Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Landasan Ilmu Pendidikan


Hakikat Manusia dan Hakikat Pendidikan

Oleh:
FUJA NOVITRA
15175015

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2016

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa selalu
melimpahkan berkat rahmat dan hidayahNya, hingga akhirnya penyusunan makalah yang
berjudul Hakikat Manusia dan Hakikat Pendidikan ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Shalawat beriring salam tak lupa buat Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW,
Rahmatan Lilalamin.
Ucapan terimakasih penulis haturkan kepada semua pihak, terutama pada dosen
pembimbing Prof. Dr. Festiyed, M.S yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini tanpa kendala yang cukup
berarti. Dan semua pihak yang telah membantu dan memberi dorongan penulis dalam
penyusunan makalah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum sempurna, karena keterbatasan
pada penulis. Untuk itu, penulis dengan ikhlas menerima semua saran dan kritik yang bersifat
membangun demi kesempurnaan tulisan ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
bagi berbagai pihak.
Padang ,

Agustus 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................
BAB II KAJIAN TEORI..................................................................................................
BAB III PEMBAHASAN................................................................................................
BAB IV PENUTUP..........................................................................................................

Hal.
i
ii
1
2
9
18
18

A. Kesimpulan.................................................................................................................
B. Saran...........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................

18
19

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Landasan ilmu pendidikan adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa
program pasca sarjana universitas negeri padang. Mata kuliah ini bertujuan agar mahasiswa
dapat mengembangkan model pembelajaran yang tepat dengan memahami hakikat manusia
dan hakikat pendidikan, memiliki keterampilan cakap, kritis, kreatif, kompeten, kompetitif
dan berkarakter yang kontekstual dengan profesi guru. Mata kuliah ini terdiri dari 16 materi
pokok yang akan dibahas oleh masing-masing kelompok dan secara individu. Makalah ini
merupakan makalah individu. Pada makalah ini dipaparkan materi hakikat manusia dan
hakikat pendidikan menurut pandangan barat, indonesia, dan pandangan agama islam.
Hakikat manusia dan hakikat pendidikan yang ibarat dua sisi mata uang, jelaslah bahwa
pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, baik pendidikan yang
berlangsung secara alami oleh orang tua atau masyarakat terlebih pendidikan tersistem yang
diselenggarakan oleh sekolah. Jadi kesimpulannya adalah manusia memiliki beberapa potensi
yang ada pada dirinya, yaitu potensi intelektual, rasa, karsa, karya dan religi yang bisa dan
akan ditumbuh dan kembangkan melalui proses pendidikan yang baik dan terarah.
Dengan pemahaman yang baik dan benar mengenai hal-hal tersebut maka orang-orang
yang berkecimpung dalam dunia pendidikan diharapkan mampu melaksanakan tugas dan
kewajibannya sebagai insan pendidikan dengan tidak mengabaikan atau meninggalkan
tanggung jawabnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat manusia menurut pandangan Indonesia, Sekuler, dan Islam?
2. Bagaimana hakikat pendidikan menurut pandangan Indonesia, Sekuler, dan Islam?
C. Tujuan Penulisan
a. Menganalisis hakikat manusia menurut pandangan Indonesia, Sekuler, dan Islam.
b. Menganalisis hakikat pendidikan menurut pandangan Indonesia, Sekuler, dan Islam.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Hakikat Manusia
1. Menurut pandangan di Indonesia
a. Manusia sebagai makhluk tuhan
Manusia berkedudukan sebagai makhluk tuhan YME maka dalam pengalaman
hidupnya terlihat bahkan dapat kita alami sebdiri adanya fenomena kemakhlukan (M.I.
Soelaeman, 1998). Manusia mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaannya dibanding
tuhannya Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Semua melahirkan rasa cemas dan takut pada
diri manusia terhadap tuhannya. Tetapi dibalik itu diiringi pula dengan rasa kagum, rasa
hormat, dan rasa segan karena TuhanNya begitu luhur dan suci. Semua itu menggugah
kesedian manusia untuk bersujud dan berserah diri kepada PenciptaNya. Selain itu,
menyadari akan Maha Kasih SayangNya Sang Pencipta maka kepadaNya-lah manusia
berharap dan berdoa.
b. Manusia sebagai makhluk individu
Manusia sebagai individu atau pribadi merupakan kenyataan yang paling riil dalam
kesadaran manusia. Sebagai individu, manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi,
memiliki perbedaan dengan manusia lainnya sehingga bersifat unik, dan merupakan subjek
yang otonom. Manusia sebagai makhluk sosial. Manusia adalah makhluk individual, namun
demikian ia tidak hidup sendirian, tak mungkin hidup sendirian, dan tidak pula hidup untuk
dirinya sendiri. Manusia hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. Dalam hidup bersama
dalam sesamanya (bernasyarakat) setiap individu menempati kedudukan (status) tertentu.
c. Manusia sebagai makhluk berbudaya
Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan, hidup
berbudaya, dan membudaya. Kebudayaan bukan sesuatu yang ada diluar manusia, bahkan
hakikatnya meluputi perbuatan manusia itu sendiri. Manusia tidak terlepas dari kebudayaan,
bahkan manusia itu baru menjadi manusia karena dan bersama kebudayaannya (C.A.
Vanpeursen,1957).
d. Manusia sebagai makhluk susila
Sebagai makhluk yang otonom atau memiliki kebebasan, manusia selalu dihadapkan
pada suatu alternative tindakan yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan berbuat ini juga
selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus
dipilihnya. Karena manusia mempunyai kebebasan memilih dan menentukan perbuatannya
secara otonom maka selalu ada penilaian moral atau tuntunan pertanggung jawaban atas
perbuatannya.
e. Manusia sebagai makhluk beragama
Aspek keberagaman merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang
terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang
diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Hal ini terdapat pada manusia manapun, baik dalam

