Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

PENERAPAN PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE DUA


PADA SISTEM GERAK HARMONIK DAN RANGKAIAN
LISTRIK RLC MENGGUNAKAN PENDEKATAN
PERSAMAAN CAUCHY-EULER

UNTUK MEMENUHI TUGAS AKHIR MATA KULIAH


Persamaan Diferensial
Yang dibimbing oleh Bapak Dr. Baiduri, M.Si

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Adam Rahmani

(201310060311042)

Refit Erdiana

(201310060311143)

M. Syamsul Arifin

(201310060311150)

Yulita Idayani

(201310060311166)

Luky Milasari

(201310060311165)

PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN KOMPUTASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kehadirat Allah SWT. karena
berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.
Makalah ini disusun untuk diajukan sebagai tugas akhir mata kuliah
Persamaan Diferensial.
Terima kasih kami sampaikan kepada:
1.

Bapak Dr. Baiduri, M.Si , dosen kami yang tidak bosan bosan dalam
memberikan pengarahan dan pembimbingan dalam penyusunan
laporan ini.

2.

Orang tua, yang selalu mendukung dan memberikan biaya dalam


penyusunan laporan ini.

Kami menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, makalah ini
tidak akan terwujud. Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, segala bentuk kritik dan saran bersifat membangun akan
kami terima demi kesempurnaan makalah ini, selanjutnya yang akan datang.

Malang, 1 Juni 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .. i
Daftar Isi ii
Bab I Kajian Teori ..

1.1. Pengertian Persamaan Diferensial Homogen Cauchy-Euler .. 1


1.2. Mencari Solusi Persamaan Diferensial Homogen CauchyEuler . 1
Bab II Penerapan .. 4
2.1. Sistem Gerak 4
2.1.1. Sistem Gerak Bebas Takteredam .. 6
2.1.2. Sistem Gerak Bebas Teredam .. 10
A. Sistem Teredam Kurang (underdamped) .. 10
B. Sistem Teredam Kritis (critically damped) ... 13
C. Sistem Teredam Lebih (overdamped) ... 15
2.2. Rangkaian Listrik RLC ... 17
2.2.1. Rangkaian LC Seri ... 17
2.2.2. Rangkaian RLC Seri 25
Bab III Latihan Soal dan Pembahasan .

31

3.1. Latihan Soal Persamaan Diferensial Orde Dua CauchyEuler 31


3.2. Pembahasan Soal Persamaan Diferensial Orde Dua
Cauchy-Euler ..

32

Daftar Pustaka ....

iii

ii

BAB I
KAJIAN TEORI

1.1. Pengertian Persamaan Diferensial Homogen Cauchy-Euler


Bentuk umum persamaan Cauchy-Euler orde dua:
( + )2 + ( + ) + = ()

(1)

Dengan , , dan bilangan real,


=

d2
dy
dan y =
serta + > 0.
dy
dx

Jika () = 0, maka (1) disebut persamaan Cauchy Euler homogen.


Contoh 1 :
3 2 2 + 7 = sin
merupakan persamaan Cauchy-Euler tak homogen.
Contoh 2 :
2 3 + 11 = 3 1
merupakan bukan persamaan Cauchy-Euler.
1.2. Mencari Solusi Persamaan Diferensial Homogen Cauchy-Euler
Selain bentuk umum diatas, bentuk persamaan Cauchy Euler berpangkat dua
bisa juga sebagai berikut :

ax 2 y' ' ( x) bxy ' ( x) cy ( x) 0 ; x 0, a 0, b, c R

Maka dapat dimisalkan p( x)

b
c
, q( x)
ax
ax 2

Misalkan = (, ) =
Substitusi (, ) ke ()
[]() = 2 () + () + ()
[]() = 2 ( 1) 2 + 1 +
= 2 ( 2 )

+
2

= [( 2 ) + + ]

= [ 2 + ( ) + ]
= [( 1 )( 2 )]

Maka ada beberapa kemungkinan yang didapat :


a. Kemungkinan 1: Kedua akarnya real dan berbeda
L[ y]( x) ax 2 y' ' ( x) bxy ' ( x) cy ( x)
Solusi :
y1 ( x) w(r1 , x) x r1 , x 0

y 2 ( x) w(r2 , x) x r2 , x 0
b. Kemungkinan 2 : Kedua akarnya adalah bilangan komplek

x i e ( i ) ln x e a ln x cos( ln x) ie ln x sin( ln x)
x cos( ln x) ix sin( ln x)
Solusi :
y1 ( x) x cos( ln x)
y 2 ( x) x sin( ln x)
c. Kemungkinan 3 : Kedua akarnya adalah akar kembar
[]() = ( 0 )2

dengan = 0 , maka solusinya 1 () = (0 , ) = 0 , > 0


Jika (, ) = , maka persamaan turunan parsial adalah :
3
2

dengan penjabaran sbb :

[]() = { 2 2 + + }

= 2 2 + +
= 2 2 + +

= [ ] ()
Didapat solusi 2 () =

(0 , ) =

( )|=0 = 0 , > 0

Selain cara diatas, untuk mencari solusi pada persamaan (1) kita
menggunakan substitusi ( + ) = (akan mengubah koefisien fungsi ke
koefisien konstanta) atau gunakan substitusi ( + ) = (akan mengubah
variabel persamaan ke bentuk karakteristik dalam r ).

