Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KEGIATAN

F.1 Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

BAHAYA ROKOK

Disusun Oleh:
dr. Achmad Faiz Sulaiman
Puskesmas Salatiga
Periode Agustus 2015 November 2016
Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode November 2015 - November 2016

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)
Laporan F.1 Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Topik:
BAHAYA ROKOK

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus sebagai
bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas
Kota Salatiga

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Mengetahui,
Dokter Internship,

dr. Achmad Faiz Sulaiman

Dokter Pendamping

dr. Galuh Ajeng Hendrasti


NIP. 19821014 201001 2 017

A. LATAR BELAKANG
Masyarakat telah percaya bahwa tembakau tidak merugikan kesehatan dan perokok yang
telah mengalami kecanduan bahkan memandangnya sebagai sesuatu yang dapat memberi
ketenangan. Seiring dengan makin maraknya pengguna/perokok, isu asap rokok dan perokok
telah menjadi permasalahan nasional bahkan internasional, apalagi didukung oleh industri
rokok yang semakin giat menggalakkan kegiatan ekonomi secara langsung maupun tidak
langsung, mulai dari hulu (agrobisnis tembakau, cengkeh, dan sebagainya), ke arah samping
(industri kertas, cetakan, kemasan, dan sebagainya), ke arah hilir (aktifitas promosi dan
pemasaran). Merokok merupakan penyebab utama terbesar kematian yang sulit dicegah
dalam masyarakat. Pada tahun 1950, setiap tahun hanya ada sekitar 300.000 kematian akibat
kebiasaan merokok. Angka ini melonjak menjadi 1 juta kematian pada tahun 1965; 1,5 juta
pada tahun 1975, dan menjadi 3 juta pada tahun 1990-an. Dari 3 juta kematian tersebut, 2 juta
diantaranya terjadi di negara-negara maju dan sisanya (33,3%) terjadi di negara-negara
berkembang seperti Indonesia.
Menurut laporan WHO terakhir mengenai konsumsi tembakau dunia, angka prevalensi
merokok di Indonesia merupakan salah satu di antara yang tertinggi di dunia, dengan 46,8
persen laki-laki dan 3,1 persen perempuan usia 10 tahun ke atas yang diklasifikasikan sebagai
perokok (WHO, 2011). Jumlah perokok mencapai 62,8 juta, 40 persen di antaranya berasal
dari kalangan ekonomi bawah.

B. PERMASALAHAN
Dari anamnesis yang dilakukan pada sebagian besar pelajar di Salatiga, lebih dari
50% pernah merokok. Sebagian dari siswa tersebut bahkan ada yang masih menjadi perokok
aktif sampai sekarang. Aktifitas merokok ini dapat ditemukan mulai usia pelajar SMP.
Padahal, rokok memberikan banyak dampak merugikan baik bagi sang perokok aktif maupun
perokok pasif.
Tidak sedikit remaja yang kurang paham bahwa efek samping rokok seringkali tidak
dirasakan saat itu jaga. Banyaknya kandungan karsinogenik yang memberikan dampak buruk
bagi kesehatan. Selain itu rokok juga menyebabkan gangguan kardiovaskuler, gangguan
sistem respirasi serta gangguan pada fertilitas.

