Anda di halaman 1dari 38

ANALISA PROGRAM KIA (KESEHATAN IBU & ANAK)

DI PUSKESMAS II CILONGOK

Di susun oleh :

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Stase Keperawatan Komunitas


Disusun Oleh :
SUBALI INDRA S. B.,S.KEP

SOFA , S.KEP

IBNU BUDI SAYOGA, S.KEP

ROHMATUL YULINA A, S.KEP

SYARAH NUR HAYAH,S.KEP MAYA ROSITA DEWI, S.KEP


AAS PRASTIANI, S.KEP

ARIASTI MASTUTI, S.KEP

PRALAMPITA R.F, S.KEP

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO


2015
BAB I
PENDAHULUAN

A; Latat Belakang
Pada sasaran pembangunan menetapkan 2015 angka tersebut harus di tekan
hingga mencapai 102 kematian/100.000 kelahiran hidup. Oleh sebab itu, program
kesehatan

ibu

dan

anak

serta

keluarga

berencana

dilaksanakan

secara

berkesinambungan dan terpadu untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu


(AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka
Kematian Bayi Lahir (AKBAL).
Upaya peningkatan cakupan tiap program yang ada di puskesmas terus
dilakukan dengan berbagai cara dan strategi, kerjasama lintas program maupun
lintas sektoral juga terus dibina, namun sampai saat ini khususnya yang terjadi di
Puskesmas masih banyaknya terget cakupan yang belum tercapai bahkan ada yang
jauh dibawah target pencapaian.
Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs,
2000) pada tahun 2015 diharapkan Angka Kematian Ibu menurun sebesar tigaperempatnya dalam kurun waktu 1990-2015 dan Angka Kematian Bayi dan Angka
Kematian Balita menurun sebesar dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015.
Berdasarkan hal itu Indonesia mempunyai komitmen untuk menurunkan Angka

Kematian Ibu menjadi 102/100.000 KH, Angka Kematian Bayi dari 68 menjadi
23/1.000 KH, dan Angka Kematian Balita 97 menjadi 32/1.000 KH pada tahun
2015.
Dari semua target MDGs, kinerja penurunan angka kematian ibu secara
global masih rendah. Target pencapaian MDG pada tahun 2015 adalah sebesar 102
per 100.000 kelahiran hidup, sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target
tersebut. Walaupun pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih cukup tinggi, beberapa faktor seperti risiko tinggi pada saat
kehamilan dan aborsi perlu mendapat perhatian. Upaya menurunkan angka kematian
ibu didukung pula dengan meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi dan
menurunkan unmet need yang dilakukan melalui peningkatan akses dan kualitas
pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Ke depan, upaya peningkatan kesehatan
ibu diprioritaskan pada perluasan pelayanan kesehatan berkualitas, pelayanan
obstetrik yang komprehensif, peningkatan pelayanan keluarga berencana dan
penyebarluasan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat.
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada
saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama
dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya,
dan

bukan

karena

sebab-sebab

lain,

per

100.000

kelahiran

hidup.

(www.datastatistik-indonesia.com).
Target AKI di Indonesia pada tahun 2015 adalah 102 kematian per 100.000
kelahiran hidup. Sementara itu berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) (yang berkaitan dengan
kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup.
Kondisi sosial budaya dimasing-masing daerah turut memberikan
konstribusi, masih banyak daerah yang masih menggunakan dukun sebagai
penolong persalinan, khususnya didesa-desa. Berdasarkan data Riskesdas 2013,
Penolong saat persalinan dengan kualifikasi tertinggi dilakukan oleh bidan (68,6%),
kemudian oleh dokter (18,5%), lalu non tenaga kesehatan (11,8%). Namun sebanyak
0,8% kelahiran dilakukan tanpa ada penolong, dan hanya 0,3% kelahiran saja yang
ditolong oleh perawat.
Peranan ibu terhadap anak adalah pembimbing kehidupan di dunia ini. Ibu
sangat berperan dalam kehidupan buah hatinya disaat anaknya masih bayi hingga
dewasa, bahkan sampai anak sudah dilepass tanggungjawabnya atau menikah

dengan orang lain seorang ibu tetap berperan dalam kehidupan anaknya. (Zulkifli,
2006).
Berdasar data Dinas Kesehatan Banyumas, jumlah AKI sejak 2010 selalu di
angka 30 kasus lebih. Pada 2010 ada 33 kasus, tahun 2011 35 kasus, tahun 2012 32
kasus, pada tahun 2013 35 kasus, di 2014 33 kasus. Sementara data Dinas Kesehatan
Jateng pada 2014 terjadi 711 kasus kematian ibu melahirkan di Jawa Tengah, di
Banyumas tercatat paling sedikit yaitu 33 kasus, sedang terbanyak di Brebes
sebanyak 73 kasus.
Di dalam program Kesehatan Ibu dan anak (KIA) di desa pageraji pada
tahun 2015 terdapat kasus 1 orang meninggal pasca melahirkan, maka sebab itu
kami tertarik mengambil analisis Progam Puskesmas Program KIA di Puskesmas II
Cilongok, ini terdapat berbagai macam kegiatan baik yang diselenggarakan di dalam
gedung puskesmas maupun di luar gedung puskesmas segi pelaksanaan dan
keikutsertaan masyarakat mengikuti kegiatan tersebut.
B; Tujuan
1; Tujuan Umum
Mengetahui Program KIA di puskesmas II Cilongok 2015.

2; Tujuan Khusus
a; Target program adalah meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat pada tahun 2015
dalam program kesehatan ibu dan anak yaitu :
b; Ibu hamil mendapat pelayanan Ante Natal Care (K1)
c; Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
d; Pelayanan kesehatan bayi sehingga kunjungan neonatal pertama (KN1) dan
KN Lengkap (KN1, KN2, dan KN3)
e; Pelayanan kesehatan anak Balita
f; ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan

g; Ibu hamil mendapat 90 Tablet Tambah Darah dan Balita usia 6-59 bulan
mendapatkan Kapsul Vitamin A.
C; Manfaat
1; Bagi puskesmas
a; Untuk mengetahui perkembangan program KIA yang ada di Puskemas
Puskesmas II Cilongok.
b; Untuk meningkatkan program KIA dan mutu karyawan yang ada di
Puskesmas Puskesmas II Cilongok.

2; Bagi Mahasiswa
a; Mengetahui gambaran program KIA yang ada di Puskesmas Puskesmas II
Cilongok.
b; Mengetahui permasalahan terhadap KIA yang ada di Puskesmas Puskesmas
II Cilongok.
c; Menganalisa pelayanan program KIA yang ada dipuskesmas II Cilongok.

