Anda di halaman 1dari 5

Dakwah Bil Hal

A.

Pengertian Dakwah Bil Hal

Secara etimologi Dakwah bil Hal merupakan gabungan dari kata dua kata yaitu kata dakwah
dan al-Haal. Kata dakwah artinya menyeru, memanggil. Sedangkan kata al-Haal berarti
keadaan. Jika dua kata tadi dihubungkan maka dakwah bil hal mengandung arti memanggil,
menyeru dengan menggunakan keadaan, atau menyeru, mengajak dengan perbuatan nyata.
Sedangkan secara termonologis dakwah mengandung pengertian: mendorong manusia agar
berbuat kebajikan dan menuntut pada petunjuk, menyeru mereka berbuat kebajikan dan
melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapatkan kebahagian dunia akhirat.
Dengan demikian dakwah bil hal adalah: memanggil, menyeru manusia kejalan Alllah SWT
untuk kebahagian dunia akhirat dengan menggunakan keadaan manusia yang didakwahi atau
memanggil ke jalan Allah untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat dengan perbuatan
nyata yang sesuai dengan keadaan manusia.
Dakwah bil al-hal adalah dakwah dengan perbuatan nyata seperti yang dilakukan oleh
Rasulullah SAW, terbukti bahwa pertama kali tiba di Madinah yang dilakukan adalah
pembangunan Masjid Quba, mempersatukan kaum Anshor dan Muhajirin dalam ikatan
ukhuwah islamiyah dan seterusnya[1].
Menurut E. Hasim dalam kamus, istilah Islam memberikan pengertian bahwa yang dimaksud
dengan dakwah bil hal adalah dakwah yang dilakukan dengan perbuatan nyata, karena
merupakan tindakan nyata maka dakwah ini lebih mengarah pada tindakan menggerakkan
madu sehingga dakwah ini lebih berorentasi pada pengembangan masyarakat.[2]
Dakwah bi hal merupakan aktivitas dakwah Islam yang dilakukan dengan tindakan nyata atau
amal nyata terhadap kebutuhan penerima dakwah. sehingga tindakan nyata tersebut sesuai
dengan apa yang dibutuhkan oleh penerima dakwah. Misalnya dakwah dengan membangun
rumah sakit untuk keperluan masyarakat sekitar yang membutuhkan keberadaan rumah sakit.
[3]Melaksanakan dakwah bukan hanya berpusat di masjid-masjid, di forum-forum diskusi,
pengajian, dan semacamnya. Dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan. Ia harus
berada di bawah, di pemukiman kumuh, di rumah sakit-rumah sakit, di teater-teater, di
studio-studio film, musik, di kapal laut, kapal terbang, di pusat-pusat perdagangan,
ketenagakerjaan, di pabrik-pabrik, di tempat-tempat gedung pencakar langit, di bank-bank, di
pengadilan dan sebagainya.[4] Oleh karena itu al-Quran menyebutkan kegiatan dakwah
dengan Ahsanul Qaul Wal Haal (ucapan dan perbuatan yang baik). Sebagaimana firman
Allah SWT dalam surat Fushilat ayat 33, sebagai berikut:

`tBur `|mr& Zwqs% `JiB !%ty n<) !$#@Jtur $[s=| tA$s%ur _R) z`
B tJ=J9$#
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang
menyerah diri?. (An-Fushilat: 33))[5]

Usaha pengembangan masyarakat islam memiliki bidang garapan yang luas. Meliputi
pengembangan pendidikan, ekonomi dan sosial masyarakat. Pengembangan pendidikan
merupakan bagian penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini berarti bahwa
pendidikan harus diupayakan untuk menghidupkan kehidupan bangsa yang maju, efisien,
mandiri terbuka dan berorientasi masa depan.
Pengembangan pendidikan mesti pula mampu meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan sumber daya
manusia yang berkualitas.
Dalam bidang ekonomi, pengembangan dilakukan peningkatan minat usaha dan etos kerja
yang tinggi serta menghidupkan dan mengoptimalisasi sumber ekonomi umat.
Sementara pengembangan sosial kemasyarakatan dilakukan dalam kerangka merespon
problem sosial yang timbul karena dampak modernisasi dan globalisasi, seperti masalah
pengangguran, tenaga kerja, penegakan hukum, HAM dan pemberdayaan perempuan[6].

