Anda di halaman 1dari 48

Soal

1. Suatu Cis Butena 2 bila direaksikan dengan KMnO4 maka terjadi diol (di
oksidasi pada butena 2) reaksi adisi cis.
Pertanyaan:
a. Isomer mana yang terjadi pada reaksi ini?
b. Apakah senyawa yang terjadi, apakah ada atau tidak?
c. Tentukan konfigurasi absolut dari senyawa yang terjadi itu!
d. Ada berapa isomer yang mungkin terjadi?
2. Reaksi adisi bromida pada ikatan rangkap dalam lingkungan ionik adalah
terjadi adisi trans. Apa yang terjadi pada alkena berikut ini?

Jawab

1.

a. Cis butena -2:

KMnO4 K+ + MnO4MnO4- yag menyerang butena-2, bisa dari atas atau dari bawah, sebab punya
ikatan (yang berwarna merah, ikatan itu tegak lurus pada bidang) jadi istilah
atas atau bawah.

J
adi meknisme reaksinya

Secara langsung:

Jadi senyawa tersebut adalah: 2,3 butanadiol dan bentuk-bentuk isomernya:

1.a. jadi dari reaksi diatas ada 2 bentuk, yaitu :


CH

CH3

OH

OH

dan

OH

OH

CH3

CH3

Bidang simetri dalam 1 kolom atas dan bawah diimpitkan maka akan
seimpit. Jadi 2 struktur ini bukan isomer melainkan senyawa identik. Oleh
sebab itu pada reaksi ini hanya menghasilkan 1 isomer.

b. senyawa yang terjadi tidak optis aktif sebab kolom ke dua senyawa
yang di impitkan akan berimpit gugus gugusnya satu dengan yang
lainnya. Kedua senyawa ini adalah bentuk meso, ( contoh : punya bidang
simetri dalam)
c. konfigurasi absolut ( R dan S) dari senyawa yang terjadi
CH

CH3

S
R

OH

OH

dan

OH

OH

S
R

CH3

CH3

Catatan : sebelahnya lagi ada satu, dan terbukti dari konfigurasi ini tidak
sama yaitu 2S,3R. Jadi, bukan isomer. Jadi hanya ada satu senyawa.
d. seperti diuraikan di atas bahwa senyawa yang terjadi mempunyai dua
isomer. Yaitu yang bentuk messo, dan :
CH

CH3

OH

OH
CH3

dan

OH

OH

H
CH3

Soal No. 3:
Untuk mendapatkan isomer meso diol dari trans 2-butena cara oksidasi
mana yang mau digunakan?
- menggunakan KMNO4
- peroksida
Jawab:

Catatan: kalau adisi trans berarti senyawa yang terbentuk harus dalam
bentuk trans karena dalam bentuk ionik maka Br harus dalam bentuk ion,
yitu Br+, dan BrBr2 Br+ + Br-. Pada adisiharus ion yang lebih dulu masuk atau
mengadisi adalah ion yang bermuatan ( + ) = Br + , sebab pada ikatan
rangkap yang dikenal punya elektron-elektron yang terikat leah
dibandingkan pada ikatan pada ikatan . Kalau Br+ menyerang dari
bawah maka Br- harus berlawanan, menyerang dari atas, supaya
terbentuk senyawa dalam bentuk trans.

Jadi pada senyawa siklo alkena diatas setelah mengalami reaksi adisi bromida
menghasilkan Trans -1,2 dibromo,1,2 dimetil siklopropana. Senyawa ini
memunyai 2 isomer yang optis aktif, yaitu:

Dua struktur ini kalau diimpitkan tidak akan berimpit. Senyawa ini punya gugus
simetri sederhana. Jadikalau tidak dapat diimpitkan,punya juga garis simetri

sederhana namun tidak unsur-unsur simetri lainnya. Oleh karena itu senyawa itu
adalah optis aktif.

Jawaban No. 1.a Oksidasi dengan KMnO 4

Jawaban/mekanisme untuk soal no 3


3.

Untuk mendapatkan mesodiol dari trans 2-butena cara oksidasi yang


digunakan adalah dengan oksidasi menggunaan peroksida, sebab kalau
menggunakan KMnO4 akan mendapat

Senyawa Mesodiol
Tahap I: H2O2 OH + OH = penuntasan homolitik

Cara Memisahkan Enantiomer


Untuk memisahkan enantiomer, harus dijadikan senyawa diasteromer,
sebab enantiomer tidak dapat dipisahkan secara langsung, karena
mempengaruhi sifat fisik yang sama. Sedangkan diasteromer dapat dipisahkan
(mis: kelarutan, titik didih dengan distilasi atau kromatografi).
Contoh: memisahkan 2 b entuk enantiomer dari:

Dua enantiomer
ini dipisahkan dengan cara menambahkan
pereaksi, mis dengan menggunakan Basa,
dimana basa tersebut harus optik aktif
Mis:

I.

