Anda di halaman 1dari 18

1.1.

LATARBELAKANG
Berbagai pemberitaan yang muncul di media, maupun
kasus-kasus yang menjadi perhatian masyarakat yang sampai di pengadilan,
umumnya melibatkan sengketa tentang penyalahgunaan kewenangan yang
dilakukan oleh pihak direksi dalam perusahaan maupun badan hukum privat yang
aktif

menjalankan

kegiatannya

di

tengah-tengah

masyarakat.

Praktik

penyalahgunaan kewenangan tersebut dapat terjadi oleh karena keterbatasan


pemahaman

tentang

doktrin

hukum

yang

melandasi

dan

membatasi

penyelenggaraan kewenangan yang diberikan perusahaan dan atau badan hukum


dalam praktik manajemen dan pengelolaan kegiatannya sehari-hari. Atas dasar
pertimbangan tersebut, maka perlu dilakukan kajian hukum untuk memperjelas
batas-batas wewenang yang diberikan pada direksi perseroan, atau penerus badan
hukum sebagaimana yang ditetapkan dalama anggaran dasarnya. Untuk itu maka
lingkup pembahasan melingkupi pemahaman doktrin terkait yaitu: ultra vires,
extra vires, dan lintra vires.

1.2.

PERMASALAHAN
Yang akan dibahas dalam tulisan ini meliputi sejumlah pertanyaan tentang
doktrin ultra vires yang meliputi:

1.
2.
3.
4.

Apakah yang dimaksud dengan doktrin ultra vires ?


Bagaimanakah sejarah dan perkembangan doktrin ultra vires ?
Bagaimanakah penerapan doktrin ultra vires di dalam hukum Indonesia ?
Bagaimana hubungan doktrin ultra vires dengan kewenangan badan hukum di
Indonesia ?

1.3.

PEMBAHASAN
a. Pengertian
Ultra Vires berasal dari bahasa latin yang dalam bahasa Inggris

Ditejermahkan sebagai beyond the power atau dalam bahasa Indonesia


ditejermahkan melamapui kewenangan. Pemahana secara akademis misalnya
dituliskan oleh Timothy Endicott, ultra vires means beyond (the agency) legal
powers1. Frank Mack mengartikannya sebagai:

The term ultra vires in the proper sense, denotes some act or transaction
on the part of corporation wich although not unlaw full orcontrary to public
policy if done or executed by an individual, is jet beyond the legitimate powers of
the corporation as they are defined by the statute under which it is formed, or
which are applicable , or by its charter or incorporation papers2
Ultra vires dalam keputuskaan hukum seringkali disebut sevagai extra
vires, karena extra vires juga memiliki makna yang sama dengan ultra vires yaitu
beyond the power atau melampaui kewenangan.
Berdasarkan defenisis tersebut, dapat dilihat bahwa jika ternyata sebuah
perusahaan melalui organ perusahaan tersebut melakukan perbuatan di luar
kewenangan, atau melampaui kewenangan atau cakupan bidang usaha yang
ditetapkan dalam Anggaran Dasar perseroan tersebut (intra vires) sebagai contoh,
perusahaan yang didirikan untuk berusaha dalam bidang pertambangan sesuai
amanat yang dicantumkan dalam Anggaran Dasar nya, maka perusahaan tersebut
telah melakukan perbuatan yang dimaksud dengan ultra vires tersebut. Jika
perusahaan terebut dalam menjalankan usaha ansuransinya membuat kontrak
dengan pihak lain yang berkaitan dengan bisnis asuransi yang tidak diatur dalam
Anggaran Dasarnya, maka penanda tanganan kontrak kontrak itu adalah sebuah
perbuatan melanggar hukum dengan konsekuensi kontrak itu dianggap tidak ada
(void) atau dapat dibatalkan (voidable-vernietig), hal itu adalah merupakan
kewenangan hakim untuk memutuskan, berdasrkan gugatan yang diajukan oleh
salah satu pihak yang diragukan.

b. Sejarah dan perkembangan Doktrin ultra vires

Pada tahun 1875 terjadi perubahan yang fundamental di Inggri berkaitan dengan
pemahaman dan penerapan doktrin ultra vires, karena doktrin ultra vires oleh

