Anda di halaman 1dari 26

Modul WPPE | MPE

MEKANISME PERDAGANGAN EFEK


STRUKTUR PASAR MODAL INDONESIA

Didukung

Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower II Lantai 1, Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53,
Jakarta Selatan 12190 | Telp (021) 515 0 515 ext. 8102, 8103
Materi Pelatihan WPPE | Edisi 1 2015
www.ticmi.co.id

Modul WPPE | MPE

DAFTAR ISI
STRUKTUR PASAR MODAL INDONESIA ......................................................................... 1
I.

SISTEM KEUANGAN, PASAR MODAL & PERDAGANGAN EFEK ..................................... 1


I.1. Sistem Keuangan dan Pasar Uang ....................................................................................................... 1
I.2. Kegiatan Ekonomi dan Lembaga Keuangan......................................................................................... 1

II. SISTEM KEUANGAN ............................................................................................. 2


III. PASAR MODAL .................................................................................................... 3
III.1. Peran dan Manfaat Pasar Modal:.......................................................................................................... 3
III.2. Sejarah Pasar Modal ............................................................................................................................ 3
III.3. Sejarah Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan ................................................................................... 4
III.4. Regulasi terkait Pasar Modal di Indonesia............................................................................................. 6
III.5. Struktur Pasar Modal Indonesia ........................................................................................................... 7

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

STRUKTUR PASAR MODAL INDONESIA


Sistem keuangan pada dasarnya adalah tatanan dalam perekonomian suatu Negara yang
memiliki peran terutama dalam menyediakan fasilitas jasa-jasa dibidang keuangan oleh
lembaga-lembaga keuangan penunjang lainnya misalnya pasar uang dan pasar modal. Sistem
keuangan Indonesia pada prinsipnya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu sistem perbankan
dan sistem lembaga keuangan bukan bank

I.

SISTEM KEUANGAN, PASAR MODAL & PERDAGANGAN EFEK

I.1.

Sistem Keuangan dan Pasar Uang


Ketika kelompok yang ada di masyarakat hanya terdiri dari kelompok rumah tangga
sebagai konsumen dan kelompok perusahaan sebagai produsen, maka lingkup kegiatan
ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut:
Perusahaan menghasilkan barang/jasa dengan membeli atau menyewa faktor
produksi seperti tenaga, bahan baku dan tanah dari rumah tangga, dan rumah
tangga memperoleh pendapatan upah dan sewa yang dibayarkan perusahaan

I.2.

Kegiatan Ekonomi dan Lembaga Keuangan


Apabila sektor rumah tangga tidak membelanjakan semua pendapatannya, maka akan
timbul kelebihan dana (Tabungan). Disisi lain perusahaan juga membutuhkan dana
(Kredit) untuk mengembangkan usahanya (Investasi). Untuk mempertemukan kedua
belah pihak ini munculah lembaga keuangan (Intermediasi) yang bermanfaat bagi rumah
tangga, perusahaan dan pertumbuhan ekonomi untuk menghimpun dana dan
menyalurkannya kepada masyarakat luas seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar 1 Kegiatan Ekonomi dengan Pasar Keuangan

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

II.

SISTEM KEUANGAN
Sistem keuangan pada prinsipnya adalah kumpulan pasar, institusi, peraturan, teknik
dan carabagaimana surat berharga diperdagangkan, tingkat bunga ditentukan, jasa-jasa
keuangan dihasilkan dan ditawarkan kepada masyarakat luas (Peter Rose, 2000).
Peran utama sistem keuangan adalah mengalihkan kelebihan dana dari masyarakat
kepada peminjam yang kemudian akan digunakan dan dibelanjakan untuk kegiatan
investasi sehingga ekonomi dapat tumbuh dan meningkatkan standar kehidupan.
Sistem Keuangan di Indonesia setelah UU No. 21/ 2011, terdiri dari:
1.
Kementerian Keuangan
2.
Bank Indonesia
3.
Otoritas Jasa Keuangan
4.
Lembaga Penjamin Simpanan
Gambar 2 Sistem Keuangan Indonesia

Fungsi sistem keuangan diantaranya meliputi:


1. Fungsi Tabungan:
Dimana tabungan, obligasi, saham dan instrumen hutang lainnya diperjual-belikan
untuk memberikan pendapatan bagi pemilik dana dan mengalir melalui sistem
keuangan untuk digunakan sebagai sumber dana investasi bagi pihak yang
membutuhkan, sehingga barang dan jasa dapat diproduksi
2. Fungsi Penyimpan Kekayaan:
SistemKeuangan menyediakan cara terbaik untuk menyimpan kekayaan; menahan
asset yang dimiliki untuk tidak dikonsumsi sampai dana tersebut dibutuhkan untuk
dibelanjakan
3. Fungsi Likuidasi:
Sistem Keuangan menyediakan cara yang aman bagi pemilik dana jika sewaktu-waktu
membutuhkan dana dan/ atau ingin mengkonversi instrumen kekayaan miliknya
menjadi uang tunai dalam waktu singkat
4. Fungsi Kredit:
Sistem Keuangan menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam
bentuk kredit / pinjaman untuk membiayai konsumsi dan investasi bagi pihak yang
membutuhkan

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

5. Fungsi Pembayaran:
Sistem Keuanganmenyediakan jasa keuangan bank seperti chek, giro bilyet, kartu
kredit, serta non-Bank seperti leasing, asuransi, dana pensiun, pasar modal,
pegadaian, dll.
6. Fungsi Risiko:
Sistem Keuangan mengalihkan risiko tidak terpakainya dana menjadi sebuah investasi
yang memberikan manfaat
Pasar Keuangan:
Untuk memenuhi fungsi-fungsi diatas, sistem keuangan melakukannya melalui satu
wadah yaitu pasar keuangan. Pasar keuangan ini dapat dikatakan sebagai penghubung
antara unit defisit dengan unit surplus. Pasar keuangan merupakan jantung dari sistem
keuangan karena kemampuannya menarik dana masyarakat dan mengalokasikan
kembali tabungan tersebut dalam bentuk pinjaman, serta menetapkan bunga dan harga
atas surat berharga yang diperdagangkan.
Pasar keuangan terdiri dari pasar uang dan pasar modal. Pasar uang terdiri dari danadana yang bersifat jangka pendek atas kelebihan dana masyarakat yang bersifat
sementara serta untuk membiayai keperluan jangka pendek seperti kebutuhan modal
kerja.
III.

PASAR MODAL
Pasar Modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan
perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya,
serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar Modal menyediakan
berbagai alternatif investasi bagi para investor selain menabung membeli emas,
asuransi, tanah dan bangunan.

