Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA NY.SM dengan TUMOR PHYLLOIDES DEXTRA


DENGAN TINDAKAN Modified Radical Mastectomy
Di Ruang 101 (One Day Care)
Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr Sardjito Yogyakarta
Tugas Mandiri
Stase Peminatan Kamar Operasi
Tahap Profesi Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM

Disusun Oleh:
Rida Anita Yunikawati
13/362189/KU/16917

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UGM
YOGYAKARTA
2015

TUMOR PHYLLOIDES DAN MASTEKTOMI

1. TUMOR PHYLLOIDES

A. Definisi
Tumor phylloides merupakan neoplasma fibroepitelial atau keganasan payudara
yang jarang ditemukan. Insidensnya hanya sekitar 0,3-0,9% dari seluruh tumor payudara.
sedangkan frekuensi lesi maligna bervariasi sekitar 5-30%. Sebagian besar tumor
phylloides berupa massa,berbentuk bulat sampai oval, multinodular, tanpa kapsul yang
jelas. Ukuran bervariasi dari 1-40 cm. Sebagian besar tumor berwarna abu-abu-putih dan
menonjol dari jaringan payudara sekitar. Pada tumor berukuran besar dapat terjadi
nekrosis dengan perdarahan.

B. Stadium tumor phylloides


Pada tahun 1981, WHO mengadopsi penamaan tumor phylloides dan
membaginya menjadi tipe benign, borderline, dan malignant berdasarkan karakteristik
stroma. Karakteristik tersebut berupa derajat atipikal selular stroma, aktivitas mitosis per10 lapang pandang besar, ada tidaknya overgrowth stroma, dan batas tumor yang infi
ltratif atau batas tumor yang tegas. Hampir semua kasus kanker payudara diklasifikasikan
dari stadium1 sampai 4, namun untuk tumor Phylloides ini berbeda. Setelah
operasi biopsy dilakukan, ahli patologi akan menguji sel sample di laboratorium. Dua
karakteristik yang diperhatikan adalah :
1. kecepatan perkembangbiakan/pembelahan sel.
2. jumlah sel yang bentuknya tidak normal (irregularly shaped cells) dalam jaringan
sample.
Berdasar dua kriteria di atas, maka akan dapat ditentukan, apakah tumor tersebut
masuk klasifikasi jinak atau ganas. Hampir semua tumor phylodes termasuk kategori
jinak. Tumor Jinak ( Benigna ) Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai
kapsul. Tidak tumbuh infiltratif, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak
menimbulkan anak sebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada umumnya

disembuhkan dengan sempurna kecuali yang mensekresi hormone atau yang terletak pada
tempat yang sangat penting, misalnya disumsum tulang belakang yang dapat
menimbulkan paraplesia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.
Tumor ganas ( maligna ) Tumor ganas pada umumnya tumbuh cepat, infiltratif. Dan
merusak jaringan sekitarnya. Disamping itu dapat menyebar keseluruh tubuh melalui
aliran limpe atau aliran darah dan sering menimbulkan kematian.Norris dan Taylor
mengemukakan kriteria histopatologi yang berguna untuk memprediksi tumor yang
berkemungkinan menjadi jenis malignant. Meliputi pertumbuhan stroma yang berlebihan,
nuclear pleomorpism, kecepatan mitosis yang tinggi, dan infiltrasi pada margin.
Penelitian lain juga menunjukkan adanya tingkat nekrosis yang tinggi dan peningkatan
vaskularisasi pada tumor. Tumor dipastikan malignant jika komponen stroma dominasi
sarcoma. Sebagian besar, 10-40% tumor jenis ini memiliki kemungkinan untuk
mengalami rekurensi lokal dan menyebar secara sistemik

C. Anatomi dan Fisiologi Payudara Normal

a. Anatomi Payudara
Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong
lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral atas kelenjr
payudara, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila, disebut penonjolan
Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri atas 12-20 lobulus kelenjar yang
masing-masing mempunyai saluran ke papilla mammae, yang disebut duktus lactiferous.
Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut

mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut
ligamnetum cooper yang memberi rangka untuk payudara.
Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes anterior dan a.
mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a. aksilaris, dan beberapa a.
interkostalis. Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus saraf simpatik. Ada beberapa saraf
lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca bedah,
yakni n. intercostalis dan n. kutaneus brakius medialis yang mengurus sensibilitas daerah
aksila dan bagian medial lengan atas.
Penyaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke
kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula penyaliran
yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah kelenjar getah
bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis. Jalur limfe lainnya berasal dari
daerah sentral dan medial yang selain menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria
interna, juga menuju ke aksila kontralateral, ke m. rectus abdominis lewat ligamentum
falsiparum hepatis ke hati, pleura dan payudara kontralateral.
b.

Fisiologi Payudara
Payudara merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri atas
15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus mempunyai duktus
ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting susu, disebut duktus
laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah, lalu ke duktus alveolaris yang
dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara ke duktus laktiferus yang berakhir
pada putting susu.
Ada 3 hal fisiologik yang mempengaruhi payudara, yaitu :
a)

Pertumbuhan dan involusi berhubungan dengan usia

b)

Pertumbuhan berhubungan dengan siklus haid

c)

Perubahan karena kehamilan dan laktasi.

D. Manifestasi klinis Tumor Phylloides


a) unilateral,
b) tunggal,

c) tidak nyeri, dengan benjolan yang dapat teraba.


d) Tumor tiba tiba muncul dan terus membesar, atau berupa benjolan yang awalnya
menetap lalu bertambah besar dalam beberapa bulan terakhir.
e) Pada pemeriksaan fisik payudara, tumor phylloides berupa benjolan lunak dan
bulat, mirip fibroadenoma, namun berukuran besar (>2-3 cm).
f)

Tumor dapat terlihat jelas jika cepat membesar. Pembesaran cepat tidak selalu
mengindikasikan sifat ganas.

g) Terlihat mengilat dengan permukaan kulit seperti teregang disertai pelebaran vena
permukaan kulit.
h) Pada kasus-kasus yang tidak tertangani baik, dapat terjadi luka borok kulit akibat
iskemi jaringan. Walaupun perubahan kulit seperti layaknya pada tumor payudara
selalu menunjukkan tanda-tanda keganasan (lesi T4), namun tidak pada tumor
phylloides; borok pada kulit dapat terjadi pada jenis lesi jinak, borderline ataupun
ganas. Retraksi puting tidak umum terjadi.
i) Ulserasi mengindikasikan nekrosis jaringan akibat penekanan tumor yang besar.

E.

Etiologi
Etiologi dari tumor phylloides sampai sekarang masih belum jelas apakah berasal dari
fibroadenoma yang sudah ada sebelumnya atau de novo
a) Mekanisme hormonal
Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan dalam
lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan

bagi ca mammae

(Smeltzer & Bare, 2002: 1589).


b) Virus
Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa abnormal
pada sel yang sedang mengalami proliferasi.

Genetik
c) Tumor

pada mammae mungkin dapatbersifat herediter dapat terjadi karena adanya

linkage genetic

autosomal dominan. Penelitian tentang biomolekuler

kanker

menyatakan delesi kromosom 17 mempunyai peranan penting untuk terjadinya


transformasi malignanmutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien

dengan riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium serta mutasi gen supresor tumor p
53 (Murray, 2002).

Defisiensi imun
d) Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi interferon yang
berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan kanker dan
meningkatkan aktivitas antitumor .

