Anda di halaman 1dari 140

Madq University Press

'

-t:

lrr*li''.,..,r' &,

BAHAN GALIAN
INDUSTRI

Prof. Ir. Sukandarrumidi, MSc.' PhD.


Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS

KATA PENGANTAR
Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, antara lain disebutkan:
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalqh

Hak Penerbitan

@ 2009 GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS


P.O. Box 14, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
E-mail : gmupress@ugm.ac.id
Homepage : http://www.gmup.ugm.ac.id

Cetakan portama
Cetakan kedua
Cetakan ketlga

Maret 1998
September 20M
Maret 2009

Dilarang mengulip dan memperbanyak tanpa izin teftulis


dari penerbil, sobarTrrrr atau seluruhnya dalam bentuk apa
pun, baik cetak, plr<ttoprint, microfilm dan sebagainya.
1499.10.03.09
Diterbitkan dan dicetak oleh:
GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS

Anggota IKAPI
081'1171,-C2E

lsBN 979420-449-8

pokok-pokok kemakmuran ralqtat. Sebab itu harus dikuasai oleh


negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran ralqtat.
Kekayaan alam yang dimaksudkan di atas adalah sumber daya mineral
yang salah satunya adalah Bahan Galian Industri. Secara keseluruhan
Indonesia memiliki Bahan Galian Industri dalam jumlah dan variasi
yang cukup melimpah, tetapi secara setempat-setempat pada umumnya sangat terbatas. Oleh sebab itu pemberdayaan Bahan Galian
Industri yang paling sesuai, diusahakan oleh rakyat, dan dapat diusahakan dengan teknologi sederhana.
Buku ini disusun dari berbagai pustaka dan hasil penelitian serta
pengalaman lapangan, diramu dan dikemas secara praktis dengan
tidak meninggalkan kaidah-kaidah ilmiah. Buku ini terdiri dari sebelas
Bab dengan urutan Bab I-I[ membahas tentang Pendahuluan; Perusahaan Pertambangan; Teknik Eksplorasi dan Eksploitasi; Bab IV-IX
membahas tentang Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan
batuarl sedimen, Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan
gunung api, Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan intrusi
plutonik batuan asam dan ultra basa, Bahan Galian Industri yang
berkaitan dengan endapan residu dan endapan letakan, Bahan Galian
Industri yang berkaitan dengan proses ubahan hidrothermal dan Bahan
Galian lndustri yang berkaitan dengan batuan malihan, Bab X menguraikan tentang Keselamatan Keq'a yang perlu mendapat perhatian
oleh semua pelaku industri, diakhiri dengan Bab XI yang membahas
tentang Strategi Pengelolaan Sumber Daya Mineral.
Dari uraian singkat tersebut, memberi gambaran bahwa buku ini

vt

tidak hanya

dapat dipergunakan oreh mereka yang menaruh minat


tentang Ilmu geologi tetapi juga dapat dirrpnfaaikari
oreh masyarakat
yang ingin memberdayakan Bahan Galian Industri
sebagai komoaitas
ekonomi.
Semoga apa yang diuraikan dalam buku ini bermanfaat.

DAFTAR ISI
Yogyakarta, September I 99g
Penyusun

KATA PENGANTAR
DAF-TAR ISI

vii

DAFTAR GAMBAR

xii

DAFTAR TABEL

xiii

BAB I.

PENDAHULUAN
1. Sumber Daya Mineral ................
2. Sumber Daya (Resource) dan Cadangan (Re-

serve)

3. Menghitung
BAB II.

Cadangan

...............

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN

1. Kuasa Pertambangan (KP)

2. Persyaratan dan Prosedur Permohonan KP ........


3. Pengawasan dan Pembinaan Usaha Pertam-

bangan

4. Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD)

7
8

II
12

5. Persyaratan dan Prosedur Permohonan SIPD .... l3


14
6. Proscdur Pennohonan SIPD .........
7. Pengendulian dan Pengawasan Usaha Pertam-

- bangan

BAB III.

15

TEKNIK EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI

l.

Teknik

Eksplorasi

2. Kualitas Contoh Batuan


3. Tcknik Ekploitasi
-1. Peledakan

..............

16
18

26
28

viii

5.
6.

Pengolahan Bahan Galian Industri


Pemasaran

1X

l0.Andesit dan basalt


I l.Pasir gunung api

34
36

135

140

BAB IV. BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN

DENGAN BATUAN SEDIMEN

A. SUBKELOMPOK A
1. Batu gamping

2. Dolomit
3. Kalsit
4. Marmer
5. Oniks
6. Fosfat

BAB
38
55
57
59
62
63
65
67

B. SUBKELOMPOK B

1. Bentonit
2. Ball clay dan Bond clay

3. Fire clay ...........


4. Zeolit
5. Diatomea ...............
6. Yodium
7. Mangan
8. Feldspar
BAB

72
19
82
83

9r
93

95
103

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN


DENGAN BATUAN GLTNLTNG API

l.

Obsidian
Perlit

2.
3. Pumice
4. Tras
5. Belerang
6. Trakhit
7. Kayu terkersikan
8. Opal
9. Kalscdon

109

ll1
113
116

t22
t27
128
130

132

VI BAHAN GALIAN

INDUSTRI YANG BERKAITAN


DENGAN INTRUSI PLUTONIK BATUAN ASAM
DAN ULTRA BASA
1. Granit dan Granodiorit

2. Gabro dan Peridotit


3. A1kali Felspar
4. Bauksit
5. Mika
6. Asbes

................

148
150

t52
152
1s5
157

BAB VII BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN


DENGAN ENDAPAN RESIDU DAN ENDAPAN
LETAKAN

l. Lempung

2. Pasir Kuarsa
3. Intan
4. Kaolin
5. Zirkon
6. Korundum
7. Kelompok Kalsedon
8. Kuarsa Kristal
9. Sirtu

160

170

178
185

192

r93
195
198

201

BAB VIIIBAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAITAN DENGAN PROSES UBAHAN HIDROTHER-

MAL
1. Barit

2. Gipsum
3. Kaolin
4. Talk
5. Magnesit
6. Pirofilit

203
205

206
206
...............

207
209

xl

2tt

7. Toseki
8.

Oker

215

9. Tawas

BAB IX.

...............:......,.,-,....

2. Marmer
3. Batu Sabak
4. Kuarsit
5. Grafit
6. Mika
7. Wolastonit
BAB X.

10.
11.

219

220
220
222
223

224
226

KESELAMATAN KERIA
l. Kecelakaan Akibat Kerja dan Pencegahannya ..
2. Statistik Kecelakaan Kerja .........
3. Peraturan Perundangan Dibidang Keselamatan
Kerja .........

4. Keselamatan Kerja Bidang Kebakaran


5. Pesawat/Pembangkit Uap ............
6. Pengamanan Mesin dan Alat Mekanik
7. Bahan Berbahaya dan Keselamatan Kerja .........
8. Alat-alat Tangan
9. Aneka Pendekatan Keselamatan lain ...................
BAB XI.

l.

Penggolongan Bahan Galian


Usaha Pertambangan Bahan Galian
Pengusaha Pertambangan Bahan Galian
Kuasa Pertambangan ...............
-5. Bentuk Kuasa Pertambangan ...............
6. Isi Kuasa Pertambangan ...............
7. Peranan Gubernur/Kepala Daerah Dati

228
230
231
232
237

239
241
24s
247

25t

)\)

2.
3.
4.

..........

12. Macam Bahan Galian yang Diusahakan


Kuasa (Izin)
14. Yang Melakukan
13.
15.

Bentuk

253
253

254
255

I-pro255

251.

257

Galian
Batasan Pertambangan Rakyat
Pemilik Bahan

..........

Pertambangan
Penambangan
Usaha Pertambangan ...............

16. Tujuan Adanya Pertambangan Rakyat


17. Pungutan Negara Berkaitan dengan Kuasa
Pertambangan ...............

DAFTAR PUSTAKA

STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA


MINERAL

pinsi

Tanah

217

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAIT.


AN DENGAN BATUAN MALIHAN

l. Kalsit

Pemindahan Kuasa Pertambangan ....................


9. Hubungan Kuasa Pertambangan dengan Hak
8.

258
258
259
259
259
259
260

260
262

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR
Gambar

1.

Bagan alir kegiatan pada kuari andesit

28

2. Bagan alir pengolahan gipsum


Gambar 3. Bagan alir pengolahan butir bentonit
Gambar 4. Bagan alir pengolahan mineral zeolit ........
Gambar 5. Bagan alir pengolahan feldspar
Gambar 6. Bagan alir pengolahan tras .....................
Gambar

70

8. Bagan alir proses pengolahan bongkah

Tabel 3.

107

Tabel 4.

ande-

Susunan gradasi agregat yang

baja

Tabel 5.

diuji

dan jumlah bola

...........

24

Tujuan dan sistem pengolahan bahan galian industri

35

Tatanama batugamping sesuai dengan kadar magnesium

40

Susunan kimia kapur tohor yang diperdagangkan di


Amerika Serikat

47
84

Tabel 6.

Species zeolityangumum didapatkan dalam batuan

TabelT.

Persyaratan

Bagan alir pengolahan batuapung ..............

146

Tabel

Standart komposisi kimia Tras

alir pengolahan pasir kuarsa

175

Tabel 9.

Sifat fisik breksi pumice, bata merah dan batako

.......

t44

r89

Tabel

10.

Spesifikasi pasir kuarsa untuk industri gelas/kaca .....

176

190

Tabel

11.

Spesifikasi pasir kuarsa untuk bata tahan api

t77

Tabel

12

Spesifi kasi pasir kuarsa untuk pengecoran ..................

t78

Tabel

13.

Derajat kejernihan intan ...........

183

Tabel

14.

Wama dan kejernihan intan

t84

Tabel

15.

Sifat bahaya kebakaran beberapa bahan yang dipakai


dalam industri

233

Gambar

10. Bagan
1.

Tabel2.

23

139

9.
1

hanan terhadap pelapukan

86

t2t

Ukuran dan jumlah agregat pada pengujian keta-

sit/basalt menjadi ukuran sesuai dengan keperluan


Gambar

Gambar

1.

78

t24
Gambar

Tabel

Bagan alir proses pengolahan kaolin secara umum

Gambar l2.Bagan alir pengolahan kaolin untuk pengisi

Tabel

8.

16.

bijih mangan untuk batere kering

100

tt6

Klasifikasi bahan-bahan yang dapat meledak menurut kecepatan naiknya

tekanan

235

BAB I

PBNDAHULUAN
1. SUMBER DAYA MINERAL
Mineral merupakan sumberdaya alam yang proses pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun dan sifat utamanya tidak
terbarukan. Mineral dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam
industri/produksi. Dalam hal demikian mineral lebih dikenal sebagai
bahan galian. Betapa pentingnya kedudukan bahan galian di Indonesia
maka melalui Peraturan Pernerintah No. 27 tahun 1980. Pemerintah
Republik Indonesia membagi bahan galian menjadi 3 golongan yaitu:
o Bahan galian strategis disebut pula sebagai bahan galian golongan A
terdiri dari: minyak bumi, bitumen cair, lilin bek-u, gas alam, bitumen
padat, aspal, antrasit, batubara, batubara muda, uranium radium,
thoriurn bahan galian radioaktif lainnya, nikel, kobalt, timah.
o Bahan galian vital disebut pula sebagai bahan galian golongan B.
terdiri dari: besi, mangaan, molibden, khrom, wolfram, vanidium,
titan, bauksit, tembaga, timbal, seng, emas, platina, perak, air raksa,
arsen, antimon, bismut, ytriunt, rhutenium, cerium, dan logam-logam
langka lainnya, berillium, korundum, zirkon, kristal kuarsa, kriotit,
fluorspar, barit, yodium, brom, khlor, belerang.
. Bahan galian non strategis dan non vital, disebut pula sebagai bagan

galian golongan C. Terdiri. dari: nitrat, nitrit, fbsfat, garam batu


(halit), asbes, talk. mika. grafit. magnesit, yarosit. leusit, tawas
(alum), oker, batu pemata, batu setengah permata, pasir kuarsa, kaolin. feldspar, gipsum, bentonit. tanah diatomea. tanah serap (fuLler

earth'), batu apung, trass, obsidian, marmer, batutulis, batu kapur,


doiomit, kalsit, granit, andesit, basalt, trakhit, tanah liat, pasir, sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan A maupun
golongan B dalam skala yang berarti dari segi ekonomi pertam-

a. Sumber Daya (Resource)

bangan.

resource). Disamping itu dikenal pula istilah:


Sumber Daya Tingkat Spekulatif (Speculutive Resource)

Bahan galian industri sebagian besar termasuk bahan galian


golongan C, walaupun beberapa jenis t;rmasuk dalam bahan galian
golongan yang lain. Secara geologi bahan galian industri terdapat dalam
ketiga jenis batuan yang ada dialam yaitu terdapat dalam batuan beku,
batuan sedimen ataupun batuan metamorf, mulai dari yang berumur Pra
Tersier sampai Kuarter. Bahan bangunan alam tidak lain adalah bahan
galian industri yang belum diientuh rekayasa teknik. Oleh sebab itu
dengan semakin majunya rekayasa teknik tidak tertutup kemungkinan
jenis bahan galian industri akan bertambah jenisnya. Bahan galian
industri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari,
bahkan dapat dikatakan bahwa manusia hidup tidak terlepas dari bahan
galian industri. Hampir semua peralatan rumah tangga, bangunan fisik,
obat, kosmetik, alat rulis, barang pecah belah sampai kreasi seni dibuat
langsung atau dari hasil pengolahan bahan galian industri melalui
rekayasa teknik.

2. SUMBER DAYA

(RESOURCE) DAN CADANGAN

(RESERVE)

Di Indonesia cukup banyak terdapat batuan beku, batuan sedimen,


dan batuan metamorf yang berumur Pra Tersier sampai Kuarter. Sebagai
akibat proses geologi yang telah berlangsung jutaan tahun secara keseluruhan menghasilkan macafi) dan jumlah bahan galian industri yang
cukup banyak, namun secara setempat-setempat mempunyai jumlah
yang mungkin sangat terbatas. Untuk mengetahui kualitas suatu bahan
galian dikenal istilah sumberdaya

Re

source ) dan Cadangan ( Re se n,e ).

Dikenal dua istilah yaitu Sumber Daya yang diketahui (identified


resource') dan Sumber Daya yang belum ditemukan (wtdiscot,ered

Adalah potensi sumber daya bahan galian yang mungkin dapat


diproduksi dari suatu daerah prospek bahan galian dimana data yang

dijadikan dasar perhitungan terutama mengacu pada hasil

stucli

pustaka dan penelitian lapangan sepintas (rer:ognii.e).


Sumber Daya Tingkat Hipotetis (HypotheticaL Resource)

Adalah potensi sumber daya bahan galian yang mungkin dapat


diproduksi dari suatu daerah prospek bahan galian dimana data yang

dijadikan dasar adalah tinjauan lapangan secara regional serta hasil


analisa laboratorium. Dengan demikian maka sumber daya tingkat
spekulatif merupakan tingkat perhitungan yang relatif sangat kasar
dibandingkan dengan sumber daya tingkat hiporetis.

b. Cadangan

(Reserve)

Mengacu pada klasifikasi hasil Koordinasi Teknis Neraca Sumber


Daya Alam Nasional (1991), Cadangan (Resente) dibedakan menjadi:
Cadangan Hipotetik (Hypothetir:al Resen,e)
Adalah cadangan suatu bahan galian yang bersifat deduktif/ dugaan

dari kemungkinan faktor-faktor geologi yang mengontrolnya atau


dugaan dari hasil penyelidikan arvaVtinjau. Tingkat keyakinan

cadangan sebesar (10-15)7o dari total cadangan yang diduga.


Cadangan Tereka (Probable Reserve)
Adalah caclangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan
atas tinjauan lapangan dengan tingkat keyakinan cadangan (20-30)Ea
dari total cadangan yang ada
Cadangan Terindikasi (lndicated Resente)
Adalah cadangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan

atas penelitian lapangan dan hasil analisa laboratorium dengan


tingkat keyakinan cadangan (50-60)Vo dari total cadangan yang

terindikasi.
Cadangan Terukur (Measured Reserve)
Adalah cadangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan
atas penelitian lapangan secara sistematis dan hasil analisa laboratorium dengan tingkat keyakinan cadangan (80-85)Vo dari total
cadangan yang ada.

Disamping istilah tersebut di atas didalam perhitungan cadangan suatu bahan galian dikenal pula:

Cadangan Ditempat (ln Place/Geologicctl Reserve/Reserve Base)


Adalah jumlah bahan galian yang sebenarnya terdapat di bawah
tanah yang telah dihitung melalui persyaratan ekonomi pertambangan

dalam kondisi tertentu. Dalam kegiatan penambangan komersial


cadangan ditempat selanjutnya dievaluasi untuk memperhitungkan
berapa sebenamya jurnlah bahan galian yang dapat dimanfaatkan
melalui operasi penambangan. Dalam hal ini dikenal istilah

Cadangan dapat ditambang.


Cadangan Dapat Ditambang (Recoverable Resen,e)
Adalah jumlah cadangan bahan galian yang diharapkan akan dapat
ditambang dengan menggunakan teknologi pada saat perhitungan.
Cadangan dapat ditambang dalam metode tambang blka (open cut
mining) pada umumnya diperhitungkan lebih dari 907o dari cadangan

ditempat, tetapi dalam lingkungan tambang dalam (underground


mining) khususnya yang cukup dalam pada umumnya diperhitungkan
faktor perolehan kurang dari 60Vc. Kondisi struktur endapan, metoda
penambangan memegang peranan penting dalam menentukan faktor
pembatas bagi bahan galian yang mempunyai afti ekonomi. Angka
prosentase tersebut sangat mungkin bersifat lokal, diperoleh dari
pengalaman operasi tambang dan hanya berlaku untuk bahan galian

yang bersangkutan.
Cadangan Dapat Dijual (SaleabLe Reserue)

dan perlu dibenefiasi untuk memenuhi permintaan pasar. maka


jumlah bahan galian yang akan dapat dijual di kurangi oleh faktor
benefisiasi. Faktor ini sebagian ditentukan oleh kualitas bahan galian
itu sendiri dan sebagian oleh spesifikasi bahan galian yang akan
dijual sesuai dengan permintaan pembeli. Bilamana data pencucian
dan spesifikasi sudah dapat ditentukan maka akan dapat diperkirakan
besarnya cadangan dapat dijual (Saleable Reserve) yang menyatakan
nilai ekonomis sebenarnya dari endapan bahan galian tersebut.

3. MENGHITUNG CADANGAN
Memperhitungkan Sumber Daya atau Cadangan bahan galian
industri sangat sederhana dibandingkan dengan bahan galian yang lain.
Hal ini pada dasamya disebabkan oleh kesederhanaan geometri endapan
bahan galian tersebut terutama yang telah dideliniasi oleh kegiatan
eksplorasi. Evaluasi Sumber Daya atau Cadangan bahan galian industri
dalam lingkup Pengelolaan Sumber Daya (Resource Management)
memerlukan tindak tambahan sehubungan dengan ketelitian pelaporan
eksplorasi. Penilaian suatu cadangan bahan galian industri dapat
dilakukan dengan beberapa metoda sesuai dengan tingkat eksplorasinya
sepefti metode poligon, esopah, penampang melintang atau metode
geometri lainnya. Dengan metode tersebut atau metode konvensional
lainnya dianggap bahwa ketebalan lapisan bahan galian industri yang
bersangkutan dapat diikuti dan diketahui dari singkapan yang ada.

Karena kesederhanaan geometri endapan bahan galian tersebut,


ditunjang dapat diamati dilapangan biasanya metode konvensional
tersebut cukup dapat diterima.

Apabila bahan galian dari hasil tambang dapat dijual tanpa

Catatan:

mengalami benefisiasi/peningkatan mutu seperti pencucian, pemilahan dan sebagainya seluruh perolehan tambang tersebut seluruhnya
akan dapat dijual. Tetapi apabila hasil tambang tersebut terlalu kotor

Data planimeter ditetapkan untuk perhitungan cadangan bahan


galian dari data permukaan (peta geologi). Asumsinya adalah bahwa
volurne cadangan diperhitungkan sebagai hasil perkalian antara kelas
dua bidang pembatas yang saling sejajar (yang merupakan manifestasi

interval garis kontur). Tubuh bahan galtan dianggap sebagai bukit, yang
terdiri atas bentuk prisma terpancung/bentuk piramid/bentuk kerucut.
Rumusan pri sma terpancung

Y =1l2xHx(A+B)
V = volume (mr)

H - jarak (selisih) dua bidang pembatas (m)


A = luas biclang kontur bawah (mr)
B = luas bidang kontur atas (rnr)
Rumusan piramid/kerucut

V=l/3HxA
V, H dan A identik keterangan diatas
Parameter A, B dan H dapat dihitung dari peta topografi sedang H
merupakan beda tinggi (elevasi) dari bidang A ke bidang B, luas bidang
A dan B dihitung dengan cara planimeter.
Rumusan perhitungan cara planimeter

A =(P-Q)x(m/n)2xUu
A = luas kontur (m2)
P = pembacaan akhir pada planimeter
Q-

pembacaan awal pada planimeter

m = skala peta-peta topografi

= skala planimeter (ditetapkan)

Ua = unit area, merupakan konstante

BAB II

PERUSAHAAN PERTAMBANGAN
Di dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33, Ayat (3) disebutkan, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Di dalam pasal tersebut tersirat didalam kekayaan alam salah satu di antaranya adalah bahan galian industri. Agar
semua bahan galian tersebut di atas memberi manfaat sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Disadari sepenuhnya bahwa
kegiatan penambangan bahan galian tidak terkecuali juga bahan galian
industri akan mengubah keadaan lingkungan. Oleh karenanya semua
kegiatan yang berkaitan wajib diusahakan secara benar dan memperhatikan keseimbangan alam yang dilaksanakan dengan sadar dan tidak
perlu pengawasan. Berkaitan dengan hal tersebut seorang pengusaha
bahan galian diwajibkan untuk memahami dan melaksanakan konsepkonsep Pengelolaan Sumber Daya Alam (Resource Management).

Untuk mewujudkan hal tersebut telah diatur

pengusahaan

pertambangan bahan galian golongan A dan B yang diatur dalam


bentuk Kuasa Pertambangan (KP) sedang untuk bahan galian golongan C dalam bentuk Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD).

I. KUASA PERTAMBANGAN (KP)


Dikenal 6 jenis KP yaitu KP Penyelidikan Umum, KP EksploKP
Eksploitasi, KP Pengolahan dan Pemurnian, KP Pengangkutrasi,
an dan KP Penjualan. Kuasa Pertambangan dapat diberikan kepada:

o
o
o
o
o
o
o
o

Instansi Pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Pertambangan


Perusahaan Negara
Perusahaan Daerah
Perusahaan dengan modal bersama antara negara dan daerah

Koperasi
Badan atau Perseorangan Swasta yang memenuhi syarat
Perusahaan dengan modal bersama antara negara dan atau daerah
dengan koperasi dan atau badan/perseorangan swasta yang memenuhi syarat-syarat
Pertambangan Rakyat.

Perlu diketahui bahwa bahan galian golongan A pada hakekatnya hanya dapat diusahakan oleh Instansi Pemerintah yang ditunjuk
oleh Menteri Pertambangan dan Energi dan Perusahaan Negara.
Selain itu dapat pula diusahakan oleh swasta maupun Pertambangan
Rakyat dengan syarat tertentu seperti telah diatur dalam UndangUndang No. I I tahun 1967, pasal 7 dan pasal 8.

2. PIiRSYARATAN DAN PROSEDUR PBRMOHONAN KP

Persyaratan dan prosedur permohonan KP oleh perusahaan


yang berlaku, diajukan kepada Menteri Pertambangan dan Energi
(MPE). Wewenang Menteri Pertambangan dan Energi tersebut
kemudian dilimpahkan kepada Direktur Direktorat Jendral pertambangan Umum (DJPU) dengan mengacu pada Keputusan Menteri
Pertambangan dan Energi (Kepmen MPE No. 2027, WZO\/ME/1985
tanggal 28 September 1985), sehingga permintaan Kp dan penye-

lesaiannya menjadi wewenang Direktorat Jendral pertambangan


Umum. Sebagai pelaksanaan keputusan menteri tersebut, oleh Direktorat Jendral Pertambangan Umum dikeluarkan Keputusan No.
667.W2011040000/1986 tanggal I I November 1986.

a. Persyaratan Permohonan KP

Persyaratan yang harus dilengkapi oleh pemohon dalam. surat


permohonan KP adalah sebagai berikut:
o Surat permohonan bagi perusahaan harus diajukan di atas kop surat
perusahaan pemohon dengan dibubuhi materai tempel dan bagi
perorangan diajukan di atas kertas bermaterai dengan ketentuan yang
berlaku.

r
o
o
o
o

Peta bagan/wilayah yang dimohon dengan skala 1:50.000 untuk


Pulau Jawa dan Pulau Bali, atau skala l:250.000 di luar Pulau Jawa
dan Pulau Bali.
Surat Jaminan Bank dari Bank Pemerintah sesuai dengan Keputusan
MPE No. 749/I{PTSIM/Pertamben/1981 dengan ketentuan bahwa
Jaminan Bank tersebut baru dapat dicairkan setelah disetujui atau
ditolaknya permohonan KP yang bersangkutan.
Setoran Pajak Terhitung (SPT) tahun terakhir.
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Pernyataan tenaga ahli, perjanjian kerja tenaga ahli, fotokopi ljazah,
daftar riwayat hidup dan fotokopi Karru Tanda Penduduk (KTp).
Fotokopi KTP penanda tangan surat permohonan.
Akte Pendirian Perusahaan yang salah satu dari maksud dan
tujuannya menyebutkan berusaha di bidang pertambangan dengan
disertai bukti pendaftaran akte tersebut pada pengadilan Negara
setempat bagi CV dan Firma serta tambahan pengesahan dari
Departemen Kehakiman bagi PT dan Anggaran Dasar yang disahkan
oleh instansi yang berwenang bagi Koperasi.

Untuk permohonan KP Eksploitasi

di

samping persyaratan
tersebut di atas ditambah lagi dengan:
Laporan Eksplorasi lengkap.
Laporan Studi Kelayakan juga meliputi Rencana Kerja Eksploitasi.

o
o

b. Prosedur Permohonan KP
Secara umum prosedur permohonan dan proses yang diakui

oleh Direktur Direktorat Jendral Pertambangan Umum atas

nama

L2

3. PENGAWASAN DAN PBMBINAAN USAHA PERTAMBANGAN


Pengawasan dan pembinaan pengusahaan pertambangan, baik

mencakup aspek teknis pertambangan maupun manajerial, secara


umum menjadi wewenang dan tanggung jawab Menteri pertambangan

dan Energi. Menteri tersebut melaksanakan wewenang eksekutif


Pemerintah untuk melaksanakan kebijaksanaan di bidang pertambangan sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Direktur
Direktorat Jendral Pertambangan Umum dalam hal ini melaksanakan

wewenang yang dilimpahkan oleh MPE untuk menjalankan


pengawasan dan pembinaan terhadap pengusahaan pertambangan
umum, kecuali sebagian bahan galian golongan C .yang telah
dilimpahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat I.
Pengawasan dan pembinaan yang dilakukan tersebut terutama
melip'rti keselamatan dan kesehatan kerja, pengawasan produksi,
prinsip konservasi dan pengelolaan lingkungan yang baik. Selama
berlakunya KP, Direktur Jendral Pertambangan Umum (DJPU)
berkewajiban mengurusi dan membina pelaksanaan Kp, menjamin
hak-hak serta di lain pihak menjaga agar kewajibannya dipenuhi
sesuai dengan ketentuan KP, mulai dari tahap penyelidikan umum
sampai tahap operasi produksi termasuk pemasarannya.

Para pemegang KP berkewajiban menyampaikan laporan


berkala setiap triwulan dan laporan tahunan mencakup segala kegiatan
utama yang dilakukan. Pemegang KP juga berkewajiban membayar
iuran pertambangan (iuran tetap dan iuran produksi), memberikan
batas wilayah KP Eksplorasi dan atau Eksploitasi serta membayar
ganti rugi tanah yang dipakai. Di lain pihak para pemegang Kp berhak
atas pelayanan, antara lain dalam benuk bantuan dalam pemecahan
berbagai permasalahan yang dihadapi, seperti masalah pembebasan
lahan, permasalahan lingkungan, gangguan para penambang tanpa izin
dan lain-lain.

13

4. SURAT

IZIN PERTAMBANGAN DAERAH (SIPD)

Pengusahaan pertambangan bahan galian golongan C termasuk


bahan galian industri hanya dilaksanakan setelah mendapat izin dari
yang berwenang.
S

IPD

o
o
o
o
o
o
o

Jenis-jenis SIPD adalah: SiPD Eksplorasi, SIPD Eksploitasi,


golahan/Pemurn ian, S IPD Penj ualan, S IPD Pengangkutan.
SIPD dapat diberikan kepada:

Pen

Perusahaan Daerah

Koperasi
Badan Usaha

Milik Negara

Badan Hukum Swasta


Perorangan

milik bersama antara Negara/Badan Usaha


(BLIMN)
Milik Negara
dengan Pemda TK I dan atau Pemda TK II
Perusahaan dengan modal

atau Perusahaan Daerah (PD)


Perusahaan dengan modal bersama antara BUMN dan atau pemda
TK yIyPD dengan Koperasi, Badan Hukum Swasta atau perorangan.

5. PERSYARATAN DAN PROSEDUR PERMOHONAN SIPD


Persyaratan dan prosedur permohonan SIPD diajukan kepada

Gubernur

KDH seperti telah diatur oleh Peraturan Daerah

(percla)

Propinsi Daerah Tingkat I.


a. Persyaratan Permohonan SIPD adalah:

Mengajukan permohonan tertulis kepada Gubemur dengan melampirkan l) Rekomendasi dari BupatiAValikotamadya sctempat di mana
penambangan akan dilaksanakan. 2) Peta lokasi di mana penam-

Apabila persyaratan tersebut telah dipenuhi, setelah mempertim-

bangan akan dilaksanakan.


bangkan aspek-aspek tataguna tanah, land reform, hak-hak atas tanah

11

untuk mendapatkan data geologi lebih lanjut dalam usaha untuk


mengetahui jumlah cadangan/ketebalan perlapisan dan kualitas/mutu
bahan galian diperlukan pekerjaan:

BAB

III

TEKNTK EKSPLORASI DAN EKPLOITASI


1. TEKNIK EKSPLORASI
Pembagian bahan galian industri berdasarkan atas asosiasi
dengan batuan tempat terdapatnya, dengan mengacu pada Tushadi dkk
(1990) adalah sebagai berikut:

I: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan Batuan


sedimen. Kelompok ini dibagi menjadi:
Sub Kelompok
Bahan Galian lndustri yang berkaitan
dbrigan batugamping
Sub Kelompok B: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan
batuan sedimen lainnya.
Kelompok

A:

.
o
o
.
o
o

Kelompok

II:

Bahan Galian lndustri yang berkaitan dengan batuan

gunung api.

Kelompok III: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan intrusi


plutonik batuan asam dan ultra basa.
Kelompok IV: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan endapan
residu dan endapan letakan.

Kelompok V: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan proses


ubahan hidrotermal.

Kelompok VI: Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan


metamorf.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka teknik eksplorasi

awal yang ditetapkan adalah pemetaan geologi permukaan utamanya


mendasarkan atas singkapan batuan dipermukaan.

a. Pemboran inti
Tujuan utama pemboran inti adalah untuk mendapatkan contoh
bahan galian secara vertikal yang berada dibawah permukaan tanah,
disarnping itu mengetahui ketebalannya.

Teknik melerakkan titik rokasi pemboran inti ini agar didapatkan kedalaman yang maksimal dilakukan dengan bantuan peta
geologi dan peta topografi. oleh sebab itu apabila didaerah tersebut
belum/tidak didapatkan pera topografi dengan skala yang meiradai,
maka perlu dibuat pera topografinya terlebih dahulu.
Sesuai dengan tingkat kedaraman pemboran yang diinginkan
dan waktu yang tersedia, pemboran inti dapat dilaksanakan dengan:
o Alat bor auger, yang dioperasikan secara manual oleh tenaga
manusia. AIat ini sesuai diterapkan apabila sasaran pemboran
merupakan batuan yang lunak, sedang kemampuan kedalaman
pemboran sangat dangkal. oleh sebab itu apabila batuan yang akan
dibor cukup tebal/cukup dalam maka perpindahan lokasi pemboran
secara sistematis perlu dilakukan. Suatu keuntungan dari metode ini
adalah bahwa alat bor auger mudah dilepas dari rangkaiannya

sehingga dapat diangkut dengan mudah.

Alat bor inti yang dioperasikan dengan mesin.


Alat ini sesuai diterapkan pada batuan yang lunak ataupun pada
bagian yang keras. Kemampuan membor alat ini cukup dalam,
sehingga pemindahan lokasi pemboran dapat dilakukan seminimal
mungkin apabila dikehendaki pencapaian keseluruhan pemboran
yang sangat dalam. Didalam operasinya, mengerjakan pemboran
dengan alat ini memerlukan keahlian khusus, terutama didalam
memakai peralatan pemboran inti yang dapat dilepas.
Dari kedua alat pemboran inti tersebut apabila dikehendaki
perolehan inti pemboran dapat mencapai loovo, dan inti pemboran
tersebut siap untuk dilakukan analisa laboratorium. untuk masing-

20

21

0,03 mm, ketebalan ini dapat diketahui dengan membandingkan


warna mineral yang tampak pada mikroskop pada saat nikol
disilangkan (misalnya mineral homblende) dengan warna mineral

baku seperti yang terlihat pada wama interferensi.


Apabila telah diperoleh ketebalan yang diinginkan, preparat dipanas-

kan sebentar, kemudian ditutup dengan gelas penutup, biarkan

sejenak sampaidingin.
Beri label sesuai dengan informasi sampel, preparat

ini siap

untuk

dan ditimbang lagi = b gram. Harga selisih a


bahan yang hilang terbakar.

- b gram

merupakan

c. Analisa Difraktometer Sinar X


Analisa ini diperlakukan untuk batuan yang sulit ditentukan

jenis unsur kimianya dengan petrografi karena mempunyai butir yang


sangat halus, antara lain untuk jenis lempung/tanah liat.

dideterminasi.

d. Analisa besar butir


b. Analisa kimia
Analisa kimia dinilai relatif rebih rinci dibandingkan dengan
analisa petrografi. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui komposisi
kimia (senyawa oksida) dalam batuan. pemeriksaan komposisi kimia
dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

Contoh batuan digiling hingga mencapai ukuran 100 mesh lalu


dikeringkan pada temperatur l50o c dalam cawan platina, kemudian
di fitsing dengan NazCO: pada suhu 1.000o C. Tambahkan aquades
dan HCl, panasi hingga kering. Ulangi perlakuan tersebut sampai
larut lalu disaring untuk penentuan kadar SiO2.
Filtratnya untuk penentuan kadar trace elemenls dengan menggunakan AAS (Atomic Absorptbn spectrophcttometer). untuk kadar

Calsium (Ca) dan atau Magnesium (Mg) yang tinggi, clitentukan

dengan cara Kompleksiometer. Dengan AAS akan segera dapat diketahui macam-macam unsur dan jumlahnya secara tepat dan cepat.

Perhitungan kandungan air dilakukan sebagai berikut: contoh batuan


ditimbang beratnya. Kemudian dimasukan ke dalam oven pada
temperatur 100 - 105" C maka semua air akan keluar dan menguap.

Sampel tersebut kemudian ditimbang lagi. Selisih berat yang


diperoleh merupakan berat kandungan air.
Perhitungan bahan hilang terbakar dilakukan sebagai berikut: contoh
dipanaskan pada suhu 105" C dan ditimbang = a gram. Kemudian
dipanaskan lagi pada.futnqce sampai 1.000" C, selima 1,5 - 2 jam,

Analisa besar/ukuran butir dilakukan dengan mengikuti prose_


dur sebagai berikut:

o
e

'
o

Ambil sampel secara acak seberat 100 gram.


Pisahkan ukuran butir dengan cara diayak pada ayakan berjenjang.
Agar hasilnya baik pergunakan ayakan bermesin dengan waktu
secukupnya.
Sampel yang tertampung dalam setiap ayakan dengan mesh tertenfu,
sel anj utnya diti mban g.
Prosentase analisa ukuran butir dapat ditentukan.

Cotatan'. Analisa ukuran butir cocok untuk contoh bahan galian


yang bersifat lepas.

e. Analisa berat jenis


Berat jenis yang diukur pada contoh batuan adalah bulk density.
Hal ini disebabkan batuan merupakan kumpulan mineral yang masingmasing mineral mempunyai berat jenis tersendiri.
Prinsip pengukuran berat jenis sebagai berikut:

o
o
o
o

contoh batuan dipa,askan dalam oven pada suhu minimum l00o c


supaya semua air yang ada di dalamnya menguap, kemudian
didinginkan pada suhu kamar.
Contoh batuan ditimbang untuk mengetahui beratnya.
Volume batuan ditentukan.
Berat jenis batuan diperoleh dengan membagi berat dengan volume.

25

24

o
o
o

sampai beratnya tetap.


Benda uji dan bola baja dimasukan ke dalam mesin LoS ANGELES.

Putar mesin dengan kecepatan 30 - 33 rpm sebanyak 500 putaran


untuk gradasi A, B, C dan D, serta 1000 putaran untuk gradisi E, F
dan G (lihat tabel berikut).
Setelah selesai pemutaran, keluarkan benda uji dari mesin, kemudian
saring dengan saringan no. 12.

Butiran yang tertahan diatasnya, dicuci bersih, selanjutnya dikering-

kan dalam oven pada suhu I l0o + 5o C sampai beratnya tetap.


Perhitungan keausan sebagai berikut:

K=a-bxl00Zo
b

dimana:

a=
bK-

berat benda semula (gram)


berat benda uji tertahan saringan No. 12 (gram)
tingkat keausan

Hasil pengujian tersebut dinyatakan sebagai bilangan bulat dalam


prosen.

Keausan batuan yang cukup besar akan berpengaruh pada kekuatan


perkerasan jalan karena langsung bergesekan dengan roda-roda
kendaraan.

i.

Pengujian kuat tekan bebas

Untuk mencegah kerusakan konstruksi akibat beban (misalnya


lalu lintas), agregat harus cukup kuat menahan tekanan.
Kuat tekan suatu bahan adalah kemampuan batuan tersebut
dalam menahan beban atau gaya tekan yang dikenakan sehingga
batuan tersebut pertama kali mengalami deformasi. Besarnya kuat
tekan batuan dipengaruhi oleh tekstur, mineral penyusun, porositas
maupun gesekan dengan bidang penekan. Pada pengujian kuat tekan
bebas batuan diperlukan contoh batuan dengan bentuk tertentu yaitu
dalam bentuk kubus atau silinder. Hal tersebut dimaksudkan agar
perbedaan kuat tekan yang terjadi pada keduanya tidak berbeda, dan

kalaupun ada perbedaan tersebut sangat kecil sehingga dapat


diabaikan.
Rumus kuat tekan bebas (Krynine dan Judd, 1957):

Tabel 2. Susunan gradasi agregat yang diuji danjumlah bola baja


Ukuran
Lewat (mm)

Berat dan gradasi benda

Saringan

Iertahan (mm)

uji (gram)
E

76.2

63.5

63.5

50.8

2.500

50.8

38,

5.000

5.000

5.000

5.000

Kuat tekan tpl =

2.500

38,1

25,4

25.4

19.05

r9,05
t2.7

17,7

1.250

2.-500

9,51

r.250

2.500

9,5

1.250

dimana:
-5.000

l'250 i!.500

6,35

2.500

6,15

4,75

2.500

4,75

2.36

5.000

Jumlah bola

12

ll

12

t2

t2

Beraf bola (gram)

5.000

4.584

3.330

2.500

5.000

+25

5.000

+25

!20

5.000

+15

+25

!25

+25

o
o
.
o

P
P
A

IA kg/cm 2

= kuat tekan bebas batuan (kg/cm2)


= besar gaya yang menekan (kg)
= luas penampang yang dikenai gaya

(.*').

Cara melakukan untuk pengujian kuat tekan bebas batuan:


Contoh dibuat bentuk kubus dengan sisi 7 - l0 cm.
Kedua sisi yang menempel pada alat tekan dibuat lebih licin.
Contoh dipasang pada alat penguji, pembacaan alat menunjukan nol.
Tekanan diberikan secara perlahanJahan sampai contoh batuan mulai
pecah, pembacaan dilakukan pada saat batuan mengalami pecah
awal.

21

26

Nilai P diketahui demikian pula nilai A, dengan

bangan biasanya mengikuti arah bentuk endapan atau urat bijih yang
ditambang. Beberapa contoh penambangan sistem lubang tikus antara

mempergunakan

rumus di atas nilai Kuat tekan (p) dapat dihitung.

lain terdapat pada tambang phospat didaerah Ciamis (Jawa Barat),


tambang gipsum di daerah Ponorogo (Jawa Timur).

3. TEKNIK EKSPLOITASI
Pada umumnya bahan galian industri terdapat didekat permukaan tetapi juga ada yang terdapat dan terkumpul dibawah permukaan

yang relatif agak dalam. Selain itu bahan galian tersebut ada yang
keras, ada yang lunak bahkan setengah kompak. Karena teriJesak oleh
keperluan bahkan ada bahan'galian yang berada di bawah air.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas teknik penambangan bahan
galian industri berdasarkan atas cara kerjanya teknik penambangan
dapat dilakukan dengan :
o digali misalnya penambangan batugamping
o disemprot dengan pompa bertekanan tinggi misalnya penambangan

Dalam melaksanakan kegiatan tambang terbuka tahapan kerja


yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
o Pengupasan tanah penutup (land clearing) perlu dilakukan apabila di
atas endapan bahan galian terdapat tanah penutup (.soil) dan tumbuh-

o
o
o

pasir

Tambang terbuka, semua kegiatan penambangan dilakukan dipermukaan tanah/bumi. Pada kegiatan penambangan ini khususnya
untuk bahan galian industri disebut sebagai kuari. Berdasarkan atas
produk yang dihasilkan, letak dan bentuknya kuari dibagi menjadi:

Kuari tipe sisi bukit (.sirlr hill type), dengan lereng yang berjenjang.

Kuari tipe lubang galian (pir type/ sun surface ry,pe), yaitu kuari
yang endapannya terletak di bawah permukaan tanah dan topografinya mendatar sehingga setelah ditambang akan membentuk
cekungan (pil ) berjenjang.

Tambang bawah tanah, dikenal dengan istilah lubang tikus


(gophering), disebut pula sebagai lubang marmot, biasa diterapkan
untuk endapan bahan galian industri atau urat bijih dengan bentuk
dan ukuran tidak teratur serta tersebar tidak merata. Arah penam-

Bagian tanah penutup yang subur sesudah dikupas, dipindahkan ke


tempat penimbunan yang nantinya dimanfaatkan kembali pada saat
melakukan reklarnasi.
Secara umum kegiatan penambangan dari suatu kuari meliputi pemberaian (pembongkaran, pemuatan, pengangkutan dan penimbunan).
Cara pemberaian atau pembongkaran bahan galian dari batuan induknya tergantung dari kekerasan bahannya. Jika lunak pembongkaran
dapat dilakukan dengan alat gali manual (cangkul, ganco, dsb) atau

alat gali mekanis yang tergolong dalam excavator. Jika agak keras
pembongkaran dibantu dengan alat penggaru (ripper). Untuk bahan
galian yang keras atau sangat keras, pembongkaran dilakukan dengan

disedot dengan pompa hisap misalnya penambangan pasir di laut.


Disamping itu berdasarkan atas tempat kegiatan penambangan

dilaksanakan dikenal:

tumbuhan.

pemboran dan peledakan.

Kegiatan selanjutnya adalah pendorongan dan pemuatan, pengang-

kutan diakhiri dengan penumpahan/penimbunan pada unit pengolahan.

Urutan kegiatan tersebut di atas dapat digambarkan sebagai


berikut (Gambar 1).
Di Indonesia bahan galian industri tersebar luas dan penambangannya relatif mudah dilakukan. Oleh sebab itu penambangan bahan galian industri selain dilakukan oleh pengusaha besar juga oleh
masyarakat setempat. Perbedaan kemampuan modal pengusaha menyebabkan mutu produk bahan yang dihasilkan akan sangat bervariasi.
Pada umumnya tambang skala kecil dikerjakan oleh 2 - 5 orang
pekerja bekerjasama dengan pemilik tanah untuk menjual produksinya
kepada pedagang pengumpul.

29

28

Pendorongan dan
pemuatan

kurang dari 5.000 fps (dari beberapa inchi sampai beberapa feet per
detik). Tekanan yang dihasilkan kurang dari 50.000 psi. Untuk
penggunaan ditempat yang mengandung gas atau berdebu bahan
peledak ini harus lulus uji sebagai "permissible explosive" (permined
explosives). Bahan peledak jenis ini biasanya dipergunakan
ditambang batubara. Bahan peledak lemah yang tidak perlu lulus uji
disebut non perntissible explosives. Contoh bahan peledak lain

Pemboran
lubang tembak

adalah: black powder, propellant.


I

I
Gambar

l.

pat.la

a. Bahan peledak industri (komersial)

unit pengolahan
I

Bagan alir kegiatan pada kuari andesit.

Merupakan bahan peledak kimia yang lazim digunakan untuk


keperluan pertambangan/pembangunan. Bahan peledak yang diguna-

kan untuk kepentingan militer tidak termasuk dalam bahan peledak


industri.

4. PELEDAKAN

Pada pekerjaan tambang, tujuan penggunaan bahan peledak


terutama untuk membongkar batuan/bahan galian dari batuan
induknya.

o
o
o

Secara garis besarjenis bahan peledak dibedakan menjadi:


Bahan peledak mekanis (mechanical explosives)
Bahan peledak kimia (chemical explosives)
Bahan peledak nuklir (nuclectr explosives)

Dari ketiga jenis bahan pr:ledak tersebut di atas yang umum


digunakan sebagai bahan peledak industri ialah jenis bahan peledak
kimia yang berdasarkan atas kecepatan reaksinya dibedakan:
o Bahan peledak kuat, mempunyai kecepatan reaksi sangat tinggi yaitu
5.000 - 24.000 fps (l - 6 mile per detik), tekanan yang dihasilkan
sangat tinggi yaitu 50.000 - 4.000.000 psi. Sifar reaksinya ialah
detonasi, yaitu penyebaran gelombang kejut (shock wave). Termasuk
jenis bahan peledak kuat yaitu semua jenis dinamit antara lain TNT
(Tri Nitro Toluena), PETN (Penta Ery-Thritol Nitrate).
o Bahan peledak lemah, mempunyai kecepatan reaksi rendah yaitu

Jenis bahan peledak industri antara lain:


Black Powder
Terbuat dari campuran arang, belerang dan potasium nitrat 8C + 35 +
l0 KNO3------+ 3K2SO4 + 2K2CO3 + 6 COz + 5 Nz.
Dibuat dalam 2 bentuk yaitu:
o bentuk butiran (granulzr) untuk isian sumbu api
o bentuk pellet untuk isian lubang tembak

Dinamit
Tennasuk jenis bahan peledak kuat dengan bahan dasar Nitro
Glycerin (NG). Berdasar atasFomposisinya dikenal:

Straight Dynamite
Komposisi: NG 20 - 6lVa, NiNOr 59 -237o
Celltine Dynamite
Konrposisi: campuran NG dan NC (disebut Blasting Gelatine BG) sebagai bahan dasar, ditambah NaNOr atau KNO3 sebagai
sumber Oxygen. Gelatine dynamite tahan terhadap air sehingga
mampu disimpan hingga 3 tahun.
Ammonia Gelatine Dynamite
Komposisi: BG sebagai bahan dasar, ditambah ammonium nitrat

3l

30

b. Sifat gas beracun

(NHaNO:) sebagai sumber Oxygen.


Permissible Explosive

Komposisi: Ammonium Gelatine Dynamite ditambah Sotlium


Chlorida (NaCl) yang berfungsi sebagai .flame depressarzl untuk
mendapatkan temperatur peledakan rendah, volunre gas seclikit clan
penyalaan sesingkat mungkin sehingga mengurangi kemungkinan
terjadi ledakan skunder.
Blasting Agent

Blasting Agent merupakan bahan kimia yang apabila belum


dicampur, belum mempunyai daya leclak. Tetapi setelah dicampur
dengan perbandingan tertentu akan merupakan bahan peleclak
Bahan peledakjenis ini tennasuk bahan peledak kuat.
Contoh:ANFO (Ammonium Nitrat + Fuel Oil)
Reaksi kimia: 3NH1NO3 + 2CH2-+ CO: + 3N2 + 7H2O

(94Ea)

Bahan peledak yang meledak dapat rnenghasilkan dua jenis gas


yang berbeda silatnya yaitu:
o Sntoke, tidak berbahaya terdiri dari uap atau asap putih
o Funte, cukup berbahaya karena beracun, terdiri dari gas karbon
monoksida (CO) dan Oksida Nitrogen (NO atau NO2), gas rersebut
berwarna kuning. Funtes dapat terjadi bila peledak;
. Yang diledakkan tidak memiliki keseimbangan Oksigen
. Telah dalam keadaan rusak karena lama atau penyimpanan tak

o
o

(47c)

Sifat ANFO: Harganya murah, sangat ni,dah rusak karena air, sesuai
digunakan dibatuan yang kering.
Kecepatan detonasi sangat dipengaruhi oleh diameter

benar
Penyalaan yang tidak sempurna.

Oleh karena timbul Junrcs yang beracun dan cukup berbahaya


bagi pekerja, maka dalam setiap operasi peledakan baik dipermukaan atau di bawah tanah, saltrh satu prosedur yang harus diikuti
adalah membiarkan tempat yang baru saja diledakan sekurangkurangnya satu jam sampai diperkirakan tempat tersebut terbebas
dari furnes.

lubang ternbak. Hasil terbaik apabila lubang tembak


lebih dari 2.-5 inchi (6,3-5 crn).
lurry/lVatergel Explosi ves/Emul sion
Jenis ini tidak peka terhadap gesekan api ataupun rangsangan mekanis lainnya. Oleh karenanya dinilai sangat aman dalam penggunaannya dan tahan air. Terdiri dari campuran AN atau SN (Sodium
Nitrat) dengan combustible fuel sebagai sensitizer dan air (sampai
207o), ditambah bahan pengikat (gelling agent). pada jenis emulsi
bahan pengikatnya sejenis oli dan lllin (wax). Combustible fuel yang

c. Lokasi penyimpanan bahan peledak

dipakai:gula cair, serbuk gergaji. belerang, logam


kadang-kadalg TNT
Contoh bahan peledak jenis ini:
o Tovex (produksi Du Pont - USA)
e Aquagel (produksi Atlas - USA)
o Emulite (produksiNitro Nobel - Swedia)
o Gel. Powder (produksi Hercules - USA)

Mg atau Al,

o
o
.

Beberapa persyaratan lokasi dimaksud:

Harus mudah dicapai, aman terhadap daerah lingkungan

dan

memperhatikan j arak keselamatan terhadap situasi sekelil ing


Bila dimungkinkan dipilih pada daerah berbukit yang dapat memberi
perlindungan terhadap gedung, jalan raya dan instalasi umum.
Sesuai fungsinya tempat penyimpanan dibedakan:
Tempat penyimpanan induk (main storage)
Tempat penyimpanan sementara dilapangan

o
o

d. Gudang penyimpanan trahan peledak


Gudang dimaksud harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
Memiliki konstruksi yang cukup kuat, tahan peluru, tahan api dengan
lantai tidak lembab

JJ

32

.
o
o
.

Atap terbuat dari bahan yang ringan, pintu dilengkapi dengan kunci
Terdiri dari 2 bangunan/bagian yang telpisah:
Bangunan pertama khusus untuk menyinlpan bahan peledak
Bahan kedua khusus untuk ntenyimpan detonator

.
o

Dilengkapi dengan penangkal petir dan harus diperiksa setiap 6

peledak

Tatacara penyimpanan harus mengikuti ketentllan sebagai


berikut:
o Bahan peledak disinrpan dan disusun menurut sistem rak dengan
tumpukan yang serendah-rendahnya, 30 cm di atas lantai
. Tinggi susunan bahan peledak tidak boleh lerbih 1,80 m, dan sirkulasi

o
f.

udara harus diperhatikan


Di dalam gudang bahan peledak tidak boleh disirnpan benda lain
Dilarang mentbuka peti bahan peledak pada jarak kurang dari l5 m
dari gudang bahan peledak
Suhu dalam gudang tidak boleh lebih dari 3.5" C.

Peraturan-peraturan tentang bahan peledak

Agar bahan tidak disalah gunakan oleh orang yang tidak


telah rnembuat peraturan yang

bertanggung jawab, Pemerintah


menyangkut

.
o
.

Pengadaan (pembuatan dan perrbelian)

Pengangkutan
Penyimpanan dan penggunaan bahan peledak

Untuk pengamanan bahan peledak, beberapa peraturan yang


berlaku;

Skep Men Hankam no.Skep/l98/MltM984 tentang perincian bahan


peledak

Skep Men Hankam no.Skep/l99lM/frIll984 tentang penunjukan


pelabuhan bagi pemasukan, pengeluaran dan pengangkutan antar

Bahan peledak dan detonator tidak boleh disimpan dalam satu


bangunan yang disatu tempat

e. Tatacara penyimpanan bahan

Kep Men Hankam no. Kep/01/ltrVl/1984 tentang pengawasan dan


pengendalian bahan peledak

yang baik

bulan.

.
o

Kepres no.27 tahun 1982 tentang pengadaan bahan peledak

o
r
o
o

pulau bahan peledak


Juklak Kapolri no.Juklak/06 BlXUl979

Intruksi Presiden RI.no.9 tahun 1979 tentang

peningkatan,

pengawasan dan pengendalian senjata api.

Dibidang. pertambangan umum, perizinan mengenai bahan peledak


ditangani oleh Direktorat Teknik Penambangan
Untuk menjadi juru ledak diwajibkan memiliki keahlian tentang hal
tersebut dengan bukti sertifikat.

g. Pembuatan lubang temtrak

o
o
r
o

Lubang tembak dibuat pada batuan yang akan diledakan dan;


Dibuat dengan alat ttor
Jurnlah lubang tenrbak satu atau lebih tergantung kepentingan
Kedalaman dan lebar lubang tembak menyesuaikan dengan jenis

Sebelurn

diisi dengan bahan peledak tiap lubang tembak harus

dibersihkan dengan konrpresor.

h. Sistem peledakan
Untuk menghemat waktu dan tenaga untuk menghancurkan
batuan dibuat lebih dari satu lubang tembak. Oleh sebab itu sistem
peledakau dapat di lakrrkan dengan;
o Serentak, apabila peledakan dilakukan dengan skala kecil sehingga
suara dan getaran yang ditintbulkan tidak membahayakan
o Beruntun (deluyed blu.srirtg), apabila peledakan dilakukan dengan
skala nrenengah-besar sehingga apabila dilakukan peledakan tunggal

35

34
suara dan getaran yang dihasilkan diduga sudah berdampik negatip.

Dampak ini

akan menjadi lebih besar apabila peledakan dilakukan

di pulau Wetar diolah dengan cyclone, classifier, filter dan pengering


(dryer).

serentak.

Catatan

Tabel 3. Tujuan dan sistem pengolahan bahan galian industri

Tempat yang akan diledakan agar diberi tanda (biasanya dengan


bendera merah yang dapat dilihat darijarak minimal 500 m)
Berikan tanda peringatan awal (biasanya dengan bunyi sirine) agar

pemurnian dengan
konsentrasi

alat-alat konsentrasi

t'eldspar, zirkon

daerah sekitar diamankan


Pilih Sistem peledakan sesuai dengan kepentingan dan berdampak

peningkatan kadar
suatu unsur

alat konsentrasi dan


proses kimia

penyulingan

seminimal mungkin sebagai akibat suara dan getaran yang ditim-

peningkatan sifat

bulkan

kimia

pembakaran dengan
tungku

batu kapur bakar


(CaO)

pengaktifan secara
kimia

zeolit

o
o

Berikan tanda perrngatan a(hir (biasanya seperti pada peringatan


awal) apabila lokasi ledakan sudah dinyatakan aman untuk melanjutkan pekerjaan/kegiatan.
Yakinkan bahwa petugas kegiatan peledakan mempunyai kewenang-

Tujuan

Pengolahan
Bahan Galian

Industri

an melaksanakan pekerj aan tersebut.

5. PENGOLAHAN BAHAN GALIAN INDUSTRI


Pengolahan bahan galian industri jauh lebih beraneka ragam
dibanding dengan bahan logam. Pengolahan bertujuan untuk mening-

katkan mutu dan berbagai nilai seperti tingkat konsentrat, kadar sesuatu unsur kimia, mutu fisik, mutu bentuk dan penampilan. Berbagai
cara pengolahan bahan galian industri dapat digambarkan Tabel 3.
Uraian beberapa sistem pengolahan adalah sebagai berikut:

a. Pemurnian dengan konsentrasi


Penambangan intan yang dipisahkan dari mineral lain dilakukan

dengan konsep konsentrasi berdasarkan atas gaya berat seperti meja


goyang dan alat-alat Jig. Pemurnian feldspar mempergunakan proses
gaya berat dan juga floatasi untuk menghasilkan feldspar bermutu
tinggi. Pemurnian fosfat dilakukan dengan cara floatasi, sedang barit
serbuk yang merupakan hasil pengolahan tailing penambangan emas

Sistcrn

Contoh

belerang hasil

peningkatan sifat

alaralat konsentrasi

fisik

- pemecahan
- delaminasi

kaolin berlapis sifat


viskositas keputihan
tinggi

peningkatan bentuk
dan penampilan

pemolesan dan
pembentukan

marmer
batu permata

b. Peningkatan kadar

sesuatu unsur

Pengolahan belerang dapat dilakukan dengan proses penyulingan (frazer) dalam usaha mendapatkan belerang dengan mutu

tinggi.
Pemurnian pasir besi dengan memperhatikan perbedaan berat

jenis dengan mineral yang lain dan sifat kemagnitannya telah


dilakukan pada penambangan pasir besi di Cilacap.

c.

Peningkatan sifat kirnia

Peningkatan sifat kimia yang sudah dilakukan adalah pembakaran batu gamping untuk mendapatkan calsium oksida. Peningkatan
mutu zeolit dengan pengolahan secara benefisiasi dan kimia temyata
telah berhasil meningkatkan nilai jualnya.

36

3',]

d. Peningkatan sifat fisika


Pengolahan kaolin untuk meningkatkan kehalusan dan keputihan dengan pencampuran (blending) untuk mendapatkan jenis kaolin
dengan mutu prima.

e. Peningkatan bentuk permukaan


Cara ini diterapkan khususnya untuk bahan bangunan dan batu
hias. Pengolahan dapat dilakukan dengan pemotongan dan penggosokan (polishing).

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan

pengolahan

bahan galian dalam usaha untuk meningkatkan mutu merupakan suatu

rekayasa teknologi yang perlu ditingkatkan. Tiap-tiap bahan galian


memerlukan penanganan usaha dan teknologi yang sesuai.
Pengolahan bahan galian industri harus memenuhi spesifikasi

untuk keperluan tertentu. Dalam pemakaian dan pasaran berbagai


bahan diperlukan untuk berbagai tujuan dengan spesifikasi yang
berlainan.

6. PEMASARAN
Dalam usaha penambangan bahan galian industri, pemasaran
merupakan masalah yang lebih sulit dari pada penambangannya.
Untuk usaha bahan galian yang dapat menjual hasil tambangnya tanpa
melalui proses pengolahan, pada umumnya hanya soal angkutan saja
yang menjadi kendala dalam pemasaran. Usaha penggalian pasir dan
batu yang dapat memasarkan hasil galiannya langsung kepada penjual
bahan bangunan, tidak akan kesulitan dalam pemasaran asal lokasi
usahanya berdekatan letaknya dengan si pembeli. Kelangsungan usaha
bahan galian industri sangat ditennrkan oleh lokasi dan biaya angkutan
mengingat produk yang harus dipasarkan selain berat juga besar
volumenya, sedang harga satuannya relatif rendah.

Untuk batugamping sebelum siap digunakan melalui jalur pemasaran yang relatif panjang. Penggalian batugamping dapat dilakukan dengan cara sederhana dan semua orang dapat melakukannya.
Hasilnya dapat langsung drjual kepada pihak pabrik pembakaran
kapur. Ditempat ini batugamping mengalarni proses pengolahan yaitu
pembakaran di tungku.
Contoh lain pada pengusahaan kaolin, penambangan sangat
sederhana. Kaolin dari tambang diproses melalui tahap pencucian dan
pengendapan setelah itu dipanggang untuk dikeringkan, kemudian
digiling. Produk dari proses pengolahan ini berupa tepung kaolin yang
dapat dipasarkan sebagai filler ke pabrik cat, pabrik keramik dengan
persyaratan Yang tidak tinggi.
Kaolin juga dapat diproses secara lebih canggih antara lain
melalui floatasi, filtering dan bleachirtg untuk menghasilkan produk
berupa bubuk kaolin berbutir sangat halus, bertekstur seragam, sangat
murni, bersih dari kotoran dan mengkilap, memiliki sifat high gloss
dan brightness dan tidak mudah bereaksi (chemically inert). Bubuk
kaolin berkualitas tinggi ini antara lain diperlukan oleh industri obatobatan. pabrik kertas berkualitas tinggi (yaitu untuk papercoating),
untuk bahan kosmetik dan lain-lain.
Dari uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
meningkatkan produk bahan galian industri diperlukan proses pengolahan dengan kecermatan tinggi yang pada akhimya dapat meningkatkan multiguna dari bahan galian tersebut sehingga pemasarannyapun menjadi lebih luas. Kecermatan kerja diperlukan dalam semua
tahap kegiatan; eksplorasi yang teliti untuk menemukan dan
membatasi cadangan yang baik, jumlahnya harus cukup, kualitas
bahan galian harus serasi dan konsisten; kegiatan penambangan
dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh bahan galian
dengan sedikit pengotoran. Agar dapat diperoleh bahan galian yang
konsisten komposisinya diperlukan pengolahan yang cermat baik
secara fisik maupun kimiawi. Hasil akhir memenuhi persyaratan yang
diinginkan konsumen.

39

BAB IV

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BER.


KAITAN DENGAN BATUAN SEDIMEI{
Mengacu pada Tushadi dkk. 1990 kelompok bahan galian ini
dibagi menjadi Subkelompok A: Bahan galian industri yang berkaitan
dengan batu gamping dan Subkelompok B: Bahan galian industri yang
berkaitan dengan batuan sedimen lainnya.

A. SUBKELOMPOK

1. Batu gamping

Dikenal batu gamping non-klastik, merupakan koloni dari


binatang laut antara lain dari Coelenterata, Moluska dan Protozoa,
Foraminifera dan sebagainya, jenis batu gamping ini sering disebut
sebagai batu gamping Koral karena penyusun utamanya adalah Koral

yang merupakan anggota dari Coelenterata. Batu gamping ini


merupakan pertumbuhan/perkembangan koloni Koral, oleh sebab itu

dilapangan tidak menunjukkan perlapisan yang baik dan belum


banyak mengalami pengotoran mineral lain.
Batu garirping klastik, merupakan hasil rombakan jenis batu
gamping non klastik melalui proses erosi oleh air, transportasi, sortasi,
sedimentasi. Oleh karenanya selama proses tersebut terikut jenis
mineral lain yang merupakan pengotor dan memberi warna pada batu
gamping yang bersangkutan. Akibat adanya proses sortasi maka
secara alamiah akan terbentuk pengelompokan ukuran butir. Dikenal

ienis kalsirudit apabila batu gamping tersebut fragmental, kalkarenit


apabila batu gamping tersebut berukuran pasir, dan kalsilutit apabila
batu gamping tersebut berukuran lempung. Tingkat pengotoran/kontaminasi oleh mineral asing berkaitan erat dengan ukuran butirnya.
Pada umumnya jenis batu gamping ini dilapangan menunjukkan
berlapis. Adanya perlapisan dan struktur sedimen yang lain serta
adanya kontaminasi mineral tefientu yang akan memberi warna dalam
beberapa hal memberikan nilai tambah setelah batu gamping tersebut
terkena sentuhan teknologi.
Selain itu mataair mineral dapat pula mengendapkan batu
gamping yang disebut sebagai endapan sinter kapur. Batu gamping
jenis ini terjadi karena proses kimia di alam, peredaran air panas alam
maka melarutlah batu gamping di bawah permukaan yang kemudian
diendapkan kembali dipermukaan bumi.
Secara kimia batu gamping terdiri dari atas kalsium karbonat
(CaCOr). Di alam tidak jarang pula dijumpai batu gamping
magnesium. Kadar magnesium yang tinggi mengubah batu gamping
menjadi batu gamping dolomitan dengan komposisi kimia
CaCOrMgCOr. Hasil penyelidikan hingga kini menyebutkan bahwa
kadar Calsium Oksida batu gamping di Jawa umumnya tinggi (CaO >
50Vo). Selain magnesium batu gamping kerapkali tercampur dengan
lempung, pasir, bahkan jenis mineral lain.
Pada umumnya batu gamping yang padat dan keras mempunyai
berat jenis 2. Selain yang pejal (masif) dijumpai pula batu gamping
yang sarang (porus). Mengenai warna dapat dikatakan bervariasi dari
putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat, merah, bahkan hitam.
Semuanya disebabkan karena jumlah dan jenis pengotor yang ada.

Warna kemerahan disebabkan oleh mangaan, oksida besi sedang


kehitaman karena zat organik. Batu gamping yang mengalami
metamorfose berubah meniadi marmer.

Di beberapa daerah berbatu gamping yang tebal lapisannya


didapatkan gua atau sungai bawah tanah yang terjadinya berkaitan erat
dengan kerjanya airtanah. Air hujan yang mengandung COz dari udara
dan COz hasil pembusukan zat organik dipermukaan setelah meresap
ke dalam tanah dapat melarutkan batu gamping yang dilaluinya

40

41

sepanjang rekahan. Reaksi kimia yang berlangsung adalah:

Tapak Tuan, Kab. Aceh Selatan.


Sumatera Utara: Penen antara Kota Tinggi dan Ujung Menah Lapas,
Bohorok antara'Ianjung Naman dan Selang Pungkur, Prapat sekitar
Danau Toba; Tarutung; Balige.

