Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai konsekuensi atas terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia
nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(SNP), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan
berbagai peraturan agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat memenuhi acuan atau standar
tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi
lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)
standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan,
dan (8) standar penilaian pendidikan.
Dalam pencapaian standar isi (SI) yang memuat standar kompetensi (SK)
dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui
pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya
mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) setelah menyelesaikan pembelajaran
pada satuan pendidikan tertentu secara tuntas. Agar peserta didik dapat mencapai
SK, KD, maupun SKL yang diharapkan, perlu didukung oleh berbagai standar
lainnya, antara lain standar proses dan standar pendidik dan tenaga kependidikan.
Untuk membantu peserta didik mencapai berbagai kompetensi yang
diharapkan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik. Analisis terhadap standar kompetensi dan
kompetensi dasar juga merupakan bagian sangat penting dalam mendukung
keseluruhan komponen dari materi ajar tersebut.
Penjabaran SK dan KD sebagai bagian dari pengembangan kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) dilakukan melalui pengembangan silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran secara umum

dengan mengembangkan SK-KD menjadi indikator, materi ajar, kegiatan


pembelajaran, sumber belajar dan penilaian. Sebagai bagian dari langkah
pengembangan silabus, pengembangan indikator merupakan langkah strategis
yang berpengaruh pada kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan guru dan
sekolah dalam mengembangkan indikator berpengaruh pada kualitas kompetensi
peserta didik di sekolah tersebut.

Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru


diharapkan mengembangkan materi ajar, yang kemudian dipertegas malalui
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007
tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses
pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk
mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen
dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan untuk
mengembangkan materi ajar sebagai salah satu

sumber belajar dan acuan

pembelajaran.
Selain itu, pada lampiran Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, juga diatur tentang berbagai
kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik, baik yang bersifat kompetensi inti
maupun kompetensi mata pelajaran. Bagi guru pada satuan pendidikan jenjang
Sekolah Menengah Atas (SMA), baik dalam tuntutan kompetensi pedagogik
maupun kompetensi profesional, berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam
mengembangkan sumber belajar dan materi ajar.
Oleh karena itu, disamping sebagai implementasi dari Permendiknas
nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen
Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran - Dit. PSMA
(yang antara lain disebutkan bahwa melaksanakan penyiapan bahan penyusunan
pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman
pelaksanaan kurikulum) dipandang perlu menyusun panduan bagi guru SMA
sehingga dapat dijadikan salah satu referensi dalam pengembangan materi ajar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, adapun rumusan masalah yang
dipelajari dalam penyusunan materi ajar adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana identifikasi Kompetensi Isi dan Kompetensi Dasar?


Bagaimana identifikasi jenis-jenis materi ajar?
Bagaimana merumuskan indikator pembelajaran?
Bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran?
Bagaimana contoh penyusunan materi pembelajaran?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui identifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.