3; Bagi Masyarakat
a; Mendapatkan pelayanan program KIA yang lebih berkualitas
b; Meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam pelayanan Program KIA yang
telah di lakukan oleh Puskesmas II Cilongok.
c; Menurunnya angka kematian Ibu dan anak dengan sosialisasi dan
penyuluhan tentang penyebab pencetus dan pencegahannya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A; KONSEP PUSKESMAS
a; Pengertian Puskesmas
Puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi
sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta
masyarakat dalam bidang kesehatan ,serta pusat pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang menyelengarakan kegiatan secara menyeluruh , terpadu dan
kesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu
wilayah tertentu .
b; Fungsi Puskesmas
1; Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya .
2; Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka
meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
3; Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya
Proses dalam melaksanakan fungsinya dilakukan dengan cara
1; Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan
dalam rangka menolong dirinya sendiri
6

2; Memberikan petunjuk kepada masyarakat bagaimana menggali dan


menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
3; Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan tehnik materi dan rujukan
medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat
4; Memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat
5; Bekerja

sama

dengan

sector-sektor

yang

bersangkutan

dalam

melaksanakan program puskesmas

c;

Visi Puskesmas
Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin di capai
melalui pembangunan pusat kesehatan adalah sebagai berikut
1; Masyarakat hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat
2; Memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata
3; Memiliki derajat kesehatan yang setimgi-tinginya di seluruh wilayah
republic Indonesia

d; Misi Puskesmas
Misi puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan yang dapat
dilakukan melalui berbagai upaya di antaranya adalah:
1.

Meluaskan jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke desa-desa

2.

Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

3.

Mengadakan peralatan dan obat-obatan yang di sesuaikan dengan


kebutuhan masyarakat

4.
e;

Mengembangkan pembangunan kesehatan masyarakat desa(PKMD)

Strategi Puskesmas
Strategi puskesmas untuk mewujudkan pembangunan kesehatan
adalah melalui pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh secara
pelayanan kesehatan yang menerapkan pendekatan yang menyeluruh.

f;

Tugas Pokok Puskesmas

1; Kepala puskesmas: Bertugas memimpin dan mengawasi kegiatan


puskesmas
2; Kepala urusan tata usaha : Mempunyai tugas di bidang kepegawaian ,
keuangan, Dll
3; Unit 1: Melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga
berencana dan perbaikan gizi
4; Unit II: Melakukan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit
5; Unit III: Melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut serta
kesehatan tenaga kerja dan manul
6; Unit IV: Melaksanakan kegiatan kesehatan masyarakat, sekolah dan
olahraga
7; Unit V: Melaksanakan kegiatan pembinaan, pengembangan dan
penyuluhan
8; Unit VI: Melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan inap
9; Unit VII: Melakukan tugas kefarmasian
g;

Program puskesmas
1; Kesejahteraan ibu dan anak (KIA)
2; Keluarga berencana
3; Usaha peningkatan gizi
4; Kesehatan lingkungan
5; Pemberantasan penyakit menular
6; Upaya pengobatan, termasuk pelayanan darurat kecelakaan
7; Penyuluhan kesehatan masyarakat
8; Usaha kesehatan sekolah
9; Kesehatan olahraga
10; Perawatan kesehatan masyarakat
11; Usaha kesehatan kerja

12; Usaha kesehatan gigi dan mulut


13; Usaha kesehatan jiwa
14; Kesehatan mata
15; Laboratorium
16; Pencatatan dan pelaporan system informasi kerja
17; Kesehatan usia lanjut
18; Pembinaan pengobatan tradisional

h; Ruang Lingkup Puskesmas


Status pelayanan kesehatan terdiri dari cakupan pengelolaan
pelayanan program kesehatan dan sarana-prasarana kesehatan. Salah satu
pengelolaan program kesehatan adalah pengelolaan program KIA. Pada
tingkat kecamatan atau Puskesmas program perbaikan gizi merupakan salah
program dasar puskesmas dari 7 (tujuh) program dasar yang ada,
yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Program Perbaikan Gizi,
Program Kesehatan Lingkungan, Program Promosi Kesehatan, Program
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Program Pengobatan dan
Program Spesifik Lokal. Berhasil tidaknya pelaksanaan ke tujuh program
ini, semua tergantung dari pengelolaan atau penyelenggaraannya termasuk
pengelolaan program kesehatan Ibu & Anak.
Program kesehatan Ibu & Anak merupakan salah satu program
esensial yang ada di Puskesmas, eksistensi program ini sangat dibutuhkan
oeh masyarakat, kususnya para ibu dan anaknya yang menjadi sassaran
pelayanan. Di puskesmas program ini dikoordinir oleh seorang bidan
koordinator yang bertindak sebagai leader yang dibantu oleh bidan didesa
wilayah kerja puskesmas.
Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan
yang menyangkut pelayanan dan pemeliharan ibu hamil, ibu bersalin, ibu
menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Pemberdayaan
9

Masyarakat bidang KIA masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat


darurat dari aspek non klinik terkait kehamilan dan persalinan. Sistem
kesiagaan merupakan sistem tolong menolong, yang dibentuk dari, oleh dan
untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi atau komunikasi
(telepon genggam, telepon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencacatan
pemantauan dan informasi KB. Dalam pengertian ini tercangkup pula
pendidikan kesehatan kepada masyarakat serta menambah ketrampilan para
dukun bayi serta pembinaan kesehatan di taman kanak-kanak.
Prinsip Pengeloaan Program KIA adalah memantapkan dan
peningkatan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efesien,
pelayanan KIA diutamakan pada kegiatan pokok :

Peningkatan pelayanan antenatal disemua fasilitas pelayanan dengan


mutu yang baik serta jangkauan yang setinggi-tingginya

Peningkatan pertolongan persalinan yang lebih ditunjukan kepada


peningkatan pertolongan oeh tenaga profesional secara berangsur.

Peningkatan deteksi dini resiko tinggi bu hamil, baik oleh tenaga


kesehatan maupun di masyarakat oleh kader dan dukun bayi serta
penanganan dan pengamatannya secara terus-menerus.