III.1. Peran dan Manfaat Pasar Modal:


1. Pasar modal merupakan wahana menghimpun dana pembiayaan usaha serta
pengalokasian investasi yang efisien
2. Pasar Modal membantu meningkatan aktivitas ekonomi nasional dimana perusahaanperusahaan akan lebih mudah memperoleh dana, sehingga akan mendorong
perekonomian nasional menjadi lebih maju, yang akan menciptakan kesempatan kerja
yang luas, serta meningkatkan pendapatan pajak bagi pemerintah.
3. Pasar Modal merupakan media penghubung para investor dengan perusahaan ataupun
institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang seperti
saham, surat utang, dan lainnya.
4. Sebagai alternatif investasi, Pasar Modal menawarkan kesempatan kepada investor
untuk:
a. Menjadi pemilik perusahaan yang sehat dan berprospek baik melalui pembelian
efekefek yang baru ditawarkan ataupun yang diperdagangkan di pasar modal
dengan imbal hasil serta tingkat resiko tertentu.
b. Memantau pelaksanaan manajemen perusahaan agar berjalan secara profesional
dan transparan.
III.2. Sejarah Pasar Modal
Sejarah perkembangan pasar modal di Indonesia mempunyai beberapa periode dimulai
pada tahun 1878 hingga sekarang. Pembagian tersebut di maksudkan karena ada hal-

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

hal khusus yang terjadi dalam periode perkembangannya baik dilihat dari sisi peraturan,
ekonomi, dan politik. Beberapa periode tersebut dapat diklasifikasikan seperti berikut:

III.3. Sejarah Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan


A. Fungsi Bapepam
1) Mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan menjual
saham-sahamnya melalui Pasar Modal apakah telah memenuhi persyaratan yang
ditentukan dan sehat serta baik;
2) Menyelenggarakan
Bursa
Pasar
Modal
yang
efektif
dan
efisien;
mengikuti perkembangan perusahaan-perusahaan yang menjual sahamsahamnya melalui pasar modal.
B. Beralihnya Bapepam Ke Bapepam LK
Berawal dari Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor KMK 606/KMK.01. /2005
tanggal 30 Desember 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, organisasi unit eselon I Badan Pengawas Pasar
Modal (Bapepam) dan unit eselon I Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK)
digabungkan menjadi satu organisasi unit eselon I, yaitu menjadi Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam dan Lembaga Keuangan).
C. BAPEPAM LK
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (disingkat Bapepam-LK)
adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan Indonesia yang bertugas
membina, mengatur, dan mengawasi sehari-hari kegiatan pasar modal serta
merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
lembaga keuangan.
D. Fungsi BAPEPAM LK
1) Penyusunan dan penegakan peraturan di bidang pasar modal primer dan
sekunder
Penegakan peraturan di bidang pasar modal;
2) Pembinaan dan pengawasan terhadap pihak yang memperoleh izin usaha,
persetujuan, pendaftaran dari Badan dan pihak lain yang bergerak di pasar
modal;

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

3) Penetapan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emiten dan Perusahaan


Publik;
4) Penyelesaian keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi oleh
Bursa Efek, Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan
Penyelesaian;
5) Penetapan ketentuan akuntansi di bidang pasar modal;
E. BAPEPAM
Pada waktu Pasar Modal dihidupkan kembali tahun 1976, dibentuklah Bapepam,
singkatan dari Badan Pelaksana Pasar ModalBapepam (Badan Pengawas Pasar Modal)
adalah badan pemerintah yang bertugas untuk melakukan pembinaan, pengaturan
dan pengawasan sehari-hari kegiatan pasar modal. Bapepam dibentuk dengan tujuan
untuk mewujudkan terciptanya kegiatan pasar modal yang teratur, wajar, efisien dan
melindungi kepentingan permodalan di Indonesia.
F.

Awal Munculnya OJK


Disahkannya UU No.21 Tahun 2011 tentang otoritas jasa keuangan, telah
melahirkan lembaga baru yaitu otoritas jasa keuangan yang di namakan OJK.
Pembetukan OJK ini mengakibatkan kewenangan - kewenangan tersebut beralih dari
BI dan Bapepam-LK ke OJK, sehingga BI hanya memiliki kewenangan di bidang
kebijakan moneter, sedangkan Bapepam -LK melebur menjadi OJK dan tidak lagi di
bawah kementrian Keuangan.

G. OJK
Sebagai upaya reformasi di sektor keuangan, berdasarkan amanat dari Pasal 34 UU
No. 3/2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 23/ 1999 tentang Bank
Indonesia (BI), pemerintah membentuk lembaga pengawas sektor jasa keuangan
yang independen.Otoritas Jasa Keuangan adalah lembaga yang independen dan
bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang
pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud
dalam UU No 21 tahun 2011 Bab I pasal 1 ayat 1.
Pada tanggal 22 November 2012, pemerintah mensahkan UU No.21/2011 tentang
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yang didirikan dengan tujuan agar keseluruhan
kegiatan di dalam sektor jasa keuangan:
1. Terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel,
2. Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan
stabil, dan
3. Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat
OJK dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat oleh Presiden dan mempunyai tugas
dan fungsi untuk melakukan pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap seluruh kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal,
dan sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).
Lembaga yang mulai berfungsi pada tanggal 31 Desember 2012 ini berperan dalam
menggantikan fungsi, tugas dan wewenang pengaturan di Pasar Modal yang selama
ini dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal serta Lembaga Keuangan
(Bapepam-LK).

H.

Tugas OJK
1. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan
2. Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal
3. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga
4. Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

III.4. Regulasi terkait Pasar Modal di Indonesia


1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
2. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di
Pasar Modal
3. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di
Bidang Pasar Modal
4. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di
Bidang Pasar Modal
5. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring
Pengaman Sistem Keuangan
6. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 645/KMK.01/1995 tentang Dicabutnya
Keputusan Menkeu Nomor 1548/KMK.013/1990 tentang Pasar Modal yang telah
diubah terakhir dengan Keputusan Menkeu Nomor 264/KMK.010/1995, dan berlaku
mulai 1 Januari 1996
7. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 646/KMK.01/1995 tentang Pemilikan Saham
atau Unit Penyertaan Reksa Dana oleh Pemodal Asing
8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 455/KMK.01/1997 tentang Pembelian Saham
oleh Pemodal Asing Melalui Pasar Modal
9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153/KMK.010/2010 tentang Kepemilikan Saham
dan Permodalan Perusahaan Efek
10. Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
11. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

