Anda di halaman 1dari 14

1 | Page

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika

STUDI TENTANG IKATAN PROTEIN


MENGGUNAKAN METODE DIALISIS DINAMIS
Annisa Haryati, Dea Astra Vina, Desi Romsiah, Ditria Putri, Megma Enucap, Mesri Winda,
Muhammad Ridwan, Putri Rahayu Oktalita, Risma Meilisa, Veni Azima Rahayu
Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sriwijaya
Email : farmasiunsri2014@gmail.com
ABSTRAK
Metode dialisis dinamis didasarkan pada laju hilangnya obat dari sel dialisis yang sebanding
dengan konsentrasi obat yang tidak terikat. Obat yang digunakan berupa terasiklin sebagai obat uji,
serum manusia, plasma manusia dan membran telur sebagai ikatan protein. Dalam plasma semua
jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi.Tetrasiklin akan
membentuk ikatan dengan protein plasma. Walaupun demikian, lama kerja suatu kelompok
senyawa tetrasiklin ini tidak ditentukan oleh ikatan proteinnya, melainkan ditentukan oleh sifat-sifat
kimia masing-masing senyawa. Tetrasiklin dapat berikatan dengan protein sebesar 65%.
.
Studi tentang ikatan protein ini dilakukan dengan menentukan pelepasan obat yang berupa
tetrasiklin berdasarkan berbagai interval waktu dengan menggunakan alat spektrofotometri UVVIS. Dari hasil evaluasi didapatkan bahwa terjadi ikatan antara tetrasiklin dengan protein pada
plasma darah yang ditandai adanya peningkatan absorbansi.
Kata kunci : Metode dialisis dinamis, Tetrasiklin, Studi ikatan protein
I.

PENDAHULUAN
II.
Konstanta disosiasi (pKa)
adalah
konstanta
yang
menunjukkan
kesetimbangan spesifik dari peristiwa yang
reversible, yaitu peristiwa molekul yang
berdisosiasi menjadi bentuk utuh atau ion
dalam suatu medium. Nilai ini merupakan
informasi karakteristik yang menggambarkan
status dari suatu senyawa apakah dalam
bentuk utuh atau terion, dalam suatu kondisi
pH lingkungan (Zhou et al., 2008).
Pengetahuan nilai pKa atau konstanta ionisasi
atau disosiasi sangat penting dalam
mengetahui kestabilan dan kelarutan optimum
dari suatu senyawa (Shargel et al., 2005).
III.
Larutan dari zat-zat yang
menunjukkan konduktansi yang baik dan
menandakan derajat disosiasi yang tinggi

dalam larutan digolongkan sebagai elektrolit


kuat. Sebaliknya, larutan dari zat-zat yang
hanya menunjukkan konduktivitas yang
lemah dan derajat disosiasi yang rendah
disebut elektrolit lemah. Ada beberapa metode
dalam menentukan nilai pKa suatu senyawa,
seperti
potensiometri,
spektrofotometri,
partisi, kromatografi cair, dan elektroforesis
kapiler (Babic et al., 2007).
IV.
Secara definitif, konstanta
disosiasi (Ka) adalah ukuran kuantitatif dari
kekuatan asam dalam larutan. Konstanta ini
sering digunakan dalam bentuk logaritmiknya
sebagai pKa, yang didapat dari log Ka.
Berdasarkan
persamaan
Henderson
Hasselbach, untuk senyawa asam lemah,
semakin besar nilai pKa, maka semakin kecil
disosiasi yang terjadi dalam berbagai pH (pH

