice gingiva dan menempatkan insisi jauh dari leher gigi.
Untuk mengurangi perbaikan area tidak bergigi pada rahang, sebuah insisi ditempatkan di
sepanjang crest
The ascending or descending limbs of

the incision divergen ke arah sulkus bukal, dan

ditempatkan cukup jauh dari pembengakan. Hal ini mengijinkan garis jahitan akhir berada di atas
tulang penyangga yang utuh.

Pembuangan tulang
Tulang tipis yang melapisi sebaiknya dipertahankan. Pada beberapa lesi yang besar setelah elevasi
periferal flap mukoperiosteal, tulang dapat dipenetrasi dan dipatahkan dengan menggunakan
elevator periosteal yang dimmasukkan antara kantung kista dan tulang, sehingga menghasilkan
flap tulang mukoeriosteal yang sehat.
Dimana tulang pelapis yang berharga ini tidak dapat diselamatkan, mukoperiosteum dielevasi dan
tulang yang melapisi dihilangkan dengan menggunakan bur akrilik, gouges atau rogeurs, cukup
untuk menciptakan akses yang baik untuk enukleasi kantong.

Enukleasi kista
Kista harus dihilangkan seluruhnya tanpa menyobek atau menusuk. Ketika memisahkan
lapisan kista dari inferior alveolar neurovascular bundle, lantai antral, dan apikal gigi, harus diberikan
perhatian yang besar. Disukai diseksi dengan menggunakan instrumen tumpul. Pada tempat dimana
lapisan kista menempel ke kavitas, sebuah kasa gukung dipegang dengan menggunakan haemostat
dan dimasukkan di antara kavitas dan pelapis kista. Sebaliknya, kista dapat diaspirasi sehingga
kantung menyusut dan akses serta jarak penglihatan meningkat.

Setelah enukleasi, pekerjaan yang dianjurkan pada gigi seperti pengisian akar, apicectomy,
pengisian akar retrogade, atau ekstraksi dilakukan. Sekali irigasi menyeluruh dan inspeksi kavitas
dan marginnya dilakukan, penutupan dengan jahitan sebaiknya dilakukan.

B Pendekatan Ekstraoral
Indikasi
Keratocyst besar dan kista dentigerous yang meliputi ramus, korpus (badan), atau angulus mandibula.
Prosedur
Dibuat insisi submandibula, diseksi tajam dan tumpul dilakukan melalui bidang jaringan
dengan pterygomasseteric sling terbagi; kemudian periosteum diinsisi dan flap diangkat untuk
menyingkap tulang di bawahnya. Biasanya sudah terdapat perforasi dan jika tidak, jendela/bukaan
dibuat dengan menggunakan pahat atau bur. Ukuran jendela bergantung pada perluasan kista.
Sekarang kista dihilangkan bersama dengan pelapis dan dikirim untuk biopsi. Jika terdapat
kecurigaan adanya sisa-sisa pelapis kista, kavitas dikuret. Insisi ditutup berlapis. Kadang disarankan
untuk menempatkan drain melalui insisi dan mengamankannya dengan tujuan mencegah
pembentukan hematoma.

Manajemen Postoperatif
Jahitan dibuka paling baik 10 hari setelah operasi, dimana oedema pada tepi luka telah
selesai, membuat hal ini menjadi mudah. Jika hal ini dicoba lebih awal, terdapat risiko membuka
perbaikan (penyembuhan) selagi mencoba untuk mengidentifikasi dan memotong jahitan yang ketat.
Selain dari pentingnya tindak lanjut radiologis semua kista hingga terjadi penyembuhan tulang
menyeluruh, tidak perlu terapi lebih lanjut.

