Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN PENDAHULUAN

DAN ASUHAN KEPERAWATAN (UJIAN)

PADA An.N dengan ATTENTION TO STOMA e.c INVAGINASI DENGAN TINDAKAN


LAPARATOMY RESEKSI ANASTOMOSIS ILEOASCENDOSTOMI
Di Ruang 403 Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr Sardjito Yogyakarta

Tugas Mandiri
Stase Peminatan Kamar Operasi
Tahap Profesi Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM

Disusun Oleh:
Rida Anita Yunikawati
13/362189/KU/16917

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UGM
YOGYAKARTA
2015

INVAGINASI PADA ANAK

A. Definisi
Invaginasi disebut juga intususepsi adalah suatu keadaan dimana segmen usus
masuk ke dalam segmen lainnya; yang bisa berakibat dengan obstruksi / strangulasi.
Umumnya bagian yang peroksimal (intususeptum) masuk ke bagian distal (intususepien).
Perjalanan penyakit ini bersifat progresiv. Insiden 70% terjadi pada usia < 1 tahun
tersering usia 6-7 bulan, anak laki-laki lebih sering dibandingkan anak perempuan (De
Jong, 2005).
Suatu invaginasi atau intususepsi terjadi bila sebagian saluran cerna terdorong
sedemikian rupa sehingga sebagian darinya akan menutupi sebagian lainnya hingga
seluruhnya mengecil atau memendek ke dalam suatu segmen yang terletak di sebelah
kaudal. (Nelson, 1999).

B. Insidensi
Insidens penyakit ini tidak diketahui secara pasti, umumnya ditemukan pada anak
anak di bawah 1 tahun dan frekuensinya menurun dengan bertambahnya usia anak.
Biasanya invaginasi ditemukan lebih sering pada anak laki laki. Daerah yang secara
anatomis paling mudah mengalami invaginasi adalah ileo coecal, dimana ileum yang
lebih kecil dapat masuk dengan mudah ke dalam coecum yang longgar. Invaginasi dapat
menyebabkan obstruksi usus baik partiil maupun total. Intususepsi paling sering
mengenai daerah ileosekal, dan lebih jarang terjadi pada orang tua dibandingkan dengan
pada anak-anak.
Pada kebanyakan kasus pada orang tua dapat diketemukan penyebab yang jelas,
umumnya tumor yang membentuk ujung dari intususeptum. Invaginasi atau intususepsi
merupakan keadaan gawat darurat, dimana bila tidak ditangani segera dan tepat akan
menimbulkan komplikasi lebih lanjut. Hampir 70% kasus invaginasi terjadi pada anakanak umur kurang dari 1 tahun, paling sering dijumpai pada ileosekal. Invaginasi sangat
jarang dijumpai pada orang tua, serta tidak banyak tulisan yang membahas hal ini secara
rinci.

C. Anatomi dan Fisiologi

Anatomi dan Fisiologi Usus Normal

1) Appendix
Merupakan suatu tonjolan kecil berbentuk seperti tabung, yang terletak di kolon
asendens, pada perbatasan kolon asendens dengan usus halus.
2) Usus Besar
Menghasilkan lender dan berfunggsi menyerap air dan elektrolit dari tinja. Ketika
mencapai usus besar, isi usus berbentuk cairan, tetapi ketika mencapai rectum
bentuknya menjadi padat. Usus besar terdiri dari :
- Sekum: Usus besar dimulai dengan sekum, yang seperti kantong dalam struktur
dan menghubungkan ileum (bagian terakhir dari usus kecil) ke kolon asendens.
Hal ini dipisahkan dari ileum oleh katup ileocecal atau katup Bauhin dan dari
kolon asendens oleh persimpangan cecocolic. Ini adalah sekitar enam sentimeter
panjang dan lampiran berbentuk ulat menggantung dari sekum.
-Kolon Ascending : usus Ascending muncul setelah sekum dan melintasi ke atas
sampai mencapai fleksura hepatik atau kanan kolik lentur, yang merupakan
pergantian usus dekat hati. Dengan kata lain, hati fleksura adalah tikungan antara

kolon asendens dan kolon transversum. Tikungan kolon melintang untuk


membentuk fleksura hati, yang diikuti oleh usus besar melintang, yang perjalanan
melintasi rongga perut.
-Kolon Transverse : usus Yang melintang dimulai dari hepatik kanan dan
fleksura merupakan yang terpanjang dan bagian dapat bergerak dari usus besar.
Hal ini sedikit melengkung ke bawah dengan kenaikan tajam ke atas mendekati
akhir, di mana ia membungkuk ke bawah untuk membentuk fleksura kolik kiri
atau lentur lienalis, yang terletak di dekat limpa. Ini adalah dari ini fleksura kolik
kiri, usus descending dimulai. usus Transversus terhubung ke perut oleh
sekelompok jaringan, yang dikenal sebagai omentum yang lebih besar. sisi usus
besar melintang Posterior melekat ke dinding posterior abdomen oleh peritoneum
(selaput yang melapisi rongga perut) dan keterikatan ini disebut mesokolon
transverse.
- Kolon Descending dan Kolon Sigmoid : usus descending Yang dimulai dari
fleksura lienalis dan berakhir pada awal kolon sigmoid. Hal ini ditempatkan lebih
mendalam, dibandingkan dengan usus ascending dan memiliki beberapa bagian
dari usus kecil di depannya. Hal ini berakhir dengan kolon sigmoid, yang
merupakan bagian terakhir dari usus besar, yang berakhir pada titik, di mana
rektum dimulai. Kolon sigmoid adalah struktur berbentuk S, yang berisi otot,
bahwa kontraksi untuk membuat tekanan dalam usus besar, untuk mengeluarkan
kotoran dan memindahkan kotoran ke rektum.
3) Rektum
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan
di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens
penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air
besar.
4) Usus halus terdiri dari 3 bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Panjang
duodenum 26 cm, sedangkan jejunum + ileum : 6 m Dimana 2/5 bagian adalah

jejunum (Snel, 89). Sedangkan menurut schrock 1988 panjang usus halus manusia
dewasa adalah 5-6 m. Batas antara duodenum dan jejunum adalah ligamentum
treits.Jejunum dan ileum dapat dibedakan dari :
1. Lekukan lekukan jejunum terletak pada bagian atas rongga atas
peritoneum di bawah sisi kiri mesocolon transversum ; ileum terletak
pada bagian bawah rongga peritoneum dan dalam pelvis.
2. Jejunum lebih besar, berdinding lebih tebal dan lebih merah daripada
ileum Dinding jejunum terasa lebih tebal karena lipatan mukosa yang
lebih permanen yaitu plica circularis, lebih besar, lebih banyak dan pada
jejunum lebih berdekatan ; sedangkan pada bagian atas ileum lebar, dan
pada bagian bawah lipatan ini tidak ada.
3. Mesenterium jejunum melekat pada dinding posterior abdomen diatas dan
kiri aorta, sedangkan mesenterium ileum melekat dibawah dan kanan
aorta.
4. Pembuluh darah mesenterium jejunum hanya menmbentuk satu atau dua
aarkade dengan cabang-cabang yang panjang dan jarang yang berjalan ke
dinding usus halus. Ileum menerima banyak pembuluh darah yang
pendek, yang beraal dari 3 atau 4 atau malahan lebih arkade.
5. Pada ujung mesenterium jejunum, lemak disimpan dekat pangkalan dan
lemak jarang ditemukan didekat dinding usus halus. Pada ujung
mesenterium ileum lemak disimpan di seluruh bagian , sehingga lemak
ditemukan dari pangkal sampai dinding usus halus.
6. Kelompokan jaringan limfoid (Agmen Feyer) terdapat pada mukosa ileum
bagian bawah sepanjang pinggir anti mesentrik.
Perbedaan

usus

halus

dan

usus

besar

pada

anatomi

adalah

Perbedaan eksterna
1. Usus halus (kecuali duodenum) bersifat mobil, sedangkan colon asenden
dan colon desenden terfiksasi tidak mudah bergerak.

2. Ukuran usus halus umumnya lebih kecil dibandingkan dengan usus besar
yang terisi.
3. Usus halus (kecuali duodenum) mempunyai mesenterium yang berjalan ke
bawah menyilang garis tengah, menuju fosa iliaka kanan.
4. Otot longitudinal usus halus membentuk lapisan kontinyu sekitar usus.
Pada usus besar (kecuali appendix) otot longitudinal tergabung dalam tiga
pita yaitu taenia coli.
5. Usus halus tidak mempunyai kantong lemak yang melekat pada
dindingnya. Usus besar mempunyai kantong lemak yang dinamakan
appandices epiploideae.
6. Dinding usus halus adalah halus, sedangkan dinding usus besar sakular.
Perbedaan interna :
1. Mucosa usus halus mempunyai lipatan yang permanen yang dinamakan
plica silcularis, sedangkan pada usus besar tidak ada.
2. Mukosa usus halus mempunyai fili, sedangkan mukosa usus besar tidak
mempunyai.
3. Kelompokan jaringan limfoid (agmen feyer) ditemukan pada mukosa usus
halus , jaringan limfoid ini tidak ditemukan pada usus besar
D. Etiologi
Etiologi Invaginasi ini terbagi dua : Idiophatic dan Kausal
a.