Mengetahui identifikasi jenis-jenis materi ajar.
Mengetahui cara merumuskan indikator pembelajaran.
Mengetahui cara merumuskan tujuan pembelajaran.
Mengetahui contoh penyusunan materi pembelajaran.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Identifikasi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
Sebelum menentukan materi ajar terlebih dahulu perlu di identifikasi aspekaspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta didik.
Aspek tersebut perlu ditentukan, karena sebagai pendukung pencapaian
Kompetensi Inti, KD dikelompokkan menjadi 4 (empat) sesuai dengan rumusan
Kompetensi Inti yang didukungnya yaitu:
1. Kelompok KD sikap spritual (mendukung KI-1)
2. Kelompok KD sikap sosial (mendukung KI-2)
3. Kelompok KD pengetahuan (mendukung KI-3)
4. Kelompok KD keterampilan (mendukung KI-4)
Berdasarkan pengelompokan sebelumnya, diketahui bahwa KI-1 dan KI-2
merupakan ranah afektif, KI-3 merupakan ranah kognitif dan KI-4 merupakan
ranah psikomotorik.
Uraian KD yang rinci ini adalah untuk memastikan bahwa capaian
pembelajaran tidak berhenti sampai pada pengetahuan saja, melainkan harus
berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap. Melalui KI tiap mata
pelajaran ditekankan bukan hanya memuat kandungan pengetahuan saja, tetapi
juga memuat kandungan proses yang berguna bagi pembentukan keterampilannya.
Selain itu juga memuat pesan tentang pentingnya memahami mata pelajaran
tersebut sebagai bagian dari pembentukan sikap. Hal ini penting mengingat
kompetensi pengetahuan sifatnya dinamis karena pengetahuan masih selalu
berkembang. Kemampuan keterampilan akan bertahan lebih lama dari kompetensi
pengetahuan, sedangkan yang akan terus melekat pada dan akan dibutuhkan oleh
peserta didik adalah sikap. Kompetensi dasar dalam kelompok Kompetensi Inti
sikap (KI-1 dan KI-2) bukanlah untuk peserta didik karena kompetensi ini tidak
diajarkan, tidak dihafalkan dan tidak diujikan, tetapi sebagai pengangan bagi
pendidik bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut ada pesan- pesan
spritual dan sosial sangat penting yang terkandung dalam materinya. Dengan kata
lain, KD yang berkenaan dengan sikap spiritual (mendukung KI-1) dan

individual-sosial

(mendukung

KI-2)

dikembangkan

secara inderect

teaching (tidak langsung) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang
pengetahuan (mendukung KI-3) dan keterampilan (mendukung KI-4). Hal ini
diuraikan dalam lampiran 4 Permendikbud No. 81 A tahun 2013 tentang
Implementasi Kurikulum 2013. Untuk memastikan keberlanjutan penguasaan
kompetensi, proses pembelajaran dimulai dari kompetensi pengetahuan, kemudian
dilanjutkan menjadi kompetensi keterampilan dan berakhir pada pembentukan
sikap.
B. Identifikasi Jenis-jenis Materi Pembelajaran
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi ajar dengan
tingkatan aktivitas atau ranah pembelajarannya. Materi yang sesuai untuk ranah
kognitif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek intelektual,
seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Dengan demikian,
jenis materi yang sesuai untuk ranah kognitif secara terperinci yaitu: fakta,
konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987).
1.

Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama


tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau
komponen suatu benda, dan lain sebagainya.

2.

4
Materi konsep berupa pengertian,
definisi, hakekat, inti isi.

3.

Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium,


paradigma, teorema.

4.

Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu


secara urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur
asin atau cara-cara pembuatan bel listrik.
Materi ajar yang sesuai untuk ranah afektif ditentukan berdasarkan perilaku

yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan
cara penyesuaian diri. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk ranah
afektif meliputi rasa dan penghayatan, seperti pemberian respon, penerimaan,
internalisasi, dan penilaian.
Materi ajar yang sesuai untuk ranah psikomotor ditentukan berdasarkan
perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik. Dengan demikian, jenis
materi yang sesuai untuk ranah psikomotor terdiri dari gerakan awal, semirutin,

dan rutin. Misalnya tulisan tangan, mengetik, berenang, mengoperasikan


komputer, mengoperasikan mesin dan sebagainya.
Materi yang akan dibelajarkan

perlu diidentifikasi

secara tepat agar

pencapaian kompetensinya dapat diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi


jenis-jenis materi yang akan dibelajarkan, maka guru akan mendapatkan ketepatan
dalam metode pembelajarannya. Sebab, setiap jenis materi ajar memerlukan
strategi, metode, media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda. Misalnya metode
pembelajaran materi fakta atau hafalan bisa menggunakan jembatan keledai,
jembatan ingatan (mnemonics), sedangkan metode pembelajaran materi
prosedur dengan cara demonstrasi.
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi ajar yang akan
dibelajarkan adalah dengan cara mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar
yang harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita
akan mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa fakta, konsep,
prinsip, prosedur, aspek sikap, atau keterampilan motorik.
Berikut adalah pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis materi
ajar.
1. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau
jawabannya ya maka materi ajar yang harus diajarkan adalah fakta.
Contoh: Nama dan lambang zat kimia, nama-nama organ tubuh manusia.
2. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu,
mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai
dengan suatu definisi? Kalau jawabannya ya berarti materi yang harus
diajarkan adalah konsep. Contoh : Seorang guru Biologi menunjukkan
beberapa tumbuh-tumbuhan kemudian peserta didik diminta untuk
menglasifikasikan atau mengelompokkan mana yang termasuk tumbuhan
berakar serabut dan mana yang berakar tunggang.
3. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau
membuat sesuatu? Bila ya maka materi yang harus diajarkan adalah
prosedur. Contoh :

a.

Seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan membelajarkan bagaimana


proses penyusunan langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan dalam

b.

mewujudkan persamaan Hak Asasi Manusia.


Seorang guru Fisika menjelaskan tentang bagaimana membuat magnet
buatan. Seorang guru Kimia mengajarkan bagaimana membuat sabun

mandi.
1. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan
antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya ya, berarti materi ajar
a.

yang harus diajarkan termasuk dalam kategori prinsip. Contoh:


Seorang guru Matematika menjelaskan cara menghitung luas segitiga
menggunakan aturan Trigonometri. Rumus luas segitiga adalah setengah

b.

dari perkalian dua sisi berdekatan kali sinus sudut yang diapit.
Seorang guru Ekonomi menjelaskan hubungan antara penawaran dan
permintaan suatu barang dalam lalu lintas ekonomi. Jika permintaan naik

sedangkan penawaran tetap, maka harga akan naik.


5. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa memilih
berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka tidak
suka, indah tidak indah? Jika jawabannya Ya, maka materi pembelajaran
yang harus diajarkan berupa aspek sikap atau nilai. Contoh: Budi memilih
tidak menaati rambu-rambu lalulintas daripada terlambat ke sekolah walau
telah dibelajarkan pentingnya mentaati peraturan lalu lintas.
6. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
melakukan perbuatan secara fisik? Jika jawabannya Ya, maka materi
pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek motorik. Contoh: Dalam
pelajaran lompat tinggi, peserta didik diharapkan mampu melompati mistar
setinggi 125 centimeter. Materi ajar yang harus diajarkan adalah teknik
lompat tinggi.
Agar menjadi lebih jelas dalam mengidentifikasi materi ajar apakah
termasuk aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur), aspek afektif dan
aspek psikomotorik, berikut disajikan bagan alur (flowchart) langkah-langkah
penentuan

materi

ajar.

Selain

menggambarkan

langkah-langkah

yang

menunjukkan cara berpikir, diagram di bawah ini juga menunjukkan kata-kata


kunci untuk menentukan jenis atau tipe materi ajar dalam hubungannya dengan

perumusan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik.

Diagram 1. Proses Pemilihan Materi Ajar

Materi Ajar Fakta


Contoh:
Jenis-jenis binatang memamah biak, tanaman berbiji tunggal, nama-nama bu
Y fakta?
Nama, jenis. jumlah, tempat, lambang.
Apakah kompetensi dasar berupa mengingat

Materi Ajar Konsep.


Apakah kompetensi
Contoh :
Y adalah persegi panjang
dasar berupa mengemukakan definisi, menjelaskan,
mengklasifikasikan
?
Bujur sangkar
yang keempat sisinya
Kata kunci
Definisi, klasifikasi, identifikasi, ciri-ciri, aksioma

Pilih

Materi Ajar Prinsip.