F. Faktor Resiko
Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya tumoradalah :
a. Usia
Risiko utama kanker atau tumor pada payudara adalah bertambahnya usia.
Berdasarkan penelitian American Cancer Society tahun 2006 diketahui usia lebih dari
40 tahun mempunyai risiko yang lebih besar untuk terdiagnosa kanker payudara
yakni 1 per 68 penduduk
b. Jenis Kelamin
Tumor Phylloideslebih banyak ditemukan pada wanita. Pada pria juga dapat
terjadi kanker payudara, namun frekuensinya jarang hanya kira-kira 1% dari kanker
payudara pada wanita.
c. Riwayat Reproduksi
Riwayat reproduksi dihubungkan dengan banyak paritas, umur melahirkan
anak pertama dan riwayat menyusui anak. Wanita yang tidak mempunyai anak atau
yang melahirkan anak pertama di usia lebih dari 30 tahun berisiko 2-4 kali lebih
tinggi daripada wanita yang melahirkan pertama di bawah usia 30 tahun. Wanita yang
tidak menyusui anaknya mempunyai risiko mengalami kanker atau tumor payudara 2
kali lebih besar. Kehamilan dan menyusui mengurangi risiko wanita untuk terpapar
dengan hormon estrogen terus. Pada wanita menyusui, kelenjar payudara dapat
berfungsi secara normal dalam proses laktasi dan menstimulir sekresi hormon
progesteron yang bersifat melindungi wanita dari kanker payudara
d. Riwayat Kanker Individu
Penderita yang pernah mengalami infeksi atau operasi tumor jinak payudara
berisiko 3-9 kali lebih besar untuk menderita tumor. Penderita tumor jinak payudara

seperti kelainan fibrokistik berisiko 11 kali dan penderita yang mengalami operasi
tumor ovarium mempunyai risiko 3-4 kali lebih besar.
e. Riwayat Kanker
Keluarga Secara genetik, sel-sel pada tubuh individu dengan riwayat
keluarga menderita kanker sudah memiliki sifat sebagai embrio terjadinya sel
kanker. Menurut sutjipto (2000) yang dikutip oleh Elisabet T, kemungkinan terkena
kanker payudara lebih besar 2 hingga 4 kali pada wanita yang ibu dan saudara
perempuannya mengidap penyakit kanker payudara.
f. Menstruasi cepat dan Menopause lambat
Wanita yang mengalami menstruasi pertama (Menarche) pada usia kurang
dari 12 tahun berisiko 1,7 hingga 3,4 kali lebih tinggi daripada wanita dengan
menstruasi yang datang pada usia normal atau lebih dari 12 tahun dan wanita yang
mengalami masa menopausenya terlambat lebih dari 55 tahun berisiko 2,5 hingga 5
kali lebih tinggi. Wanita yang menstruasi pertama di usia kurang dari 12 tahun dan
wanita yang mengalami masa menopause terlambat akan mengalami siklus
menstruasi lebih lama sepanjang hidupnya yang mengakibatkan keterpaparan lebih
lama dengan hormon estrogen
g. Pajanan Radiasi
Wanita yang terpapar penyinaran (radiasi) dengan dosis tinggi di dinding
dada berisiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi.

h. . Obesitas dan Konsumsi makanan lemak tinggi


Wanita yang mengalami kelebihan berta badan (obesitas) dan individu
dengan konsumsi tinggi lemak berisiko 2 kali lebih tinggi dari yang tidak obesitas
dan yang tidak sering mengkonsumsi makanan tinggi lemak. Risiko ini terjadi
karena jumlah lemak yang berlebihan dapat meningkatkan kadar estrogen dalam
darah sehingga akan memicu pertumbuhan sel-sel kanker.
F. Diagnosis Tumor Phylloides
Tumor phylloides bisa sulit untuk mendiagnosis karena ini termasuk penyakit
yang jarang. Sebuah tumor phylloides juga dapat terlihat seperti jenis yang lebih umum
dari pertumbuhan payudara jinak disebut fibroadenoma. Ketika dilihat di bawah

mikroskop, perbedaan utama antara tumor phylloides dan fibroadenoma adalah bahwa
tumor phylloides memiliki pertumbuhan berlebih dari jaringan ikat. Sel-sel yang
membentuk bagian jaringan ikat dapat melihat normal di bawah mikroskop. Tergantung
pada

bagaimana

sel-sel

terlihat,

tumor

sebagai jinak (non-kanker), ganas (kanker),

phylloides

dapat

atau batas (tampak

diklasifikasikan
lebih

normal

dibandingkan tumor jinak, tapi tidak cukup ganas).

Beberapa Cara untuk mendiagnosis Tumor pyollides :


a) Pemeriksaan fisik payudara.
Dokter Anda mungkin dapat merasakan benjolan di payudara, atau Anda
mungkin merasa sendiri selama SADARI.
b) Pemeriksaan mammogram untuk mendapatkan gambar sinar-X payudara dan
menemukan tumor. Pada mammogram, tumor phylloides muncul sebagai bulat
besar atau massa oval dengan tepi yang reguler. Kalsifikasi dapat muncul juga.
Kalsifikasi adalah bintik-bintik kecil kalsium - seperti butir garam - dalam jaringan
lunak payudara.
c) USG
USG untuk mendapatkan gelombang suara gambar payudara. Gambar bentuk
sebagai gelombang suara yang dipantulkan oleh jaringan. Pada USG, tumor
phylloides terlihat seperti massa didefinisikan dengan baik dengan beberapa kista
dalam diri merek
d) MRI
MRI untuk mendapatkan gambar tambahan tumor dan membantu dalam
perencanaan operasi.
e) Biopsi
Biopsi dilakukan untuk mengambil sampel dari tumor untuk pemeriksaan di
bawah mikroskop. Meskipun tes pencitraan yang berguna, Biopsi adalah
satusatunya cara untuk mengetahui apakah pertumbuhan adalah tumor
phylloides. Berikut adalah prosedur:

inti biopsi jarum, yang menggunakan jarum berongga khusus untuk


mengambil sampel tumor melalui kulit

biopsi eksisi, yang menghilangkan seluruh tumor

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tumor phylloides masih diperdebatkan dan tidak sama pada
semua kasus. Terapi utama adalah pembedahan komplet dengan batas adekuat. Banyak
peneliti menganjurkan batas eksisi 1 cm sebagai reseksi yang baik. Rekurensi berkaitan
dengan margin eksisi dan tidak berkaitan dengan grade dan ukuran tumor.
Eksisi luas pada tumor kecil atau mastektomi simpel umumnya menunjukkan
hasil memuaskan. Eksisi otot-otot pektoral perlu dipertimbangkan jika telah terjadi infi
ltrasi.4 Mastektomi dengan rekonstruksi payudara dapat menjadi pilihan pada tumor
berukuran besar. Tumor phylloides, sama halnya dengan sarkoma jaringan lunak, jarang
menyebabkan metastasis ke kelenjar getah bening (KGB).
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa diseksi KGB aksila tidak rutin
dilakukan, mengingat jarangnya infi ltrasi ke KGB aksila. Norris dan Taylor
menganjurkan mastektomi dengan diseksi KGB aksila bagian bawah jika terdapat
pembesaran KGB, tumor ukuran >4 cm, biopsi menunjukkan jenis tumor agresif (infi
ltrasi kapsul, kecepatan mitosis tinggi, dan derajat selular atipikal tinggi). Jika terindikasi
ada keterlibatan KGB secara klinis
Peran radioterapi dan kemoterapi adjuvan masih kontroversial, namun
penggunaan radioterapi dan kemoterapi pada sarkoma mengindikasikan bahwa keduanya
dapat digunakan pada tumor phylloides. Radioterapi adjuvan dapat bermanfaat pada tipe
maligna. Kemoterapi golongan antrasiklin, ifosfamid, sisplatin, dan etoposid jarang
digunakan. Belum banyak penelitian mengenai penggunaan terapi hormonal, seperti
tamoksifen. Sensitivitas hormonal pada tumor phylloides juga belum teridentifi kasi
dengan baik. Secara garis besar, terapi sistemik tumor phylloides tidak berbeda dengan
terapi pada sarkoma.
Phylloides tumor (benigna) kadang-kadang dapat kembali di tempat yang sama
jika mereka dibuang tanpa mengambil cukup dari jaringan normal di sekitar
mereka. Untuk alasan ini, mereka diperlakukan dengan menghilangkan tumor dan
setidaknya 1 cm (sedikit kurang dari inci) area jaringan payudara yang normal sekitar
tumor.Tumor phylloides ganas diperlakukan dengan membuang mereka bersama dengan
margin yang lebih luas dari jaringan normal, atau dengan mastektomi (menghapus

seluruh payudara) jika diperlukan. Phylloides tumor ganas yang berbeda dari jenis yang
lebih umum kanker payudara . Mereka tidak menanggapi terapi hormon dan kurang
mungkin

dibandingkan

kanker

payudara

untuk

menanggapi terapi

radiasi atau kemoterapi obat yang biasanya digunakan untuk kanker payudara. Tumor
phylloides yang telah menyebar ke daerah-daerah yang jauh sering diperlakukan lebih
sepertisarkoma (kanker jaringan lunak) dari kanker payudara

ASUHAN KEPERAWATAN

A.

