Anda di halaman 1dari 6

BAB VI

PEMBAHASAN

6. 1 Pembahasan
6. 1. 1 Hubungan antara Riwayat Keluarga dengan Kejadian DM Tipe 2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70,4% penderita DM tipe 2 mempunyai riwayat DM pada
keluarga, sedangkan responden yang tidak terkena DM tipe 2 hanya 35,2% yang mempunyai
riwayat DM pada keluarga. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara riwayat
keluarga dengan kejadian DM tipe 2. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil pada uji chi-square
yaitu nilai p = 0,001 (< = 0,05). Perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds ratio 4,37,
sehingga dapat disimpulkan bahwa yang mempunyai riwayat keluarga DM memiliki risiko 4,37
kali lebih besar untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan responden yang tidak
mempunyai riwayat diabetes melitus pada keluarga.
Menurut Hendraswari (2008), pasien dengan riwayat keluarga diabetes melitus memiliki
risiko tinggi terkena diabetes melitus. Risiko menderita DM apabila salah satu anggota keluarga
menderita DM adalah 15 % dan menjadi 75% apabila kedua orang tuanya menderita DM. Risiko
genetik lebih dominan diturunkan oleh ibu dibandingkan dengan ayahnya karena penurunan gen
sewaktu dalam kandungan lebih besar dari ibu. Saudara kandung kembar identik yang menderita
DM memiliki risiko sebesar 90% jika salah satunya menderita penyakit ini. Secara umum
kromosom yang terganggu pada kejadian ini menyebabkan gangguan pada fungsi sel beta.
6. 1. 2 Hubungan antara Usia dengan Kejadian DM Tipe 2
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa usia yang paling banyak ditemui pada
penderita DM tipe 2 adalah responden yang berusia 45 tahun ke atas, yaitu mencapai 70,4%,

sebaliknya sebanyak 53,7% responden yang tidak terkena DM tipe 2 berusia di bawah 45 tahun.
Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara usia dengan kejadian DM tipe 2.
Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil pada uji chi-square yaitu nilai p = 0,01 (< = 0,05).
Perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds ratio 2,75, sehingga dapat disimpulkan bahwa
responden yang berusia > 45 tahun memiliki risiko 2,75 kali lebih besar untuk menderita DM
tipe 2 dibandingkan dengan responden yang berusia < 45 tahun.
Hasil penelitian ini relatif sama dengan yang dikemukakan oleh International Diabetes
Federation (2011) yaitu sebesar 90-95% orang dengan DM tipe 2 biasanya berusia lebih dari 45
tahun. Hasil penelitian membuktikan bahwa DM tipe 2 sering dijumpai pada usia 40 - 60 tahun
(Khardori, 2013). Jika dilihat dari persentase pada responden DM tipe 2 hanya ditemukan 29,6%
yang berusia kurang dari 45 tahun. Risiko diabetes melitus meningkat seiring dengan
bertambahnya usia terutam usia diatas 45 tahun, karena jumlah sel-sel beta dalam pankreas yang
memproduksi insulin menurun seiring bertambahnya usia. Pada usia 45 tahun, fungsi fisiologis
tubuh mulai menurun terutama pada penderita yang berat badannya berlebih sehingga tubuhnya
tidak peka lagi terhadap insulin (Khardori, 2013).
6. 1. 3 Hubungan antara Suku dengan Kejadian DM Tipe 2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83,3% penderita DM tipe 2 memiliki suku Bali, sedangkan
responden yang tidak terkena DM tipe 2 hanya 18,5% memiliki suku non Bali. Hasil uji statistik
menunjukkan tidak ada hubungan antara suku dengan kejadian DM tipe 2. Kesimpulan tersebut
berdasarkan hasil pada uji chi-square yaitu nilai p = 0,80 (< = 0,05).
Sebagai perbandingan, penelitian Sujaya (2009) pada masyarakat Bali tahun 2009
menunjukkan bahwa masyarakat yang lebih banyak mengkonsumsi makanan tradisional dengan

kandungan lemak dan karbohidrat yang tinggi memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami
diabetes melitus.
6. 1. 4 Hubungan antara Merokok dengan Kejadian DM Tipe 2
Hasil analisis data menunjukkan bahwa sebanyak 70,4% responden yang menderita DM tipe 2
termasuk dalam kategori perokok, sebaliknya 59,3% yang tidak menderita DM tipe 2 dalam
kategori tidak perokok. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan merokok
dengan kejadian DM tipe 2. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil uji chi-square yaitu nilai p =
0,004 (< = 0,05). Perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds ratio 3,45, sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang terdiagnosis penyakit DM tipe 2 yang merokok memiliki
risiko 3,45 kali lebih besar untuk menderita DM tipe 2 apabila dibandingkan dengan responden
yang tidak merokok.
Hasil ini sesuai dengan Centers for Disease Control (2014) yang menyatakan bahwa
kebiasaan merokok berhubungan secara mencolok dengan bertambahnya risiko terjadinya DM
tipe 2. Efek gas dan zat kimia dalam kandungan rokok menyebabkan kekejangan dan
penyempitan pembuluh darah. Merokok juga dapat mengganggu cara kerja insulin. Orang yang
merokok 20 batang/hari memiliki insidens DM lebih tinggi dibandingkan yang tidak merokok.
6. 1. 5 Hubungan antara Kebiasaan Olahraga dengan Kejadian DM Tipe 2
Responden yang kurang melakukan aktivitas olahraga sebelum terkena DM cenderung
mengalami DM tipe 2, terbukti sebanyak 72,7% responden terdiagnosis DM tipe 2 tidak
melakukan olahraga, sedangkan sebanyak 68,5% yang tidak terdiagnosis DM tipe 2 melakukan
olahraga. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan olahraga dengan
kejadian DM tipe 2. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil pada uji chi-square yaitu nilai p = <
0,001 (< = 0,05). Perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds ratio 0,17 (OR < 1) dapat

