Anda di halaman 1dari 13

PPM dan PPB

Untuk yang ini biasanya digunakan pada larutan yang sangat enver dengan satuan PPB dan PPM.
Satuan PPM ekuivalen dengan 1 mg zat terlarut dalam 1 liter larutan, sedangkan PPB ekuivalen
dengan 1 ug zat terlarut per 1 liter larutan.

PPM dan PPB memang merupakan satuan yang mirip seperti persen berat. Jika persen berat,
gram zat terlarut per 100 gram larutan, maka PPM gram teralrut per satu juta gram larutan, serta
PPB zat terlarut per miliar gram larutan.
Normalitas
Kenormalan = ekivalen zat terlarut
liter larutan
Kenormalan = Molaritas x Valensi

SPEKT
Spektroskopi Inframerah
ROSKOPI
Spektroskopi inframerah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul
dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0.75 1.000 m
atau pada bilangan gelombang 13.000 10 cm-1. Metode spektroskopi inframerah merupakan
suatu metode yang meliputi teknik serapan (absorption), teknik emisi (emission), teknik
fluoresensi (fluorescence). Komponen medan listrik yang banyak berperan dalam spektroskopi
umumnya hanya komponen medan listrik seperti dalam fenomena transmisi, pemantulan,
pembiasan, dan penyerapan. Penyerapan gelombang elektromagnetik dapat menyebabkan
terjadinya eksitasi tingkat-tingkat energi dalam molekul. Dapat berupa eksitasi elektronik,
vibrasi, atau rotasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya energi yang diserap oleh
ikatan pada gugus fungsi adalah:

E = h. = h.C / = h.C / v

E = energi yang diserap


h = tetapan Planck = 6,626 x 10-34 Joule.det
v = frekuensi
C = kecepatan cahaya = 2,998 x 108 m/det
= panjang gelombang
= bilangan gelombang
Berdasarkan pembagian daerah panjang gelombang, sinar inframerah dibagi atas tiga daerah
yaitu:
a. Daerah infra merah dekat
b. Daerah infra merah pertengahan
c. Daerah infra merah jauh

Metode Spektroskopi inframerah ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu


senyawa yang belum diketahui,karena spektrum yang dihasilkan spesifik untuk senyawa
tersebut. Metode ini banyak digunakan karena:
a. Cepat dan relatif murah
b. Dapat digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsional dalam molekul
c. Spektrum inframerah yang dihasilkan oleh suatu senyawa adalah khas dan oleh karena itu
dapat menyajikan sebuah fingerprint (sidik jari) untuk senyawa tersebut.

Gambar 1.

Spektroskopi inframerah biasanya digunakan untuk penelitian dan digunakan dalam


industri yang sederhana dengan teknik yang sederhana dan untuk mengontrol kualitas. Alat
spektroskopi inframerah cukup kecil dan mudah dibawa kemana-mana dan kapanpun dapat
digunakan. Dengan meningkatnya teknologi komputer memberikan hasil yang lebih baik.
Spektroskopi inframerah mempunyai ketepatan yang tinggi pada aplikasi kimia organik dan
anorganik. Spektroskopi inframerah juga sukses kegunaannya dalam semikonduktor
mikroelektronik, contoh, spektroskopi inframerah dapat digunakan untu semikonduktor seperti
silikon, gallium arsenida, gallium nitrida, zinc selenida, silikon amorp, silikon nitrida, dan
sebagainya.
Ada berbagai teknik untuk persiapan sampel, bergantung pada bentuk fisik sampel yang
akan dianalisis.
A. Padat
Jika zat yang akan dianalisis berbentuk padat, maka ada dua metode untuk persiapan
sampel ini, yaitu melibatkan penggunaan Nujol mull atau pelet KBr.
1. Nujol Mull

Cara persiapan sampel dengan menggunakan Nujol Mull yaitu: Sampel digerus dengan
mortar dan pestle agar diperoleh bubuk yang halus. Dalam jumlah yang sedikit bubuk tersebut
dicampur dengan Nujol agar terbentuk pasta, kemudian beberapa tetes pasta ini ditempatkan
antara dua plat sodium klorida(NaCl) (plat ini tidak mengabsorbsi inframerah pada wilayah
tersebut). Kemudian plat ditempatkan dalam tempat sampel pada alat spektroskopi inframerah
untuk dianalisis.
2. Pelet KBr
Sedikit sampel padat (kira-kira 1 - 2 mg), kemudian ditambahkan bubuk KBr murni (kirakira 200 mg) dan diaduk hingga rata. Campuran ini kemudian ditempatkan dalam cetakan dan
ditekan dengan menggunakan alat tekanan mekanik. Tekanan ini dipertahankan beberapa menit,
kemudian sampel (pelet KBr yang terbentuk) diambil dan kemudian ditempatkan dalam tempat
sampel pada alat spektroskopi inframerah untuk dianalisis.

B. Cairan
Bentuk ini adalah paling sederhana dan metode yang paling umum pada persiapan
sampel. Setetes sampel ditempatkan antara dua plat KBr atau plat NaCl untuk membuat film
tipis. Kemudian plat ditempatkan dalam tempat sampel alat spektroskopi inframerah untuk
dianalisis.
C. Gas
Untuk menghasilkan sebuah spektrum inframerah pada gas, dibutuhkan sebuah sel
silinder/tabung gas dengan jendela pada setiap akhir pada sebuah material yang tidak aktif
inframerah seperti KBr, NaCl atau CaF 2. Sel biasanya mempunyai inlet dan outlet dengan keran
untuk mengaktifkan sel agar memudahkan pengisian dengan gas yang akan dianalisis.

Spektroskopi Absorbsi Atom


Spektroskopi serapan atom digunakan untuk menganalisis konsentrasi analit dalam
sampel. Elektron pada atom akan tereksitasi pada orbital yang lebih tinggi dalam waktu singkat
dengan menyerap energi (radiasi pada panjang gelombang tertentu). Secara umum, setiap
panjang gelombang akan bereaksi pada satu jenis elemen sehingga inilah yang menjadi
kelemahan penggunaan alat ini. Selisih nilai absorbansi blanko (tanpa sampel yang ditargetkan)
dibandingkan dengan sampel uji merupakan nilai konsentrasi zat target yang diinginkan. Ketika
nilai konsentrasi sudah diketahui, maka dapat diketahui satuan massa yang lain. Dalam
pengukurannya dibutuhkan sebuah kurva standar yang elemennya adalah konsentrasi analit
dibandingkan dengan nilai absorbansi (serapan). Kurva standar dibuat menggunakan larutan
yang telah diketahui konsentrasi zat yang ingin diuji dengan berbagai perbedaan konsentrasi.
Bagan alir kerja spektroskopi serapan

Aplikasi yang menggunakan spektroskopi serapan atom ini telah banyak digunakan untuk:

Menguji keberadaan logam besi dalam air.


Logam Fe2+ diuji menggunakan spektroskopi yang memakai grafit pada panjang
gelombang 248,3 nm. Logam ini diperoleh dari fraksi air-metanol. Dari hasil penelitian
ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan larutan organik dapat menurunkan keakuratan
analisis logam.

Analisis kuantitatif metalloenzim terimobilisasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kadar enzim hidrogen peroksidase
dengan mengintepretasi jumlah logam besi yang dikandung dari enzim tersebut.
Imobilisasi enzim menggunakan kain karena teknik yang dilakukan yaitu adsorpsi,
kovalen dan kovalen dengan tambahan ikatan seberang silang. Kain tersebut direndam
dalam larutan asam sulfat, lalu cairan tersebut dioksidasi dengan tambahan enzim
hidrogen peroksidase. Cairan tersebut lalu diukur menggunakan spektroskopi yang
menggunakan pijaran api pada panjang gelombang 248,3 nm.

Menguji logam vanadium di dalam tanah.


Penelitian ini menggunakan spektroskopi yang memakai grafit. Tanah yang ingin diuji
direaksikan dengan berbagai asam anorganik yang merupakan proses digesti. Ketika
didapatkan konsentratnya dalam asam klorida baru diencerkan dengan air dan dideteksi
dengan spektroskopi.

Menganalisis elemen kelumit (trace element) pada jaringan kelinci.


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beberapa elemen kelumit (besi, tembaga, dan
seng) pada jaringan kelinci yang memiliki pola makan tinggi kadar lemak. Hasil dari
penelitian ini adalah logam besi ternyata mampu mempercepat proses aterosklerosis.

Gambar 2.

Spektroskopi Magnetik Inti


Sesuai namanya NMR (nuklear magnetic resonance, resonansi magnetik inti),
spektroskopi NMR berhubungan dengan karakter inti dari suatu atom dalam suatu
molekul yang dianalisis. Pada dasarnya spektrometri NMR merupakan bentuk lain dari
spektroskopi absorbsi sama halnya dengan UV-VIS dan IR. Perbedaan dengan IR dan
UV-VIS adalah
1. Sistem absorbsi dibawah pengaruh medan magnet dan hal ini tidak ada pada UV-VIS dan
IR.
2. Pada NMR energi radiasi elektromagnetik pada daerah frekuensi radio.

Gambar 3.

Spektroskopi NMR sangat penting artinya dalam analisis kualitatif, khususnya


dalam penentuan struktur molekul zat organik. Lebih tepatnya letak suatu atom dalam
molekulnya. Seperti yang diketahui semua inti atom bermuatan karena mengandung
proton dan juga mempunyai spin inti. Sifat inti atom dan karakter spinnya menyebabkan
beberapa inti bersifat magnet. Perputaran elektron pada porosnya (spin) menyebabkan
dihasilkan momen dipol magnet. Perilaku dipol magnetik ini dicirikan oleh bilangan
kuantum spin inti megnet yang dinyatakan atau diberi simbol I.Apabila inti diletakan
pada suatu medan magnet (medan magnet eksternal) maka akan terjadi interaksi inti
dengan magnet ekternal tersebut. Interaksinya tergantung pada jenis inti yang
berinteraksi. Berikut merupakan kriteria penggunaaan medan magnet pada spektroskopi
NMR:

1. Medan magnet harus kuat. Karena kepekaan spektroskopi NMR makin tinggi seiring
meningkatnya kekuatan medan magnet.
2. Medan magnet harus cukup homogen terhadap semua sampel yang dianalisis. Apabila
tidak terjadi kemogenan medan magnet akan menghasilkan pita-pita yang melebar dan
terjadi distorsi sinyal.
3. Medan magnet harus sangat stabil. Dengan kestabilan yang tinggi menjadikan analisis
secara akurat dari detik ke detik bahkan hingga orde jam.
Seperti yang telah disinggung bahwa berhubungan dengan karakter inti dari suatu atom
dalam suatu molekul, oleh sebab itu spektroskopi NMR digunakan untuk mendeteksi
berbagai jenis inti sesuai dengan sifat khas inti, misalnya 1H, 13C, 19F dan 31P.

Mass Spectrofotometri (MS) atau dalam bahasa Indonesia disebut spektrometri


massa dalam dunia ilmu kimia banyak digunakan dalam studi untuk membantu
penentuan suatu struktur senyawa. Saya menyebut dengan kata membantu sebab
spektrometri massa tidak dapat berdiri sendiri dalam menentukan struktur suatu senyawa
kimia. Spetrometri massa digunakan untuk mengetahui berat suatu senyawa kimia,
sehingga dengan diketahuinya massa suatu senyawa maka akan semakin memperkuat
data dari NMR, selain itu MS ini juga dapat memberikan informasi rumus molekul dari
senyawa kimia tersebut.
NMR merupakan instrumentasi atau metode untuk menentukan posisi atom dalam
suatu senyawa dengan kata lain kita dapat mengetahui bentuk dari suatu senyawa kimia
tersebut. Untuk penjelasan tentang NMR silahkan buka pada blog ini tentang NMR.
Instrumentasi tentang metode ini dikenal dengan spectrometer massa (mas spectrometer).
Spektrometer massa biasanya digabung dengan GC (gas chromatography) atau HPLC
(High Performance Liquid Chromatography).
Secara umum spektrometri merupakan suatu teknik yang digunakan untuk
mengetahui berat molekul dan menentukan rumus molekul dari suatu senyawa kimia.
Instrumentasi yang diguanakan adalah spectrometer massa. Secara umum dalam
spectrometer massa suatu molekul diuapkan dan selanjutnya mengalami ionisasi. Pada
proses pengionan (ionisasi) terdapat berbagai macam metode yang digunakan, antara lain
EI, CI, FAB, MALDI, ESI. Pada tulisan ini kita hanya akan membahas electron ionisasi
(EI) yang menurut penulis lebih sering dipakai.
Kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) adalah metode yang
mengkombinasikan kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi
senyawa yang berbeda dalam analisis sampel. Kromatografi gas dan spketometer masa
memilki keunikan masing-masing dimana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dengan menggambungkan kedua teknik tersebut diharapkan mampu meningkatkan
kemamapuan dalam menganalisis sampel dengan mengambil kelebihan masing-masing
teknik dan meminimalisir kekurangannya.
Kromatografi gas dan spektrometer masa dalam banyak hal memiliki banyak
kesamaan dalam tekniknya. Untuk kedua teknik tersebut, sampel yang dibutuhkan dalam
bentuk fase uap, dan keduanya juga sama-sama membutuhkan jumlah sampel yang

sedikit ( umumnya kurang dari 1 ng). Disisi lain, kedua teknik tersebut memiliki
perbedaan yang cukup besar yakni pada kondisi operasinya. Senyawa yang terdapat pada
kromatografi gas adalah senyawa yang digunakan untuk sebagai gas pembawa dalam alat
GC dengan tekanan kurang lebih 760 torr, sedangkan spketometer massa beroperasi pada
kondisi vakum dengan kondisi tekanan 10-6 10-5 torr.
Prinsip kerja
GC-MS adalah terdiri dari dua blok bangunan utama: kromatografi gas dan
spektrometer massa . Kromatografi gas menggunakan kolom kapiler yang tergantung
pada dimensi kolom itu (panjang, diameter, ketebalan film) serta sifat fase (misalnya 5%
fenil polisiloksan). Perbedaan sifat kimia antara molekul-molekul yang berbeda dalam
suatu campuran dipisahkan dari molekul dengan melewatkan sampel sepanjang kolom.
Molekul-molekul memerlukan jumlah waktu yang berbeda (disebut waktu retensi) untuk
keluar dari kromatografi gas, dan ini memungkinkan spektrometer massa untuk
menangkap, ionisasi, mempercepat, membelokkan, dan mendeteksi molekul terionisasi
secara terpisah. Spektrometer massa melakukan hal ini dengan memecah masing-masing
molekul menjadi terionisasi mendeteksi fragmen menggunakan massa untuk mengisi
rasio.
Liquid chromatography-mass spectrometry (LC-MS, atau alternatif KCKTMS) adalah teknik kimia analitik yang menggabungkan kemampuan pemisahan fisik dari
kromatografi cair (atau KCKT) dengan kemampuan analisis massa spektrometer massa .
LC-MS adalah teknik yang banyak digunakan untuk berbagai aplikasi yang memiliki
sensitivitas dan spesifisitas sangat tinggi. Pada umumnya aplikasinya adalah berorientasi
pada deteksi dan identifikasi potensi spesifik bahan kimia terhadap kehadiran bahan
kimia lainnya (dalam campuran yang kompleks).
LC-MS sangat umum digunakan dalam studi farmakokinetik tentang obat-obatan
dan dengan demikian merupakan teknik yang paling sering digunakan di bidang
bioanalysis . Studi ini memberikan informasi tentang seberapa cepat obat akan
dibersihkan dari aliran darah hati, dan organ tubuh. MS digunakan untuk hal tersebut
karena sensitivitas tinggi dan spesifisitas yang luar biasa dibandingkan dengan UV
(selama analit dapat sesuai terionisasi), dan waktu analisis yang singkat.
Keuntungan utama yang dimiliki MS adalah penggunaan tandem MS-MS.
Detektor dapat diprogram untuk memilih ion tertentu pada fragmen. Proses ini pada
dasarnya adalah teknik seleksi, namun sebenarnya lebih kompleks. Kuantitas yang diukur
adalah jumlah molekul fragmen dipilih oleh operator. Selama tidak ada gangguan atau
penindasan ion, pemisahan LC bisa sangat cepat. Hal ini biasa saat sekarang untuk

memiliki waktu analisis 1 menit atau kurang oleh-MS deteksi MS, dibandingkan dengan
lebih dari 10 menit dengan deteksi UV.
LC-MS juga digunakan dalam studi proteomik mana lagi komponen dari
campuran kompleks harus dapat dideteksi dan diidentifikasi dalam beberapa cara. LCMS bottom-up proteomik untuk pendekatan proteomik umumnya melibatkan pencernaan
protease dan denaturasi (biasanya tripsin sebagai sebuah protease, urea untuk denaturasi
struktur tersier dan iodoacetamide untuk topi residu sistein) diikuti oleh LC-MS dengan
massa peptida sidik jari atau LC-MS/MS (tandem MS) untuk menurunkan urutan peptida
individu. LC-MS/MS paling umum digunakan untuk analisis sampel massa proteomic
peptida kompleks mana mungkin tumpang tindih bahkan dengan spektrometer massa
resolusi tinggi. Contoh cairan serum biologis yang kompleks seperti manusia dapat
dijalankan dalam sistem LC-MS/MS modern dan menghasilkan lebih dari 1000 protein
yang diidentifikasi, asalkan sampel pertama kali dipisahkan pada gel SDS-PAGE atau
HPLC-SCX.
LC-MS sering digunakan dalam pengembangan obat pada berbagai tahapan
termasuk Pemetaan Peptida, Pemetaan Penyandi Glikoprotein, Produk Dereplication
Alam, Pemutaran Bioaffinity, Dalam Vivo Drug Screening, Stabilitas Pemutaran
metabolic, Identifikasi metabolit, Identifikasi Pengotor, Identifikasi Degradant,
Kuantitatif Bioanalysis , dan Kualitas Kontrol.
Atomic Absorbtion Spectroscopi
Prinsip dari spektrofotometri adalah terjadinya interaksi antara energi dan materi.
Pada spektroskopi serapan atom terjadi penyerapan energi oleh atom sehingga atom
mengalami transisi elektronik dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi. Dalam metode
ini, analisa didasarkan pada pengukuran intesitas sinar yang diserap oleh atom sehingga
terjadi eksitasi. Untuk dapat terjadinya proses absorbsi atom diperlukan sumber radiasi
monokromatik dan alat untuk menguapkan sampel sehingga diperoleh atom dalam
keadaan dasar dari unsur yang diinginkan. Spektrofotometri serapan atom merupakan
metode analisis yang tepat untuk analisis analit terutama logam-logam dengan
konsentrasi rendah.
Atomic Absorbtion Spectroscopi (AAS) adalah spektroskopi yang berprinsip pada
serapan cahaya oleh atom. Atomatom menyerap cahaya pada panjang gelombang
tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Cahaya pada panjang gelombang tersebut
mempunyai
cukup
energi
untuk
mengubah
tingkat
elektronik
suatu atom. Transisi elektronik suatu unsur bersifat spesifik. Dengan absorbsi energi,
terdapat lebih banyak energi yang akan dinaikkan dari keadaan dasar ke keadaan eksitasi
dengan tingkat eksitasi yang bermacam-macam. Instrumen AAS meliputi Hollow

Cathode Lamp sebagai sumber energi, flame untuk menguapkan sampel menjadi atom.
Monokromator sebagai filter garis absorbansi, detektor dan amplifier sebagai pencatat
pengukuran. AAS bekerja berdasar pada penguapan larutan sampel, kemudian logam
yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut mengabsorbsi
radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan oleh lampu katoda (Hollow Cathode Lamp)
yang mengandung energi radiasi yang sesuai dengan energi yang diperlukan untuk
transisi elektron atom. Hollow Cathode Lamp sebagai sumber sinar pada AAS akan
menghilangkan kelemahan yang disebabkan oleh self absorbsi yaitu kecenderungan
atom-atom pada ground state untuk menyerap energi yang dipancarkan oleh atom
tereksitasi ketika kembali ke keadaan ground state. Beberapa logam yang terkandung
dalam sampel dapat ditentukan secara langsung dengan menggunakan AAS, tetapi ada
beberapa gangguan kimia yang menyebabkan sampel harus diperlakukan khusus terlebih
dahulu.
Kromatografi cair berperforma tinggi (high performance liquid
chromatography, HPLC) merupakan salah satu teknik kromatografi untuk zat cair yang
biasanya disertai dengan tekanan tinggi. Seperti teknik kromatografi pada umumnya,
HPLC berupaya untuk memisahkan molekul berdasarkan perbedaan afinitasnya terhadap
zat padat tertentu. Cairan yang akan dipisahkan merupakan fase cair dan zat padatnya
merupakan fase diam (stasioner). Teknik ini sangat berguna untuk memisahkan beberapa
senyawa sekaligus karana setiap senyawa mempunyai afinitas selektif antara fase diam
tertentu dan fase gerak tertentu. Dengan bantuan detektor serta integrator kita akan
mendapatkan kromatogram. Kromatorgram memuat waktu tambat serta tinggi puncak
suatu senyawa.
Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (disingkat FTIR) adalah sama
dengan Spektrofotometer Infra Red dispersi, yang membedakannya adalah
pengembangan pada sistem optiknya sebelum berkas sinar infra merah melewati contoh.
Dasar pemikiran dari Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red adalah dari
persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-1830)
seorang ahli matematika dari Perancis. Dari deret Fourier tersebut intensitas gelombang
dapat digambarkan sebagai daerah waktu atau daerah frekuensi. Perubahan gambaran
intensitas gelobang radiasi elektromagnetik dari daerah waktu ke daerah frekuensi atau
sebaliknya disebut Transformasi Fourier (Fourier Transform).
Keunggulan Spektrofotometer FTIR
Secara keseluruhan, analisis menggunakan Spektrofotometer FTIR memiliki dua
kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya, yaitu :

1. Dapat digunakan pada semua frekuensi dari sumber cahaya secara simultan sehingga
analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada menggunakan cara sekuensial atau
scanning.

2. Sensitifitas dari metoda Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada cara dispersi, sebab
radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah
(slitless).