Anda di halaman 1dari 9

THE ROLE OF COMPUTER INTEGRATED MANUFACTURING

IN INDUSTRIAL ENGINEERING RESEARCH


Siti Qomariyah
2515 100 029
sitiqomariyah470@gmail.com
Abstrak
Pembuatan TTG harus benar-benar dipikirkan manfaat dan dampak dari
penerapan teknologi tersebut ke depannya bagi masyarakat pengguna, sehingga
kehadiran TTG tersebut dapat menjadi solusi yang nyata, bukan menjadi solusi
yang membawa masalah baru. Dalam penerapan TTG itu juga harus
memperhatikan aspek-aspek dan kebijakan yang telah dibuat agar teknologi
yang digunakan tidak menyalahi aturan dan dapat dilakukan pengembangan
secara bertahap.
Salah satu UKM binaan Disperindag Surabaya bernama UKM Isah Jaya
telah menggunakan teknologi berupa alat penggiling kacang kedelai yang
menjadi bahan utama dari pembuatan tempe tersebut. Namun dalam
penggunaan teknologi tersebut masih terdapat kelemahannya yaitu volume dan
kapasitas alat penggiling yang masih minim. Oleh karena itu dibuatlah inovasi
dari alat penggiling tersebut agar daya tampungnya lebih besar dan
penggunaannya lebih efisien.
I. PENDAHULUAN
1.1 Teknologi Tepat Guna
Teknologi Tepat Guna atau biasa disingkat dengan TTG merupakan suatu
teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat dimanfaatkan
pada rentang waktu tertentu. TTG biasanya digunakan sebagai alternatif penting
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam penerapan TTG, harus
dipertimbangkan beberapa aspek mendasar, yaitu (1) Pemilihan jenis dan tingkat
teknologi yang akan diterapkan harus dilakukan oleh masyarakat pengguna
dengan bantuan ahli yang berkompeten, (2) Perlunya diperhatikan budaya
masyarakat pengguna, (3) Perlu adanya pembagian tugas dalam penerapan
teknologi oleh masyarakat pengguna, (4) Perlu diperhatikan kondisi lingkungan
masyarakat pengguna, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya
manusia, (5) Perlu diperhatikan ketersediaan sarana yang diperlukan dalam
pengoperasian, perawatan dan perbaikan teknologi yang akan digunakan, (6)
Perlu diperhatikan aspek keselamatan kerja selama penerapan teknologi
(Situmorang, Syafrizal, 2011).
Kebijakan pemanfaatan TTG dalam bentukan regulasi telah diatur dalam
Keputusan Menteri Dalam Negeri Otonomi Daerah No. 4 Tahun 2001 Tentang
Penerapan TTG. Dalam Kepmendagri dan Otonomi Daerah No. 4 Tahun 2001,
disebutkan bahwa TTG dimanfaatkan untuk: (1) Meningkatkan kemampuan
pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan TTG untuk
peningkatan kapasitas dan mutu produksi, (2) Meningkatkan pelayanan informasi
dan membantu masyarakat untuk mendapatkan TTG yang dibutuhkan, (3)
Meningkatkan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi masyarakat (d) Meningkatkan
daya saing produk unggulan daerah (Situmorang, Syafrizal, 2011).
Siti Qomariyah | 1 | Otomasi Industri