Peningkatan pelayan neonatal (bayi berumur kurang dari 1 bulan)


dengan mutu yang baik dan jangkauan yang setinggi-tingginya.
Ada lima langkah yang harus di perhatikan dalam pengelolaan

program KIA (kesehatan ibu & Anak) pada tingkat puskesmas. Lima
langkah pengelolaan program KIA di Puskesmas pada dasarnya sama
dengan langkah-langkah pada pedoman pengelolaan KIAyaitu : Langkah
pertama yaitu Identifikasi Masalah, kemudian Langkah Kedua Analisis
masalah. Langkah pertama dan kedua biasa dikenal dengan perencanaan
(planing).Langkah Ketiga adalah Menentukan kegiatan perbaikan KIA,
langkah ini biasa juga dikenal atau disebut juga dengan pengorganisasian
(organising). Langkah Keempat adalah melaksanakan program perbaikan
KIA, langkah ini disebut juga dengan Pelaksanaan (actuating). Dan yang

10

terakhir adalah Langkah Kelima yaitu pantauan dan evaluasi, langkah ini
disebut juga dengan (controlling anda evaluation).
1; Langkah Pertama Identifikasi Masalah
Dalam identifikasi masalah KIA

langkah-langkah

yang

perlu

diperhatikan adalah mempelajari data berupa angka atau keteranganketerangan

yang

berhubungan

dengan

identifikasi

masalah

KIA.Kemudian melakukan validasi terhadap data yang tersedia,


maksudnya melihat kembali data, apakah sudah sesuai dengan data yang
seharusnya dikumpulkan dan dipelajari. Selanjutnya mempelajari besaran
dan sebaran masalah KIA, membandingkan dengan ambang batas dan
atau target program KIA, setelah itu rumuskan masalah KIA dengan
menggunakan ukuran prevalensi dan atau cakupan.
2; Langkah Kedua : Analisis Masalah
Analisis masalah didasarkan pada penelaahan hasil identifikasi dengan
menganalisis faktor penyebab terjadinya masalah sebagaimana yang
disebutkan diatas, tujuannya untuk dapat memahami masalah secara jelas
dan spesifik serta terukur, sehingga mempermudah penentuan alternatif
masalah.Caranya dapat dilakukan dengan analisis hubungan, analisis
perbandingan, analisis kecenderungan dan lain-lain.
3; Langkah Ketiga : Menentukan Kegiatan Perbaikan KIA
Langkah ini didasarkan pada analisis masalah di kecamatan yang secara
langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan upaya
peningkatan status gizi masyarakat, langkah ketiga pengelolaan program
perbaikan KIA ini dimulai dengan penetapan tujuan yaitu upaya-upaya
penetapan kegiatan yang dapat mempercepat penanggulangan masalah
KIA yang ada. Dalam menyusun tujuan di kenal dengan istilah
SMART yang singkatan dari Spesific (khusus), Measurable (dapat
diukur), Achievable (dapat dicapai), Realistic (sesuai fakta real),
Timebound ( ada waktu untuk mencapaianya).
4; Langkah Keempat: Melaksanakan program perbaikan KIA
Setelah kegiatan perbaikan gizi tersusun, kemudian dilakukan langkahlangkah yang terencana untuk setiap kegiatan. Jenis kegiatan yang akan
dilakukan

meliputi

Advokasi,

Sosialiasi,

Capacity

Buiding,

Pemberdayaan Masyarakat dan keluarga, Penyiapan sarana dan

11

prasarana, Penyuluhan KIA dan Pelayanan KIA di Puskesmas maupun di


Posyandu.
5; Langkah Kelima : Pemantauan dan Evaluasi
Kegiatan pemantauan yang baik selalu dimulai sejak langkah awal
perencanaan dibuat sampai dengan suatu kegiatan telah selesai
dilaksanakan, sedangkan evaluasi hanya melihat bagian-bagian tertentu
dari kegiatan yang dilaksanakan.
PEMANTAUAN adalah Pengawasan secara periodik terhadap
pelaksanaan

kegiatan

menentukan besarnya

program
INPUT yang

perbaikan

gizi

diberikan, PROSES

dalam
yang

berjalan maupun OUTPUT yang dicapai.Tujuannya untuk menindak


lanjuti kegiatan program SELAMA pelaksanaan kegiatan, dilakukan
untuk menjamin bahwa PROSES pelaksanaan sesusai Action Plan dan
jadwal.
Kegiatan pemantauan dapat dilakukan melalui Sistem Pencatatan
dan Pelaporan termasuk laporan khusus, Pelaksanaan Quality Assurance
Pelayanan KIA dan Unit pengaduan masyarakat.Hasil Kegiatan
pemantauan kemudian dibuatkan lagi.
B;

PRORGAM KIA & STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)


Berdasarkan Buku pedoman kerja puskesmas yang terbaru ada 20 usaha
pokok kesehatan yang dapat di lakukan oleh puskesmas. Usaha pokok
kesehatan sangat tergantung pada faktor tenaga , sarana dan prasarana , biaya
yang tersedia , serta kemampuan manajemen dari tip-tiap puskesmas. Berikut
ini adalah kegiatan pokok puskesmas KIA (Kesehatan Ibu & Anak)
;

Program kesehatan ibu dan anak


a;

Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui,


bayi, anak balita,

b;

Cakupan kunjungan ibu hamil K-4

c;

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan atau


masyarakat

d;

Ibu hamil resiko tinggi yang di rujuk

12

e;

Cakupan kunjungan neonatus

f;

Angka kematian ibu dan anak

g;

MTBS

h;

Kunjungan Nifas

i;

Deteksi Resiko

Standar Pelayanan Minimal Program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)


1; Pelayanan Antenatal Care (ANC), cakupan K1, K4 :
Kunjungan ibu hamil K4 adalah ibu hamil yang kontak dengan
petugas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai dengan
standar 5T dengan frekuensi kunjungan minimal 4 kali selama haml,
dengan syarat trimester 1 minimal 1 kali, trimester 2 minimal 1 kali
dan trimester 3 minumal 2 kali. Stabdar 5 T yang dimaksud adalah :
1; Pemeriksaan atau pengukuran tinggi BB
2; Pemeriksaan atau pengukuran tekanan darah
3; Pemeriksaan atau pengukuran tinggi fundus
4; Pemberian imunisasi TT
5; Pemberian tablet besi
Frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama
kehamilan dengan ketentuan waktu minimal 1 kali pada triwulan
kedua, dan mnimal 2 kali pada triwulan kedua, dan minimal 2 kali
pada triwulan ketiga.
Standar Pelayanan Minimal Targetnya yaitu 95%.
2; Cakupan Pertolongan persalinan
Jenis tenaga yanga memberikan pertolongan persalinan
kepada masyarakat :

13

a;

Tenaga profesional

: Dokter spesialis kebidanan, dokter umum,

bidan, pembantu bidan dan perawat.


b;

Dukun bayi :
Terlatih

: Adalah dukun bayi yang telah mendapatkan


latihan tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.

