Anda di halaman 1dari 7

The Geologic Materials

Terdapat dua unsur pokok geologi yaitu, batuan dan tanah. Definisi yang tepat untuk
batuan adalah material dari kerak bumi yang terdiri dari satu atau lebih mineral yang saling
terikat bersama-sama, yang telah sedikit mengalami pelapukan dan sebagian besar mineral
induk (parent minerals) masih terlihat. Sedangkan untuk tanah adalah massa dari partikelpartikel atau butiran yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, terikat bersamaan dan terjadi
sebagai produk dari pelapukan batuan baik in situ atau hasil transportasi, dengan atau tanpa
campuran komponen organik, dengan tidak atau sedikit terlitifikasi.
Definisi yang diberikan adalah menurut geologi dan tidak cukup memadai untuk
aplikasi di masalah rekayasa keteknikan, yang berkaitan dengan sifat hidrolik dan mekanika
serta sifat fisik tertentu lainnya, seperti kekerasan. Yang terpenting dapat menggambarkan
dan mengklasifikasikan material dan sifat fisik dari batuan dan tanah tersebut.
General Classification

Tabel Klasifikasi Material Geologi


Dasar Geologi
Berdasarkan aspek geologi, batuan dikelompokkan berdasarkan keterbentukan
asalnya, batuan beku, sedimen, atau metamorf, dan diklasifikasikan menurut karakteristik
petrografi, termasuk kandungan mineralnya, tekstur, dan kemas (fabric).
Secara geologi, tanah dikelompokkan atau diklasifikasikan sebagai berikut:
Asal: residual, colluvial, aluvial, aeolian, glasial, dan menetap
Lokasi Keterbentukannya: dataran banjir, muara, laut, moraine, dll

Tekstur: ukuran partikel dan gradasi


Pedology: iklim dan morfologi
Dasar Keteknikan
Berdasarkan aspek keteknikan, batuan sering disebut sebagai intact atau in situ. Intact
rock mengacu pada blok atau fragmen batuan terpecah belah, di mana sifat hidrolik dan sifat
mekanik material dikendalikan oleh karakteristik petrografi apakah dalam keadaan segar atau
lapuk. Klasifikasinya berdasarkan uniaxial compressive strength dan kekerasan. Batuan In
situ mengacu pada massa batuan yang biasanya mengalami kerusakan, seperti fractures atau
cavities. Klasifikasi didasarkan pada kualitas batuan, juga dengan massa umumnya disebut
sebagai competent atau incompetent. Telah terdapat berbagai macam karakteristik, tetapi
secara universal nomenklaturnya belum ditetapkan.
Tanah diklasifikasikan secara keteknikan oleh gradasi, plastisitas, dan konten organik,
dan digambarkan secara umum sebagai non-kohesif atau kohesif, granular, atau nongranular.
Tanah dikelompokkan berdasarkan karakteristinya, kuat atau lemah, sensitif atau tidak
sensitif, kompresibel atau mampat (incompressible), swelling (ekspansif) atau nonswelling,
tembus atau tahan (impervious); atau dikelompokkan berdasarkan fenomena fisiknya seperti
mudah tererosi, rentan terhadap es (frost-susceptible), atau metastabil (terlipat atau
liquefiable, dengan struktur menjadi tidak stabil di bawah perubahan lingkungan tertentu).
Tanah juga dikelompokkan secara umum sebagai kerikil, pasir, lanau, lempung/tanah liat,
organik, dan campuran.
Pengetahuan tentang unsur pokook mineral dari jenis batuan tertentu juga berguna
dalam memprediksi karakteristik keteknikannya dari residu dekomposisi kimia dalam
lingkungan dan iklim tertentu. Tanah residual umumnya adalah material lempung (clayey
materials), dan sangat terkait dengan mineral batuan asalnya.
Komposisi Batuan
Mineral pada batuan umumnya terbentuk dari dua atau lebih elemen, meskipun
beberapa batuan terdiri hanya satu elemen, seperti karbon, belerang, atau logam. 98% dari
kerak bumi terdiri dari Oksigen, silikon, aluminium, besi, kalsium, natrium, kalium, dan
magnesium. Dari jumlah tersebut, oksigen dan silikon merupakan 75% dari elemen atau
unsur yang bergabung untuk membentuk mineral batuan dasar. Kelompok-kelompok mineral
antara lain silikat, oksida, silikat hidrat, karbonat, dan sulfat.

