Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Analisa Termodinamika


Siklus Rankine adalah siklus teoritis yang mendasari siklus kerja dari suatu
pembangkit daya uap. Siklus Rankine berbeda dengan siklus-siklus udara ditinjau dari
fluida kerjanya yang mengalami perubahan fase selama siklus pada saat evaporasi dan
kondensasi, oleh karena itu fluida kerja untuk siklus Rankine harus merupakan uap.
Siklus Rankine ideal tidak melibatkan beberapa masalah irreversibilitas internal.
Irreversibilitas internal dihasilkan dari gesekan fluida, throttling, dan pencampuran,
yang paling penting adalah irreversibilitas dalam turbin dan pompa dan kerugiankerugian tekanan dalam penukar-penukar panas, pipa-pipa, bengkokan-bengkokan,
dan katup-katup. Temperatur air sedikit meningkat selam proses kompresi isentropik
karena ada penurunan kecil dari volume jenis air, air masuk boiler sebagai cairan
kompresi pada kondisi 2 dan meninggalkan boiler sebagai uap kering pada kondisi 3.
Boiler pada dasarnya penukar kalor yang besar dimana sumber panas dari
pembakaran gas, reaktor nuklir atau sumber yang lain ditransfer secara esensial ke air
pada tekanan konstan. Uap superheated pada kondisi ke 3 masuk ke turbin yang mana
uap diexpansikan secara isentropik dan menghasilkan kerja oleh putaran poros yang
dihubungkan pada generator lisrik. Temperatur dan tekanan uap jatuh selama proses
ini mencapai titik 4, dimana uap masuk ke kondensor dan pada kondisi ini uap
biasanya merupakan campuran cairan-uap jenuh dengan kualitas tinggi.

Uap dikondensasikan pada tekanan konstan di dalam kondensor yang


merupakan alat penukar kalor mengeluarkan panas ke medium pendingin.

25

Universraitas Sumatera Utara

3
q in

W turbin

TURBIN
BOILER

q out
KONDENSER

W pompa

Gambar 2.1. Diagram alir Siklus Rankine sederhana[2,518]


T

Q in

W turbin

W pompa

Q out

Gambar 2.2. Diagram T-s siklus Rankine sederhana[2,518]

26

Universraitas Sumatera Utara

2.2. Analisis Termodinamik pada Pompa

Pompa adalah mesin yang digunakan untuk memindahkan fluida dari suatu
tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi, atau dari suatu tempat yang
bertekanan yang lebih tinggi ke tempat yang bertekanan lebih rendah dengan
melewatkan fluida tersebut pada sistem perpipaan.Sebenarnya teori dasar untuk
pompa sama dengan teori dasar dengan turbin air, yang membedakan adalah bahwa
pada turbin air tinggi jatuh diubah menjadi daya pada poros, pada pompa daya pada
poros digunakan untuk menaikkan air ke tingkat energi atau tekanan atau tinggi
kenaikan yang lebih besar melalui sudu-sudu pada roda jalan.
Di dalam roda jalan fluida mendapat percepatan oleh gaya sentrifugal dari
sudu-sudu sehingga fluida tersebut mempunyai kecepatan mengalir keluar dari sudusudu, kecepatan fluida ini akan berkurang dan berubah menjadi tinggi kenaikan H di
dalam sudu-sudu pengarah atau di dalam rumah keong. Di dalam saluran pipa keluar,
ketika fluida mengalir akan bergesekan dengan dinding pipa dan menimbulkan
kerugian head, sehingga tinggi kenaikan yang diinginkan akan berkurang. Untuk
mengatasi hal ini maka kecepatan aliran fluida harus dibatasi demikian juga dengan
kecepatan keliling roda jalan.
Tinggi tekan statis dinyatakan dengan :
P = .g.H (N/m 2 )
Daya air : P v = .g.H.Q (watt)
Daya pemompaan (daya poros) [11,146] :
P=

Pv

(watt)

[2.1]

27

Universraitas Sumatera Utara

Gambar 2.3. perbandingan antara kompresi nyata dan isentropik[9,312]


Bentuk dari efisiensi isentropik untuk pompa ditunjukkan pada diagram
mollier di atas keadaan saat memasuki pompa dan tekanan keluar tetap, dengan
perpindahan kalor, energi kinetik, dan energi potensial yang dapat diabaikan, kerja
masuk persatuan massa yang mengalir melewati pompa adalah[9,312] :
..
W
. cv
m

= h2 h1 (kJ/kg)

.....[2.2]