Tidak terlatih

: Adalah dukun bayi yang belaum pernah dilatih


oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang
sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.

Standar Pelayanan Minimal Targetnya yaitu 90%.


3; Faktor risiko pada ibu hamil yang dirujuk diantaranya adalah :
1; Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2; Anak lebih dari 4
3; Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang 2
tahun atau lebih dari 10 tahun
4; Tinggi badan kurang dari 145 cm
5; Berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas kurang
dari 23,5 cm
6; Riwayat keluarga menderita kencing manis, hipertensi dan
riwayat cacat kengenital
7; Kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau
panggul.
Risiko tinggi kehamilan merupakan keadaan penyimpangan
dan normal yang

secara langsung menyebabkan kesakitan dan

kematian ibu maupun bayi.Risiko tinggi pada kehamlan meliputi :


1; Hb kurang dari 8 gram %
2; Tekanan darah tinggi yaitu sistole lebih dari 140 mmHg dan
diastole lebih dari 90 mmHg
3; Oedema yang nyata

14

4; Eklampsia
5; Perdarahan pervaginam
6; Ketuban pecah dini
7; Letak lintang pada usia kehamlan lebih dari 32 minggu.
8; Letak sungsang pada primgravida
9; Infeksi berat atau sepsis.
10; Persalinan premature
11; Kehamilan ganda
12; Janin yang besar
13; Penyakit kronis pada bu antara lain jantung, paru, ginjal.
14; Riwayat obstestri buruk, riwayat bedah sesar dan komplikasi
kehamilan.
Standar Pelayanan Minimal Targetnya yaitu 100%
4; Cakupan kunjungan Neontaus
Resiko tinggi pada neonatal meliputi :
1;

BBLR atau berat lahir kurang dari 2500 gram

2;

Bayi dengan tetanus neonatorum

3;

Bayi baru lahir dengan asfiksia

4;

Bayi dengan ikterus neonatorum yaitu ikterus lebih dari 10


hari setelah lahir

5;

Bayi baru lahir dengan sepsis

6;

Bayi lahir dengan berat lebih dari 4000 gram

7;

Bayi preterm dengan post term

8;

Bayi lahir dengan cacat bawaan sedang

9;

Bayi lahir dengan persalinan dengan tindakan.


Standar Pelayanan Minimal targetnya yaitu 90%

15

BAB III
PELAKSANAAN PROGRAM KIA
(KESEHATAN IBU DAN ANAK)
A; Situasi Umum
1; Situasi Umum
Puskesmas II Cilongok merupakan salah satu bagian wilayah Kabupaten
Banyumas, dengan luas wilayah kurang lebih 42 km2 atau 3,25 % luas
kabupaten banyumas.
2; Sarana Kesehatan Puskesmas, terdiri atas :
a; Puskesmas Induk
b; Puskesmas Keliling
c; Ambulance
d; Telepon.
e; Sarana Penunjang : Alat pemeriksaan Sederhana Laboratorium.
f; Ruang Pelayanan dan Penunjang Pelayanan :
1; Loket Pendaftaran
2; Ruang Rekam Medis
3; Ruang Administrasi Umum
4; Poli Gigi
5; Ruang KIA, KB dan Imunisasi
6; Ruang Bidan
7; Ruang Laboratorim Klinik
8; Ruang Klinik Gizi
9; Ruang Klinik Sanitasi
10; Ruang Apotik
11; Ruang Gudang Obat
12; Ruang Tata Usaha
13; Ruang Tamu
14; Ruang Dokter
15; Ruang Pertemuan (Aula)
16; Dapur
17; Gudang

16

18; Garasi Mobil


3; Data Kepegawaian Puskesmas
Poliklinik Umum

: 2 Dokter dan 2 Perawat

poliklinik KIA dan KB

: 4 Bidan

Laboratorium

: 1 Petugas laboatorium

Konsultasi

: 1 Dokter dan 1 Perawat

Apotik

: 2 Asisten Apoteker

Klinik Gizi

: 1 Petugas Gizi (Bidan yang telah mengikuti

pelatihan gizi)
Klinik Sanitasi
4; Pelayanan Luar Gedung
Posyandu Balita & Lansia
Puskesling
PKD
Pustu
UKS-UKGS

: 3 Petugas Sanitasian

: Bidan, Perawat, Kader


: Bidan, Perawat
: Bidan, Perawat
: Perawat, Bidan
: Dokter, Perawat, Perawat Gigi

5; Situasi Wilayah Kerja


Wilayah Puskesmas II Cilongok terbagi dalam 9 desa yaitu Batuanten, Cipete,
Jatisaba, Kasegeran, Langgongsari, Pageraji, Panusupan, Pejogol, dan
Sudimara, dengan desa yang mempunyai wilayah paling luas adalah panusupan
dengan luas + 8,64 km2 yang paling sempit adalah desa Sudimara dengan luas
+ 1,87 km2, Kecamatan cilongok merupakan kecamatan yang mempunyai
wilayah paling luas di kabupaten Banyumas yaitu sekitar 0,534 Ha, dengan
batasan wilayah beberapa kecamatan :
a; Di Sebelah Utara
: Wil. Puskesmas I Cilongok
b; Di Sebelah Selatan
: Wil. Puskesmas Patikraja
c; Di Sebelah Barat
: Wil. Puskesmas Aji Barang
d; Di Sebelah Timur
: Wil. Puskesmas Karang Lewas
6; Visi dan Misi Puskemas II Cilongok
a; Visi
Pelayanan kesehatan dasar paripurna menuju masyarakat sehat mandiri
b; Misi
1; Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
2; Meningkatkan Kinerja dan mutu pelayanan kesehatan
3; Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia
4; Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral
5; Meningkatkan tertib administrasi dan keuangan
17

