Anda di halaman 1dari 3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan Makalah Farmasi Rumah Sakit
dengan topik Distribusi, Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit ini.
Tim penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Yulia Trisna Apt., M.Pharm.
selaku dosen mata kuliah Farmasi Rumah Sakit. Demikian pula kepada berbagai pihak yang
telah memberikan masukan dan motivasi bagi kami. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan
dari mereka, makalah ini tidak dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga makalah
ini bermanfaat,baik bagi pembaca, maupun penulis sendiri.
Depok, September 2016
Tim penulis

Sistem resep perorangan (individual prescription)


Pendistribusian perbekalan farmasi resep perorangan/pasien rawat jalan dan rawat
inap melalui Instalasi Farmasi. Resep individual adalah order atau resep yang ditulis dokter
untuk tiap pasien, sedangkan sentralisasi adalah semua order/ resep tersebut yang disiapkan
dan didistribusikan dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) sentral.
Sistem distribusi obat resep individual adalah tatanan kegiatan pengantaran sediaan
obat oleh IFRS sentral sesuai dengan yang ditulis pada order/resep atas nama pasien rawat

tinggal tertentu melalui perawat ke ruang pasien tersebut. Dalam sistem ini obat diberikan
kepada pasien berdasarkan resep yang ditulis oleh dokter.
Dalam sistem ini, semua obat yang diperlukan untuk pengobatan di-dispensing dari
IFRS. Resep orisinal oleh perawat dikirim ke IFRS, kemudian diproses sesuai dengan kaidah
cara dispensing yang baik dan obat disiapkan untuk didistribusikan kepada pasien.
Sistem ini mirip dengan dispensing untuk pasien rawat jalan /outpatient. Interval
dispensing pada sistem ini dapat dibatasi misalnya, pengobatan pasien untuk untuk 3 hari
telah dikirim jika terapi berlanjut sampai lebih dari 3 hari, tempat obat yang kosong kembali
ke IFRS untuk di-refill. Biasanya obat yang disediakan oleh IFRS dalam bentuk persediaan
misalnya untuk 2-5 hari.

Gambar 1. Skema resep perorangan pada pasien rawat jalan

Gambar 2. Skema resep perorangan pada pasien rawat inap


Keuntungan :

Semua resep dikaji oleh apoteker


Memberi interaksi antara apoteker-dokter-perawat-pasien
Mempermudah penagihan biaya oleh pasien (uang diterima dulu, baru diberi obatnya)
Memungkinkan pengawasan obat lebih teliti

Kekurangan :

Kemungkinan penundaan mendapatkan obat


Jumlah kebutuhan personel di IFRS meningkat
Memerlukan jumlah perawat dan waktu yang lebih banyak untuk penyiapan obat dan

pada waktu konsumsi obat


Terjadi kesalahan obat, karena kurang pemeriksaan waktu penyiapan konsumsi
Kerugian lainnya : biaya tinggi, karena sisa obat yang tidak digunakan tetap harus
dibayarkan
Sistem ini kurang sesuai untuk rumah sakit-rumah sakit yang besar, seperti kelas A

dan B karena memiliki daerah pasien yang menyebar sehingga jarak antara IFRS dengan
perawatan pasien sangat jauh. Sistem ini biasanya digunakan di rumah sakit-rumah sakit kecil
atau swasta karena memberikan metode yang sesuai dalam penerapan keseluruhan biaya
pengobatan dan memberikan layanan kepada pasien secara individual.
Referensi
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
Siregar, Charles J. P. 2004. Farmasi Rumah Sakit: Teori Penerapan. Jakarta: EGC. 2003.