Karena keadaan 1 tetap, entalpi spesifik h1 dapat diketahui, oleh karena itu
nilai kerja masuk hanya bergantung pada entalpi spesifik, h2 pada keluaran.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa besar kerja input menurun dengan menurunya
h2 . Kerja minimum masuk adalah nilai terkecil yang diperbolehkan untuk entalpi
spesifik pada keluaran pompa.
Dengan alasan yang sama untuk turbin, entalpi adalah entalpi pada keadaan
keluar yang dapat dicapai pada kompresi isentropik dari keadaan masuk dan tekanan
keluar tertentu. Kerja minimum masuk didapatkan dari[9,312] :

28

Universraitas Sumatera Utara

= h2 s h1 dalam kompresi nyata h2 > h2 s


s

.....[2.3]

.
.

wcv m
s
Efisiensi pompa isentropik[9,312], c =
.
.

wcv m

..... [2.4]

.
wcv
.
m

Pembilang dan penyebut dari pernyataan di atas dihitung pada keadaan masuk dan
tekanan keluar yang sama. Nilai c biasanya 75 hingga 85%.

2.3. Analisis Termodinamika pada Ruang Bakar

Ketika reaksi kimia terjadi, ikatan antar molekul pereaksi akan hancur, dan
atom-atom, elektron-elektron, disusun kembali untuk membentuk produk. Dalam
reaksi pembakaran oksidasi cepat oleh elemen yang mudah terbakar yang
menghasilkan energi akan terbentuk. Bahan bakar dikatakan terbakar sempurna jika
unsur karbon yang terkandung dalam bahan bakar terbakar menjadi karbon dioksida,
atau semua hidrogen terbakar menjadi air, dan sulfur menjadi sulfur dioksida. Sebagai
ilustrasi dari jumlah teoritis udara pada pembakaran metan, pada reaksi ini hasil
pembakaran hanya mengandung karbon dioksida, air, dan nitrogen. Hal-hal yang
berhubungan dengan reaksi kimia perlu

mengingat bahwa massa dikonservasi

sehingga massa hasil pembakaran sama dengan massa pereaksi.


Massa total dari masing-masing elemen kimia harus sama pada kedua sisi
persamaan. Walau elemen yang ada berbeda senyawa kimianya dalam pereaksi dan
hasil reaksi, akan tetapi jumlah mol pereaksi dengan hasil pembakaran dapat berbeda,
jumlah udara minimum yang mensuplai oksigen secukupnya untuk pembakaran
sempurna semua karbon, hydrogen, dan sulfur yang terkandung dalam bahan bakar
disebut dengan stoikhiometrik jumlah udara.
29

Universraitas Sumatera Utara

Sebagai ilustrasi dari jumlah teoritis udara pada pembakaran metana, pada
reaksi ini hasil pembakaran hanya mengandung karbon dioksida, air, dan
nitrogen[8,629].

CH 4 + a(O2 + 3.76 N 2 ) bCO2 + cH 2 O + dN 2

..... [2.5]

Dimana a, b, c, d mewakili jumlah mol oksigen, air, karbon dioksida, dan nitrogen.
Angka 3,76 mol nitrogen adalah dikonsiderasikan untuk menyertai oksigen. Dengan
menerapkan konservasi massa pada karbon, hydrogen, oksigen, dan nitrogen adalah :
C:

b=1

H:

2c = 4

O:

2b + c = 2a

N:

d = 3,76a

Sehingga persamaan di atas menjadi :

CH 4 + 2(O2 + 3,76 N 2 ) CO2 + 2 H 2 O + 7,52 N 2


Koefisien 2 sebelum

(O2 + 3,76 N 2 )

adalah jumlah mol oksigen dalam udara

pembakaran, per mol bahan bakar, bukan jumlah udara. Jumlah udara pembakaran
adalah 2 mol oksigen ditambah 2 3,76 mol nitrogen yang memberikan 9,52 mol
udara per mol bahan bakar.
Untuk menghitung air fuel ratio AFR berdasarkan massa[8,629]:

M udara
AFR
M
bahan bakar
Dimana : AF =

AF

kg (udara )
28 97
)

9,52 = (
kg (bahan bakar )
16,04

mol udara
mol bahan bakar

....[2.6]

kmol (udara )
)
kmol (bahan bakart )