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


2

1. Kegiatan
Strategi atau pendekatan yang ditempuh yaitu pemberdayaan (empowerment).
Pemberdayaan ini dilakukan dengan memberikan kemampuan kepada individu (sasaran)
melalui penyuluhan yang dibarengi dengan kegiatan Konselor sebaya Pesan-pesan pokok
materi penyuluhan Rokok antara lain : Bahaya merokok, Kandungan berbahaya pada
rokok.
2. Menentukan Sasaran
Sasaran yang dipilih pada kegiatan penyuluhan Rokok ini adalah sasaran primer
Remaja usia Sekolah Menengah Pertama
3. Menetapkan Tujuan
Tujuan umum adalah mengurangi angka perokok dan meningkatkan kesadaran
tentang bahaya merokok. Tujuan khusus adalah memberikan penjelasan yang lebih rinci
tentang rokok, bahaya dan kandungan yang ada di dalamnya.
4. Menetapkan Metode dan Saluran Komunikasi KIE
Metode komunikasi yang digunakan berupa penyuluhan pada kelompok posyandu
lansia. Media atau saluran komunikasi yang digunakan adalah slide power point melalui
LCD.
5. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan petugas
Puskesmas Mangunsari.
D. PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan
: Penyuluhan tentang Rokok
Tujuan
:Meningkatkan pengetahuan Pelajar Sekolah Menengah Pertama
tentang Rokok
Peserta
: Siswa SMP sejumlah 24 orang
Waktu dan Tempat: : pukul 10.30-13.00 WIB di Aula Puskesmas Mangunsari
Metode
: Pemberian materi melalui slide presentasi dengan Ms. Power Point
yang berisi materi Rokok, Bahaya merokok, kandungan zat kimia
dalam rokok. Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab
Penanggung Jawab: Dokter internsip dan petugas PKM Mangunsari
E. MONITORING DAN EVALUASI
Saat pemberian penyuluhan, peserta menyimak dengan tenang dan terlihat
antusias .Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan melihat seberapa banyak para peserta
memahami dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seputar materi yang
telah disampaikan.
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengecekan pemahaman peserta
penyuluhan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah
3

disampaikan. Pada kali ini penyuluh bertanya apa dampak negatif rokok? Para peserta
pun menjawab bahwa rokok menyebabkan batuk, sesak nafas, kanker paru dan
menyebabkan impotensi. Dengan adanya pemahaman tersebut tampak bahwa sebagian
besar materi sudah dapat diserap dengan baik oleh peserta sehingga diharapkan mampu
untuk memberikan informasi yang telah diberikan kepada anggota keluarga, tetangga, dan
warga lainnya. Selain itu, monitoring dan evaluasi selanjutnya perlu kerjasama dari pihak
petugas Puskesmas Mangunsari.
Kesimpulan dari penyuluhan ini, semua peserta paham akan bahaya merokok
Diharapkan setelah penyuluhan ini, peserta mulai sadar diri untuk menjaga pola hidup agar
tehindar dari rokok dan dapat menjadi pengingat bagi teman-temannya. Penyuluhan rutin
ulangan perlu dilakukan agar pemahaman yang ada dapat selalu diingat.
F.

TINJAUAN PUSTAKA HIPERTENSI


1. Definisi
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus cerutu atau bentuk lainnya
yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies
lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan
tambahan.
Rokok berdasarkan bahan baku atau isi di dalamnya terbagi menjadi tiga
kategori: 1) rokok putih, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun
tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu; 2) rokok
kretek, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh
yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu; 3) rokok klembak,
yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan
kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu
Rokok berdasarkan penggunaan filter dibagi menjadi dua jenis, yaitu rokok
filter dan rokok non filter. Rokok filter adalah rokok yang pada bagian pangkalnya
terdapat gabus, sedangkan rokok non filter adalah rokok yang pada bagian pangkalnya
tidak terdapat gabus sehingga tidak ada filter yang dapat mengurangi asap keluar dari
rokok dan menyebabkan asap yang dihasilkan lebih banyak dari rokok filter .
Satu batang rokok yang dibakar, akan dihasilkan kira-kira 500 mg gas (92%)
dan bahan-bahan partikel padat (8%) yang berupa droplet aerosol cair dan partikel tar
padat submikroskopik.

