Anda di halaman 1dari 201
LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH Susunan Anggota Kelompok Kerja: Pengarah : Deputi Bidang

LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH Susunan Anggota Kelompok Kerja: Pengarah : Deputi Bidang

KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH

Susunan Anggota Kelompok Kerja:

Pengarah

:

Deputi Bidang Pengembangan Kebijakan

Penanggungjawab

:

Kepariwisataan Asisten Deputi Litbang Kebijakan Kepariwisataan

Narasumber

:

Lokot Ahmad Enda

Pembina Peneliti

:

Roby Ardiwidjaja

Ketua

:

Dini Andriani

Wakil Ketua

:

Kemal Akbar Khalikal

Sekretaris

:

Lestya Aqmarina

Bendahara

:

Titi Nurhayati

Anggota

:

1.

Ika Kusuma Permanasari

 

2.

Robby Binarwan

3.

Desty Murniati

4.

Rakhman Priyatmoko

5.

Woro Swesti

6.

Rahma Prihatini

7.

Nuryadin

8.

Ajeng Puspita Tiara Anggraini

ASISTEN DEPUTI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN KEPARIWISATAAN DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN KEMENTERIAN PARIWISATA

2015

i

KATA PENGANTAR

Saat ini konsep syariah telah menjadi tren dalam ekonomi global, mulai dari produk makanan dan minuman, keuangan, hingga gaya hidup. Sebagai tren baru gaya hidup, maka banyak negara yang mulai memperkenalkan produk wisatanya dengan konsep halal dan Islami. Bahkan negara seperti Jepang, Australia, Thailand, Selandia Baru, dan sebagainya yang notabene bukan negara mayoritas berpenduduk muslim turut membuat produk wisata syariah. Terminologi wisata syariah masih belum memiliki batasan yang jelas. Dan masih menggunakan beberapa nama yang cukup beragam diantaranya Islamic Tourism, Halal Friendly Tourism Destination, Halal Travel, Muslim-Friendly Travel Destinations, halal lifestyle, dan lain-lain. Bahkan di Indonesia sendiri batasan konsep pariwisata syariah juga belum jelas. Menurut beberapa pakar pariwisata wisata syariah merupakan suatu produk pelengkap dan tidak menghilangkan jenis pariwisata konvensional. Sebagai cara baru untuk mengembangkan pariwisata Indonesia yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami tanpa menghilangkan keunikan dan orisinalitas daerah. Penelitian ini mengidentifikasi kondisi wisata syariah di Indonesia dengan mengambil studi kasus di Aceh dan Manado. Kedua lokasi tersebut dipilih sebagai perbandingan konsep yang tepat untuk pengembangan wisata syariah dengan karakteristik demografi daerah yang berbeda. Laporan akhir ini masih jauh dari kata sempurna, setidaknya masih memerlukan saran dan kiritik yang membangun guna perbaikan ke depan. Namun demikian penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah dan referensi bagi penyusun kebijakan mengenai pengembangan wisata syariah di Indonesia.

November 2015

Asdep Litbang Kebijakan Kepariwisataan

Jakarta,

Abdul Kadir

i

ABSTRAK

Sektor ekonomi berbasis Islam akhir-akhir ini telah meningkat secara signifikan, yaitu kuliner, keuangan Islam, industri asuransi, fesyen, kosmetik, farmasi, hiburan, dan pariwisata. Pariwisata Syariah dipandang sebagai cara baru untuk mengembangkan pariwisata Indonesia yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami. Wisata syariah tidak diartikan sebagai suatu wisata ke kuburan (ziarah) ataupun ke masjid, melainkan wisata yang di dalamnya berasal dari alam, budaya, ataupun buatan yang dibingkai dengan nilai-nilai Islam. Wisata syariah tidak hanya melulu terkait dengan nilai-nilai agama, tetapi lebih mengarah pada lifestyle. Kondisi pariwisata syariah di Indonesia masih belum maksimal. Padahal jika digarap lebih serius, potensi pengembangan wisata syariah di Indonesia sangat besar. Belum banyak biro perjalanan yang mengemas perjalanan inbound dengan paket halal travel, tetapi lebih banyak pengemasan perjalanan outbound seperti umrah dan haji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan potensi destinasi wisata syariah di Indonesia, menganalisis kesiapan masing-masing destinasi wisata melalui persepsi pelaku usaha wisata dan wisatawan dalam mengembangkan wisata syariah di Indonesia, dan menghasilkan strategi yang tepat untuk mengembangkan wisata syariah sesuai karakteristik destinasi wisata di Indonesia. Pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui FGD, wawancara mendalam dan penyebaran kuesioner terhadap 100 orang wisatawan di Aceh dan Manado. Berdasarkan hasil kajian ini, Aceh sudah cukup optimal mencanangkan wisata syariah dalam produk wisatanya namun masih memerlukan beberapa perbaikan atau strategi dalam menggaet wisman Malaysia sebagai market utamanya. Sementara, Manado ditemukan belum optimal atau belum siap dalam pengembangan wisata syariah dan masih cukup banyak yang harus disiapkan jika akan mengembangkan wisata syariah.

Kata kunci: wisata syariah, pengembangan wisata

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

 

o

KATA PENGANTAR

i

ABSTRAK

ii

DAFTAR ISI

iii

1.

PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Identifikasi dan Perumusan Masalah

6

1.3. Ruang Lingkup/Batasan Masalah Penelitian

9

1.4. Tujuan Penelitian

10

1.5. Manfaat Penelitian…………………………………………

10

1.6. Strategi Pencapaian Keluaran…………………………………………………….

10

2.

RERANGKA PEMIKIRAN ANALISIS…………………………

12

2.1. Landasan Teoritis/Tinjauan Pustaka…

……………………………

 

12

2.1.1.

Definisi Wisata Syariah…………………………

………

12

……… 2.1.3. Kondisi Wisata Syariah di Indonesia

2.1.2.

Kondisi Wisata Syariah Dunia

……………………………

15

19

2.2. Penelitian Terdahulu……………………………………………

 

22

2.3. Rerangka Berpikir Pemecahan Masalah……………………………………

27

3.

METODE PENELITIAN……

…………………………………

………………….….

28

3.1. Pendekatan Penelitian……

………………………………………………………

28

3.2. Metode Pengolahan Data……………………………………

…………………

28

3.3. Jenis dan Sumber Data………………………………

…………

28

3.4. Penentuan Variabel dan Definisi Operasional Variabel (Operasionalisasi Konsep)…

29

3.5. Teknik Pengambilan Sampel…………

……………………………

31

3.6. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data…

…………………….………

33

3.7. Teknik Analisis Data…………………………………….…

………………………

34

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH ACEH………………………………………………………………………………

35

4.1. Kondisi Umum Pariwisata di Aceh………………………………………………….

35

4.1.1. Potensi Daya Tarik Wisata Kota banda Aceh………………………

35

4.1.2. Potensi Amenitas.……………………………………………………………….

40

4.1.3. Potensi Aksesibilitas…………………………………………………………

41

4.1.4. Potensi Market Wisatawan………………………………………………….

44

4.1.5. Dampak Pariwisata di Banda Aceh………………………………………

47

4.1.6. Kebijakan Pemerintah Daerah Banda Aceh Terkait

Pariwisata…………………………………………………………………………. 49

4.2. Hasil Penelitian Aceh……………………………………………………………………. 58

58

4.2.1. Profil Demografi/Sosio Ekonomi Responden……………………….

iii

4.2.2. Persepsi Wisatawan Terhadap Kesiaan Destinasi Wisata Syariah di Aceh…………………………………………………………………

60

4.2.3. Hasil FGD dan Wawancara Pengembangan Wisata Syariah di Aceh….

95

4.2.4. Analisis Hasil Penelitian di Aceh (Strategi Kebijakan/SWOT)

99

5. HASIL DAN PEMBAHASAN KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH MANADO………………………………………………………………………….

102

5.1. Kondisi Umum Pariwisata di Manado……………………………………………

102

5.1.1. Potensi Daya Tarik Wisata Kota Manado……………………………

102

5.1.2. Potensi Amenitas………………………………………………………………

108

5.1.3. Potensi Aksesibilitas…………………………………………………………

110

5.1.4. Potensi Market Wisman……………………………………………………… 111

5.1.5. Dampak Pariwisata……………………………………………………………

112

5.1.6. Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Pariwisata………………

114

5.2. Hasil Penelitian Manado………………………………………………………………

115

5.2.1. Profil Demografi/Sosio Ekonomi Responden……………………… 115

5.2.2. Persepsi Wisatawan Terhadap Kesiapan Destinasi Wisata Syariah Manado…………………………………………………………………. 118

5.2.3. Hasil Focus Group Discussion (FGD) dan Wawancara Kajian

Pengembangan Wisata Syariah di Manado…………

……………

155

5.2.4. Analisis hasil Penelitian (Strategi Kebijakan/SWOT)…

……

161

6. PENUTUP………………………………………………………………………………………

163

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………

175

LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………

180

Lampiran 1 Pedoman Wawancara…………………………………………………………….

181

Lampiran 2 Pedoman FGD …………………………………………………………………

188

Lampiran 3 Kuesioner …………………………………………………………………………

191

Lampiran 4 Foto Kegiatan

194

iv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ekonomi Islam adalah bagian penting dari ekonomi global saat ini. Ada tujuh sektor ekonomi Islam yang telah meningkat secara signifikan, yaitu kuliner, keuangan Islam, industri asuransi, fesyen, kosmetik, farmasi, hiburan, dan pariwisata. Dimana keseluruhan sektor itu mengusung konsep halal dalam setiap produknya. Terdapat beberapa hal yang menjadi motor

pertumbuhan pasar muslim global, yaitu demografi pasar muslim yang berusia muda dan berjumlah besar, pesatnya pertumbuhan ekonomi negara mayoritas muslim, nilai Islam mendorong tumbuhnya bisnis dan gaya hidup Islami, pertumbuhan transaksi perdagangan antara negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI), partisipasi perusahaan multinasional, teknologi dan keterhubungan/konektivitas antar negara.

teknologi dan keterhubungan/konektivitas antar negara. Gambar 1.1. Evolution of the Halal Industry Sumber:

Gambar 1.1. Evolution of the Halal Industry

Sumber: CrescentRating dalam Sofyan (2012), hal. 4

Dahulu produk halal yang dibayangkan hanya produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetika yang tidak mengandung alkohol atau bahan kimia yang mengandung unsur babi, darah dan bangkai. Namun sekarang telah terjadi evolusi dalam industri halal hingga ke produk keuangan (seperti perbankan, asuransi, dan lain-lain) hingga ke produk lifestyle (travel, hospitalitas, rekreasi, dan perawatan kesehatan). Sektor ekonomi Islam yang telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam produk lifestyle di sektor pariwisata adalah pariwisata syariah. Sebagai industri tanpa asap, pariwisata terus mengalami perkembangan yang luar biasa dari yang bersifat konvensional (massal, hiburan, dan hanya

- 1

-

sightseeing) menjadi mengarah pada pemenuhan gaya hidup (lifestyle). Trend wisata syariah sebagai salah satu pemenuhan gaya hidup saat ini telah menjadi kekuatan pariwisata dunia yang mulai berkembang pesat. Di beberapa negara di dunia, terminologi wisata syariah menggunakan beberapa nama yang cukup beragam diantaranya Islamic Tourism, Halal Friendly Tourism Destination, Halal Travel, Muslim-Friendly Travel Destinations, halal lifestyle, dan lain-lain. Pariwisata Syariah dipandang sebagai cara baru untuk mengembangkan pariwisata Indonesia yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami. Selama ini wisata syariah dipersepsikan sebagai suatu wisata ke kuburan (ziarah) ataupun ke masjid. Padahal, wisata syariah tidak diartikan seperti itu, melainkan wisata yang di dalamnya berasal dari alam, budaya, ataupun buatan yang dibingkai dengan nilai-nilai Islam. Label wisata syariah di Indonesia sendiri kurang mendapat persetujuan dari Menteri Pariwisata, Arief Yahya (2015) karena dinilai terkesan eksklusif dan pelarangan berbasis agama tertentu. Sedangkan penggunaan istilah lain seperti Islamic tourism (wisata islam), halal tourism (wisata halal), wisata keluarga dan religi juga dinilai belum sesuai. Pada suatu forum diskusi berkelompok dengan tema Halal Tourism dan Lifestyle 2015 yang dilaksanakan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di NTB, nama “wisata syariah” menurut Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya (2015), dinilai tidak terlalu menjual di pasar wisata Indonesia. Nama yang sempat ditawarkan oleh Menteri Pariwisata adalah universal tourism (UT), karena di dalamnya melekat ketentuan dan nilai-nilai syariah dalam muatan paket dan kemasan wisata syariah sehingga bisa digunakan oleh wisatawan lain selain wisatawan muslim. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh salah satu anggota Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Sapta Nirwandar, bahwa penggunaan branding wisata syariah masih debatable dan penggunaannya kerap diidentikkan dengan radikalisme. Sehingga perlu adanya perumusan konsep branding yang tepat untuk pengembangan jenis wisata syariah di Indonesia. Perkembangan konsep wisata syariah berawal dari adanya jenis wisata jiarah dan religi (pilgrims tourism/spiritual tourism). Dimana pada tahun 1967 telah dilaksanakan konferensi di Cordoba, Spanyol oleh World Tourism Organization (UNWTO) dengan judul “Tourism and Religions: A Contribution to the Dialogue of Cultures, Religions and Civilizations” (UNWTO, 2011). Wisata jiarah meliputi aktivitas wisata yang didasarkan atas motivasi nilai religi tertentu seperti Hindu, Budha, Kristen, Islam, dan religi lainnya. Seiring waktu, fenomena wisata tersebut tidak hanya terbatas pada jenis wisata jiarah/religi tertentu, namun berkembang ke dalam bentuk baru nilai- nilai yang bersifat universal seperti kearifan lokal, memberi manfaat bagi

- 2 -

masyarakat, dan unsur pembelajaran. Dengan demikian bukanlah hal yang mustahil jika wisatawan muslim menjadi segmen baru yang sedang berkembang di arena pariwisata dunia. Dilihat dari faktor demografi, potensi wisatawan muslim dinilai cukup besar karena secara global jumlah penduduk muslim dunia sangat besar seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Turki, dan negara- negara Timur Tengah dengan tipikal konsumen berusia muda/usia produktif, berpendidikan, dan memiliki disposable income yang besar. Menurut Pew Research Center (kelompok jajak pendapat di Amerika Serikat), bahwa jumlah penduduk muslim pada tahun 2010 sebesar 1,6 miliar atau 23 persen jumlah penduduk dunia. Jumlah penduduk muslim tersebut merupakan urutan kedua setelah umat Kristiani sebesar 2,2 miliar atau 31 persen penduduk dunia (Worldaffairsjournal, 2015). Dan diperkirakan hingga tahun 2050, penduduk muslim mencapai 2,8 miliar atau 30 persen penduduk dunia. Pada tabel berikut menunjukkan pertumbuhan penduduk muslim dunia dibandingkan dengan penduduk lainnya:

Tabel

1.1.

Jumlah

dan

Prediksi

Pertumbuhan

Penduduk

Berdasarkan

Kelompok Agama Mayoritas di Dunia Tahun 2010 2050

Kelompok Agama Mayoritas di Dunia Tahun 2010 – 2050 Sumber: The Future of World Religions: Population

Sumber: The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010 2050. PEW Research Center (Worldaffairsjournal, 2015)

Potensi pasar muslim dunia memang sangat menggiurkan bagi pelaku usaha bisnis pariwisata. Berdasarkan data Thomson Reuters yang diambil dari 55 negara dalam Global Islamic Economy Report 2014 2015, total pengeluaran muslim dunia pada tahun 2013 di sektor makanan dan minuman halal mencapai US$1,292 miliar atau sebesar 10,8 persen dari pengeluaran kebutuhan makan dan minum penduduk dunia dan akan mencapai US$2,537 miliar atau 21,2 persen dari pengeluaran kebutuhan makanan dan minuman global pada 2019. Di sektor perjalanan, pada tahun 2013 umat muslim dunia menghabiskan sekitar US$140 miliar untuk berwisata atau sekitar 7,7 persen dari pengeluaran global. Diperkirakan jumlah tersebut akan meningkat menjadi US$238 miliar atau 11,6 persen

- 3 -

pengeluaran global sektor perjalanan di tahun 2019 (di luar perjalanan haji dan umrah). Di sektor media dan rekreasi, muslim dunia menghabiskan sekitar US$185 miliar atau 7,3 persen pengeluaran global pada tahun 2013 dan diperkirakan mencapai US$301 miliar pada 2019 atau sekitar 5,2 persen dari pengeluaran global (Reuters & DinarStandard, 2014). Studi yang sama juga dilakukan oleh MasterCard dan CrescentRating (2015) dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015, bahwa pada tahun 2014 terdapat 108 juta wisatawan muslim yang merepresentasikan 10 persen dari keseluruhan industri wisata dan segmen ini memiliki nilai pengeluaran sebesar US$145 miliar. Diperkirakan pada tahun 2020 angka wisatawan muslim akan meningkat menjadi 150 juta wisatawan dan mewakili 11 persen segmen industri yang diramalkan dengan pengeluaran menjadi sebesar US$200 miliar. Berikut ini adalah 10 besar negara tujuan wisatawan muslim:

Tabel 1.2. Sepuluh Besar Negara Tujuan Organisation of Islamic Cooperation (OIC) dan Non-OIC dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015

Peringkat

Destinasi OIC

Skor

Destinasi Non-OIC

Skor

1

Malaysia (1)

83,8

Singapura (9)

65,1

2

Turki (2)

73,8

Thailand (20)

59,2

3

UEA (3)

72,1

Inggris (25)

55,0

4

Saudi Arabia (4)

71,3

Afrika Selatan (30)

51,1

5

Qatar (5)

68,2

Perancis (31)

48,2

6

Indonesia (6)

67,5

Belgia (32)

47,5

7

Oman (7)

66,7

Hongkong (33)

47,5

8

Jordania (8)

66,4

Amerika Serikat (34)

47,3

9

Moroko (9)

64,4

Spanyol (35)

46,5

10

Brunei (10)

64,3

Taiwan (36)

46,2

Keterangan: (

Sumber: CrescenRating, GMTI Report 2015

)

Ranking GMTI secara keseluruhan 2015

Berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015 dalam kelompok destinasi Organisation of Islamic Cooperation (OIC), Indonesia (skor indeks 67,5) menempati peringkat ke-enam setelah Qatar (skor indeks 68,2), Arab Saudi (skor indeks 71,3), Uni Emirat Arab/UEA (skor indeks 72,1), Turki (skor indeks 73,8), dan Malaysia (skor indeks 83,8). Sedangkan Singapura menjadi tujuan utama untuk destinasi non-OIC, dimana Thailand, Inggris, Afrika Selatan, dan Perancis juga termasuk di dalamnya. Studi GMTI menganalisis data lengkap yang meliputi 100 destinasi dengan hasil rata-rata berdasarkan sembilan kriteria seperti kecocokan sebagai destinasi liburan keluarga dan keamanan (kunjungan wisatawan muslim, destinasi liburan keluarga, perjalanan yang aman), ketersediaan layanan dan fasilitas muslim friendly di destinasi wisata (makanan halal, kemudahan akses untuk beribadah, layanan dan fasilitas bandara, pilihan akomodasi), Halal awareness (mengutamakan kehalalan, kemudahan komunikasi).

