Anda di halaman 1dari 3

Eksternalitas Proyek Tol

Sabtu, 02/02/2013 09:00 WIB Pembangunan jalan Tol Solo Semarang kini sudah mencapai tahap akhir pengerjaan. Jadi, jika
warga Solo ingin bepergian ke Semarang atau sebaliknya, tidak perlu khawatir akan lama
perjalanannya karena tidak lama lagi proyek Tol SoloSemarang akan rampung. Keberadaan jalan
tol ini telah lama direncanakan dan sudah lama juga masyarakat menantikan keberadaannya.
Mobilitas masyarakat dari Solo ke Semarang maupun sebaliknya kian lama kian meningkat, oleh
karena itu kehadiran Tol SoloSemarang ini sangat vital keberadaannya. PT Trans Marga Jawa
Tengah sebagai perusahaan penyelenggara sekaligus pengelola Tol SoloSemarang menyatakan
bahwa tol ini merupakan bagian dari jaringan jalan tol Trans Jawa yang dicanangkan pemerintah.
Pembangunan proyek yang menghabiskan anggaran investasi sebesar Rp 6,1 triliun ini diharapkan
dapat menjadi sarana dalam pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya, serta keseimbangan
dalam pengembangan wilayah. Selain itu, menurut Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, jalan tol
ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Tol yang baru dimulai pengerjaannya
pada tahun 2009 ini juga memiliki fungsi strategis, salah satunya karena menjadi penghubung
arus distribusi barang dari Ungaran sebagai kawasan industri dengan Semarang sebagai pusat
perekonomian. Begitu juga untuk Solo dan daerah pendukungnya. Dengan begitu maka jalan tol
ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Jawa Tengah, khususnya daerah eksKaresidenan Surakarta, serta daerah Semarang dan sekitarnya.
Namun, dalam pengerjaannya proyek ini belum rampung 100 persen. Hanya Seksi I, jalur
Tembalanng- Ungaran, yang sudah rampung 100 persen dan juga sudah mulai dioperasikan.
Sedangkan Seksi II dari UngaranBawen, Seksi III BawenSalatiga, Seksi IV SalatigaBoyolali,
dan Seksi V BoyolaliSolo masih dalam proses pengerjaan akhir. Kendalanya tidak lain adalah
masalah pembebasan lahan. Selain memakan biaya yang cukup besar, masalah ini juga
membutuhkan waktu yang lama dalam proses negosiasinya. Dalam negosiasinya masyarakat
cenderung menolak untuk merelakan tanahnya yang akan digunakan untuk pembangunan jalan
tol. Kendala inilah yang menyebabkan proyek ini molor dari perencanaan semula. Semula
direncanakan pada tahun 2012 akan selesai tapi kini molor hingga awal tahun 2013 belum selesai
juga.
Proyek pun ini bukan tanpa cela. Ibarat tak ada gading yang tak retak, banyak orang yang pro
terhadap proyek Tol SoloSemarang, tetapi juga tidak sedikit yang kontra atas pembangunan jalan

