Anda di halaman 1dari 11

0

FALSAFAH KEPERAWATAN DALAM KETERKAITANNYA


DENGAN PARADIGMA DAN TEORI KEPERAWATAN
Falsafah keperawatan merupakan pandangan dasar atau keyakinan dasar
tentang hakikat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar
dalam pelaksanaan praktik keperawatan. Manusia dalam falsafah keperawatan
dipandang sebagai makhluk yang holistik. Sedangkan esensi keperawatan didalam
falsafah keperawatan, meliputi beberapa komponen antara lain :
1. Pemberian pelayanan keperawatan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan
manusia secara komprehensif. Apabila manusia menjadi individu yang
membutuhkan perawatan, dalam hal ini menjadi klien maka akan memiliki suatu
hak untuk mendapatkan pelayanan keperawatan yang layak.
2. Lebih memfokuskan pada aspek kemanusiaan dalam memberikan pelayanan
keperawatan sehingga hakikat manusia menjadi unsur yang sangat penting.
Pelayanan keperawatan terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan secara
umum.
Falsafah keperawatan menyatakan tentang konsep-konsep utama dari
discipline ilmu keperawatan, meletakkan kepercayaan tentang apa itu keperawatan,
bagaimana berpikir dan melakukan keperawatan. Falsafah keperawatan merupakan
pandangan dasar tentang hakekat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan
kerangka dasar dalam praktek keperawatan. Falsafah keperawatan meyakini bahwa
manusia adalah makhluk yang holistik dan memiliki integritas yang tidak dapat
dipisahkan. Manusia dalam falsafah keperawatan juga diyakini sebagai sistem yang
terbuka memiliki pertumbuhan yang tidak terbatas dan makhluk yang unik
mempunyai kemampuan untuk berespon secara positif atau negatif karena perbedaan
budaya, agama, sosial, ekonomi dan pengalaman yang relatif.
Berikut pengertian falsafah keperawatan dari beberapa pakar keperawatan :
a. Florence Nightingale
Kondisi yang dalami korban perang sangat mempengaruhi falsafah keperawatan
menurut Florence Nightingale. Filosofi beliau sangat dipengaruhi oleh pandangan
tentang interaksi klien dan lingkungannya yaitu lingkungan fisik, lingkungan
psikologis dan lingkungan sosial.
b. Betty Neuman

1
Neuman menggunakan pendekatan manusia utuh dengan memasukkan konsep
holistik, pendekatan sistem terbuka dan konsep stresor.
Tiga point yang pandang oleh Neuman dalam aplikasi rencana keperawatan yaitu :
1) Manusia
Neuman memandang manusia sebagain individu multi dimensial, utuh/holistik,
dan system yang dinamis, yang berhubungan dengan; fisiologi, psikologi,
sosiokultural, developmental dan spiritual.
2) Kesehatan
Neuman memandang konsep sehat dengan melihat individu dari setiap bagian
atau subvariabel dari individu. Sehat menurut Neuman merupakan suatu kondisi
yang harmoni pada setiap bagian atau subvariabel. Individu selalu berinteraksi
dengan lingkungan secara konstan, jika berada pada kondisi dinamika
keseimbangan maka individu dapat berada pada kondisi sehat.
3) Lingkungan
Neuman memandang lingkungan sebagai suatu kekuatan internal dan eksternal
yang ada disekitar individu dan terjadi interaksi setiap waktu. Kekuatan ini
meliputi stressor interpersonal, intrapersonal dan ekstrapersonal yang dapat
mempengaruhi pertahanan dan stabilitas system manusia
c. Kari Martinsen
Kari martinsen merupakan seorang tokoh keperawatan yang mengajukan falsafah
keperawatan berdasarkan pemahaman tentang caring.
d. Patricia Benners
Patricia Benners mencetuskan tentang keutamaan caring.
Pernyataan dalam falsafah menyebutkan konsep-konsep utama dari disipline
berupa keyakinan yang terus menerus tentang apakah keperawatan itu, bagaimana
berpikir tentang apa yang dilakukan oleh perawatan , hubungan dalam keperawatan
dan lingkungan keperawatan (Parker, 2005). Pernyataan Filosofi juga memberikan
panduan dalam menjelaskan issue dan mengklarifikasi prioritas discipline. Perawat
menggunakan pernyataan filosofi untuk mengkaji seberapa jauh kapasitas diantara
individu, professional, organisasi dan keyakinan social serta nilai-nilai.
Filosofi bersifat abstrak yang menunjukkan keyakinan dasar disiplin
keperawatan dalam memandang manusia sebagai makhluk biologis dan respon
manusia dalam keadaan sehat dan sakit, serta berfokus kepada respons mereka