30

Universraitas Sumatera Utara

Untuk bahan bakar hidrokarbon dengan rumus C m H n reaksi pembakarannya


adalah:
n

n
n
n

C m H n + m + (O2 + aN 2 + bH 2 O ) mCO2 + a m + N 2 + + b m + H 2 O
4
4
4

4

dimana :
a = perbandingan volume N 2 dengan O2 di udara
b = perbandingan volume H 2O dengan O2 di udara
Untuk bensin m = 8, n = 18,dan bahan bakar diesel m = 12, n = 26
Biasanya jumlah udara yang disuplai lebih atau kurang dari jumlah teoritis.
Jumlah udara aktual yang disuplai biasanya diekspresikan dengan persen udara
teoritis, contoh, 150% udara teoritis artinya udara aktual yang disuplai adalah 1,5 dari
jumlah udara teoritis. Dengan bantuan pembakaran air jenuh yang dipompa ke boiler
akan berubah menjadi uap jenuh atau uap panas lanjut. Kerja fluida siklus komplit
dimana fluida meninggalkan pompa disebut feedwater boiler. Laju keseimbangan
.

massa dan energi pada volume atur boiler tertutup adalah :

Q in
= h2 h1
.
m

dimana

Q in
.

adalah laju pindahan panas dari sumber energi masuk ke fluida kerja per

satuan massa lewat turbin.

2.4. Analisis Termodinamika pada Turbin


Di dalam turbin terjadi pelepesan energi untuk menggerakkan beban
(generator dan kompresor). Uap yang disuplai dari boiler akan berekspansi sehingga
tekanannya naik dan mampu mendorong tingkat sudu turbin.
Turbin adalah suatu peralatan dimana kerja dibangkitkan sebagai hasil dari
lewatnya uap melalui barisan sudu-sudu yang terpasang pada poros yang dapat bebas
berputar. Dengan menggunakan konservasi massa dan konservasi energi uap dari
boiler mempunyai tekanan dan temperatur yang tinggi dan diekspansikan lewat turbin
31

Universraitas Sumatera Utara

untuk memproduksi kerja dan disalurkan ke dalam kondensor pada tekanan relatif
rendah, dengan mengabaikan pindahan panas ke sekeliling laju keseimbangan massa
dan energi untuk volume atur sekeliling turbin pada keadaan tunak adalah[8,325]:

V32 V4 2
0 = Qcv Wt + m h3 h4 +
+ g ( z3 z4 )
2

.
Wt
m.

Atau

..... [2.7]

h3 h24 (kj/kg)
=

.
Wt
Dimana m laju aliran massa fluida kerja, .
m

laju yang mana kerja dihasilkan

persatuan massa uap lewat turbin, dan perubahan energi kinetik dan energi potensial
diabaikan. Efisiensi termal siklus daya adalah[8,325] :
.

Wt

thermal
=

W p

m
m
=
.
Q in

( h3 h4 ) ( h2 h1 )
h3 h2

.....[2.8]

Kerja bersih yang dihasilkan sama dengan jumlah kalor netto yang dimasukkan, maka
efisiensi termal dapat juga dituliskan sebagai berikut[8,325] :

thermal =

Qin

Qout

Qout

m
.

Qin
= 1

( h4 h1 )
( h3 h2 )

m = 1
.

m
.

Qin

.. [2.9]

Parameter lain yang digunakan untuk menunjukkan performans pembangkit tenaga


adalah back work ratio, bwr, didefenisikan sebagai perbandingan kerja input pompa
terhadap kerja yang dihasilkan turbin. Back work ratio untuk siklus daya[8,326] :

32

Universraitas Sumatera Utara

Wp

m = ( h2 h1 )
.
( h3 h4 )
Wt
.

bwr =

.. [2.10]

m
2.5. Modifikasi Siklus Rankine pada PLTU
Modifikasi siklus Rankine bertujuan untuk meningkatkan efisiensi siklus
dalam hal ini dibuat ekstraksi uap untuk memanaskan air pengisian ketel, sehingga
kerja ketel berkurang dan kebutuhan bahan bakar juga berkurang. Pada prakteknya
turbin uap dengan tekanan awal yang tinggi biasa dibuat dengan ekstraksi yang
biasanya berjumlah 5 sampai 7 tingkat ekatraksi. Untuk turbin dengan parameter uap
kritis panas lanjut, jumlah ekstraksi dapat mencapai sebanyak 8 sampai 9. Uap yang
di ekstraksi dari tingkat-tingkat menengah biasanya dimanfaatkan pada pemanas air
pengisian ketel. Untuk turbin uap tekanan menengah jumlah ekstraksi dibatasi hanya
1 sampai 4.
Salah satu modifikasi dari siklus Rankine dapat dilihat pada gambar berikut :

5
TURBIN
BOILER

DEAERATOR

4
P2

6
2

KONDENSER

3
P1

Gambar 2.4. Diagram alir siklus Rankine dengan satu tingkat ekstraksi[2,530]

