Anda di halaman 1dari 19

KOMUNIKASI TBaK

RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK


RP. SOEROSO

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kegiatan komunikasi sudah menjadi sebagian besar kegiatan kita seharihari, mulai antar
teman/pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah
aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai
kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan
tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.
Begitu pula dengan pelayanan rumah sakit, keberhasilan misi sebuah rumah sakit sangat
ditentukan oleh keluwesan berkomunikasi setiap petugas, perawat dan dokter. Pelayanan rumah
sakit selalu berhubungan dengan berbagai karakter dan perilaku pasien yang berkepentingan
dengan jasa perawatan sehingga petugas, perawat dan dokter harus memahami dan mengerti
bagaimana cara komunikasi yang bisa diterapkan di segala situasi.
Dalam profesi kedokteran, komunikasi dokter dengan pasien merupakan salah satu kompetensi
yang harus dikuasai dokter. Kompetensi komunikasi menentukan keberhasilan dalam membantu
penyelesaian
masalah kesehatan pasien. Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang
cukup untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya.
Akibatnya, dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk menegakkan
diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi pasien, umumnya
pasien merasa berada dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter sehingga takut bertanya dan
bercerita atau mengungkapkan diri. Hasilnya, pasien menerima saja apa yang dikatakan dokter.
Paradigma inilah yang harus kita perbaiki. Pasien dan dokter harus berada dalam kedudukan
setara sehingga pasien tidak merasa rendah diri dan malu untuk bisa menceritakan sakit/keluhan
yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi yang efektif mampu mempengaruhi emosi
pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya.
Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu yang lama.
Komunikasi efektif terbukti memerlukan waktu yang lebih sedikit karena petugas, perawat dasn
dokter terampil mengenali kebutuhan pasien. Atas dasar kebutuhan pasien, perawat dan dokter
melakukan manajemen pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien. Untuk itu dirasakan
perlunya memberikan pedoman komunikasi efektif untuk petugas, perawat dan dokter di RSIA
RP SOEROSO untuk memudahkan berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya.

Tujuan
Secara umum tujuan penyusunan pedoman komunikasi efektif ini adalah :
1. Memberikan pengetahuan dan pedoman bagi petugas, perawat dan dokter mengenai cara
berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya.
2. Agar petugas, perawat dan dokter dapat melakukan komunikasi yang efektif dengan
pasien dan keluarganya.
3. Menghindarkan kesalahpahaman yang bisa menimbulkan dugaan malpraktik.

BAB II
KOMUNIKASI EFEKTIF
Komunikasi berasal dari bahasa Latin communis yang artinya bersama. Secara
terminologis, komunikasi diartikan sebagai suatu proses penyampaian pikiran atau informasi
(pesan) dari satu pihak ke pihak lain dengan menggunakan suatu media. Menurut ahli kamus
bahasa, komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika
dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling
dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Websters New Collegiate
Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses
pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambing-lambang, tanda-tanda atau
tingkah laku.
A. KLASIFIKASI KOMUNIKASI
Berdasarkan kepada penerima pesan atau komunikan, komunikasi diklasifikasikan
menjadi :
1. Komunikasi Intrapersonal Penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri
komunikator sendiri antara individu dengan Tuhannya. Komunikasi intrapersonal
merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan
simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima
pesan, meberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang
berkelanjutan.
2. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal berlangsung dengan dua arah, antara komunikator dan
komunikan; antara seorang tenaga medis dengan teman sejawat atau antara seorang
tenaga medis dengan pasien.
3. Komunikasi Kelompok
Salah satu bentuk komunikasi yang terjadi di dalam sebuah kelompok. Komunikasi
tidak hanya terjadi antara seseorang dengan seseorang yang lainnya, komunikasi juga
dilakukan dengan sekelompok orang yang disebut dengan komunikasi kelompok.
Menurut Michael Burgoon, komunikasi kelompok adalah interaksi secara tatap muka
antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi
informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, dimana anggota-anggotanya dapat
mengingat karakteristik pribadi anggotaanggota yang lain secara tepat, misalnya
organisasi profesi, kelompok remaja dan kelompok-kelompok sejenisnya.
Komunikasi dapat dalam bentuk diskusi, rapat dan sebagainya.
4. Komunikasi Publik
Komunikasi yang dilakukan secara aktif maupun pasif yang dilakukan di depan
umum. Dalam komunikasi publik, pesan yang disampaikan dapat berupa suatu