- 4 -

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa keberadaan industri pariwisata syariah bukanlah suatu ancaman bagi industri pariwisata yang sudah ada, melainkan sebagai pelengkap dan tidak menghambat kemajuan usaha wisata yang sudah berjalan. Bahkan sejumlah negara-negara di dunia telah menggarap industri pariwisata syariah. Sebagai contoh di Asia seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Korea, Jepang, Taiwan, dan China sudah terlebih dahulu mengembangkan pariwisata syariah. Thailand memiliki The Halal Science Center Chulalongkorn University, pusat riset itu bekerja sama dengan Pemerintah Thailand dan keagamaan membuat sertifikasi dan standardisasi untuk industri yang dilakukan secara transparan, bahkan pembiayaannya tertera jelas dan transparan. Australia melalui Lembaga Queensland Tourism mengeluarkan program pariwisata syariah pada bulan Agustus 2012 melalui kerjasama dengan hotel-hotel ternama mengadakan buka puasa bersama, menyediakan tempat sholat yang nyaman dan mudah dijangkau di pusat-pusat perbelanjaan, memberikan pertunjuk arah kiblat dan Alquran di kamar hotel, hingga menyediakan petugas di Visitor’s Information Offices yang mampu berbahasa Arab. Korea Selatan melalui Perwakilan Organisasi Pariwisata Korea Selatan di Jakarta (KTO Jakarta) mengakui siap menjadi destinasi wisata syariah dengan menyediakan paket wisata bagi Muslim dan fasilitas yang mendukung. Demikian pula Jerman menyediakan tempat shalat yang bersih dan nyaman di Terminal 1 Bandara Munich, Jerman sejak bulan Juni 2011 (Sofyan, 2012): 13-19). Bagaimana dengan kondisi industri pariwisata syariah di Indonesia? Kondisi pariwisata syariah di Indonesia masih belum maksimal. Padahal jika digarap lebih serius, potensi pengembangan wisata syariah di Indonesia sangat besar. Belum banyak biro perjalanan yang mengemas perjalanan inbound dengan paket halal travel, tetapi lebih banyak pengemasan perjalanan outbound seperti umrah dan haji. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik dan Pusat Data dan Informasi Kementerian Pariwisata, angka wisatawan dari beberapa negeri Timur Tengah berdasarkan kebangsaan, yaitu Bahrain sebesar 98 orang pada tahun 2013 menjadi 99 orang pada tahun 2014 (naik 1,02 persen), Mesir sebesar 675 orang pada tahun 2013 menjadi 733 orang pada tahun 2014 (naik 8,59 persen), dan Uni Emirat Arab sebesar 1.322 orang menjadi 1.428 orang (naik 8,02 persen), sedangkan Arab Saudi mencatat angka pertumbuhan turun 3,90 persen dari 7.522 orang (tahun 2013) menjadi 7.229 orang tahun 2014 (Kempar, 2015). Jika dilihat dari angka jumlah kunjungan wisman muslim memang dinilai cukup kecil. Namun, target wisata syariah sebenarnya bukan hanya wisatawan muslim, tetapi juga wisatawan non muslim. Karena pada hakekatnya wisata syariah hanyalah sebagai pelengkap jenis wisata konvensional. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia,

- 5 -

Indonesia berupaya terus mengembangkan wisata syariah di Tanah Air. Kementerian Pariwisata mengembangkan pariwisata syariah meliputi empat jenis komponen usaha pariwisata, yaitu perhotelan, restoran, biro atau jasa perjalanan wisata, dan spa. Terdapat 13 (tiga belas) provinsi yang dipersiapkan Indonesia untuk menjadi destinasi wisata syariah, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali (IndonesiaTravel, 2013). Wilayah tujuan wisata syariah tersebut ditentukan berdasarkan kesiapan sumber daya manusia, budaya masyarakat, produk wisata daerah, serta akomodasi wisata. Pada dasarnya pengembangan wisata syariah bukanlah wisata eksklusif karena wisatawan non-Muslim juga dapat menikmati pelayanan yang beretika syariah. Wisata syariah bukan hanya meliputi keberadaan tempat wisata ziarah dan religi, melainkan pula mencakup ketersediaan fasilitas pendukung, seperti restoran dan hotel yang menyediakan makanan halal dan tempat shalat. Produk dan jasa wisata, serta tujuan wisata dalam pariwisata syariah adalah sama seperti wisata umumnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah. Contohnya adalah menyediakan tempat ibadah nyaman seperti sudah dilakukan di Thailand dan negara lainnya yang telah menerapkan konsep tersebut terlebih dahulu. Potensi wisata syariah di Indonesia sangat besar dan bisa menjadi alternatif selain wisata konvensional, hanya saja branding dan pengemasannya masih belum memiliki konsep yang tepat.

1.2. Identifikasi Perumusan Masalah

untuk

menarik wisatawan muslim maupun non-muslim, dan wisatawan dalam maupun luar negeri. Bagi Indonesia sendiri, dimaksudkan juga untuk mendorong tumbuh kembangnya entitas bisnis syariah di lingkungan pariwisata Indonesia. Di Indonesia masih belum jelas branding dan nomenklatur tentang wisata syariah ini. Apakah menggunakan nama syariah travel, Islamic tourism, halal travel, muslim friendly destination atau sebagainya? Semua itu masih dalam tahap diskusi pembahasan antara Kementerian Pariwisata dan pelaku pariwisata. Meski branding tersebut belum final, bukan berarti usaha untuk industri ini belum dapat dijalankan. Adapun salah satu langkah nyata dalam usaha mengembangkan pariwisata syariah adalah dengan merancang produk dan daerah tujuan pariwisata syariah. Pariwisata syariah dapat berarti berwisata ke destinasi maupun atraksi pariwisata yang memiliki nilai-nilai Islami yang di dalamnya terdapat produk makanan halal, minuman non-alkohol, hotel halal, ketersediaan sarana ibadah yang bersih, aman, dan nyaman, serta fasilitas-fasilitas lainnya.

Tujuan

diadakannya

pengembangan

wisata

syariah

adalah

- 6 -

Meskipun nomenklatur pengembangan wisata syariah belum jelas. Namun, dalam usaha pengembangannya, Kemenparekraf menggandeng Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU). Dan pada tahun 2014, Kementerian Pariwisata telah menyusun Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 Tahun 2014. Dalam PERMEN tersebut berisikan kriteria hotel syariah dengan kategori Hilal 1 dan Hilal 2 yang dinilai dari aspek produk, pelayanan, dan pengelolaan. Hilal 1 merupakan hotel syariah yang masih memiliki kelonggaran dalam aturan syariah, misalnya, dalam hotel ini setiap makanan dan restoran dipastikan halal. Artinya, restoran atau dapur sudah ada sertifikasi halal dari MUI, ada kemudahan bersuci dan beribadah sehingga harus ada toilet shower bukan hanya tissue, makanan halal, tapi tidak ada seleksi tamu, dapurnya sudah bersertifikat halal, tapi dapurnya saja, minuman masih boleh ada jenis alkohol seperti wine. Sedangkan dalam hotel Hilal 2, segala hal yang tidak diperbolehkan dalam aturan syariah memang sudah diterapkan dalam hotel syariah ini. Untuk klasifikasi hotel syariah hilal satu minimal memenuhi 49 poin ketentuan, untuk naik ke level hilal dua harus memenuhi 74 poin. Seperti diketahui bahwa destinasi wisata di Indonesia sangatlah banyak dan tidak hanya terbatas pada ketiga belas destinasi wisata syariah yang telah ditetapkan. Dengan demikian perlu kiranya mengeksplor potensi pengembangan wisata syariah di daerah lain di Indonesia. Namun, potensi besar yang dimiliki Indonesia belum maksimal digarap jika dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Berdasarkan konsep Tiga Great yang diusung oleh Kementerian Pariwisata, maka dari 13 daerah destinasi itu akan dibagi dengan tiga pintu masuk utama yakni Jakarta, Bali, dan Batam. Wisman dapat menjangkau daerah sekitar yang menjadi destinasi wisata syariah. Melalui Jakarta, wisman dapat juga mengakses destinasi di Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Melalui Bali dapat mengakses Lombok, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Di Batam lebih diarahkan ke Sumatera Barat. Tetapi, dilihat secara keseluruhan, daerah yang baru komitmen dan benar-benar menyatakan siap yaitu Jakarta, Jawa Barat, NTB, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bagaimana dengan Aceh yang merupakan daerah yang dikenal dengan Serambi Mekah? Pemerintah Provinsi Aceh memasang target wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Aceh sebesar 1,8 juta orang pada tahun 2015 dan target tahun 2018 sebesar 2,8 juta orang. Angka itu naik 30 persen dari tahun 2014. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kunjungan ke Aceh terus naik. Misalnya, pada 2014, kunjungan wisatawan ke Aceh berjumlah 1,4 juta orang, 50.072 di antaranya turis mancanegara. Sedangkan pada 2013, kunjungan ke Aceh hanya 1,1 juta orang (Warsidi, 2015). Bahkan Pemkot

- 7 -

Banda Aceh telah meluncurkan branding pariwisatanya yaitu World Islamic Tourism yaitu pada tanggal 31 Maret 2015 (Hutabarat, 2015). Dimana peluncuran tersebut diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemkot Banda Aceh dan PATA Indonesia Chapter (PIC). Pada bulan Juni 2015, Pemkot Banda Aceh mencoba menarik wisatawan yang ingin mengikuti wisata syariah khas Banda Aceh. Dengan mengusung tema “Wonderful Ramadhan in Aceh”. Disajikan pula sebuah tradisi Meugang, yaitu tradisi potong sapi yang dilakukan dua hari sebelum Ramadhan dan dua hari menjelang Hari Idul Fitri. Dalam tradisi ini, wisatawan dapat melihat berbagai proses mulai dari pemotongan sapi, proses pemasakan, hingga makan bersama. Selain itu, terdapat festival Ramadhan dan beragam perlombaan, mulai dari lomba azan, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), dan hafiz Quran. Dari sekitar 50 obyek wisata di Banda Aceh, belum semuanya memiliki fasilitas yang memenuhi kaidah wisata syariah. Menjadi hal yang menarik ketika Manado juga dijadikan salah satu lokus dalam penelitian ini. Karena pada beberapa negara seperti Jepang, Australia, Austria, Jerman telah melakukan pengembangan produk halal dengan target wisatawan muslim. Sehingga, menjadi hal yang mungkin pula jika konsep halal dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan pariwisata di Kota Manado. Beberapa hal masih menjadi kendala dalam menerapkan wisata syariah yang perlu dibenahi, salah satu diantaranya aspek sertifikasi produk- produk halal. Di Indonesia, restoran dan kafe yang menyediakan makanan dan minuman halal masih baru dalam tataran self claim, belum bersertifikat. Jumlah restoran dan hotel yang menjamin makanannya halal masih jarang. Banyak yang menyarankan agar di dapur hotel ada pemisahan antara makanan halal dan non-halal. Demikian pula masih ada beberapa fasilitas yang harus dibenahi untuk memastikan Indonesia siap untuk menyambut wisatawan mancanegara muslim. Masalah air pun tak luput diperhatikan. Saat ini, terutama di hotel dan pusat perbelanjaan mewah, toiletnya sudah banyak mengadaptasi gaya barat. Bahkan terkadang di toilet, hanya tersedia kertas tisu, tanpa air mengalir. Padahal, air mengalir benar-benar penting, terutama untuk bersuci. Industri pariwisata syariah Indonesia juga harus didukung oleh pemerintah, industri dan strategi pemasaran yang baik, standar dan regulasi yang tepat harus diperkuat oleh tenaga profesional keuangan yang cukup, lembaga pelatihan kepariwisataan syariah yang baik kemudian didukung oleh keuangan syariah yang kompetitif. Menurut pendiri dan CEO Crescentrating, Fazal Bahardeen, Indonesia belum begitu agresif dalam mempromosikan wisata halal seperti negara tetangga Malaysia dan Thailand (Murdaningsih & Pratiwi, 2015). Indonesia

- 8 -

juga belum mengintegrasikan promosi pariwisata halal ke dalam program pariwisata nasional, dan membuat paket khusus wisata halal. Berdasarkan latar belakang permasalahan, yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana kondisi potensi destinasi wisata syariah di Indonesia khususnya di Aceh (daerah dengan mayoritas muslim) dan Manado (daerah dengan mayoritas non-muslim)? Bagaimana kesiapan kedua destinasi wisata tersebut jika dilihat berdasarkan persepsi wisatawan? Apakah strategi yang tepat untuk mengembangkan wisata syariah di kedua destinasi wisata tersebut?

1.3. Ruang Lingkup/Batasan Masalah Penelitian

Mengingat luasnya ruang lingkup wisata syariah, maka penelitian ini dibatasi dengan memfokuskan analisis potensi pengembangan wisata syariah di destinasi wisata Aceh dan Manado dengan tanpa menghilangkan autentik dan keunikannya. Beberapa variabel dan indikator menggunakan kombinasi sembilan aspek kesiapan destinasi wisata syariah yang dikembangkan oleh CrescentRating dalam studi GMTI dan studi dari Riyanto (2012) dalam bukunya berjudul Prospek Bisnis Wisata Syariah. Studi ini akan diukur pula kesiapan destinasi wisata Aceh dan Manado berdasarkan persepsi wisatawan, sehingga dengan menggabungkan potensi dan tingkat kesiapan destinasi diharapkan dapat menghasilkan strategi yang tepat untuk mengembangkan wisata syariah berdasarkan karakteristik daerah. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara survei menggunakan kuesioner pada wisatawan di Aceh dan Manado. Selain itu penelitian ini menggunakan FGD dan studi literatur sebagai data tambahan/pelengkap data kuesioner. Adanya keterbatasan dalam melakukan penelitian, maka kurun waktu pengamatan dibatasi selama 3 hari prasurvei dan 6 hari survei pada bulan September 2015. Survei dilakukan terhadap minimal 100 orang responden wisatawan yang dipilih secara acak pada saat penelitian ini dilaksanakan (metode

pengambilan sampel akan dibahas selengkapnya pada Bab 3). Aceh dipilih sebagai salah satu lokus penelitian karena Pemkot Banda Aceh telah meluncurkan branding pariwisatanya yaitu World Islamic Tourism. Dengan branding yang telah ditetapkan oleh Pemkot Banda Aceh tersebut, maka penelitian ini akan mencoba mengkaji dari sisi wisatawan sebagai konsumen dalam menilai kesiapan sebagai destinasi wisata syariah. Sementara itu, Manado dengan wilayah mayoritas penduduk non muslim dipilih sebagai pembanding dan perlu juga menilai potensi serta kesiapan destinasi wisata Manado jika diterapkan wisata syariah dalam produk

- 9 -

wisatanya. Sehingga, diharapkan dapat menghasilkan strategi apa yang sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing.

1.4. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Mendeskripsikan potensi destinasi wisata syariah di Indonesia khususnya Aceh dan Manado

b. Menganalisis kesiapan masing-masing destinasi wisata melalui persepsi wisatawan dalam mengembangkan wisata syariah

c. Menghasilkan strategi yang tepat untuk mengembangkan wisata syariah sesuai karakteristik destinasi wisata di Indonesia.

1.5. Manfaat Penelitian

atau

rekomendasi bagi pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah daerah dan pusat seperti Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Pemasaran Mancanegara, Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata, dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya. Sehingga, Indonesia mampu mengembangkan destinasi wisata syariah yang berdayasaing dan mampu menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu andalan dalam memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi peneliti-peneliti lainnya yang mengambil topik berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan wisata syariah, ataupun pihak lain yang tertarik dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini.

Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

menjadi

masukan

1.6. Strategi Pencapaian Keluaran

Dalam Kajian Pengembangan Wisata Syariah ini diperlukan strategi guna mancapai hasil dari tujuan kajian, diantaranya metode pelaksanaan, tahapan dan waktu pelaksanaan.