Keuntungan Enukleasi
Semua pelapis kista dihilangkan, oleh karena itu, tidak ada kekhawatiran akan adanya perubahan
neoplastik pada sisa-sisa pelapis.
Terjadi penyembuhan yang cepat karena luka ditutup secara primer.
Kerugian Enukleasi

Pada orang muda, benih gigi atau gigi yang tidak erupsi yang terlibat dengan kista dikestraksi atau
dihilangkan dengan pelapis kista.
Fraktur patologis rahang dapat terjadi pada enukleasi kista besar
Prosedur membahayakan struktur vital yang berdekatan
Observasi langsung penyembuhan luka jika marsupialisasi tidak mungkin.

Enukleasi dengan Open Packing


Teknik ini lebih disukai pada kasus kista besar yang terinfeksi dimana penutupan primer kista
dapat membawa kepada pecahnya luka dan mengganggu peneymbuhan. Flap mukoperiosteal
diangkat dan kista dienukleasi seperti telah dijelaskan, tetapi sebagai ganti penutupan primer, flap
dikembalikan ke dalam kavitas tulang, difiksasi dengan kasa pembalut medikasi inch selama 10
hari. Pergantian pembalur diikuti dengan pembuatan sumbat akrilik seperti yang digunakan dalam
marsupialisasi.
Pada kasus defek besar yang ekstrim dimana dicurigai adanya fraktur patologis, penggunaan bone
graft dapat mengubah kavitas. Autogenous bone graft adalah metode yang disukai.

2. Marsupialisasi
a. Definisi
Marsupialisasi adalah membuat suatu jendela pada dinding kista dalam pembedahan,
mengambil isi kistanya dan memelihara kontinuitas antara kista dengan rongga mulut, sinus
maksilaris atau rongga hidung. Bagian kista yang diambil hanyalah isi dari kista, batas dari dinding
kista dengan oral mukkosa dibiarkan pada tempatnya. Proses ini dapat mengurangi tekanan intrakista
dan membantu penyusutan dari kista serta pengisian tulang. Marsupialisasi dapat digunakan sebagai
suatu perawatan tunggal atau sebagai suatu perawatan awal dan selanjutnya dilakukan tahap
enukleasi.
b. Indikasi
Faktor-faktor ini harus diperhatikan sebelum memutuskan perawatan marsupialisasi :
a) Jumlah kerusakan jaringan jika letak kista berdekatan dengan struktur anatomis yang vital,
perawatan dengan enukleasi akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang tidak perlu. Sebagai
contoh, jika enukleasi akan menyebabkan fistula pada sekitar rongga hidung atau dapat
menyebabkan kerusakan jaringan saraf (saraf alveolar inferior), serta dpat menyebabkan
devitalisasi dari gigi yang vital.; maka marsupialisasi diperlukan.

b) Akses pembedahan jika akses pembedahan sulit dicapai, maka biasanya bagian dari dinding
kista akan tertinggal, menyebabkan rekurensi. Karena hal itu, marsupialisasi dapat
dipertimbangkan
c) Membantu erupsi gigi jika gigi yang belum bererupsi terlibat dengan kista (dentigerous cyst)
dan gigi tersebut dibutuhkan untuk kestabilan lengkung dental, maka marsupialisasi dapat
membanu akses erusi gigi tersebut
d) Besar/tidaknya tindakan bedah jika pasien kista memiliki penyakit sistemik atau tingkat stress
yang tinggi, dapat dipilih marsupialisasi, karena caranya mudah dan tidak menimbulkan stress
yang besar
e) Ukuran kista pada ukuran kista yang sangat besar, enukleasi dapat menyebabkan resiko
patahnya tulang rahang. Maka itu dapat dipilihkan marsupialisasi dan dilakukan enukleasi setelah
adanya pengisian kembali oleh tulang gigi
f) Kerugian dari marsupialisasi adalah kemungkinan tertinggalnya jaringan yang patologis, tanpa
adanya pemeriksaan histopatologi. Walaupun setelah pengeluaran isi kista dapat dilakukan
pemeriksaan histopatologi, tetapi lesi yang lebih agresif dapat tertinggal pada jaringan kista yang
tersisa. Selain itu pasie n juga harus memperhatikan kebersihan rongga kista, karena biasanya
debri makanan terperangkap disana. Untuk itu, pasien harus rutin mengirigasi kavitas kista
bebrapa kali dalam sehari, sampai bebrapa bulan selanjutnya, tergantung pada besarnya ukuran
kista dan laju pengisian tulang.