1. Cara mencari solusi (1) dengan subtitusi ( + ) =


Dari permisalan ( + ) = dapat diketahui bahwa = ln( + ).

d2y
dy
dy
Cara pemisalan seperti ini akan mengganti PD dari
ke
dan
dx
dt
dx 2
d 2y
ke 2
dt
Sehingga diperoleh PD homogen orde dua dengan koefisien konstanta
dalam y dan t.
2. Cara mencari solusi (1) dengan subtitusi ( + ) =
Permisalan ( + ) = akan mengubah bentuk PD ke persamaan
karakteristik dalam r dengan cara mendiferensialkan ( + ) =
kemudian subtitusikan y'

d
d d
(a bx) r dany"
( (a bx) r )
dx
dx dx

BAB II
PENERAPAN

2.1. Sistem Gerak


Sistem gerak diilustrasikan dengan benda bermassa m yang tergantung
pada suatu pegas Pemodelan sistem gerak pada, didasarkan pada Hukum
Newton II, yaitu:
= .
dengan :
= gaya-gaya yang bekerja pada benda
= massa benda
= percepatan gerak benda
Gaya-gaya yang bekerja pada benda yang tergantung pada pegas :
a) = . , adalah gaya tarik gravitasi benda, = massa benda,
= gravitasi bumi. Arah gaya ini ke bawah karena pengaruh gravitasi.
Gaya ini sering disebut sebagai berat benda.
b) = ( + ), = gaya pegas, = konstanta pegas, = posisi
benda, = perubahan panjang pegas. Arah gaya pegas ke atas dan
ke bawah. Jika pegas ditarik negatif, arah gaya ke atas dan jika pegas
ditekan positif, arah gaya ke bawah.

c) = . , = gaya redam, arah gaya berlawanan dengan gerak


benda. = konstanta redaman,

= kecepatan benda. Jika > 0

sistem disebut Sistem Teredam (Damped Systems), jika = 0 sistem


disebut Sistem Takteredam (Undamped Systems).
d) = (), = gaya eksternal, arah gaya dapat ke atas atau ke bawah.
Penerapan gaya ini langsung pada benda atau pegas.

Gambar 1 Sistem Gerak Benda pada Pegas

Ganbar 2. A. Sistem Gerak dengan Peredam


B. Sisten Gerak dengan Peredam dan Gaya Luar F(t)
Berdasarkan Hukum Newton II di atas maka :
= .
adalah gaya-gaya yang bekerja pada benda, =
sehingga :

adalah percepatan benda

+ + + = .

2
2

atau

2
. + ( + ) .
+ () = . 2

Untuk system dalam kesetimbangan . = , sehingga persamaan


menjadi:
2

. + () = . 2
atau

. 2 + .
+ = ()

Model persamaan terakhir menmghasilkan persamaan diferensial orde-2.


Persamaan diferensial orde-2 di atas menggambarkan system gerak benda pada
pegas. Jika () = 0 (tanpa gaya eksternal) system disebut sistem gerak bebas
(unforced), jika () 0 disebut sistem gerak paksa (forced). Jika = 0
maka system disebut sistem takterendam (undamped) dan jika > 0 maka
system disebut sistem terendam (damped).
2.1.1. Sistem Gerak Bebas Takteredam () = , =
Model system gerak harmonic bebas teredam :
2
. 2 + ky = 0

Gerak benda didapatkan denga menyelesaikan PD di atas. Jika persamaan


dibagi dengan m, maka PD menjadi :
2
+ =0
2
2

+ 02 = 0, 0 =
2

Persamaan karakteristik PD di atas : 2 + 02 = 0


Akar-akar persamaan karakterisrik : 1,2 = 0
Sehingga penyelesaian umum PD yang menggambarkan gerak benda :
() = 1 0 + 2 0
Jika persamaan dikali dan dibagi dengan 1 2 + 2 2 maka :

1
2
() = 1 2 + 2 2 [
0 +
0 ]
1 2 + 2 2
1 2 + 2 2
Jadi didefinisikan :
= 1 2 + 2 2
cos =
sin =

1
1 2 +2 2
2
1 2 +2 2

Maka persamaan menjadi :


() = [ 0 + 0 ]
atau
() = (0 )
Dengan disebut amplitudo sistem gerak harmonik
disebut sudut fasa

0 disebut frekuensi =
Jika satu siklus gerak harmonic yang terjadi digambarkan dalam unit waktu
2 maka frekuensi didefinisikan menjadi :
=

0
2

, maka periode gerak harmonic = = = 2


0

Gambar 3 Ilustrasi Gerak Harmonik () = (0 )

Gambar 4 Ilustrasi Hubungan c1, c2, R dan


Contoh Kasus 1 :
Sistem gerak harmonik benda yang tergantung pada pegas. Jika massa benda
= 2 dan konstanta pegas = 4 /, redaman = 4. Dimana massa
dan redaman masih dalam bentuk fungsi t. Pegas saat tertarik benda
bertambah panjang 1 dan mulai bergerak keatas dengan kecepatan
4 /. Sistem tidak diberi gaya luar.
a. Tentukan solusi umum persamaan gerak harmonik pada pegas !
b. Tentukan amplitudo, sudut fasa, frekuensi dan periode gerak benda ! Jika
(1) = 2

, (1) = 11.