33

Universraitas Sumatera Utara

Uap

panas lanjut dari

ketel memasuki turbin, setelah melalui beberapa

tingkatan sudu turbin, sebagian uap diekstraksikan ke deaerator, sedangkan sisanya


masuk ke kondensor dan dikondensasikan didalam kondensor. Selanjutnya air dari
kondensor dipompakan ke deaerator juga. Di dalam deaerator, uap yang berasal dari
turbin yang berupa uap basah bercampur dengan air yang berasal dari kondensor.
Kemudian dari deaerator dipompakan kembali ke ketel, dari ketel ini air yang sudah
menjadi uap kering dialirkan kembali lewat turbin.
Tujuan uap diekstraksikan ke deaerator adalah untuk membuang gas-gas yang
tidak terkondensasi sehingga pemanasan pada ketel dapat berlangsung efektif,
mencegah korosi pada ketel, dan meningkatkan efisiensi siklus.
.
Untuk mempermudah penganalisaan siklus termodinamika ini, proses-proses
tersebut di atas disederhanakan dalam bentuk diagram berikut :
T

5
4
2

7
s
.

Gambar 2.5. Diagram T-s siklus Rankine dengan satu tingkat ekstraksi[2,530]

34

Universraitas Sumatera Utara

2.6. Klasifikasi Turbin Uap


Ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan turbin uap, yaitu:
1) Berdasarkan arah aliran uapnya
a) Turbin aksial, yaitu turbin dengan arah aliran uap sejajar dengan sumbu
poros.
b) Turbin radial, yaitu turbin dengan arah aliran uap tegak lurus terhadap sumbu
poros.

2) Berdasarkan prinsip kerjanya.


a) Turbin aksi (impuls), yaitu turbin yang perputaran sudu-sudu geraknya
karena dorongan dari uap yang telah dinaikkan kecepatannya oleh nozel. Yang
termasuk turbin aksi (impuls), adalah :
1) Turbin Uap De-Laval
Turbin uap De-Laval adalah turbin uap yang bekerja dengan prinsip impuls
aksi dengan aliran aksial, satu tingkat tekanan dan satu tingkat kecepatan. Turbin uap
ini memiliki satu susunan sudu gerak sehingga seluruh droping energi (energi jatuh)
potensial uap akan dikonversikan oleh sudu-sudu gerak. Putaran yang dihasilkan
turbin uap ini sangat besar dan daya yang dihasilkan maksimum 1.500 kW, sehingga
turbin ini biasanya digunakan untuk kapasitas generator yang kecil.
Keuntungan turbin uap ini adalah konstruksinya yang sederhana sehingga
ongkos pembuatannya murah serta perakitannya pun mudah. Kerugian utama dari
turbin uap ini adalah kapasitasnya yang kecil, efisiensi yang rendah, dan putarannya
yang terlalu tinggi sehingga memerlukan transmisi roda gigi untuk mendapatkan
putaran yang dibutuhkan untuk menggerakkan generator listrik.

35

Universraitas Sumatera Utara

Keterangan gambar :
1. Poros

2. Cakram

3. Sudu gerak

4. Nozel

5. Stator

6. Pipa buang

Gambar 2.6. Turbin impuls De-Laval tingkat tunggal dan


diagram efisiensinya[13,74].
2) Turbin Uap Curtis
Turbin uap Curtis adalah turbin uap yang bekerja dengan prinsip impuls aksi
dengan aliran aksial, sistem tingkat tekanan tunggal dan lebih dari satu tingkat
kecepatan. Turbin uap ini memiliki putaran yang lebih rendah dari turbin uap DeLaval dan daya yang dihasilkan dapat mencapai 4.000 kW, sehingga turbin uap ini
dapat dipakai untuk kapasitas generator yang sedang.
Dalam turbin uap Curtis ini, uap hanya diekspansikan pada nozel (sudu tetap
yang pertama) dan selanjutnya tekanan konstan sedangkan dalam baris sudu gerak
tidak terjadi ekspansi.
Meskipun demikian, dalam kenyataannya penurunan tekanan yang kecil di
dalam sudu gerak tidak dapat dihindarkan berhubung adanya gesekan, aliran turbulen
dan kerugian lainnya. Keunggulan jenis turbin uap ini adalah konstruksinya sederhana,
mudah dioperasikan namun efisiensinya rendah.

