Anda di halaman 1dari 8

KEBIJAKAN PENANGANAN KASUS TB - HIV LAPAS / RUTAN

DI PROVINSI MALUKU UTARA


Oleh
BPK. Drs. AGUS RAWAN, SH., M.M., M.Si
Kepala Kantor Wilayah Kementerian hukum dan HAM Maluku Utara
Di sampikan pada
Team Working Group ( TWG ) TB-HIV Tingkat Provinsi Maluku Utara,
Kamis, 27 Nopember 2014

A. Latar Belakang
Salah satu program prioritas pembangunan pemerintah indonesia adalah
upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai unsur dari Mdgs
( Millenium Development Goals ) pemerintah. Berbagai upaya kesehatanpun
diarahkan untuk mendukung program ini, tidak terkecuali perang melawan
penyakit

infeksi

seperti HIV-AIDS dan penyakit menular lainnya seperti yang

tercantum dalam MDG. searah dengan MDG, juga memandu dengan visinya agar
di tahun 2015 tidak ada lagi penyebaran ( zero new infections ), kematian
( zero AIDS-related deaths ), dan stigma ( zero discrimination ) akibat HIV-AIDS.
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian hukum dan ham Ri,
berdasarkan Peraturan menteri hukum dan ham Ri nomor M.HH.01.PH.02.05
tahun

2010 menetapkan rencana aksi nasional Penanggulangan Human

Immunodeficiency

VirusAcquired

Immune

Deficiency

Syndrome

dan

Penyalahgunaan narkotika, Psikotropika dan Bahan adiktif Berbahaya Lainnya


pada unit Pelaksana teknis Pemasyarakatan tahun 2010 2014. Pembentukan
kebijakan tersebut dilatarbelakangi dengan tingginya prevalensi HIV, IMS DAN TB
di

kalangan

WBP / tahanan.

Lembaga

Pemasyarakatan

( Lapas ), rumah

tahanan negara ( rutan ), dan Balai Pemasyarakatan ( Bapas ) sebagai unit


Pelaksana teknis Pemasyarakatan melaksanakan berbagai upaya penanggulangan
HIV- AIDS dan penyalahgunaan narkotika sebagai realisasi rencana aksi nasional
2010 - 2014. dengan

pengembangan

sistem

pembinaan

dan

layanan

pemasyarkatan, upaya ini bertujuan untuk mencapai visi kesehatan dalam rangka
pemenuhan hak kesehatan dan sosial kemasyarakatan bagi Warga Binaan
Pemasyarakatan ( WBP ) dan tahanan

Padatnya penghuni dengan fasilitas akomodasi yang minim di Lembaga


Pemasyarakatan meningkatkan penularan penyakit infeksi. di beberapa Lapas,
ditemukan jumlah kunjungan klinik sebanyak 6.477 pertahun ( dari 1.000 warga
binaan terdaftar ). angka prevalensi penyakit infeksipun jauh diatas populasi umum

diluar Lapas. BerdasarkanHak asasi manusia dipahami secara umum sebagai hakhak yang melekat pada setiap insan manusia.
Konsep hak asasi manusia mengakui bahwa setiap insan manusia berhak
untuk menikmati hak-hak asasi mereka tanpa pembedaan alam bentuk apapun
seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama,politik, atau pendapat yang
berbeda, asal usul bangsa atau sosial, harta, kelahiran atau status lainnya.Hak
asasi manusia dijamin secara hukum, melindungi semua individu dan kelompok
terhadap tindakan-tindakan yang mengganggu kebebasan dasar dan martabat
manusia.
B. Pengertian HAM (UU nomor 39 tahun 1999):
Seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, Hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 angka 1 UU No.
39 Tahun 1999 tentang HAM).

PRINSIP PERLINDUNGAN HAM


1. Perlindungan minimal
2. Melekat pada manusia
3. Universal
4. Keadilan
5. Kesetaraan (persamaan hak)
6. Kebebasan
7. Non diskriminasi
8. Perlakuan khusus bagi kelompok yang memiliki kebutuhan khusus
C. 10 Hak pokok dalam UU nomor 39 tahun 1999 tentang HAM al :
1. Hak Untuk Hidup ( Pasal 9 )
- Rasa aman, damai, sejahtera lahir & batin
- Berhak atas lingkungan yang baik & sehat.

2. Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan ( Pasal 10 )


- Membentuk suatu keluarga, melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yg sah
3. Hak Mengembangkan Diri ( Pasal 11-16 )
- Mendapatkan pendidikan, berkomunikasi, berorganisasi.
4. Hak Memperoleh Keadilan ( Pasal 17-19 )
- Tidak memihak dan obyektif ( Perkara Pidana, Perdata)
5. Hak Atas Kebebasan Pribadi ( Pasal 20-27 )
- Tidak diperbudak, bebas memeluk agama, berpolitik, menyampaikan
pendapat di muka umum.
6. Hak Atas Rasa aman ( Pasal 21-35 )
- Tidak terganggu oleh siapapun, rasa tenteram & bebas dr penyiksaan
7. Hak Atas Kesejahteraan ( Pasal 36-42 )
- Berhak untuk memiliki (tidak dirampas oleh org lain)
8. Hak Turut Serta dalam Pemerintah ( Pasal 43-44 )
- Memilih & Dipilih dlm Pmerintahan, Dpt diangkt dlm Jbtan Pmerintahan.
9. Hak Wanita ( Pasal 45-51 )
- Tdk dikucilkan/dipinggirkan, mndpat perlindungan & Hak khusus pd
wanita dikarenakan fngsi reproduksinya dijamin oleh hukum.
10. Hak Anak ( Pasal 52-66 )
- Dilindungi/diasuh oleh Org tua, wali, masyarakat & Negara, beribadah
menurut agamanya, Berhak mengetahui siapa Org tuanya, Berhak
untuk dibesarkan, dipelihara,dirawat dan Berhak mendapat Org tua
angkat (Jk Org tua sdh meninggal atau tdk menjlnkan kewajibannya).
Dalam

Peraturan

Menteri

Kesehatan

nomor

21

tahun

2013

tentang

Penanggulangan HIV/AIDS menjelaskan sebagai berikut :


PRINSIP DAN STRATEGI
Pasal 4
Dalam Penanggulangan HIV dan AIDS harus menerapkan prinsip sebagai
berikut:
a. memperhatikan nilai-nilai agama, budaya, dan norma kemasyarakatan;
b. menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan keadilan
dan kesetaraan gender;
c. kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan memperkokoh ketahanan dan
kesejahteraan keluarga;
d. kegiatan terintegrasi dengan program pembangunan di tingkat nasional,
provinsi dan kabupaten/kota;

e. kegiatan dilakukan secara sistimatis dan terpadu, mulai dari peningkatan


perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan, perawatan dan
dukungan bagi yang terinfeksi HIV (ODHA) serta orang-orang terdampak
HIV dan AIDS;
f. kegiatan dilakukan oleh masyarakat dan Pemerintah berdasarkan kemitraan;
g. melibatkan peran aktif populasi kunci dan ODHA serta orang-orang yang
terdampak HIV dan AIDS; dan
h. memberikan dukungan kepada ODHA dan orang-orang yang terdampak
HIV dan AIDS agar dapat mempertahankan kehidupan sosial ekonomi
yang layak dan produktif.
Pasal 5
Strategi yang dipergunakan dalam melakukan kegiatan Penanggulangan HIV
dan AIDS meliputi :
a. meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan HIV dan
AIDS melalui kerjasama nasional, regional, dan global dalam aspek legal,
organisasi, pembiayaan, fasilitas pelayanan kesehatan dan sumber daya
manusia;
b. memprioritaskan komitmen nasional dan internasional;
c. meningkatkan advokasi, sosialisasi, dan mengembangkan kapasitas;
d. meningkatkan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang merata,
terjangkau, bermutu, dan berkeadilan serta berbasis bukti, dengan
mengutamakan pada upaya preventif dan promotif;
e. meningkatkan jangkauan pelayanan pada kelompok masyarakat berisiko
tinggi, daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan serta
bermasalah kesehatan;
f. meningkatkan pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS;
g. meningkatkan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia
yang merata dan bermutu dalam penanggulangan HIV dan AIDS;
h. meningkatkan ketersediaan, dan keterjangkauan pengobatan, pemeriksaan
penunjang HIV dan AIDS serta menjamin keamanan, kemanfaatan, dan
mutu
kesediaan
obat
dan
bahan/alat
yang
diperlukan
dalam
penanggulangan HIV dan AIDS; dan
i. meningkatkan manajemen penanggulangan HIV dan AIDS yang akuntabel,
transparan, berdayaguna dan berhasilguna.