III.5. Struktur Pasar Modal Indonesia


Gambar 4 Struktur Pasar Modal Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan


(OJK)

Lembaga Kliring dan Penjaminan

Bursa Efek
(PT Bursa Efek Indonesia-BEI)

Perusahaan Efek

EMITEN

+ Penjamin Pelaksana
Emisi (Underwriter)
+ Perantara Pedagang
Efek

+ Manajer Investasi - Reksadana

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

(PT Kliring dan Penjaminan Efek


Indonesia-KPEI)
Lembaga Penunjang

+ Biro Administrasi Efek


+ Bank Kustodian
+ Wali Amanat
+ Pemeringkat Efek
+ Penilai Harga Efek
Indonesia (IBPA)
+ Penyelenggara Program
Perlindungan Investor
Efek Indonesia (SIPF)
+ TICMI dan ICaMEL

Lembaga Penyimpanan dan


Penyelesaian
(PT Kustodian Sentral Efek
Indonesia-KSEI)

Profesi Penunjang

+ Akuntan
+ Notaris
+ Penilai
+ Konsultan Hukum

PEMODAL/INVESTOR

+ Domestik
+ Asing

Modul WPPE | MPE

Para Pelaku & Lembaga di Pasar Modal


Self Regulatory Organization (SRO) adalah suatu organisasi yang melaksanakan tingkat
tertentu dari kewenangan penerapan aturan (regulator) di industri Pasar Modal.
Kewenangan regulator dapat diterapkan sebagai pelengkap dari peraturan pemerintah
yang ada dan tidak selalu merupakan bentuk pengalihan kewenangan dari pemerintah.
SRO memiliki peraturan dan ketentuan yang mengikat bagi pelaku pasar modal sebagai
fungsi pengawasan untuk mencegah praktik perdagangan yang dilarang. Lembaga SRO
di Pasar Modal Indonesia adalah PT. Bursa Efek Indonesia (BEI), PT. Kustodian Sentral
Efek Indonesai (KSEI) dan PT. Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
A. Bursa Efek
Bursa Efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau
sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan
tujuan memperdagangkan efek diantara mereka (UUPM Pasal 1). Berdasarkan PP
45/1995 Pasal 5, pemegang saham bursa minimal 50 Anggota Bursa (AB) dan maksimal
200 AB.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) didirikan dengan tujuan menyelenggarakan perdagangan
Efek yang teratur, wajar, dan efisien, Bursa Efek Indonesia mempunyai tugas untuk
menyelenggarakan perdagangan efek yang teratur wajar dan efisien, menyediakan
sarana pendukung serta mengawasi kegiatan anggota bursa efek, menyusun rancangan
anggaran tahunan dan pengunaan laba Bursa Efek dan melaporkannya ke Bapepam-LK
(UUPM Pasal 7). Fungsi bursa lainnya adalah menjaga kelangsungan pasar (market
liquidity), dan menciptakan harga efek yang wajar (price discovery).
Kegiatan BEI dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Bursa Efek Indonesia antara
lain untuk:
1)
Meningkatkan sistem atau sarana perdagangan Efek;
2)
Meningkatkan sistem pembinaan dan pengawasan terhadap anggota Bursa
Efek;
3)
Mengembangkan sistem pencatatan Efek yang efisien;
4)
Mengembangkan sistem kliring dan penyelesaian Transaksi Bursa;
5)
Meningkatkan sistem pelayanan informasi; kegiatan pengembangan Pasar
Modal, termasuk kegiatan promosi dan penelitian; dan
6)
Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Pasar Modal.
B. Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP)- KPEI
Fungsi LKP dalam Perdagangan Efek
LKP adalah pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian
transaksi bursa. Saat ini, PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) adalah pihak
yang telah mendapatkan izin sebagai LKP untuk melaksanakan kegiatan kliring dan
penjaminan penyelesaian transaksi bursa.
Pengertian kliring yang dimaksud adalah proses penentuan hak dan kewajiban efek
dan/atau dana Anggota Bursa, yang timbul dari transaksi efek yang dilakukannya di
bursa efek. Sedangkan penjaminan penyelesaian transaksi bursa adalah merupakan
kepastian dipenuhinya hak dan kewajiban efek dan/atau dana Anggota Bursa yang timbul
dari transaksi bursa.
Dalam praktiknya, data transaksi efek yang terjadi di Bursa akan dikirim ke LKP untuk
kemudian dilakukan proses Kliring, sehingga Anggota Bursa dapat mengetahui hak dan
kewajiban efek dan/atau dananya masing-masing pada setiap hari bursa, untuk
kemudian diselesaikan pada tanggal penyelesaian.
Pemegang Saham dan Struktur Modal
1. Pemegang Saham (Shareholders) KPEI
- Bursa Efek Indonesia (BEI) : 100%
2. Struktur Modal (Capital Structure) KPEI
- Modal Dasar
: Rp. 60 Milyar
Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

- Modal Setor

: Rp. 15 Milyar

Bisnis Motif
1. Nir Laba (Non Profit Motive)
2. Tidak membayar dividen (No Dividend Payment)
3. Keuntungan untuk operasional dan pengembangan
Sumber Pendapatan
1. Fee jasa Kliring Transaksi Bursa
2. Fee jasa Pinjam Meminjam Efek
3. Fee jasa pengelolaan Dana Jaminan
Jenis Layanan
1. Layanan Jasa kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa yang teratur,
wajar dan efisien
2. Jasa Pinjam Meminjam Efek (Securities Lending and Borrowing)
3. Pelayanan jasa KPEI diberikan kepada Anggota Bursa Efek dan partisipan lainnya
(seperti Bank Kustodian)
Novasi (Mitra Pengimbang)
Novasi adalah Pengalihan hubungan hukum antara AB Jual dengan AB Beli menjadi
hubungan hukum antara AB Jual dengan KPEI dan AB Beli dengan KPEI.
Dengan novasi peranan KPEI menjadi sebagai:
Mitra Pengimbang (Counter Party) yang menjamin kepastian penyelesaian
Transaksi Bursa.
Pengelola Risiko (Risk Management) dari penyelesaianTransaksi Bursa
Ilustrasi Novasi terlihat seperti pada gambar di bawah ini:

C. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP)- KSEI


Fungsi LPP dalam Perdagangan Efek
LPP adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan kustodian sentral bagi bank
kustodian, perusahaan efek, dan pihak lain. Saat ini, PT. Kustodian Sentral Efek
Indonesia (KSEI) merupakan pihak yang telah mendapatkan izin sebagai LPP untuk
menjalankan fungsi Penyimpanan dan Penyelesaian efek.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