PENGKAJIAN Tumor Phylloides


1.

Riwayat Kesehatan Sekarang


Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan nyeri.

2.

Riwayat Kesehatan Dahulu


Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae, kebiasaan
makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga pernah
mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit kanker
lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

3.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan klien
mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit kanker
lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

4.

Pemeriksaan Fisik
a.

Kepala

: normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan

tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.


b.

Rambut

: biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu

berminyak.
c.

Mata

: biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata anemis,

tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.


d.

Telinga

: normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi

dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.

e.

Hidung

f.

Mulut

: bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
: mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.

g.

Leher

: biasanya terjadi pembesaran KGB.

h.

Dada

: adanya kelainan kulit berupa peau dorange, dumpling, ulserasi atau

tanda-tanda radang.

5.

i.

Hepar

: biasanya tidak ada pembesaran hepar.

j.

Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon


a.

Persepsi dan Manajemen

Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada payudaranya
kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
b.

Nutrisi Metabolik

Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan terjadi
penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan mengandung
MSG.
c.

Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri saat
defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.

d.

Aktivitas dan Latihan


Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.

e.

Kognitif dan Persepsi


Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada
komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.

f.

Istirahat dan Tidur


Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.

g.

Persepsi dan Konsep Diri


Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat operasi
akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya sebagai wanita
normal.

h.

Peran dan Hubungan

Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan
perannya dalam berinteraksi social.
i.

Reproduksi dan Seksual


Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat kepuasan.

j.

Koping dan Toleransi Stress


Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.

k.

Nilai dan Keyakinan


Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang

dada.

Pemeriksaan Diagnostik
1.

Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik, identifikasi

metastatik dan evaluasi.


2.

biopsi : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2

3.

Penanda tumor

4.

Mammografi

6.

sinar X dada

2.MASTEKTOMY
Mastektomi (mastectomy) adalah pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat
payudara. Di masa lalu, mastektomi radikal dengan pengangkatan seluruh payudara
merupakan penanganan standar kanker payudara. Namun kemajuan medis selama 20
tahun terakhir ini telah memberi lebih banyak pilihan bagi wanita penderita kanker
payudara. Salah satu pilihan tersebut bernama breast-conserving therapy (BCT) atau
terapi penyelamatan payudara. Pilihan ini akan membawa wanita untuk dapat memilih
prosedur yang lebih mengarah pada pencapaian efektivitas penanganan.
Tipe mastektomi dan penanganan kanker payudara bergantung pada beberapa faktor, meliputi :
1.

Usia

2.

Kesehatan secara menyeluruh

3.

Status menopause

4.

Dimensi tumor

5.

Tahapan tumor dan seberapa luas penyebarannya

6.

Stadium tumor dan keganasannya

7.

Status reseptor homon tumor

8.

Penyebaran tumor telah mencapai simpul limfe atau belum

Beberapa tipe mastektomi yang ada pada saat ini


1. Mastektomi Preventif (Preventive Mastectomy)
Wanita yang memiliki faktor genetik atau risiko keturunan kanker payudara yang
tinggi dapat memilih pembedahan mastektomi preventif. Mastektomi preventif disebut
juga prophylactic mastectomy. Operasi ini dapat berupa total mastektomi dengan
mengangkat seluruh payudara dan puting. Atau berupa subcutaneous mastectomy,
dimana seluruh payudara diangkat namun puting tetap dipertahankan.
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan kanker payudara dapat
dikurangi hingga 90% atau lebih setelah mastektomi preventif pada wanita dengan risiko
tinggi. Kadang wanita pengidap kanker payudara di salah satu payudaranya akan
memutuskan untuk menjalani mastektomi preventif untuk mengangkat payudara satunya.
Hal ini mampu mengurangi peluang kembalinya (kambuhnya) kanker payudara. Pada
beberapa kasus kedua payudara diangkat. Pengangkatan kedua payudara ini disebut
double

mastectomy.

Dibawah

ini

Gambar

payudara

seorang

wanita

menjalani prophylacyic mastectomy dan telah mengalami rekonstruksi dengan menutup


lubang bekas operasi dengan dengan jaringan yang diambil dari perutnya.

Rekonstruksi (pengembalian kondisi dan penampilan) payudara dapat dialkukan


pada saat dilakukan mastectomy preventif. Rekonstruksi ini disebuat sebagai immediate
reconstruction (rekonstrusi segera). Dapat juga dijadwalkan sesudah beberapa waktu
kemudian. Rekonstruksi ini disebutdelayed reconstruction (rekonstruksi tertunda).
Dokter biasanya menggunakan implant sintetis atau jaringan pengganti yang diambil dari
bagian tubuh yang lain.
2. Mastektomi Sederhana atau Total (Simple or Total Mastectomy)
Mastektomi dengan mengangkat payudara berikut kulit dan putingnya, namun
simpul limfe masih dipertahankan. Pada beberapa kasus, sentinel node biopsy terpisah
dilakukan untuk membuang satu sampai tiga simpul limfe pertama.

Total mastectomy
3. Mastektomi Radikal Termodifikasi (Modified Radical Mastectomy)
Terdapat prosedur yang disebut modified radical mastectomy (MRM)-mastektomi
radikal termodifikasi. MRM memberikan trauma yang lebih ringan daripada mastektomi
radikal,

dan

ssat

ini

banyak

dilakukan

di

Amerika.

Dengan MRM, seluruh payudara akan diangkat beserta simpul limfe di bawah ketiak,
tetapi otot pectoral (mayor dan minor) otot penggantung payudara masih tetap

dipertahankan. Kulit dada dapat diangkat dapat pula dipertahankan, Prosedur ini akan
diikuti dengan rekonstruksi payudara yang akan dilakukan oleh dokter bedah plastik.

Modified Radical Mastectomy


4. Mastektomi Radikal (Radical Mastectomy)
Mastektomi radikal merupakan pengangkatan payudara komplit, termasuk
puting. Dokter juga akan mengangkat seluruh kulit payudara, otot dibawah payudara,
serta simpul limfe (getah bening). Karena mastektomi radikal ini tidak lebih efektif
namun merupakan bentuk mastektomi yang lebih ekstrim , saat ini jarang dilakukan.

Radical Mastectomy
Selama melakukan mastektomi dan mengangkat tumor, dokter akan menentukan apakah
kanker telah menyebar. Prosedur ini disebut pentahapan (staging). Setelah tahapan kanker
ditentukan, dokter akan menentukan penanganan lanjutan yang harus dilakukan pasien, termasuk
terapi radiasi, kemoterapi, dan atau pengobatan.Beberapa wanita memilih untuk melakukan
bedah rekonstruksi payudara segera setelah mastektomi. Namun demikian, ini membawa risiko
tersendiri sehingga harus berkonsultasi dengan dokter.
4. Mastektomi Parsial atau Segmental (Partial or Segmental Mastectomy)
Dokter dapat melakukan mastektomi parsial kepada wanita dengan kanker payudara
stadium I dan II. Mastektomi parsial merupakan breast-conserving therapy- terapi penyelamatan
payudara yang akan mengangkat bagian payudara dimana tumor bersarang. Prosedur ini
biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi untuk mematikan sel kanker pada jaringan payudara
yang tersisa. Sinar X berkekuatan penuh akan ditembakkan pada beberapa bagian jaringan
payudara. Radiasi akan membunuh kanker dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh yang
lain.

Partial Mastectomy
Pada beberapa kasus, akan lebih banyak pembedahan dilakukan setelah mastektomi
parsial. Kadang, jika sel kanker masih ada dalam jaringan payudara, dokter akan mengangkat
seluruh payudara.
5. Quandrantectomy
Tipe lain dari mastektomi parsial disebut quadrantectomy. Pada prosedur ini,
dokter akan mengangkat tumor dan lebih banyak jaringan payudara dibandingkan dengan
lumpektomi.