7; Jumlah Kependudukan
Jumlah penduduk di kecamatan cilongok sebanyak 55.657, yang terdiri dari :
a; Desa Cipete
: 5.070
b; Desa Jatisaba
: 4.367
c; Desa Kasegeran
: 4.970
d; Desa Langgongsari
: 5.230
e; Desa Pageraji
: 7.241
f; Desa Panusupan
:10.699
g; Desa Pejogol
: 4.559
h; Desa Sudimara
: 4.503
8; Tingkat Sosial Ekonomi
a; Tingkat Pendidikan
Dari hasil pendataan penduduk laki-laki dan perempuan usia 10 tahun
keatas menurut pendidikan tertinggi yang tidak/belum pernah sekolah
sebesar 3.270 orang, tidak/belum tamat SD sebesar 3.777 orang, tamat
SD/MI/Sederajat sejumlah 8.021 orang, tamat SLTP/MTs sederajat
sejumlah 5.285 orang, tamat SMU/MA sederajat 3.817 orang tamat DIII
/Akademi

sebesar

709

orang,

sedangkan

untuk

pendidikan

Sarjana/Universitas sebanyak 300 orang.


b; Penduduk yang Melek Huruf
B; Program Kesehatan Ibu & Anak (KIA) dan Standar Pelayanan Minimal
(SPM)
1;
ANC (Antenatal Care)
Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga
kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Ditetapkan pula bahwa
frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan,
dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan sebagai
berikut :
- Minimal 1 kali pada triwulan pertama.
- Minimal 1 kali pada triwulan kedua.
- Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.
Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk
menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko,
pencegahan dan penanganan komplikasi.
a; Standar Pelayanan Minimal
; Pelayanan 7 T
1; Timbang berat badan dan tinggi badan.
18

2;
3;
4;
5;
6;

Ukur tekanan darah.


Ukur tinggi fundus uteri.
Imunisasi TT lengkap (skrining TT)
Pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan.
Tengok/ periksa ibu hamil dari ujung rambut sampai dengan

ujung kaki
7; Tanya (temu wicara) dalam rangka persiapan rujukan.
8; Tes penyakit menular seksual.
Pemeriksaan luar ibu hamil:

LEOPOLD = L1,L2,L3,L4

Taksiran Berat Janin = (Tinggi FU-N) x 155

N 13 bila kepala blm melewati PAP

N 12 bila kepala msh berada di atas spina iskiadika

N 11 bila kepala msh berada di bawah spina iskiadika


Kehamilan:

Kehamilan cukup bulan: 40-43 mgg

Kehamilan prematur : 28-36 mgg

Kehamilan postmatur/serotinus: > 43mgg


b; Program ANC
Dengan sasaran 9 desa di wilayah kerja Puskesmas II cilongok,
dengan jumlah ibu hamil 994. Cakupanya :
1; Cakupan Kunjungan pertama (K1) berjumlah 758 atau 76,26
%, K4 berjumlah 592 atau 59,56%. Targetnya 95%
2; Jumlah Bumil mendapat Tablet fe 1 berjumlah 67 atau 78.82
%. Targetnya 95%
3; Jumlah Bumil Mendapat Tablet Fe 3 berjumlah 52 ata 61.18
%. Targetnya 95%

2;

PNC (Post Natal Care) atau Persalinan dan Nifas


Kunjungan pada masa nifas dilakukan minimal 4 kali yang
tujuannya dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir dan untuk
mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi.
Kunjungan I
Dilakukan pada 6-8 jam setelah persalinan.
Tujuannya :
1; Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2; Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika
berlanjut

19

3; Memberi konseling pada ibu atau keluarga untuk mencegah


perdarahan akibat atonia uteri
4; Pemberian ASI awal
5; Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
6; Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal
dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran
atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil atau sehat
Kunjungan II
Dilakukan 6 hari setelah persalinan.
Tujuannya :
1;

Memastikan involusio uterus berjalan atau normal, uterus


berkontraksi,

fundus

dibawah

umbilicus,

tidak

ada

2;

perdarahan abnormal, tidak ada bau


Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

3;

abnormal
Memastikan

4;

menunjukkan tanda-tanda ada penyulit


Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan

5;

istirahat
Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan tali

ibu

menyusui

dengan

baik

dan

tidak

pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi seharihari.


Kunjungan III
Dilakukan setelah 2 minggu setelah persalinan.
Tujuannya :
1; Memastikan involusi uterus berjalan lancar atau normal, uterus
berkontraksi,
2; fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak
ada bau.
3; Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan
abnormal
4; Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak menunjukkan
tanda-tanda ada penyulit
5; Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat
6; Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan tali pusat,
menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi sehari-hari

20

Kunjungan IV
Dilakukan 6 minggu setelah persalinan.
Tujuannya :
1; Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi
alami
2; Memberikan konseling untuk KB secara dini
;

Pertolongan Persalinan
Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Pencegahan infeksi
2. Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar.
3. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ke tingkat pelayanan
4.
5.

yang lebih tinggi.


Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Memberikan Injeksi Vit K 1 dan salep mata pada bayi baru lahir.
Tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan

pertolongan persalinan adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter dan


bidan.
;

Prorgam PNC (Post Natal Care) atau Persalinan dan Nifas


Dengan sasaran 9 desa di wilayah kerja Puskesmas II cilongok,
jumlah Ibu Bersalin 947. Cakupannya Dengan Target 90% :
1; Persalinan di tolong Nakes (Tenaga Kesehatan) :
a;
Persalinan Nakes berjumlah 652 atau 68,85%
b;
Persalinan Nakes di Fasilitas Pelayanan Kesehatan 545
c;

atau 57,55%
Persalinan Nakes di Non Fasilitas Pelayanan Kesehatan

96 atau 10,14
2; Persalinan di tolong Non Nakes 1 orang atau 0,11 %
3; Pemberian Vit A Nifas 652 atau 68,85 %
4; Kunjungan Nifas (KF) KF 1 652 atau 68,85%, KF 2 652 atau
68,85% dan KF 3 652 atau 68,85%.
5; Persalinan yang mempunyai resiko yang di tangani oleh Nakes
240 orang atau 40,3%
6; Deteksi resiko di tolong oleh tenaga kesehatan 14 atau 16,47 %, di
tolong oleh Masyarakat atau Dukun 13 atau 15,29%.
3;

Rujukan Ibu Hamil Resiko Tinggi


a;
Faktor risiko pada ibu hamil adalah :
1; Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2; Anak lebih dari 4.
21

3; Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari 2


tahun.
4; Kurang Energi Kronis (KEK) dengan lingkar lengan atas kurang dari
23,5 cm, atau penambahan berat badan < 9 kg selama masa
kehamilan.
5; Anemia dengan dari Hemoglobin < 11 g/dl.
6; Tinggi badan kurang dari 145 cm, atau dengan kelainan bentuk
panggul dan tulang belakang
7; Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum
kehamilan ini.
8; Sedang/pernah menderita penyakit kronis, antara lain : tuberkulosis,
kelainan jantung-ginjal-hati, psikosis, kelainan endokrin (Diabetes
Mellitus, Sistemik Lupus Eritematosus, dll), tumor dan keganasan
9; Riwayat kehamilan buruk: keguguran berulang, kehamilan ektopik
terganggu, mola hidatidosa, ketuban pecah dini, bayi dengan cacat
kongenital
10; Riwayat persalinan dengan komplikasi : persalinan dengan seksio
sesarea, ekstraksivakum/ forseps.
11; Riwayat nifas dengan komplikasi : perdarahan paska persalinan,
Infeksi masa nifas, psikosis post partum (post partum blues).
12; Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi dan
riwayat cacat kongenital.
13; Kelainan jumlah janin : kehamilan ganda, janin dampit, monster.
14; Kelainan besar janin : pertumbuhan janin terhambat, Janin besar.
15; Kelainan letak dan posisi janin: lintang/oblique, sungsang pada usia
kehamilan lebih dari 32 minggu.
b; Program cakupan Rujukan resiko tinggi
Dengan sasaran 994 Ibu hamil , cakupannya rujukan kasus
Maternal dan cakupan rujukan kasus Neonatus dengan target 100%,
Resiko tinggi rujukan kasus Maternal 203 atau 20.4 %,
4;

Cakupan Pelayanan Neonatus


Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai
standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada
neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah
lahir, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui kunjungan rumah.

22

Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus :


1; Kunjungan Neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6 48
Jam setelah lahir.
2; Kunjungan Neonatal ke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3
sampai dengan hari ke 7 setelah lahir.
3; Kunjungan Neonatal ke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8
sampai dengan hari ke 28 setelah lahir.
Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus
terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila
terdapat kelainan/masalah kesehatan pada neonatus. Risiko terbesar
kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, minggu pertama
dan bulan pertama kehidupannya. Sehingga jika bayi lahir di fasilitas
kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama
24 jam pertama.
Pelayanan Kesehatan Neonatal dasar dilakukan secara komprehensif
dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan Bayi baru Lahir dan
pemeriksaan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda
(MTBM) untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat, yang meliputi :
1. Pemeriksaan dan Perawatan Bayi Baru Lahir
Perawatan Tali pusat
Melaksanakan ASI Eksklusif
Memastikan bayi telah diberi Injeksi Vitamin K1
Memastikan bayi telah diberi Salep Mata Antibiotik
Pemberian Imunisasi Hepatitis B-0
2; Pemeriksaan menggunakan pendekatan MTBM
Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi
bakteri, ikterus, diare, berat badan rendah dan Masalah pemberian
ASI.
Pemberian Imunisasi Hepatitis B0 bila belum diberikan pada
waktu perawatan bayi baru lahir.
Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan ASI
eksklusif, pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi
baru lahir di rumah dengan menggunakan Buku KIA.

Program cakupan kunjungan neonatus dan bayi


Dengan sasaran jumlah Neonatus 46 anak dan bayi (0-6 bulan) sebanyak
456 bayi

23

1;

Neonatus cakupannya : Neonatal yang mempunyai resiko tinggi

2;

di tangani nakes/ dirujuk 20 atau 19,06%. Target 90 %


Bayi (0-6 bulan) yang diberi ASI Ekslutif cakupanya :
Dari jumlah bayi umur (0-6 bulan) yang ada sebanyak 456
bayi, yang diberi Asi Esklusif sebanyak 248 bayi atau sebesar
54,38%,

hal

ini

menunjukan

sebagian

dari

masyarakat

memberikan ASI Esklusif dan masih banyak yang memberikan


susu formula. Target 90%.
5; Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita
sakit dan sehat. Pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai
standar yang meliputi :
1; Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang
tercatat dalam Buku KIA/KMS. Pemantauan pertumbuhan adalah
pengukuran berat badan anak balita setiap bulan yang tercatat pada
Buku KIA/KMS. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan berturutturut atau berat badan anak balita di bawah garis merah harus dirujuk
ke sarana pelayanan kesehatan.
2; Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)
minimal 2 kali dalam setahun. Pelayanan SDIDTK meliputi
pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa,
sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali pertahun (setiap 6 bulan).
Pelayanan SDIDTK diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan
kesehatan) maupun di luar gedung
3; Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam setahun.
4; Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA oleh setiap anak balita
5; Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan
pendekatan MTBS.
;

Program MTBS
Dengan sasaran balita yang berkunjungan dengan :

24

Pendaftaran

a;

Balita di tangani MTBM berjumlah 62 balita atau 85%, Targetnya


100%

b; Balita sakit yang berkunjung ke puskesmas 59 balita atau 99 %,


target 95 %
6;

Angka Kematian
a;
Angka kematian Ibu
Kematian ibu maternal yaitu kematian yang terjadi pada ibu
karena peristiwa kehamilan, persalinan dan masa nifas. Jumlah
kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas II cilongok berjumlah 2
orang pada tahun 2015.
b;

Angka kematian Bayi


Jumlah bayi lahir hidup berjumlah 650 sedangkan jumlah
Angka kematian

di puskesmas 2 cilongok sebesar 6 per 1000

kelahiran hidup atau sekitar 3,9 ini berarti masih di bawah target
nasional yaitu 24 per 1000 kelahiran hidup, namun demukian perlu
diwaspadai.
C; DATA LOGISTIK
1;
Tersedianya ruangan.
2; Pemeriksaan
Adanya kegiatan
meliputi penimbangan
Umumpengukuran antropometri
Apotik
berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar lengan. Alat - alat yang
tersedia diantaranya: Timbangan digital, microtoize, food model dan
3;
4;
a;
b;

KIA
midline.
Adanya protap atau prosedur tetap dalam pelayanan KIA
Sarana dan alat
Sarana : ruangan Pemeriksaan KIA
Alat : 1 timbangan, meja kursi,1 tensimeter, 1 midline, 2 doppler,
reflek hamer 1, 2 tempat tidur, 2 stetoskop, 1 timbangan bayi, 1
washtafel.

D;

ALUR LAYANAN PROGRAM KIA DI PUSKESMAS II CILONGOK

25

E;

JAM BUKA PELAYANAN


Senin-kamis : 07.30 12.00 WIB
Jumat-Sabtu : 07.30 11.00 WIB

BAB IV
PEMBAHASAN
Upaya peningkatan cakupan tiap program yang ada di Puskesmas terus
dilakukan dengan berbagai cara dan strategi, namun saat ini khususnya di
Puskesmas II Cilongok masih ada target cakupan yang belum tercapai secara
maksimal. Maka dengan dilakukannya pengkajian dan analisa lebih lanjut akan
timbul pemahaman terhadap permasalahan program yang dirasakan serta mencari
problem solving yang tepat. Di dalam program KIA di Puskesmas ini terdapat
berbagai macam kegiatan baik yang diselenggarakan di dalam gedung puskesmas
maupun di luar gedung puskesmas seperti yang telah dijelaskan diatas. Kami akan
menganalisa salah satu kegiatan dalam program KIA puskesmas dari segi
pelaksanaan dan keikutsertaan masyarakat mengikuti kegiatan tersebut berdasarkan
hasil wawancara dan observasi.