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pemanfaatan TTG


meliputi : (1) Inventarisasi jenis dan spesifikasi teknologi yang sudah
dimanfaatkan masyarakat daerah setempat, (2) Pengkajian dan uji coba
teknologi, untuk penyusunan daftar jenis TTG yang dibutuhkan masyarakat
sesuai potensi daerah, (3) Penyiapan pola penerapan TTG yang sesuai dengan
kondisi daerah, (4) Penyiapan masyarakat melalui penyuluhan, penerangan,
pembentukan kelompok-kelompok masyarakat dan pelatihan, (5) Penguatan dan
pengembangan Kelembagaan TTG.
Peran Pemerintahaan Kota dalam meningkatkan pemanfaatan TTG lebih
ditekankan lagi melalui Inpres No. 3 Tahun 2001 Tentang Penerapan dan
Pengembangan TTG, yaitu: (1) Pelaksanaan program penerapan dan
pengembangan TTG, (2) Memfasilitasi penguatan kelembagaan pelayanan
teknologi dalam penerapan dan pengembangan TTG, (3) Kerjasama dengan
lembaga lain dalam penerapan dan pengembangan TTG, (4) Pemantauan dan
evaluasi pelaksanaan program penerapan dan pengembangan TTG (Situmorang,
Syafrizal, 2011).
Berdasarkan definisi dan hal-hal lain terkait penerapan TTG seperti yang
telah dipaparkan di atas dapat dipahami bahwasanya dalam pembuatan TTG
harus benar-benar dipikirkan manfaat dan dampak penerapan teknologi tersebut
ke depannya bagi masyarakat pengguna, sehingga kehadiran TTG tersebut dapat
menjadi solusi yang nyata, bukan menjadi solusi yang membawa masalah baru.
Dalam penerapan TTG itu juga harus memperhatikan aspek-aspek dan kebijakan
yang telah dibuat agar teknologi yang digunakan tidak menyalahi aturan dan
dapat dilakukan pengembangan secara bertahap.
1.2 Perkembangan Teknologi Tepat Guna
Sudah dapat dilihat secara jelas bahwa permasalahan mendasar akan
rendahya efisiensi dan daya saing produk-produk Indonesia terletak pada
keterbatasan manajemen dan teknologi produksi yang digunakan. Penggunaan
teknologi yang masih sederhana menyebabkan industri kecil seperti UKM (Usaha
Kecil Menengah) tidak dapat maju dan berkembang secara cepat, sedangkan di
luar sana tingkat persaingan pasar semakin tinggi dari hari ke hari. Dengan
tingginya tingkat persaingan pasar tersebut menjadikan para pelaku UKM untuk
meningkatkan hasil kinerja mereka agar produk-produknya mampu menghasilkan
nilai tambah dan berdaya saing di nasional maupun di pasar global. Keberhasilan
usaha para pelaku UKM tersebut sangat bergantung pada kemampuan usaha
menerapkan TTG yang mampu meningkatkan efisiensi kerja. Saat ini peranan
TTG sangat penting untuk mendorong kinerja UKM dan mengatasi berbagai
kesulitan produksi, terutama dalam hal menghasilkan produk yang berkualitas di
pasaran. Para pelaku UKM mulai memanfaatkan TTG untuk menjalankan usaha
mereka. Pihak pemerintah pun saat ini juga banyak melakukan serangkaian
pembinaan di beberapa UKM di Indonesia dengan tujuan produk-produk yang
dihasilkan oleh UKM di Indonesia mampu bersaing di kancah nasional dan
menjadi produk-produk unggulan Indonesia.
Salah satu makanan tradisional Indonesia yang mempunyai kandungan
gizi sangat baik adalah tempe. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia
menjadikan tempe sebagai menu harian mereka. Tidak hanya masyarakat kelas
bawah, masyarakat menengah ke atas pun juga mengonsumsinya. Oleh karena
itu banyak sekali orang yang memanfaatkan peluang ini dengan memproduksi
Siti Qomariyah | 2 | Otomasi Industri

dan berjualan tempe. Dengan banyaknya masyarakat yang memproduksi tempe,


baik dalam skala kecil maupun skala sedang, maka sangat penting sekali untuk
meningkatkan kualitas tempe dan efisiensi dalam proses produksi tempe di
Indonesia. Proses pembuatan tempe di Indonesia pada beberapa daerah
sebenarnya telah menggunakan teknologi. Namun sebagian besar dari
kebanyakan UKM yang ada masih menggunakan cara konvensional karena proses
produksi tempe tersebut dirasa masih mudah dan tanpa menggunakan teknologi
pun dapat menghasilkan tempe.
1.3 Kondisi Eksisting Teknologi Tepat Guna di Usaha Kecil Menegah
(UKM) Isah Jaya Binaan Disperindag Surabaya di Daerah Tenggilis
Mulya
Di daerah Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Tenggilis Mulya terdapat
salah satu UKM binaan Disperindag Surabaya bernama Isah Jaya yang
memproduksi tempe. Proses pembuatan tempe di UKM tersebut dilakukan di
rumah sendiri dengan menggunakan metode manual seperti pada proses
pembuatan tempe pada umumnya.