Quandrantectomy

Mastektomi tipe ini akan mengangkat seperempat bagian payudara, termasuk kulit
dan jaringan konektif (breast fascia). Dokter juga akan melakukan prosedur terpisah
untuk mengangkat beberapa atau seluruh simpul limfe, dengan axillary node dissection
atau sentinel node biopsy.

Cairan berwarna biru disuntikkan untuk mengidentifikasi simpul limfe yang mengandung sel
kanker.
6. Lumpectomy atau sayatan lebar,
Merupakan pembedahan untuk mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan
normal di sekitarnya. Lumpektomi (lumpectomy) hanya mengangkat tumor dan sedikit
area bebas kanker di jaringan payudara di sekitar tumor. Jika sel kanker ditemukan di
kemudian hari, dokter akan mengangkat lebih banyak jaringan. Prosedur ini disebuat reexcision (terjemahan : pengirisan/penyayatan kembali).

Lumpectomy

7. Excisional Biopsy
Biopsi dengan sayatan juga mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan
normal di sekitarnya. Kadang, pembedahan lanjutan tidak diperlukan jika biopsy dengan
sayatan ini berhasil mengangkat seluruh tumor.

Excisional Biopsy

Komplikasi operasi
Dini : pendarahan,
lesi n. Thoracalis longus wing scapula
Lesi n. Thoracalis dorsalis.
Lambat : infeksi
nekrosis flap
wound dehiscence
seroma
edema lengan
kekakuan sendi bahu kontraktur
Mortalitas
hampir tidak ada
Perawatan pasca bedah
Pasca bedah penderita dirawat di ruangan dengan mengobservasi produksi drain, memeriksa
Hb pasca bedah. Rehabilitasi dilakukan sesegera mungkin dengan melatih pergerakan sendi
bahu. Drain dilepas bila produksi masing-masing drain < 20 cc/24 jam. Umumnya drain

sebelah medial dilepas lebih awal, karena produksinya lebih sedikit. Jahitan dilepas
umumnya hari ke10 s/d 14.

Daftar Pustaka
Agrawal PP, Mohanta PK, Singh K, Bahadur AK. Cystosarcoma phylloides with lymph node
metastasis. CommunityOncology. 2006;3: 44-46.
Akin M, et al. Phylloides tumor of the breast; a case series. Bratisl Lek Listy. 2010;111: 271274.
Flynn

LW,

Borgen

PI.

Phylloides

tumor:

about

this

rare

cancer.

CommunityOncology. 2006;3:46-48.
Calhoun KE et al. Phylloides tumors. In: Harris JR, Lippman ME, Morrow M, Osborne CK.
Diseases of the breast, 4th ed. Lipincott Williams & Wilkins. 2009: 781-792
Juanita, Sungowati NK. Malignant phylloides tumour of the breast. The Indonesian Journal of
Medical Science. 2008;1:101-104.
Akin M et al. Phylloides tumor of the breast; a case series. Bratisl Lek Listy. 2010;111: 271274.
Bal A, Gunggor B, Polat AK, Simsek T. Recurrent phylloides tumor of the breast with malignant
transformation during pregnancy. The Journal of Breast health. 2012;8: 45-47.
http://www.cancer.org/healthy/findcancerearly/womenshealth/noncancerousbreastconditions/non
-cancerous-breast-conditions-phylloides-tumors diakses 5 april 2015 pukul 20.00
http://www.si.mahidol.ac.th/th/department/surgery/postgrad_v2007/file/SLGuestLecture/MRM.p
df diakses 5 april 2015 pukul 20.30

FORMAT PENGKAJIAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Nama Mahasiswa

: Rida Anita Yunikawati

NIM

: 13/362189/KU/16917

Tanggal Praktek

: 16 Februari 18 April 2015

Tempat Praktek

: Ruang 101 (One Day Care) Lt. 1 Gedung Bedah Sentral Terpadu RSUP
DR Sardjito Yogyakarta

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF


1. Identitas Pasien
Nama

: Ny.SM

Umur

:48 tahun

Status

: Menikah

Agama

: Islam

Tanggal Masuk

: 25 April 2015 (Bangsal Cendana 1), 03 Maret 2015 (GBST)

Tanggal pengkajian

: 03 Maret 2015

Sumber informasi

: Ny.SM, Observasi dan Rekam Medis Pasien

2. Pengkajian
A. Riwayat Kesehatan
Diagnosa medis

: Tumor Phylloides Dextra

Jenis Operasi

: Modified Radical Mastectomy

Jenis Anestesi

: General Anestesi

Keluhan utama

: Benjolan di payudara kanan

Riwayat Penyakit sekarang :


4 tahun sebelum masuk rumah sakit, pasien mengungkapkan muncul benjolan di
payudara kanan, tidak merasa nyeri awalnya. Pasien mengikuti pengobatan alternative
selama 2 tahun.
1 tahun yang lalu benjolan semakin membesar dan kemudian dilakukan biopsy di
Purwokerto dengan hasil fibroadenoma
Riwayat Penyakit Dahulu :
Tidak ada riwayat hipertensi, DM, jantung, asma, dan alergi
Tidak ada riwayat mondok sebelumnya, tidak adaa riwayat penyakit yang sama pada
oaring tua pasien

B. Pola kebiasaaan
Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Pasien mengatakan jika sakit diperiksakan ke dokter atau fasilitas kesehatan, pasien
jarang minum obat kecuali yang diresepkan dokter.
Nutrisi metabolic
Antropometri (A)

: BB=55 kg TB=155cm

IMT=22,9

Biochemical Marker (B): Hb =11,0 gr/dL, GDS=102 mg/dl


Clinical Symptom

: turgor kulit baik, tubuh tampak proporsional

Diet (D)

: Pasien mengatakan sehari makan 3 kali, 1 porsi tiap kali makan

dengan nasi, sayur dan lauk. Tidak ada penurunan nafsu makan atau gangguan menelan.
Intake cairan 1,5-2 liter/ hari, sebagian besar air putih dan lainnya tambahan susu, atau
teh
Pola eliminasi
Buang air besar tidak ada keluhan, tidak diare atau konstipasi. BAB sekali sehari,
konsisitensi padat, aroma khas feses, tidak ada lendir, warna kuning kecoklatan.
Buang air kecil tidak ada keluhan, lancar, 6-7 kali sehari, warna kuning jernih, tidak ada
endapan, aroma khas urin, sensasi BAK terasa, pasien tidak menggunakan kateter.

Pola aktivitas dan latihan


Kemampuan perawatan diri

Makan/minum

Mandi

Toileting

Berpakaian

Mobilitas di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi/ROM

0: mandiri, 1: alat Bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4:
tergantung total
Oksigenasi: Pasien tidak memakai oksigen saat datang ke ruang operasi, tidak ada sesak
nafas, pernafasan normal.
Pola tidur dan istirahat
Pasien mengatakan bisa tidur selama di RS walaupun kadang tidak merasa nyenyak
karena kondisi payudaranya, tidur malam 5-6 jam. Pasien jarang tidur siang. Pasien
mengatakan merasa segar saat bangun pagi dan tidak merasa mengantuk di siang hari.
Pola persepsi dan sensori kognitif
GSC = E4V5M6
Penglihatan: tidak ada keluhan. Visus OD: 5/6 OS: 5/6
Pendengaran: tidak ada keluhan
Pengecap: tidak ada keluhan, pasien bisa merasakan dengan baik
Penciuman: tidak ada keluhan, tidak ada gangguan atau penurunan penciuman
Sensasi: pasien dapat merasakan sensasi panas, dingin, nyeri, gatal, dll dengan sesuai
Pola persepsi diri
Pasien mengatakan pada awalnya merasa sangat takut dengan sakitnya, pasien juga
merasa takut bisa sembuh atau tidak, tetapi kemudian dengan dukungan dari

keluarganya pasien mengatakan akan berusaha melakukan yang terbaik yang bisa
dilakukan unutk melawan penyakitnya dan melakukan pengobatan yang dibutuhkan.
Pola seksual dan reproduksi
Pasien sudah menikah, pasien menstruasi pertama usia 12 tahun. Menstruasi teratur
setiap bulan. Tidak ada keluhan pada area genitalia.Pasien belum mempunyai anak
Pola peran hubungan
Selama di RS yang menunggu pasien adalah keluarganya. Komunikasi pasien lancar
dengan bahasa jawa dan bahasa indonesia, kemampuan komunikasi dengan orang lain
baik.
Pola manajemen koping stress
Pasien merasa mengalami perubahan besar dalam hidupnya ketika benjolan di payudara
semakin membesar, merasa cukup malu dengan kondisinya. Tetapi berkat dukungan
dari keluarga pasien mengatakan sudah siap untuk menjalani operasi walaupun pasien
masih terlihat cemas karena ini pertama kalinya menjalani operasi.
Sistem nilai dan keyakinan
Pasien beragama Islam, pasien selalu berdoa agar operasinya berjalan lancar dan dapat
sembuh kembali.

