Anda di halaman 1dari 7

AJARAN SYEH SITI JENAR & KEJAWEN Dalam

Memandang Ketuhanan, Dosa/Neraka, Pahala/Surga


Nov 3
Posted by SABD

PERBANDINGAN ANTARA
AJARAN SYEH SITI JENAR
Dan PANDANGAN KEJAWEN
Mengenai Ketuhanan, Alam, dan Manusia

Syeh Siti Jenar (Lemah Abang) dalam Mengenal Tuhan


Ajaran Siti Jenar memahami Tuhan sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana
yang utama, yang mulia yang sakti, yang suci tanpa kekurangan. Itulah Hyang
Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma menjadi diri manusia.
Hyang Widhi itu di mana-mana, tidak di langit, tidak di bumi, tidak di utara atau
selatan. Manusia tidak akan menemukan biarpun keliling dunia. Ruh maulana ada
dalam diri manusia karena ruh manusia sebagai penjelmaan ruh maulana,
sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad
yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, tanah. Jika manusia itu mati
ruhnya kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala
penderitaan. Lebih lanjut Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh manusia
adalah ruh diri manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak
bermula, ruh tidak lupa dan tidak tidur, yang tidak terikat dengan rangsangan
indera yang meliputi jasad manusia.
Syeh Siti Jenar mengaku bahwa, aku adalah Allah, Allah adalah aku.
Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah. Pengakuan Siti Jenar
bukan bermaksud mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan Allah Sang Pencipta ajali
abadi, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan
Tuhan. Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan ruh Tuhan. Memang ada
persamaan antara ruh manusia dengan ruh Tuhan atau Zat. Keduanya bersatu di
dalam diri manusia. Persatuan antara ruh Tuhan dengan ruh manusia terbatas pada
persatuan manusia denganNya. Persatuannya merupakan persatuan Zat sifat, ruh
bersatu dengan Zat sifat Tuhan dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama.
Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti

atau jumbuhing kawula Gusti. Bersatunya dua menjadi satu, atau dwi tunggal.
Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.
Pandangan Syeh Lemah Abang Tentang Manusia
Dalam memandang hakikat manusia Siti Jenar membedakan antara jiwa dan
akal. Jiwa merupakan suara hati nurani manusia yang merupakan ungkapan
dari zat Tuhan, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya. Jiwa
merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi
(Tuhan) di dalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi. Jiwa
yang berasal dari Tuhan itu mempunyai sifat zat Tuhan yakni kekal, sesudah
manusia raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula
akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya
tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.
Menurut sabdalangit, perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang
dalam pandangan Siti Jenar, disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi
pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi. Jiwa terletak di luar nafsu,
sementara akal-budi letaknya berada di dalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan
akal, dalam wirayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodhok
kinemulan ing leng atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji). Sedangkan jiwa
umpama kodhok angemuli ing leng atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).
Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan
dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan
mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran
diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu
sendiri. Syeh Lemah bang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di
atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan
intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.
Pandangan Syeh Lemah Bang Tentang Kehidupan Dunia
Pandangan Syeh Jenar tentang dunia adalah bahwa hidup di dunia ini
sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup di dunia ini ada surga
dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Manusia yang mendapatkan surga
mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, kesenangan. Sebaliknya rasa
bingung, kalut, muak, risih, menderita itu termasuk neraka. Jika manusia hidup
mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia dalam surga. Tetapi
kesenangan atau surga di dunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena
betapapun juga manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.
Syeh Jenar mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat
yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar
kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Manusia bergembira atas apa yang ia

raih, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa
semua kesenangan itu akan binasa. Namun begitu manusia suka sombong dan
bangga atas kepemilikan kekayaan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah
bangkai. Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak
menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang
menyebabkan keterikatannya pada dunia.
Jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup ini sesungguhnya derita.
Pandangan seperti itu menjadikan sikap dan pandangan Siti Jenar menjadi ekstrim
dalam memandang kehidupan dunia. Hidup di dunia ini adalah mati, tempat baik
dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan
neraka, semua bercampur aduk menjadi satu. Dengan adanya peraturan maka
manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syeh Siti Jenar
sangat menekankan pada upaya manusia untuk hidup yang abadi agar tahan
mengalami hidup di dunia ini. Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana
mencari kamoksan (mukswa/mosca) yakni mati sempurna beserta raganya lenyap
masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo). Hidup ini mati, karena mati itu
hidup yang sesungguhnya karena manusia bebas dari segala beban dan derita.
Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati, dan abadi.
Syeh Siti Jenar Mengkritik Ulama dan Para Santrinya
Alasan yang mendasari mengapa Syeh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para
ulama dan santrinya karena dalam kacamata Syeh Siti, mereka hanya berkutat pada
amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas manusia yang lebih
utama harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati. Dogmadogma, dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal
budi, dan jiwa manusia. Maka manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa
akan tugas-tugas beratnya. Manusia demikian menjadi gagal dalam upaya
menemukan Tuhannya.
Kritik Syeh Lemah Bang Atas Konsep Surga-Neraka
Konsep surga-neraka dalam ajaran Siti Jenar berbeda sekali dengan apa yang
diajarkan oleh para ulama. Menurut Syeh Siti Jenar, surga dan neraka adalah dalam
hidup ini. Sementara para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan
yang diberikan kepada manusia atas amalnya yang bakal diterima kelak sesudah
kematian (akherat).
Menurut Syeh Siti, orang mukmin telah keliru karena mengerjakan shalat
jungkir balik, mengharap-harap surga, sedang surga sesudah kematian itu tidak
ada, shalat itu tidak perlu dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk shalat.
Shalat minta apa, minta rizki ? Tuhan toh tidak memberi lantaran shalat.