Company Act. Latar belakangnya keputusan House of Lords tersebut adalah


diputuskannya kasus Ashbury Railway Carriage and Iron Company yang
dididrikan berdasarkan Company Act. 1882 menyebutkan bahwa perusahaan
berusaha dalam bidang pembuatan dan penjualan, meminjamkan dan atau
menyewakan gerbong barang dan gerbong penumpang, serta segala sesusatu yang
berkaitan dengan bisnis pembuatan, penjualan, penyewaan gerbong barang dan
gerbong penumpang, serta sesuatu yang berkaitan dengan bisnis pembuatan,
penjualan, persewaan gerbong. Namun dalam kenyataannya direksi Ashbury
Railway Carriage and Iron Company Ltd. Justru membuat kontrak dengan Hector
Riche yang isinya antara lain untuk membiayai pembangunan jaringan rel kereta
api di Belgia, yang tidak termasuk dalam apa yang diamatakan dalam Anggaran
Dasar (Memorandum of Association) perusahaan tersebut.
Isu hukum yang muncul dalam kasus Ashbury Railway Carriage and iron
Company LTD v. Hector Riche adalah apakh kontrak tersebut berlaku atau tidak,
dan apakah kontrak dapat diratifikasi oleh para pemegang saham (para kongsi)
Ahbury Railway Carriage and Iron Company Ltd ?. Ternyata The House of Lords
memutuskan bahwa:
(a) The contract was beyond the objects as defined in the objects clause of its
memorandum and, therefore it was void, and
(b) The company had no capacity to ratify the contract.
The House of Lords dalam keputusannya menyatakan bahwa perbuatan
ultra vires dan atau kontrak yang di buat secara ultra vires dianggap tidak ada
(void) karena perusahaan tersebut tidak memiliki kapasitas untuk membuat
kontrak dan dengan alasan tersebut dipertanyakan atas dasar apa para pemegang
saham juga akan melanggar Company Act, 1882.
Lima tahun kemudian dalam kasus Attorney General v. Great Eastern
Railway Co. (1880) 5 A.C. 473, The House of Lords menegaskan kembali makna
doktrin ultra vires yang ditegakkan dalam kasus Aushbury Railway Carriage and
Iron Company Ltd v. Hector Riche

memutuskan bahwa doktrin ultra vires:

ought to be responable, and not reasonable understood and applied and


whatever may fairly be regarded as incidental to, or consequntial upon, those

[Type text]

[Type text] [Type text]

things which the legislature has authorized, ought not to be held, by judicial
contruction, to be ultra vires. Sesudah putusan kasus Attorney General v. Great
Eastern Railway Co. Maka selanjutnya pelaksanaan doktrin ultra vires mengalami
pencerahan karena sejak itu maka penerapan doktin ultra vires lebih
diperlonggar: a company incoroporated under company Compamy Act has
power to carry out the object set out its memorandum and also everythings is
reaasonably necessary to enable it to carry those objects 1. Putusan yang menjadi
preseden dalam common law tersebutb, menegaskan bahwa perusahaan memiliki
kewenangan apa yang diatur dalam Anggaran Dasar (intra view), serta melakukan
sesuatu yang mendukung tercapainya tujuan perusahaan.

c.

Hubungan antara doktrin ultra vires dengan kewenangan dalam Badan


Hukum
Badan hukum dapat dibedakan antara badan hukum privat/perdata, dan
badan hukum publik. Eksistensi badan hukum privat yang meliputi syarat-syarat
pendirian dan pembubaran, kewajiban pendiri dan pengurus serta hak-hak dan
kewajiban yang melekat erat padanya, diatur dalam KUH Perdata (Civil Code)
dan atau KUH Dagang (Commercial Code) dan melalui penetapan pemerintah
dalam undang-undang yang terkait. Di Indonesia, modernisasi terhadap aturanaturan dalam KUH Dagang yang dianggap telah tidak sesuai perkembangan jaman
mengakibatkan banyak pengaturan terhadap pendirian badan hukum diatur dalam
aturan perundang-undangan yang lain, sehingga menghapus dan atau memberikan
pengertian baru terhadap pasal-pasal tertentu dalam KUH Dagang. Sesuai
pemahaman klasikal, badan hukum privat atau badan hukum perdata, adalah
badan hukum yang didirikan oleh masyarakat dan diakui oleh negara, atau
didirikan oleh negara, tetapi tidak memiliki kewenangan menetapkan kebijakan
publik yang mengikat publik. Beberapa contoh yang dapat ditemukan disini
adalah Perseroan Terbatas, Koperasi, Yayasan, dan perkumpulan

Badan hukum publik didirikan berdasarkan aturan hukum yang


khusus mengaturnya baik melalui perundang-undangan ataupun penetapan

pemerintah (executive order). Badan hukum publik dengan demikian adalah


merupakan badan hukum yang didirikan oleh negara dan memiliki kewenangan
menetapkan kebijakan publik yang mengikat umum atau masyarakat untuk
memeatuhinya. Contohnya adalah negara, pemerintah pusat, propinsi, kabupaten,
dan kota. Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh badan hukum politik
mengikat untuk dipatuhi siapa saja yang tekena peraturan tersebut.

d. Problem dan Pengaturan Doktrin Ultra Vires di Beberapa Negara


1. Di Inggris
Di Inggris, maksud dan tujuan perseroan wajib disebutkan dalam
memorandum
Hingga

saat

of

association
ini,

(akta

kewajiban

pendirian)
ini

suatu

masih

perseroan.

berlaku.