rentan waktu (dulu-sekarang-akan datang) maupun dalam rintang geografis dimana manusia
berada. Keberagaman menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh atas
suatu agama.
2. Menurut pandangan Sekuler
a. Manusia ada dengan sendirinya
Manusia adalah hasil puncak dari mata

rantai evolusi yang terjadi di alam

semesta. Manusia sebagaimana halnya alam semesta ada dengan sendirinya berkembang
dari alam

itu sendiri, tanpa Pencipta. Penganut aliran ini antara lain Herbert Spencer,

Charles Darwin, dan Konosuke Matsushita.


b. Manusia sebagai Kesatuan Badan-Ruh
Menurut Plato, esensi manusia bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah. Rene Descartes
mengemukakan pandangan lain yang secara tegas bersifat dualistik. Menurut Descartes
esensi manusia terdiri atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. Karena manusia terdiri atas
dua substansi yang berbeda (badan dan jiwa), maka antara keduanya tidak terdapat hubungan
saling mempengaruhi (S.E. Frost Jr., 1957).
c. Manusia merupakan hewan yang berpikir
Dengan nalar intelektual itulah manusia dapat berpikir, menganalisis, memperkirakan,
meyimpulkan, membandingkan, dan sebagainya. Nalar intelektual ini pula yang membuat
manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang jelek, antara yang salah dan yang
benar.
d. Manusia adalah Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi.
e. Manusia adalah Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan
menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
f. Manusia adalah Homo Faber, artinya makhluk yang terampil. Dia pandai membuat
perkakas atau disebut juga Toolmaking Animal yaitu binatang yang pandai membuat alat.
g. Manusia adalah Zoon Politicon, artinya makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul
dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
h. Manusia adalah Homo Economicus, artinya makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip
ekonomi dan bersifat ekonomis.
3. Menurut pandangan Islam
a. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT
Hakekat pertama ini berlaku umum bagi seluruh jagat raya dan isinya yang bersifat
baru, sebagai ciptaan Allah SWT di luar alam yang disebut akhirat. Alam ciptaan meupakan
alam nyata yang konkrit, sedang alam akhirat merupakan ciptaan yang ghaib, kecuali Allah
SWT yang bersifat ghaib bukan ciptaan, yang ada karena adanya sendiri (Nawawi. 1993: 4041).

Firman Allah SWT mengenai penciptaan manusia dalam Q.S. Al-Hajj ayat 5:






Artinya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),
maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan
Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,
kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di
antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian
apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan
menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
b. Manusia adalah makhluk utuh
Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai
potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash
ayat : 77 :





Artinya:Carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu


tidak boleh melupakan urusan dunia
c. Mukarram (yang dimuliakan)
Manusia adalah makhluk yang dimuliakan dan diberikan keistimewaan, Allah SWT
berfirman dalam QS Al Isra:70:

Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah
Kami ciptakan.
Semua alam ini termasuk dengan isinya ini Allah peruntukkan untuk manusia.
d.

Mukallaf (yang mendapatkan beban)


4

Ibadah Manusia secara umum diciptakan oleh Allah untuk beribadah sebagai
konsekuensi dari kesempurnaan yang diperolehnya. Allah berfirman dalam QS Adz
Dzaariyaat:56:

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan


supaya mereka menyembahKu.
e.

Mukhayyar (yang bebas mamilih)


Manusia diberi kebebasan memilih untuk beriman atau kafir pada Allah. QS Al kahfi :

29 Allah berfirman:

Artinya: Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka


barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir)
biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka,
yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan
diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah
minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
f.