CaCO: +2COz+ H2O-----+ Ca(HCO3)2 + CO2

Ca(HCO:)z larut dalam air sehingga lambat laun terjadilah


rongga dalam bentuk gua atau sungai bawah tanah.

Seperti dijelaskan dimuka, secara geologi batu gamping


mungkin berubah menjadi dolomitan (MgO 2,2Vo - lO,9Vo) ata:u
dolomit (MgO > l9,9vo) karena pengaruh pelindian (leaching) atau
peresapan unsur magnesium dari laut kedalam batu gamping tersebut.
Disamping
dolomit juga diendapkan secara tersendiri atau
bersamaan dengan batu gamping. Ada hubungan yang erat antara batu
gamping dan dolomit seperti yang dikemukakan oleh Pettijohn (1949).

itu

Tabel 4. Tatanama batu gamping sesuai dengan kadar magnesium (pettijohn, 1949)
Nama batuan
Batu gamping
Batu gamping bermagnesium
Batu gamping dolomitan

Dolomit berkalsium
Dolomit

Kadar dolomit i7o)

Kadar MgO (%)

0-5

0,1

r,r

5-10

t,t -

2,2

2,2

10,9

10-50
50-90
0

100

to,9
t9.7

t9,7

- 2t.8

Catatan: dolomit tidak larut dalam HCl.

Tempat Diketemukan
Penyebaran batu gamping di alam mudah dikenal pada foto
udara yang menunjukkan rona yang khas berwarna terang. Dalam
beberapa hal kenampakan karst dapat dikenali pada foto udara, pada
peta topografi ataupun dilapangan khususnya pada batu gamping
nonklastik.

Tempat diketemukan dengan berbagai kualitas dan jumlah


cadangan:

Aceh: meliputi Lam Teungoh, Kec. Pakan Badaeve, Kab. Aceh;


Krueng Raya, Kab. Aceh Besar; Ujung Pidie, Kab. Pidie; Bahr pahat,

Lhokseumawe, Kab. Aceh Utara; Pantai Barat Aceh, Kec.


Lhokseumawe, Kab: Aceh Besar; Kec. lndrapuri, Kab. Aceh Besar;

Sumatera Barat: Padang Tarab, Kab. Agam; Silungkang, Kec.


Sawahlunto, Kab. Sijunjung, Bancah Lawas dekat Padang Panjang;
Kolok sebelah barat Sawahlunto Kab. Sijunjung: Karang Putih

.
o

selatan lndarung; Singkarak Kab. Tanah Datar.

Riau:Kec. Kampar Kiri Kab. Kampar


Sumatera Selatan: Kec. Baturaja, Kab. Kc-rmering Ulu; Ds. Muara
Dua; Ds. Pedangan; Lahat.

Jambi: Siulak Deras Mudik, Kab. Kennci; Kotabaru, Kec. Danaur


Krinci; Muara Ponco Kec. Sungai Mahan; Sungai Fenuh.
Bengkulu: Air Bandung Kiri dan Kanan, Kec. Lebong Utara; Air
Saleh, Air Nyuruk, Air Panjang, Kec. Lebong Utara, Kab. I{ejang
Lebong; Muara Air Kasam, Kab. Rejang Lebong; I{ulu Air Palik,
Kec. Kerkop Lubuk Durian Kab. Bengkulu Utara.
Lampung: Pematang Emas antara I'ar4ung Karang - Ranrai; Wai
Metro, Kec. Lima, Lampung Utara.
Jawa Barat: P. Tunda, Kab. Serang, Pulau Panjang di teluk Banten;
Muncang Kab. Rangkasbitung; Buluheum, Kec. Cipanas, Kab.
Lebak; Jagabaya, Kec. Parungpan3ang; Jampang Tengah Kab.
Sukabumi; Pangkalan Karawang; Tagogapu; Bongas, Palimanan
Cirebon, Taraju, Tasikmalaya; Kec. Sukareja, Tasilcnalaya; Kec.

Cibalong Tasilcnalaya; Kec. Cijulang, Kec. Pangandaran, Kec.


Kalipucang.

Jawa Tengah: Kab. Cilacap, Nusakambangan, Karangpucung,


Karang-trawang, Darmakradenan; Karangbolong; Kebumen; Sukolilo; Pati; Pamolan; Rembang; Pegunungan Selatan Wonogiri.
Daerah Istimewa Yogyakarta: Nanggulan, Wonosari, Pegunungan
Selatan.

Jawa Timur: Kec. Merakurak, Kab. Tuban; Kec. Kebomas, Gresik;


lndro, Gresik, Kec. Babat, Kab. Lamongan; Baureno, Kab.
Bojonegoro, Socah Timur, Kab. Bangkalan, Madura, Kec. Labang,

42

43

Kab. Bangkalan Madura.


Kalimantan Barat: Kotawaringin, S. Pinoh, S. Melawi; Dayak kecil,
Kasinhr dan Purukcau serta Jukin, Kp. Wonorejo, Kp. Pendreh, S.
Tiung, Gn. angah, Kec. Tewe Tengah, Kec. Gunung Timung; S.
Menawing, Bukitsari, Kec. Murung, Kab. Barito Utara.
Kalimantan Timur: Kp. Ujoh Halang, Kec. Long Iram, Kab. Kutai;
batu Butok, Kab. Pasir; Desa Bebulu Darat (Rintik) Kab. Pasir; Ds.
Lambangka, Kab. Pasir; Gn. Batu, Ds. Sesulu, Kab. Pasir; Teluk
Sulaiman Kab. Berau.

Kalimantan Selatan: Pleihari, Manunggul, S. Satui daerah Peg.


Meratus; S. Jantung Timur Banjarmasin; Pandangbatung, Kandanggunung; Cantung Kab. Kotabaru.

Bali: Prapat Agung, Kab. Buleleng; Sekiti; Nusa Penida,

Kab.

Klungkung; Bukit Unggaran Kab. Badung.


Nusa Tenggara Barat: Mangkung Kec. Praya Barat, Kab. Lombok
Tengah; Pengembor, Kec. Sengkol, Kab. Lombok Tengah; Kete Kec.
Praya Barat Kab. Lombok Tengah; Rumbitan, Turuai, Kec. Pujut,
Kab. Lombok Tengah; Tente, Wera Barat, Sape, Kab. Bima; Mojo
Karangjati-Taliwang, Cereweh, Plampang, Kab. Sumbawa.

Nusa Tenggara: Labuhan Bajo, Kec. Komodo, Kab Manggarai;


Lewoleba, Kec.

Ili Nape, Kec. Omesuri, Kec. Banyusari, Kab. Flores

Timur; Butik Hitokolok, Bukit Pedang, Bukit Talibu, Kab. Sikka;


Atambua, Atapupu, Kab. Belu; Taelias, Eban, Moil Toho, Kab.
Timor Tengah Utara; Ds. Alak, Kec. Kupang Barat, Kab. Kupang.
Sulawesi Utara: Tinombo, Sumalata, Bolaang Mongondao, Wori, P.
Bunaken, P. Siladen, Kec. Belang, Kec. Bolalang, Kec. Lolak, Kec.
Dumoga dan Kec. Maelang.
Sulawesi Tengah: Tonassa, Kab. Pangkep; Bantimurung Kab. Maros;
Bojong Kab. joneponto; Watan Soppeng Kab. Soppeng; Malusetasi,

Kab. Bamr;Takalar, Kab. Takalar.

Sulawesi Tenggara: Tanjung Ponopono, Gn. Puuwatu, Laimena


Anggoro; Pegunungan Marombea (Kab.Kendari); Wawo, Kab.
Kolaka;P. Muna, P. Buton, Kep. Wakatohi, Kep. Timoro.
Maluku: Daruba; Morotai, Wasite, Fayaul, Halmahera Tengah, P.

Mandioli; Masohi di reluk Elpa, p. Seram; Tahuha; p. Saparua, P.


Obi, W. Bujanana;P. Manggali Barat.
Irian Jaya: Bukit Mlabator; Mlasadin, Remu, S. Warsansan,
Klamono, Skandi, Kab. sorong, Abe pantai, Gn. Mer, Gn. Tanah
Hitam dan Gn. Syakisro, Kab. Jayapura; Biak P. Misool;
Teminabuan.

Teknik Penambangan
Pada umumnya deposit batu gamping clitemukan dalam bentuk
bukit. oleh sebab itu teknik penambangan dilakukan dengan tambang
terbuka dalam bentuk kuari tipe sisi bukit (side hill type). tJntuk
penambangan skala besar pembongkaran dibantu dengan sistem
peledakan beruntun dibantu peralatan berat antara lain escavator dan
ripper (penggaru), sedang untuk penambangan skala kecil dilakukan
dengan alat sederhana antara lain cangkul, ganco dan sekop. Apabila
batu gampingnya tidak keras, pemberaian dibantu dengan membuat
sederetan "lubang" tembak yang diisi dengan lempung. Sesudah
lempung diisikan pada masing-masing lubang lalu dituangkan
padanya air. Akibatnya lempung mengembang yang akhirnya dengan
bantuan "linggis" batu gamping mudah dibongkar.
Apabila skala penambangannya kecil, sistem yang diterapkan
dalam kegiatan penambangan adalah sistem gophering, mengikuti
bagian/jalur batu gamping yang relatif mudah dibongkar. Disamping
hal tersebut teknik penambangan juga mempertimbangkan ukuran/bentuk pembongkaran yang diinginkan. Mempertimbangkan keselamatan kerja sistem gophering tidak dianjurkan.
P e ng olaha n da

P e manfaatan

Cara pengolahan hasil penambangan sangat ditentukan oleh


rencana pemanfaatan/penggunaan batu gamping antara Iain untuk:
Fondasi rumatr/pengeras jalan/bangunan fisik lainnya.

Apabila disekitar daeratr/ditempat tersebut tidak didapatkan jenis

44

45

I(

batuan beku,/batuan lain yang lebih keras, maka batu gamping dapat

climanfaatkan untuk keperluan tersebut. Untuk itu dipilih batu


gamping yang pejal dan tidak berlubang. Bentuk dan ukuran tidak
ada standart, tetapi seyogyanya mudah diangkat oleh tenaga manusia.

Bagaimanapun kerasnya batu gamping akan mudah lapuk dan larut


oleh air hujan. Oleh sebab itu batu gamping untuk fondasi rumah
disarankan untuk rumah yang tidak menahan beban berat. Disamping
itu fragmen batu gamping tidak disarankan untuk campuran adonan
semen cor, karena disamping batu gamping mempunyai kekerasan
rendah juga mudah larut dengan air yang bersifat asam.
Untuk pengeras jalan tidak disarankan untuk jalan yang menahan
beban berat. Apabila terpaksa dipergunakan untuk dinding saluran
atau bendung, dituntut pengerjaan yang sempuma, karena batu
gamping mudah larut dalam air yang mengalir. Batu gamping yang

dibuat berukuran krakal tidak disarankan untuk pengeras alas


bantalan rel kereta api. Apabila hal ini terpaksa dilakukan karena
tidak ada pilihan lain, maka pengontrolan harus lebih sering
dilakukan.
Penetral keasaman tanah

di

daerah gambut, tidak sesuai


tidak dapat tumbuh dengan
tanaman
pertanian
karena
untuk budidaya
baik. Dalam usaha untuk menetralkan keasaman tanah, salah satu
caranya dengan menambah kapur/batu gamping. K4rena batu
gu*pirg mudah larut dalam air dalam usaha penetrblan tanah
disarankan dipergunakan flagmen batu gamping yang berukuran

Tanah yang terlalu asam misalnya

kerikil-kerakal, bukan berukuran pasir. Hal ini dilakukan dengan


maksud fragmen batu gamping tersebut dapat tahan lama sebagai
bagian dari tanah dan tidak mudah larut dalam air. Batu gamping
yang dimanfaatkan langsung dari hasil penanrbangan dan belum
dimatikan/dibakar.
Kapur tohor dan kapur padam

Kapur tohor (quick lirne) dlhasilkan dari batu gamping yang

dikalsinasikan, yaitu dipanaskan dalam dapur pada suhu 600" C 900" C. Kapur tohor ini apabila disiram dengan air secukupnya akan

I
ir

menghasilkan kapur padam (hydrated/slukecl quicklime) dengan


mengeluarkan panas. Pengkalsinasian batu gamping/dolomit tersebut
umurnnya dilakukan dalam dapur tegak untuk produksr kecil-kecilan
dan dalam dapur putar (ftiln) untuk produksi besar-besaran. Sesuai
dengan bahan bakunya maka kapur yang dihasilkan adalah
e Batu

gamping:

9oo"c

CaCO3

Batu gamping

Dolomit :CaCO3MgCO,
Dolomit

> cao+cor
Kapur tohor kalsium

-j4l{T-

CaOMgO + CO2
Kapur tohor dolomitan

Reaksi bolak balik ini telladi pada tekanan 1 atm. Apabila tekanan
lebih besar dari I atm maka gas CO2 yang terbentuk akan bereaksi
dengan CaO dan membentuk kembali CaCOr (hard burnedloverburneQ. Untuk menghindari ini suhu harus dinaikkan hingga 1000'

C-

1200"

dan kapur tohor yang berbentuk harus

segera

didinginkan. Kapur tohor tidak dapat disimpan terlalu lama karena


dengan air dan udara (kelembaban) akan menimbulkan panas. Reaksi
kimianya sebagai berikut:
CaO +

H20;------+ Ca(OH)2 + panas

tohor
Kalsium
Kapur

CaOMgO + H2O

tohor
dolomitan

Kapur padam
Kalsium

;----)

Kapur

Ca(OH)2 Mg(OH)z + panas


Kapur padam
dolomitan

Demikian pula CO2 dari udara menyebabkan kapur tohor tidak mumi
lagi karena terbentuk kembali Kalsium Karbonat.
Reaksinya sebagai berikut:

CaO+CO. =CaCO.r
Dari uraian tersebut di atas disimpulkan bahwa mutu kapur tohor/padam tergantung pada :
mutu bahan asal/batu gampingnya

.
.

cara memproduksinya.

46

41

Untuk menghasilkan kapur tohor yang memenuhi persyaratan tertentu diperlukan batu gamping tertentu pula. Unnrk bahan bangunan
seyogyanya mengandung MgO cukup rendah dan ini dihasilkan
apabila banr gampingnya berkadar MgCO3 rendah. Apabila kadar
MgCO3 cukup tinggi seperti pada batu gamping dolomit maka
kemungkinan terjadi penurunan mutu kapur tohor yang diperoleh jika
bahan tersebut dipakai sebagai bahan bangunan. Adapun keterangan
proses sebagai berikut:

o
o
o

bereaksi dengan CO2 (dari udara) menjadi CaCOr sebelum


ter pasang dan CaCOr tidak aktif lagi sedang MgO yang tidak
aktifhanya berfungsi sebagai bahan pengisi (ballast).
Di Indonesia sampai sekarang belum ada standart tentang kapur tohor
dan kapur padam. Di bawah ini susunan kimia kapur tohor yemg
diperdagangkan di Amerika Serikat sebagai berikut:
Tabel 5. Susunan kimia kapur tohor yang diperdagangkan

MgO yang terbentuk pada temperatur tinggi lebih sulit diseduh


dengan air dibanding dengan yang terbentuk pada suhu rendah.
Makin tinggi suhu yang dipakai makin tidak aktif zat tersebut.

Pembentukannya

tidak dapat dihindari karena pada

Komposisi
(

reaksi

CaO

penguraian CaCOr dibutuhkan suhu yarg lebih tinggi daripada


untuk menguraikan MgCO:.

Suhu

Mgo
si02

jadi lebih tinggi lagi apabila yang digunakan

Kehadiran

MgO bersama CaO dalam bahan bangunan akan

o CO yang terjadi pada pembakaran normal lebih mudah


diseduh daripada MgO, akibatnya Ca(OH)z akan lebih cepat

terbentuk daripada Mg(OH)2 sehingga dalam campuran


tersebut terdapat MgO dan Ca(OH)z atau MgO dengan sedikit

Mg(OH)z dan banyak Ca(OH)z


Pada pengerasan (setting) Ca(OH)z akan lebih dulu mengeras
[Ca(OH)z + COz = CaCO:r + H2O], sedangkan MgO belum

atau baru akan mengalami penyeduhan, MgO

o
.

+ H2O =

Mg(OH)2 yang disertai penambahan isi.


Akibatnya dinding yang terbuat dari bahan tersebut akan retakretak atau ada bagian yang meloncat.

Apabila penyeduhan dilakukan diudara dan bahan bangunan


itu digunakan setelah CaO dan MgO terseduh semua menjadi
Ca(OH)z dan Mg(OH)2 maka ada kemungkinan Ca(OH)2

93,28
0,30
0,20

- 98,00
- 2,50

l0

55,60
37,60

1,50

1,50

0, l0 -

0,40
0,50

H:O

Cor

0,40

1,50

0,40

0,

- 57,50
- 40,80

0,100,05
0,05

meskipun lambat.
menyebabkan kejadian sebagai berikut:

Amerika Serikat

Kapur tohor dolomitan


(doLomitic quickline)

0,r0 - 0,s0
0, l0 - 0,90

Al2ol

pada suhu agak tinggi dapat pula terseduh menjadi Mg(OH)r

Kapur tohor kalsium


calcium q uickline)

hi g h

0,50

Fe2Oj

ialah
bongkahan batu gamping yang lebih besar, MgO yang terbentuk

di

(menurut A.I.M.E dalam lndustrial Minerals and Rocks/Lime th. 1970)

0,90
1,50

Mutu kapur tohor sebagai hasil kalsinasi dibedakan:

terbakar lunak (sofi burnecl) dengan sifat:

.
.

kapurnya sarang,
tidak begitu mengkerut
o terbakar terlalu masak (hard burned, overburned)
o kurang sarang dan kompak
. cukup mengkerut
Bahan untuk kalsinasi (pembuatan kapur tohor) yang paling baik

adalah kayu karena tipis kemungkinan bahwa kapur tohor yang


dihasilkan terlalu masak. Kayu terbakar dengan temperatur yang
relatif rendah tetapi dengan nyala yang panjang sehingga bongkah
batu gamping yang dipanaskan terselimuti seluruhnya nyala tersebut
sehingga menimbulkan kondisi yang sangat baik untuk penyaluran
panasnya.

Dalam usaha difersifikasi bahan bakar Balai Penelitian Tambang dan


Pengolahan Bahan Galian (1976) telah melakukan penelitian

!
48

pembakaran kapur dengan bahan bakar batubara dengan melakukan


modifikasi pada tungku rakyat.
Di samping unsur pengotor sebagai akibat bawaan batu gamping
seperli telah diuraikan di atas, akibat pengkalsinasian, kapur tohor
dapat mengandung beberapa unsur pengotor lainnya antara lain inti
(core) CaCOt yan1 tidak terbakar dan bahan-bahan yang teg'adi
akibat persenyawaan CaO dengan alumina, silika dan sebagainya.
Seluruh kadar bahan pengotor tersebut dalam kapur tohor berkisar
antara 4-10%.
Di Amerika Senkat kapur kalsium (high calcium quicklime)
umumnya dipergunakan dalam bidang industri dengan standa( CaO
> 90o . Untuk industri tertentu bahan pengotor seperti fosfor (P)
dalam industri karbid, belerang (S) dalam pembuatan baja, warangan

(arsenat) dan Jloor (F) dalam pembuatan serbuk masak (buking


powder) serta Fe2O3 (Oksida besi) ihlam pembuatan gelas
merupakan unsur yang tidak diingini.
Bahan bangunan

Bahan bangunan yang dimaksud adalah kapur yang dipergunakan


untuk plester, adukan pasangan bata (mortel), pembuatan semen tras
ataupun semen merah" Di Indonesia kapur yang dipergunakan
umunmya adalah kapur kalsium, karena batu gamping di lndonesia
pada umumnya berkadar Magnesium rendah. Di Amerika Serikat
kapur kalsium un'rulnrlya dipergunakan dalam industn sedang kapur
dolomitan dipergunakan dalam bidang bangunan.

Syarat yang diperlukan sebagai standart adalah (CaO + Ivigo)


minimum 95%; (SiO: + Al:O: + Fe2O3) maksimum 5o/,; COz
maksimum 3oh dan 70% lolos ayakan 0.85 mm. Kapur padam
apabila dicampur dengan tras akan membentuk semacam semen dan
apabila dicampur dengan serbuk bata akan membentuk semen merah.
Terjadinya sifat semen dalam campuran dengan kapur dan air oleh
kedua bahan tersebut karena kandungan oksida alumina dan silika
yang bersifat asam dalam kedua bahan tersebut membentuk persenyawaan sebagai berikut:

Ca(OH): + SiO2 + (n-1) H2O----+ CaO.SiOz nH2O (semen)

49
Ca(OH)z +AlzO: + 5HzO----+ CaOAlzO:6H2O (semen)

Daya tahan semen tras bertambah bila padanya ditambahkan semen


Portland sebanyak 10-15% atau kadar kapumya dinaikkan 40-60%.
Semen tras sangat baik dipergunakan ditempat yang lembab/berair
dan merupakan bahan murah dalam pembuatan batako.
Bahan penstabilan jalan raya
Pemakaian kapur padam dalam bidang pemantapan fondasi jalan raya

termasuk rawa yang dilaluinya. Kapur ini berfungsi untuk mengurangi plastisitas, mengurangi penyusutan dan pemuaian fondasi jalan
tersebut. Reaksi yang berlangsung diduga sama dengan pembentukan
semen tras. Pemakaian kapur padam sebesar 1-6o% sesuai dengan
keadaan tanah dan konstruksi jalan yang akan dibuat.
Bahan baku pernbuatan semen portland
Dalam pembuatan semen batu gamping merupakan bahan baku
utama. Untuk memproduksi satu ton semen diperlukan paling sedikit
satu ton batu gamping disamping lempung, pasir kuarsa dan gipsum
serta pasir besi. Pembuatan semen dapat dilak'ukan dengan dua cara

yaitu proses basah dan kering. Sebagai pedoman umlrm pabrik


juta ton per tahun biasanya
dipakai proses kering karena lebih ekonomis sedang proses basah
menguntungkan untuk pabrik dengan produksi dibawah I juta ton per
dengan produksi semen lebih besar dari

tahun.

Bahr gamping sebagai bahan baku semen diperlukan kurang lebih 75


- 80% dari bahan baku seluruhnya. Beberapa persyaratan batu gamping yang harus dipenuhi antara lain kadar CaO 50-55o/o; MgO maksimum 2% (di negara tertentu sampai 5%); kekentalan (viscositas)
luluhan 3200 centipoise (40% H2O); kadar FezOt 2,47o/o dan AlzO:
O,95yo. Seperli diketahui semen portland merupakan hasil yang didapat dengan jalan memadukan CaO, Al:Or, Fe2O3 dan SiO: menjadi
satu campuran.

Dari analisis kimia semen portland, proses reaksi antara oksidaoksida adalah sebagai berikut:

CzS : jika temperatur tinggi

maka akan terjadi reaksi antara SiOz

dan CaO membentuk CzS (dikalsium sulfur)

51

)()

r ,'r
(',,'r

C+AF

.rJ,.l rl.rl),rl r;i\'lr'lrl);rlt scttttta ('3S ritcrrjacii C.S maka CaO


1;rr,.,, ,:tl;r lr:rl iis ltrlebrltan dari ),anB diltu{uirkur
t,clcbiharr Al2C)j sclltua bcrcaksi dengan CaO membentuk
CrA (trikalsium aluminat = 3 CaO AlrO:).
: C4 AF (tetrakalsium alumina i'erit = CaO AI2O3
Fe2O3) rnerupakan hasil reaksi dari FezOr + CaO + AlzOr
ntemhetrtuk Ca AF.

Jika temperatur makin tinggi, maka terjadi reaksi antara SiO: dan
CaO membentuk C2S, dan dapat mengubah CzS meniadi C:S.
Unruk membuat semen dengan kadar CzS tinggi dilakukan pembakaran dua kali, pertama pembakaran bahan mentah dan kedua
clinker. Masing-masing mempunyai peran:
. C:S; pemberi kekuatan paling banyak sepanjang masa terutama
kekuatan awal sampai umur 28 hari
. CzS; pemberi kekuatan pada masa terakhir yaknijangka I tahun
dan selanjutnya, komposisi ini sifat khusus yang disyaratkan tidak

ada.

C-rA; menurunkan suhu pembakaran hingga dapat menggunakan


panas yang lebih sedikit dan memberikan kekuatan awal dengan
waktu I -3 hari
o C+AF; menurunkan suhu pembakaran dan memberikan kekuatan
semen dalam jumlah sedikit sekali atau hampir tidak ada.
Semerr po(land menurut ASTM dapat dibagi menjadi;
o Semen portland tipel (regular ponland cement)
Merupakan semen portland biasa yang tidak memerlukan
pcrsyaratan khusus dalam pengerjaannya, proses mengeras dan
pengembangan kckuatan lainbat, dipergunakan untuk konstruksi

beton umum.

Semen p-ortland tipe

II

(moderate heat

of hardening portland

cemcnt)

Merupakan semen portland yang penggunaannya memerlukan


ketahanan torhadap sulfat, dimana syarat-syarat konstruksi tidak
bcginr berat, panas hidrasi sedang yang bersifat mengeras dan
pengembangan kekuatemnya lebih cepat

III (high earb strength portland cement)


Merupakan semen portland yang penggunaannya memerlukan
kekuatan awal yang tinggi pada permukaan setelah terjadi
penyekatan, mengandung trikalsium silikat (CrS) lebih tinggi
dibanding tipe I sehingga mengeluarkan panas hidrasi tinggi dan
Semen portland tipe

cepat mengeras.

IV (low heat ponland cement)


Merupakan semen portland yang pengguniumnya memerlukan
panas hidrasi rendah mengandung tetrakalsium silikat (Ca AF = 4
CaO AhO:) dan dikalsium silikat (CzS = 2CaO SiO) tinggi
o Semen portland tipe V (sulfate resisting portland cement)
Merupakan portland semen yang penggunaannya memerlukan
tahanan yang tinggi terhadap sulfat, mengandung tetrakalsium
alumino fenite (C4 AF) tinggi, trikalsium sulfat (C3A) rendah
dibanding tipe I sehingg tahan terhadap zat kimia.
Pada umumnya semen di Indonesia mempunyai ketentuan kadar
CaO 250Vo. Menurut Standart Industri Indonesia kadar CaCO: t
Semen portland tipe

857o;MgO <5Vo dan CaO250Vo

Unruk menghasilkan

ton semen beberapa pabrik semen di Indo-

nesia memerlukan bahan baku sebagai berikut:


PT. Semen Padang

PT. Semen Gresik

Batu gamping
Lcmpung
Batuan silika (rijang)
Batu gamping
Lempung
Pasir silika

PT. Semen Tonasa

Batu gamping
Lempung
Pasir silika

1,25 ton
0,23 ton

0,17 ton

1,332ton
0,268 ton
0.067 ton
7,22 ton

0,25 ton
0.09 ton

Sebagai bahan tambahan adatah gypsum yang berfungsi untuk


memperlambat proses pengerasan semen apabila telah dicampur
dengan air.
Pembuatan karbid
Bahan utama untuk pembuatan karbid ialah kapur tohor (+ 60Vo) dan

').)

53

,1t

,1o",,) l)rsilnrl)ulll rlrr clipcrlukar-r bahan lain seperti antrasit,


1r.tr.lt'rrrrr t.kr' (clrrlrorr black). Kapur tohor untuk pembuatan karbid
nrt'rrrrrul AS lM (l 258 - 52 adalah: Total CaO minimum 92%;MgO
rrrirksirlum l,l5o/o; SiO2 maksimum2oh1. Fe2O3 tidak lebih dari 0,5%;
S maksimum 0,2oh; P maksimum 0$2%; hilang dalam pemijaran
pada contoh yang diambil di tungku 4,0oh. Karbid merupakan bahan
1..,,1..1

kabel, obat-obatan dan industri kimia lainnya.


Soda abu

Batu gamping dipakai untuk membuat soda abu dengan proses


amonia soda. Untuk memprodusir 1 ton soda diperlukan l-1,25 ton
batu gamping. Di Amerika batu gamping yang dipakai untuk
keperluan ini, disyaratkan mengandung CaCOs 90-99o/o; MgCO3:
0,6oh;Fe2(\ + AlzO: + SiOz: O,3oA.

utama untuk pengelasan logam.


Tambahan dalam proses peleburan dan pemumian baja
Batu gamping/dolomit dipakai sebagai imbuh pada tanur tinggi dalam peleburan dan pemumian besi dan logam lainnya. Besi mengandung silika dan alumina sebagar unsur tambahan dalam proses peleburan unsur tersebut bersenyawa dengan bahan pengimbuh berupa
kerak cairanlslag yang mengapung di atas lelehan besi sehingga
mudah dipisahkan.

Di samping itu batu gamprng ini diperlukan untuk mengikat gas-gas


seperti SO2, H2S dan HF'. Pcnyebaran panas pada tanur metalurgi
harus baik. Untuk itu drsyaratkan batu gamping mempunyai kadar
CaO yang tinggi. Batu gamping/dolomit yang lunak akan hancur
sebelum tercapai titik cair logamnya. Persyaratan utama batu
gamping untuk keperluan ini; CaO minimum 52o/o; SO2 (maksimum)
4'/o; Al2O3 + Fe2O3 maksimum 3'/r; MgO maksimum 3,5oh; Fe2O5
maksimum 0,650/o; sedang untuk dolomit MgO ll-l9o/o; SiO2
maksimum 6ah; Al2O3 + Fe:O: + MgO maksimum 57o.
Bahan pemutih (Serbuk CaC-O:)

Merupakan batu gamping hablur murni yang ditumbuk halus/digerus


menjadi tepung halus. Bahan bakunya merupakan batu gamping non
klastik yang, berwarna putih atau CaC03 buatan berupa hasil sampingan pembuatan basic magnesium karbonat dari dolomit. Syarat
utama dari bahan pemutih adalah CaCO3 yang hampir mumi (CaCO3,
98%), kehalusan * 325 mesh, plastisitas, daya serap terhadap minyak,
wama putih bersih dan PH > 7,8. Bahan pemutih ini dipakai dalam
industri kertas untuk pemutih pulp, pengisi, pelapis (coating) dan
pengkilap yang dipakai dalam industri cat, selebihnya selain unhrk
industri kertas dipakai pula dalam pembuatan ban (industri karet)
kertas sigaret, tinta putih, pasta gigi, mercon/bahan peledak, isolasi

Bahan penggosok

a
a

Pada umumnya dipakai dolomit (43% MgO3). Dolomit dikalsinasikan menjadi MgO dan CaO yang tidak mengandung air,yanglazim
di sebut Vienna lime merupakan bahan penggosok pada beberapa
macam logam dan mutiara. Penggunaan terutama dipakai sebagai
bahan penggosok dan pembersih barang/logam yang akan dipemikel
supaya unsur nikel dapat lebih meresap.
Pembuatan logam magnesium dan air laut
Pembuatan alumina; untuk melakukan desilifikasi pada penyinteraannya.
Floatasr

Untuk pemumian emas, air raksa, seng, nikel dan timbal, pembersih

bijih uranium.
Pembuatan senyawa alkali

Dalam industn alkali jenis batu gampingyang dolomitan merupakan


bahan utama. Syarat utama mengandung MgO:60/o
Sebagai pembasmi hama
Sebagai warangan timbal (PbAsO:) dan warangan kalsium (CaAsO:)
atau sebagai serbuk belerang untuk disemprotkan.
Bahan pupuk clan insektisida dalam pertanian

Dalam pertanian batu gamping umumnya dipakai dalam bentuk


serbuk apabila ditaburkan untuk menetralkan tanah asam yang relatif
tidak banyak air, sebagai pupuk untuk menambah unsur kalsium dan
magnesium yang berkurang akibat panenan, erosi serta untuk
menggemburkan tanah. Kapur padam dipergunakan sebagai desinfektan pada kandang unggas, dalam pembuatan kompos dan
sebagainya.

55

54
Bahan keramik

Dalam industri keramik, batu gamping dip*ai sebagai imbuh untuk


menurunkan suhu leleh benda-benda keramik. Tujuannya untuk
mempengaruhi pemuaian panas masa sesudah dibakar, sehingga
sesuai dengan pemuaian glasir. Dengan demikian glasir tidak retak
atau lepas. Pemakaian banr gamping untuk benda keramik + l}Vc.
Batu gamping ini juga dapat diganti dengan kuarsa.
Glasir
Batu gamping dipakai dalam jumlah sedikit dalam pembuatan glasir.
Susunan glasir terdiri dari frit 9l,47at kaolin 8,67o. Fnt dibuat dari
campuran meni timbal 44,3Vo, asam borat l2,l7o; kaolin 9,3Vc ktarsa
26,0Vo dan kapur 8,37o. Baiu gamprng yang dipergunakan disyaratkan: CaCOr minimum 977o, FezO", maksimum 0,3olo SiOz 2,007c
dan SOr 0,17o.
Industri kaca
Dalam pembuatan kaca diperlukan + 507o pasir silika dan bahan lain
seperti soda (NaCO3), kapur dan lain-lain. Kapur dapat berasal dari

batu gamping atau dolomit. Persyaratan batu gamping menurut


standar Perancis mempunyai kadar SiO2 0,96Va, Fe2O3, O,04Vo, AlzOt
0,147o, MgO 0,l5%o, CaO 55,87o. Untuk dolomit dengan standar

Perancis adalah SiO2 0,l5Vo, FetOt 0,037o, AlzOt 0,05Vo, MgO


20,807a dan CaO 3l,8Vo.

Bata silika

Untuk pembuatan bata silika, kapur diperlukan dengan persyaratan


CaCO: minimum 9O7o; MgO maksimum 4,57o; FezO3 + Al2O3
maksimum l,5olo, SiO2 + yang tak larut maksimum 37o; COZ
maksimum 57o.
Bahan tahan api

Dikenal dengan nama "dead burned dolomite" umumnya dipakai


sebagai pelapisan (linind tanur peleburan baja. Bahan dibuat dari
dolomit dengan komposisi MgCOr 357a, SiOz maksimum 1,07o
Fe2Or maksimum l,SVo, AlzO3 maksimum 1,5 sisanya sebagai
CaCOr. Bahan ini dibakar sedemikian rupa sehingga hasil yang
diperoleh adalah tidak aktif lagi (secara kimia).

Penjemihan air

Dalam penjernihan pelunakan air untuk ind,lsrri, kapur dipergunakan


bersama-sama dengan soda abu dalarm proses yang dinamakan proses

kapur soda. Kapur menghilangkan bikarbonat sebagai penyebab


kekerasan sementara pada air. Air kotor yang banyak mengandung
bakteri akan bersih selama 24-48 jam apabila dibubuhi kapur yang
cukup banyak, dernikian pula air yang keruh akan menjadi jemih.
Air yang mengandung CO2 dinetralkan oleh kapur untuk meng_
hindari dari karat pada pipa yang menyalurkan kekonsumerr. Kapur
dolomitan dipakai untuk rnenghilangkan silika dari eir paclrr ketelketeluap. Dengan mempergunakan kapur dalam penjernrhan air juga
diendapkan besi, mangaan, senyawa florida. Kapur juga dipergunakan untuk membersihkan sampah buangan pabrik.

2. Dolomit
Kebanyakan dolomit didapatkan bersama-sama dengan batu
gamping. Dolomit umumnya terjadi karena proses pclindihan
(leaching) atau peresapan unsur magnesium dari air laut kedaram batu
gamping. Proses ini disebut dengan proses dolomitisasi yaitu proses
penggantian Ca oleh unsur Mg. Berdasarkan atas jumlah minerallunsur dolomit (Mg CO3) maka dibedakan
CaCO: = l00Vo dikenal sebagai batu gamping

CaCO,+>107o Mg CO3 dikenal sebagai batu

gamping

dolomitan

CaCO.+> 45Vo MgCOr dikenal sebagai dolomit


Berkaitan dengan hal tersebut di atas karena surnber rrragnesium
berasal dari air laut sedang bahr gamping menjadi dolomit karena
proses pelindihan maka kcbanyakan secara stnrr.iqr',rl-is dolomit
didapatkan dibagian bawah dari satu scri batu gampirrg. Di samping
itu dolomit dapat diendapkan tersendiri sebagai evaporir. I)olonrir
sendiri masif, butiran halus hingga kastrr. hqru,arna lbn-ahu putih,
kebiruan, kunin. :lenrarr iristal berbentuk hexagouul. I)olornrt ticlak
larut dalam HCl, kadaug dijurrrpai bersama halir dln gipsunr.

57

56

Kekerasannya antara 3,5 - 4 dengan Berat Jenis 2,8 - 2'9'


Tempat Diketeruukat,

Telah dir:raikan di atas dolomit didapatkan berasosiasi dengan


batu gamping. Tempat diketemukan antara lain
o Daerah Istimewa Aceh: daerah Kungkr Aceh Tenggara
o Sumatera Utara: Pengoloan Tapanuli Selatan
o Sumatera Barat: Kp. Manggis, Lubuksikaping

o
o
.

Jawa'Iengah: Pamotan
Jawa Timur: Tamperan' Kab. Pacitan, Gtr' Ngaten, Gn' Ngimbang
Kab'
Tuban, Sekapuk, iab. Gresik' Sedayu, Kab' Tuban' Gn' Klakak
Lamongan
Gresik. Socah Bangkalan, G' Lengis Kab. Gresik, Pacitan
dan Tanah
Mer
Gn'
sejahiro'
Gn"
Timor Timur: Abe Pantai sekitar
Hitam.

Teknik Penambangan
SePeni Penambangan baltt gamPing

Pengolahan dan Pemanfoatan nYa

.
.

Bahanbangunan

gamprng
Penggrrnaannya tidak jauh berbeda dengan batu
Sebagai kapurtohor

Apabila
Proses kalsinasi dilakukan seperti pada batu gamping.

sesudah proses kalsinasi didapatkan kapur tohor dolomitan


(CaOMgO) maka bahan ini cukup baik untuk campuran adukan
(lihat uraian
purungun bata (mortel) tetapi tidak baik untuk plaster

pada batu gamPing)


Bahan tahan aPi (reliaktori)

Penggosok

pada batu
Pada tungku pemanas atau nrngku pencair (lihat uraian
gamping pada pembahasan bahan tahan api)'

o
o

Lihat uraian pada batu gamping pada pembahasan penggosok


Pertanian
Sebagai pupuk sumber unsur Mg dan pengatur PH tanah

Industri kimia
Sebagai bahan baku untuk membuat/mendapatkan logam magnesium.

3. Kalsit
Merupakan mineral kalsium karbonat yang murni. Jenis mineral
ini terjadi karena penghabluran kembali larutan batu gamping akibat
pengaruh air tanah/hujan. Endapan kalsit diketemukan berupa

pengisian rongga, tekanan dan kekar, sehingga jumlahnya tidak


banyak karena sifatnya setempat-setempat. Mempertimbangkan cara
terbentuknya dan sifat batu gamping klastik maupun batu gamping
non klastik, kemungkinan dijumpai endapan kalsit sangat besar
didaerah batu gamping non klastik. Kemungkinan akan menjadi
bertambah besar tentang keberadaan endapan kalsit apabila batu
gamping non klastik mengalami proses perlipatan/tektonik sehingga
terbentuk rekahan dimana endapan kalsit berada. Oleh sebab itu pada
umumnya didapatkannya kalsit berkelompok mungkin dapat luas
ataupun sempit penyebarannya.
Selain karena proses penghabluran kembali, kalsit juga dapat
terbentuk karena proses metamorfose kontak atau regional pada batu
gamping yang diterobos oleh batuan beku. Kalsit dapat pula terbentuk
akibat proses hidrothermal temperatur rendah dan berasosiasi dengan
senyawa sulfida. Mineral kalsit dengan rumus kimia CaCO:

dipergunakan sebagai skala kekerasan Mohs berderajad

3,

dengan

berat jenis 2,71, sistem kristal heksagonal, mempunyai warna bervariasi, yang murni tidak berwarna (colorless), putih, coklat, kuning atau
kehijauan. Warna tersebut akibat kontaminasi mineral lain misalnya
oksida besi (coklat-kemerahan), mangaan (coklat kehitaman).

58

59

Tempat Diketemukan

Kristal kalsit yang tidak berwarna dipergunakan untuk prisma

Kalsit pada umumnya dijumpai berasosiasi dengan batu


gamping khususnya pada batu gamping non-klastik. Kalsit yang
bernilai ekonomis didapatkan antara lain di:
o Daerah Istimewa Yogyakarta: Samigaluh Kab. Kulon Progo,
Semanu, Ponjong dan Tepus Kab. Gunung Kidul.
Jawa Timur: Klepu, Beji, Ledok Gelem, Poko Kec. Pringkuku;
Talem, Gn. Tumpuk, Kepil, Kab. Pacitan, Trenggalek, Tanen, Bukit
Gubik, Kalidawe, Denok, Panggung, Wuni, Tulungrejo, Kab.
Tulungagung; Bantur Selatan, Wonogoro, Gedongan, Sumbermanjing wetan, Sendangbiru, Tambakrejo, Bowotrate, Kab. Malang.

polarisasi pada mikroskop

a
a

Nusa Tenggara Barat: Desa Sari Kec. Sape, Kab. Bima.


Sulawesi Selatan: Bojong Kab. Jenoponto.

Teknik Penambangan

Seperti telah diuraikan di atas kalsit terdapat berkelompok


berasosiasi dengan batu gamping. Oleh sebab itu kalsit ditambang
dengan mempergunakan peralatan sederhana antara lain gancu,
linggis. Demikian sederhananya dan tidak memerlukan keahlian
khusus sehingga dapat dilaksanakan oleh masyarakat/pertambangan
rakyat. Kalsit dapat pula dikumpulkan dari hasil sampingan
penambangan batu gamping.

P e ng

olahan dan P emanfaatanny a

Kalsit yang dikumpulkan dari tempat penambangan dipisahpisahkan (sortasi) berdasarkan atas warnanya. Kemudian dibersihkan
dari kemungkinan masih terikutnya batu gamping. Proses selanjutnya
dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran yang menempel,
kemudian dikeringkan dan digerus sehingga menjadi serbuk yang
halus. Serbuk ini dimanfaatkan sesuai dengan kepentingan baik
melewati kalsinasi atau tidak dikalsinasi.
o Keperluan optik

Keperluan industri

Sebagai bahan pemutih dan pengisi ffiller), cat, gelas, plastik, karet
dan penetral asam, industri farmasi, pengecoran logam.

Keperluan industri kertas


Dengan bergesemya teknik pembuatan kerlas dari asam ke netral atau

"alkalin" maka kedudukan kaolin yang selama ini dipakai sebagai


bahan pelapis tergeser oleh kalsit. Dengan cara ini kerlas yang
dihasilkan mempunyai daya serap tinta yang lebih baik dan tidak

memantulkirn cahaya.
Pertanian

Serbuk kalsit dapat dipergunakan sebagai fertilizer/pupuk sebagai


penetral tanah asam.

4. Marmer
Disebut pula sebagai marble, batu pualam, hasil proses
metamorfose kontak atau regional dari jenis batu gamping. Oleh sebab
itu jenis dari marmer sangat tergantung dari jenis batuan asal. Warna
asli marmer adalah putih, tetapi terdapat warna pengotor yang justru

membuat marmer menjadi menarik. Mineral pengotor antara lain

grafit memberi warna hitam-coklat, pyrit, ilmenit memberi warna


coklat-kemerahan. Kadang-kadang didapatkan juga dalam jurnlah
sedikit mineral lain yaitu dolomit, kuarsa, mika, khlorit, plagioklas,
epidote, diopsid, piroksen, tremolit, wolastonite, visuvianite, forsterite, olivin, talk, brucit, serpentin dan periklas. Disamping itu tingkat
metamorfose dari tingkat rendah hingga tinggi berawal dari zeolite
facies hingga granulite facies dan ini tampak pada sayatan petrografi.
Berdasarkan atas kegunaannya marmer dibagi menjadi 2 jenis yaitu
marmer ordinario untuk bangunan dan marmer statuario untuk seni
pahat. Marmer apabila digergaji dan dipoles menunjukkan gambaran
yang bervariasi dan dikenal dengan istilah tekstur. Berdasarkan atas
teksturnya marmer diklasifikasi sebagai berikut:

t,

61

60
a
a

Statuary rnarble
Architectural marble

Ornamental marble

Onix marble
Cipdin marble

a
a
a

tekstur lembut, putih bersih


wruna, tekstur, mutu dan kekuatan bagus
warna indah dan bervariasi
: mangandung dolomit/arorganit, transparan
mengandung mika dan talk

Ruin marble
Breccia marble
Shell marble
Berdasarkan daya

tekstur halus dan seginya tak teratur


tekstur kasar dan persegi
terdapat fosil.
aus dan kekuatan tekan marmer dibedakan:

Kelas

Daya aus (mm/menit)

< 0.100
0.100 - 0.130
0.130 - 0.1 60
< 0.160

2
3

sudah berubah menjadi meta sedimen. Gradasi metamorfose yang


demikian tidak akan didapatkan pada marmer yang terjadi sebagai
akibat proses metamorfose regional. Tempat didapatkannya marmer
adalah:

r
o
o

biru)
Jawa Tengah : Daerah Banjamegara
Jiwo, G. Djokotua Bayat Klaten

Di daerah ini

500 - 2000
r200 - 1400
990 - I 100
r

a
a
a

300 - 800

Keindahan marmer sangat ditentukan oleh tekstur, arah


pemotongan terhadap pola tekstur, bentuk penggunaan dan teknik
polesan (polishing). Disamping itu retakan rambut sering terjadi pada
marmer yang sudah dipoles dan ini akan menurunkan kualitas
marmer. Untuk mengetahui adanya retakan rambut pada permukaan
marmer ditetesi dengan cairan berwarna. Apabila terdapat retakan
rambut, cairan berwarna akan merembes lewat pori-pori yang halus.
Marmer tidak tahan terhadap asam/air hujan. Oleh sebab itu
bahan yang terbuat dari marmer seyogyanya terhindar dari sinar
matahari atau air hujan agar polesan tahan lama.

Marmer terbentuk sebagai akibat metamorfose regional ataupun


metamorfose kontak. Pada metamorfose kontak tingkat metamorfosenya bertahap makin rendah apabila menjauhi instrusi batuan beku.
batu

gampingnya. Kenampakan demikian yang menunjukkan batu gamping

pernah berdiri: PT. Industri Marmer Indonesia.

Tulungagung
Sulawesi: Daerah sekitar Tonasa
Timor: Daerah sekitar Kupang
Irian Jaya

Teknik Penambangan
Tujuan utama penambangan marmer adalah memperoleh block
marmer sebesar-besarnya. cara penambangan dapat dilakukan dengan
alat sederhana atau dengan gergaji yang diawali dengan pembuatan
lubang. Metode penambangan dengan sistem kuari berjenjang akan
mencegah kerusakan.

Pe

o
o

Tempat Diketemukan

di G. Kebunrh, Bernal, Bukit

Jawa Timur: Daerah Panggul, Tulungagufg, Campurdarat

Kuat tekan (kg/cm2)

Oleh karenanya sering masih terlihat struktur asli dari

Sumatera: Daerah P. Nias dan Tapanuli


Jawa Barat: Daerah Palimanan di G. Kudo, G. Kromong (marmer

ngolahan dan Pemanfaatan


Bahan bangunan
Setelah block marmer diperoleh kemudian digergaji dengan bentuk
yang diinginkan dan dipoles dalam bentuk tegel, baik untuk dinding
ataupun lantai.

Industrirumah tangga
Sesuai dengan jenis marmer dapat dibentuk patung, hiasan ataupun
meja. Pecahan dari marrner dimanfaatkan untuk tegel campuran
semen.

62

63

6. Fosfat

5. Oniks
Endapan oniks mempunyai komposisi kimia CaCO-r terdiri dari

mineral kalsit yang berlapis dengan ketebalan dan pola yang


bervariasi. Umumnya berwarna putih kekuningan dan agak bening
sehingga tembus pandang. Oniks terjadi pada rongga atau tekanan
batu gamping yang berasal dari larutan kalsium karbonat baik yang
terjadi pada temperatur panas atau dingin. Bila oniks ini terkena
proses metamorfose maka akan terbentuk oniks marmer. Seperti
marmer, oniks tidak tahan terhadap larutan asam oleh sebab itu
disarankanjangan sampai terkena air hujan.
Tempat Diketemukan

o
o
.

Endapan oniks yang sudah diketahui keberadaannya antara lain


Jawa Barat : Ciniru, Kab. Kuningan
Jawa Tengah: Daerah Wirosari
Jawa

di

Endapan fosfat

Indonesia terdapat dibeberapa gua di

Indonesia dalam berbagai bentuk dari butiran, bongkahan sampai


bongkahan besar. Endapan fosfat guano dengan komposisi kalsium
fosfat terdapat sebagai endapan permukaan, endapan gua dan endapan
bawah permukaan. Secara garis besar proses pembentukan ketiga jenis
fosfat guano ini adalah sama yaitu merupakan hasil reaksi antara batu
gamping dengan kotoran burung dan kelelawar yang mengandung
asam fosfat karena pengaruh air hujan atau air tanah.
Endapan fosfat permukaan umumnya terdapat dilapisan teratas
batu gamping klastik, endapan fosfat bawah permukaan terdapat
dalam rongga pada tubuh batu gamping terumbu sedang endapan
fosfat gua terdapat di dasar gua batu gamping dan berasal dari kotoran

kelelawar dan burung. Batuan fosfat merupakan batuan yang


mengandung apatit. Dikenal 4 jenis apatit yang sering didapatkan
dalam fosfat yaitu:

Apatit

Kec. Sangkapura, Kab. Gresik; Petiken, Kab. Mojo-

Hydroxyapatit

:Ca5(POa)3$Ce)
:Cas(PO+)rOH

kerto

Oxyapatit

: Caro(PO+)r(COr)

Timur : Desa Jari, Kec. Bubulan, Kab. Bojonegoro;

P. Bawean

Carbonate apatit : Caro(PO+)o(CO.,XHzO)

Teknik Penambangan
Seperti penambangan marmer

Endapan fosfat di alam berwarna abu-abu, kebiruan, hitam,


jingga hingga putih kotor. Penggolongan fosfat didasarkan atas kadar
PzO-s. Fosfat yang terdapat di Jawa rata-rata berkadar PzOs 30-40Vo.

P e n g o lahan dan P e manfadt an ny a

Tempat Diketemukan

Oniks digergaji/digerenda sesuai dengan peruntukannya. Karena sifatnya yang tembus pandang dan berwarna putih kekuningan

Di Indonesia penyebaran batu gamping sangat luas, demikian


juga dijumpainya endapan fosfat berhubungan erat dengan keberadaan
batu gamping. Tempat-tempat diketemukan endapan fosfat antara lain:
o Daerah Istimewa Aceh: Gua Sigeum di Desa Monikeum, Kec.

oniks dimanfaafkan sebagai:


o Untuk hiasan/omamen
Dibentuk sebagai asbak, vas, lampu duduk/gantung atau bentukan
dekorasi lainnya.

Lhoknga Kab. Aceh Besar: Gua Truh Desa Monikeum Kec.


Lhoknga, Kab. Aceh Besar; Gua Tujuh Desa Kulee Kec. Batee, Kab.
Aceh Besar; Gua Gle Teumiga Kp. Krueng Tunong, Kec. Lamno
Jaya Kab. Aceh Barat.

64

65

Sumatera Utara: Gua Telpus, gua air dekat Kp. Namada daerah Lau
Buluh Kab. Tanah Karo.
Jawa Barat: Gn. Jambu Kec. Leuwiliang Kab. Bogor; Jampang

tengah Kab. Sukabumi; Nyalindung Kab. Sukabumi; Gn. Cibentik


Cileungsi Bogor, Cibunut, Cileungsi Bogor; Dewa Sawarna Kab.
Lebak; Desa Cihideung Kab. Lebak; Desa Bayah Kab. Lebak; Kp.
Paliamanan Cirebon; Desa Bojongmanik Kab. Lebak; Cigugur Kab.
Ciamis; Desa Babakan Kec. Parigi Ciamis; Desa Batukoras Cijulang,
Ciamis; Desa Cikalong Pangandaran; Padaherang Kab. Ciamis;
Tunggiling Kalipucang, Ciamis.
Jawa Tengah: Margasari Kab. Tegal; Pemalang Pekalongan; Jekenan
Semarang; Kendal; Keling; Sukolilo Kab. Pati; Branti Kayem
Grobogan Pati; Karangrayung Grobogan; Sawangan, Ajibarang;
Salaman Kab. Magelang; Ajibarang Kab. Banyumas; Wuryantoro

Kab. Wonogiri; Baturetno Kab. Wonogiri; Pracimantoro Kab.


Wonogiri; Jatilawang Kab. Kroya; Gua Banteng Gombong;
Karangbolong , Turian Kebumen Ponjong Gn. Kidul; Semanu Gn.
Kidul.
Jawa Timur: Semanding Tuban; Palong (timur Tuban) Kab. Tuban;
Blitar Selatan Kab. Blitar; Babat Ka. Lamongan Kab. Gresik; Gn.

Malang Panceng Gresik; Paciran Kab. Lamongan; Kemantren


Prupuk Kab. Gresik; Sedayu Kab. Gresik; Karawang, Bangkalan
Madura; Komundung, Pamekasan Madura, Sumenep Madura.

Kalimantan Timur: Bukit Kapur dekat Kp. Ujoh Kab. Kutai; Gua
Bukit Kapur di Kp. Sanggulan Kec. Sebulu Kab. Kutai; Gua G.
Perigi Kec. Long Ikis Kab. Pasir; Gua Batu Desa Sesulu Kab. Pasir.
Kalimantan Selatan: Telaga Langsat (sebelah timur Kandengan) Kab.
Hulu Sungai Selatan; Padang Batung; Gn. Batuhapu;Gn. Talikur.
Timor Timur: Kp. Daemena, Desa Abo Kec. Quelicau Kab. Baucau;
Kp. Laleia, Kec. Vemasse Kab. Manatuto.
Sulawesi Tenggara: Gua Laboranda, Lawela P. Buton; Gua Laompo,
Gua Masiri, Gua Lokulepa dan Gua Reno, P. Buton; Gua Bahari Ds.
Buton; Gua Lalole, Gua
Wapulaka, Kec. Sampolawa,
Kagundigundi, Gua Pagalompa, Kec. Bantauga, P. Siompu.

P.

kian Jaya; P. Ajawidi barat laut Salpiori, Ajam Aru dekat Kp.
Soroan.

Teknik Penambangan
Penambangan fosfat pada umumnya dilakukan dengan cara
ini terpaksa dilakukan karena cadangan endafan fosfat

sederhana. Hal

relatif sedikit. Untuk cadangan endapan fosfat yang cut<up besar,


penambangan dilakukan semi mekanis seperti C.v. tri
Dharma di
Jawa Barat; c.v. Fackindo di Jawa Timur dan c.v. Masyarakat
dan
PT. Tri Ubaya Paksi di Jawa Timur.
P e n g olahan dan P e manfaatan

Pengolahan fosfat cukup sederhana. Dari hasil penambangan


fosfat yang tercampur tanah dicuci, kemudian diplcah sampai
berdiameter 3 cm, dikeringkan dengan sinar matahari, selanjutnya
digiling dan diayak sampai berupa tepung berukuran g0 mesh.
Pemanfaatannya:
Pertanian

Dipergunakan sebagai pupuk baik pupuk buatan (TSp dan DSp)

maupun pupuk alam untuk tanah yang asam.


Industri
Dimanfaatkan dalam industri untuk pembuatan detergen, asam
fosfat
dan industri kimia lainnya.

7. Rijang
Rijang (sio2) terbentuk dari proses repracernent terhadap
batu
gamping oleh silika organik atau anorganik. Rijang
berbutir .ungu,

halus (crypto

crystalline) umumnya berwarna kemerah-merahan


(merah hati), kadang-kadang berwarna kehijauan
atau kehitaman, nilai
kekerasan 7.

I
67

66

Sri Giri Sejati Wonogiri

Tempat Diketemul<an

Kebanyakan rijang didapatkan di sungai sebagai endapan


aluvial. Dengan demikian baik bentuk, ukuran warnanya sangat
bervariasi. Tempat dijumpainya rijang antara lain:
o Daerah Istimewa Aceh: Sungai Tutut, Meulaboh, Aceh Barat;
Blangkejeren Aceh Tenggara;

Jawa Barat: Cigelang Kab. Sukabumi; Waluran Kab' Sukabumi,


Pelabuhan Ratu, Kab. Sukabumi;

Jawa Tengah: Tirtomojo, Kab' Wonogiri; Kismantoro

o
o
o
r
o

dan

Pracimantoro Kab. Wonogiri;


Jawa Timur: Sungai Cepoko, Sungai Winong, Sungai Kedung Semar
Kec. Ngrayun Kab. Ponorogo; Sungai Ngrendeng Kec' Tulakan,
Kab. Pacitan;Badegan Kab' Ponorogo, Arjosari Kab' Pacitan'
Kalimantan Barat: Sungai Kapuas;
Kalimantan Selatan: Kp. Simpang Empat; Martapura, Kab' Banjar;
Sulawesi Selatan: S. Tandiwoto, Lengkuna, Bakumponbini; Tondo;
NusaTenggaraTimur: Wowonato.

Teknik Penambangan
Rijang kebanyakan didapatkan sebagai endapan aluvial,

olahan dan

8. Gipsum
Gipsum dengan rumus CaSO+2HzO mempunyai kekerasan 2
dan dipakai sebagai salah satu standart kekerasan Mohs. Dilapangan

gips didapatkan dalam bentuk lembaran pipih, kristalin,

9:'g*

P emanfaatannY a

Rijang termasuk sebagai bahan batu setengah permata. oleh


sebab itu kebanyakan dibentuk sebagai hiasan (ornament). Pengolahan
di awali dengan rencana penggunaannya. Oleh sebab itu dengan
gerenda dan gergaji bongakahan ruang dibentuk sesuai dengan
feinginan, kemudian dipoles hingga mengkilap. Dengan berbagai
desain polesan rijang siap untuk dipasarkan. Membentuk batu
jiwa seni. Di
setengah permata untuk perhiasan dilakukan dengan
(UBIBAM)
Mulia
daerul Wonogiri terdapat Unit Bina Industri Batu

serabut

didaerah batu gamping, batu gamping dan fumarole. Konsep utama


terbentuknya gips adalah terdapatnya Ca*2 dan SOa-2, yang tersebut
terakhir dapat berasal dari belerang (S) atau pirit (FS2). Adanya
kondisi reduksi dari daerah sedimentasi yang bersifat karbonatan
(misal pada batulempung) akan menghasilkan gipsum yang berlembar
pipih. Adanya fumarol dari daerah batuan yang bersifat karbonatan
akan menghasilkan gips kristal. Demikian pula adanya pirit (FeSr.
Disamping itu gipsum berbentuk akibat hidrothermal yang berdekatan

dengan batuan karbonat akan menghasilkan gips kristal seperti


didapatkan di daerah Ponorogo. Secara teoritis gipsum mempunyai
komposisi CaO 37,6Vo, SOt 46Vo dan HzO 20,9Vo. Dipasaran dikenal:

demikian pinambangan dilalcukan dengan cara sederhana. Karena


jumlahnya sedikit kebanyakan pencarian dilakukan oleh rakyat'
P e ng

sebuah anak perusahaan binaan dari


Perusahaan Negara Pusri Palembang yang mendidik, melatih dan
membina para calon pengrajin batu mulia.

r
o
r

Gelas maria = selenit; lembaran gips dengan ukuran cukup besar dan
tembus pandang
Gips serat atau dikenal pula sebagai gips sutra
Alabaster;jenis gips yang berutir halus
Batu gips; berbutir halus sekali dan kompak

Gipsum sering didapatkan bersama dengan halit dan anhydrit


(Gips: CaSO+ 2HzO; Anhydrit CaSO+).
Tempat Diketemukan
Seperti diuraikan di atas gips didapatkan dalam berbagai bentuk
kristal. Tempat didapatkannya gips antara lain:
o Daerah Istimewa Aceh: Pante Raya, Kec. Trenggading, Kab. Aceh
Utara didapatkan berwarna bening, berupa bongkah dengan ukuran

il
68

.
o
.
o
o
o
o
o

69

sampai 30 cm.

Jawa Barat: Jati, Cibareng, Teluk Jambe Kab. Karawang; Cidadap


Tasikmalaya; Subang dan Sumedang;
Jawa Tengah: Jatingaleh, Semarang dan Gaplok Kab. Blora;
Mojosari, Sedan, Tanjung Sulang, Ngandang Kab. Rembang;
Jawa Timur: Bukul, Kec. Slahung, Kab. Ponorogo dijumpai inengisi
rekah-rekah pada andesit; Bojonegoro, Kalianget, Madura.
Kalimantan Timur: Sedadap, P. Nunukan, P. Sebatik Kab. Bulungan;
Sungai Belayan, Kab. Kutai.
Nusa Tenggara Barat: Ds. Kuta, Pujut Lombok Tengah,

Nusa Tenggara Timur: Teun, Boutena, Lamaknen; Managa,


Lamakera, Kukuwerang Kec. Solor Timur (dijumpai berupa lensalensa pada batuan dasit terubah),

Sulawesi Tengah: Polipobom Kab. Donggala,

Sulawesi Selatan: Cangkareng, Kab. Soppeng (diperkirakan


terbentuk akibat proses penguapan air laut pada zaman MiosenPliosen);Laballe, Kec. Ajangale Kab. Bone (berbentuk urat-urat pada

Dalam jumlah yang relatif sangat sedikit gips dalam bentuk kristar dicampur bersama dengan bahan baku semen portland untuk bersamasama dipanaskan/dicampur dalam kiln. Tujuan menambah.gips ke
dalam semen, agar semen tidak cepat membeku apabila diaduk

o
o
r
e
o

batu lempung).

Teknik Penambangan

Teknik penambangan dilakukan dengan sistem kuari dengan


peralatan sederhana ataupun dengan sistem gophering apabila bentuk
deposit sebagai retas-retas atau mengisi bongkahan.

P e n g olahan d an p

manfaatanny a

Gips yang diperoleh dari tempat penambangan dibersihkan dari


kotoran kemudian dicuci dengan air lalu dikeringkan. Apabila diinginkan akan dibuat tepung gips, harus dirubah dahulu gips (CaSOa zHzO)
menjadi anhydrit (CaSO+) dengan cara dimasukan dalam tungku
pemanas. Keluarkan gips yang masih dalam bentuk kristal dari oven.
Gips yang telah berubah menjadi anhydrit siap untuk dibuat serbuk.

Bahan tanrbahan semen portland

dengan air.
Bahan plester

Anhydrit dalam bentuk serbuk diaduk dengan cairan perekat dan siap
dipergunakan untuk plester dinding
Bahan pembuat cetakan

Serbuk anhydrit ditambah air secukupnya. Bahan campuran


untuk dipakai sebagai bahan pembuat cetakan
Kedokteran
Serbuk anhydrit direkayasa untuk spalk.
Bahan pembuat kapur tulis
Serbuk anhydrit dicampur dengan air. Adonan
menjadi kapur tulis.

ini

siap

ini siap untuk dicetak

Alat optik dalam mikroskop polarisasi


Gips yang pipih untuk keping gips. Dengan adanya keping gips yang
merupakan asesori pada ntikrosk,,n ,",roOufi maka identifikasi suatu
mineral dapat lebili rtr:rta.
Industri kimia
Sebagai bahan utanta pcrnbtilrt .r\arrr \ull:tl
Industri makanalr

Dicampur dalanr be.tuk arrlrrrlrit dengan bahan pembuat tahu.


Dengan campuran anhydrit dan kedelai yang sudah dibuat sebagai
bahan dasar perusahaan kecil dalam bentuk bubur tahu. Tahu menjidi

latif keras dan awet.

Di alam gipsurn merupakan mineral hidroskalsium sulfat


(caSoa2H2o). Sifat fisik rrineral antara lain: berwarna putih, kuning,
abu-abu, merah jingga atau hitam, bila tidak murni; lunak, pe.jal
kekerasan antara l,-5 - 2, b.d.: 2,35 dan mempunyai kilap sutera.
Kelarutan dalam air adalth 2,1 grll pada suhu 40" C;1,g grll pada 0o
C dan 1,9 grll parla suhu 70o - 90o C. Kelarutan bertambah dengan
penambahan HCI atau HNOr. Pada umumnya gipsum mempunyai
komposisi CaO:32,67o; SOr; 46,52o dan H2O: 2O.9To.

70

7l

bahan proses tersebut tidak perlu dilakukan seluruhnya, tergantung


pada kualitas dan jenis gipsum yang dibutuhkan.
Dalam penggunaannya gipsum dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

Gipsum yang belum dikalsinasi, dimanfaatkan untuk:


o Industri semen portland dengan persyaratan

o
o

Peremukan

II &

Pengayakan

----------------1

Produk gipsum
untuk semen

CaO

o Garam Na dan Mg
. Hilang pUar
o Ukuran partikel

minimum 357o
minimum 2/3 berat

SO3

maksimum 0,17o
maksimum 97o
95Vo (-14 mesh)

Industri pertanian sebagai conditioner tanah yang mengandung

alkali dan sebagai pupuk terutama pada tanaman kacang tanah.


Industri kertas, cat dan insektisida sebagaifiller.
Gipsum yang telah mengalami proses kalsinasi antara lain untuk:
e sektor konstruksi : papan dinding (wallboard) dan partisi

o
a

Gipsum untuk filler


dan pertanian

SOs

bidang kedokteran : cetakan gigi, spalk


industri pasta gigi dengan persyaratan:
CaSO+
: >93Vo
Waktu pengerasan : 5 - 20 menit
Ukuran partikel : - 100 mesh (> 957o)
- 30 mesh (I00Vo)

o
o
o

llzH2O

industri keramik/sanitair, untuk cetakan dengan persyaratan


(menurut ASTM)

o
o
o
o
Gambar 2.Bagan alir pengolahan gipsum

Pengolahan gipsum dimaksudkan untuk menghilangkan mineral


pengotor yang terkandung didalamnya serta untuk mendapatkan
spesifikasi yang diperlukan industri pemakai. Pada dasarnya garis
besar, pengolahan gipsum terdiri dari 3 tahap yaitu; preparasi (pengecilan ukuran, pengayakan dan lain-lain) kalsinasi dan formulasi. Tam-

CaSO+

ll2Hzo

Waktu pengerasan
Kuat tekan
Ukuran partikel

> 807o
20 - 40 menit

> 1800 psi


- 100 mesh (> 90Vo)
- 30 mesh (IN%o)

industri bahan tahan api, sumber pembuatan asam sulfat,


ammonium sulfat, untuk kapur tulis, lumpur pemboran.

