Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KEGIATAN KOASISDA

PT BIO FARMA

OLEH
KELOMPOK A2
PPDH ANGKATAN I TAHUN 2015/2016
Arlita Sariningrum, SKH
Grady Priasdhika, SKH
Heru Wirzal Kesatria, SKH
Kenda Adhitya Nugraha, SKH
Nur Hasreena Nadia Binti Ahlun, SKH
Prista Ayu Nurjanah, SKH
Santa Nova Aprilina S, SKH
Zul Fikhiran Bin Asli, SKH
Zulfi Nadhirul Hikmah, SKH

B94154107
B94154121
B94154124
B94154125
B94154135
B94154136
B94154146
B94154149
B94154150

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKLUTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

PENDAHULUAN
Latar Belakang
PT Bio Farma (Persero) merupakan satu-satunya perusahaan produsen vaksin
dan antisera bagi manusia di Indonesia. Perusahaan ini merupakan prosusen vaksin
terbesar di Asia Tenggara yang berkualitas internasional dan diakui oleh WHO. PT Bio
Farma (Persero) beroperasi di dua lokasi yang berbeda, yaitu Jalan Pasteur No. 28
Bandung dengan luas lahan 91.058 m2 yang digunakan untuk fasilitas
produksi, penelitian dan pengembangan, pemasaran, serta administrasi. Lokasi kedua
berada di Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat dengan luas lahan 282.441 m2
yang digunakan untuk pengembangbiakan dan pemeliharaan hewan laboratorium.
Kegiatan produksi vaksin dan antisera di PT Bio Farma menggunakan berbagai
jenis hewan diantaranya mencit, tikus, kelinci, dan cavia untuk pengujian vaksin dan
antisera. Domba dan angsa untuk produksi darah normal untuk kebutuhan media dan
QC, ayam Clean Egg untuk kebutuhan media dan produksi vaksin influenza. Ayam SPF
digunakan untuk produksi vaksin campak, dan kuda untuk produksi darah normal dan
antisera.

PROFIL PT BIOFARMA
Sejarah
PT. Bio Farma (Persero) adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang
kepemilikan sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah. PT Bio Farma (Persero)
sebagai satu-satunya produsen vaksin untuk manusia di Indonesia . Selama ini, PT. Bio
Farma (Persero) telah mendedikasikan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk
memproduksi vaksin dan antisera yang berkualitas internasional sebagai upaya
mendukung program imunisasi nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat
Indonesia yang memiliki kualitas derajat kesehatan yang lebih baik.
PT. Bio Farma (Persero) berdiri sejak 120 tahun yang lalu. Tahun 1890-1894
merupakan waktu dikeluarkannya Surat Keputusan Hindia Belanda, tepatnya pada
tangggal 6 Agustus 1890 tentang pendirian Parc Vaccinogene atau Landskoepok
Inrichting di rumah sakit tentara Weltevreden- Batavia, yang merupakan tanggal sejarah
awal berdirinya perusahaan vaksin dan sera di Indonesia.
Lembaga ini kemudian berubah menjadi Parc Vaccinogene Instituut Pasteur
seiring berjalannya waktu dan semakin meningkatnya kegiatan produksi, pada tahun
1895-1901. Setelah tahun 1923 lembaga ini menempati gedung di Jalan Pasteur, no. 28
Bandung, dan kembali mengubah namanya menjadi Landskoepok Inrichting en Instituut
Pastuer. Tahun 1924-1942 Landskoepok Inrichting en Instituut Pastuer dipimpin oleh L.
Otten.
Pada saat Jepang berkuasa, nama lembaga diubah menjadi Bandung Boeki
Kenkyushoo dan kegiatannya dipusatkan di Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur
Bandung yang dipimpin oleh Kikuo Kurauchi. Kegiatan lembaga ini kemudian
berpindah ke Klaten, selama Bandung diduduki Belanda, sehingga Bandung Boeki

Kenkyushoo kembali berganti nama menjadi Landskoepok Inrichting en Institutt


Pasteur. Pada periode ini lembaga dipimpin oleh R. M. Sardjito (1945-1946), dan
beliau merupakan orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga ini. Pada tahun
1950-1954, Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur di Bandung kembali menjadi tempat
berlokasinya kegiatan produksi vaksin dan sera.
Seiring dengan terjadinya nasionalisasi berbagai perusahaan Belanda,
pemerintah Indonesia pada saat itu mengubah Landskoepok Inrichting en Instituut
Pasteur menjadi Perusahaan Negara Pasteur. Melalui Peraturan Pemerintah no. 80 tahun
1961 (Lembaran Negara Tahun 1961 No. 101), Perusahaan Negara Pasteur berubah
menjadi Perusahaan Negara Bio Farma. Setelah melalui penelitian dan penilaian bentuk
badan usaha Bio Farma resmi menjadi Perusahaan Umum Bio Farma dengan Peraturan
Pemerintah RI No. 26 Than 1978. Periode itu Prof Dr Konosuke Fukai telah mengawali
upaya transfer teknologi produksi Vaksin Polio dan Campak.
Setelah hampir dua puluh tahun berstatus sebagai Perum (Perusahaan Umum),
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. I tahun 1997, perusahaan berubah menjadi
Perseroan Terbatas (PT) yang selanjutnya dikenal dengan PT Bio Farma (Persero)
sebagai Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia. Bidang usaha utama PT Bio
Farma (Persero) adalah memproduksi vaksin dan antisera yang bermutu tinggi dan
berdaya saing kuat yang didukung oleh penelitian dan pengembangan, pemasaran dan
distribusi serta usaha pelayanan jasa pemeriksaan labotarium kesehatan dan imunisasi,
sehingga mendapatkan keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan.
PT Bio Farma (Persero) menjalankan roda organisasinya di atas lahan seluasa
91.058 m2 bertempat di Jalan Pasteur No.28 Bandung untuk fasilitas produksi,
penelitian pengembangan, pemasaran dan administrasi. Kemudian, seluas 282.441 m2
yang berlokasi di Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat untuk
pengembangbiakkan dan pemeliharaan laboratorium. Sedangkan untuk mendukung
kelancaran operasional. Perusahaan juga memiliki Kantor Perwakilan yang bertempat di
Gedung Arthaloka Lt. 3 Jalan Jend. Sudirman No.2, Jakarta.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi di Bagian Produksi Hewan Donor Divisi Hewan
Laboratorium PT Bio Farma (Persero) disajikan pada Gambar 1. Kegiatan praktek
lapang bertempat pada Divisi Hewan Laboratorium dan keempat bagiannya.

Tujuan Praktik Lapang


Praktik lapang yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
mahasiswa PPDH mengenai manajemen kuda produksi, pemeliharaan hewan coba, dan
pembuatan vaksin. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu melatih calon dokter
hewan yang profesional khususnya dalam menangani kesehatan kuda dan hewan coba,
memberikan gambaran dalam manajemen pemeliharaan kuda untuk produksi serum dan
pemeliharaan hewan coba.

PELAKSANAAN KEGIATAN
Waktu dan Tempat Kegiatan
Kegiatan praktik lapang berlangsung dari tanggal 23 Mei 17 Juni 2016 di
Bagian Produksi Hewan Donor, Bagian Breeding Hewan Laboratorium, Bagian Uji
Hewan, dan Bagian Hewan SPF, Divisi Hewan Donor, PT Biofarma (Persero).
Metode Pelaksana Kegiatan
Kegiatan praktik lapang dilaksanakan di PT Biofarma (Persero) Bagian Produksi
Hewan Donor dibawah bimbingan dokter hewan Drh Bayu Sukismo dan paramedis.
Kegiatan yang diikuti sepanjang kegiatan adalah manajemen kandang kuda, imunisasi,
kesehatan kuda, dan plasmapheresis. Kegiatan dimulai dengan melakukan sanitasi
kandang yaitu membersihkan tempat pakan dan tempat minum, mengganti bedding,
memberikan pakan (pelet dan rumput) dan air minum. Setelah itu, proses produksi
serum dilakukan di bagian produksi dilanjutkan dengan proses transfusi darah kembali
ke kuda produksi. Imunisasi dilakukan sesuai jadwal yang telah dibuat sedangkan
medikasi dilakukan jika ada kuda yang sakit.
Praktik lapang Bagian Pemeliharaan Hewan Donor dibawah bimbingan Ir. Ismail.
Kegiatan yang diikuti adalah manajemen kandang mencit, sexing, perkawinan,

penyapihan, pengafkiran, penjelasan Air Handling Unit (AHU) dan pengeolaan limbah
(cair dan padat).
Di bagian uji hewan, kegiatan yang diikuti adalah uji pyrogen, penerimaan
monyet untuk prosedur neuro virulent test (NVT) dan diskusi mengenai kegiatan di unit
ini. Bagian ayam SPF, kegiatan yang diikuti adalah manajemen ayam specific pathogen
free, operasi sectio caesaria pada monyet dan nefrektomi fetus monyet.
Sarana dan Prasarana
PT Bio Farma (Persero) Cisarua, memiliki lahan seluas 12 hektar terdiri atas istal
kuda, laboratorium plasmapheresis dan kandang jepit, kandang domba, angsa, lapangan
exercise kuda, serta gudang pakan. Fasilitas lain adalah kantor, lapangan olah raga
seperti lapangan basket dan lapangan bola, masjid, pos jaga istal kuda, pos jaga satpam,
dan aula.
PT Bio Farma (Persero) yang terletak di Jalan Pasteur No. 28, memiliki prasarana
ruang karantina hewan, ruang uji hewan, laboratorium, kantor pusat, gedung
pengemasan dan pemasaran, klinik kesehatan, dan museum. Instalansi Pengolahan Air
Limbah (IPAL). Fasilitas pendukung berupa lapangan, sarana olahraga, masjid, pos
satpam, dan kantin. Kedua lokasi baik yang terletak Cisarua maupun Pasteur dilengkapi
dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan insenerator.