Majziy (yang mendapat balasan)


Surga Manusia diminta pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang dilakukannya,

Allah menyediakan surga untuk mereka yang beriman dan beramal soleh yaitu mereka yang
menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah berfirman dalam Q.S As
Sajdah: 19 dan 20:

Artinya: Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi
mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. (19).
Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap
kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan
kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya". (20).

Neraka Balasan di akhirat terhadap perbuatan manusia adalah bentuk keadilan yang
Allah berikan di akhirat. Mereka yang tidak menjalankan perintah Allah mendapatkan
hukuman yang setimpal yaitu dimasukkan ke dalam neraka.
B. Hakikat Pendidikan
1. Menurut pandangan di Indonesia
a. Menurut UU No. 20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
b. Ki Hajar Dewantara
Pendidikan umumnya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, pikiran (intellect)
dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya.
c. Menurut Raka Joni
Hakikat pendidikan adalah:
1) Pendidikan merupakan interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara
kedaulan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
2) Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup
yang mengalami perubhn yang semakin pesat.
3) Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
4) Pendidikan berlangsung seumur hidup.
5) Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan
teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
d. Mudyahardjo
Hakikat pokok pendidikan adalah:
1) Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari
individu yang belajar dab lingkungan belajarnya.
2) Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yan baik
atau norma-norma yang baik.
3) Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya pendidikan berupa
serangkaian kegiatan bermula dari kondisi-kondisi aktual dan individu yang belajar,
tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.
e. Darmaningtyas
Pendidikan yaitu pendidikan sebagai usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf
hidup dan kemajuan yang lebih baik.
f. Menurut Ahmad D. Marimba
Pendidikan adalah bimbingan. Pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
2. Menurut pandangan Sekuler
a. Paula Freire
6

Pendidikan

adalah

proses

pengaderan

dengan

hakikat

tujuannya

adalah

pembebasan. Hakikat pendidikan adalah kemampuan untuk mendidik diri sendiri.


b. Langeveld
Pendidikan adalah membantu anak dalam mencapai kedewasaan dengan tujuan agar
anak cukup cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang
lain.
c. Rosseau
Pendidikan adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tapi
dibutuhkan pada masa dewasa.
d. Paulo freire
Pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan diri dari dua
tahap. Tahap pertama adalah masa di mana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka
yang melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama
dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan.
e. Jhon dewey
Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman hal ini mungkin
terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin
pula terjadi secara sengaja dan dikembangkan untuk menghasilkan kesinambungan sosial.
Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan
mengelompok di mana dia hidup
f. H. Horne
Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih
tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan
sadar kepada tuhan, seperti termanifeskasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dari
kemanusiaan dari manusia.
g. Sir Godfrey Thomson
Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahanperubahan yang permanen di dalam kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku, pikiran dan sifatnya.
3. Menurut pandangan Islam
a. DR. Yusuf Qaradhawi
Pendidikan adalah proses penyiapan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan
jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk
hidup, baik dalam perang, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala
kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
b. DR. Mohammad Natsir
Maksud didikan di sini ialah satu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju kepada
kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan sesungguhnya
c. Prof. DR. Hasan Langgulung

Pendidikan sebagai proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan,


memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia
untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Oleh karenanya, proses tersebut
berupa bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan
jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi dan lain sebagainya) dan raga objek didik dengan
bahan-bahan materi tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya
pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Hakikat Manusia
Pandangan di Indonesia
1. Manusia sebagai makhluk tuhan
Manusia
berkedudukan
sebagai
makhluk tuhan YME maka dalam
pengalaman hidupnya terlihat bahkan dapat
kita alami sebdiri adanya fenomena
kemakhlukan (M.I. Soelaeman, 1998).
Manusia mengakui keterbatasan dan
ketidakberdayaannya dibanding tuhannya
Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.
Semua melahirkan rasa cemas dan takut
pada diri manusia terhadap tuhannya.
Tetapi dibalik itu diiringi pula dengan rasa
kagum, rasa hormat, dan rasa segan karena
TuhanNya begitu luhur dan suci. Semua itu
menggugah kesedian manusia untuk
bersujud dan berserah diri kepada
PenciptaNya. Selain itu, menyadari akan
Maha Kasih SayangNya Sang Pencipta
maka kepadaNya-lah manusia berharap dan
berdoa.
2. Manusia sebagai makhluk individu
Manusia sebagai individu atau