Idiophatic
Sekitar 90 95 % invaginasi pada anak dibawah umur satu tahun tidak
dijumpai penyebab yang spesifik sehingga digolongkan sebagai infatile idiphatic
intussusceptions. Pada waktu operasi hanya ditemukan penebalan dari dinding
ileum terminal berupa hyperplasia jaringan follikel submukosa yang diduga
sebagai akibat infeksi virus. Penebalan ini merupakan titik awal (lead point)
terjadinya invaginasi.

b. Kausal

Pada penderita invaginasi yang lebih besar (lebih dua tahun) adanya
kelainan usus sebagai penyebab invaginasi seperti : inverted Meckels
diverticulum, polip usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep
nevi, lymphoma, duplikasi usus. Gross mendapatkan titik awal invaginasi berupa :
divertikulum Meckel, polip,duplikasi usus dan lymphoma pada 42 kasus dari 702
kasus invaginasi anak. Lymphosarcoma sering dijumpai sebagai penyebab
invaginasi pada anak yang berusia diatas enam tahun. Invaginasi dapat juga
terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul setelah dua minggu pasca bedah,
hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik usus, disebabkan manipulasi usus yang
kasar dan lama, diseksi retroperitoneal yang luas dan hipoksia lokal.
E. Faktor faktor yang dihubungkan dengan terjadinya invaginasi
Penyakit ini sering terjadi pada umur 3 12 bulan, di mana pada saat itu terjadi
perubahan diet makanan dari cair ke padat, perubahan pemberian makanan ini dicurigai
sebagai penyebab terjadi invaginasi. Invaginasi kadang kadang terjadi setelah / selama
enteritis akut, sehingga dicurigai akibat peningkatan peristaltik usus. Akan tetapi dari
hasil penelitian hampir 70 % kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1
tahun . Gastroenteritis akut yang dijumpai pada bayi, ternyata kuman rota virus adalah
agen penyebabnya, pengamatan 30 kasus invaginasi bayi ditemukan virus ini dalam
fesesnya sebanyak 37 %. Pada beberapa penelitian terakhir ini didapati peninggian
insidens adenovirus dalam feses penderita invaginasi.

F. Patofisiologi
Suatu segmen usus berikut mesenterium atau mesokolon masuk ke lumen usus
bagian distal oleh suatu sebab. Proses selanjutnya adalah proses obstruksi usus
strangulasi berupa rasa sakit dan perdarahan peranal. Sakit mula-mula hilang timbul
kemudian menetap dan sering disertai rangsangan muntah. Darah yang keluar peranal
merupakan darah segar yang bercampur lendir. Proses obstruksi usus sebenarnya sudah
terjadi sejak invaginasi, tetapi penampilan klinik obstruksi memerlukan waktu, umumnya
setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam (Stead et al, 2003).

Perubahan

patologik

yang

diakibatkan

intususepsi

terutama

mengenai

intususeptum. Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Perubahan pada


intususeptum ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari
intususepien, dan juga karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan
tertariknya mesenterium.Pada invaginasi dapat berakibat obstruksi strangulasi. Obstruksi
yang terjadi secara mendadak ini, akan menyebabkan bagiian apex invaginasi menjadi
oedem dan kaku, jika hal ini telah terjadi maka tidak mungkin untuk kembali normal
secara spontan.
Pada sebagian besar kasus invaginasi keadaan ini terjadi pada daerah ileo
caecal. Apabila terjadi obstruksi system llimfatik dan vena mesenterial, akibat penyakit
berjalan progresif dimana ileum dan mesenterium masuk kedalam caecum dan colon,
akan dijumpai mukosa intussusseptum menjadi oedem dan kaku. Mengakibatkan
obstruksi yang pada akhirnya akan dijumpai keadaan strangulasi dan perforasi usus

Gambar Invaginasi

G. Pathway

H. Jenis Invaginasi
Jenis invaginasi dapat dibagi menurut lokasinya pada bagian usus mana yang
terlibat, pada ileum dikenal sebagai jenis ileo ileal. Pada kolon (colon masuk ke dalam
colon) dikenal dengan jenis colo colica dan sekitar ileo caecal (Ileum masuk ke dalam
colon ascendens pada katub ileocaecal) disebut ileocaecal, jenis jenis yang disebutkan
di atas dikenal dengan invaginasi tunggal dimana dindingnya terdiri dari tiga lapisan. Jika
dijumpai dindingnya terdiri dari lima lapisan, hal ini sering pada keadaan yang lebih
lanjut disebut jenis invaginasi ganda, sebagai contoh adalah jenis jenis ileo ileo colica
(usus kecil masuk ke dalam usus kecil)

Intestinal obstruksi terdapat dua bentuk yaitu : mekanik obstruksi dan neurogenik
obstruksi paralitik (Meingots 90 ; Bailey 90).
Menurut etiologinya ada 3 keadaan :
1.

sebab didalam lumen usus

2.

sebab pada dinding usus

3.

sebab diluar dinding usus (Meingots 90)

Menurut tinggi rendahnya dibagi : obstruksi usus halus letak tinggi , obstruksi usus
halus letak rendah dan obstruksi usus besar. Berdasarkan waktunya dibagi :
1.

Acuta intestinal obstruksi

2.

Cronik intestinal obstruksi

3.

Acut super exposed on cronik


Sekitar 85 % dari obstruksi mekanik usus terjadi di usus halus dan 15 % terjadi di
usus besar (Schrock, 82).

Aethiologi obstruksi usus halus menurut Schrock 88 adalah :


1.

Adhesion

2.

Hernia

3.

Neoplasma

4.

Intussusception

5.

Volvulus

6.

benda asing

7.

batu empedu

8.

imflamasi

9.

stricture

10. cystic fibrosis


11. hematoma

I. Manifestasi Klinis
Secara klasik perjalanan suatu invaginasi memperlihatkan gambaran sebagai
berikut : Anak atau bayi yang semula sehat dan biasanya dengan keadaan gizi yang baik,
tiba tiba

menangis kesakitan, terlihat kedua kakinya terangkat ke atas, penderita

tampak seperti kejang dan pucat menahan sakit, serangan nyeri perut seperti ini
berlangsung dalam beberapa menit. Diluar serangan, anak / bayi kelihatan seperti normal
kembali. Pada waktu itu sudah terjadi proses invaginasi. Serangan nyeri perut datangnya
berulang ulang dengan jarak waktu 15 20 menit, lama serangan 2 3 menit.
Pada umumnya selama serangan nyeri perut itu diikuti dengan muntah berisi
cairan dan makanan yang ada di lambung, sesudah beberapa kali serangan dan setiap
kalinya memerlukan tenaga, maka di luar serangan si penderita terlihat lelah dan lesu dan
tertidur sampai datang serangan kembali. Proses invaginasi pada mulanya belum terjadi
gangguan pada isi usus secara total, anak masih dapat defekasi berupa feses biasa,
kemudian feses bercampur darah segar dan lendir, kemudian defekasi hanya berupa darah
segar bercampur lendir tanpa feses. Karena sumbatan belum total, perut belum kembung
dan tidak tegang, dengan demikian mudah teraba gumpalan usus yang terlibat invaginasi
sebagai suatu massa tumor berbentuk bujur di dalam perut di bagian kanan atas, kanan
bawah, atas tengah atau kiri bawah.
Gejala klinis dari invaginasi adalah TRIAS gejala yang terdiri dari:
1) Nyeri perut yang bersifat kolik,
2) Muntah,
3) Berak lendir darah (red currant jelly = selai kismis merah).

Adapula yang menyebutkan bahwa TRIAS gejala tersebut adalah:


1) Nyeri perut yang bersifat kolik,
2) Teraba massa tumor diperut seperti sosis (sausages sign),
3) Berak lendir darah.

Sekum yang teraba kosong disebut dengan dances sign. Pada colok dubur
(rectal toucher) dapat ditemukan sebagai berikut:
1) Tonus sfingter ani melemah,
2) Mungkin invaginat dapat diraba berupa massa seperti portio/pseudo portio
(portio like appearance),
3) Bila jari di tarik, maka akan keluar darah bercampur lendir (Currant jelly
stools).

J. Diagnosis
Penemuan klinis tergantung dari lamanya invaginasi terjadi. Umumnya bayi
dalam keadaan sehat dan gizi baik. Mungkin beberapa hari sebelumnya menderita radang
saluran nafas atau diare. Bayi tiba-tiba menangis seperti menahan sakit untuk beberapa
menit kemudian diam, main-main atau tidur kembali. Sering disertai muntah berupa
minuman/makanan yang masuk. Untuk menegakkan diagnosa invaginasi didasarkan pada
anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologi. Gejala klinis yang menonjol
dari invaginasi adalah suatu trias gejala yang terdiri dari :
1. Nyeri perut yang datangnya secara tiba tiba, nyeri bersifat serang serangan.,
nyeri menghilang selama 10 20 menit, kemudian timbul lagi serangan baru.
2. Teraba massa tumor di perut bentuk bujur pada bagian kanan atas, kanan
bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas.
3. Buang air besar campur darah dan lendir
Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya
tumor, oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias
invaginasi. Mengingat invaginasi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun,
sedangkan penyakit disentri umumnya terjadi pada anak anak yang mulai berjalan dan
mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur di bawah satu tahun, sakit
perut yang bersifat kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari / malam, ada
muntah, buang air besar campur darah dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan
invaginasi.

K. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin ditemukan peningkatan jumlah leukosit (
leukositosis > 10.000/mm3.). 1.10.
L. Pemeriksaan Radiologi

Photo polos abdomen : didapatkan distribusi udara didalam usus tidak merata, usus
terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda tanda obstruksi usus dengan
gambaran air fluid level. Dapat terlihat free air bilah terjadi perforasi.

Barium enema : dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis
dikerjakan bila gejala gejala klinik meragukan, pada barium enema akan tampak
gambaran cupping, coiled spring appearance.