36

Universraitas Sumatera Utara

Keterangan gambar :
1. Poros

2. Cakram

3. Baris pertama sudu gerak

4. Nozel

5. Stator

6. Baris kedua sudu gerak

7. Sudu pengarah.

Gambar 2.7. Turbin impuls Curtis tingkat tunggal dengan dua tingkat kecepatan

dan

diagram efisiensinya[13,80].
3) Turbin Uap Zoelly/Rateau
Turbin uap Zoelly/Rateau bekerja dengan prinsip impuls aksi dengan sistem
tekanan bertingkat. Tekanan uap turun secara bertahap di dalam baris sudu tetap saja,
sedangkan di dalam baris sudu gerak tidak terjadi penurunan tekanan.
Daya yang dihasilkan adalah daya yang besar pada putaran rendah. Sehingga
turbin uap ini cocok dipakai sebagai penggerak daya generator yang besar.
Keuntungan turbin ini adalah efisiensinya yang tinggi, tetapi biaya konstruksiya
mahal. Dengan demikian konstruksinya lebih rumit dari turbin uap satu tingkat
tekanan.

37

Universraitas Sumatera Utara

Keterengan gambar :
1 dan 6. Ruang-ruang uap segar dan uap buang
2 dan 4. Nozel
3 dan 5. Sudu gerak
7. Diafragma

Gambar 2.8. Penampang turbin impuls zoelly/Rateau tiga tingkat tekanan[13,89]

4) Turbin Uap Parson


Turbin uap Parson bekerja dengan prinsip reaksi dengan aliran aksial. Turbin
uap ini umumnya bertingkat dan untuk kapasitas yang besar dengan putaran yang
rendah. Uap mengalami ekspansi baik pada sudu pengarah maupun pada sudu gerak
sehingga mengarahkan dorongan pada sudu dalam arah aksial.
Walaupun konversi energi terjadi pada ke dua tipe sudu tersebut, namun yang
menghasilkan daya tangensial reaksi hanya sudu-sudu gerak saja, maka turbin uap
Parson dinamakan juga sebagai turbin uap semi-reaksi.
Keuntungannya adalah efisiensinya lebih baik dari turbin uap Zolley, akan
tetapi sistem pengaturannya lebih rumit dan biaya konstruksinya lebih mahal jika
dibandingkan dengan turbin uap De-Laval, Curtis, dan Zoelly.

38

Universraitas Sumatera Utara

Gambar 2.9. Penampang turbin Parson reaksi dan diagram efisiensinya[13,107].

b) Turbin reaksi, yaitu turbin yang perputaran sudu-sudu geraknya karena gaya
reaksi sudu-sudu itu sendiri terhadap aliran uap yang melewatinya.

3) Berdasarkan kondisi uap yang meninggalkannya


a) Turbin tekanan lawan (back pressure turbine), yaitu turbin yang tekanan uap
bekasnya berada di atas tekanan atmosfir dan digunakan untuk keperluan
proses.
b) Turbin kondensasi langsung, yaitu turbin yang uap bekasnya dikondensasikan
langsung dalam kondensor untuk mendapatkan air kondensor pengisian ketel.
c) Turbin ekstraksi

dengan tekanan lawan, yaitu turbin yang sebagian uap

bekasnya dicerat (diekstraksi) dan sebagian lagi digunakan untuk keperluan


proses.
d) Turbin ekstraksi dengan kondensasi, yaitu turbin yang sebagian uap bekasnya
di cerat (diekstraksi) sebagian lagi dikondensasikan dalam kondensor untuk
mendapatkan air kondensat pengisian ketel.
e) Turbin non kondensasi dengan aliran langsung, yaitu turbin yang uap
bekasnya langsung dibuang ke udara.

39

Universraitas Sumatera Utara

f) Turbin non kondensasi dengan ekstraksi, yaitu turbin yang sebagian uap
bekasnya dicerat (diekstraksi) dan sebagian lagi dibuang ke udara.

4) Berdasarkan tekanan uapnya


1. Turbin tekanan rendah, yaitu turbin dengan tekanan uap masuk hingga 2 ata.
2. Turbin tekanan menengah, yaitu turbin dengan tekanan uap masuk 40 ata.
3. Turbin tekanan tinggi, yaitu turbin dengan tekanan uap masuk diatas 40 ata.
4. Turbin tekanan sangat tinggi, yaitu turbin dengan tekanan uap masuk di atas

170

ata.
5. Turbin tekanan super kritis, yaitu turbin tekanan uap masuk di atas 225 ata.
Dalam merencanakan suatu turbin uap, dibutuhkan kecermatan dalam
penentuan jenis turbin uap agar dapat menghasilkan daya yang diinginkan dengan
tidak mengalami kerugian-kerugian yang besar.
2.7. Analisa Kecepatan Aliran Uap
Analisa kecepatan aliran uap yang melewati suatu sudu dapat digambarkan
sebagai berikut :

Gambar 2.10. Variasi kecepatan uap pada sudu-sudu gerak turbin impuls[13,33].