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam

1. Manusia ada dengan sendirinya


1. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah
Manusia adalah hasil puncak dari
SWT
mata rantai evolusi yang terjadi di
Hakekat pertama ini berlaku umum
alam semesta. Manusia sebagaimana
bagi seluruh jagat raya dan isinya yang
halnya alam
semesta ada
dengan
bersifat baru, sebagai ciptaan Allah SWT
sendirinya berkembang dari alam itu
di luar alam yang disebut akhirat. Alam
sendiri, tanpa Pencipta. Penganut aliran ini
ciptaan meupakan alam nyata yang
antara lain Herbert Spencer, Charles
konkrit, sedang alam akhirat merupakan
Darwin, dan Konosuke Matsushita.
ciptaan yang ghaib, kecuali Allah SWT
2. Manusia sebagai Kesatuan Badan-Ruh
yang bersifat ghaib bukan ciptaan, yang
Menurut Plato, esensi
manusia
ada karena adanya sendiri (Nawawi. 1993:
bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah. Rene
40-41).
Descartes mengemukakan pandangan lain
Firman Allah SWT mengenai
yang secara tegas bersifat dualistik.
penciptaan manusia dalam Q.S. Al-Hajj
Menurut Descartes esensi manusia terdiri
ayat 5:
atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa.



Karena manusia terdiri atas dua substansi


yang berbeda (badan dan jiwa), maka

antara keduanya tidak terdapat hubungan

saling mempengaruhi (S.E. Frost Jr.,



1957).

3. Manusia merupakan hewan yang

Pandangan di Indonesia
pribadi merupakan kenyataan yang paling
riil dalam kesadaran manusia. Sebagai
individu, manusia adalah satu kesatuan
yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan
dengan manusia lainnya sehingga bersifat
unik, dan merupakan subjek yang otonom.
Manusia sebagai makhluk sosial. Manusia
adalah makhluk individual, namun
demikian ia tidak hidup sendirian, tak
mungkin hidup sendirian, dan tidak pula
hidup untuk dirinya sendiri. Manusia hidup
dalam keterpautan dengan sesamanya.
Dalam hidup bersama dalam sesamanya
(bernasyarakat) setiap individu menempati
kedudukan (status) tertentu.
3. Manusia sebagai makhluk berbudaya
Manusia memiliki inisiatif dan kreatif
dalam menciptakan kebudayaan, hidup
berbudaya, dan membudaya. Kebudayaan
bukan sesuatu yang ada diluar manusia,
bahkan hakikatnya meluputi perbuatan
manusia itu sendiri. Manusia tidak terlepas
dari kebudayaan, bahkan manusia itu baru
menjadi manusia karena dan bersama
kebudayaannya (C.A. Vanpeursen,1957).
4. Manusia sebagai makhluk susila
Sebagai makhluk yang otonom atau

Pandangan Sekuler

4.
5.

6.

7.

8.

berpikir
Dengan nalar intelektual itulah
manusia dapat berpikir, menganalisis,
memperkirakan,
meyimpulkan,
membandingkan, dan sebagainya. Nalar
intelektual ini pula yang membuat
manusia dapat membedakan antara yang
baik dan yang jelek, antara yang salah dan
yang benar.
Manusia adalah Homo Sapiens, artinya
makhluk yang mempunyai budi.
Manusia adalah Homo Laquen, artinya
makhluk yang pandai menciptakan bahasa
dan menjelmakan pikiran manusia dan
perasaan dalam kata-kata yang tersusun.
Manusia adalah Homo Faber, artinya
makhluk yang terampil. Dia pandai
membuat perkakas atau disebut juga
Toolmaking Animal yaitu binatang yang
pandai membuat alat.
Manusia adalah Zoon Politicon, artinya
makhluk yang pandai bekerjasama,
bergaul
dengan
orang
lain
dan
mengorganisasi diri untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Manusia adalah Homo Economicus, 2.
artinya makhluk yang tunduk pada

10

Pandangan Islam
Artinya: Hai manusia, jika kamu
dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya
Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal
daging yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan
kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai
waktu yang sudah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi,
kemudian (dengan berangsur-angsur)
kamu sampailah kepada kedewasaan, dan
di antara kamu ada yang diwafatkan dan
(adapula) di antara kamu yang
dipanjangkan umurnya sampai pikun,
supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatupun
yang
dahulunya
telah
diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini
kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu
dan suburlah dan menumbuhkan berbagai
macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
Manusia adalah makhluk utuh
Manusia adalah makhluk utuh yang
terdiri atas jasmani, akal, dan rohani

Pandangan di Indonesia
memiliki kebebasan, manusia selalu
dihadapkan pada suatu alternative tindakan
yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan
berbuat ini juga selalu berhubungan dengan
norma-norma moral dan nilai-nilai moral
yang juga harus dipilihnya. Karena
manusia mempunyai kebebasan memilih
dan menentukan perbuatannya secara
otonom maka selalu ada penilaian moral
atau tuntunan pertanggung jawaban atas
perbuatannya.
5. Manusia sebagai makhluk beragama
Aspek keberagaman merupakan salah
satu karakteristik esensial eksistensi
manusia yang terungkap dalam bentuk
pengakuan atau keyakinan akan kebenaran
suatu agama yang diwujudkan dalam sikap
dan perilaku. Hal ini terdapat pada manusia
manapun, baik dalam rentan waktu (dulusekarang-akan datang) maupun dalam
rintang geografis dimana manusia berada.
Keberagaman
menyiratkan
adanya
pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh
atas suatu agama.

