Anda di halaman 1dari 7

06/26/14--21:48: Oleh: wir

Syukurlah pak karena yang saya tulis ini hanya dipahami oleh <em><strong>structural
engineer</strong></em>, di luar itu pasti bingung. :D Jadi dapat disimpulkan juga bahwa ilmu
<em>structural engineering</em> Bapak juga mantap !

06/26/14--22:01: Oleh: wir


Terima kasih atas doanya, semoga demikian juga untuk mas Kukuh.

07/08/14--03:26: Oleh: mon


Pak, mau tanya, ketika menjalankan analysis static nonlinear (dalam kasus ini analisis beban
dorong / Pushover) didapatkan nilai daktilitas atau yang berupa hasil bagi displacement sesaat
sebelum runtuh, dan displacement saat pertama kali terjadinya sendi plastis. Lalu nilai dikali
suatu faktor maka mendapatkan nilai R (faktor reduksi gempa). Apa benar begitu? Lalu dengan
R yang didapat dibandingkan dengan tabel perencanaan R? Sebenarnya R yang didapat harus
mendekati R yang di tabel peraturan, atau apakah R pada tabel peraturan merupakan nilai
maksimum / minimum? Terimakasih

07/08/14--17:47: Oleh: wir


R pada tabel adalah <em><strong>response modification factors</strong></em> yang juga
adalah sebenarnya <em><strong>force reduction factors</strong></em>, dalam hal ini struktur
direncanakan dengan beban lebih kecil dari beban pada kondisi elastis. Tujuannya agar ekonomis
dan aman. Itu bisa terjadi karena mengandalkan konsep keruntuhan pada bagian yang sudah
ditentukan dan terjadinya dissipasi energi. Ke dua bagian itu pada tiap-tiap struktur adalah
berbeda-beda, oleh karena itu untuk memudahkan dilakukan tabulasi berbagai tipe R yang
berkorelasi dengan bentuk atau jenis struktur dan detail yang akan digunakan. Itu di sisi
perencanaan awal. Pada sisi analisis, untuk mengkonfirmasi apakah prediksi daktail yang dipilih
memenuhi syarat maka dibuktikan dengan pushover analysis. Dalam hal ini, dianggap kondisi
detail struktur pada kondisi ideal, dan dapat dimodelkan bagian yang mengalami keruntuhan

yang sudah ditentukan tadi sebagai bagian yang berperilaku non-linier (yang diberi HINGE),
bagian yang lain berperilaku elastis. Selanjutnya ketika diukur seperti diatas maka dapat
ditentukan juga kondisi daktilitasnya. Hasil daktilitas dari pushover yang berupa tentu harus
lebih besar dari nilai R yang didapat sebelumnya. Itu menunjukkan bahwa nilai R terbukti bisa
diambil. Jika ternyata nilai < dari R maka berarti reduksinya tidak boleh terlalu banyak. Jadi
nilai <strong>R pada tabel</strong> adalah <strong>nilai minimum dari yang harus
dihasilkan</strong>. Semoga menjawab.

07/09/14--19:19: Oleh: mon


Terima kasih, Pak! Sangat membantu sekali.. Tuhan memberkati

07/09/14--23:24: Oleh: mon


Satu lagi pak, maaf bila out of topic, saya ingin menanyakan mengenai analisis beban dorong
(Pushover), apabila sudah dianalysis, apakah ada kemungkinan pada step terakhir tidak terjadi
sendi plastis pada kolom? Hanya sebagian besar dari balok yang mengalami sendi plastis..
terimakasih

07/10/14--02:05: Oleh: wir


Itu berarti beban dorongnya kurang besar, struktur belum mengalami instabilitas (mechanism).
Atau dengan kata lain, struktur masih bisa dibebani lagi.