informasi, ajakan, gagasan. Komunikasi ini memerlukan ketrampilan komunikasi


lisan dan tulisan agar pesan dapat disampaikan secara efektif dan efisien.
5. Komunikasi Organisasi
Merupakan komunikasi yang dilakukan dalam suatu organisasi atau antar organisasi
baik secara formal maupun informal. Komunikasi organisasi pada umumnya
membahas tentang struktur dan fungsi organisasi serta hubungan antarmanusia.
6. Komunikasi Massa
Komunikasi ini melibatkan sejumlah besar komunikan heterogen yang tersebar di
suatu wilayah geografis yang luas dan berkepentingan pada pesan komunikan yang
sama.
B. JENIS KOMUNIKASI
Komunikasi dapat dibedakan dalam lima jenis, yaitu komunikasi tertulis, komunikasi
verbal, komunikasi non-verbal, komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah.
1. Komunikasi Tertulis Merupakan komunikasi yang penyampaian pesan secara tertulis
baik manual maupun melalui media seperti email, surat, media cetak. lainnya.
Prinsip-prinsip komunikasi tertulis, yaitu :
Lengkap
Ringkas
Pertimbangan
Konkrit
Jelas
Sopan
Benar
Dalam Rumah Sakit, komunikasi tertulis dapat berupa catatan perkembangan pasien, catatan
medis, laporan perawat dan catatan lainnya yang memiliki fungsi sebagai berikut :

Sebagai tanda bukti tertulis otentik, misalnya persetujuan operasi.


Alat pengingat / berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang telah diarsipkan.
Dokumentasi historis, misalnya rekam medis pasien.
Jaminan keamanan, misalnya surat keterangan jalan.
Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat perintah, surat
pengangkatan, SPO.

Keuntungan komunikasi tertulis ;

Adanya dokumen tertulis


Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman
Dapat menyampaikan ide yang rumit
Memberikan analisa, evaluasi dan ringkasan
Menyebarkan informasi kepada khalayak ramai
Dapat menegaskan, menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan
Membentuk dasar kontrak atau perjanjian

Untuk penelitian dan bukti di pengadilan


2. Komunikasi Verbal
Merupakan komunikasi yang disampaikan secara lisan. Komunikasi dapat dilakukan secara
langsung atau melalui sarana komunikasi seperti telepon. Kelebihan dari komunikasi ini
terletak pada keberlangsungannya, yakni dilakukan secara tatap muka sehingga umpan balik
dapat diperoleh secara langsung dalam bentuk respon dari pihak komunikan.
Komunikasi verbal ini harus memperhatikan arti denotative dan konotatif, kosa kata, tempo
bicara, intonasi, kejelasan dan keringkasan serta waktu dan kesesuaian. Jenis komunikasi ini
sering digunakan dalam pelayanan di Rumah Sakit dalam hal pertukaran informasi secara
verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi ini biasanya lebih akurat dan
tepat waktu. Kelebihan dari komunikasi ini adalah memungkinkan setiap individu untuk
merespon secara langsung.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi verbal :
1. Memahami arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama dengan kata yang digunakan,
sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu
kata. Misalnya kata kritis. Secara denotatif, kritis berarti cerdas, tetapi perawat
menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika
berkomunikasi dengan pasien, tenaga medis harus berhati-hati memilih kata-kata
sehingga tidak mudah untuk disalahartikan terutama saat menjelaskan pasien mengenai
kondisi kesehatannya dan saat terapi.
2. Kosa kata mudah dipahami
Komunikasi tidak akan berhasil jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata
dan ucapan. Kemampuan dalam pengetahuan kosa kata, khususnya yang berhubungan
dengan dunia medis, berperan penting dalam komunikasi verbal. Banyak istilah teknis
yang digunakan oleh tenaga medis di rumah sakit, misalnya istilah auskultasi, akan
lebih mudah dipahami oleh pasien bila diucapkan dengan menggunakan kosa kata
mendengarkan.
3. Intonasi
Pembicaraan seseorang dapat diartikan berdasarkan pada intonasi atau nada. Seseorang
yang berbicara dengan nada yang tinggi menunjukkan bahwa orang tersebut sedang
marah. Sebaliknya seseorang yang berbicara dengan nada riang menunjukkan bahwa
orang tersebut sedang bergembira. Petugas dan tenaga medis rumah sakit hendaknya
menjaga intonasi yang menunjukkan perhatian dan ketulusan kepada pasien.
4. Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus sederhana, ringkas dan maksudnya dapat diterima dengan
jelas. Semakin sedikit kata-kata yang digunakan semakin kecil kemungkinan terjadinya
kerancuan. Komunikasi dapat diterima dengan jelas apabila penyampaiannya dengan
berbicara secara lambat dan pengucapan vokalnya dengan jelas. Selain itu, komunikator
harus tetap memperhatikan tingkat pengetahuan komunikan.