Modul WPPE | MPE

Pemegang Saham KSEI


Bank Kustodia
: 36%
SRO
: 30,5%
Perusahaan Efek : 30,5%
BAE
: 3%
Layanan yang diberikan LPP meliputi:
1. Administrasi Rekening Efek
2. Penyelesaian transaksi Efek
3. Distribusi hasil corporate action
4. Jasa-jasa terkait lain seperti Post Trade Processing (PTP) dan penyediaan laporanlaporan jasa kustodian sentral
Fungsi dan Peran KSEI
Fungsi
Menyediakan Jasa Kustodian sentral dan Penyelesaian transaksiyang teratur, wajar,
danefisien (Pasal 14 ayat 2 UUPM).
Peran
1. Penyimpan efek tanpa warkat
a. Efek Bersifat Ekuitas (Saham, HMETD, dan Waran)
b. Efek Bersifat Utang (Surat utang, MTN, NCD, PN, CP, dll)
2. Penyelesaian transaksi efek
a. Transaksi Bursa
b. Transaksi di Luar Bursa (overthe counter)
Pengguna Jasa KSEI
Emiten
Untuk aktivitas berikut:
1. Pendaftaran Efek
- Persyaratan agar Efek Emiten dapat disimpan di KSEI
2. Distribusi Corporate Actions
- Penyampaian informasi corporate action
- Pembayaran dividen, bunga, saham bonus dll
- Laporan-laporan; data pemegang Efek
Pemegang Rekening
(Perusahaan Efek & Bank Kustodian)
Untuk jasa sebagai berikut:
1. Penyimpanan Efek untuk Efek tanpa warkat
2. Pemindahbukuan Efek untuk transaksi bursa & transaksi di luar bursa
3. Penerimaan hasil Corporate Action
4. Laporan-laporan: laporan saldo & mutasi Efek, informasi CorporateAction
Kustodian Sentral
Kustodian adalah Pihak yang memberikan jasa:
1. Jasa penitipan kolektif atas Efek
2. Jasa administrasi: menerima dividen, bunga, dan hak- hak lain, menyelesaikan
transaksi Efek, dan mewakili Pemegang Rekening yang menjadi nasabahnya.
Ketentuan menjadi Kustodian
1. Perusahaan Efek
2. Bank umum yang telah memperoleh persetujuan dari OJK
3. Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian
(Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 45/1995)
Konsep Penitipan Kolektif
1. Efek dikonversikan ke dalam data elektronik dan diadministrasikan di rekening Efek.
2. Peralihan Kepemilikan dengan pemindahbukuan Efek (book-entrytransfer).
3. Efek dalam Penitipan Kolektif dianggap sepadan (fungible).
Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

10

Modul WPPE | MPE

4. Hak-hak terkait dengan Efek (dividen, saham bonus, dll) dibagikan melalui KSEI dan
dikredit ke rekening Efek
5. Hak-hak Beneficial Owner (kepemilikan manfaat) atas Efek
- Hak atas pembagian dividen, saham bonus
- Hak atas pembayaran bunga atau pokok surat utang
- Hak untuk menghadiri RUPS/RUPO
- Hak-hak lain yang berkaitan dengan Efek

Sub Rekening Efek

1. Merupakan Rekening Efek yang digunakan untuk mencatat kepemilikan Efek dan

dana milik setiap investor atau nasabah yang dikelola oleh Perusahaan Efek atau
Bank Kustodian di KSEI.
2. Pemegang Rekening dapat mengelola 1 (satu) atau lebih Sub Rekening Efek milik
nasabah.
3. Berisi Efek dan atau dana milik nasabah Pemegang Rekening.
Tujuan Kepemilikan Sub Rekening Efek
Definisi
Sub Rekening Efek adalah Rekening Efek Nasabah (investor) yang tercatat di KSEI,
untuk mencatat kepemilikan efek investor.
Tujuan Kepemilikan Sub Rekening Efek
1. Perlindungan Investor:
a. Kepastian pemisahan pembukuan Efek investor dengan Efek milik Kustodian.
b. Kepastian hak atas Efek seperti dividen, hak menghadiri RUPS, karena investor
akan tercatat dalam DPS yang dikeluarkan oleh KSEI
2. Tersedianya data investor setiap waktu di KSEI, untuk keperluan:
a. Pelaksanaan corporate action
b. Pelaporan Emiten kepada OJK, Bursa Efek, atau BI
c. Penyidikan oleh pihak yang berwenang, misal: OJK
d. Laporan tahunan pemakai jasa KSEI.
3. Efisiensi distribusi hasil Corporate Action

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

11

Modul WPPE | MPE

KSEI terikat untuk menjaga kerahasiaan data Rekening Efek, termasuk SubRekening
Efek berdasarkan UUPM (Pasal 47).
Fasilitas AKSes
1. Fasilitas yang diberikan kepada investor untuk dapat langsung melihat
portofolio yang dimilikinya ke dalam sistem KSEI.
2. Fasilitas AKSes adalah sarana informasi yang disediakan untukpara
investor di website KSEI, yang memberikan akses langsung bagi
investor untuk melihat dan memonitor posisi dan mutasi portofolio
Efeknya yang tersimpan di Sub Rekening Efek di KSEI.
3. Website
http://akses.ksei.co.id
dengan
jaminan
standar
keamananyang ketat.
4. Diluncurkan pada tanggal 18 Juni 2009.
5. Tujuan untuk memberikan perlindungan dan transparansi informasi
kepemilikan portofolio Efek nasabah (investor).