07/12/14--03:39: Oleh: Damar


terima kasih Pak Wir atas komentarnya, maaf saya baru bisa baca skrg. sangat mengesankan Pak
penjelasannya dan sangat membantu :). Maaf ingin tanya lagi pak mengenai arah ortogonalitas

pembebanan, saya setuju pak bila untuk bangunan yang sifatnya kantilever hal itu tidak
diperlukan, tapi saya pernah mendengar cerita "gempa datangnya dari berbagai arah" makanya
digunakan efek ortogonalitas 100/30 masing2 dalam arah X dan arah Y. Apakah dalam bangunan
kantilver ini memang benar cukup (bila dalam pemodelan) kita apply dalam 1 arah saja? (arah X
atau arah Y). Atau tetap kita berikan 100% dalam masing2 arah X dan Y? Dan kemudian yang
menarik menurut saya, struktur lattice ini (gantry ataupun transmission tower) ternyata dalam
menerima beban lateral ternyata lebih dominan terhadap beban angin (dari percobaan yang saya
lakukan), dimana beban gempa bergantung dengan massa dan kekakuannya. rata2 struktur ini
massa nya tidak begitu berat, sehingga beban gempanya jg tdk terlalu dominan. Pertanyaannya
adalah, apakah beban angin ini jg ada efek ortogonalitasnya? atau cukup dibebani dalam 1 arah
saja? saya awam sekali dengan pembebanan angin ini, karena sewaktu kuliah pun pembebanan
ini tidak terlalu "nge-trend" dibandingkan beban gempa. :D Sekali lagi terima kasih Pak Wir atas
penjelasannya dan diskusinya. Semoga bermanfaat untuk yang lainnya. Terima kasih :)

07/12/14--06:15: Oleh: wir


kantilever tetapi strukturnya terdiri dari dua bagian yang saling tegak lurus, seperti rangka
persegi maka tetap digunakan beban ortogonal. tetapi kantilever dengan penampang lingkaran
seperti silo maka tentunya cukup satu arah saja. beban orthogonal tersebut untuk memastikan
pengaruh dua system yang saling tegak lurus tersebut, bagaimana interaksi keduanya. Kalau
penampang pipa maka jelas kekakuan terhadap torsi sangat besar jadi tidak perlu diperiksa atau
dibebani arah orthogonal. Karena meskipun dibebani arah orthogonal maka yang menentukan
pastilah lentur yang tentunya akan lebih konservatif. Jika bapak masih bingung dan ragu-ragu,
bisa saja dibikin ortogonal, sangat aman. Untuk angin, umumnya dapat didekati secara statis,
jangan lupa ada bidang tekan yaitu terhadap angin, tetapi ada juga bidang isap yang berlawanan
dengan angin. Interaksi ortogonal kelihatannya tidak secara jelas diberikan pada pembebanan
angin (coba check, saya koq agak lupa). Tetapi jika kondisi sistem strukturnya saling tegak lurus,
maka ada baiknya diberikan untuk memperhitungkan pengaruh interaksi ke dua sistem tersebut.
Umumnya pada kasus umum ini tidak ditinjau, karena pada bangunan telah diberikan bracing
secara mencukupi.

08/05/14--21:23: Oleh: denis


Terima kasih P.Wir pencerahannya. Mohon bisa di jelaskan lebih banyak mengenai tulisan diatas
khususnya mengenai beban dinamis : "Hanya hati-hati, kalau beban dinamik, arah beban tidak
ada, hanya nilai maksimum, jadi perlu dikonversi jadi statik, hanya pola beban yang digunakan."
Pengetahuan awam saya, saat mengaplikasikan beban dinamis (respons spectrum) pada model

selalu ditanya arahnya, jadi apakah arah yang dimaksud oleh P.Wir di tulisan tersebut? dan
bagaimana cara mengambil pola dari beban dinamis untuk dikonversi menjadi beban statis? apa
dilihat dari deformasi strukturnya? Terima kasih lagi atas kesempatannya menjelaskan. Salam,