Senyawa I

II.

Senyawa II

Kedua senyawa yang terbentuk ini tidak lagi enantiomer melainkan diasteromer.
Senyawa ini sudah mempunyai sifat yang berbeda, sehingga dapat dipisahkan,
misalnya dengan cara:
-

Melalui perbedaan kelarutan


Titik didih dengan cara distilasi atau kromatografi.

Contoh lain:
Enantiomer untuk memisahkan harus dibuat
diasteromer dengan jalan ......... pereaksi basa
optik aktif: mis:

I.

II

Contoh lain:

I.

II.

Senyawa-senyawa tak optik aktif dapat dibuat optik aktif misalnya. Mis: dengan
penambahan pereaksi:

Induksi dan Mesomeri ( I-, m+)

Mekanisme reaksi dari trans 2 butana menjadi senyawa meso harus


menggunakan pereaksi/pengoksidasi H2O2, sebab kalau menggunakan KMnO4

maka arah penyerangan dengan reaksi KMnO4 hanya satu arah, seperti jawaban
pada soal no.1. sedangkan oksidasi dengan H 2O2 dapat menyerang dari arah
bawah maupun dari arah atas pada trans 2 butena, sehingga menghasilkan
konfigurasi R dan S (konfigurasi R dan S adalah senyawa meso). Pada oksidasi
H2O2, langkah awal terjadi penuntasan ikatan secara homolitik pada senyawa
H2O2 menjadi OH (radikal)
H2O2 OH + OH
Radikal OH pertama menyerang atom C yang beriatan rangkap (ikatan
pada posisi atas (ikatan

berada tegak lurus pada bidang) tegak ke atas dan

ke bawah, sehingga bisa ada di atas atau di bawah. Mekanisme dapat ditulis
sebagai berikut:

Tahap I :

H2O2 OH + OH

Tahap II:

Cat:
dapat digambarkan :
untuk membuat /menggambar
proyeksi Fischer maka H dan OH
harus diubah berada pada posisi
depan dengan cara CH3 yang
masih di depan diputar ke
belakang, dengan demikian OH
akan
mengarah
ke
posisi
penyerat sedangkan H berada
pada posisi atas. CH3 yang sudah
dibelakang juga diputar, sebab
pada proyeksi Fischer harus
dibelakang. Sesuai..

Mekanisme: Pereaksi-pereaksi yang mengikuti Mekanisme Cis:


-

KMnO4
KCrO4

Oksidasi dengan H2O2 terjadi oksidasi oksidasi radikal, dimana OH yang satu
menyerang atom C pertama, misalnya dari atas dan radikal OH yang kedua
masuk/menyerang pada posisi yang berlawanan (trans) . karena adanya

pengeruh sterik (CH3) pada posisi atas, sehingga mempengaruhi OH yang akan
masuk, sehingga OH masuk melalui posisi bawah.
Untuk menunjukkan ketidak adanya hubungan/korelasi antara gaya putar bidang
polarisasi V cahaya (
Contoh:

I.

dengan konfigurasi relatif D dan L).

Asam Laktat:

(+) asam laktat


(-)metil ester asam laktat

kalau diesterifikasi hasilnya


Cat: sebenarnya tidak memutar
bidang
polarisasi,
ternyata
konfigurasi berubah.

Ada kepastian resmi: pada proses esterifikasi


tidak terjadi perubahan konfigurasi

II.

Kesimpulan sudah dihubungkna pengertian konfigurasi absolut yang


penggunaannya lebih universal namun notasi konfigurasi D dan L masih

tetap banyak digunakan terutama dalam hal yang berkaitan dengan


senyawa alam.
Sebagai contoh yang sangat unik yaitu karbohidrat dan asam amino

Cat: kalimat II ini harap diperhatikan

Contoh lain:

III.

Dalam membentuk konfigurasi absolut, maka prioritas gugus di sekitar


atom C asimetris menjadi penting. Urutan prioritas gugus-gugus ditentukan
atas dasar nomor atom pada sistem periodik yang terikat pada C simetris.
Dengan demikian urutannya sebagai berikut:
1. I > Br > Cl > F
2. CH3 > NH2 > OH > SO3H
Bila atom yang terikat langsung pada atom C asimetris sama, maka
dilihat atom yang berikutnya.