Santri yang menjual ilmu dengan siapa pun mau menyembah Tuhan di masjid, di
dalamnya terdapat Tuhan yang bohong. Para ulama telah menyesatkan manusia
dengan menipu mereka jungkir balik lima kali, pagi, siang, sore, malam hanya
untuk memohon-mohon imbalan surga kelak. Sehingga orang banyak tergiur oleh
omongan palsunya, dan orang menjadi gelisah tak enak ketika terlambat
mengerjakan shalat. Orang seperti itu sungguh bodoh dan tak tau diri, jikalau pun
seseorang menyadari bahwa shalat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan diri
manusia sendiri untuk menyembah Tuhannya, manusia ternyata tidak menyadari
keserakahannya; dengan minta-minta imbalan/hadiah surga. Orang-orang telah
terbius oleh para ulama, sehingga mereka suka berzikir, dan disibukkan oleh
kegiatan menghitung-hitung pahalanya tiap hari. Sebaliknya, lupa bahwa sejatinya
kebaikan itu harus diimplementasikan kepada sesama (habluminannas).
Lebih lanjut Syekh Siti Jenar menuduh para ulama dan murid mereka sebagai
orang dungu dan dangkal ilmu, karena menafsirkan surga sebagai balasan yang
nanti diterima di akhirat. Penafsiran demikian adalah penafsiran yang sangat
sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tetapi
jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Surga dan neraka letaknya pada
manusia masing-masing. Orang bergelimang harta, hidupnya merasa selalu
terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun
gelisah, itulah neraka. Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil
bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang
tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang
hamparan sawah hijau menghampar, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya,
itulah surga. Kehidupan ini telah memberi manusia mana surga mana neraka.
Syeh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan
mikrokosmos (manusia) sekurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan
Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi.
Manusia terdiri atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan zat
Tuhan.
Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera,
sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang. Semua aspek keragaan
atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas
dari kematian di dunia ini, akan kembali berubah asalnya yaitu unsur bumi (tanah).
Syeh Lemah Bang, mengatakan bahwa;
Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu
pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai
mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku
terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu
kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh
manusia, manusialah yang memberi nama.

Kesimpulan
Pandangan Syeh Lemah Bang; tentang terlepasnya manusia dari belenggu alam
kematian yakni hidup di alam dunia ini, berawal dari konsepnya tentang
ketuhanan, manusia dan alam. Manusia adalah jelmaan zat Tuhan. Hubungan jiwa
dari Tuhan dan raga, berakhir sesudah manusia menemui ajal atau kematian
duniawi. Sesudah itu manusia bisa manunggal dengan Tuhan dalam keabadian.
Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmanisah
ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang dikenai kerusakan
dan semacam barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada yang punya yaitu
Tuhan sendiri.
Terlepas dari ajaran Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai
bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh
ajaran seorang sufi dari Bagdad, Hussein Ibnu Al Hallaj, yang menolak segala
kehidupan dunia. Hal ini berbeda dengan konsep Islam secara umum yang
memadang hidup di dunia sebagai khalifah Tuhan.
Pandangan Kejawen Tentang Kehidupan di Dunia
Pandangan Kejawen tentang makna hidup manusia dunia ditampilkan
secara rinci, realistis, logis dan mengena di dalam hati nurani; bahwa hidup ini
diumpamakan hanya sekedar mampir ngombe, mampir minum, hidup dalam waktu
sekejab, dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati. Tetapi
tugas manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman Tuhan. Tuhan
meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggungjawabkan
barang pinjamannya itu. Pada awalnya Tuhan Yang Mahasuci meminjamkan
jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila waktu kontrak peminjaman sudah
habis, maka ruh diminta tanggungjawabnya, ruh harus mengembalikan jasad
pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula. Ruh dengan jasadnya
diijinkan Tuhan turun ke bumi, tetapi dibebani tugas yakni menjaga barang
pinjaman tersebut agar dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada
pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad. Ruh dan jasad menyatu dalam
wujud yang dinamakan manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan
mengartikulasikan diri manusia adalah tempat pinjaman Tuhan juga yang
dinamakan bumi berikut segala macam isinya; atau mercapada. Karena bumi
bersifat pinjaman Tuhan, maka bumi juga bersifat tidak kekal.
Betapa Maha Pemurahnya Tuhan itu, bersedia meminjamkan jasad, berikut
tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas manusia boleh digunakan secara
gratis. Tuhan hanya menuntut tanggungjawab manusia saja, agar supaya menjaga
semua barang pinjaman Tuhan tersebut, serta manusia diperbolehkan