HASIL DAN PEMBAHASAN


MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN KUDA
Manajemen Kandang
PT Biofarma mempunyai 159 ekor kuda dengan 7 istal tetap dan 2 istal sementara.
Satu istal tetap berisi 20 pen dan istal sementara berisi 10 pen. Setiap pen berisi 1 ekor
kuda. Pen diberi bedding berupa habuk kayu agar kuda tidak kedinginan dan mencegah
perlukaan pada tubuh kuda akibat gesekan dengan alas kandang. Penggantian bedding
secara keseluruhan dilakukan seminggu sekali, namun bedding yang basah di buang
setiap hari dengan penambahan bedding sebanyak yang bedding yang terbuang. Kuda
dimandikan dan dibiarkan berjemur di bawah sinar matahari sebelum dimasukkan
kembali ke dalam pen. Lantai pen diperbuat dari semen yang miring pada bagian kiri
dan kanan. Hal ini membantu air langsung mengalir menuju selokan yang ada di depan
pen.
Setiap istal memiliki fasilitas kran air, selang air, tali tambang, alat grooming kuda
(Rose- cumb dan brush), lampu, dan alat pembersih kandang. Setiap pen dilengkapi
dengan tempat pakan, tempat minum, bedding, identitas kuda yang berisi nomor kuda,
jenis kelamin kuda, penggunaan (ATS, ADS, B, N, ABN), serta status kuda (karantina,
imunisasi, istirahat atau produksi). Istal tetap mempunyai tempat pakan dan minum
yang permanen, sedangkan di istal sementara terbuat dari drum plastik yang mudah
dibersihkan namun rawan tumpah akibat tertendang kaki kuda. Setiap pagi, tempat
pakan dan minum dibersihkan dengan air dan sisa pakan (jika ada) dan air dibuang ke
tempat khusus.
Kegiatan manajemen kandang dimulai dari pukul 07.30 sampai dengan 16.00
WIB pada hari Senin hingga Jumat. Namun pada hari Sabtu dan Minggu dimulai dari

pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Kegiatan dimulai dengan membersihkan tempat pakan
dan minum, membersihkan kotoran pada bedding, mengganti bedding yang lembap dan
basah, memberi minum secara ad libitum, memberi pakan yaitu pelet sebanyak 3.0 kg
dan rumput gajah, grooming, dan membersihkan kotoran di sekitar kandang.
Pembersihan tempat pakan dan minum harus dilakukan setiap hari untuk menjaga
kesehatan kuda.
Kuda dibiarkan bermain dan bergerak (exercise) di paddock setiap hari Senin jika
cuaca panas. Exercise dilakukan untuk menghindari kuda dari stress dan meningkatkan
kondisi otot dan stamina.
Manajemen Pakan
Pakan untuk kuda terdiri dari 2 jenis yaitu hijauan dan pelet. Hijauan yang
diberikan adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang telah dicacah
menggunakan mesin. Pelet berbentuk silinder panjang ini merupakan campuran dari
berbagai jenis bahan dan nutrisi tambahan. Kuda diberikan pelet 1 kali sehari pada pagi
hari sebanyak 3.0 kg per kuda. Pelet yang digunakan adalah HARAS .
Komposisi nutrisi dan jenis bahan di dalam pelet tersebut disajikan pada tabel 1 dan 2.
Tabel 1 Komposisi nutrisi dalam pelet
No
Bahan Pelet
1
Metabolisme Energi
2
Protein
3
Lemak
4
Abu
5
Serat Kasar
6
Kelembaban
7
Pati
8
Sodium
9
Magnesium
10
Lysin
11
Methionin + Cystin
12
Threonin
13
Kalsium
14
Phospor

Jumlah Kandungan
2.720 Kkal
16%
3%
8%
12.5%
11.5%
23%
0.5%
3g
6g
5.6 g
5.2 g
14 g
7g

Tabel 2 Jumlah kandungan vitamin dalam pelet


No

Vitamin

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Vitamin A
Vitamin D3
Vitamin E
Vitamin B1
Vitamin B2
Vitamin B6
Vitamin B12
Vitamin PP (Niasin)
Vitamin B3
Vitamin B9 (Asam Folik)

Jumlah Kandungan
11.000 IU
1.700 IU
110 IU
5.5 mg
5.5 mg
5.5 mg
0.066 mg
22 mg
11 mg
4.1 mg

11
12
13

Vitamin C
Biotin
Cholin

160 mg
4.1 mg
220 mg

Pelet diperbuat dari kernel jagung/barley, gandum, alfalfa, oat husk, sekam padi,
soy bean meal, corn gluten meal, molasses, lemak sayur, garam mineral, vitamins, dan
mannan-oligosacharides. Pakan konsentrat merupakan pakan sumber energy bagi kuda.
Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat serelia yang terdiri atas gandum,
jadung, sorgum, berbagai produk sereal dan non sereal yang terdiri atas gula bit, legume
seperti kedelai dan kacang (McBane, 1994).
Pakan utama kuda adalah rumput. Pakan rumput hanya cukup untuk kelangsungan
hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin.
Rumput untuk kuda dibiarkan sehari di gudang pakan agar lebih kering. Setelah itu,
rumput dicacah sebelum diberikan kepada kuda. Rumput diberikan bersamaan dengan
pelet dengan jumlah rumput sebanyak 30-50 kg sehari. Rumput gajah memiliki
kandungan protein kasar sebanyak 9.9%, lemak kasar 1.8%, serat kasar 31.5%, daya
cerna 46%, dan berat kering 89.9.
Performa yang dihasilkan kuda akan seiring dengan kualitas hijauan. Hijauan
berkualitas baik akan menghasilkan performa kuda yang baik pula. Hijauan yang bagus
tentunya tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai sumber protein,
vitamin, mineral dan nutrisi lainnya (Mansyur, 2006). Kuda dapat mengkonsumsi
hijauan untuk hidup pokoknya sebanyak 1,5-2% bobot badan dan konsentrat sebanyak
0,5% bobot badan (NRC, 1989).
Manajemen Perawatan Kuda
Kuda dimandikan secara teratur sekitar 1-2 minggu sekali. Kuda dimandikan di
luar istal, dibiarkan di bawah sinar matahari dan dimasukkan kembali ke pen setelah
beberapa jam. Jika kuda dipelihara tanpa bedding, kuda akan dimandikan secara teratur
2-3 hari sekali. Exercise kuda dilakukan dengan cara lepaskan kuda di lapangan
exercise secara teratur jika cuaca tidak gerimis atau hujan setiap hari senin. Kuda betina
dan jantan tidak boleh dilepaskan bersama. Hal ini untuk menghindari perkelahian
antara kuda jantan.
Grooming kuda dilakukan setelah proses sanitasi selesai dan pada waktu isirahat.
Alat yang digunakan adalah rose-cumb dan dandy brush. Rose-cumb digunakan untuk
membersihkan kerak atau rambut yang gimbal pada area badan dan leher. Dandy brush
digunakan untuk membersihkan debu dan kotoran kecil di daerah kepala dan
ekstremitas. Pemotongan kuku dilakukan pada kuku kuda yang sudah panjang, pecah
atau tebal. Kuku kuda rentan panjang atau pecah karena kuku kuda di sini tidak berikan
ladam. Hal ini karena ladam biasanya digunakan untuk kuda tunggang atau kuda pacu.
Pemotongan surai juga dilakukan dengan menggunakan gunting jika surai sudah
panjang. Hal ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi ketika produksi plasma.

MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN HEWAN UJI


Rencana Breeding

Bagian produksi bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan hewan model


untuk pengujian. Hewan model yang dikembangbiakan berupa mencit, tikus, cavia,
kelinci dan angsa. Kebutuhan hewan model setiap tahun berubah sesuai dengan jumlah
dan jenis pengujian di Bagian Hewan Uji. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan
pembiakan hewan. Pengajuan jumlah dan jenis hewan uji dikeluarkan oleh Quality
Control yang selanjutnya diajukan ke Bagian Produksi. Bagian Produksi akan
melakukan perencanaan breeding. Perencanan breeding untuk mencit sebagai berikut :
Tabel 3 Karakteristik mencit
Parameter
Litter size
Calving interval
Populasi sapihan
Strain DDY
Strain A
Strain SLC
Mortalitas
Replacement

Mencit
6-14 ekor
6 minggu
3.200 ekor/ minggu
1.100 ekor/ minggu
800 ekor/ minggu
5%
200 ekor/ minggu

Dimisalkan kebutuhan mencit strain DDY selama satu tahun 100.000 ekor, maka
jumlah indukan mencit yang harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut
adalah sebagai berikut.
Waktu pembiakan(hari)
litter ekor
Litter size/ induk/ tahun=
waktu sapihan(hari)
=

365 hari
6 ekor
42 hari

= 8.7 6
= 52,2 induk/ tahun
Litter size/ induk/ minggu

52,2
56

litter tahun
jumlah minggu dalam setahun

= 0,93
Replacement per tahun = 200 ekor 56 minggu
= 11.200 ekor/ tahun

Jumlah kematian

= mortalitas populasi sapihan jumlah minggu


= 0,05 3.200 ekor/minggu 56 minggu
= 8.960 ekor/ tahun

Kebutuhan per tahun

= kebutuhan QC + Replacement + mortalitas


= 100.000 + 11.200 + 8.960
= 120.160 ekor/ tahun

Asumsi kebutuhan per tahun = 120.160 2


= 240.320 ekor/ tahun
Jumlah sapihan per minggu
=

asumsi kebutuhan per tahun


jumlah minggu dalam setahun

240.320 ekor
56 minggu

= 4.291 ekor/ minggu


Jumlah indukan ()

=
=

jumlah sapihan(ekor /minggu)


litter minggu

4.291 ekor /minggu


0.93

= 4.613 ekor betina


Jumlah indukan betina yang dibutuhkan untuk mengcukupi kebutuhan mencit
DDY sebanyak 100.000 ekor/ tahun adalah 4.613 ekor. Perkembangbiakan mencit
menggunakan sistem poligami dengan perbandingan betina dan jantan 4:1 sehingga
dibutuhkan mencit jantan sebanyak 1.153 ekor.
Pemeliharaan
Fasilitas, peralatan dan prosedur yang berlaku haruslah didesaign, dipilih dan
dikembangkan untuk mengurangi potensi terjadinya kecelakaan fisik atau resiko
kesehatan (NIOSH 1997). Selama di Biofarma, kegiatan dilakukan di bagian
pengembangbiakan mencit sedangkan hewan lab lain tidak dilakukan observasi. Pada
bagian pengembangbiakan mencit sebagai hewan model, terdapat 6 ruangan yang berisi
kandang. Enam ruangan terdiri dari 1 ruangan untuk mencit sapihan dan Balb-c, 3
ruangan untuk mencit strain DDY, 1 ruangan untuk mencit strain A dan 1 ruangan
untuk mencit strain SLC. Dalam satu ruangan terdiri dari 12 rak yang tersusun atas 4
tingkat dengan 14 cage tiap tingkatnya. Sebelas rak berisi kandang breeding dan 1 rak
berisi kandang calon indukan. Kandang mencit berisi 1 jantan dan 3 betina.