2.2 Tiga Bahan Rokok yang Paling Berbahaya


a. NIKOTIN
Nikotin adalah zat atau bahan senyawa porillidin yang terdapat dalam
Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lain yang sintesisnya bersifat
adiktif. Nikotin menguap saat rokok dinyalakan dan setiap batang rokok mengandung
1 mg nikotin yang diabsorpsi melalui epitel paru.
Nikotin yang mempunyai konsentrasi rendah bersifat stimulant yaitu dapat
meningkatkan tekanan darah, aktivitas, memori, menyempitkan pembuluh perifer dan
menyebabkan ketergantungan pada pemakainya. Sedangkan pada konsentrasi tinggi
dapat berperan sebagai depresan. Pengikatan nikotin dan asetilkolin terhadap reseptor
nikotin menyebabkan perubahan konformasi yang dapat membuka atau menutup
reseptor ion chanel sehingga mempengaruhi aktivitas neuron, komunikasi sinaps dan
perilaku. Proses adiksi berawal dari interaksi antara nikotin dengan reseptor nikotin di
otak pada daerah mesolimbik dopamin sistem di Ventral Tegmental Area neuron.
Interaksi ini mengawali akitivasi Central Nervous System (CNS) termasuk sistem
Mesoaccumbens Dopamine.
Dalam jumlah besar, nikotin sangat berbahaya, yaitu antara 20 mg sampai 50
mg nikotin dapat menyebabkan terhentinya pernapasan.
Menghisap satu batang rokok berarti telah menghisap 2 3 mg nikotin. Jika
asapnya tidak dihisap, nikotin yang terhisap hanya 1 1,5 mg saja. Bagi orang
orang yang bukan perokok atau yang tidak biasa merokok, dengan menghisap 1 2
mg nikotin saja sudah menyebabkan mereka pusing, sakit kepala, mual dan muntah.
Mereka berkeringat dan terasa sakit di daerah lambung.
Nikotin menaikkan tekanan darah dan mempercepat denyut jantung hingga
pekerjaan jantung menjadi lebih berat. Selanjutnya, nikotin juga menyebabkan
ketagihan
Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya
kebutuhan oksigen miokard. Bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga
mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga merugikan kerja
miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang
pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah,
kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Oleh karena
5

itu, semakin banyak rokok dihisap, semakin hebat jantung dipacu. Nikotin juga
mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin
mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke
dinding pembuluh darah.
b.

KARBON MONOKSIDA
Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa,
dan beracun. Gas ini merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bahan
yang mengandung karbon atau pembakaran dibawah tekanan dan temperatur tinggi.
. Karbon monoksida yang terkandung dalam rokok dapat mengikat HB darah
dengan akibat oksigen tersingkir dan tidak dapat digunakan oleh tubuh ( padahal yang
diperlukan tubuh adalah oksigen). Tanpa oksigen ini, baik otak maupun organ tubuh
yang lain tidak dapat berfungsi. Seperti halnya mesin yang perlu udara untuk
membakar bensin agar mesin tersebut bergerak, maka tubuh kita perlu oksigen untuk
membakar makanan yang disimpan dalam jaringan tubuh untuk memberikan energi.
Selanjutnya, efek dari karbon monoksida adalah bahwa jaringan pembuluh darah akan
menyempit dan mengeras sehingga akhirnya dapat mengakibatkan peyumbatan.
Satu batang rokok yang dibakar mengandung 3 6 % karbon monoksida dan
dalam darah kadarnya mencapai 5%. Pada orang yang bukan perokok, kadarnya
adalah 1%. Perokok dengan kadar karbon monoksida 5% ke atas mendapat serangan 3
kali lipat dibanding dengan bukan perokok. Gabungan karbon monoksida dengan
nikotin akan mempermudah para perokok menderita penyakit penyempitan dan
penutupan pembuluh darah dengan akibat akibatnya. (Jeanne Mandagi, 1996 :152).
Seandainya saja para perokok mengetahui hal ini, tentunya mereka tidak akan
memberikan kesempatan pada sebuah penyakit untuk dapat memasuki tubuhnya.
c. TAR
Lebih dari 2000 zat kimia baik berupa gas, maupun partikel padat terkandung
dalam asap rokok. Diantara zat zat tersebut ada yang mempunyai efek karsinogen.
Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang merupakan bagian
partikel rokok setelah kandungan nikotin dan uap air dikeluarkan
Pada saat rokok dihisap tar masuk ke rongga mulut sebagai uap padat asap
rokok, setelah dingin akan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan

gigi, saluran pernapasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg
per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg
Tar merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang berasal dari daun tembakau
sendiri, maupun yang ditambahkan pada tembakau dalam proses pertanian dan
industri sigaret serta bahan pembuat rokok lainnya. Tar dalam asap rokok
mengandung bahan karsinogenik yang dapat melumpuhkan silia di paru-paru
sehingga berkontribusi terhadap terjadinya emfisema, bronkitis kronis dan kanker
paru-paru, selain itu juga meningkatkan risiko karsinoma sel skuamosa pada laring,
serta mengganggu fungsi organ mulut, pita suara, tenggorok, ginjal, kandung kemih,
uterus dan ovarium.