Contoh :
Apakah
kompetensi kompetensi
dasar yangdasar
akanberupa
diajarkan
Jika
permintaan
sedangkan
penawaran tetap, maka har
menjelaskan hubungan
antara
berbagai
Y naik,
konsep,
sebab-akibat?
Kata kunci
Dalil, rumus, postulat
Hubungan, sebab-akibat, jika... maka.

Materi Ajar Prosedur.


Contoh:
Apakah
Cara
mengukur
suhu
badan
menggunakan termom
kompetensi dasar berupa menjelaskan langkah-langkah mengerjakan sesuatu prosedur tertentu?
Y
Kata kunci: Langkah-langkah
mengerjakan tugas secara uru

Materi Ajar Aspek Afektif/ Sikap


Contoh:
Apakah
jujur,
motivasi
tinggi,
minat
belajar besar, menjauhi perbu
Peserta didik diminta untuk memilih sikapSikap
tertentu
terhadap
suatu
obyek
kejadian?
Kata kunci: Sikap atau nilai
Y

Materi Ajar Aspek Psikomotorik


Contoh:
Apakah peserta didik diminta melakukanLompat
kegiatan
menggunakan
anggota
tinggi,lompat
galah,
lari 100 meter, berenang, tinju, pe
badan?
Kata kunci: Kegiatan fisik

10

C. Merumuskan Indikator Pembelajaran


Dalam Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses,
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan
penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang
mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Panduan Pengembangan
Indikator (Kemendiknas, 2010) menguraikan lebih lanjut pengertian Indikator
yang merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku
yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran,
satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskandalam kata kerja operasional
yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam mengembangkan indikator perlu
mempertimbangkan:
1. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan
dalam KD
2. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah
3. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata
kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal
yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.
Langkah

pertama

pengembangan

indikator

adalah

menganalisis

tingkat

kompetensi dalam KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal
kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Tingkat kompetensi dapat
dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam KD. Tingkat
kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan,
tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih
rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan
tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan. Klasifikasi tingkat kompetensi
untuk 3 ranah dapat dilihat secara rinci di Taksonomi Bloom. Dalam merumuskan
indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
1. Setiap KD dikembangkan sekurang- kurangnya menjadi tiga indikator.
Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam

11

kata kerja yang digunakan dalam KD.


2. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat
dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan
kebutuhan peserta didik.
3. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hierarki kompetensi
4. Rumusan indikator sekurang- kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat
kompetensi dan materi pembelajaran
5. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga
menggunakan kata kerja operasional yang sesuai
6. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator
penilaian yang mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan
(Dewi, 2015).
D. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Ada dua tingkat tujuan belajar yaitu umum/luas dan khusus/spesifik atau
TBU dan TBK. Sangat lazim bahwa tujuan belajar disebut juga tujuan
instruksional/pengajaran atau TIU dan TIK.
1. Tujuan Belajar Umum (TBU).
Tujuan ini bersifat umum dan luas, sehingga pencapaiannya tidak dapat
diukur secara' langsung karena tidak operasional/spesifik. TBU biasanya
dirumuskan dalam kata yang tidak operasional misalnya mahasiswa dapat
memahami, menguasai, merencanakan, membangun, menerapkan, mengevaluasi,
menganalisa, mempercayai, meyakini, mencintai. TBU berfungsi sebagai
perantara untuk mencapai tujuan mata kuliah. TBU disebut juga tujun terminal
(goal) dan dirumuskan dengan berorientasi pada kemampuan internal yang harus
dimiliki mahasiswa pada akhir kegiatan belajar untuk pokok bahasan tertentu
2. Tujuan Belajar Khusus (TBK).
Tujuan Belajar Khusus (TBK) merupakan penjabaran dan perantara
pencapaian TBU. Dari sebuah TBU dapat di.iabarkan menJadi beberapa TBK.
TBK disebut Juga tujuan perantara (enabling objective). TBK merupakan
perubahan tingkah laku hasil belajar atau kemampuan aktual yang khusus/spesifik
dan harus dapat ditampilkan atau diunjukkerjakan (performance). Hasil TBK yang
ditampilkan harus dapat diamati dan diukur secara langsung oleh dosen/guru.
Karenanya TBK harus dirumuskan dengan kata kerja aktif dan operasional,
misalnya