Pertanyaan mengenai sanksi terhadap dilakukannya tindakan yang "ultra


vires" dijawab dalam tahun 1875 dalam keputusan perkara Ashbury
Railway Carriage & Iron Company v Riche. Dalam perkara tersebut hakim
menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan di luar maksud dan tujuan
perseroan yang dinyatakan dalam memorandum of association adalah batal
(void) karena berada di luar kewenangan badan hukum yang
bersangkutan. Justifikasi

terhadap

doktrin

tersebut

adalah

untuk

memberikan perlindungan kepada para pemegang saham dan para kreditor


perseroan.
Sebelum tahun 1970 tidak dibuat pembedaan antara tindakan yang "ultra
vires" dan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan perseroan.
Akan tetapi, sejak tahun 1970, dalam keputusan beberapa perkara,
tindakan yang termasuk dalam maksud dan tujuan perseroan akan tetapi
bertentangan dengan kepentingan perseroan tidak lagi dikualifikasi sebagai
tindakan "ultra vires" akan tetapi dinyatakan sebagai persoalan
kewenangan direksi, yakni pelanggaran terhadap fiduciary duties direksi.
Oleh karena doktrin "ultra vires" dianggap tidak memberikan kepastian
hukum kepada pihak ketiga dan juga dalam rangka masuknya Inggris ke
dalam negara-negara Komunitas Eropa, maka dalam tahun 1989 dibuat
perubahan- perubahan pada Companies Act 1985 untuk "melunakkan"
berlakunya doktrin ini.

[Type text]

[Type text] [Type text]

-Perubahan-perubahan tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut:


1.-kekuatan eksternal doktrin "ultra vires" dihapus, akan tetapi pemegang
saham masih diberi hak untuk mencegah dilakukannya tindakan yang akan
dilakukan oleh Direksi, jika tindakan tersebut bersifat "ultra vires";
2.-diberikan perlindungan kepada pihak ketiga yang beritikad baik;
3.-doktrin "constructive notice" (yang menentukan bahwa orang dianggap
mengetahui

isi

memorandum

of

association),

karena

dianggap

menghambat perlindungan pihak ketiga yang beritikad baik, dihapus.2. Australia


Di Australia, Corporations Act 2001 tidak mensyaratkan adanya uraian
mengenai tujuan perseroan dalam memorandum of association. Catatan
11

Untuk perseroan yang memorandum of associationnya menguraikan

tujuan perseroan, berdasarkan Section 125 Corporations Act 2001 tersebut


doktrin "ultra vires" telah dihapus. Jika dilakukan suatu tindakan yang
berada di luar tujuan Perseroan, maka hal itu dianggap sebagai
pelanggaran terhadap kewajiban Direksi (companys director breach of
duty)
3. Singapura
Di Singapura, Section 25 ayat 1 juga telah menghapus doktrin "ultra
vires", akan tetapi sepanjang tindakan telah dilakukan. Untuk tindakan
yang masih belum dilakukan, pemegang saham (member) atau kreditor
(debenture holder) yang dijamin dengan suatu "floating charge" berhak
minta kepada pengadilan untuk melarang dilakukannya tindakan yang
"ultra vires".
4. Belanda
KUHDagang 1838 tidak secara tegas mensyaratkan bahwa maksud dan
tujuan suatu perseroan harus dimuat dalam anggaran dasar. Ayat 1 Pasal 36
KUHDagang Belanda 1838 hanya menetapkan:
De naamloze vennootschap heeft geene firma, noch draagt de naam van
een of meer der vennooten, maar zij ontleent hare benaming alleen aan het
voorwerp harer handels onderneming.

(Suatu perseroan terbatas tidak mempunyai nama bersama, atau


menggunakan nama salah satu atau lebih peseronya, akan tetapi hanya
menggunakan nama berdasarkan objek perusahaan dagangnya).
Para ahli hukum Belanda menafsirkan bahwa perkataan "voorwerp harer
handels onderneming" dalam ayat 1 Pasal 36 tersebut mengindikasikan
bahwa anggaran dasar perseroan terbatas harus menyebutkan maksud dan
tujuan

perseroan.

Kemudian Pasal 37 menentukan bahwa pernyataan tidak berkeberatan


terhadap akta pendirian akan diberikan jika ternyata bahwa perseroan tidak
bertentangan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum. Ketentuan
inipun mengindikasikan bahwa anggaran dasar perseroan terbatas harus
memuat tujuan perseroan, sebab untuk menentukan apakah perseroan
terbatas tidak bertentangan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum,
antara lain, harus dilihat dari tujuan perseroan tersebut
Bagaimanapun, dalam prakteknya, untuk memperoleh pernyataan tidak
berkeberatan dari Departemen Kehakiman Belanda terhadap akta
pendirian atau konsep akta pendirian, dalam anggaran dasar perseroan
terbatas selalu dinyatakan maksud dan tujuan perseroan.
Dalam tahun 1928, dilakukan perombakan terhadap peraturan perseroan
terbatas yang dimuat dalam KUHDagang 1838 dengan membuat
perubahan
Dalam

terhadap
Pasal

Pasal

36

sampai

36c

dengan

KUHDagang

Pasal

56

lama.

ditetapkan:

"De akte van oprichting vermeldt de naam, de plaats van vestiging en het
doel der vennootschap".(Akta pendirian harus menyebutkan nama, tempat
kedudukan dan tujuan perseroan).
Akan tetapi, sebagaimana halnya dalam KUHDagang 1838, dalam
KUHDagang 1928 tidak ada peraturan yang secara tegas mengatur
akibatnya jika suatu perseroan melakukan tindakan di luar maksud dan
tujuan yang dinyatakan dalam anggaran dasar.