26

A; Analisa SWOT Program KIA Di Puskesmas II Cilongok


1; Strenght
a; Sumber daya manusia di wilayah kerja puskesmas II cilongok sudah sesuai
dengan peran dan tugasnya
b; Fasilitas kesehatan yang ada seperti pendaftaran, anamnese, poliklinik
c;

umum, poliklinik KIA & KB dan apotik.


Sarana prasarana di puskesmas II cilongok tersedia seperti Puskesmas

Keliling, ambulance
d; Program KIA bisa mengkordinikan dengan lintas sektoral, Kader dan
Masyarakat.
e; Pendokumentasian akurat terstruktur, sehingga program KIA dapat
terlaksana
f; Sudah terbentuk struktur program KIA yang dikoordinasi oleh satu orang
Bidan.
g; Program KIA sangat penting diadakan, karena :
1; Untuk mengetahui kasus penyakit tentang kesehatan ibu dan anak.
2; Merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan
dasar di Puskesmas sebagai kolaborasi dengan tim medis lain.
3; Untuk memberikan layanan khususnya kesehatan ibu dan anak
4; Pengunjung puskesmas memperoleh pelayanan yang sesuai dengan
yang dibutuhkan pengunjung puskesmas.
5; Menurunkan angka kematian ibu dan anak, sehingga lebih produktif.
2; weakness
a; Adanya keterbatasan tenaga kerja di puskesmas yang mengakibatkan
terjadinya tugas rangkap di program KIA.
b; Semua bidan sudah menjalankan peran dan tugasnya di program KIA
c; Kurang maksimal dalam pemanfaatan program.
d; Kurangnya media yang memadai, seperti leaflet.
e; Terbatasnya sarana dan alat yang tersedia.
f; Mobil dinas hanya satu.
3; Opportunity

27

a; Antusiasme masyarakat dalam mengikuti program KIA cukup tinggi


apabila ada arahan dari badan pemeriksaan.
b; Kepatuhan penderita melaksanakan progam Pengecekan Kesehatan Ibu dan
Anak
c; Keterlibatan dari pemerintah desa dan lintas sektoral meliputi kegiatan
Program KIA dengan menurunkan angka kematian ibu dan anak
4; Treatmen
1; Jumlah kematian ibu dan anak setiap tahunnya ada
2; Meningkatnya angka kesakitan masyarakat yang berkaitan dengan KIA.
3; Resiko tinggi ibu hamil dan neonatus belum sesuai dengan standar
pelayanan minimal masih di bawah garis target standar.
4; Banyak masyarakat yang melahirkan tidak di tolong oleh tenanga
kesehatan melainkan oleh dukun atau masyarakat yang mengakibatkan
angka kematian tinggi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A; Kesimpulan
Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang
menyangkut pelayan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak
balita serta anak pra sekolah. Pemberdayaan masyarakat bidang KIA, masyarakat
dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinik terkait kehamilan
dan persalinan. Sistem kesiagaan merupakan sitem tolong menolong, yang dibentuk
dari dan oleh untuk masyarakat dalam penggunaan alat transportasi atau komunikasi
(telepon gengam, telepon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatan
pemantauan dan informasi KB. Dalam pengertian ini tercangkup pula pendidikan

28

kesehatan kepada masyarakat, pemuka masyarakat serta menambah ketrampilan


para dukun bayi serta pembinaan kesehatan di taman kanak-kanak.
Tujuan program kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah tercapainya
kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal, bagi
ibu dan keluarganya untuk menuju norma keluarga kecil bahagia sejahtera
(NKKBS) serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses
tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas
manusia seutuhnya.
Dari hasil analisa program didapatkan hasil bahwa dalam pelaksanaan
program KIA di Puskesmas II CIlongok sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Namun belum optimal dalam pelaksanaan program karena keterbatasan sarana dan
tenaga kesehatan yang ada di puskesmas II Cilongok.
B; Saran
1; Semoga dengan tersusunnya masalah KIA ini, memberikan manfaat bagi kita
semua, dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
2; Perlunya peningkatan sarana dan prasarana di bagian program KIA Puskesmas II
Cilongok
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan RI.(2010).Rencana Operasional Promosi Kesehatan Ibu dan
Anak. Available from www.promkes.depkes.go.id (accesed 11
September 2015)
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas 2013. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Kementerian
Kesehatan RI, Jakarta.
Sumber : Endang S. Manajemen Kesehatan ; Teori dan Praktik di Puskesmas, Maret
2009.

29

Zulkifli dari bambang, 2006, Konsep Dasar Puskesmas.


http://creasoft.wordpress.com
http://www.slideshare.net
http://ayubiedary.blogspot.com/2013/04/perkembangan-sistem-pelayanankesehatan.html
http://kia029.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Milenium
http://www.jdih.net/web_bppkb/berita/269/bkkbn-gandeng-ibi-dan-idi-demi-capaitarget-mdgs-2015
http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?
option=com_content&task=view&id=450&Itemid=450&limit=1&limitstart=0

30

a; Data Antenatal Care (ANC) di Puskesmas II Ciongok


Data ANC
Kumulatif bulan September 2015
No

Desa

Jml. Bumi
Pendud

K1

Jml.