Pandangan Sekuler
prinsip-prinsip
ekonomis.

ekonomi

dan

Pandangan Islam
bersifat

sebagai potensi pokok, manusia yang


mempunyai aspek jasmani, disebutkan
dalam surah al Qashash ayat : 77 :

Artinya:Carilah kehidupan akhirat


dengan apa yang dikaruniakan Allah
kepadamu tidak boleh melupakan urusan
dunia
d. Mukarram (yang dimuliakan)
Manusia adalah makhluk yang
dimuliakan dan diberikan keistimewaan,
Allah SWT berfirman dalam QS Al
Isra:70:

Artinya: Dan sesungguhnya telah


Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan,
Kami beri mereka rezeki dari yang baikbaik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan
makhluk yang telah Kami ciptakan.
Semua alam ini termasuk dengan
isinya ini Allah peruntukkan untuk
manusia.

11

Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam
g.

Mukallaf (yang mendapatkan


beban)
Ibadah Manusia secara umum
diciptakan oleh Allah untuk beribadah
sebagai konsekuensi dari kesempurnaan
yang diperolehnya. Allah berfirman dalam
QS Adz Dzaariyaat:56:

Artinya:
Dan
Aku
tidak
menciptakan jin dan manusia
melainkan
supaya
mereka
menyembahKu.
h.

Mukhayyar (yang bebas mamilih)


Manusia diberi kebebasan memilih
untuk beriman atau kafir pada Allah. QS
Al kahfi :29 Allah berfirman:

Artinya:
Dan
katakanlah:
"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu;
maka barangsiapa yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman, dan barangsiapa
yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi
orang orang zalim itu neraka, yang
12

Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam
gejolaknya mengepung mereka. Dan jika
mereka meminta minum, niscaya mereka
akan diberi minum dengan air seperti besi
yang mendidih yang menghanguskan
muka. Itulah minuman yang paling buruk
dan tempat istirahat yang paling jelek.
i.
Majziy (yang mendapat balasan)
Surga
Manusia
diminta
pertanggungjawaban atas segala sesuatu
yang dilakukannya, Allah menyediakan
surga untuk mereka yang beriman dan
beramal soleh yaitu mereka yang
menjalankan perintah Allah dan menjauhi
larangannya. Allah berfirman dalam Q.S
As Sajdah: 19 dan 20:






Artinya: Adapun orang-orang

yang beriman dan mengerjakan amal


saleh, maka bagi mereka jannah tempat
kediaman, sebagai pahala terhadap apa
yang mereka kerjakan. (19). Dan
adapun orang-orang yang fasik (kafir)
maka tempat mereka adalah jahannam.
Setiap kali mereka hendak keluar

13

Pandangan di Indonesia

Analisis Penulis
Manusia merupakan makhluk yang sempurna.
Manusia memiliki akal untuk menghadapi
kehidupannya di dunia ini. Akal juga
memerlukkan pendidikan sebagai obyek yang
akan dipikirkan. Maka dari itu, manusia pada
hakikatnya adalah makhluk peadagogis,
makhluk social, makhluk individual, makhluk
beragama.
Setiap manusia mempunyai hakekat dan
dimensi yang dimilikinya. Dan dalam diri
manusia
itu
terdapat
potensipotensi
terpendam yang dapat ditumbuhkembangkan
menuju kepribadian yang mantap.

Pandangan Sekuler

Analisis Penulis
Manusia adalah hasil puncak dari mata
rantai evolusi yang terjadi di alam
semesta. Manusia sebagaimana halnya alam
semesta ada dengan sendirinya berkembang
dari alam itu sendiri, tanpa Pencipta. Hakikat
manusia
menurut
sekuler
cenderung
materialistik serta mengabaikan peran tuhan
dan memandang urusan manusia semata-mata
hanyalah masalah keduniaan, semat-mata
untuk kepentingan dunia, sekarang dan di sini.

