Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kejang demam merupakan kejadian yang paling sering dijumpai
dalam bidang neurologi anak dan merupakan suatu keadaan emergensi
yang memerlukan penanganan yang tepat dan cepat. Kejang demam
adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rectal > 380C) biasanya terjadi pada bayi dan anak antara usia 6 bulan
sampai 5 tahun, yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial,dan
tidak terbukti adanya penyebab tertentu. Anak yang pernah mengalami
kejang tanpa demam tidak termasuk dalam batasan ini (WHO, 2009).
Kejadian kejang demam diperkirakan 2 - 4% di Amerika, Amerika
selatan dan Eropa barat. Di negara Asia dilaporkan lebih tinggi, kira - kira
80% dan mungkin mendekati 90% dari seluruh kejang demam adalah
kejang demam sederhana. Beberapa studi prospektif menunjukan bahwa
kira - kira 20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Kejang
demam sedikit lebih sering pada anak laki - laki. Di Jepang sekitar 10%
pernah mengalami kejang demam yang pertama, dan mencapai 14% di
kepulauan Marina, Guam. Sekitar dua pertiganya akan mengalami kejang
berulang. Kematian akibat kejang demam belum pernah dilaporkan
(Depkes, 2006).
Sedangkan di Indonesia penyakit ini bersifat endemik dan
merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari telaah kasus di rumah
sakit

besar

di

Indonesia

kasus

kejang

demam

menunjukkan

kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata


kesakitan 500 per 100.000 penduduk kematian 0,6 5 % (depkes, RI.
2006).
Kejang demam dapat berulang tergantung dari faktor risiko yang
dimiliki oleh seseorang anak yang mengalami kejang demam, Ada pun
1

faktor - faktor risiko kejang demam berulang adalah : usia muda< 12


bulan, riwayat keluarga kejang demam, cepatnya timbul kejang setelah
demam, temperatur yang rendah saat kejang (<38 0C) (Tumbelaka, 2005).
Faktor resiko kejang demam berulang setelah kejang demam
pertama, kira - kira 33% anak akan mengalami satu kali berulang atau
lebih, dan kira - kira 9% anak mengalami 3 kali berulang atau lebih. Makin
muda anak ketika kejang pertama kalinya, makin besar kemungkinan
berulangnya. 50% terjadi dalam 6 bulan pertama, 75% berulang pada
tahun pertama dan 90% berulang terjadi pada tahun kedua. Risiko
berulang juga berhubungan dengan cepatnya anak mendapat kejang
setelah demam timbul, dan rendahnya suhu pada saat tubuh kejang
demam (Tumbelaka, 2005).
Riwayat keluarga dengan kejang demam juga merupakan faktor
risiko. Usia dini saat kejang demam dan riwayat dalam keluarga
merupakan faktor risiko yang kuat untuk timbulnya kejang demam
berulang. Berulangnya kejang demam lebih sering bila serangan pertama
terjadi pada bayi berumur < 1 tahun, yaitu sebanyak 50% dan bila terjadi
pada usia > 1 tahun resiko berulang menjadi 28% (Tumbelaka, 2005).
Penyebab kejang pada anak bisa karena infeksi, kerusakan
jaringan otak dan faktor lain yang dapat menyebabkan gangguan pada
fungsi otak, keadaan tersebut dapat dijumpai pada kejang demam,
meningitis, hidrosefalus. Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal
yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang
terganggu akibat suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang sebagian
bergantung pada lokasi muatan yang berlebihan tersebut. (Doengoes,
M.E, 2001).
Terjadinya kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan
dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan
oleh infeksi diluar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media
akut (OMA) dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam

pertama sewaktu demam dan berlangsung singkat. Umumnya kejang


berhenti sendiri, begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak setelah beberapa detik atau menit akan terbangun
dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf (Ngastiyah, 2005).
Data kejang demam menurut Riskesdas 2007 di provinsi Jambi
sebesar 0.43% dari jumlah anak usia 5 14 tahun. Data RSUD Raden
Mattaher 3 tahun terakhir tentang kejadian kejang demam pada anak
cenderung meningkat terutama pada akhir tahun, hal ini dapat dilihat
pada tabel 1.1 berikut :
Tabel 1.1
Data penderita kejang demam yang dirawat di RSUD Raden Mattaher
Jambi periode 2012- 2014 berdasar umur penderita

Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah

Tahun 2012
Tahun 2013
Tahun 2014
Umur (th)
Umur (th)
Umur (th)
0- 1 1-4 5-14 0- 1 1-4
5-14 0- 1 1- 4 5-14
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
3
1
0
1
0
1
4
0
7
1
0
0
4
1
0
0
0
0
4
0
0
2
2
1
0
0
2
6
1
0
6
0
0
1
1
1
2
1
0
3
6
0
0
0
4
7
2
5
7
2
0
0
0
0
3
2
3
0
2
0
0
0
0
1
2
1
0
1
1
0
0
3
0
11
3
11
0
0
0
0
0
4
2
0
4
1
0
0
0
3
12
2
3
12
2
3
6
1
20
43
24
15
51
17

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penderita kejang


demam paling banyak diderita oleh anak usia 1 4 tahun. Kejang demam
yang terjadi pada anak diperkirakan lebih besar dari data yang ada, hal

tersebut dikarenakan tidak dirawat ke rumah sakit. Kejang demam yang


tidak dirawat di rumah sakit umumnya tidak parah atau tidak sampai
menunjukkan gejala hipertermia dan demam yang timbul dapat ditangani
dengan obat-obat yang dijual bebas.
Berdasarkan data yang diperoleh penulis di ruang anak RSUD
Raden Mattaher Jambi dengan pasien anak menderita kejang demam
yaitu An.D dari hasil pengkajian ditemukan badan terasa panas dengan
tanda-tanda vital seperti suhu badan 38,5 OC, denyut nadi 90 kali/menit,
pernafasan 24 kali /menit, tekanan darah120/70 mmHg. Pasien
merupakan rujukan RS Bulian, orang tua pasien mengatakan anaknya
kejang 3 kali disertai demam dan sudah dirawat 2 hari di RS Bulian.
maka diagnosa keperawatan yang tepat dengan keadaan umum pasien
yaitu Potensial kejang berulang yang berhubungan dengan hiptermi. Dari
uraian di atas maka penulis menyusun penelitian ini dengan judul
Asuhan Keperawatan pada An.D dengan masalah potensial kejang
berulang pasien kejang demam di ruang perawatan anak RSUD Raden
Mattaher Jambi tahun 2015.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan
masalah penelitian adalah : Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada An.D
dengan masalah Potensial kejang berulang pasien kejang demam di
Ruang Perawatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher
Jambi Tahun 2015.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan Asuhan Keperawatan Pada An.D dengan
masalah Potensial kejang berulang pasien kejang demam di Ruang
Perawatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi
Tahun 2015.
2. Tujuan Khusus

a.