Selain diproduksi oleh alam, gipsum dihasilkan juga dengan


memproses air laut dan airkawah yang banyak mengandung sulfat
dengan menambahkan unsur Kalsium padanya. Sebagai produk sampingan pembuatan asam fosfat, asam sulfat dan asam nitrat. Produk ini

72

73

disebut gipsum sintetis.

batuan tersebut. Pembentukan lempung karena pelapukan sebagai

Sebagian besar dari gipsum (98Vo) dipakai oleh industri semen'


Sisanya dimanfaatkan untuk industri keramik dll'

akibat reaksi ion-ion H* yang terdapat dalarn air tanah dengan


mineral-mineral silikat. H* umumnya berasal dari asam karbon yang
terbentuk sebagai akibat pembusukan oleh bakteri terhadap zat-zat
organik yang terdapat dalam tanzfi. Menurut Keller (1957) ion
Hidrogen ini dapat pula berasal dari:

B. SUBKELOMPOK B
Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan sedirnen
lainnya. Yang termasuk dalam jenis ini adalah:

asam-asam organik

akar halus tumbuhan


berasal dari air itu sendiri
Menurut Wollast (1961) pada proses pelapukan:

1. Bentonit

Bentonit adalah jenis lempung yang 807o lebih terdiri dari


mineral monmorilonite (Na. Ca)0.:: (Al.Mg)rz Si+ Oro (OH)z n H:O'
bersifat lunak (kekerasan I pada skala Mohs, berat jenis antara l,J 2,7, mudah pecah, terasa berlernak. mempunyai sifat mengembang
apabila kena air. Menurut Knight, 1896 nama lain dari bentonit adalah
Soap Clay, Taylorit, Bleaching clay, Fullers earth. Konfolensit,
Saponit, Smegmatit. Sifat bentonit antara lain:
. Berkilap lilin umumnya lunak, plastis dan sarang
o Berwarna pucat dengan kenampakan putih, hijau ntuda. i;el.riru
merah muda dalam keadaan segar dan menjadi krem bila lapuk yang

terjadi maka akan terbentuk gibsit


bila laju aliran makin rendah dibanding dengan pelarutan yang
tejadi maka akan terbentuk kaolinit
o bila laju aliran hampir terhenti, suatu reaksi yang lambat akan
terjadi antara kation dengan AI(OH)3 dan silika membentuk
monmorilonit.
Proses hidrothermal
Pada alterasi hidrothermal yang sangat lemah. rnineral-mineral yang

o
.
o
o

kemudian berubah menjadi kuning, merah coklat serta hitam.

Bila diraba terasa licin seperti sabun dan

kadang-kadang pada

permukaannya dijumpai cermin sesar.


Bila dimasukan kedalam air akan menghisap air sedikit atau banyak.
Bila kena hujan singkapan bentonit berubah menjadi bubur dan bila
kering akan menirnbulkan rekahan yang nyata.

Terbentuknya bentonit disebabkan oleh:


Proses pelapukan

Faktor utama yang menyebabkan terbentuknya mineral lempung


adalah komposisi batuan, komposisi kimia air dan daya lalu air
tersebut pada batuan. Yang tersebut terakhir ini dipengaruhi oleh
iklim inacam batuan dan relief serta tumbuhan yang berada di atas

bila laju aliran lebih cepat dibanding dengan pelarutan yang

kaya akan magnesium seperti hornblende dan biotit cenderung


membentuk klorit. Pada alterasi lemah, kehadiran unsur-unsur logam
alkali dan alkali tanah, kecuali kalium, mineral mika, fero magnesium
dan feldspar plagioklas umumnya akan r-nembentuk monmorilonit.
Terjadinya monmorilonit terutama disebabkan oleh adanya magnesium. Kehadiran kalium baik yang berasal dari feldspar ataupun

mika primer yang terbentuk karena alterasi hidrothermal sering


ditemukan zonl-zorra yang terbentuk lingkaran dengan susunan dari
dalam keluar adalah:
yang terdalarn serisit

.
o
r

kemudian kaolinit

disusul monmorilonit dan terakhir klorit


Bentonit di Ponza Italia terbennrk oleh alterasi dari abu gunungapi.
Proses transformasi./detri vikasi
Proses transformasi/detrivikasi dari abu gunungapi yang sempuma

;
74

75

akan terjadi apabila debu gunungapi tersebut diendapkan dalam


cekungan danau atau laut. Gelas alam(natural glass) yang dikandung
abu gunung api lambat laun akan mengalami detrivikasi seperti pada
endapan piroklastik di Laut Tengah dekat G. Vesuvius dan Sisilia.
Monmorilonit dijumpai pula pada endapan resen disekitar kepulauan
Azores yang bersifat vulkanis dan diduga tidak ada sangkut pautnya

Proses pengendapan kimia

dengan alumunium dan magnesium.

Seperti diuraikan di atas bentonit didefinisikan sebagai lempung

halus yang mengandung 80Va monmorilonit. Lempung tersebut


sebenarnya lebih tepat disebut lempung monmorilonit tetapi didunia
perdagangan tetap lebih senang menyebut bentonit.
Di alam dikenal 2 jenis bentonit yaitu:
o Natrium bentonit (Na bentonit) ( = Wyoming bentonit)
Jenis ini mengembang kurang lebih 8 kali bila dicelupkan dalam air

Kalsium-Magnesiumbentonit
Jenis ini mengembang 1,5 kali bila dicelupkan alam air. Jenis Ca-Mg
bentonit secara teknik dapat dijadikan Na-bentonit.

Tempat Diketemukan

Sumatera Utara: Daerah Pangkalan Brandan, terdapat dalam Formasi


Seureula yang terinterkalasi oleh batupasir dan lumpur, jenisnya Ca-

Mg

sama sekali dengan endapan-endapan yang dibawa dari daratan.

Menurut Millot (1970) monmorilonit dapat terbentuk tidak saja dari


tufa tetapi merupakan endapan sedimen dalam suasana basa (alkali)
yang sangat silikaan. Mineral-mineral yang terbentuk secara sedimentasi dan tidak berasosiasi dengan tufa adalah attapulgit, sepeolit
dan monmorilonit, terbentuk dalam cekungan sedimen yang bersifat
basa dimana karbonat, silika pipih, fosfat laut dan sebagainya
terbentuk. Perlu ditekankan disini bahwa pada lingkungan ini banyak
mengandung larutan silika yang dalam beberapa hal dapat mengendap sebagai flint, kristobalit (dan monmorilonit) atau bersenyawa

Miosen.

Di Indonesia bentonit terdapat cukup banyak antara lain


Daerah Istimewa Aceh: Daerah Tupin, Reusip, Belangkaring
Lokseumawe terdapat pada Formasi Julu Rayeu yang berumur

bentonit dapat dipakai untuk lumpur pemboran

setelah

diaktifkan.
Riau: Daerah Kab. Inderagiri Hulu terdapat mineral monmorilonit,
kuarsa, kaolinit dan mika; sekitar desa Petai, Nia, Lembu, Lipat kain
Kab. Singingi; Paranap Kec. Paranap; sekitar desa Rombatan Kec.
Rengat tediri dari mineral monmorilonit dan kuarsa; Sungai Tanang

dan Sungai Adar Kec. Siberida; kampung Krupe Berangin Kec.


Inderagiri terdiri dari mineral monmorilonit, kuarsa dani kaolin;
Kampung Kinali, Bukit Pedusunan, Desa Pelapakan, Kec. Kuanten
Mudik; sekitar Basuaoh Kec. Kuantan Hulu Kab. Inderagiri; sekitar
Rawagedong, Kec. Longgam Kab. Kampar.
Sumatera Selatan: Kebon Agung Kab. Tanjungenim terdapat Ca-Mg
bentonit dalam Formasi Palembang yang berumur Pliosen; Bantaian,

Ujan, G. Megang terdapat Ca bentonit dalam Formasi palembang


yang berumur Pliosen; Tebing Tahisapi Muaraenim terdapat Ca-Mg
bentonit dalam Formasi Palembang yang berumur Miosen;
Belimbing Prabumulih terdapat Ca-bentonit dalam Formasi
Palembang Tengah; Bangko Tanjungenim terdapat Na-bentonit;
Merapi, Lahat; Silangit Musi Rawas terdapat Ca-Mg bentonit
berasosiasi dengan kaolin.
Bengkulu: Tabah Pananjung Kab. Bengkulu Utara; Talangbaru
Muaraaman; Tanjung Agung, Kerlop

Jawa Barat: Jasinga Kab. Bogor; Nanggung Kab. Bogor; Bojong

Manik, Kab. Lebak; Cilayang makam Jepang Kab.

Lebak;

Leuwidamar Kab. Lebak; Pangkalan, Sukanagara Kab. Cianjur; G.


Walang, Warung Bitung, Kab. Cianjur; Lengkong Kab. Sukabumi;

Kawalu Kab. Tasikmalaya; Manonjaya Kab.

Tasikmalaya;
Karangnunggal Kab. Tasikmalaya; Tomo Kab. Sumedang; Situraja

Kab. Sumedang; Desa Kamal, Tanjung Kerta Kab. Sumeda4g;


Hasian, Tanjungkerta, Kab. Sumedang; Desa Wanasari, Kec.
Buahdua, Kab. Sumedang; Subang. Kab. Subang.

76

.
o

Jawa Tengah: Sumberlawang Kab. Sragen; Tangen Kab. Sragen;


Sangiran Kab. Sragen; Gundih Kab. Grobogan; Jatingaleh Kab.
Semarang; Bandung Klan Wonosegoro Kab. Boyolali; G. Candi,
Bangsri, Simo Kec. Karanggede Kab. Boyolali; Bandungan, Kec.
Wonosegoro Kab. Boyolali; Klego Kec. Karanggede Kab. Boyolali;
Klari, Kec. Klari Kab. Boyolali; Lemah Jaya Kec. Moeden Kab.
Banjamegara; Kendel, Boyolali.
Daerah Istimewa Yogyakarta: Patuk, Sepat, Gembyong Kab. Gunung
Kidul, Gayamharjo, Kab. Sleman.
Jawa Timur: Jahurpang, Sokokidul, Pule, Kori, Dongko; Jajai, Kab.
Trenggalek Tanjungagung, G. Ujong Kab. Tranggalek; Petung,

Klumpit; Jeblogan; Nagapoh, Jatipokoh, Kasasi, Kab. Ponorogo;


Slahung, Ngipung, Kab. Ponorogo; Ngampak, Mraen, Baso Lor,
Kab. Ponorogo; Jatipahak, Kasri, Kab. Ponorogo; Tanggunggunung
Kab. Tulungagung; Punung, Donorojo Kab. Pacitan; Saren Kab.
Pacitan; Nganut Kec. Bandar Kab. Pacitan; Banyuurip, Ngandong,
Sonde, Betos, Sumberlawang Kab. Ngawi; Pandangan Kab.
Lamongan; Kampung Jabon, Kutugan, Pletes dan Boncikal Kec.
Bantur Kab. Malang; Sitiarjo, Sumberagung Kec. Sumbermanjing

o
.

Kab. Malang;

Timor Timur: Desa Mulia-Que licai, Desa Venilale Kab. Bobonaro


Sulawesi Utara: Kec. Modayang, Kab. Boloangmangandow.

Teknik Penambangan

Bentonit merupakan bahan galian yang lunak, oleh sebab itu


teknik penambangan dengan sistem kuari dan dapat mempergunakan
peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Bentonit dari hasil tambang yang masih berupa bongkahan diangkut kepabrik untuk diolah melalui tahapan; penghancuran, pemar&Son; penggilingan dan pengayakan. Proses selanjutnya disesuaikan
dengan penggunaannya. Pengolahan lanjut bertujuan untuk mening-

77

katkan mutu bentonit antara lain dengan proses pengaktifan.

Proses pengaktifan

Seperti diketahui di alam dikenal Na-bentonit dan Ca-Mg bentonit.


Proses pengaktifan dilak-ukan khusus untukjenis bentonit yang tidak
mengembang yaitu Ca-Mg bentonit jenis ini di bagi 2 macam yaitu
yang aktif dan tidak aktif.
Pengaktifan bertujuan untuk melarutkan unsur pengganggu
seperti: Ca, Al, Mg, Fe, Na, K, dll. Dengan memakai media pengaktif
HzSO+ (5Vo) danHCl (57o) pada suhu 100oC dalam selang waktu 2-4

jam. Hasil proses ini bentonit dipakai untuk menjernihkan minyak


kelapa.

Proses pengubahan ion

Kation yang bervalensi tinggi atau yang berukuran kecil pada


umumnya akan menggantikan kation yang bervalensi rendah atau
yang berukuran besar. Atas dasar ini maka kation H* jauh lebih kuat
menggantikann kation K* seperti terlihat sebagai berikut:

H* > Mg*'> ca*z > Li*l > Na*l> K*l

Kation Ca*2 pada bentonit dapat pula didesak oleh Na*r apabila
konsentrasi Na*r cukup tinggi.

Pengubahan kation ini dilakukan dengan menghilangkan atau


mengeluarkan dari sistem produk samping yang terjadi seperti terlihat
pada reaksi berikut:
Ca bentonit + NazCO: -----+ Na bentonit + CaCO:

Produk CaCOr yang terbentuk selalu dikeluarkan dari sistem.


Oleh karenanya reaksi akan berlangsung kekanan.
Adapun pemanfaatan bentonit adalah sebagai berikut:
o Na-bentonit
. Dimanfaatkan sebagai lumpur pemboran minyak bumi/gas/panas
bumi
o Sebagai bleaching powder mtnyak sawit, industri kimia, farmasi
o Sebagai pencampur semen, insektisida, sabun
o Karena pengembangannya besar (8 x) dimanfaatkan untuk penyumbat kebocoran bendungan.

I
78

79

Bongkahan bentonit dari tambang

Ca-Mg bentonit
o Bahan pembuat Na-bentonit dengan proses pengaktipan dengan

;l

i,
ri

i:

Preparasi ukuran butir

Industri penyaringan lilin, minyak kelapa, industri baja yaitu


sebagai perekat pasir cetak dalam proses pengecoran baja

Industri kimia sebagai katalisator, zat pemutih, zat penyerap,


pengisi, lateks, tinta cetak.

Untuk lumpur pemboran menurut American Petroleum Institute


(API) spesifikasi No. 13 B Na-bentonit dipersyaratkan sebagai beri-

Pengayakan 100 mm

+10mm

Pengeringan 1,5 jam


dengan burner

asam

Pengayakan (5 mm)

kut:
o Analisa saringan basah US Sieve No. 200 : Sisa maksimum 47o
o Kandungan air saat pengiriman
:Maksimum 107o
o Pada contoh basah seberat 225 grambentonit dalam 350liter air:
o pembacaan Fann VC meter : pada 600 rpm minimum 30
o yield point 100 lbs/sqft : 3 kali kekentalan plastis

o
.

:Maksimum 13,5 cc
terbukti:Minimum 15 Cp
:Minimum 94,02bbUton
Wetyield
Persyaratan Na-bentonit sebagai Viscosifier:
Analisa saringan kering US Sieve No. 200 : Maksimum 27o
: l0 - 12 kali volume
Pengembangan

Tidakmengandungbahan-bahan

o
r

Pengeringan I jam
dengan burner

penyaringan

Pada suspensi 22,5 ppgkekentalan

kering
+ 200 mesh

- 200 mesh

PRODUK AKHIR

+ 200 mesh

: Magnetik dan radioaktif

- 200 mesh

Gambar 3. Bagan alir pengolahan butir bentonit

2. Ball clay dan Bond clay


Ball clay adalah jenis lempung yang tersusun dari

mineral

kaolinit = AlzSizOs(OH)a /anS bentuk kristalnya tidak sempurna (4060Vo), ilit (18-337o), kuarsa (7-22Vo) dan mineral lain yang
mengandung karbon (l- %o). Apabila sifat-sifat fisik ball clay tersebut
lebih rendah dari standart maka lempung tersebut disebut bond clay.
Ball clay dan bond clay umumnya bersifat sangat plastis karena
terdiri dari partikel sangat halus, mempunyai daya ikat dan daya alir
yang sangat baik. Ball clay dan bond clay terbentuk sebagai akibat

80

81

sedimentasi dalam lingkungan lakustrin atau delta, berasosiasi dengan


endapan pasir, lanau dan lignit/batubara. Oleh sebab itu didapatkan
setempat-setempat baik dalam bentuk lensa atau nodul dan berwarna
gelap. Pengujian terhadap bahan galian di lapangan dapat dilakukan
yaitu dengan menambahkan air sedikit, kemudian di'plintir'l dengan
tangan sehingga bentuknya seperti silinder. Bentukan tersebut kemudian dibengkokan perlahan-lahan sehingga terbentuk melengkung.
Apabila pada bagian lengkungan terjadi retakan-retakan terbuka lebar
maka menunjukkan mutu bahan galian tersebut relatif kurang plastis
sehingga dikatakan jelek. Apabila dengan perlakuan yang sama tidak
terjadi retakan-retakan maka bahan galian tersebut mempunyai sifat
plastisitas tinggi sehingga katakan baik.
Tempat Diketemukan

o
o
o
o
o
o

Sumatera Barat: Ombilin, terdiri dari mineral disordered kaolinit, ilit,


kuarsa dan feldspar, cocok untuk keramik Low Refractory, Salido: S.
Beningin Sinjung, Sawahlunto Kab. Sawahlunto;
Sumatera Selatan:Tambang Mahmud, P. Bangka P. Belitung;

Air

Semenal, P. Karimun Besar; S. Jodoh Balui Darai,


Tj.
Tili, S. Terusan, Gesek dan G. Bintan P. Bintan;
Bentam,

Riau:

Lamongan.

Kalimantan Barat: Sebawi Kab. Sambas, Pangkalan batu Kab.


Ketapang; Motrando Kab. Sambas; Mandor dan Salamantan Kab.
a

Sambas; Ds. Balai, Karangan Kec. Sekayam, Kab. Sanggau;


Kalimantan Tengah: Tanjungkalap; G. Mas sebelah barat S. Kahayan
Kalimantan Selatan: Bitahan, Rantau Kab. Tapin, Tatakan, Rantau,
Kab. Tapin; Sembelimbingan dan Stagen Kab. Tanah Laut; Stagen
Selatan Kotabaru, Kab. Kotabaru;
Sulawesi Utara: Podo Kab. Minahasa, Unan Kalo. Minahasa.

Teknik Penambangan

Ball clay dan bond clay merupakan bahan galian yang lunak
dapat dijumpai dekat permukaan atau agak dalam dari permukaan.
Apabila terdapat didekat permukaan cara penambangan dilakukan
dengan sistem kuari, dan apabila jauh dari permukaan sistem penambangan dengan gophering atau membuat sumuran dapat dilakukan.
Peralatan yang dipergunakan cukup sederhana walaupun demikian
apabila dikehendaki dapat dilakukan dengan alat mekanis.

P.

Jawa Barat: Cicarucung, Cisaat Kab. Sukabumi, Ciadeg Kab. Bogor,


G. Guruh dan Cipicung, Cisaat Sukabumi, Bojongmanik, Kab.
Sukabumi;
Jawa Tengah: Cangkring, Sambiroto, Pamotan Kab. Rembang, Sedan
Kab. Rembang, Blora, Kedung Jati, Jatijajar, Gombong Kab.
Kebumen, Ruwakan Kab. Kebumen, Jatingaleh Kab. Semarang;
Jawa Timur: Tengger Kulon, Bancar, Tuban; Kp. Trikil - Krajan, Ds.
Gondosari, Kec. Punung, Kab. Pacitan; Kp. Jatigunung, Ds.
Jatigunung Kec. Tulakan, Kab. Pacitan; Kp. Kedungdowo, Ds.

Wonogondo, Kec. Wonogondo/Kebonatung Kab. Pacitan; Kp.


Donorojo, Ds. Donorojo Kec. Punung Kab. Pacitan; Kp. Nglebo, Ds.
Wonokerto Kec. Karangan Kab. Trenggalek: Sekitar Wates, Kec.
Wat6s, Kab. Blitar; Ds. Tunggu, Nyengir Kec. Mantup Kab.

P e ngolahan

dan

P emanfaatan

Komposisi utama dari ball clay dan bond olay adalah kaolinit =
Al+Si+Oro (OH)s yang bersifat liat dan tahan panas dan menghisap
cairan. Pemanfaatan antara lain:

o
.
.

Untuk bahan industri keramik dan bata tahan api


Campuran makanan ternak (pelet)
Sebagai bahan r,ulkanisir dalam industri karet

Ball clay dan bond clay yang berasal dari daerah penambangan
tercampur dengan mineral/bahan organik pengotor. Oleh karenanya
terlebih dahulu bahan galian ini dibersihkan dari kotoran dengan hand
sorting terutama mineral yang berwarna (pada umumnya Oksida besi).
Kemudian dilanjutkan dengan proses floatation untuk memisahkan
dari butiran yang lebih kasar atau dari pengotor zat organik, sesudah

83

82

terlebih dahulu dilakukan proses grinding. Dalam proses floatation


diperlukan air dalam jumlah banyak dan ini dapat dilakukan dengan
sistem pengendapan dan sirkulasi.

Merupakan bahan galian yang terdiri dari mineral kaolinit yang


bentuk kristalnya tidak sempurna (melorit = disordered kaolinit), ilite,
kuarsa dan mineral lempung lainnya, bersifat plastis, dilapangan tidak
menunjukan perlapisan. Jenis lempung ini tahan terhadap suhu tinggi
(lebih dari 1600" C) tanpa terjadi pembentukan masa gelas. Secara
megaskopis sulit membedakan antara fire clay dan ball clay. Hal ini
dapat diketahui dengan metoda AAS dimana kaolinit merupakan
komposisi utama. Berbeda dengan ball clay dan bond clay, fire clay

terbentuk akibat proses sortasi dan sedimentasi yang telah lanjut


sehingga didalamnya tidak memperlihatkan adanya perlapisan,
diendapkan pada lingkungan lakustrin ataupun delta yang umurrrnya
mengandung batubara.

o
o
o
o

Diketemulean

Fire clay merupakan bahan galian yang lunak. Oleh sebab itu
penambangan dilakukan dengan sistem kuari dengan alat sederhana.

Sistem penambangan gophering tidak dianjurkan, tetapi apabila


karena kondisi geologi terpaksa harus dilaksanakan dengan teknik

3. Fire clay

Tempat

Teknik Penambangan

Sumatera Selatan: Air Batu Kab. Ogan Komering Hulu merupakan


endapan sekunder bersama-sama dengan kaolin, G. Meraksa, Kab.
Ogan Komering Hulu.
Jawa Barat: Cicarucug Kab. Bogor; Parungpanjang Kab. Bogor;
Kebunbeura, Kab. Bogor.
Kalimantan Selatan: Binuang Kab. Tapin (terdapat dalam sedimen
Paleogen, berasosiasi dengan batubara.

Kalimantan Timur: Sigihan Kab. Kutai (terdapat dalam batuan


sedimen Miosen dan berasosiasi dengan lapisan batubara); Merandai
Kab. Kutai (terdapat dalam batuan sedimen Pliosen, berasosiasi
dengan batubara); Tg. Pude Kab. Kutai.
Sulawesi: Daerah Mengempan; Tondongkura.

penambangan yang aman.

P e ng

olahan dan

P e manfoatan

Fire clay dari hasil penambangan dibersihkan dari

kotoran

terutama dari kontaminan pengganggu yang umumnya merupakan

oksida besi yang berwarna coklat. Kemudian dilakukan proses


pemisahan ukuran butir dengan cara diaduk dengan air lalu
diendapkan pada bak pengendapan. Endapan yang berada dibagian
atas diambil dan siap dimanfaatkan untuk pembuatan bata tahan api.

4. Zeolit
Tnolit merupakan senyawa alumino silikat hidrat terhidrasi dari
logam alkali dan alkali tanah (terutama Ca dan Na), dengan rumus
umur Lm Alx Sig O2nH2O (L = logam). Sifat umum dari zeolit adalah
merupakan kristal yang agak lunak, berat jenis 2-2,4, warna putih
coklat atau kebiru-biruan. Kristalnya berwujud dalam struktur tiga
dimensi yang tak terbatas dan mempunyai rongga-rongga yang
berhubungan dengan yang lain membentuk saluran kesegala arah
dengan ukuran saluran tergantung dari garis tengah logam alkali atau
alkali tanah yang terdapat pada strukturnya. Dialam saluran tersebut
akan terisi oleh air yang disebut sebagai air kristal. Air kristal ini
mudah dilepas dengan melakukan pemanasan, mudah melakukan
pertukaran ion-ion dari logam alkali atau alkali tanah dengan ion-ion
elemen lain. Cara dan lingkungan terbentuknya zeolit sangat bervariasi. William (1992) didalam bukunya Natural Zeolities, zeolit dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
c T,eolit yang terbentuk pada temperatur yang tinggi, dimana pada

84

85

masing-masing temperatur tertentu akan terbentuk jenis zeolit


tertentu pula. Yang termasuk dalam group ini adalah akibat dari
proses magmatik primer, proses metamorfose kontak, proses
metamorfose hidrothermal, proses penurunan dan pengangkatan

Pembentukan zeolit secara alamiah sangat menarik sehingga


memunculkan pemikiran tentang pembuatan zeolit dengan proses
yang sama. Pada kenyataannya sedimentasi zeolit berlangsung secara
berkesinambungan terutama yang terbentuk pada dasar lautan. Dari
penelitian oceanografi diketahui bahwa zeolit spesies phillipsit merupakan mineral yang paling banyak didapatkan dialam.
Perihal zeolit buatan, peneliti mencoba meniru proses hidrothermal pada mineral zeolit yang terjadi dialam. T.eolit buatan direkayasa
dari gel alumino silikat jenis gel tersebut dibuat dari larutan-rarutan
natrium aluminat, natrium silikat dan natrium hidroksida.
Struktur gel terbentuk karena polimerisasi anion-anion aluminat
dan silikat. Kelihatannya komposisi dan struktur gel hidrat ini diten
tukan oleh ukuran dan struktur dari hasil proses polimerisasi.
Perbedaan dan komposisi kimia dan distribusi berat morekul dari
larutan silikat asal akan menyebabkan perbedaan struktur zeorit yang
terjadi. Selama kristalisasi gel ion natrium, senyawa aluminat dan
silikat mengalami penyusunan ulang sehingga terjadi struktur kristal.
Sampai saat ini kurang lebih 30 macam zeolit telah berhasil dibuat
dalam keadaan murni, dengan mengubah variabel seperti temperatur

lingkungan pembentukannya dengan disertai metamorfose regional.


Tnolit yang berbentuk didekat permukaan lingkungan sedimentasinya
dengan perubahan proses kimia merupakan faktor utama. Yang
termasuk group ini adalah sebagai akibat pengaruh pergerakan air

tanah, pelapukan ataupun karena sifat alkalin pada saline lake

o
o

deposits.

Z,eolit yang terbentuk pada suhu rendah pada lingkungan pengendapan laut

Tnolit yang terbentuk sebagai akibat dari terbentuknya craters


dilingkungan dasar laut yang menghasilkan fast hidrothermal
zeolitization dari gelas vulkanik.
Proses-proses tersebut di atas akan berakibat bervariasinya luas

penyebaran zeolit yang terbentuk disamping bervariasinya ion-ion


elemen alkali dan alkali tanah yang diikat dan mengakibatkan terbentuknya spesies zeolit. Oleh Breck (vide Riyanto, l99l) dilaporkan
telah ditemukan puluhan spesies zeolit, tetapi dari sekian banyak,
hanya 9 jenis yang sering terdapat dalam mineral seperti tersebut pada
tabel di bawah ini.

I
Tahun penemuan

Komposisi Unit Sel

(SiOr3]

Kiabasit

772

Ca2[(AlO2)a

Analsim
Leumontit

784
801

Na 16 [(AlO2)16 (SiO2)32] l6 H2O


Ca+ (Aln Si23 O72) 24 H2O

Phillipsit

824

(K,Na)r9 [(Al02)rg (SiO2)22] H2O

Heulandit
Mordenit

785
864
890

Caa Al3 Si16 O48

l6

18 H2O

Tempat Diketemukan

Mempertimbangkan kegunaan zeolit yang cukup bervariasi,


pencarian endapan zeolit terus dilaksanakan. Tempat-tempat yang
sudah diketahui keberadaannya antara lain:

H2O

Erionit

890

Na6 [(AlO2)3 (SiOr4o] 24H2O


Na6 [(,4102)6 (Sio2)jo] 24 H2O
(Ca Mg K2 Na)a.5 [(AlOz)e (SiO2)27] 27 H2O

Ferrierit

.918

(K,Na)2 (Ca Mg)z [(A16 Si$ Or2)]

Klinoptilotit

direndam dalam air.

Tabel 6. Spesies Zeolityang umum didapatkan dalam batuan

Zeolit

kristalisasi dan komposisi awal dari gel. Gel yang bersifat seperri
zeolit dapat diperoleh pula apabila abu tangkai padi ..merang,'

l8

H2O

o
I

Jawa Barat: Desa Naggung, Bogor; Bayah Kab. Lebak (elah


diusahakan oleh PT. Prodmin dan PT. Bamas); Geger Bitung Kab.
Sukabumi (elah diusahakan oleh PT. Windu Rejo, pT. Mineral Aleh
Indo dan PT. Gram); Limusnunggal Kab. Sukabumi; Cisaru, Cisolok
Kab. Sukabumi; Cikembar Kab. Sukabumi; Cikalong Kab.
Tasikmalaya; Leuwidamar Kab. Lebak; Cikidang Kab. Sukabumi
Jawa Tengah: Wadaslintang Kab. Wonosobo

il
87

86
a

Umpan Zeolit (minimal 307o


atau6OVo

klinoptiolit

zeolitberukuran 15 cm

Daerah Istimewa Yogyakarta: Nanggulan, Kab. Kulon Progo


Jawa Timur: Slahung, Ngendut Kab. Ponorogo; Sekitar Kalitengah
Kab. Blitar; Sekitar Tambarejo Kec. Sumbermanjing Kab. Malang;
G. Cagak Ketro, Wonosidi Kab. Pacitan
Nusa Tenggara Timur; Kec. Nangapada, Kab. Ende.

Mesin pemecah batu/dengan Palu

Teknik Penambangan
ukuran 3 cm
I

i
I

rl

Kebanyakan zeolit yang mempunyai nilai ekonomi, terletak


didekat permukaan. Oleh karenanya, penambangan dilakukan dengan
sistem kuari baik dengan mempergunakan alat mekanik, semi
mekanik ataupun peralatan sederhana.

alias atas
Pembuangan
I

aliran bawah

aliran bawah

P e ngolahan

P emanfaatan

Pengolahan zeolit sangat tergantung dari tujuan pemanfaatannya.Pengolahan zeolit bertujuan untuk meningkatkan nilai
tambah. Pada prinsipnya pengolahan dilakukan dengan 2 tahap yaitu
tahap preparasi dan tahap aktipasi.
Tahap preparasi:

Fraksi-fraksi ukuran zeolit

Dengan mempertimbang zeolit mempunyai tingkat kekerasan yang


rendah maka preparasi dengan menggunakan mesin giling (mill)
yang mampu memproduksi sampai ukuran lebih kecil dari 100 mesh
dan mengkombinasi-kan dengan sistem siklun untuk dapat
mengelompokan hasilnya menjadi fraksi-fraksi. Umpan untuk mesin
giling ini dapat berupa hasil pemecahan secara manual yang
berukuran 3 cm ataupun dapat dilakukan dengan mesin pemecah.
Ketidak mampuan siklun dalam memisahkan menjadi fraksi,

,l

Pereaksi kimia
NaOH dan H2SOa

il

il

r
Pengolahan air

dan

Pengolahan

perikanan

Proses aktipasi

ini dilakukan dengan pemanasan dan atau dengan pereaksi


zat ymtg dipergunakan sebagai pereaksi adalah NaOH dan HzSO+.

Proses
It

Gambar 4. Bagan alir pengolahan mineral zeolit

menyebabkan masih diperlukan proses pengayakan. Apabila tahap ini


sudah selesai untuk keperluan khusus masih memerlukan pengolahan
aktipasi.

7
89

88

Bagan alir pengolahan mineral zeolit secara skematis ditunjukkan


Gambar 4.
Pemanfaatan zeolit cukup bervariasi
Bahan bangunan fisik

T.eolit yang dibentuk sebagai blok/balok dengan ukuran tertentu


(tanpa diawali dengan pengolahan lanjut) dapat dipergunakan'sebagai

dinding rumah. Pekerjaan tambahan dalam bentuk pemolesan akan


memperjelas struktur dan tekstur sedimen sehingga lebih menarik.
Berhubung zeolit mempunyai tingkat kekerasan rendah, maka mudah
lapuk dan mudah tererosi oleh air hujan. Oleh karenanya pemakaian
zeolit sebagai dinding rumah harus dihindarkan langsung dari sinar
mataharilair hujan. Untuk bangunan air penggunaan zeolit tidak
disarankan, disamping bersifat porous juga tidak tahan terhadap
arus/aliran air.
Bidang pertanian
Pemanfaatan tepung zeolit (sebelum aktipasi) dari jenis klinoptilolit
pada tanah pertanian dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil
tanaman. Hal ini sebagai akibat kemampuan zeolit terhadap kapasitas
penyimpan (adsorpsi) dan penyimpanan (retensi) ammonium dan
kalium. Dengan adanya penambahan zeolit pada tanah maka proses
nitrifikasi dapat lebih ditingkatkan. Percobaan pemberian zeolit dan
kapur serta dengan pemupukan N,P dan K telah dicoba pada tanah
podsolik merah kuning. Hasilnya dapat meningkatkan hasil tanaman
kedelai dan iagung.
Pemberian kapur dan zeolit berpengaruh nyata terhadap sifat kimia

tanah seperti peningkatan kalsium (Ca), kalium (K) pH tanah dan


penurunan alumunium (Al), sehingga berpengaruh nyata terhadap
peningkatan hasil tanaman kedelai dan jagung, tetapi tidak
berpengaruh nyata pada kapasitas tukar kation (KTK), nitrogen dan
fosfor yang tersedia. Terjadi interaksi yang nyata antara pemberian
kapur dan zeolit terhadap berat biji kedelai dan jagung.
Sebagai pegangan pemberian kombinasi kapur dan zeolit K2'ZA

+ 6 ton zeolit) per hektar memberikan hasil


tertinggi yaitu i.450 ton biji kering kedelai per hektar dibanding
(artinya 2 ton kalsit

tanpa perlakuan K0Z0 yaitu 0,256 ton per hektar. Pemberian 2 ton

kapur per hektar memberikan hasil 2,33 ton biji jagung kering
dibanding tanpa perlakuan yaitu 0,95 ton. Pemberian zeolit 6 ton per
hektar tanpa kapur menghasilkan 2,30 ton brji jagung. Pengaruh
residu, sisa pemberian kalsit dan zeolit ke dalam tanah masih tampak
pada periode tanam ketiga bahkan periode selanjutnya.
Bidang perikanan

Zeolit dalam bentuk serbuk (sebelurn aktipasi) dipnkai

sebagai

penyerap/pengontrol amonium yang biasa dikeluarkan oleh ikan atau


akibat pembusukan sisa makanan. Apabila hal ini tidak dikontrol

jurnlah amonium yang terkumpul akan meracuni ikan tersebut.


Dengan penambahan zeolit, pada luasan ruang yang sama jumlah
ikan yang dapat dipelihara dapat lebih banyak.
Bidang peternakan
Di bidang peternakan, zeolit dimanfaatkan sebagai bahan penambah
makanan temak seperti unggas, babi, domba, sapi dan binatang
pemamah biak lainnya. Tnolit akan menambah cepat pertumbuhan

dan menambah berat badan ternak yang bersangkutan. Sebuah


penelitian menunjukan penambahan 57o klinoptilolit terhadap
makanan babi menambah berat antara 25 - 29Vo dibanding dengan
makanan normal.
Bidang lingkungan
Dalam bidang lingkungan zeolit dapat dimanfaatkan untuk:
. sebagai bahan penghilang bau
. sebagai penangkap ion Ca*2 (dalam air)

sebagai penyerap gas N2, 02 dan CO2

setelah melalui pengaktipan pemanasan dapat dimanfaatkan untuk


pengolahan limbah radioaktif 1Sr8s;, dipergunakan sebagai bahan
penukar untuk menangkap/mengisolasi Iogam besi dan mangaan
yang terdapat dalam air, karena keberadaan logam besi dan
mangaan dalam air sangat merugikan penggunaannya baik untuk
keperluan rumah tangga/industri.
sesudah diaktipasi dengan NaOH zeolit dapat dimanfaatkan untuk
menyerap logam berat seperti Pb,Cu dan Mn, juga dapat untuk
menyerap NH4, NOl dan COD, dengan demikian cukup bagus

9t

90

untuk pengolahan air buangan. Jika diaktipkan dengan NaOH dan


HzSO+ dapat dipergunakan untuk pengolahan air sungai guna
mendapatkan air bersih.
Bidang industri
o Sebelum diaktipasi dengan NaOH atau HzSO+, zeolit dapat

dipergunakan untuk bahan penjernih minyak kelapa sawit.


Penambahan belat 3Eo (berat/volume) menunjukkan kejernihan

o
o
o

dengan transmitan sebesar 5IVo sedangkarbon aktip787o


Znolit (sebelum aktipasi dengan NaOFI/H2SOa) dapat dipakai
menyerap zat warna yang terdapat dalam minyak hati ikan hiu.
Hasil yang diperoleh menunjukkan, peningkatan nilai transmitan
untuk minyak adalah sebesar 2lVo dan kandungan vitamin A pada
minyak tersebut menurun sebsar 9,7 7o
Ze,olit (sebelum diaktipasi) dapat dipergunakan sebagai bahan

pengisi dan memberi sifat yang lebih baik dari pada dengan
memakai lempung atau kaolin
Tnolit dapat dipergunakan untuk memperoleh normal parafin dari
berbagai timbunan umpan hidrokarbon, juga metan dari gas hasil
perusahaan bahan organik seperti sampah dan tinja
Penyerapan dan pemisahan air, karbon dioksida dan belerang dari

gas alam, penyerapan nitrogen dari udara dalam produksi gas

oksigen dan pengerirtgan gas freon


Masih dalam penelitian lanjut, pengembangan penelitian energi
matahari, penggunaan panel-panel zeolit juga memberikan

prospek yang baik terutama yang mempunyai panas serapan

o
o
.
o
o
o
o

Adapun komposisi setiap kilogram zeolit adalah


694,80 gram
126,70 gram

3,30 gram
11,40 gram

28,40 gram
2,40 gram
0,10 gram

Disebut pula sebagai tanah diatomea (diatomeus earth) atau


kloseguhr. Diatomea sebenarnya adalah sejenis ganggang, bersifat
plankton, dimana jaringan batangnya terdiri dari SiOz. Koloni diatomea akan berkembang baik apabila ditempat itu terdapat batuan
piroklasik/yang cukup banyak mengandung SiOz. Diatomea mempunyai berat jenis rendah (+ 0,45) oleh sebab itu agar diatomea yang
mati dapat membentuk endapan maka pengaruh arus air harus kecil.
Sifat diatomea yang lain adalah berat jenis rendah (0,45), daya
serap air 25-45Vo, warna putih-coklat tergantung kontaminasinya,
kemampuan daya hantar listrik atau panas rendah, dilapangan memberikan kenampakan seperti lembaran tipis dan mudah dipisahkan.
Tempat Diketemukan

sebagai

berikut:

o SiO =
o Al2O3 =

20,00 gram
16,50 gram

5. Diatomea

rendah seperti mordenit.

Dalap perdagangan zeolit diproduksi dalam 2 jenis yaitu dalam


bentuk tepung yang berukuran 50-70 mesh dan 150 mesh, serta bentuk
fragmen dengan ukuran butir L,2,3,4, dan 5 mm. Kedua jenis tersebut
telah dikemas dengan ukuran 1,2y2,5,10 dan 15 kg.

=
CaO =
MgO =
Na2O =
K2O =
TIOZ =
P2O5 =
Fe2O3

Sumatera Utara: P. Samosir, Tapanuli (dengan kandungan SiO2:


84,0-92,57o, Al2O3: 5,7-t3,8%o, CaO: 0,2-0,6Vo; KzO: 0,7-l,2Vo;
Na2O: 0,4-0,8Vo: HzO: I,|Vo; FezO3: I,03Vo); Balige, Siborongborong
Jawa Barat: Cicurug, Bogor; Darma, Kuningan (dengan kandungan
SilOZ: 45,70-85,23%o, AlzO:: 34,20-4,86Vo, Fe2O3: 6,?-0-L,4?o, TiO:
1,20-0,21Vo, P2O5: 0,07'0,0LVo, HzO: 12,t8-4,86Vo, bahan organik:
6,67-11,30Vo); Cianjur Selatan; Cineam, Tasikmalaya; Nanggung,
Bogor; Kec. Pagelaran, Cianjur.
Jawa Tengah: Mendawa, Kec. Bumiayu; Brebes; Desa Pingit,

I
93

92

yang rnenghasilkan panas.


Bahan penyannglfiher

Temanggung; Sangiran, Solo; Sumberlawang, Solo; Wadaslintang,


Wonosobo; Wonosegoro, Boyolali.
Daerah Istimewa Yogyakarta: Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta
(dalam bentuk tuf kaca yang dapat sebagai pengganti diatomea
den gan komposisi SiO z: 5 5,20Vo; NazO : 1,7 37o ; AlzO: : 1 6,80Vo ; KzO :
l,ljVo ; Fe2O3 : 3,307o ; CaO : 4,5 5Vo; H2O: 5,27 7a ; MgO : l,38%o).
Jawa Timur: Kabuh, Jombang (dengan komposisi: SiOz: 35,0-52,07o;

Adanya SiO2 yang tak larut dalam air atau minyak, diatomea
dimanfaatkan sebagai penyaring airlminyak kelapa.
Bahan pemutih

Dicampur dengan bahan perekat, diatomea dimanfaatkan sebagai


bahan pemutih pada industri keftas, cat tembok ataupun plamerlfiller.
Bahan keramik
Diatomea sebagai salah satu sumber silika sebagai pencampur bahan
keramik disamping itu dimanfaatkan juga sebagai isolator pada
industri elektronik, katal isator dalam laboratorium kimia.
Bahan penggosok logam

AlzO::

11,0-19,07o; Fe2Or: 4,0-6,OTa); Karangasem, Kriyan,


Mojokerto
Teknik Penambangan

Kandungan SiOz yang tinggi, menyebabkan diatomea dapat

Diatomea merupakan bahan galian yang lunak. pada umumnya

dipergunakan sebagai bahan penggosok logarn.

didapatkan dekat permukaan. OIeh karenanya sistem penambangan


dilaksanakan dengan sistem kuari, mempergunakan peralatan sederhana.

6. Yodium

yang halus atau diayak dengan ukuran yang dikehendaki. Sesudah


pengolahan dilakukan, baru dapat dimanfaatkan sesuai dengan

Yodium (iod.ine) merupakan unsur halogen yang terberat dan


aktip didapatkan pada tumbuhan laut dan mata airlsumber air garam
(brine). Yodium sebagai bahan galian berasosiasi dengan cekungan
minyak bumi dan gas bumi ataupun ada pada mata air garam. Yodium
terdapat bersama dengan bromium. Secara garis besar terjadinya
yodium diawali sewaktu bitumenal batuan berubah menjadi minyak
bumi, maka larutan yodium dan bromium kedalam air yang menyertai

kepentingannya antara lain:

minyak.

P e n g o lahan dan P e manfaatan

Diatomea yang diperoleh dari penambangan dilakukan sortasi


khususnya dipisahkan dari batuan yang lain dan dari bahan organik.
Sesudahnya lalu digiling dan dihisap untuk mendapatkan ukuran butir

Bahan bangunan

Diatomea dicampur dengan bahan perekat, kemudian dicetak tekan


dapat dimanfaatkan sebagai bata ringan ataupun wallboard. Bata

cetak tekan dengan diberi pori-pori dapat dimanfaatkan sebagai

dinding peredam.

Tempat Diketemukan

Bahan isolator/peredam panas

Karena sifatnya yang ringan, tidak terbakar, maka diatomea dengan


bahan perekat tertentu dapat dicetak sesuai dengan bentuk dan
ukuran. Salah satu penggunaannya untuk isolator pipa gas/cairan

Sumatera:

A. Conong, Langsa Aceh; Kesambah, Rejang;

Gemura,

Ngabang;

Jawa Barat: Tegalwaru, Karawang (per 1000 gram

air 71 mgr);
Ciraos. Karawang, Cibarusa Bekasi (3,4 mgr); Pondok Gedeh, Bogor
(17,0 mgr); Palimanan, Cirebon (31,0 mgr);
Jawa Tengah: Penasinan, Pemalang (13,0 mgr); Sogonerto, Weleri

I
95

94

o
a

Kendal; Selokaton, Kendal (57,0 mgr); Gebangan, Selokaton, Kendal


(68,0 mgr);
Jawa Tengah: Kroya, Banyumas (23,0 mgr); Bledug, Purwodadi;
Jawa Timur: Desa Citro, Lamongan (33,0 mgr); Karanganyar,

Sidoarjo (117,0 mgr); Pulungan Sidoarjo (131,0 mgr); Bulu G.


Kendeng (140,0 mgr); Kedung Wat, G. Kendeng (147,0 mgr);
Genukwatu G. Kendeng (103,0 mgr); Minid, Tuban; Watudakon,
Mojokerta (112,0 - 182,0 mgr).
Di Jawa Timur ada 3 antiklin yang potensial mengandung garam
beryodium yaitu antiklin utara melalui Lidah-Guyangan-Kedungwaru; antiklin tengah yang melalui Watudakon-Sekalputih dan
antiklin selatan. Mata air Puion yang juga mengandung yodium

diduga berhubungan dengan keadaan tersebut.


Kalimantan Barat: Sepauk, Sintang (74,0 mgr)

Teknik Penambangan

Yodium yang mempunyai nilai ekonomis diperoleh dengan


pengeboran. Yodium saat ini hanya diusahakan oleh pabrik yodium
dan eter PT. Kimia Farma Watudakon, Mojokerto yang merupakan
kelanjutan dari usaha sejak jaman Belanda. Hasil pemboran di
Watudakon yang dilaksanakan oleh PT. Kimia Farma tahun 1989
mendapatkan yodium 120 mgll.

7. Mangan
Mangan di Indonesia ditemukan pertama kali pada tahun 1854
didaerah Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat, tetapi pengusahaannya baru dimulai menjelang akhir abad yang lalu. Meskipun
tempat penemuan pertama di Karangnunggal tetapi endapan yang
diusahakan terlebih dahulu adalah yang terdapat di Kliripan, Kulon
Progo, Yogyakarta.

Endapan bijih mangan dapat terbentuk dengan berbagai cara


yaitu karena proses hidrothermal yang dijumpai dalam bentuk vein,
metamorfik, sedimenter ataupun residu. Endapan mangan sedimenter
merupakan endapan bijih Mn yang banyak dijumpai dan mempunyai
nilai eltonomis. "Manganese oolites" dan "manganese shales" terbentuk di lingkungan laut. Pirolusit yang merupakan salah satu anggota
kelompok senyawa Mn, dapat pula terbentuk karena proses pelapukan
bijih sejenis yang kemudian membentuk endapan residu. Dikenal 4
jenis mineral bijih yang mengandung Mn yaitu:
r Pirolusit: BMnO2, massa kristalin kompak, keras (nilai kekerasan 56), berwama abu-abu kehitaman. Dibawah mikroskop bijih pirolusit
mudah dibedakan dengan mineral mangan lainnya, dan wamanya
yang putih kekuningan, cemerlang, pemadaman lurus, belahan sejajar

o
Pe

ngolahan dan

Rumus kimianya Ba2 (MnO2)s = BazMnsOr6 berkilap logam (brilliant

P emanfaatan.

Bidang industri kimia

Sebagai bahan obat-obatan: emulsi fotografi, film, kertas dan sebagai


reagen
Bidang industri pangan
Untuk yodisasi garam dapur sebagai pencegah penyakit gondok
Pemisahan yodium dari air didasarkan atas perbedaan berat

jenis atau perbedaan suhu penguapan.

dengan bidang kistal dan anisotropi yang kuat. Selain sebagai


kumpulan kristal yang relatif kasar, pirolusit juga terdapat sebagai
kristal berbentuk jarum yang halus.
Hollandite(Ramsdellit)

mettalic), terdapat bersama-sama dengan pirolusit dalam massa


kristalin berbutir kasar. Di bawah mikroskop bijih kedua jenis logam
tersebut menunjukkan warna yang sama yaitu putih kekuningan,
perbedaannya pirolusit lebih cemerlang dibanding hollandite.

Disamping itu hollandite relatif lebih lunak dibanding pirolusit.


Kriptomelan
Rumus kimia &MnaOr6 = K2 (MnO)s. Di bawah mikroskop bijih
mineral ini terdapat dalam bermacam-macam bentuk antara lain
sebagai urat-urat kecil atau massa berserabut, kristal seperti jarum

91

96

berasosiasi dengan Au dan Ag terdapat sebagai rhodokhrosit); t-Ilis


Ayer (proses hidrothermal berupa urat kecil Polianite daiam batuan

berwarna abu-abu kebiruan atau lapisan koloidal konsentris

berselang-seling dengan lapisan yang berbeda warna, struktur bunga


es dan massa berbentuk.

Psilomelan

Rumus kimia (Ba HzO)z Mn5O1s. Merupakan massa masif keras


berwarna hitam. Dibawah mikroskop bijih psilomelan sulit dibedakan

dari kriptomelan. Baik bentuk maupun warnanya hampir sama.


Sedikit perbedaan ialah sifat anisotropi dimana psilomelan lebih
lemah dibanding kriptomelan.

Mangan di Jawa umumnya terdapat sebagai kantong dan lensa


dalam batu gamping yang terletak didalam atau di atas batuan
volkanik seperti tufa, breksi. Bijih mangan didapatkan sebagai
pirolusit, psilomelan dan wad (massa seperti tanah). Karena
kenampakan atau bentuknya didaerah penambangan Mn di Kliripan
orang mempunyai istilah setempat yaitu "meling" untuk pirolusit yang
tercampur kalsit menunjukan permukaan yang mengkilat dan "paku"
yang menunjukan seperti serat, secara mineralogi umumnya pirolusit
tetapi dapat pula psilomelan. Mineral ikutan yang sering ditemukan
adalah barit. Pada saat ini Mangan yang ditambang terbatas pada bijih
berkadar MnOz diatas 757o. Asosiasi pirolusit adalah psilomelan,
kadang-kadang rhodonit dan rodhokhrosit.
Tempat Diketemuknn

ditemukan Mangan Oksida sebagai bongkah.


Sumatera Selatan: S. Saelan, P. Bangka (kadar MnO2 :21,5oh).
Bengkulu: Gebang Ilir, Tambang Sawah (kadar MnO2 = 44,050 ),
proses hidrothermal, berasosiasi dengan Au, mineral berupa rhodonit,
rhodokhrosit, psilomelan, pirolusit, bustanit dan inesit).
Lampung: G. Pesawaran'Ratai (G. Waja Kedondong, G. Kasih); G.
Waja kadar = 60"/o, Kedondong Mn:2-7oh, G. Kasih Mn (a5-50%).
Jawa Barat: Cikotok Kab. Pandeglang (MnO : 9-32%), berasosiasi
dengan Au terdapat sebagai rhodonit, rhodokhrosit dan spartait);
Cibadong Kab. Sukabumi (kadar MnOz : 32-60% terdapat dalam
tufa dan breksi): daerah Karangnunggal Kab. Tasikmalaya (kadar
MnO2 : 45-90o/o, terdapat sekitar 13 lokasi mineralisasi); Cigembor
Salopa Kab. Tasikmalaya (kadar Mn 54,680/o; MnO2 : 83,34 terdapat
berupa bongkah-bongkah limonit mengandung Mn); Cikatomas Kab.
Tasikmalaya (kadar Mn : 50-52,43o , MnO : 66-910A, Mangan
berupa bongkah-bongkah terdapat pirolusit).
Jawa Tengah: Karangbolong, Kab. Banyumas (kadar MnOz : 60%,
terdapat sebagai pirolusit dan psilomelan berupa gumpalan oolitik
dalam batu gamping); Ngargoretno, Salaman, Kab. Magelang (kadar

Aceh: Karang Igeuh (indikasi berupa rodhonit, proses hidrothermal).

80oh, sebagai pirolusit berbentuk lensa); Bapangsari,


Purworej o Kab. Purworej o, Cengkerep Semanggung, Purworej o.

Lhok Kruet, Calang Aceh Barat (kontak metasomatik

Daerah Istimewa Yogyakarla: Kliripan dan Samigaluh Kab. Kulon

berupa

(psilomelan didaerah patahan/hidrothermal).


Sumatera Utara: Pantai timur (kadar Mn3O4 = 7,9Va dalam bog iron,
berupa konversi dari besi rawa dengan kadar Mn3O4 = 13,5-20,lVo);
23 k{n sebelah timur laut Natal (berupa bongkah oksida mangan

berukuran sampai 50 cm, tampak berlapis dan terbentuk karena

MnOz

pirolusit berasosiasi dengan bijih besi); Kapi, tenggara Blankejeran

diabas); S. Lumut, Singingi Riau (proses hidrothermal, bijih Mn


berupa sedimen dalam breksi); Belang Beo (proses hidrothermal

replagement batuan chert radiolaria);

Sumatera Barat: Mangani (proses hidrothermal dalam urat breksi

Progo (Kliripan kadar Mn : 25Yo; Samigaluh MnO2: 57,75o/o


terdapat dalam bentuk pirolusit dan psilomelan); daerah Gedacl,
Batuwamo, Eromoko Kab. Wonogiri (Gedad, kadar Mn : 58,5yo,
MnO2 : 92,10o/o, Baturetno kadar MnO2 : 82,74o/o, kadar Mn total
52,28o/o, Eromoko kadar MnO - 78,31o/o, kadar Mn total 49,48oh
terdapat sebagai lensa diantara batu gamping dan Farmasi Andesit
Tua); daerah G. Kidul (kadar MnO2 : 27,19o/o, kadar Mn total :
23,5oA, terdapat di Kepuh, Ngepek, Ngejring, Ngagli( Kutuan dan

98

99

Selonjono Timur.

thermal,/berupa urat-urat halus bersama mineral/kuarsa.

Jawa Timur: Pacitan dan Ponorogo (Nambakan kadar Mnz = 3,0Vo,


Tambah kadar Mn = 4,5Vo berupa pirolusit sebagai lensa diantara
batu gamping dengan batuan volkanik/tufa; Ngrandu kadar Mn =

Kalimantan Selatan:

6,6Vo; G. Gede kadar Mn =


60,55%o;Dawng kadar }l4.n=58,26Vo; Klumpit, kadar Mn = 58,55Vo;
Banyumuntah kadar Mn = 53,517o; Bukul kadar Mn = 49,O4Vo; G.
Kembar kadar Mn = 60,55Vo; Cikuli, kadar Mn = 57,6-57,97o; Goro
kadar Mn = 57,82Vo); Blimbing, Pupung. Kab. Ponorogo (kadar Mn
= 59,52 dalam bentuk pirolusit); Panggul. Kab. Trenggalek (sebagai
psilomelan berupa lensa diantara batu gamping dan batuan
vulkanik/tufa); G. Kuncung, G.'Tumpak telor, Serut Kab. Trenggalek
(sebagai piroksit dan psilomelan berupa lensa dalam batu gamping
dan batuan volkanik, di G. Kuncung kadar Mn = 56,667o; Serut kadar
Mn = 39,007o; Tumpak Gumaewang kadar Mn = 60.317o; Gelang
kadar mn 47 .19; G. Prongos kadar Mn = 59,787o; Belih Gondangan
kadar Mn = 59,95Vo; Gelang kadar Mn = 47,19; Belik kadar Mn =
54,8l%o; Irmpung kadar Mn = 30,67%oi Danah kadar Mn = 46,76Vo;
Kompal, Ampelgading kadar Mn = 35,68Vo; Daerah Blitar (G. Jimbe,
kadar Mn - 6,4-5,l%o; G. Puncak Asem kadar Mn = 5,6Vo; G.
Cemenung kadar Mn = 4,7Va Kec. Wlingi kadar Mn = 6-6,75Vo
semuanya sebagai piroksit dan psilomelan; Sukorejo dan Tenggong
Kab. Tulung Agung (Sukorejo kadar Mn = 4l,42%o sebagai pirolusit
dan psilomelan berupa lensa-lensa tipis diantara batu gamping dan
batuan vulkanik/tufa; Tenggong (kadar Mn = 34,24Vo); G. Rajak dan
Kalirejo Kab. Malang (kadar MnOz = 5}90%o;berupa Mangan dalam
bentuk lensa); Puger Kab. Jember (Bedug I dan" tr kadar Mn = 2,l%a
sebagai pirolusit dan psilomelan dalam bentuk lensa diantara batu
gamping dan batuan vulkanik/tufa; Karangbale kadar Mn = 31,856,7Vo; G. Maroondon Sekunir kadar Mn = l3,8%o; G. Sadeng kadar
Mn = 18,87o).
Kalimantan Barat: Lumar, Kab. Sambas (kadar Mn = 14,94-56,42Vo
terdapat berupa sedimen dan urat dalam tufa terhadap rhodonit,
5,0Va; Sempor kadar

Kalimantan Timur:

daerah Pengaron, Martapura (kadar


MnOz =70- 40Vo, proses hidrothermal dan sedimen); S. Tawao Kab.
B irayon g (proses hidrothermal kontak berupa bon gkah-bon gkah).
Nusa Tenggara Barat: Teluk Maja, Kab. Sumbawa berupa bongkah
mangenit; Pada Kab. Binoa terdapat bersama limonit.
Nusa Tenggara Tirmrr: Kab. Manggarai, Flores; P. Roti (kadar
Mn3Oa = 69,l%o berupa bongkah bijih besi dan konkresi bijih Mn);
Sebelah timur Kupang Timor; Ole Manenak, Kupang Timor terdapat
sebagai lensa kecil pada batulempung, Trias; Tanini, Kupang Timor
(ditemukan pada sungai sebelah timur Bukit Tanini); sebelah selatan
Kupang Timor; Ikan Foti; Amarasi, Kupang Timor (kadar MnO2 =
85,l5%o berupa bongkah pirolusit dan nodul hasil endapan laut
dalam); Niuk Baun Amarasi kadar MnOz = 85Vo terdapat sebagai

Mn =

rhodokhrosit).

G. Bambu, Muara Ancolong

(proses hidro-

B. Besi,

lensa; Moil Tobe (sebagai lapisan antara tanah liat dan serpih
pasiran); Busleo sebelah timur Niki-niki berupa konkresi pada
komplek Babonaro; antara desa Ponu dan Kaubeleh sebelah barat
Atapupu berupa konkresi pada komplek Babonaro; Oe Ekam, Oe
Baki Babuin Kalbanu Kab. Timor Tengah.

Timor Timur: Kab. Viquequel (berupa pirolusit dan manganit


berkadar tinggi terdapat di Batukerbau Vemase, Buibau dan Seisal);
Venilale (hasil endapan laut dalam berasosiasi dengan fosfat marin);
Selatan Airu Condor.

Sulawesi Utara: Tanjung Tarowitan Minahasa (berupa butiran


mangan terserak ditanah, kadar Mn = 32,42Vo); Molosipat berbentuk

psilomelan.

Sulawesi Tengah: Tawangko, Tona (sebagai psilomelan dalam


bongkah kuarsa).

a
a

Sulawesi Selatan: Wonomulyo, Polewali; Liburung, Bone; Ternate,


Riaja terdapat dalam batu gamping dan batulanau.
Sulawesi Tenggara: S. Rumu, Wapowaru berupa bongkah.
Maluku: Kec. Laloda dan Galela (terdapat di daerah Supu, Pasawani,
A. Pacao, A. Keretalamo; A. Salu, A. Doitia, A. Pitan sebagai
pirolusit dan psilomelan sebagai bongkah disungai; P. Batanta berupa

il
101

100

psilomelan dan pirolusit terdapat pada batas urat porfir dan kuarsa;
Kp. Waturen, Tg. Fatufat, P. Buru (berupa fragmen pirolusit berupa
lapisan tipis dalam batu gamping); P. Doi, P. Dongasuli (kadar MnO2
: 35-75,86o/o berupa pirolusit dan psilomelan sebagai lapisan tipis
pada batas tufa); Waigeo, mangan ditemukan bersama kobalt
merupakan lapisan penutup pada nikel.
Teknik Penambangan
Penambangan Mangan ditentukan oleh letak deposit yang
bersangkutan. Apabila depositnya terletak di dekat permukaan, teknik
penambangan dengan sistem tambang permukaan/terbuka lebih sesuai
ditrapkan. Apabila depositnya terdapat jauh dipermukaan maka,
pembuatan sumuran yang dilanjutkan dengan sistem gophering lebih
sesuai seperti yang telah dilakukan di daerah Kliripan Kecamatan
Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.

Pengolahan dan Pemanfaatan

.
.

Brjih Mangan (Mn) 95% dimanfaatkan untuk industri baja. Kegunaan


lain adalah untuk industri kimia, batere kering, korek api, gelas, cat,
bahan celup, pupuk dan lainJain.
Khusus Mangan untuk pembuatan batere kenng persyaratan yang
harus dipenuhi adalah seperti diuraikan pada Tabel 7 (Industrial
Minerals, Juli 1985).

Di Amerika dikenal 3 jenis bijih Mangan grade

batere yakni: Grade

A (milrter), grade A (komersial) dan grade B (komersial)

o
.
o

Grade

A untuk militer sekurang-kurangnya blih mengandung kadar

oksrgen yang setara dengan 85% MnOz

Grade A komersial mengandung sekurang-kurangnya 75oh MnO2,


timbal maksimum 0,5%o, besi maksimum 3,07r, logam berat selain Fe
dan Pb total 0,57o, bahan yang tak larut total 10%o, Mn total
maksimum 48o,PH antara 4-7
Grade B komersial mengandung kadar Oksigen sekurang-kurangnya
setara dengan 68% MnO2.

Catatan tentang batere kering


Batere kering atau istilah tekniknya sel Leclanche ferdin dari
bagian luar berupa selubung seng berfungsi sebagai wadah yang diisi
dengan pasta elektrolit yaitu suatu campuran yang terdapat mangan
dioksida, cairan amonium khlorida, seng khlorida dan serbuk grafit.
Pada bagian tengah terdapat sebuah batang karbon yang berfungsi
sebagai penghubung arus listrik antata anoda (selubung seng) dan
katoda (pasta elektrolit). Energi listrik timbul bila kedua elektroda
berada dalam keadaan berhubungan dengan larutan berair. Pada waktu
pelepasan listrik gas hidrogen terlepas dari elektrolit, terbentuk pada
katoda. Bila gas hidrogen tersebut tidak segera dihilangkan, maka
akan segera menyelaputi elektroda karbon dan mempolanisir batere.
Akibatnya luas permukaan efektif elektroda menjadi berkurang dan
tenaga batere turun. Dalam hal ini mangan dioksida dalam batere
kering berfungsi sebagai depolarisator. Oksigen yang terdapat dalam

mangan dioksida bereaksi dengan hidrogen membentuk air dan


dengan demikian hubungan antara elektroda dengan larutan berair
tetap dipertahankan.

Tabel 7. Persyaratan bijih mangan untuk batcre kering


Kadar oksigen sebagai

Mn

MnO2

total

Kelembaban

Fe
Silikon sebagai SiO2
Pengotor logam lain

Besi sebagai

- 85%

|
I

48 - 58%

l-SU

|
|
|

0,2 - 3%
0,5 - 5%
0,1 - 0,2%

75

Agar memenuhi fungsinya sebagai depolarisator, mangan dioksida yang digunakan harus memiliki sifat tertentu yang menonjol.
Penyelidikan yang dilakukan oleh Electrochemical Society di ll-S'A.
menunjukkan bahwa sifat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain struktur kristal, luas permukaan, penyebaran ukuran pori,
bentuk dan ukuran partikel, penghantaran listrik, keadaan permukaan,
komposisi kimia, macam pengotor dan cacat dalan-r struktur. Sifat fisik

il
t02

103

yang penring ialah bijih harus mempunyai strukrur kristal yang


buruk
(struktur gamma) dan harus keras tetapi sarang. untuk kJperluan

pembuatan batere kering mangan dioksida yang digunakan


dapat
mangan dioksida alam (biji), mangan dioksida buatan ituo .urnpurun

dari keduanya. Dialam terdapat rebih dari 20 minerar *urgo,


dioksida. Diantara minerar tersebut hanya beberapa mineral yang
cocok untuk batere kering antara lain:
o Kelompok kriptomelan, hollandit (a-Mno2). Ada dioksida
kriptomelan yang dapat dipakai untuk bahan batere kering yang
menghasilkan kinerja yang cukup bagus dan dengan daya tahan yang
lama.

Pirolusit (F-MnOz), pada umumnya merupakan depolarisator batere


yang buruk. Beberapa pirolusit memberikan daya guna dengan
daya

tahan lama boleh jadi karena adanya sisa magnit (o_MnOOHl


Ramsdelit, sebagai ubahan dari groutif (o-MnOOH), bukan
depolisator yang baik. mungkin komposisinya selalu mendekati ke

mangan dioksida yang stoichiometric.

Nsutit (y-Mno2), bersifat non stoichiometric dan sarang memberikan


daya guna yang baik.

Birnessit (6-MnO2), salah satu mineral yang paling banyak


ditemukan dalam bintil mangan dasar samodra. Bahan ini
memberikan daya guna yang baik untuk batere biasa dan relatif
memberikan daya guna yang unggul dalam pemakaian heaw dut,n.
Todoraktif [(Mr*t, Zn,Mf ,Ba, Sr, Ca, K, Cu, pb)r Mn*a16O3] adalah
mangan umum. Terdapat sebagai endapan mangan didarat juga
merupakan salah satu mineral utama dalam bintil mangan dasur iout.
Mineral sekunder dibentuk melalui atau oleh aksi air meteor yang
dingin, penggantian batu garnping. sebagian terbentuk oleh pelapukan dan ploses hidrothermal.