Silikat dan oksida yang paling penting. Deskripsi sifat fisik mineral diantaranya adalah :
Warna, Goresan (streak), Kilap, Belahan, Fracture, Berat jenis (SG atau Gs), dan Kekerasan.
Batuan
Terdapat tiga kelompok batuan :
1.

Batuan Beku dibentuk oleh kristalisasi dari massa yang berasal dari batuan yang
meleleh (magma) di bawah permukaan bumi. Dekat ke permukaan terjadi
penurunan tekanan, kandungan gas dilepaskan, magma mendingin dan membeku.
Batuan beku dapat terbentuk di dua lingkungan, baik intrusive (plutonik) yang
dicirikan dengan mineral-mineralnya berukuran agak besar dengan tekstur kasar
(faneritik) karena tidak terganggu oleh faktor dari luar, sedangkan ekstrusive
(vulkanik) dicirikan dengan batuan yang ukuran mineralnya kecil-kecil dengan
tekstur halus (afanitik), terbentuk setelah mencapai permukaan bumi.

Batuan beku diklasifikasikan terutama sesuai dengan kandungan mineral dan


teksturnya. Mineral penting adalah kuarsa, feldspar, dan ferromagnesian. Klasifikasi modern
didasarkan terutama pada kandungan silika (SiO2) (Turner dan Verhoogan, 1960).
Batuan Sialic (Batuan Asam) yang berwarna terang, terdiri terutama dari kuarsa (silika) dan
feldspar (silika dan alumina, Al2O3) dengan silika >66%.
Batuan kelompok Menengah (Intermediet) memiliki kandungan silika antara 52 dan 66%.
Batuan Mafik (Batuan Basa) adalah kelompok ferromagnesian mengandung mineralmineral berwarna gelap (biotit mica, pyroxene, hornblende, olivin, dan iron ores), dengan
kandungan silika antara 45 dan 52%.
Batuan Ultramafik memiliki kandungan silika <45%.
Tekstur Batuan Beku
Batuan beku intrusive dan lava dikelompokkan sebagai berikut:
Phanerocrystalline (phanerites) memiliki butir individu cukup besar untuk dibedakan
dengan mata telanjang dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran butir:
-

Coarse-grained : 5 mm diameter (pea size)

Medium-grained : 1 to 5 mm diameter
Fine-grained : 1 mm diameter

Mikrokristalin (microphanerites) memiliki butiran yang bisa dirasakan tetapi terlalu kecil
untuk dibedakan.
Fabric/Kemas

Batuan

beku

Equigranular,

di

umumnya
mana

dibedakan

semua

biji-bijian

ke
kurang

dalam
lebih

dua
ukuran

kelompok
yang

sama.

Porfiritik, di mana fenokris tertanam dalam masadasar atau material yang lebih halus
(istilah ini mengacu pada ukuran butir, bukan bentuk).
2.

Batuan Sedimen

terbentuk dari sedimen yang terkadang telah terangkut dan

terdeposisi sebagai endapan kimia, atau dari sisa-sisa tanaman dan hewan, yang
telah terlitifikasi di bawah panas dan tekanan dari atasnya atau dari reaksi kimia.
Partikel tanah yang dihasilkan dari pelapukan massa batuan atau dari endapan
kimia, diendapkan di dalam cekungan sedimen seiring meningkatnya ketebalan,
akhirnya litifikasi menjadi perlapisan batuan karena panas, tekanan, sementasi,
dan rekristalisasi. Residu dapat mencakup fragmen batuan dari berbagai ukuran,
pada dasarnya terdiri dari material yang tahan terhadap pelapukan kimiawi, seperti
kuarsa; dan lempung atau partikel koloid, yang kurang tahan seperti feldspar dan
mika.
Transportasi dan Deposisi

Sedimen klastik (Detritus)

Partikel produk hasil pelapukan diangkut terutama oleh air yang mengalir yang akhirnya
terdeposisi pada suatu tubuh air atau cekungan. Umumnya dipisahkan berdasarkan ukuran
butir bongkah, berangkal, kerakal, kerikil, , pasir, lanau, dan lempung.

Kimia Presipitat (Nondetrital)

Partikel ada di dalam larutan air yang mengalir ke laut atau badan air besar lainnya di mana
mereka mengendap dari larutan. Endapan kimia contohnya seperti batugamping dan dolomit
(batudolo) dan evaporites yaitu gipsum, anhidrit, dan halit. Selain yang terbentuk dari proses
fisik-kimia, banyak batu nondetrital yang terbentuk dari materi terlarut diendapkan ke laut
oleh kegiatan fisiologis organisme hidup.