Jml. Mendapat

Mendapat

Tablet Fe 3

K4

uk

Deteksi resiko

Tablet Fe 1
Abs

Abs

Abs

Abs

Nakes
Abs

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Batuanten
Cipete
Jatisaba
kesegeran

5070
4367
4970
5230

Langgongsari 7241
Pageraji
Panusupan
Pejogol
Sudimara

10699
9018
4559
4503

Rujukan kasus Resti

79
76
73
77
160
215
140
89
85

72
57
56
56
133
125
133
59
67

91.14 57
75.00 38
76.71 46
72.73 49
83.13 104
58.14 107
95.00 108
66.29 38
78.82 45

Masy
% Abs

Maternal
% Abs

Neonatus
%

Abs

72.15 72

91.1 58

73.42

29

36.71 10

36.71 21

26.6

8.85

50.00 57

4
75.0 44

57.89

10

13.16 12

15.79 19

25.0

1.32

63.01 56

0
76.7 64

87.67

12.33 12

16.44 11

15.2

63.64 56

1
72.7 58

75.32

16

20.76 12

15.58 14

18.2

1.3

65.00 133

3
83.1 108

67.50

37

23.13 21

13.13 37

23.1

2.5

49.77 125

3
58.1 105

48.84

14

6.51 23

10.70 26

12.1

0.93

77.14 133

4
95.0 110

78.57

29

20.71 26

18.57 49

35.0

2.86

42.70 59

0
66.2 49

55.06

13

14.61 4

4.49 9

10.1

52.94 67

9
78.8 52

61.18

14

16.47 13

15.29 17

20.0

1.18

31

2
Puskesmas

55657

994

758

76.26 592

59.56 758

76.2 648

65.19

171

17.20 133

13.38 203

20.4

20

2.01

b; Data persalinan dan nifas diwilayah Puskesmas II Cilongok


Data Persalinan dan Nifas
Kumulatif Bulan September 2015
No

Desa

Bulin

Persalinan di tolong Nakes (PN)

PN

PN di

PN di Non

Persalinan di Komplikasi
tolong Non

maternal di

Nakes

tangani (PK)

Abs

Abs

1
0
0
0
0
0
0

1.32
0
0
0
0
0
0

27
21
20
25
29
29
60

177.63
145.83
144.93
168.92
95.39
70.73
225.56

Kunjungan Nifas (KF)

KF 1

KF 2

KF 3

FASYANKES FASYANKE

1
2
3
4
5

Batuanten
Cipete
Jatisaba
kesegeran
Langgongsari

6 Pageraji
7 Panusupan

76
72
69
74
152
205
133

Abs
58
45
50
57
119
110
120

%
76.32
62.50
72.46
77.03
78.29
53.66
90.23

Abs
58
40
47
47
86
99
99

%
76.32
55.56
68.12
63.51
56.58
48.29
74.44

S
Abs
3
5
3
9
48
11
8

%
3.95
6.94
4.35
12.16
31.58
5.37
6.02

Abs
58
45
50
57
119
110
120

%
76.32
65.50
72.46
77.03
78.29
53.66
90.23

Abs
58
45
50
57
119
110
120

%
76.32
65.50
72.46
77.03
78.29
53.66
90.23

Abs
58
45
50
57
119
110
120

%
76.32
65.50
72.46
77.03
78.29
53.66
90.23

32

8 Pejogol
9 Sudimara
Puskesmas

c;

85
81

43
50

50.59 32
61.73 37

37.65 3
45.68 6

3.53 0
7.41 0

0
0

13
13

947

652

68.85 545

57.55 96

10.14 1

0.11 237

76.47 43
80.25 50

50.59 43
61.73 50

50.59 43
61.73 50

50.59
61.73

125.13 652

68.85 652

68.85 652

68.85

Data Angka Kematian di wilayah Puskesmas II Cilongok


Data angka Kematian
Kumulatif Bulan september 2015

No

Desa

Jml.

Jml. Bayi Jml. Bayi

Sebab Kematian Ibu

Kematia

lahir

n Ibu

lahir mati

hidup
Perdaraha Hipertensi
n

dalam

Infeksi

Ggn. Sistem

Ggn.

Perdarahan

Metabolik

Lain-lain

33

Kehamilan

Darah

(DM. Dll)

(Jantung,

Pageraji
Panusupan
Pejogol
Sudimara

1
0
0
0
0
1
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0

stroke, Dll)
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0

60
45
49
57
118
108
118
43
52

0
0
0
0
1
2
2
1
0

Puskesmas

650

1
2
3
4
5

Batuanten
Cipete
Jatisaba
kesegeran
Langgongsari

6
7
8
9

d;

Data MTBS di wilayah Puskesmas II Cilongok


Data MTBS
Kumulatif bulan September 2015
No.

Desa

Pusk. Melaksanakan MTBM

Balita sakit yang berkunjung


ke puskesmas

Balita di tangani dg MTBM


L

L+P

L+P

Batuanten

100

100 3

100

Cipete

100

100 6

100

34

e;
No

Jatisaba

100

100 5

100

Kesegeran

100

100 6

100

Langgongsari

100

100 11

100

14

Pageraji

100

100 6

100

Panusupan

14

100

100 17

100

11

Pejogol

100

100 3

100

Sudimara

100

100 5

100

40

100

22

100 62

100

28

31

59

Data standar pencapaian Pelayanan Minimal Puskesmas II Cilongok sesuai permenkes 741 th 2008 tahun 2015
S

P
Indikator

M B

Jan (%)

Feb (%)

Mar (%)

Apr (%)

Mei (%)

Jun (%)

Jul (%)

Agu (%)

Sep (%)

Okt (%)

Nov (%)

Des (%)

1 Cakupan kunjungan ibu hamil K4

6 , 8

13,9

20,1

27,2

40,3

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

2 Cakupan ibu hamil dengan komplikasi yang di tangani

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

3 Cakupan pertolongan persalianan oleh bidan atau tenaga yang memilki kemampun kompetisi kebidanan

5 , 8

28,4

37,5

45,6

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

4 Cakupan pelayanan ibu nifas

5 , 8

28,4

37,5

45,6

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

5 Cakupan neonatal dengan komplikasi yang di tangani

23,5

33,8

40,4

43,3

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

17,6

35

6 C a k u p a n

kunj ungan

ba y i

6 , 9

16,7

28,3

36,6

44,6

48,5

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

7 Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)

44,4

88,8

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

8 Cakupan pelayanan anak Balita

11,6

20,6

30,3

41,5

53,4

65,1

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

9 Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 0 Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 1 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

80,4

81,7

82,1

82,5

82,8

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

3 , 5

5 , 3

7 , 1

8 , 9

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 4 Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 5 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 2 Cakupan

peserta KB aktif

Cakupan Penemuan dan penanganan penderita penyakit


a; N
R

o
a

n
t e

b; Penemuan penderita pneumonia


balita
1 3 c; Penemuan pasien baru TB BTA

Positif
d; P e n e m u a n
DBD

penderita

e; P e n e m u a n p e n d e r i t a
Diare

36

1 6 Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus di di berikan sarana kesehatan (RS) Di kab/Kota

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 7 Cakupan Desa/Kelurahan menangani KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

1 0 0

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

1 8 Cakupan

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

Blm ada

desa siaga aktif

37

38