Tabel 4 Kondisi kandang pada hewan model di Biofarma


Jenis
hewan
Mencit
Cavia
Kelinci

Ukuran
ruangan
(Meter)
7x5x4
7x5x4
-

Suhu
(Oc)

Kelembapan
(%)

Pencahayaan
(Lux)

18-25
18-25
18-25

45-80
45-80
45-80

300
300
300

Ukuran
Kandang
(cm)
30x20x10
60x40x40
60x40x40

Populasi
Perkandang
4
5
1

Menurut Victoria codes of practice for animal welfare, ukuran kandang untuk
seekor mencit 200cm2 sedangkan untuk mencit <30 ekor, ukuran kandang sekitar
60cm2/ ekor. Di Biofarma, tiap kandang berisi 4 ekor mencit sehingga minimal luas
kandang berukuran 240cm2. Faktanya, kandang mencit berukuran 600cm2 sehingga
membuat mencit leluasa untuk bergerak. Namun, saat anak mencit mengalami masa
penyapihan hingga 2 minggu, induk mencit dengan yang lain tidak dipisah sehingga
berkumpul antar induk mencit, anak mencit dan 3 mencit dewasa lainnya.
Lingkungan mikro dan makro merupakan keadaan lingkungan fisik yang dapat
mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan hewan. Kondisi lingkungan mikro bisa
langsung mempengaruhi proses fisiologis dan perilaku serta kerentanan terhadap
penyakit. Lingkungan mikro meliputi pencahayaan, kebisingan, getaran, suhu,
kelembaban, dan gas dan partikulat komposisi udara di kandang utama. Sedangkan
lingkungan kandang sekunder, seperti ruang, gudang, atau diluar habitatnya merupakan
lingkungan makro.
Suhu dan kelembapan perlu diperhatikan agar sesuai dengan spesies sehingga
dapat meminimalisir stress dan perubahan fisiologisnya. Kandang mencit di Biofarma
memiliki suhu 18-25oC dengan kelembapan 45-80%. Keadaan sesuai dengan literature
yang menyebutkan bahwa suhu ruang untuk mencit berkisar 18-24oC (National
Research Council 2010) dan kelembapan termasuk lebih tinggi dari literature yaitu 4070%.
Keadaan suhu yang lebih tinggi dari suhu yang seharusnya dapat menyebabkan
heat stress begitu pula sebaliknya. Keadaan suhu perlu dipantau sehingga diharuskan
untuk dilakukan alat monitoring di ruangan. Tidak cukup dengan hal tersebut,
monitoring diletakkan juga di bagian sekitar rak karena terkadang suhu kandang dapat
lebih tinggi 5oC dari suhu ruangan (Victoria Agriculture 2015). Pada tikus atau mencit
apabila kelembaban relatif rendah, terutama di kombinasi dengan suhu ekstrim, dapat
menyebabkan Ringtail yaitu kondisi melibatkan nekrosis iskemik ekor dan kadangkadang jari kaki (Crippa et al 2000). Untuk beberapa spesies, kelembaban relatif tinggi
bisa mempengaruhi kemampuan hewan untuk mengatasi ekstrem panas. Tinggi
kelembaban relatif lingkungan mikro juga dapat menyebabkan tingginya kadar
konsentrasi amonia intra-kandang (Hasenau et al.1993), yang dapat mengiritasi saluran
hidung dan mengubah beberapa respon biologis (Manninen et al. 1998).
Mencit merupakan hewan nocturnal sehingga pencahayaan yang sedikit temaram
diperlukan untuk menjaga mata mereka (Victoria Agriculture 2015). Pencahayaan dapat
mempengaruhi morfologi, fisiologi serta perilaku hewan (Azar et al. 2008). Pencahayan

kandang mencit di Biofarma yang mencapai 300 lux dengan lama 12 jam setiap harinya,
masih berada dalam standar yang ada berdasarkan Victoria codes of practice for animal
welfare yaitu tidak lebih dari 350 lux. Intensitas cahaya dapat mempengaruhi agresivitas
dan kejadian kanibalisme pada hewan pengerat. Periode gelap terang haruslah dilakukan
setiap hari. Dalam kondisi pencahayaan normal (lebih dari 60lux) terkadang dapat
menyebabkan kebutaan dengan paparan cahaya di atas 100lux selama lebih dari 16 jam
setiap hari (Victoria Agriculture 2015).
Dalam sistem udara dalam ruangan kandang di Biofarma tersedia air
conditioning, terdapat alat yang digunakan sebagai filter udara dengan 2 kali filtrasi
untuk menjamin kualitas udara yang masuk kedalam ruangan. Pembersihan filter udara
dilakukan setiap seminggu sekali. Konsentrasi rata-rata amonia di kamar hewan tidak
boleh melebihi 25 ppm lebih 8 jam sehari, yang juga merupakan batas atas bagi
kesehatan pekerjaan manusia. Konsentrasi rata-rata amonia dalam unit terkecil
perumahan hewan tidak boleh melebihi 25ppm sehingga sirkulasi sistem ventilasi harus
selalu diperhatikan (Victoria Agriculture 2015).
Manajemen Pakan
Pemberian pakan pada mencit secara ad libitum sekitar 8-15 gram/ekor/hari.
Pakan yang dibutuhkan untuk jumlah populasi mencit/ruangan dapat dihitung. Dalam
satu ruangan terdapat 11 rak dengan masing-masing rak berisi 56 cage. Setiap cage
berisi 4 ekor mencit (anakan tidak termasuk), jadi:

Kebutuhan pakan = (cage x ekor x rak) x kebutuhan pakan


= (56 x 4 x 11) x 12 gr
= 2464 x 12
= 29568 gr/hari/ruangan

Tabel 5 Komposisi pakan mencit di PT. Biofarma


Zat Makanan
Air
Protein
Lemak
Serat Kasar
Calcium
Phosphorus

Kandungan (%)
12 %
20 %
4%
4%
1,2 %
0,7 %

Pakan dengan kualitas bagus akan mempercepat peningkatan bobot badan mencit
agar mencapai spesifikasi. Air minum mencit berasal dari air yang telah difilter
menggunakan water purifier. Water purifier bekerja dengan sistem dua kali penyaringan
yang memiliki diameter masing-masing 0,3 mm dan 0,6 mm. Pengolahan air menjadi
siap minum dibantu dengan sinar UV dan ozon untuk membantu membunuh
mikrooraganisme yang dapat menimbulkan penyakit. Pemberian air minum mencit
sebanyak 250 ml/cage biasanya untuk 2 hari.

Strain mencit yang terdapat di PT. Biofarma ada 4 jenis strain, yaitu strain A,
strain ddY, strain SLC, dan strain Balb/C. Dilihat dari fisik mencit, tidak ada perbedaan
diantara 4 strain. Warna rambut putih dengan mata merah. Terdapat 5 ruangan breeding
dan 1 ruang sapihan dengan pembagian, 3 ruang untuk breeding mencit strain ddY, 2
ruang untuk strain A dan SLC, sedangkan ruang sapihan berikut ruang untuk strain
Balb/C.

B
B
AA
C
B
Gambar Denah ruang mencit berdasarkan strain: A) Balb/c; B) ddY; C) A; D) SLC
D

Mencit strain ddY berasal dari singkatan Deutschland (Jerman), Denken, dan
Yoken. Strain ini menunjukkan reproduksi yang baik dan pertumbuhan yang cepat. Di
Jepang, strain ini digunakan untuk pengujian efikasi obat dan penelitian seperti
farmakologi, farmakokinetik, dan toksikologi. Mencit strain Balb/c memiliki
karakteristik mudah untuk dikembangbiakan dam termasuk strain inbred
immunodefisiensi. Mencit Balb/c sangat bermanfaat untuk penelitian terapi kanker dan
imunologi. Mencit strain SLC seperti halnya dengan strain yang lain biasa digunakan
untuk studi terkait sel T, sel B, dan kemokin dalam perkembangan diabetes.
Sexing dan Handling
Mencit sangat sensitif terhadap sentuhan, apabila terlalu kuat menyentuh atau
handling dengan cara yang salah, mencit akan menggigit dan dapat menyebabkan
pekerja kandang tertular penyakit. Handling mencit yang baik dan benar sangat
diterapkan di kandang yaitu dilakukan dengan cara memegang ekornya secara kuat
namun lembut. Handling dilakukan bertujuan untuk tujuan penyuntikan obat dan proses
penyapihan. Pada proses penyapihan. Handling yang baik namun cepat dilakukan
karena jumlah mencit yang banyak dibutuhkan dan harus dikirim ke Pasteur selewat
lewatnya pada siang hari. Sexing dilakukan pada saat penyapihan dengan cara handling.
Mencit jantan dan betina dibedakan dari jarak antar anus dan alat kelamin (jantan lebih
lebar) dan memiliki testis.
Menurut McGill 2009 , jantan dan betina dapat dibedakan dengan jarak kelamin
dengan anus. Jarak antara anus dan alat kelamin jantan lebih jauh berbanding betina.
Testis jantan biasanya akan tertarik ke dalam abdomen apabila tidak dipegang dengan
cara benar. Untuk memudahkan dalam sexing, kepala mencit harus dalam keadaan tegak
lurus agar testis keluar. Mencit yang diseleksi pada proses penyapihan berumur sekitar 3
minggu dengan berat 12-18 gram/ekor sesuai dengan kebutuhan Biofarma Pasteur.
Mencit juga diseleksi sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan seperti tidak sakit, cacat ,
tidak memiliki penyakit serta rambut yang bersih dan tidak kusam.
Desinfektan
Desinfektan yang digunakan pada saat membersihkan lantai di setiap ruangan
kandang mencit yaitu Biocid-30, Bromoquad-10, Tinosuid. Penggunaan desinfektan
yang berbeda dikarenakan untuk meghindari bakteri dan virus resisten terhadap

desinfektan. Penggunaan desinfektan bergantian selang 4 bulan sekali . Penggunaan


Baygon dan lem tikus juga di sediakan di ruangan mencit untuk ektoparasit dan
rodensia seperti kecoa, serangga dan tikus. Setiap seminggu sekali kaca di ruangan
mencit di bersihkan dan untuk rawa-rawa dan dinding dilakukan 1 bulan sekali. Alat
pelindung diri (APD) diwajibkan bagi pekerja kandang yang ditugaskan membersihkan
kandang mencit yang disediakan khusus di ruangan washing. Alat pelindung diri yang
digunakan adalah masker full face respirator, sepatu, sarung tangan, earmuff dan
Ramarat sesuai dengan SOP. Kandang dibersihkan menggunakan washing hydrojet
untuk memudahkan lagi proses pembersihan. Untuk pencucian botol dilakukan di
ruangan mencit oleh pekerja kandang yang bertanggungjawab di atas ruangan tersebut.
Botol minum di cuci dan disikat setaip kali botol air habis dan di keringkan.
Ekspedisi
Ekspedisi merupakan proses penghantaran mencit yang telah disapih yang
memenuhi syarat dan permintaan perusahaan. Ekspedisi dan jumlah mencit yang
dibutuhkan di Biofarma Cisarua tergantung permintaan dari QC (Quality Control)
Biofarma Pasteur. Bagian QC Biofarma Cisarua membuat permintaan menggunakan
surat bertulis kepada kepala bagian produksi di Biofarma Cisarua. Kemudian kepala
bagian produksi di Cisarua akan menyerahkan surat tersebut kepada pemeliharaan
hewan model dan menyiapkan mencit sesuai dengan dengan kebutuhan dan persyaratan
yang telah ditetapkan dari bagian QC biofarma. Kemudian, dilakukan penimbangan
sesuai bobot badan sesuai permintaan. Biasanya mencit yang diminta berumur sekitar 3
minggu dengan bobot badan sekitar 12-18 gram/ekor. Setelah ditimbang mencit
dilakukan pengecekan kesehatan oleh dokter hewan yang berwenang dan didata di
formulir animal health check serta ditandatangani. Mencit yang sudah ditimbang dan
dilakukan pengecekan kemudian di masukkan di dalam kandang yang telah disiapkan
dan dimasukkan ke dalam truk penghantaran. Menurut Marquette University (2012)
kandang dan truk harus memenuhi standar minimal ukuran, ventilasi, kekuatan
kandang, sanitasi dan desain berbasis safe handling. Dalam penghantaran mencit harus
diminimalisir waktu penghantaran dan risiko zoonosis, terkindungi dari cuaca extreme,
tersedia pakan dan minum, terlindungi dari trauma fisik dan postpone penghantaran
apabila suhu kurang dari 450 F atau lebih 850 F Marquette University (2012). Truk
penghantarann mencit di Biofarma Cisarua memiliki pengaturan suhu, rak kandang,
ventilasi menggunakan blower atau pengaturan udara serta memeperhatikan risiko
penghantaran dan estimasi waktu. Dokumen-dokumen lengkap yaitu surat permintaan
QC Pasteur, bon permintaan hewan Biofarma Cisarua, dokumen pengecekan kesehatan
hewan dan dokumen jumlah hewan dan bobot badan hewan yang telah di print out pada
tiap mencit harus dibawa ketika melakukan penghantaran di Biofarma Pasteur. Biasanya
ekspedisi dilakukan dalam 2 minggu sekali yaitu pada hari selasa dan jumat.
Karantina
Karantina hewan uji dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular ke
manusia atau hewan lain yang mungkin terbawa hewan. Selain itu juga sebagai proses
conditioning atau mengurai stress karena perjalanan. Hewan uji dalam hal ini adalah
mencit, cavia dan kelinci. Selama masa karantina, dokter hewan bertugas dalam
menentukan diagnosis klinis dan/atau peneguhan diagnosis hewan uji.
Perlakukan hewan uji selama masa karantina sama dengan di bagian breeding
yaitu penimbangan bobot badan dan pemeriksaan klinis. Hewan yang dinyatakan lulus