B.

Hadis Mengenai Dakwah Bil Hal

Adapun hadis-hadis yang menjelaskan tentang anjuran dakwah bil hal yaitu sebagai berikut:






( ) .
Tidaklah seorang nabi yang diutus Allah dari umat sebelumku, kecuali dari umatnya terdapat
orang-orang hawariyun (para pembela dan pengikut) yang melaksanakan sunnahnya serta
melaksanakan perintah-perintahnya. Kemudian, datang generasi setelah mereka; mereka
mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak
diperintahkan. Oleh karena itu, siapa yang berjihad terhadap mereka dengan tangannya, maka
ia adalah orang mukmin, siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, maka ia
adalah orang mukmin. Dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka ia
adalah orang mukmin. sedangkan di bawah itu semua tidak ada keimanan meskipun hanya
sebesar biji sawi (H. R. Muslim).






( )

Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan
bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah
mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka pelaksanaan lima kali
shalat dalam sehari semalam. Setelah mereka mematuhi itu, beritahulah mereka bahwa

sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari yang kaya untuk
disalurkan kepada yang miskin di antara mereka.

( ) .





Rasulullah SAW sholat dengan duduk dan Abu Bakar berdiri mengikuti gerakan Rasulullah
dan seganap kaum muslimin mengikuti gerakan Abu Bakar

C.

Aplikasi Dakwah Bil Hal Pada Masa Kini

Sejak agama Islam masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke VIII agama Islam telah
mengalami pasang surut. Perkembangan Islam di Nusantara diawali dengan munculnya
kerajaan-kerajaan Islam, seperti: kerajaan Samudera Pasai dan Perlak. Selanjutnya Islam
melebarkan sayapnya ke berbagai penjuru Nusantara.
Selanjutnya Islam mengalami kemunduran pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda dimana
aktivitas umat Islam terpasung. Politik Belanda terhadap Islam dilandasi dengan rasa curiga
dan takut sehingga dengan cermat mereka mengawasi segala sesuatu yang berbau Islam.
Kolonialisme tersebut meninggalkan jejak negatif yang panjang dalam perkembangan sosial,
kultural, dan ekonomi masyarakat Indonesia, bahkan sampai sekarang. Selain itu juga
pemilihan model pembangunan yang dipakai serta kesalahan dalam mengurus pemerintahan
di masa lalu menjadi faktor dominan yang mendorong keterbelakangan umat.
Secara realitas menunjukkan bahwa kualitas ummat islam indonesia belum membanggakan
dari berbagai segi kehidupan, permasalahan-permasalahan ummat islam semakin kompleks
baik permasalahan pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya. K.H. Badruddin
Hsubki mencoba mrumuskan berbagai persoalan ummat islam di Indonesia sebagai berikut:
1.

Keterbelakangan sosial ekonomi

2.

Keterbelakangan dalam bidang pendidikan

3.
Lemahnya etos kerja ummat islam. Etos kerja ini menyangkut penerapan disiplin,
penghargaan terhadap waktu, penentuan orientasi kedepan dan kemampuan kerja keras
dengan penuh semangat
4.
a.

Belum terealisasinya ukhuwah islamiah


Isolasi diri ummat islam terhadap pergaulan dunia

Melihat persoalan ummat islam diatas, maka dakwah islam harus dilakukan upaya yang
serius dan butuh adanya kerja nyata yang mampu menimbulkan perubahan-perubahan sosial
kemasyarakatan dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan umat.
Dalam bidang ekonomi, menurut catatan resmi tahun 1993 jumlah penduduk yang hidup
dibawah garis kemiskinan berjumlah 27 juta jiwa. Dan setelahnya, tahun 2002 terjadi krisis
ekonomi yang diikuti dengan berbagai krisis dibidang lain. Ironisnya ummat islam sebagai
mayoritas penduduk Indonesia merekalah yang terbanyak berada dibawah garis kemiskinan