2
terhadap suatu situasi. Folosofi belum dapat diaplikasikan langsung dalam praktik
keperawatan, sehingga perlu dijabarkan dan dibuat dalam bentuk yang lebih konkrit
(less abstrac) yang dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk paradigma keperawatan.
Berdasarkan

falsafah

kemudian

ilmuan

keperawatan

mengembangkan

paradigma yang merupakan kesepakaan bersama antar ilmuan keperawatan tentang


konsep-konsep utama yang mendasari perkembangan discipline ilmu keperawatan dan
praktik keperawatan. Paradigma keperawatan adalah suatu cara pandang yang
mendasar atau cara melihat, memikirkan, memberi makna, menyikapi dan memilih
tindakan terhadap fenomena yang ada dalam keperawatan.
Paradigma keperawatan mencakup 4 konsep utama yaitu manusia, keperawatan,
kondisi sehat/kesehatan dan lingkungan. Keperawatan memandang manusia sebagai
inti dari keperawatan, merupakan makhluk yang unik merupakan system terbuka
secara terus menerus bertukar energi dengan lingkungan. Manusia merupakan sistem
adaptif, berinteraksi dengan lingkungan dan bergerak menuju adaptasi dan sehat.
Manusia memiliki kebutuhan yaitu segala sesuatu yang diperlukan untuk kesehatan
dan kesejahteraannya.

Komponen

kebutuhan meliputi

kebutuhan fisiologis,

psikologis, sosial dan spiritual. Konsep sehat dan kesehatan dalam paradigm
keperawatan adalah kondisi yang mampu mempertahankan individu untuk berfungsi
secara konsiten, stabil dan seimbang dalam menjalani kehidupan sehari-hari melalui
interaksi positif dengan lingkungan.
Konsep lingkungan mencakup semua aspek keadaan, pengaruh dan kondisi
yang mengelilingi dan mempengaruhi individu. Lingkungan dapat meningkatkan dan
mengganggu kesehatan individu. Lingkungan secara konstan mempunyai pengaruh
terhadap perubahan internal dan eksternal yang terjadi pada manusia. Komponen
internal meliputi faktor genetik, struktur antomis, fisiologis, psikologis, nilai dan
keyakinan sedangkan komponen eksternal meliputi keadaan fisik, demografi, ekologi,
hubungan interpersonal,dan nilai social budaya dan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari. Keperawatan merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada individu
baik sehat maupun sakit, yang dibutuhkan sampai pulih kembali atau menjelang ajal,
dimana individu tidak mampu melaksanakan kegiatan kehidupannya akibat
ketidakmampuan, ketidakmauan dan ketidaktahuan.
Selanjutnya keempat konsep yang telah disepakati sebagai paradigm
keperawatan dijabarkan oleh para ahli keperawatan dalam bentuk model konseptual
keperawatan. Model Konsuptual Keperawatan adalah konsep-konsep, definisi dan

3
preposisi yang menunjukkan hubungan yang spesifik untuk membentuk suatu
perspektif terorganisir dalam melihat fenomena spesifik pada disipline keperawatan.
Model konseptual memberikan cara-cara yang berbeda dalam berpikir tentang
keperawatan. Model konseptual tersusun atas ide-ide (konsep-konsep) abstrak, umum,
dan proposisi yang menspesifikasi hubungan antara keduanya. Model konseptual
sangat penting sebagai landasan perkembangan disiplin keperawatan. Model
konseptual merupakan suatu kerangka kerja konseptual, sistem atau skema yang
menerangkan tentang serangkaian ide global tentang keterlibatan individu, kelompok,
situasi, atau kejadian, terhadap suatu ilmu dan pengembangannya. Fenomena ini
diklasifikasikan menjadi konsep, terdiri dari kata-kata yang mengandung citra mental
dari sesuatu yang akan dijelaskan.
Model konseptual keperawatan antara beberapa ahli terihat berbeda sesuai
dengan penekanan mereka terhadap hubungan antar keempat konsep utama dalam
keperawatan. Sebagai contoh Florence Nightingale lebih menekankan interaksi antara
keperawatan

dengan

lingkungan,

dimana

perawat

berperan

memodifikasi lingkungan untuk mencapai kesehatan yang optimal.