1. Kecepatan aktual keluar dari nozel (C1) adalah[13,21] :

C1 = 91,5 h , 0

(m/det)

.....[2..11]

dimana : ho = besar jatuh kalor (entalphi drop)


= koefisien gesek pada dinding nosel (0,91 s/d 0,98)
40

Universraitas Sumatera Utara

2. Kecepatan uap keluar teoritis (C1t) adalah[13,24]

C1t =

C1

(m/det)

.....[2.12]

3. Kecepatan tangensial sudu (U) adalah[13,85]


U=

.d .n
60

(m/det)

.[2..13]

dimana : d = diameter pada turbin (m)


n = putaran poros turbin (rpm)
4. Kecepatan uap memasuki sudu gerak pertama (w1) adalah [13,33]

w1 = C1 + U 2 2UC1 cos 1 (m/det)


2

.. [2.14]

5. Kecepatan mutlak radial uap keluar sudu gerak baris pertama (C1u)
adalah [13,76]
C1u = C1 cos 1

(m/det)

.. [2.15]

6. Kecepatan mutlak radial uap keluar sudu gerak baris kedua (C2u)
adalah[13,76]
C 2u = C 2 cos 2

(m/det)

.. [2.16]

7. Sudut relatif masuk sudu gerak baris pertama (1) adalah[13,34]


sin 1 =

C1 sin 1
w1

.. [2.17]

8. Sudut relatif uap keluar sudu gerak pertama (2) adalah[13,34]

2 = 1 (3 5)

.. [2..18]

9. Kecepatan relatif uap keluar sudu gerak pertama (w2) adalah[13,34]

w2 = .w1

(m/det)

..... [2.19]

10. Kecepatan mutlak uap keluar sudu gerak pertama (C2) adalah[13,34]

C 2 = w2 + U 2 2.U .w2 . cos 2


2

41

(m/det)

..[2.20]
Universraitas Sumatera Utara

11. Kecepatan mutlak uap masuk sudu gerak kedua ( C1 ) adalah[13,85]


,

C1 ' = gb .C 2

(m/det)

.....[2.21]

2.8. Kerugian Kalor pada turbin uap


2.8.1. Kerugian-kerugian dalam (Internal losses)
1. Kerugian kalor pada katup pengatur
Aliran uap melalui katup-katup penutup dan pengatur disertai oleh kerugian
energi akibat proses pencekikan (throtling), kerugian inilah yang disebut dengan
kerugian pada katup pengatur.
Jika tekanan uap masuk adalah (P0) maka akan terjadi penurunan tekanan
menjadi tekanan awal masuk turbin (P0). Penurunan tekanan awal (P0) diperkirakan
sebesar (3-5) % dari P0. Dimana P = P0-P0, pada perencanaan ini diambil kerugian
katup sebesar tekanan 5 % dari tekanan masuk turbin atau dapat dituliskan[13,60] : P
......[2.22]

= 5 %.P0

Kerugian energi ini terjadi pada katup pengatur ditentukan dengan[13,59] :


h = h0 h0,

..... [2.23]

dimana : h0 = nilai penurunan kalor total turbin.


Nilai penurunan kalor setelah mengalami proses penurunan tekanan akibat pengaturan
melalui katup pengatur dan katup penutup yang ditetapkan, h0 sebesar (3 5)% dari
Po. Jadi tujuan perencanaan kerugian tekanan yaitu sebesar :
P = 5%Po. Kerugian-kerugian yang terjadi pada katup pengatur dapat dilihat pada
gambar di bawah ini :

42

Universraitas Sumatera Utara

Gambar 2.11. Proses ekspansi uap melalui mekanisme pengatur beserta kerugiankerugian akibat pencekikan[13,60].
Keterangan gambar :
hn = kerugian pada nosel
hb = kerugian pada sudu gerak
hc = kerugian akibat kecepatan keluar
P0 = tekanan uap masuk turbin
P0= tekanan uap sebelum masuk nosel
P2 = tekanan keluar turbin
H0 = penurunan kalor
H0= penurunan kalor teoritis
Hi = penurunan kalor yang dimanfaatkan dalam

turbin.