14

Pandangan Islam
daripadanya, mereka dikembalikan ke
dalamnya dan dikatakan kepada mereka:
"Rasakanlah siksa neraka yang dahulu
kamu mendustakannya". (20).
Neraka Balasan di akhirat terhadap
perbuatan manusia adalah bentuk keadilan
yang Allah berikan di akhirat. Mereka
yang tidak menjalankan perintah Allah
mendapatkan hukuman yang setimpal yaitu
dimasukkan ke dalam neraka.
Analisis Penulis
Hakekat manusia menurut Islam berlaku
umum bagi seluruh jagat raya dan isinya ,
yaitu sebagai ciptaan Allah SWT. Alam
ciptaan meupakan alam nyata yang Manusia
adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani,
akal, dan rohani sebagai potensi pokok,
kemudia manusia diberikan keistimewaan
oleh Allah dan dimuliakan sebagai khalifah di
muka bumi. Semua alam ini termasuk dengan
isinya ini Allah peruntukkan untuk manusia.
Manusia diberi kebebasan memilih untuk
beriman atau kafir, Allah menyediakan surga
untuk mereka yang beriman dan beramal soleh
yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah
dan menjauhi larangannya dan neraka untuk
mereka yang kafir.

Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam

Interpretasi Penulis
Manusia pada hakikatnya adalah mahluk yang selalu belajar dan dipelajari . Manusia merupakan makhluk yang sempurna. Manusia memiliki
akal untuk menghadapi kehidupannya di dunia ini dan memiliki iman untuk menghadapi akhirat. Pandangan indonesia dan Islam mengenai
hakikat manusia hampir sama, yaitu sebagai ciptaan tuhan, makhluk individu, sosial, budaya, dan beragama. Namun pandangan sekuler tidak
dapat diterima karena cenderung materialistik serta mengabaikan peran tuhan dan memandang urusan manusia semata-mata hanyalah masalah
keduniaan, tanpa memikirkan masalah akhirat.
B. Hakikat Pendidikan
Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam

Hakikat pendidikan menurut para pakar


1. Menurut UU No. 20 tahun 2003
1. Paula Freire
1. DR. Yusuf Qaradhawi
Pendidikan adalah usaha sadar dan
Pendidikan adalah proses pengaderan
Pendidikan adalah proses penyiapan
terencana untuk mewujudkan suasana
dengan
hakikat
tujuannya
adalah
manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani
belajar dan proses pembelajaran agar
pembebasan. Hakikat pendidikan adalah
dan
jasmaninya;
akhlak
dan
peserta didik secara aktif mengembangkan
kemampuan untuk mendidik diri sendiri.
keterampilannya.
Pendidikan
Islam
2.
Langeveld
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
menyiapkan manusia untuk hidup, baik
Pendidikan
adalah
membantu
anak
dalam
spiritual keagamaaan, pengendalian diri,
dalam perang, dan menyiapkan untuk
mencapai
kedewasaan
dengan
tujuan
agar
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
menghadapi masyarakat dengan segala
anak
cukup
cakap
dalam
melaksanakan
serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
kebaikan dan kejahatannya, manis dan
tugas hidupnya sendiri tidak dengan
masyarakat, bangsa, dan Negara.
pahitnya.
bantuan
orang
lain.
2. Ki Hajar Dewantara
2. DR. Mohammad Natsir
Pendidikan umumnya untuk memajukan 3. Rosseau
Maksud didikan di sini ialah satu pimpinan
Pendidikan
adalah
memberikan
pembekalan
budi pekerti (kekuatan batin, pikiran
jasmani dan ruhani yang menuju kepada
yang
tidak
ada
pada
masa
anak-anak,
tapi
(intellect) dan jasmani anak-anak, selaras
kesempurnaan dan kelengkapan arti
dibutuhkan
pada
masa
dewasa.
dengan alam dan masyarakatnya.
kemanusiaan dengan sesungguhnya
15

Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

3. Menurut Raka Joni


4. Paulo freire
3.
Hakikat pendidikan adalah:
Pendidikan merupakan jalan menuju
1) Pendidikan
merupakan
interaksi
pembebasan yang permanen dan diri dari
manusia
yang
ditandai
oleh
dua tahap. Tahap pertama adalah masa di
keseimbangan antara kedaulan subjek
mana manusia menjadi sadar akan
didik dengan kewibawaan pendidik.
pembebasan mereka yang melalui praksis
2) Pendidikan merupakan usaha penyiapan
mengubah keadaan itu. Tahap kedua
subjek didik menghadapi lingkungan
dibangun atas tahap yang pertama dan
hidup yang mengalami perubhn yang
merupakan sebuah proses tindakan kultural
semakin pesat.
yang membebaskan.
3) Pendidikan meningkatkan kualitas 5. Jhon dewey
kehidupan pribadi dan masyarakat.
Pendidikan
adalah
suatu
proses
4) Pendidikan berlangsung seumur hidup.
pembaharuan makna pengalaman hal ini
5) Pendidikan merupakan kiat dalam
mungkin terjadi di dalam pergaulan biasa
menerapkan
prinsip-prinsip
ilmu
atau pergaulan orang dewasa dengan orang
pengetahuan dan teknologi bagi
muda, mungkin pula terjadi secara sengaja
pembentukan manusia seutuhnya.
dan dikembangkan untuk menghasilkan
4. Mudyahardjo
kesinambungan
sosial.
Proses
ini
1) Hakikat pokok pendidikan adalah:
melibatkan pengawasan dan perkembangan
Pendidikan adalah aktual, artinya
dari orang yang belum dewasa dan
pendidikan bermula dari kondisimengelompok di mana dia hidup
kondisi aktual dari individu yang
6. H. Horne
belajar dab lingkungan belajarnya.
Pendidikan adalah proses yang terus
2) Pendidikan adalah normatif, artinya
menerus (abadi) dari penyesuaian yang
pendidikan tertuju pada mencapai hallebih tinggi bagi makhluk manusia yang
hal yan baik atau norma-norma yang
telah berkembang secara fisik dan mental,
baik.
yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti
3) Pendidikan adalah suatu proses
16

Pandangan Islam
Prof. DR. Hasan Langgulung
Pendidikan sebagai proses penyiapan
generasi muda untuk mengisi peranan,
memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai
Islam yang diselaraskan dengan fungsi
manusia untuk beramal di dunia dan
memetik hasilnya di akhirat. Oleh
karenanya,
proses
tersebut
berupa
bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan)
oleh subjek didik terhadap perkembangan
jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi dan
lain sebagainya) dan raga objek didik
dengan bahan-bahan materi tertentu dan
dengan alat perlengkapan yang ada ke arah
terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi
sesuai dengan ajaran Islam.

Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam

pencapaian tujuan, artinya pendidikan


termanifeskasi
dalam
alam
sekitar
berupa serangkaian kegiatan bermula
intelektual, emosional dari kemanusiaan
dari kondisi-kondisi aktual dan individu
dari manusia.
yang belajar, tertuju pada pencapaian 7. Sir Godfrey Thomson
Pendidikan adalah pengaruh lingkungan
individu yang diharapkan.
atas
individu
untuk
menghasilkan
5. Darmaningtyas
Pendidikan yaitu pendidikan sebagai usaha
perubahan-perubahan yang permanen di
dasar dan sistematis untuk mencapai taraf
dalam kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku,
hidup dan kemajuan yang lebih baik.
pikiran dan sifatnya.
6. Menurut Ahmad D. Marimba
Pendidikan adalah bimbingan. Pimpinan
secara sadar oleh si pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani si
terdidik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama.
Analisis Penulis
Dari pendapat-pendapat para tokoh di
Indonesia, hakikat pendidikan pada dasarnya
adalah upaya manusia untuk mempertahankan
keberlanjutan kehidupannya yang tidak hanya
keberlanjutan keberadaan fisik atau raganya
akan tetapi juga keberlanjutan kualitas jiwa
dan peradabannya dalam arti terjadi
peningkatan kualitas budayanya, baik melalui
pendidikan yang dilaksanakan secara alami
oleh orang tua kepada anak atau masyarakat

Analisis Penulis
Dari pendapat-pendapat para tokoh sekuler,
terlihat bahwa motif dan objek belajarmengajar semata-mata masalah keduniaan,
semat-mata urusan manusia, belajar hanyalah
untuk kepentingan dunia, sekarang dan di sini.
Di Barat pada umumnya tidak mengaitkan
pendidikan dengan pahala dan dosa. Ilmu itu
bebas nilai (values free). Hidup sejahtera di
dunia secara maksimal baik sebagai warga
Negara maupun sebagai warga masyarakat.

17

Analisis Penulis
Dari pendapat-pendapat para tokoh Islam di
atas terlihat perbedaan yang mendasar antara
pendidikan pada umumnya dengan pendidikan
menurut Islam. Perbedaan yang menonjol
adalah bahwa pendidikan menurut Islam,
bukan hanya mementingakan pembentukan
pribadi untuk kebahagiaan dunia, tetapi juga
untuk kebahagiaan di akhirat. Lebih dari itu,
pendidikan
menurut
Islam
berusaha
membentuk pribadi yang bernafaskan ajaran-