1.6.1. Metode Pelaksanaan

ini meliputi semua kebijakan yang

dikeluarkan oleh Pemerintah yang dalam penerapannya mendapat banyak hambatan terutama yang berkaitan dengan kajian pengembangan wisata syariah di Indoinesia. Keluaran dari kegiatan ini berupa hasil peneltian yang mampu memberikan solusi terhadap pengembangan kebijakan terutama yang terkait dengan pengembangan wisata syariah di Indonesia. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Nangroe Aceh Darusalam (Banda Aceh) dan Sulawesi Utara (Manado) dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner

Ruang

lingkup

penelitian

- 10 -

kepada responden dan melakukan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan narasumber yang dianggap memahami mengenai perkembangan wisata syariah di Indonesia. Manado dipilih sebagai perbandingan pengembangan wisata syariah di Indonesia.

1.6.2. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan

Beberapa tahapan dan waktu pelaksanaan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

a. Tahap persiapan, yakni meliputi penyusunan rancangan kegiatan, koordinasi dan penyiapan instrumen penelitian.

b. Pelaksanaan penelitian adhoc, meliputi penyiapan logistik kegiatan, penyiapan tempat FGD, koordinasi dengan panelis dan undangan, dan penyebaran kuesioner. Wawancara dan observasi juga dilakukan guna melengkapi data dan informasi penelitian.

c. Evaluasi dan pelaporan kegiatan, yakni melaksanakan penelitian adhoc dengan menggunakan pendekatan tertentu dengan metode diskusi dengan pihak-pihak terkait.

d. Pelaporan

- 11 -

BAB 2 RERANGKA PEMIKIRAN ANALISIS

2.1.

Landasan Teoritis/Tinjauan Pustaka

2.1.1.

Definisi Wisata Syariah

negara ada yang

menggunakan istilah seperti Islamic tourism, halal tourism, halal travel, ataupun as moslem friendly destination. Menurut pasal 1 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan usaha hotel syariah, yang dimaksud syariah adalah prinsip-prinsip hukum islam sebagaimana yang diatur fatwa dan/atau telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Istilah syariah mulai digunakan di Indonesia pada industri perbankan sejak tahun 1992. Dari industri perbankan berkembang ke sektor lain yaitu asuransi syariah, pengadaian syariah, hotel syariah, dan pariwisata syariah. Definisi pariwisata syariah adalah kegiatan yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah (Kemenpar, 2012). Pariwisata syariah dimanfaatkan oleh banyak orang karena karakteristik produk dan jasanya yang bersifat universal.Produk dan jasa wisata, objek wisata, dan tujuan wisata dalam pariwisata syariah adalah sama dengan produk, jasa, objek dan tujuan pariwisata pada umumnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah. Jadi pariwisata syariah tidak terbatas hanya pada wisata religi. Berdasarkan pengertian di atas, konsep syariah yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah berhubungan dengan konsep halal dan haram di dalam islam. Halal diartikan dibenarkan, sedangkan haram diartikan dilarang.Konsep halal dapat dipandang dari dua

perspektif yaitu perspektif agama dan perspektif industri. Yang dimaksud dengan perspektif agama, yaitu sebagai hukum makanan apa saja yang boleh dikonsumsi oleh konsumen muslim sesuai keyakinannya. Ini membawa konsuekensi adanya perlindungan konsumen. Sedangkan dari perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat diartikan sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennya sebagian besar muslim, diperlukan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangible value. Contoh produk pangan yang kemasannya tercantum label halal lebih menarik bagi konsumen muslim (Hamzah & Yudiana, 2015).

Terminologi

wisata

syariah

di

beberapa

- 12 -

Menurut Sofyan (2012:33), definisi wisata syariah lebih luas dari wisata religi yaitu wisata yang didasarkan pada nilai-nilai syariah Islam. Seperti yang dianjurkan oleh World Tourism Organization (WTO), konsumen wisata syariah bukan hanya umat Muslim tetapi juga non Muslim yang ingin menikmati kearifan lokal. Pemilik jaringan Hotel Sofyan itu menjelaskan, kriteria umum pariwisata syariah ialah; pertama, memiliki orientasi kepada kemaslahatan umum. Kedua, memiliki orientasi pencerahan, penyegaran, dan ketenangan. Ketiga, menghindari kemusyrikan dan khurafat. Keempat, bebas dari maksiat. Kelima, menjaga keamanan dan kenyamanan. Keenam, menjaga kelestarian lingkungan. Ketujuh, menghormati nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokal. Selain istilah wisata syariah, dikenal juga istilah Halal tourism atau Wisata Halal. Pada peluncuran wisata syariah yang bertepatan dengan kegiatan Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 dan Global Halal Forum yang digelar pada 30 Oktober - 2 November 2013 di Semeru Room, Lantai 6, Gedung Pusat Niaga, JIExpo (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2013), President Islamic Nutrition Council of America, Muhammad Munir Caudry, menyampaikan bahwa, “Wisata halal merupakan konsep baru pariwisata. Ini bukanlah wisata religi seperti umroh dan menunaikan ibadah haji. Wisata halal adalah pariwisata yang melayani liburan, dengan menyesuaikan gaya liburan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan traveler muslim”. Dalam hal ini hotel yang mengusung prinsip syariah tidak melayani minuman beralkohol dan memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita (Wuryasti, 2013). Berikut ini tabel perbandingan antara wisata konvensional, wisata religi, dan wisata syariah:

Tabel 2.1. Komparasi wisata konvensional, wisata religi, dan wisata syariah

No

Item

Konvensional

Religi

Syariah

Perbandingan

1

Obyek

Alam,

budaya,

Tempat

Ibadah,

Semuanya

Heritage, Kuliner

Peninggalan Sejarah

2

Tujuan

Menghibur

Meningkatkan

Meningkatkan

Spritualitas

Spirituaitas

dengan

cara menghibur

3

Target

Menyentuh

Aspek spiritual yang bisa menenangkan jiwa. Guna mencari ketenangan batin

Memenuhi

kepuasan

dan

keinginan

dan

kesenangan

yang

kesenangan

serta

berdimensi

nafsu,

menumbuhkan

semata-mata

hanya

 

kesadaran

untuk hiburan

beragama

4

Guide

Memahami

dan

Menguasai sejarah tokoh dan lokasi yang menjadi obyek wisata

Membuat turis tertarik pada obyek sekaligus membangkitkan

menguasai

informasi

sehingga

bisa

menarik

wisatawan terhadap

 

spirit

religi

- 13 -

 

obyek wisata

 

wisatawan.

Mampu

menjelaskan

fungsi

dan

peran

syariah

dalam

bentuk

kebahagiaan

dan

kepuasan

batin

dalam

kehidupan

manusia.

5 Fasilitas Ibadah

Sekedar pelengkap

Sekedar pelengkap

Menjadi bagian yang menyatu dengan obyek pariwisata, ritual ibadah menjadi bagian paket hiburan

6 Kuliner

Umum

Umum

Spesifik yang halal

7 Relasi

dengan

Komplementar

dan

Komplementar

dan

Integrated, interaksi

Masyarakat

hanya

untuk

hanya

untuk

berdasar

pada

dilingkungan

keuntungan materi

keuntungan materi

prinsp syariah

Obyek Wisata

8 Agenda

Setiap Waktu

Waktu-waktu

Memperhatikan

Perjalanan

tertentu

waktu

Sumber: Ngatawi Al Zaztrow dalam Hamzah dan Yudiana, 2015

Menurut Duran dalam Akyol & Kilinç (2014), pariwisata memiliki bermacam dampak sosial dan budaya.Wisata halal adalah suatu produk baru dari pasar muslim dan non-muslim. Menurut Zulkifli dalam Akyol & Kilinç (2014), pasar halal diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kategori yaitu: makanan, gaya hidup (kosmetik, tekstil, dll), dan pelayanan (paket wisata, keuangan, transportasi). Menurut Duman dalam Akyol & Kilinç, Islamic tourism didefinisikan sebagai:

“the activities of Muslims travelling to and staying in places outside their usual environment for not more than one consecutive year for participation of those activities that originate from Islamic motivations which are not related to the exercise of an activity remunerated from within the place visited” (Kilinç, 2014 )

Menurut Pavlove dalam Razzaq, Hall & Prayag, Halal atau Islamic tourism didefinisikan sebagai pariwisata dan perhotelan yang turut diciptakan oleh konsumen dan produsen sesuai dengan ajaran Islam. Banyak negara di dunia Islam yang memanfaatkan kenaikan permintaan untuk layanan wisata ramah Muslim (Razzaq, Hall, & Prayag, 2015). Sedangkan menurut Sapta Nirwandar (2015) dalam (Achyar, 2015) keberadaan wisata halal sebagai berikut:

Halal tourism adalah extended services. Kalau tidak ada dicari, kalau ada, bisa membuat rasa aman. Wisata halal bisa bergandengan dengan yang lain. Sifatnya bisa berupa

- 14 -

komplementer, bisa berupa produk sendiri. Misalnya ada hotel halal, berarti membuat orang yang mencari hotel yang menjamin kehalalan produknya akan mendapatkan opsi yang lebih luas. Ini justru memperluas pasar, bukan mengurangi. Dari yang tadinya tidak ada, jadi ada”.

Pada acara Focus Group Discussion (FGD) Halal Tourism & Lifestyle 2015 di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5). Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan pendapat pribadi bahwa nama dari wisata halal harus universal, beliau mengusulkan istilah “Universal Tourism”, karena wisata halal bukan semata-mata tentang kuliner. Ada industri lainnya seperti fesyen, finansial, kesehatan dan sebagainya. Sehingga kata “Universal” baginya sudah mewakili seluruh wisatawan yang datang ke Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim (Putri, 2015).

2.1.2. Kondisi Wisata Syariah Dunia

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia dan MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara), memberikan pengaruh terhadap daya beli wisatawan Muslim. Sedangkan di Eropa Barat, meskipun pertumbuhan ekonomi tidak tinggi, banyak kalangan kelas menengah Muslim dari belahan dunia lain igin mengeksplorasi tempat-tempat wisata baru.Berikut tabel populasi dan daya beli masyarakat muslim:

Tabel 2.2. Populasi dan Daya Beli Masyarakat Muslim

Largest Muslim

Largest Muslim % of Total Population

Highest Purching Power of Muslim Population

Population

Indonesia

Bahrain

Saudi Arabia

Pakistan

Kuwait

Turkey

India

Saudi Arabaia

Iran

Bangladesh

Algaria

Malaysia

Turkey

Iran

Qatar

Egypt

Oman

Russia

Iran

Turkey

Frace

Nigeria

Yamen

Libya

China

Tunisia

UAE

Ethiopia

Iraq

United States

Algeria

Libya

Algeria

Monaco

Pakistan

Singapore

Sudan

UAE

Indonesia

Afganistan

Qatar

Egypt

Iraq

Egypt

The Natherlands

Sumber: A.T. Kearney dalam Sofyan (2012:

)

Berdasarkan data di atas, Malaysia mampu memanfaatkannya dalam meningkatkan wisatawan Muslim. Total estimasi wisatawan mancanegara Muslim ke Malaysia berdasarkan Islamic Tourism Malaysia tahun 2010

- 15 -

sebesar 5.817.571 atau 24 % dari total wisatawan mancanegara Malaysia sebesar 24.557.200 (Sofyan, 2012):40).

Tabel 2.3. Sepuluh Besar Negara Tujuan OIC (Organization of Islamic Cooperation) dan Non-OIC Global Muslim Travel Index (GMTI)

2015

Peringkat

Destinasi OIC

Skor

Destinasi Non-OIC

Skor

 

1 Malaysia (1)

83,8

Singapura (9)

65,1

 

2 Turki (2)

73,8

Thailand (20)

59,2

3 UEA (3)

 

72,1

Inggris (25)

55

 

4 Saudi Arabia (4)

71,3

Afrika Selatan (30)

51,1

 

5 Qatar (5)

68,2

Perancis (31)

48,2

 

6 Indonesia (6)

67,5

Belgia (32)

47,5

 

7 Oman (7)

66,7

Hongkong (33)

47,5

 

8 Jordania (8)

66,4

Amerika Serikat (34)

47,3

 

9 Maroko (9)

64,4

Spanyol (35)

46,5

 

10 Brunei (10)

64,3

Taiwan (36)

46,2

Sumber: CrescenRating, GMTI Report 2015

Dari tabel di atas dapat diketahui, Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, belum mampu menjadi negara tujuan wisata bagi muslim traveller. Berikut contoh dari negara-negara yang menjadi destinasi bagi muslim traveller, yaitu:

Turki Meskipun Turki adalah negara sekuler, Islam adalah bagian penting dari kehidupan Turki. Menurut laporan Pew Research Center tahun 2010 jumlah penduduk Turki 98% adalah muslim sehingga diasumsikan bahwa sebagian besar produk makanan koheren dengan konsep halal di Turki (PewResearchCenter, 2010). Selain faktor jumlah penduduk muslim yang besar, meningkatnya pendidikan dan tingkat pendapatan kaum konservatif kelas menengah atas telah juga mempengaruhi permintaan untuk pasar halal terutama wisata halal (Duman dalam Akyol & Kilinç, 2014). Untuk memenuhi permintaan

a.

wisata halal, salah satunya dengan audit halal oleh World Association Halal. Hotel pertama yang menerima "sertifikat halal" di Turki adalah Adenya Hotel

& Resort. Selain itu, standar bintang hotel "crescent standards(standar

sabit)"menunjukkan kualitas di sektor perhotelan Islami (Kilinç, 2014 ). Menurut catatan Himpunan Pemilik Hotel Mediteranian (AKTOB), tahun 2002 Turki hanya memiliki hotel 5 buah, saat ini setidaknya tercatat ada 75 hotel di Turki yang memasang label hotel Islami bersahabat dengan

jilbab, liburan sesuai syariah, dan wisata halal. Hotel islami banyak dijumpai

di destinasi misalnya di Canakkale Kas dan Kusadasi. Hotel-hotel tersebut

tidak menghidangkan alkohol dan babi, memisahkan kolam renang untuk tamu pria dan wanita, serta mengharuskan pegawainya untuk berpakaian

- 16 -

sopan. Tayangan televisi dan situs-situs internet dipilih sesuai dengan aturan Islam.Mushala yang disediakan juga dilengkapi peredam suara dari luar (Nashrullah & Pratiwi, 2014). Dalam jajak pendapat yang dibuat BBC Turki baru-baru ini, 60 persen wisatawan mencari hotel berlabel halal dan jumlah itu terus meningkat. Kebanyakan wisatawan menghindari hotel yang menyajikan alkohol dan makanan tak halal. Presiden Asosiasi Jurnalis Pariwisata (TUYED) Kerem Kofteoglu menyampaikan, sektor pariwisata harus toleran terhadap semua jenis wisatawan, termasuk bagi wisatawan berkerudung dan yang tidak. Kofteoglu mengatakan, "Kami tak bisa memilih tamu yang singgah." (Nashrullah & Pratiwi, 2014) Muslim Traveler Index Europe 2014 memperkirakan nilai wisata halal Eropa mencapai 137 miliar dolar AS. Turki sendiri termasuk menjadi lima besar negara tujuan wisatawan pencari pariwisata syariah di Eropa. Nilainya bahkan mencari 103 miliar euro pada 2013 atau sekitar 13 persen dari total nilai pariwisata halal dunia. Turki diperkirakan akan meraih hingga 141 miliar euro dari sektor ini pada 2020.

b.

Menurut laporan Pew Research Center tahun 2010 jumlah penduduk Malaysia sebesar 28.400.000, dengan komposisi pemeluk beragama sebagai berikut:

Malaysia

Agama

Folk Religions

<1%nother

 

religion

<1% Jews

Hindus

Hindus
Hindus

6%

2%

<1% Unaffiliated

Christians 9% Muslims 63% Buddhists 17%
Christians
9%
Muslims
63%
Buddhists
17%

Gambar 2.1. Jumlah Penduduk Malaysia Tahun 2010

Sumber: Global Religious Futures, 2010, diakses melalui http://www.globalreligiousfutures.org

Sedangkan pada tahun 2020 menurut Pew Research Center, diperkirakan jumlah penduduk Malaysia meningkat menjadi 33.360.000 terdiri dari Muslim sebesar 66,1 %, Budha menjadi 15,7 %, Nasrani sebesar 9,4 %, dan Hindu sebesar 5.8 % (PewResearchCenter, 2015). Henderson dalam Akyol & Kilinç (2014) berpendapat bahwa konsep Islamic tourism adalah salah satu yang berkembang pesat di beberapa negara di selatan Asia Timur seperti Malaysia dan Singapura.