c. Teknik

o Antibiotik profilaksis sistemik tidak diindikasikan untuk pasien yang sehat.


o Anastesi, kemudian dilakukan aspirasi. Bila aspirasi membantu diagnosis sementara kista,
prosedur marsupialisasi dapat dilakukan.

o Insisi inisial biasanya sirkular atau eliptik dan menciptakan window yang besar (1 cm atau lebih)
pada kavitas kista.
o Bila tulang telah terekspansi dan menjadi tipis karena kista, insisi pertama kali dilakukan dari
tulang menuju kavitas kista. Pada kasus ini, isi jaringan window dilakukan pemeriksaan patologis.
o Bila sisa tulang masih tebal, osseous window dihilangkan dengan burs atau rongeur.
o Insisi kista dilakukan untuk membuang lapisan window lalu dilakukan pemeriksaan patologis.
o Isi kista dibuang dan bila mungkin dilakukan pemeriksaan visual pada lapisan jaringan kista yang
tersisa.
o Irigasi kista dilakukan untuk membuang sisa fragmen dari debris.
o Area ulserasi atau ketebalan dinding kista harus diperhatikan drg untuk mencegah kemungkinan
adanya perubahan displasia atau neoplasma pada dinding kista.
o Bila ada ketebalan yang cukup dari dinding kista dan jika ada akses, perimeter dinding kista
sekitar window dapat disuture pada mukosa mulut.
o Kavitas harus dipacked dengan gauze yang telah dioleskan benzoin atau salep antibiotik.
o Setelah terjadi initial healing (biasanya 1 minggu), lakukan pencetakan pada rongga mulut untuk
membuat obturator dari akrilik. Tujuan penggunaan obturator ini ialah untuk mencegah masuknya
makanan ke dalam kavitas. Obturator ini dilepas saat tidur untuk mencegah agar tidak tertelan.
Obturator ini harus dikurangi ukurannya seiring dengan terisinya kavitas oleh tulang.
o Ketika dilakukan marsupialisasi kista pada maksila, drg memiliki 2 pilihan.
o Pertama, kista dapat dibedah (akses dari) rongga mulut atau melalui sinus maksila atau sinus
nasalis. Bila sebagian besar maksila telah terserang kista dan telah terkena antrum rongga nasalis,
kista dapat menyerang aspek fasial alveolus.
o Ketika window pada dinding kista telah dibuat, pembukaan kedua dapat dilakukan pada antrum
maksila atau rongga hidung yang berdekatan. Pembukaan mulut kemudian ditutup untuk
penyembuhan. Lapisan kista harus kontinu dengan lapisan antrum atau rongga hidung.
o Marsupialisasi jarang digunakan sebagai bentuk tunggal perawatan kista.
o Biasanya diikuti dengan enukleasi. Pada kasus kista dentigerous, mungkin tidak terdapat sisa kista
yang dibuang ketika gigi bererupsi ke lengkung rahang.
o Bila bedah lanjut kontraindikasi karena masalah medis lainnya, marsupialisasi dapat dilakukan
tanpa enukleasi selanjutnya. Kavitas harus dijaga kebersihannya.
o Manfaat marsupialisasi pada large dental cyst:

Kontur jaringan oral dapat dipelihara secara utuh.

Gigi yang terlihat pada radiograf kelihatannya terlibat dalam kista bisanya vital & gigi
ini tidak dicabut (dapat dipertahankan.

Anesthesia yang disebabkan karena surgical trauma terhadap nerve yang besar dapat
dieliminasi.

Jarang terjadi perdarahan karena pembuluh darah yang besar jarang mengalami
gangguan yang disebabkan oleh metode manipulatif.