2. Kerugian Kalor Pada Nozel (hn)


Kerugian energi pada nosel disebabkan oleh adanya gesekan uap pada dinding
nozel, turbulensi, dan lain-lain. Kerugian energi pada nosel ini dicakup oleh koefisien
kecepan nozel () yang sangat tergantung pada tinggi nozel.
Kerugian energi kalor pada nozel dalam bentuk kalor[13,25]
2

C - C1
hn = 1t
2001

(kJ / kg )

..... [2.24]

43

Universraitas Sumatera Utara

dimana:
C1t = Kecepatan uap masuk teoritis (m/det)
C1 = .C1t = Kecepatan uap masuk mutlak (m/det)
hn = Besar kerugian pada nozel (kJ/kg)
Untuk tujuan perancangan, nilai-nilai koefisien kecepatan nozel dapat diambil
dari grafik yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.12. Grafik untuk menentukan koefisien fungsi tinggi nozel[13,61]

3. Kerugian Kalor Pada Sudu-sudu Gerak


Kerugian pada sudu gerak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Kerugian akibat tolakan pada ujung belakang sudu
2. Kerugian akibat tubrukan
3. Kerugian akibat kebocoran uap melalui ruang melingkar
4. Kerugian akibat gesekan
5. Kerugian akibat pembelokan semburan pada sudu
Semua kerugian di atas dapat disimpulkan sebagai koefisien kecepatan sudu
gerak (). Akibat koefisien ini maka kecepatan relatif uap keluar dari sudu w2 lebih
kecil dari kecepatan relatif uap masuk sudu w1.

44

Universraitas Sumatera Utara

Kerugian pada sudu gerak pertama[13,85] : hb=

w1 - w 2
2001

Kerugian pada sudu gerak baris kedua[13,86] :


'2
w w2 ' 2
"
hb = 1
2001
w1 = kecepatan relatif uap masuk sudu gerak I

(kJ/kg)

(kJ/kg)

..... [2.25]

..... [2.26]

w2 = kecepatan relatif uap keluar sudu gerak I


w1 = kecepatan relatif uap masuk sudu gerak II
w2 = kecepatan relatif uap keluar sudu gerak II
Harga koefisien kecepatan atau faktor dapat diambil dari grafik di bawah ini :

Gambar 2.13. Koefisien kecepatan untuk sudu gerak turbin impuls untuk berbagai
panjang dan profil sudu[13,62].
4. Kerugian Kalor Akibat Kecepatan Keluar
Uap meninggalkan sisi keluar sudu gerak dengan kecepatan mutlak C2,
sehingga kerugian energi kinetik akibat kecepatan uap keluar C2 untuk tiap 1 kg uap
dapat ditentukan sama dengan C22/2 kJl/kg. Jadi sama dengan kehilangan energi
sebesar[13,63] :
hc =

C 22
2001

(kJ/kg)

..... [2.27]

5. Kerugian Kalor Pada Sudu Pengarah[13,86]

C C1
(kJ/kg)
= 2
2001
2

hgb

45

..[2.28]

Universraitas Sumatera Utara

6. Kerugian Kalor Akibat Gesekan Cakram dan Ventilasi


Kerugian gesekan terjadi diantara cakram turbin yang berputar dan uap yang
menyelubunginya. Cakram yang berputar itu menarik partikel-partikel yang ada di
dekat permukaannya dan memberi gaya-gaya searah dengan putaran. Sejumlah kerja
mekanis digunakan untuk mengatasi pengaruh gesekan dan pemberian kecepatan ini.
Kerja yang digunakan untuk melawan gesekan dan percepatan-percepatan
partikel uap ini pun akan dikonversikan

menjadi kalor, jadi akan memperbesar

kandungan kalor uap. Kerugian akibat gesekan cakram dan ventilasi dapat ditentukan
dari persamaan berikut[13,64] :
hgca =

N gca

(kJ/kg)

.....[2.29]

dimana :
G

= massa aliran uap melalui tingkatan turbin (kg/det)

Ngca

= daya yang hilang dalam mengatasi gesekan dan ventilasi cakram.


Adapun penentuan daya gesek dan ventilasi cakram ini sering dilakukan

dengan memakai rumus sebagai berikut[13,64] :


N gca = .10 10.d 4 .n 3.l1 .