Penyelesaian :
a. Model persamaan system gerak harmonik pada pegas
2

2 +
+ = ()

Berdasarkan kasus diatas, diketahui redaman = 4, gaya luar () =


0, massa = 2 , konstanta pegas = 4 /, sehingga model persamaan
gerak harmonik pada pegas menjadi :
2

4
+ 4 = 0
2

Menggunakan metode Cauchy-Euler dengan substitusi ( + ) =

Misal = maka = ln . Kita tahu bahwa

. =

= = , sedangkan

. = .

Turunan kedua dari fungsi terhadap z diperoleh :


2



2
()
=
(.
)
=
(
)
+
=
.
+
. ()
2



2
= .
2

Jika 2 =

2
+ 2 2

+ 2 2 dan

= .

Subtitusikan ke soal maka diperoleh :


2
2

4 + 4 = 0 5 + 4 = 0 (persamaan

homogen

dengan koefisien konstanta)


Persamaan karakteristiknya : 2 5 + 4 = 0 ( 1)( 4) = 0
Sehingga 1 = 1 dan 2 = 4
Solusi basis 1 = = ln =

, 2 = = 4 ln = 4

Jadi, solusi umum model persamaan gerak harmonik diatas :


= 1 1 + 2 2 = 1 + 2 4
= 1 + 42 3
Untuk menjawab pertanyaan pada point (b), kita harus mencari solusi
khusus persamaan tersebut. Sehingga :
Subtitusi nilai (1) = 2
2 = 1 (0) + 2 (0)4 2 = 1 + 2
Subtitusi nilai (1) = 11
11 = 1 + 42 (1)3 11 = 1 + 42
Dengan eliminasi dan subtitusi maka diperoleh 1 = 1 dan 2 = 3.
Sehingga persamaan gerak benda : () = + 3 4
b. Amplitudo () = 1 2 + 2 2 = (1)2 + 32 = 10

Sudut fasa : tan = 2 = 1 = 3 tan = 72


1

Frekuensi =

0
2
1

= 2 =

Periode () = =

Kesimpulan :
Jadi, solusi umum model persamaan gerak harmonik diatas = 1 +
2 4 dan amplitudo () = 10 , sudut fasa () = 72, frekuensi () =
2

, periode () =

2.1.2. Sistem Gerak Bebas Teredam () = ,


Model sistem gerak benda bebas teredam :
.

+ .

+ = 0

Persamaan gerak benda didapatkan dengan menyelesaikan persamaan


diferensial dia atas. Untuk mengilustrasikan gerak benda pada sistem pegas
bebas teredam akan diuraikan pada tiga kasus, yaitu system teredam kurang
(underdumped), sistem teredam kritis (critically damped), dan system teredam
lebih (overdamped), dimana masing-masing ditentukan dan nilai diskriminan
2 4
Persamaan karakteristik dari model sistem gerak benda bebas teredam
adalah:
. 2 + . + = 0
Sehingga akar-akar persamaan karakteristiknya :
1,2 =

2 4
2

A. Sistem Teredam Kurang (underdumped), ( < )


Solusi

persamaan

gerak

benda

pada

system

teredam

kurang

(underdumped) didapatkan jika 2 4 < 0, dimana akar-akar persamaan


karakteristik adalah :
1,2 =

2 4
2

Persamaan solusinya adalah :


= 1 (+) + 2 () ; =

4 2
, =
2
2

= (2) ( +
Bentuk satu sinus atau cosinus persamaan diatas adalah :

10

= (2) cos( )
= 2 + 2

Tan =

Gambar 5. Osilasi pada Gerak Benda Bebas Terendam Kurang


Menggunakan Program Matlab

Gambar 6. Program MATLAB untuk Gambar 5

11

Faktor kosinus ( ) menyebabkan osilasi antara +1 dan -1.


Perioda osilasi jika dilihat pada gambar bukan perioda asli atau sering disebut
sebagai perioda bayangan (quasi-period) atau perioda teredam (dampedperiod), didefinisikan sebagai :
=

2
=

2
4
2

4
4 2

Frekuensi sinyatakan sebagai frekuensi bayangan (quasi-frequency) atau

teredam (damped-frequency), yaitu = 2. Sedangkan (2) disebut


amplitude teredam (damped-amplitude).
Contoh Kasus 2 (Pengaruh Peredaman : Sistem Teredam Kurang
(underdamped)) :
Sebuah sistem gerak benda pada pegas dengan peredam dimodelkan oleh
persamaan berikut :
2

12
+ 42 = 0
2

Tentukan solusi umum dari persamaan yang diberikan !