Bahaya fraktur surgical pada mandibula pada kista yang besar dapat dihindari.

Kemungkinan terjadinya oral fistula pada sinus maksilaris / kavitas nasal karena
enukleasi dapat dihindari.

3. Enukleasi setelah marsupialisasi


Enukleasi sering dilakukan setelah prosedur marsupialisasi (dengan jeda waktu). Proses
healing cepat terjadinya setelah marsupialisasi, tetapi besar kavitas mungkin tidak berkurang secara
nyata. Tujuan utama dilakukannya marsupialisasi telah dicapai, selanjutnya enukleasi dapat
dilakukan tanpa injuri pada struktur sekitarnya.
a. Indikasi
Indikasi teknik kombinasi ini berdasarkan evaluasi dari besarnya jaringan yang akan terluka jika
enukleasi dilakukan, besar akses untuk enukleasi, apakah gigi impaksi yang berhubungan dengan
kista akan diuntungkan dengan adanya eruptional guidance dari marsupialisasi, kondisi medis pasien,
dan besar dari lesi. Namun, apabila lesi tidak hilang sepenuhnya setelah marsupialisasi, enukleasi
perlu dipertimbangkan. Indikasi lainnya adalah kavitas kista pasien sulit untuk dibersihkan. Dokter
gigi juga mungkin berkeingina untuk memeriksa seluruh lesi secara histologis.
b. Keuntungan
i.

Pade fase marsupialisasi, keuntungannya berupa teknik yang sederhana dan aman bagi struktur
vitas sekitarnya.

Pada fase enukleasi, seluruh lesi dapat tersedia untuk pemeriksaan histologis.

Perkembangan dari tepi kista yang menebal, sehingga enukleasi sekunder menjadi lebih
mudah.

c. Kerugian
Pada fase marsupialisasi, kista tidak dapat sepenuhnya diangkat untuk pemeriksaan histologi.
Namun, hal tersebut dapat dilakukan setelah enukleasi sekunder untuk mendeteksi adanya
kemungkinan kondisi patologis yang lain.
d. Teknik

Kista dilakukan tindakan marsupialisasi terlebih dahulu. Lalu kita menunggu proses healing dari
osseous.
Bila ukuran kista telah mengecil, sehingga dapat dilakukan pengangkatan total, enukleasi
dilakukan sebagai perawatan definitif.
Waktu tepat dilakukannya enukleasi adalah saat tulang menutupi struktur vital sekitarnya
sehingga mencegah injuri saat enukleasi dan juga ia menyediakan kekuatan yang cukup bagi
rahang untuk mencegah fraktur saat tindakan bedah.
Insisi pertama berbeda dengan enukleasi tanpa marsupialisasi. Kista ini mempunyai lapisan tepi
epitel dengan kavitas oral setelah marsupialisasi.
Akses (window) ini merupakan bagian kista yaitu jembatan epitel antara kavitas kista dan rongga
mulut.
Epitel ini harus diangkat total dengan cystic liningnya, dengan teknik eliptic incisions,
melingkari bukaan akses tersebut sampat terasa menyentuh tulang.
Selanjutnya enukleasi dapat mudah dilakukan denga pendekatan ini.
Setelah kista dienukleasi, jaringan lunak oral harus menutupi defek.
Bila dibutuhkan, mobilisasi jaringan lunak untuk menutupi tulang yang terbuka dengan bantuan
flap dan penjahitan.
Bila tidak dapat tertutup seluruhnya, packing kavitas dengan kassa yang dioleskan antibiotik.
Ganti packing secara berkala dan jaga rongga mulut tetap bersih sampai jaringan granulasi hilang
dan epitel menutupi telah menutupi luka.
4. Enukleasi dengan kuretase
Dilakukan kuretase tulang 1-2 mm di seluruh tepi kavitas kista setelah prosedur enukleasi.
Hal ini dilakukan untuk mengangkat seluruh sel epitel yang tersisa di tepi-tepi dinding kavitas atau
tulang untuk mencegah rekurensi kista.
a. Indikasi
Bila dilakukan enukleasi pada odontogenic keratocyst. Karena tingginya rasio (20-60%)
rekurensi kista tersebut. Alasan rekurensi agresif ini berdasarkan meningkatnya aktivitas mitotic
dan selularitas epitel kista tersebut. Anak kista dapat ditemukan di tepi lesi utama. Tepi kista
seringkali sangat tipis dan berfragmen-fragmen sehingga butuh kuretasi agresif dari kavitas
tulang.
Perawatan pencegahan rekurensi dapat dipilih berdasarkan hal-hal ini: (1) jika area dapat
diakses, enukleasi kedua dapat dilakukan. (2) jika area tidak terjangkau, reseksi tulang dengan