Mangan dioksida buatan adalah mangan dioksida yang dihasilkan oleh proses kimia dan fisika. Dalam industri baiere kering
jenis mangan dioksida buatan yairu:
Mangan dioksida elektronik = Electrolitic Mangan Diokside EMD.
=
Jenis ini dibuat dengan elektrolisa larutan mangan sulfat. Larutan

dikenal

'

MnSO+ dibuat dari rodokrosit (MnCOr) atau dari mangan dioksida.


Mangan karbonat akan lebih baik karena mudah larut dalam asam
sulfat. Pemakaian bijih mangan -dioksida baru ekonomis bila kadar
MnOz lebih dari l5%o.Bijlh dipanggang dan direduksi menjadi MnO
agar dapat larut dalam asam sulfat.
Mangan dioksida yang diaktifkan secara kimia = Chemical Mangan

Diokside

= CMD. Merupakan jenis mangan hidrar buatan

yang

diperoleh dengan penguraian thermal senyawa mangan selain oksida,


misal mangan nitrat. untuk menghasilkan oksida padat yang halus.
. Mangan hidrat buatan diperoleh dari permanganat, bersifat sangat
reaktif.
Mangan dioksida buatan kebanyakan digunakan dalam batere
kering terutama dari jenis batere manganis alkali, premium atau heavy
duty dan sebagai campuran dengan bijih alam untuk batere Lechlanche
biasa. Pencampuran ini dimaksudkan untuk meningkatkan tegangan
jepit dan waktu tegangan.

8. Feldspar
Feldspar merupakan kelompok mineral/mineral dengan komposisi alumunium silikat, potasium (kalium), sodium. (natrium)
kadang-kadang Kalsium. Feldspar terjadi selama proses'kristalisasi
magma baik melalui proses pneumatolytic ataupun proses hidro-

thermal dalam urat pegmatik tetapi jarang terjadi karena proses


kristalisasi larutan magma pada suhu rendah. Feldspar merupakan
mineral pembentuk batuan beku terutama pada batuan beku dalam
Qtlutonicroc,t) yang bersifat umum tetapi terdapat pula pada batu4n
erupsi ataupun metamorf. Pada batuan granit, feldspar berasosiasi
dengan kuarsa, mika, khlorit, beril dan rutil sedang pada batuan
pegmatit feldspar berasosiasi dengan kuarsa, mika dan topas. Mineral
feldspar yang paling umum adalah ortoklas (K Al Si3 Os), mikroklin
(K Al Si3 Os) dan plagioklas feldsparseris (yang terdapat seri Albite,
Oligoklas, Andesin, Labrodorit, Bytownite, Anortit dengan rumus
Ca Alz Siz Os
kimia Na Al Si3 08
Pada dasarnya feldspar mempunyai jaringan struktur tiga

T
104

105

dimensi yang disebut tektosilikat dan mempunyai 4 atom oksigen


yang membentuk silikat (SiO4) tetrahedral. mempunyai wama cerah.
Silikat ini dapat mengalami perubahan oleh unsur alumunium yang
membentuk alumunium silikat. Sifat fisik feldspar antara lain berwarna putih, keabuan, hijau muda dan kuning kotor, nilai kekerasan
6,0-6,5 (dan dipakai sebagai skala kekerasan Mohs), berat jenis 2,42,8 dengan titik lebur 1.100-1500" C. Feldspar yang dapat ditambang
dan bemilai ekonomis adalah jenis:
. natrium (sodium) feldspar:Na Al Si: Oa
. kalium (potas) feldspar : K Al Sir Os
o kalsium feldspar
: Ca Alz Si: Oa
Feldspar sering juga didapatkan dalam bentuk endapan yang
terjadi karena proses diagenesa dari endapan piroklastik halus yang
bersifat asam (riolitik) dan terendapkan dalam lingkungan lakustrin
yang umufirnyaberada dalam cekungan Tersrer.

Sungai Alas, Kab. Muara Enim (pada batuan lipanit); S. Semendo


Fajar bulan Kab. Muara Enim (pada batuan pegmatit); S. Payung,
Palembang (dyke dalam batuan granit).
Lampung: Wai Pubian (cukup baik untuk bahan baku keramik); Wai
Gua (terdapat dalam batuan granit); Wai Sulan (didapatkan pada
batuan granit pegmatit dan granit aplit).
Jawa Barat: Cikembar, Kab. Sukabumi (pada batuan tufit)

Jawa Tengah: Kebutuh duwur, Kebutuh jurang, Banjarnegara


(sebagai komponen pada batuan metasedimen.

Jawa Timur: Desa Pojok, G. Slemer, Kab. Trenggalek (pelapukan


tufa dasit pada Formasi Andesit Tua; SiOz > llVc, FeOr < 27o); G.
Banjiran, G. Sapu dan G. Jabung Sliwer Trenggalek (sedimentasi dari
tufa dasit dalam Formasi Andesit Tua, SiOz > 707c, AlzO: > l07c;
FezOr > 17o); Wonotirlo, Pasiraman Kab. Blitar; Ngeni, Kab. Blitar
(pelapukan dari tufa riolit pada Formasi Wuni yang berumur Miosen,

cukup baik untuk bahan keramik halus); Kalitengah Kab. Blitar


(pelapukan tufa riolit, pada Formasi Wuni yang berumur Miosen),
Wonosari, Pagergunung Kab. Malang (pelapukan tufa riolit);
Banjarsari; Gampingan Kab. Malang (pelapukan tufa riolit); Pantai
Utara Bondowoso Kab. Bondowoso (pelapukan tufa rioli0;

Tempat Diketemukun
Daerah Isimewa Aceh: Rampelan dan Ampokolak, Kec. Rikitgaik,
Kab.Aceh Tenggara (terdapat pada batuan leukogranit, dapat dipakai
sebagai bahan keramik halus), Kendawi, Kec. Blangkejeran, Kab.
Aceh Tenggara (dalam batuan pegmatik yang menerobos sekis, jenis
mineralnya mikroklin berasosiasi dengan kuarsa dan mika, cukup
baik untuk glasir dan keramik halus), Tutong Sawah (sebagai retas
aplit dan batuan granit yang berumur Pra Tersier).
Sumatera Utara: Pantai timur (Pangkalansusu, Tg. Balai); Sungai
Biang; Danau Toba, Tonggiring, Tapanuli Utara (didapatkan pada

batuan liparit); Sibolga, Tarutung, Balige, Tapanuli Utara (pada

Wonosidi, Ketro, Pacitan (baik untuk keramik).


Kalimantan Barat: G. Buduk, Kab. Sanggau (baik untuk keramik,

merupakan retas pegmatik pada granit); Balai Karangan Kec.


Sekayam, Kab. Sanggau (pelapukan dari tufa dasitik); Pandan
Sembuat Kutayan Hulu, Kab. Sanggau (berupa urat berwarna putih

'
a
a

kehijauan pada batuan granit)


Nusa Tenggara Timur: Kab. Ende, Kolowan (pada nrbuh granit)

Sulawesi Utara: Kec. Tapa Kab. Bolaangmangandow (dyke pada

batuan granit)

batuan asam)

Riau: Kec. Sibarida, Kab. Indera Giri Hulu; Pasir Panganrayan Kab.
Inderagiri Hulu (pada batuan granit).
Sumatera Barat: Sulit Air (pada batuan Syenit/Granit); Lundar, panti

Sulawesi Tengah: Dende Kab. Donggala (pelapukan granit merupakan granit, endapan pantai); Benawi, Kec. Labezm Tombo, Kab.
Donggala (pelapukan granit merupakan endapan pantai); Sibualang
Kab. Donggala (pelapukan granit, endapan pantai); Budi Mukti Kab.
Donggala (endapan pantai) Tambu (endapan pasir pantai terdapat

(pada batuan granit).


Sumatera Selatan: Gunungbatu, Palembang (pada batuan tuf trachit);

t
106

o
.

t07

pasir k-uarsa dan feldspar pelapukan granit)

Sulawesi Selatan; Timur laut Kab. Maros (mineral/orthoklas pada


retas trachit)

Irian Jaya: pantai barat P. Tamagoei (merupakan dyke aplit)

Jaw crusher

Teknik Penambangan
Penambangan bahan galian feldspar dapat dilakukan secara

tambang terbuka dalam bentuk kuari dengan sistem teras (bench

system) atau tambang dalam. Feldspar yang diperoleh dilak-ukan


pemilihan/penyortiran (hand sorting) untuk selanjutnya diolah sesuai
keperluan.
solar

Pe

ngolahan dan

P emanfaatan

Pengolahan feldspar dimaksudkan untuk menghilangkan/menurunkan kadar mineral pengotor seperti besi, biotit, turmalin, garnet,
mika/muscovit dan kuarsa. Pengolahan dapat dilakukan secara sederhana dengan penggilingan, pencucian, dan pengayakan. Penggilingan
dapat dilakukan denlan pan mill atau pebble mill. Cara lain dalam
pengolahan feldspar rnodel floatasi brjih (froth floatation) yaitu proses
pemilahan partikel halus dan partikel kasar dengan memanfaatkan
sifat fisik dan kimia antara batas fase padat (mineral), fase air (media)
dan gas, sehingga diperoleh mineral berharga yang disebut konsentrat

(yang dalam hal ini berupa buih/busa). Proses pengolahan ini


dilakukan secara bertahap, yaitu dengan mengapungkan mineral
pipihimika terlebih dahulu dan kotoran besinya dihilangkan dengan
pemisah magnetis (magnetic separator) atau dengan pelarut H2SO4.
Proses ini dapat memisahkan secara selnpurna antara feldspar dengan
kuarsa, mika-dan oksida besi. Keberhasilan dari proses ini ditentukan
oleh penentuan segmen kimia yang sesuai untuk dipergunakan dalam
pengolahan tersebut. Bagan alir pengolahan feldspar secara floatasi
buih adalah pada Gambar 5.
Mutu feldspar ditentukan oleh oksida kimia seperti K2O dan
NazO. Kalau kandungan oksida tersebut relatif tinggi (>67o), bahan

amine

t----------asetat-l

fG**" jI
_____T__________

-l

t1,il:xl,
i

Penghilangan besi (pemisahan

besi/larutan besi

MagnetiVpelarut H:SOr)

Dibuang

hidroflor-l
asetat
pineoil J
asam

amine

l=oot^'[_}--I tpH, z,s - ll

Pasir kuarsa

=I_o"ro,;;*,---l

_l

i
..-",*- I
f----r.--."*
Y

Produk feldspar mumi

Gambar 5. Bagan alir pengolahan feldspar

il
108

tersebut digolongkan jenis feldspar. Selain itu ditentukan pula oleh


oksida pengotor yang terdapat dalam bahan baku feldspar seperti
FezOr dan TiOz.

Feldspar digunakan dalam berbagai industri seperti industri


keramik, gelas dan kaca lembaran.

BAB V

Industri keramik
Spesifikasi feldspar untuk keramik (Str. No. 1145, 1984)
I

Jenis industri

Oksidasi
Porselen

6 - t5

K2O + Na2O
Fe2Oj

Ti02
CaO

0,5

Gerabah halus padat

SaniterTo

0,5

ol

7o

15

0,7
0,7
0.5

7o

- t5
0,8

{
I

t,0

t
I
I

Industri gelas
Spesifikasi feldspar untuk industri gelas:
68,00 - 69,99

>ll
>il

Al2O3 (Vo)

KzOzNaz(Vo)
FezOt (Vo)

Ukuran

0,t -0,2

butir + 16 mesh (maksimum)

nol

+ 20 mesh (maksimum)

l7o

(maksimum) :25Vo
Spesifikasi feldspar untuk industri gelas "amber" (berwarna coklat)
Kalium feldspar (7o) :99,5 (-20 mesh)
FezOt (7o)
:0,05 (maksimum)

KzO (7o)
AlzOt (7o)

Silika bebas

100 mesh

:>

(7o)

CaO (7o)

KzO(7o) :>10

OBSIDIAN

Merupakan "ienis batuan beku luar, hasil pembekuan magma


yang kaya silika. Pembekuan terjadi demikian cepat sefiingga mineral
pembentuknya tidak sempat mengkristal dengan baik dan kedudukan
kristalnya tidak beraturan. Obsidian kebanyakan bdrwarna putih
keabu-abuan hingga hitam, kadang-kadang ada garis merah kecoklatan dan hitam. Dijumpai pula obsidian yang berwarna kehijauan, ungu

ataupun warna perak. jenis ini dikenal dengan obsidian pelangi.


Obsidian dengan silika sebagai komposisi utama mempunyai kekerasan lebih dari 6 menurut skala Mohs, berat jenis 3-3,5, rnempunyai sifat
pecahan konkoidal. Menurut reaksi Bowen, mineral silika akan melebur pada temperatur 700" - 800' C.
Tempat Diketemukan

10

:>18
: 6 (maksimum)

:2 (maksimum)

Spesifikasi feldspar untuk industri kaca lembaran

Al2O3(7o):>18
FeOt(Vo) : < 0,8

I.

SiOz$o)

RAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKAIT.


AN DENGAN BATUAN GUNUNG API

Kebanyakan obsidian didapatkan sebagai batuan beku luar pada

jalur gunung api di [ndonesia yang berumur relatif rnuda (Pleistosen

Kuarter). Ter-npat diketemukannya obsidian antara lain:


Jarnbi: G. Cianturrg, S. Purgut dan S. Penuh (pada batuan lava

o
o

andesit)
Jawa Barat: Nagreg Kab. Bandung (berupa sisipan dan bongkah pada
batuan tras); G. Cian-ris Kab. Gamt (terdapat selang-seling dengan

I
1il

110

perlit diatas andesit); Ciasmara Kab. Bogor; Leuwiliang, G. Kiaraberes, kurang lebih 6 km sebelah barat G. Salak (merupakan lava dan
kurang lebih panjang 2 km dan aliran lava yang merupakan susunan
balok berwarna abu-abu dengan steroida); Terogog, Priangan (singkapan 100 - 150 m panjang, tebal 1-5 m); Anyer, G. Barengkong

o
o
r
o

sebelah selatan/barat Barengkok, Banten.


Lampung: Pulau Krakatau, Pulau Panjang, Wai Seputih (meiupakan
singkapan bulat sepanjang I km).
Kalimantan: dekat Sampit
Sulawesi Utara: Tataaran, Tomohon Kab. Minahasa
Irian Barat: P. Namotote

Teknik Penambangan
Dilakukan dengan sistem kuari dengan peralatan sederhana.
Karena obsidian merupakan tubuh batuan yang keras, pada tahap awal
penambangan untuk memperoleh blok-blok yang cukup besar dimulai

H alfe de

Is te

ne

n) batu kelas [V.

Bahan perlit rekayasalartificial perLit


Perlit anificial dapat direkayasa dengan bahan baku dari obsidian
(Sukandamrmidi, 1983). Dari penelitian dengan bahan baku obsidran
dari Nagreg sesudah dipanaskan dengan oven selama 90 menit pada
temperatur 1000" - 1 100' C terjadi perubahan sebagai berikut:
semula warna hitam berubah meniadi putih keabuan

I
i volume berkembang menjadi 5 kali lipat
r berat jenis yang semula 3,35 menjadi 0,6
o selama terjadinya perubahan warna, keluar air dari massa batuan,
dan batuan menjadi berpori dan lengket antara fragmen yang satu
dengan yang lain

Dengan demikian maka artificial perlit beratnya menjadi sangat


kurang dengan kekuatan yang tinggi. Oleh sebab itu perlit hasil
rekayasa dari obsidian, dapat digunakan untuk bahan beton ringan
ataupun dinding peredam dan isolasi panas.

proses peledakan.

2. PERLIT
Pengolahan dan Pemanfaatan

o
o

Obsidian mempunyai wama indah dan keras, disamping itu mudah


dibentuk. Pada jaman Prasejarah, manusia purba memanfaatkan
obsidian untuk senjatalkapak atau "titikan" penimbul api.
Bangunan

Karena sifatnya yang keras dan sangat resisten, obsidian dapat


dimanfaatkan sebagai fondasi bangunan. Obsidian tidak porous, hal
ini mengakibatkan daya rekat semen menjadi berkurang. Obsidian
apabila dipecah mempunyai sifat konkoidal dengan pinggiran yang

tajam. Oleh karenanya dalam pengerjaannya harus hati-hati.


Bahan batu mulia

Karena sifatnya yang kompak, beberapa jenis berwarna terang dan


transparan obsidian dapat dibentuk menjadi batu mulia. Menurut

klasifikasi Kinge, obsidian termasuk batu mulia

tanggung

Perlit terbentuk
dengan tekanan yang
adalah mineral silikat
steroida kecil, ringan.

karena pembekuan magma asam yang tiba-tiba

tinggi dalam suasana basah. Komposisi utama


berbutir sangat halus, terbangun oleh steroidaWarnanya abu-abu muda hingga abu-abu kehi-

taman. Perlit ini bila dipanaskan bertahap hingga mencapai suhu


antara 950-1050' C, akan mencapai perkembangan isi yang tetap dan
maksimum. Sifat perkembangan ini sangat penting untuk penggunaannya sebagai bahan baku pembuatan bahan bangunan ringan.
Menurut hasil penelitian perlit yang baik mengandung SiOz707o, air
2-5Vo,Na dan K sebanyak 5-8Vo berat. Dengan susunan ini perlit akan
mempunyai suhu kelembaban/pencairan rendah demikian pula suhu
pemuaiannya tidak jauh berbeda. Banyaknya air yang dikandungnya
akan berpengaruh terhadap pemuaian. Air yang terlalu banyak akan
mengakibatkan desintegrasi. Berat jenis perlit sebelum diolah/dipanaskan antara l,10-2,50, setelah dipanaskan menjadi 0,11-0,15.

112

l13

Tempat Diketemukan

dan dasit sebagai erupsi celah pada Plio-Plistosen)

Jawa Barat: Ciasmara Kab. Bogor (nilai ekspansi l27Vo terdapat


sebagai fragmen dalam breksi lahar dan aliran lava gelas volkanik);
G. Kiamis Kec. Samarang Kab. Garut (nilai ekspansi ll9%o terdapat
berselang-seling dengan obsidian diatas breksi); Santrijaya Kec.
Karangnunggal Kab. Tasikmalaya (terdapat sebagai aliran gelas

Seperti halnya obsidian, perlit didapatkan disekitar gunung api


yang berumur relatif muda. Tempat diketemukan antara lain:
o Sumatera Utara: Pansur Napitu, Kec. Silindung Kab. Tapanuli Utara
(prosentase nilai ekspansi I 58,3Vo terdapat sebagai bongkah-bongkah
dalam tufa dan berasosiasi dengan obsidian)

o
o
e
o

Sumatera Barat: Bukit Rasam, Kec. Lubuk Sikaping Kab. pasaman


(prosentase nilai ekspansi maksimum 5l,5l7o HzO 0,03' ',r, minimum
50,007o HzO 2,837o terdapat sebagai bongkah dalam tufa); Bukit
Sipinang Kec. Sepuluh Koto, Singkarak Kab. Solok.(prosentase nilai
ekspansi 947o terdapat sebagai bongkah dalam tufa dan berasosiasi
dengan obsidian); Bukit Batu Kambing, Kab. Solok (nilai ekspansi
maksimum 63,15%o H2O 0,057o, minimum 8,50Vo H2O l,12%o
terdapat dalam Formasi Andesit)

Jambi: S. Tutung Kec. Air Hangat, Kab. Kerinci; G. Gantung S.


Purgut dan S. Penuh (nilai ekspansi l00Vo terdapat dalam satuan
batuan lava andesit)

Bengkulu: Bukit Naning, Kotadonok, Bengkulu (terdapat dalam


benmk bongkah dialiran sungai terdiri breksi vulkanik)
Sumatera Selatan: Gunung Batu dan Uladanau, Kec. Pulau Beringin,
Kab. Ogan Komering Ulu (nilai ekspansi maksimum 75Vo sebagai
fragmen dalam breksi tufa);

volkanik dalam tufa dasit-andesit dan sebagai fragmen dalam breksi.


Nusa Tenggara Barat: Dorodonggamasa Kec. Sape Kab. Bima (nilai
ekspansi 300Vo, sebagai gang dalam andesit).

Sulawesi Utara: Tataaran Kec. Tomohon Kab. Minahasa (nilai ekspansi 1767o terdapat sebagai sisipan dalam aliran lava gelas volkanik

riolitik
Teknik Penambangan
Dilakukan dengan sistem tambang terbuka. Karena perlit
merupakarf bahan galian lunak penambangan dilakukan dengan alat
sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Perlit disamping didapatkan dialam, dapat pula

Lampung: Mutar Alam Kec. Sumberjaya Kab. Lampung Utara (nilai


ekspansi 16,21-269Ea, berasosiasi dengan tufa riolit dan dasit dalarn

graben Gedongsurian); Gedong Surian, Kec. Surnberjaya Kab.


Lampung Utara (berasosiasi dengan tufa riolit dan dasit dalam graben
Gedongsuriiur); Suwoh Kec. Belalau Kab. Lampung Utara (nilai
ekspansi maksimum 68,757o, berasosiasi dengan dasit, tufa breksi,
sebagai hasil erupsi Plio-Pleistosen pada sesar Semangko/Graben
Suwoh); G. Asahan, desa Pumawiwitan Kec. Sumberjaya Kab.
Lampung Utzra (nilai ekspansi 100-200Vo); Antatai (berwama hitam
perlitik kompak); Penaga/tepi pantai berwarna hitam keabuan perlitik
kompak); G. Muhul Kec. Belalau Kab. Lampung Utara (nilai
ekspansi maksimum 329To,berasosiasi dengan tufa breksi, lava riolit

direkaya-

sa/dibuat dari obsidian derrgan pemanasan


Bahan bangunan

Perlit dimanfaatkan sebagai "very light aggregate" untuk beton atau


bata cetak yang sangat ringan. Disamping itu perlit dapat pula
meninggikan daya isolasi terhadap panas dan suara/peredam, tetapi
mempunyai daya tekan rendah.
Dalam bentuk ukuran pasir dipergunakan untuk penyaring air.

3. PUMICE/BATU APUNG

'

Pumice terjadi bila magma asam muncul ke permukaan dan


bersentuhan dengan udara luar secara tiba-tiba. Buih gelas alam

114

115

dengan gas yang terkandung didalamnya mempunyai kesempatan


untuk keluar dan magma membeku dengan tiba-tiba. Pumice umumnya terdapat sebagai fragmen yang terlemparkan pada saat letusan
gunung api dengan ukuran dari kerikil sampai bongkah. Pumice
umumnya terdapat sebagai lelehan atau aliran permukaan, bahan lepas
atau fragmen dalam breksi gunung api. Batu apung dapat pula dibuat
dengan cara memanaskan obsidian, sehingga gasnya keluar. Pema-

nasan yang dilakukan pada obsidian dari Krakatau, suhu yang


dipe^rlukan untuk mengubah obsidian menjadi batu apung rata-rata
880oC. Berat jenis obsidian yang semula 236 turun menjadi 0,416
sesudah perlakuan tersebut oleh sebab itu mengapung didalam air.
Batu apung ini mempunyai sifat hydraulis. Pumice berwama putih
abu-abu, kekuningan sampai merah, tekstur vesikuler dengan ukuran
lubang, yang bervariasi ukurannya baik berhubungan satu sama lain
atau tidak struktur skorious dengan lubang yang terorientasi. Kadangkadang lubang tersebut terisi oleh zeolit/kalsit. Batuan ini tahan
terhadap pembekuan embun (frost), tidak begitu higroskopis (mengisap air). Mempunyai sifat pengantar panas yang rendah. Kekuatantekan antara 3O-2Okglcm2. Komposisi utama mineral silikat amorf.
Tempat Diketemukan
Keterdapatan batu apung di Indonesia selalu berkaitan dengan
rangkaian gunung api Kuarter sampai Tersier muda. Tempat dimana
batu apung didapatkan antara lain:
o Jambi: Salambuku, Lubukgaung, Kec. Bangko, Kab. Sarko (merupakan piroklastik halus yang berasal dari satuan batuan gunung api

o
.

atau tufa dengan komponen batu apung diameter 0,5-15 cm terdapat


dalam Fonrlasi Kasai).

12,5Vo berupa fragmen pada batuan


Cicurug, G. Kiaraberes Bogor.

AlzOr

= 63,20Vo,
tufa); Cikatomas,

Daerah Istimewa Yogyakarta: Kulon Progo pada Formasi Andesit


Tua.

o
o

Nusa Tenggara Barat: Lendangnangka, Jurit, Rempung, Pringgesela


(tebal singkapan2-5 m sebaran 1000 Ha): Masbagik Utara Kec. Masbagik Kab. Lombok Timur (ebal singkapan 2-5 m sebaran 1000 Ha);
Kopang, Mantang Kec. Batukilang Kab. Lombok Barat (telah dimanfaatkan untuk batako sebaran 3000 Ha); Narimaga Kec. Rembiga
Kab. Lombok Barat (tebal singkapan}-4 m, telah diusahakan rakyat).
Maluku: Rum, Gato, Tidore (kandungan SiO2 - 35,92-67,89Vo; Al2O3
= 6,4- 16,98%o).
Nusa Tenggara Timur: Tanah Beak, Kec. Baturliang Kab. Lombok
Tengah (dimanfaatkan sebagai campuran bgton ringan dan filter).

Teknik Penambangan
Batu apung sebagai bahan galian tersingkap dekat permukaan,
dan relatif tidak keras. Oleh sebab itu penambangan dilakukan dengan
tambang terbuka/tambang permukaan dengan peralatan sederhana.
Pemisahan terhadap pengotor dilakukan dengan cara manual. Apabila
dikehendaki ukuran butir tertentu proses pemecahan (grinding) dan
pengayakan dapat dilakukan.

Pengolahan dan Pemanfaatan

di

P. Panjang
(sebagai hasil letusan G. Krakatau yang memuntahkan batu apung).
Jawa Barat: Kawah Danu, Banten, sepanjang pantai laut sebelah barat
(diduga hasil kegiatan G. Krakatau); Nagreg, Kab. Bandung (berupa
fragmen dalam batuan tufa); Mancak, Pabuaran, Kab. Serang (mutu
baik untuk agregat beton, berupa fragmen pada batuan tufa dan aliran
Lampung: sekitar kepulauan Krakatau terutama

permukaan); Cicurug Kab. Sukabumi (kandungan SiOz

Sebagai bahan bangunan

Sebagai bahan tahan api, dinding penyekat ruangan dalam bentuk


lembaran sifatnya yang hidraulis baik untuk teknik bangunan basah.
Disamping itu berfungsi pula sebagai bahan isolasi panas dan suara
atau untuk isolasi kamar/peredam atau almari es
Industri
Sebagai bahan penyaring setelah diproses dengan ukuran butir tertentu disamping untuk abrasive khususnya bahan poles untuk logam.

fi1

116

Tempat Diketemukan

4. TRAS
Tras disebut pula sebagai pozolan, merupakan bahan galian
yang cukup banyak mengandung silika amorf yang dapat larut diair
atau dalam larutan asam. Nama pozolan diambil dari suatu desa
Puzzuoli de Napel, Italia dimana bahan tersebut diketemukan. Tras
(alam) pada umumnya terbentuk dari batuan volkanik yang banyak
mengandung feldspar dan silika, antara lain breksi andesit, granit,
rhyolit yang telah mengalami pelapukan lanjut. Akibat proses
pelapukan feldspar akan berubah menjadi mineral lempung/kaolin dan
senyawa silika amorf. Makin lanjut tingkat pelapukannya makin baik

mutu dari tras. (Santoso, 1994) menyelidiki tras yang ditemukan di


Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, diperoleh unsur kimia
sebagai berikut: SiOz, AlzO:, CaO, FezO:, MgO, Na2O, KzO, MnO,
TiO2, P2O5, HzO. Dari unsur tersebut yang menjadi perhatian adalah
unsur SiO2, Al2O3, dan CaO. Standart unsur kimia untuk tras yang
akan diusahakan adalah sebagai berikut (BKPMD vide Santoso,
1994).
Tabel 8. Standart komposisi kimia tras.

Unsur

Kisaran 7o berat

sio:

40.76-s6.20

|
|

7.35-13.15
3.35-10.70

At2or

Fe2O1
H2O

CaO
Mgo

I
|

11.35-27.55

0.82-t0.27

1.96-

8,05

Sebagai bahan bangunan tras mempunyai sifat-sifat yang khas.

Sifat tras yang terpenting apabila dicampur dengan kapur padam


(kapur tohor) dan air akan mempunyai sifat seperti semen. Sifat ini
disebabkan oksida silika (SiOz) yang amorf dan oksida alumina
(Al2O3) di dalam tras yang menjadi bersifat asam. Kedua macam
oksida yang bersifat.asam tersebut bersenyawa dengan kapur tohor
dan air yang akhirnya mempunyai sifat seperti semen.

Penyebaran tras di Indonesia mengikuti jalur rangkaian gunung


api Tersier dan Kuarter antara lain:
o Daerah Istimewa Aceh: Ujung Batu dan Krueng Raya, Kab. Aceh
Besar (pelapukan tufa breksi dengan komponen dasit dan andesit);
Gronggong Kab. Aceh Pidie (berupa tufa pasiran, berbutir kasarkasar halus telalr mengalami pelapukan); Takengon, Kec. Takengon,
Kab. Aceh Tengah (berupa tufa-pasiran berbutir kasar mengandung
komponen batu apung yang telah lapuk)
o Sumatera Utara: Sarulla, Kab. Tapanuli Utara (berasal dari hasil
pelapukan tufa riolit berbatu apung)
Sumatera Barat: Muara Laboh Kab. Solok; Padang Panjang Kab.
Tanah Datar, Matur dan Gadut Kab. Agam (dapat dipergunakan
sebagai bata cetak atau tanah mantap dengan penstabil kapur atau semen, kuat tekan = 4,6-19, kuat lentur = 1,9-9,3 kg/cm2; Bonjol Kab.
Pasarnan (telah digunakan sebagai bahan bata cetak dan bangunan)
Jambi: P. Pandan dan Batuputih, Kec. Danau Kerinci Kab. Kerinci
(terdapat sebagai hasil pelapukan batuan gunung api yang
mengandung fragmen batu apung); Lolo Kecil Kec. Gunugraya Kab.
Kerinci (merupakan pelapukan batuan gunung api yang mengandung
fragmen batuapung); Kampai, Bukit limon, Selai Pulau tengah dan
Batu putih (merupakan hasil pelapukan batuan gunung api yang
mengandung fragmen batu apung)
Bengkulu: Jambu keling, Kotadonok (pelapukan breksi tufa berbatu
apung) Tanjung panai Kec. Padang Ulaktanding; Lubuk Tanjung
Kec. Kerkap; Kapahiang, dekat perbatasan dengan Propinsi Sumatera
Barat (pelapukan batuan vulkanik muda)
Lampung: Mutaralam Kec. Sumberjaya Kab. Lampung Utara (baik
untuk bahan pernbuatan batako dan plester, merupakan hasil
pelapukan batuan volkanik berumur Kuartar);
Jawa Barat: Ciomas Kab. Serang (sebagai tufa batu apung hasil
kegiatan G. Danan); Batu recg dan Bongkor, Kec. Lembang Kab.
Bandung (berasosiasi dengan pelapukan bahan yang berasal dari G.
Tangkuban Prahu dan bercampur dengan obsidian dan batuapung);

il
I

119

118

Cicurug Kab. Sukabumi (merupakan hasil pelapukan bahan yang


berasal dari G. Salak. Lapisan atas bercampur dengan batu apung);
Sulukuning Kab. Purwakarta (kandungan SiO2 = 42,7-48,5Vo; Al2Or
= ll,5-lJ,ZVa; Fe2O3 = l3,l-l9,2%o; CaO = 1,9-4,6Vo; MgO = 1,26,07o; NazO = 0,6-l ,5Vo; KzO = 0,1-0,6Vo; H2O = 6,2-9,77o; HD =
12,3-19,2Va, berat jenis = 2,43); Nagreg, Kab. Bandung (erdapat
dalam batuan tufa andesit, dapat dipergunakan sebagai batuan
campuran semen poftland pttzzolan); Cimeong, Sukaresmi Kec. Maja
Kab. Majalengka (merupakan pelapukan nrf dan breksi andesit);
Sukamelang Kec. Kadipaten Kab. Majalengka (kandungan SiO2 =
46,60Vo, AlzO: + Fe2O3 = 38,227o, CaO = 5,08Vo, MgO = l,24Vo,
kadar air rata-rata 1,07o, dapat digunakan sebagai tanah mantap tanpa
tekan); Sukaraja, Maruyung dan Cikancung Kab. Bandung; Cikalong
wetan Kab. Bandung; Nyalindung, Padalarang, Kab. Bandung;
Batujajar Kec. Cililing Kab. Bandung; Bobos dan Loji Kec. Sumber,
Kab. Cirebon (kandungan SiO2 = 68,747o, Fe2O3 + Al2O3 = 23,26Vo;
CaO = 1,707o, MgO - 0,547o, kadar air =2,387o); Gekbrong Kec.
Warungkondang, Kab. Cianjur (kandungan SiO2 - 457o, Al2O3 =
ZOVo krat tekan 5 2- I 00 kg/cm2

Jawa Tengah: Kalirejo, Kec. Ungaran Kab. Semarang (dapat


digunakan untuk batako tanpa beban, kuat tekan =29,0, kuat lentur =
10,5 kg/cm2) Pudak Payung, Kec. Ungaran Kab. Semarang (kuat
tekan = 83,2 kuat lentur = 25,5 k{cm2, dapat digunakan untuk batako
tanpa beban); Lajan, Kec. Sumowono (dapat digunakan sebagai tanah
mantap tanpa beban, kandungan SiO2 = 5':.,82Vo; A12O: + Fe2O3 =
28,407o; CaO = 6,10%o, MgO = 1,627a, kadar air rata-rata = l,5%o);
Bandungan, Kec. Ambarawa (dapat digunakan sebagai tanah mantap
tanpa beban, kandungan SiO2 - 50,57o, AlzO: + Fe2O3 = 34,78?o;
CaO = 7,92Vo; MgO = 1,837o, kadar air rata-rata= 1,087o); Kragilan
Kec. Mojosongo Kab. Boyolali (dapat digunakan sebagai bata cetak
dengan beban, kandungan SiO2 = 44,44Va; AlzO: + Fe2O3 = 35,24Vo;
CaO = 7,547o; MgO = 0,42Va, kadar air 4,1Vo); Kaligesing Kab.

Purworejo (merupakan pelapukan breksi rulkanik bersifat lunak,


kandungan SiO2 = 507o; AlzOt = 20Vo); G. Muria Kab. Pati
(kandungan SiO2 - 50,l3%o; AlzOr + Fe2Oj = 38,93Vo; CaO =

I
l
l
I
I

;l

MgO = 0,l4Vc; MnO = 0,3687o, SO3 = l,59Vo); Kendel


Kec. Kemusu Kab. Boyolali (kandungan SiOr = 4j,36Vo, AlzO: +
Fe2Oj = 35,867o; CaO = ll,867a; MgO = 0,22To, kadar air rata-rata
3,37a); Jatinom Kec. Jatinom, Klaten (dapat sebagai bata cetak
dengan beban, kandungan SiO2 - 53,0Vo; Al2O3 + FeOj = 33,4Vo,
CaO = 8,587o: MgO - 0,447o, kadar air rata-rata = 3,8Vo); Towel,
Kab. Tegal; (baik untuk batako); Rahtawu, Kab. Jepara (baik untuk
batako); Badungan Kab. Magelang (baik untuk batako); Samigaluh,
Kulon Progo, DIY (baik untuk batako); Wonogiri Kab. Wonogiri;
0,286Vo;

Rembang Kab. Probolinggo.

Jawa Timur: Batu, Malang (kandungan SiO2 - 54,72Vo; AlzOr +


FezO.r - 25,17Va; CaO = 2,37o); Kec. Pujon Kab. Malang (kandungan

SiO2 = 57,ZVo, Al2Or + FeOr - 30,48Va; CaO = j,OBVo, kadar air ratarata4,l7o; Sumberbrantas Kec. Batu, Kab. Malang (kandungan SiO2
= 59,56, AlzO: + FezO: = 30,48Va, CaO = 6,287o, MgO = l,SVa,
kadar air = 2,3Vo); Punten, Kec. Batu, Malang (kandungan SiO2 -

58,287o, Al2O3 + FezOr = 26,587o, CaO = 7,84Vo, MgO = l,27Vo,


kadar air = 2,37o); Turan Kab. Malang, Jari, Kec. Bubukan, Kab.
Bojonegoro (kandungan SiO2 - 5O,3-58,48Vo, Al2O,1 * Fe2O3 =
26,46-4,68Vo, MgO = 0,35Vo, kadar air = 3,51-'7,067o), G. Kelud
(kandungan SiO, = 39,637a, Al2Oj = 24,147o, CaO = l,9lVo, MnO
=

0,747o, FeOj = 1,SlVo); Pacet, Kec. Pacet, Mojokerto (kandungan


SiO2 = 56,127o, Al2Or + Fe2O3 = 29,887o, CaO = lO,44Vo, MgO =

0,607o, kadar air = 0,97o); Made, Kec. Pacet Kab. Mojokerlo


(kandungan SiO2 - 57,18Vo, AlzOr + Fe2O3 - 24,10Vo; CaO =
ll,08Vo; MgO = 1 1 ,lL%o, kadar air = 3 ,67o dapat dipergunakan untuk
bata cetak dengan beban dan bersifat puzolianik); Singgahan, Pulung
Kab, Ponorogo; Puger Kab. Trenggalek (baik unruk batako); Panarukan, Situbondo; Pandak, Parseh, Tegalampel, Bondowoso (baik
untuk batako dan plester).

Bali; Bajar Males dan Batujulung Kec. Kura, Kab. Bandung; Marga,
Kab. Tabanan; Bringkit Kab. Badung; Samplangan, Gua Gajah,
Bunitan, Kab. Gianyar; Bukitjambul Kab. Klungkung;Banjar Wanyu
Kec. Marga. Tabanan.

Nusa Tenggara Barat: Tanah Beak Kab. Lombok barat (dapat

t20

121

dimanfaatkan untuk batako, kuat tarik = 2,9-7,7 kglcm2, kuat tekan =

Bahan baku dari tambang

20,7-35,07okf,cm2
Nusa Tenggara Timur: Waipora Kec. Bola Kab. Sikka (merupakan
hasil pelapukan batuan tufa, baik untuk batako); Maumere Kab.

Sikka (pelapukan batuan tufa); Waulupang Kab. Flores Timur


(pelapukan batuan tufa); Lewoleba, P. Lembata (pelapukan. batuan
tufa, sudah dimanfaatkan); Rainimi dan Atambuna Kab. Kupang.
Sulawesi Utara: Pineleng Kec. Pineleng Kab. Tondano (kandungan
SiO2 - 57,96 - 64,607o; Al2O3 + Fe2Oj = 19,22-27,36Vo; CaO = 0,33 9,36Vo; MgO = 0,53-l,64Vo; kadar air = 0,8-5,8Vo, pelapukan batuan

Pengayakan

tufa kaca); Matani, Kec. Tomohon (kandungan SiO2 = 65,28 72,18Vo; Al2O3+Fe2Ot = 14,76-25,387o; SOr = 0,9-0,827oi MgO =

0,16-1,59Vo, kadar air = 0,7-3,lVo, dapat sebagai bahan batako)

Siap dicampur dengan kapur tohor

Sulawesi Selatan; Bukit Lakapala, Kec. Malusetasi, Kab. Bamr;


Malino, Kec. Tinggimoncong, Kab. Gowa.

Gambar 6. Bagan alir pengolahan tras.

Teknik Penambangan
Bahan galian tras relatif lunak dan terdapat dekat permukaan.
Oleh sebab itu penambangan terbuka dapat dilakukan dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Pozolan sendiri tidak mempunyai sifat mengikat dan mengeras
tetapi apabila bahan ini ada dalam keadaan butir halus dan kemudian

dicampur dengan kapur padarr dan air secukupnya maka akan


mempunyai sifat hidraulis didalam beberapa waktu. Oleh sebab itu
pengolahan awal tras dilakukan seperti pada Gambar 6.

.
o

Penggunaan tras antara [ain:

Untuk luluh, plesteran, lantai. Untuk keperluan tersebut campuran


tras: kapur padam = 5 : l, dan air secukupnya. Ditambah dengan
semen portland akan memberikan hasil yang lebih baik.
Batako
Dengan perbandingan tersebut di atas, tras dapat dicetak untuk batako

j*

(tanpa bakar). Mesin cetak manual/tidak otomatis antara lain:


Landcrete (Afrika Selatan), Cinva Ram (Amerika) yang semi otomatik mesin buatan Italia dengan merk Rosacometta. Buatan Indonesia, termasuk jenis tidak otomatis yang dapat mencetak dengan
ukuran 10 x 20 x 40 cm, tidak berlubang. Pengolahan selanjutnya
setelah dicetak dipindahkan ke dalam rak (tidak ditumpuk) berada
diruang terbuka, beratap dan teduh sehingga udara dapat bebas
masuk kedalam. Tiap hari disiram dengan air selama 1 minggu.
Setelah didiamkan selama 3 minggu batako menjadi keras dapat
dipakai. Proses ini dapat dipercepat dengan sistem curing.
Batako yang dipakai untuk konstruksi bangunan disyaratkan
mempunyai kuat tekan minimum 25 kglcmz.
Semen ral<yat

Komposisi kimia dari tras sesudah ditambah kapur tohor menyerupai komposisi kimia dari semen portland. Walaupun demikian
proses pengerasannya cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut
perlu penelitian lanjutan khusus pencarian zat additif yang mampu
mempercepat proses pengerasan.

5. BELERANG
Belerang atau sulfur didapatkan dalam 2 bentuk yaitu sebagai
senyawa sulfida dan sebagai belerang alam. Sebagai senyawa sulfida
didapatkan dalam bentuk galena-PbS, chalkopirit-CuFeSz dan PiritFeS. Kesemuanya terbentuk akibat proses hidrothermal, kecuali yang
tersebut terakhir dapat pula terjadi karena proses sedimenasi dalam
kondisi tertentu. Sedang belerang alam unsur tersebut berbentuk
kristal bercampur lumpur atau merupakan hasil sublimasi. Endapan

belerang ini terbentuk oleh kegiatan solfatara, fumarola atau sebagai


akibat dari gas dan larutan yang mengandung belerang keluar dari
dalam bumi melalui rekahan-rekahan, serta selalu berkaitan dengan
rangkaian gunung api aktif. Dengan demikian belerang alam dapat

dikelompokkan menjadi tipe sublimasi dan tipe lumpur. Belerang


berrvarna kuning, kekerasan 1,5-2,5, berat jenis: 2,05' blla dibakar
berwarna biru, menghasilkan gas SO2 yang berbau tidak enak'

t23

122

j'

1l

Iempung tufaan)
Jawa Barat: G. Papandayan (tipe sublimasi, kadar S

= 9O-95Vo); G.
Kraha (tipe sublimasi, kadar S = 25-60Vo): G. Galunggung (ipe
endapan lumpur), G. Putri (tipe endapan lumpur, telah digunakan
untuk industri kimia dan pupuk); G. Ciremai, G. Tangkuban Prahu;
G. Wayang. G. Matang, Kawah Saat, Kawah Mas.

Jawa Tengah: G. Dieng (tipe danau kawah dan endapan lumpur,


kadar S =32Vo): G. Telaga Terus
Jawa Timur: G. Arjuna, G. Welirang, K. Ijen (tipe sublimasi, kadar S

=20-807o); G.Ijen
Sulawesi Utara: G. Soputan, Kawah Masem (tipe sublimasi, kadar S
= 46-567o) Ronasui, Tomboan (tipe sublimasi kadar S = 70Vo): G.
Ambang (tipe sublimasi kadar S =70Va); G. Ambang (tipe sublimasi,
kadar S = 83-997o); G. Mahawu (tipe danau kawah dan endapan
lumpur, kadar S =70Vo
Maluku: Wuslah, P. Damar (tipe sublimasi dan endapan lumpur
kadar S = 55-79Vo).

Tempat Diketemukan
Seperti telah diuraikan di atas, endapan belerang berkaitan
dengan gunung api yang masih. aktif. Tempat diketemukan endapan
belerang antara lain:

o
o
o

Daerah Istimewa Aceh: G. Lamo Mete, P. We, Kab. Aceh besar


(merupakan endapan fumarola, kadar S = 30Vo); Meluak Gayolestan,
Kec. Blangkejeraen, Kab. Aceh Tenggara (merupakan endapan
solfatara): G. Seulawah, Kab' Aceh Barat (kadar S = 45-50%);
Bumiteulong, Kab. Aceh Tengah
Sumatera Utara: G. Sorik Merapi, Kab. Taput (enis danau kawah
kadarS =20-93Vo)
Sumatara Barat: LembangJaya Kab. Solok

Jambi: Sungai Tutung, Air Hangat, Kec. Air Hangat Kab' Kerinci
(erdapat sekitar mata air panas, umulrmya menempel pada batuan
lempung tufaan); G. Kunyit, Kec. Gunungraya Kab. Kerinci (terdapat
disekitar mata air panas pada umumnya menempel pada batuan

Teknik Penambangan
Penambangan endapan belerang dapat dikerjakan dengan cara
tambang terbuka. Penggalian belerangnya dapat dilakukan dengan
alat-alat sederhana atau dapat pula dengan tambang semprot. Apabila
jumlah endapan belerang sedikit maka penambangannya dapat
dilakukan secara manual dengan menggunakan peralatan antara lain:
cangkul, linggis, ganco dan keranjang dan dilaksanakan dengan tenaga
manusia

Untuk endapan belerang yang ditutupi oleh lapisan penutup


yang cukup tebal, cara penambangannya dapat dilakukan dengan cara
Frasch Process, yaitu dengan pemboran kemudian dimasukan air
panas (suhu 335' F) kedalam endapan belerang. Melalui pipa-pipa
kondensasi dipompakan keluar dan ditampung dan diendapkan. Tahap
berikutnya disublimasi untuk mendapatkan belerang yang bersih.

t
,l

125

124

Pengolahan
Cara pengolahan belerang tergantung dari jenis endapannya dan

hasil yang diinginkan. Untuk belerang yang berbentuk kristal dapat


langsung dimasukkan ke dalam autoklaf. Dalam autcklaf dimasukkan/
ditambahkan solar, air dan NaOH, kemudian dipanaskan dengan memasukkan uap air panas dengan tekanan 3 atmosler selama 30-60 menit. Pemisahan akan terjadi karena belerang mempunyai titik lebur
yang lebih rendah dibandingkan dengan mineral-mineral pengotornya.
Hasilnya yang berupa belerang cair dialirkan melalui filter dan kemudian dicetak.

Untuk belerang jenis lumpur, pengolahannya perlu dilakukan

secara floatasi terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam autoklaf.


Tujuan dari floatasi adalah untuk meningkatkan kadar belerang dan

memisahkan senyawa-senyawa besi sulfat dan silikat dari larutan.


Cara pengolahan lain untuk belerang jenis ini dengan cara pelarutan
dan penghabluran dengan menggunakan pelarut karbon disulfida,
dimethyl disulfit atau larutan hidrokarbon berat lainnya.
Kapasilas

lfi)

di.laring
kg

4r**----1

dihltncurkan
dipana*kan

M il-ffi

Catatan:

belerang I. Bongkah
berbahaya apabila belerang dari
terhirup manusia, tambang

Uap

usahakan cerobong 2. Butir belerang


asap dan

masker

ukuran

3. Belerang

dipanaskan
4. Serbuk

belerang murni

I cm

5. Cetakan tabung
yang diisi bele
rang hasil
pervrnasan

6. Belerang murni
dalam bentuk

silinder
Gambar 7. Skema pengolahan belerang.

Untuk pengolahan belerang secara sederhana dapat dilakukan


dengan jalan memanaskan bongkah-bongkah belerang di dalam wajan
besi atau aluminium yang berdiameter 80-100 cm di atas tungku
sederhana yang terbuat dari tanah liat/andesit. pemanasan dilakukan
dengan kayu atau kompor minyak tanah sambil diaduk-aduk, sesudah
belerang mencair kemudian disaring dengan kantong-kantong yang
terbuat dari kain. Selanjutnya ditampung dalam tabung-tabung bambu
sebagai alat cetakannya. Secara skematis digambarkan pada Gambar
7.

Pemanfaatan
Belerang banyak digunakan dalam industri kimia yaitu untuk
pembuatan asam sulfat (H2SO4) yang diperlukan untuk pembuatan
pupuk, penghalusan minyak bahan-bahan kimia berat dan keperluan
lain untuk metalurgi.
Di samping belerang dimanfaatkan dalam industri cat, industri
karet, industri tekstil, industri korek api, bahan peledak, industri ban,
pabrik kertas, industri gula yang digunakan dalam proses sulfinasi, industri rayon, film celulosa, ebonit, cairan sulfida, CS2, bahan anti seranggaltikus, bahan pengawet kayu, obat-obatan dan lain-lain. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu:
. Untuk industri gula
Kadar S:99,3%o, As : 0,05% (maksimum), bitumen :0,03o/o,H2O
:0,01o/o, Abu : 0,03yo, Sisa bakar : 0.7% dan CS2 :0,08%
. Untuk industri pupuk
Kadar S : 99,88% (minimum), H2O : O,lgyo, Abu : 0,03, Sisa
bakar: 0,20oA, acid sebagai H2SO4 :0,07o/o, NaCl:41,87 ppm, Fe

36,10 ppm

. Untuk industri kimia pokok (kecuali pupuk)


Kadar S : 99,8o/o, bitumen : 130 ppm, H2O
0,009oA, Fe2O3

. Lain-lain

1,52%o,

Abu

0,0008%

Industri korek api kadar S :98%o, industri karet yang tidak termasuk

127

126

golongan manapun diperlukan ukuran butir = 300 mesh


. Industri ban (luar dan dalam)
Kadar S =99,997o,ukuran butir = 325 mesh, Abu = 0,0lVo, moisture
= O,\lVo, HzSOr matter -- 0,04Vo, CSz insolubl e = 0,04Va
Mata air panas yang sering muncul di sekitar gunung api, juga
mengandung belerang, dimanfaatkan untuk penyembuhan sakit kulit
(sebagai desinfektan)

hasil sublimasi uap solfatara dengan kadar belerang (S) sekitar 7099,9Vo.

o
o

Tipe lumpur, terdapat didekat danau kawah dengan kadar S = 4060Vo

Tipe kerak, terdapat disekitar kawah dengan kadar S =20-50Vo.

6. TRAKHIT

Catatan:

Endapan belerang berkaitan erat dengan kegiatan gunung api'


Endapan tersebut dapat merupakan endapan sedimen, kerak belerang
atau endapan hidrothermal-meiasomatik. Beberapa pendapat tentang
asal mula belerang antara lain diuraikan sebagai berikut:
o Bischof menjelaskan belerang berasal dari HzS yang merupakan hasil
reduksi CaSO+ oleh karbon dan methan
CaSO+

+2C-

CaSO+ +

CaS + 2COz

CH+-+

CaS + COz + 2HzO

CaS + COz + HzO------+ CaCO: + HzS


2HzS +

Oz--)

Tempat Diketemukan

25 + zHzO

Terbentuknya H2S menjadi belerang (S) dapat dengan 2 cara yaitu


oksidasi oleh air tanah dan reaksi antara H2S dengan CaSO+
2HzS

Oz-a 2HzO + 2A(O2 dari air tanah)

3HzS + CaSO+-.

--r 45 + Ca (OH)z

Merupakan batuan beku luar, kristalnya relatif kecil mempunyai


komposisi mineral seperti granit tetapi tanpa mineral kuarsa, utamanya adalah mineral feldspar jenis ortoklas. Wamanya tidak seterang
granit, yaitu berwarna kuning muda hingga abu-abu, berat jenis 2,12,3 kekuatan tekan 500-900 kglcm'. Mineral feldsparnya sangat dominan sehingga apabila mengalami pelapukan feldspar tersebut akan
berubah menjadi kaolin. Batuan ini terdapat sebagai retas, aliran
permukaan bongkah, debu ataupun breksi gunung api.

o
o
o

+ 2HzO

Belerang berasal dari dome. Dalam hal ini


bakteri de sulpho vibrio desulfuricans. Sulfat oleh bakteri diubah
belerang dibentuk oleh

menjadi sulfit, kemudian sulfit diubah lagi menjadi belerang.

Belerang tipe ini terdapat antara lain di Gulf-Coast, Amerika'

Kadang-kadang belerang didapatkan pada gipsum' Diterangkan


bahwa belerang pada gipsum diendapkan langsung dat', polysuffit
(suatu solut yang mengandung sangat banyak belerang)'

o Di Indonesia

cara terjadinya belerang erat sekali hubungannya

dengan kegiatan gunung api. cebakan belerang didapatkan sebagai

Bengkulu: Rejang Lebong (terdapat dalam batuan andesit terubah,


kadar KzO - 9,26Vo)
Sumatera Selatan: Gunung Batu sebelah timur Palembang (terdapat
dalam batuan ortoklas porfir, kadar KzO = 9,36Vo)
Lampung: G. Siamang dan G. Galih Wijaya (erdapat dalam batuan
ortoklas porfir, kadar KzO = 7,20Vo)
Jawa Tengah: G. Muria (terdapat dalam batuan leusit-basanit, kadar
KzO
5,56-7,95Vo); Karangkobar (terdapat dalam batuan
pegmatoidal kadar K2O =8,72Vo)
Jawa Timur: G. Ringgit (terdapat dalam banran leusit, teprit, basanit,

leusit basalt, trakhit andesit dan trakhit basalt, kadar K2O

= 5,45-

8,837o)

Sulawesi Selatan: Balloci Kab. Pangkep; S. Gentungan 15 km selatan


Ujung Pandang (terdapat dalam batuan trakhit, alkali syenit porfir

128

dan nefelin-syenit, kadar K2O

dalam batuan leusit basalt kadar K2O

129
8,67-9,110/o); Pangkajene (terdapat

:8,00%)

Teknik Penambangan
Untuk batuan yang masih keras, cara penambangan seperti cara
menambang obsidian. Untuk batuan yang telah mengalami pelapukan
penambangan dilakukan dengan peralatan sederhana.

Tempat Diketemukan
Beberapa tempat diketemukannya siliciJiecl ytoocl selalu berka-

itan dengan batuan piroklastik/bersifat siiikaan. Tempat

tersebul

antara lain:
Sumatera Selatan: Seleman, Kec. Tanjung Agung Kab. Muara Enim
(terdapat sebagai endapan rombakan disungai, telah diusahakan oleh

penduduk setempat); Sukacinta dan Senabing, Kec. Merapi Kab.


Lahat (terdapat sebagai endapan sungai, telah diusahakan oleh
penduduk setempat)

Pengolahan dan Pemanfaatan

Untuk keperluan offIamen, pengolahan dilakukan dengan cara


digergaji/dibentuk dan dipoles sesuai dengan ukuran. Kandungan orto
klas yang dominan menyebabkan batuan ini tidak tahan abrasi'
Kandungan K2O yang relatif cukup tinggi, trakhit yang dibuat dalam
bentuk serbuk dapat dipergunakan untuk pupuk- Kandungan mineral
ortoklas yang cukup tinggi dapat dipergunakan untuk bahan keramik'

Jawa Barat: Mekarsari Kec. Sajira Kab. Lebak (terdapat sebagai


endapan rombakan disungai, telah diusahakan oleh penduduk
setempat)
Jawa Tengah: daerah Sangiran, Solo; S. Basoka, Wonogiri (terdapat
sebagai endapan rombakan disungai); Samigaluh, Kulon Progo

Jawa Timur: Mrayan dan Badegan Kec. Ngrayun Kab. Ponorogo


(terdapat sebagai endapan rombakan disungai.

Selain tempat-tempat tersebut


baru sangat dimungkinkan.
7.

di atas penemuan ditempat yang

KAYU TERKERSIKKAN (SILICIFIED WOOD)

Kayu terkersikkan merupakan hasil proses permineralisasi oleh


mineral silika (disebut pula sebagai proses silifikasi) pada tumbuhan
Jaringan batang tumbuhan yang sebagian besar terdiri dari unsur
C.H.O.N.S.P oleh bakteri anaerobic dimakan sehingga akan meninggalkan pori-pori dengan pola seperti jaringan semula. Pori-pori ini
kemudian diisi oleh larutan silika yang berasal dari batuan sekelilingnya. Oleh sebab itu kayu terkersikkan berkaitan erat dengan
batuan piroklastik/yang bersifat silikaan baik yang berumur Kuarter
atau lebih tua. Bentuk dan ukuran dari silicified wood sesuai dengan
bentuk dan ukuran batang tumbuhan semula demikian pula pola
jaringannya. Ukurannyapun sangat bervariasi. Silicified wood yang
berwarna gelap mempunyai umur relatif lebih tua dibandingkan
dengan yang berwama agakterang, sangat resisten

Teknik Penambangan
Silicified wood pada umumnya tampak dipermukaan karena
batuan penutupnya tererosi, sesudahnya ada yang terangkut oleh aliran
air hujan dan diendapkan disepanjang sungai. Oleh karenanya teknik
penambangan yang diterapkan sangat sederhana. mempergunakan
alat-alat sederhana pula. Ketelitian yang diinginkan adalah pelaksana
penambangan dapat membedakan dan mengidentifikasi silicffied waa,:,,
dengan jenis bahan galian yang lain.
Pengolahan dan Pemanfaatan

Silicified wood yang berasal dari daerah tambang dibersihkan


dari kotorannya dengan cara menyemprotkan air. Kemudian dibentuk
sesuai dengan keinginan. Bentukan ini pada umumnya dimanfaatkan

130

131

untuk ornamen dinding rumah ataupun hiasan taman. Silicified wood


tahan terhadap air hujan dan cuaca, sehingga dapat dipasang/diletakan
dimana saja. Silicified woocl yang berserat halus, dapat diasah dan
dibentuk menjadr perhiasan/untuk mata cincin. Silicified wood yang

sudah dibentuk digolongkan kedalam batu mulia

tanggung

(haffedelstenen) jenis batu kelas IV (menurut Kinge).

8. OPAL

Scaning Electron Microscop dengan perbesaran 50.000 kali. Opal


dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu opal biasa termasuk kalsedon,
opal mulia dan opal matrik.
. Opal biasa ialah silika amorf yang sarang hingga dapat melekat di
lidah misal fosil kayu yang terkersikkan dimana struktur seratseratnya masih terlihat jelas (lihat pembahasan tentang silicified

warnanya, yaitu:

Opal dengan rumus kimia SiO: n H2O terbentuk sebagai akibat


pengerasan dari agar-agar silika (silica gel) yang berasal dari batuan
piroklasik. Larutan silika tersebut, karena pengaruh air tanah selan-

jutnya terendapkan dalam pori-pori, rongga atau rekahan batuan yang


bersifat kedap air. Opal yang mempunyai rumus kimia SiOz n HzO
dimana harga n berkisar dari I sampai 26, termasuk batu mulia
tanggung (Halfedelstenen) kelas IV dengan nilai kekerasan 4 s.d. 7.
Opal jenis batu mulia ini mengandung air kristal sejumlah 6 sampai
lO7o, mempunyai struktur amorf indeks bias tunggal 1,44-l,46,berat
jenis 1,98-2,20. Berat jenis ini tergantung dari jenis opal yang
bersangkutan, mungkin ada hubungannya dengan jumlah kandungan
air kristal didalamnya. Misal opal hitam dan opal susu mempunyai
berat jenis 2,10 sedangkan opal api berat jenisnya 2,00. Opal mempunyai warna bervariasi oleh karenanya dalam dunia perdagangan
disebut sebagai akik Kalimaya, Biduri Sisik, Biduri Ratna Kencana,
Biduri Dahana Sutra, Akik Raja dan Akik Widodari.
Permainan warna pada opal disebabkan oleh lapisan-lapisan
tipis (film) yang berbeda indek biasnya. Film-film ini diduga merupakan pengisian (sekunder) didalam retakan-retakan yang terjadi
karena tarikan agar-agar silika selama pengendapan dan pengeringan.
Anggapan lain adanya kristal-kristal kalsit yang kecil dan udara yang
mengisi kristal atau retakan-retakan tersebut. Pendapat terakhir
mengatakan bahwa air kristal dan molekul SiOz tersusun seperti
ayakan yang terbentuk karena proses polimerisasi di dalam agar-agar
silika tersebut dan ini telah dibuktikan dengan kenampakan pada

woo$.
Opal mulia, bervariasi dan dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan atas

.
.

Opal hitam, merupakan wafila dasar gelap misal biru, hijau, merah, abu-abu dan hitam. Opal hitam yang warna dasarnya betulbetul hitam sangat jarang dan harganya mahal. Satu-satunya
negara penghasil opal hitam terbesar adalah Australia, Daerah
Banten, Jawa Barat sering didapatkan jenis opal, yang terbanyak
jenis opal mawar (Rose Opal)
Opal susu atau opal putih yaitu opal yang mempunyai wama dasar
putih seperti susu atau putih keabu-abuan.
Opal api yang mempunyai warna dasar tembus cahaya (bening)

atau mengkilap dengan warna oranye atau kemerah-merahan.


Opal jenis ini jarang atau sama sekali tidak memperlihatkan

permainan warna.

Opal air mempunyai warna dasar bening dan tembus cahaya,


mem-perlihatkan permainan warna pelangi. Opal jenis ini mudah
menjadi suram atau pucat karena terlalu sarang.
Opal matrik terdiri dari limonit pejal berwarna coklat yang mengandung urat-urat kecil atau bintik-bintik opal mulia. Opal mulia didalam
masa dasar limonit ini tidak mungkin untuk diasah secara terpisah
karena terlalu kecil, sehingga dibentuk dan diasah berikut matriknya.
Opal matrik kurang berharga biasanya hanya untuk koleksi.

Tempat Diketemukan

Jawa Barat: Mekarsari, Kec. Sajira, Kab. Lebak (terdapat mengisi


rongga dan celah pada batu lempung tufaan dari Formasi Genteng.

t33

132

Wama opal putih, kelabu, coklat kemerahan bening sampai hitam,


mernperlihatkan permainan wama telah diusahakan penduduk
seten-rpat); Candi, Cokel, Cilayang, Kec. Maja, Kab. Lebak (terdapat

mengisi rongga dan celah pada batu lempung tufaan, Formasi


Centeng. wama bening sampai putih, memperlihatkan perniainan

o
r

warna pelangi); Mede, Pandak Kab. Lebak (terdapat mengisi rongga


dan celah pada batu lempung tufaan dari Formasi Genteng, warna
putih, kelabu, coklat kemerahan sampai hitam, menunjukkan
permainan warna pelangi).

Daerah Istimewa Yogyakarta: Desa Sawangan, Kec. Panggang


Gunung Kidul
Irian Jaya: Teluk Cilinta, P. Misool, Kab. Sorong (terdapat dalam
facies lempung-gampingan berumur Kapur)

Teknik Penambangan
Penambangan bahan galian opal kebanyakan dilaksanakan oleh
rakyat dengan metode dan peralatan yang sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Opal yang berasal dari penambangan digergaji dan digerenda


sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan untuk dimanfaatkan sebagai
ornamen/hiasan antara lain mata cincin, kristal lampu gantung

9. KALSEDON
Kalsedon merupakan salah sat.r variasi mineral silika yang
terbentuk oleh pengendapan beftahap sehihgga memberikan kenampakan berlapis dari larutan silika koloid tidak jenuh didalam rongga
atau celah-celah batuan perangkap. Silika koloid (agar-agar silika)
tersebut berasal dari mineral lernpung atau batuan piroklastik yang
mengalami proses diafenese khususnya karena pengaruh air tanah.
Berbeda dengan opal, kalsedon berlubang-lubang lembut sehingga

memungkinkan diberi macam-macam warna didalamnya. Warna yang


utama dari kalsedon adalah hijau (dikenal sebagai krisopras) tetapi ada
juga yang berwarna merah (Karnelian), coklat (Sordion), menunjukan
perlapisan yang konsentris (Agat), perlapisan sejajar (Oniks), oniks
merah (Sardonik)

Catatan'. Di dalam perdagangan batu mulia pengertian oniks


lebih ditekankan pada kenampakan struktur yang berlapis sejajar.
Oleh sebab itu dikenal batu oniks dengan komposisi karbonat dengan
kenampakan fisik transparan dan oniks dengan komposisi silika
dengan kenampakan fisik yang juga tembus pandang.

Tempat Diketemukan
Kalsedon di Indonesia ditemukan mengikuti jalur penyebaran
gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur hingga Sulawesi. Tempat-tempat tersebut yang telah
diusahakan oleh rakyat adalah:
e Jawa Barat: Jampang tengah, Sirnasari, Kab. Sukabumi (terdapat
sebagai endapan rombakan pada aliran S. Cijambe, warna kalsedon

putih, kekuningan, kelabu ukuran 5-25 cm, sudah diusahakan


penduduk); Jampang tengah Cikanyere, Kab. Sukabumi (mengisi
rekahan pada breksi volkanik, kadang-kadang membentuk bongkahan pada aliran S. Ciseuruh), telah diusahakan oleh penduduk
setempat); Jampang tengah, Ciseuruh, Kab. Sukabumi (berupa
bongkah pada endapan S. Ciseuruh, wama putih, ukuran 5-15 cm);
Jampang tengah, Malingping, Kab. Sukabumi (berupa endapan
rombakan dan bongkah yang tersebar tak merata, warna putih,
kelabu, merah, telah diusahakan oleh penduduk); Jampang tengah,
Puncak manggu (berupa bongkahan lepas, tersebar tak merata pada
tanah pelapukan breksi vulkanik. warna putih kekuningan, ukuran 520 cm, telah diusahakan); Jampang tengah, Cipetai Kab. Sukabumi
(terdapat sebagai bongkah dalam endapan aluvial dialiran S. Cipetai,
warna putih sampai merah daging ukuran 2-5 cm, telah diusahakan);

Waluran Kab. Sukabumi (berupa bongkah pada tebing teras dan


aliran S. Cihanjuang, warna putih susu, ukuran 10-25 cm, telah

134

diusahakan);
aluvial aliran
diusahakan);
Cipanarikan,

135

Cijambe, Kab. Sukabumi (bongkahan pada endapan


S. Cikarang, warna putih kelabu, ukuran 5-30 cm, telah

Cigelang Kab. Sukabumr (bongkahan pada aliran S.


warna putih, coklat sampai tnerah daging, telah diusa-

hakan); Pasir Sandi, Kec. Sajira Kab. Lebak (berupa bongkah/pengisi


rongga-rongga dalam batuan tuf putih, bening tebal l-2 cm, telah
diusahakan); Ciiambi Kab. Sukabumi (sebagai jasper berbentuk
bongkah-bongkah pada aliran S. Cikarang, warna merah, telah diusahakan); Jampang tengah, Cipetai Kab. Sukabumi (ber-upa bongkah
pada aliran S. Cipetai, walna merah diameter l-3 cm telah diusahakan); Bungbulang, Kab. Garut (merupakan krisopras nrengisi urat
dalam batuan vulkanik, telah digali penduduk).
Jawa Tengah: Daerah Rah Tawu Kec. Batuwarr.ro, Kab. Wonogiri
(sebagai pengisian pada batuan dasit dengart struktur gigi, sistem
kristal hexagonal tak sempurna); Daerah sekitar K. Tirtomoyo Kab.
Wonogiri (sebagai pengisian rongga-rongga dalam lava basalt dengan ukuran l-20 cm, wzuna kelabu-putih kecoklatan, mikrokristalin
dan transclusent.
Jawa Timur: Kec. Badegan Kec. Cepoko, Kec.: Mrayan dan Kec.