Penyelesaian :
Syarat sistem teredam kurang yaitu 2 4 < 0, berdasarkan kasus diatas
diketahui = 2 , = 12 dan = 42 maka :
2 4 < 0 (12)2 4. 2 . 42 < 0 144 2 168 2 < 0
24 2 < 0
Kasus diatas kita selesaikan menggunakan metode Cauchy-Euler dengan
substitusi ( + ) = .
Misal = ( + ) karena = 0, maka permasalahan menjadi =
Jika = maka

= 1 , 2 = ( 1) 2 , subtitusikan ke soal :

2 (( 1) 2 ) 12( 1 ) + 42 = 0
( 2 ) 2+ 12 1+1 + 42 = 0
( 2 ) 12 + 42 = 0
( 2 13 + 42) = 0

12

Karena > 0
( 6)( 7) = 0
1 = 6

, 2 = 6

Solusi basisnya 1 = 6

, 2 = 7

Solusi umumya : = 1 1 + 2 2 = 1 6 + 2 7 .
Kesimpulan :
Jadi, solusi umum dari persamaan sistem gerak benda pada pegas dengan
peredam adalah = 1 6 + 2 7 .
B. Sistem Teredam Kritis (critically damped), ( = )
Pada sistem teredam kritis 2 = 4 sehingga akar-akar persamaan
karakteristik sama yaitu :
1,2 =

Persamaan solusinya:

= (1 + 2 ) (2)

Gambar 7. Gerak Benda pada Sistem Gerak Bebas Teredam Kritis (1 , 2


positif)

13

Gambar 8. Program MATLAB untuk Gambar 7

Gambar 9. Gerak Benda pada Sistem Gerak Bebas Teredam Kritis (2


negatif)

14

Gambar 10. Program MATLAB untuk Gambar 9


Contoh Kasus 3 (Pengaruh Peredaman : Sistem Teredam Kritis (critically
damped)) :
Sebuah sistem gerak benda pada pegas dengan peredam dimodelkan oleh
persamaan berikut :
2

+
2
+ =0
2

Tentukan solusi umum dari persamaan yang diberikan !


Penyelesaian :
Syarat sistem teredam kurang yaitu 2 4 = 0, berdasarkan kasus diatas
diketahui = 1, = 2 dan = 1 maka :
2 4 < 0 (2)2 4.1.1 = 0 4 4 = 0 0 = 0
1

Akar-akar persamaan karakteristik adalah: 1,2 = 2


1

Solusi umum persamaan gerak benda: = 2 ( cos

3
2

+ sin

3
)
2

Kesimpulan :
Jadi, solusi umum dari persamaan sistem gerak benda pada pegas dengan
1

peredam adalah = 2 ( cos

+ sin

3
)
2

C. Sistem Teredam Lebih (Over-damped), ( > )


Pada sistem teredam lebih 2 > 4 sehingga akar-akar persamaan
karakteristiknya adalah :

15

1,2 =

2 4
2

Solusi umum persamaan gerak pada system teredam lebih adalah :


() = 1 1 + 2 2
Pada kenyataan nilai 1,2 < 0 seehingga untuk maka () = 0, jika kita
turunkan, yaitu :
() = 1 1 1 + 2 2 2
= 1 (1 1 + 2 2 (2 1) )
Maka () = 0 hanya jika (1 1 + 2 2 (2 1) ) = 0
Jadi secara umum gerak benda pada pegas pada sistem teredam lebih
mempunyai perilaku yang sama dengan system teredam kritis, yaitu
maka () = 0 dan hanya memiliki satu titik puncak maksimum dan minimum
pada > 0.
Contoh Kasus 4 (Pengaruh Peredaman : Sistem Teredam Lebih
(overdamped)) :
Sebuah sistem gerak benda pada pegas dengan peredam dimodelkan oleh
persamaan berikut :
2

+ 7
+ 5 = 0
2

Tentukan solusi umum dari persamaan yang diberikan !


Penyelesaian :
Syarat sistem teredam kurang yaitu 2 4 < 0, berdasarkan kasus diatas
diketahui = 2 , = 7 dan = 5 maka :
2 4 > 0 (7)2 4. 2 . 5 > 0 49 2 20 2 > 0 29 2 > 0
Kasus diatas kita selesaikan menggunakan metode Cauchy-Euler dengan
substitusi ( + ) = .
Misal = ( + ) karena = 0, maka permasalahan menjadi =
Jika = maka

2 ((

1)

2 )

= 1 , 2 = ( 1) 2 , subtitusikan ke soal :

+ 7( 1 ) + 5 = 0

( 2 ) 2+ + 7 1+1 + 5 = 0
( 2 ) + 7 + 5 = 0

16

( 2 + 6 + 5) = 0
Karena > 0
( + 5)( + 1) = 0
1 = 5

, 2 = 1

Solusi basisnya 1 = 5

, 2 = 1

Solusi umumya : = 1 1 + 2 2 = 1 5 + 2 1
Kesimpulan :
Jadi, solusi umum dari persamaan sistem gerak benda pada pegas dengan
peredam adalah = 1 5 + 2 1 .
2.2. Rangkaian Listrik RLC
2.2.1. Rangkaian LC Seri
Rangkaian LC seri dengan sumber baterai E volt digambarkan pada
Gambar 11. Dengan hokum Tegangan Kirchoff didapatkan model persamaan
pada Gambar 11, yaitu:
+ =
dengan:

adalah tegangan pada induktor L yaitu L


1

adalah tegangan kapasitor C yaitu


diketahui bahwa =

dengan Q adalah muatan dalam Coulomb. Sehingga

model persamaan dapat dituliskan:

1
+ =

untuk menghilangkan tanda integral, persamaan dideferensialkan, maka:

(E)
( ) + =

2
1

2 + =
(E)

17

Gambar 11. Rangkaian LC seri


Model persamaan untuk Gambar 11. dapat juga dinyatakan dalam muatan Q(t),
yaitu:

I
1
+ = E


1
( ) +
= E

2
1
+ = E
2

Kasus A. Jika sumber baterai = ( () = )