Gambar 1. Kacang kedelai yang


telah dicuci dan dihilangkan
kulit arinya

Gambar
2.
penggiling
kedelai

Alat
kacang

Gambar 3. Dandang yang


digunakan
untuk
perebusan
kacang kedelai

Gambar 4. Kondisi temapat Gambar 5. Timbangan untuk Gambar 6. Alat


berat
kacang bungkus tempe
pengolahan tempe UKM Isah menimbang
kedelai yang akan dikemas
Jaya

Gambar
7.
Rak
tempat
menyimpan
hasil
peragian
kacang kedelai hingga menajdi

Gambar 8. Produk tempe yang


sudah jadi

pengemas

Gambar
9.
Kemasan
tempe yang sudah siap
dijual

Siti Qomariyah | 3 | Otomasi Industri

Gambar-gambar di atas menunjukkan bagaimana kondisi proses produksi


tempe Islah Jaya. Berikut akan dipaparkan juga langkah-langkah proses
produksi di UKM tersebut.
1. Pertama-tama menyiapkan bahan untuk proses produksi tempe, yaitu 70
kilogram biji kacang kedelai dan ragi secukupnya
2. Kemudian biji kacang kedelai direbus menggunakan dandang besar selama
kurang lebih dua jam
3. Setelah proses perebusan selesai, kacang kedelai direndam selama satu
malam agar kulit arinya dapat terkelupas dengan mudah
4. Selanjutnya kacang kedelai diangkat dari air rendaman dan digiling
menggunakan alat penggiling (gambar 2)
5. Lalu hasil penggilingan kacang kedelai tersebut dicuci dengan air agar
kacang kedelai dengan kulit ari yang sudah terkelupas dapat terpisah
6. Untuk menjaga kualitas produk tempe yang akan dihasilkan, setelah
melalui tahap proses penggilingan, kacang kedelai direbus kembali
7. Hail perebusan kacang kedelai yang kedua kemudian diangkat dari
dandang dan ditiriskan dan diangin-anginkan agar kadar airnya hilang
8. Setelah kacang kedelai sudah kering, ditambahkan ragi sebanyak empat
sendok makan (untuk 70 kilogram kacang kedelai) dan diaduk agar kacang
kedelai dan ragi tercampur merata. Jika keadaan cuaca cukup lembab,
banyaknya ragi ditambah. Sedangkan jika cuaca kering, maka banyaknya
ragi dikurangi. Hal tersebut dilakukan agar proses fermentasi pada tahap
selanjutnya dapat berjalan sempurna
9. Lalu kacang kedelai yang sudah dicampur ragi kemudian dikemas dalam
plastik dengan takaran 2 ons/plastik. Untuk menentukan takaran kacang
kedelai yang akan dikemas, dilakukan penimbangan dengan timbangan
pasar biasa
10.Plastik yang sudah terisi kacang kedelai dipres dengan alat pressing
seperti yang ditunjukkan pada gambar 6. Tak lupa juga memberikan label
UKM pada kemasan tempe tersebut (gambar 9)
11.Setelah pengepresan kemasan tempe selesai, semua tempe yang telah
dibungkus ditata di atas rak dan diamkan selama kurang lebih dua hari
untuk proses fermentasi
12.Tempe pun siap dijual sesuai dengan permintaan pasar
Jika dilihat dari keseluruhan proses produksi dan kondisi UKM Isah Jaya,
pembuatan tempe di UKM tersebut menggunakan teknologi otomasi hanya pada
proses penggilingan kacang kedelai. Untuk proses lainnya masih menggunakan
cara yang sederhana, meskipun pada proses pengemasan telah menggunakan
alat pressing tetapi pada proses tersebut dirasa belum termasuk teknologi
otomasi karena dalam pengerjaannya masih membutuhkan tenaga manusia dan
alat pressing tersebut hanya menggantikan fungsi api dalam pengemasan.
Selanjutnya pada poin 8 proses produksi pembuatan tempe dirasa kurang efisien
karena penambahan ragi harus melihat kondisi cuaca pada saat itu, sehingga
akan mempengaruhi kualitas tempe yang dihasilkan. Kualitas dari tempe juga
dapat dipengaruhi oleh kebersihan tempat untuk produksi tempe. Jika pada saat
pencucian atau pun saat perendaman kacang kedelai tidak memperhatikan
kondisi kebersihan air, maka akan membuat penurunan kualitas produk. Oleh
karena itu, perlu dibuat alat otomasi pada proses pembuatan tempe tersebut
Siti Qomariyah | 4 | Otomasi Industri

yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses


produksi di UKM tersebut.
II. ISI
2.1 Kelemahan dan Kelebihan Kondisi Eksisting Teknologi Tepat Guna di
Usaha Kecil Menegah (UKM) Isah Jaya Binaan Disperindag Surabaya di
Daerah Tenggilis Mulya
Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan di UKM Isah Jaya dapat
ditemukan beberapa kelemahan dan kelebihan dari teknologi yang telah
digunakan disana. Berikut ini adalah pemaparan dari masing-masing kelemahan
dan kelebihan dari teknologi tersebut.
1. Kelemahan
Adapun kelemahan yang masih dapat ditemukan pada UKM Isah Jaya
binaan Disperindag Surabaya adalah sebagai berikut.
a. Kebersihan air yang digunakan untuk pencucian dan perendaman kacang
kedelai belum terjaga kebersihannya. Jika saat melakukan pengangkatan
kacang kedelai dari proses pencucian atau perendaman tercampur dengan
zat-zat yang tidak diinginkan dari air, maka dapat dipastikan kualitas produk
tempe yang dihasilkan akan menurun. Biasanya tmpe yang sudah jadi akan
berubah dari struktur rasa (dalam bahasa Jawa dinamakan kecut).
b. Proses perebusan kacang kedelai masih dilakukan dua kali. Menurut
narasumber pengelola UKM Isah Jaya, perebusan dilakukan dua kali
bertujuan untuk meningkatkan kualitas tempe. Namun dari sisi biaya dan
energi panas yang dilakukan, hal tersebut justru akan membuat
pemborosan biaya dan energi. Biaya untuk membeli bahan bakar dan energi
panas yang dikeluarkan dari kompor.
c. Penimbangan campuran kacang kedelai dan ragi masih menggunakan
timbangan pasar seperti yang terlihat pada gambar 5. Selain membutuhkan
waktu yang lama untuk menimbang campuran seberat 2 ons, dengan
menggunakan timbangan pasar dapat mengurangi kehegienisan produk
d. Volume dan kapasitas wadah mesin penggiling masih minim sehingga harus
memasukkan kacang kedelai ke dalam wadah tersebut secara berulang.
Dengan memasukkan kacang kedelai secara berulang tentunya akan tidak
efisien.
2. Kelebihan
Meskipun pada UKM Isah Jaya terdapat banyak kelemahan dalam proses
produksinya, namun di sisi lain juga mempunyai kelebihan. Kelebihan tersebut
anatara lain sebagai berikut.
a. Penempatan tempe yang akan melalui tahap fermentasi sudah ditata pada
rak. Untuk menyimpan campuran kacang kedelai dan ragi agar terjadi
proses fermentasi, pihak pengelola UKM Isah Jaya telah membuat rak
empat tingkat (gambar 7) agar proses fermentasi berjalan sempurna
karena jika sering digerak-gerakkan produk akan gagal pada tahap
fermentasi
b. Sudah menggunakan alat pressing bukan menggunakan lilin atau
sejenisnya untuk mengemas produk ke dalam bungkus. Dalam
pengemasan produk dalam plastik biasanya di kebanyakan industri rumah
tangga menggunakan cara manual denag menggunakan lilin. Tetapi di UKM
Siti Qomariyah | 5 | Otomasi Industri