5. Selaan dan tempo bicara


Kecepatan atau tempo bicara yang tepat dapat menentukan keberhasilan komunikasi
verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain
mungkin akan menimbulkan kesan bahwa komunikator sedang menyembunyikan
sesuatu. Hal ini harus diperhatikan oleh petugas dan tenaga medis di rumah sakit, jangan
sampai pasien menjadi curiga karena selaan yang lama dan pengalihan yang cepat. Selaan
dapat dilakukan untuk menekankan pada hal tertentu, misalnya memberi waktu kepada
pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat
dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya.
6. Ketepatan waktu dan relevansi
Komunikasi yang dilakukan pada waktu yang tepat akan membawa hasil sesuai dengan
yang diharapkan. Misalnya, bila pasien sedang menangus kesakitan, bukan waktunya
untuk tenaga medis menjelaskan resiko operasi. Oleh karena itu petugas dan tenaga
medis harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Relevansi atau
kesesuaian materi komunikasi juga merupakan faktor penting untuk diperhatikan.
Komunikasi akan efektif apabila topik pembicaraan berkenaan dengan masalah yang
dihadapi oleh komunikan. Komunikasi verbal akan lebih bermanfaat jika pesan yang
disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.
7. Humor
Dugan (1989) dalam Purba (2003) mengatakan bahwa tertawa dapat mengurangi
ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stress dan dapat meningkatkan
keberhasilan tenaga medis dalam memberikan dukungan emosional terhadap pasien.
Sullivan dan Deane (1988) dalam Purba (2006) melaporkan bahwa humor merangsang
produksi catecholamines dan hormone yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan
toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernafasan dan
humor dapat digunakan untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau
ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dengan pasien.
Dalam menyebutkan kata yang sulit maka pemberi pesan harus mengeja hurufnya dengan
menggunakan kode alfabeth Internasional, yaitu :

Sumber: Wikipedia
1. Komunikasi Non Verbal
Merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata.
Komunikasi ini adalah cara yang paling meyakinkan untuk menyamoaikan pesan kepada orang
lain. Tenaga medis perlu menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan oleh pasien
mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan karena pesan non verbal dapat
memperkuat pesan yang disampaikan secara verbal, misalnya, menggunakan gerak isyarat,

bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, simbol-simbol serta cara berbicara seperti intonasi,
penekanan, kualitas suara, gaya emosi dan gaya berbicara.
Komunikasi non verbal meliputi beberapa hal sebagai berikut :
a. Metakomunikasi Suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara
komunikator dan komunikan disebut metakomunikasi misalnya, tersenyum meskipun hati
kecewa atau marah.
Metakomunikasi dapat dilihat dari :

Penampilan fisik
Penampilan seseorang merupakan faktor yang menarik perhatian dalam komunikasi
antar pribadi. Penampilan fisik, cara berpakaian dan cara berhias akan menunjukkan
kepribadian seseorang. Tenaga medis yang memperhatikan penampilan diri dapat
menampilkan citra profesionalisme yang positif.
Nada suara atau intonasi bicara
Intonasi bicara berpengaruh terhadap arti pesan yang disampaikan oleh seseorang
kepada pihak lain. Oleh sebab itu, pengendalian emosi merupakan faktor yang sangat
penting dalam berkomunikasi.
Ekspresi wajah
Kondisi perasaan seseorang dapat diketahui melalui ekspresi wajar. Sakit, susah,
senang, takut, ngeri, jijik dan sebagainya dapat diketahui dari ekspresi wajah.
Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar dalam menentukan pendapat
seseorang ketika berkomunikasi tatap muka.