Model persamaan rangkaian dinyatakan sebagai:
2
1
2 + = E

atau
2
1
+
= 0
2

penyelesaian persamaan homogen orde-2 di atas adalahpersamaan karakteristik


dari PD di atas:
2 +

1
=0

akar-akar persamaan karakteristik:


1,2 =
sehingga penyelesaian umum PD

18

= 1 () + 2 () = cos + sin
dengan 1 , 2 , , = ; = maka:
() = cos

1
1
+ sin

Contoh Kasus 5 (Rangkaian LC Seri E = 0):


Tentukan

kuat

arus

I(t)

rangkaian

LC

jika

= 0,2 , =

0,05 , = 0 !
Penyelesaian :
Model persamaan rangkaian LC :

2 1
2
1
2
1
+

=
0

=
0

+
=0
2
2
2

0,2 0,05
2
2 + 100 = 0

Persamaan karakteristiknya : 2 + 100 = 0 1,2 = 10


Solusi umum : () = cos 10 + sin 10
Kesimpulan : Jadi, kuat arus rangkaian LC () = cos 10 + sin 10
Kasus B. Jika sumber baterai E = konstanta
Menentukan kuat arus I(t) untuk kasus ini berdasarkan model persamaan
diferensial Q(t), selanjutnya I(t) didapatkan dari hubungan =

. Model

persamaan rangkaian untuk Q (t) dinyatakan sebagai:


2

2 + =
atau
2
1

+
=
2

persamaan di atas adalah PD tak homogen orde-2, penyelesaiannya disebut


penyelesaian lengkap terdiri atas penyelesaian homogen dan penyelesaian
takhomogen.
Penyelesaian Homogen:
2
1
+
=0
2

persamaan karakteristik dari PD di atas:

19

2 +

1
=0

akar-akar persamaan karakteristik:


1,2 =

penyelesaian homogen:
1
1
() = cos + sin

Penyelesaian Takhomogen:
2
1
+
=0
2
dengan menggunakan metode koefisien taktentu
() =

() = 0

substitusi () = 0 pada PD, yaitu:


1

0 =

0 =
jadi penyelesaian tak homogen adalah
() =
Penyelesaian lengkap
1
1
() = () + () = cos + sin +

Contoh Kasus 6 (Rangkaian LC Seri E = Konstanta) :


Jika pada kasus LC diatas diketahui = 100 , kuat arus (0) = 0, dan
muatan (0) = 0. Tentukan solusi khusus () !
Penyelesaian :
Model persamaan rangkaian menggunakan fungsi (), karena jika dipakai
model fungsi () maka subtitusi (0) untuk mendapatkan solusi khusus,
yaitu dengan integrasi solusi umum () akan menghasilkan konstanta baru,
sehingga solusi khusus () tidak dapat ditentukan. Model persamaan
rangkaian LC seri kasus diatas dalam fungsi () :

20

2
1

2
+

+ 100 = 500
2

2
2

Solusi homogen : =

+ 100 = 0

Persamaan karakteristiknya 2 + 100 = 0 1,2 = 10


Solusi umum : = cos 10 + sin 10
Solusi tak homogen () = 500 () = 0
Subtitusi () = 0 :

2
2

+ 100 = 500 0 + 1000 = 500 0 = 5

Solusi () = 5
Maka solusi umum = + = cos 10 + sin 10 + 5
= = 10 sin 10 + 10 cos 10
Subtitusi nilai (0) = 0
0 = cos 10(0) + sin 10(0) + 5
0=+5
= 5
Subtitusi nilai (0) = 0
0 = 10 sin 10(0) + 10 cos 10(0)
0 = 10
=0
Kesimpulan :
Jadi, solusi khususnya () = 5 cos 10 + 5 = 5 5 cos 10
Kasus C. Jika sumber baterai =
Model persamaan rangkaian untuk Q (t) dinyatakan sebagai:

2 1
+ = 0 cos
2
atau

2
1
0 cos
+
=
2

Penyelesaian model persamaan di atas adalah penyelesaian lengkap muatan


fungsi waktu, terdiri atas penyelesaian homogen dan penyelesaian
takhomogen.
Penyelesaian Homogen:

21

2
1
+
=0
2

persamaan karakteristik dari PD di atas:


2 +

1
=0

akar-akar persamaan karakteristik:


1,2 =

penyelesaian homogen:
1
1
() = cos + sin

atau
() = cos (

1
)

jika 0 2 = , maka
() = cos(0 )
Penyelesaian Takhomogen:
2
1
0 cos
+

=
2

dengan menggunakan metode koefisien taktentu


0 cos

() = cos + sin
() = cos + sin
() = 2 cos 2 sin

substitusi , " ke persamaan didapatkan:


1
0
( cos + sin ) = cos

0
( 2 ) cos + ( 2 ) sin = cos

2 cos 2 sin +

dengan menyamakan koefisiennya maka:


(

1 2
0
0
) =
=
(1 2 )

22

jadi solusi takhomogen adalah:


0
:
cos

(1 2 )
:

() =
=

0
1
( 2 )

cos

jika didefinisikan 0 2 = , sehingga:


() =

0
cos
(0 2 )
2

Penyelesaian lengkap:
() = () + () = cos(0 ) +

0
cos
(0 2 )
2

Keluaran ini menggambarkan superposisi dua gelombang cosinus dengan


frekuensi selaras yang disebut sebagai frekuensi dasar/alamiah (natural
frequency) besarnya
Amplitudo maksimum pada persamaan gelombang keluaran adalah:
= (