2 | Page

dibawah pKa), dan semakin lemah


kecenderungannya untuk terion (Wade, 2003).
V.
Koefisien partisi adalah salah
satu faktor yang mempengaruhi distribusi
obat dalam tubuh. Setelah obat sampai ke
peredaran darah, obat harus menembus
sejumlah sel untuk mencapai reseptor.
Dimana koefisien partisi juga menentukan
jaringan mana yang dapat dicapai oleh suatu
senyawa. Senyawa yang sangat mudah larut
dalam air (hidrofilik) tidak akan sanggup
melewati membran lipid untuk mencapai
organ yang kaya akan lipid, misalnya otak
(Nogrady, 1992).
VI.
Asam salisilat merupakan
kelompok senyawa obat yang telah
dipergunakan secara luas karena memiliki
efek sebagai analgesik, antipiretik, dan
antiinflamasi. Turunan asam salisilat yang
paling umum digunakan adalah asam asetil
salisilat yaitu asetosal. Asetosal sering
digunakan untuk mengurangi sakit kepala,
inflamasi, nyeri sendi, juga beberapa
pengobatan serangan jantung dan stroke
(Fadeyi et al., 2004).
VII. Dapar atau larutan penyangga
adalah larutan campuran senyawa yang dapat
mempertahankan pH dari penambahan
senyawa asam atau basa. Jika suatu asam atau
basa ditambahkan pada dapar, maka pH tidak
berubah secara signifikan. Dapar biasa
digunakan sebagai medium jika dibutuhkan
suatu kondisi dengan pH yang terjaga.
Komponen dapar dapat berupa senyawa asam
lemah dengan basa konjugasinya atau basa
lemah dengan asam konjugasinya (Martin,
dkk., 1990). Cara kerja dapar adalah ketika
ion hidrogen ditambahkan pada larutan
penyangga sebagai asam, ion tersebut akan
ternetralisasi oleh basa, dan ion hidroksida
juga ternetralisasi oleh asam di dalam dapar
asam. Reaksi netralisasi ini tidak memberikan
pengaruh yang banyak terhadap pH dapar.
VIII.
IX.
X.

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika

XI.
XII. II.
METODOLOGI
PENELITIAN
XIII. Alat dan Bahan
XIV. Peralatan yang digunakan yaitu
spektrofotometer
UV-Vis,
magnetik
stirer,dialisis dinamis satup, timbangan
analitik, spatula,gelas ukur, gelas beker, labu
ukur, pipet tetes, benang, silinder kaca
terbuka, sentrifuga, kuvet.
XV.
Bahan yang digunakan yaitu
tetrasiklin, HCl 2,5 N, air suling,
plasma darah manusia 1 ml, serum
darah manusia 1 ml, membran
telur.
XVI.
XVII. Prosedur Kerja
XVIII. 1. Persiapan Larutan Stok Standar
XIX.
Larutan stok standar dibuat
dari tetrasiklin 100 mg yang
dilarutkan dalam 100 ml aquadest,
lalu ambil 10 ml larutan dan
encerkan sampai 100 ml.
XX. 2. Persiapan Larutan
XXI.
Pipet larutan stok standar 0,2;
0,4; 0,6; 0,8; 1 dan 1,5 ml ke
dalam labu ukur 10 ml dan atur
volume
untuk
mendapatkan
konsentrasi kisaran 2-15 g/ml.
XXII. 3. Pengukuran Absorbasi
XXIII.
Pengukuran absorbansi larutan
standar dilakukan pada panjang
gelombang 360 nm menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dan ukur
absorbansi air sebagai blanko.
Buat plot grafik absorbansi
terhadap konsentrasi dan tetukan
slop dan intersepnya.
XXIV. 4. Persiapan Membran Kulit Telur
XXV.
Membran kulit telur dapat
diperoleh dengan merendam telur
ayam mentah dalam larutan HCl
0,5 N atau 2,5 N, biarkan
cangkang telur terendam sampai
melunak
kemudian
pisahkan
bagian membran kulit telur dari

3 | Page

cangkangnya dengan melubangi


bagian
atas
telur
dan
mengeluarkan isinya. Memran
yang
telah
terpisah
dari
cangkangnya dicuci dengan air
suling hingga bersih.
XXVI. 5. Studi terhadap Ikatan ProteinTetrasiklin
XXVII.
Pengamatan dilakukan
menggunakan membran kulit telur
diikat pada salah satu ujung
silinder kaca terbuka sebagai
kompartemen protein dan gunakan
beker gelas 25 ml sebagai
kompaertemen non protein dan isi
dengan 20 ml air. Tempatkan obat
(1 mg/ml) dari 2ml ke dalam
tabung dan celupkan ke dalam
beker gelas, jaga larutan obat
secara tepat dimana terdapat air
pada kompartemen luar dan atur
posisi berdiri. Aduk menggunakan
magnetik
sitirer
pada
kompartemen non protein dan jaga
suhu pada 35C. Ukur absorbansi
larutan tetrasiklin dengan dipipet 1
ml sampel dan ganti dengan 1 ml
aquadest pada interval waktu 5,
10, 15, 30, 60, 90 menit
menggunakan
spektrofotometer
UV-Vis ( 360 nm). Ulangi
percobaan
diatas
dengan
menggunakan 1 ml plasma darah
manusia dan larutan obat (2
mg/1ml) dan persentase obat yang
terleas dengan periode waktu yang
sama. Ulangi kembali percobaan
menggunakan 1 ml serum darah
manusia dan larutan obat (2 mg/1
ml) dan tetukan presentase obat
yang terlepas. Buat plot grafik
antara persen pelepasan obat
kumulatif terhadap waktu.
XXVIII.
XXIX. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika

XXX. Pada studi kali ini membahas


tentang ikatan protein dengan obat
menggunakan metode dialysis dinamis.
Metode dialysis dinamis
menggunakan
dinamika
aliran
untuk
meningkatkan
kecepatan dan efisiensi dialysis. Mengedarkan
sampel dialysis menciptakan kemungkinan
gradient konsentrasi meningkat secara
signifikan sehingga mengurangi waktu
dialysis. Suatu obat dapat melakukan interaksi
dengan jaringan protein atau makromolekul
lain yang akan membentuk sormasi kompleks
obat dengan protein itulah yang disebut
dengan ikatan protein.
XXXI. Ikatan protein terdiri dari 2
proses, yaitu proses reversible (dapat balik /
bolak balik) dan irreversible (tidak dapat
balik). Ikatan obat dengan protein yang
melalui proses bolak balik menyatakan secara
tidak langsung bahwa obat mengikat protein
dengan suatu ikatan kimia yang lemah.
Sedangkan ikatan obat dengan protein yang
melalui proses tidak dapat balik umumnya
diperoleh dari hasil aktifasi kimima obat,
dimana adanya pengikatan yang kuat terhadap
protein dengan ikatan kimia kovalen.
XXXII. Pengikatan obat pada protein
yang
terdapat
dalam
tubuh
dapat
mempengaruhi
kerja
dengan
cara
mempermudah distribusi obat keseluruh
tubuh, menonaktifkan obat dengan tidak
memberi kemungkinan konsentrasi obat yang
bebas untuk berkembang pada tempat
reseptor, mempengaruhi lama kerja suatu obat
dan menurunkan ekskresi suatu obat.
XXXIII. Pada studi ini digunakan
membran telur sebagai kompartemen protein
dan aquadest sebagai kompartemen non
protein. Studi ini juga akan dilakukan
perhitungan
4
absorbansi
larutan
menggunakan
spektrofotometer,
yaitu
absorbansi larutan stok standar tetrasiklin,
larutan tertasiklin dengan plasma, larutan
tetrasiklin dengan serum, dan larutan
tetrasiklin didalam protein.
XXXIV.

4 | Page

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika

Absorbansi
tetrasiklin

larutan

XXXV. konsent
rasi
XXXVII.
0,2
XXXIX.
0,4

XXXVI.
absorbansi
XXXVIII.
0,114

XLI.

XLII.

0,6

stok

XL. 0,213

XLIV. 0,472

XLV.

XLVI. 0,543

XLVII. 1,5

XLVIII.0,55

XLIX.

kurva absorbansi larutan tetrasiklin


0.6

f(x) = 0.36x + 0.1


R = 0.84
Linear (absorbansi)

0.4
absorbansi0.2
absorbansi

0,999. Persamaan regresi yang diperoleh


tersebut dapat digunakan untuk mencari
konsentrasi obat dari hasil data absorbansi
obat dengan protein.
LXI.
Absorbansi larutan tetrasiklin + serum
LXII. W
aktu

0,332

XLIII. 0,8
1

standar

LXIII. Absorb
ansi

LXIV. 5
LXVI. 1
0
LXVIII.
15
LXX. 3
0
LXXII. 6
0
LXXIV.9
0

LXV.