ini telah menggunakan alat pressing yang dapat menggantikan kegunaan


api
Secara keseluruhan teknologi yang digunakan pada produksi tempe di UKM
Isah Jaya memiliki cukup banyak kelemahan dan sedikit kelebihan. Oleh karena
itu, dari paper ini akan dijelaskan beberapa solusi untuk mengatasi kelemahan
dari teknologi yang telah digunakan di UKM Isah Jaya. Dengan adanya solusi
yang ditawarkan ke depannya dapat meningkatkan produksi serta kualitas dari
produk tempe UKM tersebut.
2.2 Solusi dari Kelemahan dan Kelebihan Kondisi Eksisting Teknologi
Tepat Guna di Usaha Kecil Menegah (UKM) Isah Jaya Binaan
Disperindag Surabaya di Daerah Tenggilis Mulya
Setiap permasalahan yang ada tentunya ada solusi atau jalan keluar untuk
mengatasinya. Solusi untuk mengatasi kelemahan pertama terkait kebersihan air
yang digunakan selama proses pencucian dan perendaman adalah dengan
mengusahakan agar air yang dipakai setiap melakukan kedua proses tersebut
dalam keadaan mengalir bukan dalam keadaan menggenang di bak air. Atau jika
harus memaksakan untuk menggunakan air yang menggenang dalam bak air
lebih baik jika bak air dalam kondisi tertutup setelah digunakan agar kotoran atau
debu dari atap rumah tidak jatuh ke dalam genangan air di dalam bak air
tersebut. Solusi kedua terkait frekuensi perebusan kacang kedelai yang dilakukan
dua kali yaitu dengan melakukan perebusan cukup sekali saja hingga kacang
kedelai cukup matang yang dilakukan setelah penggilingan. Solusi ketiga terkait
penimbangan produk yang akan dikemas dapat diatasi dengan menggunakan
timbangan khusus makanan yang lebih higienis dan presisi. Sedangkan untuk
solusi terakhir terkait volume dan kapasitas alat penggiling yaitu dengan
memperlebar wadah penampung kacang kedelai sekaligus menjadikan alat
penggiling tersebut agar dapat otomatis memasukkan kacang kedelai sesuai
takaran/ ukuran wadah penampung alat penggiling tanpa harus bolak-balik untuk
memasukkan kacang kedelai ke dalam wadah alat penggiling.
2.3 Inovasi Konkret Teknologi Tepat Guna di Usaha Kecil Menegah (UKM)
Isah Jaya Binaan Disperindag Surabaya di Daerah Tenggilis Mulya
Setelah diberikan beberapa solusi dalam mengatasi kelemahan pada
teknologi yang digunakan di UKM Isah Jaya, maka tercetus inovasi rancangan
teknologi tepat guna yang baru dan dapat memberikan gambaran ataupun
deskripsi alat terkait solusi pada poin keempat dari kelemahan teknologi yang
digunakan di UKM Isah Jaya binaan Disperindag Surabaya. Teknologi yang akan
dirancang merupakan alat penggiling otomatis kacang kedelai. Dengan
menggunakan alat baru tersebut, kini produsen tempe UKM tersebut cukup
menuangkan kacang kedelai yang akan digiling ke dalam wadah penampung alat
hanya sekali saja dan tidak perlu melakukannya berulang kali. Inovasi alat ini
memerlukan mini konveyor untuk menggerakkan kacang kedelai dan sekat yang
dapat mengatur banyak sedikitnya kacang kedelai saat akan memasuki wadah
penampung alat penggiling tersebut. Dengan alat ini akan meningkatkan
produktivitas dan efisiensi dalam proses pembuatan tempe. Berikut merupakan
sketsa dari mesin penggiling otomatis yang memiliki daya tampung lebih banyak
dibandingkan dengan daya tampung pada alat penggiling yang digunakan oleh
UKM Isah Jaya.
Siti Qomariyah | 6 | Otomasi Industri

Gambar 10. Mesin penggiling kacang kedelai


otomatis

III. KESIMPULAN
Teknologi Tepat Guna atau biasa disingkat dengan TTG merupakan suatu
teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat dimanfaatkan
pada rentang waktu tertentu. TTG biasanya digunakan sebagai alternatif penting
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembuatan TTG harus benarbenar dipikirkan manfaat dan dampak dari penerapan teknologi tersebut ke
depannya bagi masyarakat pengguna, sehingga kehadiran TTG tersebut dapat
menjadi solusi yang nyata, bukan menjadi solusi yang membawa masalah baru.
Dalam penerapan TTG itu juga harus memperhatikan aspek-aspek dan kebijakan
yang telah dibuat agar teknologi yang digunakan tidak menyalahi aturan dan
dapat dilakukan pengembangan secara bertahap.
Salah satu makanan tradisional Indonesia yang mempunyai kandungan
gizi sangat baik adalah tempe. Proses pembuatan tempe di Indonesia pada
beberapa daerah sebenarnya telah menggunakan teknologi. Namun sebagian
besar dari kebanyakan UKM yang ada masih menggunakan cara konvensional
karena proses produksi tempe tersebut dirasa masih mudah dan tanpa
menggunakan teknologi pun dapat menghasilkan tempe.
Di daerah Surabaya, Jawa Timur, tepatnya di Jalan Tenggilis Mulya terdapat
salah satu UKM binaan Disperindag Surabaya bernama Isah Jaya yang
memproduksi tempe. Secara keseluruhan teknologi yang digunakan pada
produksi tempe di UKM Isah Jaya memiliki cukup banyak kelemahan dan sedikit
kelebihan. Oleh karena itu, diberikan beberapa solusi untuk mengatasi
kelemahan dari teknologi yang telah digunakan di UKM Isah Jaya. Salah satu
Siti Qomariyah | 7 | Otomasi Industri