[Type text]

[Type text] [Type text]

Hingga tahun 1976, para akhli hukum memecahkan masalah ini dengan
menyatakan bahwa maksud dan tujuan yang dinyatakan dalam anggaran
dasar merupakan batasan mengenai kewenangan Direksi dalam melakukan
tindakan untuk perseroan. Direksi perseroan tidak berwenang untuk
melakukan tindakan yang berada di luar maksud dan tujuan dalam
anggaran dasar dan tindakan demikian tidak mengikat terhadap perseroan.
Terdapat perbedaan antara pendapat yang menyatakan bahwa kewenangan
Direksi untuk mewakili perseroan dibatasi oleh maksud dan tujuan
perseroan (selanjutnya disebut "Doktrin Kewenangan Direksi") dengan
doktrin

"ultra

vires".

Dalam doktrin "ultra vires", maka pada hakekatnya perseroan tidak


berwenang untuk melakukan tindakan di luar tujuannya karena perseroan
didirikan hanya untuk tujuan yang diuraikan dalam memorandum of
association, sehingga dalam hal ini perseroan tidak mempunyai hak (tidak
"rechtsbevoegd").
Sedangkan dalam Doktrin Kewenangan Direksi masalahnya adalah
kemampuan atau wewenang Direksi dalam mewakili perseroan, sehingga
dalam hal ini Direksi tidak cakap melakukan tindakan tersebut (tidak
"handelingsbekwaam").
Keputusan Pengadilan yang selalu disebut dalam kepustakaan Belanda
yang mendukung Doktrin Kewenangan Direksi adalah keputusan Huidenarrest (1928). Dalam perkara ini, Mahkamah Agung Belanda menyatakan
bahwa:
(a) dengan melakukan tindakan spekulatip (yang tidak termasuk dalam
tujuan perseroan) Direksi telah melampaui kewenangannya untuk
mewakili, sehingga tindakan tersebut sebenarnya tidak mengikat,
perseroan;
(b) akan tetapi, oleh karena dalam hal ini bank bertindak selaku pihak yang
beritikad baik (karena diberi informasi bahwa Direktur tersebut bertindak
dalam batas kewenangannya) maka ketentuan umum dalam butir (a) di

atas

dikesampingkan.

Mengenai masalah tindakan yang bertentangan dengan kepentingan


perseroan, perlu disebutkan disini suatu keputusan Pengadilan Tinggi sGravenhage tanggal 27 Juni 1968 (Nieuw Eykenduynen-Arrest).
Centraal Beleggingfonds NV adalah pemilik 100% saham dalam
Begraafplaats Nieuw Eykenduynen NV ("Nieuw Eykenduynen") dan
Investa NV. Nieuw Eykenduynen memberikan hak tanggungan kepada
bank untuk menjamin hutang Investa NV dan hutang tersebut tidak
mempunyai kaitan dengan usaha penguburan yang dijalankan oleh Nieuw
Eykenduynen. Dalam kasus tersebut, Pengadilan Tinggi membuat
pertimbangan bahwa dalam hal ini bank harus dianggap mengetahui
bahwa tindakan memberikan hak tanggungan bukanlah untuk kepentingan
Nieuw Eykenduynen.
Nieuw

Eykenduynen

arrest

menimbulkan

banyak

diskusi

dalam

kepustakaan hukum di Belanda. Umumnya para akhli hukum tidak


sependapat dengan keputusan ini. Dalam tahun 1976, seluruh peraturan
mengenai perseroan terbatas di negeri Belanda yang termuat dalam
KUHDagang diganti dan dimuat dalam Buku 2 tentang Badan Hukum.
Dalam Pasal 66 (untuk NV) dan Pasal 77 (untuk BV) ditentukan bahwa
dalam anggaran dasar harus disebutkan, antara lain, tujuan/doel perseroan.
Pengaturan mengenai tindakan perseroan yang melampaui tujuan dimuat
dalam bagian umum tentang badan hukum, yakni semula dalam Pasal 6,
akan tetapi kemudian diubah menjadi Pasal 7, yang berbunyi sebagai
berikut:
"Een door een rechtspersoon verrichte rechtshandeling is vernietigbaar,
indien daardoor het doel werd overschreden en de wederpartij dit wist of
zonder eigen onderzoek moest weten; slechts de rechtspersoon kan een
beroep

op

deze

grond

tot

vernietiging

doen".-

(Suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh suatu badan hukum dapat
dibatalkan jika dengan tindakan tersebut tujuan badan hukum tersebut

[Type text]

[Type text] [Type text]

dilanggar dan pihak lawan dalam transaksi mengetahui atau tanpa harus
melakukan penyelidikan harus mengetahui hal tersebut; hanya badan
hukum itu saja yang berhak untuk menuntut pembatalan berdasarkan
alasan

hukum

ini).

Sistim yang dianut dalam Pasal 7 tersebut merupakan "jalan tengah"


(tussenstelsel) antara 2 sisi yang saling berseberangan mengenai doktrin
ultra vires (yakni pendapat bahwa doktrin tersebut berlaku secara eksternal
dan pendapat lain yang mengatakan bahwa pelanggaran terhadap tujuan
perseroan semata-mata bersifat internal).
Berdasarkan

ketentuan

Pasal

BW

Belanda

tersebut:

(i) tujuan tetap menentukan kewenangan bertindak suatu perseroan;


(ii) akan tetapi hanya perseroan itu sendiri yang berhak untuk menuntut
pembatalan tindakan yang ultra vires dan hal inipun hanya mungkin jika
pihak lawan dalam transaksi mengetahui atau harus dianggap mengetahui
tentang ultra vires tersebut.Ayat 2 Pasal 7 jelas bermaksud memberikan perlindungan kepastian
hukum

kepada

pihak

ketiga

yang

beritikad

baik.