0,728

LXVII. 0,461
LXIX. 0,565
LXXI. 0,384
LXXIII.
0,380
LXXV. 0,393

LXXVI.

kurva absorbansi 1 mL serum+1 mL tetrasiklin

0
0

0.5

1.5

konsentrasi

L.
LI.
LII.
LIII.
LIV.
LV.
LVI.
LVII.
LVIII.
LIX.
LX.
Pada studi ini, dilakukan
persiapan larutan stok standar terlebih dahulu
menggunakan obat tetrasiklin dengan
konsentrasi yang berbeda-beda. Berdasarkan
hasil data diatas, diperoleh data absorbansi
yang semakin besar dengan persaaman regresi
y = 0.358x + 0.102 dengan nilai R sebesar
0,838. Walaupun diperoleh nilai absorbansi
yang semakin besar seiring dengan
konsentrasi yang semakin besar juga, namun
kurva kalibrasi yang diperoleh tidak bagus.
Hal ini dikarenakan nilai R yang diperoleh <

1
0.5
absorbansi
absorbansi
0

f(x)
= - (absorbansi)
0x + 0.58
Linear
R = 0.45
0 20 40 60 80 100
waktu

LXXVII.
LXXVIII.
LXXIX.
LXXX.
LXXXI.
LXXXII.
LXXXIII.
LXXXIV.
LXXXV.
LXXXVI.
Berdasarkan hasil data
diatas, diperoleh data absorbansi yang
semakin menurun setiap interval waktu. Akan
tetapi pada pada menit ke 15 dan ke 90,
absobansi mengalami kenaikan. Persamaan
regresi yang diperoleh y = -0.002x + 0.581
dengan nilai R sebesar 0,446.
LXXXVII.
Absorbansi
yang
mengalami penurunan, menyebabkan ikatan
protein obat yang semakin kecil. Hal ini

5 | Page

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika

dikarenakan konsentarasi obat yang diperoleh


juga akan semakin kecil. Penurunan ikatan
protein tersebut dapat mengakibatkan
kenaikan konsentrasi obat bebas yang akan
memungkinkan lebih banyak obat melewati
membrane sel dan distribusi keseluruh
jaringan. Oleh karena itu, lebih banyak obat
dapat tersedia untuk berinteraksi dengan
reseptor
untuk
menghasilkan
efek
farmakologi yang lebih kuat. Selain itu juga
lebih banyak obat yang dapat berada dalam
jaringan yang terlibat dalam eliminasi obat.
LXXXVIII.
Dari data absorbansi
diatas, maka dapat dihitung konsentrasi obat,
jumlah obat yang menyebar dan persen
kumulatif. Pada studi kali ini dilakukan
perbandingan
dua
kelompok
dengan
perbedaan volume media yang digunakan
sehingga diperoleh jumlah obat yang
menyebar dan persen kumulatif yang
diperolehnya berbeda. Pada larutan tetrasiklin
dengan serum darah, kelompok A digunakan
volume media sebanyak 50 mL, sedangkan
kelompok B digunakan volume media
sebanyak 20 mL
LXXXIX.
Obat tetrasiklin 1ml + 1ml serum darah
XC.
P

XCI.
Jum

XCII.
Pe

XCIV. XCV.
P
Jum

XCIII.
(%

CXXXIII.
CXXXIV. Berdasarkan hasil data diatas,
diperoleh jumlah obat yang menyebar dan
persen kumulatif pada kelompok A lebih
besar dibandingkan kelompok B. Hal ini
dikarenakan konsentrasi kelompok A lebih
besar daripada kelompok B. Persen kumulatif
obat yang diperoleh mengalami kenaikan
setiap interval waktu.
CXXXV.
Absorbansi larutan tetrasiklin + plasma
CXXXVI.
CXXXVII.
waktu
absorbansi
CXXXVIII. CXXXIX.
5
0,129
CXL.

C.
1

CI.
0,00

CII.
0,7

CIII.
2

CIV.
0,05

CV.
13,

CVI.
2

CVII.
0,02

CVIII.
2,4

CIX.
3

CX.
0,06

CXI.
20,

CXII.
3

CXIII.
0,02

CXIV.
5,4

CXV.
4

CXVI.
0,03

CXVII.
24

CXVIII. CXIX.
4
0,05

CXX.
7,0

CXXVII.CXXVIII. CXXIX. CXXX. CXXXI.