membaca,

menulis,

menghitung,

menggambar,

menyebutkan,

12

menjelaskan,

memilih,

membongkar,

merakit,

menjahit,

menghormati,

menghemat, menepati, menerima, merawat. Kriteria TBK yang baik antara lain
seperti berikut:
a.
b.
c.
d.

Menggunakan kata kerja operasional khusus,


Berbentuk tingkah laku yang dapat ditampilkan dan diamati,
Tiap TBK hanya mengandung satu tingkah laku,
Penampilan hasil belajar harus dapat diukur

Menurut Mager (1975) TBK harus memuat/ mempunyai komponenkomponen A, B, C dan D.


a. Audience, yaitu subyek belajar (siapa yang harus mencapai TBK itu?
Misalnya: mahasiswa, siswa, peserta latihan/penataran.
b. Behavior , merupakan tingkah laku khusus (berbentuk kata kerja aktif,
operasional dan spesifik).
c. Condition, yaitu kondisi yang dituntut pada saat subyek belajar
menampilkan/melakukan sesuatu sebagai hasil belajar. Misalnya harus
bekerja mandiri, tidak boleh membuka buku, boleh membuka buku,
tidak boleh menggunakan kalkulator, dengan alat-alat mesin, dengan
alat-alat tangan, diberikan bahan dan alat.
d. Degree, artinya derajat/ tingkat hasil belajar baik kuantitas maupun
kualitas. Misalnya persentase penguasaan paling rendah 80%, 85%,
90%, 95%, 100% ) sesuai dengan jenis pendidikan bidang profesi
yang bersangkutan, kecepatan, konsumsi waktu, memenuhi standar
pendidikan, tingkat ketelitian (Siswanto, 2008).
Contoh: Siswa kelas XII (A) dapat menjelaskan struktur tumbuhan berbiji
terbuka (B) melalui diskusi kelas (C) dengan benar (D).
E. Contoh Penyusunan Materi Pembelajaran
A. KOMPETENSI INTI
KI 1.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

KI 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab,


peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungansosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia..
KI 3. Memahami ,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,

13

prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,


teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan,
mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak
(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang)terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri,
dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
1.1.

Mengagumi keteraturan dan kompleksitasciptaan Tuhan tentang


keanekaragaman hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup.

1.1.1. Mengagumi ciptaan tuhan melalui kompleksitas yang dimiliki


makhluk hidup dengan mengucap hamdalah dan tasbih bagi yang
muslim.
2.1.

Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingintahu; objektif;


jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis;
kreatif; inovatifdan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari
sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan dan
berdiskusi.

2.1.1. Menunjukkan perilaku rasa ingin tahu, teliti, dan menghargai


orang lain.
3.3. Menerapkan pemahaman tentang virus berkaitan dengan ciri ,replikasi
dan peran virus dalam aspek kesehatan masyarakat.
3.3.1

Menganalisis ciri-ciri virus berkaitan dengan fenomena penyakit


yang di akibatkan oleh virus.

4.3. Menyajikan data tentang ,replikasi dan peran virus dalam aspek
kesehatan dalam bentuk model/ charta
4.3.1. Menyajikan data tentang ciri-ciri dalam bentuk charta.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN

14

1.1.1.1 Melalui kegiatan diskusi ciri-ciri virus berkaitan dengan fenomena


penyakit yang di akibatkan oleh virus, siswa dapat mengagumi ciptaan
Tuhan YME dengan mencucap hamdalah dan kalimat tasbih bagi yang
muslim.
2.1.1.1 Siswa menunjukkan perilaku rasa ingintahu, teliti dalam mengamati
ciri-ciri virus, dan menghargai orang lain ketika berdiskusi ciri-ciri
virus berkaitan dengan fenomena penyakit yang di akibatkan oleh
virus.
3.3.1.1 Siswa mampu menganalisi ciri-ciri virus berkaitan dengan fenomena
penyakit

yang

di

akibatkan

oleh

virus, dengan

melakukan

pembelajaran dengan model problem base learning.