Kalikedung semar, Desa Badegan Kab. Ponorogo (terdapat sebagai


kalsedon, krisopras dan agat Formasi Andesit Tua, pada batuan
basalt, dasit dan breksi sebagai pengisi rongga dan rekahan): Kec.
Tulakan, Kec. Bandar, Desa Jatisari dan Jajar, Kalingagik, K.
Klandang, G. Gunggeng, K. Watupatok, K. Kopo, Desa Bandar, Kab.
Pacitan (terdapat pada Formasi Andesit Tua, pada lava basalt sebagai
pengisi rekahar/rongga); Kab. Ponorogo Kec. Ngrayan, Badegan,

Kec. Badegan, Cepoko dan Mrayan (di Cepoko jasper sebagai


endapan aluvial ukuran bongkah 1-50 cm, coklat merah hati, di
Mrayan, jasper sebagai endapan aluvial ukuran 5-25 cm, coklat
merah hati, di Badegan jasper sebagai endapan aluvial membulat
ukuran 3-15 cm, warna coklat - kemerahan); Kec. Tulakan dan
Arjosari Kab. Pacitan (terdapat sebagai bongkah ukuran 20-50 cm
warna merah-merah hati).

Nusa Tenggara Barat: Kab. Lombok Tengah, Kec. Pamunjak dan


Lereng timur G. Mereje dan daerah Awang (terdapat sebagai Agat,

dan kalsedon warna putih, kuning, kemerahan).

di Hulu S. Kasikuta (terdapat pada


Formasi Bacaan, merupakan urat-urat pada batuan andesit yang
Maluku: Daerah Kasikuta,
berumur Tersier bawah).

Teknik Penambangan
Dilakukan dengan sistem penambangan rakyat, dengan pera-

latan sederhana. Pada umumnya dilakukan sebagai

pekerjaan

sambilan.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Kalsedon yang berasal dari penambangan, dipotong dengan


gergaji batu, sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Tahap
berikutnya dipoles. Kalsedon dimanfaatkan sebagai batu mulia ataupun untuk hiasan/ornamen.

10. ANDESIT DAN BASALT


Merupakan jenis batuan beku luar, merupakan hasil pembekuan
magma yang bersifat intermedier sampai basa dipermukaan bumi.
Jenis batuan ini bertekstur porfiritik afanitik, komposisi mineral utama
jenis plagioklas, mineral mefik adalah piroksen dan amfibol sedang
mineral tambahan adalah apatit dan zirkon. Jenis batuan ini berwarna
gelap umumnya abu-abu sampai hitam, tahan terhadap air hujan, berat
jenis 2,3-2,7, kuat tekan 600-2400 kglcm2. Dijumpai sebagai retas,
sill, lakolit, aliran permukaan atau sebagai fragmen dan lahar gunung
api ataupun fragmen breksi

Tempat Diketemukan
Terdapat disepanjang jalur gunung api baik yang masih aktif
ataupun yang sudah mati. Penyebaran terdapat di:

136

a
a
a

131

Daerah Istimewa Aceh: Daerah Rikit Gaib, Kab. Aceh Tenggara;


Krueng Raya Kab. Aceh Besar; Pantai Calang, Kab. Aceh Barat;
Lhokruet, Kab. Aceh Selatan;Pantai Lamno, Kab. Aceh Barat.
Sumatera Utara: Daerah Aik Puli, Kab. Tapanuli Utara.
Sumatera Barat: Kota Baru dan S. Sirah Paninan Kab. Pesisir Selatan.
Jambi: S. Tutung Kec. Air Hangat Kab. Kerinci; Pulau Pandah Kec.

Danau Kerinci; Rantau Keloyang Kab. Muarabungo; Maliki dan


Baru Kab. Sarko; P. Sangkar Kab. Kerinci; Bukit Baru, Kec. Pelepat,
o
a

Kab. Bungalebo Tebo.


Bengkulu: G. Kandis dan G. Beringin Kab. Bengkulu Utara.
Lampung: Langkapura, Tanjungkarang; Kedatuan Bandar Lampung;
G. Merbabu; G. Lubukitik; G. Batuserampuk.
Jawa Barat: Ujung berung, Kab. Bandung; Lagadar Kab. Bandung;
G. Bojong, Cililin Kab. Bandung; G. Koromong Kab. Bandung;
Jelekong Kab. Bandung; Kebon Tunggul Kab. Bandung; Selakaso
Kab. Bandung; Kec. Pacet, Kab. Bandung; Majalaya Kab. Bandung;
Cicalengka Kab. Bandung; G. Sagu Kab. Bandung; Karangtanjung,
Kab.Bandung; G. Karang, Kab. Bandung; G. Cengkik Kab'
Karawang; G. Cipaga Kab. Karawang; Rajamandala, Kab. Bandung:
G. Sindanglengis, Kec. Plered, Kab. Purwakarta; Ciarok Kab. Garut;
G. Sugih, Anyer Kab. Serang; G. Gede; Parung panjang Bogor;
Ciomas, Parung panjang, Kab. Bogor.
Jawa Tengah: Selogiri Bendokerep Kab. Wonogiri; G. Mergi Kab.
Semarang; Beringin, Suruh Kab. Salatiga; Kandangan, Bawean,
Slawi Kec. Balapulang Kab. Tegal; Kec. Belik Kab. Pemalang.
Daerah Istimewa Yogyakarta: G. Merapi; G. Gajah; G. Ijo, Kulon

a
a

Sukorame Kab. Mojokerto.


Kalimantan Selatan: Jimban, Tambang, Ulang, Pleihan Kab. Tanah
Laut, Ujung Batu, P. Laut Kab. Kotabaru.
Nusa Tenggara Timur: Lekebai, Kec. Paga Kab. Sikka; Ae Baru dan
Kelisamba, Kab Flores.
Sulawesi Utara: Lilang Kab. Minahasa; Noongan dan Mokupa.

Sulawesi Selatan:

Bilibili Kec. Botonompo Kab. Gowa, Lena Kec.

Parangloe.

Maluku: G. Mede, Kab. Halmahera Utara; Takome, Tugato, Ternate;


Bobo, Dukiri; Sandora;Tidore, Kab. Maluku Tengah; Babang dan G.
Sayoding, P. Bacaan; Pantai Itawlaka, P. Saparua, Hitu Barat, p.
Ambon;G. Lana, Lei Timur.
Irian Jaya: Rumba, Bukit, Cendrawasih Kab. Sorong.

Teknik Penambangan
Batuan andesit dan basalt merupakan batuan yang cukup keras

dan masif. Apabila penambangan dilakukan oleh rakyat, karena


keterbatasan modal dilakukan dengan peralatan sederhana dengan
produksi yang sangat terbatas. Apabila diinginkan produksi bongkah
yang cukup banyak dalam waktu yang relatif singkat, penambangan

Jawa Timur: G. Gajah Mungkur Kab. Pasuruan; Ketapang-Lawang

dengan dilakukan sistem peledakan, diawali dengan pembuatan


lubang tembak sangat dianjurkan. walaupun demikian persyaratan
keamanan harus tetap diperhatikan. Penggunaan backhoe, showel,
buldoser atau scraper pada pelaksanaan penambangan dianjurkan
sedang pengangkutan bongkah dari tempat penambangan ke ternpat
pengumpulan dipergunakan dengan truck ungkit. Apabila dikehendaki
bentuk dan ukuran tertentu, penambangan awal yang menghasilkarr

Kab. Malang, Prigen Kab. Pasuruan; Lumang, Kab.

bentukan balok dapat dilakukan.

Progo.
Pasuruan;

Polaman Lawang Kab. Malang; Gamang, Gading, Paiton, Bogo,


Kab. Probolinggo; Pasir putih Besuki Kab. Panarukan; G. Kapuran;
Sumbersuko Padaan; G. Pandan Saradan Kab. Madiun; Pacet Wetan,
Kambengan, Barakan, Pelak, Ngemplak, Kesiman, Tengah Wiyu,
Slawe,.Briti, dan Padi Kab. Mojokerto; Bantal, Belik, Sumberejo dan

Pengolahan dan Pemanfaatan


Bentuk bongkah dengan ukuran yang masih dapat diangkat oleh
manusia, andesit dan basalt dimanfaatkan untuk fondasi rumah.
Apabila akan dibentuk menjadi batu candi (benrukan empat persegi

Il
138

139

panjangikubus dengan ukuran tertentu) atau dibentuk menjadi batu


tempel dengan ukuran tertentu, penggergajian sistem basah pada balok
hasil penambangan dapat dilakukan. Andesit dan basalt apabila dimanfaatkan sebagai batu tempel/hiasan pada tembok luar/pengganti

tegel, dan ditempatkan

di luar (yang tidak terlindung dari hujan

Ban berjalan

dan

panas matahari) tidak ada masalah karena kedua jenis batuan tersebut
cukup resisten.
Bentukan balok andesit dan basalt apabila telah disentuh oleh
seniman patung dengan rekayasa seni dapat dlbentuk menjadi
patung/relief yang tentu saja akan meningkatkan nilaijual'
Untuk keperluan lainnya, bongkah hasil peledakan yang
ukurannya belum sesuai dengan ukuran konsumen dapat dipecah lagi
dengan palu atau alat mekanis (breakerlcrusher) untuk disesuaikarl
ukurannya. Batu yang sudah sesuai ukurannya dimuat dengan alat
mleat (wheel loader) dan diangkut dengan truck ungkit ke konsumen.
Secara umum, kegiatan peremukan terdiri dari 3 kegiatan utama yaitu

peremukan, pengayakan dan pengangkutan. Bagan alir proses


peremukan seperti berikut (Gambar 8)'
Hasil dari pengolahan ini berupa batu pecah yang terdiri dari
berbagai ukuran, misal l0 mru, > 10 - S 20 trtrtt' > 20 - ! 30 mtrt,

Pengayakan (pengayak getar)

Tempat penimbunan (stock pile)


- lolos saringan (2,5 inci)
- tak lolos saringan (2,5 - 4 inci)

Pengumpan peremukan kedua (1

-2inci)

Lolos saringan 314 inci

-<

> 30

S 50 mm dan sebagainya'

Sebagian besar batu pecah tersebut dipergunakan untuk pembangunan rumah (concrete beton) ataupun untuk alas jalan.
Untuk batu pecah kebanyakan dipergunakan spesifikasi ukuran
butir sebagai berikut: untuk batu pecah berdasarkan ukuran yang

Split (peremuk "Barmac")

dihasilkan terdiri dari

o
.
o

abu dengan ukuran < 10 mm


split dengan ukuran (1 x 1 cm, I xZ cm,2
screening {engan ukuran 2 x l0 cm

x3

cm,3 x 5 cm)

Pengayakan
- lolos saringan (- 3/8 inci)
- tak lolos saringan (ll2inci)

Abu yang dihasilkan tidak tercampur bahan organik. Seperti


halnya pasir andesit/pasir basalt yang bersih (tidak tercampur bahan
organik) baik digunakan untuk bahan adukan beton. Ukuran split
umumnya digunakan untuk campuran beton dan aspal. Sedang ukuran
yang lebih besar digunakan sebagai pelapis jalan dan pondasi.

Gambar 8. Bagan alir proses pengoiahan bongkah andesit/basalt menjadi ukuran


sesuai dengan keperluan.

I
t40

IT.

PASIR GUNUNG API

Pasir gunung api merupakan bahan lepas berukuran pasir yang


dihasilkan pada saat gunung api meletus. Komposisi mineralogi pasir
gunung api tidak jauh berbeda dengan komposisi batuar/magma asal'
Pada saat gunung api meletus material yang dilontarkan ukurannya
sangat bervariasi mulai dari bongkah sampai pasir. Pada umumnya
suatu letusan yang mendadak sangat kuat akan membentuk suatu
kaldera yang sangat luas, misalnya G. Bromo di Jawa Timur, G.
Galunggung di Jawa Barat, G. Agung di Bali. Dengan demikian pasir
yang dimuntahkan mempunyai penyebaran yang sangat luas. Apabila
letusannya tidak kuat sehingga tidak rnampu menghamburkan material
yang terbawa dari dalam perut bumi, maka pembentukan kepundan
akan terjadi dan penumpukan pasir akan terjadi disekitar kepundan.
Pasir tersebut bersifat relatif masih lepas, dan pada saat turun hujan di
puncak, tumpuk4n pasir akan longsor dan bersama dengan air hujan
nkan mengalir melalui sungai yang berhulu disekitar puncak gunung
api. Aliran ini mempunyai kekentalan yang cukup tinggi sehingga
mampu "mengapungkan" dan menghanyutkan benda/material yang

dilalui oleh air sungai bahkan mampu meluap sampai dilembah


sungai. Aliran demikian dikenal sebagai aliran lahar dingin, seperti

yang terjadi di G. Merapi, Jawa Tengah pada tahun 1995 dan


sesudahnya. Untuk rnenghindarkan kerusakan lebih lanjut dibagian
hilir sungai akibat luapan "banjir pasir" maka dibuat checkdam.
Chekdam ini dibangun secara berturutan, sehingga pada satu sungai
sangat dimungkinkan dibangun beberapa btah chekdarz. Sebagai
contoh untuk mengendalikan sungai Boyong yang berhulu di lereng
puncak G. Merapi, Jawa Tengah yang mengalir melalui daerah antara
Turgo dan Kaliurang, kearah selatan (Daerah Istimewa Yogyakarta)
paling sedikit telah dibangun 5 buah chekdam dengan nama BOD 1 BOD 5. Fungsi lain dari bangunan ini:

o
o
.

menghambat dan menampung aliran pasir


menyediakan tempat sedimentasi pasir sehingga erosi vertikal tebing
sungai dapat dicegah,. pendalaman sungai dapat dihindarkan
mencegah terjadinya banjir lahar dingin

141

menyediakan tempat meresapnya air sungai/air hujan, sehingga ikut


berperan dalam melakukan konservasi air tanah.

Berkaitan dengan kualitas pasir gunung, sangat ditentukan oleh


pola aliran dan pengangkutan sedimen. Tempat-tempat dimana terjadi
turbulensi, pencucian pasir akan terjadi, sehingga ditempat tersebut
kualitas pasir dianggap baik. Demikian juga ukuran butir pasir, sangat
ditentukan oleh kecepatan aliran. Walaupun demikian sesuai dengan
konsep transportasi sedimen makin jauh dari sumber sedimen ukuran
butir makin halus/seragam.

Tempat Diketemukan

Pasir gunung api merupakan produk vulkanisme,

dengan

demikian pasir gunung api didapatkan disekitar gunung api baik yang
aktivitasnya terjadi pada jaman Tersier maupun Kuarter. Beberapa
tempat yang telah diusahakan oleh masyarakat antara lain:
o Jawa Barat: S. Cikunir, G. Galunggung, Kab. Tasikmalaya, Cicurug
Leles Kab. Garut; Desa Cipeundeug, Kab. Subang; Komplek Legok,
Kec. Ciawigebang, Kab. Kuningan; Desa trbak Mekar, Kab.

.
o

Cirebon.
Jawa Tengah: G. Merapi; G. Muria, Kudus.
Jawa Timur: G. Bromo.

Di samping itu

terdapat pula endapan pasir pantai seperti

didaerah Riau.

Teknik Penambangan
Teknik penambangan pasir gunung api disesuaikan dengan jenis
endapan, produksi yang diinginkan dan rencana pemanfaatannya.
Oleh sebab itu teknik penambangan yang akan diuraikan menunjuk
pada pekerjaan per kasus sebagai berikut:

Endapan gunung api Kuarter/Resen


Pada jenis endapan ini, tanah penutup belum terbentuk. Endapan di
dapatkan sepanjang alur sungai. Keadaan endapan yang masih lepas,

teknik penambangan permukaan dengan alat sederhana antara lain

r
142

dengan sekop dengan pemilihan endapan secara selektif. Hasil yang


diperoleh diangkut dengan truck untuk dipasarkan. Dengan cara

penambangan seperti ini junrlah produksi sangat terbatas. Apabila

diinginkan produksi dalam jurnlah banyak, penggalian dengan


showel dan backhoe dapat dilakukan. Pemilahan besar butir (untuk
memisahkan ukuran pasir dan ukuran kerikil dapat dilakukan secara
semi mekanis dengan memakai saringan pasir). Hasil yang sudah

143
sebagai bahan bangunan. Cara penambangan seperti ini telah dilakukan didaerah pantai Riau.
Pemanfaatan utama pasir gunung api untuk bahan konstruksi

bangunan. Persyaratan utama apabila akan dimanfaatkan sebagai


bahan konstruksi, pasir tersebut harus bersih, bebas dari lempung dan
zat organik yang dianggap sebagai pengotor.

dipisahkan kemudian dinaikan ke truck ungkit dengan showel, untuk

selanjutnya dikirim ketempat penimbunan diluar alur sungai.


Ditempat ini truck pengangkut siap untuk mengirim ke konsumen.
Cara penambangan seperti ini telah dilakukan di S. Boyong G.
Merapi dan S. Cikunir, G. Galunggung.
Endapan pasir gunung api yang telah membentuk Formasi

Tipe endapan seperti ini telah tertutup oleh tanah penutup/soil.


Pekerjaan awal dilakukan dengan land clearinglpembersihan tanah
penutup. Endapan pasir jenis ini pada umumnya sudah agak keras,
tercampur dengan lempung. Untuk mendapatkan pasir yang bebas
dengan lempung/kotoran organik sistem penambangan dengan cara

pompa tekan/semprot tekanan tinggi dan pencucian sangat


dianjurkan. Untuk menghemat penggunaan air pemakaian air dengan
sistem sirkulasi dapat dilakukan. Hasilnya pasir yang bersih bebas
dari lempung dan bahan organik. Model ini telah dilakukan pada
penambangan pasir didaerah desa Lebak Mekar, Kab. Cirebon.
Apabila air tidak tersedia, cara penambangan rakyat dengan peralatan
sederhana dapat dilakukan. Cara ini telah dilakukan pada penambangan pasir di lereng G. Muria Kab. Kudus.
Endapan Pasir Pantai

Endapan ini merupakan pengendapan lanjutan dari pasir yang ada


disekitar muara sungai/dilepas pantai. Untuk menambang pasir yang
demikian dipergunakan pompa isap berkekuatan tinggi dan hasil
pemompaan langsung ditampung ditongkang dan siap diangkut dan
dipasarkan. Untuk menghindarkan terjadinya longsoran bawah laut,
perlu ditentukan jarak pemompaan terhadap garis pantai. Pasir yang
diperoleh dengan cara ini mengandung garam NaCl dan zat organik
cukup banyak, sehingga jenis ini tidak sesuai untuk dimanfaatkan

12. BREKSI PUMICE


Breksi pumice merupakan batuan piroklastik berbutir kasar.
Fragmen breksinya merupakan pumice dengan bentuk dan ukuran
sangat bervariasi, berwarna putih - abu-abu, matrik terdiri dari andesit,
batu lempung dengan semen silika amorf. Dengan contoh breksi
pumice yang diambil dari Pegunungan Selatan, Daerah Istimewa
Yogyakarta didapatkan data sebagai berikut; berdasarkan atas analisa
petrografi breksi pumice mengandung pumice sebagai fragmen 80907o, andesit sebagai matrik 2-47o, lempung sebagai matrik 2-8Vo.
Sedang sebagai semen adalah silika amorf. Sifat fisik breksi pumice:
berat jenis = 1,28, daya serap - 43%o,kuat tekan = 68,81 kg/cm2, titik
lebur = 1.100oC, Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan
Indonesia (PUBD termasuk kwalitas 8.1.
Tempat Diketemukan

Breksi pumice terjadi karena aktivitas vulkanisme/merupakan


batuan piroklastik. Dengan demikian keberadaannya disepanjang jalur
vulkanik di Indonesia. Rekayasa breksi pumice untuk bahan bangunan
bernilai ekonomi cukup tinggi baru saja dilaksanakan (pada tahun
1970-an), dengan demikian belum dikenal masyarakat. Tempat yang
sudah diketahui potensinya adalah pada Formasi Semilir yang tersebar
luas di daerah Pegunungan Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta
(komposisi SiO2 - 6l,98Vo; Al2O3 = 15,84Vo; FezOr = 2,07Vo; FeO =
3,147o; CaO = 4,867o; MgO = 1,847o: Na2O = 2,02Vo; MnO = 0,l3%o;
TiO2 = 0,757a; P2O5 = O,ll%o; H2O = 2,O57c.
i

t44

145

Teknik Penambangan

dan 4

Endapan breksi pumice tersingkap dipermukaan. Oleh sebab itu

teknik penambangan dilaksanakan dengan tambang

terbuka

mempergunakan alat-alat sederhana. Breksi pumice mudah lapuk


menghasilkan tanah yang warnanya gelap. Oleh karenanya pada saat
akan mulai ditambang lapisan tanah ini harus dikupas terlebih dahulu.
Untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi, breksi pumice pada
awalnya ditambang dalam bentuk balok.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Balok breksi pumice (disebut pula sebagai breksi batu apung),
diproses ditempat pemotongan batu dengan gergaji khusus. Pemotongan dengan ukuran tertentu dapat dilakuken dengan sistem basah
ataupun sistem kering. Sistem basah lebih disukai karena membuat
gergaji lebih awet disamping proses pemotongan menjadi lebih cepat.
Breksi pumice yang sudah dipotong siap untuk dimanfaatkan sebagai
bahan bangunan konstruksi yang tidak menahan bahan.
Breksi pumice dengan ukuran 5 cm x l0 cm x 22 cm bila
dibandingkan dengan bata merah dan batako dengan dasar sifat
fisiknya adalah sebagai berikut (Tabel 9).
Dengan demikian breksi pumice mempunyai kelebihan sifat

fisik dibandingkan dengan bata merah dan batako.


Beberapa hal yang perlu dicermati dalam pemakaian breksi
pumice sebagai bahan bangunan konstruksi antara lain:
o Mempunyai kuat tekan tinggi, hampir 2 x kuat tekan bata merah
Tabel 9. Sifat fisik brEksi pumice, bata merah dan batako.

Sifat fisik
Berat jenis (grlcm3)
Daya serap/porositas (7o)

Kuat tekan (kg/cm2)


Berat rata-rata (kg)

Breksi

pumice
1,28

Bata

merah
1,7

43
66,81

40
36,12

1,43

1,93

Batako

))a
38
17,85
2,45

kuat tekan batako. Walaupun demikian disarankan breksi


pumice dimanfaatkan sebagai bahan bangunan yang tidak menahan
beban.

Lebih ringan dibandingkan dengan bata merah dan batako. Oleh


karenanya sangat sesuai untuk bangunan bertingkat.

Menyerap panas dengan porositas tinggi, apabila dipakai sebagai


dinding akan mudah menyerap kelembaban udara sehingga menyejukkan ruangan pada siang hari.
Daya hantar panas rendah, sehingga menghangatkan ruangan pada
malam hari.
o Mempunyai pori-pori cukup Uunyut sehingga dapat berfungsi sebagai peredam suara, sangat sesuai untuk dinding gedung pertemuan.
o Mempunyai tekstur alami yang cukup menarik, sehingga tidak
memerlukan plesteran.
o Komposisi breksi pumice mempunyai tingkat resistensi yang
berbeda. Oleh sebab itu disarankan sebagai bahan bangunan dipasang
ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung dan air
hujan. Disamping itu tidak disarankan untuk dimanfaatkan sebagai
lantai. Penggunaan breksi pumice untuk bangunan candi Boko,
diselatan candi Prambanan telah membuktikan hal tersebut di atas.
Disamping breksi pumice dimanfaatkan untuk bahan bangunan
konstruksi sebagai pengganti bata merah, juga dapat dibentuk menjadi
berbagai ornamen. Hal ini diutamakan karena teksturnya yang sangat

artistik.

Dalam hal batu apung yang merupakan pecahan dari breksi


pumice akan dimanfaatkan untuk bata beton ringan tahapan pengolahan dilakukan sebagai berikut:
Batu apung dari tempat penambangan terlebih dahulu dipisahkan dari bahan pengotor (antara lainkayu/zat organik, tanah dan lainlain), kemudian dicuci dengan air untuk mendapatkan batuapung yang
bersih, dengan cara disemprot dengan air bersih. Air yang sudah
dipergunakan bercampur dengan lempung dialirkan di bak pengendapan, yang nantinya dipergunakan untuk menyemprOt lagi. Batu
apung yang sudah bersih

dikeringkan.

147

146

Batu apung tersebut kemudian diayak, fraksi yang mempunyai


ukuran lebih besar dari20 mm dilakukan penghancuran, sedang fraksi
yang berukuran +5 - 20 mm dimasukkan ke dalam mesin pengaduk
(mixer).
Ke dalam mesin pengaduk tersebut kemudian ditambahkan air
dan semen dengan proporsi campuran tertentu. Dalam hal ini perlu
diperiksa homogenitas bahan campuran.

Setelah adukan cukup memadahi/memenuhi syarat, maka


adukan dicetak dengan mesin cetak. Cetakan batu apung tersebut
kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
Adapun bagan alir pengolahan batu apung untuk bata beton
ringan adalah sebagai berikut (Gambar 9).

Penghancuran

(Crushing)

Pengayakan
(Screening)

Pencetakan

Produk Akhir Siap Dipasang

Gambar 9. Bagan alir pengolahan batu apung.

Catatan: Hasil percobaan terhadap batu apung dari P. Lombok


diperoleh:

Analisa kimia: SiO2

0,52-1,26Vo, Al2O3

1,30-3,54Vo.

= 4,53-8,77Vo, Tio2 = 2,89-9,51Vo, MgO =

52,30-65,607o, Fe2O3

15,75-l9,l9%a, CaO

Hasil pengujian sifat fisik: Kadar air rata-rata; 27,03Vo, Kadar


lumpur; 3,02Vo, Penyerapan ur 50,64Vo, berat jenis; 0,99, bobot
(grllt), gembur; 805,60, padat; 87 2,53
Hasil ujian batu apung sebagai bahan baku beton ringan untuk berat
semen: batu apung; 7:6, l'.7,1:8, cukup baik dimana ukuran butir
+5 - 20 mm dengan kuat tekan

3l - 57 kglcm2.

119

BAB VI

BAHAN GALIAN INDUSTRT YANG BE,RKAIT.


AN DENGAN INTRUST PLUTONIK BATUAN
ASAM DAN ULTRA BASA

ilmenit, pirit, zirkon, allanit, turmalin kadang-kadang didapatkan


muskovit, hornblende, piroksen dan garnet. Granit mempunyai
kekuatan tekan 1000 - 2.500 kg/cm2, dengan berat jenis 2,6-2,j.. Diorit
,mempunyai komposisi mineral mendekati granit dengan ukuran butir
yang relatif lebih kecil. Transisi antara granit dan diorit disebut
sebagai granodiorit mempunyai warna yang relatif lebih gelap,
kekuatan tekan 1000-2.500 kg/cm2, derga, berat jenis 2,6-2,9.
Tempat Diketemukan
Batuan granit dan granodiorit di lndonesia pada umumnya berumur Mesozoikum. Beberapa tempat yang telah diketahui keberadaannya antara lain:

Bahan galian yang termasuk dalam kelompok ini adalah: Granit


dan Granodiarit; Gabro dan Peridotit; Alkali feldspar; Mika; Bauksit

dan Asbes.

1. GRANIT DAN GRANODIORIT


Batuan ini terjadi dari proses pembekuan magma bersifat asam,
terbentuk jauh di dalam kulit bumi sehingga disebut sebagai batuan

dalam. Terbentuknya kira-kira 3-4 km dibawah permukaan bumi,


bahkan sampai pada jarak 15-50 km di dalam bumi. Bentuk inrrusi
dapat berupa batholit, lakolit maupun phacolit. Karena membekunya
jauh didalam kulit bumi, bentuk dan ukuran mineral pembentuknya
besar-besar dan mudah dibedakan antara mineral satu dengan lainnya.
Kenampakan demikian dikenal dengan istilah holokristalin, porfiritik.
Warna batuannya bermacam-macam tergantung dari jenis mineral
penyusunnya antara lain merah, coklat, abu-abu atau kombinasi
diantaranya. Khusus untuk granodiorit memperlihatkan ukuran butir
kristal yang relatif kecil dibandingkan dengan granit.
Granit mempunyai komposisi utama kuarsa, potash feldspar
(khususnya ortoklas dan microklin), plagioklas (terurarna albiteoligoklas), biotit dan mika, mineral penyeftanya antara lain magnetit,

Daerah Istimewa Aceh: Samadua Kab. Aceh Selatan (pinggir jalan


raya Meulaboh-Tapaktuan, batuan berwama abu-abu keputihan,
berbutir sedang sampai kasar, kompak); Kungke Kec. Blangkejeren,
Kab. Aceh Tenggara (batuan berwarna abu-abu keputihan, lapuk
lanjut, banyak rekahan).
Sumatera Utara: Sibolga, Tapanuli Tengah; Kotanopan Tapanuli

Selatan;

o
o
o
r
'
o

P. Berhala; Tarutung Tapanuli Utara; parapat Kab.

Sirnalungun (granit/diorit sebagai intrusi yang bersifat masif).


Sumatera Barat: Alahan Panjang Kab. Solok; Air Bangis Kab.
Pasaman Riau; G. Krjang P. Bintan, Kec. Rombak; Kec. Kampar.'
Jambi: Desa S. Manau Kec. S. Manau Kab. Sarko (enis granodiorit,
wama abu-abu kecoklatan); Kec. Palepat dan Rantau pandan Kab.
Bungolebu (wama abu-abu kemerahan).

Riau: Kec. Tandun, Kab. Kampar (wama abu-abu berbintik hitam


dan pink); Kec. Kritan Kab. Indragiri Hulu (warna abu-abu sampai
pink); Kec. Siberida; G. Bintan besar P. Bintan.
Bengkulu: Air Manna, Kec. Manna Utara (terdapat berupa bongkahbongkah lepas didaerah aliran sungai dengan diameter 2,5 m, warna
kelabu muda, kemerahan).

Kalimantan Barat: Daerah G. Raya, Burik, Banil, pandang, Bengkayang; DaerzLll Kab. Sanggau.

Il

l5l

150

Kalimantan Selatan: Daerah Bt. Raya, Kec. Sungai Pinang Kab.

Banjar (enis diorit piroksen dan granodiorit, warna

abu-abu

kehitaman).

Sulawesi Selatan: Daerah Boloci, Kab. Pangkep (terdapat


granodiorit, granit dan trakhit); Daerah Bantimurung Kab. Maros
(berupa terobosan batuan granodiorit, sebagian telah mengalami
ubahan).

Teknik Penambangan
Teknik penambangan granitlgranodiorit dilakukan seperti pada
penambangan andesit. Mempbrtimbangan warna dan tekstur granit/granodiorit lebih indah dibandingkan dengan andesit, penambangan dalam bentuk balok untuk selanjutnya dipotong/digerenda dengan
ukuran tertentu kemudian dipoles sangat dianjurkan. Sisa hasil
pemotongan dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teraso.
Pengolahan dan Pemanfaatan
Lembaran granit/granodiorit yang sudah dipoles dapat dipergunakan sebagai lantai atau ornamen dinding. Batuan ini apabila
terkena sinar matahari dan air hujan relatif lebih resisten dibandingkan
dengan marmer. Disamping itu granit/granodiorit dimanfaatkan juga
sebagai meja dan sebagainya. Sisa potongan granit/granodiorit dicetak
bersama semen putih untuk membuat teraso.

kadang-kadang dijumpai pula korundum, ampibol, garnet dan biotit.


Gabro mempunyai berat jenis 2,9-3,3 dengan kekuatan tekan antara
2.000 - 3.500 kg/cm2.

Peridotit merupakan batuan intrusi tekstur granular dengan


xenomorphic olivin dan piroksen, kadang-kadang didapatkan kromit,
struktur masif. Peridotit mempunyai berat jenis 2,9-3.00 dengan
kekuatan tekan 2.000 - 3.300 kg/crn2

Tempat Diketemukan

Maluku: Desa Fayaul, Kec. Wasile, Halmahera Tengah; Wusia, Halmahera Timur.
Irian Jaya: Daerah Ijar, P. Roan, S. Sentani.
Sulawesi Tenggara: Komplek Pulau PadamranglP. Lambusina.

o
o
o

Nusa Tenggara Timur/Timor Timur: Daerah Manufahi,

Manufahi; Daerah Hilimahu, Laclo, Manatuto.


Kalimantan Tengah: Daerah Tengkiling sebelah barat Palangkaraya.

Kab.

Teknik Penambangan
Gabro dan peridotit bentuk tubuh batuan dan sifat fisiknya tidak

jauh berbeda dengan granit dan granodiorit. Oleh sebab itu teknik
penambangan yang ditrapkan pada granit dapat pula diperlakukan
pada gabro dan peridotit.

Pengolahan dan Pemanfaatan

2. GABRO DAN PERIDOTIT


Gabro dan Peridotit terbentuk dari proses pembekuan magma
ultrabasa, berwarna gelap bervariasi antara hijau, hitam hingga hitam
legam atau kombinasi diantaranya.

Gabro merupakan batuan intrusi dalam, tekstur granular


hypidiomorphic, uliuran butir sedang, komposisi mineral utama adalah
plagioklas jenis labradorit - anorthit> 50Vo, apatit, sulfid, titanit, rutil,

Pengolahan dan pemanfaatan gabro dan peridotit serupa dengan


pengolahan dan pemanfaatan granit. Karena gabro dan peridotit

mempunyai warna yang relatif lebih gelap dibandingkan dengan


granit, apabila akan dipergunakan untuk lantai atau ornamen dinding,
seyogyanya dipasang ditempat yang relatif terang agar menimbulkan
kesan estetika tinggi.

153

t52

3. ALKALIFELDSPAR
Mineral

ini

terbentuk dari proses kristalisasi pada fase

pembekuan magma yang bersifat asam dengan kadar SiOz tinggi unsur
alkalinya (K dan Na) sehingga merupakan mineral utama pembentuk
batuan dengan komposisi kimia K Al2SiO8 - Na Alz SiO3 yang
berwarna terang dengan kekerasan 6. Dijumpainya mineral jenis ini
berkaitan erat dengan daerah pembentukan granit pegmatit. Umumnya
mineral ini didapatkan dalam bentuk urat/vein atau tersebar sebagai
komponen utama dalam tubuh batuan granit pegmatit.

Tempat Diketemukan
Periksa pembahasan Feldspar.

Teknik Penambangan
Periksa pembahasan Feldspar.

sebagai hasil proses alterasi hidrothermal dari nepelin atau feldspar.

Bauksit di Indonesia terdapat di P. Bintan, P. Bangka dan Kalimantan Barat. Jenis mineralnya adalah gibsit - AlzOr 3HzO, dengan
kadar utama alumina, kuarsa, silika aktif, TiO: dan Fe2O.1.

Bijih bauksit laterit terjadi didaerah tropis dan subtropis serta


membentuk perbukitan landai, yang memungkinkan terjadinya pelapukan yang cukup kuat. Bauksit dapat terbentuk dari batuan yang
mempunyai kadar aluminium relatif tinggi, kadar Fe rendah dan
sedikit kadar kuarsa (SiO2) bebas. Batuan yang memenuhi persyaratan
itu antara lain nepelin syenit dan sejenisnya yang berasal dari batuan
beku, batuan lempung/serpih. Batuan diatas akan mengalami proses
laterisasi yaitu proses yang terjadi karena pertukaran suhu secara terus
menerus sehingga batuan mangalami pelapukan. Pada musim hujan
air memasuki rekahan-rekahan dan menghanyutkan unsur yang mudah
larut, sementara unsur yang sukar larut/tidak larut tertinggal dalam
batuan induk. Setelah unsur-unsur yang mudah larut seperti Na dan K,
Mg dan Ca, dihanyutkan oleh air, residu yang tertinggal (disebut
laterit) menjadi kaya akan hidroksida alumina Al(OH)3 yang kemudian
oleh proses dehidrasi akan mengeras rr-renjadi bauksit.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Tempat Diketemukan
Periksa pembahasan Feldspar.

Di Indonesia bauksit diketemukan di P. Bintan dan sekitarnya,


P. Bangka dan Kalimantan Barat. Sampai saat ini penambangan

4. BAUKSIT
Bauksit merupakan kelornpok mineral aluminium hidroksida
seperti gibsirAl2Or3HzO; boehmit-AlzOrHzO; diaspor Al20jHzO.
Mempunyai warna putih atap kekuningan dalarn keadaan murni,
nrerah atau coklat apabila terkontaminasi oleh besi oksida atau
bitumen. Bauksit relatif sangat lunak (kekerasan l-3), relatif ringan
dengan berat jenis 2,3-2,1; mudah patah tidak larut dalam air dan tidak

ini terjadi dari proses pelapukan (laterisasi)


batuan induk erat kaitannya de ngan persebaran granit. Boehmit
terbakar. Bahan galian

didapatkan juga dalam rekaharr pacla hatuan nepelin syenit pegmatit

bauksit di P. Bintan satu-satunya yang terdapat di Indonesia. Beberapa


tempat antara lain:
o Sumatera Utara: Kota Pinang (kandungan Al2Oj = l-5,05-58,107o).
. Riau: P. Bulan, P. Bintan (kandungan SiO2 - 4,97c,FezOt= lO,2o/o,
TiO, = -0,8ok, Al2O3 = 51,4c/o); P. Lobang (Riau Kepulauan); P.
Kijang (kandungan, SiO, = 2,5o/c. FetOt = 2,5o/c, TiO2 - 0,257o.

Al20l =

61,5c/c,

H:O

setempat.

Kalinrantan Barat.

337c) mempakan akhir pelapukan lateritik

l5-5

154

Endapan benda padat, sebelum dikumpulkan ketempat penimbunan


terlebih dahulu diusahakan mengambil larutan-larutan AIzO: dan
caustic soda yang masih terdapat bersama benda padat tersebut.
Terhadap larutan AlzO-l bening dilanjutkan dengan proses presipitasi
Al:Or dan dengan menambahkan seed yang terdiri dari hidrat Al2O3
yang halus, proses presipitasi dipercepat dan membangun partikelpartikel Al2Oj 1,ang lebih besar akan tetapi tidak mudah peczrh.
Endapan hidrat Al:O: yang terjadi, selanjutnya diseleksi, hidrat AlzOr
yang berukuran besar diambil sebagai produksi, sedangkan hidrat
Al2O3 yang masih halus dikembalikan kedalam proses presipitasi

Teknik Penambangan
Penambangan bauksit dilakukan dengan penambangan terbuka
diawali dengan land clearing. Setelah pohon dan semak dipindahkan
dengan bulldozer, dengan alat yang sama diadakan pengupasan tanah
penutup. Lapisan bijih bauksit kemudian digali dengan shovel loader

yang sekaligus memuat buih tersebut ke dalam dump truck untuk


diangkut ke instalasi pencucian.
Pengolahan dan Pemanfaatan

Bijih bauksit dari tambang dilakukan pencucian.

Proses pencucian bijih bauksit dimaksudkan untuk menaikan kualitasnya dengan


cara mencuci dan memisahkan (desliming) bijih bauksit tersebut dari
unsur lain yang tak diinginkan seperti kuarsa, lempung dan pengotor
lainnya. Partikel yang halus ini dapat terbebaskan dari yang kasar
antara lain dengan pancaran air (water jer) yang kemudian dibebaskan
melalui penyaringan (screening). Disamping itu sekaligus melakukan
proses pemecahan (size reduction) dari butiran-butiran yang berukuran lebih dari 3 inch dengan jaw crusher. Untuk pengolahan lebih

lanjut dilakukan dengan proses Bayer dengan prinsip kerja sebagai


berikut:
o Bauksit mengandung berbagai mineral dengan kadar bervariasi, bila

o
o

o
o

kandungan AlzO: dominan baru dinamakan bauksit.

Dilakukan proses penggilingan sampai ukuran

< 35 mesh (4,4n

mm).
Proses melarutkan Al2Oj )ang terdapat pada bauksit dengan larutan
soda api pada konsentrasi dan suhu tertentu dengan menggunakan
uap sebagai media penghantar panas dalam tabung baja yang tahan
terhadap tekanan yang ditimbulkan uap.
Proses untuk memisahkan larutan AlzOr dari benda-benda padat yang
tidak larut dan disiliccrtion product, endapan dari persenyawaan yang
terbentuk antara silika reaktif dengan Na2O dan AlzOT.
Penyaringan larutan Alzor dari koloid-koloid dan benda padat
lainnya sehingga diperoleh larutan Al2Or )ang bening.

r
o

sebagai seed.

Hidrat Al2Oj yang berukuran besar, selanjutnya dikalsinasi (dipanggang) sedemikian rupa untuk mengeluarkan kadar air dan molekul air
yang terikat dalam partikel AlzOr.
Alumina hasil dari kalsinasi adalah hasil akhir dari pabrik alumina,
yang siap untuk dikapalkan ke pabrik peleburan untuk dileburkan

menjadi logam aluminium.


Adapun kegunaan dari bauksit adalah bahan utama pembuatan
logam aluminium dan bahan dasar industri kimia dan refractory.

5. MIKA
Kelompok mika (muskovit, plogopit dan biotit) terbentuk pada
tahap akhir dari proses pembekuan magma yang kekentalannya rendah
dan bersifat asam. Kristal mika berukuran lebar dan berlapis, relatif
lunak (kekerasan 2-2,5) transparan dengan warna bervariasi. Muscovit
- KAl2 (AlSi3) Or0 (OH)2 berwarna putih, kuning kadang-kadang
coklat, bersifat fleksible dan elastis didapatkan pada batuan beku yang

kaya silika dan alumina (pegmatit dan granit) juga dalam batuan
metamorf tingkat rendah-menengah-tinggi antara lain greenschist dan
ampibolit-facies. Plogopit - K(Mg, Fe)3 (AlSir) Or0 (F,OH)2, transparan, fleksible dan elastis, berwarna coklat muda atau kekuningan
terdapat pada batuan metamorf tingkat menengah - tinggi yang kaya

l-56

lain kristalin dolontit, peridotit yang lapuk dan


serpentinit) dan pegmatit. Biotit - K(Mg.Fe)3 (AlFe) Sir Oro (OH),
F)2, berwarna hitam hingga hijau gelap. fleksible. elastis dijumpai
pada batuan pegmatit, lamprophyre, kadang-kadang pada lava atau
magnesiLrm (antara

batuan metamorf.

151

Pengolahan dan Pemanfaatan

Dengan rlernpertimbangkan mika rnenrpunyai berat jenis


rendah dan bertrentuk lentbaran pernisahan terhadap mineral lain
dilakukan dengan cara floatasi. Karena mika rnerupakan pengantar
listrik yang lernah. rnaka nrika dimanfaatkan pada industri rnesin dan
industri listrik.

Tempat Diketemukan
Daerah Istimewa Aceh: Kec. Ampakolak Kab. Aceh Tenggara
(didapatkan pada granit pegmatit ukuran mineral l-5 ,cm tersebar
tidak merata); Kp. Alue Rambut Kec. Blang Pidie Kab. Aceh Selatan
(pada batuan malihan, komposisi AlzOr = 18,677o, FezOj = 0,53Va,
SiOr = J2,6c/o, K2O = 2,70o/c, Na2O = 0.65Va, CaO = 1,05, MgO =
0.457c.

Sumatera Utara: Pangaribuan Kab. Tapanuli Utara; Dolok Emas,


Kec. Sumbul, Kab. Dairi (sudah diusahakan)
Kalimantan Barat: G. Buduk Kab. Sanggau (terdapat muskovit dan
plogopit pada granit pegrnatit dan alkali granit).
Kalimantan Tengah: S. Lenro, Barito; G. Mas. Kehayan Hulu; Kuala
Kuayan; Kuala Kurun (warna putih kekuningan, abu-abu kehitaman,
keras diterobos urat-urat kuarsa).
Sulawesi Tengah: Fatoba Kab. Banggai; Mamulusan Kab. Lumri;
Biromatu Tutontowi, Sibodo Kab. Donggala; P. Peling (merupakan
pegmatit dalam batuan malihan).
Irian Jaya: P. Roau disernenanjung Wan Demen dan teluk Oemork
(terdapat pada batuan malihan berukuran kasar, berlembar-lembar).

6. ASBES
Asbes adalah nama perdagangan dari ntineral tertentu yang
dapat dipisahkan menjadi serabut-serabut dan tidak dapat dibakar.
Mineral ini demikian panjang dan halus sehingga dapat dipintal.

Asbes teriadi karena proses metamorfose (proses serpentinisasr)


batuan yang bersifat basa atau ultra basa. Berdasarkan komposisi dan
sifatnya, asbes dibagi rneniadi 2 kelompok yuitu:

Asbes amfibol

ini

sukar dipintal, yang terrnasuk golongan ini antara lain


mineral antofilit - (Fe, Mg) SiOj, terdapat sebagai gumpalan serabut
pendek dan gelas, panjang serabut 4-.5 inch. bila dipanaskan dapat
beftahan hingga 2160' C. Antofilit selain didapat dialam, dapat pula
Jenis

Teknik Penambangan

dibuat dengan mentanaskan ntagnesium metasilikat yang jauh lebih

tinggi dari pada

Apabila terdapat dekat permukaan, penambangan dilakukan

titik

lelehnya dan kemudian dengan cepat

didinginkan.

dengan sistem tambang terbuka dengan peralatan sederhana. Sistent

penambangan dengan menrbuat sumLlran diikuti dengan sistem


gophering dapat pula dilakukan apabila endapan cukup dalam dan
tidak teratur.

Asbes serpentin

Jenis ini dapat dipintal, yang terr.nasuk golongan ini antara lain
rnineral krisotil - 3Mg 2SiOr 2HrO; serabutnya lernas dan halus
seperti sutera. wanra putih, panjang serabut antara 4-_5 inch, sangat
kuat, satu ton bahan ini dapat dipintal sampai 10.000 meter, bila
dipanaskan dapat bertahan hingga 2160'C.

Tempat Diketemukan

Jawa Tengah: Karangsarnburrg. Krrh. Kcbrrnrcrr (termasuk jenis

I
1

li

159

158

antofilit dan sisanya golongan serpenttn).


Halmahera: Di Weda (P. Seram) termasuk jenis krisotil; Wusia,
Halmahera timur (terdapat didalam masif serpentin atau peridotit

asbes semen dipergunakan untuk rnengalirkan berbagai macam air,

larutan bahan kimia, sebagai pelindung kabel listrik, telepon dan


sebagainya.

yang mengikuti rekahan).

Sulawesi Tenggara: Komplek P. Padamarang/P. Lambasina (terdapat


dalam batuan ultrabasa peridotit dan serpentinit yang berumur Pra
Tersier.
Nusa Tenggara Timur: Atapupu Kab. Belu (didapatkan pada celah di
tubuh batuan ultra basa, umumnya sudah lapuk dan berserat panjang).
Irian Jaya: Sepanjang S. Sentani dekat Jayapura (merupakan urat-ural
yang tak beraturan dalam batuan serpentinit).

Teknik Penambangan
Asbes digali dengan tambang terbuka mempergunakan peralatan sederhana. Apabila didapatkan agak dalam, dilakukan dengan
membuat sumuran dan diikuti dengan sistem gophering.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Asbes dari hasil penggalian diadakan pemilahan dengan tangan.
Serabut yang disebut mutu no. 1 adalah yang panjangnya > 314 inch,
sedang yang panjangnya3lS - 314 inch disebut mutu no. 2.
Bahan galian yang harus digiling, kernudian disaring berrahap

dengan cara penyedotan dengan udara dan akhirnya disisir dan


dipintal. Di dalam pemanfaatan asbes dibagi rnenjadi 2 kelompok:

Yang dapat dipintal

Terutama dari jenis krisotil, dipergunakan sebagian besar untuk


lapisan pada rem mobil. Selain itu dipergunakan untuk bahan
pelindung terhadap api, listrik dan bahan kimia.
Yang sukar dipintal
Dimanfaatkan untuk petnbuatan panil asbes (lazirn disebut eternit).
Eternit dibuat dari semen porlland dan serabut asbes golongan no' 2.
Banyaknya asbc:' Ltntuk pettlbuatatr eternit biasanya l0-15%. Pipa

ir

l6l
sitatnya yang liat apabila terkena air. Tanah liat merupakan hasil
desiutegrasi, pelapukan kirnia, terutama pengaruh HzO dan CO:

dibantu oleh mikroolganisnte terhadap batuan induk. Hasilnya


nrerupakan bagian yang halus c'lan tidak larut dalanr air. Selanjutnya

inr diangkut oleh air sebagai suspensi dan akhirnya


rlengendap berlapis-lapis. Selama proses pen-gendapal/pengangkutan
sarlgat dintungkinkan dikotori oleh mineral yang berukuran halus
antara lain kuarsa, besi oksida dan bahan organis.
Sifat yang penting dari lempung adalah plastisitasnya (keliatanrnaterial

BAts VII

RAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKA.


ITAN DENGAN ENDAPAN RESIDU DAN
ENDAPAN LtrTAKAN

nya). Sifat

ini dapat diperoleh bila ada air, dan karena sifatnya ini,

lempung dapat dicetak.


Derajat keliatannya tergantung dari :
o Susunan dan kehalusan dari butiran mineral
r Banyaknya air yang ada didalamnya
. Banyaknya garam lain yang terlarut dalam air
. Jumlah bahan organis yang ada.

Yang termasuk dalam kelornpok ini adalah: lempung, kaolin,


pasir kuarsa, zirkon, kalsedon, korundur.n, intan, kuarsa kristal, pasir
kerakal.

Makin banyak bagian-bagian kecil yang aktif (berukuran

I.

kurang dari 0,01 rnm) nrakin tinggi sifat keliatannya. Sifat yang lain
ialah bila tanah liat dipanaskan atau dibakar. hingga sebagian atau
sernua air yang dikandungnya menguap, maka sifat keliatannya
menjadi kurang atau saltla sekali hilang terus dan akan menjadi keras
walaupun diberi air lagi. Sifat ini yang menguntungkan dari tanah liat

LBMPUNG
Lempr-rng scbetulnya t'nerupakan istilah ukuritrl butir yang lcbih

kecil dari lr1256 mm (menurut ukuran Wcntworth). Apabila butir-butir


tersebut sudah kompak kemudiitn discbut batu lempung. Didalarr

untuk dipakai sebagai bahan bangunan. Untuk membuang air

pembicaraan masyarakat yang dirnaksud lenlptrrlg sitlna l)t'llgerti:.rtlnya


dengan batu lempung. Lernpung dikelornpokan rnen.iadi 2 bagiln
besar yaitu:
o Lempung residu
Merupakan sc.jenis lernpung yang terbetlluk karerla proscs pelaprrkan
(alterasi) batuan bcku dan dijLrrnpai disekitar brtttran induknya. Mutu
lerrpung ini pada umurntiya lebih baik dihrandingkan dengan lempung sedirnen. Komposisi lempung residu didorrinasi oleh trincral
ilit, umumnya dipergr.rnakan untuk bahan penlbttatan kerarnik
struktur antara lain bata, genting dan gcrabah.

Lempung sedimen
Sering disebut sebagai tanah lirtt. Pcnyebutan

ini

semuanyii, didalam praktek tanah liat dibakar pada suhu 450-750"C.


Untuk nrembuang gas COz dari batuan karbonat dan gas SOr dan gips
rnisalnya rnaka suhu pembakaran ditingkatkan lagi antara 950- 1250"C,
untuk beberapa jam. Pada suhu tersebut FeO dapat berubah menjadi
Fe2Oj, karenanya warnanyapun akan lebih merah pula, dan kekuatan
nrekanis dari bahan akan meniadi lebih tinggi. Perbaikan sifat yang

terakhir irrr, disebabkan bahwa antara suhu-suhu tadi ada beberapa


rnineral akan rne leleh, dan setelah dingin akan membeku kernbali dan
rrengikat nrineral-mineral lainnya, sehingga massa bahan akan
menjadi lebih kompak dan keras.

Warna dari hasil produksi disanrping tergantung dari pemba-

didasarkan atas

163

162

karan, juga tergantung darr perbandingan banyak antara FezOr dan


(CaO + Al:Or). Makin banyak FezOr, makin merah dan sebaliknya
akan makin pucat warnanya. Bila tanah liat mengandung banyak
bahan organis, hasilnya setelah dibakar akan memberikan struktur
berlubang/berpori karena banyak gas terutama COz yang keluar.
Bahan organis ini berasal dari tumbuhan atau binatang. Semua pengolahan bahan galian yang melalui proses pemanasan atau pembakaran
yang mengubah sifat keliatan meniadi tetap keras disebut proses
keramik.

Berdasarkan atas sifat fisiknya tanah

liat dikelompokkan

lebih besar dari 60Vc, wamanya putih. Bata yang dibuat dari napal
wamanya tetap putih, biasanya strukturnya berlubang-lubang karena

gas COl yang menguap. Bata

Tanah liat gemuk:


Sebagian besar tersusun oleh hidro alumunium silikat. Sifatnya liat

sekali dan kompak dalam keadaan basah' Pada waktu kering

mengkerut dan dapat pecah, karenanya sukar diolah.


Tanah liat kurus:
Mengandung pasir kuarsa disamping hidro alumunium silikat. Tanah
ini sifat keliatannya kurang dibandingkan dengan tanah liat gemuk,
karenanya agak lebih mudah dikerjakan. Tanah liat jenis ini yang

Loas

liat kurus yang mengandung cukup banyak pasir kuarsa.


Banyak dipakai untuk menrbuat bahan bangunan konstruksi.

Tanah

Hasilnya setelah dibakar susutnya sedikit dan harapan untuk retak

menjadi:

ini tidak disukai oleh pengusaha

disamping karena warnanya putih juga relatif lebih rapuh.

juga tidak banyak


Tanah serpih = shales
Tanah liat jenis ini sudah mengeras, sifat keliatannya sudah rendah
dan tidak akan lebih liat walaupun diberi air. Tidak disenangi karena
pengerjaannya relatif sulit.
Batu tulis = slate
Batu tulis merupakan hasil metamorfose dari shale. Kenampakannya
sangat keras dan berlembar-lembar. Karena pengerjannya yang sulit,

bahan

umumnya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan bangunan'


Antara kedua golongan tersebut dapat dilakukan pencampuran
sehingga diperoleh tanah liat yang sesuai. Untuk mendapatkan hasil

ini tidak untuk membuat

bata, tetapi dapat dimanfaatkan

sebagai batu tempel.

Tanah liat tahan api


Sering disebut sebagai ball clay. Cukup baik untuk membuar bara
tahan api antara lain bata kaolinit (ririk leleh = 1785o C, bata bauksit

(tirik leleh 1732-1850" C) dipakai dalam ranur/dapur ketel. Bata ini

yang baik dari hasil pencampuran tersebut diperlukan latihan dan

tidak bereaksi dengan bahan dari abu sebagai sisa bahan bakar.

pengalaman.

masyarakat sering terdengar beberapa variasi tanah liat


dengan pemanfaatannya, meskipun masing-masing istilah tersebut
dengan mengacu pada proses geologi sudah berbeda dan kehilangan
sifat liatnya. Variasi tersebut:
o Tanah liat putih bersih
Jenis ini disebut Pula dengan nama kaolin. Karena harganYa Yang
relatif lebih mahal. bahan ini jarang dimanfaatkan untuk membuat

Di

bahan bangunan konstruksi'


Napal = marl = mergel
Jenis ini mengandung mineral karbonat (terutama Kalsium Karbonat)

Tempat Diketemukan

Daerah Istimewa Aceh: Daerah Air Eumpeking (cukup baik untuk


bahan baku semen kandungan SiO2 - 57,62Vo, Al2O3 = 20,517o,
Fe2Oj = 1,307a, berupa serpih); Kab. Aceh Pidie Kec. Delima Daerah
Kungkung (terdapat sebagai endapan rawa, berwarna putih abu-abu,
plastis); Kab. Aceh Timur, daerah Kuala Simpang (terdapat berselingan dengan pasir kuarsa dan seryih); Kab. Aceh Tengah, daerah
Glurnpong dekat Takengon (merupakan endapan aluvial); Kab. Aceh

Tenggara, daerah Kutacane; Kab. Aceh Barat, daerah Tutut


(merupakan endapan aluvial): Kab. Aceh Utara, Kec. Muara dua,

164

165

daerah Muara Dua (merupakan endapan aluvial); Kab. Aceh Timur,


daerah Kec. Tamiang Hulu (berupa serpih yang berselingan dengan
batu lumpur dan batu pasir pada Formasi Bampo).

Sumatera Utara: Daerah Bohorok,

80 km barat daya

Medan

(kandungan Fe2O3 = 4-67o).


Riau: S. Cenako, Belilas, Seberida, Indragiri Hulu (baik untuk bata
65,60Vo,
merah pejal); Bengkalis Kec. Mandau (kandungan SiO2

Al2O3 = 22,037o, Fe2O3

= l,lVo).

Sumatera Barat: Muara, Sawah Lunto, Sijunjung (baik untuk bahan


semen); Taratak, Sawah Lunto, Kab. Sawah Lunto, Sijunjung (baik
untuk bahan semen); S. Limau Manis dan S. Padangbes Indarung
Kab. Padang Pariaman (baik untuk bahan semen).
Jawa Barat: Kab. Bandung, Kec. Soreang, desa Sayati (baik untuk
bata merah) Kab. Bandung, desa Cisaman (baik untuk bata merah);
Kab. Bandung Kec. Majalaya daerah Cikancung (baik untuk bata
merah); Kab. Bandung, Kec. Pacet, desa Pamoyaman (hasil
pelapukan batuan gunung api tak teruraikan); Kab. Bandung Kec.
Soreang, daerah Banjaran (hasil pelapukan batuan gunung api tak
teruraikan); Kab. Bandung Kec. Cililin daerah Citalam (merupakan
hasil pelapukan batuan gunung api tak teruraikan); Kab. Bandung
Kec. Batujajar desa Cilemer (endapan aluviurn); Kab. Sumedang,
Kec. Darmaraja (hasil pelapukan gunung api tak teruraikan); Kab.
Cianjur Kec. Karangtengah desa Maleber (hasil pelapukan batuan
gunung api tak teruraikan); Kab. Cianjur Kec. Sukaratu desa Bojong
picung (facies sedimen baik untuk genteng); Kab. Cianlur Kec.
Cibeber desa Cibadak dan Cihaur (hasil pelapukan tuf Kwarter); Kab.
Cianjur Kec. Mande, desa Jamali (pelapukan batuan gunung api tak
teruraikan); Kab. Subang, daerah Parung (facies sedimen); Kab.
Subang daerah G. Sembung (facies sedirnen); Kab. Subang daerah
Pringkasap (facies sedimen); Kab. Subang daerah Bo.jongkendang
(facies sedimen); Kab. Subang daerah Cipeundeug (tacies sedimen);

Daerah Purwakarta (facies sedimen); Daerah Karawang (endapan


aluvial); Kab. Tangerang. daerah Gorowong, Parung paniang
(endapan aluvial); Kab. Serang daerah Tanjung (endapan aluvial)

Kab. Serang daerah Cicalengpong (facies sedimen); Kab. Lebak


daerah Gabus Rangkasbitung (facies sedimen); Kab. Sukabumi
daerah Cibadak (pelapukan batuan gunung api tak teruraikan).

Jawa Tengah: Kab. Kebumen Kec. Karangbolong (facies sedimen);


Nusa-kambangan (facies sedimen); Kab. Grobogan, Kec. Desa
Gundik (endapan aluvial); Daerah Mayong Kab. Kudus (endapan

aluvial); Kab. Rembang, Kec. Sedan, desa Sumberejo, Galanter


(endapan aluvial); Kab. Kudus, desa Jekulo (endapan aluvial),
kandungan SiO2 - 34Vo, FezOt = 5,47o, CaO = 13,5Vo, AlzO: =

7l,5%o, MgO = 4,80Vo); Kab. Klaten daerah Bayat (komposisi SiO2


=
447o, CaO = lVo, FezOr = 2,27o, Al2O3 = 29Vo); Kab. Cilacap,
Kec./Desa Singganangga (endapan aluvial); Kab. Kudus Kec.
Jatiroto, desa Katen (endapan aluvial); Kab. Cilacap, Kec./Desa
Kesugihan (endapan aluvial), SiO, = 53,96Vo, Fe2Oj = 7,7lVo, AlzOt
= 19,07Vo); Kab. Semarang/daerah sekitar Semarang (facies
sedrmen); Nanggulan (endapan gunung api Kwarter); Daerah patuk,
G. Kidul (endapan gunung api Kuarter); Daerah Semanu, Wonosari

(endapan gunung api Kuarter); Desa Semin, Gunung Kidul (endapan


gunung api Kuarter); desa Tawang Kec. Ponjong (endapan gunung
api Kuaner); Desa Pasirombo, Kec. Rongkop, Kab. Gunung Kidul
(endapan
-qunluls api Kuarrer); Kab. Pekalongan, Kec. Tepus, desa

Duwet (endapan aluvial); Kab. Pekalongan, Kec. Bojong; desa


Jornblang. Suntur (rombakan batuan gunung api Kuarter); Kab.
Pe,urlarrg Kc'c. Bantarbolang, Kec. Magawanagata, desa pakembaran

(ronrbakan batuan gunung api Kuarter); Kab. pekalongan Kec.


Wonopringgo, desa Rowokembo (rombakan gunung api Kua(er);
Kab. Purbalingga, Kec. Karangrejo, desa Sragen (rombakan gunung
api Kuarte$; Kab. Temanggung Kec. Keloran, desa Keloran,
Kalimanggis (facies sedimen); Kab. Kendal Kec. Sukorejo desa
Cepiring, Patebon dan Gemuh (rombakan batuan gunung api
Kuarter); Kab. Bantul, daerah Bawuran (rombakan batuan gunung
api Kuarter).

Jawa Timur: Kab. Pacitan, Kec. Tulakan, desa Bungur, Tulakan,


Ngumbul dan Bayu (terdapat dalam Formasi Jaten); Kab. ponorogo,
sekitar Sumoroto, Mojododol, Balong, dan Arjawinangun (endapan

161

166

aluvial, sebagai bahan baku keramik berat); Kab. Tulungagung Kec.


Gedangan desa Sumberingin wetan Kalidawir; Kab. Kertosono, Kec.
Mojosari, desa Brangkal (endapan aluvial); Kab. Gresik dan sekitar
Gresik (sebagai bahan baku PT. Semen Gresik); Surabaya, Driyorejo
(endapan aluvial); Kab. Malang, Kec. Singosari, Kec. Sidodadi dan
Kec. Tawang, desa Songsong sepanjang aliran Kalimas, Kali Pakel
(endapan aluvial, bahan genteng pres); Kab. Bangkalan Madura, desa
Socah, Labang dan Tragah (endapan aluvial); Kab. Pasuruan Kec.
Kembang Singgit, desa Nguro (endapan aluvial); Kab. Malang, Kec.
Sumbermanjing wetan, desa Tunggumangir dan Sumberagung
(endapan aluvial); Kab. Ngawi, desa Bangunrejo (facies sedimen);
Kab. Nganjuk Desa Nguben, Dioso (facies sedimen, SiO2 - 47,177o,
Fe2O3 = 0,16Vo, Al2O3 = 24,29Vo, KzOr = 0,807o, PzOs = O,ll%o,HzO
= 34,78Vo, CaO = 3,96Vo, MgO = 1,407c, Na2O = 0,137o, TiO2 =
0,227o, Fe2O = 0,15Vo); Desa Gampingan Kec. Tirtoyudo; Kab.

Malang (dalam Formasi Jaten, mengandung sisipan dan

lensa

batubara penyebaran tipis); Purboyo, Kalijening, Rejosari dan Astino


Kec. Bantur Kab. Malang (kandungan AlzOr = 34,22Vo, SiO2 =
41,507o dari hasil analisa sinar X termasuk jenis kaolinit-holoysit

dapat dipergunakan sebagai bahan keramik dan refractori); Kab.


Boionegoro Kec. Solio, desa Kedungsumber, Pujeng Dodol (facies
sedimen SiO2 - 34,22-53,860/o, Fe203 = 0,84-1 ,777o, AlzOt = 16,0922,937o, CaO = 4,95-20,87o, MgO = 1,42-2,10Va, NazO = 0,220,65Vo, K2O = 0,40-0,45Vo, PzOs = 0,06-0,08Vo, H2O = 17,4420,42Vo); Kab. Jombang, Perak (hasil residu dari endapan aluvial
rulkanik); Kab. Bondowoso, Kec. Waringin, desa Banyuputih (facies
sedimen, warna putih kelabu untuk bahan keramik); Bawean, sekitar
Kec. Tambak (lempung limonitan = 97Vo, kalsit = 2Va, kuarsa =
0,5Va,fragmen bafuan =0,57o, baik untuk genteng).
Kalimantan Selatan: Kab. Hulu sungai Selatan, Kec. Padang Batung,
Kp. Jelatang (lempung residu, bahan baku semen = SiOz = 59,36Vo,
TiO2 = 0,84Vo, Al2Oj = 18,29Vo, PzOs= O,05Vo, SOr - 0,167o, MgO =
l,NVa, Na2O = 0,l5%o, K2O = 0,49Vo, HzO - 3,89Vo); Kab. Tapin,
Kec. Binuang, Kp. Binuang (facies sedimen, hasil X RD; kaolinit,
ilit, kuarsa, feldspar); Kab. Tanah Laut, Kec./Desa Kintap (facies

= 59,6-69,26Va, AluO: = 16,25-23,38Vo, FezOt = 0,92'


1,297o); Kab. Kotabaru, daerah Stagen (facies sedimen); Kab.
Kotabaru, daerah Sambelumbingan (facies sedimen); Kab. Hulusungai Selatan, daerah Telaga Langsat (facies sedimen, hasil X RD;
disordered kaolinit, kuarsa, lempung); Desa Paringin Kab. Hulusedimen; SiO2

sungai Selatan, Gedung Tengah, Kec. Tabuh, Kab. Banjar (endapan


aluvial).