disimpulkan bahwa melakukan aktivitas olahraga merupakan faktor protektif (melindungi) atau
dapat mengurangi risiko terhadap kejadian DM tipe 2.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Karim (2002) yang
menyatakan bahwa semakin kurang gerak badan, semakin mudah seseorang terkena diabetes
melitus. Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur ditunjukan
untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Kebiasaan olahraga akan membantu meningkatkan
sekresi insulin. Olahraga 3 kali dalam seminggu selama 30 menit akan membantu meningkatkan
fungsi metabolisme dan mencegah terjadinya kegemukan yang dapat beresiko menjadi DM tipe
2.
6. 1. 6 Hubungan antara Overweight dengan Kejadian DM Tipe 2
Hasil analisis dapat diperoleh gambaran bahwa sebagian besar responden yang mengalami DM
tipe 2 memiliki IMT > 25 kg/m2. Hasil analisis uji statistik menunjukkan ada hubungan antara
overweight dengan kejadian DM tipe 2. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil pada uji chisquare yaitu nilai p = < 0,001 (< = 0,05). Perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds ratio
(OR = 5,80), sehingga dapat disimpulkan bahwa responden dengan IMT > 25 kg/m2 memiliki
risiko 5,80 kali lebih besar untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan responden dengan
IMT < 25 kg/m2.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Martha (2012) yang
menyatakan bahwa 8 dari 10 diantara penderita DM tipe 2 adalah mereka yang mengalami
kegemukan. Makin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan otot akan semakin resisten
terhadap kerja insulin (insulin resistance), terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat badan
terkumpul di daerah sentral atau perut (central obesity). Lemak ini akan memblokir kerja insulin
sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah dan

terjadi kekurangan hormon insulin sehingga lebih berpeluang besar terjadinya DM tipe 2 (Flegal,
Katherin, et al. 2007).
6. 1. 7 Hubungan antara Dislipidemia dengan Kejadian DM Tipe 2
Responden yang menderita dislipidemia cenderung mengalami DM tipe 2 dan komplikasinya.
Sebanyak 61,1% responden DM tipe 2 menderita dislipidemia, sebaliknya 72,2% responden non
DM tipe 2 tidak menderita dislipidemia. Hasil analisis uji statistik menunjukkan ada hubungan
antara dislipidemia dengan kejadian DM tipe 2. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil pada uji
chi-square yaitu nilai p = < 0,001 (< = 0,05). Perhitungan risk estimate diperoleh nilai odds
ratio (OR = 4,08), sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang menderita dislipidemia
memiliki risiko 4,08 kali lebih besar untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan responden
tidak menderita dislipidemia.
Hasil penelitian sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Martha (2012) yang menyatakan
dislipidemia sering dijumpai pada pengidap diabetes melitus. Gambaran dislipidemia yang sering
didapatkan pada pasien DM tipe 2 adalah peningkatan kadar trigliserida dan penurunan kadar
kolesterol HDL, sedangkan kadar kolesterol LDL normal atau sedikit meningkat. Dilaporkan dari
55 kasus diabetes melitus yang diteliti, hiperkolesterolemia di jumpai pada 21,83%,
hipertrigliseridemia pada 34,54% dan keduanya pada 18,18% penderita. Dislipidemia pada
diabetes melitus 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi pada umumnya dan lebih
meningkatkan timbulnya risiko penyakit kardiovaskuler (Flegal, Katherin, et al. 2007).
6. 2 Kelemahan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol retrospektif dengan memiliki
kelemahan/kekurangan yakni

1. Recall bias dapat terjadi pada penelitian, dimana faktor risiko yang berhubungan dengan
kejadian diabetes melitus tipe 2 diperoleh dengan mengandalkan daya ingat responden pada
kejadian yang lalu. Misalnya responden lupa atau tidak tahu ada tidaknya riwayat diabetes
melitus pada keluarga. Hal ini dapat disebabkan karena sampel lupa atau sampel pada
kelompok kasus cenderung mengingat faktor risiko pada penyakit dibandingkan dengan
sampel pada kelompok kontrol. Adapun upaya peneliti dalam meminimalisir terjadinya recall
bias, yaitu dengan cara membantu sampel sedikit demi sedikit untuk mengingat kejadian
tersebut dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pendukung yang mudah dipahami
sampel.
2. Keterbatasan dalam menanyakan suku responden dikarenakan tidak tercantum dalam rekam
medis maupun kartu identitas responden sehingga didapatkan melalui pengakuan responden.
3. Keterbatasan waktu penelitian yang diberikan oleh Rumah Sakit karena akan mengganggu
pasien.