Riwayat pertumbuhan dan Perkembangan:


Tidak terkaji

C. Pemeriksaan fisik :
1) Keadaan umum:
Pasien compos mentis
GCS: E4M6V5, TD: 120/80 mmHg, Nadi: 80x/ meit, RR: 20x/ menit, Suhu: 36,6oC,
skala nyeri: 5 (Onset: hilang timbul, Provocation: gerakan, Quality: seperti berdenyut,
Regio: payudara kanan, Severity: Sedang, Treatment: istirahat, Impact to U: aktifitas
terganggu dan tidak nyaman, Value: ingin nyeri hilang)
2) Kulit

Kulit kecoklatan homogen, penyebaran bulu merata, kulit utuh, tetapi di bagian
payudara kanan terdapat benjolan luka. Turgor kulit baik, lembab.
3) Kepala
Bentuk kepala mesochepal, tidak ada jejas, tidak ada keluhan pusing.Rambut: hitam,
bersih
4) Mata
Sklera putih, konjungtiva pink kemerahan, penglihatan normal, visus OD: 5/60 OS:
5/60, tidak ada keluhan pada mata.
5) Telinga
Tidak ada keluhan dalam pendengaran
Telinga

Kanan

Kiri

Otoorrhoe

Tidak ada

Ada

Deafness

Tidak ada

Ada

Tinitus

Tidak ada

Tidak ada

Otalgia

Tidak ada

Ada

Itching

Tidak ada

Tidak ada

Vertigo

Tidak ada

Tidak ada

Auricula

Normal

Normal

Planummastoidium

Normal

Normal

Gld. Lymphhatica

Normal

Normal

Can. Aud. Ext

Normal

Granuloma

Memb. Tympani

Normal

Sulit dinilai

6) Hidung
Bentuk simetris, tidak ada keluhan, tidak ada luka, penciuman berfungsi dengan baik.
tidak ada nyeri tekan pada hidung
Hidung

Kanan

Kiri

Obs Nasal

Tidak ada

Tidak ada

Rinorrhoe

Tidak ada

Tidak ada

Bersin-bersin

Tidak ada

Tidak ada

Nasal Haemorrhagia

Tidak ada

Tidak ada

Nasolalia

Tidak ada

Tidak ada

Rhinalgia

Tidak ada

Tidak ada

Foetor ex nasalle

Tidak ada

Tidak ada

Anosmia/ hyposmia

Tidak ada

Tidak ada

Discharge

Normal

Normal

Conca

Normal

Normal

Septum

Normal

Normal

Tumor

Tidak ada

Tidak ada

Sinus Paranasalis

Normal

Normal

7) Mulut
Bibir kemerahan, tampak lembab, tidak ada luka. Gigi putih, geraham belakang bawah
tampak berlubang, lidah bersih, tidak ada luka. Hygiene area mulut tampak baik.
8) Leher :
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid ataupun peningkatan tekanan vena jugularis, tidak
ada jejas dan nyeri pada leher
Tenggorok

Ket

Odynophagia

Tidak ada

Dysphagia

Tidak ada

Regurgitasi

Tidak ada

Haematemesis

Tidak ada

Dyspnoe/ apnoe

Tidak ada

Hoarseness

Tidak ada

Haemoptoe

Tidak ada

Nasopharynx

Kanan

Kiri

Dinding belakang

Normal

Normal

Choanae

Normal

Normal

Muara Tub. Eustachi

Normal

Normal

Adenoid

Normal

Normal

Tumor

Tidak ada

Tidak ada

Oropharynx

Kanan

Kiri

Palatum

Normal

Normal

Uvula

Normal

Normal

Tonsila Palatina

Normal

Normal

Tonsila lingualis

Normal

Normal

Dinding Belakang

Normal

Normal

9) Dada :
Thorax

Jantung

Paru

Inspeksi

Terlihat ictus cordis di

Dinding dada tidak simetris, tidak

SIC V

ada tarikan dinding dada saat


bernafas, ada benjolan di payudara
kanan

Palpasi

Perkusi

Ictus cordis teraba di

Gerakan dinding dada simetris, Vokal

SIC V

fremitus teraba, tidak ada nyeri tekan

Tidak ada perbesaran

Suara sonor, tidak ada efusi

jantung, suara redup.


Auskultasi

S1-2 normal lub dup,

Suara nafas vesikuler, tidak ada suara

reguler, tidak ada suara

nafas tambahan

tambahan

10) Payudara
Terdapat benjolan di payudara kanan, tidak ada luka atau jejas di payudara kiri, warna
kulit homogen
11) Abdomen

Kulit abdomen bersih, luka (-), nyeri tekan (-), bising usus 10 kali/ menit, distensi
abdomen (-)
12) Genitalia
Pasien mengungkapkan tidak ada gatal atau masalah di genitalia
13) Anus dan rectum
Pasien mengungkapkan tidak ada hemorroid
14) Muskuloskeletal
Pasien mampu menggerakkan ekstremitas sendiri, kekuatan otot kedua tangan dan
kaki: 4
4

, Edema

15) Neurologi: Tidak ditemukan adanya reflek patologis

D. Pemeriksaan Laboraturium
1. Pemeriksaan Darah lengkap (24 Februari 2015)
Nama Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

Interpretasi

2,80 g/dL

3,40-5,00

Dibawah

Faal Hati
Albumin

Normal
Faal Ginjal
BUN

15 mg/dL

7-20

Normal

Creatinin

0,49 mg/dL

0,60-1,30

Dibawah
Normal

Diabetes
Glukosa Sewaktu

102 mg/dL

74-140

Normal

Natrium

139 mmol/L

136-145

Normal

Kalium

4,23 mmol/L

3,50-5,10

Normal

Klorida

103 mmol/L

98-107

Normal

PPT

14,6 detik

11,4-16,3

Normal

INR

1,07

0,90-1,10

Normal

Elektrolit

Hemostasis

Kontrol PPT

14

APTT

30,1 detik

27,9-37,0

Kontrol APTT

32,8

Leukosit

8,6 x 103/L

4,50-11,00

Normal

Eritrosit

5,16 x 106/L

4,20-5,20

Normal

Hemoglobin

11,0 g/dL

12,0-16,0

Rendah

Hematokrit

37,8 %

36,0-48,0

Normal

MCV

73,3 fL

80,0-99,0

Rendah

MCH

21,3 pg

27,0-32,0

Rendah

MCHC

29,1 g/dL

32,0-36,0

Rendah

RDW

28,3 g/dL

33,0-37,0

Rendah

HDW

20,2 pg

Trombosit

301 x 103/L

150-450

Normal

Neutrofil %

70 %

50,0-70,0

Normal

Limfosit %

18,4 %

22,0-40,0

Rendah

Monosit %

6,9 %

2,0-8,0

Normal

Eosinofil %

4,2 %

2,0-4,0

Tinggi

Basofil %

0,5 %

0,0-1,0

Normal

Neutrofil #

8,6 x 103/L

4,5 - 11

Normal

Limfosit #

1,58 x 103/L

1,30-2,90

Normal

Monosit #

0,59 x 103/L

0,30-0,80

Normal

Eosinofil #

0,36 x 103/L

0,00-0,20

Tinggi

Basofil #

0,04 x 103/L

0,00-0,10

Normal

Non Reaktif

Non Reaktif

Normal

Normal

Hematologi

Hepatitis
HbaAg

2. Pemeriksaan Radiologi
Mammae (16 Februari 2015)
Keterangan Klinis: Phyloides Mammae Dextra

Uraian Hasil Pemeriksaan:


Telah dilakukan USG ada mammae dextra dan sinistra. Hasil:
a. Mammae Dextra : tampak lesi padat, batas tegas dengan adanya septasi
di seluruh mammae dextra
b. Mammae Sinistra : cutis dan subcutis tidak menebal, jaringan
fibroglanduler normal, tak tampak lesi hipo/iso/hiperechoic
c. Regio acilla dextra et sinistra : cutis dan subcutis tak membesar , tak
tampak pembesaran limfonodi axilla
Kesan:
Curiga pyloides degenerasi malihna mammae dextra
Tak tampak kelainan pada mammae sinistra
Tak tampak limfadenopati axilla dextra maupun sinistra

E. Persiapan Operasi

Persiapan saat di ruang penerimaan:

Pengecekan kesesuaian identitas pasien serta gelang identitas pasien

Mengecek lokasi dan menanyakan alergi (tidak ada alergi obat dan makanan )

Mengecek prosedur

Mengecek inform consent operasi

Mengecek inform consent anestesi

Lokasi operasi sudah diberi tanda

Mengecek Rontgen thorax

Antibiotik Profilaksis (Ceftriaxone 1 gram melalui IV line)

Puasa mulai : 24.00

Mengkonfirmasi tersedianya darah : PRC 4 kolf

Memastikan pasien tidak memakai perhiasan/implant

Akses intravena di tangan kiri

Memakaikan topi operasi dan selimut

Transfer dari ruang penerimaan ke ruang 101

ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERATIF

Analisa Data
Data

Diagnosa Keperawatan

DS: Pasien mengatakan sudah berdoa untuk operasinya hari Risiko


ini,tetapi merasa agak takut
DO: Pasien compos mentis, tampak berdoa saat menunggu

cedera

akibat

keadaan perioperative

operasi, saat diajak berbicara bisa menjawab dengan baik

Rencana Asuhan Keperawatan Preoperatif


Tujuan (NOC)

Intervensi (NIC)

Pre-procedure readiness

Teaching : Preoperative, aktivitas :

Setelah

dilakukan

intervensi a) Informasikan pasien dan orang terdekat terkait

keperawatan selama 20 menit, pasien

waktu dan lokasi

dapat siap dengan prosedur persiapan b) Informasikan pada pasien dan orang terdekat
operasi dengan kriteria hasil:
Indikator

mengenai lama perkiraan operasi


Target

Pengetahuan

terkait

prosedur
Pengetahuan

pengetahuan pasien
5

sebelum 5

hal terkait operasi


f) Jelaskan prosedur perioperatif secara jelas

prosedur
Pengetahuan
potensi

d) Nilai kecemasan pasien dan orang terdekat


e) Berikan waktu keada pasien untuk menanyakan

terkait

persiapan

c) Menentukan riwayat operasi sebelumnya dan

g) Jelaskan mengenai obat, efek samping dan alasan

terkait

risiko

dan 5

h) Informasikan kepada orang terdekat lokasi ruang

komplikasi
Pengosongan

usus

dan

lambung

tunggu
5

Status Puasa

Pemberian marking site

Kelengkapan hasil lab

Penandatanganan informed
concent
Keterangan:
1= not adequate;

menggunakan obat tersebut

i) Kenalkan pasien kepada tim yang ikut serta dalam


proses operasi serta jelaskan perannya
j) Informasikan waktu kemungkinan nyeri timbul

Risk Identification, Aktivitas:


5

a. Sediakan format pengkajian yang realibel dan


valid untuk mengkaji resiko pasien
b. Review riwayat kesehatan dan dokumen yang
membuktikan diagnose atau penyakit terdahulu

c. Identifikasi pasien terhadap kebutuhan perawatan

2= slighly adequate;

yang berkelanjutan

3= moderately adequate

Identifikasi stategi koping individu

4= substantially adequate;
5= totally adequate;

Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa: Risiko cedera akibat keadaan perioperative
Implementasi

Evaluasi

Selasa, 03 Maret 2015

S: Pasien mengatakan sudah berdoa unutk

(09.15 WIB)

operasinya hari ini, ingin bisa sembuh

a. Memastikan identitas sesuai dengan

dengan menjalani operasi agar tidak malu

gelang dan rekam medis

lagi ketika pergi, akan tetapi pasien merasa

b. Menyediakan format pengkajian untuk


mengkaji pasien selama perioperatif
d. Memverifikasi inform concern bedah
dan dan anestesi

Pasien mengatakan sudah puasa sejak jam


00.00 WIB, tidak memiliki riwayat alergi.
Sudah dijelaskan prosedur operasi dan

e. Memverifikasi bersama pasien dan


keluarga mengenai prosedur dan area
pembedahan

anestesi serta proses perawatan, pasien


tidak memakai perhiasan dan plat logam.
O: Pasien compos mentis, saat diajak

f. Memastikan kelengkapan dokumen dan


mengkaji adanya alergi
g. Memastikan

agak takut.

pasien

berbicara bisa menjawab dengan baik,


identitas pasien sesuai gelang dan rekam

memakai

plat

logam atau tidak

medis, inform concern dan rekam medis


lengkap, pasien direncanakan tindakan

h. Memakaikan topi operasi

operasi modified radikal mastoidektomi,


instrumen dan peralatan operasi siap.
A:Pre-procedure readinesstercapai

(09.30 WIB)
a. Menginformasikan

pasien

terkait

Indikator

A T P

orang, tempat dan waktu di ruang

Pengetahuan terkait prosedur

operasi

Pengetahuan terkait persiapan 3

b. Mengidentifikasi

stategi

koping

individu yang ditunjukkan


c. Mereview

sebelum prosedur
Pengetahuan terkait potensi

riwayat

kesehatan

risiko dan komplikasi

danpenyakit terdahulu pada pasien

Pengosongan

dalam rekam medis dan wawancara

lambung

pasien

Status Puasa

Pemberian marking site

Kelengkapan hasil lab

d. Memotivasi pasien untuk berserah diri


dan berdoa agar operasi berjalan lancer
e. memberikan waktu keada pasien untuk
menanyakan hal terkait operasi
f. menjelaskan

prosedur

concent

dan

informed

perioperatif

secara jelas
g. menjelaskan

Penandatanganan

usus

P:Pasien siap menjalani operasi, monitoring


mengenai

obat,

efek

samping dan alasan menggunakan obat


tersebut
h. menginformasikan

kepada

terdekat lokasi ruang tunggu

orang

keamanan pasien selama operasi

ASUHAN KEPERAWATAN INTRAOPERATIVE


Asuhan Keperawatan Intra Operatif
1. Persiapan Perawat
Menyiapkan set instrument, BMHP, dan alat tidak steril
Transfer pasien ke bed operasi
Perawat instrument mencuci tangan dan menyiapkan set steril
Perawat sirkuler memberikn antibiotic profilaksis
Perawat sirkuler mendokumentasikan persiapan operasi hingga prosedur operasi
selesai
2. Persiapan alat dan ruang
Alat steril : menggunakan set mastectomy

Instrumen yang digunakan

Instrumen yang digunakan


Alat steril
a) Bengkok (1)

b) Kom (1)

c) Gunting benang (1)

k) Middledock (2)

d) Gunting jaringan (1)

l) Pinset anatomis (2)

e) Duk klem (5)

m) Pinset chirurgis (2)

f) Cocher (2)

n) Duk steril kecil (3)

g) Neddle Holder (2)

o) Duk lubang (1)

h) Alis klem (2)

p) Jas operasi (4)

i) Selang suction (1)

j) Pean (12)