Kelihatannya, berdasarkan ketentuan Pasal 7 BW Belanda tersebut Doktrin


Kewenangan Direksi yang dianut pada zaman KUHDagang telah
ditinggalkan dan diganti dengan doktrin ultra vires, tetapi yang bersifat
lunak, yakni hanya diberlakukan terhadap pihak ketiga yang mengetahui
atau harus mengetahui adanya ultra vires.
Akan tetapi, permasalahan kualifikasi apakah suatu tindakan melanggar
tujuan perseroan, terutama mengenai tindakan yang bertentangan dengan
kepentingan perseroan, masih belum jelas baik di antara para akhli hukum
maupun dalam jurisprudensi. Pegangan yang diberikan oleh Mahkamah
Agung Belanda hanyalah bahwa dalam menentukan apakah suatu tindakan
melanggar tujuan perseroan harus diperhatikan semua keadaan dan uraian
mengenai

tujuan

dalam

anggaran

dasar

bukan

hal

yang

menentukan. Dengan demikian, maka masalah ini akan diputus atas dasar
kasus demi kasus.

11

e. Penerapan Doktrin ultra vires di dalam hukum Indonesia

Doktrin ultra vires diterapkan pada perusahaan-perusahaan serta organisasi


kemasyarakatan, organisasi sosial, dan organisasi keagamaan berbadan hukum
yang memiliki peranan yang sangat luas terhadap kehidupan masyarakat. Sebuah
perbuatan yang dilakukan oleh organ perusahaan, pengurus organisasi sosial
berbadan hukum yang dilakukan melampaui kewenangan yang diatur dalam
Anggaran Dasar dan atau aturan perundang-undangan terkait yang mengatur
eksistensi badam hukum tersebut dapat dikatagorikan sebagai tindakan ultra vires
atau perbuatan melampaui kewnangan. Dampak pelanggaran terhadap doktrin
ultra vires dapat berupa tntutan perdata yang diajukan oleh beberapa pihak yang
dirugikan, serta dapat dimintakan pertanggung jawaban pidana baik terhadap
konsekuensi korporasi maupun terhadap orang yang melakukannya.
Hingga tahun 1996, undang-undang mengenai perseroan terbatas masih tetap
dimuat dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 56 KUHDagang yang bunyinya
(hampir) sama dengan KUHDagang 1838 yang pernah berlaku di negeri Belanda.
Perombakan terhadap undang-undang tentang perseroan terbatas yang dilakukan
di

negeri Belanda

dalam

tahun 1928 tidak

dilakukan

di

Indonesia.

Sama seperti di negeri Belanda:


(a) praktek pendirian perseroan terbatas di Indonesia banyak dipengaruhi oleh
kebijakan-kebijakan Departemen Kehakiman yang dikeluarkan dalam rangka
melakukan pengawasan preventip dalam pendirian perseroan terbatas.
(b) juga dalam KUDagang Indonesia tidak terdapat peraturan yang secara jelas
mengatur
tentang sanksi

terhadap

tindakan

yang

melanggar

tujuan

perseroan;

(c) pendapat yang mengatakan bahwa tujuan perseroan merupakan batas


kewenangan Direksi untuk melakukan tindakan atas nama perseroan (Doktrin
Kewenangan Direksi) juga berlaku di Indonesia.
Pengaturan norma-norma ultra vires dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas (UUPT) dapat ditemukan dalam pembatasan kewenangan yang
diberikan pada organ-organ Perseroan. Bahwa yang dimaksud organ dalam

[Type text]

[Type text] [Type text]

Perseroan Terbatas dalam undang-undang yaitu Rapat Umum Pemegang Saham


(RUPS), Direksi dan Dewan Komisaris vide Pasal 1 angka 2 UUPT. Penerapan
doktrin ultra vires dapat ditelusuri lebih lanjut dalam pemaknaan substansi
pengaturan dan penerapan doktrin ultra vires atau seringkali dalam praktik dikenal
sebagai The Ultra Vires Rule dalam UUPT dan dalam praktik peradilan.
Putusan-putusan pengadilan, khususnya putusan Mahkamah Agung menjadi
penting untuk menjelaskan maksud pengaturan norma dalam undang-undang serta
konsistensinya dalam penerapan dalam bidang Hukum Perseroan di Indonesia.
Mahkamah Agung dengan putusan-putusannya sebagai mana telah dipaparkan
tersebut berfungsi sebagai lembaga yang menciptakan unifikasi, menjalankan
reformasi dan melaksanakan pengawasan terhadap peradilan dibawahnya. Putusan
Mahkamah Agung ternyata menegaskan bahwa dokter inultra vires dianut dalam
pengaturan norma dan penerapannya dalam Hukum Perseroan di Indonesia.
Dalam pembuatan Akta Pendirian Perseroan yang dilakukan dihadapan Notaris
sesuai amanat Pasal 7 ayat (1) UUPT, pembatasan-pembatasan tanggung jawab
dan kewenangan masing-masing organ Perseroan yang bersifat ultra vires harus
dijelaskan kembali oleh Notaris selaku pejabat penegak hukum perdata, agar para
pendiri dan organ Perseroan memahami kedudukan dan tanggung jawabnya
masing-masing,