2.3 Bahaya Rokok terhadap Kesehatan


Merokok sudah merupakan hal yang biasa kita jumpai . Kebiasaan ini sudah begitu
luas dilakukan baik dalam lingkungan berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah.
Merokok sudah menjadi masalah yang kompleks yang menyangkut aspek psikologis dan
gejala sosial. Merokok memang mengganggu kesehatan. Kenyataan ini tidak dapat kita
pungkiri. Banyak penyakit telah terbukti akibat buruk dari merokok, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok tidak hanya merugikan si perokok, tetapi juga
bagi orang di sekitarnya.
Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.
Tidak hanya bagi kesehatan, merokok juga menimbulkan akibat buruk di bidang ekonomi. Di
negara industri maju, kini terdapat kecenderungan untuk berhenti merokok, sedangkan di
negara berkembang, khususnya Indonesia justru cenderung timbul peningkatan kebiasaan
merokok.
Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan
partikel. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida,
amoniak, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri
dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.
Berdasarkan penjelasan di atas, rokok dan asapnya mempunyai dampak yang
buruk bagi kesehatan. Tidak hanya bagi perokok itu sendiri, tetapi juga bagi perokok pasif
7

yang hanya ikut menghirup asapnya saja. Dilihat dari bahan bahan yang berbahaya dalam
rokok, nikotin dapat menaikkan tekanan darah dan mempercepat denyut jantung hingga
pekerjaan jantung menjadi lebih berat, karbon monoksida dapat menyingkirkan oksigen yang
dibutuhkan tubuh dengan mengikat dirinya pada HB darah, dan tar memicu timbulnya
kanker.
Asap yang dihembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main
stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau
yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau
yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif.
Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di
antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini lebih
banyak didapatkan pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih
banyak ditemukan pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak
50 kali. Bahan-bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah
rokok berhenti.
Bahaya rokok bagi kesehatan menurut Tandra dalam Tarwoto (2009) adalah dapat
menimbulkan berbagai penyakit. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk dari
merokok, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan
saja merugikan si perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2003) bahaya merokok adalah
sebagai berikut:
1. Bagi perokok aktif meningkatkan risiko 2 kali lebih besar untuk mengalami
serangan jantung, meningkatkan risiko 2 kali lebih besar untuk mengalami stroke,
meningkatkan risiko mengalami serangan jantung 2 kali lebih besar pada mereka yang
mengalami tekanan darah tinggi atau kadar kolesterol tinggi, meningkatkan risiko 10 kali
lebih besar untuk mengalami serangan jantung bagi wanita pengguna pil-KB, dan
meningkatkan risiko 5 kali lebih besar menderita kerusakan jaringan anggota tubuh yang
rentan dari orang yang tidak merokok.
2. Bagi perokok pasif dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Kadar nikotin, karbon
monoksida, serta zat-zat lain yang lebih tinggi dalam darah mereka akan memperparah
penyakit yang sedang diderita, dan kemungkinan mendapat serangan jantung yang lebih
tinggi bagi mereka yang berpenyakit jantung. Anak-anak yang orang tuanya merokok akan
mengalami batuk, pilek, dan radang tenggorokan serta penyakit paru-paru lebih tinggi.
8

Wanita hamil yang merokok berisiko mendapatkan bayi mereka lahir kurus, cacat, dan
kematian serta asap rokok yang dihirup oleh istri dari suami perokok akan mempengaruhi
bayi dalam kandungan.
Merokok mempunyai dampak yang sangat besar pada manusia, terutama pada
kesehatan karena terdapat banyak kandungan zat beracun pada rokok. Dampak asap rokok
bukan hanya membahayakan perokok aktif (active smoker), tetapi juga bagi perokok pasif
(passive smoker). Rokok memegang peranan penting dalam terjadinya beberapa jenis kanker
yang sering menyerang manusia, seperti kanker paru-paru, kanker mulut dan tenggorokan,
kanker ginjal dan kandung kemih, kanker pancreas, kanker perut, kanker liver atau hati,
kanker leher rahim, kanker payudara serta leukemia.
Rokok adalah penyebab utama penyakit mematikan seperti kanker paru, stroke,
jantung, dan gangguan pembuluh darah, kebutaan, impotensi, juga menurunkan kesuburan,
meningkatnya kasus kehamilan di luar kandungan, pertumbuhan janin terlambat, kejang pada
kehamilan, gangguan imunitas bayi, dan peningkatan kematian prenatal Beberapa penyakit
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Penyakit Kanker Paru