Alat Tidak Steril


a) Meja mayo

e) Lampu operasi

b) Meja major

f) Tempat sampah

c) Kursi operator

g) Suction pump

d) Bed operasi

h) Mesin anestesi
i) Tianginfuse

Bahan Medis Habis Pakai


a) Monosyn 3/0 (1)

h) Masker (4)

b) Silkam 3/0 (1)

i) Sarung tangan steril (4)

c) Tip cleaner (1)

j) Sarung tangan tidak steril (6)

d) Kassa (60 lembar)

k) Elastic band 6 M (1)

e) Alcohol 100 cc

l) Yankur (1)

f) Betadine 100 cc
g) Topi operasi (1)

Persiapan pasien
a. Positioning
Ny. SM diposisikan supine
b. Anestesi
Dilakukan general anestesi, kemudian dilakukan pemasangan NIBP,SpO2 dan monitor
EKG.
c. Skin Preparation
Skin Preparation di area payudara kanan dengan betadine dan alcohol
d. Retriksi Area
Dipasang duk steril 4 buah, meja mayo didekatkan dengan bed
e. Time Out
Konfirmasi anggota tim
Konfirmasi identitas pasien, prosedur operasi, dan lokasi operasi
Konfirmasi antibiotic profilaksis
Antisipasi kejadian kritis
3. Prosedur Operasi
Pasien diposisikan supine dan dilakukan general anestesi
Dilakukan tindakan aseptic dan antiseptic dengan betadine dan alcohol di kulit
payudara dan kemudian dipasang duk steril untuk memperkecil media operasi
Dilakukan pemasangan corter dan selang suction pada suction pump
Time Out
Insisi cleps pada mammae dextra dengan menggunakan mess dan cutting corter
Dibuat flap sampai bawah Clavicula
Ulkus ditutup dengan kasa steril tebal
Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai parasternal ipsilateral, flap
bawah sampaiinframammary fold, flap lateral sampai tepi anterior m. Latissimus
dorsi dan mengidentifikasi vasa dan. N. Thoracalis dorsalis
Diperdalam lapis demi lapis dengan dibantu menggunakan klem dan hak kecil
Alis klem dan klem untuk menjepitjaringan agar mudah dipegang
Dilakukan pengangkatan massa atau mastektomi dan limfonodi axilla

Control perdarahan dengan deep dan diikat dengan klem kemudian dimempatkan
dengan catgut
Darah di suction mengggunakan suction
Pasang drain dengan NGT no.18
Kulit dijahit lapis menggunakan plain 2/0 untuk sub cutis dan monosyn3/0 untuk
kulit
Daerah jahitan dan operasi dibersihkan dengan kassa yang dibasahi Nacl kemudian
dikeringkan
Jahitan ditutup dengan steri strip kemudian kassa dilanjutkan dengan hipafix
Operasi seledai
Setelah jahitan selesai dilakukan sign out:
-

Pencatatan nama prosedur tindakan : Modified Radical Mastectomy

Pencatatan kelengkapan instrument, kasssa dan jarum + lengkap

Pemberian label pada specimen PA

Dokumentasi

Insisi Tumor Phylloides

Insisi tumor Phylloides

Tampak ulkus / luka di payudara

Tumor Phylloides dextra

Kontrol perdarahan dengan klem

Analisa Data
Data

Diagnosa Keperawatan

DS:-

Risiko

cedera

akibat

DO: Pasien teranestesi general, Instrumen siap, silakukan keadaan perioperative


pembedahan Modified Radical Mastectomy

pukul

10.30 13.30 WIB

RencanaAsuhanKeperawatanIntraoperatif

NOC

NIC

Kontrol Resiko

Aspiration precaution, Aktivitas:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

a. Pertahankanjalannafas

selama 3jam, pasien tidak mengalami

b. Pastikan ketersediaan suction

cidera dengan kriteria hasil


Indikator

Target

Positioning: Intraoperative, Aktivitas:

Modifikasi lingkungan

a. Perhatikankepaladanlehersaat transfer pasien

Menghindari

eksposure 5

c. Lindungimatapasien

resiko
Monitor adanya resiko

b. Pertahankan IV line, selangoksigendankateter

Keterangan :

d. Imobilisasitubuhpasien
e. Tempatkanpasienpadaposisioperasi

1=Never demonstrated

drone, lateral chest ataulitotomi)

2=rarely demonstrated

f. Monitor posisipasienselamaoperasi

(supine,

3=sometime demonstrated
4= often demonstrated

Bleeding reduction: wound, Aktivitas:

5= constantly demonstrated

a. Berikantekanan

manual

padadaerah

mengalamiperdarahanatau
Aspiration Prevention

yang
yang

berpotensimengalamiperdarahan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan b. Berikanbalutan yang menekanpadadaerah yang


selama 3jam, pasien tidak mengalami
aspirasi dengan kriteria hasil:

mengalamiperdarahan
c. Monitor tanda vital sesuaikebutuhan

Indikator
Memposisikan

Target

d. Monitor intake dan output cairansecaraakurat

dengan 5
Incision Site care, Aktivitas:

benar

a. Bersihkan

Keterangan:

area

sekitarinsisimenggunakanpembersih yang tepat

1= never demonstrated;
2= rarely demonstrated;

b. Berikansalep antiseptic

3= sometimes demonstrated;

c. Tutuplukainsisidenganbaik

4= often demonstrated;
Surgical Precaution, Aktivitas:

5= consistenly demonstrated;

a. Cek negatif plate telah terpasang dengan baik


Respiratory status: Ventilation

dan berfungsi

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

b. Pastikan alat-alat difungsikan dengan benar

selama 3jam, Pernafasan pasien stabil

c. Cek tekanan suction dan tubing suction

dengan kriteria hasil:

d. Singkirkan peralatan yang tidak aman


e. Hitung kasa, benda tajam dan instrumen

Indikator

Target

Respiratory rate

sebelum, selama dan setelah operasi sesuai

Pola Nafas

kebijakan

Kedalaman pernafasan

f. Catat hasil sesuai kebijakan


g. Buang atau singkirkan peralatann yang tidak

Keterangan :

dipakai

1= not adequate

h. Memastikan coter, negatif plate, dan alat

2= slightly adequate
3=moderately adequate

berfungsi dengan baik serta telah diatur sesuai

4=substantially adequate

ketentuan

5=Totally adequate

i. Catat informasi penting selama operasi

Blood Coagulation

Temperature Regulation: intraoperative

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

Aktivitas:

selama 3 jam, pasien tidak mengalami

a. Atur suhu ruang operasi yang sesuai

perdarahan dengan kriteria hasil:

b. Gunakan penghangat sesuai kebutuhan

Indikator

Target

c. Gunakan penutup kepala dan duk yang sesuai


d. Atur humidifier untuk gas anestesi

Perdarahan

e. Lakukan skin prepatationdengan cairan yang


sesuai

Keterangan :

f. Monitor suhu ruangan

1= Severe
2=Substantial
3=moderate

Infection control: intraoperative, Aktivitas:

4=mild

a. Monitor danutamakanaliranpernapasan

5=none

b. Verifikasi antibiotic yang digunakan


c. Verifikasi indicator sterilisasi
d. Gaun,

Circulation Status

sarungtangan,

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

danbajuoperasisesuaiaturan/standar

selama 3 jam, sirkulasi tubuh pasien

e. Pisahkanarang-barang yang tidaksteril

stabil dengan kriteria hasil:

f. Inspeksikulit/jaringan
akandilakukanoperasi

Indikator

Target

Tekanandarah systole

g. Berikanlarutanantimikrobapada area insisi

Tekanandarah diastole

h. Hindarikontaminasi

Saturasioksigen

i. Aplikasikan dressing bedah

Urine output

j. Bersihkandansterilisasikanalatbedah

Keterangan :
1= not adequate
2= slightly adequate
3=moderately adequate
4=substantially adequate
5=Totally adequate

yang

Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa: Risiko cedera akibat keadaan perioperative
Implementasi

Evaluasi

Selasa, 3 Maret 2015

S: -

(10.00 WIB)