serta

pembatasan-pembatasan

yang

dilakukan

terhadap

kewenangan tersebut baik dalam Anggaran Dasar maupun dalam UUPT karena
semua pelangaran terhadap pembatasan kewenangan tersebut dapat berakibat
padat tuntutan perdata maupun pidana oleh pihak-pihak yang dirugikan.
Dengan perkembangan problematik yang makin kompleks di dalam dunia
perusahaan akan banyak menimbulkan implikasi yuridis juga terhadap tanggung
jawab dari organ-organ yang ada di dalamnya. Perseroan terbatas (PT) merupakan
jenis perusahaan yang permodalannya terbagi dalam saham. Dalam Pasal 24
Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) berbunyi (1)
Modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham, (2) Saham
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dikeluarkan atas nama dan atau atas
tunjuk.. Saham tersebut merupakan modal yang paling penting bagi eksistensinya
sebuah PT.
Hal yang tidak kalah penting dalam menjalankan sebuah Perseroan Terbatas (PT)
adalah pertanggung jawaban Direksi Perseroan PT. Selain bertanggung jawab pada
saham yang ada secara eksternal ia juga punya tanggung jawab pada pihak ketiga.

13

Adapun Tugas dan tanggung jawab Direksi Perseroan Terbatas terhadap pihak
ketiga terwujud dalam kewajiban untuk melakukan kerterbukaan (disclosure) pada
pihak ketiga atas setiap kegiatan perseroan yang dianggap dapat mempengaruhi
kekayaan perseroan. Kewajiban-kewajiban tersebut yaitu :
1.

Pada pasal 38 ayat 2 Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan


Terbatas yang pada hakikatnya dari pihak perseroan ingin melakukan
pengurangan atas modal dasar yang dikeluarkan atau pun modal yang disetor
dari perseroan.

2.

Pada pasal 105 ayat 2 Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas yang hakikatnya perseroan ingin melakukan penggabungan, peleburan
dan pengambilalihan

3.

Direksi perseroan diwajibkan untuk menyerahkan hasil perhitungan tahunan


perseroan untuk diperiksa oleh akuntan public sebelum perhitungan tersebut
disahkan oleh RUPS[1]

Seorang

pemegang

kuasa

yang

melaksanakan

kewajibannya

berdasarkan

kepercayaan yang diberikan oleh pemberi kuasa untuk bertindak sesuai dengan
perjanjian pemberian kuasa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal
ini berkaitan dengan tanggung jawab direksi sebagai pemegang fiduciary duties dari
pemegang saham perseroan. Dalam hal ini punya tanggung jawab penuh atas
pengurusan dan pengelolaan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan
dan untuk menjalankan tugas dan kewajiban yang diberikan oleh anggaran dasar
perseroan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasar uraian di atas, hukum perusahaan merupakan hal yang penting dalam
menyikapi segala problema terkait mekanisme tanggung jawab terhadap masalah
yang timbul dalam sebuah perusahaan. Perseroan terbatas (PT) adalah salah satu
bentuk perusahaan yang terbagi dalam saham. prosedur dan mekanisme yang
dijalani dalam menjalankannya tidak lepas dari tanggung jawab Direksi PT yang
punya kewenangan penuh. Hal ini terkait wewenang secara internal. Selain itu ada
kewenangan yang dimiliki oleh Direksi PT berupa eksternal untuk berhubungan
dengan pihak ketiga. Dari arahan ini maka prosedur penggunaan fidusia juga akan
menjadi tanggung jawab dari Direksi PT terkait wewenangnya tersebut. Terkait
dengan hal tersebut, lalu yang menjadi permasalahan ialah

bagaimanakah

penerapan piercing the corporate veil dalam prespektif tanggung jawab perseroan
tebatas?
Perseroan terbatas adalah organisasi bisnis yang memiliki badan hukum resmi yang
dimiliki oleh minimal dua orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada
perusahaan tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di
dalamnya. Di dalam PT pemilik modal tidak harus memimpin perusahaan, karena

[Type text]