margin 1 cm dapat dipertimbangkan. Pasien harus selalu selalu dimonitor karena rekurensi
odontogenic keratocyst dapat terjadi bertahun-tahun kemudian.
Kista rekurensi. Alasannya sama dengan kasus di atas.

b. Keuntungan
Mengurangi kemungkinan rekurensi.

c. Kerugian
Bersifat lebih destruktif pada jaringantulang dan lainnya di sekitar. Pulpa gigi dapat terpotong
akses suplai neurovaskularnya jika kuretasi degan dengan ujung akar. Serabut saraf dan pembuluh
darah juga dapat rusak sehingga kuretasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

d. Teknik
Setelah enukleasi, kavitas tulang diperiksa lokasi dan jaraknya dengan struktur-struktur sekitar.
Kuret yang tajam atau bur tulang dengan irigasi steril digunakan untuk mengangkat 1-2 mm
lapisan tulang di sekeliling kavitas dengan hati-hati.
Kavitas dibersihkan dan ditutup.

Tujuan Dasar Bedah


a. Menghilangkan kondisi patologis
Tujuan terapeutik dari semua prosedur bedah ekstirpatif adalah untuk membuang
keseluruhan lesi dan tidak meninggalkan sel yang dapat berproliferasi dan menyebabkan
rekurensi.
b. Rehabilitasi fungsional pasien
Setelah prosedur pengangkatan lesi dilakukan, hal yang paling penting adalah
memperhatikan defek residual akibat bedah ekstirpatif tersebut. Defek-defek tersebut dapat
berupa mild obliterationof the labial sulcus atau defek pada alveolus setelah pengangkatan
benign odontogenic tumor. Hasil terbaik diperoleh saat prosedur rekonstruksi sudah
dipertimbangkan sebelum eksisi lesi dilakukan. Metode graft, prinsip fiksasi, defisit jaringan
lunak, rehabilitasi dental, dan persiapan pasien harus dievaluasi secara keseluruhan dan dapat
ditangani dengan adekuat.

BAB III
LAPORAN KASUS
Kasus 1.
Compound-Complex Odontoma- An Important Clinical Entity (A Case Report)
Abstrak:
Odontoma merupakan tumor odontogenik campuran dari komponen epitel dan mesenkim yang
mengalami diferensiasi fungsional dan membentuk enamel dan dentin. WHO mengklasifikasikan
odontoma menjadi compound dan complex odontoma. Meskipun laporan kasus terjadinya complex
atau com pound odontoma dalam rongga mulut sering terjadi, namun sangat jarang dilaporan
kasus odontoma yang menunjukkan gabungan keduanya (complex-compound

odontoma).