0
0

2 2 )

dengan = (

1
0

2 2 )

disebut factor resonasi


Amplitudo maksimum ini tergantung pada 0 , dan akan terjadi jika 0 =
(disebut resonasi).
Jika terdapat kondisi awal yaitu Q(0)=0 dan Q(0)=0 maka persamaan lengkap
menjadi:
Untuk kondisi awal (0) = 0:
0
cos
(0 2 2 )

() = cos(0 ) +
0 = cos(0 ) +

0
cos 0
(0 2 2 )

cos(0 ) =

0
(0 2 )
2

Untuk kondisi awal (0) = 0


() = sin(0 ) +
0 = sin(0 ) +

0
sin
(0 2 )
2

0
sin 0
(0 2 )

23

sin() = 0
Sehingga jika:
cos(0 ) = cos 0 cos + sin 0 sin
dengan substitusi cos = (

0
0

2 2 )

cos(0 ) =

dan sin() = 0

0
cos 0
(0 2 2 )

sehingga:
() = cos(0 ) +

0
cos
(0 2 2 )

0
0
cos 0 +
cos
2
2
(0 )
(0 2 )
2

0
(cos cos 0 )
(0 2 )
2

jika cos cos = 2 sin


() =

+
2

sin

(buktikan!) maka:

20
0 +
sin

2
2
(0 )
2

Kasus D. Jika sumber baterai = dengan =


Model persamaan rangkaian untuk Q (t) dinyatakan sebagai:

2 1
+ = 0 cos
2
atau

2
0 cos
+ 2 =
2

Penyelesaian Homogen:
2
+ 2 = 0
2
persamaan karakteristik dari PD di atas:
2 + 2 = 0
akar-akar persamaan karakteristik:
1,2 =
penyelesaian homogen:
() = cos + sin atau () = cos( )

24

Penyelesaian Takhomogen:
2
0 cos
+ 2 =
2

dengan menggunakan metode koefisien taktentu aturan modifikasi maka


bentuk solusi partikular
() = ( cos + sin )
() = cos sin + sin cos
() = sin sin 2 cos + cos
+ cos 2 sin
= 2 sin 2 cos + 2 cos 2 sin
substitusi , ke persamaan didapatkan:
2 sin 2 cos + 2 cos 2 sin
0 cos

0 cos
(2) cos + (2) sin =

+ 2 ( cos + sin ) =

dengan menyamakan koefisiennya maka:


2 =

0
0
=

2 = 0 = 0
jadi solusi takhomogen adalah:
() = ( cos + sin ) =

0
sin
2

Penyelesaian lengkap:
() = () + () = () = cos(0 ) +

0
sin
2

2.2.2. Rangkaian RLC seri


Rangkaian RLC seri dengan sumber baterai E volt digambarkan pada
Gambar 12. Model persamaan rangkaian didapatkan dengan hukum Tegangan
Kirchoff, yaitu:
+ + =
dengan:
adalah tegangan pada resistor R yaitu RI

adalah tegangan pada induktor L yaitu L

25

adalah tegangan pada kapasitor C yaitu


diketahui bahwa =

dengan Q adalah muatan dalam Coulomb.

Gambar 12. Rangkaian RLC Seri


Model persamaan rangkaian dapat dinyatakan sebagai:

+ + =
untuk menghilangkan tanda integral, persamaan dideferensialkan, maka:
2

2 + +

= ()

Model persamaan untuk Gambar 38 dapat juga dinyatakan dalam muatan Q(t),
yaitu:

2 + +

= ()

Kasus A. Jika sumber baterai = ( () = )


Model persamaan rangkaian dinyatakan sebagai:
2

2 + + = 0

penyelesaian persamaan homogen orde-2 di atas adalah persamaan


karakteristik dari PD di atas:
2 + +

1
=0

akar-akar persamaan karakteristik:

1,2 =

2 4
2

sehingga penyelesaian umum PD


Terdapat tiga kemungkinan akar-akar nilai :

26

1. Jika 2 4L/ > 0 , maka adalah dua akar Real yang berbeda dengan
1,2 R maka solusi umumnya:
= 1 1 + 2 2

2. Jika 2 4L/ = 0 , maka r1 = r2 = r dengan 1,2 R, maka solusi


umumnya:
= 1 1 + 2 2

3. Jika 2 4L/ < 0 ,maka 1,2 = i dengan , R maka


solusi umumnya:
= 1

+ 2

dengan rumus Euler, yaitu = cos + sin bentuk trigonometri rumus


dapat ditentukan:
= 1

+ 2

= cos + cos ,

dan konstanta bilangan kompleks


Kasus B. Jika sumber baterai

() =

Model persamaan rangkaian dinyatakan sebagai :


2

2 + + = 0 cos
Penyelesaian model persamaan di atas terdiri atas penyelesaian homogen dan
penyelesaian tak homogen.
Untuk penyelesaian homogen sama dengan penyelesaian pada kasus A.
Penyelesaian Tak Homogen:
2

2 + + = 0 cos
dengan menggunakan metode koefisien taktentu aturan modifikasi maka
bentuk solusi partikular :
() = cos + sin
() = sin cos
() = 2 cos + sin
substitusi , ke persamaan, maka didapatkan:
=