C. MODEL KOMUNIKASI
Model komunikasi adalah ilustrasi alur komunikasi yang menunjukkan unsur-unsur penting di
dalamnya. Menurut beberapa pakar komunikasi model adalah penyederhanaan teori yang
disajikan dalam bentuk gambar.
Model Komunikasi SMCR/BERLO
Merupakan salah satu model komunikasi. Model ini mensyaratkan adanya empat unsur
komunikasi (sumber informasi, pesan, saluran dan penerima pesan) untuk dapat terjadinya
komunikasi.
Unsur komunikasi
1. Sumber Informasi (Source)
Sumber (pengirim pesan) adalah orang yang menyampaikan pemikiran atau informasi
yang dimilikinya kepada orang lain (penerima pesan). Pengirim pesan bertanggung jawab
dalam menerjemahkan pemikiran atau informasinya menjadi sesuatu yang berarti, dapat
berupa pesan verbal, non verbal dan tulisan atau kombinasi dari ketiganya. Pengirim
pesan (komunikator) yang baik adalah komunikator yang menguasai materi,

2.

3.

4.

5.

pengetahuannya luas tentang informasi yang disampaikan, cara berbicaranya jelas dan
menjadi pendengar yang baik saat dikonfirmasi oleh si penerima pesan (komunikan).
Pesan atau informasi (Message)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pesan komunikasi adalah :
Tingkat kepentingan informasi
Sifat pesan
Kemungkinan pelaksanaannya
Tingkat kepastian dan kebenaran pesan
Kondisi pada saat pesan diterima
Penerima pesan
Cara penyampaian pesan
Saluran (Channel)
Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi
berlangsung melalui hanya satu saluran, biasanya menggunakan dua, tiga atau empat
saluran yang berbeda secara simultan.
Contoh : Dalam interaksi tatap muka, kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara),
tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran
visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori) dan
seringkali kita saling menyentuh (saluran taktil). Media fisik yang sering digunakan di
rumah sakit adalah telepon, brosur, surat edaran, memo, internet , royal news, dll.
Penerima pesan (Receiver)
Penerima pesan adalah orang yang menerima pesan dari sumber informasi
(komunikator). Penerima pesan akan menerjemahkan pesan (decoding) berdasarkan pada
batasan pengertian yang dimilikinya. Dengan demikian dapat saja terjadi kesenjangan
antara yang dimaksud oleh pengirim pesan dengan yang dimengerti oleh penerima pesan
yang disebabkan oleh adanya kemungkinan hadirinya ganguan / hambatan. Hambatan ini
bisa karena perbedaan sudut pandang, pengetahuan atau pengalaman, perbedaan budaya,
masalah bahasa dan lainnya. Pada saat menyampaikan pesan, pengirim pesan
(komunikator) harus memastikan apakah pesan telah diterima dengan baik atau tidak.
Sementara penerima pesan perlu berkonsentrasi agar pesan diterima dengan baik dan
memberikan umpan balik (feedback) kepada pengirim pesan.
Umpan balik Umpan
balik merupakan tanggapan komunikan terhadap pesan yang diberikan oleh komunikator.
Umpan balik dapat berupa tanggapan verbal atau non verbal dan sangat penting sekali
sebagai proses klarifikasi untuk memastikan tidak terjadi kesalahan dalam
menginterpretasikan pesan. Pada saat penerima pesan melakukan proses umpan balik,
pengirim pesan (komunikator) yang baik harus memiliki kemampuan sebagai berikut :
a. Cara berbicara
Komunikator harus menguasai cara berbicara termasuk cara bertanya (mengerti
waktu penggunaan pertanyaan tertutup dan terbuka), menjelaskan, klarifikasi,
paraphrase, intonasi.
b. Mendengar