Contoh :

Soal:

Atas dasar itu, berilah urutan dari gugus-gugus berikut ini:


Gugus.
- OCH3

- CH2OH

- NO2

- NHCH3

- CH2OCH3

- NHOH

- CCl3

- SCH3

- COCH3

- CONH2

- SCH2CH3

- Br

- SO3H
- COOH

Contoh Pemberian Prioritas:


-

NHCH3
NHOH
NO2
CCl3
CONH2
COOH

Urutan : NO2 > NHOH > NHCH3


urutan prioritas : CCl3 > COOH > CONH2

Senyawa
atom C asimetris: (Lukiskan dalam Proyeksi Fischer)

untuk

Con
toh lain:

Senyawa enantiomer mempunyai sifat-sifat


diasteromer memiliki sifat-sifat yang berbeda

fisik

yang

sama,

sedangkan

Contoh: Asam tartarat (HOOC CH(OH) COOH)

Strukturnya:

Penjelasan hubungan dengan konfigurasi absolut dan sifat fisis

Cat: telah jelas


camp.rasemat lebih
tinggi Sebab dalam
proyeksi Newman
dapat membentuk
ikatan H sedangkan
untuk Meso tidak
dapat membentuk
ikatan H (gugus OH ....

Sifat-sifat:
Asam Tartat
1.
2.
3.
4.

Meso
(-)
(+)
Campuran rasemat

( )

TL

0
-11,90
+ 11,90
0
-

BJ(Density Kelarutan
)
140
1,66
120
170
1,76
147
170
1,76
1,47
200
1,68
25
Enantiomer semua punya sifat
yang sama
Campuran rasemat adalah
diasteromer

Kesimpulan: Komponen (+) dan (-) R,R dan S,S selalu mempunyai sifat yang
sama ( enantiomer).

Soal
Asam laktat yang etrbentuk pada reaksi D-Gliseraldehida dengan 2 jalu adalah:
Jalur I C1 menjadi COOH
tahap-tahap
reaksi/perubahan-perubahan
Untuk mengubah CHO
C3 menjadi CH3 menjadi CH3 diadalah : 1. Reduksi CHO jadi alkohol
2. Reduksi alkohol jadi Bromida
3.Reduksi bromida jadi....

Reaksi:

Kesimpulan : dari hasil reaksi jalur I menghasilkan jenis/seri asam laktat yaitu DAsam Laktat.

Jalur II:

Kesimpulan: dari reaksi perubahan D-Gliseraldehide menjadi asam laktat pada


jalur III ternyata menghasilkan Asam Laktat jenis L-Asam Laktat.

Grafik TL ( Hubungan TL dengan komposisi) kelarutan


Untuk diasteromer: yang umum : didapt grafik:
Apabila ada 2 senyawa yang memiliki
perbedaan titik leleh dan apabila terjadi
percampuran antara 2 senyawa tersebut,
TB maka akan memiliki titik leleh yang lebih
rendah dari kedua titik leleh senyawa
tersebut.

TA

(ter gantung juga dari senyawa tersebut).


A
Bisa
Bisa Bisa
100%
tergantung senyawa

B
100%

Untuk Campuran Rasemat tidak sama

1470

50%

untuk campuran rasemat, maka grafik titik


leleh ada diantara kedua senyawa tersebut,
bisa di atas, bisa di bawah (tetapi berada di
tengah 50%)

beda titik leleh antara Meso dan rasemat


tergantung pada kepolaran dimana Meso
lebih polar dari campuran rasemat.

Tugas: Asam Laktat mempunyai


struktur:

CHO bisa di reduksi jadi alkohol


kemudian direduksi jadi Bromida dan
direduksi jadi CH3.
CH2OH : gugus ini bisa dioksidasi
menjadi aldehid dan bisa dioksidasi
lebih lanjut menjadi asam.
Problem:
Dari gliseraldehide ada 2 jalur yang ditempuh untuk menujun pada Asam
Laktat,yaitu:
Jalur I:

Jalur II:

C1 COOH

C1 CH3

C2 CH3

C3 - COOH

Jadi asam Laktat.

Pertanyaan: asam laktat seri apa?


Gliseraldehide

Mengubah C1 COOH
C3 CH3
Asam Laktat seri apa?

C1 CH3
C3 COOH

REAKSI SUBTITUSI
Subtitusi Nukleofilik: - Unimolekuler/monomolekuler
-

Bimolekuler

Mekanisme : - intermediet
- Keadaan transisi
Contoh:
RX

Substrat

Reagen

Y-

RY

X-

Produk

1. Ada kesetimbangan berarti reaksi nuleofil tidak sempurna


2. Subtitusi sebab ada yang diganti
Cat:
-

Kalau reagen yang digunakan Nukleofil itu disebut Nukleofilik


Kalau reagen yang digunakan Elektrofil itu disebut Elektrofilik.