- 17 -

Wisata Islami di Malaysia bagus karena mereka memiliki sistem khusus pariwisata Muslim yang mempromosikan wisata Islam dalam agenda pariwisata nasional. Dari catatan Crescentrating, tahun lalu jumlah kunjungan wisatawan Muslim ke Malaysia mencapai 5,9 juta orang. Sementara yang datang ke Indonesia hanya sekitar dua juta orang saja dari total 10-11 juta wisatawan asing yang masuk (Pratiwi & Murdaningsih,

2015).

c. Thailand Jumlah penduduk Thailand berdasarkan riset Pew Research Center tahun 2010 sebagaian besar adalah 93,2% Budha, 5,5% Muslim, dan sisanya agama lainnya kurang dari 1%. Meskipun sebagian besar penduduknya beragama Budha, Thailandtelahmendirikan Halal Science Center di Chulalongkorn University. Dalam usaha meningkatkan wisata halal Thailand mengumumkan Muslim Friendly Thailand, seperti dilansir dari Deutsche Presse-Agentur, Rabu (10/6), aplikasi ini akan diluncurkan pada tanggal 22 Juni mendatang dalam bahasa Inggris, Thailand, dan Arab. Piranti lunak ini dirancang untuk membantu wisatawan menemukan restoran halal, hotel, masjid, dan operator tour. Otoritas wisata Thailand mengatakan, aplikasi ini merupakan bagian dari kampanye untuk menarik lebih banyak pengunjung dari Timur Tengah, Malaysia, dan Indonesia, yang menyumbang tiga juta wisatawan ke negara itu tahun lalu (Putri, 2015).

d. Singapura

Singapura sebagai negara yang memprioritaskan sektor pariwisata, dianggap paling paham dalam melayani wisatawan temasuk wisatawan Muslim. Sebagai bentuk dukungan bagi pelaku usaha pariwisata diberikan halal award (Sofyan, 2012). Menurut Pew Research Center tahun 2010, penduduk Singapura terdiri dari beberapa umat beragama, yaitu: Buddhist (34 persen), Christians (18 persen), Folk Religions (2 persen), Hindus (5 persen), Muslim (14 persen), Jews (<1 persen), Unaffiliated (16 persen), oher religions (10 persen). Dari data di atas, mayoritas penduduk Singapura beragama Budha, populasi Islam berada di posisi keempat. Sebagai negara yang mayoritas beragama Budha, Singapura berhasil mencapai peringkat 9 menurut Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2 015 untuk negara Non-OKI yang menjadi tujuan wisata muslim terbaik di dunia. Badan Pariwisata Singapura atau "Singapore Tourism Board" meluncurkan buku panduan wisata halal bagi pelancong Muslim dari Indonesia. Kriteria dalam survei GMTI meliputi berbagai macam faktor meliputi kecocokan sebagai tempat berlibur bersama keluarga bagi keluarga Muslim,

tingkat pelayanan bagi wisatawan Muslim, ketersediaan fasilitas bagi

- 18 -

wisatawan Muslim, pilihan akomodasi yang baik, jumlah kedatangan wisatawan Muslim, pilihan menu dan makanan halal, dan lainnya. Direktur Eksekutif STB Wilayah Asia Tenggara Edward Koh menyampaikan Singapura memiliki banyak fasilitas makanan halal yang sudah disertifikasi oleh Badan Sertifikasi Halal yang dimiliki negara itu. Sebanyak 108 wisatawan Muslim berkunjung ke Singapura, dengan nilai 145 miliar dolar AS dan mempresentasikan 10 persen dari total perekonomian dunia (Putra, 2015).

e. Korea Selatan Meskipun mayoritas penduduknya tidak beragama Islam, sebagian tempat wisata di Korea Selatan sudah menyediakan fasilitas yang memudahkan para turis Muslim. Tujuan wisata halal di Korea antara lain:

Gyeonggi-do (banyak terdapat tempat-tempat hiburan yang menyediakan tempat ibadah dan makanan halal bagi umat Muslim meliputi Everland, Korea Folk Village di Yongin, Petite France di Gapyeong, Skin Anniversary di Paju dengan Woongjin Playdoci dan Aiins World di Bucheon (Rezkisari, 2014) .

Selain Gyeonggi-do, terdapat juga destinasi wisata halal yaitu Gangwon. Pemerintah Korea Selatan aktif dalam mempromosikan paket wisata syariah ke Indonesia. Strategi promosi yang dilakukannya adalah dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara perwakilan organisasi pariwisata Korea Selatan di Jakarta (KTO Jakarta) dengan Garuda Indonesia Holiday (GIH). Provinsi Gangwon mendukung kerja sama ini dengan menyediakan restoran yang ramah bagi Muslim dan Mushala. Saat ini produk wisata halal ke Korea yang telah dikembangkan oleh GIH adalah berupa produk 3M5H, 4M6H, dan produk 5M7H, yang menyertakan makanan halal di restoran ramah Muslim pada semua jadwalnya, serta kunjungan ke mushala untuk shalat (Putri & Pratiwi, 2015).

2.1.3. Kondisi Wisata Syariah di Indonesia

Berbagai upaya dilakukan untuk mempersiapkan produk pariwisata ini bersama pemangku kepentingan, salah satu cara memperkenalkan Wisata Syariah di Indonesia kepada masyarakat dan dunia Internasional, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan Global Halal Forum bertema Wonderful Indonesia as Moslem Friendly Destination pada 30 Oktober 2013 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pentingnya dikembangkan potensi wisata syariah disampaikan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat peluncuran Gerakan Ekonomi Syariah (GRES) di kawasan silang Monas, tanggal 17 November 2013. Presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa Indonesia mempunyai banyak alasan untuk

- 19 -

mengembangkan potensi wisata syariah, antara lain keberadaan ekonomi syariah penting untuk mengurangi kerentanan antara sistem keuangan dengan sektor riil, sehingga menghindari penggelembungan ekonomi; menghindari pembiayaan yang bersifat fluktuatif, dan dapat memperkuat pengaman sosial. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengembangkan wisata syariah adalah mempersiapkan 13 (tiga belas) provinsi untuk menjadi destinasi wisata syariah, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali. Namun dari ke-13 provinsi tersebut yang dinyatakan siap yaitu Jakarta, Jawa Barat, NTB, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Destinasi Wisata Syariah (indonesia.travel,2013)

Destinasi Wisata Syariah (indonesia.travel,2013)

Gambar 2.2. Destinasi Wisata Syariah di Indonesia

Sumber: Kemenparekraf, 2013, Indonesia as Moslem Friendly Destination (Buku Panduan Wisata)

Penilaian kesiapan destinasi wisata dilihat dari beberapa aspek utama pariwisata, yaitu:

a)

Produk

2)

Pengembangan Produk harus berdasarkan Kriteria Umum dan Standarisasi yang diterapkan untuk Usaha Pariwisata Syariah dan Daya Tarik. SDM dan kelembagaan

3)

Kompetensi Profesi Insan Pariwisata Syariah juga harus ditunjang dengan Training dan Pendidikan yang sesuai dengan sasaran Standar Kompetensi yang dibutuhkan Wisatawan Muslim. Promosi

- 20 -

Bentuk promosi dan jalur pemasaran disesuaikan dengan perilaku Wisatawan Muslim, World Islamic Tourism Mart (WITM), Arabian Travel Mart, Emirates Holiday World, Cresentrating.com, halaltrip.com, etc.

Meskipun konsep halal sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian besar penduduk Indonesia, namun wisata halal kurang berkembang di Indonesia dikarenakan fasilitasi, tidak mudah memastikan makanan halal, sertifikasi halal, dan promosi yang kurang. Hal tersebut tampak dari hasil laporan lembaga riset dan pemeringkat industri pariwisata halal Crescentrating bersama MasterCard, Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015, Indonesia berada di urutan keenam tujuan wisata halal dunia, di bawah Malaysia dan Thailand. Crescentrating menilai Indonesia harus berusaha lebih keras jika ingin melangkahi Malaysia dan Thailand dalam mengembangkan wisata halal. Menurut pendiri dan CEO Crescentrating Fazal Bahardeen bahwa Indonesia belum begitu agresif dalam mempromosikan wisata halal seperti negara tetangga Malaysia dan Thailand. Indonesia juga belum mengintegrasikan promosi pariwisata halal ke dalam program pariwisata nasional, dan membuat paket khusus wisata halal. Perbandingan Praktek Wisata Syariah antara Indonesia dengan beberapa negara ASEAN lainnya pada tahun 2013, dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2.4. Perbandingan Praktek Wisata Syariah Tahun 2013

   

Indonesia

 

Singapura

 

Malaysia

   

Thailand

Total Wisman

 

8.802.129

 

15.567.923

 

25.715.460

   

26.546.725

Wisman Muslim

 

1.729.912

 

3.920.907

 

6.099.279

   

4.419.310

(ME: 183.016)

(ME: 146.503)

(ME: 332.736)

(ME: 630.243)

%

 

20%

 

25%

 

24%

   

17%

Praktik

Wisata

o

Hotel Syariah

o

Hotel &

o

Hotel

syariah

o

Hotel & restoran bersertifikat halal

Syariah

bersertifikat: 12

restoran

bersertifikat: 366

o

Hotel dengan

bersertifikat

(273

bintang 3 5, 53 hotel

±100

Restoran halal

halal: 2.691

s/d

o

Memiliki halal science center yang mendukung Thailand menjadi

bersertifikat: 25

o

Ada AMTAS

bintang 1 & 2, 40

o

Restoran

(Association of

budget

hotel &

bersertifikat

Muslim Travel

restoran)

 

halal: 305

Agent of

o

Restoran

salah satu produsen & eksportir produk

o

Spa syariah

Singapore)

bersertifikat

bersertifikat: 0

 

halal ± 2.000

o

Travel syariah

o

The

Top

halal terbesar di Asia

bersertifikat: 1

destination for muslim tourist in 2011, 2012,

 

o

The airways catering memiliki the largest halal kitcehn in the world

2013

&

2014

by

CrescentRating

Singapore

 

o

Bandara

o

KLIA

terpilih

internasional Suvarnabhumi adalah bandara non-muslim yang paling “Muslim- Friendly” (CrescentRating)

sebagai

 

the

Most

Muslim

Friendly

 

Airport

in

the

world

 

Sumber: Dari berbagai Sumber

- 21 -

Fakta yang ada pariwisata syariah di Indonesia pada tahun 2013 yaitu hotel syariah besertifikat baru 37 hotel. Sebanyak 150 hotel menuju operasional syariah. Begitu juga dengan restoran, dari 2.916 restoran, baru 303 yang bersertifikat halal. Sebanyak 1.800 mempersiapkan diri sebagai restoran halal. Sedangkan tempat relaksasi, SPA kini baru berjumlah tiga unit. Sebanyak 29 sedang proses untuk mendapatkan sertifikat halal.

2.2. Penelitian Terdahulu Guna menghindari adanya plagiarisme, beberapa hasil penelitian dan

publikasi yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:

2.2.1. Penelitian yang berjudul “Internet and Halal Tourism Marketingoleh Mevlüt Akyol dan Özgür Kilinç Hasil penelitian tersebut diterbitkan pada International Periodical for the Languages, Literature and History of Turkish or Turkic Volume 9/8 Summer 2014, p. 171-186, Ankara-Turkey. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menyajikan konsep pemasaran halal di dunia dan di Turki. Dalam konteks ini, salah satu perusahaan perantara, yang disebut "hotel halal", dianalisa dalam kerangka deskriptif. Penelitian yang dikembangkan adalah definisi marketing halal, konsep wisata halal dan hotel halal, deskripsi wisata halal di Turki, pentingnya internet dalam marketing wisata, dan analisis visual dan textual dari website hotel-hotel halal di Turki. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pelaku marketing halal harus mempertimbangkan harapan hotel halal baik untuk wisatawan Muslim dan non-Muslim. Muslim mencari liburan yang koheren dengan Islam dan harapan non-Muslim juga mendapatkan keamanan dan kebersihan.Hal tersebut harus diperhitungkan oleh pelaku marketing halal. Hasil analisis visual dan tekstual menunjukkan bahwa sebagian besar hotel Islam koheren dengan Islam. Misalnya, memberikan prinsip makanan dan non-alkohol halal, fasilitas terpisah untuk wanita dan ruang doa adalah fitur utama dan umum dari Islam atau hotel halal. Berikut tabel klasifikasi hotel islami menurut Ramli dalam Akyol & Kilinç, 2014:

Tabel 2.5. Klasifikasi Hotel Ramah Muslim

RATING

RATING MUSLIM FRIENDLY FACILITIES (in addition to other standard facilities in a reputable hotel)

One

Qiblah Pointing Signage; Prayer rug in guest room

       

Two

Halal

Prayer

Qiblah

   

Kitchen/Halal

Room/Surau

Pointing

- 22 -

 

Food

 

Signage;

   

Prayer

rug in

guest

room

Three

Only Halal

Dedicate

Qiblah Pointing Signage; Prayer rug in guest room; at least 50 % are no smoking guest rooms

Gym &

 

Food &

Prayer

Swimming

Alcohol Free

Room/Surau

Pool have

Beverages

with

dedicated

Served

abdution

hours for

space

Ladies only

Four

Only Halal

Dedicate

Qiblah

Separate

 

Food &

Prayer

Pointing

Gym &

Alcohol Free

Room/Surau

Signage;

Enclosed

Beverages

with

Prayer

Swimming

Served

abdution

rug in

Pool for

space &

guest

Ladies

resident

room;

imam

only no

smoking

guest

rooms

Five

Only Halal

Dedicate

Qiblah

Separate Gym & Enclosed Swimming Pool, Spa & Health Facilities for Ladies

Shariah

Food &

Prayer

Pointing

Compliant

Alcohol Free

Room/Surau

Signage;

Entertainment

Beverages

with

Prayer

&

Served

abdution

rug in

Recreational

space &

guest

Facilities

resident

room;

Facilities for

imam

only no

all ages

smoking

 

guest

rooms

Sumber: Ramli, N. (2009). Halal Tourism: The Way Forward. In: International Conference on Law and Social Obligation, 2009, Kashmir, India dalam Akyol & Kilinç, 2014

Selain itu, hotel islami, internet dan media sosial menyediakan platform komunikasi yang signifikan untuk hotel halal karena halal berorientasi pemasok industri dan perantara umumnya menargetkan populasi Muslim. Dengan demikian, internet mungkin menawarkan kesempatan besar untuk mendapatkan perhatian dari pasar ini. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Yang pertama adalah ukuran sampel mungkin tidak cukup besar untuk menggeneralisasi temuan. Yang kedua adalah hanya menganalisis hotel bintang lima, sehingga hotel dibawahnya dikeluarkan. Keterbatasan terakhir adalah hanya menggunakan situs web untuk mendapatkan gambar dari hotel karena itu, media lain seperti majalah, surat

- 23 -

kabar dan televisi tidak dimasukkan. Dengan mempertimbangkan studi lebih lanjut, menganalisis persepsi halal, sikap dan perilaku pembelian dapat mengembangkan lebih penjelasan terhadap konsep marketing halal.

2.2.2. Penelitian Analisis Komparatif Potensi Industri Halal dalam Wisata Syariah dengan Konvensional oleh M. Maulana Hamzah dan Yudi Yudiana. Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2015 ini mengupas tentang potensi industri halal dalam wisata syariah dan membandingkan antara bisnis syariah dengan konvensional. Disampaikan bahwa perbedaan mendasar antara bisnis syariah dan konvensional adalah visi dan misinya. Visi bisnis syariah ditekankan pada keimanan. Sedangkan misinya adalah berupa ibadah, jadi setiap aktivitasnya akan selalu bernilai ibadah. Sementara bisnis konvensional adalah komersial dengan misi melakukan profesionalisme dalam produksi. Berikut tabel paradigma bisnis syariah dengan konvensional.

Tabel 2.6. Paradigma Bisnis Syariah dengan Konvensional.

 

SYARIAH

KONVENSIONAL

VISI

Iman

Ideologi Komersial

MISI

Amal/ Ibadah

Profesionalisme Dalam Produksi

METODOLOGI

Syariah

Common Management Practice

Sumber : Riyanto Sofyan dalam Maulana Hamzah dan Yudi Yudiana (2015)

Disampaikan dalam tulisan mereka bahwa perlu mengintegrasikan antara wisata syariah dan konvensional untuk difokuskan pada industri halal. Dalam perkembangannya wisata konvensional lebih dulu berkembang ketimbang wacana wisata syariah.Meskipun Indonesia sudah lama menerapkan wisata syariah dari produk pangan yang halal.Namun kurangnya sosialisasi dan promosi, wisata syariah menjadi minus disini.Karena patut belajar dari Bali yang menjadi daerah tujuan wisata.Untuk pengembangan wisata syariah bisa mencontoh konsep wisata konvensional dalam hal promosi, paket wisata dan layanan. Lombok katakanlah, secara alam lebih unggul, alami dan indah dari bali, secara budaya jauh lebih islami. Namun karena kurangnya promosi, jumlah wisatwan yang berkunjung disini juga masih minim.

2.2.3. Serrin Razzaq, C. Michael Hall& Girish Prayag. The capacity of

New Zealand to accommodate the halal tourism market or not. Mereka meneliti situs penyedia akomodasi di Auckland dan Rotorua, dua tujuan wisata utama di Selandia Baru, negara yang semakin berusaha untuk memposisikan diri sebagai tujuan ramah halal di Asia dan Timur

- 24 -

Tengah. Analisis dari 367 situs akomodasi yang ditemukan hanya tiga situs yang secara khusus menyebutkan halal dan juga mengidentifikasi sejumlah atribut yang dapat mencegah lebih banyak wisatawan halal konservatif. Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan signifikan terhadap kapasitas sektor akomodasi Selandia Baru untuk kedua menyampaikan informasi akomodasi yang tepat untuk pasar Islam serta memberikan pengalaman memuaskan untuk mereka yang tinggal. Perbaikan substansial dalam pelatihan dan pendidikan direkomendasikan. Selandia Baru telah semakin mempromosikan dirinya sebagai tujuan ramah Muslim untuk menarik wisatawan halal. Banyaknya eksportir daging sapi halal dan domba negara ini berusaha untuk mempromosikan penawaran halal lainnya. Namun, penyediaan wisata halal dan perhotelan adalah proses yang jauh lebih rumit daripada daging halal. Hal ini membutuhkan pemahaman yang lebih bernuansa konsumen Islam dan posisi sosial-budaya mereka dan tuntutan yang berbeda ini akan memiliki pada pemasok. Sejumlah atribut yang berbeda dari akomodasi halal diidentifikasi dari literatur (Battour et al, 2010;.Henderson, 2010; Stephenson 2014) dan diterapkan pada analisis isi dari situs penyedia akomodasi dari Auckland dan Rotorua. Hanya 3 dari 367 situs dianalisis disebutkan halal dan hanya satu yang bersertifikat.