secara

dalam

Berdasarkan

pemehaman ini, maka model konseptual memberikan arah dalam praktik


keperawatan, namun demikian model konseptual lebih abstrak dibandingkan dengan
teori keperawatan. Meskipun model konseptual menampilkan konsep-konsep dan
definisi-definisi terkait dalam melihat fenomena keperawatan, namun belum
menjelaskan outcome, sehingga perlu dikembangkan lebih konkrit dalam bentuk teori
keperawatan.
Fawcett (2000) menjelaskan bahwa sebuah model konseptual menetapkan
sumber kerangka yang jelas bagi pengikutnya, yang menjelaskan kepada mereka
bagaimana mengobservasi dan mengartikan ketertarikan fenomena terhadap suatu
disiplin. Model keperawatan Grand theory sangat komprehensif dan meliputi
perspektif dari setiap konsep paradigma yaitu : manusia, lingkungan, kesehatan dan
keperawatan (Fawcett, 2000; Tomey & Alligood, 2002). Setiap model konseptual
keperawatan mempunyai Grand theory dimana teori tersebut berasal dari modelnya
masing-masing. Salah satu contoh Grand theory yang berasal dari konseptual model
keperawatan adalah model adaptasi Roy. Roy mengatakan bahwa manusia merupakan
sistem yang adaptif yang diambil dari model adaptasi.
Grand theory dari beberapa pakar keperawatan kemudian mendasari
munculnya beberapa teori keperawatan dan teori middle range dalam struktur ilmu

4
keperawatan. Teori keperawatan (nursing theory) lebih kongkrit dibandingkan dengan
Grand theory tetapi tidak sespesifik teori middle range. Beberapa teori mungkin lebih
spesifik untuk sebagian praktek keperawatan. Teori middle range memiliki fokus yang
lebih luas dan lebih kongkrit daripada Grand theory atau nursing theory (Alligood
2002). Teori pada level ini lebih fokus dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan
praktisi keperawatan yang spesifik seperti spesifik untuk kelompok usia klien, kondisi
keluarga, tempat tinggal klien, kondisi kesehatan, dan peran perawat (alligood, 2002).
Berdasarkan hal ini, maka teori middle range lebih spesifik kepada situasi
keperawatan.
Tabel berikut menunjukkan beberapa pakar keperawatan yang berkontribusi
pada setiap level stuktur ilmu keperawatan :
Tabel 3.1 : Pembagian-pembagian teori berdasarkan tipe karya teoritis.
Filosofi keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.

Nightingale
Watson
Benner
Martinsen
Eriksson

Teori keperawatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Orlando
Pender
Leininger
Newman
Parse
Erickson, Tomlin dan Swain
Husted & Husted

Model Konseptual dan Grand Theory


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Levine
Rogers
Orem
King
Neuman
Roy
Johnson
Boykin & Schoenhofer
Teori Middle Range

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Mercer
Mishel
Reed
Wiener & Dodd
Eakes, Burke & Hainsworth
Barker
Kolcaba
Beck
Swanson
Ruland & Moore

Teori adalah sekumpulan konsep, definisi dan preposisi yang menunjukkan


suatu gambaran yang sistematis dari fenomena dengan mendesain hubungan,
memprediksi yang spesifik diantara konsep-konsep dengan tujuan menggambarkan,
menjelaskan, memprediksi dan atau mengontrol fenomena (Chinn & Jacobs, 1987).
Teori keperawatan didefinisikan sebagai konseptualisasi dari beberapa aspek realita
(penemuan) yang menyangkut keperawatan. Konseptualisasi bertujuan untuk
mengambarkan, menjelaskan dan memprediksi asuhan keperawatan. Teori dalam hal