(kW)

..... [2.30]

dimana :
= koefisien yang sama dengan 2.06 untuk cakram baris ganda
d = diameter cakram yang diubah pada diameter rata-rata sudu (m)
n = putaran poros turbin (rpm)
l1 = tinggi sudu (m)
= bobot spesifik uap di dalam mana cakram tersebut berputar, (kg/m3)
=

1
, dimana v = volume spesifik uap pada kondisi tersebut.
v

46

Universraitas Sumatera Utara

7. Kerugian akibat Ruang Bebas


Ada perbedaan tekanan di antara kedua sisi cakram nosel yang dipasang pada
stator turbin, sebagai akibat ekspansi uap di dalam nosel.
Diafragma yang mempunyai sudu sudu gerak adalah dalam keadaan berputar,
sementara cakram-cakram adalah dalam keadaan diam sehingga selalu ada ruang
bebas yang sempit antara cakram-cakram putar dan diafragma. Adanya perbedaan
tekanan menyebabkan adanya kebocoran melalui celah ini, yang besarnya[13,64] :
kebocoran =

G kebocoran
( h0 - h2) (kJ/kg)
G

.....[2.31]

Dimana G kebocoran ditentukan berdasarkan tekanan kritis[13,67]:

0,85 p1
)
.....[2.32]
z + 1,5
Bila tekanan kritis lebih rendah dari p2 ,maka kecepatan uap di dalam labirin
Pkr =

adalah lebih rendah daripada kecepatan kritis dan massa alir kebocoran ditentukan
dengan persamaan[13,67]:
Gkebocoran = 100 fs

g ( p1 p 2 )
zp11
2

(kg/det)

.....[2.33]

Sebaliknya, bila tekanan kritis lebih tinggi dari p2, maka kecepatan uap adalah
lebih tinggi dari kecepatan kritisnya dan massa alir kebocoran dihitung dengan[13,67] :
Gkebocoran = 100 fs

g
p
1
z + 1.5 1

..... [2.34]

Gambar 2.14. Celah kebocoran uap tingkat tekanan pada turbin impuls[13,62].
47

Universraitas Sumatera Utara

8. Kerugian Akibat Kebasahan Uap


Dalam hal turbin kondensasi, beberapa tingkat yang terakhir biasanya
beroperasi pada kondisi kondisi uap basah yang menyebabkan terbentuknya tetesan
air. Tetesan air ini oleh pengaruh gaya sentrifugal akan terlempar ke arah keliling.
Pada saat bersamaan tetesan air ini menerima gaya percepatan dari partikelpartikel uap searah dengan aliran.

Jadi sebagian energi kinetik uap hilang dalam mempercepat tetesan air ini[13,69].
hkebasahan = ( 1-x) hi

......[2.35]

dimana :
hi =

penurunan

kalor

yang

dimanfaatkan

pada

tingkat

turbin

dengan

memperhitungkan semua kerugian kecuali kebasahan uap


x

= fraksi kekeringan rata- rata uap didalam tingkat yang dimaksud

2.8.2 Kerugian-kerugian Luar (External Losses)


Kerugian-kerugian ini merupakan kerugian yang bersifat mekanik, yaitu
kerugian energi yang digunakan untuk mengatasi tahanan-tahanan mekanik atau
gesekan yang tidak langsung mempengaruhi kondisi uap. Seperti gesekan antara
poros dengan bantalan, mekanisme pengatur, pompa minyak pelumas, serta kerugian
karena kebocoran pada paking.

48

Universraitas Sumatera Utara

2.9. Efisiensi Pada Turbin


1. Efisiensi relatif sudu
Hubungan antara kerja satu kilogram uap Lu pada keliling cakram yang
mempunyai sudu-sudu gerak terhadap kerja teoritis yang dapat dilakukannya

u =

adalah[13,71] :

Lu
A.Lu
=
L0 i0 iu

.....[2.36]

2. Efisiensi internal
Hubungan antara kerja yang bermanfaat yang dilakukan oleh sudu dengan 1
kg uap pada tingkat atau di dalam turbin terhadap kerja teoritis yang tersedia
adalah[13,71] : 0i =

Li h0 h2 hi
=
=
Li h0 h1t h0

......[2.37]

3. Efisiensi termal
Hubungan antara penurunan kalor adiabatik teoritis di dalam turbin dan kalor
yang tersedia dari ketel adalah[13,71] :

t =

h0 h1t
h0 q

.....[2.38]

4. Efisiensi relatif efektif


Hubungan antara efisiensi mekanis dengan efisiensi internal turbin
adalah[13,71] : re = m . 0i

.....[2.39]

Daya dalam turbin dapat dituliskan sebagai berikut :


Daya dalam turbin[13,71].
Ni =

427 G0 hi
(kW)
102

.....[2.40]

Daya efektif yang dihasilkan pada turbin adalah[13,72] :


N ef = m. N i

.... [2.41]

49

Universraitas Sumatera Utara

Daya efektif turbin dapat juga diperoleh dari hubungan antara daya yang dibangkitkan
pada terminal generator Ne dan effisiensi generator g, yaitu[13,72] :

g =

Ne
N efektif

.....[2.42]

50

Universraitas Sumatera Utara