6
0,04
31,
6
0,01

CXLII. 15

CXLIII.0,331

CXLIV.30

CXLV. 0,391
CXLVII.
0,826
CXLIX.
0,166

CL.
CLI.
Berdasarkan hasil data diatas,
diperoleh data absorbansi yang semakin naik
setiap interval waktu. Akan tetapi pada pada
menit ke 90, absobansi mengalami penurunan.
Persamaan regresi yang diperoleh y = 0.002x
XCVI.
+ 0.242 dengan nilai R sebesar 0,097.
Pe
Semakin besar absorbansi, maka ikatan
protein semakin besar.
CLII.

XCIX.
8,7

CXXIII. CXXIV. CXXV.


27,
5
0,01

CXLI. 0,136

CXLVI.60
CXLVIII.
90

XCVII. XCVIII.
1
0,08

CXXI. CXXII.
5
0,03

10

CXXVI.

8,6
CXXXII.
10,

kurva absorbansi 1 mL plasma+1 mL tetrasiklin


absorbansi
absorbansi

Linear
(absorbansi)
f(x) = 0x
+ 0.24
R = 0.1
0 20 40 60 80 100
waktu

CLIII.
Obat tetrasiklin 1 ml + 1ml plasma darah

6 | Page

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika

CLIV. CLV.
P
Ju

CLVI.
Pers

CLVIII.CLIX.
P
Ju

CLX.
Per

CLXI. CLXII.
1
0,0

CLVII.
(%)
CLXIII.
0,35

CLXIV.CLXV.
1
0,

CLXVI.
0,7

CLXVII.CLXVIII. CLXIX.
2
0,0
0,82
CLXXIII.CLXXIV. CLXXV.
3
0,0
3,92

CCXIII.
90

CCXIV.0,212

CCXV.
CCXVI.

Kurva Absorbansi Tetrasiklin 2 mL

CLXX. CLXXI. CLXXII.


2
0,
1,6

0.4
0.2
absorbansi
Absorbansi

CLXXVI.
CLXXVII.CLXXVIII.
3
0,
8,0

f(x) = - 0x + 0.34
Linear (absorbansi)
R = 0.26

0
0

CLXXIX.CLXXX. CLXXXI. CLXXXII.


CLXXXIII.
CLXXXIV.
4
0,0
7,92
4
0,
16,

20

40

60

80 100

Waktu

CLXXXV.
CLXXXVI.CLXXXVII.CLXXXVIII.
CLXXXIX.
CXC.
5
0,1
18,0
5
0,
36,

CCXVII.
CCXVIII.
CXCI. CXCII. CXCIII.
CXCIV.CXCV. CXCVI.
CCXIX.
6
0,0
18,9
6
0,
37,
CCXX.
CCXXI.
CXCVII.
CCXXII.
CXCVIII. Pada larutan tetrasiklin dengan
CCXXIII.
serum darah, kelompok A digunakan volume
CCXXIV.
CCXXV.
media sebanyak 50 mL, sedangkan kelompok
CCXXVI.
Berdasarkan hasil data
B digunakan volume media sebanyak 100 mL
diatas, diperoleh data absorbansi yang
CXCIX. Berdasarkan hasil data diatas,
semakin menurun setiap interval waktu. Akan
diperoleh jumlah obat yang menyebar dan
tetapi pada pada menit ke 60, absobansi
persen kumulatif pada kelompok A lebih kecil
mengalami kenaikan. Persamaan regresi yang
dibandingkan kelompok A. Hal ini
diperoleh y = -0.001x + 0.341 dengan nilai R
dikarenakan konsentrasi kelompok B lebih
sebesar 0,263. Absorbansi yang mengalami
besar daripada kelompok A. Semakin besar
penurunan, menyebabkan ikatan protein obat
volume media yang digunakan, maka semakin
menjadi semakin kecil.
besar juga konsentrasi obat yang diperoleh.
Obat tetrasiklin 2 mL
Persen kumulatif obat yang diperoleh
CCXXVII.
CCXXVIII.
CCXXIX.CCXXXI.
CCXXXII. CCXXXIII.
mengalami kenaikan setiap interval waktu.
Pe
Ju
Pe
P
Jum
Pe
CC.
Absorbansi larutan tetrasiklin didalam
CCXXX.
protein
(%