karantina yaitu yang memenuhi syarat sebagai hewan uji untuk eksperimen, tidak
mengalami stress yang ditunjukkan dengan bobot badan yang cenderung naik dan
presentasi kelulusan karantina lebih besar dari tahun lalu. Bila presentase kelulusan
tidak memenuhi, maka dilakukan perpanjangan masa karantina maksimal 1 kali masa.
Hewan uji yang tidak lulus karantina selanjutnya akan diafkir. Sedangkan hewan uji
yang telah lulus karantina, dibawa ke bagian pengguna untuk dilakukan randomisasi

VAKSIN
Proses penelitan dan pengembangan vaksin memakan waktu cukup lama, vaksin
diperuntukkan bagi individu yang sehat sebagai tindakan pencegahan. Pemberian vaksin
dapat melindungi individu maupun kelompok masyarakat dari penyakit menular,
sehingga tidak hanya orang-orang yang telah menerima imunisasi, namun juga
melindungi siapapun yang berada di lingkungannya (herd immunity). Sesuai
rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa vaksin merupakan bentuk
pencegahan yang paling efektif saat ini dalam memberantas berbagai penyakit
berbahaya dan menular. Bio Farma saat ini terus melakukan inovasi, kerja, sama riset
dan pengembangan produk baru dengan lembaga serta universitas nasional maupun
global. Sejak tahun 2011 Bio Farma menjadi penggagas pembentukan Forum Riset
Vaksin Nasional (FRVN) yang bertujuan untuk kemandirian vaksin.
ANTI TETANUS SERUM (ATS) DAN ANTI DIFTERI SERUM (ADS)
Toksin tetanus menyebabkan tetanus atau lockjaw yang dihasilkan oleh
Clostridiium tetanii menyerang sistem saraf pusat. Tetanus ditularkan melalui luka
terbuka, gigitan serangga, infeksi serangga, infeksi gigi dan telinga, bekas suntikan dan
pemotongan tali pusar meskipun kuman tetanus merupakan flora normal usus kuda,
sapi, babi,domba, anjing, kucing, tikus, ayan, dan manusia. Toxin dapat beredar bebas
dalam darah dan juga tergabung dengan jaringan saraf yang tak bisa dinetralisir oleh
anti toxin. Anti Tetanus Serum (ATS) dapat digunakan sebagai pengobatan dan tindakan
pencegahan berupa vaksinasi atau imunisasi. Dosis ATS sebagai pengobatan menurut
Behrman dan Grossman (1987) adalah 50.000-100.00 IU yang terbagi dalam dosis
intravena yang dilarutkan dalam 100-200 cc glukosa 5% diberikan 1-2 jam dan dosis
itramuskular bersama antikonvulsan dan sedativa serta antibiotika. Tindakan imunissi
pasif sebagai upaya pencegahan penyakit diberikan dosis ATS dari serum kuda 15003000 IU ataupun 3000-5000 IU untuk dewasa dan dosis untuk anak-anak secara
intravena dengan didahului tes kulit dan mata khususnya pada anak-anak ataupun
seseorang yang mempunyai riwayat hipersensitivitas. Pemberian imunisasi pasif
tergantung dari sifat luka, kondisi penderita, dan status imunisasi.Pasien yang belum
pernah mendapat imunisasi aktif maupun pasif, merupakan keharusan untuk
diimunisasi.

Difteri adalah penyakit bakteri akut menyerang tosil, faring,laring, hidung, ada
kalanya menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva dan atau
vagina. Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae (Freedlund et al.
2011). Pencegahan dilakukan dengan imunisasi pasif Anti Difteri Serum (ADS) wajib
pada bayi dan awal masa anak-anak sebagai faktor yang sangat penting untuk
kesehatan. Status imunisasi merupakan faktor risiko dominan terjadinya difteri. Booster
dilakukan tiap 10 tahun. Penangan pasca infeksi perlu isolasi khusunya menghindari
kontak difteri kulit dan ekresi difteri faringeal dan disegerakan memberi anti toksin
yang apabila ditunda hingga hari ke enam akan memunculkan kematian hingga 30%.
Dosis ADS untuk difteri hidung adalah 20.000 IU intramuskular, difteri tonsil, faring,
laryng 40.000 IU intramuskular atau intravena, kombinasi ketiganya 80.000 IU
intravena , komplikasi 10.000 IU.
Immunisasi pada kuda
Hiperimunisasi adalah kehadiran/pemasukan antigen tertentu yang lebih besar dari
normal jumlah untuk menghasilkan respon antibody yang tahan lama dan tinggi. Hal ini
menciptakan keadaan kekebalan yang lebih besar dari normal. Dengan melakukan
hiperimmunisasi pada hewan donor diharapkan hewan donor mampu menghasilkan
antibody spesifik dengan titer yang tinggi.
Hewan donor yang biasanya digunakan untuk produksi antisera adalah kuda dan
domba. Dipilihnya kuda sebagai hewan donor dikarenakan volume darah yang
dihasilkan besar, sehingga mampu memproduksi plasma dalam jumlah yang banyak.
Kuda yang dipilih sebagai hewan donor adalah kuda yang telah mengalami karantina
selama 6-12 minggu dan bebas dari penyakit-penyakit tertentu. WHO
merekomendasikan bahwa kuda produksi hendaknya bebas dari rabies, equine
influenza, brucellosis, glanders, African horse sickness dan equine encephalitis.
Sedangkan di Indonesia sendiri, kuda produksi harus bebas dari penyakit Equine anemia
virus, strangles, surra dan piroplasmosis. Selain itu kuda yang diigunakan harus
dilakukan pengecekan kesehatan rutin dan pemberian obat cacing secara berkala. Kuda
produksi sebelum dilakukan immunisasi harus dalam kondisi sehat.
Immunisasi pada kuda dilakukan pada 2 tahap, yaitu immunisasi pertama
(priming) dan immunisasi lanjutan (booster). Waktu dan dosis dari priming maupun
booster bergantung pada jenis immunogen yang akan disuntikkan. Kuda yang telah
diinjeksikan immunogen tertentu diharapkan mampu membentuk antibody yang
spesifik dan memiliki nilai titer yang tinggi. Antibody terbentuk karena adanya respon
dari tubuh terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Saat immunogen pertama
kali diinjeksi ke dalam tubuh maka akan ada reaksi dari Sel B dan Sel T. Sel B
membbentuk immunitas humoral yaitu immunitas dengan cara membentuk antibody di
darah dan limfa.
Sel B juga berfungsi untuk mengenali secara spesifik antigen dan membentuk
kekebalan terhadap bakteri dan virus. Sel B juga mampu membentuk sel pengingat
(Memory cell) untuk membentuk kekebalan jangka panjang. Sel limfosit yang
bersangkutan kemudian memperbanyak diri dan berkembang menjadi sel plasma yang
menghasilkan antibodi. Dalam hal ini antibodi yang terbentuk merupakan antibodi
poliklonal dengan komposisi bervariasi dalam serum, baik sebagai akibat imunisasi

berulang, maupun akibat variasi yang terjadi selama reaksi kekebalan (Mulyanto 1994).
Antibodi yang ada dalam serum ini kemudian dipanen pada proses plasmapiresis.

Plasmapheresis
Pembuatan ATS/ADS dimulai dengan proses plasmapheresis. Plasmapheresis
adalah teknik pengambilan darah, pemisahan/ separasi darah dan plasma (yang tidak
berisi antibodi poliklonal), rekonstitusi sel-sel darah sampai pengembalian darah
(transfusi) ke hewan donor. Plasmapheresis dimulai dari pemeriksaan klinis dan aftaaf/
bleeding kuda donor. Setelah pemeriksaan klinis untuk memastikan kuda donor sehat
maka dilakuakan pemeriksaan nilai titer apakah mencapai nilai ambang batas titer yang
dikehendaki dan panen darah (aftaaf) dapat dilakukan. Plasmapheresis akan dibatalkan
bila kuda donor tidak sehat meskipun nilai titer mencapai batas nilai ambang.
Kuda yang telah diambil darahnya, diinjeksi dengan vitamin B kompleks dan
vitamin B12 dengan jenis, dosis, rute sesuai rekomendasi. Vitamin B kompleks
merupakan vitamin yang dapat memecah gula menjadi energi sehingga dapat
mengembalikan kesegaran otot. Vitamin ini berperan dalam pembentukan sel darah
merah yang terdiri vitamin B1, B2,B3,B5,B6, dan B12 (Enny S 2009). Dosis vitamin
yang diberikan pada kuda dewasa 0.5 ml/ 20 kg BB dengan rute intramuscular
( Pemberian obat hewan lainnya harus sesuai dengan rekomendasi dokter hewan yang
bertugas / kepala bagian).
Tahap selanjutnya dari plasmapheresis adalah separasi dan preservasi plasma.
Setelah darah dan plasma dipisahkan baik dengan bantuan sentrifuse atau didiamkan
saja, Plasma disimpan dalam refrigator dengan suhu simpan 5+/-30C hingga diekspedisi
untuk pemurnian. Darah yang dikoleksi adalah 13-15 mL/ kg BB dengan syarat
ditaransfusikan kembali. Jumlah darah maksimal yang bisa diambil dari kuda tanpa
diretransfusi adalah 1-2 mL/ 20 kg BB. Setelah produksi plasma selesai selanjutnya
adalah pengamatan reaksi post plasmapheresis. Tujuan pengamatan adalah untuk
melihat adanya indikasi anemia maupun gangguan kesehatan lainnya, jika tidak ada
indikasi anemia dan kuda dinyatakan sehat maka darah kuda bisa diambil lagi setelah
ditransfusikan.
Sore harinya dilakukan rekonstitusi darah dengan NaCl steril yang dihangatkan
di suhu 360 di water bath. Volume NaCl yang ditambahkan adalah 1,5L atau setengah
dari total volume darah yang dikumpulkan. Darah yang ditransfusikan di tempatkan di
mesin shaker berkecepatan 100 rpm untuk homogenisasi benda darah dan NaCl.
Maksimal aftaaf kuda adalah 3xseminggu dan diistiharatkan selama 3-8 minggu untuk
melangsungkan fungsi fisiologis tubuh. Apabila selama post plasmapheresis ditemukan
adanya medikasi dengan antibiotika maka untuk aftaaf selanjutnya harus
memperhitungkan withdrawl time obat tersebut.
Plasma yang memiliki titer 500 lf untuk produksi ATS dan 350 lf untuk ADS
selanjutnya dibawa ke bagian produksi di Pasteur. Dalam proses produksi yang
menghasilkan toksoid tetanus murni, maka dilakukan uji potensi dan uji safety
(pirogen). Uji potensi dilakukan terhadap produk in-porses, final bulk ATS/ADS dan
produk akhir yang mengandung ATS/ADS. Uji potensi dilakukan dengan menghitung
nilai potensinya bahan uji terhadap nilai potensi pembanding/ standar anti tetanus serum
yang telah dikalibrasi dalam internasional unit.