Terdapat hubungan yang erat antara kebiasaan merokok dengan kanker
paru sebab penyebab utama dari penyakit ini adalah rokok. Rokok merupakan sala
satu penyebab utama terjadinya kanker paru-paru. Merokok dapat menyebabkan
perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran
napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus bertambah
banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga
penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir.
Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan
kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan
timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya.
Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM).
9

Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk


emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma.
Terdapat pula hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama rokok,
dengan timbulnya kanker paru. Partikel asap rokok, seperti benzopiren,
dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Tar juga
berhubungan dengan risiko terjadinya kanker. Dibandingkan dengan bukan
perokok, kemungkinan timbul kanker paru pada perokok mencapai 10-30 kali
lebih sering.

b. Penyakit Jantung Koroner


Banyak penelitian telah membuktikan adanya hubungan merokok dengan
penyakit jantung koroner (PJK). Dari 11 juta kematian per tahun di negara industri
maju, WHO melaporkan lebih dari setengah (6 juta) disebabkan gangguan
sirkulasi darah, di mana 2,5 juta adalah penyakit jantung koroner dan 1,5 juta
adalah stroke. Survei Depkes RI tahun 1986 dan 1992, mendapatkan peningkatan
kematian akibat penyakit jantung dari 9,7 persen (peringkat ketiga) menjadi 16
persen (peringkat pertama). Dengan demikian, merokok menjadi faktor utama
penyebab penyakit jantung koroner tersebut. Bukan hanya menyebabkan penyakit
jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan
perifer sebagaimana akibat yang dihasilkan karbon monoksida.
Efek rokok terhadap jantung dapat dijelaskan melalui efek kimia. Ada dua
zat yang dianggap mempunyai efek yang besar yaitu CO ( Karbon Monoksida )
dan nikotin. Efek berkepanjangan dari karbon monoksida adalah bahwa jaringan
pembuluh darah akan terganggu, menyempit dan mengeras sehingga dapat
mengakibatkan penyumbatan.
Merokok terbukti merupakan faktor risiko terbesar untuk mati mendadak.
Risiko terjadinya penyakit jantung koroner meningkat 2-4 kali pada perokok
dibandingkan dengan bukan perokok. Risiko ini meningkat dengan bertambahnya
usia dan jumlah rokok yang dihisap. Faktor risiko merokok bekerja sinergis dengan
faktor-faktor lain, seperti hipertensi, kadar lemak atau gula darah yang tinggi,
terhadap tercetusnya PJK. Perlu diketahui bahwa risiko kematian akibat penyakit
jantung koroner berkurang dengan 50 persen pada tahun pertama sesudah rokok
dihentikan.
10

Akibat penggumpalan (trombosis) dan pengapuran (aterosklerosis) dinding


pembuluh darah, merokok jelas akan merusak pembuluh darah perifer. Pembuluh
darah yang melibatkan pembuluh darah arteri dan vena di tungkai bawah atau
tangan

sering

ditemukan

pada

dewasa

muda

perokok

berat

c. Penyakit Stroke
Penyakit stroke merupakan penyumbatan pembuluh darah otak yang
bersifat mendadak atau stroke banyak dikaitkan dengan merokok. Risiko
stroke dan risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan
bukan perokok. Gas karbon monoksida (CO) yang dihirup oleh perokok akan
menyebabkan sel tubuh yang kekurangan oksigen mengalami penyempitan
pada pembuluh darah. Apabila proses tersebut berlangsung secara terus
menerus, maka pembuluh darah yang mengalami penyempitan akan mudah
rusak, penyempitan dapat terjadi di mana-mana. Terpaparnya gas CO dalam
jumlah yang sangat besar akan menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga
dapat mengalami kematian.