2.2.4. Penelitian Potensi Desa Wisata Berbasis Syariah di Kabupaten Sleman yang dilakukan oleh Unggul Priyadi, Yazid, Eko Atmaji. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi pengembangan desa wisata yang ada di kabupaten Sleman untuk menjadi desa wisata syariah sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakat setempat. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif menggunakan metode SWOT. Kesimpulan dari penelitian ini adalah potensi wisata di kabupaten Sleman cukup besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata karena telah tersedia fasilitas yang mendukung yaitu tempat ibadah yang memadai dan mudahnya akses makanan halal. Kendala dalam usaha pengembangan antara lain masyarakat masih belum memahami desa wisata syariah, kurangnya promosi dan layanan yang belum berstandard serta terbatasnya kreatifitas kerajinan dan kesenian. Alternatif strategi pengembangan yang ditawarkan peneliti yaitu peningkatan pemahaman masyarakat tentang desa wisatasyariah, optimalisasi potensi alam, sosial dan budaya untuk merespon minatmasyarakat untuk berkunjung atau meningkatkan frekuensi kunjungan ke desa wisata. Namun yang paling penting adalah komitmen semua pihak dalam merealisasikan strategi-strategi yang telah disusun untuk mengembangkan desa wisata syariah di kabupaten Sleman.

- 25 -

2.2.5. Penelitian Penciptaan Nilai Pariwisata: Sebuah Pendekatan Islam (Value Creation in Tourism: An Islamic Approach) oleh Abolfazi Tajzadeh Namin. Di dalam penelitian ini disampaikan meskipun Islam dianggap sebagai pasar utama global, namun nila-nilai islami belum didefinisikan secara baik di pasar pariwisata. Peneliti mengembangkan sebuah model, de Figureted di bawah ini, untuk penciptaan nilai pariwisata Islam.

di bawah ini, untuk penciptaan nilai pariwisata Islam. Gambar 2.2. Creating value in Islamic approach to

Gambar 2.2. Creating value in Islamic approach to tourism Developed by Abolfazl Tajzadeh Namin

Sumber: Tajzadeh Namin, 2013

Dalam pandangan peneliti, mata rantai yang hilang dalam pariwisata secara umum dan khususnyapariwisata Iran adalah menciptakan nilai melalui pariwisata Islam. Dengan kata lain, untuk meningkatkan tujuan wisata di Iran dan dunia islam, maka perlu untuk mengkaitkan tujuan berdasarkan prinsip-prinsip Islam dan mengelola tujuan dengan cara yang strategis dalam rangka menyediakan keunggulan kompetitif dalam dunia yang dinamis saat ini. Untuk memenuhi harapan wisatawan Muslim tidak hanya untuk memberikan wisatawan dengan pengalaman diinginkan tetapi juga untukmelindungi nilai-nilai yang ada dan kualitas hidup di tujuan.

Pada model di atas, terdapat interaksi antara semua komponen model.Model tersebut berguna untuk semua pemangku kepentingan (termasuk orang) baik di tingkat mikro dan makro. Dengan kata lain, sukses di tingkat nasional dan internasional perlu menciptakan

- 26 -

keseimbangan antara tujuan destinasi dan unsur-unsur yang ada untuk menciptakan nilai dalam pariwisata Islam secara konsisten untuk pengembangan pariwisata di Iran dan promosi nilai-nilai Islamdi seluruh dunia. Dengan demikian, mereka harus memiliki tingkat yang lebih tinggi dalam interaksi budaya dan pengetahuan lebih tentang nilai-nilai dan norma-norma mereka.Semua elemenbudaya, nilai-nilai, dan norma-norma harus digunakan untuk mengatasi ketidaksetaraan gender dan sosial serta melindungi hak asasi manusia. Pendekatan yang disampaikan peneliti untuk mempromosikan wisata Islam adalah marketer ikut terlibat dalam membuat pola travelling dan paket wisata.

2.3. Rerangka Berpikir Pemecahan Masalah

Berdasarkan studi dan publikasi terdahulu, maka dalam penelitian menggunakan rerangka berpikir sebagai berikut:

Pengembangan Wisata Syariah

berpikir sebagai berikut: Pengembangan Wisata Syariah Deskripsi potensi pengembangan wisata syariah Tingkat

Deskripsi potensi pengembangan wisata syariah

Tingkat kesiapan destinasi wisata syariah

wisata syariah Tingkat kesiapan destinasi wisata syariah Atraksi wisata: Alam, Budaya, Buatan Amenitas:

Atraksi wisata:

Alam, Budaya,

Buatan

Amenitas:

Perhotelan, Restoran, Biro Perjalanan Wisata, Spa, pramuwisata

Aksesibilitas Ancillary/ kelembagaan
Aksesibilitas
Ancillary/
kelembagaan
Spa, pramuwisata Aksesibilitas Ancillary/ kelembagaan Hasil Penelitian & Analisis Strategi, Kesimpulan &

Hasil Penelitian & Analisis

Ancillary/ kelembagaan Hasil Penelitian & Analisis Strategi, Kesimpulan & Masukan Kebijakan Gambar 2.3.

Strategi, Kesimpulan & Masukan Kebijakan

Gambar 2.3. Rerangka Berpikir Kajian Wisata Syariah di Indonesia

Sumber: diolah peneliti (2015)

- 27 -

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian

bersifat

deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan didukung pula dengan data kualitatif. Cakupan/besaran sumber data yang dijadikan sebagai subyek penelitian hanya sampel yang dianggap representatif. Menurut Sugiyono (2012):23) dikatakan metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Selain itu, pendekatan kuantitatif digunakan karena peneliti menempatkan teori sebagai titik tolak utama atas rasa ingin tahu peneliti untuk mengukur tingkat kesiapan destinasi wisata dalam mengembangkan wisata syariah di Indonesia.

Berdasarkan

tujuan,

penelitian

ini

termasuk

penelitian

3.2. Metode Pengolahan Data

Analisis data dilakukan dengan program SPSS (Statistical Package for the Social Science). Kompilasi data awal meliputi seleksi dan pengelompokkan data sesuai kebutuhan analisis, mengubah bentuk data ke dalam peta, tabel, diagram, grafik, gambar dan uraian sesuai dengan tujuan analisis, yang dihimpun dalam suatu dokumen kompilasi data. Hasil program SPSS tersebut akan dideskripsikan dalam bentuk narasi untuk mengetahui persepsi pelaku usaha dan wisatawan.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka yang diperoleh akan dianalisis lebih lanjut dalam analisis data. Sumber data adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya,

data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. a. Data primer yaitu data yang dibuat peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Dalam penelitian ini data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan. Data primer diperoleh dengan melakukan survei menggunakan kuesioner terhadap pelaku usaha wisata dan pengunjung/wisatawan, FGD, wawancara mendalam, dan observasi. Guna melengkapi informasi/data, survei dan wawancara juga dilakukan dengan dinas/instansi pemerintah daerah terkait, masyarakat lokal dan pengunjung/wisatawan.

- 28 -

b. Data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Selain itu juga berasal dari kantor-kantor pemerintah dan instansi terkait, antara lain jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh dan Manado, serta gambaran umum lokasi penelitian, dan beberapa informasi lain yang berisikan tentang pariwisata syariah.

3.4. Penentuan Variabel dan Definisi Operasional Variabel

Agar penelitian ini dapat mengukur variabel-variabel penelitian dengan tepat, maka perlu dibuat indikator-indikator yang dapat secara valid dan reliabel mengukur variabel penelitian. Hal ini penting, agar sesuai dengan kerangka teori yang telah dipilih sebelumnya dan memudahkan untuk menyusun pertanyaan dalam kuesioner. Beberapa definisi operasional terkait, yaitu:

a. Wisata Syariah adalah wisata yang di dalamnya berasal dari alam, budaya, ataupun buatan yang dibingkai dengan nilai-nilai Islam dimana kegiatannya didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan (hotel, restoran, biro perjalanan, spa) yang disediakan masyarakat, pengusaha,

pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah/islami. b. Dalam melihat kesiapan destinasi wisata syariah, maka digunakan komponen:

Tabel 3.1. Definisi Operasional Kajian Pengembangan Wisata Syariah

No

Variabel

 

Sub Variabel

Indikator

 

Skala

1

Atraksi

1.

Alam

Pertunjukan Seni dan

 

Ordinal

2.

Budaya

Budaya serta atraksi yang

3.

Buatan

tidak bertentangan dengan kriteria umum Pariwisata Syariah

 

Terjaga kebersihan sanitasi dan lingkungan

Ordinal

Terdapat tempat ibadah yang layak dan suci untuk wisatawan muslim di Objek wisata.

Ordinal

Tersedia sarana bersuci yang layak (kebersihan dan ketersediaan air untuk bersuci) di objek wisata.

Ordinal

Tersedia

makanan

dan

Ordinal

minuman halal

2

Amenitas

1.

Perhotelan

Tersedia fasilitas yang layak untuk bersuci

 

Ordinal

 

Tersedia fasilitas yang

 

Ordinal

- 29 -

 

memudahkan untuk beribadah

 

Tersedia makanan dan minuman yang halal

Ordinal

Fasilitas dan suasana yang aman, nyaman dan kondusif untuk keluarga dan bisnis

Ordinal

Terjaga kebersihan sanitasi dan lingkungan

Ordinal

2. Restaurant/Penyedia Makananan dan Minuman

Terjamin kehalalan Makanan dan Minuman dengan sertifikasi Halal MUI

Ordinal

Ada jaminan Halal dari MUI setempat, tokoh Muslim atau pihak terpercaya, dengan memenuhi ketentuan yang akan ditetapkan selanjutnya

Ordinal

Terjaga lingkungan yang sehat dan bersih

Ordinal

3. Biro Perjalanan Wisata

Menyediakan paket perjalanan/wisata yang sesuai dengan kriteria pariwisata syariah

Ordinal

Memiliki daftar akomodasi yang sesuai dengan panduan umum akomodasi pariwisata syariah

Ordinal

Memiliki daftar usaha penyedia makanan dan minuman yang sesuai dengan panduan umum usaha penyedia makanan dan minuman pariwisata syariah

Ordinal

4. Spa

Terapis pria untuk pelanggan pria, dan terapis wanita untuk pelanggan wanita

Ordinal

Tidak mengandung unsur porno aksi dan pornografi

Ordinal

Menggunakan bahan yang halal dan tidak terkontaminasi Babi dan produk turunannya

Ordinal

Tersedia sarana yang memudahkan untuk beribadah

Ordinal

5.

Pramuwisata

Memahami dan mampu melaksanakan nilai-nilai syariah dalam menjalankan tugas

Ordinal

 

Berakhlak baik, komunikatif,

Ordinal

- 30 -

   

ramah, jujur dan bertanggung jawab

 

Berpenampilan sopan dan menarik sesuai dengan nilai etika islam

Ordinal

Memiliki kompetensi kerja sesuai dengan standar profesi yang berlaku

Ordinal

3 Aksesibilitas

1. Informasi

Kemudahan akses

Ordinal

informasi wisata

syariah/halal

2. Keterjangkauan

Objek wisata mudah dijangkau

Ordinal

Transportasi (darat. Laut, udara) mudah

Ordinal

Biaya transportasi sesuai dengan yang standard

Ordinal

4 Ancillary

1. Kelembagaan

Terdapat sistem yang mendukung sertifikasi halal di destinasi wisata.

Ordinal

Terdapat kelembagaan yang mendukung sertifikasi halal di destinasi wisata.

Ordinal

Terdapat sistem yang mendukung sertifikasi halal di destinasi wisata.

Ordinal

2. Pemberdayaan

Penyerapan tenaga kerja dari masyarakat lokal

Ordinal

masyarakat

Sikap masyarakat

Ordinal

3. Pemasaran

Promosi

Ordinal

Branding yang tepat

Ordinal

Sumber: data diolah dari berbagai sumber

3.5. Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2004:72). Populasi adalah keseluruhan objek penelitian sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki dan oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2004:73). Sampel merupakan bagian atau subset dari pada populasi, sampel diambil dari bagian populasi yang dipilih. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti subjeknya kurang dari 100 maka diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika subjeknya besar, maka 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih tergantung kemampuan penelitian. Dalam penelitian ini, pengambilan sampel sebagai responden dilakukan dengan teknik nonprobability sampling (penarikan sampel secara tidak acak) karena terkait dengan pengurangan biaya dan permasalahan yang mungkin timbul dalam pembuatan kerangka sampel atau kerangka

- 31 -

sampel tidak diperlukan dalam pengambilan sampel secara nonprobability. Menurut Sugiyono (Sugiyono, 2012):67), dalam teknik nonprobability sampling, sampel yang diambil tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur anggota populasi. Teknik nonprobability sampling menurut Sugiyono (Sugiyono, 2012, hal. 68) meliputi sampling sistematis, kuota, accidental sampling, purposive, jenuh, dan snowball. Dalam penelitian ini digunakan teknik accidental sampling. Menurut Santoso dan Tjiptono (2001:89 90) Accidental Sampling (Convenience sampling) adalah prosedur sampling yang memilih sampel dari orang atau unit yang paling mudah dijumpai atau diakses. Sedangkan menurut Sugiyono, Accidental Sampling adalah mengambil responden sebagai sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data dengan kriteria utamanya adalah orang tersebut merupakan wisatawan dan pelaku usaha pariwisata. Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Aceh dan Manado baik wisatawan domestik dan mancanegara. Karena di kedua lokus penelitian tersebut wisman terbatas, maka responden belum dapat ditentukan jumlahnya. Dalam penelitian ini jumlah populasi tidak diketahui, maka untuk memudahkan penentuan jumlah sampel yang diambil ditentukan dengan rumus (Riduwan, 2004):66) :

= 0, 25 ( / 2 ) 2

Dimana:

N = jumlah sampel

Z α/2 = nilai yang didapat dari tabel normal atas tingkat keyakinan

ε = kesalahan penarikan sampel

tingkat keyakinan dalam penelitian ini ditentukan sebesar 95% maka nilai Z α/2 adalah 1,96. Tingkat kesalahan penarikan sampel ditentukan sebesar 10%. Maka dari perhitungan rumus tersebut dapat diperoleh sampel yang

dibutuhkan, yaitu:

= 0 ,25 ( 1 , 96 ) 2

0

, 1

= 96,04

Jadi berdasarkan rumus di atas, sampel yang diambil sebanyak 96,04 orang.

Untuk memudahkan perhitungan makan dibulatkan ke atas menjadi 100

orang. Kriteria responden wisatawan yang akan diambil sebagai sampel sebesar 100 orang adalah:

a. Responden yang berusia di atas atau sama dengan 17 tahun

b. Responden beragama Islam

- 32 -

c.

Lokasi pengambilan responden adalah destinasi wisata di Manado dan Banda Aceh

3.6. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif terhadap aspek-aspek yang berhubungan dengan pariwisata syariah di wilayah yang menjadi objek penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder (studi pustaka) dari sumber-sumber sebelumnya, baik dari hasil penelitian maupun publikasi, sedangkan data primer (FGD, wawancara dan penyebaran kuesioner), serta melakukan pengamatan

langsung di lapangan (survei dan observasi) sebagai dasar untuk memahami potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wisata syariah. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah:

a. Penelusuran Literatur dan kebijakan yang sudah dibuat, dilakukan, dan disosialisasikan oleh Kementerian Pariwisata.

b. Persiapan survei meliputi Studi kepustakaan untuk mendapatkan gambaran keadaan kawasan daerah yang dikembangkan baik dari data sejarah maupun kondisi saat ini, menyiapkan instrumen penelitian (pedoman FGD, pedoman wawancara, daftar kuesioner), jadwal kegiatan, menyiapkan peta, peralatan lapangan, penyusunan dan pembagian tugas tim.

c. Pelaksanaan survei meliputi berkunjung ke instansi terkait (pemerintah dan non-pemerintah) untuk mendapatkan data tertulis atau peta, serta survei lapangan untuk memperoleh informasi dengan cara pengamatan, wawancara dan dengan pihak industri pariwisata (hotel, Biro Perjalanan, Obyek Wisata) dan wisatawan, pelaku industri pariwisata serta masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat.

d. Focus Group Discussion (Yusuf I. A., 2011) FGD dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Irwanto (Irwanto, 2006):1-2) mendefinisikan FGD adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. Sesuai namanya, pengertian Focus Group Discussion (FGD) mengandung tiga kata kunci: a. Diskusi (bukan wawancara atau obrolan); b. Kelompok (bukan individual); c. Terfokus/Terarah (bukan bebas). Artinya, walaupun hakikatnya adalah sebuah diskusi, FGD tidak sama dengan wawancara, rapat, atau obrolan beberapa orang di kafe-kafe. FGD bukan pula sekadar kumpul-kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Banyak orang berpendapat bahwa FGD dilakukan untuk mencari solusi atau menyelesaikan masalah. Artinya, diskusi yang

- 33 -

dilakukan ditujukan untuk mencapai kesepakatan tertentu mengenai suatu permasalahan yang dihadapi oleh para peserta, padahal aktivitas tersebut bukanlah FGD, melainkan rapat biasa. FGD berbeda dengan arena yang semata-mata digelar untuk mencari konsensus. Sebagai alat penelitian, FGD dapat digunakan sebagai metode primer maupun sekunder. FGD berfungsi sebagai metode primer jika digunakan sebagai satu-satunya metode penelitian atau metode utama (selain metode lainnya) pengumpulan data dalam suatu penelitian. FGD sebagai metode penelitian sekunder umumnya digunakan untuk melengkapi riset yang bersifat kuantitatif dan atau sebagai salah satu teknik triangulasi. Dalam kaitan ini, baik berkedudukan sebagai metode primer atau sekunder, data yang diperoleh dari FGD adalah data kualitatif. Di luar fungsinya sebagai metode penelitian ilmiah, Krueger & Casey (Krueger, 2002) menyebutkan, FGD pada dasarnya juga dapat digunakan dalam berbagai ranah dan tujuan, misalnya (1) pengambilan keputusan, (2) needs assesment, (3) pengembangan produk atau program, (4) mengetahui kepuasan pelanggan, dan sebagainya. e. Penyebaran kuesioner sebanyak 100 responden di masing-masing lokasi penelitian dengan metode penarikan accidental sampling kepada wisatawan untuk mengetahui persepsi mereka terhadap wisata syariah.