Sedangkan uji pirogen utk mengetahui bilamana kandungan agen pirogenik di


dalam suatu sediaan injeksi, tidak ada atau ada dan masih dapat ditoleransi. Ada dan
tidak dapat ditoleransi sehingga dapat dinyatakn lulus uji atau tidak. Uji pirogen
dilakukan pada sampel bahan baku tertentu, bulk, bulk akhir dan produk akhir obat
injeksi yaitu vaksin virus (vaksin hepatitis B), antisera (ATS, ADS, ARS, SABU).
Pirogen adalah suatu agen biokimiawi endogen dan /atau eksogen yang dapat
menimbulkan reaksi demam pada hewan hewan dan/atau manusia.
Uji potensi ATS
Anti tetanus serum/ ATS/ Serum Anti tetanus adalah sediaan yang mengandung
globulin antitoksin yang memiliki kemampuan spesifik menetralisasi toksin yang
dibentuk oleh Clostridium tetani. Hewan uji yang digunakan dalam uji potensi ATS
adalah 60 mencit strain DDY, dengan bobot badan 15-17 gram pada saat penyuntikan.
Syarat kelinci yang diperbolehkan untuk uji potensi adalah kelinci harus sehat, belum
pernah digunakan untuk uji sebelumnya dan lulus masa karantina. Uji potensi
dilakukan dengan menyuntikkan antitoksin uji-toksin enceran pada mencit serta
antitoksin standar-toksin enceran pada mencit. Kemudian diobservasi selama 5 hari dan
dihitung jumlah mencit yang hidup pada tiap seri pengencerannya. Nilai potensi ATS
dihitung dengan menggunakan metode probit analisis Spearman & Karber berdasarkan
jumlah mencit yang masih hidup pada akhir observasi. Hasil uji dinyatakan valid
apabila ED50 baku pembanding dan sampel uji terletak pada rentang dosis terendah dan
tertinggi, alat yang digunakan terkalibrasi serta reagen yang digunakan tidak kadaluarsa
Uji potensi ADS
Anti-Difteria Serum /ADS/ Serum Anti-Difteri adalah sediaan yang mengandung
globulin antitoksin yang memiliki kemampuan spesifik menetralisasi toksin yang
dibentuk oleh Corynebacterium diphtheria. Sediaan ini diperoleh dengan fraksional
serum kuda, atau mamalia lainnya, yang telah diimunisasi dengan toksoid difteri. Uji
potensi ADS dilakukan dengan menggunakan hewan uji marmut Strain (Dunkin)
-Hartley Albino sebanyak 30 ekor dengan berat badan 250- 350 gram pada saat
penyuntikan. Syarat hewan uji yang digunakan harus sehat, belum pernah digunakan
untuk uji sebelumnya dan lulus masa karantina. Pengujian dilakukan dengan
menyuntikkan antitoksin uji-toksin pada marmot. Kemudian diobservasi selama 5 hari
dan dihitung jumlah marmut yang hidup pada tiap seri pengencerannya. Final bulk dan
produk akhir serum anti difteri dinyataan memenuhi spesifikasi jika nilai potensi tidak
kurang dari 90% dari yang tertera pada label, bulk murni serum anti difteri memenuhi
spesifikasi jika nilai potensi tidak kurang dari 1250 IU/ml.
Pengolahan limbah
Limbah sebagai sisa suatu usaha atau kegiatan yang perlu diolah agar kualitas
lingkungan tetap terjaga. Limbah hasil pembuatan vaksin ATS dan ADS dapat berupa
padatan maupun cairan. Prinsip pengelolaan limbah adalah pengendalian pencemaran
melalui metode 4R yaitu pengurangan sumber (reduce), penggulangan ulang (reduce),
daur ulang (recycle), dan perolehan kembali (recovery). Limbah padat didapat dari
bedding yang tercampur pakan, feses, urin, maupun vaksin saat pengujian validitas dan
keamanan serta kadaver kuda sebagai asal pembuatan vaksin ATS/ADS yang mati
ataupun kelinci, marmut, mencit yang di euthanasia setelah diuji validitasnya.

Prosedur pengelolaan limbah adalah semua sisa padatan dan kadaver


dikumpulkan terpisah ke dalam trash bag, diikat kencang di tiap ujungnya lalu, dari
ruang ke koridor kotor lalu di transfer ke Pass Room memakai trolley. Daerah asal
limbah, sekitar koridor kotor Pass Room, Pass Box, serta kantong plastik didesinfeksi
agar menghilangkan kontaminasi saat lalu lalang personil maupun peralatan. Limbah
yang terkumpul diserahkan ke petugas incenerator untuk diinsenerasi pada suhu primer
4000C, dan 2 pemanas sekunder bersuhu 9000C. Maksimal limbah yang diinsenerasikan
dala 1 x pembakaran adalah 250 kg. Pengelolaan limbah padat yang lainnya adalah
dengan penguburan dan penambahan zat kimia tertentu yang akan menghasilkan pupuk
kompos.Limbah padat tersebut biasanya berasal dari feses kuda.
Selain limbah padat juga terdapat limbah cair yang harus dikelola dengan
memperhitungkan aspek mutu lingkungan dan dipastikan tidak akan membahayakan
manusia dan tidak mencemari (merusak) lingkungan. Limbah cair tersebut dapat berasal
kuda berupa darah sebagai bahan baku produksi vaksin ATS/ADS, bekas minum,
maupun air bekas pencucian peralatan/ kandnag yang akan dikelola dengan sistem filter
bertingkat sebagai screening awal. Setelah hasil filter didapatkan selanjutnya dengan
pompa air dialirkan menuju killing tank (maksimal 3000 L). Hasil akhir 75-80% atau
sekitar 2500 L didesinfeksi/ sterilisasi dan setelah mendingin (30C) cairan limbah di
transfer ke pipa IPAL. Cairan hasil pengolahan IPAL ini selanjutnya aman dipergunakan
untuk kebutuhan manajemen pemeliharaan hewan donor maupun hewan uji.
SERUM ANTI BISA ULAR
Anti bisa atau immunoglobulin anti bisa ular adalah satu-satunya produk terapi
untuk penanganan bisa ular. Tidak tersedianya anti bisa yang efektif untuk menangani
tipe spesifik menjadi isu kritis di dunia. Tahap produksi yang kompleks terutama
persiapan bisa ular untuk memproduksi plasma hiperimun yang menjadi sumber
immunoglobulin anti bisa, penurunan jumlah produsen serta sulitnya memproduksi anti
bisa di negara-negara berkembang merupakan beberapa kendala produksi anti bisa
yang efektif untuk negara Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Selatan.
Prasyarat untuk memproduksi anti bisa yang efektif adalah mempunyai tipe
venom yang tepat untuk digunakan sebagai immunogens di dalam proses produksi.
Kapasiti untuk menyediakan venom yang berkualitas tinggi adalah kunci peningkatan
produksi, keamanan dan tahap efektif anti bisa yang dihasilkan. Tetapi, karena
komposisi venom yang bervariasi, produksi venom yang memadai tidak cukup, dan ini
mempengaruhi kualitas venom tersebut.
Anti bisa adalah fraksi immunoglobulin yang telah dimurnikan atau fraksi
immunoglobulin dari plasma hewan yang telah diimunisasi dengan bisa ular atau
campuran bisa ular. Metode pemurnian dilakukan untuk mengurangi frekuensi reaksi
anti bisa dengan menghilangkan fragment Fc dari IgG. Hal ini berfungsi untuk
menghindari aktivasi komplemen dan menurunkan intensiti formasi imun-komplek
akibat reaksi anti bisa. Selama 6-70 tahun, immunoglobulin fragment F (ab)2
digunakan secara meluas. Namun, puncak utama terjadinya reaksi anti bisa bukanlah
aktivasi Fc-mediated komplemen, melainkan aggregasi protein anti bisa.
Keamanan dari anti bisa tidak hanya dipengaruhi oleh tipe molekulnya, namun
dipengaruhi juga pada karakteristik fisiokimia anti bisa itu sendiri. Kedua hal tersebut
perlu diperhatikan dalam produksi anti bisa dalam menyediakan batas keamanan dengan