atas

D. Pelaku Pasar Modal


D.1. Emiten dan Perusahaan Publik
1. Perusahaan dapat menghimpun dana dari masyarakat dengan menjual atau
menawarkan efek kepada publik. Perusahaan yang menjual atau menawarkan
efek biasa disebut dengan Emiten.
2. Kegiatan ini dikenal dengan istilah penawaran umum perdana, Initial Public
Offering (IPO) atau go public, yang dilakukan berdasarkan tata cara yang diatur
oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya.
3. Dokumen-dokumen yang dibutuhkan sehubungan dengan perusahaan yang Go
Public adalah sebagai berikut:
a. Laporan keuangan audit oleh akuntan publik
b. Dokumen legal audit dan legal opinion oleh konsultan hukum
c. Hasil penilaian aset oleh lembaga penilai (jika ada)
d. Pendirian dan Perubahan-perubahan Anggaran Dasar serta perjanjianperjanjian yang telah dibuat perusahaan.
D.2.Perusahaan Efek
Perusahaan Efek adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari OJK
dan dapat melakukan kegiatan sebagai Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang
Efek, dan atau Manajer Investasi serta kegiatan lain sesuai ketentuan OJK.
1. Perantara Pedagang Efek (Broker Dealer)
Adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha jual beli efek untuk kepentingan
sendiri atau pihak lain. Ada 2 macam perusahaan Perantara Pedagang Efek
yaitu:
a. Anggota Bursa (Administrasi)
b. Non Anggota Bursa (Non Administrasi)
Kewajibannya:
a. Mendahulukan kepentingan nasabah sebelum melakukan transaksi untuk
kepentingan sendiri.
b. Dalam memberikan rekomendasi kepada nasabah untuk membeli atau
menjual efek wajib memperhatikan keuangan nasabah dan maksud serta
tujuan investasi dari nasabah.
c. Membubuhi jam, hari dan tanggal atas semua pesanan nasabah pada
formulir pemesanan.
d. Memberikan konfirmasi kepada nasabah sebelum berakhirnya hari bursa
setelah dilakukan transaksi.
e. Menerbitkan tanda terima setelah menerima efek atau uang dari nasabah.
f. Menyelesaikan amanat jual / beli dari pemberi amanat.
g. Menyediakan data dan informasi bagi kepentingan pemodal.
h. Memberikan saran kepada para pemodal.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

12

Modul WPPE | MPE

2. Penjamin Emisi Efek (Underwriter)


Adalah pihak yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan
penawaran umum bagi kepentingan emiten dengan atau tanpa kewajiban
untuk membeli sisa efek yang tidak terjual.
Kewajibannya:
a. Mematuhi semua ketentuan dalam kontrak penjaminan emisi
b. Mengungkapkan dalam prospektus adanya hubungan afiliasi atau hubungan
lain yang bersifat material antara perusahaan efek dengan emiten.
Ada 2 macam perjanjian penjaminan yaitu kontrak penjaminan emisi Efek
dapat berbentuk kesanggupan penuh (full commitment) atau kesanggupan
terbaik (best effort).
Dengan kesanggupan penuh, Penjamin Emisi Efek bertanggung jawab
mengambil sisa Efek yang tidak terjual, sedangkan dengan kesanggupan
terbaik, Penjamin Emisi Efek tidak bertanggung jawab terhadap sisa Efek yang
tidak terjual, tetapi berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjualkan Efek
Emiten.
3. Manajer Investasi (Investment Manager)
Adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek untuk para
nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok
nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang
melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan perundang-undangan yang
berlaku.
Tugasnya:
a. Mengadakan riset atas efek
b. Menganalisa kelayakan investasi
c. Mengelola portofolio efek atas kepentingan nasabah
d. Mengelola reksa dana.
Terdapat pihak yang melakukan kegiatan sebagai Penjamin Emisi Efek,
Perantara Pedagang Efek, dan atau Manajer Investasi yang tidak diwajibkan
untuk memperoleh izin usaha sebagai Perusahaan Efek, yaitu untuk Efek utang
dengan jatuh tempo tidak lebih dari 1 tahun, sertifikat deposito, polis asuransi,
Efek yang diterbitkan atau dijamin Pemerintah Indonesia, atau Efek lain sesuai
ketentuan OJK
D.3Lembaga Penunjang Pasar Modal
1. Biro Administrasi Efek (BAE)
Adalah pihak yang berdasarkan kontrak dengan emiten melaksanakan
pencatatan pemilikan efek dan pembagian hak yang berkaitan dengan efek
(UUPM Pasal 1).
Tugasnya:
a. Mendaftarkan dan mengadministrasikan saham yang dibeli investor menjadi
atas nama pemodal tersebut, dengan dikenakan biaya sesuai yang
ditetapkan oleh BAE.
b. Modal disetor sekurang-kurangnya sebesar Rp. 500.000.000,-.

2. Bank Kustodian
Adalah pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain berkaitan
dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak lain,
menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi
nasabahnya (UUPM Pasal 1).
Jasa yang diberikan meliputi:
a. Menyediakan tempat penitipan harta yang aman bagi surat-surat berharga
(Efek)
Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

13

Modul WPPE | MPE

b. Mencatat dan membukukan semua penitipan pihak lain secara cermat


c. Mengamankan semua penerimaan dan penyerahan efek untuk kepentingan
pihak yang diwakilinya.
d. Mengamankan pemindahan efek.
e. Menagih dividen, bunga surat utang, dan hak-hak lain yang berkaitan
dengan surat berharga yang dititipkan.
Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai kustodian adalah
Lembaga Penyimpanan dan penyelesaian (LPP), Perusahaan Efek, atau Bank
Kustodian.
3. Wali Amanat
Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang (Pasal 1
UUPM). Kegiatan usaha sebagai wali amanat dapat dilakukan oleh Bank Umum
dan pihak lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah, dan wajib
terlebih dahulu terdaftar di Bapepam-LK (Pasal 50 UUPM).
4. Pemeringkat Efek
Pihak yang melakukan penilaian kemampuan membayar kembali surat utang
serta menyediakan jasa informasi mengenai perusahaan di pasar modal. Di
samping itu fungsi lainnya adalah melakukan:
1. Analisis peringkat
2. Studi Industri
a. Analisis risiko bisnis
b. Posisi pasar dan strategi bisnis
c. Diversifikasi
d. Struktur biaya
e. Manajemen
f. Dan faktor kunci sukses lainnya
3. Analisis risiko keuangan
a. Kebijakan keuangan
b. Keuntungan
c. Struktur modal
d. Kualitas aset
e. dll
5. Penilai Harga Efek
adalah lembaga resmi yang melakukan penilaian dan penetapan harga pasar
wajar secara harian dari seluruh instrumen surat utang, Sukuk, dan surat
berharga lainnya yang diperdagangkan di pasar sekunder. Hal ini Perdagangan
surat utang yang OTC dan tidak terpusat (de-centralized)
menjadikan isu likuiditas dan transparansi melalui ketersediaan harga pasar
wajar menjadi sangat kritikal
Dalam perkembangannya, informasi harga pasar wajar yang diterbitkan BPA
menjadi referensi yang wajib digunakan oleh institusi keuangan dalam
penetapan secara harian nilai aset bersih (NAB) dan nilai pasar wajar portfolio.
Produk dan Fitur:
Harga Pasar Wajar IBPA termasuk upper and lower (harian dan historis)
Indeks (INDOBeX dan IBPA Indices)
Imbal Hasil dan Kurva Imbal Hasil
Credit Spread Matrix
Riset Pasar Surat Utang Bond Calculator
ABS Calculator
My Portfolio
Informasi terkait efek bersifat utang lainnya
Export Data