Kalimantan Barat: Desa Sago, Benawah Kec. Tayan

Hilir

Kab.

Sangau;

Bali: Kab. Tabanan, Kec. Prajekan, desa Prajekan (pelapukan batuan


gunung api Kuarter); Kab. Gianyar, Kec. Gianyar, desa Seronggo
(pelapukan batuan gunung api Kuarter);

Nusa Tenggara Barat: Kab. Lombok Timur, Kec. Pringgabaya


(pelapukan batuan gunung api Kuarter; SiO2 = 49,85Vo, AI2O3 =
19,587a, CaO = 4,277o, MgO = 1,6lVo, K2O = 0,88Vo, Na2O = 1,46Vo,
TiO2 = O,80Vo, H2O = 7,01, oleh penduduk telah dibuat genteng);
Kab. Lombok Barat Kec. Pringgarata, desa Jabondare (pelapukan
batuan gunung api Kuarter; SiO2 = 41,'707o, Al2Oj = 23,687o, Fe2O3 =
14,50Vo, CaO = l,20%a, MgO - 0,34o/a, Na2O = 5,99o/c, digunakan
sebagai bahan genteng); Kab. Bima daerah Rabba (pelapukan batuan
gunung api; SiOz = 50,96Vo, Al2Oj = 21,50Vo, Fe2Oj = 8,88o/o, CaO =
2,217o, MgO = l,l1Vo); Tente Kab. Bima (kandungan SiO2 =
51,52Va, Al2O3 = 20,417o, Fe2O3 = 8,147o, CaO = 2,407o, MgO l,l57a, bahan baku genteng) Desa Kandai, Kec. Dompu, Kab.
Dompu (kandungan SiOz -- 48,70Vo, Fe2O3 = 7,84Vo, Al2Oj = 23,4Vo,
Na2O = 2,807o, K2O = l,52Vo, CaO = 27a, MgO = 0,577o, H2O =
6,l0Va) Desa Bawi, Kec. Dompu, Kab. Dompu (kandungan SiO2 74,887o, Al2Oj = 14,31Vo, Fe2Or - 0,447o, CaO = 0,807o, MgO =
1,307a, Na2O = 0,26Vo, SO: - 0,477o); Kab. Bima daerah Tangga
(pelapukan batuan gunung api, SiO2 = 52,42Vo, AlzOr - 20,2Vo,
Fe2O3 = 8,29Vo, CaO = 1,73, MgO = l,l5o/o); Kab. Sumbawa daerah
Taliwang (pelapukan batuan gunung api, SiO2 = J4,35Va, AlzOr =
l2,llVo, Fe2Oi = 2,51Vo, CaO = 0,06Va, MgO = 2,107o, baik untuk
bahan baku semen); Kab. Lombok Tengah, Kec. Sengkol, desa
Pengembur (facies sedimen), SiOr = 26,62-60,127c, AlzOr = 7,74-

168

r69

23,357c, Fezor = 4,75-13,33Vo, CaO = l,7l-24,89Vo,MgO = l,l02,10Vo); Kab. Lombok Tengah Kec. Praya Barat, desa Mangkung
(facies sedimen, SiO2 19,52-53,687c, Al:Or = 8,91-23,7jo/c, Fe2O.,
= 5,39-13,37a, CaO = 2,13-26,97o, MgO = 0,10-5,i6Vc, baik untuk

bahan semen); Kab. Lontbok Barat, Kec. Gerung, desa Gerung


(pelapukan andesit, SiO2

CaO = 0,80o/o, MgO

o
o
o
o

- 74,88Vo, AlzOr l4,3l%o,FezOt - 0,447a,


1,03o/c, Na2O = O,Z6Vo, K2O = 3Zc, SOr =

0,977o).

Nusa Tenggara Timur: Kab. Manggapai, Kec. Borong, clesa Tengkulese dan desa Meler (pelapukan batuan gunung api tua, ubahan dari
tufa dasit);

Sulawesi Utara: Daerah Bolaang Mangondow (pelapukan batuan


volkanik)Sulawesi Tenggara: Kab. Kendari, daerah Palangon (facies sedimen
mollasa); Kab. Kendari daerah Ranoinceto (facies sedimen mollasa);
Kab. Kendari daerah Ponggaluku (facies sedimen mollasa).
Sulawesi Selatan: Kab. Pangkep, daerah Tonassa (pelapukan batuan
gunung api dan metasedimen, telah ditambang oleh pT. Senren
Tonassa); Kab. Bulukumba, daerah Tanah Kungkung (hasil pelapukan batuan gunung api); Kab. Sopeng Daerah Watansoppeng (hasil
pelapukan gunung api).

Teknik Penambangan

Pengolahan dan Pemanfaatan

Di tempat penambangan tanah liat diadakan pemilihan,

antara
yang baik dan yang kurang baik sesuai dengan rencana pemanfaatan.

Yang dianggap baik dapat langsung diolah dan yang kurang baik
dapat dicampur hingga sesuai. Kotoran yang ada harus dibuang baik
itu mineral asing (misal nodul oksida besi; ataupun sisa tumbuhan/bahan organik. Bahan ini kemudian ditambah air dicarnpur/dilumatkan sehingga tampak plastis dan merata, ditimbun berbentuk
kerucut. Dalam bentuk yang demikian air yang berlebih akan
rnengalir. Bahan ini siap dicetak dan selanjutnya dikeringkan diudara
bebas beberapa jarn, sebelumnya dimasukan kedalam dapur pembakaran untuk menghernat kayu bakar. Di negara yang sudah maju
pengolahan tanah liat mulai dari menggali sampai menjadi barang
yang siap pakai dilakukan keseluruhannya secara otomatik.
Tanah liat dirnanfaatkan untuk membuat bata merah, genteng
atallpur.l keramik. Persyaratan utama untuk genteng dan keramik
adalah tingkat pengkerutan harus sedikit mungkin, tidak mengandung
bahan organik yang rnenyebabkan genteng/keramik berpori. Dalam
pernbuatan bata merah masyarakat mencampur tanah liat dengan
sekanr padi derrgarr tujuan bata merah rnenjadi relatif ringan tetapi
kuat tekannya rnenjadi berkuran-q. Darlam hal tanah liat akan dimanfaatkan untuk bahan baku semen pofililnd harus memenuhi persyariltan tertentu (Boque, 1974)

Pada umumnya daerah dirnana didapatkan tanah liat merupakan


daerah yang subur. Penambangan tanah liat diawali dengan pengu-

pasan tanah penutup baik dilakukan dengan peralatan sederhana


ataupun dengan peralatan berat misalnya bulldozer. proses seranjutnya
yaitu penambangan terbuka dengan bentukan undak-undak. Kegiaran
ini dapat dilakukan dengan peralatan sederhana ataupun shovel/backhoe, yang selanjutnya siap untuk clipindahkan ketempat penirnbunan.
Dalam hal penambangan dilakukan secara besar-besaran rnisalnya
sebagai bahan baku semen, perlu dilakukan teknik penambangan dan
pengangkutan dengan persyaratan ketat agar tidak mengganggu
Ii

ngkungan.

Pcrscntase (7o)
Scrnen

Tipc

'f ipc II

Tipc Ill
'l'ipc IV
'l-ipc V
Putih
Pozzolart

SiOr Alror FclO1 CaO


(r.0
2 I .l
L.1 63.2
11 I

JT

20.+
2.t..r
l-5.0

4.-l

2-s.-s

26.0

-5.9

3..1
-5.9

6.9

4,-l
3. r
4. r
2.8
0.6
3.6

Mgo

SO,

2,9

1.8

(r-l.l

2.5

I .'7

64.3

2.0

2.3

62.2

1.8

1.9

(r.1.

1.9

1.6

6-s.0

l.t

0.1

52.i

4.2

1.8

Loss

1.3
0.8
t.2
0.9
0.9
n.d
4.8

Insol
0.2
0.1

0.2
0.2
n.d
n.d

94

t70

2. PASIR KUARSA
Pengertian pasir kuarsa (pada umumnya dijumpai berwarna
putih) berbeda pengertiannya dengan pasir putih, Pasir kuarsa terdapat

sebagai endapan sedirnen. berasal dari rombakan batuan yang


mengandung silikon dioksida (kuarsa - SiO2) seperti granit, riolit,
granodiorit. Endapan pasir kuarsa te{adi setelah melalui proses
transportasi, softasi dan sedimentasi. Oleh sebab itu endapan pasir
kuarsa dialam tidak pernah didapatkan dalam keadaan murni. Butir
kuarsa dialam umumnya terdapat tercampur dengan lempung, feldspar

(K,Na,Ca,Al,Silikatt, magnetit (FeiO+), ilmenit (FeO, TiO2), limonit


[FeO (OH)n H2O], pirit (FeSj), mika (gabungan mineral), biotit [K
(Mg,Fe)r (AlSiO] Orn) (OH):1, hornblende [Ca: Na (Mg Fe2;* (Al, Fe3,
Ti)3 Si8 O2r (O.OH)21, zirkon (Zr SiO+). dan bahan organik dari
tumbuhan dan sebagainya. Proses transportasi oleh air menyebabkan
butiran pasir rnenjadi bertambah halus dan relatif menjadi lebih murni.
Material pengotor tersebut pada umumnya memberi warna pada pasir
kuarsa, sehingga dari warna yang ditunjukan dapat diperkirakan
derajat kemurniannya. Pada umumnya pasir kuarsa diendapkan dalam
penyebaran melebar, dengan ukuran butir yang berbeda mulai dari
fraksi halus (0,06 mm) sampai dengan fraksi ukuran kasar (2 mm).
Secara individu sifat fisik mineral kuarsa antara lain:
. Berwarna putih bening tetapi kadang-kadang berwama lain tergan-

r
o
o
o

tung pada oksida pengotomya, misal kuning mengandung Fe-Oksida,


wama merah mengandung Cu-Oksida
Kekerasan '. J (skala Mohs), bentuk kristal hexagonal
Berat

Titik

jenis
lebur

:2,65

: l7l5o C
Konduktivitas : l2- 100' C

Secara umum pasir kuarsa Indonesia mempunyai komposisi


Sio: 55.30-99,87Vc

o
o Fe:Or
r Tio:
o AlzOr

0,01-9,14vc
0,01-0,4evc
0.01-19,(NVc

t7t

o CaO:0,01-0,267o
o MgO :0,01-0,267c
o KzO :0,01-17 .007o
Dalam perhitungan cadangan endapan pasir kuarsa dapat
dilakukan dengan cara perkalian antara luas penyebaran dengan
ketebalan rata-rata, sedang ketebalan rata-rata dapat diketahui dengan
cara pemboran tangan, sumur uji atau parit uji. Disamping itu untuk
menentukan kualitas endapan dilakukan pengambilan contoh endapan

untuk keperluan analisa laboratorium baik analisa kimia maupun


mikroskopik.
Tempat Diketemukan

Daerah Istimewa Aceh: Kab. Aceh Barat, pantai Lhokruet, Kec.


Lhokkuret sebelah barat laut Calang (termasuk Formasi Ligan
berumur Oligasen, tebal lapisan 3 m); Kab. Aceh Barat Kec. Calang
pantai Calang (terdapat sebagai endapan pantai dan aluvial),
pelapukan granit dan batupasir kuarsa, wama putih kecoklattrn); Kab.
Aceh Selatan pantai sekitar Tapak Tuan (sebagai endapan aluvial dan

pantai, wama putih abu-abu); Kab. Aceh Tenggara, daerah Lawe


sebelah tenggara Kutacane (terdapat sebagai batu pasir kuarsa , wama

putih kuning); Kab. Aceh Besar pantai Lhoknga 18 km dari Banda

o
o

Aceh (terdapat pasir kuarsa, warrra putih kotor, endapan pantai); Batu
peletak, Rampelan Kec. Gaib, Aceh Tenggara).

Sumatera Utara: Kab. Simalungun, Panahatan. Tanjung Dolok


(terdapat batupasir kuarsa bercampur konglomerat ).

Sumatera Barat: Kab. Tanah Datar, Samaso (terrlasuk Forrnari


Ombilin); Kab. Sawahlunto, Sijunjung, Pelangke Sawahlunto
(termasuk Formasi Ombilin); Kab. Pasisir Selatan, Tarusan; Kab.
Solok, Singkarak, Kab. Lima puluh Kota, Kota Baru.
Sumatera Selatan: P. Bangka Tanjung Pengusuk (endapan aluvial;
SiO2 - 98,377o, AlzOr = 0,l6Vo, FeOr - 0,147c); P. Bangka, Matras
(Tanjung layang Batu (endapan aluvial, SiO2 - 97,56o/c, Al:Or =
0,68Vo, Fe2O1 = 0,20Vo); P. Bangka Pasir Padi (endapan aluvial, SiO2

173

112

98,53a/c, Al2Oj

0,6BVo, Fe2O3
0,07Vo); P. Bangka Taboali;
Biliton, Taryung Bunga (endapan aluvial, SiO2 93,957o, FezOr

0,547a,

Al:Or

0,717o,);

P. Belitung, Tanjung Empang Jebut

(endapan aluvial, SiO2 97,30Vo, Al2Oj = 0,587a, Fe2Oj = 0,707c) P.


Belitung, Kp. Baru (endapan aluvial, SiO2 87,05Vo, Al2Oq = 0,70o/c,
Fe2Or 0,077o, P. Belitung Tanjung Batu, Penyu (endapan.aluvial,
SiO2 = 92,10Va, Al2O3 = 2,9lVa, Fe2Oj = 0,26Vo).

Jambi: Kab. Sarko, Sekanjing (sebagai pasir kuarsa, SiO2 =


a
a

88o/o),

Batang Tembesi Kab. Sarko.


Bengkulu = Krui, SiO2 = 72,60Vo,Fe2O1= 4q"1.
Rrau: P. Kundur Kab. Riau Kepulauan (merupakan tailing tambang
timah); P. Karimun Kab. Riau Kepulauan (merupakan tailing tambang, timah); P. Singkep Kab. Riau Kepulauan (sebagai batu pasir
pantai).

Jawa Barat: Kab. Karawang, Cibitung, Jatiwangi (merupakan


endapan alur); Kab. Sukabumi, Kec. Cibadak, G. Walat (sebagai batu

pasir kuarsa berumur Miosen atas, warna putih; SiO2 = 84,84Vo,


Al2O3 = 1,477a, Fe2Oj = 0,607o), Kab. Lebak, Pasung Malingping
(merupakan batupasir kuarsa, dekat aliran S. Ciliman).
Jawa Tengah: Kab. Rembang Kec. Sedan, G. Klumit, G. Gempol
daerah Sambiroto (termasuk Formasi Ngrayong, putih, abu-abu,
kuning, coklat, mudah lepas, SiO2 = 967a); Kab. Rc.mbang, Krogan,
K. Nyamplong (endapan pantai, SiO, = 69,97-82."75c/c, Al.rOt = l,9l3,907o); Banjamegara, Sigugur, Karangkobar; Rembang, Pamotan
(endapan pasir pantai); Luk Ulo, Kedu, Banyumas; Baturetno Kab.
Wonogiri (bercampur dengan rnineral sanidin warna coklat, SiO2 =
657c, ,\lzOt - 187a, KzO = 1'l7o); Beji Kab. Klaten; Pantai Utara,
Rembang-Jepara (endapan pantai, SiO2 = 69,31Vo, AlzOr - 3,897o,
Fe2O3 = 3,89Vo); Ngandang Kab. Rembang, SiO2 = 97Vo, Al2Oj =
1,207o, Fe2Oj = 0,3Vo).
Jawa Timur: Kab. Tuban (endapan pantai, SiO2

- 97,0-98,7Vo,

CaO =

0,02-0,047o, MgO = 0,01-0,087c); Ngadon, Bumen, Tambakboyo,


Tasikharyo (endapan pantai, SiO2 - 90,73-96,83Vo, FezOr = 0,660,76Va, CaO = 0,21-3,240/o, TiO2 = 0,24-O,497o); Ampelgading Kab.

Malang; Nusabarung, Kab. Jembcr (endapan pantai,

Resen);

Lamongan Kab. Lamongan; Bangkalan Madura (endapan aluvial,


SiO2 - 807o, AlzO: - lVo, Fe2Or - lVc); Pantai Utara Madura
(endapan aluvial): Ambunten. Sumenep. Madura (endapan pantai.
SiO2 - 807c, Al:Or - LVo, Fe2O3 - 37c); Blego, Bangkalan Madura
(pelapukan batu pasir kuarsa berumur Miosen, SiO2 - 907o, A12O3 =
47o, Fe2C)1 = lo/o).

Kalimantan Barat: Kab. Sambas; Daerah Mandor. sebelah timur


Menpawah; Kab. Ketapang, Padangduabelas (SiO2 = 95,63Vo,FezOt
= 0,20%. Al:Or - l,B77c, TiO, = 0,18); Desa Wuko, Entugau dan
Senrentai Kec. Muko Kab. Sanggau (facies sedimen, berwama putih,

butir halus); Desa Bodok, Lapo, Kec. Sanggau Kapuas, Kab.


Sanggau (facies sedinren. berwarna putih, butir halus), Desa Sanjan
Pandan Sembuat Kec. Tayan Kab. Sanggau (facies sedimen,
berwarna putih, butir halus).
Kalirnantan Selatan: Kab. Banjar, Liang Anggang, Jln. BanjarmasinPleihari (endapan pantai. SiO2 = 96,037o, FezO.r = 2,40Va, TiO2
0,13o/c, CaO = 0,59ch. MgO
0,02Vo, Al2O3 = 07o); Kab. Tanah
Laut, Bantahan. S. Parnpau (endapan aluvial) berasal dari batu pasir
kursa Tersier, SiO: = 9J-99c/o. FelO1 = 0,1-0,27a, Cr2Oj = g,1qo,
Al2O.q = 0,2-0,1ch, TiOl = 0.0-5-0,3%', NazO = lVo, KzO = O,OZVo,
MgO 0,0lVc. CaO = 0.017c): Kab. Tapin, Binuang (lapisan
batupasir kuarsa beruntur Paleogen, SiO, = 94,47o, Al2O3 = 7,79Vo,

Fe:O.r

3,34cI', CaO

0.30Vo, MgO

0.267o, TiO2

O,33Vo);

Padang Batung Kandangan (sisipan tipis pada endapan lempung).

Sulawesi Selatan: Kab. Maros, Canrha (enclapan kuarsa, putihkunirrg-abu-abu, SiOl = 90(h. FelO1 = 27c).
Irian Jaya: Konda dan Sangkalun-9. Teninabuan (endapan aluvial),

Wamena (masa kontpak berbutir halus, putih, SiOr = 99Vc);


Hotekang Abe Pantai (SiOr = 66.40ch. Al:Or - 9,43c/c. Fe:O.r =
5,89Vo).

Kalirnantan Tirnur: Kuiu-o Kab. Pasir: Langiran Kab. Kutai, S. Nihin,


Kec. Barang Tongbak Kutai; Pantai tintur Sarnarinda.

174

Teknik Penamtrangan

i,
lr
ilil

l'7 5

Pasir kuarsa dari tambang

Penambangan pasir kuarsa dilakukan secara tambang terbuka


berbentuk jenjang. Tahapan kegiatan meliputi: pengupasan lapisan
penutup, pembongkaran pemuatan dan pengangkutan, dengan uraian
sebagai berikut:

Pencucian dengan air untuk menghilangkan lempung yang dikandungnya dengan


menggunakan siklon/classifi er/washer

Pengupasan lapisan penutup

Bermaksud memindahkan tanah penutup endapan pasir kuarsa


ketempat yang tidak mengganggu kegiatan penambangan. Tanah ini
nantinya untuk reklamasi. Peralatan yang digunakan antara lain
cangkul, sekop dan Iain-lain atau peralatan mekanis seperti scrapper,
shovel dan lain-lain. Pemilihan alat ini tergantung pada kondisi

lempung dan material pengotor

Scrubbing (pencucian) dengan kekentalan tinggi:


60-'7l%o Padatan

lapangan dan skala produksi yang diinginkan


Pembongkaran

Kegiatan ini dimaksudkan untuk melepaskan endapan pasir kuarsa


dari batuan induknya. Pada umumnya endapan pasir kuarsa merupakan endapan lepas/lunak yang mudah dibongkar. Oleh sebab itu
dapat digunakan peralatan tradisional seperti cangkul, sekop atau alat
mekanis sepefti bulldozer, wheel loader, backhoe atau power shovel
bila diinginkan produksi banyak.

Sisa lempung/
senyawa besi

Pemisahan magnetis

(magnetic separator)

Pemuatan dan pengangkutan

Material hasil pembongkaran dimuat dan diangkut ke unit pengolaharlpenampungan (stock pile). Pemlatan dapat menggunakan alat
muat wheel loader, back hoe atau dredging. Pengangkutan dapat
menggunakan alat angkut truck ungkit, gerobak lori, pikuliin dan
lain-lain.
Pasir kuarsa murni dengan
Spesifikasi tertentu

Pengolahan dan Pemanfaatan


Pada dasarnya pengolahan/pencucian pasir kuarsa dimaksudkan

untuk menghilangkan zat pengotor, meningkatkan kadar SiO2 atau


memisahkan/mengubah ukuran butir untuk memperoleh spesifikasi
yang diinginkan. Tingkat pengolahan pasir kuarsa ditentukan oleh
jenis penggunaannya. Bagan alir pengolahan pasir kuarsa adalah
sebagai Gambar 10.

Gambar 10. Bagan alir pengolahan pasir kuarsa.

Adapun pemanfaatan pasir kuarsa antara lain:

Industri keramik, sebagai bahan baku pembuatan tegel, mosaik dan


enamel

Industri cat sebagai bahan pengisi (filler)

176

o
o
o
e
r

Industri
Industri
Industri
Industri

177

karet sebagai bahan pengeras


gerenda sebagai bahan ampelas

oksida seperti:

logam sebagai bahan penghilang karat


penjemih air sebagai bahan penyari ng (filter)
Pembuatan fero silikon dan silikon karbid dengan persyaralan:
sio2
(minimum) 98vo,besi oksida (maksimum) o,3vo dinbebas
dari pirit

o
o

(FeS).

Industri semen portland


Pasir kuarsa merupakan bahan baku penolong untuk pembuatan
semen portland yaitu sebagai pengontrol kandungan sltit<a (didalam
semen untuk keperluan umum kadar sekitar 21,3Vo SiO2;.
Untuk I
ton semen diperlukan 66,5 kg pasir kuarsa.
Industri gelaslkaca

Dalam industri gelasrkaca pasir kuarsa dipergunakan sebagai


bahan
baku utama. untuk memperoreh produk gltur.-n u"u yang difnginkan,
dalam proses pembuarannya kadang-kadang ditamuat'kan
lrciau-

Tabel 10. Spesifikasi pasir kuarsa untuk industri gelas/kaca.


Spesifikasi dan Jenis produk
Analisis

Kaca lembaran
(E")

Celas kemasan dan


rumah tangga (%)

AlzO: dan BzO: untuk menambah ketahanan terhadap proses


kimia

Oksida krom, kobalt, besi atau nikel sebagai bahan pewarna


Oksida belerang untuk memperbaiki proses peleburan dan pelembutan gelas yang dicairkan.
Jenis produk dari industri gelas/kaca antara lain:
. Kaca lembaran, digunakan dibidang konstruksi bangunan
o Gelas kemasan, untuk pengemasan produk pada industri makanan
minuman dan farmasi
o Gelas keperluan rumah tangga, piring, cangkir, gelas
r Gelas untuk keperluan teknik, ilmu pengetahuan dan industri
gelas optik, gelas laboratorium, kaca penghantar listrik, gelas
isolator listrik, kaca laminasi, fiber glass dll.

lndustri bata tahan api


Dalam industri ini, pasir kuarsa merupakan bahan utama, persyaratannya seperti Tabel I I berikut.

Tabel 11. Spesifikasi pasir kuarsa untuk bata tahan api.


Gelas optik
(vo)

Analisis

Spesifikasi

Komposisi kimia

Komposisi kimia

si02

si02

Al201

17o

Na2Oj

0,307o (maks)
0,307o (maks)
0,307o (maks)

Fe2Oj
AI203
CaO + MgO
C12Oj

99,00 (min)

0,03* (maks)

0,10 (maks)
0,50 (mrrks)
0,50 (maks)

0,30 (maks)
0,20 (maks)
0,0006 (maks)

I (maks)
5 (maks)
5 (maks)
0,5 (maks)
5 (maks)

0,5 (maks)

Distribusi ukuran butir


(+20-200 mesh)
25 mesh
36 mesh

120 mesh

Hilang pijar pada 1000. C


Kelembaban

98,50 (min)

0,-50 (maks)

tuntuk menghasilkan gelas


kenrasan yang tak berwarna.

99,80 (min)
0,10 (maks)
0,02 (maks)
0,10 (maks)
0,0002 (maks

Kzo
Ti02

95Vo

(min)
(min)

Distribusi ukuran butir


Kasar
Sedang
Halus

Bentuk butiran

3,35-0,50 mm
0,50-0,18 mm
< 0,18 mm
agak bersudut

1,5 (maks)
0,-5 (maks)

5 (mask)

S5 (mats)
95 (maks)
0,5 (maks)

lndustri pengecoran

Dalam industri ini pasir kuarsa terutama digunakan sebagai pasir


cetak. Spesifikasi pasir kuarsa yang disyaratkan sebagai berikut
(Tabel l2).

179

178
Tabel 12. Spesifikasi pasir kuarsa untuk pengecoran
Analisis

Spesifikasi

Komposisi kimia

si02

90Vo

(nin)

Na2O + K2O

2Vo

Fe203

1,57o (maks)

Distribusi ukuran butir


Kasar (-30 + 70 mesh)
Sedang (70 mesh)
Halus (-70 + 200 mesh)
Bentuk butiran

(maks)

35Vo

3jVo
35Vo

sub-angular

3. INTAN
Intan merupakan satu-satunya batu permata yang mempunyai
formula yang terdiri dari satu unsur yaitu karbon (C). Intan terbentuk
bersamaan dengan pembekuan batuan ultrabasa misal peridotit dan

kimberlit. Kristalisasi intan pada kimberlite pipe terbentuk

pada

kedalaman 60 mil (kurang lebih 95 km) atau lebih dalam dibawah


permukaan bumi dan pada temperatur 1 500 - 2.000' C. Intan
mempunyai hablur dengan sistem kubus, umumnya berwarna bening
tetapi kadang-kadang berwarna kebiruan, kehijauan, kemerahan atau
kuning, berat jenis 3,52 dengan kilap adamantin dengan garis tengah
atom 1.54o A, kekerasan l0 skala Mohs atau 8000-8500 knop. Sejauh
ini tidak diketahui asal dan arti kata intan yang dalam bahasa Inggris
disebut diamond. Kata diamond yang diturunkan dari bahasa Belanda
diamant sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti tidak
terhancurkan. Ikatan atom karbon dalam kisi-kisi hablur mempunyai
empat arah keleinahan atau bidang belah. Bila mendapat tekanan yang

kerirs maka kristal ini akan terbelah meninggalkan permukaan atau


bidang yang halus sejajar dengan bidang oktahedron. Sifat ini sangat
penting bagi pengrajin intan (lapidan) dalam membagi intan berbutir

besar menjadi butir-butir yang lebih kecil serta dalam membuat


bentuk dan mengasahnya. Sifat lain yang penting adalah dalam

membiaskan dan memantulkan sinar. Sinar yang berbeda akan


dibiaskan dan dipantulkan berbeda arahnya, karena adanya indeks
bias. Sebagai contoh terhadap sinar merah mempunyai indeks bias
2,407, sedangkan indeks bias terhadap sinar ungu atau lembayung
2,465. Dispersi antara sinar merah dan ungu tercatat 0,058 ( = 2,4652,407) dan antara sinar merah dan biru 0,048. Karena harga dispersi
yang sangat tinggi itu maka intan kelihatan gemerlapan.
Tiap-tiap batu mulia (termasuk intan) dicari dan dihitung berat
jenisnya. Sesudah mengetahui nilai kerasnya, beratnya dapat dihitung
dalam karat dari batu mulia itu. Karat untuk batu mulia (termasuk
intan) adalah satuan berat yang setimbang dengan seperlima gram (l
karat = 0,20 gram). Satuan ini dipakai diseluruh dunia, oleh karenanya
disebut karat metrik. Jika kita timbang berat intan, tidak dikatakan
berat intan itu satu gram, melainkan dikatakan lima karat intan. Agar
tidak salah pengertian, harap diketahui bahwa timbangan karat yang
dipakai untuk batu mulia tidak sama dengan satuan karat yang dipakai
untuk emas. Misalnya emas dinamakan 24 karat adalah jenis emas
murni ( = 100?a Au). Emas disebut 18 karat mengandung 18124 x
1007o = 75Vo emas murni. Intan Indonesia terkenal karena intan yang
paling keras dan paling berat dibandingkan dengan intan dari negara
lain, mungkin dalam hal ini disebabkan intan Indonesia mempunyai
bentuk kristal kembar. Di Indonesia intan sering terdapat sebagai
endapan aluvial bersama dengan kuarsa, korundum dan sirkon. Di
Indonesia terdapat di Martapura (Kalimantan Selatan) dalam batuan
yang disebut Breksi Pemali dan didaerah Landak, Sekayan, Sanggau
(Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kecamatan Permata Intan).
Ditempat ini terdapat kampung yang bernama kampung Sungai Gula
tempat pemukim penambang intan tradisional. Kebanyakan intan dari
Kalimantan mempunyai warna. Warna yang digemari adalah Air Laut
yang berwarna putih, agak kebiruan seperti air laut, yang berwarna
lebih biru disebut Air Hujan harganya sangat mahal. Warna kuning
merupakan intan yang paling murah. Kesemuanya ditemukan pada
endapan aluvial di sungai purba. Jenis endapan intan yang lain ialah
endapan pipa breksi yang disebut endapan kimberlit, misalnya yang
dijumpai di Kimberly (Afrika) dan Australia Barat. Endapan kimberlit

180

ini

mempunyai ciri bahwa mineral olivin yang berasosiasi telah


mengalami proses serpentinisasi. Intan yang diketemukan di
Kalimantan dan berukuran paling besar adalah intan Trisakti dengan
166,72 karat diketemukan di Kab. Cempaka tahun 1965. Intan ini
digosok di Amsterdam. Menyusul penemuan intan Galuh Cempaka
berukuran 29,75 karat pada tanggal l8 Agustus 1969. Pada tahun itu
juga ditemukan intan Galuh Bulan berukuran 27,5 karat, sedang pada
27 November 1967 ditemukan intan Galuh Badu berukuran 26,50
karat di Kec. Bati-Bati, Kab. Tanah Laut dan pada tahun 1987 akhir
ditemukan lagi intan dengan berat 50 karat berwarna kuning.
Walaupun penelitian tentang intan tidak pernah berhenti, tetapi orang
tidak pernah menemukan batuan asal intan. Meskipun semula
Koolhoven, 1936 menduga asalnya dari Breksi Pemali, tetapi hingga
saat ini pendapat itu belum dapat diyakini oleh semua orang. Intan
ternyata tidak hanya ditemukan dalam endapan Pleistosen (dahulu
disebut Diluvium), tetapi juga dalam lapisan berumur Eosen bahkan
dalam Formasi Manunggul yang berumur Kapur Atas. Dengan
demikian jelas intan setidaknya berumur Pra-Manunggul. Hingga kini
intan digali dari endapan sungai yang berumur Pleistosen hingga
sekarang yang terd.iri dari ukuran kerakal sampai lanau.

Tempat Diketemukan

Intan yang diketemukan

di Indonesia baik untuk permata.

Tempat penemuan antara lein di daerah:


o Riau: S. Siabu, Kamper, Bangkinang (berupa indikasi pada endapan
aluvial).

o
o

Kalimantan Barat: Muara Mengkiang (sebagai rombakan pada

l8l

Kalimantan Selatan: Kab. Martapura, Simpang Empat (antara


kampung Mataram dan Sungkai, pinggir Jl. Raya Banjarmasin Kandangan (terdapat dalam endapan kerikil pada daerah dataran

banjir, telah diusahakan oleh masyarakat.


Kalimantan Timur: Sekatak bunyi (berupa indikasi pada endapan
aluvial), Kab. Kutai, Kec. Longiran, S. Babi; Kab. Kutai sekitar Kp.
Tiongohan cabang sungai sebelah kanan.

Teknik Penambangan
Intan dicari dengan cara membuat galian lubang didalam tanah
yang mungkin mengandung intan. Ada dua macam lubang yaitu
lubang surut dan lubang dalam. Lubang surut kedalamannya antara
satu sampai satu setengah meter sedang lubang dalam dapat mencapai
sepuluh meter atau lebih. Untuk menghancurkan tanahnya pada
mulanya hanya digali dengan tenaga manusia, tetapi saat sekarang

sudah ada yang mempergunakan pompa semprot seperti dilakukan


didaerah penambangan rakyat didaerah Sungai Gula, Kec. Permata
Intan. Pemisahan tanah dengan intan dilakukan dengan dulang ( lingganan) yang terbuat dari kayu. Tempat mendulang batu dan tanah
dinamakan pendulangan. Pendulangan yang ada disekitar Martapura
ialah di Cempaka, Banyu Ireng, Ampar Tikar, Pendarapan dan

Banjarbaru. Disekitar proyek Riam Kanan terdapat pendulangan


Mandikapau, Awang Bangkal, Tiwingan, Rantau Bu-iur dan Rantau
Alayung. Dimasa mendatang dimungkinkan melakukan penambangan
intan dengan cara mekanik sedang pekerjaan mendulang memerlukan
pengalaman bertahun-tahun.

endapan aluvial); Ngabang (sebagai rombakan pada endapan aluvial).

Kalimantan Tengah: Kampung Sungi Gula, Kec. Permata Intan


Barito Utara (merupakan endapan intan letakan pada aluvial);
Purukcau, Murungraya; Sei Pinang (semuanya merupakan endapan
intan letakan pada aluvial); Pujon, cabang S. Bohot (berupa indikasi
pada komplek batuan ultrabasa yang dikelilingi oleh batupasir dan
serpih yang mengandung batu bara.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Intan diasah dengan bentuk asahan fasit, misal berlian, markis,
pendelop dan briolet. Di antara bentuk tersebur bentuk fasit berlian
yang paling umlrm, sehingga intan yang demikian disebut pula dengan
nama berlian. Sering terjadi pedagang intan berlian membuat istilah
intan dan berlian. Menurut mereka yang disebut intan adalah yang

182

183

tidak gemerlapan atau nampak suram, walaupun kedua permata


tersebut sama-sama diasah dalam bentuk asahan fasit. Pendapat
tersebut sebetulnya tidak benar. Bentuk asahan berlian bermacam-

dapat diubah menjadi kuning atau coklat dengan pemanasan yang

macam antara lain berlian Swiss (sederhana), berlian gunting, berlian


raja (standar), berlian mawar, berlian magna, berlian bintang bersinar.

Intan yang berukuran kecil biasanya diasah dengan bentuk asahan


berlian sederhana yang hanya mempunyai fasit meja, fasit mahkota
dan fasit paviliun. Intan berukuran besar diasah dengan bentuk asahan
berlian standar atau berlian lain yang mempunyai fasit meja, bintang,
mahkota, sabuk atas, sabuk bawah, paviliun dan kulet. Dalam
mengasah intan dengan bentuk asahan fasit, pengaturan sudut fasit
sangat penting. Hal yang sama juga dengan sudut antara mahkota dan
paviliun merupakan kunci gemerlapannya bagi intan yang bersangkutan. Perbandingan panjang, lebar dan tinggijuga merupakan faktor
yang harus diperhatikan. Apabila salah satu dari tiga faktor tersebut
dilupakan, maka intan tersebut kurang gemerlapan. Lebih-lebih
apabila ketiga faktor tersebut dilupakan, maka sebuah berlian akan
nampak suram seperti sebuah potongan/pecahan gelas.
Terdapat dua jenis intan yang ada dialam yaitu intan bening
yang disebut intan mulia atau intan permata dan intan hitam yang
disebut intan industri. Intan industri dipergunakan sebagai alat
pemotong, dan pemoles misalnya sebagai mata gergaji, mata pahat
bor, pemotong kaca, dan bubuk penggosok, pengasah dan pemoles.
Jenis intan ini banyak dihasilkan oleh negara di Amerika Latin misal;

Brasil, Boliva, Argentina, Uruguay dan negara Afrika Selatan dan


Afrika Barat. Ada pula yang disebut intan Matara, yang sebenarnya
mineral zirkon yang berwarna bening es, atau dengan kata lain intan
imitasi. Walaupun sangat jarang, intan bening yang berwarna sering
pula didapatkan misalnya berwarna kekuningan, kebiruan, kehijauan,
kemerahan dan kadang dijumpai dalam keadaan warna tua. Karena
intan yang berwarna menjadi sangat indah, tetapi jarang sehingga
harga menjadi mahal. Ini dilakukan dalam reaktor atom dengan jalan
neutronisasi atau penembakan dengan partikel atau elemen yang mempunyai atom_berukuran sama. Misal warna hijau dengan menggunakan
partikel radroaktif dari ikatan radium. Warna yang telah dihasilkan ini

diatur.

Intan termasuk batu permata yang jarang dan sukar didapat,


sehingga dibuat sintetis dan imitasinya. Di antara intan-intan dan
imitasinya yang terkenal dan banyak beredar di toko permata adalah:
o fabulit (strontium fifanat), titanium (rutil)
r linobat (litium niobat), nilam putih, spinel putih, sirkon

o
o
o
.
r

sirkonia (sirkon kubus), diamonair

YAG (yttrium alumunium garnet)


YIG (yttrium ion gamet), GGG (godolinium gallium garne0
djevalit (sirkonia Amerika Serikat)
paionit (sirkonia Rusia).

Untuk membedakan intan asli dan palsu perlu pengalaman.


Harga atau nilai sebuah intan ditentukan 4 faktor utama (biasa disebut
4 C yaitu berut(carat); warna (colour); kejernihan/kebersihan (clarity)
dan bentuk asahan (cut).Intan dengan berat 0.5-2.0 karat sangat ideal
karena mudah dijual, dipakai tidak terlalu mencolok. Intan berwarna
meskipun dari warna buatan tetap lebih berharga dan lebih mahal dari
pada intan yang bening. Kejernihan sebuah intan diartikan bahwa
intan tersebut tidak mengandung atau mempunyai cacat termasuk
pengotoran seperti gelembung atau mineral lain. Berdasarkan derajat
kejernihan ini, intan dibagi menjadi beberapa kelas sebagai berikut

(Tabel l3).
Pengotoran atau cacat yang dimaksudkan di atas hanya dapat
dilihat oleh ahli permata/intan khususnya menggunakan alat laboratoTabel 13. Derajat kejernihan intan.
Simbol

Kelas

IF
VVS

Keterangan

mutu tinggi, tak ada cacatlpengotoran


sedikit sekali mengandung cacatlpengotoran
sedikit mengandung cacatlpengotoran

VS
SI
PI

P2

pengotoran/cacat sekali
pengotoran/cacat nyata
pengotoran/cacat besar

P3

mutu rendah, pcngotoran/cacat besar sekali

3
5

185

r84

rium. Mungkin intan kelas 6 atau 7 dapat diuji dengan menggunakan


peralatan sederhana misalnya mikroskop birokuler. Di samping
klasifikasi tersebut di atas, ada pula klasifikasi berdasarkan kejernihan
yang digabungkan dengan warna serta dinyatakan dengan huruf dan
angka seperti Tabel l4 berikut.

AA = putih biru
A = putih kebiru-biruan

putih

BC = putih keperak-perakan
D
E
F

perak bunga tanjung bagian atas


= perak bunga tanjung kabur
= bunga tanjung muda
= bunga tanjung

dung pengotoran
sangat sedikit mengandung pe-

ngotoran
sedikit pengotoran
sedikit pengotoran 2
sedikit pengotoran 3

berbi

sangat berbintik-bintik

ntik-bintik

Apabila dalam suatu sertifikat yang menyertai sebuah permata


menyebutkan:

:
F-6 :
AB I -2

AA3 :

garam dapur (NaCl) dan 16 ons air.

Yang sangat perlu diperhatikan ialah jangan sekali-sekali melepaskan intan dari ikatannya, karena dapat menyebabkan intan tersebut
menjadi cacat. Apabila hal ini harus dikerjakan, serahkan kepada ahli
permata. Apabila saat ini intan banyak dipakai sebagai perhiasan
untuk keindahan dan status sosial, pada jaman dahulu intan dianggap

bersih

jernih
sangat sedikit sekali mengan3

1 ons

barang bertuah.

Tabel.l4. Warna dan kejernihan intan.

AB

kaporit (CaOClz),

berarti intan yang bersangkutan putih jernih dan jernih


berarti intan yang bersangkutan berwarna bunga tanjung
dan berbintik-bintik
berarti intan tersebut berwarna putih biru dan sangat sedikit

mengandung pengotoran.
Walaupun intan merupak;rn benda terkeras yang tidak mungkin

tergores oleh benda-benda lain, namun memerlukan perawatan pula.


Pemakaian yang terus menerlls menyebabkan intan akan kehilangan
gemerlapannya. Hal ini disebabkan oleh kotoran yang melekat pada
permukaan fasit dan menghalangi sinar yang menembus, dibiaskan
serta dipantulkan.
Dalam hal ini perawatan dilakukan dengan mencuci dan membersihkan. Alat-alat yang diperlukan antara lain:
. sikat halus (misal sikat bulu mata)
o larutan yang terdiri dari 20 ons natrium bicarbonat (NaHCOj), I ons

4. KAOLIN
Nama kaolin berasal dari kauling bahasa Cina yang berarti
pegunungan tinggi. Ditempat ini penambangan kaolin telah dilakukan
sejak beberapa abad yang lalu. Kaolin merupakan masa batuan yang
tersusun dari mineral lempung dengan kandungan besi yang renddh.
Kaolin mempunyai komposisi hidros aluminium silikat (Al2O3 2SiO2
zHzO) dengan disertai beberapa material penyerta. Mineral yang
termasuk dalam kelompok kaolin adalah kaolinit, nakrit, dikrit dan
haloisit dengan kaolinit sebagai mineral utama. Proses pembentukan
kaolin adalah karena pelapukan dan proses hidrothermal alterasi pada
batuan beku yang banyak mengandung feldspar dimana mineral
potasium aluminium silikat dan feldspar dirubah menjadi kaolin.
Dapat pula terbentuk sebagai pelapukan batuan metamorf khususnya
gneis, sedang kaolin sekunder merupakan hasil transportasi kaolin
primer. Proses pelapukan sebagai berikut:
2Kal SirOa +ZHzO + COz----, AlzOr2SiOz ZHzO + 4SiO2 + KzCO:
feldspar

kaolin

Proses pelapukan tersebut terjadi pada permukaan atau sangat


dekat dengan permukaan, pada umumnya terjadi pada batuan beku.
Endapan kaolin yang terjadi karena proses hidrothermal terdapat pada
rekahan-rekahan, patahan atau daerah dengan permiabilitas tinggi. Di
Indonesia endapan kaolin yang potensial nrerupakan endapan residual
dari hasil pelapukan batuan beku asam/granit. Kaolin umum berwarna
putih, kekerasan 2-2,5, berat jenis 2,60-2,63, indeks bias 1,56, titik

186

187

Tenggara, Kec. Kuta Panjang Kp. Akul (telah digunakan sebagai


bahan keramik, analisa X-RD adalah kaolin, kuarsa dan mika,
terdapat dalam Formasi Rampong yang berumur Oligosen Atas -

endapan aluvial); daerah Aer Rajah, P. Belitung (seperti kaolin


daerah Pangkalalang); Kab. Lahat, daerah Tanjungsari (terdapat
dalam batuan sedimen Neogen, dapat dipergunakan untuk industri
keramik, kandungan FeO = 0,407o); daerah Aer Saga, P' Belitung
(endapan kaolin residu, mengandung kuarsa dapat dipergunakan
untuk industri keramik halus, cat, kertas dan kosmetik); Kab'
Belitung Kec. Tanjung pandang, desa Badau (endapan residual,
kandungan SiO2 = 66,10.85,86Vq Al2Or = 7,99'22,77a, K2O = 0,102,9OVo, Na2O = 0,001-0,317o, MgO = 0,01-0,19Vo, CaO = 0,011O,63Vo, TiO2 = 0,094-0,59Va, Cr2Or = 0,002-60 ppm, hilang prjar =
O,O94Vo, brightness = 65,7-887o, hasil X-RD = kuarsa, halosit,
ortoklas, baik untuk filler pada industri kertas, cat, kosmetik, zat
pembawa dan keramik halus); Kab. Belitung, daerah Air Seru Kec.
Tanjung Pandan (merupakan endapan residu, banyak mengandung
kuarsa, dapat dipergunakan untuk industri keramik berat, keramik
halus, keftas, cat dan kosmetik); daerah Bintahan, Rantau (berasal

Miosen Bawah).
Sumatera Utara: Kab. Tapanuli lJtara, daerah Perbukitan dan Rawa
Aek Rao didataran Sarulla (merupakan hasil proses hidrothermal,

dari batuan beku asam, sebagai bahan bata tahan api, kandungan SiO2
= 56,6-86,56Va), AlzOt + TiOz = 15,43-39,547o,FezOt = 0,24-4,83Vo,
CaO = 0,01-0,65Vo, MgO = 0,02-2,O47o, PzOs - 0,02-0,03Vo, SO: -

berasosiasi dengan batuan andesit).


Sumatera Selatan: daerah G. Muda, Belinyu, P. Bangka (berasal dari
granit lapuk berumur Trias, merupakan kaolin letakan/aluvial, dapat
dipergunakan untuk bahan baku industri keramik halus, industri cat

0,23-0,947o, KzO + Na2O = 0,35'2,25Va).

lebur 1850o C, plastis, daya hantar panas dan listrik yang rendah, PH
bervariasi. Kaolin yang diambil dari Pangkal Pinang, Bangka (2
tempat yaitu di Batu Belubang dan Air Mesu menunjukan kandungan
SiO2

Tio2

64,28-52,347a, Al2O3
0,003-0,002va.

24,00-31,80Vo, Fe2O1

1,35-1,707o,

Tempat Diketemukan
Daerah Istimewa Aceh: Kab. Aceh Tenggara, daerah Blangkejeren
(kaolin berwama putih, plastis, mengandung pasir kuarsa dan pirit);
Kab. Aceh Barat daerah Krueng, Seunagan (terdapat dalam Formasi

Tutut yang berumur Kwarter, warna putih abu-abu, plastis


mengandung pasir kuarsa dan sisipan tipis lignit); Kab. Aceh

dan kertas); daerah Muntok, Jebus Sungai Liat, P. Bangka (sifat


seperli kaolin G. Muda, Belinyu); daerah Merawang, P. Bangka (sifat
seperti kaolin G. Muda, Belinyu); daerah Air Seru, Pangkal Pinang,
P. Bangka (berasal granit lapuk berumur Trias, kemudian diendapkan

sebagai kaolin letakan disekitar pantai/aliran sungai, dapat dipergunakan sebagai bahan industri keramik halus, keramik kasar setelah
mengalami proses pencucian); daerah Cerucuk, P. Belitung (berasal
dari batuan granit berumur Trias yang mengalami pecampuran secara
intensif (endapan kaolin residu, dapat dipergunakan sebagai bahan
industri keramik haius, keramik kasar); daerah Pangkalan Baru, P.
Belitung (seperti kaolin Carucuk) daerah Pangkalalang, Tanjungpandan P. Belitung (pemanfaatan seperti kaolin Carucuk, merupakan

Kalimantan: Kab. Banjar, daerah Liang Anggang (merupakan


endapan aluvial, analisa X-RD; kuarsa, holoysit-kaolinit,mika); Kab.
Martapura daerah Utamik (hasil pelapukan tufa asam dan batuan
beku, hasil X-RD: disordered kaolin, kuarsa, lempung)
Jawa: Banjarnegara, Wonogiri, desa Jetak Kec. Semin, Gunung
Kidul, Trenggalek.
Bali: Kab. Tabanan, Kec. Baturiti, desa Bangli (merupakan pelapukan tufa batuapung, wama putih abu-abu).

Nusa Tenggara Barat: Kab. Lombok Timur, Kec. Kmak, desa Batu
nampar (pelapukan andesit, komposisi SiO2 - 51,347o, Al2O3 =
28,767o, Fe2O3 = 1,037a, CaO = 1,20Vo, MgO - 0,92Vo, Na2O =
0,897o,K2O = l,60Vo,TiO2 - 0,84Vo, H2O = 4,20Vo); Kab. Bima Kec'
Sape, desa Sari (pelapukan andesit, dapat digunakan unhrk bahan
baku keramik kasar. analisa kimia; SiOz

57,61Vo, Al2Oj = 24,87Vo,

il
189

188
I

Fe2Or = 2,8lVc, CaO

ilri

MgO = 0,40Va, Na2O = 0,68Vo" K2O =


0,577o); Kab. Lombok Tengah, Kec. Pujur, desa

1,20Vc,

TiOr Lentak (pelapukan batuan gunung api, wama putih abu-abu,


0,167c,

o
o

ii

bercampur pirit).

Sulawesi Tengah: Palawa Kab. Donggala (pelapukan

ruf

Talang dengan sekat

kaca,

(sluice box)

berumur Kwarter).
Maluku: Ngai Modomera, Tabobo, Halmahera Tengah.

Teknik Penambangan

o
o
o

Penambangan kaolin dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:


Tambang terbuka (open pit)
Tambang semprot (hydraulicking)
Tambang dalam (underground mining).

Tangki pengurnpul ------->

Tangki pengendapan
(setting tank)

Dua cara yang pertama lebih banyak diterapkan dibanding cara

yang ketiga. Pada tambang terbuka, pengupasan tanah penutup


dilakukan dengan alat sederhana atau dengan alat mekanis (bulldoser,
scrapper dll). Endapan kaolinnya dapat digali dengan menggunakan
excavator antara lain: backhoe ataupun shovel, kemudian dimuat
kedalam truck dan diangkut kepabrik pengolahan. Pada cara tambang
semprot setelah pengupasan tanah penutup lalu disemprot dengan
menggunakan pompa air beftekanan tinggi. Hasil penyemprotan

berbentuk lumpur yaitu campuran kaolin dengan air. Kemudian


lumpur tersebut dipompakan ketempat pengolahan dengan pipa-pipa.
Pengolahan dan Pemanfaatan
Pada dasarnya pengolahan kaolin ditujukan untuk membuang
mineraukontaminan seperti pasir kuarsa, oksida besi, oksicla titaniurn,
mika dll. Selain itu bertujuan untuk mendapatkan bLrtir-butir- halus,
tingkat keputihan/kecerahan tinggi, kadar air tertentu, pH tertentu dan
sifat-sifat lainnya. Pada dasarnya proses pengolahan yang dilakukan
sangat tergantung pada jumlah jenis mineral pengotor dan spesifikasi

penggunaan. Proses pengolahan dapat dilakukan sebagai berikut


(Gambar I I dan Gambar l2).

Pcnyaringan

l----

pr* kr**_l
I--'-|
_-.......-

t
I

-___lI

Penserinonn

Kaolin

murni

l-=.rc.r,,fi]

-_-T--+

Tepung kaolin

(Jambar I l, Bagan alir prcscs pengolaan


kaolin secara umum.

l9l

190

Kaolin sebagai bahan baku industri mempunyai kegunaan yang


bervariasi:
r Industri keftas
Kaolin digunakan sebagai bahan pengisi (filler material) dan sebagar
bahan pelapis (coating nruterial)

Kaolin dari tambang

Drum pencuci (washing drunt)

Industri keramik dan porselin

Pengayak Eetar (vibrating screen)

Kaolin digunakan sebagai bahan body melalui proses biscuit,


maupun untuk bahan glasir
lndustri karet
Kaolin digunakan sebagai bahan wlkanisir dalam industri karet
Bahan tahan api

Kaolin sebagai bahan utama pembuatan bata tahan api


Bagian dari industri cat, kaolin digunakan
Sebagai bahan extender produksi cat
Sebagai bahan substitusi yang mewamai cat
Untuk membuat cat berwarna cemerlang
Dalam industri plastik, kaolin digunakan untuk
Membuat permukaan plastik menjadi rata
Membuat plastik resisten terhadap serangan zat-zatLjmia
Barang-barang industri lain yang memerlukan kaolin antara lain:

o
o
o

Penyaring tekan (filter press)

o
o

Pengeringan I (rotary/belt dryer)

Penepungan Qtul

Pengeringan

ll

ve

rize

r)

Qtressure hot air)

@
@---T-_
t-ltb--_-l
-l--_T_

F..r*-r;l

-__l_
Kaolin untuk bahan palapis (coating)

ruotin

,n,rt

uut un

p.ngirGt-rl-'l

Gambar 12. Bagan alir pengolahan kaolin untuk pengisi

o
o
o
o
o
o
r
r
.
o
o

Tinta putih
Lemperekat
Insektisida/obat pembunuh serangga
Rooting gramales
Obat-obatan
Semen

Pupuk
Bahan pemutih
Kosmetika (alat atau obat kecantikan)
Pasta gigi

Tekstil
Tiap penggunaan kaolin memerlukan spesifikasi yang tersendiri

misal:
. Sebagaiy'//er (pengisi) persyaratan antara lain:

192

derajat keputihan (brightness): 79-83,5Vo


:0,3-0,5Vo

. sisa lolos saringan


.PH
. kandungan air

4,5-J,0

:maksimum l7o

Sebagai pelapis persyaratannya antara lain:

o
o

derajat keputihan (brightness): > 83Vo


ukuran butir
: < 2 mikron:71-80Vo

bentuk partikel

> 3 mikron: 3-87o


:

Jlat shape

5. ZIRKON
Disebut pula dengan nama jargoon atau batu yakut mempunyai
komposisi kimia ZrSiOa, kekerasan 7,5 dengan berat jenis 3,9-4,8,
berwarna merah tua, kuning, hijau merupakan mineral tambahan pada
batuan beku dalam yang kaya akan sodium seperti granit, syenit <Jan
pegmatit. Disamping itu didapatkan pula pada batuan metamorf yang
berasal dari batuan tersebut di atas. Dijumpai pula pada endapan
aluvial dalam bentuk ukuran butir yang kecil bersama dengan pasir
kuarsa dan kasiterit. Sebagian dari jenis zirkon tidak tembus cahaya
dan disebut sebagai zirkon "biasa" dan tidak clipergunakan sebagai

perhiasan, yang berwarna bening dinamakan zirkon mulia atau


Hyacinth. Batuan zirkon berganti-ganti warna jika dipanaskan misal
zirkon yang berwarna kuning (disebut sebagai Hyacinth) bila
dipanaskan menjadi biru, apabila pemanasannya berlanjut akan
menjadi kehijauan. Batu zirkon jika difasit menjadi ..inran Matura,',
nama ini diambil dari daerah Matura di Ceylon dan sulit dibecrakan
dengan intan asli. salah satu jenis mineral zirkon yang dikenar sebagai
metamict zirkon dijumpai dalam bentuk mineral ekanite yang banyak
mengandung thorium dijumpai bersama dengan pasir di Ceylon. Jenis
mineral ini dikenal sebagai "low zirkon" berwarna hijau.

193

Tempat Diketemukan

Di Indonesia endapan zirkon belum banyak diketahui keberadaannya. Didaerah S. Seputih (Lampung) didapatkan bersama dengan
pasir kuarsa dan kasiterit, jumlah cadangan diperkirakan sebanyak
21.350 ton. Didaerah lain keberadaannya masih terus diteliti.

Teknik Penambangan

Di

Indonesia zirkon didapatkan sebagai endapan aluvial.

Penarnbangan dapat dilakukan dengan peralatan sederhana ataupun


dengan peralatan berat. Karena berbentuk pasir dapat pula dilakukan
penambangan dengan cara diisap, selanjutnya diangkut ketempat
penampungan.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Mempertimbangkan perbedaan berat jenis antara zirkon (berat
.jenis 3,9-4,8), kasiterit (berat jenis 6,8-7,1) dan kuarsa (2,65), maka
pemisahan ketiga mineral tersebut dapat dilakukan atas perbedaan
berat jenis.
Dengan mempertimbangkan zirkon mempunyai titik lebur yang
cukup tinggi yaitu 2430' C, maka zirkon dimanfaatkan untuk
konstruksi reaktor nuklir ataupun refraktori tinggi, ataupun untuk

alloys. Zirkon oksida dimanfaatkan untuk pelapis atau glasur.


Disamping itu apabila dijumpai dalam bentuk butiran yang dapat
diasah, dipergunakan sebagai perhiasan/batu mulia. Di luar Indonesia
zirkon banyak di Ceylon, India, Brazil, Amerika, Kanada, Thailand.

6. KORUNDUM
Korundum dengan runtus kimia AI:Or, ntempunyai kekerasan 9
(clipergunakan sebagai standafi skala Mohs). berat jenis 3,95-4,10,
sistem kristal rhonrbohedral, pecahan konkoitLtl. Warnanya bervariasi

!
194

antara lain biru, merah, abu-abu, coklat dan putih. Korundum terbentuk dari segregasi batuan yang bebas silika yang terdapat pada
batuan nefelin syenit, syenit ataupun pegmatit. Didapatkan pula pada
batuan metamorf tingkat tinggi yang miskin silika tetapi kaya aluminium antara lain marmer, mika sekis, granulit, eklogit dn radingenit.
Dijumpai pula dalam aluvial ataupun pada pasir laut/pantai.

Tempat Diketemukan
Sampai saat ini di Indonesia belum dijumpai endapan korundum
yang potensial. Tempat yang'sudah diketahui keberadaannya antara
lain:
o Kalimantan Tengah: S. Busang, Kp. Jujang, Kab. Barito, Kab. Barito
Hulu (cukup baik untuk permata, jenis rubi dan safir terdapat dalam
endapan sungai, bentuk membundar tanggung sampai baik); S.
Tuhup (baik untuk permata, sebagai endapan placer didaerah

pendulangan intan)

Kalimantan Selatan: Simpang Empat, Martapura Kab. Banjar


(terdapat pada endapan sungai didaerah pendulangan intan).

Teknik Penambangan
Pada umumnya korundum didapatkan berasosiasi dengan intan.
Oleh sebab itu teknik penambangan dilakukan seperti penambangan

intan.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Korundum yang tidak berwarna dipergunakan sebagai bahan


abrasive, yang mempunyai warna indah dan ukurannya besar dapat
dibentuk dan dipoles menjadi batu permata.

195

7. KELOMPOK KALSEDON
Kelompok kalsedon merupakan nrineral yang terjadi oleh
larutan magma yang mengisi rekahan (cavim* fillinfl dan urat-urat
(vein). Variasi mineralnya terdiri dari kalsedon, opal, jasper (jaspis)
dan agat (periksa pula pembahasan kalsedon). Karena kejadiannya
langsung dari pembekuan larutan magma, maka dapat disebut pula
sebagai kalsedon primer. Jenis kalsedon disebut pula dengan nama
batu Mirah atau rabijn atalr ruby berasal dari kata Latin rubber yang
artinya merah. Apabila padanya dipancarkan cahaya ultraviolet akan
bercahaya pijar. Jika dipanaskan sampai 1000 "C, wama merah darah
berubah menjadi merah muda dan setelah dingin lalu menjadi merah
seperti semula. Warna merah ini terbentuk karena pengotor dari
larutan besi oksida, Jasper disebut juga sebagai batu hati ayam terlihat
keruh oleh unsur-unsur asing sehingga kepadatan dan warnanya
bervariasi, merah, kuning, coklat, warna merah pengaruh dari unsur
besi oksida, kuning oleh besi hydroksida, dan coklat/merah tua oleh
mangan dioksida. Opal disebut pula batu Kalimaya atau biduri
Kluwung, berwarna putih, abu-abu, ungu putih seperti awan, kadangkadang terdapat bintik-bintik warna emas, didalamnya sering
didapatkan "air magma". Air ini apabila kena sinar menampakan
warna seperti pelangi (kluwung).
Agat disebut pula sebagai agaat atau achate, warnanya bervariasi dari merah, sampai putih susu, dari biru sampai hitam pekat.
Warna-warna tersebut dapat berkombinasi sehingga memberi warna
yang indah. Warna tersebut sebenarnya adalah unsur pengotor/kontaminan.

Dari uraian tersebut jenis-jenis kalsedon primer lebih dicirikan


pada ekspresi warna, sedang komposisi dan kekerasannya relatif sama,
kesemuanya mempunyai komposisi kimia SiO2. Kalsedon primer
terdapat didaerah batuan vulkanik, dapat pula terombak dan
diendapkan sepanjang sungai dalam bentuk bongkah. Hal yang
terakhir ini sering dijumpai dilapangan, sehingga pengambilannya
relatif mudah.

r96

t9l

Tempat Diketemukan

(berupa kalsedon. krisopras dan a-eat pada andesit tua, terdapat pada
basalt, dasit, dan breksi sebagai pen-qisi rongga dan rekahan); Kab.

Kelompok kalsedon tersebut di bawah ini cukup baik untuk


batu permata dan batu hias. Tempat didapatkan adalah sebagai

Pacitan, Kec. Tr.rlakan. Kec. Bandar desa Jatisari dan Jajar,


Kalingagik, K. Klandang, G. Gunggeng. K. Watupatok, K- Kopo,

berikut:

Jawa Barat: Kab. Sukabumi, Jampang Tengah, Sirnasari (enis


kalsedon dan agat, wama putih, kuning, kelabu, sebagai endapan
rombakan pada aliran S. Cijambe); Kab. Sukabumi, Jampang
Tengah, Ciseureuh (berupa bongkahan pada endapan aluvial pada S.
Ciseureuh, warna putih); Kab. Sukabumi, Jampang Tengah,
Cikanyere (mengisi rekahan pada breksi rulkanik pada aliran S.
Ciseureuh); Kab. Sukabumi, Jampang Tengah, Malingping (berupa
endapan rombakan, bongkahan, warna putih, kelabu, merah, coklat);
Kab. Sukabumi, Jampang Tengah, Puncak Mangu (bongkahan lepas,
pada tanah pelapukan breksi vulkanik, warna putih kekuningan);
Kab. Sukabumi, Jampang Tengah, Ciperai (endapan rombakan dan
bongkahan dalam endapan aluvial didaerah aliran S. Cipetai, warnil
merah putih sampai merah); Kab. Sukabumi, Waluran (bcmpa
bongkahan pada teras dan aliran S. Cihanjuang, warna putrh susu);
Kab. Sukabumi, Cijambe (berupa bongkahan pada endapan aluvial
aliran S. Cikarang, warna putih, kelabu); Kab. Sukabumi. Cigelang
(berupa bongkahan pada aliran sungai Cipanarikan, wama putih,

coklat, rnerah); Kab. Lebak, Kec. Sa.jira, Pasir Sandi (bcrupa


bongkahan/pengisi rongga dalam batuan tuf, putih bening); Kab.
Lebak, Leuwidamar (berupa urat/pengisi rongga dalam batuan tuf,
putih bening); Kab. Garut, Bungbulang (berupa krisopras mengisi
urat dalarn batuan gunung api

desa Bandar (didapatkan pada Formasi Andesit Tua, pada lava basalt
seba-eai pengisi rekahan); Kab. Trenggalek Kec. Tugu, G. Pandan
(sebagar pengisi rekahan, pada lava basalt dari Formasi Andesit Tua);

o
o

Kab. Ponorogo, Kec. Ngrayan Badegan Kec. Badegan, Cepoko dan


Mrayen (sebagai jasper pada endapan aluvial warna coklat-merah);
Kab. Pacitan, Kec. Tulakan. Kec. Arjosari (sebagai bongkah warna
merah - merah hati).
Nusa Tenggara Barat: Kah. Lornbok Tensah Kec. Pamunjak. Kec.
Pujut dan Lereng Timur G. Mereje diln daerah Awang (dalarl Lrentuk
agat dan kalsedcln wama putih. kuning kenreralran).
Maluku: Kasiruta. dihulu sungai Kasimta (terdapat pada Forntasi
Bacan diduga berupa urat-urat pada batuan anclesitik berurnur TersicL
Bawah).

'l'eknik Penambangan
Dilakukan dcngan alat scdcrhuna clenqan cara digali berdasarkan atas indikasi pr,errnukaan. Llntuk cndapan sungai dalarn bentuk
krakal-bongkahan tinggal rnelakukan pensunrpulan. I)alam

hal ini

ke.jelian berdasarkan pen-elalanrarr lapangan saugat rnenentukan


didalam memilih bahan baku

batLr

mulia ini.

).

Jawa Tengah: Kab. Wonogiri, Kec. Batuwarna, duerah Rahtawu


(sebagai pengisian pada dasit berstruktur gigi, sistern kristal
hexagonal, tak sempurna); Kab. Wonogiri, daerah sekitar S.
Tirtomoyo (sebagai pengisian rongga pada lava basalt, wama kelabu,
putih, kecoklatan, mikrokristalin dan translucent); Ungaran, Semarang (sebagai pengisian rongga pada breksi andesit, wama abu-abu).

Jawa Timur: Kab. Ponorogo, Kec. Badegan, Kec. Cepoko, Kec.


Mrayan, Kec. Ngrayun dan Kcc. Kalikedung Semar desa Badegan

Pengolahan dan Pemanfaatan


Pen-golahan

dari kclopok kalsedon diarvali dengan pemilihan,

penggergajian dan pernolesan sesuai densan bentuk yang diinginkan.