Mampu melakukan pengkajian pada An.D

dengan masalah

b.

Potensial kejang berulang pasien kejang demam.


Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada An.D dengan

c.

masalah Potensial kejang berulang pasien kejang demam.


Mampu merumuskan intervensi pada pada An.D dengan masalah

d.

Potensial kejang berulang pasien kejang demam.


Mampu melakukan tindakan keperawatan pada An.D

e.

masalah Potensial kejang berulang pasien kejang demam.


Mampu melaksanakan evaluasi terhadap tindakan keperawatan

dengan

yang telah dilakukan pada An.D dengan masalah Potensial kejang


berulang pasien kejang demam

D. Manfaat Penelitian
1.

Bagi Penulis
Dapat mengaplikasikan secara langsung teori yang di dapat dari
perkuliahan dalam menerapkan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan pasien anak dengan Kejang Demam.

2.

Bagi Institusi Pendidikan


Hasil studi kasus ini dapat menambah informasi dan menjadi
bahan bacaan serta masukan bagi mahasiswi Akademi Keperawatan
Yayasan Telanai Bhakti Jambi khususnya pada asuhan keperawatan
dengan Kejang Demam, sehingga dapat di jadikan sebagai acuan dan
perbandingan untuk pembuatan studi kasus selanjutnya.

3.

Bagi Lahan Praktik


Sebagai bahan masukan untuk membuat suatu kebijakan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan pasien dengan kejang demam
terutama

pada

anak-anak

sesuai

dengan

kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Konsep Termoregulasi
1. Definisi

standar

pelayanan

Termoregulasi adalah suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia


mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas,
sehingga

panas

dalam

tubuh

dipertahankan

secara

konstan.

Termoregulasi manusia berpusat pada hipotalamus anterior.

Suhu

atau termoregulasi merupakan suatu perbedaan antara jumlah panas


yang dihasilkan oleh tubuh dengan jumlah panas yang hilang ke
lingkungan eksternal atau substansi panas dingin atau permukaan
kulit tubuh. Hipertermi atau peningkatan suhu tubuh merupakan
keadaan dimana seseorang individu mengalami kenaikan suhu tubuh.
Adapun lokasi untuk pengukuran temperatur tubuh adalah, ketiak
(Aksila), anus (Rektal) dan dibawah lidah (liblingual) (Perry dan Potter,
2005).
Termoregulasi diartikan sebagai regulasi panas. Termoregulasi
membutuhkan fungsi normal dari proses produksi panas. Panas
diproduksi di dalam tubuh melalui metabolisme yang merupakan reaksi
kimia pada semua sel tubuh. Produksi panas adalah produk tambahan
metabolisme

yang

utama.

Bila

metabolisme

meningkat, panas

tamabahan akan diproduksi. Ketika metabolisme menurun, panas yang


diproduksi lebih sedikit (Guyton, 2006).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa termoregulasi
merupakan keseimbangan panas yang diperlukan oleh tubuh yang
dihasilkan oleh proses reaksi kimia pada sel tubuh yang akan
dipertahankan secara konstan.
2.

Thermogenesis /Produksi Panas


Menurut Ngastiyah (2005) bahwa peningkatkan produksi panas
dipengaruhi oleh :
a. Metabolisme Rate, adalah jumlah energi yang digunakan tubuh
selama istirahat mutlak dan keadaan sadar. Pada bayi baru lahir,
gerakan tubuh, menggigil merupakan mekanisme penting untuk
memproduksi panas. Gerakan menggigil terjadi ketika reseptor kulit
menurun pada suhu lingkungan yang dingin, dan kondisi tersebut
akan diteruskan kesusunan saraf pusat yang akan menstimuli
sistem saraf simpatis untuk menggunakan cadangan lemak coklat,

yang merupakan sumber panas yang utama untuk mengatasi stres


dingin.
b. Aktifitas otot, antara lain menggigil adalah bentuk dari aktifitas otot
yang disebabkan karena suhu yang dingin. Produksi panas terjadi
melalui peningkatan metabolisme rate dan aktifitas otot. Jika bayi
tidak menggigil berarti metabolisme rate pada bayi sudah cukup.
c. Thermogenesis

Kimiawi,

disebabkan

karena

pelepasan

norephineprin dan ephineprin oleh rangsang saraf simpatis dan


Aliran Darah ke Kulit, dimana kecepatan aliran darah yang tinggi
menyebabkan konduksi panas yang disalurkan dari inti tubuh ke
kulit sangat efisien. Efek aliran darah kulit pada konduksi panas dari
inti tubuh permukaan kulit menggambarkan peningkatan konduksi
panas hampir delapan kali lipat. Oleh karena itu Kulit merupakan
sistem pengatur radiator panas yang efektif , dan aliran darah ke
kulit adalah mekanisme penyebaran panas yang paling efektif dari
inti tubuh ke kulit. Dengan meletakan bayi telungkup didada ibu
akan terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi sehingga bayi akan
memperoleh kehangatan karena ibu merupakan sumber panas yang
baik bagi bayi
3.

Gangguan Termoregulasi
Gangguan

termoregulasi

adalah

terganggunya

fungsi

pengaturan suhu tubuh yang akan mengakibatkan peningkatan atau


penurunan suhu tubuh. Manifestasi dari gangguan suhu tubuh dapat
berupa :
a. Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan
ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas
atau menurunkan produksi panas. Hal ini merupakan respon tubuh
terhadap lingkungan yang panas dengan cara meningkatkan
pengeluaran panas melalui peningkatan produksi keringat. Terjadi
peningkatan kecepatan metabolik dapat menyebabkan peningkatan
suhu tubuh, dan sebaliknya (Peningkatan suhu tubuh dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan kecepatan metabolik).