Organik

Perlapisan yang kaya akan vegetasi mengalami pelapukan, pembebanan (burial), merupakan
lingkungan yang sangat mungkin terbentuk batubara.
Karakteristik Pengendapan
Horizontal Bedding : Dalam kondisi yang relatif seragam, deposisi awal sering di horizontal
beds.
Cross-Bedding : Gelombang dan arus saat ini menghasilkan cross-bedded stratification
Ripple Marks : Gelombang dan arus menghasilkan jejak bekas pada lapisan atas
Unconformity : Ketidakselarasan yang terjadi akibat hilangnya bagian dari perlapisan akibat
erosi dan lapisan baru mengendap, membuktikan perbedaan material.
Disconformity : Adanya jeda waktu pengendapan (hiatus)
Klasifikasi
Batuan sedimen telah dibagi menjadi dua kelompok besar: detrital dan nondetrital.

Detrital Group (Klastik Sedimen)

Diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel seperti konglomerat, batupasir, batulanau, dan


serpih.

Nondetrital Grup

Termasuk endapan kimia dan organik. endapan kimia diklasifikasikan berdasarkan tekstur,
kemas, dan komposisi.

3.

Batuan metamorf terbentuk dari batuan lainnya dengan tekanan (shear) yang besar
dari proses orogenic yang menyebabkan aliran plastik (plastic flow), dalam
kombinasi dengan panas dan
air, atau oleh intrusi batuan beku, yang
menyebabkan perubahan kimia dan menghasilkan mineral baru.

Metamorfisme
Panas yang luar biasa dan tekanan, dalam kombinasi dengan aktivitas air dan gas,
menghasilkan rekristalisasi dari massa batuan, termasuk pembentukan mineral menjadi lebih
besar, deformasi dan rotasi dari butirannya, rekombinasi kimia dan pertumbuhan mineral
baru, juga dengan penambahan unsur-unsur baru dari air dan gas.

Kontak atau metamorfisme termal memiliki efek lokal, karena panas dari intrusi
tubuh magma, menyebabkan rekristalisasi batuan menjadi lebih keras.

Cataclastic metamorfisme melibatkan proses pembentukan gunung (orogenic


processes), yang merupakan manifestasi dari kekuatan tekanan yang besar dalam
kerak bumi. Kekuatan ini menyebabkan aliran plastik (plastic flow), dan
menghancurkan massa batuan, dan dalam kombinasi dengan panas dan air,

mengalami perubahan secara kimiawi dan membentuk mineral baru.


Metamorfisme Regional menggabungkan suhu tinggi dengan tekanan tinggi, di mana
batuan secara substansial terubah (distorted).

Karakteristik Massa Batuan secara Keteknikan


Terdapat tiga kondisi aspek umum:

Fresh intact rock (competent rock)


Decomposed rock
Nonintact rock

1. Competent Rock
Batuan utuh yang segar, tidak terlapukkan, dan bebas dari diskontinuitas dan bereaksi
terhadap terapan stres sebagai massa padat disebut batuan kompeten. Permeabilitas,
kekuatan, dan deformabilitas secara langsung berhubungan dengan kekerasan dan kepadatan,
seperti serta kemas dan sementasi.
2. Decomposed Rock
Dekomposisi dari pelapukan menyebabkan batuan menjadi lebih permeabel, lebih
kompresibel, dan lemah. Produk akhir dan ketebalannya yang terkait erat dengan komposisi
mineral

dari

batuan

induk,

iklim,

dan

faktor

lingkungan

lainnya.

3. Nonintact Rock
Diskontinuitas atau cacat (defects), yang mewakili bidang lemah dalam massa, kontrol sifat
mekanik atau keteknikan dengan membagi massa menjadi blok yang dipisahkan oleh faults,
joints, foliations, cleavage, bedding, dan slickensides. Kekar merupakan yang paling banyak
berada

pada

massa

batuan.

Mereka

memiliki

sifat

fisik

jarak,

lebar pembukaan, konfigurasi, dan kekasaran permukaan. Mereka bisa menjadi tertutup
(tight), terbuka, atau diisi oleh material lain, dan dapat menampilkan parameter kuat dari
kohesi dan gesekan sepanjang permukaan mereka.