RX

Y-

RY

X-

Substrat
Reagen
Produk
- Reaksi ini disebut reaksi subtitusi Nukleofilik karena reagen yang
digunakan adalah merupakan suatu Nukleofilik (SN).
- Reaksi ini kebanyakan pada Alifatik
Subtitusi Elektrofilik banyak terjadi pada senyawa aromatik
Mekanisme adalah Jalur yang ditempuh untuk mendapatkan produk
Mekanisme :
-

SN1 (Monomolekuler) tahap penentu kecepatan reaksi... bergantung


pada reagen
SN2 (Bimolekuler) Tahap penentu kecepatan: tergantung baik pada
substrat maupun reagen. Ini berarti bahwa secara eksperimental :
_ secara kinetik, SN1 mengikuti reaksi Orde I
SN 2 mengikuti reaksi Orde II
SN1 : molekularitasnya = 1, sebab unimolekuler
SN2 : molekularitasnya = 2, sebab bimolekuler

Penjelasan SN1 :
SN1 v = k[Rx] Substitusi nukleofilik monomolekuler (unimolekuler)
Tahap reaksinya ada dua tahap yaitu:
Tahap I : tahap ionisasi dimana Rx akan menjadi R+ + x-

Rx

R+ + x- merupakan reaktan

Lambat
Tahap II : Tahap penggabungan,
R+ + y- Ry

Cepat
Cat: Tahap penentu adalah tahap lambat,
Akibatnya : kita harus tahu konfigurasi R +
Setelah satu bukti tahap I adalah: makin stabil R+ reaksinya makin cepat.
Konfigurasi R+ adalah hibridisasi SP2 = 1200
Konfigurasi R x adalah hibridisasi SP3 = 109,50
Bagaimana konfigurasi R+ mempunyai konfigurasi SP2 < 1200 makin besar
rintangan sterik (Rx) maka makin mudah reaksi, sebab ada pergeseran sudut.
Kalau R mempunyai rintangan sterik yang besar, maka reaksi makin
mudah, sebab ada pergeseran sudut.
Kalau C pada pusat reaksi adalah asimetris maka terjadi terjadi penyerangan dari
y,bisa dari depan bisa dari belakang , terjadi resenisasi atau inversi.
Akibatnya: terjadi Retensi penyerang Nuleofil dari arah ...
-

Inversi penyerang melalui arah berlawanan arah lepasnya X -

Untuk SN2 : Percepatan yang disebabkan oleh adanya rintangan ruang(sterik).

Cat: penyerang bisa dari depan,bisa dari belakang sebab bentuknya


planar.konfigurasi SP2 (sama dengan Etena) sebab itu dapat menghasilkan
2 macam senyawa.
Ion karbonium(karbokation) dapat distabilkan dengan cara induksi
maupun dengan cara mesomeri/hyper konyugasi.
Jadi suatu senyawa Rx, kapan melalui SN1 dan SN2 tergantung pada
senyawa yang ada dan juga tergantung pada reagen yag digunakan yaitu:
1. Substrat
2. Reagen
3. Pelarut
Untuk SN1
Reagen yang digunakan harus Nukleofil lemah misalnya: H 2O atau Alkohol.
Contoh:

SN1

Profil Energi SN1:


R--x

R--y

T1
I
C

T2

R+

Rx

E
Ea

E
Ea

R-y

Laju reaksi

Soal:
1. Bandingkan manakah yang lebih mudah bereaksi dari kedua senyawa ini?

Ada pengstabilan, .... hanya oleh pengstabilan dari


konjugasi, bandingkan senyawa II, selain selain
konjugasi, juga distabilkan oleh hiperkonjugasi jadi
senyawa II lebih mudah bereaksi.
Senyawa II lebih stabil oleh resonansi dan
hiperkonjugasi.
Jad senyawa II lebih mudah stabil dibandingkan yang I sebab rintangan ruang
lebih besar pada II, pengstabilan karbonion lebih besar sebab ada pengstabilan
resonansi dari Benzen, dan hiperkonjugasi dari CH 3.

2.

Bandingkan kemudahan terjadi SN1 dari senyawasenyawa berikut:

Urutan kemudahan terjadi SN1:


I > IV > III >II
Yang I lebih mudah mengadakan reaksi SN 1 karena
faktor sterik dari senyawa I lebih menguntungkan.