resiko transmisi zoonosis. Anti bisa yang dihasilkan tergantung kepada daerah
geografis, teritori atau negara. Venom yang dimasukkan ke venom pool dan digunakan
pada immunisasi hewan seharusnya dipilih berdasarkan daerah geografis di mana anti
bisa itu akan didistribusikan.
Anti bisa ular yang dihasilkan oleh PT Bio Farma adalah anti bisa polispesifik.
Anti bisa polispesifik dihasilkan melalui imunisasi menggunakan campuran venom dari
berbagai spesies ular. Venom yang diinjeksikan merupakan sejumlah anti bisa yang
telah dimurnikan sebelum formulasi yang telah dicampur dengan plasma hiperimun
untuk fractionation. Anti bisa tersebut akan mengandung antibodi terhadap komponen
venom dari berbagai spesies ular. Apabila anti bisa polispesifik dihasilkan dengan cara
ini, maka titer antibodi yang terbentuk mungkin lebih tinggi dari anti bisa monospesifik.
Preparasi dan Penyimpanan Bisa Ular
Preparasi anti bisa ular dilakukan pada hewan yang memiliki imunitas baik. Untuk
memastikan anti bisa ular mempunyai kualitas yang baik, preparasi anti bisa ini harus
mengikuti peraturan dan rekomendasi dari pihak WHO. Venom yang digunakan dalam
produksi anti bisa seharusnya dapat mewakili hampir semua jenis ular di daerah anti
bisa itu akan didistribusikan.
Ular yang akan digunakan sebagai hewan donor bisa harus diaklimatisasi
sekurang-kurangnya dua bulan di dalam ruangan karantina. Ular tersebut akan diperiksa
oleh dokter hewan atau seorang yang ahli untuk deteksi ektoparasit dan pentastomid.
Keduanya harus dieliminasi menggunakan obat antiparasit berspektrum luas. Ular yang
sakit harus dirawat dan diperpanjang waktu karantinanya setelah ular tersebut sembuh.
Ular sakit yang ditemukan di dalam ruang produksi boleh dirawat ditempat tetapi
tidak boleh diambil bisanya untuk produksi bisa. Jika dilakukan pengobatan
menggunakan antibiotik, ular tersebut tidak boleh dijadikan hewan produksi selama 4
minggu setelah sembuh. Ular yang ditempatkan di dalam ruangan yang mempunyai
kondisi yang bagus akan hidup dalam waktu 10 tahun atau lebih. Bisa ular diperoleh
dengan metode milking dan disimpan di dalam tempat khas dengan suhu -20 atau
lebih rendah dalam 1 jam. Venom tersebut kemudian dilakukan uji potensi venom
sebelum digunakan sebagai bahan pembuatan SABU.
Proses Pembuatan SABU
Proses pembuatan serum anti bisa ular tidak jauh berbeda dengan pembuatan
vaksin anti tetanus serum dan anti difteri serum. Pembuatan SABU menggunakan
hewan donor berupa kuda dengan cara plasmapheresis. Perbedaan antara pembuatan
SABU dan ATS/ADS adalah pada proses imunisasi. Kuda donor untuk SABU dapat
diproduksi jika telah diimunisasi hingga tahapan booster. Sedangkan pada pembuatan
ATS dan ADS, kuda dapat diproduksi setelah priming kedua jika titer antibodi kuda
telah mencapai batas yang ditentukan.
Uji potensi SABU
Hewan uji yang digunakan dalam uji potensi SABU adalah mencit strain A,
dengan bobot badan 15-17 gram pada saat penyuntikan. Syarat mencit yang
diperbolehkan untuk uji potensi adalah mencit harus sehat, belum pernah digunakan
untuk uji sebelumnya dan lulus masa karantina. Uji potensi dilakukan dengan
menyuntikkan bahan uji yang mengandung serum anti bisa ular ABN baik monovalen
dan polivalen berupa sampel darah, plasma, serum monovalen, serum polivalen,
maupun produk akhir serum anti bisa ular.

VAKSIN POLIO
Vaksin polio merupakan salah satu produk vaksin viral PT Bio Farma. Sebagai
produk biologi, vaksin digunakan dalam tindakan preventif untuk memberantas
penyakit polio. Vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma berupa Bivalent Type 1 dan
3 Oral Poliomyelitis. Stain vaksin polio yang digunakan adalah strain Sabin. Vaksin
diproduksi dalam media sel kultur yang berasal dari sel vero ginjal fetus monyet ekor
panjang (Maccaca fasicularis). Tahapan produksi vaksin polio meliputi :
Penyiapan hewan donor
Penyiapan hewan donor sepenuhnya dilakukan di vendor. Hewan donor yang
digunakan untuk memproduksi vaksin polio adalah monyet ekor panjang (Maccaca
fasicularis). Spesifikasi monyet ekor panjang yang digunakan berupa meonyet betina
bunting dengan umur kebuntingan 120 hari, berat badan 2.5 kg, umur 415 tahun, dan
tidak pernah digunakan sebagai hewan uji. Monyet juga harus terbebas dari penyakit
Tuberculosis (TBC), Simian Immunodeficiency Virus (SIV), Herpes B, Simian Foamy
Virus (SFV), dan Simian Virus 40 (SV40). Monyet yang digunakan berasal dari
penangkaran alam dan penangkan internal. Monyet dari penangkaran selanjutnya
dikarantina awal selama 4290 hari. Pada tahap karantina awal, dilakukan uji terhadap
penyakit Tuberculosis. Hal ini dilakukan agar monyet yang digunakan untuk
memproduksi vaksin polio terbebas dari Tuberculosis karena penyakit ini merupakan
zoonosis. Selain itu, pada tahap ini dilakukan penomoran, pemberian obat cacing, dan
vitamin pada monyet.
Tahap selanjutnya, dilakukan breeding colony dengan rasio jantan dan betina 1015 ekor berbanding 1 ekor. Dilakukan kembali uji terhadap penyakit Tuberculosis pada
seluruh monyet di breeding colony. Monyet betina yang telah kawin dilakukan
pemeriksaan kebuntingan pada hari ke-80 kebuntingan. Selanjutnya, monyet masuk
pada tahap karantina akhir. Di tahap ini pengujian terhadap penyakit Tuberculosis lebih
intensif setiap 2 minggu sekali. Selain itu dilakukan pula monitoring terhadap penyakit
SIV, Herpes B, SFV, dan SV40 melalui pengambilan sampel darah. Pengambilan darah
dilakukan pada minggu ketiga dan kelima pada tahap karantina akhir. Apabila monyet
bunting sudah memenuhi spesifikasi sebagai hewan donor maka siap dikirim ke PT
Biofarma untuk dilakukan sectio caesaria dan nefrektomi fetus.
Penerimaan dan aklimatisasi hewan donor
Monyet yang baru datang dari vendor ditempatkan pada kandang individu yang
sekaligus berfungsi sebagai kandang jepit. Kandang (cage) individu berukuran
605045 cm dan terbuat dari bahan stainless steel. Ruangan kandang monyet
berukuran 35 m dan berisi 2428 kandang individu yang tersusun atas 2 rak. Sebelum
dilakukan sectio caesaria monyet diistirahatkan selama 5 jam untuk mengurangi
stress akibat transportasi. Pada tahap ini hewan dalam kondisi dipuasakan.
Pelaksanaan sectio caesaria dan nefrektomi
Sebelum sectio caesaria monyet bunting ditimbang bobot badannya. Hasil
penimbangan bobot badan digunakan untuk menentukan volume anestetikum yang
digunakan sesuai dengan rumus :
Volume injeksi (ml) = Dosis injeksi (mg/kg BB) Bobot badan (kg)

Konsentrasi (mg/ml)
Anestesi monyet menggunakan ketamin dengan dosis 10 mg/kg bobot badan
melalui rute injeksi intra muscular (IM). Injeksi dilakukan dalam kandang individu
yang sekaligus berfungsi sebagai kandang jepit. Penggunaan kandang jepit sebagai
media restrain hewan relatif lebih aman bagi hewan dan keeper.
Sectio caesaria dilakukan di ruangan operasi yang dibatasi dengan laminar flow.
Penggunaan laminar flow bertujuan untuk menjaga area sectio caesaria minimum dari
kontaminan. Peralatan yang disiapkan berupa set bedah minor yang terdiri dari gagang
skalpel, skalpel, gunting tumpul-runcing, tang arteri, pinset anatomis, dan pinset
sirrurgis. Perlu disiapkan pula duk operasi berbahan kertas, kasa, benang cutgut, benang
silk, dan sarung tangan. Seluruh alat dan bahan disterilisasi menggunakan autoklaf.
Sediaan injeksi yang perlu disiapkan yaitu hemtopan, vitamin B kompleks, dan
ampicillin yang diencerkan dalam NaCl 0.85% dengan perbandingan 4 ml ampicillin
dan 6 ml NaCl 0.85%. Selain itu disiapkan pula cairan flushing berupa ampicillin yang
diencerkan dalam NaCl 0.85% dengan perbandingan 1:19 sehingga diperoleh sediaan
ampicillin 20 ml.
Monyet yang telah teranestesi dibawa ke dalam ruang operasi. Monyet
ditempatkan di atas meja operasi pada posisi ventro-dorsal dengan kedua tangan dan
kaki difiksasi. Area penyayatan (abdomen) didesinfeksi dengan iodium tincture dan
alkohol. Penyayatan dilakukan kurang lebih 7 cm di bagian abdomen, penyayatan
disesuaikan dengan penyayatan sebelumnya. Apabila pernah dilakukan penyayatan di
sebelah kiri linea alba maka perlu dilakukan penyayatan di sebelah kanan. Bagian kulit,
otot dan peritoneum adalah bagian yang harus tersayat agar dapat mengeluarkan uterus
monyet. Setelah uterus diangkat keluar, uterus disayat searah dengan penyayatann kulit
kurang lebih 5 cm.
Fetus dan plasenta diangkat keluar lalu ditempatkan di wadah, kemudian
dikeluarkan dari plasenta lalu ditimbang. Standar fetus yang layak dijadikan hewan
donor yaitu bobot badan 150 gram, induk telah lolos karantina, dan bebas dari 5
penyakit yaitu Tuberculosis (TBC), Simian Immunodeficiency Virus (SIV), Herpes B,
Simian Foamy Virus (SFV), dan Simian Virus 40 (SV40). Dilakukan pengambilan darah
fetus dari jantung sebanyak 5 ml. Fetus kemudian disembelih dan dibungkus dengan
aluminium foil lalu dimasukkan kedalam plastik transparan steril. Selanjutnya fetus
yang telah dibungkus dimasukkan kedalam stainless steel box untuk dibawa ke ruang
nefrektomi.
Di ruang nefrektomi, fetus diposisikan dorso ventral dengan kepala fetus
diletakkan pada bagian alas yang berongga menghadap ke bawah. Kedua tangan dan
kaki diikat menggunakan tali pengikat. Fetus didesinfeksi dengan kapas beralkohol 70%
mulai dari daerah punggung hingga pangkal ekor serta keempat kaki. Kulit monyet
kemudian digunting mengikuti tulang belakang dan pangkal kaki secara memanjang
hingga ke pergelangan kaki. Selanjutnya, kulit dan otot fetus dipisahkan. Bagian
punggung didesinfeksi mulai dari bahu hingga pangkal ekor dan keempat kaki dengan
menggunakan iodium. Setelah itu dibilas lagi dengan kapas alkohol pada bagian
punggung mulai dari bahu hingga ke pangkal ekor dan keempat kaki.
Sayatan diawali pada sisi kiri dan kanan bagian penonjolan tulang belakang
mulai dari pertengahan antara bahu dan rusuk terakhir hingga pangkal ekor. Kemudian
barulah sayatan dibuat disebelah kiri tepat sebagai awal penyanyatan memanjang
sampai ke perut. Perut dikuakkan sehingga ginjal sebelah kiri terlihat dan diambil.