memanfaatkan semua fasilitas yang Tuhan sediakan dengan cara tidak merusak
barang pinjaman dan semua fasilitasnya.
Itulah tanggungjawab manusia yang sesungguhnya hidup di dunia ini; yakni
menjaga barang titipan atau pinjaman, serta boleh memanfaatkan semua
fasilitas yang disediakan Tuhan untuk manusia dengan tanpa merusak, dan tentu
saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam
keadaan suci. Itulah perjanjian gaib antara Tuhan dengan manusia makhlukNya.
Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka Tuhan membuat
rumus atau aturan-main yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam yakni
manusia. Rumus Tuhan ini yang disebut pula sebagai kodrat Tuhan; berbentuk
hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau klausul kontrak tersebut berupa
akibat sebagai konsekuensi logisnya. Misalnya; keburukan akan berbuah
keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Barang siapa menanam, maka
mengetam. Perbuatan suka memudahkan akan berbuah sering dimudahkan. Suka
mempersulit akan berbuah sering dipersulit.
Konsep Kejawen Tentang Pahala dan Dosa
dan Pandangan Kejawen tentang Kebaikan-Keburukan
Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan seseorang menghitung-hitung
pahala dalam setiap beribadat. Bagi Kejawen, motifasi beribadat atau melakukan
perbuatan baik kepada sesama bukan karena tergiur surga. Demikian pula dalam
melaksanakan sembahyang manembah kepada Tuhan Yang Maha Suci bukan
karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga. Kejawen memiliki tingkat
kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama
bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran
kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik
pada diri sendiri. Kebaikan kita pada sesama adalah KEBUTUHAN diri kita
sendiri. Kebaikan akan berbuah kebaikan. Karena setiap kebaikan yang kita
lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu
kebaikan akan kembali pada diri kita secara berlipat. Demikian juga
sebaliknya, setiap kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Kita suka
mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita akan sering
menemukan kesulitan. Kita gemar menolong dan membantu sesama, maka
hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.
Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung
pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan
seseorang menjadi tidak sempurna. Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap
yang serakah, lancang, picik, dan tidak tahu diri. Karena menyembah Tuhan
adalah kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan. Mengapa seseorang

masih juga mengharap-harap pahala dalam memenuhi kebutuhan pribadinya


sendiri ? Dapat dibayangkan, jika kita menjadi mahasiswa maka butuh bimbingan
dalam menyusun skripsi dari dosen pembimbing, maka betapa lancang, serakah,
dan tak tahu diri jika kita masih berharap-harap supaya dosen pembimbing tersebut
bersedia memberikan uang kepada kita sebagai upah. Dapat diumpamakan pula
misalnya; kita mengharap-harapkan upah dari seseorang yang bersedia menolong
kita..?
Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah Tuhan
dengan tanpa pengharapan akan mendapat pahala atau surga dan bukan atas
alasan takut dosa atau neraka, adalah sebuah bentuk KEMULIAAN HIDUP
YANG SEJATI. Sebaliknya, menyembah Tuhan, berangkat dari kesadaran bahwa
manusia hidup di dunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari Tuhan.
Dalam satu detik seseorang akan kesulitan mengucapkan satu kalimat sukur,
padahal dalam sedetik itu manusia adanya telah berhutang puluhan atau bahkan
ratusan kenikmatan dan anugerah Tuhan. Maka seseorang menjadi tidak etis,
lancang dan tak tahu diri jika dalam bersembahyang pun manusia masih
menjadikannya sebagai sarana memohon sesuatu kepada Tuhan. Tuhan tempat
meminta, tetapi manusia lah yang tak tahu diri tiada habisnya meminta-minta.
Dalam sikap demikian ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat
sulit didapatkan.
Sembahyang tidak lain sebagai cara mengungkapkan rasa berterimakasihnya
kepada Tuhan. Namun demikian ajaran Kejawen memandang bahwa rasa
sukur kepada Tuhan melalui sembahyang atau ucapan saja tidak lah cukup,
tetapi lebih utama harus diartikulasikan dan diimplementasikan ke dalam
bentuk tindakan atau perbuatan baik kepada sesama dalam kehidupan
sehari-harinya. Jika Tuhan memberikan kesehatan kepada seseorang, maka
sebagai wujud rasa sukurnya orang itu harus membantu dan menolong orang lain
yang sedang sakit atau menderita.
Itu lah pandangan yang menjadi dasar Kejawen bahwa menyembah Tuhan,
dan berbuat baik pada sesama, bukanlah KEWAJIBAN (perintah) yang
datang dari Tuhan, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkan.
sabdalangit
Ditulis dalam Ajaran SITI JENAR & KEJAWEN Dalam Memandang Ketuhanan Neraka Surga