[Type text] [Type text]

dapat menunjuk orang lain di luar pemilik modal untuk menjadi pimpinan. Untuk
mendirikan PT / perseroan terbatas dibutuhkan sejumlah modal minimal dalam
jumlah tertentu dan berbagai persyaratan lainnya
Dari pengertian di atas jelas terlihat bahwa tanggung jawab hanya berlaku pada
perusahaan tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di
dalamnya, hal ini berati tidak melibatkan harta Direktur utama perseroan juga.
Berdasar Pasal 1 UU No. 40/2007 pengertian Perseroan Terbatas (Perseroan)
adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan
perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi
dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini
serta peraturan pelaksanaannya. Dari pengertian tersebut, hal penting yang perlu
digarisbawahi adalah pada kata badan hukum. Dari pengertian tersebut dapat
dianalisis mengenai sebatas mana tanggung jawab perseroan dan tanggung jawab
Direksi.
Badan hukum berbeda dengan badan usaha. Hal yang membedakan antara badan
hukum dengan badan usaha ialah dalam hal pemisahan kakayaan / harta pribadi,
dimana pada badan usaha tidak terdapat pemisahan antara kekayaan pribadi
pemilik dengan kekayaan perusahaan sehingga utang perusahaan berarti pula
utang pemiliknya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh harta kekayaan
pemilik menjadi jaminan bagi semua utang perusahaannya. Oleh karena itu, pemilik
Perusahaan Perorangan/ Perusahaan Dagang memiliki tanggung jawab yang tidak
terbatas. Sebagai contohnya ialah perusahaan perseorangan, Firma, Commanditer
Vennotschap (CV). Lain halnya dengan badan usaha, badan hukum terdapat
pemisahan antara kekayaan pribadi pemilik dengan kekayaan perusahaan dimana
tanggung jawab PT merupakan tanggung jawab terbatas, yaitu hanya terbatas pada
modal yang disetor.
Tanggung jawab pemegang saham, dalam UU Nomor 40 tahun 2007 (UUPT) di atur
dalam Pasal 3, sedangkan dalam UU Nomor 1 tahun 1995 (UUPTL) di atur dalam
Pasal 3, dan dalam WvK terdapat pada pasal 40 ayat (2). Berdasarkan pada pasal 3
UUPT dapat di ketahui bahwa pemegang saham PT bertanggung jawab terbatas
sebesar

saham

yang

di

milikinya.

Disebutkan

dalam

pasal

ayat

(1)

UUPT: Pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas
perikatan yang di buat atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas
kerugian perseroan melebihi saham yang dimiliki.
Pada dasarnya hal sama di atur pula dalam pasal 3 ayat (1) UUPT dengan
kalimat melebihi saham yang di ambilnya, sedangkan pasal 3 ayat (1) UUPT dengan
kalimat melebihi saham yang di miliki. Perbedaan pada istilah di ambil (UUPTL)

15

dengan dimiliki (UUPT) . Perbedaan tersebut menurut penulis tidak terlalu mendasar,
karena prinsipnya sama,

hanya UUPT lebih menekankan pada pengambilan,

barangkali istilah yang dipergunakan lebih tepat, karena sesuatu yang diambil belum
tentu merupakan hak miliknya.
Dengan perkembangan problematik yang makin kompleks di dalam dunia
perusahaan akan banyak menimbulkan implikasi yuridis juga terhadap tanggung
jawab dari organ-organ yang ada di dalamnya. Perseroan terbatas (PT) merupakan
jenis perusahaan yang permodalannya terbagi dalam saham. Dalam Pasal 24
Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) berbunyi (1)
Modal dasar perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal saham, (2) Saham
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dikeluarkan atas nama dan atau atas
tunjuk.. Saham tersebut merupakan modal yang paling penting bagi eksistensinya
sebuah PT.
Hal yang tidak kalah penting dalam menjalankan sebuah Perseroan Terbatas (PT)
adalah pertanggung jawaban Direksi Perseroan PT. Selain bertanggung jawab pada
saham yang ada secara eksternal ia juga punya tanggung jawab pada pihak ketiga.
Adapun Tugas dan tanggung jawab Direksi Perseroan Terbatas terhadap pihak
ketiga terwujud dalam kewajiban untuk melakukan kerterbukaan (disclosure) pada
pihak ketiga atas setiap kegiatan perseroan yang dianggap dapat mempengaruhi
kekayaan perseroan. Kewajiban-kewajiban tersebut yaitu :
1.

Pada pasal 38 ayat 2 Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan


Terbatas yang pada hakikatnya dari pihak perseroan ingin melakukan
pengurangan atas modal dasar yang dikeluarkan atau pun modal yang disetor
dari perseroan.

2.

Pada pasal 105 ayat 2 Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas yang hakikatnya perseroan ingin melakukan penggabungan, peleburan
dan pengambilalihan

3.

Direksi perseroan diwajibkan untuk menyerahkan hasil perhitungan tahunan


perseroan untuk diperiksa oleh akuntan public sebelum perhitungan tersebut
disahkan oleh RUPS[1]

Seorang

pemegang

kuasa

yang

melaksanakan

kewajibannya

berdasarkan

kepercayaan yang diberikan oleh pemberi kuasa untuk bertindak sesuai dengan
perjanjian pemberian kuasa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal
ini berkaitan dengan tanggung jawab direksi sebagai pemegang fiduciary duties dari
pemegang saham perseroan. Dalam hal ini punya tanggung jawab penuh atas
pengurusan dan pengelolaan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan
dan untuk menjalankan tugas dan kewajiban yang diberikan oleh anggaran dasar
perseroan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

[Type text]

[Type text] [Type text]