Pemeriksaan barium enema

digunakan untuk tujuan diagnostik dan terapi, dimana akan terlihat gambaran
cupping dan coilspring

M. Penatalaksanaan
Keberhasilan penatalaksanaan invaginasi ditentukan oleh cepatnya pertolongan
diberikan, jika pertolongan sudah diberikan kurang dari 24 jam dari serangan pertama
maka akan memberikan prognosis yang lebih baik. Penatalaksanaan penanganan suatu
kasus invaginasi pada bayi dan anak sejak dahulu mencakup dua tindakan penanganan
yang dinilai berhasil dengan baik :
1. Reduksi dengan barium enema
2. Reduksi dengan operasi
Sebelum dilakukan tindakan reduksi, maka terhadap penderita : dipuasakan,
resusitasi cairan, dekompressi dengan pemasangan pipa lambung. Bila sudah dijumpai
tanda gangguan pasase usus dan hasil pemeriksaan laboratorium dijumpai peninggian
dari jumlah leukosit maka saat ini antibiotika berspektrum luas dapat diberikan. Narkotik
seperti Demerol dapat diberikan (1mg/ kg BB) untuk menghilangkan rasa sakit.
1. Reduksi Dengan Barium Enema
Untuk tujuan terapi, barium enema dikerjakan dengan tekanan hidrostatik
untuk mendorong usus yang masuk ke arah proksimal. Peritonitis merupakan

kontra indikasi dilakukan reposisi dengan barium enema. Reposisi berhasil bila
setelah rectal tube ditarik dari anus maka barium keluar dengan disertai massa
feses dan udara (menyemprot); pada fluoroskopi terlihat ada reflux barium
kedalam lumen ileum dan massa tumor hilang.. Barium enema dapat diberikan
bila tidak dijumpai kontra indikasi seperti :
Adanya tanda obstruksi usus yang jelas baik secara klinis maupun pada
foto abdomen
Dijumpai tanda tanda peritonitis
Gejala invaginasi sudah lewat dari 24 jam
Dijumpai tanda
tanda dehidrasi berat.
Usia penderita diatas 2 tahun
Hasil reduksi ini akan maksimal jika dilakukan dalam keadaan tenang
tidak menangis atau gelisah karena kesakitan oleh karena itu pemberian sedatif
sangat membantu. Kateter yang telah diolesi pelicin dimasukkan ke rektum dan
difiksasi dengan plester, melalui kateter bubur barium dialirkan dari kontainer
yang terletak 3 kaki di atas meja penderita dan aliran bubur barium dideteksi
dengan alat floroskopi sampai meniskus intussusepsi dapat diidentifikasi dan
dibuat foto.
Meniskus sering dijumpai pada kolon transversum dan bagian proksimal
kolon descendens. Bila kolom bubur barium bergerak maju menandai proses
reduksi sedang berlanjut, tetapi bila kolom bubur barium berhenti dapat diulangi 2
3 kali dengan jarak waktu 3 5 menit. Reduksi dinyatakan gagal bila tekanan
barium dipertahankan selama 10 15 menit tetapi tidak dijumpai kemajuan.
Antara percobaan reduksi pertama, kedua dan ketiga, bubur barium dievakuasi
terlebih dahulu.
Reduksi barium enema dinyatakan berhasil apabila : Rectal tube ditarik
dari anus maka bubur barium keluar dengan disertai massa feses dan udara. Pada
floroskopi terlihat bubur barium mengisi seluruh kolon dan sebagian usus halus,
jadi adanya refluks ke dalam ileum. Hilangnya massa tumor di abdomen.
Perbaikan secara klinis pada anak dan terlihat anak menjadi tertidur serta norit test

positif. Penderita perlu dirawat inap selama 2 3 hari karena sering dijumpai
kekambuhan selama 36 jam pertama. Keberhasilan tindakan ini tergantung kepada
beberapa hal antara lain, waktu sejak timbulnya gejala pertama, penyebab
invaginasi, jenis invaginasi dan teknis pelaksanaannya, Reduksi Dengan Tindakan
Operasi 1. Memperbaiki keadaan umum Tindakan ini sangat menentukan
prognosis, janganlah melakukan tindakan operasi sebelum terlebih dahulu
keadaan umum pasien diperbaiki.
Pasien baru boleh dioperasi apabila sudah yakin bahwa perfusi jaringan
telah baik, hal ini di tandai apabila produksi urine sekitar 0,5 1 cc/kg BB/jam.
Nadi kurang dari 120x/menit, pernafasan tidak melebihi 40x/menit, akral yang
tadinya dingin dan lembab telah berubah menjadi hangat dan kering, turgor kulit
mulai membaik dan temperature badan tidak lebih dari 38o C. Biasanya perfusi
jaringan akan baik apabila setengah dari perhitungan dehidrasi telah masuk,
sisanya dapat diberikan sambil operasi berjalan dan pasca bedah. Yang dilakukan
dalam usaha memperbaiki keadaan umum adalah :
a. Pemberian cairan dan elektrolit untuk rehidrasi (resusitasi).
b. Tindakan dekompresi abdomen dengan pemasangan sonde lambung.
c. Pemberian antibiotika dan sedatif.
Suatu kesalahan besar apabila buru buru melakukan operasi karena takut
usus menjadi nekrosis padahal perfusi jaringan masih buruk. Obat anestesi dan
stress operasi akan memperberat keadaan umum penderita serta perfusi jaringan
yang belum baik akan menyebabkan bertumpuknya hasil metabolik di jaringan
yang seharusnya dibuang lewat ginjal dan pernafasan, begitu pula perfusi jaringan
yang belum baik akan mengakibatkan oksigenasi jaringan akan buruk pula. Bila
dipaksakan kelainan kelainan itu akan irreversible

2. Tindakan untuk mereposisi usus


Tindakan selama operaasi tergantung kepada penemuan keadaan usus,
reposisi manual dengan cara milking dilakukan dengan halus dan sabar, juga
bergantung pada keterampilan dan pengalaman operator. Insisi operasi untuk
tindakan ini dilakukan secara transversal (melintang), pada anak anak dibawah

umur 2 tahun dianjurkan insisi transversal supraumbilikal oleh karena letaknya


relatif lebih tinggi.
Ada juga yang menganjurkan insisi transversal infraumbilikal dengan
alasan lebih mudah untuk eksplorasi malrotasi usus, mereduksi invaginasi dan
tindakan apendektomi bila dibutuhkan. Tidak ada batasan yang tegas kapan kita
harus berhenti mencoba reposisi manual itu. Reseksi usus dilakukan apabila :
pada kasus yang tidak berhasil direduksi dengan cara manual, bila viabilitas usus
diragukan atauditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi. Setelah
usus direseksi dilakukan anastomosis end to end, apabila hal ini
memungkinkan, bila tidak mungkin maka dilakukan exteriorisasi atau
enterostomi.
N. Komplikasi
Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi berat,
seperti kematian jaringan usus, perforasi usus, infeksi dan kematian.

KONSEP DASAR STOMA

Stoma adalah lubang buatan pada abdomen utnuk mengalirkan urine atau faeces keluar
dari tubuh.
Macam-macam Stoma :
1.

Colostomy (Lubang buatan di usus besar)

2.

Tracheostomy (Lubang buatan di tenggorok)

3.

Urostomy (Lubang buatan di kandung kemih)

A. Gastrointestinal Stoma
Pada umumnya dibuat untuk ileum (ileostomy) atau colon (colostomy). Tedapat 2 jenis
gastrointestinal Stoma :
1.

Temporary (de-functioning) stomas : meliputi ileostomy atau colostomy yang dibuat


untuk melindungi suatu anastomosis atau dekompresi atau penyembuhan segmen usus
bagian distalnya. Stoma mempunyai 2 lubang yaitu lubang proksimal adalah tempat
keluarnya faeces dan lubang distal tempat keluarnya mukus dari usus bagian distalnya.

2.

Permanent stomas : lubang dinding abdomen yang dibuat secara permanen tempat
menempelkan bagian akhir dari usus pada permukaan kulit. Terdapat beberapa bentuk
permanent stoma antara lain:
a.

Panproctocolectomy : ileostomy permanent yang dibuat dari ileum terminalis,

seluruh colon rectum dan anus diangkat.


b.

Total colectomy: ileostomy dibuat tetapi ujung rectum tetap dan disalurkan ke

dinding abdomen sebagai mucus fistula.


c.

Abdomenoperineal (A-P) excision : colostoly pada fossa iliaca sinistra, rectum dan

anus diangkat, sering disertai dengan pengangkatan 1/3 bagian atas dinding posterior
vagina
d.

Hartmarns procedure, eksisi dari sigmoid atau atas rectum colostomy dibuat dan

ujung rectum ditutup dan dibiarkan didalam pelvis.


e.