Ini

merupakan laporan kasus dengan lesi odontoma besar dengan gambaran compound dan complex
odontoma, yang terjadi pada daerah palatal kiri, yang dilaporkan ke Departemen Bedah Mulut dan
Maksilofasial, Dr. Syamala Reddy Dental College and Hospital. Lesi ini umumnya tanpa gejala,
diagnosis yang benar pada lesi ini dengan menggunakan pemeriksaan radiografi penting dilakukan
disertai perawatan yang tepat.
Kata kunci: Pengambilan keputusan klinis, nyeri, kehilangan gigi

PENDAHULUAN
Odontoma merupakan tumor menyerupai struktur gigi. Ketika jaringan odontogenik
campuran yang merupakan gabungan dari

komponen epitel dan mesenkim yang

mengalami

diferensiasi fungsional dan membentuk enamel dan dentin. Lesi merupakan lesi hamartomatous
daripada neoplasma yang sebenarnya. WHO mengklasifikasikan odontoma menjadi compound dan
complex odontoma. Compound odontoma adalah malformasi dimana semua jaringan gigi merupakan
struktur yang teratur sehingga lesi tersebut menyerupai struktur gigi. Ketika jaringan keras gigi
merupakan massa yang tidak teratur, tidak ada kesamaan morfologi dengan rudimentary teeth
sehingga disebut complex odontoma. Odontoma dapat terjadi pada semua usia dan lokasi manapun di
region maksilofasial. Odontoma umumnya terjadi pada tiga dekade pertama kehidupan. Gigi
permanen dipengaruhi jauh lebih sering daripada gigi desidui. Complex odontoma memiliki
kecenderungan lebih sering pada wanita (60%) dibandingkan dengan laki-laki.
Lokasi

yang

paling sering

terjadi compound odontoma adalah anterior rahang atas,

sedangkan kasus complex odontoma paling sering ditemukan pada regio posterior mandibula dan
lokasi kedua yang paling sering adalah maksila. Compound odontoma dua kali lebih sering

ditemukan jika dibandingkan complex odontomas. Sebagian besar odontoma terletak intraosseous,
tetapi terkadang dilaporkan di lokasi extraosseous seperti gingiva.
Laporan kasus ini merupakan lesi complex-compound odontoma besar pada daerah palatal
kiri, yang dilaporkan kepada ke Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Dr. Syamala Reddy
Dental College and Hospital. Laporan kasus ini, compound odontoma pada regio anterior rahang
atas, complex odontoma pada regio posterior mandibula, dan multipel odontoma pada regio maksila
dan mandibula. Meskipun lesi dengan gambaran gabungan compound dan complex

odontoma

merupakan laporan kasus yang jarang terjadi.


Dalam kasus kami, bersama dengan massa complex odontoma, kami juga menemukan dua
struktur menyerupai gigi seperti pada lesi dan karenanya ini adalah kasus langka yang merupakan
gabungan complex dan compound odontoma.

KASUS
Seorang

pasien

laki-laki

berusia 21 tahun datang ke Departemen Bedah Mulut dan

Maksilofasial dengan keluhan gigi belakang kanan atas membusuk. Pada pemeriksaan intraoral,
menunjukkan gigi molar atas kanan membusuk (16) dan kehilangan gigi molar bawah (36 dan
46). Pemeriksaan radiologi menunjukkan gambaran campuran radiopak dan radiolusen pada region
premolar hingga molar kiri atas (gambar 1 dan 2) dan dua supplemental teeth pada region
posterior kiri bawah.
Radiografi dengan tube shift technique menunjukkan lesi berada pada regio palatal. Tes
vitalitas pulpa dilakukan dan semua gigi di kuadran kiri atas yang berdekatan dengan lesi masih
vital. Riwayat medis dan riwayat keluarga tidak berkaitan.

Gambar 1. Hasil Radiografi

Diagnosis

sementara

adalah

odontoma berdasarkan

hasil

temuan

radiologis

dan

direncanakan dilakukan biopsi eksisi dibawah anestesi lokal. Karena pasien menginginkan untuk
mendapatkan giginya sejajar di masa mendatang, maka diputuskan pembedahan berkaitan dengan
impaksi supernumerary teeth rahang bawah ditangguhkan sampai pilihan perawatan ortodontik
diambil.
Prosedur Pembedahan
Anestesi lokal menggunakan Xylocaine (2%) dengan adrenalin (1: 80.000). Insisi
crevicular pada palatal dan mucoperiosteal flap dilakukan mulai dari regio kaninus kanan hingga
molar

kedua

kiri. Pembengkakan

pada

palatal

menunjukkan daerah

odontoma

tersebut.