08/05/14--23:28: Oleh: wir


sdr. Denis, kamu cukup jeli dengan tulisan saya di atas. Argumentasi kamu betul, ada baiknya
aku tidak pakai kata arah. Maksud kalimat di atas adalah jika kita pakai beban dinamis maka
hasil momen yang diterima elemen adalah tidak jelas arahnya, apakah momen positip atau
negatif, sehingga untuk penulangan bisa tidak diketahuai apakah itu harus dipasang di sisi kiri
atau kanan (tulangan kolom). Juga tidak mudah untuk dilakukan kombinasi dengan beban statik.
Maklum, dinamik khan beban bolak-balik, hasilnya adalah tergantung fungsi waktu. Kalaupun
ada nilai tunggal maka itu berarti nilai envelope atau nilai maks atau nilai minimumnya saja.
Dengan tidak diketahuinya arah (maksimum dan negatif) maka misalnya digabungkan dengan
beban angin akan tidak ketahui apakah kolom menerima tarik atau tekan. Ingat nilai terbesar
belum tentu aman. Artinya, untuk kombinasi jadi membingungkan. Jadi sebagai solusinya maka
hasil distribusi gaya gempa dinamik akibat diubah jadi statik. Caranya disamakan saja dengan
besarnya gaya geser tiap lantai. Jadi analisis dinamik pada bangunan tinggi itu pada dasarnya
adalah mencari distribusi gaya-gaya geser tiap lantai. Itu juga dipilih karena ada statement di
peraturan jika digunakan cara tersebut maka gaya geser dasar dapat direduksi tinggal 0.8 V
statik. Tentang distribusi gaya gempa arah ortogonal. Meskipun kantilever tergantung sistem
struktur. Mungkin paling gampang dengan pemisalan kantilever baja. Jika penampangnya pipa,
simetri di setiap arah maka tentunya persyaratan 100%x + 30%y tidak relevan. Maklum
kekakuan torsi tinggi dan kekakuan lentur di semua arah sama. Tetapi jika bentuk profil H maka
kekakuan arah x dan arah y tidak sama, sekaligus juga ketahanan terhadap lentur relatif kecil,
sehingga dimungkinkan terjadi torsi. Jika bentuk penampang double simetri masih mending,
tetapi kalau bentuk penampang L dimana pusat berat dan pusat geser tidak berimpit maka pada
kondisi tertentu meskipun bebannya satu arah saja bisa terjadi torsi. Pemisalan penampang profil
baja tentu lebih sederhana dibanding bangunan, oleh karena itulah maka untuk mengantisipasi
terjadinya torsi yang bukan sekedar pusat kekakuan dan pusat kekakuan maka diberikanlah
ketentuan tersebut.

08/06/14--23:36: Oleh: miftah


Selamat pagi bapak maaf pagi pagi ini bertanya.heheheh berkaitan dengan tugas di kampus
pada pemodelan gedung memakai rangka beton pemikul momen di ETABS ,saya akan
membandingkan gayan geser analisa gempa statik dan analisa gempa dinamik (respon

spektrum) ,dimana nantinya saya akan menggunakan analisa gempa dinamik gaya gesernya
dinamik harus lebih besar dari analisa gempa statik, yang jadi pertanyaan saya ,niatnya saya ga
mau manual memasukan gempa statiknya , karena ada pilihan di LATERAL LOAD pada menu
define statik load case saya pakai yg IBC 2006. pada saat memasukan parameter gempanya ada
yang ga saya pahami hanya 1 menu itu tapi pengaruhnya ke gaya geser besar sekali jadi saya
tanyakan saja ke cendikiawan ,yaitu tulisannya grup datanya seismic koefisien dibawahnya 0.2
detik spketra accel Ss > yg ini saya paham 1 detik spketra accel s1 > yg ini juga saya paham
LONG-PERIOD TRANSITION PERIOD > nah yg ini yang saya ga paham kalo saya
terjemahkan artinya panjangnya perioda transisi, apa ini nilai T0 atau Ts atau mungkin bukan
keduanya? maaf ya pak apabila pertanyaan saya sulit dicerna lagi belajar pula menuangkan
pikiran ke tulisan agar mudah dicerna.heheheh terima kasih atas perhatiannya