O:
- IV line, oksigen dan kateter terpasang

Pasien dilakukan tindakan anestesi


a. Mempertahankan

IV

line,

selang

- antibiotik Ceftriaxone 1 gr/ IV sudah

oksigen dan memasang kateter


b. Menempatkan

pasien

pada

dengan baik

posisi

diberikan 30 menit sebelum operasi


- jalan nafas stabil dengan ET, SpO2: 100

operasi: supine
c. Mengimobilisasi tubuh pasien

- TTV stabil selama operasi, TD: 120/80

d. Memasang kateter setelah pasien tidak


sadar

mmHg, N: 80x/menit, teraba kuat, RR:


20x/ menit,
- Perdarahan 150cc
- suhu ruang operasi 21oC

(10.15 WIB)
a. Memverifikasi

antibiotic

yang

digunakan dan sudah diberikan


b. Memakai gaun dan sarung tangan
operasi sesuai standar

- peralatan operasi dan instrumen tersedia


tidak ada masalah
- kassa,

instrumen

dan

benda

sebelum, selama dan setelah operasi

c. Menyoapkan instrument yang akan

cocok lengkap.

digunakan
d. Melakukan skin prepatation dengan A:Tujuan Tercapai
povidon iodine 10% dan alkohol 70%

Indikator

e. Menghindari kontaminasi

Modifikasi lingkungan

f. Menggunakan duk yang sesuai untuk

Menghindari

eksposure 5

pasien

resiko

g. Mempertahankan dan memonitor jalan

Monitor adanya resiko

nafas
h. Monitor tanda vital sesuai kebutuhan
i. Memastikan suhu ruang operasi sesuai
j. Memastikan

alat-alat

tajam

difungsikan

Aspiration Prevention
Indikator

T P

dengan benar

Memposisikan dengan benar

Negatif plate telah terpasang dengan


baik dan berfungsi

Respiratory status: Ventilation

Tekanan suction dan tubing suction

Indikator

T P

Coter berfungsi dengan baik serta

Respiratory rate

Pola Nafas

Kedalaman pernafasan

telah diatur sesuai ketentuan


k. Menjauhkan

peralatan

yang

tidak

dipakai atau tidak aman dari area steril


l. Hitung

kasa,

instrumen

benda

sebelum

tajam

operasi

dan Blood Coagulation


sesuai Indikator

kebijakan

Perdarahan

(10.30-13.30 WIB)

T P
5

Circulation Status

a. Memonitor jalan nafas

Indikator

T P

b. Memonitor tanda vital sesuai kebutuhan

Tekanandarah systole

Tekanandarah diastole

Saturasioksigen

Urine output

c. Memonitor posisi pasien selama operasi


d. Memonitor intake dan output cairan
secara akurat
e. Memberikan tekanan manual padad
aerah yang mengalami perdarahan

P:Monitor TTV dankesadaran pasien di ruang

f. Memonitor perdarahan

pemulihan

g. Menghitung kasa, benda tajam dan


instrument

selama

operasi

sesuai

kebijakan

(13.25 WIB)
a. Menghitung kasa, benda tajam dan
instrument

setelah

operasi

sesuai

kebijakan
b. Membersihkan

area

sekitar

insisi

menggunakan pembersih yang tepat

c. Memberikan sufratul pada area jahitan


d. Memberikan balutan yang menekan
pada

daerah

yang

mengalami

perdarahan
e. Mempertahankan

jalan

nafas,

melakukan sucktion jika diperlukan


f. Memonitor tanda vital
g. Memperhatikan kepala dan leher saat
transfer pasien
h. Membersihkan dan mensterilisasikan
alat bedah

ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERATIF

Analisa Data
Data

Diagnosa Keperawatan

DS:-

Risiko

DO: Pasien mulai sadar setelah 10 menit berada di RR.

keadaan perioperative

cedera

akibat

- Skor alderette (13.50 WIB): Aktivitas 1, Sirkulasi 2,


Pernafasan 2, Kesadaran 1, Warna Kulit 2, Total: 8
- Pasien diberikan analgesia ketorolac 30 mg/IV, anti
muntah ondansentron 4 mg/ IV, oksigen 4 liter/menit
melalui nasal kanule.

Rencana Asuhan Keperawatan Postoperatif


NOC

NIC

Post Recovery Procedure


Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 2 jam, pasien sadar dari anestesi

Recovery Post Operative, aktivitas :


a) Monitoring kepatenan jalan nafas
b) Monitoring pola respirasi (spontan , O2)

dengan kriteria hasil:


Indikator

Target

Kepatenan jalan nafas

Nafas Spontan

RR

Saturasi O2

c) Monitoring RR, N , S
d) Monitoring saturasi oksigen
e) Mobservasi steward score
f) Observasi

respon

dan

kemampuan

pasien
g) Awasi Keadaan umum pasien

Aldrete Score

h) Observasi adanya resiko jatuh

Menjawab pertanyaan

Sadar penuh

Menggerakkan ekstremitas 5
dengan perintah

i) Observasi dan monitoring tanda tanda


perdarahan
j) Observasi
ambulasi

Toleransi ambulasi

Thermoregulation

kesiapan

klien

untuk

Keterangan :
1= Severe deviation from normal range
2= Substantial deviation from normal
range
3= Moderate deviation from normal range
4= Mild deviation from normal range
5= None deviation from normal range

Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa: Risiko cedera akibat keadaan perioperative
Implementasi

Evaluasi

Selasa, 3 Maret 2015

S: pasien merintih saat mulai bangun

(13.45-14.00 WIB)

O: Setelah 5 menit berada di RR pasien mulai

a. Mengkonsultasikan

dengan

dokter

untuk memberikan posisi yang optimal


dan monitor respon pasien
b. melakukan komunikasi dengan bahasa
sederhana, langsung dan pernyataan
yang deskriptif
c. Memonitor status neurologis, level
kesadaran, reflek batuk, reflek muntah,
dan kemampuan menelan

sadar tetapi masih belum bisa diajak


berkomunikasi
- Posisi pasien supinasi, jalan nafas bersih
dan lapang, pernafasan spontan
- Skor alderette 5 menit pertama Aktivitas 1,
Sirkulasi 2, Pernafasan 2, Kesadaran 1,
Warna Kulit 2, Total: 8.
- pasien diberikan analgesia ketorolac 30
mg/IV, anti muntah ondansentron 4 mg/

d. Memonitor vital sign

IV, oksigen 4 liter/menit melalui nasal

e. Memonitor status respirasi

kanule

f. Melakukan penilaian status circulasi

- Jam 14.20 pasien sudah bisa diajak

perifer (nadi perifer, edema, capillary

berkomunikasi, dapat mengikuti perintah

refill, warna kulit dan suhu)

sederhana.

g. Memonitor derajat ketidaknyamanan


dan nyeri

kedua

kaki

telah

bisa

digerakkan dan diangkat oleh pasien,


pasien dapat bernafas, kesadaran penuh,

h. Memberikan pengobatan untuk nyeri


sesuai kebutuhan

kulit merah (score Aldrete: Aktivitas 2,


Sirkulasi 2, Pernafasan 2, kesadaran 2,

i. Memonitor tanda perdarahan

warna kulit 2, Total: 10). Reflek batuk dan

j. Memonitor status hidrasi (kelembaban

muntah serta kemampuan menelan baik.

membran

mukosa,

nadi

adekuat,

tekanan darah ortostatik)


k. Memonitor status cairan, termasuk
intake dan output
l. Kolaborasi pemberian cairan IV
m. Memonitor keadaan umum pasien

- TD:118/72 mmHg, N: 80 x/menit, S:


35,7oC, RR: 24x/menit, nadi kuat, tidak
ada edema, capilary refill <2 detik.
Balutan luka tidak rembes
- Pukul 15.15 WIB pasien dijemput oleh
perawat ruang dan kembali ke bangsal.

A:Post Recovery procedure


Indikator

Kepatenan jalan nafas

Nafas Spontan

RR

Saturasi O2

Aldrete Score

Menjawab pertanyaan

Sadar penuh

Menggerakkan

Toleransi ambulasi

Thermoregulation

akibat

keadaan

ekstremitas

dengan

perintah

=Risiko

cedera

perioperative teratasi
P= -