Pelvis exenteration: operasi radikal untuk pengangkatan organ pelvis; dibuat

colostoly dan urostomy.

a). Kelainan pada organ Pencernaan yang menimbulkan indikasi tindakan gastrointestinal Stoma:
1. Esafagus : Kanker pada bagian ini akan menyebabkan gangguan menelan, dimulai sulit
menelan dan bila tidak cepat diangkat akan tersumbat total sehingga tidak bisa menelan
sama sekali.
2. Lambung : Seperti di Esophagus kanker di lambung juga akan menyebabkan
tersumbatnya saluran cerna, tetapi tergantung lokasi, kanker pada lokasi tertentu tidak
akan menyebabkan tersumbatnya saluran cerna sampai pada stadium lanjut.
3. Usus Besar : Kanker usus besar awalnya menimbulkan gejala gangguan pola defikasi
artinya secara berangsur angsur penderita merasa tidak nyaman diperut kemudian mulas
yang sukar diterangkan sebabnya dilanjutkan dengan diare / mencret berak darah lender
ini terutama untuk kanker rectum dan obstruksi saluran cerna karena tersumbatnya usus
besar akhirnya perut kembung karena kotoran menumpuk dalam usus karena tidak bisa
keluar.
Untuk kanker rektum, jenis operasinya tergantung pada seberapa jauh jarak kanker ini
dari anus dan seberapa dalam dia tumbuh ke dalam dinding rektum. Pengangkatan
seluruh rektum dan anus mengharuskan penderita menjalani kolostomi menetap
(pembuatan hubungan antara dinding perut dengan kolon). Dengan kolostomi, isi usus
besar dikosongkan melalui lubang di dinding perut ke dalam suatu kantung, yang disebut
kantung kolostomi.
4. Usus Halus : Kebanyakan tumor usus halus adalah jinak. Kebanyakan tumor jinak tidak
menyebabkan gejala. Tetapi tumor yang berukuran besar bisa menyebabkan terdapatnya
darah dalam tinja, penyumbatan usus (sebagian atau total), atau penjeratan usus bila satu
bagian usus masuk ke usus yang berada di depannya (intususepsi).
5. Pangkreas : Kanker pangkreas karena letaknya sangat sulit terdiagnosis, biasanya
diketahui setelah ada komplikasi ikterus atau penyumbatan pada usus 12 jari.
6. Hati : Kanker primer yang terletak ditepi pada keadaan dini bila cepat diketahui dan
segera diambil tindakan operasi akan menyembuhkan penyakitnya. Pada hati sering
dijumpai kanker sekunder yang berasal dari penyebaran kanker alat tubuh lain seperti
usus, paru, payudara, genitalia, interna.
b). Kolostomi

Dari kata kolon yang artinya usus besar dan stoma yang artinya mulut diartikan
disini sebagai mulut yang dibuat dari usus besar dan lebih dikenal sebagai anus buatan.
Kolostomi dikerjakan / dibuat pada keadaan :
1) Kanker usus besar terletak pada kolon rectum distal (kurang 5 cm dari batas anus)
2) Kanker genitalia yang sudah mengenai otot anus
3) Kanker usus besar yang terlambat dioperasi walaupun terletak dari 5 cm diatas anus
Perawatan Colostomy
1. Penjelasan yang baik pada penderita maupun keluarga baik sebelum dan sesudah
operasi.
2. Kosongkan pouch (kantong) beberapa kali sehari dan ganti setiap 1-3 hari atau bila
terjadi perembesan, cara :
a. Persiapkan pouch pengganti
b. Lepas / angkat pouch yang diganti
c. Perhatikan keadaan kulit sekitar stoma (adakah luka, iritasi, atau radang),
bersihkan kulit dengan air hangat tanpa sabun atau alcohol atau desinfektans
d. Pasang pouch yang baru.
B. Urinary Stoma :
Pada umumnya merupakan prosedur yang permanent baik menggunakan saluran
intestinal (dapat menggunakan ileum atau colon) maupun ureterostomy dan keduanya
disebut urostomy. Istilah ileostomy hanya digunakan untuk faecal stoma. Ureterostomy
dapat dibuat dari salah satu atau ke 2 ureter.
Terdapat beberapa jenis urostomy:
a. Urostomy dengan total cyctectomy, merupakan urostomy permanent, biasanya
menggunakan saluran ileum
b. Urostomy tanpa pengangkatan bladder, sering menggunakan saluran ileum.
c. Percutaneus nephrostomy adalah pemasangan catheter pada sistem pelviocaliceal
melalui dinding abdomen.
1). Kelainan pada organ perkemihan yang menimbulkan indikasi tindakan urinary Stoma
sebagian besar diakibatkan oleh keganasan sel pada organ tersebut, adapun kelainan
tersebut antara lain :

a). Blader : Pada Blader Neoplasma sering terjadi hematuri disertai nyeri
merupakan tanda pertama kanker blader, biasanya intermittent yang mana
sering menyebabkan hambatan dalam mencari pelayanan diagnostik. Akibat
perkembangan penyakit klien mengalami iritable blader dengan disuria.
Akhirnya gross hematuria, obstruksi atau vistula mendorong klien mencari
pengobatan.
b). Saluran Kemih : Seorang yang menderita penyakit batu saluran kemih jika
terdapat faktor predisposisi, kurang minum sehingga konsentrasi zat
pembentuk dalam air seni menjadi lebih pekat mengakibatkan mudah
terbentuk batu. Faktior predisposisi lainnya : faktor batu saluran
kemih/infeksi saluran kemih sebelumnya, riwayat keluarga yang menderita
batu saluran kemih, penyakit gout (peningkatan kadar asam urat darah yang
tinggi), mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium atau
oxalat (coklat, cola, kacang, teh) dan sumbatan saluran kemih.
c). Ginjal : Pada stadium dini, kanker ginjal jarang menimbulkan gejala. Pada
stadium lanjut, gejala yang paling banyak ditemukan adalah hematuria
(adanya darah di dalam air kemih). Hematuria bisa diketahui dari air kemih
yang tampak kemerahan atau diketahui melalui analisa air kemih. Tekanan
darah tinggi terjadi akibat tidak adekuatnya aliran darah ke beberapa bagian
atau seluruh ginjal, sehingga memicu dilepaskannya zat kimia pembawa
pesan untuk meningkatkan tekanan darah.
Polisitemia sekunder terjadi akibat tingginya kadar hormon eritropoietin,
yang merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan sel darah
merah. Gejala lainnya yang mungkin terjadi berupa nyeri pada sisi ginjal
yang terkena, penurunan berat badan.
d) Kandung kemih : Gejala pada pasien yang menderita Ca Kandung Kemih
dapat berupa hematuria (adanya darah dalam air kemih), rasa terbakar atau
rasa nyeri ketika berkemih, desakan untuk berkemih, sering berkemih. Gejala
dari kanker kandung kemih menyerupai gejala infeksi kandung kemih
(sistitis) dan kedua penyakit ini bisa terjadi secara bersamaan. Patut dicurigai

suatu kanker jika dengan pengobatan standar untuk infeksi,k gejalanya tidak
menghilang.
e) Pelvis Renalis dan Ureter : Kanker pada pelvis renalis dan ureter dapat terjadi
pada sel-sel yang melapisi pelvis renalis dan ureter. Kanker pada sel-sel yang
melapisi pelvis renalis disebut karsinoma sel transisional. Pelvis renalis
adalah bagian ginjal yang berfungsi sebagai corong yang mengalirkan air
kemih ke ureter. Ureter adalah tabung / saluran yang menghubungkan ginjal
dengan kandung kemih. Gejala awal biasanya berupa hematuria (darah di
dalam air kemih). Jika aliran air kemih tersumbat, bisa terjadi nyeri kram di
daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul, atau di perut bagian bawah.
f)

Uretra : Kanker Uretra adalah suatu keganasan yang jarang terjadi, yang
ditemukan di dalam uretra. Uretra merupakan saluran tempat keluarnya air
kemih dari kandung kemih. Pada wanita, panjang uretra adalah sekitar 3,75
cm dan ujungnya adalah berupa lubang yang terletak diatas vagina. Pada pria,
panjang uretra adalah sekitar 20 cm, menembus kelenjar prostat dan berakhir
sebagai sebuah lubang di ujung penis.
Gejala pertama biasanya adanya darah di dalam air kemih
(hematuria), yang mungkin hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan
mikroskopik atau bisa juga tampak sebagai air kemih yang berwarna
kemerahan. Aliran air kemih bisa tersumbat, sehingga penderita mengalami
kesulitan dalam berkemih atau aliran air kemih menjadi lambat dan sedikit.

C. Tracheostomy
Adalah lubang buatan pada dinding anterior trachea untuk membuat saluran
udara.
Terdapat 2 macam tracheostomy :
a. Tracheal stoma post laryngectomy : merupakan tracheostomy permanen. Tracheal
cartilage diarahkan kepermukaan kulit, dilekatkan pada leher. Rigiditas cartilage
mempertahankan stoma tetap terbuka sehingga tidak diperlukan tracheostomy
tube (canule).
b. Tracheal stoma without laryngectomy : merupakan tracheostomy temporer.
Trachea dan jalan nafas bagian atas masih intak tetapi terdapat obstruksi.

Digunakan tracheostomy tube (canule) terbuat dari metal atau Non metal
(terutama pada penderita yang sedang mendapat radiasi dan selama pelaksanaan
MRI Scanning.
Perawatan Trachestomy :
a. Tracheostomy tube terdiri dari iner tube (canule) dan outer tube
b. Iner tube harus diganti tiap 7-14 hari (maksimal 30 hari)
c. Iner tube harus dikeluarkan minimal sekali sehari untuk melihat adanya kerak dan
bersihkan dengan sabun cair dan air hangat yang mengalir (jangan menggunakan
sikat, cleaner atau spong). Bila sekret kental dan timbul kerak bersihkan dengan
Natrium bicarbonat kemudian bilas dengan air hangat yang mengalir.
d. Outer tube harus diganti tiap 30 hari.
e. Suctioning: gunakan suction catheter dengan ukuran lebih kecil dari separuh
ukuran lubang tube.
f. Bersihkan daerah sekitar tracheostomy dengan normal saline dan usahakan tetap
kering untuk mencegah infeksi.
g. Humidifikasi dengan saline Nebulizer (melalui tracheal stoma).