5
ini bersifat lebih konkrit, bersinggungan langsung dengan dunia empirik. Teori
memperjelas gambaran tentang fenomena dalam praktik keperawatan sekaligus
memberikan prediksi terhadap outcome praktik keperawatan.
Dalam rangka mengembangkan teori keperawatan sebagai bagian dari struktur
pengetahuan keperawatan para peneliti dibidang keperawatan melakukan berbagai
kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian ini menerapkan metode ilmiah (scientific
method) dalam mencari kebenaran ilmiah untuk mengembangkan ilmu dan teori
keperawatan. Berikut skema langkah-langkah metode ilmiah dalam mengembangkan
teori keperawatan :
Rumusan
masalah

Khasanah
pengetahuan
ilmiah

Prakmatisme

Koherensi
Deduktif

Penyusunan
kerangka
berpikir

Rumusan
hipotesis
Korespondensi
induktif

Diteri
ma

Pengujian
hipotesis

Ditolak

6
Proses metode ilmiah dimulai pada saat perawat mengamati fenomena dalam
praktik keperawatan. Pengamatan ini mulai dilakukan ketika mempunyai perhatian
terhadap suatu fenomena. Proses berpikir mulai muncul ketika perawat menemukan
masalah dalam menerapkan teori keperawatan. Karena masalah munculnya dari dunia
empirik, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan objek dalam dunia
empirik. Dalam menghadapi masalah perawat memunculkan reaksi yang berbedabeda sesuai dengan cara berpikirnya. Ilmu keperawatan mengatasi masalah atau
mencari jawaban atas permasalahan pada praktik keperawatan. Ilmu dimulai dengan
fakta dan kemudian akan diakhiri dengan penemuan fakta pula. Fakta akan
menghasilkan suatu teori yang menjelaskan tentang gejala yang terdapat dalam dunia
nyata dan memberikan prediksi terhadap permasalahan tersebut.
Teori keperawatan merupakan abstraksi intelektual yang merupakan gabungan
antara pendekatan rasional dengan pengalaman empirik perawat dalam praktik
keperawatan. Dalam hal ini teori merupakan suatu penjelasan yang bersifat rasional
yang sesuai dengan objek yang dijelaskan. Dikatakan sebagai teori keperawatan jika
telah didukung oleh fakta empirik di bidang keperawatan. Metode ilmiah yang
digunakan oleh ilmuan keperawatan sebagai prosedur untuk mengembangkan ilmu
juga didukung oleh cara lain yaitu cara estetik, cara personal knowledge dan cara
etika. Berdasarkan penemuan empirik, disertai sentuhan estetika, pengalaman pribadi
dan etika maka teor keperawatan akan semakin komprehensif.
Berikut ini langkah-langkah dalam metode ilmiah sebagai suatu metode dalam filsafat
ilmu :
a. Rumusan masalah
Langkah pertama dalam metode ilmiah adalah merumuskan masalah. Rumusan
ini mengandung pertanyaan mengenai objek empiris dan faktor-faktor yang
terkait di dalamnya. Rumusan masalah didapat melalui pengamatan terhadap
b.

objek empiris yang menjadi fokus pengembangan ilmu.


Menentukan khasanah pengetahuan ilmiah
Setelah merumuskan masalah, ilmuan mengumpulkan informasi-informasi ilmiah
dari berbagai sumber literatur terkait seperti jurnal ilmiah dan pendapat pakar.
Informasi ilmiah diperlukan untuk memperjelas masalah dan memberika
gambaran secara terperinci tentang permasalahan ditinjau dari teori yang ada.

c.

Menyusun kerangka berpikir


Pada tahap ini ilmuan memberikan argumentasinya berdasarkan khasanah
pengetahuan ilmiah yang telah tergali. Argumentasi ini dikemukakan untuk

7
menjelaskan hubungan antara berbagai faktor terkait dengan masalah.
Argumentasi ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang
telah teruji kebenarannya tanpa mengabaikan faktor empiristerkait dengan
d.

masalah.
Menyusun hipotesis
Kesimpulandari kerangka berpikir selanjutnya dijadikan dasar oleh ilmuan untuk
merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap
masalah yang dirumuskan sebelumnya. Hipotesis bergunan untuk memandu

e.

ilmuan dalam melakukan investigasi fakta-fakta empiris.