Komunikator harus mendengarkan dengan baik umpan balik dari penerima pesan
tanpa memotong pembicaraannya
c. Cara mengamati
Komunikator harus bisa mengamati cara berbicara komunikan misalnya bahasa non
verbal yang digunakan di balik ungkapan kata atau kalimatnya, gerakan tubuhnya.
d. Menjaga sikap
Komunikator harus menjaga sikap selama berkomunikasi dengan komunikan (bahasa
tubuh) agar tidak mengganggu komunikasi dan untuk menghindari kesalahpaham
dalam mengartikan gerak tubuh yang dilakukan oleh komunikator.
6. Gangguan
Gangguan adalah segala sesuatu yang menghambat atau mengurangi kemampuan kita
untuk mengirim dan menerima pesan.
Gangguan komunikasi ini meliputi :
a. Pengacau indra, misalnya suara terlalu keras atau lemah, bau menyengat, udara panas
dan lain-lain.
b. Faktor-faktor pribadi, antara lain prasangka, lamunan, dan lain-lain.

BAB III
KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT DAN PASIEN
Pelayanan rumah sakit tidak dapat dipisahkan dari peran komunikasi. Petugas dan
tenaga medis tidak dapat melaksanakan tahapan-tahapan dalam proses pelayanan

kesehatan dengan baik tanpa kemampuan berkomunikasi yang baik dengan pasien,
teman, atasan dan pihak-pihak lain.
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di
rumah sakit dalam hubungan perawat dan pasien adalah pertukaran informasi secara
verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Kemampuan perawat melakukan
komunikasi verbal akan menentukan kualitas asuhan yang diberikan. Dalam setiap
tahapan pelaksanaan proses keperawatam, perawat selalu menggunakan komunikasi
verbal. Oleh karena itu perawat harus memahami hal-hal yang harus diperhatikan
dalam komunikasi verbal.
Tahapan komunikasi dalam keperawatan meliputi tahap pengkajian, perumusan
diagnose, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1. Tahap Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal proses pelayanan di rumah sakit yang
dilakukan oleh petugas registrasi/admisi dan perawat untuk mengumpulkan data
pasien. Data tersebut diperlukan sebagai dasar pelaksanaan proses keperawatan
pada tahap selanjutnya.
Data pasien diperoleh dari :
a. Wawancara, terdiri dari :
Wawancara admisi
Wawancara ini dilakukan pada saat pertama kali pasien masuk rumah
sakit dengan tujuan untuk mendapatkan data umum atau identitas
pasien.
Wawancara riwayat hidup
Wawancara ini dilakukan oleh perawat untuk mendapatkan informasi
mengenai keluhan pasien, riwayat kesehatan, perjalanan penyakit
dengan tujuan untuk mengetahui alasan pasien datang ke rumah sakit
dan menjadi acuan rencana tindakan keperawatan.
Wawancara terapeutik
Wawancara ini ditekankan pada fakta, ide dan isi dalam rangka
pengembangan hubungan sehat yang bertujuan untuk membantu
pasien mengidentifikasi masalahnya. Wawancara ini memberikan
peluang kepada pasien untuk mengungkapkan perasaan, mengenal dan
mengetahu masa lalunya. Wawancara terapeutik banyak digunakan
oleh professional kesehatan seperti perawat, dokter, psikolog dan
psikiater, biasanya diterapkan pada pasien yang mengalami gangguan
psikologis.
b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan diagnostic (laboratorium, radiologi, dsb)
d. Informasi/catatan dari tenaga medis lain dan dari keluarga pasien
Kemampuan berkomunikasi sangat berpengaruh pada kelengkapan data pasien. Oleh karena itu,
peningkatan komunikasi seorang perawat perlu mendapatkan perhatian. Dalam berkomunikasi