Yang harus diperatikan pada pasien dengan menggunakan Stoma :


A. Tracheostomy
1)

Pada saat bicara tutuplah dengan kasa atau kertas

2)

Siapkan selalu pelebar trachea, termometer

3)

Hisaplah bila sudah mulai banyak sekret

4)

Jangan sampai kemasukan air saat mandi

5) Bila memungkinkan menggunakan pakaian yang bisa melindungi lubang tetapi


udara bebas keluar masuk
B. Urostomy dan Colostomy
1)

Bersihkan kulit sekitar stoma dengan air hangat setiap hari

2)

Setelah itu keringkan bagian yang basah

3)

Lubang yang kotor bisa disemprot pelan-pelan

4)

Berikan pasta sekitar lubang sebelum memasang bag

5)

Bila kantung terisi 1/3 mulai kosongkan

6)

Untuk colostomy kantung diganti 1-2 kali sehari

7)

Untuk urostomy kantung diganti 3-5 hari sekali

Yang harus dihindari pada pasien yang menggunakan Stoma :


A. Tracheostomy
1)

Berenang, sebab bahaya kemasukan air

2)

Pergi tanpa pelebar trachea serta termometer

3)

Memakai pakaian yang dapat menutup stoma

B. Urostomy dan Colostomy


1) Menyemprot langsung dengan shower ke stoma;
2) Menunggu kantung sampai penuh
3) Menunggu kantung sampai lepas dari kulit
4) Menunggu kantung sampai sobek
5) Membuka stoma

DAFTAR PUSTAKA

Brunicardi JH, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews JB. Intussusception in
Schwartz Principles of Surgery. 9th ed. the McGraw-Hill Companies, Chapter 39; 2010
De Jong, W, Sjamsuhidajat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Bab 35:h 627-629, 2005. Stead, LG., Stead, SM., Kaufman, MS., Sotsky-Kent, T.
Pediatric Surgery in First Aid for the Surgery Clerkship. the McGraw-Hill Companies,
p336-337, 2003
Georgina Casey, stoma wound. Nursing Standard, 2000. Proquest Nursing & Allied Health
Search
Kathleen Osborn, Nursing Burn Injuries. Nursing Management; 2003. Proquest Nursing &
Allied Health Search
Maureen Benbow, Healing and stoma wound Classification. Journal of Community Nursing;
2007, Proquest Nursing & Allied Health Search
Nelson. (1999). Ilmu Kesehatan Anak. (vol 2). Edisi 15 Jakarta : EGC
Stead, LG., Stead, SM., Kaufman, MS., Sotsky-Kent, T. Pediatric Surgery in First Aid for the
Surgery Clerkship. the McGraw-Hill Companies, p336-337, 2003.
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/issue/view/226/showToc diakses pada 13 April
2015 pukul 22.00 WIB

FORMAT PENGKAJIAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Nama Mahasiswa

: Rida Anita Yunikawati

NIM

: 13/362189/KU/16917

Tanggal Ujian

: 14 April 2015

Tempat Praktek

: Ruang 403 (Bedah Anak) Lt. 4 Gedung Bedah Sentral Terpadu RSUP
DR Sardjito Yogyakarta

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF


1. Identitas Pasien
Nama

: An.NM

Umur

: 11 bulan

Status

: Belum menikah

Agama

: Islam

Tanggal Masuk

: 09 April 2015 (Bangsal Cendana 4), 14 April 2015 (GBST)

Tanggal pengkajian

: 14 April 2015

Sumber informasi

: Orang tua An.NM, Observasi dan Rekam Medis Pasien

2. Pengkajian
A. Riwayat Kesehatan
Diagnosa medis

: Attention to Stoma e.c Invaginasi

Jenis Operasi

: Laparatomy reseksi anastomosis ileoascendostomi

Jenis Anestesi

: General Anestesi

Keluhan utama

: Ingin menutup stoma dan terdapat fistel di atas luka operasi

Riwayat Penyakit sekarang :


4 bulan yang lalu pasien menjalani operasi pembuatan stoma atas indikasi invaginasi
dan sekarang ingin menutup stoma.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Tidak ada riwayat hipertensi, DM, jantung, asma, dan alergi
Tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga

B. Pola kebiasaaan
Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Ibu pasien mengungkapkan bahwa selalu membawa anaknya periksa ke dokter ketika
tampak sakit, karena anaknya masih sangat kecil jadi kalau sakit sangat khawatir
Nutrisi metabolic
Antropometri (A)

: BB=9 kg

TB=73,5cm

IMT=16,6

Biochemical Marker (B): Hb =13,5 gr/dL (Normal), GDS=88 mg/dl (Normal)


Clinical Symptom

: turgor kulit baik, tubuh tampak proporsional

Diet (D)

: Ibu pasien mengungkapkan bahwa anak sehari makan 3 kali,

makanan yang diberikan nasi tim atau bubur. Ibu mengungkapkan anak masih minum
ASI, dalam sehari tidak tentu minum asi 3-5 kali, kadang minum the atau air putih juga.
Pola eliminasi
Buang air besar melalui stoma tidak ada keluhan, produk (+), tidak ada lendir, warna
kuning kecoklatan.
Buang air kecil tidak ada keluhan, lancar, 6-7 kali sehari, warna kuning jernih, tidak ada
endapan, aroma khas urin, pasien tidak menggunakan kateter saat di bangsal.
Pola aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan diri

Makan/minum

Mandi

Toileting

Berpakaian

Mobilitas di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi/ROM

0: mandiri, 1: alat Bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4:
tergantung total
Oksigenasi: Pasien tidak memakai oksigen saat datang ke ruang operasi, tidak ada sesak
nafas, pernafasan normal, RR = 16x/menit
Pola tidur dan istirahat
Ibu pasien mengatakan an.NM bisa tidur selama di RS, tidur malam 9-10 jam, tidur
siang 1-2 jM
Pola persepsi dan sensori kognitif
GSC = E4V5M6
Penglihatan: tidak ada keluhan.
Pendengaran: tidak ada keluhan, tidak menggunakan alat bantu
Pengecap: tidak ada keluhan.
Penciuman: tidak ada keluhan, tidak ada gangguan atau penurunan penciuman
Sensasi: pasien dapat merasakan sensasi kulit saat dicubit sedikit.
Pola persepsi diri
Ibu pasien mengungkapkan bahwa ingin yang terbaik untuk anaknya dan ingin segera
ditutup stoma nya agar anak merasa lebih nyaman. Ibu mengungkapkan agak cemas
ketika anaknya harus menjalani operasi karena masih kecil.
Pola seksual dan reproduksi
Ibu pasien mengungkapkan tidak ada kemerahan atau gatal di area genital anaknya
Pola peran hubungan
Selama di RS yang menunggu pasien adalah keluarganya. Pasien belum bisa
berkomunikasi dengan baik, karena belum bisa berbicara dengan jelas.
Pola manajemen koping stress
Ibu pasien mengungkapkan jika anaknya merasa bosan atau menangis terusibu saat di
rumah sakit , ibu selalu menemani dan menggendong anaknya. Ibu mengungkapkan
ingin selalu menemani anaknya saat sakit seperti ini agar anak merasa nyaman.
Sistem nilai dan keyakinan
Orang tua pasien beragama Islam, ayah dan ibu pasien selalu berdoa agar operasinya
berjalan lancar dan dapat sembuh kembali.

Riwayat pertumbuhan dan Perkembangan:


Ibu pasien mengungkapkan anakny sudah latihan berjalan(dipegang tangannya), sudah bisa
memegang mainan, suka memasukkan jari atau mainan ke mulut
C. Pemeriksaan fisik :
1) Keadaan umum:
Pasien compos mentis, tidak menangis
GCS: E4M6Vx, TD: 100/60 mmHg, Nadi: 104x/ menitit, RR: 216x/ menit, Suhu:
35,6oC, skala nyeri: 0
2) Kulit
Kulit kecoklatan homogen, penyebaran bulu merata, kulit utuh, terdapat stoma di perut
kanan. Turgor kulit baik, lembab, tidak kemerahan.
3) Kepala
Bentuk kepala mesochepal, tidak ada jejas, tidak ada keluhan pusing.Rambut: hitam,
bersih
4) Mata
Sklera putih, konjungtiva pink kemerahan, penglihatan normal, tidak ada keluhan pada
mata.
5) Telinga
Tidak ada keluhan dalam pendengaran
Telinga

Kanan

Kiri

Otoorrhoe

Tidak ada

Ada

Deafness

Tidak ada

Ada

Tinitus

Tidak ada

Tidak ada

Otalgia

Tidak ada

Tidak ada

Itching

Tidak ada

Tidak ada

Vertigo

Tidak ada

Tidak ada

Auricula

Normal

Normal

Planummastoidium

Normal

Normal

Gld. Lymphhatica

Normal

Normal

Can. Aud. Ext

Normal

Normal

Memb. Tympani

Normal

Normal

6) Hidung
Bentuk simetris, tidak ada keluhan, tidak ada luka, penciuman berfungsi dengan baik.
tidak ada nyeri tekan pada hidung
Hidung

Kanan

Kiri

Obs Nasal

Tidak ada

Tidak ada

Rinorrhoe

Tidak ada

Tidak ada

Bersin-bersin

Tidak ada

Tidak ada

Nasal Haemorrhagia

Tidak ada

Tidak ada

Nasolalia

Tidak ada

Tidak ada

Rhinalgia

Tidak ada

Tidak ada

Foetor ex nasalle

Tidak ada

Tidak ada

Anosmia/ hyposmia

Tidak ada

Tidak ada

Discharge

Normal

Normal

Conca

Normal

Normal

Septum

Normal

Normal

Tumor

Tidak ada

Tidak ada

Sinus Paranasalis

Normal

Normal

7) Mulut
Bibir kemerahan, tampak lembab, tidak ada luka. Gigi seri bagian bawah anak sudah
tumbuh
8) Leher :
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid ataupun peningkatan tekanan vena jugularis, tidak
ada jejas dan nyeri pada leher
Tenggorok

Ket

Odynophagia

Tidak ada

Dysphagia

Tidak ada

Regurgitasi

Tidak ada

Haematemesis

Tidak ada

Dyspnoe/ apnoe

Tidak ada

Hoarseness

Tidak ada

Haemoptoe

Tidak ada

Nasopharynx

Kanan

Kiri

Dinding belakang

Normal

Normal

Choanae

Normal

Normal

Muara Tub. Eustachi

Normal

Normal

Adenoid

Normal

Normal

Tumor

Tidak ada

Tidak ada

Oropharynx

Kanan

Kiri

Palatum

Normal

Normal

Uvula

Normal

Normal

Tonsila Palatina

Normal

Normal

Tonsila lingualis

Normal

Normal

Dinding Belakang

Normal

Normal

9) Dada :
Thorax

Jantung

Paru

Inspeksi

Terlihat ictus cordis di

Dinding dada simetris, kulit

SIC V

homogeny, tidak ada luka

Ictus cordis teraba di

Gerakan dinding dada simetris, Vokal

SIC V

fremitus teraba, tidak ada nyeri tekan

Tidak ada perbesaran

Suara sonor, tidak ada efusi

Palpasi

Perkusi

jantung, suara redup.