PUSAT REAKSI
Dimana reagent masuk atau keluar dari pusat reaksi

Contoh : Subtitusi nukleofilik pada senyawa aromatik: (SN 1)

Co
ntoh:

Contoh lain:

Dengan demikian y- dapat masuk yaitu:

Reaksi SN2 : Reaksi subtitusi bimolekuler, ekspresi kecepatan tergantung pada


konsentrasi substrat reagent.
Kecepatan bergantung pada reagent dan substrat
Substrat + Reagent Produk

Cat: hasilnya sama dengan reaksi SN1, bedanya pada


-

Rx +

Kalau reaksi SN2 reaksi bergantung pada substrat dan reagent


Pada reaksi SN1, reaksi bergantung pada substrat , disamping itu
keduanya tergantung pada kondisi.
SN1 : pelarutnya adalah polar (nukleofil lemah)
SN2 : pelarutnya non-polar (nukleofil yang kuat)

data kinetik:
Ry + x

v = k [Rx] [y-]

Orde II

nukleofil lemah (SN2)

Rx +

y-

Ry + x-

nukleofil lemah (SN1)


pelarut polar

Rx R+ + y-

Untuk SN2

v = k[Rx]

Orde I

1. Reagent hanya bisa masuk berlawanan arah dengan gugus lepas.


Kalau hasil II non polar, maka I lebih polar

2.

Meng
ingat keadaan tarnsisi hanya bisa masuk pada arah yang berlawanan
dengan gugusn lepas, maka ini adalah intermediet dalam bentuk INVERSI.

Profil Energi SN2:

E2
E1
Ry + x-

Dalam analisa organik gugus fungsi untuk menunjukkan Halida dapat digunakan
larutan 5% AgNO3 dalam etanol. Dan juga dapat menggunakan reagent NaI
dalam Aseton.(NaI larut dalam Aseton). AgNO 3 / Etanol (5%)
1. Reagen AgNO3 / Etanol (5%)
RCl + Ag+NO3- / Etanol

RNO + AgCl
3

(SN1)

putih

2. NaI / Aseton (larutan pekat)


RCl + NaI/aseton
(SN2)

RI + NaCl

Aseton

putih

HALIDA

Halida

Reaktif

Reagen I

(+)(+)

Inert (-)
Medium

(+)

Inversi

(-)

(-)

Cat:

Reagen II

nukleofil kuat

Reaksi SN 2 hasilnya : S

Dalam reaksi subtitusi Nukleofilik terdapat berbagai kemungkinan perubahan


struktur hasil produk yaitu:
-

SN1 Inversi pelarut Non polar


SN2 Rasemisasi (50% Inversi + 50% retensi) pelarutnya harus
polar
SNi Retensi Pelarutnya cukup polar

Contoh:
Reaksi dengan SulfonilKlorida (SOCl2) reaksi SN1

OH R Cl

Dalam praktek tidak selalu terdapat SN2 atau SN1 murni, ada SN1 dan ada SN2,
dalam fakta tidak 100% inversi dan juga tidak 100% rasemisasi. selalu dalam
bentuk campuran
Contoh : pada rasemisasi : harus mengion. R x R+ + x-

: maka barangkali inversi lebih banyak karena x yang


mau lepas masih berpengaruh sehingga serangan belakang lebih
banyak.

STEROKIMIA PADA REAKSI ELIMINASI

Contoh:

Trans koplanar( atom H yang.... pada posisi trans).

Rubah dalam bentuk proyeksi Newman /Fischer ..... konfigurasi R untuk melihat
terjadi cis dan trans.

Ket: - Konformasi eliminasi energi rendah produknya yang lebih stabil oleh sebab
itu hasil yang trans lebih banyak
-

Untuk sikloalkana, H yang aksial selain trans untuk reaksi eliminasi

Contoh lain:

Misalnya : Ada senyawa


siklo:

Soal :

Pertanyaan: 1. apakah produk yang Meso dan aktif sama atau tidak
2. kalau tidak sama, manakah yang lebih mudah memberikan
eliminasi
Pada konformasi yang stasbil adalah konformasi yang trans.
Jawab:

Ket: 1. Pada reaksi ini, produk meso dan aktif tidak sama, sebab pada produk
meso dihasilkan trans (diketahui bahwa senyawa trans lebih stabil
daripada cis), oleh sebab itu produk meso lebih banyak daripada produk
aktif.
2. yang lebih mudah mengalami eliminasi adalah meso

Stereokimia pada eliminasi adalah trans. Namun produknya trans ini yang
disebut stereospesifik.