Siswa dapat menyajikan data dalam bentuk charta secara tepat dari

4.3.1.1.

hasil analisis ciri-ciri virus berkaitan dengan fenomena penyakit yang


di akibatkan oleh virus.
D. MATERI PEMBELAJARAN
Ciri dan Struktur Virus
Apakah virus dikelompokkan sebagai makhluk hidup atau benda mati?
Jika berada di luar sel hidup, virus tidak dapat bergerak, tumbuh atau
bereproduksi sehingga di luar sel hidup virus dikelompokkan sebagai makhluk
tak hidup. Sebaliknya, jika virus ada di dalam sel makhluk hidup lain, seperti
tumbuhan, hewan, atau manusia, virus dapat tumbuh dan bereproduksi
sehingga dikatakan bahwa virus adalah makhluk hidup. Oleh karena itu, virus
dikategorikan sebagai peralihan dari makhluk tak hidup ke makhluk hidup.
Berikut adalah ciri-ciri umum yang dimiliki oleh virus.
a. Virus berukuran sangat kecil, berkisar 0,05Nm0,2Nm (1Nm = 1/1000mm).
Oleh karena itu, virus hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
elektron.
b. Tubuh virus terdiri atas selubung dan bahan inti. Bahan inti berupa RNA
(Ribonucleic acid) atau DNA (Deoxiribonucleic acid).
c. Virus tidak mempunyai membran dan organel-organel sel yang penting bagi
kehidupan.
d. Virus hanya dapat bereproduksi jika berada dalam sel hidup atau
jaringanhidup.
e. Virus dapat dikristalkan layaknya benda mati.Virus tersusun dari asam
nukleat, yaitu asam deoksiribonukleat (DNA) atau asam ribonukleat (RNA)
yang dibungkus oleh selubung protein yangdisebut kapsid.

15

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan kajian teori yang telah dipaparkan, maka simpulan yang
diperoleh antara lain:
1. Identifikasi kompetensi isi dan kompetensi dasar sangat penting
karena aspek keutuhan kompetensi harus dipelajari atau dikuasai
peserta didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena sebagai
pendukung pencapaian Kompetensi Inti, KD dikelompokkan menjadi
empat sesuai dengan rumusan Kompetensi Inti yang didukungnya
yaitu kelompok KD sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan
keterampilan.
2. Identifikasi jenis materi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi
ajar dengan tingkatan aktivitas atau ranah

pembelajarannya yaitu

ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.


3. Rumusan indikator dilakukan dengan sekurang-kurangnya mencakup
dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media
pencapaian kompetensi.
4. Tujuan pembelajaran didasarkan dari indikator yang akan dicapai dan
terdiri atas dua macam yaitu tujuan belajar umum (TBU) dan tujuan
belajar khusus (TBK).
B. Saran
Berdasarkan penyusunan makalah ini, bagi pembaca disarankan untuk dapat
memahami dan mengaplikasikan pengetahuan mengenai penyusunan bahan ajar di
dalam kehidupan sehari-hari.

16

16

DAFTAR RUJUKAN
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar.
Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Dewi, Nur. 2015. Merancang Pencapaian Kompetensi Dasar Melalui Perumusan
Indikator. Sulawesi Selatan: E-Buletin ed. Maret
Siswanto, Budi T. 2008. Perumusan Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta: Pelatihan
Peningkatan Kemampuan Tenaga Perencana Akademik bagi Dosen STTA
Yogyakarta

17