CCI. w
aktu

CCII. absor
bansi

CCIII. 5
CCV. 1
0
CCVII. 1
5
CCIX. 3
0
CCXI. 6
0

CCIV. 0,378

CCXXXIV.
CCXXXV.CCXXXVI.
CCXXXVII.
CCXXXVIII.
CCXXXIX.
1
0,0
3,8
1
0,07
7,7

CCVI. 0,375
CCVIII.
0,317

CCXL.
2

CCX. 0,144

CCXLVI. CCXLVII. CCXLVIII.CCXLIX.CCL.


3
0,0
10,
3
0,06

CCXII. 0,322

CCXLI.
0,0

CCXLII. CCXLIII.CCXLIV. CCXLV.


7,6
2
0,07
15,
CCLI.
21,

7 | Page
CCLII.
4

Jurnal Biofarmasetika dan farmakokinetika


CCLIII.
0,0

CCLIV.
11,

CCLV. CCLVI.
4
0,01

CCLVII.
22,

lebih banyak obat dapat tersedia untuk


berinteraksi dengan reseptor untuk
CCLVIII. CCLIX. CCLX. CCLXI. CCLXII. CCLXIII. menghasilkan efek farmakologi yang
lebih kuat.
5
0,0
14,
5
0,06
28,
3. Semakin besar volume media yang
CCLXIV. CCLXV. CCLXVI. CCLXVII.
CCLXVIII. CCLXIX. digunakan, maka semakin besar juga
6
0,0
15,
6
0,03
31,
konsentrasi obat yang diperoleh. Persen
kumulatif obat yang diperoleh mengalami
CCLXX.
kenaikan setiap interval waktu.
CCLXXI.
Pada larutan tetrasiklin
CCLXXV.
dalam protein, kelompok A digunakan volume
CCLXXVI.
media sebanyak 50 mL, sedangkan kelompok
CCLXXVII.
DAFTAR PUSTAKA
B digunakan volume media sebanyak 100 mL
CCLXXVIII.
CCLXXII.
Berdasarkan hasil data
CCLXXIX.
Brander GC, Pugh RJ,
diatas, diperoleh jumlah obat yang menyebar
Bywater WL, 1991.
dan persen kumulatif pada kelompok A lebih
CCLXXX.
Veterinary
Applied
kecil dibandingkan kelompok A. Hal ini
Pharmacology
dikarenakan konsentrasi kelompok B lebih
CCLXXXI. and Theraprutics.5th
besar daripada kelompok A. Semakin besar
ed. Bailliere Tindall ELBS. 436,467volume media yang digunakan, maka semakin
473.
besar juga konsentrasi obat yang diperoleh.
CCLXXXII.
Giguere
S.
2006.
Persen kumulatif obat yang diperoleh
Tetracyclines and
mengalami kenaikan setiap interval waktu.
CCLXXXIII. Glycylcycline.
In
CCLXXIII.
:Antimicrobial Therapy in Veterinary
CCLXXIV. KESIMPULAN
Medicine. 4th ed. Ed. By Giguere, S ,
1. Ikatan obat-protein yang terdapat dalam
Prescott,J.F.,
Baggot,J.D.,
tubuh dapat memengaruhi kerja obat,
Walker,R.D., Dowling, P.M. Blacwell
dengan cara mempermudah distribusi
Pub. 231-239.
obat keseluruh tubuh, menonaktifkan
CCLXXXIV.
Shargel L, Yu ABC.
obat dengan tidak memberi kemungkinan
1993. Applied
konsentrasi obat yang bebas untuk
CCLXXXV. Biopharmaceutic
berkembang pada tempat reseptor,
andPharmacokinetics. 3th. Appleton
mempengaruhi lama kerja suatu obat dan
and Lange. Connecticut. 10-50,375menurunkan ekskresi suatu obat.
395
2. Penurunan
ikatan
protein
dapat
CCLXXXVI.
Shargel L, Wu-Pong S,
mengakibatkan kenaikan konsentrasi obat
Yu B.C.2005. Applied
bebas yang memungkinkan lebih banyak
CCLXXXVII. Biopharmaceutic and
obat melewati membrane sel dan
Pharmacokinetics. 5th ed.Mc. Graw
didistribusi keseluruh jaringan. maka,
Hill. Company, Inc.USA.