Menguji hipotesis
Pada tahap ini ilmuan melakukan invertigasi terhadap fakta-fakta empiris untuk
membuktikan hipotesis yang diajukan. Setelah fakta-fakta berupa data terkumpul,
ilmuan melakukan analisis terhadap fakta tersebut menggunakan uji statistik yang

f.

relevan.
Menarik kesimpulan
Tahap selanjutnya dalam metode ilmiah adalah menarik kesimpulan dari uji
hipotesis. Kesimpulan dibuat berupa suatu keputusan menolak atau menerima
hipotesis. Jika terdapat fakta-fakta empiris yang cukup untuk mendukung
hipotesis, maka hipotesis diterima. Sebaliknya jika tidak cukup data empirik yang
mendukung pernyataan hipotess, maka hipotesis ditolak. Hipoesis yang diterima
merupakan bagian dari pengetahuan ilmiah (ilmu penetahuan) karena telah
memenuhi persyaratan keilmuan yaitu terdapat penjelasan yang konsisten dengan
pengetahuan ilmiah sebelumnya dan telah teruji kebenarannya secara empirik.
Kebenaran ini sifatnya pragmatis yang artinya sampai saat ini belum ada fakta
Falsafah
Abstrak
yang menyatakan hal sebaliknya.
Pengetahuann

Proses pikir abstrak


ilmu
teori
Skema berikut ini menjelaskan pengembangan ilmu keperawatan mulai dari
falsafah yang bersifat abstrak sampai dengan penerapan teori keperawatan secara
Introspeksi
konkrit dalam praktik keperawatan.
Intiusi
Pembenaran
(reasoning)
Uji relialitas
(penelitian)

Dunia Empiris
(Praktik Keperawatan

Konkrit

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ilmu keperawatan berkembang


berawal dari pemahaman tentang falsafah keperawatan yang sifatnya abstrak
kemudian berkembang paradigma keperawatan sebagai suatu cara pandang
keperawatan terhadap fenomena, model konseptual keperawatan sampai dengan teori
keperawatan yang lebih konkrit menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi
fenomena keperawatan.
Praktik keperawatan seharusnya berlandaskan teori-teori keperawatan,
demikian pula teroi keperawatan harus dikembangkan dan dirumuskan berdasarkan
prinsip logika dan hasil penemuan empirik yang dilaksankan dengan metode ilmiah.
Keterkaitan antara praktik keperawatan dalam dunia empirik dan metode ilmiah
dalam pengembangan teori keperawatan akan menambah khasanah ilmu keperawatan.
Berkembangnya ilmu keperawatan dari pengalaman dunia empirik dan metode ilmiah
kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi pengetahuan keperawatan secara
umum dan falsafah keperawatan yang menjadi dasar pengembangan ilmu
keperawatan. Berdasarkan pemahaman ini, maka tidak menutup kemungkinan adanya
perkembangan

dan

perubahan

teori

keperawatan,

sampai

dengan

falsafah

keperawatan, jika memang ditemukan adanya perkembangan baru dari dunia empirik.

9
Dari skema diatas pengembangan ilmu keperawatan haus dilakukan secara kontinyu.
Hasil temuan dibidang keperawatan semestinya dijadikan dasar untuk praktik
keperawatan sekaligus untuk mengembangkan ilmu keperawatan dan body of
knowledge dalam bidang keperawatan.

10
DAFTAR PUSTAKA
Aligood. M.R dan Tomey. A.N., 2006, Nursing Theorists and Their Work, 6th Edition,
Mosby Inc, USA
Aligood. M.R dan Tomey. A.N., 2006, Nursing Theory : Utilization & Application, 3th
editon, Mosby Inc, USA
Fawcett. J., 2005, Contemporary Nursing Knowledge: Analisys and Evaluation of
Nursing Models and Theorist, 2th edition, FA Davis Company, Philadelphia
Ihsan. F., 2010, Filsafat Ilmu, Rineka Cipta, Jakarta
Mustansyir. R., Munir. M., 2010, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Meleis. A.I., 2007, Theoretical Nursing : Development and Progress, 4th edition,
Lippincott Williams & Wilkins, USA
Nurahmah, 2000, Falsafah, Teori dan Paradigma Keperawatan, Makalah tidak
dipublikasikan
Parker. M.E., 2005, Nursing Theories and Nursing Practice, 2th edition, F.A. Davis
Company, USA