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

14

Modul WPPE | MPE

6. Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF)


Maksud dan Tujuan
P3IEI yang lebih dikenal sebagai Indonesia Securities Investor Protection Fund
(Indonesia SIPF) didirikan dengan maksud dan tujuan
1. Menatausahakan dan mengelola dana pelindungan pemodal di pasar modal
Indonesia, seperti: memisahkan penyimpanan, pencatatan dan pembukuan antara
harta kekayaan Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal dengan harta kekayaan
Dana Perlindungan Pemodal.
2. Melakukan investasi atas dana perlindungan pemodal di pasar modal Indonesia.
Menyimpan Efek dalam rangka investasi Dana Perlindungan Pemodal sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan VI.A.4 tentang Dana Perlindungan Pemodal pada Bank
Kustodian. Dengan tujuan meningkatkan nilai Dana Perlindungan Pemodal secara
optimal dengan mempertimbangkan hasil dan risiko investasi.
3. Melakukan pemeriksaan, verifikasi, membuat analisa untuk melakukan pembayaran
dan tindakan lainnya sehubungan dengan klaim yang dilakukan oleh pemodal.
4. Menerima tambahan dana dan/atau memungut biaya sehubungan dengan kegiatan
perlindungan pemodal di pasar modal Indonesia. Memungut iuran dari anggota Dana
Perlindungan Pemodal sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor VI.A.4 tentang
Dana Perlindungan Pemodal.
5. Melakukan tindakan untuk pengembalian (recovery) dana yang telah dikeluarkan
dari Dana Perlindungan Aset Pemodal untuk pembayaran klaim berdasarkan
subrogasi atas hak pemodal terhadap pihak yang telah menimbulkan kerugian,
termasuk namun tidak terbatas ikut serta dalam proses hukum baik di dalam
maupun di luar pengadilan.
6. Serta melakukan segala kegiatan pendukung lainnya yang berkaitan dengan maksud
dan tujuan di atas
Struktur Perlindungan Pemodal

Pemodal dan Aset Pemodal


Pemodal adalah nasabah dari Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan
rekening Efek nasabah dan Bank Kustodian. Pemodal yang asetnya mendapat
perlindungan Dana Perlindungan Pemodal adalah Pemodal yang memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
1. Menitipkan asetnya dan memiliki rekening Efek pada Kustodian

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

15

Modul WPPE | MPE

2. Dibukakan Sub Rekening Efek pada Lembaga Peyimpanan dan Penyelesaian oleh
Kustodian; dan
3. Memiliki nomor tunggal identitas pemodal dari Lembaga Penyimpanan dan
Penyelesaian.

Fungsi Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal


Dalam Penyelenggara ana Perlindungan Pemodal wajib memiliki paling sedikit fungsifungsi sebagai berikut:
1) Fungsi Investasi, dilaksanakan dengan ketentuan antara lain sebagai berikut:
a. menyusun dan melaksanakan rencana investasi atas Dana Perlindungan Pemodal;
b. mengawasi perkembangan investasi atas jumlah yang tidak akan digunakan
segera dari Dana Perlindungan Pemodal; dan
c. melakukan penyetoran hasil investasi Dana Perlindungan Pemodal ke dalam Dana
Perlindungan Pemodal;
2) Fungsi Pembukuan dan Keuangan, dilakukan dengan ketentuan antara lain sebagai
berikut:
a. membuat dan menyelenggarakan pencatatan dan pembukuan atas seluruh
transaksi Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum;
b. membuat dan menyelenggarakan pencatatan dan pembukuan atas seluruh
transaksi dan kegiatan sehubungan dengan Dana Perlindungan Pemodal sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan terpisah dari pencatatan dan
pembukuan Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal;
c. memastikan bahwa pencatatan dan pembukuan dalam (a) dan (b) tersebut
terselenggara dan tersimpan dengan baik sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku;
d. menyusun laporan keuangan Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan ketentuan catatan atas
laporan keuangan paling sedikit wajib memuat hal-hal sebagai berikut:
i. pengeluaran biaya yang berkaitan dengan Pihak terafiliasi dengan direktur
dan komisaris Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal;
ii. pengeluaran biaya yang berkaitan dengan Pihak terafiliasi dengan
Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal; dan
iii. pengeluaran biaya berupa gaji, manfaat lain, dan fasilitas yang diberikan
kepada direktur dan komisaris Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal
e. melakukan kegiatan perbendaharaan, antara lain menerima dana dan memungut
iuran Dana Perlindungan Pemodal dan mengeluarkan biaya yang terkait dengan
Dana Perlindungan Pemodal;

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

16

Modul WPPE | MPE

f.

menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan (RKAT) dengan berpedoman


pada prinsip efisiensi Pasar Modal dalam bentuk rencana kerja dan anggaran
tahunan (RKAT) yang sistematis, akurat, dan tepat waktu; dan
g. apabila terdapat keragu-raguan atau perbedaan dalam pencatatan yang
dilakukan oleh Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal dengan pihak lain atas
transaksi yang dilakukan sehubungan dengan Dana Perlindungan Pemodal,
Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal wajib mengadakan rekonsiliasi
dengan pihak terkait tersebut untuk memastikan akurasi pembukuan
3) Fungsi Pengawasan Internal dan Kepatuhan, dilaksanakan dengan ketentuan antara
lain sebagai berikut:
a. memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta prosedur
operasi standar dan kode etik Penyelenggaraan Dana Perlindungan Pemodal yang
berlaku;
b. memproses setiap pengaduan Pemodal dan masyarakat yang terkait dengan
pelaksanaan tanggung jawab Penyelenggara Dana Perlindungan Pemodal; dan
c. memastikan bahwa pegawai pengawasan internal dan kepatuhan memiliki akses
ke pembukuan setiap waktu.
7. TICMI (The Indonesia Capital Market Institute) bergabung dengan ICaMEL
Indonesian Capital Market Electronic Library
Pada tanggal 10 November 2015 bertepatan dengan acara Investor Summit and Capital
Market Expo 2015, TICMI bergabung dengan ICaMEL dan sekaligus melakukan Relaunching
brand The Indonesia Capital Market Institute sebagai pusat referensi, edukasi, dan
sertifikasi profesi pasar modal Indonesia.
Sertifikasi
WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek)
WMI (Wakil Manajer Investasi)
ASPM (Ahli Syariah Pasar Modal)
Program Waiver
Data Pasar Modal
Data Historis
Perpustakaan Pasar Modal
Permintaan Data
E. Profesi Penunjang Pasar Modal
a. Akuntan, melakukan audit atau pemeriksaan dan memberikan pendapat
terhadap Laporan keuangan.
b. Konsultan Hukum, membuat laporan legal audit dan memberikan pendapat
hukum.
c. Penilai, melakukan penilaian atas aset perusahaan.
d. Notaris, membuat akta otentik dan legalisasi dokumen perusahaan.
e. Profesi lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Semua profesi yang melakukan kegiatan di bidang pasar modal wajib terlebih
dahulu terdaftar di OJK. Setiap profesi penunjang pasar modal wajib mentaati
kode etik dan standar profesi yang ditetapkan oleh asosiasi profesi masingmasing, dan dalam melakukan kegiatan usaha di pasar modal, profesi
penunjang pasar modal wajib memberikan pendapat atau penilaian yang
independen.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