CCLXXXVIII.
CCLXXXIX.
CCXC.
CCXCI.
CCXCII.
CCXCIII. LAMPIRAN
CCXCIV. 1. Data Absorbansi standar
CCXCV.
Konse

CCXCVI.
Abso

CCXCVII.
0,2
CCXCIX.
0,4
CCCI.
0,6
CCCIII.
0,8
CCCV.
1
CCCVII.
1,5

CCXCVIII.
0,114
CCC.
0,213
CCCII.
0,332
CCCIV.
0,472
CCCVI.
0,543
CCCVIII.
0,55

CCCIX.

Kurva Absorbansi Larutan Tetrasiklin


0.6
0.4
Absorbansi

f(x) = 0.36x + 0.1


R = 0.84

absorbansi
Linear
(absorbansi)

0.2
0
0 0.5 1 1.5 2
Konsentrasi

CCCX.

2. Kurva kalibrasi
tetrasiklin

CCCXI.
CCCXII.
CCCXIII.

CCCXIV.
CCCXV.
CCCXVI.
CCCXVII.
CCCXVIII. 3. Data Absorbansi

CCCXIX.
CCCXX.
W
Abso
CCCXXI.CCCXXII.
5
0,728
CCCXXIII.
CCCXXIV.
10
0,461
CCCXXV.
CCCXXVI.
15
0,565
CCCXXVII.
CCCXXVIII.
30
0,384
CCCXXIX.
CCCXXX.
60
0,38
CCCXXXI.
CCCXXXII.
90
0,393

Kurva Absorbansi 1 mL Serum+1 mL Tetrasiklin


0.8
0.6
Absorbansi

0.4

f(x) = - 0x + 0.58
R = 0.45

0.2
0
0 20 40 60 80 100
Waktu

CCCXXXIII.
CCCXXXIV.
CCCXXXV.
CCCXXXVI.
CCCXXXVII.
CCCXXXVIII.
CCCXXXIX.

CCCXL.CCCXLI.
W
Abso

absorbansi
Linear
(absorbansi)

CCCXLII.
CCCXLIII.
5
0,129
CCCXLIV.
CCCXLV.
1
0,136
CCCXLVI.
CCCXLVII.
1
0,331
CCCXLVIII.
CCCXLIX.
3
0,391
CCCL. CCCLI.
6
0,826
CCCLII.CCCLIII.
9
0,166
CCCLIV.
CCCLV.

Kurva Absorbansi 1 mL Plasma+1 mL Tetrasiklin


1
0.8
0.6
Absorbansi

absorbansi
0.4

f(x) = 0x + 0.24
R = 0.1

0.2

Linear (absorbansi)

0
0

20

40

60

Waktu

CCCLVI.CCCLVII.
W
Absor
CCCLVIII.CCCLIX.
5
0,378
CCCLX. CCCLXI.
10
0,375
CCCLXII.CCCLXIII.
15
0,317

80 100

CCCLXIV.
CCCLXV.
30
0,144
CCCLXVI.
CCCLXVII.
60
0,322
CCCLXVIII.
CCCLXIX.
90
0,212
CCCLXX.

Kurva Absorbansi Tetrasiklin 2 mL


0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
Absorbansi
0.15
0.1
0.05
0

f(x) = - 0x + 0.34
R = 0.26
absorbansi
Linear (absorbansi)

20

40

60

80 100

Waktu

CCCLXXI.
CCCLXXII.
CCCLXXIII.
CCCLXXIV.
CCCLXXV.
CCCLXXVI.

CCCLXXVII.
CCCLXXVIII.
CCCLXXIX.
Kumulatif Obat

Tabel Persen

CCCLXXX.
tetrasiklin 1ml(2mg/ml)+1ml serum darah

Tabel 1 Obat

CCCLXXXI. CCCLXXXII. CCCLXXXIII.


CCCLXXXV.CCCLXXXVI.CCCLXXXVII.
Percoba
Jumlah
Persen
Percoba
Jumlah
Persen
a
o
a
o
k
n
b
CCCLXXXIV.
n
b
u

at
y
a
n
g
m
e
n
y
e
b
a
r
(
m
g)