perawat perlu memperhatikan budaya yang berpengaruh pada waktu dan tempat terjadinya
komunikasi, penggunaan bahasa, usia dan perkembangan pasien.
Ada beberapa hal yang menjadi kendala bagi pasien dalam menyampaikan, menerima dan
memahami informasi yang diterimanya. Beberapa hal yang menjadi kendala, antara lain :
a. Kemampuan bahasa
Perawat perlu memperhatikan bahasa yang mampu dipahami oleh pasien dalam
berkomunikasi karena penguasaan bahasa sangat berpengaruh terhadap persepsi dan
penafsiran pasien dalam menerima informasi yang sesuai.
b. Ketajaman pancaindera
Ketajaman pancaindera dalam mendengar, melihat, merasa dan mencium bau merupakan
faktor penting dalam komunikasi. Pasien akan dapat menerima pesan komunikasi dengan
baik apabila pancainderanya berfungsi baik. Bagi pasien yang mengalami gangguan
pendengaran, ada tahapan yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengkajian, yaitu
informasi medik yang mengindikasikan adanya kelemahan pendengaran, memperhatikan
perlu/tidaknya pasien menggunakan alat bantu dengar yang masih berfungsi,
memperhatikan kemampuan pasien membaca ekspresi wajah dan gerak bibir perawat,
dan apakah pasien mampu menggunakan gerak isyarat sebagai bentuk komunikasi non
verbal.
c. Kelemahan fungsi kognitif
Kerusakan yang melemahkan fungsi kognitif, misalnya tumor otak yang dapat
mempengaruhi kemampuan pasien untuk mengungkapkan dan memahami bahasa. Dalam
mengkaji pasien ini, perawat harus dapat menilai respon baik secara verbal maupun non
verbal yang disampaikan oleh pasien dalam menjawab pertanyaan.
d. Gangguan struktural Gangguan struktural tubuh terutama yang berhubungan langsung
dengan organ suara seperti mulut dan hidung dapat berpengaruh pada proses komunikasi.
2. Tahap perumusan diagnosa
Diagnosa dirumuskan berdasarkan data yang diperoleh dari tahap pengkajian. Perumusan
diagnosa keperawatan merupakan hasil penilaian perawat dengan melibatkan pasien dan
keluarganya, tenaga kesehatan lain yang berkenaan dengan masalah yang dialami pasien.
Diagnosa keperawatan yang tepat memerlukan sikap komunikatif perawat dan sikap
kooperatif pasien.
3. Tahap perencanaan
Pengembangan rencana tindakan keperawatan kepada pasien diperlukan interaksi dan
komunikasi dengan pasien. Hal ini untuk menentukan alternative rencana keperawatan yang
akan diterapkan. Misalnya, sebelum memberikan makanan kepada pasien, perawat harus
terlebih dahulu mengetahui makanan yang sesuai bagi pasien. Rencana tindakan yang dibuat
oleh perawat merupakan media komunikasi antar tenaga kesehatan yang berkesinambungan
sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara teratur dan efektif.
4. Tahap pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan realisasi dari perencanaan yang telah ditetapkan terlebih
dahulu. Aktifitas ini memerlukan ketrampilan dalam berkomunikasi dengan pasien.Terdapat
dua katergori umum aktivitas perawat dalam berkomunikasi, yaitu saat mendekati pasien
untuk memenuhi kebutuhan dan saat pasien mengalami masalah psikologis.
Pada saat menghadapi pasien, perawat perlu : Menunjukkan raut wajah yang mencerminkan ketulusan agar tercipta suasana saling
percaya saat berkomunikasi.
Kontak pandang yang menunjukkan perhatian dan kesungguhan perawat.
Fokus pada pasien.
Bersikap terbuka untuk menumbuhkan keberanian pasien dalam mengikuti tindakan
keperawatan yang dilakukan.
Mendengarkan secara seksama dan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi dari
pasien. Perawat lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Hal ini akan
menumbuhkan kepercayaan pasien kepada perawat.
Mendengarkan keluhan pasien dan memahami perasaan.
Perawat mampu menjelaskan keadaan pasien.
Perawat mampu menjadi pembimbing dan konseling terhadap pasien.
Bersikap tenang selama berada di depan pasien.
Dalam berkomunikasi di rumah sakit, petugas dan tenaga medis harus melakukan proses
verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan dengan catat, baca kembali dan konfirmasi
ulang (TBaK), yaitu :
1.