Pengambilan tulang menggunakan carbide bur dan lesi odontoma terlihat. Setelah pengambilan
tulang, odontoma dipotong dan diambil menjadi beberapa bagian. Lesi yang terkalsifikasi padat
dan pengeboran lebih sulit dilakukan daripada tulang disekitarnya. Seluruh odontoma diangkat
beserta jaringan fibrosa yang menutupi. Pemeriksaan radiografi setelah operasi menunjukkan
seluruh lesi telah terangkat. Setelah hemostasis cukup adekuat, mucoperiosteal flap di suturing
menggunakan 3-0 silk.
Stent akrilik ditempatkan segera setelah operasi. Stent ditempatkan selama satu minggu kedepan.

Gambar 2. Exposure of the odontome

Gambar 3. Enucleated specimen

Gambar 4. Uneventful healing


Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, radiologis, dan histologi, maka diagnosanya adalah
odontoma (gambaran

gabungan compound dan complex). Follow up dilakukan berkala dan

penyembuhan luka baik.


PEMBAHASAN
Odontoma adalah tumor odontogenik campuran di mana kedua komponen epitel dan
mesenkim yang mengalami diferensiasi fungsional dan membentuk enamel dan dentin. Enamel
dan dentin diproduksi dalam pola abnormal karena sel odontogenik gagal untuk mencapai keadaan
normal pada fase morfodiferensiasi. Merupakan lesi hamartomatous bukan neoplasma sejati.
Berdasarkan klasifikasi terbaru dari WHO tahun 2005, odontoma dibagi menjadi jenis yaitu
compound odontoma dan complex odontoma. Compound odontoma mengandung struktur seperti
gigi yang kecil dan banyak, mempunyai struktur yang mirip dengan gigi kecil atau denticle, diskrit,

terbungkus di dalam fibrous connective tissue stroma (stroma jaringan ikat berserabut). Complex
odontoma terdiri dari campuran atau massa tak teratur dari jaringan keras dan lunak odontogenik
yang matang dan berdiferensiasi secara buruk sebagai email, dentin atau sementum sehingga
tidak memiliki kemiripan dengan gigi.
Etiologi odontoma tidak diketahui. Ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa trauma
lokal, infeksi, riwayat keluarga dan, mutasi genetik dicurigai menjadi faktor penyebab lesi ini.
Ada pula yang menambahkan bahwa odontoma kemungkinan diwariskan dari gen mutant
postnatal dengan kontrol genetik perkembangan gigi. Odontoma mungkin juga terkait beberapa
sindroma seperti Gardners syndrome of intestinal polyposis atau odontomadysphagia syndrome.
Sebagian besar odontoma tidak menunjukkan gejala dan ditemukan selama pemeriksaan
radiologi rutin seperti pada kasus ini. Pemeriksaan radiografi mempunyai peran penting dalam
deteksi lesi asimtomatik seperti odontoma, kista residual, dan lain-lain. Tampilan radiografi
odontoma adalah hampir selalu berupa massa radiopaque yang padat yang dikelilingi radiolusen.
Complex odontoma menunjukkan gambaran radiopak berupa massa gabungan tunggal seperti
material dan tak ada kemiripan anatomi gigi apapun, muncul sebagai massa yang buram
dikelilingi