solusi teknologi tepat guna yang ditawarkan adalah mesin penggiling kacang
kedelai otomatis.
Dengan adanya inovasi baru dari teknologi tepat guna dalam proses
pembuatan tempe di Usaha Kecil Menengah berupa mesin penggiling otomatis,
diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk tempe yang
dihasilkan. Ke depannya dengan mempertimbangkan aspek-aspek dari teknologi
tepat guna dapat dipastikan bahwa teknologi yang dibuat ataupun dikembangkan
selanjutnya dapat bermanfaat dan tepat sasaran bagi UKM yang bersangkutan.
REFERENSI
Aditya, Muhammad, 2013. Tugas Otomasi Industri 2013-Sistem Pembuatan
Tempe, https://www.youtube.com/watch?v=LutTTloFtXQ, diakses tanggal 22
September 2016
BisnisUKM.com, 2011. Teknologi Tepat Guna Dukung Perkembangan UKM
Indonesia,
http://bisnisukm.com/teknologi-tepat-guna-dukungperkembangan-ukm-indonesia.html, diakses tanggal 22 September 2016
Cizz, Faiz, 2016. Sistem Otomasi Pembuatan Tempe pada Industri Rumah Tangga,
Universitas Negeri Malang
Muhadi,
Msholeh,
2015.
Mesin
Packing
Tempe
Otomatis,
https://www.youtube.com/watch?v=WPvXh0G0o8I, diakses tanggal 22
September 2016
Muhi, Alih. Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam Perspektif Pemberdayaan
Masyarakat,
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUK
EwiwiLjn_KLPAhVBl5QKHRPvBGEQFggcMAA&url=http%3A%2F
%2Falimuhi.staff.ipdn.ac.id%2Fwp-content%2Fuploads
%2F2012%2F01%2FTTG-dan-PemberdayaanMasyarakat1.pdf&usg=AFQjCNE_myHeckvSprxekHLeJ0dgBvfxPQ&sig2=s7H
XmJJwBVM6Sxv-ZuzlZA&bvm=bv.133387755,d.dGo, diakses tanggal 22
September 2016
Munaf, Dicky, 2008. Peran Teknologi Tepat Guna Untuk Masyarakat Daerah
Perbatasan,
https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUK
EwiwiLjn_KLPAhVBl5QKHRPvBGEQFggnMAE&url=http%3A%2F
%2Fjournal.fsrd.itb.ac.id%2Fjurnal-desain%2Fpdf_dir
%2Fissue_3_7_13_1.pdf&usg=AFQjCNGlR1ZjX9jm9ziVU1lgcOdiTAYwog&sig2
=QnDL8k2wEMXjXjGSTIqxHg, diakses tanggal 22 September 2016
Setyawan, Andik. Desain Alat Sistem Kontrol Suhu dan kelembaban Untuk
Optimasi Proses Pembuatan Tempe pada Skala Industri Rumah Tangga,
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Situmorang, Syafrizal, 2011. Urgensi Pengembangan Teknologi Tepat Guna Untuk
UMKM di Kota Medan, Universitas Sumatera Utara
Suharti, Lieli, 2013. Model Adopsi Inovasi Teknologi pada UMK Tempe : Studi pada
Pengrajin Tempe Anggota KOPTI di Kotamadya Salatiga dan Kabupaten
Boyolali, Jawa Tengah. Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana
Syamsiro, 2015. Teknologi Tepat Guna Untuk Masa Depan Indonesia,
http://www.kompasiana.com/syamsiro/teknologi-tepat-guna-untuk-masadepan-indonesia_56508a27b49373880b5e459c,
diakses
tanggal
22
September 2016
Siti Qomariyah | 8 | Otomasi Industri

Siti Qomariyah | 9 | Otomasi Industri