tersebut. Kelemahan-kelemahan ummat islam di bidang ekonomi kiranya tak lepas dari
kebijakansanaan pemerintah dalam ekonomi yang lebih berorientasi pada kalangan atas,
misalnya: kredit bank bagi pengusaha kecil hanya diberikan kepada mereka yang beraset 20
juta. Memasuki pecaturan ekonomi pada dasawarsa 1980-an suasana berubah. Para
pengusaha mulai menghadapi kesulitan karena sistem ekonomi modern yang tidak
terpisahkan dari perbankan dan manajemen modern yang tidak mereka kuasai dengan baik.
Selain kemampuan manajemen yang tidak kompetitif, keraguan ummat islam terhadap status
hukum bunga bank dan kuatnya mental tradisional dikalangan ulama dan ummat islam turut
menghambat kemampuan mereka.
Dalam bidang pendidikan setelah meraih kemerdekaan bangsa indonesia mulai berbenah diri
dengan didirikannya sekolah-sekolah umum maupun agama. Namun, tercatat sejak tahun
1980-an yang sampai sekarang tingkat pendidikan ummat islam masih sangat
memprihatinkan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pendidikan islam yang masih
tertinggal dari segi mutu dibandingkan dengan pendidikan umum.
Lemahnya etos kerja ummat islam hampir melingkupi sebagian besar ummat islam. Hal ini
kemungkinan disebabkan orientasi keakhiratan yang lebih mendominasi pemikiran ummat
islam, sehingga gairah untuk kerja (urusan keduniaan berkurang) padahal Al Quran telah
menjelaskan bahwa antara akhirat dan dunia harus seimbang.
Permasalahan yang dihadapi umat Islam Indonesia pada dasarnya sudah dipahami dan
dimengerti sejak lama, berbagai organisasi telah mencoba menjawab berbagai persoalan
tersebut. Muhamadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, rumah sakit,
surat kabar dan majalah. Begitu juga dengan NU telah mendirikan pesantren-pesantrennya
dan berbagai organisasi Islam lainnya.
Banyak muncul organisasi-organisasi keislaman yang muncul yang mereka bekerja untuk
dakwah juga pribadi-pribadi yang secara individual melaksanakan dakwah bil hal. Kerja
dakwah yang telah dilakukan juga sudah cukup beragam, seperti munculnya: perbankanperbankan syariah, dompet dhuafa dan pundi amal yang dilakukan oleh stasiun TV dalam
rangka mengumpulkan dana untuk kepentingan ummat, munculnya majalah-majalah
bernuansa islam, acara-acara islami di TV dan sebagainya.
Meskipun berbagai persoalan telah ditangani nampaknya persoalan umat yang begitu banyak
masih menuntut kerja ekstra umat Islam. Sekarang kita patut bergembira karena telah banyak
muncul organisasi-organisasi ke-Islaman yang bekerja untuk dakwah juga pribadi-pribadi
yang secara individual melaksanakan dakwah bil hal. Yang mana dakwah ini telah banyak
bekerja misalnya: munculnya perbankkan-perbankkan Syariah, dompet Dhuafah, dan pundi
amal ynag dilakukan oleh stasiun TV dalam rangka mengumpulkan dana untuk kepentingan
umat, munculnya majalah-majalah bernuansa Islam, dan lain sebagainya.
Namun demikian, kiranya perlu digalakkan kembali Ukhuwah Islamiyah dalam bentuk kerja
sama antar berbagai organisasi keagamaan atau pribadi-pribadi yang berkecimpung dalam
bidang dakwah sehingga akan ada perkembangan kerja antara masing-masing yang
dimaksudkan agar lahan dakwah tergarap secara merata.[7]

[1] Dra Siti Muruah, Metodologi Dakwah Kontemporer. (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000),
hal 75.
[2] Metode dakwah Bil Hikmah dan Bil Hal. BAB I, dalam
tanjungbunut.blogspot.com/metode-dakwah-bil-hikmah-dan-bilhal. (05, Mei 2011).
[3] Samsul Munir, Ilmu Dakwah. (Jakarta: Amzah, 2009), hal 178.
[4] Andi Abdul Muis, Komunikasi Islam. (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001), hal
133.
[5] Metode dakwah Bil Hikmah dan Bil Hal. BAB I, dalam
tanjungbunut.blogspot.com/metode-dakwah-bil-hikmah-dan-bilhal. (05, Mei 2011).
[6] M. Munir, Metode Dakwah (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hal 217.
[7] Metode dakwah Bil Hikmah dan Bil Hal. BAB I, dalam
tanjungbunut.blogspot.com/metode-dakwah-bil-hikmah-dan-bilhal. (05, Mei 2011).