Pandangan di Indonesia

Pandangan Sekuler

Pandangan Islam

kepada generasinya hingga pendidikan yang


ajaran Islam, sehingga pribadi-pribadi yang
yang diselenggarakan oleh organisasiterbentuk itu tidak terlepas dari nilai-nilai
organisasi pendidikan yang lebih mudah
agama. Hal ini mendorong perlunya
dikenal dengan istilah sekolah, baik formal
mengetahui tujuan-tujuan pendidikan secara
maupun non formal.
jelas.
Interpretasi Penulis
Penjelasan tentang hakikat pendidikan menurut pakar di indonesia, Barat, dan Islam di atas memperlihatkan adanya kesenjangan pola
berfikir yang digunakan para ilmuwan Indonesia dan sekuler dengan islam, sehingga menghasilkan karakter yang berbeda. Jika sumber dan
metodologi ilmu di Barat bergantung sepenuhnya kepada kaedah empiris, rasional dan cenderung materialistik serta mengabaikan dan
memandang rendah cara memperoleh ilmu melalui wahyu dan kitab suci, maka metodologi dalam ilmu pengetahuan Islam bersumber dari kitab
suci al-Quran yang diperoleh dari wahyu, Sunnah Rasulullah saw, serta ijtihad para ulama.
Jika Westernisasi ilmu hanya menghasilkan ilmu-ilmu sekular yang cenderung menjauhkan manusia dengan agamanya sehingga terjadi
kekalutan di dalamnya, maka Islamisasi ilmu justru mampu membangunkan pemikiran dan keseimbangan antara aspek rohani dan jasmani
pribadi muslim yang akan menambahkan lagi keimanannya kepada Allah SWT. Islam mempunyai sifat eksklusif sekaligus inklusif. Ketika
berhadapan dengan masalah teologi, hakikat sifat-sifatNya, seorang muslim tidak boleh berkompromi dengan persepsi agama lain, kecuali yang
berhubungan dengan masalah rubbbiyyah. Sebaliknya ketika membicarakan masalah nilai-nilai moral dan etika, maka pintu komunikasi, dialog
dan kerjasama dapat dibuka seluas-luasnya.
Ilmu dalam perspektif Islam bukan hanya mempelajari masalah keagamaan (akhirat) saja, tapi juga pengetahuan umum juga termasuk.
Orang Islam dibekali untuk dunia akhirat, sehingga ada keseimbangan. Dan ilmu umum pun termasuk pada cabang (furu) ilmu agama.

18

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karateristik, yang secara prinsipiil (jadi bukan
hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Adanya sifat hakikat tersebut
memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga derajatnya lebih
tinggi daripada hewan.
2. Hakikat pendidikan secara umum dari sudut pandang sejarah peradaban manusia sejak
awal. Lebih lanjut, seiring dengan perkembangan peradaban manusia hingga pada masa
manusia modern maka pendidikan menjadi lebih terorganisir dari yang awalnya sebatas
individual orang tua mendidik anak ataupun masyarakat melestarikan budayanya.
3. Hakikat manusia tidak bisa terlepas dari masalah pendidikan ataupun sebaliknya, bicara
hakikat pendidikan seharusnya tidak terlepas dari pemahaman hakikat manusia.
Keduanya ibarat dua sisi mata uang, saling melengkapi menjadi satu kesatuan yang utuh.
Manusia adalah sebagai subjek sekaligus disaat yang sama juga bisa sebagai objek dari
pendidikan. Sebagai subyek pendidikan, seorang manusia (secara formal; guru, dosen,
instruktur) membantu manusia obyek pendidikan (peserta didik) mengembangkan
potensi dirinya. Maka keduanya, baik guru, dosen, instruktur ataupun peserta didik
semestinya memahami hakikat manusia sebagai modal dasar menjalani proses
pendidikan yang ideal.
B. Saran
Hendaknya sebagai seorang pendidik khususnya mata pelajaran Fisika, pendidik
tersebut hendaknya selalu mengaitkan materi pembelajaran yang disampaikan dengan Alquran, karena kita sebagai manusia pada hakikatnya tidak terlepas dari Al-quran tersebut
sebagai pedoman hidup.

DAFTAR PUSTAKA

18

Abdullah, A.R.S. (1991). Educational Theory, A Quranic Outlook (Alih bahasa:


Mutammam). CV Diponegoro : Bandung.
Endang. 2015. Hakikat Pendidikan. http://www.kompasiana.com/endang.me/hakikat-pen
didikan-pemikiran-ulang-landasan-filosofis_552b2fba6ea8345904552d2a

Online).

Diakses Pada Tanggal 13 September 2016.


Frost Jr., S.E. (1957). Basic Teaching of.The. Great Philosophers, Barnes & Nobles : New
York.
Nana, Ade. 2016. Filsafat Hakikat Manusia. http://adenana12des.blogspot .co.id/2016/02/
filsafat-hakikat-manusia-dalam.html# (Online). Diakses Pada Tanggal 13 September
2016.

19