Pemberi pesan memberikan pesan secara lisan. Komunikasi dapat dilakukan secara
langsung atau melalui sarana komunikasi seperti telepon. Pemberi pesan harus
memperhatikan kosa kata yang digunakan, intonasi, kekuatan suara (tidak besar dan
tidak kecil), jelas, singkat dan padat.
2. Penerima pesan mencatat isi pesan tersebut. (TULIS) Untuk menghindari adanya pesan
yang terlewat maka penerima pesan harus mencatat pesan yang diberikan secara jelas.
3. Isi pesan dibacakan kembali secara lengkap oleh penerima pesan. (BACA) Setelah pesan
dicatat, penerima pesan harus membacakan kembali pesan tersebut kepada pemberi
pesan agar tidak terjadi kesalahan dan pesan dapan diterima dengan baik.
4. Penerima pesan mengkonfirmasi kembali isi pesan kepada pemberi pesan.
(KONFIRMASI) Pemberi pesan harus mendengarkan pesan yang dibacakan oleh
penerima pesan dan memberikan perbaikan bila pesan tersebut masih ada yang kurang
atau salah.
Sistem TBaK dapat diillustrasikan dengan skema sebagai berikut :

Yah..
benar.

Jadi isi pesannya ini


yah pak

Dikonfirmasik
an

Komunikat
or

Isi
pesan

Dituli
s

Dibacaka
n

Komunika
n

BAB IV
KOMUNIKASI EFEKTIF DOKTER DAN PASIEN
Dalam hubungan tenaga medis dan pasien, baik dokter maupun pasien dapat berperan sebagai
sumber atau pengrim pesan dan penerima pesan secara bergantian. Pasien sebagai pengirim
pesan, menyampaikan apa yang dirasakan atau menjawab pertanyaan tenaga medis sesuai
pengetahuannya. Sementara tenaga medis sebagai pengirim pesan, berperan pada saat
menyampaikan penjelasan penyakit, rencana pengobatan dan terapi, efek samping obat yang
mungkin terjadi serta dampak dari dilakukan dan tidak dilakukannya terapi tertentu. Dalam
penyampaian ini, tenaga medis bertanggung jawab untuk memastikan pasien memahami apa
yang disampaikan.
Sebagai penerima pesan, dokter perlu berkonsentrasi dan memperhatikan setiap pernyataan
pasien. Untuk memastikan apa yang dimaksud oleh pasien, dokter sesekali perlu membuat

pertanyaan atau pernyataan klarifikasi. Mengingat kesenjangan informasi dan pengetahuan yang
ada antara dokter dan pasien, dokter perlu mengambil peran aktif. Ketika pasien dalam posisi
sebagai penerima pesan, dokter perlu secara proaktif memastikan apakah pasien benar-benar
memahami pesan yang telah disampaikannya. Misalnya dalam menginterpretasikan kata
panas. Dokter yang mempunyai pasien berumur dua tahun memesankan kepada ibu pasien,
Kalau dia panas, berikan obatnya. Pengertian panas oleh ibu pasien mungkin saja berbeda
dengan yang dimaksudkan oleh dokter. Dokter perlu mencari cara untuk memastikan si ibu
mempunyai pemahaman yang sama, misalnya dengan menggunakan ukuran yang tepat, yaitu
termometer. Dokter mengajarkan cara menggunakan termometer untuk mengetahui keadaan
anaknya. Si ibu diminta memberikan obat yang telah diresepkan dokter kepada anaknya apabila
suhu tubuh anak mencapai angka tertentu yang dimaksud dokter mengalami panas.
Dalam dunia kesehatan, warna yang berbeda, ukuran yang berbeda, rasa yang berbeda bisa
menjadi hal yang sangat vital karena bisa membedakan intensitas radang, intensitas nyeri yang
pada akhirnya bermuara pada perbedaan diagnosa maupun jenis obat yang harus diminum. Peran
dokter sebagai fasilitator pembicaraan amat penting agar tidak terjadi salah interpretasi.
Silverman (1998) menjelaskan bahwa komunikasi efektif tidak berhenti sampai pemberi pesan
selesai menyampaikan maksudnya. Komunikasi baru dapat dikatakan lengkap ketika pembicara
mendapatkan umpan balik dari penerima yang meyakinkannya bahwa tujuan komunikasinya
tercapai (penerima pesan memahami sesuai yang diharapkannya).
Disease Centered Communication Style adalah komunikasi berdasarkan kepentingan dokter
dalam usaha menegakkan diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda
dan gejala.
Illness Centered Communication Style adalah komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan
pasien tentang penyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik, termasuk
pendapat pasien, apa yang menjadi kepentingannya, apa kekhawatirannya, harapannya, apa yang
dipikirkannya akan menjadi akibat dari penyakitnya (Kurtz, 1998).
Pada dasarnya komunikasi efektif adalah bagaimana menyatukan sudut pandang pasien maupun
dokter menjadi sebuah bentuk relasi dokterpasien (doctor-patient partnership), keduanya berada
dalam level yang sejajar dan saling bekerja sama untuk menyelesaikan masalah kesehatan
pasien.
Di dunia kedokteran, model proses komunikasi tersebut telah dikembangkan oleh Van Dalen
(2005) menjadi sebuah model yang sangat sederhana dan aplikatif.