d. Penyakit Mulut
Merokok terutama dapat menimbulkan penyakit kardiovaskuler dan
kanker, baik kanker paru-paru, oesophagus, laryng, dan rongga mulut. Kanker
di dalam rongga mulut biasanya dimulai dengan adanya iritasi dari produkproduk rokok yang dibakar dan dhiisap. Iritasi ini menimbulkan lesi putih
yang tidak sakit. Memang terdapat keterkaitan yang erat antara merokok
dengan kesehatan mulut karena aktivitas merokok dimulai di mulut.
Merokok juga dapat menimbulkan kelainan-kelainan rongga mulut
misalnya pada lidah, gusi, mukosa mulut, gigi dan langit-langit yang berupa
stomatitis nikotina dan infeksi jamur. Penelitian terakhir yang dilakukan di
Amerika, Taiwan, Uruguay, Italia, Swedia, Cina dan Korea menyatakan
seorang perokok terkena kanker 3,43 kali dari orang yang tidak merokok
e. Impotensi
Masalah sirkulasi pembuluh darah merupakan penyebab yang paling
utama dari impotensi. Merokok dapat mengakibatkan impotensi karena
11

mengandung berbagai racun termasuk karbon monoksida yang terkandung


dalam asap rokok sehingga akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada
sistem peredaran darah seorang perokok.
f. Gangguan kehamilan dan Janin
Wanita yang merokok pada masa kehamilan merupakan penyebab utama
terjadinya gangguan kesehatan pada ibu dan bayi. Selain menyebabkan
komplikasi yang serius pada sang ibu, wanita hamil yang merokok juga bisa
mengakibatkan gangguan kesehatan serius pada bayi yang dikandungnya dan
bisa berujung pada kematian. Beberapa gangguan kehamilan yang diakibatkan
oleh merokok adalah keguguran, gangguan pertumbuhan janin, komplikasi
plasenta, bayi lahir prematur dan cacat lahir

g. Dampak Bagi Perokok Pasif


Orang orang yang bukan perokok, tetapi ikut menghirup udara yang
tercemar asap rokok dinamakan perokok pasif ('passive smoking').
Risiko yang akan diterima perokok pasif antara lain dapat mengalami
kanker paru dan penyakit jantung, masalah prnapasan termasuk radang paru
dan bronchitis, sakit atau pedih mata, bersin, batuk batuk, dan sakit kepala.
Di samping itu, perokok pasif juga mempunyai risiko yang lebih tinggi
untuk mengidap berbagai penyakit, 30 % penyakit jantung dan 25% kanker.
Bagi ibu hamil yang merokok akan mengalami pengaruh buruk antara lain
akan mengalami keguguran, pendarahan, bayi lahir prematur, bayi meninggal /
meninggal setelah lahir, bayi lahir dengan berat badan rendah ( lebih rendah
dari normal ) dan bayi sering sakit.
Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok selain mempengaruhi kesehatan, juga
akan mempengaruhi penyediaan tenaga kerja, terutama tenaga terampil atau tenaga eksekutif.
Dengan kematian mendadak atau kelumpuhan yang timbul jelas menimbulkan kerugian besar
bagi perusahaan. Penurunan produktivitas tenaga kerja menimbulkan penurunan pendapatan
perusahaan, juga beban ekonomi yang tidak sedikit bagi individu dan keluarga. Dari sudut

12

ekonomi kesehatan, dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah
biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan, bahkan negara.

DAFTAR PUSTAKA
1
1. IAKMI, Tobacco Control Support Center. Masalah Rokok di Indonesia. GATS;
2011.
2
2. Gita F, Apriliani. Perokok Indonesia Terbanyak se-Asia Tenggara. Jakarta
(Indonesia): Tempo, 10 October 2013.
3
3 . Fawzani N, Triratnawati A. Terapi Berhenti Merokok (Studi Kasus 3 Perokok
Berat). Yogyakarta: Makara, Kesehatan. 2005; Vol 9 (1): 15-22.
4
4. Tirtosastro S, Murdiyati AS. Kandungan Kimia Tembakau dan Rokok. Malang:
Buletin Tanaman, Tembakau, Serat dan Minyak Industri. 2010; Vol 2 (1): 33-43.
5
5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kanker Paru. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia; 2003.
1
6. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Batas Maksimum
Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Antioksidan. Jakarta (Indonesia): Peraturan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. No 38. 2013.
2
7. Panitia Teknis 93S, Makanan dan Minuman. Madu. Jakarta (Indonesia): Badan
Standardisasi Nasional. No 01-3545. 2004.

13