b. Demam adalah keadaan ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu


tubuh normal. Demam adalah istilah umum, dan beberapa istilah
lain yang sering digunakan adalah pireksia atau febris. Apabila suhu
tubuh sangat tinggi (mencapai sekitar 40C), demam disebut
hipertermi. Demam dapat disebabkan gangguan otak atau akibat
bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang
dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan
suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen
ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama
toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik atau pirogen
yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan
demam selama keadaan sakit.
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi
tergantung pada fase demam, meliputi fase awal, proses, dan fase
pemulihan (defesvescence). Tanda-tanda ini muncul sebagai hasil
perubahan pada titik tetap dalam mekanisme pengaturan suhu
tubuh.
c. Hipotermia adalah pengeluaran panas akibat paparan terus
menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk
memproduksi panas. Hal ini merupakan respon tubuh terhadap
lingkungan yang dingin dengan adanya mekanisme yang bertujuan
mencegah terjadinya kehilangan panas dan meningkatkan produksi
panas dengan cara kontraksi otot, vasikonstriksi perifer, peningkatan
frekuensi jantung, dilatasi pembuluh darah di bagian otot, menggigil
dan

vasodilatasi

dan

pengeluaran

hormone

tiroksin

dan

kortikosteroid
Hipotermia berat dapat menyebabkan terjadinya disritmia
jantung yang mengancam kehidupan dan harus dirujuk kepada
dokter. Hipotermia (suhu inti < 350C) pada periode pasca operasi
memiliki beberapa efek negatif yang ditemukan (penurunan fungsi
miokardial

dan

serebral,

asidosis

respiratorik,

gangguan

hematologis, dan gangguan imunologis, dan dieresis dingin) tanpa


adanya penghangatan kembali yang aman dan efektif. Hipotermia

juga

dapat

menyebabkan

penurunan

tekanan

darah

dan

berkontribusi pada terjadinya syok (Perry dan Potter, 2005).


B. Tinjauan Konsep Dasar Penyakit Kejang Demam
1. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 c) yang disebabkan oleh suatu
proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang
demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di
bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan
hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus
(Sylvia A. Price, at.al 2009).
Kejang Demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang
yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang
disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan
kelainan neurologis yang paling sening dijumpai pada anak, Lerutam
pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% dari
anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang
demam.

Pada

percobaan

binatang,

suhu

yang

tinggi

dapat

menyebabkan terjadinya bangkitan kejang (Ngastiah 2005).


2. Etiologi
Kejang Demam penyebabnya tidak diketahui, biasanya sering
dikaitkan dengan beberapa penyakit infeksi pada anak seperti ISPA
(infeksi saluran pernafasan atas), infeksi saluran kemih dan roseola
(Muscari, 2005).
3. Patofisiologi
Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara
sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan
listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini dapat bersifat parsial atau
fokal, berasal dari daerah spesifik kortek serebri atau umum,
melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi klinis bervariasi,
bergantung pada bagian otak yang terkena. Bila suatu bagian kecil
area otak terkena, kejang fokal dapat terjadi, namun jika gangguan

10

listrik berlanjut, kejang dapat menjadi bersifat umum. Penyebab


kejang mencakup faktor-faktor perinatal, anoksia, malformasi otak
kongenital, faktor genetik, penyakit infeksi (ensefalitis meningitis),
penyakit demam, gangguan metabolik, trauma, neoplasma, toksin,
gangguan sirkulasi dan penyakit degeneraif sistem syaraf. Kejang
disebut idiopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya (Betz,
2009).
4. Prognosis
Risiko cacad akibat komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap
normal pada pasien yang sebelumnya normal. Ada penelitian
retrospektif yang melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil
kasus, biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang
berulang. Kematian akibat kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Risiko berulang ; faktor risiko berulangnya kejang demam :
a. Riwayat kejang demam dalam keluarga
b. Usia < 12 bulan
c. Suhu rendah saat kejang demam
d. Cepatnya kejang setelah demam
Jika semua faktor risiko ada, risiko berulang 80%; jika tidak ada
hanya 10-15%. Sebagian besar berulang pada tahun pertama (setelah
kejang).
Risiko epilepsi meliputi faktor faktor seperti dibawah ini jika
ada :
a. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum
kejang demam pertama.
b. Kejang demam kompleks
c. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.
Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko epilepsi sampai
4% 6%; kombinasi faktor risiko tersebut meningkatkan risiko epilepsi
menjadi 10% 49%. Risiko epilepsi tidak dapat dicegah dengan
pemberian obat rumat/profilaksis pada kejang demam (Pusponegoro,
2008).

11

5. Klasifikasi Kejang Demam


Klasifikasi kejang demam menurut Betz (2009) adalah :
a. Kejang Parsial (Fokal, Lokal)
1) Kejang parsial sederhana yaitu kesadaran tidak terganggu,
dapat meliputi satu atau kombinasi dari hal-hal berikut :
a) Tanda motorik, kedutan pada wajah, tangan, atau suatu
bagian tubuh; biasanya gerakan yang sama terjadi pada
setiap kejang. dan dapat menjadi rnerata
b) Tanda dan gejala otomatis, muntah, berkeringat. wajah
merah, dilatasi pupil
c) Gejala-gejala

somatosensori

atau

sensori

khusus,

mendengar sara musik, merasa jatuh dalam suatu ruang,


parestesia
d) Gejala-gejala fisik seperti siaga) ketakutan, penglihatan
panoramik
2) Kejang

parsial

kompleks meliputi

gangguan kesadaran,

walaupun kejang dapat dimulai sebagai suatu kejang parsial


sederhana.

Dapat melibatkan gerakan otomatisme atau

otomatis, bibir mengecap, mengunyah, mengorek berulang.


atau gerakan tangan lainnya.

Dapat tanpa otomatisme,

tatapan terpaku.
b. Kejang Menyeluruh (Konvulsif atau Nonkonvulsif)
1) Kejang lena
a) Gangguan kesadaran dan keresponsifan
b) Dicirikan dengan tatapan terpaku yang biasanya berakhir
kurang dari 15 detik.
c) Awitan dan akhir yang mendadak, setelah anak sadar dan
mempunyai perhatian penuh
d) Biasanya dimulai antara usia 4 dan 14 tahun dan sering
hilang pada usia 18 tahun
2) Kejang mioklonik
a) Hentakan otot atau kelompok otot yang mendadak dan
involunter

12

b) Sering terlihat pada orang sehat saat mulai tidur, tetapi bila
patologis melibatkan hentakan leher. bahu, lengan atas,
dan tungkai secara sinkron
c) Biasanya

berakhir

kurang

dari

detik

dan

terjadi

berkelompok
d)

Biasanya tidak ada atau hanya terjadi perubahan tingkat


kesadaran singkat.

3) Kejang tonik-klonik (grand mal)


a) Dimulai dengan kehilangan kesadaran dan bagian tonik,
kaku otot ekstremitas, tubuh, dan wajah secara keseluruhan
yang berakhir kurang dari satu menit sering didahului oleh
suatu aura
b) Kemungkinan kehilangan kendali kandung kemih dan usus
c) Tidak ada respirasi dan sianosis
d) Bagian tonik yang diikuti dengan gerakan klonik ekstremitas
atas dan bawah
e) Letargi, konfusi, dan tidur pada fase posticta
4) Kejang atonik
a) Kehilangan tonus tiba-tiba yang dapat mengakibatkan
turunnya kelopak mata, kepala terkulai. atau orang tersebut
jatuh ke tanah
b) Singkat dan terjadi tanpa peringatan
5) Status Eplleptikus
a) Biasanya kejang tonik-klonik, rnenyeluruh yang berulang
b) Kesadaran antara kejang tidak didapat
c) Potensial depresi pernapasan, hipotensi, dan hipoksia
d) Memerlukan penanganan medis darurat segera.
Menurut Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neurologi Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI) tahun 2006 kejang demam diklasifikasikan
menjadi 2 golongan, yaitu:

13
a.

Kejang demam sederhana dan Kejang demam kompleks. Kejang


demam sederhana berlangsung kurang dari 15 menit (singkat),
bersifat umum dan hanya terjadi sekali dalam 24 jam. Sedangkan

b.

Kejang demam kompleks berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat


fokal dan serangan kejang yang terjadi lebih dari 1 kali dalam 24
jam. Disini anak sebelumnya mempunyai kelainan neurologi atau
riwayat kejang demam atau kejang tanpa demam dalam keluarga.

6.

Komplikasi
Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama
biasanya terjadi hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang
fokal yang terjadi. Mula mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi
setelah 2 minggu timbul spastisitas.
Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan
kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy.
Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan
kejang demam :
a. Pneumonia aspirasi
b. Asfiksia
c. Retardasi mental (Hidayat, 2008).

7.

Penanganan Awal Kejang Demam


Dalam mengatasi kejang demam pada anak, penolong harus
tenang, usahakan supaya tidak panik, perlu menjaga pikiran tetap
jernih. Waktu kejang progresif biasanya sangat singkat, jangan
mencoba mengekang gerakan anak, tetapi singkirkan benda tajam
apapun dari tempat sekelilingnya untuk menghindari kemungkinan
cedera

sementara

kejang

berlangsung.

Jangan

mencoba

menempatkan apapun di dalam mulutnya. Setelah gerakan kejang


yang terburuk berlalu, putar anak dengan hati-hati agar berbaring
pada sisi tubuhnya, hal ini untuk mencegah sumbatan saluran
pernafasan (Hidayat, 2008).
Segera setelah kejang berhenti, rawatlah anak dengan penuh
kasih sayang dan buat ia senyaman mungkin, karena walaupun ia

14

tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya beberapa menit yang
lalu. Segera setelah anak tenang ukur dan catat suhu tubuhnya.
Tindakan selanjutnya adalah mendinginkanya, longgarkan pakaianya,
buka jendela dan berikan minuman dingin (Hidayat, 2008).
Jika demam tidak telalu tinggi serta anak tidak merasa
nyaman, maka dapat dilakukan dengan memberi usapan air dingin
pada tubuhnya. Dalam penatalaksanaan medis untuk mengatasi
kejang dapat dilakukan pemberian obat anti kejang seperti diazepam,
bila kejang berulang ulang dapat diberikan ulang dengan dosis 0,30,5 mg/KgBB. Setelah itu berikan obat penurun panas antipieretik
seperti parasetamol dengan dosis 10 mg/kgBB dan lakukan
penanganan untuk mencegah kejang seperti membebaskan jalan
nafas dengan memberikan oksigen dan menjaga keseimbangan
cairan dan elektrolit. Selanjutnya untuk mencegah kejang demam
dengan komplikasinya dapat diberikan fenobarbital serta fenitoin
(Hidayat, 2008).
Menurut

Pusponegoro

(2008)

edukasi

pada

orangtua

menghadapi kejang karena merupakan peristiwa yang menakutkan.


Kecemasan ini dapat dikurangi dengan antara lain:
a. Meyakinkan

bahwa

kejang

demam

umumnya

mempunyai

prognosis baik
b. Memberitahukan cara penanganan kejang
c. Memberi informasi tentang risiko kejang berulang
d. Pemberian obat pencegahan memang efektif, tetapi harus diingat
risiko efek samping obat
Jika anak kejang, lakukan hal berikut :
a. Tetap tenang dan tidak panik
b. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama sekitar leher
c. Jika tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau hidung.
Walaupun ada risiko lidah tergigit, jangan masukkan apapun ke
dalam mulut.
d. Ukur suhu tubuh, catat lama dan bentuk/sifat kejang

15

e. Tetap bersama anak selama kejang


f. Berikan diazepam per rektal. Jangan diberikan jika kejang telah
berhenti.
g. Bawa ke dokter atau rumahsakit jika kejang berlangsung 5 menit.
8.

Penanganan Demam
Demam infeksi adalah demam yang disebabkan oleh masuknya
patogen, misanya kuman, bakteri, viral atau virus atau binatang kecil
lainya ke dalam tubuh. Imunisasi juga termasuk pada kategori ini,
yang dapat membuat atau bertujuan anak balita menjadi kebal
terhadap penyakit tertentu. Penyakit yang dapt menyebabkan infeksi
dan akhirnya mengakibatkan demam adalah demam berdarah
(Widjaja, 2009).
Penanganan pertama Demam adalah memberikan kompres
pada bagian tubuh yang memiliki pembuluh darah besar seperti leher
dan ketiak. Kompres hangat diberikan agar pembuluh darah tepi
melebar sehingga mudah mengeluarkan panas, saat mandi, gunakan
air hangat, kenakan pakaian tipis dan longgar, cukup waktu untuk
beristirahat, memberikan minum yang cukup guna mencegah
dehidrasi, memberikan obat penurun panas (Febri, 2010).

C. Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam
menurut Greenberg (2002) adalah riwayat keperawatan antara lain
adanya riwayat kejang demam pada pasien dan keluarga, adanya
riwayat infeksi seperti saluran pernafasan atis, Otitis Media Akut
(OMA), pneumonia, gastroenteriks, Faringiks, brontrope, umoria,
morbilivarisela dan campak, adanya riwayat peningkatan suhu tubuh,
adanya riwayat trauma kepala.
Pengkajian fisik meliputi adanya peningkatan suhu tubuh, nadi,
dan pernafasan, kulit teraba hangat, ditemukan adanya anoreksia,

16

mual, muntah dan penurunan berat badan, adanya kelemahan dan


keletihan, adanya kejang, pada pemeriksaan laboratorium darah
ditemukan adanya peningkatan kalium, jumlah cairan cerebrospiral
meningkat dan berwarna kuning.
Riwayat

Psikososial

atau

Perkembangan

yaitu

tingkat

perkembangan anak terganggu, adanya kekerasan penggunaan obat


obatan seperti obat penurun panas, pengalaman tentang perawatan
sesudah/ sebelum mengenai anaknya pada waktu sakit.
Pengetahuan keluarga yang kurang, keluarga kurang mengetahui
tanda dan gejala kejang demam, ketidakmampuan keluarga dalam
mengontrol suhu tubuh

dan keterbatasan menerima keadaan

penyakitnya
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Santosa (2001), diagnosa yang mungkin muncul pada
pasien dengan kejang demam
a. Risiko trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi
otot/kejang
b. Potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi.
c. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi
d. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbatasan
informasi
3. Rencana Asuhan Keperawatan
a. Risiko trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi
otot/kejang
Tujuan : tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
Kriteria hasil :
1) Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan
2) Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang
3) Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi
kejang
Rencana tindakan :

17

1) Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat


tidur yang rendah.
Rasional : meminimalkan injuri saat kejang
2) Tinggalah bersama klien selama fase kejang.
Rasional : meningkatkan keamanan klien
3) Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.
Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.
4) Letakkan klien di tempat yang lembut.
Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada
ekstimitas ketika kontrol otot volunter berkurang.
5) Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan frekuensi kejang.
Rasional : membantu menurunkan lokasi area cerebral yang
terganggu
6) Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang.
Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal
b.

Potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi


Tujuan : tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan
hiperthermi.
Kriteria hasil :
1) Tidak terjadi serangan kejang ulang.
2) Suhu 36 37,5 C
3) Nadi 100 110 x/menit
4) 24 28 x/menit
5) Kesadaran composmentis
Rencana Tindakan :

1) Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap


keringat.
Rasional : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang
ketat dan tidak menyerap keringat.
2) Berikan kompres hangat.
Rasional : perpindahan panas secara konduksi
3) Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll).
Rasional : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.

18

4) Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam.


Rasional: Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang
akan dilakukan.
5) Batasi aktivitas selama anak panas.
Rasional : aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan
meningkatkan panas.
6) Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.
Rasional : menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan
sebagai propilaksis
c.

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi


Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Suhu

tubuh

36

37,5C,

100

110

x/menit,

RR : 24 28 x/menit,
2) Kesadaran composmentis.
Rencana Tindakan :
1) Kaji faktor faktor terjadinya hiperthermi.
Rasional : mengetahui penyebab terjadinya hiperthermi karena
penambahan pakaian/selimut dapat menghambat penurunan
suhu tubuh.
2) Observasi tanda tanda vital tiap 4 jam sekali
Rasional : Pemantauan

tanda

vital

yang

teratur

dapat

menentukan perkembangan keperawatan yang selanjutnya.


3) Pertahankan suhu tubuh normal
Rasional : suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas,
suhu lingkungan, kelembaban tinggiakan mempengaruhi panas
atau dinginnya tubuh.
4) Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada
kepala / ketiak .
Rasional : proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu
bahan perantara.
5) Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain

19

katun
Rasional : proses

hilangnya

panas

akan

terhalangi

oleh

pakaian tebal dan tidak dapat menyerap keringat.


6) Atur sirkulasi udara ruangan.
Rasional : Penyediaan udara bersih.
7) Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum
Rasional : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan
tubuh meningkat.
8) Batasi aktivitas fisik
Rasional

aktivitas

meningkatkan

metabolismedan

meningkatkan panas.
d.

Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbatasan


informasi
Tujuan : Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit
anaknya.
Kriteria hasil

1) Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.


2) Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.
3) keluarga mentaati setiap proses keperawatan.
Rencana Tindakan :
1) Kaji tingkat pengetahuan keluarga
Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki
keluarga dan kebenaran informasi yang didapat.
2) Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang
demam
Rasional :

penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat

membantu menambah wawasan keluarga


3) Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.
Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan
perawatan
4) Berikan pendidikan kesehatan tentang cara menolong anak
kejang dan mencegah kejang demam, antara lain : jangan panik
saat kejang, baringkan anak ditempat rata dan lembut, kepala

20

dimiringkan, pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain


yang basah, lalu dimasukkan ke mulut, detelah kejang berhenti
dan pasien sadar segera minumkan obat tunggu sampai
keadaan tenang, jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres
dingin dan beri banyak minum, segera bawa ke rumah sakit bila
kejang lama.
Rasional : sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga
agar mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan.
5) Berikan pendidikan kesehatan agar selalu sedia obat penurun
panas, bila anak panas.
Rasional : mencegah

peningkatan

suhu

lebih

tinggi

dan

serangan kejang ulang.


6) Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi
dengan menghindari orang atau teman yang menderita penyakit
menular sehingga tidak mencetuskan kenaikan suhu.
Rasional : sebagai upaya preventif serangan ulang
7) Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi
agar memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya
pernah menderita kejang demam.
Rasional : imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang
dapat menyebabkan kejang demam
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan
kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan
kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien
(Santosa. NI, 2001 )
5. Evaluasi
Tahap

evaluasi

dalam

proses

keperawatan

menyangkut

pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan

21

apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila


perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi
dan analisa masalah selanjutnya (Santosa.NI, 2001).

BAB III
STUDI KASUS

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada hari selasa tanggal 4 Agustus 2015 jam
10.00 WIB di ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi dengan metode
observasi, wawancara, pemeriksaan fisik dan dan catatan medik pasien.
Menanyakan identitas pasien/keluarga, yang sedang dirawat yang
meliputi, nama pasien An. D, umur 8 tahun, jenis kelamin perempuan.
Nama ayah adalahTn. Dn, usia 55 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan
PNS, alamat Ma. Bulian. Nomor registrasi

pasien 805013 masuk

rumah sakit pada tanggal 29 Juli 2015 jam 09.00 WIB


Alasan masuk rumah sakit dikarenakan pasien rujukan RS Bulian,
orang tua pasien mengatakan anaknya kejang 3 kali disertai demam dan
sudah dirawat 2 hari di RS Bulian.Keadaan umum pasien dimana
kesadaran pasien Composmentis, dengan tanda-tanda vital seperti suhu
badan 38,5OC, denyut nadi 90 kali/menit, pernafasan 24 kali /menit,
tekanan darah120/70 mmHg, tinggi badan 100 cm dan berat badan 24
kg, sebelum sakit ibu klien mengatakan berat badan 25 kg.
Pada

riwayat

kehamilan

ibu

mengatakan

tidak

pernah

antenatalcare, selama kehamilan ibu tidak menjalani diet, tidak


mengkonsumsi obat, tidak ada penyakit infeksi dan tidak ada keluhan
lainya. Ibu mengatakan bersalin pada usia kehamilan 43 minggu atau 11
bulan, berat lahir bayinya 2800 gram dalam keadaan normal dan bayi
segera menangis.
Riwayat penyakit terdahulu ditanyakan kepada ibu pasien, bahwa
anaknya pertama kali dirawat di rumah sakit berusia 4 tahun karena

22

menderita penyakit hisprung, dan kejang berulang. Pasien adalah anak


ke lima dari lima bersaudara, dimana hanya pasien sendiri yang pernah
mengalami kejang demam. Keempat kakaknya tidak pernah mengalami
kejang demam. Seingat ibu pasien hanya pasien sendiri dari lingkungan
keluarga yang mengalami kejang demam.
Keadaan fisik mulai dari kepala pasien dengan bentuk simetris
persebaran pertumbuhan rambut merata, rambut sedikit rontok, tidak ada
nyeri tekan. Keadaan mata dengan bentuk simetris, konjungtiva merah
muda, sclera agak keruh, refleks pupil baik, nyeri tekan tidak ada. Hidung
berbentuk simetris, cukup bersih, tidak ada secret, tidak terdapat nafas
cuping hidung, nyeri tekan maupun luka, penciuman baik. Telinga
berbentuk simetris, pendengaran baik, bersih dan tidak ada nyeri tekan.
Keadaan mulut yang simetris, mukosa bibir kering, tidak terdapat karies,
gigi lengkap, lidah bersih. leher tidak ada Pembesaran kelenjar tiroid dan
bendungan vena jugularis. Thorax berbentuk dada simetris, suara nafas
normal, tidak ada ronchi dan wheezing, gerakan dada bebas, tidak ada
nyeri dada. Abdomen dengan tidak terdapat luka maupun bekas luka,
tidak ada nyeri tekan,tidak ada asites, dan hematomegali, peristaltic usus
10x/menit. Genetalia memiliki struktur normal dan tidak terdapat
peradangan dengan anus normal tidak terdapat lecet. Ekstremitas tidak
ada cyanosis dan edema, namun terdapat phlebitis pada tangan akibat
pemasangan infus. Kuku tampak bersih, clubbingfinger (-).
Pola kebiasaan pasien seperti makan dan minum yang dikatakan
ibu pasien bahwa sebelum sakit pasien biasa makan 3 kali sehari habis
dengan 1 porsi dengan menu nasi, lauk-pauk, saur dan buah-buahan,
sedangkan pada saat pengkajian pasien tidak makan. Ibu pasien juga
mengatakan sebelum sakit ibu pasien mengatakan biasa minum 5-6
gelas/ hari ( 1200 -1600 cc ),

pada saat pengkajian pasien hanya

minum 1 gelas air putih.


Pola eliminasi seperti BAB, sebelum sakit ibu pasien mengatakan
anaknya biasa BAB 1x seminggu dengan konsistensi padat, warna
kuning kehitaman, dan bau khas feses, jika lama tidak BAB ibu pasien
memberikan obat pelancar BAB. Sedangkan saat pengkajian pasien

23

BAB (1 kali) karena mendaptkan tindakan klisma. Pola BAK, sebelum


sakit ibu pasien mengatakan anaknya BAK 4-5 kali sehari

( 500-700

cc/hari) warna kuning bening, bau pesing khas urine.


Aktifitas pasien dikatakan ibu pasien sebelum sakit tidak mengalami
kesulitan dalam bergerak dan beraktivitas, namun saat pengkajian
pasien mengalami keterbatasan dalam bergerak dan tidak leluasa dalam
melakukan aktifitasnya. Seluruh kegiatan pasien seperti mandi, makan,
dan minum dibantu oleh keluarga dan perawat
Pola istirahat dan tidur, dimana ibu pasien mengatakan bahwa
sebelum sakit pasien bisa tidur pukul 21.00 wib dan bangun pagi pukul
06.00 wita (tidur + 9 jam / hari). Pasien juga biasa tidur siang + 2-3 jam.
Saat pengkajian ibu pasien mengatakan tidak bisa tidur dengan nyenyak
di malam hari.
Kebersihan

diri

pasien

sebelum

sakit,

dimana

ibu

pasien

mengatakan pasien mandi dan menggosok gigi 2 kali sehari, mencuci


rambut 3 kali seminggu, mengganti pakaian 1x sehari. Saat pengkajian
pasien hanya diseka oleh keluarga. Pengaturan suhu tubuh sebelum
pengkajian dan pada saat pengkajian ibu pasien mengatakan merasa
panas,lemas dan berkeringat.
Data Riwayat sosial pasien yaitu yang mengasuh adalah ibu,
hubugan dengan keluarga baik, hubungan dengan teman sebaya baik,
pembawaan anak secara umum mudah beradaptasi dengan orang lain.
Data pemeriksaan tumbuh kembang anak : kemandirian dan
bergaul : anak mampu bergaul dengan teman sebayanya, motorik halus :
anak mampu mengambil benda yang diinginkan, motorik kasar : anak
mampu berjalan dengan kedua kakinya, kognitif : anak mampu
mengingat apa yang dilakukan perawat sewaktu di ruangan perawatan,
bahasa : anak mampu menyebutkan namanya.
Data penunjang meliputi pemeriksaan darah dengan hasil nilai
WBC : 18,6 103/mm3 (normal 3,5-10,0 10/mm), RBC : 6,14 106/mm3
(normal : 3,8-5,8 10/mm) HBG 8.1 g/dl (normal :11,0-16,5 g/dl) dan
HCT, sebesar 30,2 % (35,0-50,0%). Terapi yang diberikan dokter adalah
IUFD R2 20tts, Inj. IV Fenetoin 2x 85 g, Inj cefotaxine 1x 1 g dan Inj
Dexametason 3x 2,5 mg/IV.

24

B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian data subjektif ibu pasien mengatakan
bahwa

alasan masuk rumah sakit dikarenakan pasien rujukan RS

Bulian, orang tua pasien mengatakan anaknya kejang 3 kali disertai


demam dan sudah dirawat 2 hari di RS Bulian. Data objektif berupa
keadaan umum pasien, kesadaran pasien Composmentis, dengan
tanda-tanda vital seperti suhu badan 38,5 OC, denyut nadi 90 kali/menit,
pernafasan 24 kali /menit, tekanan darah120/70 mmHg, maka diagnosa
yang sesuai keadaan pasien adalah potensial kejang berulang
berhubungan dengan hipetermi.
Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat. Data subjektif ibu pasien mengatakan
anaknya tidak mau makan. Data objektif keadaan umum lemah, mual
dan muntah.
Diagnosa

selanjutnya

adalah

gangguan

pola

eliminasi

berhubungan dengan tidak adanya pristaltik usus. Data subjektif ibu


mengatakan anaknya tidak BAB. Data objektif perut kembung.
Dari ketiga diagnosa yang ada pada An. D yang menderita kejang
demam, disimpulkan bahwa diagnosa utama yang perlu mendapatkan
penaganan segera berupa potensial kejang berulang berhubungan
dengan hipertemi. Hal ini dikarenakan peningkatan suhu tubuh dapat
berakibat demam menjadi kejang demam kompleks.
C. Intervensi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam,
Intervensi yang dibuat sesuai dengan diagnosa keperawatan pada An. D
dengan masalah potensial kejang berulang pasien kejang demam yaitu
potensial kejang berulang berhubungan dengan hipertemi.
Tujuan intervensi keperawatan pada An.D adalah tercapainya
suhu badan dalam batas normal yang berkelanjutan dengan kriteria hasil
adalah : suhu tubuh kembali normal (37,50C). hal yang dilakukan adalah
melonggarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap
keringat, memberikan kompres hangat, memberikan ekstra cairan (susu,

25

sari buah, dll), mengobservasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam,
membatasi aktivitas selama anak panas dan memberikan anti piretika
dan pengobatan sesuai advis . Kolaborasi dengan dokter dalam
memberikan terapi.
D. Implementasi
Tindakan yang dilakukan pada An.D sesuai dengan diagnosa
yang

utama

yaitu potensial kejang berulang berhubungan dengan

hipertemi dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2015 jam


10.00 WIB kegiatan yang dilakukan adalah mengganti pakaian pasien
dengan yang mudah menyerap keringat, memberikan kompres hangat,
memberikan banyak minum ( 1.200-1.600 cc), memantau tanda-tanda
kejang seperti mengukur suhu, nadi dan pernafasan, mengatur posisi
pasien.
Tindakan yang

dilakukan pada An.D

hari kedua tanggal 4

Agustus 2015 jam 16.00 WIB adalah mengkaji perkembangan pasien,


apakah terjadi kejang yang berulang, mengajarkan orang tua pasien
tentang tehnik kompres hangat.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 5 Agustus
2015 jam 10.00 WIB adalah mengobservasi tanda vital : suhu (37,2 OC),
nadi (90 x/i) dan pernafasan (24x/i) serta memberikan kompres hangat.
E. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari untuk
mengatasi masalah potensial kejang berulang berhubungan dengan
hipertemi yaitu pada hari pertama tanggal 4 Agustus 2015 (pagi) yaitu
diperoleh data subjektif dimana ibu pasien mengatakan anaknya kejang
3 kali disertai demam dan sudah dirawat 2 hari di RS Bulian. Data
objektifnya berupa kesadaran pasien composmentis, dengan tandatanda vital seperti suhu badan 37,5 OC, denyut nadi 90 kali/menit,
pernafasan 24 kali /menit, tekanan darah120/70 mmHg. Masalah yang
kejang pada anak tidak berulang berhubungan dengan hipertemi. Untuk
itu tindakan keperawatan berupa mengukur tanda-tanda vital, melakukan

26

kompres hangat, mengganti pakaian dengan yang mudah menyerap


keringat, memberikan anak minum yang banyak ( 1.200-1.600 cc).
Pada tanggal 4 Agustus 2015 (sore), diperoleh data subjek berupa
ibu pasien mengatakan anaknya masih panas kejang tidak terjadi, data
objeknya berupa kesadaran pasien composmentis, dengan suhu badan
37,5OC. Masalah yang dihadapi pasien masih sama yaitu hipertermi atau
peningkatan suhu tubuh. Untuk itu perawat melakukan tindakan
perencaan keperawatan berupa mengukur tanda-tanda vital, melakukan
kompres hangat, memberikan anak minum yang banyak. Kriteria hasil
menunjukkan tidak terjadi serangan kejang ulang, Suhu 36 37,5 C ,
Nadi 100 110 x/menit , 24 28 x/menit dan kesadaran composmentis.
Pada tanggal 5 Agustus 2015 (pagi), diperoleh data subjek berupa
ibu pasien mengatakan anaknya sudah tidak panas lagi dengan data
objek yaitu penurunan suhu badan 37,2OC, hipertermi atau peningkatan
suhu tubuh kejang berulang teratasi.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
Pada pengkajian yang dilakukan pada An. D tanggal 4-8-2015
diperoleh data sebagai berikut : ibu pasien mengatakan anaknya kejang
3 kali disertai demam dan sudah dirawat 2 hari di RS Bulian.Keadaan
umum pasien dimana kesadaran pasien composmentis, dengan tandatanda vital seperti suhu badan 38,5 OC, denyut nadi 90 kali/menit,
pernafasan 24 kali /menit, tekanan darah120/70 mmHg, tinggi badan 100
cm dan berat badan 24 kg.
Data tersebut sesuai dengan teori Sylvia A. Price, at.al (2009)
yang menyatakan bahwa kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38
C) terjadi pada kejang demam, selanjutnya menurut Betz (2009) bahwa
tingkat kesadaran tidak terganggu.
Data yang

tidak temukan yang

ada pada teori menurut Betz

(2009) antara lain tanda motorik, kedutan pada wajah, tangan, atau
suatu bagian tubuh; biasanya gerakan yang sama terjadi pada setiap

27

kejang. dan dapat menjadi merata muntah, berkeringat. wajah merah,


dilatasi pupil.
Data yang sesuai dengan teori di atas yang menunjukkan gejala
kenaikan suhu badan tetapi tidak diikuti dengan kehilangan kesadaran
maka disimpulkan bahwa An.D mengalami kejang parsial sederhana.
.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan kejang demam yang ditemui pada An.D
berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan hanya satu sesuai dengan
pedoman rencana asuhan keperawatan menurut Santosa.NI, (2001). Dari
4 diagnosa bagi pasien kejang demam hanya ada 1 diagnosa yang
tampak pada klien An.D yang sesuai dengan konsep teori, yaitu
Potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi. dan 2
diagnosa lainya yang berkaitan dengan penyakit Hisprung yang pernah
diderita pasien sebelumnya (4 bulan sebelumnya) yaitu risiko nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat dan gangguan konstipasi berhubungan dengan ketegangan
perut dan perubahan pola makan.
Diagnosa risiko trauma fisik berhubungan dengan kurangnya
koordinasi otot/kejang tidak ditemukan pada pasien ini tidak terjadi,
karena kejangnya berlangsung hanya sebentar, kurang dari 15 menit,
dan tidak terjadi serangan ulang. Dianosa gangguan rasa nyaman
berhubungan dengan dengan hiperthermi tidak ditemukan pasien, hal ini
terjadi

suhu panas pasien 38,5oC sehingga pasien masih dapat

beradaptasi. Masalah ini memilik kriteria hasilnya sama dengan diagnosa


potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi dan
masalah gangguan rasa nyaman sudah terpenuhi. Diagnosa kurangnya
pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi
tidak ditegakkan karena orang tua pasien telah mengerti tentang
penyakit kejang berulang pada anaknya.
Dapat dijelaskan bahwa peningkatan suhu tubuh yang tiba - tiba
mencapai 38,5OC yang dialami An.D apabila tidak diambil tindakan
penanganan segera berisiko menimbulkan gejala hipertermia. Hipertemi

28

yang terjadi berdasarkan konsep teori yaitu hipertemi terjadi dengan


tanda-tanda infeksi yang ditandai dengan peningkatan suhu secara tibatiba dan apabila suhu tubuh mencapai sekitar 40 o C maka demam
tersebut disebut hipertermi yang dapat menjadi kejang parsial kompleks
dengan gangguan kesadaran.
C. Intervensi
Pada perencanaan penulis membahas tentang prioritas diagnosa
yang terdapat pada An. D dengan masalah Potensial kejang berulang
pasien kejang demam. Diagnosa ini merupakan prioritas utama karena
adanya peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan demam. Untuk itu
perencanaannya adalah melonggarkan pakaian, berikan pakaian tipis
yang

mudah

menyerap

keringat,

memberikan

kompres

hangat,

memberikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll), mengobservasi kejang


dan tanda vital tiap 4 jam, membatasi aktivitas selama anak panas dan
memberikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.
Pada tahap ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara
tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus untuk

intervensi diagnosa

utama. Tidak muncul pelaksanaan baru, hal ini telah sesuai dengan
rencana pada kasus yang telah ditemukan di lapangan yang ada dalam
tinjauan pustaka
D. Implementasi
Pada umumnya implementasi yang akan dilakukan pada An.D
sesuai dengan rencana yang

ada, dimana An.D

dan keluarga mau

berpartisipasi dan menerima intervensi keperawatan yang diberikan.


Di dalam pelaksanaan tidak ada hambatan yang

ditemui,

pelaksanaan dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada dan situasi


klien seperti mengukur tanda-tanda vital, menganjurkan ibu untuk
mengganti pakaian klien dengan yang mudah menyerap keringat,
memberikan kompres hangat, mengobservasi kejang dan tanda vital tiap
4 jam, membatasi aktivitas selama anak panas dan memberikan anti
piretika dan pengobatan sesuai advis. Hambatan terjadi adalah pasien
menunjukkan gejala gejala penyakit yang pernah diderita 4 bulan
sebelumnya yaitu penyakit Hisprung.

29

E. Evaluasi
Hasil evaluasi setelah 3 hari melakukan intervensi keperawatan
pada An.D dengan masalah potensial kejang berulang, implementasi
keperawatan

yang

dilakukan

meliputi,

berikan

kompres

hangat,

mengganti pakaian dengan yang mudah menyerap keringat, memberikan


anak minum yang banyak ( 1.200-1.600 cc) dan pemberian obat anti
piretik dan analgetik (paracetamol). Hasil yang didapatkan setelah
melakukan implementasi keperawatan adalah kejang berulang tidak
terjadi. Hal ini berarti tindakan yang telah dilakukan cukup efektif
mengatasi masalah potensial kejang berulang yang berhubungan
dengan hipertermi, masalah teratasi.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.

Hasil dari pengkajian yang ditemukan pada An.D penderita kejang


demam adalah suhu, 38,5 OC, Nadi 90 x/i RR 24x/I, dan adanya
kejang sebanyak 3 kali, kesadaran pasien composmentis.

2.

Berdasarkan diagnosa utama yang sesuai keadaan klien adalah


dengan masalah potensial kejang berulang berhubungan dengan
hipertemi pada pasien kejang demam.

3.

Intervensi keperawatan yang dilakukan pada An.D adalah sesuai


dengan rencana tindakan adalah longgarkan pakaian, berikan pakaian
tipis yang mudah menyerap keringat, berikan kompres hangat, berikan
ekstra cairan (susu, sari buah, dll), observasi kejang dan tanda vital
tiap 4 jam, batasi

aktivitas selama anak panas dan berikan anti

piretika.
4.

Implementasi yang

dilakukan pada An.D

dilaksanakan

selama

hari

memberikan

pakaian

tipis

berupa

yang

kasus kejang demam


melonggarkan

mudah

menyerap

pakaian,
keringat,

memberikan kompres hangat, memberikan ekstra cairan (susu, sari

30

buah, dll), mengobservasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam, batasi
aktivitas selama anak panas dan memberikan anti piretika dan
pengobatan sesuai advis.
5.

Evaluasi pada tanggal 6-8-2015 diperoleh data subjektif berupa klien


sudah tidak panas lagi dengan data objek yaitu penurunan suhu
badan 37,2OC, kejang berulang tidak terjadi, masalah teratasi.

B.

Saran

1. Bagi Profesi Keperawatan


Diharapkan dapat mengaplikasikan secara langsung teori yang
di dapat dari perkuliahan dalam rangka mengatasi masalah potensial
kejang berulang pada pasien kejang demam.
2. Bagi Institusi
Laporan

kasus

ini

berguna

bagi

mahasiswa

untuk

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan khususnya kemampuan


dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien kejang demam.
Hendaknya menambah literatur yang ada diperpustakaan, dengan
literatur yang masih tergolong terbitan baru, sehingga peserta didik
tidak kesulitan saat mencari literatur
3. Bagi Perawat RSUD Raden Mattaer Jambi
Diharapkan penanganan kejang demam harus disesuaikan
dengan

penyebab

terjadinya

demam.

Perawat

jangan

hanya

menitikberatkan perhatian hanya pada kejang yang timbul atau usaha


menurunkan suhu badan. Untuk itu penangan kejang demam harus
komprehensif

dengan

memberikan

asuhan

memberikan terapi obat yang tepat sesuai indikasi.

keperawatan

dan