Ginjal yang diambil harus memenuhi spesifikasi yaitu bentuk menyerupai biji kacang
dan bewarna merah muda. Ginjal yang tidak memenuhi spesifikasi akan diafkir apabila
tampak berwarna pucat, ukuran ginjal besar, atau terdapat vakoula pada kapsulanya.
Ginjal yang telah memenuhi spesifikasi pula diambil dan dimasukkan ke dalam botol
kaca yang berisi cairan emersi kemudian di-seal. Botol disimpan dan diberikan kepada
bagian bagian produksi vaksin polio untuk digunakan sebagai media produksi polio.
Fetus dilakukan pemeriksaan pasca neferektomi untuk melihat adanya
kemungkinan kelainan dimana organ yang diperiksa adalah jantung, paru-paru, hati,
limpa dan kelenjar inguinalis. Fetus yang telah diperiksa kemudian dimasukkan
kedalam kantung vinyl bewarna hitam dan diikat dengan rapat untuk dibawa ketempat
kremasi melalui pass room.
Pengujian sampel darah fetus
Darah yang diambil akan diuji terhadap penyakit Tuberculosis (TBC), Simian
Immunodeficiency Virus (SIV), Herpes B, Simian Foamy Virus (SFV), dan Simian Virus
40 (SV40). Darah fetus diambil langsung dari jantung sebanyak 5 ml. Apabila hasil
pengujian darah fetus negatif terhadap penyakit tersebut maka ginjal fetus digunakan
untuk produksi vaksin polio.
Pembuatan media (kultur sel) untuk vaksin polio
Penggunaan ginjal monyet yang digunakan sebagai biakan jaringan dalam
penelitian dan produksi vaksin polio mengakibatkan penggunaan monyet dalam jumlah
yang besar. Kepekaan non human primate terhadap virus polio pertama kali dilaporkan
pada tahun 1909.
Media kultur sel yang digunakan adalah ginjal dari fetus monyet ekor panjang
(Maccaca fasicularis). Ginjal yang sudah diambil dimasukkan kedalam media
perendam ginjal. Media ini harus steril, proses sterilisasi dilakukan dengan filtrasi
bertingkat, mulai dari ukuran 2.5, 0.45, 0.2 m, sehingga media yang digunakan benarbenar steril. Kemudian media disimpan dan diberi label. Media disimpan dalam cold
room. Setelah mempersiapkan media, dilakukan persiapan
Ginjal diletakkan di atas cawan petri kosong dan kapsulanya dilepas. Ginjal
yang telah dilepas kapsulanya kemudian dilakukan perfusi dengan media perfusi yang
telah disiapkan hingga ginjal menjadi lunak dan dipotong dan dicacah dengan
menggunakan scalpel steril. Perfusi ginjal dengan menggunakan media yang
mengandung enzim juga menjadikan ginjal terpencar menjadi sel-sel tunggal di dalam
medium.
Ginjal yang telah menjadil potongan kecil kemudian dimasukkan kedalam botol
dan ditambahkan larutan dispase. Kemudian lakukan sentrifuse, setelah dilakukan
sentrifuse secara berulang, selanjutnya diambil supernatan yang ada pada botol, dan
diambil juga pellet sel yang ada di permukaan bawah botol. Pellet-pellet sel inilah yang
diambil dan dipindahkan untuk selanjutnya ditambahkan media pertumbuhan sel
sehingga sudah bisa didapatkan suspensi sel dalam konsentrasi stock.
Suspensi sel yang telah diperoleh kemudian ditanam di sel factory dan
diletakkan pada incubator pada suhu 36,5 C. Sel akan menempel pada permukaan
media dan kemudian membelah diri dan menyebar.
Setelah sel berkembang maka sel bisa digunakan untuk inokulasi virus polio.
Inokulum yang telah disiapkan kemudian ditambahkan ke dalam sel factory sesuai

dengan perhitungan yang telah ditentukan, selanjutnya tambahkan juga media untuk
pertumbuhan virus dan diinkubasi kembali. Setelah ini diinkubasi pada suhu 33oC.
Pengamatan infeksi virus terhadap sel diamati dengan menggunakan mikroskop,
setelah semua sel rusak maka bisa dilakukan pemanenan virus yang telah di inokulasi.
Cairan yang dipanen kemudian diletakkan di dalam tanki dan dihomogenkan. Setelah
homogen kemudian didistribusikan ke botol plastik hingga menjadi product single
harvest. Selama proses pendistribuian ke botol, dilakukan sampling juga secara in vivo
untuk mengetahui tingkat toksisitasnya.
Botol-botol yang telah menjadi produk kemudian dilakukan pembekuan cepat
dengan memasukkan botol dan ditembakkan dengan liquid nitrogen sampai suhunya
-60oC. Produk disimpan hingga hasil uji keluar. Setelah hasil uji keluar, produk
kemudian di-thawing dan dicampur dalam tabung untuk dijadikan bulk monovalen.
Selanjutnya dilakukan filtrasi secara bertahap terhadap hasil debris sel dari produk.
Produk kemudian disimpan pada suhu -60oC.
VAKSIN CAMPAK
Ayam SPF (Specific Pathogen Free)
Ayam SPF (Spesific Pathogen Free) adalah ayam yang dipelihara di dalam
ruang terkontrol, bebas dari beberapa penyakit menular yang sudah ditetapkan dan
secara periodik dipantau status kesehatannya melalui pemantauan secara visual,
pemeriksaan sampel kloaka dan pemeriksaan darah. Dalam Biofarma, manajemen
ayam SPF berada pada bagian ayam SPF dibawah divisi hewan SPF.
Manajemen Pemeliharaan Ayam SPF
Manajemen pemeliharaan ayam SPF dimulai dari umur 1 hari (DOC,Day Old
Chicken) sampai dengan diafkir akan mengalami 3 fase pemeliharaan yaitu : fase starter
dimulai pemeliharaan umur 1-8 minggu, fase grower dimulai pemeliharaan umur 9-20
minggu, dan fase laying dimulai pemeliharaan umur 21-35 minggu.
Seleksi atau pemilihan Telur Ayam SPF
Telur ayam dikumpulkan yang akan dieramkan, merupakan hasil dari koleksi
beberapa hari produksi dari beberapa isolator berbeda untuk calon indukan. Telur yang
akan dieramkan berasal dari produksi kurang dari 14 hari. Pemilihan telur diambil dari
beberapa isolator yang berukuran normal dan baik dan dilakukan peneropongan telur
untuk melihat ketebalan dan kesuburan telur. Selanjutnya telur disusun dalam rak
pengeraman dengan posisi telur berdiri dengan bagian yang lebih tumpul di sebelah atas
dan diletakkan di dalam inkubator
Pengamatan Klinis terhadap Ayam SPF
Pengamatan klinis dilakukan setiap hari terhadap kondisi klinis ayam SPF dan
pengamatan laboratoris untuk identifikasi Salmonelosis melalui usapan kloaka ayam
SPF dilakukan setiap bulan. Apabila ayam tidak menunjukkan gejala-gejala sakit yang
disebabkan oleh Fowl fox dan Salmonelosis, maka ayam tersebut merupakan ayam SPF
dan akan menghasilkan telur ayam SPF yang bisa dipakai untuk produksi dan
pengujian vaksin Campak.

Fowl pox atau cacar ayam merupakan penyakit cacar yang bersifat patogen dan
menyerang unggas terutama ayam. Pengamatan k jlinis ayam SPF setiap hari secara
visual meliputi gejala klinis sesak napas, adanya bintil/bungkul pada wajah, pila serta
daerah sekitar kelopak mata. Palpasi atau perabaan tubuh ayam SPF khususnya di
bagian bawah sayap untuk memastikan tidak adanya penyakit fowl fox yang gejala
klinisnya sulit diamati secara visual setiap 2 minggu sekali. Jika hasil pengamatan
terdapat gejala adanya infeksi penyakit tersebut pada ayam SPF, maka lakukan
pengafkiran.
Pengamatan klinis ayam SPF setiap hari secara visual meliputi gejala klinis
terhadap Salmonelosis seperti tubuh lesu, abnormalitas mahkota yang memucat,
kotoran berwarna putih serta kotoran pada bulu disekitar anus. Jika hasil pengamatan
terdapat gejala adanya infeksi penyakit atau hasil positif pada sampel uji swab kloaka
ayam SPF, maka dilakukan pengafkiran.
Sedangkan untuk penyakit ayam lain yang tidak bisa diamati gejala klinisnya,
dilakukan pengujian seperti ELISA, AGP, IS dan HI.
Regenerasi ayam SPF
Regenerasi ayam SPF adalah penggantian indukan ayam dengan generasi
selanjutnya yang lebih muda. Pembibitan dilakukan dengan menetaskan telur yang
berasal dari indukan ayam setelah melalui seleksi dengan menetaskan telur ayam SPF
selama 21 hari. Penggantian indukan dapat juga dilakukan jika produksi telur menurun,
fertilitas kurang dari 60 % selama 3 periode pengeraman berturut-turut, secara fisik
kondisi telur kerabang tipis dan mudah pecah serta hasil biakan jaringan memiliki titer
potensi cenderung mengalami penurunan.
Pengeraman Telur Ayam
Kondisi telur ayam diperiksa setelah berumur 6-7 hari di dalam mesin pengeram
dengan alat peneropong telur (egg inspector unit). Kemudian telur yang kosong
dikeluarkan dan pecah akibat perputaran rak dan catat di dalam formulir data yang
tersedia. Telur ayam berembrio setelah umur 20 hari dipindahkan dari rak pengeram ke
rak penetasan sesuai dengan nomor isolatornya. Tunggu sampai semua telur menetas
pada keesokan harinya.
Pengambilan Sampel Darah Ayam SPF (Health Monitoring)
Pengambilan sampel darah ayam SPF bertujuan untuk mendapatkan contoh
material yang dapat digunakan untuk memonitoring kondisi kesehatan ayam SPF secara
berkala agar ayam tersebut sehat dan bebas dari berbagai penyakit pathogen, sehingga
status ayam Spesific Patogen Free tetap dapat dipertahankan dengan memperhatikan
aspek mutu, lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja.
Jumlah ayam SPF yang disampling untuk helath monitoring setiap isolator
berkisar antara 10-20 % dari jumlah populasi ayam yang ada di dalam isolator. Sampel
darah diambil dari vena brachialis untuk ayam dewasa dan dari jantung untuk anak
ayam umur 1-4 minggu.
Waktu pengambilan sampel darah ayam SPF dilakukan rutin 3 bulan sekali atau
setelah anak ayam berumur 1-4 minggu dari tanggal penetasan sebagai health
monitoring awal dan sebelum ayam diafkir.
Pemeriksaan serum darah ayam dilakukan untuk melihat ayam dalam satu
isolator chamber tersebut sedang dan atau pernah terserang pathogen tertentu, karena

tubuh ayam akan memberikan rekasi terhadap pathogen yang masuk ke dalam tubuh
dengan membentuk tanggap kebal (antibody) terhadap pathogen tersebut.
Pengelolaan Telur Ayam SPF
Pengelolaan telur ayam SPF bertujuan mengetahui tentang tata cara penanganan
dan pengelolaan telur ayam SPF secara baik dan benar, sehingga pemanfaatan telur
ayam SPF dapat dilakukan seoptimal mungkin sesuai spesifikasi yang ditetapkan oleh
penggguna (user) dengan memperhatikan aspek mutu, lingkungan, serta keselamatan
dan kesehatan kerja.
Penyimpanan telur di dalam egg store unit pada kisaran suhu 14-18 C kemudian
tutup pintu egg store. Pengeraman telur SPF di inkubasi telur pada suhu 37.5-38.5 C.
Pemeriksaan telur secara visual meliputi ketebalan kerabang dan fertilitas telur.
Peneropongan telur satu persatu untuk mengetahui kualitas telur seperti kerabang telur,
ada tidaknya kantung udara dan ada tidaknya kuning telur.
Pemeriksaan fertilitas telur pada hari ke-6 inkubasi. Kemudian keluarkan telur
dari dalam incubator telur, tempatkan clean bench yang sudah dinyalakan sebelumnya.
Desinfeksi tangan operator menggunakan kapas/towel alcohol 70 %. Periksan telur satu
persatu menggunakan alat peneropong telur.
Ciri-ciri
Ruang udara
Pembuluh darah
Denyut aliran darah