(%)
B

CCCLXXXVIII.CCCLXXXIX. CCCXC.
1
0,0874
8,7
CCCXCIV.
CCCXCV.
CCCXCVI.
2
0,050
13,7
CD.
3
CDI. 0,
CDII.
0
20,1
6
4

CCCXCI.
1
CCCXCVII.
2
CDIII. 3

CDVI. 4

CDVIII.
24

CDIX. 4

CDXIV.
27,8
CDXX.
31,8

CDXV. 5

CDXII. 5

CDVII. 0,
0
3
9

CDXIII.
0,0388
CDXVIII.
CDXIX.
6
0,040
CDXXIV.

a
t
y
a
n
g
m
e
n
y
e
b
a
r
(
m
g
)

CDXXI.
6

CCCXCII.
0,00703
CCCXCVIII.
0,02
CDIV. 0
,
0
2
5
8
CDX. 0
,
0
5
7
CDXVI.
0,0155
CDXXII.
0,0162

CDXXV.
tetrasiklin 1ml(2mg/ml) +1ml plasma darah
CDXXVI.
Percoba
a
n
A

CDXXVII. CDXXVIII. CDXXX.


Jumla
Perse
Percob
a
CDXXIX.
a
(%)
n

m
u
l
a
t
i
f
(
%
)

CCCXCIII.
0,703
CCCXCIX.
2,4
CDV. 5
,
4
8

CDXI. 7
,
0
5
CDXVII.
8,6
CDXXIII.
10,22

Tabel 2 obat

CDXXXI.
Jumlah
obat
yan
g
men

CDXXXII.
Persen
ku
mu
lati
f

CDXXXIII.
1
CDXXXIX.
2
CDXLV.
3
CDLI. 4
CDLVII.
5
CDLXIII.
6
CDLXIX.

CDXXXIV.
0,0035
CDXL.
0,0047
CDXLVI.
0,031
CDLII.
0,040
CDLVIII.
0,101
CDLXIV.
0,0089

CDXXXV.
0,35
CDXLI.
0,82
CDXLVII.
3,92
CDLIII.
7,92
CDLIX.
18,02
CDLXV.
18,91

CDXXXVI.
1
CDXLII.
2
CDXLVIII.
3
CDLIV.4
CDLX. 5
CDLXVI.
6

CDLXX.
tetrasiklin 2ml (1mg/mL)
CDLXXI.
Percob
a
a
n
A

CDLXXII. CDLXXIII. CDLXXV.


Jumla
Persen
Percoba
h
a
CDLXXIV.
n
o
(%)
b
B
a
t
y
a
n
g
m
e
n
y
e
b
a
r
(
m
g
)

yeb
ar
(mg
)
CDXXXVII.
0,00748
CDXLIII.
0,00944
CDXLIX.
0,0638
CDLV. 0,08
06
CDLXI.
0,2004
CDLXVII.
0,0178

(%
)

CDXXXVIII.
0,748
CDXLIV.
1,69
CDL. 8,0
7
CDLVI.16,
13
CDLXII.
36,17
CDLXVIII.
37,45

Tabel 3 obat

CDLXXVI. CDLXXVII.
Jumla
Persen

CDLXXVIII.
1
CDLXXXIV.
2
CDXC. 3
CDXCVI.
4
DII.

DVIII. 6

DXIV.
DXV.

CDLXXIX.
0,038
CDLXXXV.
0,038
1
CDXCI.
0,03
CDXCVII.
0,005
8
DIII. 0
,
0
3
0
DIX. 0
,
0
1
5

CDLXXX.
3,8
CDLXXXVI.
7,61

CDLXXXI.
1
CDLXXXVII.
2

CDLXXXII. CDLXXXIII.
0,077
7,7
CDLXXXVIII.CDLXXXIX.
0,076
15,32

CDXCII.
10,61
CDXCVIII.
11,19

CDXCIII.
3
CDXCIX.
4

CDXCIV.
0,06
D.
0,011

CDXCV.
21,32
DI.
22,48

DIV.
14,19

DV.

DVI.
0,061

DVII.
28,62

DX.
15,69

DXI.

DXII.
0,030

DXIII.
31,68