tol ini. Banyak manfaat yang akan dihasilkan kelak, tapi juga banyak mudarat yang berdampak
negatif pada masyarakat. Dengan kata lain proyek ini menghasilkan eksternalitas.
Mempengaruhi Kesejahteraan
Mankiw(2001) mengemukakan bahwa eksternalitas terjadi ketika seseorang atau perusahaan
melakukan sesuatu kegiatan atau menjalankan proyek yang efek sampingnya akan mempengaruhi
kesejahteraan orang di sekitarnya. Ketika dampak atau efek samping dari pelaksanaan proyek itu
merugikan orang disekitarnya maka hal itu disebut dengan eksternalitas negatif begitu pula
sebaliknya.
Semenjak dimulainya pembangunan proyek Tol Solo Semarang sudah menimbulkan eksternalitas
eksternalitas negatif. Selain karena proyek ini berskala besar, proyek ini juga melibatkan
masyarakat luas. Masyarakat yang dilibatkan adalah masyarakat yang bersentuhan langsung
dengan proyek pembangunan ini. Dalam kurun waktu tiga tahun saja sudah banyak eksternalitas
negatif yang dihasilkan pembangunan proyek ini. Salah satu eksternalitas negatif yang dihasilkan
adalah kerusakan infrastruktur terutama jalan di sekitar proyek. Truk truk yang mengangkut
bahan material menyebabkan rusaknya jalan yang dilaluinya. Selain karena tanahnya yang labil,
bobot kendaraan yang terlampau besar tidak dapat diimbangi oleh jalanjalan kecil yang
kapasitasnya hanya untuk dilalui oleh kendaraan- kendaraan kecil. Sehingga, banyak jalan yang
berlubang dan ambles karena hal ini.
Polusi udara juga turut menghiasi suasana di sekitar proyek. Debudebu beterbangan
mengakibatkan polusi udara yang dapat menyebabkan terjadinya iritasi mata dan juga gangguan
saluran pernafasan. Dari segi ekonomi, kelak setelah proyek ini rampung dapat berakibat buruk
bagi beberapa daerah. Eksternalitas yang dihasilkan kali ini berkaitan dengan ekonomi
masyarakat. Masyarakat yang terkena eksternalitasnya langsung adalah masyarakat yang
bertempat tinggal di daerah sekitar jalan SoloSemarang. Mereka akan kehilangan sebagian
pendapatannya karena pangsa pasar mereka, pengendara mobil, tidak akan melewati jalan Solo
Semarang dan lebih memilih lewat jalan tol. Hal itulah yang akan menyebabkan pendapatan
masyarakat sekitar menurun sehingga pendapatan per kapita daerah juga menurun, terutama
daerah yang dilalui jalan raya SoloSemarang. Akibat itulah yang di-wantiwanti oleh Gubernur
Jawa Tengah, Bibit Waluyo, pada saat awal pembangunan proyek.
Dan masih banyak eksternalitaseksternalitas negatif lainnya. Tentunya hal ini bisa menjadi
pertimbangan pelaksaan proyek bahwa mereka harus mengerti dampak dari pelaksanaan proyek
mereka. Dengan demikian dapat diambil suatu kebijakan yang dapat meminimalisir atau bahkan
menghilangkan dampak negatif dari proyek ini. Walaupun kelak proyek ini juga untuk
kemaslahatan bersama, tapi tidak ada salahnya untuk mengurangi eksternalitas negatif selama
proyek ini berlangsung. Hal ini agar ke depannya tidak ada lagi masyarakat yang merasa dirugikan
atas kehadiran proyek ini.

Corporate Social Responsibility


Sebenarnya, ada banyak solusi yang bisa digunakan untuk meminimalisir eksternalitas ini. Ada
solusi dari pihak eksternal dan ada juga solusi dari internal penyelenggara proyek sendiri. Tapi
alangkah bijaknya jika tanggung jawab ini dimulai dari dalam. Perusahaan penyelenggara proyek
dapat memanfaatkan anggaran CSR (Corporate Social Responsibility). CSR merupakan bentuk
pertanggung jawaban perusahaan kepada masyarakat terutama untuk masyarakat yang
membutuhkan. CSR dapat dialokasikan dalam berbagai bentuk, dapat berupa
pertanggungjawaban atas eksternalitas negatif yang dihasilkan perusahaan, dapat berupa
beasiswa pendidikan, pengobatan gratis, dan masih banyak contoh CSR yang lain.
Konsep CSR sangat cocok untuk pertanggungjawaban pelaksana proyek Tol SoloSemarang atas
eksternalitas yang mereka hasilkan. Untuk mengatasi eksternalitas yang mereka hasilkan,
pelaksana proyek Tol SoloSemarang ini harus mengalokasikan biaya sosial untuk keperluan CSR.
Selain dapat meminimalisir masalah, CSR juga dapat mengurangi beban masyarakat sekitaran
proyek.
Pelaksana proyek dapat mengalokasikan CSR dalam berbagai bentuk. Dapat berupa pembiayaan
dan maupun dapat berwujud pembangunan fisik. Bentuk pembiayaan dapat berwujud sumbangan
kepada masyarakat atas polusi udara dan suara yang dihasilkan. Sehingga kerugian atas
kesehatan yang dialami masyarakat akibat dari pembangunan proyek tol dapat diatasi.
Pembangunan fisik juga perlu dilakukan guna memperbaiki kerusakan infrastruktur yang
diakibatkan oleh alat berat dan kendaraan pengangkut material proyek. Pembangunan fisik lainnya
dapat berupa sistem simpang tumpang jalan tol di kotakota yang dilalui jalan tol sehingga tidak
mematikan perekonomian masyarakat. Dengan begitu, pelaksana proyek dapat meminimalisasi
efek eksternalitas negatif yang dihasilkan atas proyek Tol SoloSemarang.
Zukhruf Nur Wakhid