Kosong
Jelas dan terang
Tidak ada
Tidak ada

Embrio hidup
Jelas dan terang
Ada dan jelas
Ada dan jelas

Embrio mati
Tidak jelas
Pecah, tipis, tidak jelas
Tidak ada

Kriteria Penerimaan Telur Ayam SPF


Telur ayam SPF dinyatakan memenuhi persyaratan, jika hasil monitoring
kesehatan ayam memenuhi persyaratan (lulus uji da nada release dari QA), tersedia
Certificat of analisis telur ayam SPF untuk telur yang dikirim ke PVC,kerabang telur
tidak pecah atau retak, Embrio hidup telihat dari adanya pembuluh darah dan denyut
nadi serta ruang udara jelas. Untuk telur SPF impor, tersedia CoA (Certificate of
Analysis) dan dokumen pengiriman dari pemasok telur ayam SPF.
Vaksin Campak
Bagian produksi campak berada di bawah divisi produksi vaksin virus. Vaksin
campak merupakan suatu sediaan yang dibuat dari virus campak yang telah dilemahkan
(attenuated) yang dibiakan pada media biakan yang sesuai. Vaksin virus harus memiliki
bahan dasar berupa seed virus. Terdapat 3 jenis sel substrat berdasarkan morfologi dan
karakteristik fungsionalnya, yaitu sel epitel, sel limfoblast, dan sel fibroblast. Produksi
vaksin campak menggunakan substrat kultur sel primer fibroblast dari embrio ayam
SPF. Virus campak masuk dalam famili Paramyxoviridae, genus Morbili virus, spesies
Measles virus, dan termasuk virus RNA. Strain yang digunakan dalam produksi campak
adalah strain Tanabe atau CAM 70 yang berasal dari Jepang. Bahan dasar vaksin virus
atau working seed virus harus tersertifikasi, sudah diidentifikasi oleh catatan riwayat
strain mencakup keterangan asal strain, metode untuk melemahkan, tingkat passage,
evaluasi klinik, keamanan, dan dosis respon.
Telur ayam SPF berembrio dimonitoring secara rutin dan tidak boleh ada 21
mikroorganisme induk ayam SPF yang terdiri dari 6 bakteri dan 15 virus. Telur ayam
SPF diinkubasi pada suhu 37 C 1C sampai umur ayam 10-11 hari, karena pada hari
ke-10 dan 11 embrio belum tumbuh bulu sehingga memudahkan saat eksplantasi. Jika
umur kurang dari 10 hari, embrio masih terlalu kecil, konsistensi masih lembek, dan

volume untuk produksi yang diperoleh sedikit. Telur SPF berembrio disebut juga
Chicken Embrio Fibroblast (CEF). Penggunaan telur dikarenakan mudah tersedia,
ekonomis, bebas dari infeksi laten, dan kontaminasi karena dapat melakukan pembiakan
telur SPF sendiri.
Alur produksi vaksin campak diawali dengan single harvest. Telur dibuka dan
embrio diambil, kemudian di chopping bagian kepala dan isi abdomen dikeluarkan.
Measles single harvest (MSH) masih bahan baku. 1 sampai 4 batch dapat digabung
untuk klarifikasi, karena ukuran virus campak menggunakan filter ukuran 70 dan 10,1
. Klarifikasi dilakukan supaya tidak ada debris-debris sel. Pengambilan sampel
sebelum diklarifikasi dan setelah klarifikasi makan waktu 1-2 bulan sebelum dapat
produk yang release. Dalam satu batch, eksplantasi sebanyak 100-150 butir telur. Proses
tripsinisasi dan sentrifugasi, kemudian dicampur dengan medium pemeliharaan dan
pertumbuhan sel. Penerimaan telur kemudian setelah 48 jam dicek pertumbuhan selnya.
Serum dibutuhkan karena sebagai sumber protein. Inokulasi dilakukan dan setelah 6
hari medium diganti tanpa serum, sehingga virus bisa optimal. Setelah 72-96 jam pasca
ganti medium, virus dapat dipanen.
Observasi setiap hari perlu dilakukan umtuk mengamati pertumbuhan dari sel
virus, Cytopathogenic Effect (CPE). CPE mempunyai grade 1 sampai 4, jika ada virus
sel akan rusak. Setelah grade 3 dan 4 atau 75-100% sel rusak, virus sudah dapat
dipanen. Satu single harvest diperoleh sekitar 20 liter, jika digabung dari 4 batch
mencapai 80 liter. MSH diklarifikasi setelah lulus uji, yaitu titer, sterility, extraneous
agen diuji pada cell line oleh QC. Hasil pengujian QC akan dilaporkan ke QA, jika rilis
akan dilanjutkan. Proses 1 batch berlangsung selama 2 minggu, pengujian 1 bulan
karena ada uji Mycoplasma. Hasil yang didapat masih berupa bulk material yang
merupakan vaksin dengan konsentrasi tinggi yang perlu diolah lagi. Suspensi virus
dimasukkan ke dalam botol kemudian difreezing menggunakan aceton dry ice dan
disimpan pada suhu -60C.
Proses formulasi yang disebut Measles final bulk, kemudian dimasukkan ke
dalam vial. Proses lyophilisasi, yaitu proses beku-kering dan didapat vaksin campak
dalam bentuk beku. Virus yang telah dipool harus segera ditutup dan didinginkan
menggunakan aceton dry ice. Simpan di dalam freezer minimal -60C. Proses formulasi
dicampur dengan media lain, stabilizier, dan eksipien karena produk harus dalam bentuk
beku-kering. Awalnya dimasukkan ke dalam suhu 15 C, kemudian diturunkan -45 C
dan dipertahankan selama beberapa jam. Mixing dan filling dimasukkan ke dalam vialvial. Dikerjakan selama 1 hari antara mixing dan filling, kemudian dimasukan ke dalam
mesin untuk proses liophilisasi selama 3 hari. Proses selanjutnya adalah capping,
kemudian melakukan inspeksi visual untuk mengecek adanya kotoran atau kerusakan
pada vial.
Produksi vaksin campak, yaitu 10 dosis dan 20 dosis dengan volume vial sama.
Perbedaannya adalah pada volume bulk dan pelarut. Vaksin campak merupakan vaksin
virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000
infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan
30 mcg erythromycin. Vaksin ini bebentuk vaksin beku kering yang harus dilarutkan
dengan aquabidest steril. Vaksin campak digunakan untuk memberikan kekebalan
secara aktif terhadap penyakit campak.

DAFTAR PUSTAKA
Azar T, Lawson D, Sharp J. 2005. Effects of a cage enrichment program on heart rate,
blood pressure, and activity of male Sprague-Dawley and spontaneously
hypertensive rats monitored by radiotelemetry. Contemp Top Lab Anim Sci. 44:3240.
Behrman RE, Grosman. 1987. Tetanus Principles maternal and Neotal Treatment and
Elimination. 2nd Ed. New York: Churchchill Livingstone.
Biofarma. 2015. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan [terhubung berkala]
http://www.biofarma.co.id (2016 Juni 14).
Crippa L, Gobbi A, Ceruti RM. 2000. Ringtail in suckling Munich Wistar Frmter rats:
A histopathologic study. Comp Med 50:536-539.
Fredlund et al. 2011. Immunogenecity of tetanus difteri toxoid (Td) among Russian
adults. J. Infect Dis. 181: 199-202.
Manninen AS, Antilla S, Savolainen H. 1998. Rat metabolic adaptation to ammonia
inhalation. Proc Soc Biol Med. 187:278-281.
NIOSH [National Institute for Occupational Safety and Health]. 1997a. Elements of
Ergonomics Programs: A Primer Based on Workplace Evaluations of
Musculoskeletal Disorders. (NIOSH Publication No. 97 117). Washington. p 1624.
Victoria agriculture. 2015. Code of Practice for the Housing and Care of Laboratory
Mice,
Rats,
Guinea
Pigs
and
Rabbits.
Diakses
melalui
http://agriculture.vic.gov.au/agriculture/animal-health-and-welfare/animalwelfare/animal-welfare-legislation/victorian-codes-of-practice
for-animalwelfare/code-of-practice-for-the-housing-and-care-of-laboratory-mice,-rats,guinea-pigs-and-rabbits (1 Juni 2016)
[WHO]. 2012. WHO Guidelines for the Production, Control and Regulations on
Snake Antivenom Immunoglobulins. WHO Technical Report Series 964.

LAMPIRAN 1 JURNAL KEGIATAN


NHari

Nama Kegiatan

Jenis Kegiatan

Keterangan

o
1Senin

Penyambutan
Psikotest
Pengantar Kegiatan di
Cisarua
Pengenalan Staff
2Selasa Manajemen
Pemberian pakan dan minum
pemeliharaan kandang mencit pada pagi hari
mencit
Pengafkiran mencit
Penggantian bedding
3Rabu

Manajemen
Pemberian pakan dan minum
pemeliharaan kandang mencit pada pagi hari
mencit
Sexing
Pengafkiran mencit
Penggantian bedding
4Kamis Ekspedisi
Penjelasan tentang ekspedisi
Manajemen
Penjelasan mengenai pemberian
pemeliharaan kandang pakan dan minum, bedding,
cavia, kelinci
sexing dan pengafkiran
5Jumat Pengolahan limbah
Penjelasan tentang insenerator
Penjelasan tentang IPAL
Diskusi
Diskusi
N Hari

Nama Kegiatan

Jenis Kegiatan

1 Senin

Perawatan
Kuda
Medikasi kuda

Pemberian pakan dan minum


kuda pada pagi hari
Perawatan kuda yang pincang
dengan dikompres air hangat,
perawatan kuda yang ambruk
dengan pemberian RL, vit B
kompleks, ranitidine dan kateter

2 Selasa

Tutorial/kuliah

3 Rabu

Produksi
Plasma

Laboratory animal house


Produksi vaksin campak
39 ekor uda

Keterangan

4 Kamis

Transfusi darah
Perawatan

39 ekor kuda
Pemberian pakan dan minum

Prosedur baca di
WHO trs 964
untuk pembuatan
bahan biologis

5 Jumat

Kuda
Medikasi kuda

kuda pada pagi hari


Perawatan kuda yang sakit,
abses dengan irigasi, perawatan
kuda yang ambruk dengan
pemberian RL

Post test
Imunisasi

Latian soal Post test


Penyuntikan ABU, ATS, ADS
kemudian vitamin b-complex
dan
cyanocobalamine,
selanjudnya antihitamin vetadryl
5 ml
Menegenai
husbandry
management

Presentasi