D. KEBIJAKAN
Pelaksanaan layanan komprehensif HIV-AIDS & IMS di Lapas, rutan dan
Bapas didukung oleh kebijakan yang termaktub dalam rencana aksi nasional
Pengendalian hiV-aids dan Penyalahgunaan narkotika di unit Pelaksana teknis
Pemasyarakatan tahun 2010 - 2014, dengan menitik beratkan beberapa hal
sebagai berikut:

1. Pemenuhan sasaran pembinaan pemasyarakatan dalam bidang kesehatan dan


pola hidup sehat terbebas dari penyalahgunaan
narkotika pada tahun 2020;

dan peredaran gelap

2. Program pengendalian hiV-aids dan bahaya penyalahgunaan serta peredaran


gelap narkotika menjadi tanggung jawab semua unit dalam jajaran ditjenpas dan
uPt Pemasyarakatan dan di dalam kerangka sistem pemasyarakatan;
3. Pelaksanaan program pengendalian hiV-aids dan bahaya penyalahgunaan
serta peredaran gelap narkotika melalui koordinasi dengan berbagai pihak yang
terkait di semua tingkat: pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan Lsm;
4. Pelaksanaan program pengendalian hiV-aids dan bahaya penyalahgunaan
serta peredaran gelap narkotika melalui harmonisasi kebijakan dan teknis
pelaksanaan antara berbagai pihak terkait yakni Kemkumham, Kemkes,
Kemsos, Kemdiknas, Bnn, KPan, Perguruan tinggi, dan instansi terkait lainnya;
5. Program pengendalian hiV-aids dan bahaya penyalahgunaan serta peredaran
gelap narkotika dilaksanakan bertujuan menciptakan iklim yang kondusif melalui
pemberdayaan dan kesejajaran WBP/tahanan laki-laki dan wanita untuk
berperan aktif,

pemutusan

penyalahgunaan
pembimbingan

mata

dan peredaran
hukum,

terapi

rantai
gelap

penularan hiV,
narkotika,

pemutusan

penegakan

dan

dan rehabilitasi serta pelayanan sosial yang

berkesinambungan;
6. Pelaksanaan program pengendalian hiV-aidsdan penyalahgunaan serta
peredaran gelap narkotika diintegrasikan ke dalam tuPoKsi semua unit di
semua tingkat pada Jajaran Pemasyarakatan;
7. Program pengendalian hiV-aids dan penyalahgunaan serta peredaran gelap
narkotika merupakan upaya peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan
penularan penyakit, penegakan dan bimbingan hukum serta layanan sosial
kemasyarakatan, terapi dan rehabilitasi, serta dukungan, perawatan dan
pengobatan bagi odhadan berpedoman pada Juklak/Juknis yang sudah ada;
8. Pelaksanaan kegiatan program pengendalian ims, hiV dan aids menggunakan
standar,

pedoman

dan

petunjuk

teknis

yang

telah

ditetapkan

oleh

Kementerian Kesehatan;
9. setiap pemeriksaan untuk diagnosis hiV didahului dengan penjelasan yang benar
dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent), serta
menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan

C. KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI


dalam melaksanakan program kesehatan komprehensif di Lapas/rutan,
Kementerian hukum dan hamberkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dalam
pengembangan
Kementerian

kebijakan

hukum

dan

nasional

dan

hammemastikan

perencanaan
kebijakan

kebutuhan
kesehatan

kesehatan.
teknis

yang

diimplementasikan di Lapas/rutan sesuai dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh


Kementerian Kesehatan Ri.Kewenangan Kementerian hukum dan ham dalam koridor
peningkatan pelayanan kesehatan terkait hiV-aids& imsdi Lapas/rutan adalah:

1. membuat kebijakan nasional pengendalian hiV-aids dan penyalahgunaan


narkoba di Lapas/rutan;
2. merencanakan kebutuhan sumber daya manusia teknis kesehatan, seperti
dokter, perawat, psikolog, laboran, analis, dan lainnya melalui berkoordinasi
dengan Kementerian Kesehatan;
3. menyediakan sarana dan prasarana kesehatan di Lapas/rutan ;
4. memberikan bimbingan teknis untuk penguatan manajerial dan koordinasi dalam
pelayanan kualitas kesehatan di Lapas/rutan;
5. memastikan tersedianya anggaran kesehatan yang memadai bagi WBP/tahanan;
6. melakukan monitoring dan evaluasi manajemen pengelolaan pelayanan
kesehatan di Lapas/rutan;
7. mendukung kegiatan surveillans rutin dan monitoring/evaluasi di Lapas/rutan
yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan/atau dinas Kesehatan setempat.
D. DINAS KESEHATAN
sebagai SKPd yang memiliki kewenangan mengembangkan perencanaan
dan implementasi program kesehatan di daerah, dinas kesehatan memiliki beberapa
peran dalam pengendalian hiV-aids& ims di Lapas/rutan, yaitu :
1. mengembangkan perencanaan dan penganggaran program pengendalian
hiVaids& imsdalam aspek kesehatan yang menjadikan WBP/tahanan sebagai
target populasi layanan
2. memberikan bimbingan/asistensi teknis berkala terkait layanan program
3. menyediakan logistik program layanan pengendalian hiV-aids, seperti:
reagen, obat-obatan dan bahan habis pakai yang dibutuhkan klinik Lapas/rutan
4. membantu peningkatan kapasitas petugas kesehatan melalui pelibatan
petugas kesehatan dalam pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan dinas
Kesehatan
5. melakukan supervisi monitoring, evaluasi serta pemantauan mutu program
kesehatan secara periodik di Lapas/rutan
6. Bekerja sama dengan pihak Lapas/rutan untuk melaksanakan surveilans
berkala
Dalam UU HAM disebutkan: Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan,
atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia
atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis
kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau
penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan
dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum,
sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya. Tanpa perlindungan hukum dan HAM yang
konsisten maka kian banyak orang yang berada pada posisi rentan tertular HIV.

E. Kewajiban & Tanggungjawab Pemerintah


Pemeritah wajib & bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan &
memajukan HAM yang ada dalam Undang-Undang Nasional maupun Internasional
tentang HAM dengan implementasi yg efektif dibidang hukum, ekososbud, hankam
dll.Psl 71 UU No. 39 thn 1999

Memajukan hak asasi manusia dalam konteks HIV dan AIDS berarti ikut
mendorong orang agar menghormati hak masing-masing, dan memperlakukan orang
lain dengan cara mereka ingin diperlakukan sendiri. HAM menjamin bahwa penyuluhan
dan

akses

terhadap

layanan

kesehatan

tersedia

untuk

semua

membimbing orang untuk membantu mereka mengatasi rasa takut, ketidaktahuan dan
prasangka yang akan mendorong mereka menginjak hak orang lain
Melindungi hak asasi manusia pada penderita HIV berarti ikut mendukung dan
membela orang yang haknya terancam atau terinjak. HAM pada HIV juga ikut
memperbaiki dan mengimbangi pelanggaran apabila terjadi.
Selain itu dapat mengupayakan mengubah kondisi kemiskinan, ketidakberdayaan dan
ketergantungan yang membuat orang rentan terhadap pelanggaran hak mereka
F. Hak asasi manusia yang diakui pada tingkat internasional
Hak asasi manusia yang tercantum di bawah ini adalah pelanggaran yang umumnya
terjadi berkaitan dengan Odha atau kelompok rentan:
Kebebasan dari perlakuan yang tidak manusiawi atau penghinaan
1. Isolasi, misalnya pada narapidana yang HIV-positif
2. keterlibatan dalam uji coba klinis tanpa persetujuan berdasarakan informasi yang
lengkap
Perlindungan oleh hukum yang sama
1. tidak diberikan nasihat atau layanan hukum

Hak pribadi
1. hasil tes tidak dirahasiakan atau diumumkan tanpa persetujuan
2. nama Odha wajib dilaporkan ke instansi kesehatan yang berwenang (yang membuat
HIV penyakit yang wajib dilaporkan
Penentuan nasib sendiri
orang yang rentan terhadap atau terpengaruh oleh HIV dilarang berkumpul
Hak untuk menikah, mempunyai keluarga dan menjalin hubungan
1. Aborsi atau sterilisasi yang dipaksakan
2. Tes HIV yang diwajibkan sebelum menikah
3. Diskriminasi terhadap hubungan sesama jenis
Ketersediaan yang sama terhadap layanan kesehatan
- Kekurangan obat yang sesuai, kondom dll.
- Penolakan untuk merawat atau mengobati Odha
Pendidikan
1. tidak tersedianya informasi yang memungkinkan orang membuat pilihan

yang berdasarkan informasi lengkap


2. penolakan untuk memberikan pendidikan karena status HIV

Kesejateraan sosial dan perumahan


penolakan ketersediaan perumahan atau layanan sosial Pekerjaan
1. pemecatan dari, atau diskriminasi di tempat kerja
2. asuransi atau tunjangan lain yang terbatas atau tidak tersedia sama sekali
3. tes HIV sebagai prasyarat untuk pekerjaan.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH