Anda di halaman 1dari 3

FORDYCES SPOT

Definisi
Fordyces spot atau yang dikenal sebagai kelenjar Fordyce merupakan kelenjar keringat
yang mengalami pembesaran. Kelenjar keringat normal secara umum berhubungan dengan
folikel rambut, namun pada kelenjar Fordyce tidak memperlihatkan adanya struktur folikel
rambut dan terdapat saluran terbuka langsung menuju permukaan kulit. Fordyces spot paling
sering terjadi pada vermilion bibir dan mukosa rongga mulut. Meskipun kelenjar keringat sudah
ada sejak lahir, namun mulai terlihat pada masa pubertas karena respon hormonal.
Epidemiologi
Terbentuknya Fordyce spot atau yang lebih sering dikenal dengan kelenjar Fordyce
meningkat seiring berjalannya usia dan lebih sering terjadi pada orang dewasa daripada anakanak. Prevalensi terjadinya pada dewasa sekitar 70%-80%. Perbandingan antara pria dan wanita
sekitar 2:1.
Patogenesis
Fordyce spots adalah pembengkakan kelenjar keringat yang dapat terjadi pada beberapa
bagian tubuh seperti bibir, mukosa rongga mulut, penis, dan labia. Beberapa peneliti mengatakan
bahwa Fordyce spots adalah kelenjar keringat ektopik atau heterotopik. Kelenjar keringat secara
normal berada di bagian vermilion border atau batas antara kulit wajah dan kulit bibir pada 80%
sampai 90% orang dewasa.
Fordyce spots salah posisi dengan folikel rambut dan memiliki saluran terbuka yang
langsung menuju permukaan kulit. Meskipun kelenjar keringat ada sejak lahir, lesi kelenjar ini
baru terlihat mengalami pembengkakan sampai masa pubertas sebagai respon hormon androgen.
Histopatologis (HPA)
Pemeriksaan histologi dari fordyces spot menunjukkan adanya pembesaran kelenjar
keringat, yang terdiri dari segerombol lobus sebaceous matang yang mengelilingi duktus kecil
yang muncul pada permukaan epitel (Ocampo, et al., 2003). Kelenjar keringat ini tidak menyatu

dengan folikel rambut (Plotner & Brodell, 2008). Jarang nampak kondisi perubahan patologis
(Baeder, et al., 2010).
Manifestasi Klinis
Secara klinis, bintik-bintik Fordyce muncul secara asimtomatik, terisolasi atau
dikelompokkan, berukuran kecil, kuning dan berbentuk papula. Kadang-kadang, papula yang
berlobul atau berbentuk plak. Fordyce spot terjadi paling umum dan paling mencolok di
perbatasan vermilion bibir, mukosa mulut, dan lebih jarang terjadi pada penis, skrotum dan labia.
Lesi ini biasanya bilateral dan simetris. Lesi pada penis, papula terlihat lebih jelas ketika skrotum
ditarik atau selama penis ereksi.

Gambar 1. Fordyces spot pada bibir atas

Diagnosis
Diagnosis dilakukan secara klinis. Investigasi lebih lanjut tidak dibutuhkan. Apabila
diagnosis dan perawatan belum pasti, dapat dirujuk terlebih dahulu ke spesialis kulit dan
kelamin.
Diferensial Diagnosa
Fordyces spots harus dibedakan dengan milia dan sebaceous hyperplasia. Milia
berukuran kecil, putih, jinak, berbentuk dome shaped, dan merupakan kista yang berkeratin.
Milia merupakan kista infundibular yang dilapisi epitel squamous dengan lapisan bergranular.
Primary milia umumnya bersifat kongenital atau disebut primary congenital milia atau dapat
terjadi pada saat dewasa (benign primary milia in children and adults). Primary congenital milia
terjadi pada 40% bayi yang baru lahir dan tidak berkaitan dengan predileksi jenis kelamin.
Biasanya primary congenital milia muncul pada daerah hidung,sedangkan benign primary milia

pada anak-anak dan dewasa muncul di daerah kelopak mata. Milia sekunder terjadi akibat
adanya penyakit, trauma, atau obat-obatan. Milia biasanya dapat sembuh sendiri secara spontan.
Sebaceous hyperplasia bersifat multiple, asimptomatik, berwarna seperti kulit, berbentuk
papula dengan bentuk dome-shaped. Lesi ini bediameter antara 2-5 mm namun dapat lebih luas.
Biasanya Sebaceous hyperplasia muncul pada daerah dahi, pipi, dan hidung pada usia dewasa
sampai dengan dewasa tua. Diferensial diagnosa yang lainnya adalah syringomas, molluscum
contagiosum, lichen nitidus, closed comedones, cutaneous myxomas, dan calcinocis cutis.
Terapi
Terapi pada umumnya tidak diperlukan terlepas dari sifat jinak kelenjar fordyce. Bagi
pasien yang menginginkan terapi untuk alasan estetika, pilihan terapi meliputi micro-punch
surgery, electrodessication, cryotherapy, ablative laser, terapi fotodinamik, topikal asam
bikloroasetil, topikal tretinoin, dan oral isotretinoin. Dermatologists akan memberikan terapi
sesuai permintaan pasien.
Daftar pustaka:
Barankin B, Leung AK. 2015. Fordyces Spot. Clinical Case Report and Review. Volume 1(6):
121-122.
Ocampo-Candiani J, Villarreal-Rodrguez A, Quiones-Fernndez AG, Herz-RuelasME, RuzEsparza J (2003) Treatment of Fordycespotswith CO2 laser. DermatolSurg29: 869-871.
Plotner AN, Brodell RT (2008) Treatment of Fordycespotswithbichloraceticacid. Dermatol
Surg34: 397-399.
Baeder FM, Pelino JE, deAlmeida ER, Duarte DA, Santos MT (2010) High-powerdiode laser
use on Fordycegranuleexcision: a casereport. J Cosmet Dermatol9: 321-324.

Anda mungkin juga menyukai