Auskultasi

S1-2 normal lub dup,

Suara nafas vesikuler, tidak ada suara

reguler, tidak ada suara

nafas tambahan

tambahan

10) Payudara
Kulit homogen, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada luka
11) Abdomen
Kulit abdomen bersih, luka (-), nyeri tekan (-), bising usus 8-10 kali/ menit, distensi
abdomen (-), terdapat stoma di perut kanan, produk (+)
12) Genitalia
Ibu pasien mengungkapkan tidak ada gatal atau masalah di genitalia
13) Anus dan rectum
Ibu pasien mengungkapkan tidak ada luka atau kemerahan di anus anak
14) Muskuloskeletal
Pasien mampu menggerakkan ekstremitas sendiri, kekuatan otot kedua tangan dan
kaki: 4
4

, Edema

15) Neurologi: Tidak ditemukan adanya reflek patologis

D. Pemeriksaan Laboraturium
1. Pemeriksaan Darah lengkap (24 Februari 2015)
NAMA PEMERIKSAAN

HASIL

NILAI

INTERPRETASI

RUJUKAN
FAAL HATI
Albumin

4,34 g/dL

3,97-4,94

Normal

BUN

9,4 mg/dL

6-20

Normal

Creatinin

0,21 mg/dL

0,50-0,90

Dibawah Nilai Normal

88 mg/dL

80-140

Normal

FAAL GINJAL

DIABETES
Glukosa Sewaktu
ELEKTROLIT

Natrium

134 mmol/L

136-145

Dibawah Nilai Normal

Kalium

4,60 mmol/L

3,50-5,10

Normal

Klorida

101 mmol/L

98-107

Normal

PPT

14,4 detik

12,3-15,3

Normal

INR

1,05

0,90-1,10

Normal

Kontrol PPT

14,4

APTT

32,3 detik

27,9-37,0

Kontrol APTT

29,3

Leukosit

9,93 x 103/L

6,00-17,50

Normal

Eritrosit

5,58 x 106/L

3,90-5,50

Diatas Nilai Normal

Hemoglobin

13,5 g/dL

11,1-14,1

Normal

Hematokrit

41,9 %

31,0-41,0

Diatas Nilai Normal

MCV

75,1 fL

80,0-99,0

Dibawah Nilai Normal

MCH

24,2 pg

27,0-32,0

Dibawah Nilai Normal

MCHC

32,2 g/dL

32,0-36,0

Normal

RDW-SD

36,4 fL

35,0-45,0

Normal

RDW-CV

13,8%

11,5-14,5

Normal

Neutrofil #

2,11 x 103/L

2,20 4,8

Dibawah Nilai Normal

Limfosit #

6,67 x 103/L

1,30-2,90

Tinggi

Non Reaktif

Non Reaktif

Normal

HEMOSTASIS

Normal

DARAH LENGKAP

HEPATITIS
HbaAg
HEMATOLOGI
Golongan Darah

2. Pemeriksaan Radiologi

E. Persiapan Operasi

Persiapan saat di ruang penerimaan:

Pengecekan kesesuaian identitas pasien serta gelang identitas pasien

Mengecek lokasi dan menanyakan alergi (tidak ada alergi obat dan makanan )

Mengecek prosedur

Mengecek inform consent operasi

Mengecek inform consent anestesi

Lokasi operasi sudah diberi tanda

Mengecek Rontgen thorax

Antibiotik Profilaksis (Cefotaxime 450 mgam melalui IV line)

Puasa mulai : 02.00

Mengkonfirmasi tersedianya darah : -

Memastikan pasien tidak memakai perhiasan/implant

Akses intravena di tangan kanan

Memakaikan topi operasi dan selimut

Transfer dari ruang penerimaan ke ruang 403 setelah pasien dibius

ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERATIF

Analisa Data
Data

Diagnosa Keperawatan

DS: Ibu pasien mengungkapkan sudah berdoa untuk operasinya Risiko


hari ini semoga lancer dan tidak ditunda lagi
DO: Pasien compos mentis, pasien digendong oleh ibunya dan
diajak bercanda. Pasien dibius saat digendong ibuya di
Ruang penerimaan.

cedera

akibat

keadaan perioperative

Rencana Asuhan Keperawatan Preoperatif


Tujuan (NOC)

Intervensi (NIC)

Pre-procedure readiness

Teaching : Preoperative, aktivitas :

Setelah

dilakukan

intervensi a) Informasikan pasien dan orang terdekat terkait

keperawatan selama 20 menit, pasien

waktu dan lokasi

melalui orang tua dapat siap dengan b) Informasikan pada pasien dan orang terdekat
prosedur persiapan operasi dengan
kriteria hasil:

c) Menentukan riwayat operasi sebelumnya dan

Indikator

Target

Pengetahuan

terkait

prosedur
Pengetahuan

pengetahuan pasien
d) Nilai kecemasan pasien dan orang terdekat

e) Berikan waktu keada pasien untuk menanyakan


hal terkait operasi

terkait

persiapan

sebelum 5

f) Jelaskan prosedur perioperatif secara jelas


g) Jelaskan mengenai obat, efek samping dan alasan

prosedur
Pengetahuan
potensi

mengenai lama perkiraan operasi

menggunakan obat tersebut

terkait

risiko

dan 5

tunggu

komplikasi
Pengosongan

h) Informasikan kepada orang terdekat lokasi ruang

usus

dan

lambung

i) Kenalkan pasien kepada tim yang ikut serta dalam


5

Status Puasa

Pemberian marking site

Kelengkapan hasil lab

Penandatanganan informed
concent
Keterangan:
1= not adequate;
2= slighly adequate;
3= moderately adequate

proses operasi serta jelaskan perannya


j) Informasikan waktu kemungkinan nyeri timbul

Risk Identification, Aktivitas:


a. Sediakan format pengkajian yang realibel dan

valid untuk mengkaji resiko pasien


b. Review riwayat kesehatan dan dokumen yang
membuktikan diagnose atau penyakit terdahulu
c. Identifikasi pasien terhadap kebutuhan perawatan
yang berkelanjutan
Identifikasi stategi koping individu

4= substantially adequate;
5= totally adequate;

Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa: Risiko cedera akibat keadaan perioperative
Implementasi

Evaluasi

Selasa, 14 April 2015

S: Ibu pasien mengatakan sudah berdoa unutk

(08.15 WIB)

operasinya hari ini, ingin anaknya lancer

a. Memastikan identitas sesuai dengan

operasiny

gelang dan rekam medis

Ibu mengungkapkan abhwa anaknya sudah

b. Menyediakan format pengkajian untuk

tidak makan dan minum sejak pukul 02.00,

mengkaji pasien selama perioperatif

tidak memiliki riwayat alergi. Sudah

d. Memverifikasi inform concern bedah

dijelaskan prosedur operasi dan anestesi

dan dan anestesi

serta

e. Memverifikasi bersama pasien dan


keluarga mengenai prosedur dan area
pembedahan

mengungkapkan

perawatan,
anak

tidak

ibu
memakai

perhiasan dan plat logam.


O: Pasien compos mentis, belum bisa

f. Memastikan kelengkapan dokumen dan


mengkaji adanya alergi
g. Memastikan

proses

pasien

berkomunikasi

dengan

baik,

identitas

pasien sesuai gelang dan rekam medis,


memakai

plat

logam atau tidak


h. Memakaikan topi operasi

inform concern dan rekam medis lengkap,


pasien

direncanakan

tindakan

operasi

reseksi anastomosa dan penutupan stoma.


Instrumen dan peralatan operasi siap.