BAB IV
KOMUNIKASI ANTAR PEMBERI LAYANAN
Dalam memberikan pelayanan di RSIA RP SOEROSO, antar pemberi layanan melakukan
komunikasi dengan teknik SBAR. SBAR merupakan suatu teknik komunikasi yang
dipergunakan dalam melakukan identifikasi terhadap pasien sehingga mampu meningkatkan
kemampuan komunikasi antara perawat dengan dokter. Dengan komunikasi SBAR ini maka
perawat dapat memberikan laporan mengenai kondisi pasien lebih informatif dan terstruktur.
SBAR merupakan kerangka acuan dalam pelaporan kondisi pasien yang memerlukan perhatian
dan tindakan segera. Teknik SBAR terdiri atas unsur Situation, Background, Assessment,
Recommendation. Pada prinsipnya, SBAR merupakan komunikasi standar yang ingin menjawab
pertanyaan, yaitu apa yang terjadi, apa yang diharapkan oleh perawat dari dokter yang dihubungi
dan kapan dokter harus mengambil tindakan.
4 (Empat)Unsur SBAR :
1. Situation Menjelaskan kondisi terkini dan keluhan yang terjadi pada pasien.
Misalnya : penurunan tekanan darah, gangguan irama jantung, sesak nafas, dll.
2. Background

Menggali informasi mengenai latar belakang klinis yang menyebabkan timbulnya keluhan
klinis. Misalnya : Riwayat alergi obat-obatan, hasil pemeriksaan laboratorium yang sudah
diberikan, hasil pemeriksaan penunjang, dll.
3. Assessment
Penilaian/pemeriksaan terhadap kondisi pasien terkini sehingga perlu diantisipasi agar
kondisi pasien tidak memburuk.
4. Recommendation
Merupakan usulan sebagai tindak lanjut, apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah
pasien saat ini.
Misalnya : menghubungi dokter, mengarahkan pasien untuk melakukan pemeriksaan
penunjang, dll.
Contoh laporan perawat ke dokter dengan menggunakan SBAR (Haig, K.M., dkk.,2006) :
Situation (S)

Background (B)

Assessment (A)

Recommendation (R)

Sebutkan nama Anda dan unit


Sebutkan identitas pasien dan nomor kamar pasien.
Sebutkan masalah pasien tersebut (misalnya sesak nafas,
nyeri dada, dsb.
Sebutkan diagnosis dan data klinis pasien sesuai
kebutuhan :
Status kardiovaskular (nyeri dada, tekanan darah, EKG,
dsb.)
Status respirasi (frekuensi pernafasan, Sp02, analisis gas
darah, dsb.)
Status gastro-intestinal (nyeri perut, muntah, perdarahan,
dsb.)
Neurologis (GCS, pupil, kesadaran, dsb.)
Hasil laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya.
Sebutkan problem pasien tersebut :
Problem kardiologi (syok kardiogenik, aritmia maligna,
dsb.)
Problem gastro-intestinal (perdarahan massif dan syok)
Rekomendasi (pilih sesuai kebutuhan) :
Saya meminta dokter untuk :
Memindahkan pasien ke ICU
Segera datang melihat pasien
Mewakilkan dokter lain untuk datang
Konsultasi ke dokter lain
Pemeriksaan atau terapi apa yang diperlukan
Foto rontgen
Pemeriksaan analisi gas darah
Pemeriksaan EKG
Pemberian oksigenasi

Beta 2 agonis nebulizer