3.7. Teknik Analisis Data

Ada dua pengukuran variabel, yaitu (1) Atraksi dan, (2) Amenitas. Dari setiap variable ditentukan sub variable dan indikator untuk masing- masing sub variabel. Penilaian terhadap indikator menggunakan interval dengan Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), Tidak Baik (TB), dan Sangat Tidak Baik (STB). Teknik analisa data menggunakan uji kualitas data pada program SPSS 20.0 for windows. Selain menggunakan analisis SPSS, data hasil FGD dan wawancara mendalam akan dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threathened). Dengan menggunakan dua teknik analisis dimaksud, diharapkan dapat mencapai hasil dan

rekomendasi yang optimal. Analisis SWOT adalah sebuah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi Strengths, Weakness, Opportunities, dan Threats terlibat dalam suatu proyek atau dalam bisnis usaha. Hal ini melibatkan penentuan tujuan usaha bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang baik dan menguntungkan untuk mencapai tujuan itu. Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500.

- 34 -

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA SYARIAH ACEH

4.1. Kondisi Umum Pariwisata di Aceh

4.1.1. Potensi Daya Tarik Wisata Kota Banda Aceh (Jenis Daya Tarik Wisata: alam, budaya, man made) Banda Aceh merupakan salah satu kota yang dilanda bencana alam Tsunami pada Desember Tahun 2004. Pasca bencana Tsunami, kota Banda Aceh kembali di bangun oleh Pemerintah dan berbagai bantuan dari luar mancanegara. Hingga saat ini Banda Aceh telah berkembang pesat dari berbagai segi, baik segi ekonomi, pendidikan, dan pariwisata khususnya. Letak geografis Kota Banda Aceh berada antara 5°30- 5°35LU dan 95°30- 99°16BT dengan luas wilayah keseluruhan ± 61,36 km 2 dan ketinggian rata- rata 0,80 meter di atas permukaan laut, memiliki posisi strategis yang berhadapan dengan negara-negara di selatan Benua Asia dan merupakan pintu gerbang Republik Indonesia di Bagian Barat. Kondisi ini merupakan potensi yang besar baik secara alamiah dan ekonomis. Potensi tersebut secara tidak langsung akan menjadi aset bagi Kota Banda Aceh khususnya dan Provinsi Aceh secara umum untuk lebih membuka diri terhadap daerah sekitarnya maupun dunia luar atau lebih mengenalkan dan menumbuhkan citra serta jati diri dalam ajang nasional dan internasional. Pasca bencana Tsunami, kunjungan wisatawan ke kota Banda Aceh hingga saat ini cukup menggembirakan. Walau tidak signifikan peningkatannya tetapi sudah menunjukkan trend yang baik. Beberapa potensi wisata di Aceh:

a. Masjid Raya Baiturrahman Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol utama kota Banda Aceh yang terletak di sebelah selatan sungai Kreung Aceh. Masjid dengan menara setinggi 35 meter dengan 7 kubah ini paling ramai dikunjungi masyarakat dan wisatawan luar. Arsitektur bangunan yang unik membuat desain masjid ini banyak dicontoh oleh masjid-masjid lain di Indonesia sampai ke Semenanjung Malaysia. Masjid Baiturrahman dibangun pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada periode 1607-1636 yang sangat giat mengembangkan ajaran agama Islam dalam wilayah kerajaan Aceh. Dalam sejarahnya, masjid ini

- 35 -

pernah digunakan sebagai markas dan tempat pertahanan bagi pasukan perang Aceh melawan pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, tempat ini juga menjadi saksi bisu terjadinya gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 silam. Sebab, masjid ini menjadi tempat berlindung ribuan pengungsi yang menyelamatkan diri.

tempat berlindung ribuan pengungsi yang menyelamatkan diri. Gambar 4.1. Masjid Raya Baiturrahman Sumber: Hasil Observasi

Gambar 4.1. Masjid Raya Baiturrahman

Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2015

b. Museum Nagari Aceh Museum negeri Aceh adalah obyek wisata

yang patut dikunjungi

karena menyimpan kebudayaan “Tanah Rencong” pada masa lalu. Museum ini berbentuk sebuah rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh) dan memiliki halaman yang hijau yang luas. Terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmud Syah. Di dalam museum ini terdapat barang-barang kuno seperti keramik, persenjataan serta benda-benda budaya lainnya seperti pakaian adat, perhiasan, kaligrafi, alat rumah tangga dan masih banyak lagi. Lebih lagi juga terdapat sebuah lonceng besar yang diberi nama “Lonceng Cakra Donya”, sebuah lonceng hadiah dari Maharaja China untuk Kerajaan Pasai yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Lonceng ini juga menjadi salah satu bukti kejayaan Kerjaan Aceh pada masa lalu.

c. Benteng Indra Patra

sejarah sebagai tempat

pertahanan masyarakat kerajaan Lamuri dari serangan Portugis. Terletak di dekat pelabuhan Krueng Raya berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Benteng ini berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 70 meter persegi, dengan tinggi 4 meter dan berdinding kokoh dengan ketebalan sekitar 2 meter. Dengan bentuk yang unik di dalamnya terdapat bebatuan berbentuk lorong kecil yang terbuat dari beton kapur. Benteng ini merupakan situs penting bagi masyarakat Aceh. Terdapat kisah perlawanan, pemberontakan, intrik dan kepahlawanan orang dibalik sejarah benteng ini.

Benteng

ini

menjadi

salah

satu

bukti

- 36 -

d.

Kerkhoff

serdadu Belanda yang

gugur dalam peperangan melawan rakyat Aceh. Komplek makam yang cukup luas ini berlokasi di Jalan Teuku Umar, disamping Blang Padang, Banda Aceh. Kerkhoff dibangun pada tahun 1880 dan di dalam komplek ini terdapat kurang lebih 2.200 kuburan serdadu Belanda yang dimakamkan Jenderal JHR Kohler yang gugur ditembak oleh pasukan Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman. Selain itu pengunjung juga bisa mengetahui kisah-kisah tentang prajurit semasa hidupnya yang diceritakan sekilas pada batu nisan. Kuburan-kuburan ini seolah bercerita kepada pengunjung tentang bagaimana “penghuninya” semasa hidup.

Kerkhoff

adalah

sebuah

komplek

kuburan

semasa hidup. Kerkhoff adalah sebuah komplek kuburan Gambar 4.2. SERAMBI INDONESIA/M ANSHAR Pengunjung menikmati

Gambar 4.2. SERAMBI INDONESIA/M ANSHAR Pengunjung menikmati suasana di Gedung Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh. Selain berisi informasi tentang gempa dan tsunami, museum berlantai empat dengan arsitektur modern yang dibangun tahun 2007 tersebut juga diperuntukkan sebagai tempat evakuasi bencana alam.

(http://travel.kompas.com/read/2015/10/10/151000627/5.Obyek.Wisata.Sejarah.

di.Banda.Aceh)

e. Museum Tsunami Aceh Terletak di Jalan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh. Museum ini masih menyimpan banyak kenangan yang tidak pernah luput dari masyarakat Aceh. Puing-puing kenangan yang tersimpan dalam foto, rekaman suara, hingga struktur bangunan yang dirancang M. Ridwan Kamil (sekarang Walikota Bandung) menyibak kesedihan dalam setiap langkah di museum ini. Memiliki empat lantai yang masing-masing berisi ruangan pameran dan instalasi. Pertama pengunjung akan diberikan suasana dramatis dengan percikan air di lorong gelap. Suasana itu akan terasa mengerikan mengingat tragedi tsunami di Aceh silam menuju pintu masuk museum. Di dalam museum akan dihadirkan podium-podium yang menampilkan rangkaian foto Banda Aceh sesaat setelah tragedi tsunami. Rangkaian foto pun akan bergerak otomatis mengganti sejumlah gambar suasana sesaat setelah tsunami. Dari ruangan itu terdapat jalan sempit menuju sebuah ruangan

- 37 -

bercahaya redup dengan atap berhias kaca patri berlafal “Allah”. Suasana dramatis semakin terasa karena di sekeliling dindingnya ditempelkan nama ribuan korban akibat tsunami. Khusus untuk lantai 4 diperuntukkan sebagai tempat evakuasi bencana alam bagi para warga. Selama berkunjung pengunjung bisa menikmati semua fasilitas secara gratis.

pengunjung bisa menikmati semua fasilitas secara gratis. Gambar 4.3. Museum Tsunami Aceh (tampak depan) Sumber:

Gambar 4.3. Museum Tsunami Aceh (tampak depan)

Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2015

f. Pantai Ulee Lheue Tempat wisata yang satu ini hanya berjarak 3 km dari pusat kota Banda Aceh, tepatnya di Kecamatan Meuraxa. Kegiatan yang paling populer di pantai ini adalah memancing. Apabila pengunjung tidak membawa alat pancing, terdapat pedagang yang menjualnya di sekitar pantai. Selain memancing, bisa juga menyewa perahu nelayan untuk berlayar di laut atau duduk santai di tepi pantai menikmati jagung bakar. Dari pantai bisa melihat barisan pegunungan diseberang yang menambah keindahan Pantai Ulee Lheue.

g. PLTD Apung

PLTD Apung merupakan kapal berbobot 2.600 ton. Saat kejadian tsunami 26 Desember 2004 silam, kapal ini sedang berada di Pantai Ulee Lhee, Banda Aceh. Akibat diterjang tsunami, kapal terseret dan terdampar 5 km ke perkampungan Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh. Wisatawan bisa berkunjung ke tempat ini untuk membuktikan kedahsyatan tsunami aceh. Kapal PLTD Apung kini menjadi monumen tidak sengaja dari bencana besar itu. Sejak April 2012, di sekeliling area dipagari besi setinggi 1,5 meter. Beragam fasilitas ditambah, mulai dari jembatan, prasasti hingga ruang dokumentasi. Pasca-tsunami melanda Aceh, kapal itu menjadi menjadi perhatian, tidak hanya dari masyarakat Aceh, tetapi juga hingga mancanegara. PLTD Apung adalah situs tsunami yang alami, artinya bukan dibangun oleh manusia, tapi tercipta oleh alam, dan itu yang menjadi alasan bagi pengunjung untuk melihat langsung keajaiban alam tersebut. Berwisata

- 38 -

di Kota Banda Aceh memang terasa kurang bila belum berkunjung ke situs PLTD Apung. Kapal PLTD Apung ini sebelumnya digunakan untuk mengatasi kekurangan arus listrik di Banda Aceh. Namun, di pengujung tahun 2004 tsunami menerjang Aceh. Gelombang raksasa mendamparkan kapal pembangkit arus listrik ini ke daratan.

mendamparkan kapal pembangkit arus listrik ini ke daratan. Gambar 4.4. PLTD Apung Sumber: Hasil Observasi Lapangan,

Gambar 4.4. PLTD Apung

Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2015

h. Kapal di Atas Rumah Bencana Tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu membawa kapal seberat 20 ton ini tersangkut di atas rumah penduduk di kawasan gampong Lampulo, tepatnya di atas rumah keluarga Misbah dan Abassiah. Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini terbuat dari kayu. Bagian bawah kapal dicat warna hitam, sedangkan badan kapal tampak telah dicat kembali dengan cat minyak berwarna perak. Beberapa bagian di dinding kapal terlihat mulai lapuk dimakan usia. Bagi para pengunjung keberadaan kapal ini tentu saja akan mengingatkan pada kekuasaan Sang Pencipta. Untuk memudahkan pengunjung melihat bagian atas kapal, dibangun tangga datar setinggi lima meter. Seluruh bangunan ini berwarna abu-abu. Dari atas sini kita dapat dengan leluasa melihat bagian dalam kapal dan juga rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Di bawah kita akan menemukan sebuah plakat dalam tiga bahasa; Aceh, Indonesia dan Inggris. Plakat ini dirancang oleh tim Bustanussalatin dan bantuan recovery Aceh- Nias Trust Fund BRR. Di atas plakat ada tulisan “Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu”.

- 39 -

Gambar 4.5. Kapal di Atas Rumah Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2015 4.1.2. Potensi Amenitas (infrastruktur

Gambar 4.5. Kapal di Atas Rumah

Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2015

4.1.2. Potensi Amenitas (infrastruktur pendukung pengembangan wisata syariah: jumlah hotel, resto/kuliner) Jumlah hotel dan jasa akomodasi di Kota Banda Aceh terus bertambah seiring banyaknya jumlah wisatawan yang datang ke Kota Banda Aceh. Hingga akhir tahun 2014, di Kota Banda Aceh tercatat 51 usaha akomodasi yang terdiri dari 8 hotel bintang, 23 hotel melati, dan 16 jasa akomodasi lainnya. Dari delapan hotel bintang, satu diantaranya merupakan hotel bintang empat, empat diantaranya merupakan hotel bintang tiga, dan tiga lainnya merupakan hotel bintang satu. Namun, sebagian besar hotel di Aceh belum memiliki label/sertifikasi sebagai hotel syariah, meskipun dalam pelayanannya sudah menerapkan prinsip syar’i. Misalnya jika ada dua orang dengan jenis kelamin berbeda akan diminta surat/buku nikah bila akan menginap, tersedia petunjuk arah kiblat di setiap kamar, sajadah, dan lain- lain.

Sebagai Daerah yang memberlakukan syariat Islam sudah selayaknya Provinsi Aceh dan Kota Banda Aceh juga melakukan sertifikasi produk yang Halal di wilayahnya. Sejak bulan Oktober 2014 di launching program sertifikasi Halal oleh Kantor Lembaga Pemeriksa & Pengawas Obat & Makanan, Majelis Permusyawaratan Ulama (LPPOM MPU) Aceh dan memberikan promosi pembiayaan gratis bagi pelaku usaha yang mengajukan sertifikasi halal diantaranya permohonan sertifikasi halal restoran dan katering. Sosialisasi juga terus ditingkatkan Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh dengan mengajak para pedagang untuk menjual makanan yang halal, baik dan bersih atau halallan thayibban. Beberapa Restoran yang terkenal di Banda Aceh yang sudah terdaftar dalam web TripAdvisor, diataranya: Solong Coffee, Warung Kopi Solong, La Piazza, Canai Mamak, Mie Razali, Sate Matang D’Wan, Joel’s Bungalows and Resturant, Rumah Makan Spesifik Aceh, Banda Seafood, Imperial Kitchen,,

- 40 -

Country Steak House, Warung Makan Hasan 3 (Cabang Kreung Cut), Pizza Hut, Tanabata Coffee, Thousand Hills Ketambe, Soup Sumsum Kutaraja, Restoran Kartika, Menara Bambu Cafe, Kentucky Fried Chicken (KFC), Ayam Bakar Wong Solo, Restoran Bunda, My Bread Bakery and Cafe, Rumah Makan Asia, Nasi Gurih Fakinah, Restoran Aceh Barat, Rumah Makan Aceh Rasa Utama, Oasis Lobby Lounge, Caswells Coffee, Mie Ramen Akira, Tropicana, Texas Chicken, PP Cafe & Restaurant, Rendesuous Restaurant, Tanabata, Ramayana Baksi Batoh, Kopi Beurawe, RM Kurnia Dewi, Pizza Corner, Rumah Makan Garuda, RM Narita, RM Edy Putra, RM Cindy Baru, Joglo Cafe, RM Aceh Setia.

Dalam mendukung pengembangan wisata syariah, jika dilihat dari

sarana ibadah yang tersedia di Kota Banda Aceh pada tahun 2014 sebesar 95

(

%

dari 3939 buah di Provinsi Aceh) buah dan 76 Meunasah/Masjid kecil

(

%

dari 6363 buah di Provinsi Aceh). Di Kota Banda Aceh juga terdapat 26

pesantren (5,24% dari 1202 jumlah pesantren di Provinsi Aceh) dengan jumlah Tengku/guru sebanyak 418 orang (2,63 % dari 15.906 orang Tengku/guru di Provinsi Aceh) (sumber: (BPSProvAceh, 2014)).