08/06/14--23:46: Oleh: wir


"dimana nantinya saya akan menggunakan analisa gempa dinamik gaya gesernya dinamik harus
lebih besar dari analisa gempa statik" koq bisa. Parameter dinamik anda perlu di skalakan dengan
V yang diperoleh dari statik. Karena dinamik yang anda lakukan belum terkait dengan
percepatan tanah dimana struktur anda berada. Hal itu tidak bisa dimasukkan secara langsung
tetapi secara indirect dengan cara penskalaan tersebut. tentang long-period transition period . . .
wah saya nggak lihat detailnya, tetapi kalau tidak salah itu terkait input data tenatng kurva
spectrum yang digunakan dimana untuk periode panjang berbentuk lengkung kurvanya. baca di
manual.

09/14/14--10:05: Oleh: Wawan


Selamat malam Bapak , mohon maaf menggangu pagi pagi. saya mau bertanya , kira kira berapa
persen kekeroposan pada kolom atau balok beton ? dan apa bila beton keropos apakah hanya di
grouting saja sdh bisa menjamin kekuatan strukttur itu. terima kasih

0
09/14/14--10:07: Oleh: Wawan

maksud saya keropos pada beton setelah di lakukan pengecoran, apakah ada batas dari
kekeroposan itu atau langsung di bongkar saja. terima kasih

10/24/14--12:54: Oleh: Abdul Malik Khadafi (@malikkhaddafi)


Salam kenal pak, saya tertarik dengan kalimat "p-delta" mohon penjelasannya pak. Terima kasih

10/24/14--13:59: Oleh: wir


wah itu banyak pak yang dapat diungkap dari p-delta, mulai dari analisis dan desain. di buku
saya nanti itu termasuk dan akan banyak tulisan mengenainya.

10/29/14--06:31: Oleh: malikkhadafi


Kira-kira kapan keluar bukunya pak wir?

10/29/14--06:51: Oleh: wir


Rencana perjanjian dengan para sponsor paling lambat April 2015 dik.

0
11/03/14--21:25: Oleh: malikkhadafi

tadinya saya mau bahas tentang p-delta buat tugas akhir saya. Tapi saya belum menemukan
rujukan yang membahasnya secara detail, sekarang saya bingung mau membahas apa. Mohon
sarannya pak wir. Terima kasih
10/22/15--06:03: Oleh: Candra
saya mau tanya pak Wir,, untuk mencari C itu kan pake pembagian wilayah,,untuk menentukan
pembagian wilayahnya gimana pak??

11/21/15--02:55: Oleh: Triadi Bagus Gumilar


Terimakasih Informasinya sangat membantu Pak. Salam, Triadi B. G.

12/06/15--14:49: Oleh: hang


permisi pak wir, ada yang ingin saya tanyakan megenai penjelasan bapak diatas sebelumnya
mengenai R. saya masih belum mendapat pencerahan atas penggunaan nilai R daktail parsial
atau penuh pada suatu perencanaan gedung. atas dasar apa saya harus menggunakan daktail
parsial ataupun penuh. mohon maaf mengganggu waktunya, akan sangat senang bila ditanggapi
terimakasih.

12/06/15--22:05: Oleh: wir


Sdr Hang, Memilih nilai R, apakah daktail parsial atau penuh umummnya mempertimbangkan
dua hal. Pertama adalah dengan melihat kondisi beban apa yang mendominasi sistem
strukturnya, apakah beban gravitasi (beban tetap) atau beban lateral (gempa). Pada tahap ini juga
perlu dilihat persyaratan code, apakah daerah dimana struktur tersebut dibangun ada pada daerah
yang berisiko tinggi terhadap gempa atau tidak. Kedua adalah persyaratan pendetailan yang
harus dipilih. Untuk daktail penuh maka umumnya syarat detail penulangan akan lebih ketat
(rumit) dari yang tidak daktail.