Berdasar uraian di atas, hukum perusahaan merupakan hal yang penting dalam
menyikapi segala problema terkait mekanisme tanggung jawab terhadap masalah
yang timbul dalam sebuah perusahaan. Perseroan terbatas (PT) adalah salah satu
bentuk perusahaan yang terbagi dalam saham. prosedur dan mekanisme yang
dijalani dalam menjalankannya tidak lepas dari tanggung jawab Direksi PT yang
punya kewenangan penuh. Hal ini terkait wewenang secara internal. Selain itu ada
kewenangan yang dimiliki oleh Direksi PT berupa eksternal untuk berhubungan
dengan pihak ketiga. Dari arahan ini maka prosedur penggunaan fidusia juga akan
menjadi tanggung jawab dari Direksi PT terkait wewenangnya tersebut. Terkait
dengan hal tersebut, lalu yang menjadi permasalahan ialah

bagaimanakah

penerapan piercing the corporate veil dalam prespektif tanggung jawab perseroan
tebatas?
Perseroan terbatas adalah organisasi bisnis yang memiliki badan hukum resmi yang
dimiliki oleh minimal dua orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada
perusahaan tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di
dalamnya. Di dalam PT pemilik modal tidak harus memimpin perusahaan, karena
dapat menunjuk orang lain di luar pemilik modal untuk menjadi pimpinan. Untuk
mendirikan PT / perseroan terbatas dibutuhkan sejumlah modal minimal dalam
jumlah tertentu dan berbagai persyaratan lainnya
Dari pengertian di atas jelas terlihat bahwa tanggung jawab hanya berlaku pada
perusahaan tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di
dalamnya, hal ini berati tidak melibatkan harta Direktur utama perseroan juga.
Berdasar Pasal 1 UU No. 40/2007 pengertian Perseroan Terbatas (Perseroan)
adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan
perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi
dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini
serta peraturan pelaksanaannya. Dari pengertian tersebut, hal penting yang perlu
digarisbawahi adalah pada kata badan hukum. Dari pengertian tersebut dapat
dianalisis mengenai sebatas mana tanggung jawab perseroan dan tanggung jawab
Direksi.
Badan hukum berbeda dengan badan usaha. Hal yang membedakan antara badan
hukum dengan badan usaha ialah dalam hal pemisahan kakayaan / harta pribadi,
dimana pada badan usaha tidak terdapat pemisahan antara kekayaan pribadi
pemilik dengan kekayaan perusahaan sehingga utang perusahaan berarti pula
utang pemiliknya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seluruh harta kekayaan
pemilik menjadi jaminan bagi semua utang perusahaannya. Oleh karena itu, pemilik
Perusahaan Perorangan/ Perusahaan Dagang memiliki tanggung jawab yang tidak

17

terbatas. Sebagai contohnya ialah perusahaan perseorangan, Firma, Commanditer


Vennotschap (CV). Lain halnya dengan badan usaha, badan hukum terdapat
pemisahan antara kekayaan pribadi pemilik dengan kekayaan perusahaan dimana
tanggung jawab PT merupakan tanggung jawab terbatas, yaitu hanya terbatas pada
modal yang disetor.
Tanggung jawab pemegang saham, dalam UU Nomor 40 tahun 2007 (UUPT) di atur
dalam Pasal 3, sedangkan dalam UU Nomor 1 tahun 1995 (UUPTL) di atur dalam
Pasal 3, dan dalam WvK terdapat pada pasal 40 ayat (2). Berdasarkan pada pasal 3
UUPT dapat di ketahui bahwa pemegang saham PT bertanggung jawab terbatas
sebesar

saham

yang

di

milikinya.

Disebutkan

dalam

pasal

ayat

(1)

UUPT: Pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas
perikatan yang di buat atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas
kerugian perseroan melebihi saham yang dimiliki.
Pada dasarnya hal sama di atur pula dalam pasal 3 ayat (1) UUPT dengan
kalimat melebihi saham yang di ambilnya, sedangkan pasal 3 ayat (1) UUPT dengan
kalimat melebihi saham yang di miliki. Perbedaan pada istilah di ambil (UUPTL)
dengan dimiliki (UUPT) . Perbedaan tersebut menurut penulis tidak terlalu mendasar,
karena prinsipnya sama,

hanya UUPT lebih menekankan pada pengambilan,

barangkali istilah yang dipergunakan lebih tepat, karena sesuatu yang diambil belum
tentu merupakan hak miliknya

DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim, Glen Petrica Endru (2012) Doktrin Ultra Vires dan Implikasi
Penerapannya dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas. Masters thesis, University of Surabaya
van der Heijden & van der Grinten , "Handboek Voor de Naamloze Vennootschap
Naar Nederlands Recht, cetakan kelima, 1955
H.V.A.Vollmar, Het Nederlands Handelsrecht, cetakan ke-8, 1953
Keputusan Menteri Kehakiman RI Dan Contoh Akta Pendirian Perseroan Terbatas
yang diterbitkan oleh Dharma Wanita, Unit Departemen Kehakiman RI, sekitar
tahun 1996.
Ahmad, Yani dkk. Seri Hukum Bisnis Perseroan Terbatas, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2003

[Type text]

[Type text] [Type text]

Man S. Sastrawidjaja, Perseroan Terbatas Menurut Tiga Undnag-Undang,


Alumni, Bandung, 200
Jurnal Dinamika Hukum Vol. 11 No. 2 Mei 2011