4.1.3. Potensi Aksesibilitas (transportasi, penerbangan, informasi)

Akses menuju Aceh dapat ditempuh dengan transportasi darat, laut maupun udara. Melalui Provinsi Sumatera Utara terdapat banyak sekali bus umum dengan frekuensi keberangkatan dan Class of Services yang bervariasi mulai dari Economic Class sampai dengan Super VIP kondisi jalan sepanjang Provinsi Aceh sangat baik dan nyaman dilalui. Berikut penjelasannya:

Aceh sangat baik dan nyaman dilalui. Berikut penjelasannya: Gambar 4.6. Jalur Transportasi Ke Aceh Sumber:

Gambar 4.6. Jalur Transportasi Ke Aceh

a. Kondisi jalan

- 41 -

Kondisi jalan menjadi faktor pendukung pengembangan pariwisata di suatu destinasi. Berdasarkan data BPS Provinsi Aceh (2013) panjang jalan di Banda Aceh sebesar 27,41 KM, dimana menurut kondisi jalan 25,38 KM dalam kondisi baik, 2,03 KM dalam kondisi sedang, dan tidak ada jalan dalam kondisi rusak. Pada saat penelitian dilakukan sebagian besar jalan raya di Kota Banda Aceh masih tetap dalam kondisi fisik yang cukup baik dengan penerangan lampu dan rambu lalu lintas yang cukup jelas.

b. Transportasi darat Di Bandara Sultan Iskandar Muda telah tersedia Taksi dengan tarif resmi. Yang disebut taksi di Aceh bukanlah taksi seperti Bluebird atau Express melainkan kendaraan SUV seperti Avanza, APV dan merk SUV lainnya. Tarif Taxi berbeda-beda sesuai tempat tujuan (lihat gambar). Labi labi atau angkot di Aceh hanya beroperasi sampai jam 6 sore, selanjutnya bisa naik becak motor, sesuai tarif perda Rp. 3.000,-/km. Kota Banda Aceh sebagai ibukota provinsi Aceh saat ini juga memiliki karakteristik permasalahan transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Pertumbuhan populasi kendaraan pribadi yang tinggi telah menimbulkan persoalan bagi kelestarian/keasrian lingkungan kota. Angkutan publik berupa angkutan perkotaan yang pernah menjadi andalan masyarakat kian hari semakin ditinggalkan. Hal ini disebabkan pelayanan yang tidak disesuaikan dengan perkembangan kondisi ekonomi dan teknologi saat ini. Kondisi dan persoalan transportasi di Kota Banda Aceh harus sesegera mungkin diatasi. Apabila tidak, kondisi ini akan menjadi permasalahan besar dan rumit dan semakin sulit di pecahkan. Pertimbangan utama dalam perencanaan transportasi perkotaan Kota Banda Aceh adalah mengefektifkan fungsi dari angkutan umum agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan massal. Perencanaan koridor dilakukan dengan dengan meminimumkan jarak dan waktu tempuh perjalanan, penyediaan prasarana halte dan sarana bus yang memberi rasa aman dan nyaman bagi pengguna. Perencanaan koridor untuk angkutan massal Kota Banda Aceh dan sekitarnya

dilakukan

mempertimbangkanjuga ruas jalan eksisting yang dapat dilalui untuk mengakses area CBD (Central Business District) dengan mengintegrasikan pelabuhan dan bandar udara serta pusat-pusat aktivitas lainnya mengacu

District ) dengan mengintegrasikan pelabuhan dan bandar udara serta pusat-pusat aktivitas lainnya mengacu dengan - 42

dengan

- 42 -

pada Rencana Tata Ruang Wilayah. Berdasarkan hasil studi literatur, diperoleh informasi bahwa pengembangan koridor angkutan massal kota Banda Aceh dan sekitarnya terbagi atas 4 (empat) koridor utama antara lain koridor 1: Pelabuhan Ulee LheueTerminal APK Keudah - Bandara SIM, Koridor 2: Terminal APK Keudah Darussalam, Koridor 3: Terminal APK Keudah Mata Ie, Koridor 4:

Terminal APK Keudah Lhoknga (dishubkomintel, 2015). Pertumbuhan transportasi di Kota Banda Aceh masih tergolong kecil. Faktor penyebab tumbuhnya transportasi ini di antaranya bertambahnya mahasiswa baru. Sehingga Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kota Banda Aceh pada tahun 2015 mengadakan Bus Trans Koetaraja yang diperuntukkan bagi pelajar/mahasiswa dengan tarif murah dan membangun halte guna menunjang bus tersebut. Belum tersedia fasilitas transportasi darat yang khusus diperuntukkan bagi wisatawan dengan tarif murah atau gratis semisal shuttle bus pariwisata yang menghubungkan antar atraksi wisata di Aceh, sehingga memudahkan aksesibilitas wisatawan dalam menjangkau setiap destinasi yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya. Namun, keterhubungan antar moda di Banda Aceh telah tersedia pelayanan Angkutan Pemadu Moda/bandara pada Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, dimana operator pelaksananya adalah Perum DAMRI. Jenis angkutan ini merupakan salah satu akses yang mudah untuk keluar dan masuk bandara dari titik-titik simpul di Kota Banda Aceh dan sekitarnya.

c. Transportasi Udara Transportasi melalui udara di dukung oleh Bandara Internasional yaitu Bandara Sultan Iskandar Muda. Tidak kurang dari 6 perusahaan Penerbangan yaitu Garuda Indonesia Airlines, Lion Air, NBA, Fire Fly Airlines, Susi Air dan Air Asia Airlines. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mengungkapkan jumlah pengguna jasa transportasi udara melalui bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar pada Juli 2015 naik sebesar 19,52 persen dibanding Juni 2015. Jumlah penumpang yang berangkat melalui Bandara SIM Blang Bintang Aceh Besar pada Juni sebanyak 52.501 orang dan menjadi 62.213 orang pada bulan Juli. total penumpang yang berangkat dari seluruh bandara yang ada di provinsi ujuung paling barat Indonesia itu dari periode Januari sampai Juli 2015 sebanyak 472.164 penumpang yang diangkut dengan 6.832 kali penerbangan (selasar, 2015). Jadwal penerbangan domestik:

i. Garuda Indonesia (14 kali dalam seminggu) Jakarta Banda Aceh 07:50 12:30

- 43 -

12:00 14:45 Banda Aceh Jakarta 08:20 11:05 15:50 18:35

ii. Lion Air (7 kali dalam seminggu) Jakarta Banda Aceh 08:45 11:35 Banda Aceh Jakarta 12:15 15:05

iii. Susi Air Susi Air mulai mengoperasikan dua KPA (Kuasa Pengguna Anggaran) subsidi yang dipusatkan di Nagan Raya dan Takengon. Dua wilayah yang dijadikan jantung penerbangan perintis itu dipastikan mampu melayani 10 rute penerbangan di Aceh. KPA Nagan Raya yang sudah beroperasi melayani empat rute, yaitu Sinabang-Nagan Raya, Banda Aceh-Nagan Raya, Medan-Singkil, dan Kutacane-Banda Aceh. Sementara KPA Takengon memiliki enam rute penerbangan, masing- masing Medan-Takengon, Banda Aceh-Blangpidie, Banda Aceh- Tapaktuan, Medan-Blangpidie, Medan-Tapaktuan, dan Banda Aceh- Takengon.

Sementara itu, penerbangan internasional ke Aceh hanya ada penerbangan dari dan ke Malaysia, seperti:

i.

Air Asia (10 kali dalam seminggu) Kuala Lumpur Banda Aceh 08:00 08:25 Banda Aceh Kuala Lumpur 08:50 11:20

ii.

Firefly (7 kali dalam seminggu) Penang Banda Aceh 11:05 11:45 Banda Aceh Penang 12:15 2:55

iii.

Lion Air (7 kali dalam seminggu) Penang Banda Aceh 12:10 15:55 Banda Aceh Penang 13:00 18:05

4.1.4.

Potensi Market Wisatawan

Aceh masih sebatas menjadi tempat transit bagi para wisatawan, terutama dari Eropa (travel.kompas, 2014). Umumnya, tujuan utama wisatawan adalah Sumatera Utara. Berikut ini jumlah kunjungan wisatawan

mancanegara ke Banda Aceh berdasarkan kawasan:

- 44 -

Tabel 4.1. Jumlah Kunjungan Wisman di Kota Banda Aceh Menurut Kawasan Negara (Orang), 2012 2014

No

Kawasan

2012

2013

2014

1

Asean

8.530

11.351

19.817

2

Afrika

26

30

30

3

Amerika

435

424

575

4

Asia (Tanpa Asean)

582

730

986

5

Eropa

1.812

1.825

2.276

6

Oseania

336

438

503

7

Timur Tengah

53

35

53

 

Total

11.774

14.833

24.240

Sumber: BPS Kota Banda Aceh, Statistik Wisatawan Mancanegara Kota Banda Aceh

(2014)

Berdasarkan kawasan negara asal wisman yang datang ke Banda Aceh, berasal dari kawasan Asia (negara-negara ASEAN dan non-ASEAN) yaitu sebanyak 20.803 orang atau mencapai 85,82% dari total wisman. Dari jumlah tersebut, 95,26% atau 19.817 orang adalah wisman dari kawasan ASEAN, dan 4,73% atau 986 orang adalah wisman dari kawasan Asia non ASEAN (Bangladesh, Hongkong, India, Jepang, Korsel, Pakistan, RRC, Srilanka, Taiwan, dan Asia lainnya). Di posisi kedua adalah wisman dari kawasan Eropa sebesar 2.276 orang (9,39%), kemudian kawasan Amerika sebanyak 575 orang (2,37%), kawasan Oseania sebanyak 503 orang (2,08%), kawasan Timur Tengah sebanyak 53 orang (0,22%) dan terakhir kawasan Afrika sebanyak 30 orang (0,12%).

Tabel 4.2. Jumlah Wisatawan Mancanegara Menurut Negara Asal Utama di Kota Banda Aceh (orang), 2014

Negara

Jumlah Wisman

%

Malaysia

18.870

77,85

Singapura

520

2,15

Australia

441

1,82

Jerman

421

1,74

Amerika Serikat

413

1,70

Inggris

404

1,67

Perancis

370

1,53

Republik Rakyat Cina

308

1,27

Thailand

275

1,13

Belanda

191

0,79

Sumber: Statistik Wisatawan Mancanegara Kota Banda Aceh, 2014

Jika diuraikan menurut negara dari masing-masing kawasan, maka pada tahun 2014 negara penyumbang wisman terbesar ialah negara dari Malaysia sebanyak 18.870 orang (77,85% dari total wisman), Singapura sebanyak 520 orang (2,15%), Australia yaitu 441 orang (1,82%), Jerman yaitu 421 orang (1,74%), Amerika Serikat sebesar 413 orang (1,70%),

- 45 -

Republik Rakyat Cina sebesar 308 orang (1,27%), Inggris yaitu 404 orang (1,67%), Arab Saudi sebesar 15 orang (0,06%) dan negara Afrika Selatan sebesar 6 orang (0,02%). Dari 18.870 wisman Malaysia, sebanyak 18.612 orang menggunakan izin BVKS (Bebas Visa Kunjungan Singkat), 217 orang menggunakan visa kunjungan, 22 orang menggunakan Visa Kunjungan Beberapa Kali Perjalanan.

Peningkatan kunjungan wisatawan di Aceh tidak lepas dari semakin

terkenalnya Aceh terutama lewat penerapan syariat Islam dan tsunami yang

membuat wisatawan dari negara lain penasaran. Selain itu, kondisi Aceh

yang sudah kondusif untuk menerima kunjungan wisatawan. Banyaknya

wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Aceh, berdasarkan hasil wawancara

dikarenakan adanya kedekatan kultur melayu dan histori, sehingga Malaysia

menjadi

target

market

utama

bagi Aceh.

Dengan

demikian,

perlu suatu

strategi pembuatan paket wisata yang menarik dengan

cara menyediakan

sesuatu di Aceh, dimana Malaysia tidak memilikinya.

Merujuk Banda Aceh dalam Angka 2014, tingkat kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 183.286 orang tahun 2013. Namun, berdasarkan banyaknya kunjungan wisatawan domestik di situs pariwisata tertentu Kota Banda Aceh pada tahun 2013 (Kapal di atas Lampulo Kuta Alam, Kapal PLTD Apung Punge Blang Cut, dan Makam Syiah Kuala) sebesar 390.256 kunjungan. Sebagai contoh pada masa liburan panjang hari raya Idul Fitri di kawasan Lhoknga atau sekitar 17 kilometer arah barat Kota Banda Aceh, para pengunjung objek wisata itu tidak hanya didominasi masyarakat lokal, tapi juga wisatawan nusantara terutama asal Kota Medan, Padang, Palembang, dan Jakarta. Jumlah wisatawan ke Kota Banda Aceh jika dihitung dari jumlah tamu yang menginap di hotel/akomodasi adalah sebagai berikut: Jumlah kunjungan wisman selama 2014 mencapai 11.103 dibandingkan 5.317 pada tahun 2013. Jumlah wisnus tahun 2014 sebanyak 224.939 dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 229.589. Tahun 2015 ini Aceh telah menetapkan target kunjungan wisnus ke Aceh sebesar satu juta. Target wisman yang awalnya 40 ribu kunjungan kini dinaikkan menjadi 100 ribu. Dan total jumlah wisatawan yang datang ke kota Banda Aceh ditargetkan 25% dari total jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Aceh. Konsep wisata syariah tidak hanya akan menarik minat kunjungan wisatawan domestik, tapi juga mancanegara. Terlebih baru-baru ini Aceh resmi memiliki Qanun (peraturan daerah) tentang Hukum Jinayat (hukum pidana Islam) yang berlaku bagi Muslim dan nonMuslim. Pengesahan Qanun tersebut tidak perlu dikhawatirkan akan menurunkan jumlah wisatawan ke Aceh. Justru, pemerintah Aceh harus mengambil kesempatan, yakni

- 46 -

pengembangan wisata syariah. Dengan Qanun tersebut, Aceh lebih aman bagi wisatawan yakni ada polisi syariah. Berdasarkan data statistik Provinsi Aceh, dilihat dari segi kuantitas, wisatawan di Aceh memang mengalami peningkatan namun tidak dalam kualitas wisatawannya. Berdasarkan Length of Stay (LoS) wisatawan, di Aceh belum menjadi tempat tujuan wisata utama para wisatawan domestik dan mancanegara. Hal itu terlihat dari menurunnya rata-rata lama menginap wisatawan di sejumlah hotel di Aceh, yakni dari 3-4 hari pada 2012 menjadi berkisar 1-2 hari tahun 2013 (Asdhiana, 2014). Pada tahun 2015 ini angka kunjungan wisatawan ke Provinsi Aceh ditargetkan naik 30 persen atau sebanyak 1,8 juta orang pada tahun 2015. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah setempat telah menyiapkan berbagai even dan atraksi wisata yang digelar sepanjang tahun 2015.

4.1.5. Dampak Pariwisata di Banda Aceh

a. Sumbangan Terhadap PDRB

 
 

Naiknya

angka

kunjungan

ke

Banda

Aceh,

telah

meningkatkan

perekonomian

warga

dan

menghidupkan

industri

kreatif

masyarakat.

Disbudpar

Banda

Aceh

terus

membenahi

sektor

pariwisata

untuk

menggenjot kunjungan lebih banyak lagi. Bahkan gencar melakukan promosi

potensi wisata lewat berbagai even dan media. Andalan pariwisata Banda

Aceh adalah situs tsunami, sejarah, budaya, bahari, dan kuliner.

Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa. Selama berwisata, wisatawan akan melakukan belanjaannya, sehingga secara langsung menimbulkan permintaan (Tourism Final Demand) pasar barang dan jasa. Selanjutnya final demand wisatawan secara tidak langsung menimbulkan permintaan akan barang modal dan bahan baku (Investment Derived Demand) untuk berproduksi memenuhi permintaan wisatawan akan barang dan jasa tersebut. Dalam usaha memenuhi permintaan wisatawan diperlukan investasi di bidang transportasi dan komunikasi, perhotelan dan akomodasi lain, industri kerajinan dan industri produk konsumen, industri jasa, rumah makan restoran dan lain-lain (Spillane, 1994 : 20). Berikut ini Struktur PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Banda Aceh:

- 47 -

Tabel 4.3. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kota Banda Aceh (Juta Rupiah), 2011 2013

No

Sektor

2011

2012

*)

2013

**)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

I

Pertanian

176.231,55

180.371,69

201.958,65

II

Pertambangan & Penggalian

0,00

 

0,00

 

0,00

III

Industri Pengolahan

172.720,10

190.907,52

208.982,65

IV

Listrik, Gas, dan Air Minum

71.095,61

90.514,13

110.227, 18

V

Konstruksi

782.637,44

878.745,31

965.626,86

VI

Perdagangan, Hotel, & Restoran

1.995.021,58

2.293.635,22

2.613.108,17

 

1. Perdagangan Besar & Eceran

1.931.107,33

2.220.553,23

2.529.749,95

 

2. Hotel

15.796,16

17.799,11

20.015,10

(12,68%)

(12,45%)

 

3. Restoran

48.118,10

55.282,88

63.343,13

(14,89%)

(14,58%)

VI

Pengangkutan & Rekreasi

2.640.522,39

2.820.931,11

3.011.140,90

(6,83%)

(6,74%)

VI

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

368.502,57

414.414,87

441.571,73

VII

Jasa-Jasa

2.785.316,42

3.480.915,73

4.229.089,62

 

A. Pemerintahan Umum

2.633.544,43

3.312.143,25

4.046.024,79

 

B. Swasta

151.771,99

168.772,48

183.064,83

 

1. Sosial Kemasyarakatan

98.122,24

110.109,83

119.090,39

 

2. Hiburan & Rekreasi

16.343,21

17.854,14

20.150,19

(9,24%)

(12,86%)

 

3. Perorangan & Rumah Tangga

37.306,54

40.808,51

43.824,26

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh *) Angka diperbaiki **) Angka Sementara

Berdasarkan data pada tabel di atas, terlihat bahwa sumbangan sektor pariwisata jika dilihat dari hotel, restoran, hiburan dan rekreasi belum memberikan angka yang cukup besar. Sebagai contoh pada tahun 2013 sumbangan sektor pariwisata terhadap PDRB Kota Banda Aceh hanya sebesar 0,55 0,6 persen saja. Sementara itu, berdasarkan pertumbuhan (growth) juga tidak menunjukan pertumbuhan yang cukup besar, dimana terlihat pertumbuhan sektor pariwisata dari tahun 2012 ke tahun 2013 rata- rata hanya sebesar 11,66 persen. Meskipun terlihat dampak sektor pariwisata terhadap PDRB Kota Banda Aceh belum terlalu besar, namun dengan berkembangnya sektor pariwisata Aceh ini akan membawa dampak positif bagi perekonomian Aceh. Dampak positif tersebut akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar, serta dapat membuka peluang usaha di sektor pariwisata di Aceh. Kreatifitas bernilai syariat, dapat menjadi salah satu nilai jual Banda Aceh sebagai Kota Madani sekaligus destinasi wisata Islami dunia.