17

Modul WPPE | MPE

Peranan Lembaga dan Profesi Penunjang

F. Investor
Proses jual beli saham di BEI

Cara menjadi investor:


1. Mengisi formulir yang telah disediakan oleh pihak Perusahaan Sekuritas, yaitu
formulir Pembukaan Sub Rekening Efek dan formulir Rekening Dana Investor
(RDI).
2. Memberikan dokumen yang diperlukan, yaitu foto copy KTP yang berlaku dan
NPWP serta fotocopy bagian depan buku tabungan yang akan didaftarkan dalam
formulir Pembukaan Sub Rekening Efek.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

18

Modul WPPE | MPE

3. Setoran dana awal ke rekening di bank RDI atas nama calon investor saham.
Masing-masing broker menentukan deposit berbeda-beda (dimulai dari
Rp100.000,-).
4. Setelah disetujui, selanjutnya kita sudah siap bertransaksi !!!
Yuk Nabung Saham
Yuk Nabung Saham adalah sebuah campaign yang mengajak masyarakat Indonesia
untuk berinvestasi di pasar modal melalui share saving. Sebagai upaya dalam
mengembangkan industri pasar modal di Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI)
senantiasa mengedukasi dan mengembangkan industri ke arah yang lebih baik. Tujuan
BEI tidak semata fokus pada penambahan jumlah investor baru, namun juga berupaya
untuk menanamkan kebutuhan berinvestasi di pasar modal yang secara tidak langsung
akan meningkatkan jumlah investor aktif di pasar modal Indonesia.
Mekanisme Yuk Nabung Saham

G. Instrumen di Pasar Modal Indonesia


Di dalam pasar modal diperdagangkan beberapa jenis aset finansial. Contoh aset
finansial ini adalah saham, surat utang, reksadana dan derivatif.
1. Saham
Saham merupakan tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan
usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan
modal tersebut, maka pihak tersebut menjadi pemilik perusahaan tersebut
sebesar modal yang ditanamkan. Hal ini menyebabkan pihak tersebut memiliki
klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak
hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. Surat Utang
Surat Utang adalah surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan dan
menyatakan bahwa perusahaan bersedia membayar sejumlah uang tertentu di
masa depan kepada pemegang surat utang tersebut. Selain membayar uang
sejumlah pokok pinjaman, perusahaan juga membayar bunga pinjaman atau
kupon bunga secara periodik.
3. Reksa Dana
Merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya
pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

19

Modul WPPE | MPE

untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai
sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal,
mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu
dan pengetahuan yang terbatas. Reksa Dana juga diharapkan dapat
meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat
(27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan
dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
4. Derivatif
Derivatif adalah produk turunan dari underlying asset, dalam hal ini saham.
Contoh produk yang termasuk dalam jenis derivatif adalah futures dan option
PASAR MODAL SYARIAH
Pasar modal syariah adalah kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur dalam
UUPM yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Pasar modal syariah merupakan suatu
sistem yang tidak terpisahkan dari sistem pasar modal secara keseluruhan. Kegiatan Pasar
Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat
beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme
transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
Penerapan prinsip syariah di pasar modal tentunya bersumberkan pada Al Quran sebagai
sumber hukum tertinggi dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, dari kedua sumber
hukum tersebut para ulama melakukan penafsiran yang kemudian disebut ilmu fiqih. Salah
satu pembahasan dalam ilmu fiqih adalah pembahasan tentang muamalah, yaitu hubungan
diantara sesama manusia terkait perniagaan. Berdasarkan itulah kegiatan pasar modal
syariah dikembangkan dengan basis fiqih muamalah. Terdapat kaidah fiqih muamalah yang
menyatakan bahwa Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada
dalil yang mengharamkannya. Konsep inilah yang menjadi prinsip pasar modal syariah di
Indonesia.
Gambar 5 Landasan Hukum Pasar Modal Syariah

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, 2014


A. Sejarah Pasar Modal Syariah
Sejarah Pasar Modal Syariah di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya Reksa Dana
Syariah oleh PT. Danareksa Investment Management (DIM) pada 3 Juli 1997.
Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta) berkerjasama dengan DIM
meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan
untuk memandu investor yang ingin menginvestasikan dananya secara syariah.
Dengan hadirnya indeks tersebut, maka para pemodal telah disediakan saham-saham
yang dapat dijadikan sarana berinvestasi sesuai dengan prinsip syariah.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

20

Modul WPPE | MPE

Pada tanggal 18 April 2001, untuk pertama kali Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang berkaitan langsung dengan pasar
modal, yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan
Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Selanjutnya, instrumen investasi syariah di
pasar modal terus bertambah dengan kehadiran Obligasi Syariah PT. Indosat Tbk pada
awal September 2002. Instrumen ini merupakan Obligasi Syariah pertama dan akad
yang digunakan adalah akad mudharabah.
Sejarah Pasar Modal Syariah juga dapat ditelusuri dari perkembangan institusional
yang terlibat dalam pengaturan Pasar Modal Syariah tersebut. Perkembangan tersebut
dimulai dari MoU antara Bapepam dan DSN-MUI pada tanggal 14 Maret 2003. MoU
menunjukkan adanya kesepahaman antara Bapepam dan DSN-MUI untuk
mengembangkan pasar modal berbasis syariah di Indonesia.
Dari sisi kelembagaan Bapepam-LK, perkembangan Pasar Modal Syariah ditandai
dengan pembentukan Tim Pengembangan Pasar Modal Syariah pada tahun 2003.
Selanjutnya, pada tahun 2004 pengembangan Pasar Modal Syariah masuk dalam
struktur organisasi Bapepam dan LK, dan dilaksanakan oleh unit setingkat eselon IV
yang secara khusus mempunyai tugas dan fungsi mengembangkan pasar modal
syariah. Sejalan dengan perkembangan industri yang ada, pada tahun 2006 unit
eselon IV yang ada sebelumnya ditingkatkan menjadi unit setingkat eselon III.
Pada tanggal 23 Nopember 2006, Bapepam-LK menerbitkan paket Peraturan
Bapepam dan LK terkait Pasar Modal Syariah. Paket peraturan tersebut yaitu
Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan Nomor
IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar
Modal. Selanjutnya, pada tanggal 31 Agustus 2007 Bapepam-LK menerbitkan
Peraturan Bapepam dan LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek
Syariah dan diikuti dengan peluncuran Daftar Efek Syariah pertama kali oleh Bapepam
dan LK pada tanggal 12 September 2007.
Perkembangan Pasar Modal Syariah mencapai tonggak sejarah baru dengan
disahkannya UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) pada tanggal 7 Mei 2008. Undang-undang ini diperlukan sebagai landasan
hukum untuk penerbitan surat berharga syariah negara atau sukuk negara. Pada
tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia menerbitkan
SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.
Pada tanggal 30 Juni 2009, Bapepam-LK telah melakukan penyempurnaan terhadap
Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan II.K.1
tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