= (20+2 )

Jadi hasil dari penyelesaian tak homogen adalah:

27

() = [

] cos + [

] sin

(2 + 2 )

( + )

Contoh Kasus 7 (Rangkaian RLC Seri 1) :


Tentukan muatan sebagai fungsi waktu dalam rangkaian RLC seri jika
1

= 13 , = 2 2 , = 15 dan = 0 . Dimana R dan L


masih dalam bentuk fungsi .
Penyelesaian :
Model persamaan rangkaian LC :
2
1
2 +
+ = ()


Berdasarkan kasus diatas, maka diperoleh :
2

2
+ 13
+ 15 = 0
2

Kasus diatas kita selesaikan menggunakan metode Cauchy-Euler dengan


substitusi ( + ) = .
Misal = ( + ) karena = 0, maka permasalahan menjadi =
Jika = maka
2

2 ((

1)

2 )

= 1 , 2 = ( 1) 2 , subtitusikan ke soal :

+ 13( 1 ) + 15 = 0

2( 2 ) 2+ + 13 1+1 + 15 = 0
2( 2 ) + 13 + 15 = 0
(2 2 + 11 + 15) = 0
Karena > 0
(2 + 5)( + 3) = 0
1 =

5
2

, 2 = 3
5

Solusi basisnya 1 = 2

, 2 = 3
5

Solusi umumya : = 1 1 + 2 2 = 1 2 + 2 3 .
Kesimpulan :
Jadi, solusi umum dari persamaan sistem gerak benda pada pegas dengan
5

peredam adalah = 1 2 + 2 3.

28

Contoh Kasus 8 (Rangkaian RLC Seri 2) :


Tentukan muatan dan I sebagai fungsi waktu dalam rangkaian RLC seri
jika

= 16 , = 0,02 , = 2 104 dan = 12 .

Anggaplah pada saat = 0, arus I = 0 dan muatan kapasitor Q = 0 !


Penyelesaian :
Persamaan yang digunakan untuk menyelesaikan kasus ini:
2
1
2 +
+ = ()


Berdasarkan kasus diatas, maka diperoleh :
0,02

1
+ 16
+
= 12
2

2 104

+ 800
+ 250.000 = 600
2

Penyelesaian persamaan homogen :


Persamaan karakteristiknya
2 + 800 + 250.000 = 0 1,2 = 400 300
Solusi umum :
= 400 (1 cos 300 + 2 sin 300)
Penyelesaian tak homogen :
Dengan menggunaan metode koefisien taktentu, maka:

2
=
=0
=0

2
Substitusi =

=0

2
2

= 0 ke persamaan :

+ 800
+ 250.000 = 600
2

Menghasilkan = 2,4 103


Maka solusi umum = + = 400 (1 cos 300 + 2 sin 300) +
2,4 103

29

= = 400 400 (1 cos 300


+ 2 sin 300) + 400 (3001 sin 300 + 2 sin 300)
Subtitusi nilai (0) = 0
0 = 2,4 103 + 1 1 = 2,4 103
4
0 = 4001 + 3002 2 = 1 = 3,2 10
3
Subtitusi nilai (0) = 0
0 = 400 400(0) (1 cos 300(0)
+ 2 sin 300(0)) + 400(0) (3001 sin 300(0)
+ 2 sin 300(0))
4
0 = 4001 + 3002 2 = 1 = 3,2 103
3
Kesimpulan :
Jadi, solusi khususnya () = 400 (2,4 103 cos 300 + 3,2
10 sin 300) + 2,4 103
Atau () = 103 [2,4 400 (2,4 cos 300 + 3,2 sin 300)]

30

BAB III
LATIHAN SOAL DAN PEMBAHASAN

3.1. Latihan Soal Persamaan Diferensial Orde Dua Cauchy-Euler


1. Tentukan persamaan karakterisik pada persamaan Cauchy-Euler jika = 1
dan = 0 !
2. Carilah solusi dari

2 1.5 1.5 = 0
3

3. Tentukan penyelesaian PD berikut: + + 2 = 0


4. Tentukan penyelesaian persamaan diferensial berikut :
3(2 5) (2 5) + 2 = 0
5. Cari solusi umum dari persamaan diferensial berikut :
2 2 + 5 + 3 = 0
6. Cari solusi umum dari persamaan diferensial berikut gunakan substitusi
= untuk mendapatkan solusi umum dengan > 0 , 2 () +
6 () + 6() = 0
7. Cari solusi umum dari persamaan diferensial berikut gunakan substitusi
= untuk

mendapatkan solusi umum dengan > 0 : 2 2 () +

13 () + 15() = 0
8. Cari solusi umum persamaan diferensial berikut gunakan substitusi dari
bentuk = ( ) untuk mendapatkan solusi umum dengan > ,
2( 3)2 () + 5( 3) () 2() = 0
9. Cari solusi umum persamaan diferensial berikut gunakan substitusi dari
bentuk = ( ) untuk mendapatkan solusi umum dengan >
, 4( + 2)2 () + 5() = 0
10. Cari solusi umum persamaan diferensial berikut gunakan variasi parameter
untuk mendapatkan solusi umum dengan > 0 , 2 () 2 () +
2() =