oleh

tepi

sempit

radiolusen. Compound odontoma terlihat

sebagai

gigi yang

mengalami malformasi atau menyerupai gigi dengan ukuran dan bentuk variatif dikelilingi daerah
radiolusen yang tipis.
Secara histopatologi, odontoma terdiri dari jaringan gigi yang matur seperti enamel, dentin,
sementum, dan jaringan pulpa dan dapat dapat mempunyai struktur seperti gigi
( compound odontoma) atau tidak terstruktur (complex odontoma). Sebagian besar tumor biasanya
memiliki tampilan dentin yang normal. Terdapat kapsul fibrosa dan sejumlah kecil jaringan
fibrosa.
Lesi yang disajikan pada kasus ini merupakan massa complex odontoma dan dua lesi
menyerupai struktur gigi (menyerupai mahkota premolar), sementara yang lain menyerupai mahkota
molar yang dapat dilihat melalui radiograf. Hal ini menunjukkan bahwa epitel dari lesi ini
memiliki potensi untuk membentuk struktur menyerupai gigi (compound odontoma) dan komplek
massa jaringan gigi (compound odontoma).
Penatalaksanaan

odontoma

dilakukan dengan enukleasi dan kuretase. Lesi complex

odontoma besar harus dipotong menjadi beberapa segmen sebelum diangkat, dengan tujuan untuk
mengurangi kehilangan tulang yang sehat dan mencegah terjadinya fraktur tulang.

Odontoma

merupakan tumor jinak dan berkapsul sehingga eksisi dapat dilakukan dengan sempurna
sehinggaa mempunyai prognosis yang baik karena tidak menunjukkan adanya kekambuhan.
Deteksi tepat waktu dan enukleasi odontoma yang diikuti oleh kuretase dianjurkan untuk mencegah
komplikasi seperti kehilangan gigi, perubahan kistik, ekspansi tulang, dan tertunda erupsi gigi

permanen.
KESIMPULAN
Odontoma adalah tumor campuran (mixed tumor) odontogenik yang berasal dari epitel
dan mesenkim dan kadang juga dimasukkan
keputusan klinik

dan

pengobatan

(biasanya

dalam

malformasi hamartomatous. Pengambilan

dengan enukleasi

bedah)

diperlukan

segera

dilakukan. Meskipun kekambuhan sangat jarang terjadi, namun pengambilan epitel yang melekat
pada lapisan lesi tersebut harus benar-benar terangkat sehingga tidak menimbulkan potensi untuk
berkembang biak lagi.

REFERENSI
1. Regezi JA, Sciubba JJ, Jordan RC. Odontogenic Tumors. In, Penny Rudolf (ed). Oral
Pathology, Clinical Pathologic Correlations, 4th edition. Missouri, Saunders 2003; 286-8.
2. Neville BW, Damm DD, Allen C, Bouquot JE. Odontogenic Tumors. In, Ellen Forest. Oral
and Maxillofacial Pathology, 2nd edition. Philadelphia, Saunders 2002;
3. John J B, John R R, Punithavathy I, Elango I. Compound Odontoma Associated with
Maxillary Primary Tooth A Case Report. Journal of Indian academy of dental specialists
1:49-51
4. Serra-Serra G, Berini -Aytes L, Gay-Escoda C. Erupted odontomas - A report of three cases
and review of the literature. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2009.6:299-303.
5. Cohen DM, Bhattacharyya I. Ameloblastic fibroma, ameloblastic fibro-odontoma,

and

odontoma. Oral Maxillofac Surg Clin North Am 2004; 16:37584.


6. Sharma U, Sharma R, Gulati A, Yadav R. Gauba K. Compound composite odontoma with
unusual number of denticles A rare entity. The Saudi Dental Journal 2010; 22:145-9.
7. Shafer WG, Hine MK, Levy BM. Odontogenic Tumors. In, Rajendra R (ed). A textbook of
oral pathology, 6th edition. Noida, Elsevier, 2009; 287-90.
8. Fonseca RJ. Odontogenic Tumors Surgical pathology and Management. In, Williams TP,
Stewart JC. Oral and Maxillofacial Surgery. Philadelphia, Saunders, 2000; 1:379-81.
9. Marx RE, Stern D. Odontogenic Tumors - Hamartomas and Neoplasms. In, Bywaters L. Oral
And Maxillofacial Pathology. Hong Kong, Quintessence Publishing Co, Inc, 2003; 1:637-8.