21

Modul WPPE | MPE

Sejak tahun 2001, telah terdapat 14 fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah
Nasional MUI tentang Pasar Modal Syariah di Indonesia. Investasi di pasar saham
telah mendapatkan pengakuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa
Fatwa No.80/DSN-MUI/III/2011
Penerapan Prinsip Syariah Dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Di
Pasar Reguler Bursa Efek:
1. Transaksi saham dianggap sesuai Syariah apabila
Hanya melakukan jual-beli saham Syariah
Tidak melakukan transaksi yang dilarang secara Syariah
2. Saham yang sudah di beli boleh ditransaksikan kembali meskipun settlement baru
dilaksanakan pada T+3 sesuai prinsip Qabdh Hukmi (penguasaan aset oleh pembeli
secara dokumen kepemilikan aset yang dibelinya baik dalam bentuk catatan elektronik
maupun non-elektronik
3. Transaksi efek di Bursa Efek menggunakan akad Bai Al-musawamah (akad jual beli
dengan kesepakatan harga pasar yang wajar melalui mekanisme tawar menawar yang
berkesinambungan)
Indeks Syariah
a. Indonesia Sharia Stock Index (ISSI)

ISSI merupakan indeks saham yang mencerminkan keseluruhan saham syariah


yang tercatat di BEI.
Konstituen ISSI adalah keseluruhan saham syariah tercatat di BEI dan terdaftar
dalam Daftar Efek Syariah (DES).
Konstituen ISSI direview setiap 6 bulan sekali (Mei dan November) dan
dipublikasikan pada awal bulan berikutnya.
Konstituen ISSI juga dilakukan penyesuaian apabila ada saham syariah yang
baru tercatat atau dihapuskan dari DES.
Metode perhitungan indeks: rata-rata tertimbang dari kapitalisasi pasar
Tahun dasar: Desember 2007
Peluncuran: 12 Mei 2011

Proses Seleksi ISSI dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)


1. Tidak Melakukan Kegiatan Usaha Yang Dilarang Secara Syariah dan Tercatat di
BEI
2. Rasio Utang Berbasis Bunga dibandingkan Total Aset 45%
3. Rasio Pendapatan Non Halal terhadap Total Pendapatan 10%

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

22

Modul WPPE | MPE

b. Jakarta Islamic Index (JII)


JII merupakan indeks saham yang mencerminkan kinerja 30 saham dengan
kapitalisasi pasar dan nilai transaksi terbesar diantara saham syariah yang
tercatat di BEI.
30 saham konstituen JII diseleksi dari saham dalam DES.
Konstituen JII direview setiap 6 bulan sekali (Mei dan November) dan
dipublikasikan setiap awal bulan berikutnya.
Metode perhitungan indeks: rata-rata tertimbang dari kapitalisasi pasar.
Tahun dasar: Januari 1995
Peluncuran: 3 Juli 2000
Proses Seleksi JII dilakukan oleh OJK dan BEI
1. Saham Syariah yang terdapat di DES dan menjadi konstituen ISSI
2. 60 saham dengan kapitalisasi terbesar
3. 30 saham dengan nilai transaksi terbesar
B. Dasar Hukum
Sebagai bagian dari sistem pasar modal Indonesia, kegiatan di Pasar modal yang
menerapkan prinsip-prinsip syariah juga mengacu kepada Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal berikut peraturan pelaksananaannya (Peraturan
Bapepam-LK, Peraturan Pemerintah, Peraturan Bursa dan lain-lain).
Bapepam-LK selaku regulator pasar modal di Indonesia, memiliki beberapa peraturan
khusus terkait pasar modal syariah, sebagai berikut:
1. Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah
2. Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah
Peraturan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek
C. Instrumen Pasar Modal Syariah
Produk syariah di pasar modal antara lain berupa surat berharga atau efek.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM), Efek
adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial,
saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak
berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.
Sejalan dengan definisi tersebut, maka produk syariah yang berupa efek harus tidak
bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu efek tersebut dikatakan sebagai
Efek Syariah. Dalam Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan
Efek Syariah disebutkan bahwa Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud
dalam UUPM dan peraturan pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha
yang menjadi landasan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip - prinsip
syariah di Pasar Modal
Efek-efek yang dimuat dalam Daftar Efek Syariah yang ditetapkan oleh BapepamLK
meliputi:
1. Surat Berharga Syariah yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia.
2. Efek yang diterbitkan oleh Emiten atau perusahaan publik yang menyatakan bahwa
kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip
syariah sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar.
3. Sukuk yang diterbitkan oleh Emiten termasuk Obligasi Syariah yang telah
diterbitkan oleh emiten sebelum ditetapkannya peraturan ini.
4. Reksa Dana Syariah.
5. Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif Reksa Dana Syariah.
6. Efek Beragun Aset Syariah.
7. Efek berupa saham, termasuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah
dan waran syariah, yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik yang tidak
Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

23

Modul WPPE | MPE

menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan


berdasarkan prinsip syariah.
8. Efek syariah yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal yang diterbitkan
oleh lembaga internasional dimana Pemerintah Indonesia menjadi salah satu
anggotanya
9. Efek syariah lainnya.
Sampai dengan saat ini, Efek Syariah yang telah diterbitkan di pasar modal Indonesia
meliputi Saham Syariah, Sukuk dan Unit Penyertaan dari Reksa Dana Syariah.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016

24