Pemanfaatan terutama untuk hiasan dan bltu perrnata. Ketelitian


didalam mengasah dan ntentbcntuk rncrniliki scni tersendiri sehingga
tidak mengherankan apabila hiasan/batu pcrntata vang telah berhasil
dibentuk mernpunyai harga sarnpli pultrhan.jutir rupiah.

il
il

r98

8. KUARSA KRISTAL
Kuarsa kristal dengan rumus kirnia SiOr rnempunyai bentuk
krrstal hexagonal prisma bipiramida, warna putih seperti susu.
mengkilap lemak tidak mempunyai brdang belah (cleavage), oleh
sebab itu sukar dibelah. Pada suhu kamar tidak akan bereaksi dengan
asam atau basa kecuali dengan asam florida ( = HF). Berat jenis 2,65

dengan kekerasan '7 (dan dipergunakan sebagai standaft skala Mohs).


Kekuatan tekan besarnya luar biasa yaitu 20.000 kg/cm2, mempunyai
daya tahan yang luar biasa terhadap abrasi (kikisan). Dipanaskan pada

suhu 1710o C akan mencair.. Bila didinginkan secara cepat akan


memberikan masa SiO2 amorf. Karena mempunyai kuat tekan yang
sangat besar didalam pemakaiannya dapat menahan beban yang sangat
berat. Karena tidak mempunyai bidang belah maka dalam pekerjaan
pemotongan tidak mudah,

Dialam kristal kuarsa tunggal pernah didapatkan

hingga

mencapai berat sampai 130 kg, tetapi ada yang berbentuk kristal
sangat kecil. Hal ini sangat berkaitan dengan cara terbentuknya.
Kristal kuarsa (primer) terbentuk dari pembekuan magma asam,
berawal magma pegmatit-pneumatolytic pada proses hidrothermal
temperatur rendah. Dijumpai pula dalam batuan beku asam misalnya
granit, granodiorit, tonalit, juga pada batuan beku hypabisal (granit
porfiri, rhyolit). Didalam batuan sedimen klastik didapatkan sebagai
detrital mineral, ataupun dalam batuan metamorf (phylit, kuarzit,
granulit dan eklogit). Didalam "geode berongga" yang didapatkan
didaerah batuan piroklastik didapatkan pula kuarsa kristal dengan
struktur bergerigi. Dikenal millqquartz, jenis yang sangat umum,
warna putih sepe(i kabut semata-mata disebabkan oleh gas dan cairan
(air magma),-sering didapatkan gelembung cairan Rock crystal
didapatkan dalam geode berongga, atau pada celah-celah batuan
dolomit. Smolqquartz berwarna terang sampak coklat-hitam (yang
berwarna hitam disebut morion), warna ini mungkin disebabkan oleh

pengaruh radioaktif alam, Apabila dipanaskan berubah menjadi


kuning kemudian p$ih. Bluequartz dijumpai pada batuan metamorf,
warna disebabkan oleh mineral rutil, turmalin atau zoizite. Citrine

199

mempunyai warna kuning-coklat disebabkan oleh larutan besi hidrat,


bila dipanaskan menjadi putih, dan apabila disinari dengan sinar-X
berubah menjadi coklat, dipergunakan sebagai batu permata jenis
topaz dengan nama Brasilian topaz. Rosequartz, wiuna disebabkan
oleh oksida Mn atau titanium, dijumpai pada pegmatit, warna hilang
bila dipanaskan, dan menjadi hitam bila diradiasi. Amethyst berwarna
violit, disebabkan oleh larutan unsur besi bervalensi tiga, bila
oC,
warna berubah menjadi putih, bila sampai
dipanaskan hingga 300
500 oC berubah menjadi kuning, apabila ditembak dengan sinar
radioaktif berubah menjadi violet lagi. Jenis tiger's eye mengandung
serat-serat dari crocodiolite ( = pseudocrocidolite = riebeckite, sejenis

serpentin), memperlihatkan warna kuning. Jenis falcon's eye


mempunyai warna biru. Rufilated quartz mengandung struktur jarum (
= acicular) berwarna kuning dan merah dari kristal rtfile. Aventurine
quartz mengandung sisik-sisik dari mika atau qutit yang memancarkan
warna hijau atau coklarhijau.

Tempat Diketemukan

Di Indonesia kuarsa kristal banyak dimanfaatkan sebagai batu


permata. Beberapa tempat yang sudah diketahui keberadaannya antara

lain:

Jawa Barat: Picisan, Cijambe Kab. Sukabumi (berwarna putih susu


bentuk kristal anhedral), dijumpai berupa bongkah pada endapan
aluvial di sungai); Puncak mangu, Jampang Tengah, Kab. Sukabumi
(berwarna putih sampai bening, bentuk kristal umumnya anhedral,
dijumpai berupa bongkah-bongkah lepas, tersebar tak merata pada

tanah pelapukan breksi vulkanik berwama merah kecoklatan,


didapatkan jrga mengisi rongga/rekahan pada batuan breksi

vulkanik); Sereweh, Leuwidamar Kab. Lebak (berwama putih susu,


bening ukuran kristal 2-4 mm, berupa urat-urat dalam batu gamping).
Jawa Tengah: Wonoleran, Kab. Wonogiri (umumnya berwama putih

dan ungu muda pelapukan); Kistmantoro dan Purwantoro, Kab.


Wonogiri (warna putih susu sampai bening kusam, berupa endapan
placer didaerah aliran K. Gedek dan K. Saba); Rahtawu dan

il
200

201

sekitarnya Kab. Wonogiri (wzrna bening sampai putih, berupa urat-

urat dalam batuan dasit ataupun dalam bentuk lepas-lepas

pada

batuan dasit yang lapuk); Tirtomoyo Kab. Wonogiri (berwarna ungu

muda-ungu tua berupa urat yang kadang-kadang berstruktur sisir


dalam batuan basalt dan dasit); Sangiran, Solo (dalam bentuk geode,
bagian dalam mengisi rongga, berstruktur sisir, ada yang berwama
putih, kombinasi putih-oranye, putih-hijau, putih-kuning).
Jawa Timur: G. Cikuk, Ngrayun, Kab. Ponorogo (warna putih susu
sampai bening, transparan, ukuran kristal 3-30 mm, berupa urat-urat
dalam batuan tufa dan lava basalt yang telah lapuk); Badegan Kab.
Ponorogo (warna putih susu, bentuk bundar sampai bundar tanggung

ukuran 3-10 cm, berupa bongkah dalam endapan aluvial); G.


Juranggaleng Kab. Trenggalek (wama bening sampai putih berupa
urat dalam batuan dasit dengan ketebalan urat l-5 cm); Bandar Kab.
Pacitan (wama putih susu sampai bening pudar, mengisi rekahanrekahan pada batuan basalt dengan tebal l-8 mm); Arjosari, Kab.
Pacitan (warna ungu muda sampai putih susu, ukuran l-5 cm, berupa
endapan placer didaerah aliran K. Pacitan dan K. Brungkah).
Kalimantan Tengah: Daerah Ajang Balai Riam, Kab. Kotawaringin
Barat (enis ametis terdapat dalam urat-urat pada granit, endapan
sekunder merupakan endapan sungai dengan diameter kristal l-5 cm,
panjang 2-10 cm); Semantun dan Nibung Terjun, Kab. Kotawaringin
Barat (enis ametis, merupakan endapan sekunder dialur sungai,
wama bening, keruh dan putih); Prigi Naga Bulik Kab. Korawaringin
Barat (enis ametis, bentuk kristal, diameter 0,5-5 cm, panjang l-10
cm); Bt. Batuduyung, Naga Bulik Kab. Kotawaringin Barat (warna
bening transparan, kristal hexagonal, prismatik, diameter l--5 cnr,
panjang 2-10 cm, sebagai endapan aluvial dan rombakan urat-urat
didalam pelapukan seperri di S. Kampa); S. Mentayau, Naga Bulik
Kab. Kotawaringin Barat (berbentuk kristal diameter

l-2 cm,panjang

2-5 cm, merupakan endapan sungai)i Suja Tapinbini

Kab.

Kotawaringin Barat (merupakan hasil rombakan urat-urat kuarsa,


berbentuk kristal diameter 3-20 cm, panjang l0-60 cm, sistem kristal
hexagonal).

Teknik Penambangan
Usaha penambangan kuarsa kristal pada umumnya dilakukan
oleh masyarakat. Oleh sebab itu teknik penambangan dilakukan
dengan peralatan yang sederhana. Untuk endapan sungai dilakukan
dengan cara mendulang. Dalam hal mendulang diperlukan ketelitian,
kecermatan dan kesabaran.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Di Indonesia saat ini kuarsa kristal baru dimanfaatkan sebagai


bahan baku batu permata, pengolahan dilakukan dengan pemotongan,
pembentukan dan pemolesan. Di samping itu kuarsa kristal dapat
dimanfaatkan untuk alat-alat optik, seperti lensa, keping kuarsa pada
mikroskop polarisasi. Pemanfaatan lainnya seperti halnya pasir kuarsa
(periksa pembahasan pasir kuarsa)

9.

STRTU

Sirtu adalah nama singkatan dari pasir dan batu, hal ini
dipertimbangkan dipergunakan karena sirtu mempunyai komposisi
mineralogi dan ukuran yang sangat beragarn. Dengan demikian
apabila seseorang menyebut nama sirtu, para akadelnisi tidak dapat
rnenyebutkan komposisi rnineralogi dan ukurannya apabila belum
mengetahui batuan asal pernbentuk sirtu. Oleh sebab itu penamaan
sirtu lebih bersifat praktis bukan nama akadenris. Sirtu rnerupakan
hasil kegiatan gunung api yang tak teruraikan, tercarnpur dari
beberapa ukuran rnulai dari ukuran pasir sampai bongkah. berada
didataran rendah sekitar gunung api baik yang prosL-s erupsinya terjadi
pada jarnan Tersier atau Kuarter. Batuan tersebut sangat ntungkin
diendapkan sepanjang sungai yang berhulu dilereng atas/puncak
gunung api yang bersangkutan. Sesuai dengan konsep transportasi dan
pemilihan rnakin .iauh dari sumbernya makin seragam konrposisi

mineralogi dan ukuran butirnya. Sancat dirrrungkinkan sirtu akan

202

mengendap di muara sungai dan mulai terpengaruh olch garam NaCl


dari air laut. Dalam hal demikian sirtu tidak direkomendasikan sebagai
bahan bangunan konstmksi.

Tempat Diketemukan
Sirfu didapatkan didaerah dataran rendah lereng sekitar gunung
api. Oleh sebab itu di Indonesia sirtu didapatkan menyebar sepanjang
jalur gunung api, ataupun merupakan endapan sungai/pantai. Dalam
hal sirtu merupakan bagian dari suatu litostratigrafi pada umumnya
tercampur dengan lempung sehingga menurunkan mutu. Apabila
terdapat keadaan seperti ini proses pencucian dengan air akan dapat
memisahkan antara butir pasir dan lempung sehingga mutu dari sirtu
akan lebih baik.

Teknik Penambangan
Dapat digali dengan alat sederhana. Dalam hal sirtu didapatkan
pada Formasi litostratigrafi kombinasi digali dan disemprot dengan
pompa air bertekanan tinggi akan sangat membantu (periksa pula
teknik penambangan pasir gunung api).

Pengolahan dan Pemanfaatan

Sirtu dimanfaatkan sebagai bahan bangunan/bahan beton cor


berat. Penyeragaman ukuran butir dapat dilakukan dengan saringan
kawat/baja dengan ukuran yang dikehendaki. Pasir pantai yang sudah
tercemar garam NaCl dari air laut tidak direkomendasikan untuk
bahan bangunan konstruksi (periksa prrla pembahasan pasir gunung
api).

BAB

VIII

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKA.


ITAN DENGAN PROSES UBAHAN
HIDROTHERMAL
Yang termasuk dalam kelornpok ini adalah barit, talk, magnesit,
grps, toseki, pirofilit dan kaolin. Ketiga jenis bahan galian yang
tersebut terakhir pada umumnya berasosiasi satu sama lain karena
terbentuk oleh proses dan dari sumber yang sama.

1. BARIT
Barit dengan rumus kimia BaSO+, bentuk kristai tabular, tidak
berwarna/putih apabila murni, kuning, merah, hijau kadang-kadang
hitarn akibat adanya kontaminasi. Kumpulan kristal dapat membentuk
kenampakan seperti kipas, roset (= desert roses). Sifat kristal yang
lain kompak, granular, masive, ataupun berbentuk sellagui stalaktit.
Mempunyai kekera;.an 2,5-3,5, berat jcnis 4,48, cukup bcrat walaupun
bukan termasuk logam. Mudah pecah ntembentuk belal-r:rn prismatik
transparan atau translusen dengan luster vitreus, cerat putih, sulit
terbakar dan tidak larut dalarn asam, apabrla dipanasi memberi nyala
kuning-hijau.
Barit sangat umum sebagai mineral gang pada proses hidrothermal tingkat menengah sampai rendah. Barit kadang-kadang berasosiasi dengan timbal, perak, sulfida antintonit. Endapan barit sangat
rnungkin berasosiasi dengan bijih crnas cpithcrrnal dan merupakan

If
204
205

ini bijih emas dijumpai pula barit


gamping/dolomit
mengisi celah batu
1= saat ini dikenal sebagai
endapan residual tipe Karst). Dalam jumlah sedikit terbentuk pada
mata air panas (= hot springs). Terdapat juga dalam bentuk masive
pada iron-manganese bearing jasper, pada celah baiuan basalt dalam
bentuk kristal.
salah satu mineral indeks. Saat

Tempat Diketemukan

o
o

Jawa Barat: Cikondang, Kec. Cineam, Kab. Tasikmalaya (berupa


urat-urat pada celah-celah batuan tufa breksi).

Kp. Plampang Kukusan, Watutugu, Sermo, Kab.


Kulon Progo (berupa urat-urat pada celah-celah batuan andesit,

Jawa Tengah:

Pengolahan dan Pemanfaatan

Barit dari penambangan pada umumnya kotor dan dilekati oleh


batuan yang lain. Sehingga langkah awal barit ini dicuci dengan air
dengan cara disemprot. Yang bersih dan kering dapat ditumbuk dan
digerus, kemudian disaring dengan ukuran tertentu. Karena barit
mempunyai berat jenis besar (+ 4,4) maka proses floatasi dapat menghasilkan fraksi barit murni. Pada instalasi pengolahan yang agak
modern, fraksi barit yang merupakan hasil proses pemecahan, dicuci
dengan log-washer, kemudian disaring, Fraksi yang berukuran halus
diproses dengan jig untuk selanjutnya dikonsentrasi dengan cara
floatasi. Hasilnya dikeringkan untuk selanjutnya dibuat dalam bentuk
tepung.

ditandai dengan kenampakan warna coklat tua); Durensari, Bagelen,


Kab. Purworejo (seperti yang terdapat di Plampang).
Kalimantan Barat: Desa Lanjut, Kec. Kendawangan, Kab. Pontianak
(berupa urat/pengisian pada rekahan-rekahan silicified limestone

Tepung barit dimanfaatkan sebagai bahan cat, industri karet,


kaca atau gelas, kertas dan plastik. Tepung barit juga dimanfaatkan
untuk lumpur pemboran minyak dan gas (untuk mengangkut cutting
dari dasar lubang bor keatas lubang bor). Dalam hal pemakaian yang

dengan komposisi BaSO+

Nusa Tenggara Timur: Tg. Merah dan Pakuoyong (P. Lomblen),


Kab. Flores Timur (berupa urat-urat berasosiasi batuan kuarsa pada
dasit); Kec. Riung Kab. Ngada (berupa urat-urat dalam batuan tufa

demikian barit yang sudah dipakai dapat dimanfaatkan kembali


(dengan sistem sirkulasi). Karena berat jenis besar, barit cukup baik
untuk bahan tambahan dalam membangun reaktor atom. Barit dicampur dengan f'enol-forrnal dehid, silikat, asbes dan arang kemudian
digerus halus akan diperoleh sernen t-enolik yan_q mempunyai daya

dasit).

tahan yang besar terhadap berbagai bahan kirnia.

96,5-98,57o, SiO2

= 0,9-2,2Vo, FezOr =

0,3-0,57Vo.

Sulawesi Selatan: Sangkanropi, Kab. Tanotoraja (berasosiasi dengan


bijih sulfida pada zona riolit/dasit yang terkersikkan).

2. GIPSUM
Teknik Penambangan
Penambangan barit lebih banyak ditunjukan oleh singkapan
yang tampak dipermukaan. Oleh sebab itu sistem penambangan yang
diterapkan adalah penambangan terbuka dengan peralatan sederhana.
Pada umumnya barit terakumulasi pada retakan-retakan ataupun pada

patahan. Oleh sebab itu penambangan sistem gophering sangat


mungkin dilakukan tetapi harus sangat hati-hati karena terjadinya
runtuhan tanah akan sangat mungkin terjadi.

Gipsunr dengan rumus kirnia CaSO+ 2HrO atau dalam bentuk


Anhydrit CaSO+ HzO dapat terbentuk karena proses segregasi dan
evaporasi juga dapat terbentuk karena proses hidrothermal. Uraian
secara rinci dapat dilihat pada Bab IV nonror 8.

206

201

3. KAOLIN
Kaolin yang disebut oleh masyarakat tanah lempung putih atau
tanah liat putih merupakan endapan residual atau dapat pula terjadi
sebagai akibat proses hidrothermal. Uraian secara rinci dapat dilihat
pada Bab

4. TALK
merupakan

hera Tengah (ubahan dalam breksi serpentinit didaerah jalur patahan


dengan arah timur laut barat daya); Kopel Labuna, P. Bacan
(terdapat pada batuan ultrabasa, sekitarialur patahan).
Irian Jaya: Dekat Ifar (pengisian rekahan dalam batuan ultrabasa).

Endapan talk diketahui karena tampak dipermukaan. Oleh sebab


itu sistem penambangan yang dilakukan adalah sistem tambang terbuka, dapat dilakukan dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan

skala Mohs), mudah dibentuk tetapi tidak elastis, perlapisannya


mengkilat seperti berlemak, tidak larut dalam air dan tidak terbakar,
mempunyai berat jenis 2,58-2,83, penghantar panas kurang baik. Talk
terbentuk dari hasil alterasi mineral magnesium silikat dalam batuan
beku ultrabasa, umum didapatkan pada batuan hasil proses
metamorfose regional khususnya pada batuan sekis. Talk juga dapat
terbentuk oleh proses metasomatisme pada marmer dolomitan. Talk
yang mutunya baik berasal dari batuan induk dolomit. Mineral talk
umumnya berasosiasi dengan tremolit [Ca Mg5 Sis Ozz (OH)] =
hydrous calcium magnesium silicate, aktinolit [Ca2 (Mg, Fe): Sir Ozz
(OH):l = hydrous calcium magnesium iron silicate, dan mineral
malihan lainnya. Talk yang merupakan hasil ubahan hidrotherrnal
metamorfose sudah dapat terbentuk pada temperatur 300o C atau

Pengolahan talk yang telah berhasil dikumpulkan dari tempat


penambangan dapat dilakukan seperti pengolahan bentonit. Talk

digunakan dalam berbagai industri seperti industri cat, farmasi,


keramik, kosmetika, kertas, karet, isolator, tekstil dan sebagai
pembawa dalam insektisida.

5. MAGNESIT
Magnesit dengan rumus kimia MgCaOj = magnesium karbonat,
bentuk
rhombohedral jarang didapatkan, warna putih, kuning atau abu-abu,
kadang-kadang memperlihatkan kenampakan seperti porselin dengan
fraktur konkoidal. Mineral ini mempunyai tingkat kekerasan (3,5-4,5),

dijumpai dalam bentuk kompak dan mikrokristalin,

lebih.

berat jenis 3,0, tidak larut dalam asam klorida tetapi berbuih bila
dipanaskan, tidak terbakar. Apabila disinari ultraviolet akan memancarkan warna biru atau hijau. Kristal magnesit umumnya terbentuk
oleh proses dolomitisasi hidrothermal batu gamping ganggang atau
penggantian dolomit amfibolit, piroksenit, diabas, peridotit, riolit,

Tempat Diketemukan

Maluku: Desa Fayaul sepanjang S. Wayalele, Kec. Wasile, Halma-

Teknik Penambangan.

kelompok mineral hydrous magnesium silicate, berwarna putih, putih


kehijauan, abu-abu atau kecoklatan. Di lapangan menunjukkan perlapisan yang sangat tipis, kenampakan seperti hersisik, memperlihatkan
foliasi. Talk mempunyai tingkat kekerasan 1 (dipakai sebagai indeks

VII, nomor 4.

Talk dengan rumus kimia Mg3 Si+ Oro (OH)z

Uwemadago (terdapat sebagai sisipan/pengisian dalam sekis, merupakan ubahan dari seryentinit).

Jawa Tengah: daerah Karangsambung, Luk Ulo, Kebumen; daerah


Bayat, Klaten (hasilalterasi batuan sekis).

Sulawesi Tengah: Daerah Pompongeo, Kab. Poso-Taripa,

S.

1
208

209

basalt dan granit. Magnesit kriptokristalin atau amorf terbentuk dari


alterasi larutan serpentin atau larutan ultrabasa lainnya. Magnesit jenis
yang tersebut terakhir ini umumnya terdapat dalam jumlah sedikit

dalam industri refraktori, farmasi, kosmetik, karet, plastik, kertas


(terutama kertas rokok), cat, pembuatan logam Mg, pertanian, isolator
pipa.

karena sebarannya terbatas hanya dipermukaan batuan induk.

Tempat Diketemukan
Di Indonesia mineral magnesit dijumpai antara lain:
Daerah Istimewa Aceh: Daerah Kr. Jreue Kab. Aceh Besar (cukup
baik, berupa urat-urat pada bahran ultrabasa berasosiasi dengan talk).
Nusa Tenggara Timur: P. Moa (berasosiasi dengan peridotit serpentinit).

Timor Timur: Desa Vemasse dan Laleia antara Manatuto, Baucau


(mengisi rekahan pada batuan ultrabasa, kadar MgO = 6,75-9,24o/o).
Sulawesi Tenggara: P. Padamarang (berasosiasi dengan batuan
ultrabasa, peridotit serpentinit yang berumur Pra Tersier); P.
Lambasina (berasosiasi dengan batuan ultrabasa, peridotit serpentinit
yang berumur Pra Tersier).

Teknik Penambangan
Endapan magnesit di Indonesia kebanyakan mengisi rekahan/dalam bentuk urat-urat dan tampak dipermukaan. Oleh karenanya
teknik penambangan dilakukan dengan tambang terbuka dengan alatalat sederhana
Pengolahan dan Pemanfaatan

Magnesit hasil dari penambangan dibersihkan dari pengotor/kontaminan. Tahap berikutnya disemprot dengan air untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel. Proses lanjutan dapat
diperlakukan seperti pada kaolin. Keterdapatan magnesit alam sangat
terbatas, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dibuat magnesit sintetis
dari dolomit atau batu gamping dolomitan (dikenal sebagai seuwqter
magnesia). Magnesit alam dan magnesit sintetis banyak digunakan

6. PIROFTLIT
Pirofilit termasuk mineral hydrus alumunium silicate dengan
rumus kimia Alz Si4 Ol0 (OH) = Al2Or 4SiO:. H:O. Seperti halnya
kaolin, pirofilit terbentuk pada zona ubahan argilik lanjut (hipogen)
pada temperatur tinggi (250' C) dan PH asam. Pirofilit mempunyai
sistem kristal monoklin. pada umumnya memperlihatkan lapisan tipis
atau merupakan agregat foliasi yang radial berwarna kuning-putih.
hijau pucat atau hijau-coklat. Pirofilit rlempunyai tingkat kekerasan
rendah (l-2), berat jenis 2, relatif ringan, mempunyai belahan nyata.
Dalam keadaan pipih mudah dibentuk (flexible) tetapi tidak elastis.
Kenampakan yang lain mengkilat atau terlihat seperti berminyak tidak
larut dalam air, dan tidak terbakar tetapi apabila dipanaskan akan
membentuk serpih. Secara megaskopis pirofilit sulit dibedakan dengan
talk kecuali dengan analisa kimia atau analisa sinar-X. Apabila
diperhatikan rumus kimianya pirofilit termasuk jenis mineral lempung
yang berair dan rnempunyai komposisi kirnia hampir sama dengan
mineral lempung lainnya. Di Jepang. batuan ubahan yang banyak
mengandung pirofilit disebut sebagai roseki. Berdasarkan jenis nrineral lenrpung yang dikandungnya pirofilit (roseki) dibedakan rnenjadi
jenis kaolinit [= 41,5i,r5(OH)+1. sericit dan roseki pirofilit. Di Indonesia pirofilit terbentuknya berkaitan erat dengan sebaran Fonnasi
Andesit Tua yang berurnur Oligo-Miosen. nrenriliki kontrol struktur
darr intensitas ubahan lridrothernral yarr-s kuat atau terbentuk sebagai
hasil ubahan hidrotherrnal batuan glulung api (tutir riolit atau dasit).
Tempat Diketemukan

o
.

Daerah Istinrewa Acelr: Takengon Kab. Acelr Tengah


Bengkulu: Sungai Batuintan dan S. Musna, desa Air Kopras, Kec.

2ll

210

Lebong Utara, Kab. Rejang Lebong (berwarna abu-abu muda


keputihan, kompak, agak keras dari tufa dasitis terubah, komposisi
SiO2 = 58,48-6-5,5.17c, AlzOt = 13,25-l4,37Vo,Fe2O1= 1,2'7-2,36Vc,
MgO = 0,12-0,487c, CaO = 4,03-4,370/o).
Jawa Barat: Desa Cikatulampa, Kec. Cipatujah. Kab. Tasikmalaya
(wama putih kecoklatan, berasosiasi dengan urat kuarsa, ubahan dari
tufa dasit anggota Formasi Jampang).
Jawa Timur: Desa Mlokomanis, Temon Kab. Pacitan (hasil ubahan
hidrothermal dari tufa dasit, komposisi SiO2 = 72,877o, AlzOr =
7,224k, Fe:O: = 0,2-1o/c, NazOr + KzO = 0,05-0,4o/a, TiO2 = 0,670,12o/a); Wonokerto, Lorok, Kab. Pacitan; G. Tales, Nglebo, Kec.
Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan

dasit anggota dari Fomrasi Andesit Tua, hasil X-RD adalah mika
serisit, kaolinit, kuarsa dan pirofilit); Wonokerto, Kec. Karangan
Kab. Trenggalek (ubahan hidrothermal dari Formasi Andesit Tua,
komposisi SiO2 = 61,66ok, AlzOr - 16,517o, Fe2Oj = 6,907o, K2O =
0,027o, analisa X-RD = kaolinit, pirofilit, kuarsa,
kristobalit dan serisit); Pojok desa Mlinjon, Kec. Karangan Kab.
Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit anggota dari
0,087o, Na2O

Fonnasi Andesit Tua, mutu cukup baik, telah digunakan sebagai


bahan wall tile/floor tile di pabrik keramik Tulungagung); Ngepring
Kec. Kule Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan
dasit anggota Formasi Andesit Tua, setelah dibakar pada suhu 1200o
C warna putih, komposisi: SiOz = 83,847o, Al2Oi = 9,70Vo, FezOr =
0,997a, Na2O = 0,02ck, K2O = 0,207o, TiO2 = 0,187o); Masaran, Kec.
Bendungan Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari batuan
dasit dan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, komposisi: SiOz
= 54,43Vo, Fe2Oj = 0,997o, AlzOr - 3,37o, Na2O = 0,027a, K2O =
0,04, TiOz = 0,277a); G. Soblo, Tumpak soblah Kab. Blitar (hasil
ubahan hidrothermal dari batuan dasitik berasosiasi dengan kaolin,
komposisi: SiO2 - 79,14Vo, AlzOr - 11,957a, FezO: = 0,407o); G.
Sampirubuh, Sembor, Gebang, Kab. Blitar (komposisi: SiO2 - 69,1075,807o, Al2Oj

= 16,68-17,147c, Fe2O3 =0,14-2,52Va); Sumberbende


Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang (hasil ubahan hidrothermal
dari batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, berasosiasi

a
a

dengan toseki dan kaolin, telah digunakan untuk pembuatan wal/


tile/floor tile, mutu cukup baik, komposisi SiO: = 83,417o, Al2Oi =
12,457o, Fe2O3 - 0,307c, TiO2 - 0,58Vo); Tambakrejo Kab. Malang
(ubahan hidrothermal dari batuan tuta dasitik, komposisi: SiO2 =
53,19-69,827o, Al:Or = 19,92-30,367a, Fe2O3 = 0,20-2,257a);
Pujiharjo, Ampelgading, Kab. Malang (ubahan hidrothermal tufa
dasirik).
Nusa Tenggara Barat: Desa Wawo, Kec. Sape, Kab. Bima; Prado,
Kab. Bima (warna abu-abu, komposisi SiO2 - 65,277a, AlzOt - l5Va,
Fe2O3 - 8,147r,, K2O = 0,207o, Na2O = 0,80Vo, TiO2 = 0,617o); Bukit
Tonggo Tata, Desa Sari Kab. Birna.
Kalimantan Tengah: Kuala Kurun Tewah.
Kalimantan Barat: Desa Sememeng, Kec. Sekayam, Kab. Sanggau
(berasal dari tufa terubah, wama putih).

Teknik Penambangan
Dilakukan seperti penambangan kaolin.
Pengolahan dan Pemanfaatan
Pengolahan dilakukan sepefii pada kaolin. Pirofilit banyak
digunakan pada industri keramik, refraktori, kosmetik, kertas, cat,
plastik, karet, dan industri kimia/sabun.

7. TOSEKI
Nama mineral ini relatif baru, sehingga belum banyak dikenal.
Toseki atau batuan kuarsa-serisit terbentuk pada zona ubahan filik,
yakni pada suhu 220 nC, dan kondisi PH netral. Endapan toseki
biasanya berasosiasi dengan batuan vulkanik yang berkomposisi asam
dan terbentuk sebagai hasil ubahan hidrothermal batuan vulkanik jenis
tufariolitik ataupun dasitik. Komposisi utama dari toseki adalah mineral kuarsa 59-707a, serisit l5-307o, kaolinit l-12Vo, feldspar 1-3Vo.

213

2t2
Berdasarkan atas kandungan mineral utama toseki dibagi menjadi 3

tipe yaitu tipe serisit, tipe kaolinit dan tipe feldspar,

sedang

berdasarkan atas kandungan Fe2O3 nya toseki dikelompokan menjadi


4 kelas yaitu kelas I dengan kandungan FezOr - (0,4-0,5Vo), kelas 2
dengan kandungan FezO: (0,5-0,77o); kelas 3 dengan kandungan
Fe2O3 = (0,7-0,9); kelas 4 dengan kandungan TiO2 kurang dari
0,004Vo dan MgO kurang dari 0,17o. Sifat umum dari toseki'hampir
sama dengan sifat roseki khususnya pada sifat fisiknya.

Tempat Diketemukan

o
r
o

Sumatera Barat: Barangan, Kab. Padang Pariaman.

Bengkulu: Tambang Sawah: Muaraaman (wama putih-keabuan,


keras).

Lampung: Sukamantri, Kec. Sumberjaya, Kab. Lampung Utara,


komposisi: SiO2 = 88,90-94,98Vo, AlzOr =2,31-4,30Vo, FezOr = 0,897,25Vo, CaO = 0,58-0,J4Vo, MgO = 0,48-0,51Vo,TtOz= 1,'72-2,107o,
H2O = 0,ll-33,957o.
Jawa Barat: Bujal Kec. Cipanas Kab. Lebak (ubahan hidrothermal
dari batuan riolitik, komposisi: kuarsa = 50Va, serisit = 257o,lempung
= 22Vo, zeolit = 27o, dan bijih = l7o); Cicarucup Kec. Cikotok Kab.
Lebak (ubahan hidrothermal dari batuan tufa dasitik, komposisi; SiO2
= 82,167o, AlzOr - 8,757o, Fe2Oj = 0,657o, Na2O = 0,64Vo, K2O =
3,027o, bijih Oksida = 2,867o); Talang, Kab. Sukabumi (komposisi;

kuarsa = 50-557a, serisit = Z5-Z9Vo,lempung = 2jVo,t:tjth = 47o).


Jawa Tengah: Batuwarno, Wonogiri (hasil ubahan hidrothermal dari
batuan tufa dasitik);
Rahtawu, Wonogiri (hasil ubahan

G.

hidrothermal, baik untuk bahan baku wall tile dan floor tile, mutu
cukup baik, komposisi ; SiOz = 7 1,32-7 7,897o, Al2C) 1 = 12,08- \J,97 o/o,

Fe2O3

= 1,08-3,477a).

Jawa Timur: Pojok, Kec. Karangan Kab. Trenggalek (hasil ubahan


dari batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, baik untuk
bahan baku wall tile danJloor /i/e, komposisi;kuarsa, serisit, mineral
lempung, plagioklas, telah diusahakan oleh CV. Sinar Agung; G.

Sambi, Kec. Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal


dari batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, warna
kecoklatan banyak mengandung oksida besi, mutu kurang baik); G.
Miri, Kec. Karangan Kab. Trenggalek (keadaan seperti di G, Sambi,
Kec. Karangan); Wonokerto, Kec. Karangan, Kab. Trenggalek (hasil
ubahan hidrothermal dari batuan dasitik anggota Formasi Andesit
Tua, komposisi; SiOz = 48,17-57,147o, AlzOt = 35,69-29,llVo,Fe2O3
= 0,99 = 0,797o, Na2O = 0,22-0,06Vo, K2O = 0,66-0,55Vo, telah
digunakan sebagai bahan baku wall tile dan floor tile oleh pabrik
keramik CV. Dian Karisma Tulung Agung; Ngentrong Kec.
Karangan, Kab. Trenggalek (hasil ubahan hidrothermal dari tufa
dasitik anggota Formasi Andesit Tua, mutu cukup baik, komposisi;

SiO2 = 74,167o, AlzOr = 14,907o, FezOr = 1,18, K2O


lVo, Na2O3 =
1,187o, TiOr = 0,217a, sudah diusahakan untuk bahan baku wall tile
dan floor tile; Temptran Kec. Karangan, Kab. Trenggalek (hasil

dari batuan tufa dasitik anggota Formasi


Andesit Tua, komposisi; feldspar = 137a, kuarsa = 87o, serisit --37Vo,
lempung =25Vo, klorit = J7c dan oksida besi = l07o); G. Banjiran, G.
Gliner, G. Sapu, G. Jabung, Klepu Kec. Karangan Kab. Trenggalek
(hasil ubahan hidrothermal dari batuan tufa dasitik anggota Formasi
Andesit Tua, mutu kurang baik); Kp. Dringu, Kp. Dungowo, Kp.
Jorongan, Desa Ngeni, Kec. Sutoyayan, Kab. Blitar (hasil ubahan
hidrothermal dari batuan tufa riolit, di Kp. Dringu berumutu baik);
Pujiharjo, Lengosono, Kec. Tirtoyudo, Kab. Malang (hasil ubahan
ubahan hidrothermal

hidrothermal

dari batuan dasit); Desa Sumberbende

Kec.

Sumbermanjing Wetan, Kab. Malang (hasil ubahan hidrothermal dari

batuan tufa dasitik anggota Formasi Andesit Tua, komplek G.


Kitiran); Cokrokembang, Tanjung lor dan Bogoharjo, Kec. Ngadirejo
Kab. Pacitan (hasil ubahan hidrothermal dari batuan dasit, banyak
mengandung oksida besi dan pirit, warna agak kecoklatan); G.
Nglenglengan, Wonosidi, Kec. Tulakan Kab. Pacitan (hasil ubahan
hidrothermal dan batuan dasit, wama putih agak kompak); G. Pelet
Kalibaru, Kaliseren, Malangsari, Kab. Banyuwangi (hasil ubahan
hidrothermal dari batuan tufa, mutu cukup baik, komposisi; SiOz =
76,357o, Al:Or - l2,8JVa, Fe2Oj = 0,83o/a, Na:Or = 4,l4Va, K2O =

214
1,53c/c, TiO2 = 0,53c/o); Sumberkuat, Karangrejo, Karangdoro,
Gleenmore, Kab. Banyuwangi (mutu belum ciiketahui).

Kalimantan Barat: Lumar, Kab. Bengkoyang (hasil ubahan


hidrothermal dari batuan tufa dasitik, mutu kurang baik).
Nusa Tenggara Barat: Parado Kec. Monta. Kab. Surnbawa Besar
(hasil ubahan hidrothermal dan batuan tufa dasit, warna putih
kekunrngan, kompak); Desa Sari Kec. Sape, Kab. Bima (hasil ubahan
hidrothermal dari baruan tufa dasit, meliputi G. Ranggate dan BT.
Gopah, wama putih).
Nusa Tenggara Timur: Waili Kab. Sikka (hasil ubahan hidrothermal

dari batuan dasit); Wailolong Kab. Flores Timur (hasil ubahan


hidrothermal dari batuan dasi0; Sambor, Kec. Lembor Kab.
Manggarai (hasil ubahan hidrothermal batuan dasit); Kopoone.
Wolomage, Leke, Koanaro, Kec. Wolowaru, Kab. Ende (hasil
ubahan hidrotherrnal dari dasit, warna putih-coklat, dengan
pengotoran oksida besi); Ae Bora dan Oka Moge, Wolowaru, Kab.
Ende (ubahan batuan ler-rkogranit oleh batuan andesit, berwarna

putih, agak masif); Bukit Batuputih, Desa Labusen Bajo, Kab.


Manggarai (berasal dari tufa dasitik yang terubah).

Sulawesi Utara: Duhurnulyo, Kab. Gorontalo (hasil ubahan


hidrothermal batuan tufa); Buhu, Kab. Gorontalo (hasil ubahan
hidrothermal batuan tufa); Malitaga Kab. Bolaang Mangandow
(komposisi; KzO * 2,04c/c,, Na2O = 3.087o, Fe2Oj = 2p6Va\ Kec.
Tafaga (komposisi; K2O = 2,81-3,4Vc, Na20 = 2,88-3,9Ec. Fe2Oj =
l,3l-3,43ch); Kec. Isimi (kornposisi; K2O = 2,81-3,4Vc, Na:O = 2"88-

3.9c/a, Fe2O3

I "31

-3,43).

Sulawesi Selatan: Sadang Malingbong, Kec. Sesean, Kab. Tator


(hasil ubahan hidrothermal dalam batuan tufa dasit).

Teknik Penambangan
Dilakukan seperti penambangan pirofilit/roseki.

1.5

Pengolahan dan Pemanfaatan


Pengolahan toseki dapat dilakukan seperli pengolahan pirofilit.
Kegunaan toseki umunrnya dikaitkan dengan kadar Fe2O3. Toseki

terutama untuk bahan baku keramik, refraktori, isolator. Sebagai


bahan keramik toseki mudah dikerjakan dan tidak memerlukan bahan
campuran lain.

8. OKER
Oker adalah tanah yang lunak terdiri dari campuran oksida besi
dan bahan yang liat kadang terdapat juga karbonat dan pasir kuarsa
halr,rs (Darnrner Tietze, 1928 vide Basari. 1967). Selain itu, disebutkan
pula bahwa oker adalah tanah liat yang cukup banyak mengandung
oksida logarn dipergunakan sebagai bahan cat. Oksida besi yang telah
digerus halus dan dapat dipergunakan sebagai bahan cat disebut juga
okcr. Oker yang berwarna agak coklat atau kekuning-kuningan mengandung bi.iih besi dalarn bentuk limonit (= 2Fe:Or 3H2O), yang
berwarna merah mengandung hematit Fe:O:. Diantaranya terclapat
bermacam tingkatan warna yang kehitam-hitaman disebabkan oleh C
atau Ti, dan apabila berwarna agak ungu karena mengandung Mn atau
Cu.

Di pasaran/masyarakat dikenal 2 jenis oker yaitu oker gemuk


bilamana oker tersebut banyak mengandung tanah liat dan oker kurus
apabila oker tersebut mengandung banyak pasir dan sedikit tanah liat.
Pada umumnya oker dinilai bukan clari susunan kimianya, tetapi dari
kenyataannya didalam praktek setelah dicampur dengan minyak dan
dipulaskan.
Oker dari Ciater, Telaga warna dan Karaha terdapat dilerenglereng bekas Gunung api. Oleh karena itu oker terjadi karena proses
hidrothermal yang semula membawa

bijih oksida besi dari

gunung api, yang dalam hal ini biasanya bersifat basa.

batuan

fl
216

Tempat Diketemukan

Di Indonesia cukup banyak proses hidrothermal baik yang


terjadi pada Tersier maupun selama jaman Kuarter. Walaupun
demikian tempat dimana oker diketemukan belum banyak. Beberapa
tempat tersebut antara lain:
. Jawa Barat: Ciatei Telaga Warna, Kawah Karaha, Kuningan'dekat

Cipasung.

Jawa Timur: Kampak, Panggul, Kab. Pacitan; Songgoriti Kab.


Malang.

Teknik Penambangan
Oker keterdapatannya ditunjukan oleh adanya singkapan di
permukaan. Oleh karenanya penambangan oker dapat dilakukan
dengan cara tambang terbuka dengan peralatan yang sederhana. Untuk
deposit yang terbentuk gang penam-bangan dilakukan dengan sistem

2l'7

9. TAWAS
Tawas atau alum merupakan persenyawaan garam komplek
dengan rumus kimia KzSO4.AI2(SO4)3 24H2O (= tawas kalium) dan
NazSO4.Alz(SO+)r 24HzO (= tawas natrium). Dialam tawas didapatkan
dalam 2 bentuk yaitu dalam bentuk padat (dalam batuan/seperti yang

dijumpai didaerah Ciater (dekat Bandung) dan dalam bentuk air


kawah seperti yang didapatkan dikawah gunung Ijen. Pada air tersebut
mengandung I gram K2O tiap satu liter dan mengandung 1,4 gram
Na2O tiap satu liter. Tawas terjadi dari proses pelapukan dari batuan
yang mengandung mineral sulfida didaerah volkanis (solfatara) atau
terjadi didaerah batu lempung, serpih atau batu sabak yang
mengandung pirit 1= Fe S) dan markasit (= FeSz). Kebanyakan tawas
dijumpai dalam bentuk padat pada batu lempung, seryih ataupun batu
sabak.

gophering.

Tempat Diketemukan

Pengolahan dan Pemanfaatan

lain:

Beberapa tempat yang telah diketahui keberadaan tawas antara


Sebelum oker digiling, kotoran yang ada harus dibuang terlebih
dahulu, kemudian dilakukan penggilingan. Untuk rnemisahkan fraksi
dari serbuk dapat dilakukan penyedotan sehingga nantinya diperoleh

r
o
o

Jawa Barat: Daerah Ciater dalam keadaan padat, K. Wayang.


Jawa Tengah: Telaga Sari, Banyun-ras.
Jawa Timur: Kawah Iien (dalarn bentuk cair"an); Gua Prusi, Kediri.

dalam bentuk tepung. Pada waktu tertentu proses pembakaran


diperlukan guna mendapatkan warna tertentu. Pada saat pembakaran
besi hidrat yang semula berwama kekuningan akan berubah menjadi

merah karena airnya menguap dan terbentuk besi oksida. Pada


pembakaran diudara yang lebih lama dan suhu yang lebih tinggi, ferro
akan berubah menjadi ferri oksida yang warnanya merah tua. Oker
dimanfaatkan sebagai bahan utama cat merah, dapat pula untuk
memberi warna pada ubin atau sebagai luluh. Sebagai cat merah, oker
dicampur dengan minyak cat.

Teknik Penambangan
Tawas di.junrpai pada batuan yang lunak/dijumpai dalam bentuk

cair. Oleh sebab itu parda urnumnya teknik penambangan

tawas

dilakukan dengan larnbang terbuka dengan peralatan sederhana.


Pengolahan dan Pemanfiratan
Bahan tawas yang cliperoleh dari hasil ltenarnbangan. dibentuk
dalarrr bonskah-hongkah kecrl. kenrudian cligiling dengan crusher.
Tahap kenrudian cli.jcrnur pacll panas nratuhuri dcngatr cara clibentang-

*l
II
218
kan/ditabur tipis atau dapat pula dipanggang (roasted) dengan tujuan
untuk mengoksidasikan sulfida menjadi sulfat. Pada tahap akhir bahan
yang telah diolah tersebut dibebaskan dari sulfuric acid, dan didapatkan tawas.

Tawas dimanfaatkan untuk menjernihkan airlair sumur yang


keruh. Air yang telah dijernihkan dengan tawas tidak boleh diminum
secara langsung tetapi harus dimasak terlebih dahulu.
Tawas dimanfaatkan pula sebagai sumber bahan pembuatan
natrium dan kalium, untuk bahan antiseptik, bahan industri farmasi,
untuk bahan cat, bahan penyamak kulit.

BAB IX

BAHAN GALIAN INDUSTRI YANG BERKA.


ITAN DENGAN BATUAN MALIHAN
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah kalsit, marmer, batu
sabak, kuarsit, grafit, jade, mika dan wolastonit.

1. KALSIT
Pada Bab IV nomor 3, diatas dibahas kalsit dengan penekanan
mineral kalsit dengan komposisi CaCOr murni dan belum terpengaruh
oleh metamorfose. Kalsit yang akan dibahas adalah kumpulan mineral
kalsit (batu kalsit) yang telah terpengaruh oleh proses metamorfose
kontak tetapi tekstur aslinya masih tampak (disebut sebagai tekstur
palimses sehingga disebut sebagai kalsit meta sedimen. Tekstur
palimses yang tampak memperlihatkan seperti kumpulan butir gula
batu sehingga sering disebut sugary limestone. Pada umumnya sugary
limestone terbentuk oleh mineral kalsit murni, hampir tidak pernah
ada kontaminan yang berarti sehingga warna putih bersih.

Tempat Diketemukan
Kalsit jenis ini yang diusulkan dinamakan kalsit meta diketemukan didaerah dimana terdapat marmer.

xl

221

220

Teknik Penambangan
Teknik penambangan kalsit meta dapat dilakukan seperti teknik
penambangan batu gamping.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Kalsit meta komposisi kimianya tidak berbeda dengan komposisi mineral kalsit yaitu CaCOj. Dengan demikian pengolahan dan
pemanfaatan kalsit meta sama dengan pengolahan dan pemanfaatan

ini akan mengalami rekristalisasi pada


oC
suhu 500
nta, pada tekanan + 2,5 kilobar. Dari hasil analisa
mineralogi teliti batu sabak di Indonesia tersusun oleh mineral kuarsa
(307o),illite(27%a), serisit (107o), kalsit (107c), plagioklas (6clo), klorit
(57o) dolomit (4o/a), grafit (2,57a), dan rutil (0,5olo). Kandungan
mineral tersebut sangat ditentukan oleh batuan asal. dan kandungan
mineral tersebut mempengaruhi warna batu sabak, misal warna abuabu sampai hitam karena grafit. merah dan violet karena hematit,
warna hijau karena klorit atau oksida besi.
gelap, mengkilat. Jenis batuan

kalsit.

Tempat Diketemukan

2. MARMER
Dalam geologi marmer adalah jenis batuan metamorf yang
berasal dari batu gamping yang terkena proses metamorfose kontak
maupun metamorfose regional. Di masyarakat/pengusaha bahan
bangunan/istilah dagang (yang sebenarnya pendapat ini tidak benar)
marmer adalah mengkilap, batuannya dapat berupa batu gamping,
granit, basalt marmer dan jenis lainnya. Uraian telttang marmer yang
sebenarnya dapat dilihat pada Bab IV nomor 4, tentang marmer.

3. BATU SABAK (SLATE)


Batu sabak (= batu tulis), penamaan didasarkan pada salah satu
kegunaanya, yaitu dapat dipergunakan untuk menulis. Batu sabak
merupakan batuan malihan yang berasal dari lernpung atau serpih
yang mengalami metamorfose regional ataupun metamorfbse kontak
tingkat rendah - medium yang dicirikan oleh facies hornfels - subfacies hornblende hornfel. Ciri utama dari batu sabak bidang belahnya
(cleava ge) paralel tekstur lepidoblastik - granoblastik, kadang-kadang
poikiloblastik, struktur sekistos, dengan mineral utama mika (termasuk muskovit, biotiti), cordierit, andalusit, warna mengarah kewarna

r
o

Daerah Istimewa Aceh: Daerah Goh. Kedongdong, Goh. Tebara.


Tanah Reubuh, Bukit Lampulo, Kr. Bidien. Kr. Jarnbuaye, Kp.
Laudo (warna abu-abu gelap).
Sumatera Barat: Siguntur Mudo. Kab. Pesisir Selatan. Simkam. Kab.

Solok dan Panti Kab. Pasaman (wama abu-abu gelap): Desa


Tanjungbalit, Kec. Lernbah Gurnanli. Kab. Solok (warna abu-abu
pernah dimantaatkan untuk batu tulis).

Teknik Penambangan
Pada dasarnya batu sabak dimanfaatkan dalam bentuk yang
tipis. Oleh sebab itu sistem penambangan dilakukan dengan dibuat
dalanr bentuk balok. Apabila hal ini sudah didapar kernudian digergaji
sesuai dengan ukuran yang diinginkan demikian pula tingkat kehalusan permukaan.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Balok batu sabak sesuai clengan keperluan digerga.ji dan diben-

tuk. Batu sabak yang sudah diolah dinrantaatakan untuk atap runtah.
batu tenrpel dinclirrg, batu tulis (pada rnasa lanrpau), sedang pecahannya dapat digerurs menjadi tcplutg sebagai bahan pengisi atau pcngembang dalarn indrrslri cal.

I
223

222

4. KUARSIT
Komposisi utama adalah mineral kuarsa yang mengalami
metamorfose regional. Batuan ini akan mengalami kristalisasi pada
temperatur minimum 800' C atau pada tekanan 5,5 kilobar. Kuarsit
terbentuk dari batuan sedimen yang banyak mengandung mineral
kuarsa yaitu jenis arkose atau graywacke, orthoquarzite, jasper, flint,
batuan silika lainnya. Kuarsa yang ada dapat pula merupakan hasil
rombakan batuan beku asam antara lain aplit dan pegmatit. Kuarsit
yang murni berwarna putih, tekstur granoblastik, mosaik kadangkadang sakaroidal, struktur masii foliasi atau sekistose tergantung
banyaknya mineral pipih. Kehadiran mineral lain sebagai kontaminan
menyebabkan perubahan warna misalnya adanya mineral biotit, grafit
atau magnetik mengakibatkan warna gelap. Sifa-sifat fisik dari kuarsit

Teknik Penambangan
Kuarsit walaupun keras, tetapi hasil penambangan tidak disyaratkan mempunyai bentuk dan ukuran yang teratur. oleh karenanya
kuarsit dapat ditambang dengan peralatan sederhana secara tambang
terbuka.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Pengolahan kuarsit sangat ditentukan oleh rencana pemanfaatannya. Dalam keadaan belum diolah kuarsit dirnanfaatkan sebagai
agregat bahan bangunan. sesudah diolah dengan persyaratan tertentu

kuarsit dapat dimanfaatkan seperti mineral kuarsa antara lain untuk


pembuatan bata refraktori, bahan abrasif, industri gelas, keramik,
agregat lantai dan dinding.

tidak jauh berbeda dengan kuarsa.

Tempat Diketemukan
Daerah Istimewa Aceh: Daerah Seukulan, Kutapanjang, Aceh
Tenggara (wama putih, terdapat pada Formasi Batuan Gunung api
Akul, komposisi: SiOz = 90Va, Al2O3 = 3,99Vo, Fe2O3 = 0,4l%o);
Danau Laut Tawar, Takengoq Aceh Tenggara.
Sumatera Utara: Daerah Dolok Sialang, Kab. Tapanuli Utara (warna
abu-abu, masif, berbutir halus).
Riau: Kec. Kampar Kiri, Kab. Kampar (warna putih abu-abu muda,
komposisi: kuarsa = 90Vo, Serisit = 5Vo, bijih = lVo); Logas Kec.

MuaraLembu.
Jambi: Lubuk Gedang, Muara Hemat, Kab. Kerinci (warna bening,
kecoklatah, coklat tua, bila lapuk berwarna putih sedikit hitam).
Maluku: Daerah W. Limolo, pantai selatan pulau Taliabu dan (kadar
SiO2 - 98-997o, malihan dari batupasir);W. Lan. pulau Sulabesi.
Jawa Tengah: Daerah Bayat, Klatan (warna kuning dalam bentuk
fragmen pelapukan batuan genis).

5. GRAFIT
Grafit merupakan native elements dengan komposisi C (carbon). Sistem kristal dari grafit adalah hexagonal, merupakan massa
berfoliasi atau lembaran-lembaran tipis yang terlepas, struktur opaque
pada umumnya berwarna hitam. Grafit merupakan dimorphisme dari
intan, tetapi mempunyai tingkat kekerasan rendah (1-2), berat jenis
2,23, belahan baik/jelas apabila diraba terasa berminyak. Grafit tidak
terbakar dan tidak mudah larut dalam air. Grafit terbentuk pada
metamorfose tingkat tinggi dari batuan yang mengandung zat organik,
dapat terjadi pula karena proses magmatisme antara lain pada pegmatit
dan juga terdapat pada hidroterrnal vein. Grafit sangat umum
didapatkan dalam granit, sekis, genis, mika sekis ataupun batu
gamping kristalin.
Tempat Diketemukan

Sumatera: Muara Saiti, Pangkalan dan Tanjung balit, Kab. Lima


puluh Kota (merupakan sisipan pada batuan sekis); Ombilin daerah

r
't1A

225

LL+

danau Singkarakr Siberlabu. Payakumhuh.

Teknik Penambangan

Grafit didapatkan merupakan asosiasi dengan batuan lain.


Apabila tersingkap dipermukaan teknik penambangan dilakukan
dengan sistem tambang terbuka. Dalam beberapa hal pekerjaan pembongkaran batuan yang mengandung grafit cukup memberatkan,

sehingga pilihan penambangan dengan membuat sumuran diikuti


dengan gophering tidak dapat dihindarkan. Pekerjaan tersebut dapat
dilakukan dengan peralatan sederhana.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Grafit dari hasil penambangan, masih tercampur dengan kotoranlbatuan yang lain, untuk itu dilakukan dengan sortasi. Sesudah
tahap pekerjaan ini selesai dilaksanakan, grafit tersebut digiling
(crushing) dibentuk menjadi serbuk, kemudian dipisahkan dari
kotorannya dengan cara floatasi. Tahap selanjutnya grafit dibentuk
sesuai dengan keperluan. Grafit dapat dimanfaatkan antara lain
sebagai bahan pensil, bahan cat, bahan imbuhan pada dapur pemanas,

ketel uap, permukaan tuangan sebagai bahan tahan api, campuran


metalurgi dan alat penghantar listrik.

6. MIKA
Mika merupakan nama sekumpulan mineral yang terdiri dari
muskovit (K-mika = Kalz (AISI:)Oro(OH): = hydrous potasium aluminium silicate), muskovit (var. tuchsite = K(Al,Cr)z(AlSir)O10(OH)2 =

hydrous potasium aluminium silicate), phlogopite (Mg-mika) =


K(Mg,Fe)3 AlSir)roro(F,OH)2 = hydrous potasium aluminium
silicate), biotite (Mg-Fe-mika) = K(Mg,Fe)r(Al,Fe)SirO16 (OH,F)2 =
hydrous potasip,. aluminiurn silicate, Lepidolite (Li-mika) =
K(Li,Al)3 (Si,Al)4Or0(F,OH), - hydrous potasium lithium alumunium

silicate.

Muscovit pada umumnya memberi kenampakan pipih (tabular),


berfoliasi, seperti sisik merupakan masa yang berlapis-lapis tipis.
Warna putih keperakan, putih atau kuning, kadang-kadang warnanya
coklat akibat kontaminasi hematit atau rutil. Sifat fisik berlapis tipis,
kekerasan 2-2,25, berat jenis 2,76-2,88, fleksible dan elastis, tidak
larut dalam asam, tetapi sulit terbakar. Muscovit merupakan mineral
yang sangat umum pada batuan beku dalam yang kaya akan silika dan
aluminium (misalnya pegmatit dan granit), batuan metamorfbse
tingkat rendah-menengah-tinggi (misalnya green schist dan amphibolite facies), kadang dijumpai pada batupasir ataupun batuan yang
mengalami diagenesa antara lain pada batupasir atau napal.
Muscovit (var. fuchsite), memperlihatkan kenampakan sangat
tipis, seperti bersisik, warna cerah hingga hijau, kekerasan 2-2,25,
berat jenis 2,88, mudah terbakar dan mudah larut dalarn larutan asam.
Mineral ini terdapat pada batuan metamorfose tingkat menengah
antara lain sekis, berasosiasi dengan biotit, dijumpai pula pada
marmer yang berasal dari dolomit atau calcshist.
Phlogopite, merupakan benrukan pipih pernah didapatkan
berdiameter 2 m, warna coklat muda atau kuning, kadang-kadang
menunjukan foliasi, lunak yang tingkat kekerasan 2,5-3, ringan
dengan berat jenis 2,86, belahan jelas, fleksrble, elastis, lembaran yang
transparan memantulkan/menimbulkan warna./kilat seperti mutiara,
sulit terbakar, larut dalarn asam sultat (sedang muskovit tidak larut).
Jenis mineral ini dijumpai pada batuan r.netarnorfbse tingkat
menengah-tinggi yang kaya nragnesium (antara lain dolonrit. peridotit
yang mengalarni alterasi dan batuan serpentinit. Ju-ea didapatkun pada
batu:rn kinrberlite, batu garnping yxng terkenil kontak metarrrortbs,
dun padtr hlrtrurrr pegrltrtit.
Biotite, warna hitarn, coklat atau hijlu tLla, umullnya meruprakan lernbaran-lernbaran agregat, Iunak dengan tingkat kekerasan
2.-5-3 cukup be'rat dengan berat.ienis 2,8-3.2. belahan jelas tetapi kecilkecil, fleksible. e'lastis. transl)aran. agak sulit terbakar. larut dalarn
asam sullht setelah dipanaskan. Mineral ini san-qat umum pada batuan
bekr.r (rnisalny'a peernatit. glarrir). batuan sedirnen ataupun pada batuan

226

227

metamorf.

Tempat Diketemukan

Lepidolite, bentuk pipih-pipih kecil, warna oranye, kekerasan


2,5-4, relatif ringan dengan berat jenis 2,8-2,9, belahan jelas, fleksible,
elastis, mudah terbakar, tidak larut dalam asam. Jenis mineral ini
didapatkan pada pegrnatit, pada rekahan di greisen (= batuan beku
yang mengalami alterasi oleh cairan yang mengandung gas) berasosiasi dengan spodumene, ambiligonite dan furmalin.

Belum banyak tempat yang telah diketahui keberadaan wolastonit. Tempat tersebut antara lain:
o Sumatera Barat: Daerah Air Abu, Kab. Solok (terdapat pada batu
gamping yang bermetamorfose kontak).
Teknik Penambangan

Tempat Diketemukan
Periksa Bab VI. Pembahasan tentang mika no. 5.

Teknik Penambangan
Periksa Bab VI. Pembahasan tentang mika no. 5.

Pengolahan dan Pemanfaatan


Periksa Bab VI. Pembahasan tentang mika no. 5.

7. WOLASTONIT
Wolastonit dengan mmus kimia CaSiO: (apabila murni mempunyai komposisi CaO = 48,3Vo dan SiO2 = 51,'7Va, mempunyai bentuk
kristal triklin, jarang berbentuk pipih, pada umumnya berserat, seperti
jarum atau merupakan masa yang mempunyai pola radier, warna abuabu ataupun tidak berwarna, tingkat kekerasan 4,5-5, berat jenis 2,83,09, belahan jelas yang memberikan warna mutiara, seperti sutera
dalam bentuk serat, larut dalam asam kuat, mudah terbakar. Jenis
mineral ini terdapat pada batu gamping yang mengalami metamorfose
kontak ataupun yang mengenai batuan napal. Disamping itu dijumpai
pula pada batuan tersebut yang terkena metamorfose regional dengan
tekanan rendah.

Hasil penambangan wolastonit tidak menginginkan bentuk dan


ukuran yang teratur. Oleh sebab itu teknik penambangan dilakukan
dengan peralatan sederhana dengan cara penambangan terbuka.

Pengolahan dan Pemanfaatan

Hasil akhir dari pengolahan wolastonit adalah dalam bentuk


serbuk. Oleh karenanya wolastonit yang diperoleh dari tambang
dibersihkan dai zat pengotor dan dilakukan secara manual. Tahap
berikutnya dicuci dengan air untuk membebaskan wolastonit dimanfaatkan sebagai bahan refraktori.

fl
229

kaan akibat langsung dari suatu pekerjaan atau kecelakaan pada saat
sedang melakukan kerja. Sering kali program perusahaan memperluas
ruang lingkup program keselamatan kerja sehingga kecelakaan dapat

dikelompokkan pada:

BAB X

KESELAMATAN KERIA
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang ada hubungannya
dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan
pekerjaan. Keselamatan kerja sangat penting untuk semua pelaku
kegiatan industri, tidak terkecuali para ahli geologi yang selalu bekerja

dengan penuh tantangan baik di lapangan pada saat melaksanakan


eksplorasi, eksploitasi, pengangkutan, pengolahan maupun pada saat
bekerja di laboratorium.

Tempat-tempat yang menjadi sasaran keselamatan kerja yaitu:


di darat, di dalam tanah, di permukaan dan di dalam air serta di udara,
di mana terjadi kegiatan kerja seperti pertambangan, industri, pertanian, perhubungan dan kegiatan-kegiatan lai n.

Keberhasilan dalam manajemen keselamatan kerja akan


menghindari kecelakaan kerja dari semua orang yang terlibat dalam
kegiatan tersebut. Untuk itu telah diatur dengan berbagai undangundang dan peraturan yang dapat menjamin tenaga kerja selarnat sehat
selama dalam kegiatan kerjanya.

1. KECELAKAAN AKIBAT KERJA DAN PENCEGAHANNYA


Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tak terduga (tidak ada
unsur kesengajaanlada perencanaan) dan tidak diharapkan (yang
mengakibatkan kerugian material dan penderitaan). Kecelakaan akibat
kerja berhubungan dengan kerja di perusahaan yang meliputr; kecela-

o
.
.

o
o
o
.
r

Kecelakaan akibat kerja di perusahaan


Kecelakaan lalu lintas
Kecelakaan di rumah.
Kecelakaan dapat menyebabkan 5 jenis kerugian (5K) yaitu:
Kerusakan
Kekacauan organisasi
Keluhan dan kesedihan
Kelainan dan cacat
Kematian.

Penyebab kecelakaan kemungkinan besar (857") adalah tindak


perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan (unsafe human

ccfs) atau kecelakaan lingkungan yang tidak aman (unsafe conditions). Upaya untuk mencari penyebab kecelakaan disebut dengan
analisis sebab kecelakaan, yang harus mencari jawaban bagaimana
dan mengapa kecelakaan tersebut dapat terladi.

Pencegahan kecelakaan akibat kerja dapat dilakukan dengan


melaksanakan berbagai usaha di bawah ini:

o
o
.
o
o
o
r
o
o
.
o
o

Peraturan perundangan
Standarisasi
Pengawasan

Penelitian bersifat teknik


Riset medis

Penelitianpsikologis
Penelrtian statistik
Pendidikan

Latihan-latihan
Penggairahan kerja
Asuransi
Usaha keselanratan tingkat penrsahaan.

230

2. STATISTIK KECELAKAAN KENJA


Statistik kecelakaan akibat kerja meliputi kecelakaan yang
disebabkan dan diderita pada waktu menjalankan pekerjaan (selama
menjalankan pekerjaan, ke/dari perusahaan) yang berakibat kematian
atau kelainan-kelainan, serta penyakit akibat kerja. Satuan penghitungan kecelakaan untuk statistik adalah peristiwa kecelakaan.
Statistik kecelakaan dimaksudkan untuk mengumpulkan berbajenis
gai
kasus kecelakaan yang terjadi dalam usaha kegiatan kerja
(perusahaan, industri, pertambangan dan lain-lain, baik didaerah,

nasional, maupun internasional) yang terjadi dari tahun ketahun,


sehingga dapat diperbandingkah dan dapat dipantau usaha keselamatan kerja yang dilakukan untuk mengurangi kecelakaan kerja.

Untuk dapat melakukan statistik kecelakaan akibat kerja perlu


diadakan keseragaman terlebih dahulu pada berbagai hal misalnya:
definisi kecelakaan (dilaporkan dan ditabulasikan secara seragam),
angka frekuensi (F) dan beratnya kecelakaan (S) (penyeragaman
pengukuran), klasifikasi industri dan klasifikasi kecelakaan (keadaan
terjadinya, sifat dan letak luka atau kelainan).
Perhitungan angka frekuensi (F) adalah banyaknya kecelakaan
untuk setiap juta jam-manusia, yang dapat dituliskan sebagai berikut:

F_

any akny a ke c e lakaan

xl

231

3. PERATURAN PERUNDANGAN DIBIDANG KESELAMAT,


AN KERJA
Setiap peraturan atau perundangan dibidang keselamatan kerja
dimaksudkan untuk melindungi tenaga kerja dari sesuatu yang
mungkin mendatangkan kerugian. Undang-undang Pokok Keselamatan dan Keselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970 dan Undang-undang No.
4 Tahun 1984 tentang ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup
adalah untuk memberi perlindungan bagi karyawan dan masyarakat
umumnya dari akibat yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan ekonomi yang relatif baru di Indonesia terutama pada kegiatan industri
yang menggunakan teknologi maju. Dalam Undang-undang didefinisikan berbagai hal antara lain; tempat kerja, tenaga kerja dan bahaya
kerja. Di samping itu dalam pasal 3 juga ditetapkan kerja untuk:

o
o
o
o
o

a
a

000. 000

jammanusiatotal

Sedang angka beratnya kecelakaan (S) yaitu jumlah total

hilangnya hari kerja per-1000 jam manusia, dirumuskan sebagai


berikut:

hariker jaxl.O00
s- jumlah hlangnya
jam manusiatotal

a
o
a

Mencegah dan mengurangi kecelakaan.


Mencegah, mengurangi dan meinadamkan kebakaran.
Mencegah dan mengurangai bahaya peledakan.

Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan pada waktu


kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya.
Memberi pertolongan pada kecelakaan.
Memberi alaGalat perlindungan pada para pekerja.
Mencegah dan mengendalikan timbulnya atau menyebarluasnya
suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angrn,
cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran.

Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik


fisik, psikis, keracunan, infeksi dan penularan.
Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan
cara dan proses kerjanya.

Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang,


a

tanaman atau barang.


Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.

Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perla-

rl
233

232

o
o

kuan dan penyimpanan barang.


Mencegah sengatan aliran listrik yang berbahaya.

Menyelesaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan


yang kecelakaannya menjadi benambah tinggi.
Pada pasal 4 menetapkan syarat-syarat keselamatan kerja.dalam

perencanaan, pembuatan, pemasangan, pemakaian, penggunaan


pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang, produk teknis dan
aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya
kebakaran.

4. KESELAMATAN KE&IA BIDANG KEBAKARAN


Kebakaran dalam kegiatan kerja merupakan sesuatu yang tidak
diinginkan. Kebakaran mengakibatkan penderitaan dan malapetaka
bagi tenaga kerja, khususnya bagi mereka yang tertimpa kecelakaan
dan dapat berakibat hilangnya pekerjaan. Dengan terjadinya kebakaran tersebut, hasil usaha yang telah dirintis dalam waktu yang cukup
lama dapat musnah dalam sekejap. Oleh karenanya kewaspadaan
terhadap bahaya kebakaran perlu diperhatikan dan ditingkatkan.
Peristiwa kebakaran dapat terjadi apabila oksigen, bahan yang
mudah terbakar dan panas terdapat bersama-sama. Tanpa salah satu
unsur tersebut kebakaran tidak akan terjadi. Peristiwa kebakaran dapat
digambarkan sebagai suatu reaksi yang hebat dari zat yang mudah
terbakar dengan zat asam. Reaksi pembakaran menghasilkan nyala
dan panas. Bahaya kebakaran yang umum terjadi dipicu oleh;
merokok, zat cair yang mudah terbakar, nyala api terbuka, ketata
rumah tanggaan yang jelek, mesin yang tidak terawat dan menjadi
panas, kabel listrik yang salah fungsi, kelistrikan statis, alat-alat las
dan lain-lain. Minyak bumi dan gas bumi, cat, pertambangan batubara
cukup rawan dipandang dari sudut kebakaran. Beberapa kasus yang
menyebabkan terjadinya kebakaran antara lain :
. Nyala api dan bahan-bahan yang pijar

Penyiharan

o
o
o
o
o
o

Peledakan uap dan gas


Peledakan debu dan noktah-noktah zat air
Percikan api

Terbakar sendiri
Reaksi kimiawi

Peristiwa-peristiwalain

Bahan yang Mudah Terbakar

Zat padat/cair yang terbakar adalah akibat suatu reaksi oksidasi


berantai yang dipacu oleh panas, menghasilkan gas hasil pembakaran
berupa asap yang terdiri dari uap HzO, COz, CO, C (karbon) dan lainlain. tergantung dari kandungan mulanya. Resiko bahaya yang mudah
Tabel 15. Sifat bahaya kebakaran beberapa bahan yang dipakai dalam industri.

Amonia
Asetilen
Aseton

i,,n

Bensin (gasolin)

0,80

Benzen

Etilalkohol

0,88
0,79

Etil eter

0,71

Eter minyak bumi (benzin)


Hidrogen
Kamper
Karbon disuliida
Karbon monoksida

0,60
0,09
0,99

Kloretarr

0,90

Minyak kastroli
Minyak linsid
Minyak tanah

1,0

0.9

Parafi n

0.9

1,26

0,6 gas
0,9 gas
2,0 - 18
3,4 -43
2,8 -il
1,6 13
2,6 -45
, (

0,1
5.2
2,6
1,0
2,2
_

= hatas untuk nrcn),ala (7c).

,6
|,3-71
4.3-19
r,9-48
| ,4-1

300
538
371
423

Tidak

Tidak Sedikit

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak
Tidak
Tidak

0,6-3,5

466

3,8-15,4

519
449

gas

-50

230

199

Ya
Ya
Ya

Tidak Tidak
Tidak Tidak

66

-30

Tidak
Tidak
Tidak

562

r,1-5,9
4.0-75

= perhandingrn helat tclhadap udara


Cl = titik nyala ("C).

I)

2,6-12,8

651

gas

_1)

Kctclanglln: A = belat.ienis.

[]

2.5-81

80
288
585

11n

-38
-

t6-25

Tidak

Ya

Tidak

Tidak Sedikit

t.3-4,4 100 Tidak Tidak


t2.5-74 609 Tidak Ya

_
0.7-5
-

343
229

24s

Ya
Ya

Tidak Tidak
Tidak Tidak

E = suhu menyala sendiri,


F = nyala atas pemanasan,
G = carnpur dengan air

234

terbakar tergantung pada titik nyala, suhu menyala sendiri, sifat


terbakar oleh pemanasan berat jenis, perbandingan campuran udara
dan uap, sifat bercampur dengan air, keadaan fisik dan lain-lain. Tabel
berikut adalah sifat bahaya kebakaran sejumlah bahan yang dipakai
dalam industri (Tabel 13).
Selain kebakaran, bahaya peledakan yang dapat mengakibatkan
kebakaran sering terjadi terutama dalam industri. Sering mengalami

kesulitan untuk mengganti penggunaan bahan-bahan yang dapat


rnengakibatkan kebakaran dalam industri, sehingga perlu dilakukan
usaha pencegahan atau pengurangan bahaya kecelakaan (kebakaran)
dengan berbagai usaha. Untuk pencegahan dan perlindungan terhadap
bahaya kebakaran dapat dilakukan usaha sebagai berikut:

235

Bahan yang Mudah Meledak


Peledakan adalah suatu peristiwa akibat bebasnya energi secara
cepat dan tak dapat dikendalikan. Energi yang ada dapat dalam bentuk
panas, sinar, suara dan kejutan mekanis, tekanan, akibat reaksi kimia.
Misal peledakan ditambang batubara atau ledakan nuklir yang berada
dalam keadaan kritis. Peledakan dapat terjadi apabila:

o
o
o

Bahan mudah terbakar


Adanya udara dan unsur penunjang lain untuk terjadinya pembakaran
Sumber nyala atau suhu diatas suhu suatu zat terbakar.

Tabel 16. Klasifikasi bahan-bahan yang dapat meledak menurut kecepatan naiknya
tekanan.

a.

Penyimpanan

Termasuk lokasi dan disain gudang alat maupun bahan, pengepakan bahan yang mudah terbakar, pemisahan bahan menurut cirinya
(mudah terbakar, meledak, korosit, beracun dll) ventilasi udara yang
baik, kelembaban, pengontrolan suhu dll.

Bahan-bahan kelas A (kenaikan tekanan yang lambat)

Debu logam: Antimon,

Besi

murni), Kadmium, Tembaga,


hitam, Tungsen, Uap 1.2,

(tidak Aneka debu lainnya; Antrasit, Grafit,

Timah
Diklo-

Karbon hitam, Kokas (tdk menguap),

Kopi, kulit, teh.

retan.
Bahan-bahan kelas B (keceapatan menengah)

Debu atau tepung logam: Besi (yang dire

b. Pengolahan

duksi karbonit, elektrolitis,

Pencucian dan pembersihan gemuk/minyak, penggunaan bahan


mudah terbakar sesedikit mungkin, penempatan bahan padat yang
tersusun secara aman, penempatan dan pengangkutan bahan bakar cair
melalui pipa dan dalam drum/ tanki yang aman.

c. Meniadakan

Sumber-Sumber Awal Mula Kebakaran

Pemisahan yang aman antara proses yang menimbulkan panas


dengan bahan yang mudah terbakar, proses pengeringan dilengkapi
dengan ventilasi yang cukup pemasahgan jaringan listrik dan peralatan
memenuhi ketentuan yang berlaku.

atau

secara hidrogen), Mangaan, Seng,


Timah putih, Uap: Propilin diklorida
Debu-debu plastik: Fenol formal dehid;

Ftolatanhidrid dan resin-resinnya,


Metil metakrilat, Polietilen, Polistiren, Resin urea, Resin urea melamin, Selulosa asetat, Vinil butirat

Debu-debu bijian, bumbu dsb.: Alfalta,


beras, bumbu, campuran bijian, kacang, pati, ragi

Aneka debu lainnya: Arang bitumen,


Asam kalium lignosulfanat, belerang, dekstrin, gabus, kumaron inden, lignin, lignit, piretrum, sirlak,
silikon, tepung kayu, tepung obatobatan

Bahan-bahan kelas C (kecepatan tinggi)


Debu-debu logam: Aluminium, beberapa
hibrida logam, campuran magne-

sium aluminium, magnesium titanium. zirkon.

Uap-uap dan gas: Asitilen, Aseton, Al-

kohol (metil, etil, isopropil, butil),


Eter, Etilen, Hidrokarbon, Karbon
disulfida, metil etil keton, zat air
(hidrogen)

I
236

231

Beberapa jenis bahan pada keadaan yang sesuai dapat meledak


apabila dinyalakan seperti :

o
.
o

benda. Pencegahan kebakaran dan pengurangan sangat ditentukan dan


tergantung pada:
o Pencegahan kecelakaan sebagai akibat kecelakaan atau kepanikan

Debu halus zat padat yang mudah terbakar (termasuk logam)


Uap yang mudah terbakar
Gas-gas yang mudah terbakar.

o
.
o
o

Klasifikasi bahan yang dapat meledak menurut kecepatan


naiknya tekanan sesuai Norma Kebakaran Nasional Amerika Serikat
seperti Tabel 16. Dari tabel tersebut terlihat bahwa bahaya peledakan
debu mungkin terjadi pada pengolahan bahan alamiah seperti: gula,
pati, tepung, arang dan kayu, pengolahan plastik, bahan kimia organik,
pengolahan logam (alumunium, titanium, magnesium) dan belerang.
Dengan demikian bahaya potensial dapat terjadi dalam kegiatan pertanian, industri kimia dan logam serta pada pertambangan (misalnya

Beberapa hal yang dilakukan dalam mencegah bahaya kebakaran adalah:


r Keselamatan terhadap terjadinya kebakaran atas dasar pengaturan

batubara).

Keadaan yang mengarah pada terjadinya peledakan misalnya:


kadar debu yang mudah terbakar tinggi (> l0 mg/m3, suhu tinggi 150400' C), ada percikan api listrik, gesekan awan debu atau pengaruh
kekerasan mekanis seperti nyala api.

Pencegahan bahaya ledakan diarahkan pada pengurangan

konsentrasi sampai sekecil mungkin dari campuran yang dapat


terbakar dan menghi

gkan sumber terj adi nya pembakaran.


Sering dijumpai penyebab kebakaran diakibatkan oleh listrik.
Beberapa faktor yang sering dijumpai antara lain:
o Instalasi listrik yang tidak memakai sekring/sekring diganti kawat
o Pemasangan kabel yang tidak tepat sehingga terjadi hubungan

an

pendek

Instalasi yang sudah usang dan rusak.


Oleh sebab itu pencegahan kebakaran diarahkan pada perbaikan
dan penyempurnaan hal-hal tersebut di atas.

Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran

Merupakan semua tindakan yang berhubungan dengan pencegahan, pengalatan, dan pemadaman kebakaran, yang meliputi
perlindungan jiwa dan'keselamatan manusia serta perlindungan harta

Pembuatan bangunan yang tahan api


Pengawasan yang teratur dan berkala
Penemuan kebakaran pada tingkat awal pemadamannya.
Pengendalian kerusakan akibat kebakaran dan tindakan pemadaman

o
o
o
o
.

ll

l'

perusahaan dan perencanaannya.

Tata letak, konstruksi bangunan dan material


Pengawasan terhadap kemungkinan kebakaran
Sistem tanda kebakaran dalam perusahaan
Jalan untuk menyelamatkan diri

Perlengkapan pemadam dan penanggulangan kebakaran

di

peru-

sahaan

Dinas pemadam kebakaran.

Pemerintah menyelenggarakan Program Operasional Serentak,


Singkat Padat untuk Pencegahan dan Penanggulangan kebakaran,
mengingat pentingnya pengamanan pembangunan ditinjau dari sudut
kerawanan akan terjadinya kebakaran yaitu melalui.
e Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 158 tahtn 1972
tentang Program Operasi Serentak, Singkat Padat untuk Pencegahan

dan Penanggulangan Kebakaran dengan 2 lampirannya.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja

RI No. 170 tahun 1970 tentang


Ahli Keselamatat

Penunjukan Pejabat yang Berwenang Menetapkan


Kerja Bidang Kebakaran bersama lampirannya.

5. PESAWAT/PEMBANGKIT UAP
Pesawat uap adalah suatu sistem bertekanan tinggi yang
padanya air diubah menjadi uap sebagai produk akhir oleh panas dari

238
sumber yang bersuhq tinggi, yang biasanya berupa hasil pembakaran

suatu bahan bakar. Uap yang dihasilkan dimanfaatkan untuk keperluan diluar pesawat uap, pada umumnya mempunyai ukuran yang
bervariasi dari yang kecil (p,ortable) sampai dengan yang berukuran
raksasa. Pesawat uap merupakan suatu bentuk hasil teknologi yang
memerlukan perhatian ditinjau dari sudut keselamatan kerja, maka
dibuat peraturan perundangan yang dapat memaksakan penerapan
standart

o
r

yaitu:

Undang-Undang Uap 1930 Stbl. No. 225 tatu:n 1930


Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 4 tahun l97l yang mengatur
biaya pemeriksaan dan ppngawasan keselamatan kerja di perusa\aan.
Penilaian pesawat uap, yang dikaitkan dengan keselamatan kerja
dapat ditinjau dari: konstruksinya (bahan yang dipakai), air se!,agai

pengisi ketel uap, udara dan bahan bakar, se.rta metoda pengukuran
dan pengamanannya. Pesawat uap dan perlengkapannya unlqrnnya
terbuat dari logam, baik logam ferro (besi baja), maupun logap non
ferro (perunggu, tembaga, alumunium, timbal, seng, timah putih, dll).
Masing-masing logam mBmpunyai sifat fisik maupun mekanik yang
bertalian dengan penggunaannya. Berbagai cara dilakukan untuk
menguji sifat-sifat logam yaitu:
. Pengujian yang bersifat destruktif (merusak), misalnya menguji
kekuatan tarik dan tek?n (tenstle and compression test), pengujian

lengkung (bending test), pukup tarik (impact test), [ekerasan


(hardne s s) dan lainJain
Pengujian yang bersifat non destruktif (tanpa merusak), misalnya
dengan cara radiogrifi, ultrasonik, magneflux yang bernrjuan
menelaah kemungkinan bagian yang tidak sempurna, seperti cacat,
keretakan d-an sambungan yang kurang baik. Perhitungan juga
dilakukan untuk menentukan tebal dinding ketel uap luar, serta
perkiraan leleh dari bahan konstruksinya.
Air pengisi ketel uap adalah air yang dimasukan kedalaJn ketel

untuk pengganti ais yang hilang oleh karena pengurasan

239

ir

dan
penguapan, Uap dqpat diembunkan dan dipakai lagi dbbagai pengganti
air ketel sedang lainnya diberikan tambahan. Air y4ng dipakai harus

memenuhi syarat tertentu karena apabila tidak memenuhi akan


menimbulkan kesulitan dan kerusakan dalam operasinya, pada
akhirnya dimungkinkan terjadi kecelakaan. Kesukaran yang terjadi
apabila air tidak memenuhi standart antara lain:
o Terbentuknya kerak sebagai akibat kesadahan air
o Korosi sebagai akibat asam dalam air dengan PH rendah, kadar

o
o
o

oksigen dan karbon dioksida


Terbentuk busa oleh karena kadar zat padat dalam air ketel, lemak
alkali berlebihan.
Terbawanya busa kedalam uap, karena busa yang banyak
Retak kaustik yang diakibatkan oleh tegangan dalam dinding ketel,
alkalinitas terlalu tinggi, adanya silikat.

Udara yang dipakai untuk pembakaran dapat berupa udara primer, udara sekunder dan tersier atau udara bocoran. Masuknya udara

dapat dilakukan dengan tarikan alami atau dengan tarikan buatan.


Konstruksinya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan
pekerjanya, ,antara lain cerobong gas hasil pembakaran harus tinggi.
Disamping itu batran bakar (baik padatlcairlgas) harus mempunyai
kotoran yang cukup rendah antara lain kandungan belerang karena
mengakibatkan karat pada konstruksi dan mencemari lingkungan.
Metoda pengukuran dan perawatan hendaknya disusun rapi agar
pelaksanaan kerja efisien dan aman dilakukan antara lain: pada saat
pengosongan, pengisian serta pada operasinya.

6. PENGAMANAN MESIN DAN ALAT MEKANIK


Didalam proses penambangan dan pengolahan bahan galian
industri tidak dapat terlepas dari penggunaan mesin dan alat mekanik
lainnya. Ukuran peralatan dapat besar atau kecil tergantung dari jenis
peralatan tersebut. Mesin dan alat mekanik banyak dipakai dalam
pekerjaan penambangan. Dengan mesin dan alat mekanik produksi
dan efisiensi kerja dapat ditingkatkan. Mesin-mesin dapat dikelompokan dalam: mesin penrbangkit tenaga, mesin penyalur kekuatan
dan mesin untuk pekerjaan. Disarnping itu berdasarkan atas sektornya

r
240

241

mesin dapat dibagi dalam mesin industri, pertanian, kehutanan, pertambangan dan lain-lain.
Pengamanan mesin digunakan untuk mengurangi/mencegah
efek negatif dari mesin yang ada. Pagar mesin dan alat mekanis serta
perlengkapan pengamanan mesin disebut pengaman mesin. Pengaturan keselamatan mesin dibawah Undang-Undang No. I Tahun 1970
tentang keselamatan kerja. Pasal 2 ayat 2 dari Undang-Undang
tersebut menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang diatur oleh
Undang-Undang berlaku dalam tempat kerja yang padanya dibuat,

dicoba dipakai atau dipergunakan mesin. Untuk pengawasannya


ditugaskan pengawai pengawas dan ahli keselamatan kerja (pasal 5
ayat 1 UU No. I Tahun 1970). Dari uraian tersebut diambil kesimpulan ada kewajiban pemasangan pengaman mesin untuk pencegahan
kecelakaan.

Dalam Model Code

of

Safety Regulation for Industial


Establishment yang dirumuskan dalam Konferensi Teknis Tripartit
OPI di Geneva tahun 1948 disebutkan persyaratan antara lain:
e Pengaman mesin harus memberi perlindungan yang positif.
. Pagar pengaman harus mencegah masuknya tenaga kerja kesemua

tempat atau daerah berbahaya selama proses

.
o
o
o
o
o
o
.

atau kegiatan
berlangsung
Pengaman tidak menyebabkan ketidak nyamanan dan gangguan bagi
tenaga kerja.

Pengaman tidak boleh secara langsung/tak langsung mengganggu


produksi
Pengaman harus cocok bagi pekerjaan dan mesin

harus bebas dari patahan-patahan, sudut-sudut yang runcing, tepi-tepi


yang kasar atau sumber-sumber kecelakaan lain.

Pengaman harus memberikan perlindungan terhadap hal-hal tak

terduga dan tidak melulu hanya terhadap bahaya yang sudah


diperkirakan.

7. BAHAN BERBAHAYA DAN KESELAMATAN KERIA


Bahan berbahaya adalah bahan yang pada saat pembuatannya,
pengolahan, pengangkutan. penyimpanan dan penggunaannya mungkin menimbulkan atau membebaskan debu-debu, kabut, uap, gas, serat
atau radiasi mengion yang mungkin menimbulkan iritasi, kebakaran,
ledakan, korosi. mati lemas, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah
yang memungkinkan gangguan kesehatan orang berkaitan dengan-nya
atau menyebabkan kerusakan pada barang atau harta benda.
Pada saat ini telah diketahuijutaan persenyawaan bahan kimia,

sementara bahan berbahaya meliputi kurang lebih 12.000 jenis.


Bahan-bahan berbahaya dapat dikelompokan sebagai berikut:
o Bahan eksplosif; yang dapat meledak sendiri atau dalam campuran
tertentu, atau jika mengalami pemanasan, kekerasan atau gesekan
dapat mengakibatkan peledakan yang diikuti kebakaran. Beberapa
bahan mungkin menjadi eksplosif karena perubahan sendiri dalam

struktur kirnia tanpa pengaruh luar tertentu, seperti oksidasi.

Contohnya antara lain garam logam yang peka.

Pengaman harus tahan terhadap efek pemakaian mesin yang lama

Bahan yang mengoksidasi. Bahan ini kaya akan oksigen yang


mendukung terjadinya kebakaran, antara lain khlorat dan permanganat. Bahan tersebut dapat menyebabkan nyala api pada bubuk
kayu atau jerami jika terjadi gesekan. Asam kuat teftentu misalnya
asam sulfat dan asam nitrat dapat menyebabkan pembakaran jika

dan kuat terhadap bekerjanya dan goncangan mesin

bersentuhan dengan bahan organik.

Sebaiknya pengaman merupakan bagian keseluruhan dari mesin


Pengaman harus memungkinkan perminyakan, penggemukan, pengecekan penyetelan dan perbaikan.
dengan

perawatan yang minim.


Pengaman harus tahan dan juga tahan terhadap api dan korosi.
Pengaman tidak boleh merupakan bahaya tersendiri dan khususnya

Bahan yang mudah terbakar. Methan, acethylene, bahan bakar gas


dikelompokan dalam bahan yang mudah terbakar, bahan yang sangat
mudah terbakar, bahan yang dapat mudah terbakar di udara secara
spontan.

243

242

Tingkat bahaya ditentukan dengan titik bakarnya


Bahan beracun, yang dapat dikelompokkan menjadi debu berbahaya,
debu beracun, beracun melalui kontak kulit, berbahaya jika termakan
terminum, bahaya bila terhirup, tertelan, gas-gas beracun, gas-gas tak
berbau tetapi beracun, uap-uap yang berbahaya dan lain-lain.
Bahan korosif, meliputi asam-asam, bahan kuat lainnya yang dapat
membakar bagian tubuh yang dikenai, atau merangsang kulit, mata
atau sistem pernafasan atau berakibat kerusakan pada benda.
Bahan radioaktif, misalnya bahan yang rneliputi isotop-isotop dan
semua persenyawaan yang mengandung zat radioaktif.
Ada beberapa bahan yang memiliki bahaya sama, misalnya
benzena menyebabkan keracunan jika uapnya terhirup, cairan tersebut
dapat menyebabkan kebakaran bahkan uapnya mengakibatkan peledakan. Untuk dapat menangani bahan berbahaya tersebut dianjurkan

agar nama dagang selalu disertai dengan nama dan rumus kimia
bahan, komposisi serta sifat-sifat pokoknya (misal: berat jenis, berat
molekul, titik didih, penyimpanan. penggunaan, dll). Pemasangan
label dan tanda yang mempergunakan tulisan atau gambar/lambang
pada wadah adalah suatu tindakan pencegahan yang sangat penting.
Pada waktu bahan kimia diproduksi, pekerja melakukan usaha
keselamatan secara baik. Sedangkan bahan kimia dalam wadah/botol
pada saat pensangkutan atau pada saat digunakan konsumen, mereka
sering heiurrr mengenal betul sifat bahan tersebut. Dalam hal inilah
maka pemberian label sangat penting. Peringatan dengan label baik
dalam bentuk uraian kata/kalimat ataupun dengan lambang merupakan
syarat penting perlindungan, namun tidak berasi perlindungan secara
lengkap atau usaha keselamatan kerja lain tidak diperlukanlagi.
Penyimpanan
Bahan-bahan berbahaya harus disimpan secara tepat untuk melindungi kemungkinan bahaya. Selain itu harus dijaga agar bahan tersetrut'tidak bereaksi dengan bahan lain yang disimpan. Segenap bahaya harus diperhatikan dan diamankan. Keselamatan yang bertalian
dengan penyimpanan bahan-trahan berbahaya adalah sebagai berikut:

Bahan yang mudah meledak


Meliputi bahan peledak, korek api, garam-garam metalik yang peka

perlu pengamanan yang ketat antara lain: tempat kokoh, selaltr


terkunci, jauh dari tempat ramai terutdrha surnber tenaga, bangunan
kokoh, ventilasi baik bebas dari kelembaban, dengan penerangan.
Lebih baik mempergunakan perlindunpan alam seperti bukit, tanah
cekung yang bebas dari tumbuhan kering.

Bahan peledak untuk penambangan bahan galian harus disimpan


dalam tempat penyimpanan khusus, dijauhkan dari alat detonatot,
alat atau barang lain, penempatannya sesuai dengan aturan yang
berlaku (periksa pada pembahasan bahan peledak). Untuk membuka
wadah bahan peledak dipakai alat bukan logam.
Bahan-bahan yang mengoksidasi

Baharr yang mengandung banyak oksigen ini dapat membebaskan


oksigen selama waktu penyimpanan, seddrtg yang lain mungkin perlu
pemanasan lebih lanjut. Resiko bahaya dapat dikurangi apabila
ditempatkan terpisah, terutama jangan berdekatan,dengan bahan yang
mudah terbakar. Tempat penyimpanan harus sejuk dan ada ventilasi
yang baik pada bangunan tahan aPi.
Bahan yang mudah terbakar

Gas tersebut antara lain hidrogen, propan, butan, etilen, acetilen,


hidtogen sulfida, gas arang batu dan etena. Pembakaran dapat terjadi
jika campuran gas dan udara dalam batas "flarueability Limit", maka
penyimpanan ditempat sejuk berventilasi. Instalasi listrik diatur
sebaik-baiknya, dihubungkan dengan tanah dan diperiksa secara
berkala atau dengan alat pengaman otomatis' Katup tangki cairan
diberi label dan pipa-pipa saluran dicat dengan warna yang mudah
dibedakan, dengan tandajelas macam cairan dan arah aliran. Tangki
tersebut ditempatkan jauh dari bangunan. Pada tempat datar harus
dibuat parit agar dapat menampung cairan sehingga tidak menyebar,

dengan kapasitas 1,5

kali isi tangki. Tempat dilengkapi dengan

pemadam kebakaran dan merokok dilarang.


Bahan-bahan beracun
Sangat sulit untuk menutup kebocoran dengan sempurna. Oleh sebab

245
244

itu diusahakan pertukaran, tempat sejuk, tak terkena sinar matahari


secara langsung dan jauh dengan bahan lain yang dapat
menghasilkan reaksi dengannYa.
Bahan korosif

Antara lain asam florida, asam khlorida, asam nitrat, asam semut dan
asam perkhlorat. Bahan tersebut dapat merusak tempat penyimpanan,
bereaksi dengan logam tertentu, atau menguap dan bereaksi dengan
bahan organik atau zat kinua lainnya. Beberapa jenis gas beraksi
clelgan uap air, menghasilkan kabut asam yang korosit dan sangat
mengganggu pekerja. Dalam beberapa hal perlu pendinginan sampai
diatas titik bekunya (asam acetat beku berubah volumenya dan dapat
memecahkan wadah). Bahan korosif mungkin juga berbahaya karena
sifat lain (misal: asam peikhlorat adalah oksidator kuat). Air raja
(campuran asam khlorat dan asam nitrat) juga oksidator kuat yang
dalam keadaan panas dapat membebaskan nitrasil khlorida yang
beracun.
f)aerah penyimpanan bahan korosif harus terpisah dari bangunan lain
dengan dinding dan lantai yang tahan korosi dilengkapi perlengkapan

untuk penyaluran tumpahan. Ventilasi harus baik' Asam fluorida


tidak boleh disimpan dalam botol gelas tetapi dengan botol khusr.rs.
Disediakan tempat pertolongan pertama seperti pancaran air untuk
mandi dan air untuk cuci mata ditempat penyimpanan.

dengan tekanan
Gas ditekan, dicairkan atau dilarutkan

o
o

yang dapat menyala sendiri' bahan


Cairan yang dapat terbakar' zat

V*g

o
o
o

mengeluarkan gas yang dapat


Uifu UJrsentufran dengan air dapat

terbakar
Bahan-bahan Yang mengoksidasi
menimbulkan infeksi
Bahan beracun dan bahan yang dapat
Bahan berbultaYa lainnYa'
berbahaya, bahaYa utama
Dalam kegiatan pengangkutan bahan

adalah peledakan dan kebakaran'

8. ALAT-ALAT TANGAN
dengan alat tangan
Banyak pekerjaan geologi yang dilakukan
kikir' gergaji'
pisau'
misalnya palu, obeng' kuici baut' kunci .rantai'
namun
dll. Parta unlumnya kecelakaan oleh alat tersebut banyak

luka yang diakibatkan dapat


termasuk ringan. Meskipun dernikian
kehilangan waktu keria' Faktor
berbahaya dan menyetabkan
kecelakian yang terjadi disebabkan oleh:

o Terlepas dari pegangan pada saat dipergunakan


o Cara pemakaian Yang salah
o Ketidak hatian dan salah Pakai
. Penyimpanan alat yang kurang baik'

egar peLerjoun J"ngon alat tangan memberi tingkat

kese-

Pengangkutan

sebagai berikut:
lamatanlnng tinggi perlu diikuti persyaratan

Keamanan pengangkutan sehubungan dengan bahan-bahan


yang berbahaya sangat penting. Pencegahan bahaya dilakukan bagr
tenaga kerja, masyarakat dan kerusakan harta benda termasuk alat
angkut. Untuk angkutan udara IATA mengeluarkan ketentuan
pengangkutan bagi bahan berbahaya antara lain larangan membawa
bahan eksplosif dan bahan yang mudah terbakar. Untuk angkutan laut
terdapat Norma-norma Maritim Internasional Bahan-bahan Berbahaya
(lntemational Maritim DangeroLts Goods Code). Klasifikasi bahan
berbahaya sehubungan d_engan pengangkutan adalah sebagai berikut:

oAlat-alattanganharusterbuatdaribalranberkualitasbaikdan

Bahan petedak

memenuhi keperluan pekerjaan yan g memerlukannya

dengan rnaksud
Alat-alat tangan ttanya boleh dipakai sesuai
pembuatannYa

Pegangan-pegangan kayu

dari alat-alat tallgan harus

memenuhi

tepat' halus' tanpa


p.iryoiurun iLrotit,t baik, bentuk dan ukuran
ietakan atau pinggir-pinggir yang tajant)'
oJikaterdapatkemungkinatrleclakandarihahandiudaraolehlorrcatan
loncatan api'
api. semua tangan haius bebas dari kemungkinan

246

Palu, pemotong, pembuat lubang dan alat-alat sejenis harus terbuat


dari baja yang dipilih dengan kekerasan cukup untuk menahan
perubahan bentuk berlebih oleh pukulan tetapi tidak terlalu keras
sehingga pecah,

Kepala alat tangan yang mendapat pukulan harus dibentuk kembali


segera setelah terjadi perubahan bentuk
Alat-alat tangan harus dibuat, dibentuk dan diperbaiki hanya oleh
orang yang memiliki keahlian.

Apabila tidak dipakai, alat-alat tangan yang tajam atau runcing harus
mendapat perlindungan terhadap bagian-bagian tajam atau runcingnya.

Alat-alat tangan tidak boleh tergeletak dilantai, jalanan lalulintas,


tangga atau pada tempat lain yang mungkin orang lewat atau bekerja
atau tergeletak disuatu ketinggian dengan kemungkinan jatuh dan
menimpa orang.
Lemari, penggantung atau rak yang tepat dan baik penempatannya
harus tersedia pada bangku kerja atau mesin untuk alat tangan.
Tenaga kerja harus mendapat bimbingan dan terlatih dalam
menggunakan alat tangan secara tepat.

Alat-alat perawatan dan perbaikan harus tersimpan secara baik dan


harus diperiksa secara teratur oleh orang yang berkompeten.

Tenaga yang ditugaskan untuk pekerjaan perbaikan dan perawatan


harus dilengkapi dengan kantung alat khusus atau peti alat yang dapat
dibawa atau disediakan kereta dorong untuk memindahkan alat-alat
berat yang diperlukan.
Pada perusahaan besar, lemari atau peti alat disediakan pada suatu
tempat khusus untuk perawatan dan perbaikan
Semua pekerja yang terlibat dengan perawatan dan perbaikan harus
dilengkapi dengan lampu batere yang terang dan dari jenis yang tak
mungkin menimbulkan kebakaran.

247

9. ANEKA PENDEKATAN KESELAMATAN LAIN

.
o
o
.
o
o
o
o
.
(.

Untuk mendukung terciptanya keselamatan kerja diperlukan:


perencanaan kerja yang tePat

ketata rumah tanggaan yang baik


pakaian kerja yang tePat
penggunaan alat-alat perlindungan diri
pengaturan warna
tanda-tandaperingatan
tanda-tanda petunjuk

label-label
penerangan lampu yang baik

pengaturan pertukaran udara

dan suhu serta usaha terhadap

kebisingan

Perencanaan
Perencanaan harus mempertimbangkan; lokasi, fasilitas pengolahan dan penyimpanan material serta peralatan, lantai, penerangan,

ventilasi, lift, ketel uap, bejana bertekanan, instalasi listrik, mesinmesin, fasilitas perawatan dan perbaikan sefta pencegahan terhadap
bahaya kebakaran. Prinsip yang seharusnya diikuti oleh seorang
pimpinan perusahaan dalam perencanaan keselamatan dan efisiensi
produksi antara lain:
o Usahakan pengolahan material dan bahan dengan kontak sesedikit

r
o
I

mungkin.

Menciptakan keadaan yang aman untuk berjalan dilantai, tangga,


dataran kerja, lorong dan sebagainya.
Menyediakan lahan yang cukup luas untuk mesin dan perawatan.

Ivienr.rpayakan keadaan seaman mungkin kesetiap tempat yang


menjaditujuan Peke{a.

Mengadakan keselamatan sebaik nu.rngkin

melakukan perbaikan dan perawatan.


Fasilitas transportasi harus disertai keselamatannya.

bagi pekerja

yang

248

249

.
.
o

Menyediakan jalan penyelamatart yang tepat jika terjadi kecelakaan.


Menyediakan ruangan untuk pengembangan.
Mengisolasi proses-proses berbahaya seperti penyemprotan cat, dan
proses dengan resiko besar peledakan dan kebakaran.
o Membeli mesin yang disertai perlengkapan keamanan.
Kerja sama dalam perencanaan antar bagian-bagian organisasi
tugas akan mengurangi bahaya kecelakaan.

jalan keluar/pengaman, lalulintas dan sebagainya. Disamping itu


warna dapat menunjukkan isi khusus dalam silinder gas, pipa-pipa,

Pakaian Kerja

Peringatan dan tanda-tanda juga dimaksudkan untuk berbagai


tujuan misalnya membawa suatu pesan, memberi keterangan. Label

Pemakaian warna, Peringatan, Tanda-tanda dan Label


Pemakaian wama, peringatan, tanda dan label sangat penting
bagi keselamatan kerja. Misalnya warna menandakan daerah bahaya,
peralatan penanggulangan bahaya kebakaran, perlengkapan PPPK,

dan lain-lain.

dipergunakan biasanya pada wadah berbahaya.

Pakaian kerja termasuk sepatu harus digunakan sesuai dengan


fungsinya. Pakaian tua dan usang menunjukan mutu kegiatan/kehidupan yang rendah. Apabila pakaian kerja cepat rusak oleh karena
sifat pekerjaan yang berat, udara lembab dan penuh kotoran maka
pengusaha harus menyediakan pakaian yang sesuai atau pekerja
membeli sendiri pakaian tersebut. Pakaian kerja harus berfungsi pula
sebagai alat perlindungan misalnya terhadap logam panas, bagian-

Penerangan
Pe4erangan merupakan aspek lingkungan fisik yang penting
bagi keselamatan dan kesehatan kerja. Penerangan/pencahayaan yang

tepat disesuaikan dengan pekerjaannya menghasilkan kinerja dan


produk maksimal. Penerangan yang tidak memadai akan mengundang
kecelakaan kerja. Akhirnya keselamatan kerja adalah merupakan
tanggung jawab bersama, disiplin kerja, mengikuti aturan yang benar,
ketelitian dan kehati-hatian serta bertanggung jawab penuh pada

bagian yang melayang dan lain-lain disesuaikan dengan sifat


pekerjaan.

Peralatan Perlindungan

Diri

pekerjaan merupakan modal awal dalam mencapai keselamatan kerja.

Untuk mencegah bahaya kecelakaan, selain pengaman mesin


dan peralatan lain juga diperlukan alat perlindungan diri bagi pekerja
yaitu:

o
a

a
a

masker untuk perlindungan terhadap debu


kaca mata untuk perlindungan terhadap debu dan cahaya menyengat
sepatu, untuk melindungi kaki terhadap kemungkinan terantuk benda
tajam atau barang keras

helm, untuk melindungi kepala terhadap benturar/benda jatuh


sarung tangan, melindungi telapak tangan terhadap kemungkinan
terluka/terkena benda kasar/keras
penutup telinga untuk menutup kebisingan

251

1. PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN

BAB XI

Didalam Undang-Undang Pertambangan no. 37 Tahun 1960


dan Undang-UndangFokokPenambangan no. t1 Tahun 1957 pasal3,
bahan galian di Indonesia dibagi menjadi 3 golongan sebagai berikut:
Bahan galian golongan A (bahan galian strategis) adalah bahan galian

STRATEGI PENGELOLAAN
SUMBERDAYA MINERAL

o
palam Undang'Undang Dasar 19945, pasal 33 ayat (3): bumi
dan air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
rakyat. Dari kata-kata itu tersirat bahwa Pemerintah mempunyai
wewenang untuk mengatur pengelolaan dan pemanfaatannya. Bumi
dalam hal ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sumberdaya mineral. Dalam Be-ngertian umum yang dimaksudkan sebagai

perekonomian negar-a dan dikuasai oleh negara dengan menyertakan


rakyat, misalnya emas, perak" intan, timah hitam, belera4g_, air raksa
dll. Bahan galian ini dapat diusahakan oleh Badan Usaha Milik

yang berbentuk gas (misalnya gas alam).

Sebenarnya untuk memperoleh bahan-bahan tersebut tidak


semuanya harus dengan cara digali tetapi dapat pula dengan cara
disemprot dengan air, disedot dengan pipa ataupun dipompa. Dari
kenyataan tersebut lalu diusulkan dan saat sekarang telah diterima
oleh masyarakat bidang ilmu yang bersangkutan, bahan galian disebut
pula sebagai bahan tambang. Dengan mempertimbangkan UndangUndang Pertambangan No.37 Tahun 1960, juga didalam UndangUndang Pokok Pertambangan No.ll Tahun 1967 pasal 3 pada
penggolongan bahan galian, maka sampai saat ini disebut dengan
nama bahan galian.

Negara ataupun bersarna-gama dengan, rakyat.

Bagan galian golon&n e (tidak teqrna_suk strategis dan trdak vitaty


adalah bahan galian yang dapat diusahakan oleh rakyat ataupun

badan usaha

milik rakyat,

rnisalnya batugarnping, narmer,

batusabak, pasir dll.

sumberdaya rnineral adalah bahan galian.

Secara singkat pengertian bahan galian adalah bahan yang


dijumpai didalam bai,k berupa unsur kimia, mineral, bijih ataupun
segala macam batuan. Didalam pengertian ini termasuk bahan galian
yang berbentuk padat (rnisalnya emas, perak, batu gamping, lempung
dll), berbentuk cair (misalnya minyakbumi dan yodium dll), maupun

yang mempupyai peranan penting untuk kelangsungan kehidupan


negara, misalnya; minyak bumi, gas alam, batubara, timah putih,
besi, nikel dll, Bahan galian ini sepenuhnya dikuasai oleh negara.
Bahan galian golongan B (bahan galian vital) adalah bahan galian
yang mempunyai peranan penting untuk kelangsungan kegiatan

Di dalam perkembangannya

penguasaan dan pengelolaan telah

banyak dikeluarkan aturan-aturan yang pada prinsipnya memberi


keluasan usaha masyarakat. Disamping itu apabila dicermati lebih
lanjut penggolongan bahan galian seperti yang tersebut didalam
Undang'Undang didasarkan atas;
Memiliki peranan yang tinggi dalam pertahanan, pembangunan dan

o
o
.
e

perekonomian negara.
Memiliki peranan penting bagi hajat hidup orang banyak
Banyak tidaknya bahan galian tersebut didapatkan.
Teknik pengolahan bahan galian tersebut
Penggunaan bahan galian tersebut dalam industri.

253

252

2. USAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN


Dimaksudkan dengan Usaha Pertambangan adalah semua usaha
yang dilakukan oleh seseorang atau badan hukum/badan usaha untuk

mengambil bahan galian dengan tujuan untuk dimanfaatkan lebih


lanjut bagi kepentingan manusia. Usaha pertambangan bahan galian
yang dimaksud dalam Undang-Undang meliputi kegiatan:

.
o
.
o
o

Penyelidikan Umum
Eksplorasi
Eksploitasi Pengolahan dan Pemumian
Pengangkutan
Penjualan

Di dalam Undang-Undang pokok

pertambangan usaha_usaha

tersebut dirumuskan sebagai berikut:


a) Usaha Pertambangan Penyelidikan umum ialah penyelidikan geologi
ataupun geofisika secara umum, baik didaratan, perairan ataupun dari

udara dengan maksud untuk membuat peta geologi umum dalam


usaha untuk menetapkan tanda-tanda adanya bahan galian.

b) usaha Pertambangan Eksplorasi ialah segala usaha penyelidikan


geologi pertambangan untuk menetapkan lebih teliti/lebih saksama
adanya, sifat dan letak bahan galian.

c)

Usaha Pertambangan Eksploitasi ialah usaha pertambangan dengan


maksud untuk menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya.

d) Usaha Pertambangan Pengolahan dan pemurnian ialah pengerjaan


untuk mempertinggi mutu bahan galian serta untuk memanfa_
e)

atakannya dan memperoleh uns;ur-unsur yang terdapat dalam bahan


galian tersebut.
Usaha Pertambangan Pengangkutan ialah segala usaha pemindahan

bahan galian dari daerah eksplorasi, eksploitasi atau dari tempat


pengolahan/pemumian ketempat lai n.

fl

Usaha Pertambangan Penjualan ialah segala usaha penjualan dari


hasil pengolahan ataupun pemurnian bahan galian.

3. PENGUSAHA PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN


Yang dapat menjadi pengusaha pertambangan di Indonesia
dibagi menjadi beberapa golongan. Penggolongan ini bertitik tolak
dari kedudukan masing-masing bahan galian yang bersangkutan di
dalam Undang-Undang. Untuk bahan galian golongan A hanya dapat
diusahakan oleh Badan Usaha Milik Negara, bahan galian golongan B
dapat diusahakan oleh badan Usaha Milik Negara ataupun bekerja
sama dengan swasta, sedang bahan galian golongan C dapat diusahakan oleh Badan Usaha Swasta ataupun rakyat. Khusus di Indonesia untuk bahan galian golongan C dapat dilakukan oleh perseorangan/pengusaha yang tunduk pada hukum yang berlaku di
Indonesia. Untuk jenis bahan galian ini didalam Undang-Undang yang
berlaku di Indonesia pengusahaannya telah dilimpahkan kepada
Pemerintah Daerah Tingkat I. Untuk itu maka ditiap Daerah Tingkat I
(Propinsi) telah dibentuk Dinas Pertambangan. Di dalam UndangUndang ataupun Peraturan yang diterbitkan oleh instansi terkait
disebutkan bahwa apabila pengusahanya adalah perseorangan, maka
harus warga negara Indonesia dan bertempat tinggal di wilayah
Indonesia. Rakyat setempat, anggota suatu masyarakat hukum adat
tertentu diperkenankan melakukan penambangan bahan galian
golongan manapun juga, tetapi dilaksanakan secara kecil-kecilan
dalam usaha untuk memenuhi kehidupannya, dilakukan dengan
peralatan sederhana dan dikategorikan sebagai Pertambangan Rakyat.

4. KUASA PERTAMBANGAN
Kuasa Pertambangan disingkat dengan K.P., adalah ijin untuk
melakukan kegiatan penambangan, dengan demikian K.P., adalah
dasar untuk melaksanakan Usaha Pertambangan.
Dengan memiliki K.P., maka seseorang ataupun suatu badan
hukum boleh melaksanakan Usaha Pertambangan (meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian,

pengangkutan ataupun penjualan). Kuasa Pertambangan hanya

255

254
memberikan kuasa untuk melaksanakan Usaha Pertambangan, tidak
memberikan hak pemilikan pertambangan kepada sipemegang Kuasa
Pertambangan. Berbeda dengan konsesi yang dapat memberikan hak

ini

terlalu kuat dan luas serta langsung hak pemilikan atas hasil
pertambangan yang bersangkutan.

o
5. BENTUK KUASA PERTAMBANGAN

bangan dan Energi.


Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan. Surat Keputusan
diberikan oleh Menteri Pertambangan dan Energi kepada
Perusahaan Daerah, Badan Koperasi, Perusahaan Swasta ataupun
Perseorangan. Surat Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan ini
adalah yang terpenting bagi pengusaha.
Surat ljin Pertambangan Daerah. Surat Ijin Pertambangan Daerah
ini adalah suatu bentuk Kuasa Pertambangan yang dikeluarkan oleh
Gubernur/Kepala Dati (Propinsi) kepada pengusaha/badan usaha
ataupun perseorangan untuk melakukan Usaha Pertambangan bahan
galian golongan C.

o
o
o
o

Bentuk Kuasa Pertambangan (KP) ada 4 macam yaitu:


Surat
Surat
Surat
Surat

Keputusan Penugasan Pertambangan


Keputusan Ijin Pertambangan Rakyat
Keputusan Pemberian Kuasa Pertambangan
Ijin Pertambangan Daerah.

Keterangan rinci tentang hal tersebut


berikut:

di

6. ISI KUASA PERTAMBANGAN

atas adalah sebagai

Surat Keputusan Penugasan Pertambangan. Ini adalah bentuk Kuasa


Pertambangan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertambangan dan
Energi kepada instansi pemerintah sendiri misalnya kepada BATAN,
Direktorat Geologi/Puslitbang Geologi.
Surat Keputusan ljin Pertambangan Ralqtat.Ini adalah bentuk Kuasa
Pertambangan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertambangan dan
Energi kepada rakyat setempat. Usaha pertambangan yang dilakukan
harus bersifat sederhana, skala kecil untuk memenuhi kehidupan
sehari-hari dengan luas terbatas maksimum 5 hektar. Oleh karena
sifatnya seperti tersebut dan juga keragaman dari bahan galian yang

ada disuatu daerah berbeda dengan daerah lain, maka Menteri


Pertambangan dan Energi memberikan wewenang untuk memberikan Surat Keputusan Ijin Pertambangan Rakyat kepada Gubernur/Kepala Daerah Dati I (Propinsi), dengan catatan memperhatikan
pedoman dan petunjuk yang diberikan oleh Menteri Pertambangan
dan Energi. Hal tersebut perlu diperhatikan agar tidak timbul kesalah
pahaman/salah pengertian antara rakyat yang melakukan suatu Usaha
Pertambangan Rakyat dengan pengusaha/perorangan yang memegang Kuasa Pertambangan yang dikeluarkan oleh Menteri Pertam-

Suatu Kuasa Pertambangan berisi hal-hal penting sebagai


berikut:

Letak wilayah/daerah dimana pemegang KP akan melakukan Usaha


Pertambangan disertai dengan peta dan batas-batasnya.
Luas wilayah KP:
KP Penyelidiknn Umum. untuk satu KP maksimum 5.000 ha, dan
paling banyak 5 KP yaitu 25.000 ha.

o
o

KP Eksplorasi; untuk satu KP maksimum 2.000 ha, dan paling


banyak lima KP atau 10.000 ha.
KP El<sploitasi; untuk satu KP maksimum 1.000 ha dan paling
banyak lima KP atau 5.000 ha.

Bahan galian (yang diperkirakan) akan ditambang

Dalam hal ini harus tercantum bahan galian apa yang akan
diambil/ditambang. Adakalanya disertakan pula mineral/bahan
ikutannya misalnya minyakbumi dengan bahan ikutannya gas alam,
emas dengan bahan ikutannya perak dan tembaga.
Jangka waktu berlakunya Kuasa Pertambangan:
. KP Penyelidiknn Umum, diberikan dalam jangka waktu 1 tahun
dengan kemungkinan perpanjangan 1 tahun lagi.

256

257

KP Eksplorasi, diberikan dalam jangka waktu 3 tahun dengan


kemungkinan perpanjangan 2 kali 1 tahun lagi. Apabila dalam

waktu tersebut pemegang KP berhasil menyatakan

akan

melanjutkan dengan Usaha Pertambangan Eksploitasi maka dapat


diberikan oleh Menteri Pertambangan dan Energi waktu selama 3
tahun untuk masa pembangunan sarana dan prasarana yang
diperlukan.

KP Eksploitasi, diberikan waktu maksimum 30 tahun

dengan

kemungkinan perpanjangan 2 kali 1 0 tahun lagi.


KP Pengolahan dan Pemurnian, maksimum diberikan selama 30
tahun dengan kemungkinan perpanjangan 2 kali 10tahun.
KP Pengangkutan dan Penjualan (yang terpisah dari KP Eksploitasi) diberikan selama l0 tahun dengan kemungkinan perpanjangan Zkali 5 tahun.

7. PERANAN GUBERNUR/KEPALA DAERAH DATI I.PROPINSI

8. PBMINDAHAN KUASA PERTAMBANGAN


Kuasa Pertambangan pada prinsipnya tidak boleh dipindahkan
kepada pihak lain, tidak boleh diperjualbelikan. Apabila karena hal
yang dianggap "wajar" ingin memindah KP tersebut maka pemegang

KP harus

mengajukan permohonan dan permasalahannya kepada


Menteri Pertambangan dan Energi. Apabila pertimbangan Menteri dapat mengeluarkan surat izin pemindahan kuasa pertambangan tersebut.

9. HUBUNGAN KUASA PERTAMBANGAN DENGAN HAK


TANAH PERMUKAAN (BUMI)
Pada pasal 26 dan 27 Undang-Undang Pokok Pertambangan
No. I I Tahun 1967 mengatur sebagai berikut:
o Apabila telah didapat izin Kuasa Pertambangan atas suatu daerah
atau wilayah mereka yang berhak atas tanah diwajibkan memperbolehkan pekerjaan pemegang KP atas tanah yang bersanglrutan
apabila kepadanya:
Sebelum pekerjaan dimulai diberitahukan maksud tempat bekerja
serta diperlihatkan surat Kuasa Pertambangan.

Apabila akan diberikan suatu KP Eksplorasi dan atau Eksploitasi, maka Gubernur/Kepala Daerah Dati I selalu dimintai
pendapat oleh Menteri Pertambangan dan Energi.
Kalau usaha pe(ambangan itu dianggap merugikan masyarakat
(setelah berusaha diselesaikan/dievaluasi), maka Gubernur dapat

menyatakan keberatannya. Kesempatan menyatakan keberatan itu


terbatas dalam waktu 3 bulan. Apabila tidak menjawab menyatakan
keberatannya, berarti Gubernur tidak keberatan (demi hukum). Dalam

hal ini Kanwil Dep.

Pertambangan dan Energi

memiliki

Gubernur dalam mengambil keputusan tersebut, sehingga keputusan


yang diambil akan lebih cepat dan tepat.

Apabila telah ada hak atas sebidang tanah yang bersangkutan dengan
wilayah Kuasa Pertambangan, maka kepada yang berhak diberikan
ganti rugi yang jumlahnya ditentukan bersama antara pemegang

Kuasa Pe(ambangan dengan yang mempunyai hak atas tanah

peranan

penting dalam memberikan masukan untuk bahan pertimbangan

Diberi ganti kerugian atau jaminan ganti kerugian itu terlebih


dahulu.

tersebut.

Apabila telah diberikan Kuasa Pertambangan pada sebidang tanah


yang diatasnya tidak terdapat hak tanah, maka atas sebidang tanah
tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat diberi hak tanah kecuali
dengan persetujuan Menteri Pertambangan.

Di sini terlihat bahwa penggalian bahan galian dapat didahulukan pelaksanaannya dibandingkan pengolahan tanah untuk perkebunan dan pertanian. Bila diperlukan diberi penggantian atas tanaman

259

258
yang tumbuh di atas tanah yang dimaksud.

12. MACAM BAHAN GALIAN YANG DIUSAHAKAN

10. PEMILIK BAHAN GALIAN

Pertambangan Rakyat
golongan A, B atau C.

o
o

Pemilik bahan galian dapat dikelompokkan menjadi Z yaitu:


Pada saat bahan galian belum ditambang/digali. Bahan galian dalam
posisi sepelti inr berdasarkan Undang-Undang Pokok pertambangan
no.11 Tahun 1967, pemiliknya adalah seluruh bangsa Indonesia.
Pada saat bahan galian telah ditambang/telah digali dan telah
berada dipermuknan tanaUbumi. Bahan galian dilam posisi seperti

ini berdasarkan Undang-Undang Pokok Peftambangan no. I I tahun


1967, maka pemiliknya adalah orang yang menarhbang menjadi
bahan galian tersebut dengan syarat:
Ada/memiliki Kuasa Pertambangan (yang sah)
Telah membayar iuran pasti dan iuran produksi pertambangan.

o
o

Waktu terjadinya pemilikan bahan galian diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1969, yang merupakah pelaksanaan
Undang-Undang Pokok Pertambangan
Pemegang KP yang berhasil melakukan penambangan bahan
galian menjadi pemilik bahan galian yang diperoleh apdbila telah
memenuhi kewajiban-kewajibannya yang berhubungan dengan diperolehnya bahan galian tersebut sewaktu diadakan eksplorasi maupun
sewaktu dilakukan eksploitasi.

ini boleh

mengusahakan bahan galian

13. KUASA (rZIN) PERTAMBANGAN


Untuk penertiban diperlukan juga kuasa (izin) pertambangan.
Izin Pertambangan disini nilainya sama dengan Kuasa pertambangan,
hanya karena isinya lebih sederhana maka dikeluarkan dalam bentuk
lzin Pertambangan. Pengurusannya tetap berada dalam tangan
Pemerintah Pusat yaitu Dep. Pertambangan dan Energi, tetapi karena
lebih sederhana dan untuk memudahkan pelaksanaannya maka izin
Pertambangan dilimpahkan kepada Pemerintah PropinsilGubernur
Kepala Daerah Tk.I. Propinsi sebagai pejabat yang diserahi tugas
tersebut oleh Menteri Pertambangan dan Energi.

14. YANG MELAKUKAN PENAMBANGAN


Yang melakukan penambangan adalah rakyat setempat, yaitu
yang berada didaerah penambangan tersebut. Bisa saja ada tambahan
Bangsa lndonesia dari daerah lain yang kemudian pindah ke tempat
tersebut. Dengan cara yang lazim dan diterima oleh masyarakat
setempat.

11. BATASAN PERTAMBANGAN RAKYAT


Pada prinsipnya Pertambangan Rakyat adalah usaha pertam-

bangan bahan galian oleh rakyat setempat, secara sendiri atau


bergotong-royong, diusahakan secara kecil-kecilan, dengan peralatan
sederhana, untuk mata pencarian sendiri.

15. BENTUK USAHAPERTAMBANGAN


Bentuk Usaha Pertambangan Rakyat harus sederhana, dilakukan oleh keluarga kecil dengan peralatan sederhana.

26t

260

jumlahnya besar (puluhan ton), tidak dikenakan Iuran Eksplorasi.

16. TUJUAN ADANYA PERTAMBANGAN RAKYAT


Tujuan usaha Pertambangan Rakyat

ini adalah sekedar

Besarnya,Iuran Eksplorasi sekitar 4Va dat', produksi/bahan galian


rakyat

dapat membiayai kehidupan sehari-hari beserta keluarganya.

17. PUNGUTAN NEGARA BERKAITAN DENGAN KUASA


PERTAMBANGAN
Pungutan Negara yang langsung berhubungan/berkaitan dengan:

luran Eksploitasi
Besarnya iuran

ini sekitar 4Vo dari jurnlah produksi yang

diperoleh. Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi biasanya disebut


dengan royalty, atau Iuran Produksi.
2. Pembayaran iuran
Pada dasarnya si pemegang Kuasa Pertambangan mempunyai kewa-

jiban sebagai pembayar Iuran Tetap, atau Iuran Eksplorasi dan Iuran
Eksploitasi.

1. Macam-macam Pungutan Negara


Pungutan negara yang berhubungan dengan Kuasa Pertambangan
yaitu berupa:

o
o
o

yang diambil.

Iuran Tetap
Iuran Eksplorasi
luran Eksploitasi

Iuran Tetap
luran Tetap ini dikenakan kepada pemegang KP Penyelidikan
Umum, Eksplorasi dan Eksploitasi. Iuran Tetap ini dipungut atas
dasar perhitungan luas daerah/tanah permukaan bumi dari KP
yang diperolehnya, iuran ini sering disebut dengan landrent.
Besarnya Iuran Tetap per-hektarnya untuk KP penyelidikan
Umum lebih murah dibandingkan dengan untuk KP Eksplorasi.
Demikian pula untuk KP Eksplorasi lebih murah dibandingkan
Iuran Tetap untuk KP Eksploitasi, perhektarnya.

Iuran Eksplorasi
Pada usaha Pertambangan Eksplorasi biasanya telah ditemukan
bahan galian. apabila hasil bahan galian eksplorasi tersebut dijual
oleh penemunya (misalnya untuk meringankan biaya eksplorasi)
maka terhadap bahan galian hasil produksinya tersebut dikenakan
Iuran Eksplorasi, tetapi kalau bahan galian yang diambil tersebut

hanya untuk contoh (mrsalnya untuk dianalisa) walaupun

J. Pembagian Hasil Pungutan Negara

Pada Peraturan Pemerintah tentang Pertambangan No. 32 Tahun


1969, Lembaran Negara 1969 No. 60 pasal 62 menegaskan bahwa

hasil Iuran Tetap, Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi dari suatu
usaha pertambangan diberikan

70Va kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan dan

307o kepada Pemerintah Pusat

Untuk kutdrent, Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri


menetapkan (1971):
507o untuk Direktorat IPEDA
507o untuk Dep. Pertambangan dan Energi.

dari bagian Departemen Pertambangan dan Energi ini dibagi


lagi yaitu:
307o untuk Pemerintah Pusat atas nama Dep. Pertambangan

l07o tntuk Pemerintah Daerah,


dari bagian Pemerintah Daerah ini,
707o tntukPemda Dati I, dan
307o untuk Pemda Dati II.

263

Bisri, K. dan Perman&, D., 1991. Bahan Galian Industri Fosfat,


PPTM-Bandung.

Bisri, K. dan Riyanto, A., 1990. Bahan Galian Industri Kaolin.


PPTM-Bandung.

Boegel.

DAFTAR PUSTAKA
An, P.K. dan Kay, H.S., 1993, Rahasia Batu Permala, PT.Mandira,
Semarang.

Anderson, B.W., 1982. Gem Testing, Butterworths Scientefic,


London.

Anonim, 1987. Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C


beserta Petunjuk Pelaksanaannya, Propinsi Dati I Jawa Tengah,
Semarang.

Anonim, 1995, Indonesia, Brief Notes and Summaries on Mineral


Prospecting Activities, Indonesia Mining Association Jakarta.
Anonim, 1995. Profi.l Bahan Galian Golongan C untuk Bahan Baku
Industri Semen di Kabupanten Dati II Barito Selatan,
Kalimantan Tengah.
Anonim, I975. Buku Tahunan Pertambangan Indonesia, Departemen
Pertambangan RI, Jakarta. .
Anonim, 1987. Feasibility Study Industri Kaolin di Yogyakarta, Dinas
Perindustrian dan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

Anonim, 1987. Bahan Galian Industri Granit dan Andesir-PPTMBandung.

Basari, S, 1967. Bahan-Bahan Galian di Indonesia Sebagai Bahan


B aku B an gunan. Dirjen Cipta Karya-B andung.
Bisri, K., l98l'. Bahan Galian Industri Feldspar, PPTN-Bandung.
Bisri, K. dan Kunrat, T.S., 1991. Bahan Galian Industi Gipsum,
PPTM-Bandung.

Bisri, K. dan Lukmatr, A., 1992. Bahan Galian Industri Batu dan
Pasir, PPTM-Bandung.

Bisri, K. dan Lukman, A., 1992. Bahan Galian Pasir Kuarsa PPTMBandung.

H., 1976. Mineral and Gemstones, Thames &

Hudson,

Singapore.

Boque, R.H., 1947. The Chemistry of Portland Cement. Reinhold


Publ. Corp. New York.
Cox, K.G., Bell.J.D. and Pankhurst R.J., 1981. The Interpretation of
Igneous Rocks, George Allen & Unwin London.
Hardatmo, Ruseno, dan Sariman, 1991. Pengkajian dan Pemrosesan
Bijih Mangaan Karangtunggal di Tasikmalaya. Jawa Barat.
Bul. PPTM vol. 13 No. 10, hal. 8-23. Bandung.
Harsoyo, D., Dohar, S. dan Darmoko, S., 1992. Pertambangan
Bauksit (dalam Pengantar Pertambangan) Indonesia Asos.
Pertamb. Indonesia. Jakarta, hal. 416-440.
Hatch, F.H., Wells, A.K. and Wells, M.K., 1972. Petrology of the
Igneous Rocks, Thomas Murby & Co, London.
Katili, J.A., 1985. Advancement of Geoscience in the Indonesian
Region,IAGI Bandung.
Katili, J.A., 1986. Sumberdaya Alam dan Perubahan Global, PPIMBandung.

Martadipura, T., Amir dan Zulfahmi, 1977. Batu gamping dan


Dolomit di Indonesia. Dir. Geologi. Bandung.
Mohana, A., Crispi, R and Liborio, G, . 1988, Guide to Roclcs and
Minerals, Simon & Schuster Inc. Publ. Tokyo.
Murachman, B., 1995. Keselamatan Kerja, Fak. Teknik. UGM.
Pough, F.H. 1976. Field Guide to Rocks and Minerals. Hougton

Mifflin Co. Boston.


Riyanto, A.,1991. Bahan Galian Industri Zeolit. PPTM-Bandung.
Riyanto, A.,1992. Bahan Galian Industri Belerang, PPTM-Bandung.
Riyanto, A.,1992. Bahan Galian Industri Bentonit, PPTM-Bandung.
Riyanto, A. dan Harsodo, 1990. Bahan Galian Industri Tras, PPTMBandung.
Santoso, S., 1994. Kualitas Tras Daerah Pegunungan Kulon Progo

{
264
P

Sanusi,

ropins i D IY. Laporan Penelitian STTNAS Yogyakarta.

B., 1984. Mengenal Hasil Tambang Indonesia. Bina Aksara

Jakarta.

Simatupang, M. dan Sigit, S., (Ed) 1992. Pengantar Pertambangan


Indonesia Asos. Pertamb. Indonesia Jakarta.

M dan Wahyu, B.N., 1993. Invironmental Aspects of


Mining in Indonesia. Indonesian Mining Association, Jakarta.
Skinner, 8.J., 1976. Sumber Daya Bumi. Gadjah Mada University
Simatupang,

Press, Yogyakarta.
Soetiarto, N.A., 1979. Hukum Tambang, Fakultas Hukum Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta.
Sudradjat, A., 1991. Sumberdaya Alam Dalam Upayo Pengentasan
Kemiskinan (dalam Ilustrusi Geologi), G. Tatamedia Jakarta.
Suhayat, Y.P.,1997. Potensi Sumber Daya Bahan Galian lndustri tli
Indonesia dan Permasalahan Pengembangannya. Dir. Sumber
Daya Nasional Bandung.
Sukandarrumidi, 1983. Obsidian Sebagcri Bahan Pentbucrt Perlit.
Forum Teknik UGM. Yogyakarta jilid l3 no. 2. hal. 63-69.
Sukandamrmidi, 1995. Bahan Baku lJatu lvlulia. Studi Kasus di
Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah, Lemb. Penel. UGM.
Tirtosoekotjo, S dan Afandi, A., l9ll. Pcrsir Kuursu lndonesiu,
PPTM-Bandung.

Foto l. ( arlt

pcrt:tttthlrttg.trt hrekst

cl

i:urlrrtklttt rllrt lttttr.ttl

Pivungun. Yogvakltrla.

Tsitsishvili, G.V., Kirov, G.N. and Filizova, L.D., 1992. Nuturul


Zeolit, Ellis Horwood, New York.
Tushadi, M., Sarno, H., Sutaatmadia, J., Supardan, M., Noer, M.R..
Rachmat, Sabri, Sulaeman, A.A, Yusuf, A.F. dan Zulfikar..
1990, Bahan Galian Indus,;ri, Dir. SDM Bandung.
Wicijaja, S.K., Ruseno, Harsono, M. Sinugroho, C. dan Aksa, 2.,
1976. Pembakaran Kapur Dengun Bahan Bokur Bcrtuboru, BPT

& PBH Jakarta.


Z.en, M.T. 1984. Sumber Daya dan Industri Mineral. Gadjah Mada
University Press, Yogy akarta.

Foto 2. Cara pcttantbltt-uart battt gatttl.ttltg lattg slrl;th tllttl bcrblrh.rrlr.

Foto 3. Penambangan batu gamping secara tradisional di daerah Bayat, Klaten.

Folo 5. [)cPostt keo]ttt tlt .llier,rlt \\ ()lt()!rrl

Foto 4. Daerah bekas penambangan intan di Kecamatan Permata Intan, Kalimantan

I oto 6. I)oposrt

Jaspcr dr dacrah W'onogtrt

1
o
C-

c
p
o

2.

!.

E!

bahan galian lempung di

Tasikmalaya.

Foto 11. Salah satu unit pabrik pcngolahan bentonit di

Foto 10. Deposit bentonit di daerah Lengkong, Sukabumt.

i(
o

(D

oc

r
211

-a
-=
O

.)

o
C
C]
al)
a':.i:4

'tril;

-o
6

,!a

,,Hl

I
E

(
-al)

-l

a
a=

7.
.;,

u
t

al)

-al)
C

HD6 \\i,

Ni-r

-tO
E

j,

t":
C

iu

=2
ET

-\/
n.iE

Foto l-1. l-anrbang-lrnrhang gambar bahaya: i. bahaye kcracunan. 2. blhaya ledakan,


.1. h.rhuyu kehukarun,,l. birhrvl oksidlsi.5. buhaya korosi. (r. hirhlyaradiasi l.lren.gion.

F'oto 14. Jebakan bant dalam bentuk vetn


Kulon Progo.

di

daerah Plampang, Kecamatan Kokap,

Foto L5. Lrnsa bijih mangan yang terdapat di dalam lapisan batu gamping
di daerah
Kembang, Kliripan, Kulon progo.