(08.30 WIB)
a. Menginformasikan kepada orang tua
pasien terkait orang, tempat dan waktu
di ruang operasi
b. Mengidentifikasi stategi koping orang
tua kepada anak yang ditunjukkan

Ibu pasien menggendong anaknya dan


tampak mencium anaknya terus menerus
serta mengajak anaknya berdoa
A:Pre-procedure readinesstercapai
Indikator

A T P

Pengetahuan terkait prosedur

c. Mereview

riwayat

kesehatan

dan

Pengetahuan terkait persiapan

penyakit terdahulu pada pasien dalam

sebelum prosedur

rekam medis dan wawancara orang tua

Pengetahuan terkait potensi

pasien

risiko dan komplikasi

d. Memotivasi orang tua pasien untuk

Pengosongan

usus

dan

berserah diri dan berdoa agar operasi

lambung

berjalan lancer

Status Puasa

Pemberian marking site

pasien untuk menanyakan hal terkait

Kelengkapan hasil lab

operasi

Penandatanganan

e. memberikan waktu pada orang tua

f. menjelaskan

prosedur

perioperatif

concent

informed

secara jelas kepada orang tua pasien


g. menginformasikan kepada orang tua P:Pasien siap menjalani operasi, monitoring
pasien lokasi ruang tunggu
keamanan pasien selama operasi

ASUHAN KEPERAWATAN INTRAOPERATIVE


Asuhan Keperawatan Intra Operatif
1. Persiapan Perawat
Menyiapkan set instrument, BMHP, dan alat tidak steril
Transfer pasien ke bed operasi
Perawat instrument mencuci tangan dan menyiapkan set steril
Perawat sirkuler memberikan antibiotic profilaksis
Perawat sirkuler mendokumentasikan persiapan operasi hingga prosedur operasi
selesai
2. Persiapan alat dan ruang
Alat steril : menggunakan set laparatomy anak
Instrumen yang digunakan
Alat steril
a) Bengkok (2)
b) Kom (1)

k) Pean (12)

c) Gunting benang (1)

l) Hak (2)

d) Gunting jaringan (1)

m) Pinset anatomis (2)

e) Duk klem (5)

n) Pinset chirurgis (2)

f) Cocher (4)

o) Duk steril kecil (5)

g) Neddle Holder (2)

p) Duk lubang (1)

h) Darm klem bengkok (2)

q) Jas operasi (5)

i) Darm klem lurus (2)

r) Cauter (1)

j) Selang suction (1)

s) Scalpel (1)

Alat Tidak Steril


a) Meja mayo

e) Lampu operasi

b) Meja major

f) Tempat sampah

c) Kursi operator

g) Suction pump

d) Bed operasi

h) Mesin anestesi
i) Tianginfuse

Benang Operasi
a) Silkam 1 (1)
b) Silkam 3/0 (3)
c) Safil 2/0 (1)
d) Safil 3/0 (1)
e) Ethilon 4/0 (1)
Obat
a) Povidone Iodine 60
cc cc (2)
b) Nacl 500 ml (2)
c) Aqua 25 ml (1)
BMHP
a) Topi operasi (1)
b) Masker (5)
c) Sarung tangan steril (5)
d) Sarung tangan tidak steril (6)
e) Underpad (1)
f) Yankur (1)
g) Spuit 2,5 cc (1)
h) Spuit 10 cc (1)
i) Spuit 20 cc (1)
j) Spuit 1 cc (1)
k) Mess no.10 (1)
l) Supratulle (1)
m)Folley cath no.8 (1)
n) Urine bag (2)
o) NGT no.16 (1)

Persiapan pasien
a. Positioning
An.NM diposisikan supine
b. Anestesi
Dilakukan general anestesi, kemudian dilakukan pemasangan NIBP,SpO2 dan monitor
EKG.
c. Skin Preparation
Skin Preparation di area perut dengan povidon iodine
d. Retriksi Area
Dipasang duk steril 4 buah, dan 1 duk lubang meja mayo didekatkan dengan bed
e. Time Out
Konfirmasi anggota tim
Konfirmasi identitas pasien, prosedur operasi, dan lokasi operasi
Konfirmasi antibiotic profilaksis : Cefotaxime 450 mg/IV line tanggal 14 April 2015
pukul 08.00
Antisipasi kejadian kritis : Resusitasi
3. Prosedur Operasi
1) Pasien diposisikan supine dan dilakukan general anestesi
2) Dilakukan tindakan aseptic dengan antiseptic povidon iodine di kulit abdomen dan
kemudian dipasang duk steril untuk memperkecil media operasi
3) Dilakukan pemasangan cauter dan selang suction pada suction pump
4) Time Out
5) Dilakukan penjahitan stoma (tegel) dengan silkam no.1
6) Dilakukan insisi peristoma dengan menggunakan mess 10
7) Insisi diperdalam lapis demi lapis hingga peritoneum dengan bantuan cauter
8) Peritoneum dibuka, stoma dibebaskan dari kulit abdomen dengan mengggunakan
gunting jaringan
9) Tampak adhesi di usus stoma bagian distal dan tampak adhesi dari usus proksimal
pada abdomen di bekas luka operasi lama
10) Stoma bagian distal dan proksimal dapat dibebaskan dengan perbandingan 1 : 1,
usus dipertahankan dengan menggunakan darm klem

11) Dilakukan penjahitan usus secara simple dengan menggunakan silkam no. 3/0
12) Dilakukan over hecting anastomosis dengan silkam 3/0 usus dan pengecekan pasase
13) Cuci vacuum abdomen dengan mengguanakan Nacl 0,9% hangat sebanyak
mungkin
14) Dilakukan undermining pada lapisan fascia dan kulit
15) Ditutup lapisan demi lapi dengan menggunakan safil 2/0 untuk fascia dan ethilon
4/0 untuk kulit
16) Jahitan ditutup dengan supratulle kemudian kassa dilanjutkan dengan hipafix
17) Operasi selesai
Setelah jahitan selesai dilakukan sign out:
-

Pencatatan nama prosedur tindakan : Laparatomy reseksi anastomosis


ileoascendostomi

Pencatatan kelengkapan instrument, kassa (20) dan jarum (5) lengkap

Dokumentasi

Analisa Data
Data

Diagnosa Keperawatan

DS:-

Risiko

cedera

akibat

DO: Pasien teranestesi general dengan posisi supinasi. keadaan perioperative


Instrumen siap, dilakukan pembedahan Laparatomy reseksi
anastomosis ileoascendostomi
pukul 09.50 13.30 WIB

Rencana Asuhan Keperawatan Intraoperatif

NOC

NIC

Kontrol Resiko

Aspiration precaution, Aktivitas:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

a. Pertahankan jalan nafas

selama

b. Pastikan ketersediaan suction

3,5

jam,

pasien

tidak

mengalami cidera dengan kriteria


hasil

Positioning: Intraoperative, Aktivitas:

Indikator

Target

a. Perhatikan kepala dan leher saat transfer pasien

Modifikasi lingkungan

b. Pertahankan IV line, selang oksigen dan

Menghindari

eksposure 5

c. Lindungi mata pasien

resiko
Monitor adanya resiko
Keterangan :
1=Never demonstrated
2=rarely demonstrated

kateter

d. Imobilisasi tubuh pasien


e. Tempatkan pasien pada posisi operasi (supine,
drone, lateral chest ataulitotomi)
f. Monitor posisi pasien selama operasi

3=sometime demonstrated
4= often demonstrated

Bleeding reduction: wound, Aktivitas:

5= constantly demonstrated

a. Berikan tekanan manual pada daerah yang

mengalami perdarahan atau yang berpotensi


mengalami perdarahan

Aspiration Prevention

Setelah dilakukan asuhan keperawatan b. Berikan balutan yang menekan pada daerah
selama

3,5

jam,

pasien

tidak

yang mengalami perdarahan

mengalami aspirasi dengan kriteria c. Monitor tanda vital sesuai kebutuhan


hasil:

d. Monitor intake dan output cairan secara akurat

Indikator
Memposisikan

Target
dengan 5

Incision Site care, Aktivitas:


a. Bersihkan area sekitar insisi menggunakan

benar

pembersih yang tepat

Keterangan:
1= never demonstrated;

b. Berikan salep antiseptic

2= rarely demonstrated;

c. Tutup luka insisi dengan baik

3= sometimes demonstrated;
4= often demonstrated;

Surgical Precaution, Aktivitas:

5= consistenly demonstrated;

a. Cek negatif plate telah terpasang dengan baik


dan berfungsi

Respiratory status: Ventilation

b. Pastikan alat-alat difungsikan dengan benar

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

c. Cek tekanan suction dan tubing suction

selama 3,5 jam, Pernafasan pasien

d. Singkirkan peralatan yang tidak aman

stabil dengan kriteria hasil:

e. Hitung kasa, benda tajam dan instrumen

Indikator

Target

sebelum, selama dan setelah operasi sesuai

Respiratory rate

kebijakan

Pola Nafas

f. Catat hasil sesuai kebijakan

Kedalaman pernafasan

g. Buang atau singkirkan peralatann yang tidak

Keterangan :
1= not adequate

dipakai
h. Memastikan coter, negatif plate, dan alat

2= slightly adequate

berfungsi dengan baik serta telah diatur sesuai

3=moderately adequate

ketentuan

4=substantially adequate

i. Catat informasi penting selama operasi

5=Totally adequate
Temperature Regulation: intraoperative

Blood Coagulation

Aktivitas:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

a. Atur suhu ruang operasi yang sesuai

selama

b. Gunakan penghangat sesuai kebutuhan

3,5

jam,

pasien

tidak

mengalami perdarahan dengan kriteria

c. Gunakan penutup kepala dan duk yang sesuai

hasil:

d. Atur humidifier untuk gas anestesi

Indikator

Target

Perdarahan

e. Lakukan skin prepatationdengan cairan yang


sesuai
f. Monitor suhu ruangan

Keterangan :
1= Severe
2=Substantial

Infection control: intraoperative, Aktivitas:

3=moderate

a. Monitor danutamakanaliranpernapasan

4=mild

b. Verifikasi antibiotic yang digunakan

5=none

c. Verifikasi indicator sterilisasi


d. Gaun,

sarungtangan,

dan

baju

operasi

sesuaiaturan/standar

Circulation Status
Setelah dilakukan asuhan keperawatan

e. Pisahkan barang-barang yang tidak steril

selama 3,5 jam, sirkulasi tubuh pasien

f. Inspeksi kulit/jaringan yang akan dilakukan


operasi

stabil dengan kriteria hasil:


Indikator

Target

g. Berikan larutan antimikroba pada area insisi

Tekanandarah systole

h. Hindari kontaminasi

Tekanandarah diastole

i. Aplikasikan dressing bedah

Saturasioksigen

j. Bersihkan dan sterilisasikan alat bedah

Urine output

Keterangan :
1= not adequate
2= slightly adequate
3=moderately adequate
4=substantially adequate
5=Totally adequate

Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa: Risiko cedera akibat keadaan perioperative
Implementasi

Evaluasi

Selasa, 14 April 2015

S: -

(09.00 WIB)

O:
- IV line terpasang di tangan kanan,

Pasien dilakukan tindakan anestesi


a. Mempertahankan

IV

line,

selang

oksigen dan memasang kateter


b. Menempatkan

pasien

pada

oksigen dan kateter terpasang dengan


baik

posisi

operasi: supine

- antibiotik Cefotaxime 450 mg/ IV sudah


diberikan pukul 08.00

c. Mengimobilisasi tubuh pasien

- jalan nafas stabil dengan ET, SpO2: 100

d. Memasang kateter setelah pasien tidak

- TTV stabil selama operasi,

sadar

- 09.30

e. Memasang negative plate di kaki kanan

a. Memverifikasi

TD:

90/60

mmHg,

N:

100x/menit, teraba kuat, RR: 20x/ menit,


- 10.30

(09.25 WIB)

TD:

80/33

mmHg,

N:

102x/menit, teraba kuat, RR: 22x/ menit


antibiotic

yang

digunakan dan sudah diberikan


b. Memakai gaun dan sarung tangan
operasi sesuai standar
c. Menyiapkan instrument yang akan
digunakan
d. Melakukan skin preparation dengan
povidon iodine 10%
e. Menghindari kontaminasi

- 11.30

TD:

100/60

mmHg,

N:

100x/menit, teraba kuat, RR: 20x/ menit


- 12.30 TD:

120/80 mmHg, N:

101x/menit, teraba kuat, RR: 24x/ menit


- 13.30

TD:

100/70

mmHg,

N:

106x/menit, teraba kuat, RR: 20x/ menit


- Perdarahan 50cc
- suhu ruang operasi 21oC
- peralatan operasi dan instrumen tersedia

f. Menggunakan duk yang sesuai untuk

tidak ada masalah


- kassa,

pasien
g. Mempertahankan dan memonitor jalan
nafas

instrumen

dan

benda

tajam

sebelum, selama dan setelah operasi


cocok lengkap.

h. Monitor tanda vital sesuai kebutuhan


i. Memastikan suhu ruang operasi sesuai
j. Memastikan

alat-alat

difungsikan

A:Tujuan Tercapai
Indikator

dengan benar

Modifikasi lingkungan

Negatif plate telah terpasang dengan

Menghindari

eksposure 5

baik dan berfungsi

resiko

Tekanan suction dan tubing suction

Monitor adanya resiko

Coter berfungsi dengan baik serta


telah diatur sesuai ketentuan
k. Menjauhkan

peralatan

yang

Aspiration Prevention
tidak

dipakai atau tidak aman dari area steril


l. Hitung

kasa,

instrumen

benda

sebelum

tajam

operasi

Indikator

T P

Memposisikan dengan benar

dan
sesuai

kebijakan

(09.50-13.30 WIB)
a. Memonitor jalan nafas

Respiratory status: Ventilation


Indikator

T P

Respiratory rate

Pola Nafas

Kedalaman pernafasan

b. Memonitor tanda vital sesuai kebutuhan


c. Memonitor posisi pasien selama operasi
d. Memonitor intake dan output cairan
secara akurat
e. Memberikan

tekanan

manual

f. Memonitor perdarahan
g. Menghitung kasa, benda tajam dan

kebijakan

selama

operasi

Indikator

T P

Perdarahan

pada

daerah yang mengalami perdarahan

instrument

Blood Coagulation

sesuai

Circulation Status
Indikator

T P

Tekanandarah systole

Tekanandarah diastole

Saturasioksigen

Urine output

(13.35 WIB)
a. Menghitung ulang kassa, benda tajam P:Monitor TTV dankesadaran pasien di ruang
dan instrument setelah operasi sesuai
kebijakan
b. Membersihkan

area

sekitar

insisi

menggunakan pembersih yang tepat


c. Memberikan sufratul pada area jahitan
d. Memberikan balutan yang menekan
pada

daerah

yang

mengalami

perdarahan
e. Mempertahankan

jalan

nafas,

melakukan sucktion jika diperlukan


f. Memonitor tanda vital
g. Memperhatikan kepala dan leher saat
transfer pasien
h. Membersihkan dan mensterilisasikan
alat bedah

pemulihan

ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERATIF

Analisa Data
Data

Diagnosa Keperawatan

DS:-

Risiko

DO: Pasien mulai sadar setelah 20 menit berada di RR.

keadaan perioperative

cedera

akibat

- Skor alderette (13.50 WIB): Aktivitas 1, Sirkulasi 1,


Pernafasan 2, Kesadaran 1, Warna Kulit 2, Total: 7
- Pasien diberikan analgesia ketorolac 15 mg/IV, anti
muntah ondansentron 2 mg/ IV, oksigen 3 liter/menit
melalui nasal kanule.

Rencana Asuhan Keperawatan Postoperatif


NOC

NIC
Recovery Post Operative, aktivitas :

Post Recovery Procedure


Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 2 jam, pasien sadar dari anestesi

b) Monitoring pola respirasi (spontan , O2)


c) Monitoring RR, N , S

dengan kriteria hasil:


Indikator

Target

Kepatenan jalan nafas

Nafas Spontan

RR

Saturasi O2

Aldrete Score

d) Monitoring saturasi oksigen


e) Mobservasi steward score
f) Observasi

respon

dan

kemampuan

pasien
g) Awasi Keadaan umum pasien
h) Observasi adanya resiko jatuh
i) Observasi dan monitoring tanda tanda

Menjawab pertanyaan

Sadar penuh

Menggerakkan ekstremitas 5
dengan perintah

a) Monitoring kepatenan jalan nafas

perdarahan
j) Observasi
ambulasi

kesiapan

klien

untuk

Toleransi ambulasi

Thermoregulation

Keterangan :
1= Severe deviation from normal range
2= Substantial deviation from normal
range
3= Moderate deviation from normal range
4= Mild deviation from normal range
5= None deviation from normal range

Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa: Risiko cedera akibat keadaan perioperative
Implementasi

Evaluasi

Selasa, 3 Maret 2015

S: pasien menangis saat mulai sadar

(13.45-15.30 WIB)

O: Setelah 15 menit berada di RR pasien

a. Mengkonsultasikan

dengan

dokter

untuk memberikan posisi yang optimal


dan monitor respon pasien
b. melakukan komunikasi dengan bahasa
sederhana, langsung dan pernyataan
yang deskriptif
c. Memonitor status neurologis, level
kesadaran, reflek batuk, reflek muntah,
dan kemampuan menelan

mulai

sadar

tetapi

masih

belum

sepenuhnya sadar, pasien batuk - batuk


- Posisi pasien supinasi, jalan nafas bersih
dan lapang, pernafasan spontan
- Steward

Score

menit

pertama

Pergerakan=1, Pernafasan 2, Kesadaran 1,


, Total: 3
- pasien diberikan analgesia ketorolac 15
mg/IV, anti muntah ondansentron 2 mg/

d. Memonitor vital sign

IV, oksigen 3 liter/menit melalui nasal

e. Memonitor status respirasi

kanule

f. Melakukan penilaian status circulasi

- Jam 14.30 pasien sudah bisa menangis.

perifer (nadi perifer, edema, capillary

kedua kaki tampak bisa digerakkan dan

refill, warna kulit dan suhu)

diangkat oleh pasien saat menangis, pasien

g. Memonitor derajat ketidaknyamanan


dan nyeri

merah (Steward Score:Pergerakan = 2,

h. Memberikan pengobatan untuk nyeri


sesuai kebutuhan

- TD:102/65 mmHg, N: 104x/menit, S:

j. Memonitor status hidrasi (kelembaban


mukosa,

Pernafasan 2, kesadaran 2, Total: 6. Pasien


tidak muntah.

i. Memonitor tanda perdarahan

membran

dapat bernafas, kesadaran penuh, kulit

nadi

adekuat,

tekanan darah ortostatik)


k. Memonitor status cairan, termasuk
intake dan output

36oC, RR: 24x/menit, nadi kuat, tidak ada


edema, capilary refill <2 detik. Balutan
luka tidak rembes
- Pukul 15.30 WIB pasien dijemput oleh
perawat ruang dan diantar ke PICU.

l. Kolaborasi pemberian cairan IV


m. Memonitor keadaan umum pasien

A:Post Recovery procedure


Indikator

Kepatenan jalan nafas

Nafas Spontan

RR

Saturasi O2

Aldrete Score

Menjawab pertanyaan

Sadar penuh

Menggerakkan

Toleransi ambulasi

Thermoregulation

akibat

keadaan

ekstremitas

dengan

perintah

=Risiko

cedera

perioperative teratasi
P= -

Instruksi Post Operasi


a. Awasi keadaan umum dan vital sign serta adanya tanda perdarahan
b. Jika sudah sadar penuh dan peristaltic (+), puasa, NGT dialirkan
c. Berikan infuse Ringer Laktat 900cc/8 jjam, besok diganti TPN
d. Injeksi cefotaxime 450 mg/12 jam
e. Injeksi ranitidine 10 mg/12 jam
f. Injeksi novalgin 90 mg/8 jam
g. Injeksi metronidazole 90 mg/8jam
h. Cek lab, darrah rutin, albumin, elektrolit post operasi koreksi jika imbalance