1
2

31

3.2. Pembahasan Soal Persamaan Diferensial Orde Dua Cauchy-Euler


1. Penyelesaian:
Persamaan Cauchy-Euler: ( + )2 + 1 ( + ) + 0 = 0
Jika = 1 dan = 0 maka persamaan menjadi =() + 1 () +
0 = 0
Persamaan kharakteristiknya:
2 2 + (1 2 ) + 0 = 0
2 2 + (1 1) + 0 = 0
2. Penyelesaian:
= ; = 1,5 dan = 1,5
( 1) + = 0
2 + (1.5 1) 1.5 = 0
2 2.5 1.5 = 0
m2 - 2.5m - 1.5 = 0
Akar-akar persamaannya :
1 = -0.5 dan 2 = 3
1 = 1 = (0.5) = 1/(
1 = 1 = 3
Maka solusi umumnya adalah :
= [1 /()] + 1 3
3. Penyelesaian:
Misal solusi umum PD y = dengan =
Persamaan kharakteristiknya : 2 + 2 + 1 = 0 , 1,2 = 1
Penyelesaian umum PD :
= 1 [1 + 2 ln()]
4. Penyelesaian:
Misal solusi umum PD = dengan = (2 5)
Persamaan kharakteristik : 62 7 + 1 = 0, 1 = 1 , 2 = 6
1

Penyelesaian umum PD adalah = 1 (2 5) + 2 (2 5)6


5. Penyelesaian:

32

Persamaan kharakteristiknya :
22 + (5 2) + 3 = 0
22 7 + 3 = 0
1
, 2 = 3
2
Karena akar-akar kharakteristiknya berbeda maka solusi umum persamaan
(2 1)( 3) = 0 , 1 =

diferensial ini adalah : = 1 1 + 2 2


1

= 1 6 + 1
6. Penyelesaian:
= 1, = 6, = 6
[]() = [ 2 + (6 1) + 6]
= [ 2 + 5 + 6]
2 + 5 + 6 = 0
( + 2)( + 3) = 0
1 = 2 2 = 3
Jadi, solusi umum :
() = 1 2 + 2 3
7. Penyelesaian:
= 2, = 13, = 15
[]() = [2 2 + (13 2) + 15]
= [2 2 + 11 + 15]
2 2 + 11 + 15 = 0
(2 + 5)( + 3) = 0
5

1 = 2 = 3
2

Jadi, solusi umum :


5

y(x) = C1 x 2 + C2 x 3 atau y(x) = x2 1 x +

8. Penyelesaian:
Misalkan = 3 = + 3
= , 2 = 2
Maka 2 2 () + 5 () 2() = 0
a = 2, b = 5, c = -2

33

C2
C3

, x>0

[]() = [2 2 + (5 2) 2]
= [2 2 + 3 2]
2 2 + 3 2 = 0
3

2 + 2 1 = 0
1

( + 2) ( )
2
1

1 () = 2 2 () = 2
Jadi, solusi umum :
1

() = 1 2 + 2 2 , >
1

( 3) = 1 ( 3)2 2 ( 3)2 , >


9. Penyelesaian:
Misalkan = + 2 = 2
= , 2 = 2
Maka 4 2 () + 5() = 0
a = 4, b = 0, c = 5
[]() = [4 2 + (0 4) + 5]
= [4 2 4 + 5]
4 2 4 + 5 = 0
1,2 =
=
=

2 4
2
(4)(42 )4.4.5
2.4
464
8
1

=2
1

1 () = 2 (ln ) 2 () = 2 (ln )
Jadi, solusi umum :
() = 1 (ln ) + 2 (ln ) , >
( + 2) = 1 + 2 (ln( + 2)) + 2 + 2
(ln( + 2)) , >
10. Penyelesaian:

34

a = 1, b = -2, c = 2
[]() = [ 2 + (2 1) + 2]
= [ 2 3 + 2]
2 3 + 2 = 0
( 1)( 2) = 0
1 = 1 2 = 2
= 1 + 2 2
Mencari :
2 () 2 () + 2() =

1
2

2
2
5
() () + 2 () = 2

= 1 + 2 2
1 + 2 2 = 0
1 + 22 =

1 + 2 2 = 0
5
2

1 + 22 2 =
2 2 =

3
2

2 =
1 =

5
2

1 =
=

5
2

2 =

2
3

7
2
5

= 5 2

= 1 + 2 2
2 3
2 5
= ( 2 ) + ( 2 ) 2
3
5
2

= (3 2 ) + ( 5 2 )
= 15 2
Jadi, solusi umum :
() = +

35

3
2

7
2

() = 1 + 2 2 + 15 2

36

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. Tanpa tahun. Penerapan Persamaan Diferensial Biasa Orde II pada


Fisika (Online). (http://dokumen.tips/education/aplikasi-persamaandifferensial-biasa-orde-2.html). Diakses tanggal 2 Juni 2016.
Anonymous.

Tanpa

Tahun.

Persamaan

Cauchy-Euler

(Online).

(http://www.scribd.com/doc/76055071/Cauchy-Euler#download).
Diakses tanggal 2 Juni 2016.
Baiduri. 2001. Persamaan Diferensial & Matematika Model. Malang : UMM Press.
Maulana.

2014.

Bab

Aplikasi

PD

Tingkat

(http://maulana.lecture.ub.ac.id/). Diakses tanggal 2 Juni 2016.

iii

Dua

(Online).