- 48 -

b. Dampak Sosial Pariwisata di Banda Aceh Dampak positif sosial budaya pengembangan pariwisata dapat dilihat dari adanya pelestarian budaya-budaya masyarakat lokal seperti kegiatan keagamaan, adat istiadat, dan tradisi, dan diterimanya pengembangan objek wisata dan kedatangan wisatawan oleh masyarakat lokal. Sedangkan dampak negatif sosial budaya pengembangan pariwisata dilihat dari respon masyarakat lokal terhadap keberadaan pariwisata seperti adanya perselisihan atau konflik kepentingan di antara para stakeholders, kebencian dan penolakan terhadap pengembangan pariwisata, dan munculnya masalah- masalah sosial seperti praktek perjudian, prostitusi dan penyalahgunaan seks (sexual abuse). Apabila melihat dampak negatif dari pariwisata sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka wajar bila sebagian masyarakat di Aceh agak keberatan terhadap pengembangan pariwisata. Sebagai muslim yang taat dalam menjalankan syariat Islam, masyarakat Aceh akan selalu menjaga daerahnya dari kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan syariat Islam. Dalam pandangan beberapa kelompok masyarakat, kegiatan pariwisata kebanyakan bertentangan dengan syariat Islam. Walaupun tidak seluruhnya benar, namun pandangan tersebut pada akhirnya membawa dampak bagi pengembangan pariwisata di Aceh. Adanya sikap sebagian masyarakat yang menganggap pengembangan pariwisata bertentangan dengan syariat Islam pada dasarnya menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua terutama para pengambil kebijakan pariwisata di Aceh. Untuk mengantisipasinya perlu adanya perubahan strategi dalam pengembangan pariwisata di Aceh. Salah satunya adalah menempatkan masyarakat bukan sebagai objek wisata yang selama ini terjadi, tetapi menempatkan masyarakat sebagai subjek pariwisata. Dengan demikian masyarakat dalam menjalankan kegiatan pariwisata, tidak hanya berkewajiban melayani wisatawan sebagaimana yang selama ini didengungkan oleh slogan sapta pesona, bahwa masyarakat harus menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan melainkan juga mempunyai kekuatan untuk membuat keputusan mengenai hal-hal apa yang menjadi bagian budayanya yang dapat dikonsumsi wisatawan. Dengan demikian masyarakat dapat berperan aktif menjadi kontrol aktivitas pariwisata yang terjadi, termasuk menciptakan program-program paket wisata beserta sarana pendukungnya.

4.1.6. Kebijakan Pemerintah Daerah Banda Aceh Terkait Pariwisata

Menpar mengatakan tahun ini diperkirakan lebih dari 1,5 juta warga Malaysia berdatangan ke berbagai destinasi wisata di Tanah Air dengan estimasi akan tumbuh sebesar 9,26% pada tahun 2016 mendatang.

- 49 -

Kebijakan baru di bidang Pariwisata yang memudahkan pelancong asal Malaysia ke Indonesia antara lain mengenai bertambahnya jumlah Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) bagi wisawatan asal Malaysia, peraturan baru yang menghapuskan peraturan mengenai Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT) sehingga memudahkan perahu layar pesiar (yacht) masuk ke wilayah Indonesia melalui 18 pelabuhan di Indonesia, dan menghapuskan Asas Cabotage kemudahan singgah kapal pesiar (cruise) untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di lima pelabuhan di Indonesia (paradiso,

2015)

a. Pembangunan Kepariwisataan dalam Perspektif Peraturan Perundangan-undangan Pembangunan kepariwisataan diperlukan untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat serta mampu menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global. Pembangunan kepariwisataan harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat lokaldi seluruh tanah air. Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada warga negaranya untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan melalui kepariwisataan. Untuk mewujudkan pembangunan kepariwisataan yang berkesinambungan, maka pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan dan Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan. Selanjutnya peraturan tersebut dirubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Huruf c konsideran Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 menegaskan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup serta kepentingan nasional. Pasal 6 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 menjelaskan, pembangunan kepariwisataan diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata. Rumusan arah kepariwisataan yang lebih operasional tertuang dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan menerangkan bahwa penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan dengan memperhatikan:

- 50 -

a. Kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial budaya;

b. Nilai-nilai agama, adat istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat;

c. Kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup; dan

d. Kelangsungan usaha wisata.

Pada pasal selanjutnya dikemukakan bahwa lingkup pembangunan kepariwisataan meliputi: a) Industri Parawisata, b) Destinasi Parawisata, c) Pemasaran dan d) Kelembagaan Kepariwisataan. Prinsip-prinsip penyelenggaraan kepariwisataan yaitu: (a). menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dan lingkungan; b. menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal; (c). memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan, kesetaraan, dan proporsionalitas; (d.) memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup; (e). memberdayakan masyarakat setempat; (f). menjamin keterpaduan antar sektor, antar daerah, antara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serta keterpaduan antar pemangku kepentingan; (g). mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan internasional dalam bidang pariwisata; dan (h). memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Agar kondisi yang mendukung penyelenggaraan kepariwisataan dapat terlaksana, maka pembangunan kepariwisataan di daerah dilakukan berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPKD) Provinsi dan Kabupaten/Kota yang diatur dengan Peraturan Daerah. Dari sini dapat diketahui bersama bahwa daerah memiliki kewenangan pula dalam menyelenggarakan kepariwisataan berdasarkan Rencana Induk pembangunan Kepariwisataan Daerah. Demikian pula hal nya dengan Provinsi Aceh, serta Kotamadya Banda Aceh, sebagai daerah yang memiliki beberapa keistimewaan, maka kebijakan kepariwisataan dimaksud menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam implementasi keistimewaan Provinsi Aceh yang diberikan berdasarkan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh. Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 mengakui ada 4 (empat) keistimewaan Provinsi Aceh: a) Penyelenggaraan kehidupan beragama, b) Penyelenggaraan kehidupan adat, c) Penyelenggaraan kehidupan pendidikan, dan d) Peran ulama dalam menetapkan kebijakan daerah. Penyelenggaraan kehidupan beragama di Provinsi Aceh diwujudkan dalam bentuk

- 51 -

pelaksanaan Syariat Islam bagi pemeluknya. Sementara pada Pasal 18 B ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Provinsi Aceh, sebagai salah satu daerah yang memiliki otonomi khusus, setelah adanya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh memberikan kekhususan dan pengaturan yang berbeda dalam pengelolaan pemerintahan. Berdasarkan Pasal 18 UUD 1945 membuka kemungkinan penyelenggaraan pemerintahan di Aceh disesuaikan dengan sistem adat dan budayanya.Maka lahirlah Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Lebih lanjut sesuai dengan perkembangan politik lokal, maka UU No.18 Tahun 2001 dicabut dan digantikan dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Pasal 165 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 memberi kewenangan kepada pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota mengelola wisata dan pengelolaan kepariwisataan, dimana menurut undang-undang tersebut selanjutnya akan diatur dengan Qanun, istilah peraturan perundangan bagi wilayah Aceh. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh telah memberi ruang atau wadah bagi keistimewaan Aceh untuk dapat diaktualisasi kembali. Karenanya, maka kebijakan pembangunan kepariwisataan di provinsi Aceh harus dilihat dalam kerangka wilayah kekhususannya. Sehingga kebijakan-kebijakan kepariwisataan dapat dilaksanakan dan tidak bertentangan satu sama lain (antara kebijakan pusat dan daerah). Otonomi hanya dapat diwujudkan melalui desentralisasi yaitu penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah atau daerah tingkat atasnya (pemerintah pusat) kepada daerah (pemerintah daerah) menjadi urusan rumah tangga sendiri. Desentralisasi tidak lain bertujuan untuk memberikan wewenang, tugas dan tanggung jawab kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan rumah tangganya sendiri. Rencana induk pengembangan kepariwisataan secara nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan untuk provinsi, kabupaten/kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pemerintah daerah harus menyiapkan rencana induk penyelenggaraan kepariwisataan di daerahnya, tidak hanya peraturan daerah yang mengatur tentang restribusi, izin usaha pariwisata, dan retribusi tempat rekreasi. Konsep penyelenggaraan pariwisata yang baru harus melibatkan secara aktif masyarakat, pengusaha dan pemerintah (baik pusat dan daerah),

- 52 -

serta harus melaksanakan tugas, peran, hak dan kewajiban masing-masing. Arah dan tujuan penyelenggaraan kepariwisataan berdasarkan Undang- undang No 10 Tahun 2009 mengalami orientasi yang berbeda tajam apabila dibandingkan Undang-undang No 9 Tahun 1990. Penyelenggaraan kepariwisataan bukan lagi memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata, melainkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran. Pembangunan kepariwisataan selain melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya; juga memajukan kebudayaan; mengangkat citra bangsa; memupuk rasa cinta tanah air; memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa; dan mempererat persahabatan antarbangsa. Dengan demikian, penyelenggaraan dan pengeloaan usaha pariwisata mau tidak mau harus diurus dan dikelola secara profesional. Hal ini memerlukan peraturan-peraturan daerah yang memuat dan mengatur pengurusan dan pengelolaan kepariwisataan mengarah pada usaha kepariwisataan yang bermutu dan sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. peraturan-peraturan daerah dibuat dalam usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau menghapus kemiskinan, dengan memberikan perspektif bagi pengembangan dunia usaha pariwisata, tidak hanya mengejar restribusi semata.

b. Peraturan Kepariwisataan di Aceh (Banda Aceh)

Aceh adalah daerah Provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, yang dipimpin oleh seorang gubernur. Dalam rangka pelaksanaan Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (Memorandum of Understanding Between The Government of Republic of Indonesia and The Free

Aceh Movement, Helsinki 15 Agustus 2005), Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menegaskan komitmen mereka untuk menyelesaikan konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, dan bermartabat bagi semua. Para pihak bertekad untuk menciptakan kondisi sehingga Pemerintahan Rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kekayaan potensi alam, budaya, sejarah, dan kekhususan yang dimiliki Aceh merupakan anugerah Allah yang mempunyai .fungsi dan peranan penting bagi kehidupan masyarakat dan wilayah Aceh

- 53 -

Penyelenggaraan kepariwisataan Aceh berfungsi: mensyukuri nikmat Allah SWT; meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air; meningkatkan taraf hidup jasmani dan rohani; menambah pengetahuan dan pengalaman; dan membangun jiwa kewirausahaan. Penyelenggaraan kepariwisataan Aceh berasaskan: iman dan Islam; kenyamanan; keadilan; kerakyatan; kebersamaan; kelestarian; keterbukaan; dan adat, budaya dan kearifan lokal. Penyelenggaraan kepariwisataan di Aceh merupakan upaya untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan rakyat melalui perluasan dan pemerataan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan dan meningkatkan pendapatan Aceh, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta melestarikan sejarah dan budayanya. Penyelenggaraan kepariwisataan Aceh bertujuan: melestarikan, mempromosikan, mendayagunakan, dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata; mengangkat nilai-nilai sejarah dan budaya Aceh yang islami sebagai daya tarik wisata; memperluas lapangan kerja dan memeratakan kesempatan berusaha; dan meningkatkan Pendapatan Asli Aceh menuju kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Usaha pariwisata digolongkan dalam 3 (tiga) jenis, yaitu: (a) usaha jasa pariwisata; (b) pengusahaan objek dan daya tarik wisata; dan (c) usaha sarana pariwisata. Selain itu, Pemerintah Aceh berwenang menetapkan usaha pariwisata lainnya. Pengembangan Usaha Pariwisata Aceh ditujukan untuk tercapainya manfaat yang sebesar-besarnya untuk meningkatkan ekonomi bagi masyarakat, terutama masyarakat sekitar objek dan daya tarik wisata, dan akselerasi pembangunan Aceh. Untuk mencapai tujuan dimaksud, Pemerintah Aceh melaksanakan pembinaan, pengendalian, perizinan dan pengawasan usaha secara terpadu, terarah dan bertanggung jawab dengan menjaga kelangsungan usaha pariwisata bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Usaha Jasa Pariwisata meliputi: jasa wisata syariat; jasa biro perjalanan wisata; jasa pramuwisata; jasa konvensi, perjalanan insentif dan pameran; jasa penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; jasa konsultan pariwisata; jasa informasi pariwisata; jasa makanan dan minuman; jasa penyediaan akomodasi; jasa spa; dan jasa wisata kesehatan. Objek dan daya tarik wisata di Aceh digolongkan berdasarkan jenis dan pemanfaatannya. Objek dan daya tarik wisata terdiri atas:

1) Objek dan daya tarik wisata ciptaan Allah yang berwujud alam, flora, dan fauna; 2) Objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia seperti museum, peninggalan purbakala, peniggalan sejarah, seni budaya, wisata agro,

- 54 -

wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan tempat hiburan; dan Selain objek dan daya tarik wisata tersebut, Pemerintah Aceh dapat pula menetapkan objek dan daya tarik wisata lainnya. Pengusahaan objek dan daya tarik wisata dilakukan dengan memperhatikan: nilai-nilai Islam, adat-istiadat, serta kearifan lokal, kehidupan ekonomi dan sosial budaya, kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup, dan kelangsungan usaha pariwisata. Pengelola hotel berbintang berkewajiban:

1) memberi kenyamanan kepada tamu hotel; 2) memberi laporan singkat tentang penghunian kamar secara berkala setiap 3 (tiga) bulan kepada gubernur melalui instansi yang menangani bidang kepariwisataan Aceh; 3) memberikan kesempatan kepada pihak yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan apabila dibutuhkan; 4) menjaga dan mencegah penggunaan hotel berbintang dari kegiatan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum serta melanggar syariat Islam; 5) melakukan upaya peningkatan sumber daya manusia secara terus menerus berdasarkan standarisasi dan sertifikasi kompetensi; 6) memelihara higienis dan sanitasi dalam hotel dan lingkungan pekarangannya; 7) menetapkan persyaratan penghunian kamar, termasuk tarif kamar yang diletakkan pada tempat yang mudah dilihat dan dibaca oleh tamu hotel; dan 8) melampirkan perubahan persetujaun prinsip dan izin usaha pada setiap perubahan nama atau pemindahtanganan pemilik hotel berbintang. 9) Masyarakat, tokoh adat, dan ulama memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperanserta dalam penyelenggaraan kepariwisataan Aceh. Peran serta masyarakat tersebut berupa pemberian saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan, masukan terhadap pengembangan kepariwisataan, dan berperan aktif dalam pengelolaan objek wisata serta pengawasan penyelenggaraan kepariwisataan Aceh. Masyarakat dapat membentuk kelompok-kelompok masyarakat pariwisata yang disebut dengan kelompok sadar wisata pada kawasan objek wisata. Kelompok masyarakat wisata dibina oleh Instansi yang menangani bidang kepariwisataan. Kelompok masyarakat pariwisata yang dibentuk secara resmi, dapat melaksanakan segala kegiatan pariwisata di daerahnya sesuai dengan syariat Islam. Kelompok masyarakat pariwisata berperanserta dalam memberikan saran, pertimbangan, pendapat, tanggapan dan masukan terhadap arah kebijakan pengembangan pariwisata Aceh.

- 55 -

Tugas Pemerintah Aceh dalam upaya pengembangan masyarakat berupa:

1) memberikan pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat; 2) melaksanakan pengembangan teknis ketenagakerjaan dan standarisasi; 3) menerbitkan lisensi dan sertifikasi tenaga kerja pariwisata; dan 4) melaksanakan pengembangan dan pemantapan kelembagaan pariwisata. Tugas pembinaan tenaga kerja pada sektor pariwisata termasuk pendataan, dan pengembangan SDM bidang pariwisata. Perlindungan tenaga kerja sesuai dengan standar dan Peraturan Perundang-undangan. Pemerintah Aceh berkewajiban untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kerja di bidang pariwisata termasuk melaksakan pendidikan, pelatihan serta menghimbau usaha pariwisata untuk dapat mempekerjakan tenaga kerja lokal. Pemerintah Aceh berkewajiban mendidik, memberdayakan dan mengeluarkan lisensi pramuwisata serta memantau keberadaannya dalam melaksanakan tugasnya. Pemerintah Aceh berkewajiban membina asosiasi dan lembaga pariwisata di Aceh. Tugas Pemerintah Aceh dalam upaya pengembangan masyarakat berupa memberikan penyuluhan kepada masyarakat, pengembangan teknis ketenagakerjaan dan standarisasi lisensi tenaga kerja pariwisata Aceh serta pengembangan lembaga pariwisata Aceh.

c. Larangan di Tempat-Tempat Wisata Sesuai dengan qanun Aceh, di tempat-tempat wisata setiap orang dilarang: